Badaruddin Amir
Sastra Bugis memang belum banyak ditulis. Di tengah konstelasi sastra nasional sastra Bugis seolah-olah berhenti pada periode sastra klasik. Setelah itu tak ada generasi yang melanjutkan tradisi bersastra dari para empu atau bujangga ‘anonim’ yang pernah menciptakan Pau-Pau Rikadong, atau menyusun kembali Sureq Meong Palo Karellae, atau syair-syair lagu (yang juga boleh disebut sastra) seperti Bulu Alau’na Tempe, Indo Logo, Ongkona Sidenreng dan sebagainya. Lagu-lagu Bugis klasik itu juga dikarang oleh para empu ‘anonim’.Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Rabu, 11 Agustus 2021
Jumat, 06 Agustus 2021
KEHADIRAN APRESIASI SASTRA (8)
Djoko Saryono
/0/
Kita bisa mendapatkan tiga keberadaan atau kehadiran apresiasi sastra. Pertama, ada umumnya kita merasa yakin bahwa sesuatu yang dinamakan apresiasi sastra itu hadir secara substansial dan mandiri walaupun kita belum mengetahui sosok dan jati dirinya secara tegas. Kedua, pada umumnya kita merasa yakin bahwa apresiasi sastra berbeda dan dapat dibedakan dengan, misalnya, kritik sastra dan penelitian sastra. Kemudian ketiga, apresiasi sastra merupakan sosok tersendiri dalam dunia (penghadapan) sastra atau dunia penggaulan sastra yang harus diakui dan diabsahkan. Dengan demikian, secara umum dapat disimpulkan bahwa setidak-tidaknya in abstracto atau by concept apresiasi sastra hadir secara substansial dan mandiri dalam dunia (penghadapan) sastra. Hal ini membawa risiko bahwa kehadiran apresiasi sastra harus diterima sebagai fakta walaupun secara operasional kita masih sukar menemukan sosok dan jati dirinya.
/0/
Kita bisa mendapatkan tiga keberadaan atau kehadiran apresiasi sastra. Pertama, ada umumnya kita merasa yakin bahwa sesuatu yang dinamakan apresiasi sastra itu hadir secara substansial dan mandiri walaupun kita belum mengetahui sosok dan jati dirinya secara tegas. Kedua, pada umumnya kita merasa yakin bahwa apresiasi sastra berbeda dan dapat dibedakan dengan, misalnya, kritik sastra dan penelitian sastra. Kemudian ketiga, apresiasi sastra merupakan sosok tersendiri dalam dunia (penghadapan) sastra atau dunia penggaulan sastra yang harus diakui dan diabsahkan. Dengan demikian, secara umum dapat disimpulkan bahwa setidak-tidaknya in abstracto atau by concept apresiasi sastra hadir secara substansial dan mandiri dalam dunia (penghadapan) sastra. Hal ini membawa risiko bahwa kehadiran apresiasi sastra harus diterima sebagai fakta walaupun secara operasional kita masih sukar menemukan sosok dan jati dirinya.
Rabu, 04 Agustus 2021
Laut, Komodo, Sastra
Agus R. Sarjono *
Lamensia dunung notang
Suwe santek bonga bintang
Pang bulan batemung mata
Antara biru langit dan biru laut, kapal kami melaju. Di hadapan terbentang horison, kakilangit yang melambai dan selalu luput dari gapaian. Kabut sudah lama berangkat. Matahari berleha-leha di angkasa sambil melambaikan panas pagi dan cahayanya.
Lamensia dunung notang
Suwe santek bonga bintang
Pang bulan batemung mata
Antara biru langit dan biru laut, kapal kami melaju. Di hadapan terbentang horison, kakilangit yang melambai dan selalu luput dari gapaian. Kabut sudah lama berangkat. Matahari berleha-leha di angkasa sambil melambaikan panas pagi dan cahayanya.
Rabu, 28 Juli 2021
MENEMUKAN ALLAH
Kuswaidi Syafiie
"Aku mencarimu oh Tuanku
di seluruh alam raya.
Sementara di rumahku
Engkau senantiasa bertahta."
Puisi di atas digubah oleh Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273) yang kemudian banyak dijadikan referensi oleh sufi-sufi setelah beliau. Baris-baris kalimat puitik itu menggambarkan tentang berlangsungnya pencarian spiritual yang dilakukan oleh mereka yang telah mengerti dan merasakan apa arti dari suatu dahaga ruhani.
"Aku mencarimu oh Tuanku
di seluruh alam raya.
Sementara di rumahku
Engkau senantiasa bertahta."
Puisi di atas digubah oleh Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273) yang kemudian banyak dijadikan referensi oleh sufi-sufi setelah beliau. Baris-baris kalimat puitik itu menggambarkan tentang berlangsungnya pencarian spiritual yang dilakukan oleh mereka yang telah mengerti dan merasakan apa arti dari suatu dahaga ruhani.
SASTRA DI MATA IGNAS KLEDEN
: Mengulas Sastra Indonesia dalam
Enam Pertanyaan
Manneke Budiman, MA **
Membaca Ignas Kleden dalam Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan serasa menyaksikan bangkitnya kembali kritikus Subagjo Sastrowardojo, yang pernah gemilang dengan karyanya Sosok Pribadi dalam Sajak bertahun-tahun yang lalu. Sejak kepergian Subagjo Sastrowardojo, terasa betul ada kevakuman dalam produksi kritik sastra yang berbobot hingga lahirnya buku Ignas ini. Ia tidak hanya memberikan contoh yang baik kritik sastra yang bermutu, tetapi juga mengajarkan kepada kita bagaimana cara membuat kritik sastra yang bermutu. Ia juga memperlihatkan bagaimana gagasan dapat dielaborasi baik secara ekstensif maupun intensif, bergerak keluar-masuk teks sastra yang sedang diulasnya, dan menciptakan hubungan serta relevansi antara yang khusus atau spesifik dan yang umum atau universal.
Manneke Budiman, MA **
Membaca Ignas Kleden dalam Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan serasa menyaksikan bangkitnya kembali kritikus Subagjo Sastrowardojo, yang pernah gemilang dengan karyanya Sosok Pribadi dalam Sajak bertahun-tahun yang lalu. Sejak kepergian Subagjo Sastrowardojo, terasa betul ada kevakuman dalam produksi kritik sastra yang berbobot hingga lahirnya buku Ignas ini. Ia tidak hanya memberikan contoh yang baik kritik sastra yang bermutu, tetapi juga mengajarkan kepada kita bagaimana cara membuat kritik sastra yang bermutu. Ia juga memperlihatkan bagaimana gagasan dapat dielaborasi baik secara ekstensif maupun intensif, bergerak keluar-masuk teks sastra yang sedang diulasnya, dan menciptakan hubungan serta relevansi antara yang khusus atau spesifik dan yang umum atau universal.
Senin, 19 Juli 2021
Cerpen, Dialog, Naratif
Asarpin
lampungpost.com
Suatu hari saya ditanya oleh seorang teman yang kebetulan merasa mengikuti perkembangan cerpen kita. Katanya: apakah yang membedakan cerpen dengan naskah drama? Saya jawab: tidak ada bedanya, dan banyak cerpen itu berupa drama dan drama itu berupa cerpen.
lampungpost.com
Suatu hari saya ditanya oleh seorang teman yang kebetulan merasa mengikuti perkembangan cerpen kita. Katanya: apakah yang membedakan cerpen dengan naskah drama? Saya jawab: tidak ada bedanya, dan banyak cerpen itu berupa drama dan drama itu berupa cerpen.
Pengarang yang Menggandeng Jibril
Grathia Pitaloka
Jurnal Nasional 7 Sep 2008
Berbicara mengenai spiritualitas dalam karya sastra Indonesia, tak genap rasanya bila tak menyebut Danarto.
Membaca cerpen-cerpen Danarto, lelaki kelahiran Sragen, 27 Juni 1940 ini, seperti masuk ke sebuah dunia asing layaknya Alice in the Wonderland. Dengan cantik Danarto menyulap pohon, hantu, bahkan ayat suci Al Quran menjadi tokoh dalam ceritanya. Berlatarkan nuansa Jawa yang sangat kental, Danarto mengetengahkan cerita bergaya surealis lengkap dengan pilihan kata fantastis.
Jurnal Nasional 7 Sep 2008
Berbicara mengenai spiritualitas dalam karya sastra Indonesia, tak genap rasanya bila tak menyebut Danarto.
Membaca cerpen-cerpen Danarto, lelaki kelahiran Sragen, 27 Juni 1940 ini, seperti masuk ke sebuah dunia asing layaknya Alice in the Wonderland. Dengan cantik Danarto menyulap pohon, hantu, bahkan ayat suci Al Quran menjadi tokoh dalam ceritanya. Berlatarkan nuansa Jawa yang sangat kental, Danarto mengetengahkan cerita bergaya surealis lengkap dengan pilihan kata fantastis.
Selasa, 25 Mei 2021
Sastra Indonesia Menutup Abad
Dari Madura ke Pergaulan Dunia
Agus R. Sarjono
kompas.com
SEBAGAIMANA banyak segi dalam kehidupan di Indonesia, sastra pun memiliki kecenderungan kuat untuk serba memusat. Kecenderungan berkiblat ke pusat itu terlihat dalam banyak segi, baik segi tematik maupun estetik. Tema-tema protes sosial, misalnya, digarap dan ditulis sebagai reaksi dan tanggapan terhadap persoalan-persoalan yang hidup di pusat pemberitaan.
Agus R. Sarjono
kompas.com
SEBAGAIMANA banyak segi dalam kehidupan di Indonesia, sastra pun memiliki kecenderungan kuat untuk serba memusat. Kecenderungan berkiblat ke pusat itu terlihat dalam banyak segi, baik segi tematik maupun estetik. Tema-tema protes sosial, misalnya, digarap dan ditulis sebagai reaksi dan tanggapan terhadap persoalan-persoalan yang hidup di pusat pemberitaan.
Sabtu, 08 Mei 2021
Mengenang Arief Budiman, Tokoh Sastra Pencetak Sejarah
Yohanes Sehandi *
Hari ini Jumat, 23 April 2021, genap satu tahun tokoh sastra Indonesia modern, Arief Budiman, meninggal dunia. Beliau meninggal dunia pada Kamis, 23 April 2020, di Salatiga, dalam usia 79 tahun. Arief Budiman lahir di Jakarta pada 3 Januari 1941.
Pada waktu Arief Budiman meninggal dunia, teman akrabnya, Ariel Heryanto, menulis kesan singkat di akun Facebook-nya: “Kesan yang paling kuat tentang Arief yang saya simpan adalah sosoknya sebagai aktivis dan intelektual publik. Berbeda dengan kebanyakan aktivis, Arief berjiwa aktivis sedalam-dalamnya dan nyaris seumur hidup.” Tulisan Ariel Heryanto itu kemudian ramai-ramai dibagikan sejumlah netizen dan sejumlah media online di Tanah Air.
Hari ini Jumat, 23 April 2021, genap satu tahun tokoh sastra Indonesia modern, Arief Budiman, meninggal dunia. Beliau meninggal dunia pada Kamis, 23 April 2020, di Salatiga, dalam usia 79 tahun. Arief Budiman lahir di Jakarta pada 3 Januari 1941.
Pada waktu Arief Budiman meninggal dunia, teman akrabnya, Ariel Heryanto, menulis kesan singkat di akun Facebook-nya: “Kesan yang paling kuat tentang Arief yang saya simpan adalah sosoknya sebagai aktivis dan intelektual publik. Berbeda dengan kebanyakan aktivis, Arief berjiwa aktivis sedalam-dalamnya dan nyaris seumur hidup.” Tulisan Ariel Heryanto itu kemudian ramai-ramai dibagikan sejumlah netizen dan sejumlah media online di Tanah Air.
Minggu, 02 Mei 2021
SERATUS TAHUN KESUNYIAN: TRAGEDI DAN IRONI YANG DIULANG-ULANG
Novel Seratus Tahun Kesunyian, Gabriel García Márquez
A.S. Laksana *
“Dengan cara membesar-besarkan setiap kejadian, hingga mencapai tingkat takhyul,
kita bisa menikmati tragedi dengan rileks dan menertawainya sekaligus.”
“Bertahun-tahun nanti, saat ia menghadapi regu tembak, Kolonel Aureliano Buendía akan teringat senja yang samar ketika ayahnya membawanya menemukan es.” Kalimat pembuka ini melontarkan kita ke masa depan yang jauh, yang akan kita temui nanti di bagian tengah novel. Dan
A.S. Laksana *
“Dengan cara membesar-besarkan setiap kejadian, hingga mencapai tingkat takhyul,
kita bisa menikmati tragedi dengan rileks dan menertawainya sekaligus.”
“Bertahun-tahun nanti, saat ia menghadapi regu tembak, Kolonel Aureliano Buendía akan teringat senja yang samar ketika ayahnya membawanya menemukan es.” Kalimat pembuka ini melontarkan kita ke masa depan yang jauh, yang akan kita temui nanti di bagian tengah novel. Dan
Jumat, 12 Maret 2021
PENGHILANGAN KATA DALAM KRITIK SASTRA INDONESIA (V)
Jawaban untuk bagian A. Pengantar esainya (makalahnya) Sofyan RH. Zaid
Nurel Javissyarqi
V
Perpindahan bahasa Melayu (Kuno) dengan aksara Pallawa, Kawi, Jawa, Arab (pegon), hingga beraksara Latin di dataran subur Nusantara, tak lebih melalui pelbagai kebijakan para penguasa pada masa-masanya, dibalik kesuntukan para pustakawan, kaum penerjemah, kalangan pujangga dlsb. Namun sayang, harta berlimpah kekayaan pengetahuan sebelumnya itu, banyak diboyong berupa cara upeti maupun paksa atas para penjajah ke negerinya, Belanda, Inggris, dan sangat mungkin sampai Italia.
Nurel Javissyarqi
V
Perpindahan bahasa Melayu (Kuno) dengan aksara Pallawa, Kawi, Jawa, Arab (pegon), hingga beraksara Latin di dataran subur Nusantara, tak lebih melalui pelbagai kebijakan para penguasa pada masa-masanya, dibalik kesuntukan para pustakawan, kaum penerjemah, kalangan pujangga dlsb. Namun sayang, harta berlimpah kekayaan pengetahuan sebelumnya itu, banyak diboyong berupa cara upeti maupun paksa atas para penjajah ke negerinya, Belanda, Inggris, dan sangat mungkin sampai Italia.
Minggu, 28 Februari 2021
Diana dan Roland Barthes
Bre Redana
kompas.com
Kalau kehidupan petani diasosiasikan dengan desa agraris di Jawa, agak sulit membayangkan seorang anak petani bernama Diana, sebagaimana terdengar dalam lirik lagu Koes Plus berjudul “Diana”.
Banyak orang barangkali masih ingat lirik lagu itu: “Di gunung tinggi kutemui/ Gadis cantik putri paman petani/ Cantik menarik menawan hati/ Diana namanya manja sekali…”
kompas.com
Kalau kehidupan petani diasosiasikan dengan desa agraris di Jawa, agak sulit membayangkan seorang anak petani bernama Diana, sebagaimana terdengar dalam lirik lagu Koes Plus berjudul “Diana”.
Banyak orang barangkali masih ingat lirik lagu itu: “Di gunung tinggi kutemui/ Gadis cantik putri paman petani/ Cantik menarik menawan hati/ Diana namanya manja sekali…”
Minggu, 07 Februari 2021
KESADARAN EKSISTENSI DAN MANUSIA SEBAGAI PERISTIWA (I)
Catatan Kesan atas Novel “Ngrong” Karya S. Jai
A. Syauqi Sumbawi
Adalah sebuah keanehan, bahwa dalam upaya memahami diri sendiri, manusia malah menemukan keberadaannya sebagai misteri. Namun itulah realita hidup manusia di dunia, sebagaimana dikemukakan Alexis Carrel dalam bukunya Man the Unknown; bahwa manusia adalah keberadaan yang sukar dipahami.
A. Syauqi Sumbawi
Adalah sebuah keanehan, bahwa dalam upaya memahami diri sendiri, manusia malah menemukan keberadaannya sebagai misteri. Namun itulah realita hidup manusia di dunia, sebagaimana dikemukakan Alexis Carrel dalam bukunya Man the Unknown; bahwa manusia adalah keberadaan yang sukar dipahami.
KESADARAN EKSISTENSI DAN MANUSIA SEBAGAI PERISTIWA (II)
Catatan Kesan atas Novel “Ngrong” Karya S. Jai
A. Syauqi Sumbawi *
Spiritualitas dan Manusia sebagai Peristiwa
Kebebasan, itulah yang dijalani ketika Randu menjadi orong-orong. Hal yang sama juga ketika dia mencebur (kembali) dalam relasi dan kegiatan seni budaya di Surabaya. Berhenti sejenak di sini, kehadiran novel “Ngrong” ini cukup penting menjadi catatan mengenai proses berkesenian di kota tersebut, baik pengarang sendiri maupun para seniman lainnya—dengan nama tercantum— di bidang sastra, rupa, musik, teater dan sebagainya. Terutama bagi kalangan di luar kota. Dan tentu saja catatan tersebut dari sisi pengalaman S. Jai sendiri.
A. Syauqi Sumbawi *
Spiritualitas dan Manusia sebagai Peristiwa
Kebebasan, itulah yang dijalani ketika Randu menjadi orong-orong. Hal yang sama juga ketika dia mencebur (kembali) dalam relasi dan kegiatan seni budaya di Surabaya. Berhenti sejenak di sini, kehadiran novel “Ngrong” ini cukup penting menjadi catatan mengenai proses berkesenian di kota tersebut, baik pengarang sendiri maupun para seniman lainnya—dengan nama tercantum— di bidang sastra, rupa, musik, teater dan sebagainya. Terutama bagi kalangan di luar kota. Dan tentu saja catatan tersebut dari sisi pengalaman S. Jai sendiri.
Membaca R. Ng. Ranggawarsita dalam Satria Piningit
Jadid Al Farisy *
Ketika berbicara pemimpin, pikiran orang kebanyakan akan selalu tertuju pada seseorang, lembaga, atau institusi dimana ada subjek menjadi center yang bertugas memimpin objek yang harus dan butuh dipimpin. Para pemimpin bekerja pada ranah mengkonsep, mengarahkan, menjalankan, mengorganisir, serta berkewajiban mengevaluasi segala hal berkaitan dengan bidang tanggung jawabnya. Namun pemaknaan pemimpin tergantung dari sudut pandang ia ambil, di ruang lingkup mana tinggal. Sehingga perbedaan argumentasi menjadi keniscayaan.
Ketika berbicara pemimpin, pikiran orang kebanyakan akan selalu tertuju pada seseorang, lembaga, atau institusi dimana ada subjek menjadi center yang bertugas memimpin objek yang harus dan butuh dipimpin. Para pemimpin bekerja pada ranah mengkonsep, mengarahkan, menjalankan, mengorganisir, serta berkewajiban mengevaluasi segala hal berkaitan dengan bidang tanggung jawabnya. Namun pemaknaan pemimpin tergantung dari sudut pandang ia ambil, di ruang lingkup mana tinggal. Sehingga perbedaan argumentasi menjadi keniscayaan.
Senin, 01 Februari 2021
Gerilya Penulis Pemberontak
Fahrudin Nasrulloh *
Pontianak Post & jawapos.com
SETIAP penulis berdiri genting di kecamuk proses kreatifnya. Karena ia menyadari telah terlempar ke dunia, dirayapi gamang, terhirup waktu, diterbangkan iman. Telanjur sudah ia berlaga di padang kurusetra yang tak habis-habis itu. Sementara manusia lain, yang gentar nerjang nan alpa atas segala, cuma jadi ternak-ternak Tuhan belaka.
Pontianak Post & jawapos.com
SETIAP penulis berdiri genting di kecamuk proses kreatifnya. Karena ia menyadari telah terlempar ke dunia, dirayapi gamang, terhirup waktu, diterbangkan iman. Telanjur sudah ia berlaga di padang kurusetra yang tak habis-habis itu. Sementara manusia lain, yang gentar nerjang nan alpa atas segala, cuma jadi ternak-ternak Tuhan belaka.
Kamis, 31 Desember 2020
Puisi Indonesia dalam Tiga Ihwal
Riki Dhamparan Putra *
cetak.kompas.com
“…musuh puisi adalah tidak utuhnya pemahaman dalam diri penyair.”
Pablo Neruda, 1971
Tiga ihwal telah mendominasi panggung wacana dan memengaruhi perilaku bersastra kita sejak lama. Pertama: ajeg lokal, kedua: pornografi, dan ketiga: akrobat bahasa. Ajeg lokal adalah istilah yang saya lokalkan dari istilah yang sekarang sedang populer: lokalitas.
cetak.kompas.com
“…musuh puisi adalah tidak utuhnya pemahaman dalam diri penyair.”
Pablo Neruda, 1971
Tiga ihwal telah mendominasi panggung wacana dan memengaruhi perilaku bersastra kita sejak lama. Pertama: ajeg lokal, kedua: pornografi, dan ketiga: akrobat bahasa. Ajeg lokal adalah istilah yang saya lokalkan dari istilah yang sekarang sedang populer: lokalitas.
Kamis, 19 November 2020
Menakar Jean-Paul Sartre
Sigit Susanto *
Hari ini, 21 Juni 2013, Jean-Paul Sartre berusia 108 tahun. Penulis dan filsuf eksistensialis itu usianya cukup melambung, mencapai 75 tahun (1905-1980). Novel “Muak“ (Der Ekel), yang lebih menyerupai catatan harian, adalah novel perdana Sartre yang ditulis tahun 1938. Isinya menyeret pembaca pada hiruk pikuk kehidupan borjuis yang kotor, kadang Sartre membubuhkan waktu atau hari di awal tulisan. Karya perdana biasanya sering berbentuk biografi. Sartre pun menceritakan tentang dirinya sendiri dengan bentuk “Aku-Pencerita.“
Hari ini, 21 Juni 2013, Jean-Paul Sartre berusia 108 tahun. Penulis dan filsuf eksistensialis itu usianya cukup melambung, mencapai 75 tahun (1905-1980). Novel “Muak“ (Der Ekel), yang lebih menyerupai catatan harian, adalah novel perdana Sartre yang ditulis tahun 1938. Isinya menyeret pembaca pada hiruk pikuk kehidupan borjuis yang kotor, kadang Sartre membubuhkan waktu atau hari di awal tulisan. Karya perdana biasanya sering berbentuk biografi. Sartre pun menceritakan tentang dirinya sendiri dengan bentuk “Aku-Pencerita.“
TENTANG PERASAAN LIRIKAL *
E. M. Cioran
Terj: Lutfi Mardiansyah **
MENGAPA kita tidak bisa tetap tertutup di dalam diri kita sendiri? Mengapa kita mengejar-ngejar bentuk dan ungkapan, berupaya menyampaikan kepada diri kita sendiri sesuatu yang berharga atau “bermakna” dari diri kita, dengan putus asa mencoba menata seperti apa sesuatu itu semestinya setelah segala proses perlawanan dan kekacauan?
Terj: Lutfi Mardiansyah **
MENGAPA kita tidak bisa tetap tertutup di dalam diri kita sendiri? Mengapa kita mengejar-ngejar bentuk dan ungkapan, berupaya menyampaikan kepada diri kita sendiri sesuatu yang berharga atau “bermakna” dari diri kita, dengan putus asa mencoba menata seperti apa sesuatu itu semestinya setelah segala proses perlawanan dan kekacauan?
Selasa, 06 Oktober 2020
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel García Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati