Tampilkan postingan dengan label Arie MP Tamba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arie MP Tamba. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Oktober 2010

Kritik

Arie MP Tamba
http://www.jurnalnasional.com/

Sebagai seorang pembaca karya sastra, saya mempercayai apa yang dikatakan Jauss yang kemudian lebih dikenal sebagai paham teori resepsi, bahwa karya sastra bukanlah sebuah obyek yang berdiri sendirian dan menawarkan wajah yang sama kepada setiap pembaca dalam setiap periode. Sebab, lanjut Iser (temannya Jauss), setiap pembaca selalu berpartisipasi aktif dalam pembacaannya, sesuai cakrawala harapan atau pengetahuan kesusastraannya masing-masing.

Tentu saja saya bisa menerima adanya pendekatan pembacaan lain, seperti yang dilakukan kaum formalis, yang berkutat dengan aspek intrinsik karya sastra seiring perkembangan teorisisasi karya sastra di lembaga akademis ataupun berhasil ditegakkan seorang figur kritikus sastra berpengaruh.

Dan saya juga bisa memaklumi, pilihan pendekatan Marxis yang ingin meneropong sejauh mana sebuah karya sastra memiliki kekuatan sosiologis memetakan pertentangan kelas dan kecenderungan-kecenderungan politik yang ada di masyarakat, atau bahkan pendekatan biografis-psikologis seperti pernah dilakukan Arief Budiman terhadap Chairil Anwar, dan pada tingkat tertentu juga HB Jassin ketika menyusun teori angkatan, yang mengandaikan adanya hubungan langsung kepengarangan seseorang dengan perkembangan politik di masyarakat, dll.

Lalu, saya juga kerap memilih mengoperasikan pendekatan resepsi pembaca, yang secara lugas diilustrasikan Fish, bahwa setiap pembaca sesungguhnya tak pernah menghampiri sebuah karya sastra dengan kepala kosong, karena pembaca selalu membawa kopor berisi berbagai keputusan teoritis, ideologis, bahkan mental strategis, yang bisa saja personal.

Seperti pernah disinggung Subagio Sastrowardoyo tentang sajak-sajak D. Zawawi Imron, yang kalau diibaratkan meski seorang wanita yang tidak cantik, tapi karena terlanjur menyukainya, maka bagi Subagio sajak-sajak Zawawi-lah yang terbaik. Meski, dari kesukaannya itu, Subagio harus menghadapi risiko: betapa semakin intens ia ’menggauli’ karya-karya Zawawi, ia kemudian menemukan belang-bontengnya, cacat-panunya, atau kelemahan-kekurangannya.

Dan semua paradigma pembacaan ini, tentu saja termasuk kritik sastra. Kritik sastra adalah sebuah seni sastra, di samping karya sastra. Bila karya sastra mengandalkan konten dan bentuk, cerita, pesan, penokohan, plot, imajinasi, angan-angan, fantasi, bahkan harapan-harapan seorang seniman – maka kritik sastra – menawarkan evaluasi, pengamatan, penilaian, koreksi, usulan, atau sekadar komentar minimal, tentang karya sastra tersebut.

Paling tidak, begitulah Budi Darma (1995) memahaminya, dan saya menyepakatinya. Artinya, tak ada perbedaan yang signifikan antara kritik sastra akademis ataupun kritik sastra kreatif, seperti pernah ramai diperbincangkan d koran-koran dan majalah sastra. Atau, tak ada pula bedanya antara kritik sastra akademis dengan kritik sastra koran misalnya. Sebab, yang jadi tujuan adalah bagaimana mendapatkan kritik sastra yang baik. Atau, bagaimana kita kemudian mendapatkan evaluasi atas sebuah karya sastra.

Bila karya sastra yang baik menggerakkan pembacanya merenungkan kembali nilai-nilai kehidupan tertentu, dengan cara baru; maka, kritik sastra yang baik semestinyalah menimbulkan pencerahan bagi pembacanya, akan karya yang sedang dikritik. Dengan begitu, tak ada lagi perbedaan dalam bentuk apa kritik sastra itu disampaikan. Apakah dalam bentuk artikel, resensi, perbincangan panjang, esai menarik, atau sebuah buku ulasan khusus.

Sebab, yang jadi tujuan adalah bagaimana mendapatkan sebuah ’karya baru’, yakni sebuah ’kritik sastra’, berdasarkan sebuah ’karya lama’ yang dibahas si pengulas. Maka, bila kita mendapatkan sebuah karya kritik sastra yang ’kerdil’ dibandingkan karya sastra yang dibicarakannya, bisa ditafsirkan bahwa sebagai pembaca, si pengulas sedang menunjukkan kegagalannya membaca karya sastra itu. Atau, bila kita menemukan sebuah kritik sastra yang bagus atas sebuah karya sastra yang biasa-biasa saja; segera bisa dipahami, bahwa si pembaca sedang melebih-lebihkan penilaiannya tentang karya sastra tertentu.

Hingga, yang terbaik adalah bagaimana kita menemukan sebuah karya yang baik, mendapatkan kritik sastra yang tak kalah baiknya. Itulah yang kita alami ketika membaca kumpulan puisi Perahu Kertas karya Sapardi Djoko Damono, kemudian Sutardji Calzoum Bachri mengkritiknya dengan keras dan sama kayanya di majalah sastra Horison!

Atau, kita boleh mengacungkan jempol atas sorotan dan perbincangan yang dilakukan A Teeuw terhadap puisi-puisi para penyair penting Indonesia yang terkumpul dalam Tergantung Pada Kata. Demikian juga, kita merasa diperkaya oleh pemaparan cerdas dan simpatik Dami N Toda, atas pembaruan yang ditawarkan Novel-novel Baru Iwan Simatupang. Karya sastra bermutu, diimbangi oleh kritik sastra berkualitas!

Minggu, 16 November 2008

Bangsa

Arie MP Tamba
http://jurnalnasional.com/

Ben Anderson, sarjana Amerika yang pernah meneliti fenomena kebangsaan itu, sampai pada perumusan – bahwa bangsa adalah suatu komunitas politik yang dibayangkan – sekaligus terbatas maupun berdaulat. Segenap anggotanya memang tidak akan pernah saling mengenal satu sama lain, namun dalam benak, hidup suatu bayangan akan keterkaitan mereka.

Keterkaitan inilah yang terus dipelihara, melalui institusi kebudayaan: sosial, politik, agama, kesenian, dll. Di bidang kesenian khususnya, bagaimana lekatnya karya sastra dengan tegaknya nilai kebangsaan atau bangsa (baca: Indonesia), dapat disimak melalui beberapa karya Pramudya Ananta Toer. A Teeuw (1997) menguraikan secara detail, di antaranya, melalui kupasan atas novel Perburuan (1949).

Struktur novel (dengan tokoh-tokoh cerita: Karmin, Hardo, Ningsih, Dipo, dll), menunjukkan ciri-ciri sebuah lakon. Dalam tiga bab pertama urutan adegan terdiri dari dialog-dialog tipikal. Bab akhir menunjukkan kemiripan dengan goro-goro, adegan wayang yang dicirikan oleh “geger” hebat di tengah alam; terjadinya segala macam peristiwa yang gawat dan berbahaya sekaligus.

Pada saat Karmin, sekuat tenaga mencoba membantu sahabatnya dan menyelamatkan Ningsih, sedangkan Hardo dan Dipo dibocorkan penyamarannya, kemudian ditahan dan diantar ke kantor lurah, maka dari arah lain muncul sebuah truk dengan orang Indonesia yang berseru lewat pengeras suara bahwa Indonesia telah merdeka. Jepang menyerah pada Sekutu, dan Soekarno dan Hatta memproklamasikan Republik Indonesia.

Ini menyebabkan kekacauan besar di kalangan orang-orang Jepang. Sebelum mereka menyerah, terjadi tembak-menembak dengan pihak Indonesia. Dan akhir cerita Perburuan pun cukup tragis, khususnya bagi Hardo; sebab, peluru terakhir membunuh tunangannya, Ningsih.

Demikianlah novel yang dipretensikan pengarangnya sebagai “cerita bersemangat anti-Jepang, patriotik, dan ditutup dengan proklamasi kemerdekaan” itu, berakhir tragis. Setelah memperlihatkan, bagaimana kesewewenangan Jepang menghasilkan tirani kekuasaan yang sangat nyata. Khususnya di dalam bab akhir: kepicikan dan kebengisan Jepang, dikisahkan Pram secara gamblang.

Tentu saja, dari sisi penceritaan novel, Perburuan akan lebih berhasil sebagai novel patriotik, heroik, bila melukiskan suasana dan kisah perlawanan bawah tanah – ketimbang menyuguhkan dialog-dialog panjang-lebar – antara seorang kere setengah telanjang dengan beberapa orang karibnya. Proklamasi itu juga akan lebih terasa hidup lewat berbagai peristiwa, daripada merenungkannya dari kesedihan Hardo yang kehilangan kekasihnya.

Tapi novel Perburuan memang bukan novel aksi, melainkan sebuah kisah kontemplatif, dengan dialog-dialog panjang bahkan bertele-tele sebagai bahan. Namun, dengan kekurangan ini, Pram tetap berhasil memperlihatkan – bahwa menulis sebuah karya sastra – adalah memperjuangkan nilai-nilai kebangsaan, serta mencoba memahaminya melalui pengalaman eksistensial para tokoh cerita.

Novel pun jadi sebuah evokasi, pencitraan kenyataan Indonesia atau ke-Indonesiaan, yang coba dikonkretkan melalui teks sastra. Dengan sengaja menghadirkan sebuah momen kritis – penegakan sebuah bangsa melawan kolonialisme, pengedepanan nilai-nilai kemerdekaan, kebebasan – berhadapan dengan penjajahan oleh bangsa lain.

Pram tampak juga mengidentifikasikan dirinya, atau memperlihatkan idealisasinya tentang figur manusia Indonesia melalui tokoh Hardo. Menggarisbawahi kenyataan, bahwa sastrawan tak pernah lepas dari ikatan nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme, sekalipun ia mencoba menafikannya.

Dengan cara lain, penyosokan kebangsaan ini terlihat juga dari kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (SCB), yang menerjemahkan kebangsaan dengan menghidupkan inspirasi budaya lokal, mantra, sebagai medan eksplorasi kepenyairannya. Dalam mantra itu, kata-kata bisa hadir sebagai imaji pembentuk suasana magis dan surealis, yang meluluhkan pikiran ke dalam kabut ketidakpahaman.

Tapi meski kata-kata di dalam mantra sering tampak tanpa makna, tapi kata-kata itu memiliki kekuatan memukau yang luar biasa. Dunia mantra sepenuhnya tidak rasional. Sebagai ragam tutur estetik, mantra memiliki logika sendirinya. Mantra dicipta dengan tujuan memengaruhi bukan saja jiwa manusia, tetapi juga hewan, tetumbuhan, bahkan makhluk-makhluk halus yang dipercaya bertebaran di sekeliling kita (Abdul Hadi WM, 2007).

Ini menjelaskan, karya seni mempunyai kaitan erat dengan konteks ruang dan waktu, nilai-nilai sosial dan pemikiran yang hidup di tengah masyarakatnya. SCB muncul setelah lebih dari 20 tahun wafatnya Chairil Anwar. Dengan kredo kembali ke mantra, SCB tampak melakukan antitesa terhadap kepenyairan (dan cara berbahasa) Chairil. Secara keseluruhan, SCB telah meneguhkan perlunya pengembangan bahasa puisi – bagi seorang penyair – sebagai anak bangsa.

Kamis, 13 November 2008

Mitos Besar dari Bangsa Besar

Arie MP Tamba
http://jurnalnasional.com/
Kebesaran sebuah bangsa terekam dalam kekayaan mitologi dan legendanya.

Judul : Mitos & Legenda China
Penulis : ETC Werner
Penerjemah : Johan Japardi
Kategori : Non Fiksi
Tebal : 414 hlmn
Cetakan : Pertama
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Biarkan China terlelap. Sebab, jika China terbangun, dia akan mengguncang dunia. Begitulah Napoleon Bonaparte, si penakluk Eropa, itu pernah berkata. Dan China saat ini agaknya sudah terbangun dan dunia terpana kepadanya. Ketika krisis keuangan global terjadi di bulan Oktober 2008, akibat krisis ekonomi yang (disebabkan dan) terjadi di Amerika Serikat, semua pasar modal global guncang (termasuk Tokyo, Jepang). Kecuali, di Korea Selatan dan China!

Lalu, di kalangan intelektual, pada tahun 2000, seorang pengarang China, Gao Xingjian mendapatkan Nobel Sastra melalui The Soul Mountain (Gunung Jiwa, 1990). Dunia sastra khususnya: terbelalak. Terlepas dari posisi Gao yang telah menjadi warga negara Prancis, ke-China-an Gao jadi tambahan bagi berbagai ikon China di berbagai sektor kehidupan: politik, ekonomi, kesenian, pendidikan, teknologi, olahraga, otomotif, industri kreatif, dll. – yang sedang “digandrungi” dunia.

Setiap hari, isu kemajuan atau keberhasilan China dan juga kontroversinya, seperti tak habis-habisnya berkumandang. Ingat saja bulan lalu, bagaimana dunia kerepotan oleh produk susu China yang mengandung melamin. Terlepas dari aspek negatifnya, segera menjadi jelas bahwa produk susu China itu sudah merambah ke semua pelosok dunia. Hingga, bila pada abad ke-20 dunia adalah milik Amerika Serikat, maka dunia abad ke-21 adalah milik China. Begitulah pameo digembar-gemborkan, termasuk oleh futurolog terkenal asal Amerika Serikat, John Naisbiit.

Naisbiit jadi saksi, saat Deng Xiaoping berkunjung ke Amerika Serikat pada 1979, ia dibawa mengelilingi pabrik Ford yang masa itu menghasilkan mobil per bulan dalam jumlah lebih banyak daripada diproduksi di China dalam setahun. Deng yang memimpin China setelah kematian Mao pada 1976, muncul sebagai agen perubahan. ”Warna seekor kucing tidak penting, asalkan sang kucing menangkap tikus.” Itulah peribahasa Deng yang terkenal. Menyindir kucing ”sosialisme” Mao, yang gagal mengangkat perekonomian China, dan menggantinya dengan kucing ”kapitalisme”.

Deng memulai pembangunan dengan membentuk zona ekonomi khusus di beberapa kota terpilih, dan menjadikan sektor swasta sebagai komponen ekonomi paling dinamis. Ia membiarkan modal asing masuk ke China – memburu hampir satu miliar manusia yang akan jadi pasar menggiurkan untuk bisnis apa pun. Lalu, begitu saja, pada 2004, 25 tahun setelah kunjungan Deng ke Amerika, lebih dari 5 juta mobil diproduksi di China oleh lebih dari 120 produsen mobil. China juga sudah memiliki 166 kota, dengan populasi lebih dari 1 juta – bandingkan dengan 12 di Jepang, 9 di AS, dan 1 di Inggris, di bawah 10 di Indonesia – sebagai pasar lokal. Ditambah banyak kota besar di China yang memiliki populasi 6, 7, atau 8 juta jiwa. Urbanisasi cepat telah mengangkat jutaan penduduk pinggiran China, keluar dari kemiskinan.

Hampir semua kota di China, kata Naisbitt, kini sedang diubah menjadi zona konstruksi yang luas. Setiap kota berkembang jadi sebuah kota dunia. Mereka membangun bandara internasional, gedung-gedung tinggi, jalanan lebar, berbagai sarana publik, hingga kota-kota penuh cahaya bermunculan bagai cendawan di musim hujan pada malam hari.

Lalu, dari mana semua ”kebesaran” bangsa China itu bersumber? Edward Theodore Chalmers Werner, pada tahun 1922, telah merekam jejak mahakekayaan – ilmu pengetahuan, gagasan, sentimen sosial, keunikan psikologi, tatanan adat-istiadat, keluasan maupun keliaran imajinasi yang dikonkretkan ke dalam fiksi, aturan rumah tangga, relung-relung moralitas, perjalanan nasib, makna kasih-sayang, filosofi hidup sebagai anggota masyarakat, umat beragama, warga negara (baca: kerajaan), di bawah aturan hukum, logika alam, hingga berbagai kemungkinan khayali kehidupan sebelum (dan sesudah) hari ini – yang menjadi narasi penopang kebudayaan bangsa China selama ribuan tahun.

Semua itu, terangkum dalam sebuah buku besar, Mitos dan Legenda China, Kumpulan Kisah Fantastis dan Rahasia di Baliknya. Buku yang cukup berpengaruh selama puluhan tahun di kalangan antropolog, sosiolog, maupun penggemar mitologi atau sekadar pemerhati kebudayaan China sampai saat ini. Terdiri dari 26 bab, di antaranya: mengurai sosiologi orang China, mitologi China, kosmogono-pangu dan penciptaan mitos, dewa-dewa China, mitos-mitos bintang, guruh, petir, angin, hujan, air, api, wabah, obat-obatan, legenda-legenda, dll.

Werner menyebutkan, secara umum karakter fisik, emosional, dan intelektual manusia China sudah diketahui di banyak kalangan masyarakat dunia karena penyebarannya yang tinggi. Mata sipit berbentuk buah badam (admond), dengan selaput pelangi berwarna hitam dan lingkar mata yang terpisah jauh, lipatan vertikal kulit di atas sudut kelopak atas dan bawah mata bagian dalam, yang menyembunyikan sebagian selaput pelangi, sebuah ciri khas yang membedakan bangsa-bangsa timur Asia dengan semua kerabat manusia lain.

Tinggi tegak dan berat otak umumnya di bawah rata-rata. Rambut hitam dan lurus, janggut jarang atau tidak ada. Warna kulit di China selatan lebih gelap ketimbang di China utara. Dan secara emosional, manusia China berkesadaran rajin, berdaya tahan dan juang luar biasa, berterima kasih, sopan, formal, dengan rasa kehormatan berdagang yang tinggi, dan juga berlibido tinggi.

Meski manusia China abad ke-21 tampak lebih progresif, dengan cepatnya perkembangan berbagai teknologi termasuk teknologi informatika di China saat ini, pada puluhan tahun lalu (masa Werner), manusia China cenderung menghindari kemajuan, terikat pada keseragaman, mempertahankan mekanisme budaya, tidak imajinatif, lamban, penuh curiga dan cenderung mempercayai tahyul.

Takhayul-takhayul itu, sebagian besar bisa diikuti pada bab mitos-mitos (V s/d IX). Dimulai dari mitos bintang-bintang, yang menyebutkan bahwa matahari, bulan, dan planet-planet memengaruhi kejadian-kejadian sublunar, terutama kehidupan dan kematian manusia, dan perubahan warna benda-benda angkasa itu menandakan malapetaka yang mengancam.

Perubahan penampilan matahari, jadi tanda kesialan bagi negara atau kepala negara berupa pemberontakan, bahaya kelaparan, atau kematian kaisar. Ketika bulan semakin memerah, atau berubah menjadi pucat, kehidupan manusia (atau masyarakat) pasti berada dalam masa-masa sangat sial seperti telah diramalkan.

Dan semua ini hanya sebagian kecil dari kekayaan ”Timur”, seperti disebutkan Ratu Saba dari Mardrus. Tetapi, negara-negara Timur ini, Asia ini, akhirnya merupakan perbatasan-perbatasan sebenarnya. Asia adalah tempat di mana vulgaritas berakhir, di mana martabat dilahirkan, dan di mana keanggunan intelektual dimulai. Dan negara-negara Timur adalah tempat di mana sumber puisi begitu melimpah ruah.

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati