Arie MP Tamba
http://www.jurnalnasional.com/
Sebagai seorang pembaca karya sastra, saya mempercayai apa yang dikatakan Jauss yang kemudian lebih dikenal sebagai paham teori resepsi, bahwa karya sastra bukanlah sebuah obyek yang berdiri sendirian dan menawarkan wajah yang sama kepada setiap pembaca dalam setiap periode. Sebab, lanjut Iser (temannya Jauss), setiap pembaca selalu berpartisipasi aktif dalam pembacaannya, sesuai cakrawala harapan atau pengetahuan kesusastraannya masing-masing.
Tentu saja saya bisa menerima adanya pendekatan pembacaan lain, seperti yang dilakukan kaum formalis, yang berkutat dengan aspek intrinsik karya sastra seiring perkembangan teorisisasi karya sastra di lembaga akademis ataupun berhasil ditegakkan seorang figur kritikus sastra berpengaruh.
Dan saya juga bisa memaklumi, pilihan pendekatan Marxis yang ingin meneropong sejauh mana sebuah karya sastra memiliki kekuatan sosiologis memetakan pertentangan kelas dan kecenderungan-kecenderungan politik yang ada di masyarakat, atau bahkan pendekatan biografis-psikologis seperti pernah dilakukan Arief Budiman terhadap Chairil Anwar, dan pada tingkat tertentu juga HB Jassin ketika menyusun teori angkatan, yang mengandaikan adanya hubungan langsung kepengarangan seseorang dengan perkembangan politik di masyarakat, dll.
Lalu, saya juga kerap memilih mengoperasikan pendekatan resepsi pembaca, yang secara lugas diilustrasikan Fish, bahwa setiap pembaca sesungguhnya tak pernah menghampiri sebuah karya sastra dengan kepala kosong, karena pembaca selalu membawa kopor berisi berbagai keputusan teoritis, ideologis, bahkan mental strategis, yang bisa saja personal.
Seperti pernah disinggung Subagio Sastrowardoyo tentang sajak-sajak D. Zawawi Imron, yang kalau diibaratkan meski seorang wanita yang tidak cantik, tapi karena terlanjur menyukainya, maka bagi Subagio sajak-sajak Zawawi-lah yang terbaik. Meski, dari kesukaannya itu, Subagio harus menghadapi risiko: betapa semakin intens ia ’menggauli’ karya-karya Zawawi, ia kemudian menemukan belang-bontengnya, cacat-panunya, atau kelemahan-kekurangannya.
Dan semua paradigma pembacaan ini, tentu saja termasuk kritik sastra. Kritik sastra adalah sebuah seni sastra, di samping karya sastra. Bila karya sastra mengandalkan konten dan bentuk, cerita, pesan, penokohan, plot, imajinasi, angan-angan, fantasi, bahkan harapan-harapan seorang seniman – maka kritik sastra – menawarkan evaluasi, pengamatan, penilaian, koreksi, usulan, atau sekadar komentar minimal, tentang karya sastra tersebut.
Paling tidak, begitulah Budi Darma (1995) memahaminya, dan saya menyepakatinya. Artinya, tak ada perbedaan yang signifikan antara kritik sastra akademis ataupun kritik sastra kreatif, seperti pernah ramai diperbincangkan d koran-koran dan majalah sastra. Atau, tak ada pula bedanya antara kritik sastra akademis dengan kritik sastra koran misalnya. Sebab, yang jadi tujuan adalah bagaimana mendapatkan kritik sastra yang baik. Atau, bagaimana kita kemudian mendapatkan evaluasi atas sebuah karya sastra.
Bila karya sastra yang baik menggerakkan pembacanya merenungkan kembali nilai-nilai kehidupan tertentu, dengan cara baru; maka, kritik sastra yang baik semestinyalah menimbulkan pencerahan bagi pembacanya, akan karya yang sedang dikritik. Dengan begitu, tak ada lagi perbedaan dalam bentuk apa kritik sastra itu disampaikan. Apakah dalam bentuk artikel, resensi, perbincangan panjang, esai menarik, atau sebuah buku ulasan khusus.
Sebab, yang jadi tujuan adalah bagaimana mendapatkan sebuah ’karya baru’, yakni sebuah ’kritik sastra’, berdasarkan sebuah ’karya lama’ yang dibahas si pengulas. Maka, bila kita mendapatkan sebuah karya kritik sastra yang ’kerdil’ dibandingkan karya sastra yang dibicarakannya, bisa ditafsirkan bahwa sebagai pembaca, si pengulas sedang menunjukkan kegagalannya membaca karya sastra itu. Atau, bila kita menemukan sebuah kritik sastra yang bagus atas sebuah karya sastra yang biasa-biasa saja; segera bisa dipahami, bahwa si pembaca sedang melebih-lebihkan penilaiannya tentang karya sastra tertentu.
Hingga, yang terbaik adalah bagaimana kita menemukan sebuah karya yang baik, mendapatkan kritik sastra yang tak kalah baiknya. Itulah yang kita alami ketika membaca kumpulan puisi Perahu Kertas karya Sapardi Djoko Damono, kemudian Sutardji Calzoum Bachri mengkritiknya dengan keras dan sama kayanya di majalah sastra Horison!
Atau, kita boleh mengacungkan jempol atas sorotan dan perbincangan yang dilakukan A Teeuw terhadap puisi-puisi para penyair penting Indonesia yang terkumpul dalam Tergantung Pada Kata. Demikian juga, kita merasa diperkaya oleh pemaparan cerdas dan simpatik Dami N Toda, atas pembaruan yang ditawarkan Novel-novel Baru Iwan Simatupang. Karya sastra bermutu, diimbangi oleh kritik sastra berkualitas!
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Arie MP Tamba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arie MP Tamba. Tampilkan semua postingan
Kamis, 14 Oktober 2010
Minggu, 16 November 2008
Bangsa
Arie MP Tamba
http://jurnalnasional.com/
Ben Anderson, sarjana Amerika yang pernah meneliti fenomena kebangsaan itu, sampai pada perumusan – bahwa bangsa adalah suatu komunitas politik yang dibayangkan – sekaligus terbatas maupun berdaulat. Segenap anggotanya memang tidak akan pernah saling mengenal satu sama lain, namun dalam benak, hidup suatu bayangan akan keterkaitan mereka.
Keterkaitan inilah yang terus dipelihara, melalui institusi kebudayaan: sosial, politik, agama, kesenian, dll. Di bidang kesenian khususnya, bagaimana lekatnya karya sastra dengan tegaknya nilai kebangsaan atau bangsa (baca: Indonesia), dapat disimak melalui beberapa karya Pramudya Ananta Toer. A Teeuw (1997) menguraikan secara detail, di antaranya, melalui kupasan atas novel Perburuan (1949).
Struktur novel (dengan tokoh-tokoh cerita: Karmin, Hardo, Ningsih, Dipo, dll), menunjukkan ciri-ciri sebuah lakon. Dalam tiga bab pertama urutan adegan terdiri dari dialog-dialog tipikal. Bab akhir menunjukkan kemiripan dengan goro-goro, adegan wayang yang dicirikan oleh “geger” hebat di tengah alam; terjadinya segala macam peristiwa yang gawat dan berbahaya sekaligus.
Pada saat Karmin, sekuat tenaga mencoba membantu sahabatnya dan menyelamatkan Ningsih, sedangkan Hardo dan Dipo dibocorkan penyamarannya, kemudian ditahan dan diantar ke kantor lurah, maka dari arah lain muncul sebuah truk dengan orang Indonesia yang berseru lewat pengeras suara bahwa Indonesia telah merdeka. Jepang menyerah pada Sekutu, dan Soekarno dan Hatta memproklamasikan Republik Indonesia.
Ini menyebabkan kekacauan besar di kalangan orang-orang Jepang. Sebelum mereka menyerah, terjadi tembak-menembak dengan pihak Indonesia. Dan akhir cerita Perburuan pun cukup tragis, khususnya bagi Hardo; sebab, peluru terakhir membunuh tunangannya, Ningsih.
Demikianlah novel yang dipretensikan pengarangnya sebagai “cerita bersemangat anti-Jepang, patriotik, dan ditutup dengan proklamasi kemerdekaan” itu, berakhir tragis. Setelah memperlihatkan, bagaimana kesewewenangan Jepang menghasilkan tirani kekuasaan yang sangat nyata. Khususnya di dalam bab akhir: kepicikan dan kebengisan Jepang, dikisahkan Pram secara gamblang.
Tentu saja, dari sisi penceritaan novel, Perburuan akan lebih berhasil sebagai novel patriotik, heroik, bila melukiskan suasana dan kisah perlawanan bawah tanah – ketimbang menyuguhkan dialog-dialog panjang-lebar – antara seorang kere setengah telanjang dengan beberapa orang karibnya. Proklamasi itu juga akan lebih terasa hidup lewat berbagai peristiwa, daripada merenungkannya dari kesedihan Hardo yang kehilangan kekasihnya.
Tapi novel Perburuan memang bukan novel aksi, melainkan sebuah kisah kontemplatif, dengan dialog-dialog panjang bahkan bertele-tele sebagai bahan. Namun, dengan kekurangan ini, Pram tetap berhasil memperlihatkan – bahwa menulis sebuah karya sastra – adalah memperjuangkan nilai-nilai kebangsaan, serta mencoba memahaminya melalui pengalaman eksistensial para tokoh cerita.
Novel pun jadi sebuah evokasi, pencitraan kenyataan Indonesia atau ke-Indonesiaan, yang coba dikonkretkan melalui teks sastra. Dengan sengaja menghadirkan sebuah momen kritis – penegakan sebuah bangsa melawan kolonialisme, pengedepanan nilai-nilai kemerdekaan, kebebasan – berhadapan dengan penjajahan oleh bangsa lain.
Pram tampak juga mengidentifikasikan dirinya, atau memperlihatkan idealisasinya tentang figur manusia Indonesia melalui tokoh Hardo. Menggarisbawahi kenyataan, bahwa sastrawan tak pernah lepas dari ikatan nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme, sekalipun ia mencoba menafikannya.
Dengan cara lain, penyosokan kebangsaan ini terlihat juga dari kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (SCB), yang menerjemahkan kebangsaan dengan menghidupkan inspirasi budaya lokal, mantra, sebagai medan eksplorasi kepenyairannya. Dalam mantra itu, kata-kata bisa hadir sebagai imaji pembentuk suasana magis dan surealis, yang meluluhkan pikiran ke dalam kabut ketidakpahaman.
Tapi meski kata-kata di dalam mantra sering tampak tanpa makna, tapi kata-kata itu memiliki kekuatan memukau yang luar biasa. Dunia mantra sepenuhnya tidak rasional. Sebagai ragam tutur estetik, mantra memiliki logika sendirinya. Mantra dicipta dengan tujuan memengaruhi bukan saja jiwa manusia, tetapi juga hewan, tetumbuhan, bahkan makhluk-makhluk halus yang dipercaya bertebaran di sekeliling kita (Abdul Hadi WM, 2007).
Ini menjelaskan, karya seni mempunyai kaitan erat dengan konteks ruang dan waktu, nilai-nilai sosial dan pemikiran yang hidup di tengah masyarakatnya. SCB muncul setelah lebih dari 20 tahun wafatnya Chairil Anwar. Dengan kredo kembali ke mantra, SCB tampak melakukan antitesa terhadap kepenyairan (dan cara berbahasa) Chairil. Secara keseluruhan, SCB telah meneguhkan perlunya pengembangan bahasa puisi – bagi seorang penyair – sebagai anak bangsa.
http://jurnalnasional.com/
Ben Anderson, sarjana Amerika yang pernah meneliti fenomena kebangsaan itu, sampai pada perumusan – bahwa bangsa adalah suatu komunitas politik yang dibayangkan – sekaligus terbatas maupun berdaulat. Segenap anggotanya memang tidak akan pernah saling mengenal satu sama lain, namun dalam benak, hidup suatu bayangan akan keterkaitan mereka.
Keterkaitan inilah yang terus dipelihara, melalui institusi kebudayaan: sosial, politik, agama, kesenian, dll. Di bidang kesenian khususnya, bagaimana lekatnya karya sastra dengan tegaknya nilai kebangsaan atau bangsa (baca: Indonesia), dapat disimak melalui beberapa karya Pramudya Ananta Toer. A Teeuw (1997) menguraikan secara detail, di antaranya, melalui kupasan atas novel Perburuan (1949).
Struktur novel (dengan tokoh-tokoh cerita: Karmin, Hardo, Ningsih, Dipo, dll), menunjukkan ciri-ciri sebuah lakon. Dalam tiga bab pertama urutan adegan terdiri dari dialog-dialog tipikal. Bab akhir menunjukkan kemiripan dengan goro-goro, adegan wayang yang dicirikan oleh “geger” hebat di tengah alam; terjadinya segala macam peristiwa yang gawat dan berbahaya sekaligus.
Pada saat Karmin, sekuat tenaga mencoba membantu sahabatnya dan menyelamatkan Ningsih, sedangkan Hardo dan Dipo dibocorkan penyamarannya, kemudian ditahan dan diantar ke kantor lurah, maka dari arah lain muncul sebuah truk dengan orang Indonesia yang berseru lewat pengeras suara bahwa Indonesia telah merdeka. Jepang menyerah pada Sekutu, dan Soekarno dan Hatta memproklamasikan Republik Indonesia.
Ini menyebabkan kekacauan besar di kalangan orang-orang Jepang. Sebelum mereka menyerah, terjadi tembak-menembak dengan pihak Indonesia. Dan akhir cerita Perburuan pun cukup tragis, khususnya bagi Hardo; sebab, peluru terakhir membunuh tunangannya, Ningsih.
Demikianlah novel yang dipretensikan pengarangnya sebagai “cerita bersemangat anti-Jepang, patriotik, dan ditutup dengan proklamasi kemerdekaan” itu, berakhir tragis. Setelah memperlihatkan, bagaimana kesewewenangan Jepang menghasilkan tirani kekuasaan yang sangat nyata. Khususnya di dalam bab akhir: kepicikan dan kebengisan Jepang, dikisahkan Pram secara gamblang.
Tentu saja, dari sisi penceritaan novel, Perburuan akan lebih berhasil sebagai novel patriotik, heroik, bila melukiskan suasana dan kisah perlawanan bawah tanah – ketimbang menyuguhkan dialog-dialog panjang-lebar – antara seorang kere setengah telanjang dengan beberapa orang karibnya. Proklamasi itu juga akan lebih terasa hidup lewat berbagai peristiwa, daripada merenungkannya dari kesedihan Hardo yang kehilangan kekasihnya.
Tapi novel Perburuan memang bukan novel aksi, melainkan sebuah kisah kontemplatif, dengan dialog-dialog panjang bahkan bertele-tele sebagai bahan. Namun, dengan kekurangan ini, Pram tetap berhasil memperlihatkan – bahwa menulis sebuah karya sastra – adalah memperjuangkan nilai-nilai kebangsaan, serta mencoba memahaminya melalui pengalaman eksistensial para tokoh cerita.
Novel pun jadi sebuah evokasi, pencitraan kenyataan Indonesia atau ke-Indonesiaan, yang coba dikonkretkan melalui teks sastra. Dengan sengaja menghadirkan sebuah momen kritis – penegakan sebuah bangsa melawan kolonialisme, pengedepanan nilai-nilai kemerdekaan, kebebasan – berhadapan dengan penjajahan oleh bangsa lain.
Pram tampak juga mengidentifikasikan dirinya, atau memperlihatkan idealisasinya tentang figur manusia Indonesia melalui tokoh Hardo. Menggarisbawahi kenyataan, bahwa sastrawan tak pernah lepas dari ikatan nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme, sekalipun ia mencoba menafikannya.
Dengan cara lain, penyosokan kebangsaan ini terlihat juga dari kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (SCB), yang menerjemahkan kebangsaan dengan menghidupkan inspirasi budaya lokal, mantra, sebagai medan eksplorasi kepenyairannya. Dalam mantra itu, kata-kata bisa hadir sebagai imaji pembentuk suasana magis dan surealis, yang meluluhkan pikiran ke dalam kabut ketidakpahaman.
Tapi meski kata-kata di dalam mantra sering tampak tanpa makna, tapi kata-kata itu memiliki kekuatan memukau yang luar biasa. Dunia mantra sepenuhnya tidak rasional. Sebagai ragam tutur estetik, mantra memiliki logika sendirinya. Mantra dicipta dengan tujuan memengaruhi bukan saja jiwa manusia, tetapi juga hewan, tetumbuhan, bahkan makhluk-makhluk halus yang dipercaya bertebaran di sekeliling kita (Abdul Hadi WM, 2007).
Ini menjelaskan, karya seni mempunyai kaitan erat dengan konteks ruang dan waktu, nilai-nilai sosial dan pemikiran yang hidup di tengah masyarakatnya. SCB muncul setelah lebih dari 20 tahun wafatnya Chairil Anwar. Dengan kredo kembali ke mantra, SCB tampak melakukan antitesa terhadap kepenyairan (dan cara berbahasa) Chairil. Secara keseluruhan, SCB telah meneguhkan perlunya pengembangan bahasa puisi – bagi seorang penyair – sebagai anak bangsa.
Kamis, 13 November 2008
Mitos Besar dari Bangsa Besar
Arie MP Tamba
http://jurnalnasional.com/
Kebesaran sebuah bangsa terekam dalam kekayaan mitologi dan legendanya.
Judul : Mitos & Legenda China
Penulis : ETC Werner
Penerjemah : Johan Japardi
Kategori : Non Fiksi
Tebal : 414 hlmn
Cetakan : Pertama
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Biarkan China terlelap. Sebab, jika China terbangun, dia akan mengguncang dunia. Begitulah Napoleon Bonaparte, si penakluk Eropa, itu pernah berkata. Dan China saat ini agaknya sudah terbangun dan dunia terpana kepadanya. Ketika krisis keuangan global terjadi di bulan Oktober 2008, akibat krisis ekonomi yang (disebabkan dan) terjadi di Amerika Serikat, semua pasar modal global guncang (termasuk Tokyo, Jepang). Kecuali, di Korea Selatan dan China!
Lalu, di kalangan intelektual, pada tahun 2000, seorang pengarang China, Gao Xingjian mendapatkan Nobel Sastra melalui The Soul Mountain (Gunung Jiwa, 1990). Dunia sastra khususnya: terbelalak. Terlepas dari posisi Gao yang telah menjadi warga negara Prancis, ke-China-an Gao jadi tambahan bagi berbagai ikon China di berbagai sektor kehidupan: politik, ekonomi, kesenian, pendidikan, teknologi, olahraga, otomotif, industri kreatif, dll. – yang sedang “digandrungi” dunia.
Setiap hari, isu kemajuan atau keberhasilan China dan juga kontroversinya, seperti tak habis-habisnya berkumandang. Ingat saja bulan lalu, bagaimana dunia kerepotan oleh produk susu China yang mengandung melamin. Terlepas dari aspek negatifnya, segera menjadi jelas bahwa produk susu China itu sudah merambah ke semua pelosok dunia. Hingga, bila pada abad ke-20 dunia adalah milik Amerika Serikat, maka dunia abad ke-21 adalah milik China. Begitulah pameo digembar-gemborkan, termasuk oleh futurolog terkenal asal Amerika Serikat, John Naisbiit.
Naisbiit jadi saksi, saat Deng Xiaoping berkunjung ke Amerika Serikat pada 1979, ia dibawa mengelilingi pabrik Ford yang masa itu menghasilkan mobil per bulan dalam jumlah lebih banyak daripada diproduksi di China dalam setahun. Deng yang memimpin China setelah kematian Mao pada 1976, muncul sebagai agen perubahan. ”Warna seekor kucing tidak penting, asalkan sang kucing menangkap tikus.” Itulah peribahasa Deng yang terkenal. Menyindir kucing ”sosialisme” Mao, yang gagal mengangkat perekonomian China, dan menggantinya dengan kucing ”kapitalisme”.
Deng memulai pembangunan dengan membentuk zona ekonomi khusus di beberapa kota terpilih, dan menjadikan sektor swasta sebagai komponen ekonomi paling dinamis. Ia membiarkan modal asing masuk ke China – memburu hampir satu miliar manusia yang akan jadi pasar menggiurkan untuk bisnis apa pun. Lalu, begitu saja, pada 2004, 25 tahun setelah kunjungan Deng ke Amerika, lebih dari 5 juta mobil diproduksi di China oleh lebih dari 120 produsen mobil. China juga sudah memiliki 166 kota, dengan populasi lebih dari 1 juta – bandingkan dengan 12 di Jepang, 9 di AS, dan 1 di Inggris, di bawah 10 di Indonesia – sebagai pasar lokal. Ditambah banyak kota besar di China yang memiliki populasi 6, 7, atau 8 juta jiwa. Urbanisasi cepat telah mengangkat jutaan penduduk pinggiran China, keluar dari kemiskinan.
Hampir semua kota di China, kata Naisbitt, kini sedang diubah menjadi zona konstruksi yang luas. Setiap kota berkembang jadi sebuah kota dunia. Mereka membangun bandara internasional, gedung-gedung tinggi, jalanan lebar, berbagai sarana publik, hingga kota-kota penuh cahaya bermunculan bagai cendawan di musim hujan pada malam hari.
Lalu, dari mana semua ”kebesaran” bangsa China itu bersumber? Edward Theodore Chalmers Werner, pada tahun 1922, telah merekam jejak mahakekayaan – ilmu pengetahuan, gagasan, sentimen sosial, keunikan psikologi, tatanan adat-istiadat, keluasan maupun keliaran imajinasi yang dikonkretkan ke dalam fiksi, aturan rumah tangga, relung-relung moralitas, perjalanan nasib, makna kasih-sayang, filosofi hidup sebagai anggota masyarakat, umat beragama, warga negara (baca: kerajaan), di bawah aturan hukum, logika alam, hingga berbagai kemungkinan khayali kehidupan sebelum (dan sesudah) hari ini – yang menjadi narasi penopang kebudayaan bangsa China selama ribuan tahun.
Semua itu, terangkum dalam sebuah buku besar, Mitos dan Legenda China, Kumpulan Kisah Fantastis dan Rahasia di Baliknya. Buku yang cukup berpengaruh selama puluhan tahun di kalangan antropolog, sosiolog, maupun penggemar mitologi atau sekadar pemerhati kebudayaan China sampai saat ini. Terdiri dari 26 bab, di antaranya: mengurai sosiologi orang China, mitologi China, kosmogono-pangu dan penciptaan mitos, dewa-dewa China, mitos-mitos bintang, guruh, petir, angin, hujan, air, api, wabah, obat-obatan, legenda-legenda, dll.
Werner menyebutkan, secara umum karakter fisik, emosional, dan intelektual manusia China sudah diketahui di banyak kalangan masyarakat dunia karena penyebarannya yang tinggi. Mata sipit berbentuk buah badam (admond), dengan selaput pelangi berwarna hitam dan lingkar mata yang terpisah jauh, lipatan vertikal kulit di atas sudut kelopak atas dan bawah mata bagian dalam, yang menyembunyikan sebagian selaput pelangi, sebuah ciri khas yang membedakan bangsa-bangsa timur Asia dengan semua kerabat manusia lain.
Tinggi tegak dan berat otak umumnya di bawah rata-rata. Rambut hitam dan lurus, janggut jarang atau tidak ada. Warna kulit di China selatan lebih gelap ketimbang di China utara. Dan secara emosional, manusia China berkesadaran rajin, berdaya tahan dan juang luar biasa, berterima kasih, sopan, formal, dengan rasa kehormatan berdagang yang tinggi, dan juga berlibido tinggi.
Meski manusia China abad ke-21 tampak lebih progresif, dengan cepatnya perkembangan berbagai teknologi termasuk teknologi informatika di China saat ini, pada puluhan tahun lalu (masa Werner), manusia China cenderung menghindari kemajuan, terikat pada keseragaman, mempertahankan mekanisme budaya, tidak imajinatif, lamban, penuh curiga dan cenderung mempercayai tahyul.
Takhayul-takhayul itu, sebagian besar bisa diikuti pada bab mitos-mitos (V s/d IX). Dimulai dari mitos bintang-bintang, yang menyebutkan bahwa matahari, bulan, dan planet-planet memengaruhi kejadian-kejadian sublunar, terutama kehidupan dan kematian manusia, dan perubahan warna benda-benda angkasa itu menandakan malapetaka yang mengancam.
Perubahan penampilan matahari, jadi tanda kesialan bagi negara atau kepala negara berupa pemberontakan, bahaya kelaparan, atau kematian kaisar. Ketika bulan semakin memerah, atau berubah menjadi pucat, kehidupan manusia (atau masyarakat) pasti berada dalam masa-masa sangat sial seperti telah diramalkan.
Dan semua ini hanya sebagian kecil dari kekayaan ”Timur”, seperti disebutkan Ratu Saba dari Mardrus. Tetapi, negara-negara Timur ini, Asia ini, akhirnya merupakan perbatasan-perbatasan sebenarnya. Asia adalah tempat di mana vulgaritas berakhir, di mana martabat dilahirkan, dan di mana keanggunan intelektual dimulai. Dan negara-negara Timur adalah tempat di mana sumber puisi begitu melimpah ruah.
http://jurnalnasional.com/
Kebesaran sebuah bangsa terekam dalam kekayaan mitologi dan legendanya.
Judul : Mitos & Legenda China
Penulis : ETC Werner
Penerjemah : Johan Japardi
Kategori : Non Fiksi
Tebal : 414 hlmn
Cetakan : Pertama
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Biarkan China terlelap. Sebab, jika China terbangun, dia akan mengguncang dunia. Begitulah Napoleon Bonaparte, si penakluk Eropa, itu pernah berkata. Dan China saat ini agaknya sudah terbangun dan dunia terpana kepadanya. Ketika krisis keuangan global terjadi di bulan Oktober 2008, akibat krisis ekonomi yang (disebabkan dan) terjadi di Amerika Serikat, semua pasar modal global guncang (termasuk Tokyo, Jepang). Kecuali, di Korea Selatan dan China!
Lalu, di kalangan intelektual, pada tahun 2000, seorang pengarang China, Gao Xingjian mendapatkan Nobel Sastra melalui The Soul Mountain (Gunung Jiwa, 1990). Dunia sastra khususnya: terbelalak. Terlepas dari posisi Gao yang telah menjadi warga negara Prancis, ke-China-an Gao jadi tambahan bagi berbagai ikon China di berbagai sektor kehidupan: politik, ekonomi, kesenian, pendidikan, teknologi, olahraga, otomotif, industri kreatif, dll. – yang sedang “digandrungi” dunia.
Setiap hari, isu kemajuan atau keberhasilan China dan juga kontroversinya, seperti tak habis-habisnya berkumandang. Ingat saja bulan lalu, bagaimana dunia kerepotan oleh produk susu China yang mengandung melamin. Terlepas dari aspek negatifnya, segera menjadi jelas bahwa produk susu China itu sudah merambah ke semua pelosok dunia. Hingga, bila pada abad ke-20 dunia adalah milik Amerika Serikat, maka dunia abad ke-21 adalah milik China. Begitulah pameo digembar-gemborkan, termasuk oleh futurolog terkenal asal Amerika Serikat, John Naisbiit.
Naisbiit jadi saksi, saat Deng Xiaoping berkunjung ke Amerika Serikat pada 1979, ia dibawa mengelilingi pabrik Ford yang masa itu menghasilkan mobil per bulan dalam jumlah lebih banyak daripada diproduksi di China dalam setahun. Deng yang memimpin China setelah kematian Mao pada 1976, muncul sebagai agen perubahan. ”Warna seekor kucing tidak penting, asalkan sang kucing menangkap tikus.” Itulah peribahasa Deng yang terkenal. Menyindir kucing ”sosialisme” Mao, yang gagal mengangkat perekonomian China, dan menggantinya dengan kucing ”kapitalisme”.
Deng memulai pembangunan dengan membentuk zona ekonomi khusus di beberapa kota terpilih, dan menjadikan sektor swasta sebagai komponen ekonomi paling dinamis. Ia membiarkan modal asing masuk ke China – memburu hampir satu miliar manusia yang akan jadi pasar menggiurkan untuk bisnis apa pun. Lalu, begitu saja, pada 2004, 25 tahun setelah kunjungan Deng ke Amerika, lebih dari 5 juta mobil diproduksi di China oleh lebih dari 120 produsen mobil. China juga sudah memiliki 166 kota, dengan populasi lebih dari 1 juta – bandingkan dengan 12 di Jepang, 9 di AS, dan 1 di Inggris, di bawah 10 di Indonesia – sebagai pasar lokal. Ditambah banyak kota besar di China yang memiliki populasi 6, 7, atau 8 juta jiwa. Urbanisasi cepat telah mengangkat jutaan penduduk pinggiran China, keluar dari kemiskinan.
Hampir semua kota di China, kata Naisbitt, kini sedang diubah menjadi zona konstruksi yang luas. Setiap kota berkembang jadi sebuah kota dunia. Mereka membangun bandara internasional, gedung-gedung tinggi, jalanan lebar, berbagai sarana publik, hingga kota-kota penuh cahaya bermunculan bagai cendawan di musim hujan pada malam hari.
Lalu, dari mana semua ”kebesaran” bangsa China itu bersumber? Edward Theodore Chalmers Werner, pada tahun 1922, telah merekam jejak mahakekayaan – ilmu pengetahuan, gagasan, sentimen sosial, keunikan psikologi, tatanan adat-istiadat, keluasan maupun keliaran imajinasi yang dikonkretkan ke dalam fiksi, aturan rumah tangga, relung-relung moralitas, perjalanan nasib, makna kasih-sayang, filosofi hidup sebagai anggota masyarakat, umat beragama, warga negara (baca: kerajaan), di bawah aturan hukum, logika alam, hingga berbagai kemungkinan khayali kehidupan sebelum (dan sesudah) hari ini – yang menjadi narasi penopang kebudayaan bangsa China selama ribuan tahun.
Semua itu, terangkum dalam sebuah buku besar, Mitos dan Legenda China, Kumpulan Kisah Fantastis dan Rahasia di Baliknya. Buku yang cukup berpengaruh selama puluhan tahun di kalangan antropolog, sosiolog, maupun penggemar mitologi atau sekadar pemerhati kebudayaan China sampai saat ini. Terdiri dari 26 bab, di antaranya: mengurai sosiologi orang China, mitologi China, kosmogono-pangu dan penciptaan mitos, dewa-dewa China, mitos-mitos bintang, guruh, petir, angin, hujan, air, api, wabah, obat-obatan, legenda-legenda, dll.
Werner menyebutkan, secara umum karakter fisik, emosional, dan intelektual manusia China sudah diketahui di banyak kalangan masyarakat dunia karena penyebarannya yang tinggi. Mata sipit berbentuk buah badam (admond), dengan selaput pelangi berwarna hitam dan lingkar mata yang terpisah jauh, lipatan vertikal kulit di atas sudut kelopak atas dan bawah mata bagian dalam, yang menyembunyikan sebagian selaput pelangi, sebuah ciri khas yang membedakan bangsa-bangsa timur Asia dengan semua kerabat manusia lain.
Tinggi tegak dan berat otak umumnya di bawah rata-rata. Rambut hitam dan lurus, janggut jarang atau tidak ada. Warna kulit di China selatan lebih gelap ketimbang di China utara. Dan secara emosional, manusia China berkesadaran rajin, berdaya tahan dan juang luar biasa, berterima kasih, sopan, formal, dengan rasa kehormatan berdagang yang tinggi, dan juga berlibido tinggi.
Meski manusia China abad ke-21 tampak lebih progresif, dengan cepatnya perkembangan berbagai teknologi termasuk teknologi informatika di China saat ini, pada puluhan tahun lalu (masa Werner), manusia China cenderung menghindari kemajuan, terikat pada keseragaman, mempertahankan mekanisme budaya, tidak imajinatif, lamban, penuh curiga dan cenderung mempercayai tahyul.
Takhayul-takhayul itu, sebagian besar bisa diikuti pada bab mitos-mitos (V s/d IX). Dimulai dari mitos bintang-bintang, yang menyebutkan bahwa matahari, bulan, dan planet-planet memengaruhi kejadian-kejadian sublunar, terutama kehidupan dan kematian manusia, dan perubahan warna benda-benda angkasa itu menandakan malapetaka yang mengancam.
Perubahan penampilan matahari, jadi tanda kesialan bagi negara atau kepala negara berupa pemberontakan, bahaya kelaparan, atau kematian kaisar. Ketika bulan semakin memerah, atau berubah menjadi pucat, kehidupan manusia (atau masyarakat) pasti berada dalam masa-masa sangat sial seperti telah diramalkan.
Dan semua ini hanya sebagian kecil dari kekayaan ”Timur”, seperti disebutkan Ratu Saba dari Mardrus. Tetapi, negara-negara Timur ini, Asia ini, akhirnya merupakan perbatasan-perbatasan sebenarnya. Asia adalah tempat di mana vulgaritas berakhir, di mana martabat dilahirkan, dan di mana keanggunan intelektual dimulai. Dan negara-negara Timur adalah tempat di mana sumber puisi begitu melimpah ruah.
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel GarcÃa Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati