Liza Wahyuninto
http://celaledinwahyu.blogspot.com/
Bulan April sudah menjadi agenda tahunan bagi wanita Indonesia untuk mengenang dan bersama merefleksikan perjuangan Raden Ajeng Kartini. Sejak ditetapkan oleh pemerintahan Orde Baru sebagai Hari Kartini, maka mulai saat itu pula, 21 April menjadi hari baru bagi wanita Indonesia untuk mengekspresikan. Semua wanita, mulai dari yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) sampai yang sudah duduk di kursi pemerintahan ikut merayakan hari bersejarah tersebut.
Kegiatan yang diadakan pun beragam, sesuai dengan tingkatan kelas dan di mana mereka berada. Mulai dari kegiatan membagikan bunga mawar dan ucapan Selamat Hari Kartini, aksi damai di jantung-jantung kota, berpakaian ala Kartini, hingga sampai pada mengadakan forum dan seminar-seminar yang mengusung semangat untuk melanjutkan perjuangan Kartini mewujudkan emansipasi bagi kaumnya. Dan uniknya, setiap tahun kegiatan tersebut selalu diupayakan untuk lebih meriah daripada tahun-tahun sebelumnya.
Sayangnya, momen seperti ini hanya dilakukan sehari saja di bulan April, pun satu kali dalam satu tahun. Dapat dikatakan puncaknya dapat dirasakan dan ditemui hanya pada tanggal 21 saja. Sebelumnya memang terlihat kesibukan-kesibukan mempersiapkan acara agar terlihat sempurna. Namun, pasca tanggal 21 kembali kepada kehidupan sebelumnya. Kartini, seolah dilupakan kembali siapa dia dan apa yang telah ia perjuangkan.
Memaknai Hari Kartini
Kita semua mengakui apa yang diperjuangkan oleh Kartini merupakan perjuangan yang tidak mudah. Pada zamannya, di mana wanita dianggap sebagai kelas kedua setelah laki-laki, Kartini berani menyuarakan kegelisahannya. Kartini berani meminta untuk disejajarkan dengan kaum laki-laki. Suatu pemikiran futuristik tentunya, berpandangan jauh ke depan. Pemikiran yang selama beberapa abad dipendam dan tidak ada satu wanita pun yang berani untuk menyuarakannya.
Lalu, pertanyaan pembukanya adalah bagaimana seharusnya memaknai hari Kartini? Kartini adalah fenomena. Zamannya menghendaki untuk melahirkan sosok wanita seperti Kartini. Sebagai pendulum (pendahulu) pastinya. Cara memaknai hari Kartini tentunya tidak sekedar ceremonial belaka. Bila Kartini masih hidup hari ini, tentu ia tidak menghendaki hari kelahirannya terlalu diagungkan, sementara perjuangannya dilupakan.
Yang penting bukan bagaimana cara merayakan hari kartini, tapi bagaimana cara melanjutkan perjuangan Kartini. Menyambung lidah Kartini. Melanjutkan catatan-catatan Kartini yang kesemuanya berisikan mimpi dan ide-ide besar bagi kemajuan kaumnya, yaitu wanita. Perayaan, dinilai penting iya, sebagai upaya untuk mengajak dan menyadarkan wanita Indonesia saat ini yang terkadang kehilangan kepercayaan diri. Namun, di balik itu, harus ada upaya yang lebih realistis untuk mewujudkan cita-cita Kartini.
Cita-cita Kartini sebenarnya hanya satu, terwujudnya emansipasi bagi wanita Indonesia. Namun, di balik emansipasi tersebut masih ada pekerjaan rumah yang menunggu untuk diselesaikan. Artinya, emansipasi bukanlah tujuan akhir. Tidak cukup wanita dan laki-laki disetarakan saja, tapi harus ada pembuktian berupa tidak lagi ditemuinya diskriminasi terhadap wanita dengan mengatasnamakan apapun.
Wanita saat ini tidak seperti dahulu. Sudah tampak dan dirasa jauh lebih maju. Sangat maju dibanding era Kartini. Wanita sudah dapat mengenyam pendidikan setinggi apapun ia mau. Wanita sudah dapat duduk pada jabatan apapun sesuai dengan kemampuan dan kapabilitasnya dalam bidang tersebut. Bahkan saat ini, wanita sudah tidak tabu lagi untuk menentukan arah tujuan hidupnya sendiri tanpa ada campur tangan dari kanan-kirinya.
Lantas, sudah cukupkah sampai di situ? Terwujudkah cita-cita Kartini? Jawabannya memang subyektif. Tapi, penulis berani menyatakan “belum!”. Cita-cita Kartini lebih tinggi dari itu. Saat ini masih ditemukan kesenjangan antara wanita dan laki-laki yang entah budaya atau sudah terstruktur dari awalnya, dan membutuhkan pejuang-pejuang wanita baru untuk mengawal hal tersebut. Dan namanya, tentu tidak harus Kartini.
Kartini Abad Modern
Setiap zaman memiliki ceritanya sendiri-sendiri, demikianlah peribahasanya. Semakin maju zamannya, maka akan semakin rumit permasalahannya. Tentu saja permasalahan yang baru, yang belum pernah ada pada zaman sebelumnya. Sejarah memang selalu mengulang, tapi tokoh-tokoh yang ada sebelumnya tidak akan terlahir kembali. Harus ada tokoh baru yang terlahir dan muncul untuk mengatasi permasalahan yang terjadi.
Nah, Kartini abad modern lah yang dibutuhkan. Kartini yang paham apa yang saat ini menjadi kegelisahan kaumnya. Kartini yang tanggap terhadap apa yang terjadi dengan kaumnya. Dan yang paling penting, adalah Kartini yang mengerti apa keinginan hati kaumnya. Siapa saja dapat menjadi Kartini abad modern ini, asalkan ia memiliki ketiga jiwa tersebut.
Kesenjangan, diksriminasi, pelecehan terhadap wanita, trafficking, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), kesehatan reproduksi perempuan, meningkatnya angka kematian ibu, tingginya pemerkosaan yang dilakukan orang tua terhadap anaknya, ini semua merupakan Pekerjaan Rumah (PR) yang harus segera dituntaskan oleh Kartini abad modern. Ia bisa saja dari kalangan Pejabat Negara, Artis (selebritis), Budayawan, Guru, Aktivis Perempuan, Mahasiswi, atau hanya sekedar Ibu Rumah Tangga.
Yang penting bukan siapa dia dan jabatannya apa, tapi kemauannya untuk berjuang merubah dan mengatasi semua masalah yang muncul terhadap wanita Indonesia. Itulah yang utama. Tapi, ini tentunya juga akan utopis belaka, jika kemudian ia menjadi single fighter serupa Kartini lagi pada masanya. Untuk mewujudkan hal tersebut, harus ada kerja sama yang solid dari semua kalangan. Tidak harus wanita saja, keterwakilan laki-laki dapat pula menjadi peran pendukung untuk mewujudkan mimpi besar ini.
Kartini abad modern tidak harus sendirian. Ia tidak harus meretas jalan ulang kembali, karena jalan yang semula gelap telah diterangi oleh Kartini sebelumnya. Kartini abad modern adalah pelanjut yang cerdas, yang dapat membaca semua keadaan, membaca posisi, dan waktu yang tepat untuk bertindak. Selamat Hari Kartini, Majulah wanita Indonesia!
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Liza Wahyuninto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liza Wahyuninto. Tampilkan semua postingan
Rabu, 18 Agustus 2010
Minggu, 16 November 2008
Nyanyian Persembahan Malaikat Ruhaniyyun
Judul : Kitab Para Malaikat
Penulis : Nurel javissyarqi
Penerbit : PUstaka puJAngga, Lamongan, JaTim
Cetakan : I, Desember 2007
Tebal : ix + 130 halaman
Peresensi : Liza Wahyuninto*)
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/
Malaikat Jibril as. mempunyai seribu enam ratus sayap, mulai dari kepala sampai kedua telapak kakinya terbalut bulu-bulu zafaron. Matahari seolah berada di antara kedua matanya. Di atas setiap bulu-bulunya seperti rembulan dan gumintang. Setiap hari ia masuk ke dalam lautan cahaya tiga ratus tujuh puluh kali, tatkala keluar dari lautan tersebut, meneteslah dari setiap sayap sejuta tetes cahaya, dan Allah menjadikan dari setiap tetes cahaya tersebut ujud Jibril as, mereka semua bertasbih kepada-Nya sampai hari kiamat, nama mereka malaikat ruhaniyyun. (Daqoiqul Akbar, Imam Abdurrohim bin Ahmad Qodhi).
Makna yang tertuang dalam kitab Daqoiqul Akbar inilah yang ditelanjangi oleh Nurel Javissyarqi melalui antologi puisinya Kitab Para Malaikat. Nurel seolah ingin menunjukkan bagaimana para malaikat yang dalam bahasanya di beri nama malaikat ruhaniyyun, melakukan ritual penyembahan kepada tuhannya. Peristiwa inilah yang dikagumi oleh Nurel, dan memaksa dirinya - sebagai seorang sastrawan – untuk melukiskan peristiwa tersebut. Hal semacam ini pulalah yang memaksa Maulana Jalaluddin Rumi untuk mulai menulis masterpiece nya, Matsnawi fi Ma'nawi.
Perbedaan mendasar antara Nurel dan Rumi terletak pada penggalian ide. Nurel lebih mengedepankan imaji dan pikiran liarnya, sehingga tidak jarang kata-katanya melampaui alam bawah sadarnya. Bahkan Maman S. Mahayana dalam pengantarnya menggambarkan syair-syair Nurel sebagai perpaduan antara hamparan semangat yang menggelegak dan imajinasi tanpa batas. Sedangkan Rumi, ia berpuisi dengan jiwanya. Sehingga tidak jarang dalam sejumlah ghazal nya ditemukan larik-larik yang menyentuh hati pembacanya, karena dari setiap ghazal yang ditulis oleh Rumi adalah hasil perpaduan antara kenyataan dan harapan.
Akan tetapi dalam antologi puisi Kitab Para Malaikat ini Nurel sepertinya ingin merayakan kebebasan berpikir. Sebagaimana yang telah dimulai oleh tokoh-tokoh besar yang hidup jauh sebelumnya. Tokoh-tokoh yang mengusung kebebasan berpikir tersebut di antaranya, Socrates, Rene Descartes, Derrida, Ibn Sina, Muhammad Iqbal, Syekh Siti Jenar, Hamzah Fansuri dan lain-lain. Merekalah pula lah yang dicirikan Nurel sebagai pedoman dalam merayakan kebebasan berpikirnya. Ini dapat dilihat dari salah satu larik puisinya, Marilah hadir bersama keindahan, membimbing kesadaran alam terdalam/ sia-sia dipenuhi hikmah, malapetaka jikalau ajaran berharga dibuat bangga (I: LX).
Dalam pengantarnya Maman S. Mahayanan juga menyatakan bahwa perbedaan antara Nurel dan Sutardji Calzoum Bachri yaitu, Sutardji mengusung penghancurkan konvensi dan menawarkan estetika mantra. Dan dengan Afrizal Malna yang mengusung keterpecahan, fragmen-fragmen, dan semangat menawarkan inkoherensi. Nurel Javissyarqi lebih menyerupai bentuk ekspresi atas hamparan semangat yang menggelegak. Ia seperti telah sekian lama lama menyimpan sejumlah kegelisahan dan gagal menjumpai katup pembukanya. maka, yang muncul kemudian adalah penghancuran struktur kalimat, pemorakporandaan imaji-imaji, dan penciptaan bentuk-bentuk metafora yang sempoyongan, berantakan dalam gerakan dewa mabuk".
Kitab Para Malaikat pun demikian, penghancuran struktur kalimat, pemorakporandaan imaji-imaji, dan penciptaan bentuk-bentuk metafora yang sempoyongan masih kental terasa. seperti tertuang dalam satu larik, Kelopak melati menebarkan untaian makna memecah ketinggian hening/menuruni nasib, burung-burung ngelayap sayapnya disedot rebana cinta (XVI:XCI, hal. 97). Jika melihat dari sini, Nurel tak ubahnya sebagaimana Kahlil Gibran. Kahlil Gibran pun dikenal sebagai tokoh pengusung kebebasan berpikir, hingga tidak jarang dalam karya-karya terbaiknya pun ditemui pemorakporandaan imaji-imaji.
Akan tetapi, baik Nurel maupun Kahlil Gibran, keduanya melakukan hal tersebut semata-mata untuk menemukan keindahan bunyi dan pencitraan yang tinggi. Tidak salah pada zamannya hingga hari inipun Kahlil Gibran masih banyak pemuja syair-syair liarnya. Hal ini dikarenakan yang pertama kali diresapi oleh pembaca bukan makna, akan tetapi keindahan bunyi lirik. Dan Nurel sangat paham akan hal ini dan memanfaatkan kelebihannya dalam permainan diksi. Sangat wajar jika antologi ini dikarang dalam kurun waktu 9 tahun, yaitu dari rentang tahun 1998-1999 sampai tahun 2007, karena Nurel ingin antologinya ini sempurna baik dari sisi keindahan bunyi maupun makna yang terkandung.
Kurun waktu 9 tahun merupakan waktu yang lama untuk penulisan sebuah antologi puisi. Sangat dimungkinkan jika nantinya Kitab Para Malaikat ini akan menjadi sebuah kitab suci para penyair pada zaman sekarang. Tapi, untuk menuju ke sana, antologi puisi ini perlu diuji ketahanannya lewat para kritikus sastra lainnya. Uji ketahanan memang belum semarak dilakukan dalam sastra Indonesia, wajar jika minim ditemukan kritikus sastra di Indonesia. Melalui Kitab Para Malaikat ini, sangat diharapkan akan bermunculan kritikus sastra yang berada pada posisi yang semestinya yaitu mengawal lajunya pertumbuhan sastra di Indonesia.
Sisi lain yang terasa janggal dalam antologi puisi ini yaitu adanya kesan memanjang-manjangkan kalimat. Ini juga diungkapkan oleh Heri Lamongan dalam epilognya dalam antologi ini. Menurutnya, ada kesan Nurel memanjang-manjangkan kalimat padahal hal itu justru mengaburkan makna larik. Dan hal itu hampir ditemukan pada hampir keseluruhan lirik dalam antologi puisi ini. Heri Lamongan menyitir salah satu lirik tersebut adalah, Yang setia menyusuri jalan menapaki pantai hakikat, segera tahu bunga wijayakusumah merekah bagi syarat penobatan Ratu Adil (XVIII, hal. 126). Jelas ini agak janggal dan mengurangi nilai keindahan bunyi maupun lirik dalam lirik tersebut. Padahal menurut Emha Ainun Nadjib, puisi tertinggi adalah yang kata-katanya sudah tak mampu mewakili inti nilainya.
Namun, terlepas dari semua itu, Kitab Para Malaikat ini sebenarnya telah mampu memuntahkan apa yang hendak diamanatkan Nurel Javissyarqi. tugas pembacalah membedah makna yang tersirat dari apa yang tersurat. Buah 9 tahun melakukan pertapaan, meskipun masih terkesan terburu-buru perlu untuk diapresiasi bahwa antologi puisi ini merupakan masterpiece Nurel sejauh ini. Sebagaimana tersohornya Mantiq at-Thayr buah karya Fariduddin Atthar ataupun Matsnawi fi Ma'nawi buah karya Rumi, Kitab Para Malaikat pun dapat bersaing dengan keduanya. Tinggal bagaimana cara Nurel menyikapi pembaca dan para kritkikus sastra yang memberikan kritik dan saran dalam karyanya.
*) Liza Wahyuninto, Kritikus Sastra dan Direktur Pusat Pengkajian Jalaluddin Rumi Kota Malang.
Penulis : Nurel javissyarqi
Penerbit : PUstaka puJAngga, Lamongan, JaTim
Cetakan : I, Desember 2007
Tebal : ix + 130 halaman
Peresensi : Liza Wahyuninto*)
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/
Malaikat Jibril as. mempunyai seribu enam ratus sayap, mulai dari kepala sampai kedua telapak kakinya terbalut bulu-bulu zafaron. Matahari seolah berada di antara kedua matanya. Di atas setiap bulu-bulunya seperti rembulan dan gumintang. Setiap hari ia masuk ke dalam lautan cahaya tiga ratus tujuh puluh kali, tatkala keluar dari lautan tersebut, meneteslah dari setiap sayap sejuta tetes cahaya, dan Allah menjadikan dari setiap tetes cahaya tersebut ujud Jibril as, mereka semua bertasbih kepada-Nya sampai hari kiamat, nama mereka malaikat ruhaniyyun. (Daqoiqul Akbar, Imam Abdurrohim bin Ahmad Qodhi).
Makna yang tertuang dalam kitab Daqoiqul Akbar inilah yang ditelanjangi oleh Nurel Javissyarqi melalui antologi puisinya Kitab Para Malaikat. Nurel seolah ingin menunjukkan bagaimana para malaikat yang dalam bahasanya di beri nama malaikat ruhaniyyun, melakukan ritual penyembahan kepada tuhannya. Peristiwa inilah yang dikagumi oleh Nurel, dan memaksa dirinya - sebagai seorang sastrawan – untuk melukiskan peristiwa tersebut. Hal semacam ini pulalah yang memaksa Maulana Jalaluddin Rumi untuk mulai menulis masterpiece nya, Matsnawi fi Ma'nawi.
Perbedaan mendasar antara Nurel dan Rumi terletak pada penggalian ide. Nurel lebih mengedepankan imaji dan pikiran liarnya, sehingga tidak jarang kata-katanya melampaui alam bawah sadarnya. Bahkan Maman S. Mahayana dalam pengantarnya menggambarkan syair-syair Nurel sebagai perpaduan antara hamparan semangat yang menggelegak dan imajinasi tanpa batas. Sedangkan Rumi, ia berpuisi dengan jiwanya. Sehingga tidak jarang dalam sejumlah ghazal nya ditemukan larik-larik yang menyentuh hati pembacanya, karena dari setiap ghazal yang ditulis oleh Rumi adalah hasil perpaduan antara kenyataan dan harapan.
Akan tetapi dalam antologi puisi Kitab Para Malaikat ini Nurel sepertinya ingin merayakan kebebasan berpikir. Sebagaimana yang telah dimulai oleh tokoh-tokoh besar yang hidup jauh sebelumnya. Tokoh-tokoh yang mengusung kebebasan berpikir tersebut di antaranya, Socrates, Rene Descartes, Derrida, Ibn Sina, Muhammad Iqbal, Syekh Siti Jenar, Hamzah Fansuri dan lain-lain. Merekalah pula lah yang dicirikan Nurel sebagai pedoman dalam merayakan kebebasan berpikirnya. Ini dapat dilihat dari salah satu larik puisinya, Marilah hadir bersama keindahan, membimbing kesadaran alam terdalam/ sia-sia dipenuhi hikmah, malapetaka jikalau ajaran berharga dibuat bangga (I: LX).
Dalam pengantarnya Maman S. Mahayanan juga menyatakan bahwa perbedaan antara Nurel dan Sutardji Calzoum Bachri yaitu, Sutardji mengusung penghancurkan konvensi dan menawarkan estetika mantra. Dan dengan Afrizal Malna yang mengusung keterpecahan, fragmen-fragmen, dan semangat menawarkan inkoherensi. Nurel Javissyarqi lebih menyerupai bentuk ekspresi atas hamparan semangat yang menggelegak. Ia seperti telah sekian lama lama menyimpan sejumlah kegelisahan dan gagal menjumpai katup pembukanya. maka, yang muncul kemudian adalah penghancuran struktur kalimat, pemorakporandaan imaji-imaji, dan penciptaan bentuk-bentuk metafora yang sempoyongan, berantakan dalam gerakan dewa mabuk".
Kitab Para Malaikat pun demikian, penghancuran struktur kalimat, pemorakporandaan imaji-imaji, dan penciptaan bentuk-bentuk metafora yang sempoyongan masih kental terasa. seperti tertuang dalam satu larik, Kelopak melati menebarkan untaian makna memecah ketinggian hening/menuruni nasib, burung-burung ngelayap sayapnya disedot rebana cinta (XVI:XCI, hal. 97). Jika melihat dari sini, Nurel tak ubahnya sebagaimana Kahlil Gibran. Kahlil Gibran pun dikenal sebagai tokoh pengusung kebebasan berpikir, hingga tidak jarang dalam karya-karya terbaiknya pun ditemui pemorakporandaan imaji-imaji.
Akan tetapi, baik Nurel maupun Kahlil Gibran, keduanya melakukan hal tersebut semata-mata untuk menemukan keindahan bunyi dan pencitraan yang tinggi. Tidak salah pada zamannya hingga hari inipun Kahlil Gibran masih banyak pemuja syair-syair liarnya. Hal ini dikarenakan yang pertama kali diresapi oleh pembaca bukan makna, akan tetapi keindahan bunyi lirik. Dan Nurel sangat paham akan hal ini dan memanfaatkan kelebihannya dalam permainan diksi. Sangat wajar jika antologi ini dikarang dalam kurun waktu 9 tahun, yaitu dari rentang tahun 1998-1999 sampai tahun 2007, karena Nurel ingin antologinya ini sempurna baik dari sisi keindahan bunyi maupun makna yang terkandung.
Kurun waktu 9 tahun merupakan waktu yang lama untuk penulisan sebuah antologi puisi. Sangat dimungkinkan jika nantinya Kitab Para Malaikat ini akan menjadi sebuah kitab suci para penyair pada zaman sekarang. Tapi, untuk menuju ke sana, antologi puisi ini perlu diuji ketahanannya lewat para kritikus sastra lainnya. Uji ketahanan memang belum semarak dilakukan dalam sastra Indonesia, wajar jika minim ditemukan kritikus sastra di Indonesia. Melalui Kitab Para Malaikat ini, sangat diharapkan akan bermunculan kritikus sastra yang berada pada posisi yang semestinya yaitu mengawal lajunya pertumbuhan sastra di Indonesia.
Sisi lain yang terasa janggal dalam antologi puisi ini yaitu adanya kesan memanjang-manjangkan kalimat. Ini juga diungkapkan oleh Heri Lamongan dalam epilognya dalam antologi ini. Menurutnya, ada kesan Nurel memanjang-manjangkan kalimat padahal hal itu justru mengaburkan makna larik. Dan hal itu hampir ditemukan pada hampir keseluruhan lirik dalam antologi puisi ini. Heri Lamongan menyitir salah satu lirik tersebut adalah, Yang setia menyusuri jalan menapaki pantai hakikat, segera tahu bunga wijayakusumah merekah bagi syarat penobatan Ratu Adil (XVIII, hal. 126). Jelas ini agak janggal dan mengurangi nilai keindahan bunyi maupun lirik dalam lirik tersebut. Padahal menurut Emha Ainun Nadjib, puisi tertinggi adalah yang kata-katanya sudah tak mampu mewakili inti nilainya.
Namun, terlepas dari semua itu, Kitab Para Malaikat ini sebenarnya telah mampu memuntahkan apa yang hendak diamanatkan Nurel Javissyarqi. tugas pembacalah membedah makna yang tersirat dari apa yang tersurat. Buah 9 tahun melakukan pertapaan, meskipun masih terkesan terburu-buru perlu untuk diapresiasi bahwa antologi puisi ini merupakan masterpiece Nurel sejauh ini. Sebagaimana tersohornya Mantiq at-Thayr buah karya Fariduddin Atthar ataupun Matsnawi fi Ma'nawi buah karya Rumi, Kitab Para Malaikat pun dapat bersaing dengan keduanya. Tinggal bagaimana cara Nurel menyikapi pembaca dan para kritkikus sastra yang memberikan kritik dan saran dalam karyanya.
*) Liza Wahyuninto, Kritikus Sastra dan Direktur Pusat Pengkajian Jalaluddin Rumi Kota Malang.
Kamis, 13 November 2008
Meneropong Masa Depan Komunitas Sastra Jawa Timur
Liza Wahyuninto
www.kabarindonesia.com
KabarIndonesia - Sejak munculnya beberapa sastrawan dan penyair dari Jawa Timur, saat itu pula Jawa Timur menjadi sorotan utama pengkajian sastra Indonesia. Diakui memang, bahwa Jawa Timur masih kalah dengan Yogyakarta yang hingga kini masih berada pada urutan pertama dalam hal sastra di Indonesia. Namun, diliriknya sastra Jawa Timur tidak menutup kemungkinan akan menggeser posisi Yogyakarta sebagai bumi yang banyak melahirkan sastrawan dan penyair Indonesia.
Dapat dikatakan bahwa kemajuan sastra Jatim tidak terlepas dari jasa sastrawan dan penyair yang pulang ke kampung halamannya yang kemudian memberi andil untuk melahirkan tokoh-tokoh baru dalam dunia sastra. Sebut saja, Emha Ainun Nadjib, D. Zawawi Imron, Ratna Indraswari Ibrahim dkk, mereka awalnya belajar sastra ke luar Jatim kemudian kembali untuk melanjutkan kiprah mereka di tanah kelahirannya. Kendatipun demikian, minat akan sastra oleh masyarakat Jatim juga ikut mendukung kemajuan sastra di Jawa Timur.
Munculnya Komunitas Kecil
Saat ini jika dihitung, mungkin sudah ribuan komunitas sastra – baik yang melembaga maupun sekedar paguyuban – terlahir di Jawa Timur. Komunitas-komunitas sastra kecil inilah yang ikut mewarnai dan memajukan sastra Jatim. Komunitas-komunitas ini kemudian menamakan diri sesuai dengan latar belakang pendidikan, tokoh sastra yang disenangi, dan ada juga yang hanya mengusung semangat sastra, apapun bentuknya.
Komunitas-komunitas kecil ini ada yang paham akan teori-teori sastra dan tidak jarang yang memang tidak mengerti sama sekali mengenai teori sastra. karena hanya berlandaskan kesenangan akan sastra belaka. Namun, dalam kenyataannya, komunitas-komunitas yang tidak begitu mengutamakan pemahaman akan teori sastra. malah lebih produktif daripada komunitas yang memiliki pemahaman akan sastra. Faktor inilah kiranya yang melatarbelakangi kebangkitan sastra masa depan di Jawa Timur.
Komunitas-komunitas ini kemudian terbagi kepada beberapa golongan. Pertama, golongan yang melakukan pengkajian terhadap tokoh, karya sastra, dan kritik terhadap sastra. Kedua, golongan yang membacakan karya sastrawan dalam negeri dan luar negeri yang kemudian ikut memberanikan diri membacakan karya-karyanya sendiri. Dan yang ketiga, yaitu golongan yang giat melakukan tulis-menulis karya sastra untuk kemudian mencoba mengirimkan karya-karya mereka ke penerbit atau media massa. Golongan ketiga inilah yang lebih sering didengar oleh masyarakat karena karya mereka dapat langsung dinikmati. Akan tetapi, kemajemukan dari ketiga golongan inilah yang meramaikan dunia sastra jawa Timur.
Masih Minim Penghargaan Terhadap Sastra
Dengan menggejalanya minat akan sastra di Jawa Timur, tidak kemudian mampu menarik simpati pemerintah untuk memberikan penghargaan akan sastra. Baik komunitas maupun karya sastra, sejak dahulu memang tidak pernah menjadi daftar perhatian utama. Menjadi seorang Sastrawan masih belum bisa dianggap sebagai suatu pekerjaan karena tidak memiliki gaji atau penghasilan yang tetap. Begitu juga dengan karya sastra, masih dianggap karya kedua setelah buku-buku pelajaran dan buku-buku ilmiah lain.
Padahal, lahirnya bangsa ini juga ikut diperjuangkan oleh sastrawan lewat karya-karya sastra mereka. Chairil Anwar, Sutan Takdir Ali Sjahbana, dan Pramoedya Ananta Toer memang tidak pernah memanggul senjata mengusir penjajah, namun lewat kata-kata magisnya mereka membangkitkan semangat anti-penajajahan. Dan masih banyak sederet nama-nama sastrawan yang kini sudah mulai terlupakan.
Minimnya penghargaan akan sastra di Jawa Timur terlihat dari jarangnya diadakan perlombaan sastra, baik baca maupun tulis karya sastra. Hal ini senada dengan minimnya penghargaan dan perhatian akan budaya di Jawa Timur. Padahal, Jawa Timur begitu kaya akan budaya dan hasil karya berupa budaya dan sastra. Bahkan Indonesia sekalipun mengakui keunggulan budaya Jawa Timur. Hal ini juga dikarenakan budayawan Jawa Timur yang sering mengkampanyekan pentingnya budaya lokal di penjuru nusantara.
Berharap pada Persatuan
Satu hal yang penting untuk dicermati bahwa kelahiran komunitas-komunitas sastra di Jawa Timur sebenarnya adalah murni dari diri sendiri. Artinya, meskipun tanpa ada penghargaan dan perhatian terhadap mereka, tidak akan berpengaruh terhadap komunitas yang telah mereka bentuk. Komunitas pengkajian sastra mungkin lebih bisa memanfaatkan peluang dengan melakukan penelitian-penelitian sastra karena ranahnya juga antara fiksi dan non-fiksi. Demikian pula dengan komunitas baca tulis karya sastra, diharapkan tidak hanya memberikan hiburan namun juga karya. Ini penting, karena pada masa-masa yang akan datang ada kemungkinan sastra akan kembali diperhitungkan.
Sastra dapat saja diperhitungkan dan mendapat perhatian dari masyarakat luas jika seandainya ada sisi yang menarik dari sastra. Sebut saja Maulana Jalaluddin Rumi, lewat sastra sufistiknya, Rumi mampu merebut perhatian dunia akan sastra. Perjuangan Rumi kemudian dilanjutkan oleh pencinta karyanya, Iqbal. Bahkan hingga saat ini, dunia masih menaruh hormat pada Rumi dan karya-karyanya. Jadi tidak menutup kemungkinan komunitas sastra yang ada di Jawa Timur mampu melahirkan tokoh sekaliber Rumi.
Sebuah pengharapan utopis, namun dapat diwujudkan. Pendidikan Rumi juga bukan dari fakultas sastra, namun lewat semangat dan kecintaannya terhadap sastra yang dipadukannya dengan sufi, ia wujudkan kebesaran sastra. Indonesia melalui Pramoedya Ananta Toer hampir saja meraih nobel sastra, namun sayangnya ada beberapa kesalahan terhadap terjemahan karya-karyanya hingga penghargaan nobelpun lepas. Tidak bijak jika kita selalu menyalahkan sejarah, karena hingga hari inipun kita sedang mengukir sejarah.
*) Liza Wahyuninto. Direktur Pusat Pengkajian Jalaluddin Rumi Malang dan Koordinator Paguyuban Komunitas Sastra UIN Malang.
www.kabarindonesia.com
KabarIndonesia - Sejak munculnya beberapa sastrawan dan penyair dari Jawa Timur, saat itu pula Jawa Timur menjadi sorotan utama pengkajian sastra Indonesia. Diakui memang, bahwa Jawa Timur masih kalah dengan Yogyakarta yang hingga kini masih berada pada urutan pertama dalam hal sastra di Indonesia. Namun, diliriknya sastra Jawa Timur tidak menutup kemungkinan akan menggeser posisi Yogyakarta sebagai bumi yang banyak melahirkan sastrawan dan penyair Indonesia.
Dapat dikatakan bahwa kemajuan sastra Jatim tidak terlepas dari jasa sastrawan dan penyair yang pulang ke kampung halamannya yang kemudian memberi andil untuk melahirkan tokoh-tokoh baru dalam dunia sastra. Sebut saja, Emha Ainun Nadjib, D. Zawawi Imron, Ratna Indraswari Ibrahim dkk, mereka awalnya belajar sastra ke luar Jatim kemudian kembali untuk melanjutkan kiprah mereka di tanah kelahirannya. Kendatipun demikian, minat akan sastra oleh masyarakat Jatim juga ikut mendukung kemajuan sastra di Jawa Timur.
Munculnya Komunitas Kecil
Saat ini jika dihitung, mungkin sudah ribuan komunitas sastra – baik yang melembaga maupun sekedar paguyuban – terlahir di Jawa Timur. Komunitas-komunitas sastra kecil inilah yang ikut mewarnai dan memajukan sastra Jatim. Komunitas-komunitas ini kemudian menamakan diri sesuai dengan latar belakang pendidikan, tokoh sastra yang disenangi, dan ada juga yang hanya mengusung semangat sastra, apapun bentuknya.
Komunitas-komunitas kecil ini ada yang paham akan teori-teori sastra dan tidak jarang yang memang tidak mengerti sama sekali mengenai teori sastra. karena hanya berlandaskan kesenangan akan sastra belaka. Namun, dalam kenyataannya, komunitas-komunitas yang tidak begitu mengutamakan pemahaman akan teori sastra. malah lebih produktif daripada komunitas yang memiliki pemahaman akan sastra. Faktor inilah kiranya yang melatarbelakangi kebangkitan sastra masa depan di Jawa Timur.
Komunitas-komunitas ini kemudian terbagi kepada beberapa golongan. Pertama, golongan yang melakukan pengkajian terhadap tokoh, karya sastra, dan kritik terhadap sastra. Kedua, golongan yang membacakan karya sastrawan dalam negeri dan luar negeri yang kemudian ikut memberanikan diri membacakan karya-karyanya sendiri. Dan yang ketiga, yaitu golongan yang giat melakukan tulis-menulis karya sastra untuk kemudian mencoba mengirimkan karya-karya mereka ke penerbit atau media massa. Golongan ketiga inilah yang lebih sering didengar oleh masyarakat karena karya mereka dapat langsung dinikmati. Akan tetapi, kemajemukan dari ketiga golongan inilah yang meramaikan dunia sastra jawa Timur.
Masih Minim Penghargaan Terhadap Sastra
Dengan menggejalanya minat akan sastra di Jawa Timur, tidak kemudian mampu menarik simpati pemerintah untuk memberikan penghargaan akan sastra. Baik komunitas maupun karya sastra, sejak dahulu memang tidak pernah menjadi daftar perhatian utama. Menjadi seorang Sastrawan masih belum bisa dianggap sebagai suatu pekerjaan karena tidak memiliki gaji atau penghasilan yang tetap. Begitu juga dengan karya sastra, masih dianggap karya kedua setelah buku-buku pelajaran dan buku-buku ilmiah lain.
Padahal, lahirnya bangsa ini juga ikut diperjuangkan oleh sastrawan lewat karya-karya sastra mereka. Chairil Anwar, Sutan Takdir Ali Sjahbana, dan Pramoedya Ananta Toer memang tidak pernah memanggul senjata mengusir penjajah, namun lewat kata-kata magisnya mereka membangkitkan semangat anti-penajajahan. Dan masih banyak sederet nama-nama sastrawan yang kini sudah mulai terlupakan.
Minimnya penghargaan akan sastra di Jawa Timur terlihat dari jarangnya diadakan perlombaan sastra, baik baca maupun tulis karya sastra. Hal ini senada dengan minimnya penghargaan dan perhatian akan budaya di Jawa Timur. Padahal, Jawa Timur begitu kaya akan budaya dan hasil karya berupa budaya dan sastra. Bahkan Indonesia sekalipun mengakui keunggulan budaya Jawa Timur. Hal ini juga dikarenakan budayawan Jawa Timur yang sering mengkampanyekan pentingnya budaya lokal di penjuru nusantara.
Berharap pada Persatuan
Satu hal yang penting untuk dicermati bahwa kelahiran komunitas-komunitas sastra di Jawa Timur sebenarnya adalah murni dari diri sendiri. Artinya, meskipun tanpa ada penghargaan dan perhatian terhadap mereka, tidak akan berpengaruh terhadap komunitas yang telah mereka bentuk. Komunitas pengkajian sastra mungkin lebih bisa memanfaatkan peluang dengan melakukan penelitian-penelitian sastra karena ranahnya juga antara fiksi dan non-fiksi. Demikian pula dengan komunitas baca tulis karya sastra, diharapkan tidak hanya memberikan hiburan namun juga karya. Ini penting, karena pada masa-masa yang akan datang ada kemungkinan sastra akan kembali diperhitungkan.
Sastra dapat saja diperhitungkan dan mendapat perhatian dari masyarakat luas jika seandainya ada sisi yang menarik dari sastra. Sebut saja Maulana Jalaluddin Rumi, lewat sastra sufistiknya, Rumi mampu merebut perhatian dunia akan sastra. Perjuangan Rumi kemudian dilanjutkan oleh pencinta karyanya, Iqbal. Bahkan hingga saat ini, dunia masih menaruh hormat pada Rumi dan karya-karyanya. Jadi tidak menutup kemungkinan komunitas sastra yang ada di Jawa Timur mampu melahirkan tokoh sekaliber Rumi.
Sebuah pengharapan utopis, namun dapat diwujudkan. Pendidikan Rumi juga bukan dari fakultas sastra, namun lewat semangat dan kecintaannya terhadap sastra yang dipadukannya dengan sufi, ia wujudkan kebesaran sastra. Indonesia melalui Pramoedya Ananta Toer hampir saja meraih nobel sastra, namun sayangnya ada beberapa kesalahan terhadap terjemahan karya-karyanya hingga penghargaan nobelpun lepas. Tidak bijak jika kita selalu menyalahkan sejarah, karena hingga hari inipun kita sedang mengukir sejarah.
*) Liza Wahyuninto. Direktur Pusat Pengkajian Jalaluddin Rumi Malang dan Koordinator Paguyuban Komunitas Sastra UIN Malang.
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel GarcÃa Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati