Tampilkan postingan dengan label Liza Wahyuninto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liza Wahyuninto. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Agustus 2010

Haruskah Menjadi Kartini (untuk) Memperjuangkan Emansipasi?

Liza Wahyuninto
http://celaledinwahyu.blogspot.com/

Bulan April sudah menjadi agenda tahunan bagi wanita Indonesia untuk mengenang dan bersama merefleksikan perjuangan Raden Ajeng Kartini. Sejak ditetapkan oleh pemerintahan Orde Baru sebagai Hari Kartini, maka mulai saat itu pula, 21 April menjadi hari baru bagi wanita Indonesia untuk mengekspresikan. Semua wanita, mulai dari yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) sampai yang sudah duduk di kursi pemerintahan ikut merayakan hari bersejarah tersebut.

Kegiatan yang diadakan pun beragam, sesuai dengan tingkatan kelas dan di mana mereka berada. Mulai dari kegiatan membagikan bunga mawar dan ucapan Selamat Hari Kartini, aksi damai di jantung-jantung kota, berpakaian ala Kartini, hingga sampai pada mengadakan forum dan seminar-seminar yang mengusung semangat untuk melanjutkan perjuangan Kartini mewujudkan emansipasi bagi kaumnya. Dan uniknya, setiap tahun kegiatan tersebut selalu diupayakan untuk lebih meriah daripada tahun-tahun sebelumnya.

Sayangnya, momen seperti ini hanya dilakukan sehari saja di bulan April, pun satu kali dalam satu tahun. Dapat dikatakan puncaknya dapat dirasakan dan ditemui hanya pada tanggal 21 saja. Sebelumnya memang terlihat kesibukan-kesibukan mempersiapkan acara agar terlihat sempurna. Namun, pasca tanggal 21 kembali kepada kehidupan sebelumnya. Kartini, seolah dilupakan kembali siapa dia dan apa yang telah ia perjuangkan.

Memaknai Hari Kartini

Kita semua mengakui apa yang diperjuangkan oleh Kartini merupakan perjuangan yang tidak mudah. Pada zamannya, di mana wanita dianggap sebagai kelas kedua setelah laki-laki, Kartini berani menyuarakan kegelisahannya. Kartini berani meminta untuk disejajarkan dengan kaum laki-laki. Suatu pemikiran futuristik tentunya, berpandangan jauh ke depan. Pemikiran yang selama beberapa abad dipendam dan tidak ada satu wanita pun yang berani untuk menyuarakannya.

Lalu, pertanyaan pembukanya adalah bagaimana seharusnya memaknai hari Kartini? Kartini adalah fenomena. Zamannya menghendaki untuk melahirkan sosok wanita seperti Kartini. Sebagai pendulum (pendahulu) pastinya. Cara memaknai hari Kartini tentunya tidak sekedar ceremonial belaka. Bila Kartini masih hidup hari ini, tentu ia tidak menghendaki hari kelahirannya terlalu diagungkan, sementara perjuangannya dilupakan.

Yang penting bukan bagaimana cara merayakan hari kartini, tapi bagaimana cara melanjutkan perjuangan Kartini. Menyambung lidah Kartini. Melanjutkan catatan-catatan Kartini yang kesemuanya berisikan mimpi dan ide-ide besar bagi kemajuan kaumnya, yaitu wanita. Perayaan, dinilai penting iya, sebagai upaya untuk mengajak dan menyadarkan wanita Indonesia saat ini yang terkadang kehilangan kepercayaan diri. Namun, di balik itu, harus ada upaya yang lebih realistis untuk mewujudkan cita-cita Kartini.

Cita-cita Kartini sebenarnya hanya satu, terwujudnya emansipasi bagi wanita Indonesia. Namun, di balik emansipasi tersebut masih ada pekerjaan rumah yang menunggu untuk diselesaikan. Artinya, emansipasi bukanlah tujuan akhir. Tidak cukup wanita dan laki-laki disetarakan saja, tapi harus ada pembuktian berupa tidak lagi ditemuinya diskriminasi terhadap wanita dengan mengatasnamakan apapun.

Wanita saat ini tidak seperti dahulu. Sudah tampak dan dirasa jauh lebih maju. Sangat maju dibanding era Kartini. Wanita sudah dapat mengenyam pendidikan setinggi apapun ia mau. Wanita sudah dapat duduk pada jabatan apapun sesuai dengan kemampuan dan kapabilitasnya dalam bidang tersebut. Bahkan saat ini, wanita sudah tidak tabu lagi untuk menentukan arah tujuan hidupnya sendiri tanpa ada campur tangan dari kanan-kirinya.

Lantas, sudah cukupkah sampai di situ? Terwujudkah cita-cita Kartini? Jawabannya memang subyektif. Tapi, penulis berani menyatakan “belum!”. Cita-cita Kartini lebih tinggi dari itu. Saat ini masih ditemukan kesenjangan antara wanita dan laki-laki yang entah budaya atau sudah terstruktur dari awalnya, dan membutuhkan pejuang-pejuang wanita baru untuk mengawal hal tersebut. Dan namanya, tentu tidak harus Kartini.

Kartini Abad Modern

Setiap zaman memiliki ceritanya sendiri-sendiri, demikianlah peribahasanya. Semakin maju zamannya, maka akan semakin rumit permasalahannya. Tentu saja permasalahan yang baru, yang belum pernah ada pada zaman sebelumnya. Sejarah memang selalu mengulang, tapi tokoh-tokoh yang ada sebelumnya tidak akan terlahir kembali. Harus ada tokoh baru yang terlahir dan muncul untuk mengatasi permasalahan yang terjadi.

Nah, Kartini abad modern lah yang dibutuhkan. Kartini yang paham apa yang saat ini menjadi kegelisahan kaumnya. Kartini yang tanggap terhadap apa yang terjadi dengan kaumnya. Dan yang paling penting, adalah Kartini yang mengerti apa keinginan hati kaumnya. Siapa saja dapat menjadi Kartini abad modern ini, asalkan ia memiliki ketiga jiwa tersebut.

Kesenjangan, diksriminasi, pelecehan terhadap wanita, trafficking, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), kesehatan reproduksi perempuan, meningkatnya angka kematian ibu, tingginya pemerkosaan yang dilakukan orang tua terhadap anaknya, ini semua merupakan Pekerjaan Rumah (PR) yang harus segera dituntaskan oleh Kartini abad modern. Ia bisa saja dari kalangan Pejabat Negara, Artis (selebritis), Budayawan, Guru, Aktivis Perempuan, Mahasiswi, atau hanya sekedar Ibu Rumah Tangga.

Yang penting bukan siapa dia dan jabatannya apa, tapi kemauannya untuk berjuang merubah dan mengatasi semua masalah yang muncul terhadap wanita Indonesia. Itulah yang utama. Tapi, ini tentunya juga akan utopis belaka, jika kemudian ia menjadi single fighter serupa Kartini lagi pada masanya. Untuk mewujudkan hal tersebut, harus ada kerja sama yang solid dari semua kalangan. Tidak harus wanita saja, keterwakilan laki-laki dapat pula menjadi peran pendukung untuk mewujudkan mimpi besar ini.

Kartini abad modern tidak harus sendirian. Ia tidak harus meretas jalan ulang kembali, karena jalan yang semula gelap telah diterangi oleh Kartini sebelumnya. Kartini abad modern adalah pelanjut yang cerdas, yang dapat membaca semua keadaan, membaca posisi, dan waktu yang tepat untuk bertindak. Selamat Hari Kartini, Majulah wanita Indonesia!

Minggu, 16 November 2008

Nyanyian Persembahan Malaikat Ruhaniyyun

Judul : Kitab Para Malaikat
Penulis : Nurel javissyarqi
Penerbit : PUstaka puJAngga, Lamongan, JaTim
Cetakan : I, Desember 2007
Tebal : ix + 130 halaman
Peresensi : Liza Wahyuninto*)
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Malaikat Jibril as. mempunyai seribu enam ratus sayap, mulai dari kepala sampai kedua telapak kakinya terbalut bulu-bulu zafaron. Matahari seolah berada di antara kedua matanya. Di atas setiap bulu-bulunya seperti rembulan dan gumintang. Setiap hari ia masuk ke dalam lautan cahaya tiga ratus tujuh puluh kali, tatkala keluar dari lautan tersebut, meneteslah dari setiap sayap sejuta tetes cahaya, dan Allah menjadikan dari setiap tetes cahaya tersebut ujud Jibril as, mereka semua bertasbih kepada-Nya sampai hari kiamat, nama mereka malaikat ruhaniyyun. (Daqoiqul Akbar, Imam Abdurrohim bin Ahmad Qodhi).

Makna yang tertuang dalam kitab Daqoiqul Akbar inilah yang ditelanjangi oleh Nurel Javissyarqi melalui antologi puisinya Kitab Para Malaikat. Nurel seolah ingin menunjukkan bagaimana para malaikat yang dalam bahasanya di beri nama malaikat ruhaniyyun, melakukan ritual penyembahan kepada tuhannya. Peristiwa inilah yang dikagumi oleh Nurel, dan memaksa dirinya - sebagai seorang sastrawan – untuk melukiskan peristiwa tersebut. Hal semacam ini pulalah yang memaksa Maulana Jalaluddin Rumi untuk mulai menulis masterpiece nya, Matsnawi fi Ma'nawi.

Perbedaan mendasar antara Nurel dan Rumi terletak pada penggalian ide. Nurel lebih mengedepankan imaji dan pikiran liarnya, sehingga tidak jarang kata-katanya melampaui alam bawah sadarnya. Bahkan Maman S. Mahayana dalam pengantarnya menggambarkan syair-syair Nurel sebagai perpaduan antara hamparan semangat yang menggelegak dan imajinasi tanpa batas. Sedangkan Rumi, ia berpuisi dengan jiwanya. Sehingga tidak jarang dalam sejumlah ghazal nya ditemukan larik-larik yang menyentuh hati pembacanya, karena dari setiap ghazal yang ditulis oleh Rumi adalah hasil perpaduan antara kenyataan dan harapan.

Akan tetapi dalam antologi puisi Kitab Para Malaikat ini Nurel sepertinya ingin merayakan kebebasan berpikir. Sebagaimana yang telah dimulai oleh tokoh-tokoh besar yang hidup jauh sebelumnya. Tokoh-tokoh yang mengusung kebebasan berpikir tersebut di antaranya, Socrates, Rene Descartes, Derrida, Ibn Sina, Muhammad Iqbal, Syekh Siti Jenar, Hamzah Fansuri dan lain-lain. Merekalah pula lah yang dicirikan Nurel sebagai pedoman dalam merayakan kebebasan berpikirnya. Ini dapat dilihat dari salah satu larik puisinya, Marilah hadir bersama keindahan, membimbing kesadaran alam terdalam/ sia-sia dipenuhi hikmah, malapetaka jikalau ajaran berharga dibuat bangga (I: LX).

Dalam pengantarnya Maman S. Mahayanan juga menyatakan bahwa perbedaan antara Nurel dan Sutardji Calzoum Bachri yaitu, Sutardji mengusung penghancurkan konvensi dan menawarkan estetika mantra. Dan dengan Afrizal Malna yang mengusung keterpecahan, fragmen-fragmen, dan semangat menawarkan inkoherensi. Nurel Javissyarqi lebih menyerupai bentuk ekspresi atas hamparan semangat yang menggelegak. Ia seperti telah sekian lama lama menyimpan sejumlah kegelisahan dan gagal menjumpai katup pembukanya. maka, yang muncul kemudian adalah penghancuran struktur kalimat, pemorakporandaan imaji-imaji, dan penciptaan bentuk-bentuk metafora yang sempoyongan, berantakan dalam gerakan dewa mabuk".

Kitab Para Malaikat pun demikian, penghancuran struktur kalimat, pemorakporandaan imaji-imaji, dan penciptaan bentuk-bentuk metafora yang sempoyongan masih kental terasa. seperti tertuang dalam satu larik, Kelopak melati menebarkan untaian makna memecah ketinggian hening/menuruni nasib, burung-burung ngelayap sayapnya disedot rebana cinta (XVI:XCI, hal. 97). Jika melihat dari sini, Nurel tak ubahnya sebagaimana Kahlil Gibran. Kahlil Gibran pun dikenal sebagai tokoh pengusung kebebasan berpikir, hingga tidak jarang dalam karya-karya terbaiknya pun ditemui pemorakporandaan imaji-imaji.

Akan tetapi, baik Nurel maupun Kahlil Gibran, keduanya melakukan hal tersebut semata-mata untuk menemukan keindahan bunyi dan pencitraan yang tinggi. Tidak salah pada zamannya hingga hari inipun Kahlil Gibran masih banyak pemuja syair-syair liarnya. Hal ini dikarenakan yang pertama kali diresapi oleh pembaca bukan makna, akan tetapi keindahan bunyi lirik. Dan Nurel sangat paham akan hal ini dan memanfaatkan kelebihannya dalam permainan diksi. Sangat wajar jika antologi ini dikarang dalam kurun waktu 9 tahun, yaitu dari rentang tahun 1998-1999 sampai tahun 2007, karena Nurel ingin antologinya ini sempurna baik dari sisi keindahan bunyi maupun makna yang terkandung.

Kurun waktu 9 tahun merupakan waktu yang lama untuk penulisan sebuah antologi puisi. Sangat dimungkinkan jika nantinya Kitab Para Malaikat ini akan menjadi sebuah kitab suci para penyair pada zaman sekarang. Tapi, untuk menuju ke sana, antologi puisi ini perlu diuji ketahanannya lewat para kritikus sastra lainnya. Uji ketahanan memang belum semarak dilakukan dalam sastra Indonesia, wajar jika minim ditemukan kritikus sastra di Indonesia. Melalui Kitab Para Malaikat ini, sangat diharapkan akan bermunculan kritikus sastra yang berada pada posisi yang semestinya yaitu mengawal lajunya pertumbuhan sastra di Indonesia.

Sisi lain yang terasa janggal dalam antologi puisi ini yaitu adanya kesan memanjang-manjangkan kalimat. Ini juga diungkapkan oleh Heri Lamongan dalam epilognya dalam antologi ini. Menurutnya, ada kesan Nurel memanjang-manjangkan kalimat padahal hal itu justru mengaburkan makna larik. Dan hal itu hampir ditemukan pada hampir keseluruhan lirik dalam antologi puisi ini. Heri Lamongan menyitir salah satu lirik tersebut adalah, Yang setia menyusuri jalan menapaki pantai hakikat, segera tahu bunga wijayakusumah merekah bagi syarat penobatan Ratu Adil (XVIII, hal. 126). Jelas ini agak janggal dan mengurangi nilai keindahan bunyi maupun lirik dalam lirik tersebut. Padahal menurut Emha Ainun Nadjib, puisi tertinggi adalah yang kata-katanya sudah tak mampu mewakili inti nilainya.

Namun, terlepas dari semua itu, Kitab Para Malaikat ini sebenarnya telah mampu memuntahkan apa yang hendak diamanatkan Nurel Javissyarqi. tugas pembacalah membedah makna yang tersirat dari apa yang tersurat. Buah 9 tahun melakukan pertapaan, meskipun masih terkesan terburu-buru perlu untuk diapresiasi bahwa antologi puisi ini merupakan masterpiece Nurel sejauh ini. Sebagaimana tersohornya Mantiq at-Thayr buah karya Fariduddin Atthar ataupun Matsnawi fi Ma'nawi buah karya Rumi, Kitab Para Malaikat pun dapat bersaing dengan keduanya. Tinggal bagaimana cara Nurel menyikapi pembaca dan para kritkikus sastra yang memberikan kritik dan saran dalam karyanya.

*) Liza Wahyuninto, Kritikus Sastra dan Direktur Pusat Pengkajian Jalaluddin Rumi Kota Malang.

Kamis, 13 November 2008

Meneropong Masa Depan Komunitas Sastra Jawa Timur

Liza Wahyuninto
www.kabarindonesia.com

KabarIndonesia - Sejak munculnya beberapa sastrawan dan penyair dari Jawa Timur, saat itu pula Jawa Timur menjadi sorotan utama pengkajian sastra Indonesia. Diakui memang, bahwa Jawa Timur masih kalah dengan Yogyakarta yang hingga kini masih berada pada urutan pertama dalam hal sastra di Indonesia. Namun, diliriknya sastra Jawa Timur tidak menutup kemungkinan akan menggeser posisi Yogyakarta sebagai bumi yang banyak melahirkan sastrawan dan penyair Indonesia.

Dapat dikatakan bahwa kemajuan sastra Jatim tidak terlepas dari jasa sastrawan dan penyair yang pulang ke kampung halamannya yang kemudian memberi andil untuk melahirkan tokoh-tokoh baru dalam dunia sastra. Sebut saja, Emha Ainun Nadjib, D. Zawawi Imron, Ratna Indraswari Ibrahim dkk, mereka awalnya belajar sastra ke luar Jatim kemudian kembali untuk melanjutkan kiprah mereka di tanah kelahirannya. Kendatipun demikian, minat akan sastra oleh masyarakat Jatim juga ikut mendukung kemajuan sastra di Jawa Timur.

Munculnya Komunitas Kecil
Saat ini jika dihitung, mungkin sudah ribuan komunitas sastra – baik yang melembaga maupun sekedar paguyuban – terlahir di Jawa Timur. Komunitas-komunitas sastra kecil inilah yang ikut mewarnai dan memajukan sastra Jatim. Komunitas-komunitas ini kemudian menamakan diri sesuai dengan latar belakang pendidikan, tokoh sastra yang disenangi, dan ada juga yang hanya mengusung semangat sastra, apapun bentuknya.

Komunitas-komunitas kecil ini ada yang paham akan teori-teori sastra dan tidak jarang yang memang tidak mengerti sama sekali mengenai teori sastra. karena hanya berlandaskan kesenangan akan sastra belaka. Namun, dalam kenyataannya, komunitas-komunitas yang tidak begitu mengutamakan pemahaman akan teori sastra. malah lebih produktif daripada komunitas yang memiliki pemahaman akan sastra. Faktor inilah kiranya yang melatarbelakangi kebangkitan sastra masa depan di Jawa Timur.

Komunitas-komunitas ini kemudian terbagi kepada beberapa golongan. Pertama, golongan yang melakukan pengkajian terhadap tokoh, karya sastra, dan kritik terhadap sastra. Kedua, golongan yang membacakan karya sastrawan dalam negeri dan luar negeri yang kemudian ikut memberanikan diri membacakan karya-karyanya sendiri. Dan yang ketiga, yaitu golongan yang giat melakukan tulis-menulis karya sastra untuk kemudian mencoba mengirimkan karya-karya mereka ke penerbit atau media massa. Golongan ketiga inilah yang lebih sering didengar oleh masyarakat karena karya mereka dapat langsung dinikmati. Akan tetapi, kemajemukan dari ketiga golongan inilah yang meramaikan dunia sastra jawa Timur.

Masih Minim Penghargaan Terhadap Sastra
Dengan menggejalanya minat akan sastra di Jawa Timur, tidak kemudian mampu menarik simpati pemerintah untuk memberikan penghargaan akan sastra. Baik komunitas maupun karya sastra, sejak dahulu memang tidak pernah menjadi daftar perhatian utama. Menjadi seorang Sastrawan masih belum bisa dianggap sebagai suatu pekerjaan karena tidak memiliki gaji atau penghasilan yang tetap. Begitu juga dengan karya sastra, masih dianggap karya kedua setelah buku-buku pelajaran dan buku-buku ilmiah lain.

Padahal, lahirnya bangsa ini juga ikut diperjuangkan oleh sastrawan lewat karya-karya sastra mereka. Chairil Anwar, Sutan Takdir Ali Sjahbana, dan Pramoedya Ananta Toer memang tidak pernah memanggul senjata mengusir penjajah, namun lewat kata-kata magisnya mereka membangkitkan semangat anti-penajajahan. Dan masih banyak sederet nama-nama sastrawan yang kini sudah mulai terlupakan.

Minimnya penghargaan akan sastra di Jawa Timur terlihat dari jarangnya diadakan perlombaan sastra, baik baca maupun tulis karya sastra. Hal ini senada dengan minimnya penghargaan dan perhatian akan budaya di Jawa Timur. Padahal, Jawa Timur begitu kaya akan budaya dan hasil karya berupa budaya dan sastra. Bahkan Indonesia sekalipun mengakui keunggulan budaya Jawa Timur. Hal ini juga dikarenakan budayawan Jawa Timur yang sering mengkampanyekan pentingnya budaya lokal di penjuru nusantara.

Berharap pada Persatuan
Satu hal yang penting untuk dicermati bahwa kelahiran komunitas-komunitas sastra di Jawa Timur sebenarnya adalah murni dari diri sendiri. Artinya, meskipun tanpa ada penghargaan dan perhatian terhadap mereka, tidak akan berpengaruh terhadap komunitas yang telah mereka bentuk. Komunitas pengkajian sastra mungkin lebih bisa memanfaatkan peluang dengan melakukan penelitian-penelitian sastra karena ranahnya juga antara fiksi dan non-fiksi. Demikian pula dengan komunitas baca tulis karya sastra, diharapkan tidak hanya memberikan hiburan namun juga karya. Ini penting, karena pada masa-masa yang akan datang ada kemungkinan sastra akan kembali diperhitungkan.

Sastra dapat saja diperhitungkan dan mendapat perhatian dari masyarakat luas jika seandainya ada sisi yang menarik dari sastra. Sebut saja Maulana Jalaluddin Rumi, lewat sastra sufistiknya, Rumi mampu merebut perhatian dunia akan sastra. Perjuangan Rumi kemudian dilanjutkan oleh pencinta karyanya, Iqbal. Bahkan hingga saat ini, dunia masih menaruh hormat pada Rumi dan karya-karyanya. Jadi tidak menutup kemungkinan komunitas sastra yang ada di Jawa Timur mampu melahirkan tokoh sekaliber Rumi.

Sebuah pengharapan utopis, namun dapat diwujudkan. Pendidikan Rumi juga bukan dari fakultas sastra, namun lewat semangat dan kecintaannya terhadap sastra yang dipadukannya dengan sufi, ia wujudkan kebesaran sastra. Indonesia melalui Pramoedya Ananta Toer hampir saja meraih nobel sastra, namun sayangnya ada beberapa kesalahan terhadap terjemahan karya-karyanya hingga penghargaan nobelpun lepas. Tidak bijak jika kita selalu menyalahkan sejarah, karena hingga hari inipun kita sedang mengukir sejarah.

*) Liza Wahyuninto. Direktur Pusat Pengkajian Jalaluddin Rumi Malang dan Koordinator Paguyuban Komunitas Sastra UIN Malang.

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati