Tampilkan postingan dengan label Grathia Pitaloka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Grathia Pitaloka. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Juli 2021

Pengarang yang Menggandeng Jibril

Grathia Pitaloka
Jurnal Nasional 7 Sep 2008
 
Berbicara mengenai spiritualitas dalam karya sastra Indonesia, tak genap rasanya bila tak menyebut Danarto.
Membaca cerpen-cerpen Danarto, lelaki kelahiran Sragen, 27 Juni 1940 ini, seperti masuk ke sebuah dunia asing layaknya Alice in the Wonderland. Dengan cantik Danarto menyulap pohon, hantu, bahkan ayat suci Al Quran menjadi tokoh dalam ceritanya. Berlatarkan nuansa Jawa yang sangat kental, Danarto mengetengahkan cerita bergaya surealis lengkap dengan pilihan kata fantastis.

Minggu, 18 Juli 2010

Dari Tubuh Menuju Teks

Grathia Pitaloka
http://jurnalnasional.com/

Seorang perempuan menelungkupkan kepala di atas meja. Dari mulutnya terlontar igauan-igauan keras mengenai grafik pemeliharaan, grafik penghancuran, rencana regional, rencana tata ruang, konstruksi pembangunan negara-negara miskin.

Perempuan bernama Fitri itu seolah menjadi potret kegilaan kehidupan kota besar. Tekanan hidup membuat dia dan sebagian besar manusia urban lainnya merasa teralienasi bahkan oleh masa lalunya sendiri.

Untuk mengisi ceruk hati yang kosong mereka membentuk sebuah percintaan banyak segi. Meski tahu itu bukan bentuk ideal, namun mereka yang tercerabut dari akar tak sanggup untuk menolaknya.

Fenomena sosial seperti kegamangan sikap dan situasi psikologis masyarakat modern itu menggelitik naluri kreatif Teater Kami untuk mengangkatnya ke atas panggung. Kemudian dari tangan dingin seorang Harris Priadie Bah lahirlah sebuah pertunjukan teater yang mengharmonisasikan antara tubuh dan teks.

Lahir di Jakarta 20 tahun silam, Teater Kami memberikan sebuah warna yang berbeda di awal kemunculannya. Pengalaman bergabung dengan Teater Sae disebut-sebut sebagai salah satu latar eksplorasi tubuh yang dilakukan Harris.

“Berani tampil beda menjadi salah satu nilai lebih bagi Teater Kami. Di saat kelompok lain tenggelam dalam hiruk pikuk kecerewetan teks, mereka hadir dengan konsep minimalis, detail serta eksplorasi yang kuat terhadap tubuh,” kata Afrizal Malna, Minggu (14/12).

Teater Kami kemudian berangkat menjadi kelompok yang mengejar substansi. Bagi mereka, teater bukan sekadar narasi yang bertele-tele. Dengan detail tubuh yang sederhana pun mereka mampu menghipnotis penonton.

Afrizal mengatakan, dalam lingkungan teater di Jakarta, langkah yang diambih oleh Harris dan teman-teman terbilang istimewa. Maklum, ketika itu banyak kelompok teater yang disibukan dengan dialog yang berlarat-larat sehingga tidak mempunyai ruang untuk menggarap detail di tingkat tubuh aktor.

Kelebihan lain dari kelompok ini adalah tidak berlebihan dalam setting. Budaya visual yang tengah marak belakangan ini seringkali membuat para pekerja teater berlomba untuk mencipta setting yang gegap gempita, sementara teaternya sendiri menjadi terkubur.

Konsep setting minimalis yang diusung Teater Kami juga mendapat acungan jempol dari Halim HD. Ia mengakui kelebihan kelompok ini dari segi adaptasi ruang dan pemanfaatannya. “Ketika diundang ke Palu. Mereka mampu menggunakan ruang tamu sebagai tempat pertunjukan,” kata Halim.

Harris menuturkan bahwa konsep minimalis tersebut sebenarnya tercipta secara tidak sengaja. Sulitnya mendapatkan dana untuk pertunjukan membuatnya harus memutar otak, bagaimana membuat karya yang maksimal dengan modal kecil. “Maka terciptalah konsep pemanfaatan ruang dan penggunaan aktor yang minimalis,” ujar Harris.

Bahasa Simbol

Afrizal mengatakan, dengan gaya yang imajinatif Teater Kami mengusung ikon-ikon ke atas panggung. Bukan sebagai representasi sosial melainkan sebagai interpretasi mereka. “Mereka membawa pesan realis yang dikemas dalam pertunjukan imajinatif,” ujar penulis kumpulan puisi Teman-teman dari Atap Bahasa ini.

Contohnya dalam lakon Telur Matahari yang bercerita tentang wajah Indonesia setelah lima tahun reformasi. Taburan metafor sangat terasa pada pementasan yang naskahnya ditulis oleh Afrizal.

Misalnya saja pada adegan ketika dua orang sedang memperebutkan kursi (dalam makna sesungguhnya). Kemudian muncul orang ketiga yang ketika berhasil menguasai kursi, alih-alih diduduki kursi tersebut malah dibanting hingga berantakan.

Beragam makna bisa muncul dari adegan semacam itu. Tetapi, jika mengacu kepada bingkai besar pementasan sebagai upaya melakukan dekonstruksi terhadap berbagai ketidakpantasan di negeri ini, maka “kursi” (mungkin jabatan) telah membuat sebagian orang geram.

Pementasan tersebut ditutup secara tidak biasa dengan membanting semangka yang menyerupai bola dunia tepat di hadapan penonton. Suara bantingan yang menghentak menyadarkan bahwa bangsa ini tengah mengalami kesemrawutan.

Dalam tradisi Tionghoa, buah semangka yang dibanting merupakan bagian dari tata cara pada upacara kematian. Harris ingin menuturkan bahwa carut-marut di negeri ini akan berujung pada kedukaan yang mendalam.

Interpretasi personal yang digunakan Teater Kami seolah menjadi dua sisi mata pedang yang terkadang menjadi kelebihan, namun lain waktu dapat menjadi kekurangan. “Harris acapkali berlaku “sewenang-wenang” terhadap naskah orang lain dengan melakukan penafsiran ulang yang berlebihan,” kata Nur Zen Hae.

Misalnya saja pada pertunjukan Kunang-kunang yang naskahnya ditulis oleh penulis terkemuka Jepang, Suzue Toshiro. Dalam lakon tersebut Harris melakukan perombakan cerita secara besar-besaran. Naskah asli yang terdiri dari 14 adegan dipangkas menjadi 11 adegan (dua dihilangkan dan dua dijadikan satu).

Pertunjukan juga kerap menampilkan cerita yang tidak linier bahkan cenderung melompat-lompat. Satu adegan dengan adegan lain direkatkan oleh Ide, sehingga berpindah-pindah bagai gelombang radio.

Tengok saja pada lakon Kunang-kunang, adegan pertama dibuka fragmen antara Fitri dan Yanto. Lantas disambung dengan adegan kedua yang memperlihatkan kesibukan pasangan Jean Marais dan Faudiah Sari yang tengah menyorotkan senter mencari kunang-kunang.

Zen Hae menuturkan, upaya pembongkaran yang dilakukan Harris cukup menarik, caranya memilih dan mengedit naskah sehingga menghasilkan keseluruhan alur kisah. “Harris menggunakan adegan yang dianggapnya penting dan memangkas yang dianggap tidak,” ujar Zen Hae.

Pria yang sempat bekerja sama dengan Teater Kami untuk beberapa produksi ini mengatakan, penafsiran ulang yang dilakukan pewujud (penyebutan sutradara oleh Teater Kami) dapat merupakan bentuk kreativitas. Tetapi di sisi lain tindakan tersebut berisiko karena cerita yang ditampilkan tidak utuh.

Lebih lanjut Zen Hae melihat, Teater Kami sedikit terjebak dalam nada bicara robotik (dengan penekanan di akhir kalimat) yang menjadi ciri khasnya. “Memang gaya tersebut membedakan Teater Kami dengan kelompok lain, tetapi karena dilakukan secara berulang menjadi terasa membosankan,” kata lelaki yang menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).

Naskah Asing

“Hanya orang menos (gila) yang mau bertahan di dunia teater yang serbapaceklik,” kata Harris sembari terkekeh. Mungkin menertawakan diri sendiri karena dia termasuk segelintir orang yang hingga kini masih bertahan di dunia yang jauh dari gemerlap.

Tetapi tentu Harris tak ingin mati konyol. Supaya dapat bertahan ia harus pintar-pintar memutar otak. Untuk itu Harris memilih “jalan sempit” dengan melakukan pementasan-pementasan di kedutaan negara asing.

Cara yang ditempuh Harris ternyata cukup ampuh untuk mencetak rupiah guna membiayai pementasannya. “Tidak banyak, tapi setidaknya saya dapat memberikan uang lelah kepada para anggota,” ujar Harris.

Budaya memberikan uang lelah ditempuh oleh lelaki berusia 43 tahun ini mengubah anggapan bahwa pekerjaan teater berbeda dengan pekerjaan formal lainnya. Menurut dia, teater bukan sekadar hobi yang dikerjakan sebagai pengisi waktu luang. “Teater sama dengan pekerjaan lain yang membutuhkan loyalitas,” kata alumni Sekolah Teater dan Film (STF) angkatan 1986.

Harris juga tak keberatan bila kelompoknya dicap sebagai teater kedutaan asing karena dengan cara itulah dia bisa menyambung nafas untuk tetap menghidupkan teater. “Setidaknya setengah dari ongkos produksi bisa ditutup,” ujar pria yang duduk sebagai Sekretaris Program Dewan Pekerja Harian Dewan Kesenian Jakarta.

Dari kacamata berbeda Afrizal menilai, pemilihan naskah-naskah asing ini turut mempengaruhi cara bertutur Teater Kami. Jika pada awalnya mereka konsisten mengeksplorasi tubuh, lama-kelamaan mereka kembali terjebak pada teater naratif. “Padahal kekuatan Teater Kami terletak pada detail dan bahasa tubuh,” kata penulis buku Tak Ada Anjing dalam Rahim Ibuku ini.

Pola latihan yang tertutup ia duga menjadi salah satu penyebabnya. Lelaki yang sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyakara ini menilai pola latihan Harris yang tertutup seolah bekerja dalam kamarnya sementara teater merupakan kerja terbuka. “Masyarakat perlu mengetahui proses sebuah telur sebelum ia menetas menjadi ayam,” ujar Afrizal.

Lebih lanjut Afrizal memaparkan bahwa Teater Kami harus mengembangkan budaya diskusi maupun evaluasi dengan melibatkan orang lain di luar kelompoknya. “Ini merupakan langkah mencegah bangkrutnya kelompok teater akibat kehilangan medan kreatif,” ujar Afrizal.

Sementara itu, Halim menyayangkan bongkar pasang yang terjadi dalam tubuh Teater Kami. Meski hal itu lazim terjadi pada sebuah kelompok teater, tetapi ada baiknya sebuah kelompok memiliki keanggotaan yang mapan. “Masuknya orang baru membuat kelompok harus mengulang latihan dari awal,” kata Halim.

Regenerasi merupakan menjadi permasalahan tersendiri bagi dunia teater. Harris mengakui sulit sekali menemukan orang yang konsisten mengabdikan dirinya untuk kesenian terutama teater. “Bongkar pasang pemain merupakan salah satu cara, sebab saya tidak memiliki banyak anggota,” ujar Harris.

Rumusan bahwa teater sebagai seni dalam menjalani hidup atau teater sebagai panggilan jiwa, pada akhirnya memang terlampau sederhana untuk menggambarkan “kegilaan” sebagian orang untuk terjun bebas di dalamnya.

Semoga kerinduan Harris akan majunya dunia teater Tanah Air dapat tercapai, setidaknya seperti kunang-kunang yang menghapus kerinduan masyarakat urban dalam lakonnya.

Minggu, 16 November 2008

Menggali Lagi Warna Lokal

Grathia Pitaloka
http://jurnalnasional.com/

Tema kedaerahan pernah mendapatkan tempat penting dalam dunia prosa Indonesia.

Karya-karya prosa Indonesia pernah begitu bergairah menjadikan warna lokal sebagai tema besar. Tengok saja, Upacara (1978) karya Korrie Layun Rampan, Makrifat Daun, Daun Makrifat (1977) karya Kuntowijoyo, Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, Burung-burung Manyar (1981), dan Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa (1983) karya Y.B. Mangunwijaya, Bako (1983) karya Darman Moenir, Ronggeng Dukuh Paruk (1982) karya Ahmad Tohari, dll.

Pada karya-karya ini warna lokal yang diusung bukan hanya aspek sosial-budayanya, melainkan menjadi media ekspresi atau jadi idiom-idiom estetika di dalamnya. Bukan hanya warna subkultur yang kuat, tapi juga berkembang menjadi eksplorasi bahasa dan style mencapai nilai estetis.

Pengertian lokal di sini tentu bukan hanya berkutat pada dimensi keruangan atau batas-batas geografis, melainkan diterjemahkan secara luas melalui setting, bahasa, serta penokohan yang kental dengan atmosfer dan ciri-ciri kultural setempat.

Beberapa sastrawan mencoba menyandingkan warna lokal dengan hiruk-pikuk nuansa urban. Kekontrasan yang tercipta memberikan nuansa baru pada perkembangan sastra Indonesia. Korrie Layun Rampan merupakan salah satu sastrawan yang berhasil memadukan dua warna kehidupan yang bertolakbelakang itu. Novelnya, Upacara berhasil mengantarkan Korrie sebagai pemenang Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1976.

Novel Upacara bercerita tentang keberadaan etnis Dayak di pedalaman Kalimantan serta permasalahan sosial berupa penebangan hutan yang terjadi di sana. “Ketika itu belum ada yang mengangkat persoalan Kalimantan sebagai sebuah cerita,” kata Korrie kepada Jurnal Nasional, Selasa (21/10).

Kepiawaian Korrie mengemas “tabrakan” antara warna lokal dan nuansa urban sebagai sebuah daya tarik pantas diacungi jempol. Pertentangan nilai antara masyarakat Dayak dan Jakarta digambarkan lewat cara pandang mereka terhadap upacara adat. “Upacara adat yang dipandang penting oleh masyarakat Dayak, diabaikan dan dianggap sebelah mata oleh orang Jakarta,” ujar penulis novel Api Awan Asap ini.

Pertentangan nilai antara Jakarta dan daerah juga terasa kental pada Novel Warisan karya Chairul Harun. Karya yang mendapat penghargaan Yayasan Buku Utama dari Depar-temen Pendidikan dan Kebudayaan (1979) ini bercerita mengenai perbedaan cara pandang antara Rafilus yang bekerja di Jakarta dengan keluarga ayahnya di Kurai Taji, Pariaman.

Konflik antarkeluarga ini bermula ketika Rafilus berniat membawa ayahnya yang sedang sakit keras berobat ke Jakarta. Ia berpikir teknologi serta tenaga medis di ibu kota pastilah lebih memadai ketimbang di kampungnya. Tapi sanak keluarga Rafilus menolak mentah-mentah keinginan itu. Mereka khawatir niat pemindahan pengobatan semata-mata hanya cara Rafilus untuk menguasai seluruh harta ayahnya. Mereka lebih mempercayakan kesembuhan ayah Rafilus kepada dukun kampung bernama Tun Rudin.

Pertentangan nilai juga terasa ketika Rafilus terpaksa menikahi kerabatnya yang bernama Rekana, untuk memenuhi keinginan ayahnya dan menjaga tali silaturahmi. Padahal hati Rafilus telah terpaut pada seorang janda bernama Maemunah. Masyarakat kampung Rafilus cenderung berpersepsi negatif terhadap perempuan yang berstatus janda. Namun tidak bagi Rafilus, yang terbiasa dengan nilai-nilai masyarakat kota besar.

Perbedaan Karakter
Korrie mengatakan, setiap daerah di Indonesia memiliki kekhasan yang berbeda satu sama lain. Sebagai contoh, realitas yang terjadi di Kalimantan belum tentu dapat ditemukan di daerah lain. Pria yang kini menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Kutai Barat ini menuturkan, para pengarang yang ingin mengangkat warna lokal dalam karya-karyanya harus mengenal betul budaya serta karakteristik masyarakatnya. “Karakteristik masyarakat Kalimantan akan kehilangan makna, bila diangkat dalam karya yang berlatarbelakang budaya Minang,” ujar Korrie.

Senada dengan Korrie, sastrawan Darman Moenir mengatakan, warna lokal yang diusung akan terasa hambar apabila penulis tidak memahami seluk beluk budaya daerah tersebut. “Dalam melukiskan persoalan perempuan dan seks, misalnya, karya cerpenis yang tinggal di Pontianak atau penyair yang tinggal di Kendari, tak ada bedanya dengan karya mereka yang tinggal di Jakarta,” kata Darman.

Ia memaparkan, mungkin saja permasalahan yang sama dapat ditemui di Jakarta atau kota besar lainnya. Namun konteks lokal yang berbeda, akan melahirkan warna yang berbeda pula. “Bukan sekadar setting dan cara pengucapan, tetapi cara pandang yang menggambarkan konteks kultur dan etos tradisi yang diikuti dengan berbagai respons dan perubahan yang terjadi di dalamnya,” ujar Darman.

Pemenang kedua Sayembara Novel Kartini 1987 ini mengatakan, pemahaman terhadap budaya suatu daerah bisa terjadi karena memang yang bersangkutan dibesarkan oleh latar belakang budaya itu atau melalui proses penelitian mendalam.

Lelaki kelahiran Batusangkar, 27 Juli 1952 ini memberikan contoh, Novel Para Priyayi karya Umar Kayam yang menyajikan daerah sebagai suatu latar solid tak terganti. “Latar menjadi warna lokal, kemudian lokalitas menjadi acuan peristiwa serta melahirkan peristiwa,” ujar penulis Novel Bako yang memenangkan hadiah utama Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1980.

Hal serupa juga terjadi pada Novel Harimau! Harimau! karya Mochtar Lubis. Harimau sebagai metafor hasrat liar dan ganas manusia mungkin dapat ditemui di daerah lain, tetapi permainan antara harimau sebagai binatang buas serta harimau yang bermain di sudut hati tokoh-tokohnya hanya mungkin disajikan dengan latar belantara Sumatera.

Dari segi penokohan, menurut Korrie, karakter pada novel dengan warna lokal merupakan manusia dalam arti komunitas. Hal ini berbeda dengan novel yang mengangkat tema realisme sosial atau nuansa urban, di mana karakter menjadi cermin pribadi tunggal. “Novel dengan warna lokal biasanya tidak menggambarkan tokoh sentral melainkan tokoh jamak, sehingga satu sama lain memiliki persepsi yang berbeda-beda, contohnya Aku dalam Novel Upacara,” kata Korrie.

Ia mengatakan, fungsi pengarang dalam menyajikan warna lokal tidak hanya sebagai penulis melainkan melakukan eksplorasi budaya. “Ia harus menyampaikan aspirasi masyarakat di mana peristiwa itu berlangsung, sehingga karakter tidak hanya hadir sebagai boneka bagi pengarangnya,” ujar Korrie.

Medan Nilai Sosial
Haris Effendi Thahar mengatakan, karya sastra yang mengangkat warna lokal merupakan sarana tepat untuk menyampaikan nilai-nilai sosial yang terjadi di daerah tersebut. “Sejauh mana ia bisa mengemas warna lokal tetapi dapat menimbulkan dampak global,” kata Penulis Kumpulan Cerpen Si Padang.

Ia mencontohkan, cerita yang bertutur tentang anak yang hidup di pedalaman Kalimantan dan hidup dalam keterbatasan. “Tentu penekanannya bukan pada pedalamannya, tetapi bagaimana nilai kemanusiaan manusia Kalimantan tersebut dapat dirasakan oleh pembaca yang berasal dari Amerika atau Eropa,” ujar Harris.

Selain itu, karya sastra berwarna lokal juga bermanfaat untuk memperkenalkan khazanah budaya Indonesia, sehingga masyarakat sadar bahwa negara ini terdiri dari bermacam suku dan tradisi. Sayangnya, tak banyak pengarang yang berhasil mengemas warna lokal menjadi sajian bercitarasa global. “Hanya segelintir yang berhasil, rata-rata hanya menggunakan warna lokal sebagai pembungkus tetapi tidak memiliki makna mendalam,” kata penulis buku Anjing Bagus.

Warna lokal tak hanya menarik perhatian para sastrawan dunia ketiga. Teks sastra dari Jepang, Daerah Salju dan kumpulan cerpen Penari-penari Jepang karya Yasunari Kawabata merupakan salah satu karya yang berhasil mengangkat kearifan lokal, menjadi teks sastra yang bermuatan nilai estetis.

Begitu pula dengan sastrawan Mesir, Naguib Mahfouz, dengan novelnya Lorong Midaq. Mahfouz berhasil menghadirkan kearifan lokal untuk mencapai nilai estetis dalam teks sastranya. “Kualitas sastrawan Indonesia sebenarnya tidak kalah dengan sastrawan dari negara lain,” kata Darman.

Mengingat pentingnya warna lokal dalam khazanah sastra Tanah Air, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Melanie Budianta menyayangkan kondisi aliran ini yang semakin tersisih dan tergerus oleh-oleh tema realisme sosial dan nuansa urban.

Mengangkat realisme sosial sebagai latar belakang karya sastra bukanlah suatu hal yang buruk, tetapi pengayaan karya serasa mandek ketika tidak ada eksplorasi terhadap nuansa lokal. Karya-karya yang terlalu didominasi nuansa urban, kemudian melahirkan produksi massal tanpa dilengkapi identitas tersendiri.

Estetika lokal merupakan mazhab tersendiri dalam dunia sastra Indonesia. Tidak salah jika kemudian muncul mazhab lain. Akan tampak tidak berimbang ketika semua hanya menoleh pada satu sisi, sisi urban misalnya. Hal tersebut amat disayangkan, karena akan memunculkan hiperbola penggambaran yang terkadang memuakkan.

Menurut Melani, daerah-daerah di Indonesia sangat kaya akan keragaman budaya, tetapi sayangnya masih sedikit pengarang sastra yang menuliskan kekayaan tersebut. Padahal sastra subkultur dapat mulai dikembangkan dalam komunitas-komunitas sastra.

Kurang diangkatnya warna lokal dalam karya sastra Indonesia, bisa jadi disebabkan oleh kondisi pasar yang tidak responsif. Padahal, dukungan pasar terhadap sastra subkultur turut memengaruhi perkembangannya.

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati