http://media-sastrajatim.blogspot.com/
Novelet Karya: Almania Rohmah*
BAGIAN 1
Tok…! Tok…! “Fatimah, bangun! Sudah jam 03.00 WIB.” Teriak Bundaku.
“Iya Bunda!” Jawabku singkat.
Yach…, begitulah ibuku akrab memanggilku. Fatimah Az Zahrah adalah nama lengkapku. Nama itu pemberian orang tuaku. Kebetulan, orang tuaku merupakan salah seorang tokoh agama di desaku. Tepatnya desa Modo. Semenjak usia dini, orang tuaku sudah mendidikku dengan ajaran-ajaran agama hingga sekarang aku lulus dari SMP 1 Modo.
Untuk melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas, orang tuaku sudah memilihkannya untukku. Dan rencananya pagi ini juga, aku akan berangkat ke sana. Seusai sholat Qiyamul Lail, akupun mempersiapkan segala keperluanku sambil menunggu adzan Shubuh.
Beberapa saat kemudian, setelah aku selesai mengerjakan sjolat subuh. Dan saat itu kira-kira matahari telah setinggi badan, aku bersiap-siap untuk berangkat ke calon sekolahku yang baru. Yach, aku hendak mendaftarkan diri di sana.
“Fatimah, ayo sarapan dulu !” Ajak Bunda.
“Sebentar Bunda, aku masih ganti baju.” Sahutku.
Selesai ganti baju, aku pun keluar dari kamar dan menuju meja makan untuk sarapan pagi bersama orang tuaku.
“Sudah jam 7, ayo kita berangkat.” Ajak Abah mengingatkan sudah siang, karena besok pagi sudah ada tes masuk. Kami pun bergegas masuk mobil dan tak lupa barang bawaanku. Dalam hatiku bertanya-tanya, sekolah mana yang sudah dipilih Abah buatku?
Dari kota Babat berjalan ke arah selatan mengikuti jalur utama. Setelah berjalan 28 Km, kami pun memasuki kota Jombang. Dan ternyata perjalanan kami berakhir di depan pintu gerbang Pondok Pesantren Tebu Ireng. Aku merasa senang sekali. Sebab itu adalah keinginanku semenjak kecil. Aku bisa mondok di pesantren tersebut. Baru sekarang inilah, orang tuaku memberikan hadiah sepesial dan berharga atas kelulusanku.
Bunda mengajakku masuk ke pondok pesantren Masruriyah Putri. Dari pintu gerbang pondok, kudapati Mushola dan di sebelahnya ruang kantor. Aku yang begitu awam dengan tempat ini, hanya bisa mengikuti langkah Bunda. Kami pun menuju keruang kantor. Ternyata semua pengurus di dalamnya sedang disibukkan dengan aktivitasnya masing-masing. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka ada yang menghampiri kami setelah mendengar salam dari kami.
“Oh Ibu, silahkan duduk!” Sapa seorang gadis pada bundaku. Tampaknya gadis itu sudah kenal dengan Bunda.
“Fatimah, ini mbak Fiqo, ketua umum di pondok pesantren ini.” Bunda mengenalkan aku pada gadis yang begitu asing buatku itu. Dan kami pun saling berjabat tangan.
“Jadi, ini anak Ibu yang akan mondok di sini?” Terkanya padaku.
“Iya Mbak !” Jawab Bunda singkat.
“Kalau begitu, mari saya antar ke kamar A” Ajaknya. Kami pun berjalan ke lantai atas untuk melihat kamarku. Bangunan yang dirancang seperti huruf “U” dan hanya bersusun satu. Kamar “A” berada tepat di ujung paling utara.
Setelah seharian, Bunda pun minta pamit padaku.
“Fatimah, apa kamu tidak ingin bertemu dengan Abah kamu sebelum kami pulang?” Saran Bunda padaku.
“Iya Bunda!” Jawabku singkat.
Kami pun menuju ndalem pengasuh pondok pesantren “Masruriyah Putri”. Selang beberapa menit, Abah minta pamit padaku karena akan ada pengajian, malam ini di desaku.
BAGIAN 2
Malam pertama di pondok pesantren ini, aku begitu juga semua santri lama maupun baru berkumpul bersama pengurus di dalam Mushola guna membacakan tata tertib pondok pesantren dan dilanjutkan Tausyiyah dari Ustadz pengasuh pondok pesantren.
Laju jam begitu lambat, memang kenyataan lebih pahit dibandingkan dengan khayalan. Dulu aku sangat berharap bisa mondok di sini. Namun setelah aku di sini, hari pertama saja aku sudah mulai bosan. Apalagi seterusnya.
Dinginnya hawa angin malam dan alas tidur yang tipis membuatku masuk angina. Sehingga dalam waktu semalam saja aku harus bolak-balik ke kamar mandi dan naik turun tangga sampai lima kali. Dalam benakku, dalam seminggu saja mungkin bisa turun 5 kilo berat badanku kalau setiap malam begini terus. Jadi nggak perlu buang uang buat biaya diet donk!
Adzan Subuh pun berkumandang. Namun mataku terasa berat untuk dibuka, setelah begadang semalaman di kamar. Dan usai sholat Shubuh, aku pun tidur lagi.
“Fatimah, apa kamu nggak ikut tes hari ini?” Rina mencoba membangunkanku.
“Emangnya sekarang sudah jam berapa Rin?” Tanyaku balik.
“Jam 07. 45 WIB” Jawabnya.
“Aduh…! Gimana nich, jam 8 kan sudah dimulai. 15 menit lagi aku harus sampai ke sekolah.” Pagi hari itu, cuma kuawali dengan cuci muka dan menggosok gigi. Kemudian memakai baju seragam. Tapi aku belum tahu pake’ seragam apa untuk hari Senin ini. Aku pun berlari keluar kamar. Aku melihat tinggal ada beberapa temanku yang sedang memakai sepatu dan siap pergi kesekolah. Dan aku akhirnya tahu, untuk tes kali ini memakai seragam putih dan abu-abu. Di halaman pondok sudah tidak kudapati teman-temanku lagi. Di luar gerbang aku pun bingung. Harus berjalan ke arah mana untuk menuju ke SMA A.W.H? Kudapati seorang lelaki berjalan dari arah utara.
“Maaf Mas, SMA A.W.H itu di sebelah mana?” Tanyaku.
“Mari saya antar!” Tawarnya.
Aku yang masih lugu menolak tawarannya. Di benakku sempat terpikirkan “Bagaimana jika aku bukannya kesekolah malah ketempat yang lain?” Aku pun berjalan asal neronyong aja. Berlawanan dengannya.
“Mbak, mau ke mana? SMA A. W. H itu di sebelah sana. Kalau Mbak lewat situ nanti bingung.” Sarannya seraya menunjukkan telunjukknya ke suatu arah tertentu.
“Dari gang sebelah jembatan itu lurus saja, lalu pean Tanya disana kalau ada perempatan” Himbaunya lebih lanjut.
Aku pun berbalik arah sambil menundukkan kepala karena merasa malu dengannya. Dan sesampainya di SMA A. W. H aku pun menemui pengawas tes dan meminta izin untuk masuk ke ruangan. Namun beliau menolak dan menyuruh aku mengerjakan soal tes di depan ruangan karena di dalam tidak ada bangku kosong lagi.
Dari ruang sebelah, seorang pengawas keluar dan melangkah ke arahku. Alngkah terkejutnya aku. Ternyata lelaki itu juga ada di sini. Aku pun menarik nafas dalam-dalam dan megeluarkannya dengan cepat. Aku yang masih merasa malu segera menutup mukaku dengan kerudung sambil menundukkan kepalaku. Andai tadi aku tak menolak tawarannya, aku takkan merasa semalu ini. Ternyata dia ada perlu dengan pengawas yang ada di ruanganku.
Selesai tes, aku sengaja menunggu Rina keluar agar aku bisa pulang bareng dengannya. Tidak lama kemudian, kudapati Rina baru saja keluar dari ruangnya.
“Rina, tunggu aku!” Teriakku.
Rina pun menampakkan senyumnya dan menanti kedatanganku.
“Bagaimana Fatimah? kamu tadi datang nggak telat kan?” Tanya Rina.
“Iya sich. Mana aku belum tahu lagi di mana SMA A.W.H itu.” Ujarku sedikit kesal.
“Maaf Fatimah, kalau tadi pagi aku nggak nunggu kamu.” Sesal Rina.
“Nggak apa-apa kok Rin. Akunya aja sich yang malas bangun” Sadarku.
“Lho Rin, kita mau ke mana? Kok lewat sini? Apa nggak salah?” Sangkalku.
“Emangnya kamu tadi lewat mana?” Tanyanya balik padaku.
“Sebelah sana!” Tunjukku. Yang ternyata tak sengaja aku menunjuk ke belakang dan mengenai tangan seseorang yang ada di belakangku. Dan…...
“Subhanallah, itu tangan seorang guru yang ngajar di SMA A. W. H.” Aku kaget.
“Maaf Pak, maaf!” Himbauku
“Nggak apa-apa. Tolong berikan surat ini pada Mas Azhar di pondok Mastra.”
“Iya Pak.” Sahutku.
“MASTRA”, singkatan dari “Masruriyah Putra”. Di depan pintu gerbang itu, aku mencoba menyampaikan amanat dari Pak Guru. “Bisa betemu dengan Mas Azhar?”
“Aduh….! Kenapa aku harus bertemu lelaki itu lagi?” Kesalku dalam hati.
“Ada apa?” Tanyanya padaku dan Rina.
“Bisa bertemu dengan Mas Azhar?” Tanyaku.
“Iya ada apa?” Sahutnya.
“Mas Azharnya mana?” Tanyaku balik.
“Akulah Mas Azhar!” Ujar kesalnya.
“Ini Pak, dapat surat dari sekolah.” Tukasku.
“Ya Allah, mengapa aku meski berhadapan dengan orang yang menjengkelkan seperti beliau?” Degub batinku sekali lagi.
BAGIAN 3
Tepat di hari Kamis malam Jum’at, ada Diniyah dan jamaah sholat Isya’. Saat itu, aku duduk di depan teras kamarku sambil menghafal 100 kosakata setiap hari, yang sudah menjadi kewajiban di pondok pesantren ini. Dengan jelas kudengar suara lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang mampu menembus relung mercu qolbuku yang membeku.
“Wahai sang Khaliq, insan seperti apakah yang pantas engkau anugerahi suara sesempurna itu?” Pertanyaan itu tiba-tiba muncul dari dalam hati kecilku. Entah, aku tak tau, mengapa ungkapan itu melingkupi batinku.
“Jiwa yang sesuci apakah yang pantas mendampinginya di kala suka maupun dukanya?” Dengan bertubi-tubi, pertanyaan-pertanyaan seperti itu datang dari dalam hatiku. Sesekali bening bola mataku meneteskan embun haru di hamparan pipiku. Membasah kering kulitku.
“Ada apa Fatimah? Mengapa kamu menangis?” Suara Rina mengagetkanku.
“Nggak ada apa-apa kok Rin!” Jawabku singkat sambil menyeka air mataku.
“Kamu sendiri kok belum tidur Rin?” Tanyaku balik.
“Aku mau ke kamar mandi!” Jawabnya.
“Mau kuantar Rin?” Tawarku.
“Nggak usah, kamu tidur aja sekarang.” Sarannya.
BAGIAN 4
Sewaktu aku dan Rina berangkat ke sekolah, ada seseorang yang iseng denganku.
“Rin, kenalin donk, aku sama temen kamu!” Ledeknya.
“Hai cantik, boleh nggak aku kenalan?” Orang itu menghampiriku.
“Ach…!” Teriakku.
Dia menarik kerudungku, hingga rambut panjangku terurai. Aku menangis di pangkuan Rina. Dan tak kusangka, Mas Azhar datang menghampiriku sambil mengambilkan kerudungku yang terjatuh. Kebetulan, saat itu, Bunda dan Abah datang membesukku. Aku pun membatalkan niatku tuk pergi ke sekolah dan masih trauma dengan kejadian tadi. Semenjak kejadian itu, setiap aku bertemu dengan Mas Azhar, beliau selalu tersenyum padaku.
BAGIAN 5
Suatu hari, di perjalanan pulang sekolah. Tepat di belakang asrama putra. Seorang anak lelaki menyapaku.
“Mbak Fatimah!” Terkanya.
“Iya, ada apa?” Tanyaku yang sama sekali tak kenal dengannya.
“Ini buat Mbak Fatima !” Ucapnya sambil menyodorkan surat padaku.
Sesampai di pondok, aku menuju ke kamar mandi, untuk membaca surat itu. Awal kubuka surat, aku langsung mencari nama penulisnya. Ternyata tertera nama Mas Azhar. Aku merasa antara percaya dan tidak percaya. Hatiku gamang. Mana mungkin Mas Azhar nulis surat buatku. Dalam surat itu, hanya satu kata yang tertulis dengan jelas “Ana Ukhibbu Ila Anti”. Aku yang sebelumnya belum pernah mengenal kata cinta merasa bingung harus berbuat apa? Beliau memberi pilihan padaku. Jika aku menerima, aku akan memenggilnya Abi. Itu sudah cukup menjadi jawaban atas perasaanku.
Suara mikrophone mengagetkanku. Aku dipanggil ke kantor karena ada telepon. Dan aku pun bergegas datang ke kantor.
“Assalamu’alaikum!” Sapaku.
“Wa’alaikum salam, Fatimah! Ini aku, Azhar.” Terangnya.
“Apa? Mas Azhar?” Kagetku dalam hati.
“Apa jawabanmu?” Tanyanya lagi.
“I….iya, Abi.” Jawabku singkat sambil terbata.
“Alhamdulillah, mudah-mudahan ini bukan main-main. Aku ingin memilikimu untuk di dunia dan akhiratku.”
“Umi, entar malam ada Mudarrosah. Abi ingin Umi merupakan salah seorang yang selalu setia mendengarkan Abi ngaji.” Pintanya.
“Insya Allah Abi.” Jawabku.
“Assalamu’alaikum.” Beliau mengakhiri teleponnya.
Aku duduk di depan kamarku. Aku merasa tak percaya dengan apa yang sedang terjadi saat itu, hingga seorang pengurus mengagetkanku.
“Hayo! Ngelamunin siapa?” Tanya Mbak Iim.
“Ach ! Mbak Iim bisa aja!” Elakku.
“Ternyata suara itu milik Mas Azhar. Beberapa malam lalu, dalam setiap lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacakannya, aku selalu berdoa terus menerus diiringi deraian air mata. Hanya satu yang kuharapkan jikalau memang Mas Azhar itu benar-benar jodohku, jadikanlah dia yang terbaik buat dunia dan akhiratku. Maka ridhoilah kami mengikuti sunnah Rasul-Mu dan menyempurnakan separo agamaku.” Gumam kecilku dalam hati.
Hubungan kami berjalan hanya melalui surat dan telepon saja. Bahkan dengan bertatap muka di jalan itu sudah lebih cukup tuk melepas rasa rindu kami.
Semenjak saat itu, dalam sholat Qiyamul Lailku, aku melupakan untuk kebaikanku dan keluargaku. Aku hanya berdo’a untuk Mas Azhar dan tak ada yang lain. Bahkan setiap ada mudarrosah, akulah pendengar setia yang tak mau ketinggalan. Sebab Mas Azhar selalu mengingatkanku melalui telepon, setiap ada mudarrosah di masjid bagi santri yang khufadz Al-Qur’an di sana.
Setelah berjalan selama 3 tahun, aku baru tahu kalau Mas Azhar itu masih keponakan Ustadz Pengasuh pondok pesantrenku. Dan dia di sini memang sedang menyelesaikan khufadznya.
BAGIAN 6
Cukup lama sudah aku dan Mas Azhar menjalin hubungan cinta saat itu. Kami pun merasa banyak kesamaan satu sama lain. Dan dalam hati kami yakin, kalau kita memang sudah jodoh sehingga di akhir semester kelas III, Mas Azhar minta izin padaku, katanya mau ngajar di pondok pesantren di Jepara yang diasuh oleh pamannya sendiri. Hanya satu pintanya padaku “Umi, do’akan Abi ya!”
“Iya Abi, Umi hanya bisa berdoa buat keberhasilan Abi.” Jawabku pasrah.
Setelah tiga bulan kepergian Mas Azhar Ke Jepara, aku tak lagi mendengarkan kegiatan mudarrosah di Masjid “MASTRA”. Aku mendengar kabar, dia akan dijodohkan dengan anak Kiyai di Yogyakarta. Di saat itu aku harus bergelut dengan ujian-ujian sekolah tuk menentukan keberhasilanku. Tiga tahun sudah, aku berjalan mengenyam pendidikan di pondok pesantren Tebu Ireng. Dan hanya dalam tiga hari inilah seluruh masa depanku, aku pertaruhkan..
Hatiku mungkin sudah tak berbentuk lagi. Aku merasa dihianati kesetiaanku. Aku merasa tak berdaya bangkit kembali untuk menghadapi hari esok. Setiap hari tiada nama y6ang kusebut kecuali nama Mas Azhar. Namun, kini sang Kholiq benar-benar menunjukkan keputusannya. Aku mencintai seseorang yang bukan ditakdirkan menjadi jodohku. Aku berupaya meyakinkan pikiranku sendiri dan pernah terbersit rasa syu’udhon terhadap Tuhanku.
Aku berupaya melupakan kenanganku bersama Mas Azhar dengan membakar semua surat darinya. Setelah pengumuman lulus, Aku sengaja pindah ke pesantren lain. Dan membiarkan kenanganku terkubur di sana. Tambak Beras menjadi pilihanku. Aku memilih Fakultas Tarbiyah di kampus UNDAR dan tinggal di pesantren Al-Lathifiyah 1. Aku mencoba membuka lembaran baru di kehidupanku.
BAGIAN 7
Sebelum kegiatan kuliah di mulai, aku mencoba mengisi hari-hariku dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Salah satunya menjadi peserta FMP 3 (Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri) se- Jawa Timur, yang diadakan di Pondok pesantren Lirboyo, Kediri.
Selama kegiatan Bahtsul Masa’il berlangsung, beberapa pendapatku memaksa salah seorang Mushollah muda memancing egoku tuk memberikan alasan-alasan di balik pendapatku itu. Di sana aku juga mendapatkan teman baru yang berasal dari beberapa pondok pesantren yang ada di Jawa Timur.
Sepulang dari Bahtsul Masa’il, seketika itu aku sakit selama tiga hari di pesantren. Sesaat aku teringat Mas Azhar sehingga membuatku meneteskan air mata. Aku berkali-kali berupaya meyakinkan batinku. “Kau bukanlah wujud yang diciptakan dari tulang rusuknya!”. Hingga aku pun yakin bahwa di atas kesempurnaan Mas Azhar ada yang lebih sempurna lagi.
Di hari Senin, aku masuk kuliah dari jam pertama hingga akan jam terakhir. Hari itu tidak ada dosen yang mengajar. Aku sedikit kecewa.
“Buat apa bayar kuliah mahal-mahal kalau ternyata di sini Cuma main-main saja.” Keluhku dalam hati.
“Fatimah! Ada Ustadz Rofiq datang.” Teriak Ima padaku yang sedang ada di dalam perpustakaan kampus. Aku langsung keluar dan bergegas masuk keruang kelasku.
“Assalamu’alaikum!” Sapaku yang masuk telat ke ruangan.
“Wa’alaiku salam.”
“Subhanallah, bukankah ini yang kemarin debat denganku di seminar Bahstul Masa’ail?” Aku kaget setelah melihat wajahnya.
Aku pun segera mencari tempat duduk sambil Pak Rofiq terus memandangiku. Aku hanya bisa berdo’a supaya beliau jangan sampai mengenaliku.
“Ima, apa aku nggak salah, itukan orang yang kemarin ada di musyawarah.” Tanyaku meyakinkan.
“Iya Fat, beliau adiknya Rektor di sini. Ustadz Hanafi Arief. Dulu dia menyelesaikan S-2 nya di Al-Azhar Kairo.” Jelas Ima.
“Beliau ke marin di musyawaroh. Aku rasa menggantikan abahnya seorang pengasuh pondok “Mamba’ul Ma’arif di Denanyar yang mungkin tidak bisa hadir dikarenakan ada halangan.” himbaunya lagi.
Pelajaran yang diterangkan tak masuk ke dalam otakku. Aku hanya menundukkan kepala dan berharap jam kuliah segera usai.
Akihirnya beliau pun mengakhiri mata kuliah hari ini. Sengaja aku keluar telat. Menunggu suasana hingga sepi dan Ustadz Rofiq segera berlalu. Aku pun beranjak keluar. Namun perkiraanku salah. Di samping tiang teras depan ruanganku, kudapati Ustadz Rofiq membelakangiku.
“Mari Ustadz!” Pamitku. Namun suara beliau menghentikan langkahku.
“Apa benar kamu yang ikut di musyawaroh Bahstul Masa’ail kemarin?” Tanya Pak Rofiq.
“Iya Ustadz, ada apa?” Tanyaku balik.
“Apa kamu sudah dapatkan buku hasil Bahstul Masa’ail kemarin?” Tanyanya.
“Belum Ustadz. Kemarin saya tanya sama pengurus harian, katanya sih sedang diproses.”, Ungkapku.
“Kemarin aku sudah dapatkan buku itu. Kalau kamu mau pinjam, besok aku bawakan!” Tawarnya.
“Terima kasih banyak Ustadz!” Balasku.
Aku pikir beliau memang sengaja menunggu aku keluar.
BAGIAN 8
Keesokan harinya, telepon dari nomor yang tak kukenal menghubungiku.
“Asalamu’alaikum.” Sapaku ringan.
“Wa’alikum salam, Fat! Kalau kamu mau ambil bukunya, silahkan ke kantor FAI”. Perintahnya.
Kemudian teleponnya dimatikan. Namun aku bingung, buku apa yang dimaksud? Tanpa basa-basi, aku pun segera menuju ke kantor FAI.
“Assalamu’alaikum.” Sapaku minta diizinkan masuk.
“Wa’alikum salam, ada perlu apa?” Tanya seorang TU di sana.
“Fatimah, ini bukunya!” Sahut seseorang yang ada di sampingku. Ternyata suara itu milik Ustadz Rofiq.
“Tolong dirawat ya!” Pesannya.
“Baik Ustadz!” Aku meyakinkan.
Ternyata nomor yang tadi pagi itu milik Ustadz Rofiq. Dalam hatiku selalu berharap mudah-mudahan beliau tidak ada maksud yang lain. Tiba-tiba hand poneku memberi isyarat bahwa ada pesan yang masuk.
“Rawatlah aku sebagaimana merawat diri kamu sendiri.”
Apa maksud dari pesan ini? Dalam buku itu kutemukan secarik kertas yang menyatakan beliau ingin mengenal aku lebih jauh atau dengan istilah Ta’aruf. Beliau berterus terang merasa kagum padaku. “Fatimah Az-Zahra nama yang sesuai dengan kepribadianmu. Sebagaimana Rasulullah memberi nama pada putri kesayangan beliau Fatimah Az-Zahra yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata dan dikenang sepanjang masa.”.kata-kata itulah yang masih memberkas dalam ingatanku. Aku menghela nafas panjang antara menjawab iya atau tidak.
Akupun bertanya-tanya. ”Apakah ini jawaban atas do’a-do’aku selama ini?”
Aku pun mulai bisa menerima semua ini. Mungkin Mas Azhar belum yang terbaik buat dunia dan akhiratku.
Selang satu minggu, aku baru mengiyakan hubunganku dengan Ustadz Rofiq. Aku merasa telah mendapatkan kesempurnaan sinar surya milikku kembali, setelah beberapa saat terjadi gerhana dalam bumi cintaku.
Setelah 6 bulan melakukan ta’aruf dengan Pak Rofiq, kami merasa saling ada kecocokan, sehingga Pak Rorfiq sendiri tak ingin niatan ta’aruf ini menjadi ladang maksiat. Beliau ingin menghalalkan aku dipandangannya. Sehingga tepat saat aku semester tiga nanti, di bulan Syawwal, akad nikah kami akan dilangsungkan.
BAGIAN 9
Di waktu liburan semester II, aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Kali ini aku memilih naik bus tujuan babat, karena Abah sedang disibukkan dengan pekerjaannya.
Setelah menunggu selama 3 menit, akhirnya datang bus dari arah selatan. Aku memberi isyarat pada sopirnya, sehingga bus berhenti di hadapanku. Di dalam bus, aku berusaha mencari tempat duduk yang kosong.
“Mbak Fatimah!” Teriak seorang lelaki yang usianya lebih muda dariku. Aku merasa mengenali wajah itu dan kebetulan d isampingnya masih kosong. Aku pun berjalan mendekat ke arahnya.
“Boleh aku duduk!” Pintaku.
“Silahkan mbak. Silahkan…..!” Jawabnya.
“Emh…kamu kan yang dulu selalu mengantar surat buatku dari Mas Azhar kan!” Terkaku.
“Iya mbak. Aku Adhim, adiknya Mas Azhar.” Jelasnya.
“Apa…? Kamu adiknya Mas Azhar?” Kagetku. Aku baru tau kalau yang selama ini menjadi perantara aku dan Mas Azhar itu ternyata adik kandungnya sendiri.
“Bagaimana kabar Mas Azhar? Apa dia sudah menikah?” Tanyaku tentang Mas Azhar.
“Mas Azhar baik-baik saja. Sebenarnya kepergiannya ke Jepara ingin mewujudkan cita-citanya bersama Mbak Fatimah.” Tutur Adhim memelas.
“Maksud kamu apa Adhim?” Tanyaku penasaran.
“Sebenarnya perjodohan itu sendiri Mas Azhar tidak pernah menghendakinya. Mas Azhar pinjam uang dari Paman Jamal untuk membeli sepeda motor untuk ngajar di sana agar bisa lebih leluasa, demi mewujudkan impiannya semenjak kecil yaitu memiliki pondok pesantren sendiri. Dan suatu ketika, Mas Azhar akan menjemput Mbak Fatimah,namun Mbak Fatimah menghilang entah kemana? saebenarnya Mas Azhar selalu menyuruhku mencari tau tentang keberadaan Mbak Fatimah?” Tuturnya panjang lebar.
“Sebenarnya selama ini siapa sich yang berkhianat? Aku atau dia?” Pikirku dalam hati. Aku hanya terdiam mendengar penjelasan dari Adhim yang terus disertai rasa penyesalan dari dalam hatiku dan disertai deraian air mata yang terus mengalir begitu saja tanpa kusadari.
“A…aku sekarang kuliah di tambak beras.”. Jawabku sambil terbata mengenai keberadaanku.
“Aku sangat berharap Mbak Fatimah benar-benar bisa menjadi kakakku, karena aku tau hanya Mbak Fatimah yang bisa menjadi support bagi Mas Azhar dalam mewujudkan impiannya.” Beber Adhim.
Bus hampir sampai di depan gang rumahku. Aku meminta Adhim tuk mencatat nomor hand phoneku.
“Adhim! Apa kamu tidak ingin mampir ke rumahku barang sebentar?” Tawarku sebelum turun.
“Terima kasih mbak. Tapi aku harus ke Jepara sekarang.” Ungkapnya.
“Salam buat Mas Azhar.” Pintaku sembari turun dari bus.
Setelah satu tahun, aku baru tau kebenarannya. Ternyata selama ini akulah yang berkhianat pada Mas Azhar. Aku merasa tak pantas mendapatkan Mas Azhar. Ingin rasanya aku bersimpuh di pangkuannya tuk mendapatkan belas kasihnya. Namun aku terlanjur menjalin hubungan dengan Pak Rofiq. Aku nggak mungkin membatalkan pernikahanku yang tinggal 2 bulan lagi. Apalagi Ustadz Rofiq putra dari pengasuh pondok pesantren di Denanyar. Alangkah dholimnya aku jika sampai membatalkan pernikahanku dengan Ustadz Rofiq.
BAGIAN 10
Malam ini, aku benar-benar selalu memikirkan Mas Azhar dan berharap andai waktu bisa diputar ke belakang, maka akan aku pertahankan janjiku bersama Mas Azhar.
Kudapati hand phoneku berdering, nomor Adhim memanggil.
“Assalamu’alaikum!” Sapaku.
“Wa’alaikum salam! Mbak Fatimah, Mas Azhar pingin ngomong sama Mbak.” Tutur Adhim.
“Baiklah!” Jawabku dengan sedikit rasa ragu mendengar kembali suara Mas Azhar.
“Assalamu’alaikum Umi!” Sapa Mas Azhar.
“Wa’alaikum salam Abi!” Jawabku terbata sambil meneteskan air mata. Dan aku pun mendengar suara Mas Azhar menarik air yang ada di hidungnya keras. Aku yakin Mas Azhar sekarang pun pasti meneteskan air mata. Perasaan rindu dan kesal bercampur jadi satu.
“ Umi, mengapa Umi tidak minta izin sama Abi kalau akan pindah ke pesantren lain? Aku hampir merasa patah semangat mewujudkan impian bersama Umi.” Kesalnya dengan sedikit emosi.
“Maafkan Umi, Abi! Umi merasa skait hati ketika mendengar Abi kan dijodohkan.” Terangku.
“Adhim kan sudah bercerita sama Umi, kalau perjodohan itu nihil dan hingga kini Abi sendiri masih cinta sam Umi. Tak ada yang lain.” Beber Mas Azhar menyakinkanku.
“Umi jangan pernah behenti berdo’a untuk keberhasilan Abi ya…!” Pinta Mas Azhar.
“Aku nggak mungkin bilang sama Mas Azhar terutama rencana pernikahanku.” Sesalku dalam hati.
“Iya Abi !” Jawabku
“Sudah dulu ya Umi, aku ada jam negajar diniyah sekarang. Assalamu’alaikum.” Mas Azhar mengakhiri teleponnya.
Ternyata keinginan mas Azhar begitu kuat padaku. Apa yang meski aku perbuat?
BAGIAN 11
Setelah satu minggu pertemuanku dengan Adhim, ternyata dia berupaya menemuiku di kampus. Kami pun berbincang-bincang di bawah pohon beringin. Perbicangan kami dikaitkan dengan Mas Azhar. Di tengah-tengah perbincangan kami, tiba-tiba Ustadz Rofiq menghampiriku. Aku yakin baru kali ini beliau melihat aku berani ngobrol berdua dengan seorang laki-laki.
“ Maaf Fatimah Siap Dia?”
“ Kenalkan Adhim. Ini Ustadz Rifiq”
Aku merasa canggung mengenalkan Adhim pada ustadz Rofiq. Tapi harus bagaimana lagi. Aku sudah kepalng tanggung.
“ Ustadz, ini Adhim. Dia adik sepupuku.” Aku mengenalkan ustadz Rofiq pada Adhim dan mereka pun saling berjabat tangan satu sama lain.
Aku melihat wajah Adhim menyimpan 1000 tanda tanya. Akhirnya ustadz Rofiq pun minta izin untuk udzur diri dari aku dan Adhim. Katanya ada rapat dosen. Dan beliaupun berlalu.
Aku mencoba menjelaskan pelan-pelan pada Adhim agar dia tidak menilai yang bukan-bukan tentang aku.
“ Adhim, itu tadi ustadz Rofiq. Dia calon suamiku. Rencananya kami akan melangsungkan akad nikah di bulan syawal depan. Aku minta kamu jangan berfikir tentang aku yang bukan-bukan. Aku benar-benar sakit hati mendengar perjodohan Mas Azhar. Namun bukan berarti ustadz Rofiq sebagai pelarianku. Butuh waktu lama untuk membuka pintu hatiku kembali. Dan sekarang, di kala aku akan mencoretkan pena di lembaran baruku, ternyata lembaran lama menunjukkan ketulusannya. Jadi apa yang harus kuperbuat Adhim? Pantaskah aku mendapatkan Mas Azhar, sedangkan aku telah menghianati cintanya?” Tuturku menyakinkan Adhim.
* * *
Di lain waktu, pengurus pondok mencoba menghubungi keluargaku untuk memberikan kabar mengenai keadaanku sekarang. Saat itu aku sedang sakit. Aku pingsan untuk beberapa saat. Gelapnya malam dan kawasan hutan yang kondisi jalannya naik turun dan tikungan tanpa difasilitasi penerangan di sepanjang jalan Babat – Jombang tak menyiutkan niat kedua orang tuaku untuk segera berada di sisiku.
Sesampai kedua orang tuaku di RS Hj. Jasin Jombang, mereka segera ke ruang ICU dan memelukku erat.
“ Bunda! Bunda! “ Gumanku yang baru saja sadar dari pingsan.
“Fatimah, Alhamdulillah Dok, Fatimah sudah sadar.” Syukur Bunda dan Abah yang segera memanggil dokter untukku.
Setelah memeriksa kondisiku, beliau mengajak abah keruang kerjanya.
“ Maaf Pak, saya ingin meminta persetujuan untuk melakukan foto Rounsent pada anak Bapak, saya rasa itu jalan terakhir tuk memastikan penyeban sakitnya anak Bapak” Jelas Dokter.
“ Baiklah Dok, saya pasrah pada Dokter. Lakukanlah yang terbaik buat anak saya” Pasrah Abah.
Tepat pukul delapan malam dilakuakn foto Rounsent padaku. Setelah menunggu satu jam kemudian, penyakitku baru terdeteksi. Ternyata aku mengindap kanker otak stadium 4. Kedua orang tuaku tidak henti-hentinya membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan memanjatkan do’a untuk kesembuhanku.
Sebelum dokter memutuskan langkah seterusnya, jam 11.35 aku menghembuskan nafas terakhirku dan menutup catatan malaikat Roqib dan Atid di sepanjang hidupku. Kedua orang tuaku tak mampu menerima takdir yang telah dituliskan padaku.
Di dalam saku baju yang kukenakan, ada secarik kertas dan itu adalah curahan dalam qolbuku.
Kujalani hari yang penuh dengan kepedihan
Kurangkai kisah yang penuh dengan kesedihan
Hati ini sudah tak mampu untuk bertahan
Tapi apalah daya, ini kehendak Tuhan
Ingin aku meraung-raung dalam sepi
Diri ini sudah tak bertahan lagi
Untuk menjalani hidup yang seperti ini
Kutertawa untuk semua
Kuberi canda untuk mereka
Dan kuceria dalam tangis tak nyata
Hanya dalam kesabaran di hati
Aku bisa bertahan hingga kini
Waktuku harus menyimpan seribu duka
- di palung hati
Oh….Tuhan, tabahkanlah hatiku
Kuatkanlah imanku
Agar aku bisa menyimpan semua dukaku
Hingga tak ada seorang pun yang tahu
Akan pedih perih batinku.
Dan biarlah semua ini menjadi pusara cinta
- abadiku
Terpancar di batu nisan hidupku
Setelah membacanya mereka merasa meyesal karena tak pernah mengetahui akan kepedihan hatiku. Suasana hening pun mencuak menjadi tangis dan sendu, di tengah-tengah seruan takbir di seluruh penjuru.
Acara pemakamanku dilakasanakan setelah sholat Id. Orang tuaku segera memberi kabar ke keluarga ustadz Rofiq di Denanyar. Mereka pun segera datang ke rumah sakit dan mengantarkan jenazahku ke rumah dukaku.
Setelah apa yang diimpikannya terwujud, Mas Azhar segera mencariku di pesantren. Namun beliau tidak menemukanku di sana. Beliau pun akhirnya bergegas beranjak dari tempat itu. Dan menuju rumahku tanpa pulang terlebih dahulu. Dari situ beliau tahu akan kematianku. Akan tetapi beliau sebelumnya belum mengerti akan kematianku. Bahkan saat acara pembacaan ceramah sebelum keberangkatanku ke persemayaman terakhirku membuat Mas Azhar bertanya-tanya.
“Jenazah siapa yang berada dibalik keranda itu?” ujarnya dalam hati.
Setelah Mas Azhar mengetahui bahwa itu adalah jenazahku, beliau tertekuk layu di bawah kerandaku. Kedua matanya berkaca-kaca. Dan sejenak kemudian meneteskan air mata.
Acara pemakaman pun segera dimuali. Mas Azhar minta izin untuk ikut andil membawa keranda itu. Di bagian depan ada seorang yang asing bagi Mas Azhar. Namun yang sebelahnya Abah Fatimah. Mas Azhar tepat di belakang Abah Fatimah. Dan di sebelah Mas Azhar, Adhim ikut ambil bagian juga. Mereka semua membawa usungan keranda itu ke makam yang jaraknya + 1 KM. Mas Azhar merasa kelelahan. Dan beliau pun akhirnya digantikan dengan yang lain. Tidak lama kemudian, Mas Azhar melihat Abah Fatimah kelelahan. Akhirnya beliau mengantikannya.
Usai acara pemakaman, Mas Azhar sengaja berhenti dan ngobrol-ngobor dengan keluarga Fatimah. Belia bertanya panjang lebar akan sebab musabab kematianku. Dalam hati beliau terbersit goresan keluh yang begitu memilu.
“Mengapa semua harapan yang kulambungkan tinggi kini harus berakhir turun ke bumi? Adakah sepercik keikhlasan hati darinya meski hanya sebiji sawi?”
Dari pemakamanku itulah, Mas Azhar kenal ustadz Rofiq melalui Adhim. Dan ternyata dia orang yang tadi ikut membawa jenazah di depan. Dan beliau pun akhirnya tahu akan rencana pernikahanku dan ustadz Rofiq di bulan syawal ini.
Mas Azhar melihat wajah ustadz Rofiq menunjukkan kedukaannya. Beliau pun menajadi akrab dengan ustadz Rofiq karena merasakan kedukaan yang sama.
Setelah kepergianku, ustadz Rofiq pun akhirnya menikah dengan putri seorang pengasuh pondok pesantren “Al-Falah” Trenceng Tulungangung. Sedangkan Mas Azhar memutuskan membina pesantrennya sendiri. Pesantren itu di khususkan bagi santri putra yang ingin khufadz.
Entah apa yang terjadi hari itu? Saat perjalanan menuju sekolah, Mas Azhar mengalami musibah. Beliau ditabrak seorang geng motor yang sedang mengebut di jalan raya. Dan akhirnya, Mas Azhar mengakhiri hidupnya dengan kata ….… “Allahu Akbar !!!”
---
Novelet ini kupersembahkan kepada Kedua orang tua yang tercinta. Dan Mbah ibu & Bu Nyai Muda yang sebagai suri tauladan bagiku yang sekarang menunaikan ibadah umroh di bulan Romadhon pada tahun 2008.
---
*)Almania Rohmah lahir di Lamongan, 12 April 1987. Lulus pendidikan MI di Dandang Pucang Telu Kalitengah Lamongan tahun 2000, MTs Putra-Putri Simo 2003, MA Matholi’ul Anwar 2006, dan sekarang masih menyelesaikan strata satu di Unisda Lamongan.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Almania Rohmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Almania Rohmah. Tampilkan semua postingan
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel GarcÃa Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati