Raudal Tanjung Banua*
http://www.balipost.co.id/
RAMADHAN, saya pikir tidak harus berkutat sebatas kitab suci, tapi sesekali perlulah membongkar kembali koleksi buku-buku dan menikmati muatannya sebagai pesan ilahiah juga. Alhamdulillah, setelah memilih dan memilah beberapa buku, saya dapatkan buku puisi Ajamuddin Tifani, ''Tanah Perjanjian'' (Hasta Mitra-YBS 78, 2005) yang tebalnya hampir 300 halaman. Wah, ini klop, pikir saya, mencari-cari sembarang bacaan akhirnya dapat puisi sufi!
Ketika membuat catatan ini, tentu saja saya sadar sudah cukup sering karya-karya Ajamuddin Tifani dibahas, khususnya oleh sastrawan/ kritikus di Kalimantan Selatan, dan lebih khusus lagi dalam konteks nilai sufistiknya. Tapi tak apa, pikir saya, setidaknya saya menuliskannya selagi bulan Ramadhan, di mana pembacaan ulang atas puisi-puisi sufi Tifani terasa khas, kalau bukan aktual. Walaupun secara muatan, risikonya saya hanya sekadar mengulang. Maafkan.
Sembari membolak-balik buku hard-cover itu, saya terus bergumam: akhirnya, terbit juga buku puisi salah seorang penyair kuat dari Kalimantan, Ajamuddin Tifani (1951-2002) ini, setelah bertahun-tahun -- bahkan sampai akhir hayatnya -- hanya berupa manuskrip. Saya beruntung mendapatkannya satu; ketika berkunjung ke Banjarmasin beberapa tahun lalu, kolega almarhum, Y.S. Agus Suseno, Micky Hidayat dan Maman S. Tawie memberi saya kopian manuskrip itu, dengan harapan saya bisa membantu mencari penerbit di Yogya. Apa lacur, di negeri ini buku puisi belum menggugah nurani penerbit yang berbasis industri, seraya merujuk selera publik yang katanya tak doyan puisi. Untunglah, pertengahan 2006 saya dikontak Suseno: manuskrip itu akan terbit di Jakarta, berkat santunan kawan lama dikontak Suseno: manuskrip itu akan terbit di Jakarta, berkat santunan kawan lama almarhum, Tariganu. Maka, ''Tanah Perjanjian'' terbitlah.
Menikmati puisi Ajamuddin Tifani dalam buku ini, kesan pertama yang muncul adalah kekuatannya menggunakan citraan alam; dan kedua, upayanya membangun dunia transenden. Seperti sudah saya sebutkan, Tifani memang cukup lazim dikenal dalam ranah penyair sufi, terutama ketika kecenderungan aliran ''terekat puitik'' ini menguat sekitar tahun 1980-an.
Menurut Abdul Hadi W.M. dalam kata pengantar, Tifani sangat produktif bersama penyair segenerasinya seperti Heru Emka, Nyoman Wirata, Juardi Bisri, dan Raka Kusuma. Waktu itu, harian Berita Buana yang diasuh Abdul Hadi memang 'corong'-nya sastra sufi, menyusul lahirnya gagasan atau konsepsi seputar sastra sufi yang antara lain juga melibatkan Kuntowijoyo, Y.B. Mangunwijaya, Sutardji Calzoum Bachri dan Abdul Hadi sendiri. Tentu kegairahan suatu zaman ikut mempengaruhi capaian estetik seseorang, sebagaimana tercermin dalam sajak Tifani.
Apa yang menarik dari sajak 'sufi' Tifani (kalau disepakati demikian), memanglah kemampuannya menggunakan citraan alam sebagai simbol atau jalan profetik seperti disinggung tadi, baik secara personal maupun kolektif (lingkungan sosial tempatnya tinggal). Yang personal, biasanya berupa bisik lirik permohonan (tapi bukan cuplikan doa); pengakuan, harapan dan pencarian (tapi jauh dari bentuk pengakuan dosa dan rintih putus asa) antara si aku lirik dengan Yang Maha Pemilik Alam. Yang kolektif terasakan dari gugatan terhadap simpul yang membuhul hajat hidup orang banyak, seperti institusi kehutanan, pengusaha kayu, penguasa, sampai rezim Orba dan arogansi Serbia di Sarajevo, tapi tidak jatuh sebagai sajak pamflet atau kutukan. Lewat citraan alam yang segar, semua itu berhasil ia tarik pada tataran reflektif.
Dengan demikian, dunia transenden Tifani adalah buah ''persetubuhan'' yang intens dengan alam, yang menyumbang tak hanya kosa kata natural seperti ricau unggas, daun basah, hutan-rimba, sungai, laut, tanah huma dan semacamnya, tapi menyatu dalam ungkapan dan bait segar, sekaligus kaya makna seperti dikutip secara acak dari beberapa sajak berikut: ''kudengarkan senandung batu, dalam rinai yang menampung jejak malam, melantun ke penjuru lembah, menghijaukan lagi lumutnya; jika ia daun, berilah gugur, berilah, agar tanah dapat menghimpunkan humusnya, restu dari luka-riangnya; sudah kutimang tandas-tikammu sedarah, sedarah sudah kubuai timpas-suburmu sepasir, sepasir sudah kuludahkan khuldimu setangis; maut menggesek tiap ranting, dengarlah suaranya berjalin dengan tiap suara, terima kasih, pagi yang bersuka.''
Kalau ada asumsi yang menyebut penyair sufi cenderung mengasingkan diri, lalu muncul dengan idiom yang sarat nama Tuhan, tak peduli streotipe atau verbal, itu tidak terjadi pada sosok Tifani. Di tangannya, sufisme justru sangat dekat dengan lingkungan alam dan sosial; sementara yang vertikal buah dari pergulatan horizontal, atau bisa juga sebaliknya. Tak heran, dalam sajak kontemplatif dengan subjek aku lirik misalnya, situasi sosial di tingkatan kolektif saja muncul tak terbendung, semisal dalam sajak ''Risalah Embun'' (hal. 182): ''inilah hamba yang ingin mengabarkan suara-suara cinta/ pada kepompong dan daun gugur, pada belukar impian/ dan putik bunga, pada padang luas dan angin pagi, pada auman badai dan jeritan burung-burung putus asa.'' Sebaliknya, dalam lirik-kolektif, suara aku-lirik tetap menyelip yang memberi aksentuasi puitis dan kritis pada suara bersama, simak misalnya sajak ''Risalah Darah'' (hal. 163): ''yang dikicaukan burung-burung pagi hari itu/ terbitkan sudah matahari pencerahan, yang olehnya/ tragika kemanusiaan kita terselamatkan/ Tapi bagaimana merumuskan sorakan berjuta-juta anak/ yang bermain rembulan dengan perut lapar?''
Situsi penciptaan semacam ini mungkin cocok dengan konsepsi ''relegiusitas sastra'' Y.B. Mangunwijaya. Lewat relegiusitas inilah Tifani menyuarakan keadaan masyarakatnya (termasuk dirinya yang gelisah); mulai dari rusaknya hutan Kalimantan (Mantuil, Murungpudak, Meratus), situasi kota kenangan (Banjarmasin, Kandangan), pertobatan dan refleksi dalam perayaan (Idul Fitri, Idul Adha, HUT kemerdekaan), sampai kepada bencana tsunami di Flores dan perang di Bosnia-Palestina. Berkat citraan alam, puisi-puisi Tifani terdedah dengan jernih, akrab dan dekat. Meski di lain waktu ia mencoba membangun imaji sureal tentang maut, hijrah, miraj dan dunia unik lainnya dalam khazanah sufi, tapi itu tetap hangat tersaji lantaran kepiawaiannya membangun 'jembatan' puitik, semisal lewat mantra, alam yang keramat, dan muatan lokal.
Sosok Ajamuddin Tifani
Memahami sosok Ajamuddin dan wawasan puitiknya, tentu dapat dilakukan lebih lanjut lewat 161 sajak alam buku ini. Setidaknya, dengan asumsi ini Abdul Hadi W.M. tak perlu menyebut bahwa salah satu kelemahan Tifani adalah 'ia jarang menulis esei dan kritik''. Seorang penyair, justru harus berbicara dengan puisinya; setidaknya, bukanlah suatu kelemahan jika ia tak menuliskan wawasannya dalam bentuk esei. Persoalannya mungkin akan lebih buruk bila seorang pengarang memaksakan diri menjelajah segala bentuk ekspresi seni, yang ternyata hanya mengantarnya jadi sekadar seorang 'budayawan'.
Apalagi dalam konteks Tifani, julukan seniman serba bisa sesungguhnya layak disandangnya, sebab ia juga melukis (sebagian dicetak di buku ini), pembaca sajak yang baik dan sebenarnya juga menulis esei (satu di antaranya tentang tassauf melengkapi Tanah Perjanjian) serta menulis cerpen (salah satunya ada dalam antologi Cerita Pendek Indonesia Jilid IV editor Satyagraha Hoerip); tapi puisilah skala prioritas Tifani. Ketimbang persoalan ini, kelemahan Tifani yang seharusnya ditelisik lebih jauh adalah kekurangcermatannya mengutip kalimat dan nama ayat Al-Quran, sebagaimana pernah diteliti seorang penyair Kalsel, Jamat T. Suryanata, yang juga diakui Abdul Hadi. Meski kalau dicermati, kadang Tifani sengaja mengubah kutipan, namun esensinya sama.
Kelemahan Lain
Kelemahan lain yang cukup mengganggu pada buku ini adalah kurang selektifnya pilihan sajak. Seharusnya puisi Ajamuddin Tifan dieditori ulang, tidak saja untuk menghindari persoalan teknis seperti salah cetak, penatan EYD atau ungkapan yang kurang tepat (perhatikan misalnya ''dianyam raungan ayam jantan''), termasuk membenahi nama surah dan kutipan ayatnya seperti disinggung di atas. Ini juga merujuk kenyataan bahwa tidak semua sajak Ajamuddin dapat dianggap kuat (sesuatu yang wajar dalam proses kreatif semua orang). Sajak-sajak periode awalnya yang relatif pendek dan sederhana, menurut saya hanya yang lebih kuat, ketimbang sajak periode akhir yang relatif panjang-panjang dan 'telanjang' (kurang mengeksplorasi citraan alam sebagai kekuatannya yang sejati).
Ketiga dokumentator -- Y.S. Agus Suseno, Micky Hidayat, dan Maman S. Tawie -- mestinya diberi kesempatan (atau menyempatkan diri) sekaligus sebagai editor. Lewat cara ini, puisi yang terpilih betul-betul yang kuat, dan buku ini pun akan sangat representatif. Sungguh pun demikian, dengan keadaan sekarang, buku ini jadi bernilai dokumentatif. Di samping semua puisi yang pernah ditulis Ajamuddin hadir full (mungkin masih banyak yang tercecer), juga disertakan esei dan surat tulisan tangan Ajamuddin, biodata lengkapnya yang ditulis Maman S. Tawie serta daftar kliping yang pernah memuat sajaknya. Pertanyaannya, sebuah buku, apakah hanya lebih bernilai dokumentatif, apalagi lantaran penyair/ penulisnya sudah tiada? Saya kira tidak juga. Sebuah buku yang baik (dalam arti selektif) dengan sendirinya akan bernilai dokumentatif, dan itu lebih esensial.
Tapi yang paling mengganggu dari semua itu adalah kehadiran penyantun yang kurang proporsional, baik peran, nama dan biografinya, maupun pengertian penyantun itu sendiri. Di cover depan misalnya, nama si penyantun, yang bernama Tariganu -- yang mengaku kawan baik Ajamudin -- tampil mencolok bersama nama penyair dan Abdul Hadi W.M. sebagai pengantar -- dua nama terakhir masih wajar. Tapi nama penyantun, adakah ia memiliki urgensi seperti itu, apalagi dengan font sebesar 'gajah'? Celakanya, di cover belakang bukan biodata Ajamuddin, tapi biodata Tariganu, sang penyantun!
Ada yang hilang dari ''Tanah Perjanjian'' sebagai sebuah 'proses panjang'. Editor yang berpayah-payah malah lenyap, di kolofon pun tak tercantum, tapi penyantun -- sebagai point yang kurang jelas posisinya dalam sebuah buku -- justru mencuri fokus. Tidakkah penyantun cukup santun dengan merasa terwakili Yayasan Bengkel Seni '78 yang bekerja sama dengan Hasta Mitra? Ah, puisi, engkau benar-benar diuji; tak dilirik penerbit industri, kurang pula ketulusan dari sedikit orang yang peduli -- meski penyairmu sudah mati! Marhaban ya Ramadhan, selamat datang ya ketulusan!
*) Penyair, Koordinator Komintas Rumahlebah Yogyakarta tinggal di Sewon, Bantul
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Raudal Tanjung Banua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Raudal Tanjung Banua. Tampilkan semua postingan
Rabu, 11 Februari 2009
Senin, 01 Desember 2008
Kota-Kota Hikayat
Raudal Tanjung Banua
http://www.jawapos.com/
DAN akhirnya, berapa lama sebuah kota tumbuh dan runtuh? Seratus atau seribu tahun, berabad-abad atau tak tercatat?
Sesungguhnya, di dunia ini ada kota-kota yang tumbuh abadi, meski fisiknya sudah lama runtuh atau berganti, namun namanya tidak. Setidaknya itulah yang kurasakan, sejak masih seorang kanak hingga berangkat remaja, di kepalaku ada sejumlah kota yang jika namanya kulafalkan sedikit saja, maka ia akan tersepuh seperti suasa; dan ketika aku besar sedikit, ia terasa bangkit bernyawa, merentangkan jalan dan lorong-lorongnya seperti tangan yang terbuka, menggamit langkah siapa saja. Maka siapa pun akan tergoda menyusurinya dengan senter melesat-lesat dan obor menyala-nyala, o, tidak --bila lafalnya kuulangi, maka ajaib, sepenuh kota seakan diguyur lampu ribuan watt, menyuluh titik terdekat hingga sisi yang tergelap. Aku dan siapa pun akan megap oleh cahaya, berenang atas cahaya, dan lidahku terasa kelu melafalkan nama-nama!
Dan cahaya yang tak tepermanai dari ingatanku, sebagaimana fitrah sebuah kota, tentu akan mengalami masa reda dan surutnya juga, namun satu hal yang pasti: ia akan menggemaung sebagai sebuah nama paling indah. Itulah pertanda sebuah kota pernah ada, yang mungkin akan disebut juga di akhirat kelak, meskipun wujudnya di dunia sudah tak ada, sirna. Nama, bukankah itu warisan sejati dari dunia? Mungkin ia memang tak tercatat di kitab suci semisal Saba atau Eliah, Sinai atau Ararat, namun ia disebut dalam setiap cerita, legenda dan sejarah, melintasi usia, pulau, dan bangsa-bangsa. Meski pula secara fisik banyak yang berubah: ada yang kembali sebagai kampung pantai biasa, sepi, dan sunyi dalam kepungan pokok rumbia; ada yang tumbuh sebagai kota kecil, sesak, dan lamban; tempat pabrik hitam penuh jelaga; ada yang selalu kusut oleh konflik tak bertara, bahkan ada yang kita pun tak tahu di manakah gerangan kota itu pernah ada.
Lalu, kota apakah itu? Mungkin kau bertanya. Dan aku akan menjawab, ''Itulah dia kota-kota hikayat!" Duh, dalam kelu lidah, masih kusebut namamu: Barus-Singkel, Demak-Kudus, Gresik, Muar, Tidore-Malifut, Tiku, Siak, Bandar Sepuluh!
***
TAPI aneh, ketika aku dewasa dan mulai menyukai peta, nama-nama itu tidak lagi serta-merta benderang tiap kali ia kusebut, kubilang-bilang, bahkan kugosok ia dengan cara mengenangnya dalam-dalam; sebagai suasa ia terasa pudar. Beberapa di antaranya malah hilang, timbul-tenggelam dalam ingatan, di samping memang ada yang tak tercatat di dalam peta, sehingga untuk masa yang lama aku telah melupakannya.
Padahal, untuk masa yang lama pula, ia pernah hidup dalam kepala kanak dan remajaku, kubawa ke mana-mana. Dulu, sebagaimana anak-anak seusia, selalu kusebut ia dengan takjub, kujaga lafalnya dengan pantangan --meski sesekali teringat juga di tempat bermain dadu atau di tepian mandi telanjang-- dan susah-payah kami ''sucikan'' lagi dari kepala kami yang mulai digoda kemaruk dunia. Kami tak ubahnya menjaga warisan dua kota suci, nun di jazirah, yang di hati tak tergantikan, di lidah tidak sembarang dilafalkan!
Begitulah, aku merasa bahwa nama-nama kota istimewa itu tak bakal enyah dari kepalaku, mungkin juga di kepala banyak orang, sebab diwariskan dari lidah ke lidah yang fasih bercerita di surau tua tempat mengaji, di sekolah papan lapuk terlantar, di rumah-rumah doyong tercinta, serta padang belukar tempat gembala. Tak lupa di lepau-lepau kopi yang buka larut hingga pagi tiba, di mana ceracau dan igau, sesekali suara mabuk, campur-aduk dengan hempasan domino, denting gelas beradu, dan kartu-kartu!
Di surau tua, tentu Nenek Guru yang menghikayatkan kota-kota kudus-suci itu, takzim serupa doa. Ia bercerita tentang Sultan yang keras menegakkan hukum Tuhan demi lurusnya sunatullah --dan begitulah seharusnya-- meski menggantung kawan dan keluarga, dan suatu kali ada murid seorang seteru yang berhasil menggantikan diri sang guru di tiang gantungan, Sultan tak peduli. Titah suci harus dilaksanakan. Yang melaknat iman harus enyah. Dengan tatanan imanlah dua kota bertetangga itu, Demak dan Kudus, memberi tempat yang seluas-luasnya --dan sudah seharusnya begitu-- kepada para sunan atau para walinya yang diberkahi Maha Kuasa. Mereka adalah khalifatullah terpilih tanah Jawa, dengan tangannya sendiri membangun menara dan bandar besar, lalu menyerang kaum kafir-sipitoka di seberang lautan. Itulah, kata Nenek Guru, kota yang bila malam bertambah malam, bertambah pula cahaya bintang dan di sanalah malaikat turun malam hari. Tak seorang pun mengingkari, bahkan, kata Nenek --seperti mengancam-- sepasang murid yang tak patuh kepada Sultan atau Sunan (aku lupa apakah Nenek membedakan keduanya) telah menjelma menjadi anjing-anjing hitam di dalam kubur mereka....
Untuk mencairkan suasana, Nenek Guru akan menyanyikan sebuah syair lama --tak ada bosannya:"Hamzah Fansuri di dalam Mekkah, mencari Tuhan di Bait Al-Ka'bah, dari Barus ke Kudus terlalu payah, akhirnya dijumpa di dalam rumah.''
Di sekolah, Pak Guru Umar bercerita tentang kota yang menjadi pusat rempah-rempah, jadi rebutan orang Eropa. Ia juga membawa kami berkelok-liku terlebih dulu menyusuri daerah pantai yang penuh batang rumbia, pokok sagu dan parak kerambil, sebagai latar cerita untuk Tiku, sebuah kota pantai di Pariaman (sekarang masuk Agam) yang punya hubungan langsung dengan Kasultanan Aceh Darussalam. Itu cukup bukti memercayai pentingnya Tiku di masa lalu. Dan tentang Bandar Sepuluh, daerah tempat kami tinggal, diceritakan Pak Umar dengan penuh perasaan, ''Daerah kita ini dulunya kota pelabuhan ramai, mulai Muara Sakai di Ujung Tanjung, sampai Air Haji, Batangkapas dan Painan.'' Orang Portugis datang, mendirikan benteng di Pulau Cingkuk, yang sekarang masih ada, telantar. Dan puak Peranggi menjadikannya gerbang masuk ke pedalaman Minangkabau demi mengail untung dalam sangketa kaum adat dan pendekar Paderi, kaum berani-bijak bestari, kata Pak Umar, memihak.
Di masa remaja, ketika melanjutkan ke sekolah menengah, si penutur kisah --dalam mata pelajaran disebut sejarah-- berganti Pak Syahrial yang suka membawa buku-buku tua. ''Pada tahun 1475, Islam masuk ke Ternate dan Tidore. Tahun 1478 Raden Patah mendirikan Kerajaan Demak,'' kata sang guru botak itu, mungkin terlalu banyak menghapal angka, sebagai kode yang akan diurainya dengan rangkaian cerita.
Di rumah, ayah-ibu kami yang menghikayatkan tempat dan nama-nama, meski tak lengkap sebagai ihwal sebuah kota, tapi selalu menggoda. Kata ibu, istilah ''orang siak" di daerahku --artinya orang taat beribadah-- memang benar-benar berasal dari Siak secara harafiah. Ya, Siak Sri Indrapura, kota bandar di tepi Sungai Siak kebanggaan marwah puak Melayu, yang para pedagangnya sekaligus berdakwah sampai ke daerahku. Dari ayah aku dapat warisan kota hikayat --masih di ranah Melayu-- dari sisi kultural, yakni Bandar Muar, bersanding dengan Buluh Ketunggalan dan Kampung Lengang Sunyi. Tentu, karena ayahku fasih bakaba Nan Gombang Patuanan, cerita rakyat yang mengharu-biru, sehingga kota-kotanya campur-aduk antara fakta dan bayangan.
***
SEMENTARA itu, di padang belukar tempat gembala (bukan padang hijau terbuka, tapi padang duri rawa-rawa!), ada Pak Gali yang tak kalah fasih berkisah tentang kota-kota tempatnya singgah atau sekadar lewat. Beberapa kuyakin hanya ia kenal secara khayali. Tapi perlukah mempersoalkan benar atau tidaknya ia pernah melawat ke sana? Tidak. Cukup bukti cacat pada kakinya, kami percaya Pak Gali sudah berjalan jauh, meski ada saja bisik menyertai bahwa cacat itu lantaran ditembak polisi di kota rantauan, mungkin Banten atau Tanjungkarang. Apa pun, Pak Gali atau yang kemudian akrab kami panggil Pak Parewa, adalah penggembala kerbau yang baik, dan yang penting ia setia berhikayat tentang kota-kota. Ia sebut tentang warga kota yang berpantang menyembelih sapi di hari raya, tapi kerbau, demi menjaga perasaan umat beragama lain yang berbaur damai di sana; bahkan sebuah menara besar, agak gemuk, peninggalan sebelum Islam dibiarkan berdiri menjadi bagian dari kokohnya masjid. Sebuah masjid lagi, katanya, berada di kota sebelah barat, didirikan tanpa paku, agak ceper, malah cungkup makam orang-orang suci di sisi kiri masjid itu, terkesan lebih gembung, meninggi. ''Kenapa, Pak Gali?'' temanku bertanya, dan dijawab ringan saja, ''Ya, supaya peziarah mudah menemukannya!''
Ia lalu bicara tentang Singkil, kota para ulama yang utama di perbatasan Aceh, yang sebenarnya lebih tepat disebut masuk ke wilayah Medan, tapi beberapa kawanku protes tentang Tanah Batak. ''Apa ada orang Batak jadi ulama? Nenek awak cerita, orang Batak makan orang...,'' Uman, sepupuku yang taat, mengajukan alasan. Bila anggapan itu salah --dan itu terlihat dari geleng kepala Pak Gali-- toh ia tidak marah, dan tidak pula menghardik. Ia malah tersenyum dan menjelaskan lebih hati-hati bahwa ''banyak cerita yang sengaja dikaburkan pihak penjajah untuk mengadu-domba bangsa kita.''
Uman dan yang lain tak puas, maka Pak Gali bertanya, ''Ada yang tahu kamper?'' Kamper? Kami saling pandang, dan ketika ia menyebut kapur barus barulah kami tahu yang ia maksud. Tapi tahukah kalian kenapa ia disebut dengan nama sebuah kota tua di pantai Barat Sumatera? Entah, kata kami. Itu karena kamper dari Barus paling terkenal dan baik mutunya, sehingga kelak orang lebih senang menyebutnya kapur barus. Dan, kalian tahu di mana bekas pelabuhan utama kota Barus? Tak ada yang menjawab, hanya terdengar lenguh kerbau dan kecipak luluk di kubangan rawa-rawa. Barus atau Fansur bersisian dengan Sibolga, Sumatera Utara; dan di situlah dulu hidup seorang ulama besar yang syairnya sering dilagukan Nenek Gurumu (kami duga, ia pasti pernah mengintip kami mengaji!) dan dari situ para ulama mensyiarkan Islam sambil tak lupa berdagang, dan tentu saja berperang... katanya, dalam dan panjang. Menyentak, menakjubkan.
Tak ingin membuat kami kelewat tegang, ia kembali pamer soal kamper. ''Kamper atau kapur barus berasal dari getah yang mengeras di dalam batang pohon damar, berharga mahal di negeri Arab dan di kalangan Peranggi, sebab tak sekadar pengusir kecoak di almari seperti kau kenal tapi bahkan juga untuk bumbu masak para bangsawan,'' katanya meyakinkan (meski bagi kami sangat mengejutkan). Dan jangan lupa, katanya lagi, seperti kapur barus, buah pala di Ternate, Tidore hingga Malifut, telah membuat orang-orang kulit putih berebut kota-kota dan pelabuhannya. Hingga semaput!
***
BEGITULAH kota-kota hikayat itu diwariskan, berurat-akar dalam kepala kami. Akan tetapi, seiring waktu, kenangan itu pudarlah, sebagaimana kota-kota itu pun pudar dipiuh waktu. Adakah tradisi lepau yang lebih dominan kemudian, sehingga ketika aku ke luar dari tempurung kampung, aku jadi fasih menghapal nama-nama ''kota yang dikutuk segala kitab suci" atau ''kota-kota dalam daftar prakiraan cuaca dunia''? Inikah penyebab kota-kota hikayat, kota-kota kecil keramat, kian terkucil, digantikan kota-kota tipikal yang enak diobrolkan di tempat hiruk semacam kafe, bar, dan kedai pinggir jalan?
Nyaris aku percaya pada pikiran sempitku ini, tapi lalu teringat sosok lelaki tua yang memperkenalkanku lebih lanjut dengan kota-kota hikayat di masa lalu, penuh gairah dan semangat justru di lepau kopi: tempat paling hiruk dan selalu jadi tudingan telunjuk dalam hasrat hidup barokah di kampung! Jujur, dari sekian banyak sosok dan tempat imajinatif di masa kecilku --rumah, surau, sekolah tua, padang gembala dan lepau kopi-- sosok Pak Gali alias Pak Parewalah yang secara telak hidup di kepalaku dan adukkan cerita padang gembala dan lepau kopinyalah yang menemani hidupku sampai sekarang.
Waktu itu, aku sudah remaja, tidak lagi menggembala karena ayah dan ibuku menginginkan aku fokus sekolah --meski tetap saja tergoda lagak membual dan beradu kartu di warung Simpang Tiga. Setali tiga uang, kerbau Pak Gali juga dijual habis oleh ponakannya --kubayangkan seperti juru sita-- sehingga hari-hari Pak Gali banyak di lepau kopi, hidup selayaknya parewa sejati: tak punya kerja pasti, tapi selalu berbagi. Sejak itulah sapaan Pak Gali berubah kian kental jadi Pak Parewa. Nama tambahan yang justru mewakili keadaan dirinya yang sebenarnya. Ya, laki-laki itu memang layaknya seorang parewa, setaraf preman dalam kampung tapi selalu hangat kepada siapa pun.
Bila dengan orang seusia ia mengurangi ceritanya sebab ia dipandang sebelah mata, tidak begitu dengan yang muda-muda. Dengan kami --yang tumbuh jakun dan mulai tertarik pada pasangan-- ia tak bosan menceritakan kota yang entah pernah dikunjungi entah tidak. Kami tetap tak peduli. Jika tidak fisiknya pernah ke sana, toh pengetahuannya menjangkau setiap sudut kota yang diceritakannya. Selalu, sedari dulu, tanpa sungkan ia menyebut kota-kota itu sebagai ''kota dagang'' dan lantang menyatakan bahwa raja yang kuat (ia singgung juga soal selir), armada perang, benteng yang kokoh, pasar dan bandar merupakan pilar sebuah kota. Ia tak pernah menyebut ''kota suci'' meski tahu persis kota-kota yang diceritakannya itu penuh masjid besar-kecil, pusat penyebaran agama dan tempat berkumpulnya para wali; ia cukup menyebutnya kota dagang saja.
Bisa dikatakan, Nenek Guru di surau memperkenalkan sisi suci sebuah kota, sementara Pak Gali alias Pak Parewa di lepau memperkenalkan sisi hiruknya. Lewat cara ini tatanan pendidikan bersinergi; surau dan lepau mengisi hari-hari kami tiada henti...
***
''DI Demak Bintoro ada masjid raya yang tidak memakai paku....,'' begitu Pak Parewa pernah cerita. Suara itu kembali bergema ketika di hari baik bulan baik, aku pergi ke Demak. Bukan kunjungan khusus memang, sebagaimana para peziarah makam wali, hanya sekadar kangen suasana kampung-halaman. Di sinilah aku temukan sebagian cerita Pak Parewa: masjid raya, makam bercungkup besar, para peziarah datang dan pergi, meski hati lantak menyaksikan alun-alun yang sepi dan sungai di sisi kota yang mati.
Aku mencuci muka dengan air limau yang disediakan di serambi masjid raya, tradisi yang sama di daerahku untuk menyambut bulan suci Ramadhan atau bulan haji. Saat itulah wajah Pak Parewa dan Nenek Guru membayang wangi dalam wadah. Tersenyum. Begitu nyata. Seakan mengajakku ziarah ke kota-kota kuat keramat dari masa yang lewat. Tak tahu apakah aku masih cukup kuat mengikuti klangenan begini, atau memang butuh untuk menyalakan cahaya kota-kota itu lagi. O, cahaya yang tumpas dari jiwaku: jiwa di dunia yang hilang jiwa.... O, cahaya yang angslup dari dinding kota: kota yang tidur di bawah matahari yang tak tidur!
Aku singgahi Demak kini, sebagaimana pernah kusinggahi kota-kota hikayat yang lain, kadang dengan kegembiraan meluap, tapi lebih sering dengan sedih yang berlebih. Betapa tidak. Kota yang kukenang itu ternyata masih ada, hidup dalam takdirnya, meski di sisi lain kutemui ia dalam keadaan merana, hanya ditandai pasar becek atau menara semati tugu. Namun aku putuskan untuk terus menyusurinya tanpa merasa sia-sia....
Begitulah, di Kudus aku pernah singgah, dan merasa cahaya masa lalu itu lampus di sana. Di kota bermenara paling tua itu, dadaku sesak bukan oleh aroma cengkih dan tembakau, tapi digamit para pengemis buta dan tak buta, tengadah di jalan ke menara, lalu barisan buruh pelinting lewat tak putus, berbaur dengan kepadatan jalan pantura...
Aku juga pernah singgah di Gresik, tak sampai ke Giri. Kupilih pelabuhan, dan malam-malam tanpa cahaya bulan, aku menyusurinya bersama seorang kawan. Sungguh terasa keagungan sebuah kota, tapi lalu sedih sendiri ketika kusaksikan kapal-kapal kayu tua sandar tanpa gairah; seakan tak ada pelayaran esok hari...
Di tanah kelahiranku sendiri, ada sedikit catatan tentang Bandar Sepuluh, kerajaan masa lalu yang namanya sayup-sayup sepi, tapi sampai kini tak kutemukan di mana bekas bandar yang sepuluh itu, sebab memang betapa murung kenyataan; daerah laut tanpa pelabuhan, daerah pantai tanpa kampung-kampung yang meyakinkan...
Turun dari dataran tinggi Agam ke arah pantai Pariaman, kita bersua daerah Tiku, seolah kelok jalan akan menubruk langsung ke kebun kelapa dan bekas benteng tua yang merimba. Di sana aku pernah lama termangu, membayangkan betapa agungnya Tiku dahulu, dan lihatlah, alangkah lengang ia sekarang....
Yang aku belum pernah adalah ke Singkel dan Barus di ujung barat; Tidore dan Malifut di timur tanah air. Singkel sekarang masuk wilayah Aceh, dan Barus masuk Sumatera Utara, keduanya hanya dapat kubaca lewat titik kecil dalam peta. Tiap kali kubaca, gemetar tanganku dan berdenyar saraf kepala, meski selalu, masa lalu keduanya terasa lebih megah dibanding bayangan masa kini, bahkan masa depannya...
Begitu pun Tidore dan Malifut. Kota yang bangkrut! Meski kubayangkan segala yang menjadi modal masa silam masih dimilikinya: pala, cengkeh, segala rempah, benteng, gudang, dan jalan air yang sebenarnya tak akan berakhir selagi hasrat yang tidur dibangkitkan dan pulau-pulau dijaga datu-datu; tapi masih saja kita saksikan api dan batu-batu berterbangan. Tak hanya satu.
Aku pernah sudah begitu dekat dengan Bandar Muar, kota hikayat warisan ayah. Dari kota seribu museum, Melaka, jarak ke Bandar Muar tak sampai sejam perjalanan, tapi aku tak ke sana. Ada kecemasan lain jika aku melabuhkan ingatan, sebagaimana dulu aku ke Pelaihari, kota kecil di pedalaman Kalimantan. Ketika kuputuskan untuk tak mampir, aku merasa bakal lama tak berjumpa ayah.
Dari Melaka, aku akhirnya pulang menyusuri Sungai Siak melewati kota-kota sepanjang selat dan tepian sungai seperti Bengkalis, Perawang, Teluk Masjid, Sungai Pakning, dan Siak Sri Indrapura. Kota terakhir ini gampang dikenali lantaran sebuah istana dari abad ke-18 menyerupai masjid (mengingatkanku pada cerita ibu), masih kokoh berdiri di tepi air, meski kotanya sendiri tumbuh menjauh dari air.
O, kota-kota hikayat, kota-kota yang bakal atau telah tamat?! Tidak! Jangan! Tiba-tiba aku tersintak dari lamunan, seperti cemas dan ketakutan. Bersamaan dengan itu lenyaplah pula wajah-wajah yang kurindu, beserta kota-kota kenangan yang dihikayatkan dulu. Apa sebenarnya yang kucemaskan? Apa yang kutakutkan? Aku tak tahu. Aku hanya merasakan ada cahaya yang tiba-tiba direnggutkan dari diriku, menyemburat pudar, dan lampus! Gelap, aku merasakan gelap menyungkup alun-alun kota Demak, gelap di kota-kota yang dulu bercahaya, gelap bertahta di mana-mana...
/Rumahlebah Jogjakarta, Mei-November 2008
http://www.jawapos.com/
DAN akhirnya, berapa lama sebuah kota tumbuh dan runtuh? Seratus atau seribu tahun, berabad-abad atau tak tercatat?
Sesungguhnya, di dunia ini ada kota-kota yang tumbuh abadi, meski fisiknya sudah lama runtuh atau berganti, namun namanya tidak. Setidaknya itulah yang kurasakan, sejak masih seorang kanak hingga berangkat remaja, di kepalaku ada sejumlah kota yang jika namanya kulafalkan sedikit saja, maka ia akan tersepuh seperti suasa; dan ketika aku besar sedikit, ia terasa bangkit bernyawa, merentangkan jalan dan lorong-lorongnya seperti tangan yang terbuka, menggamit langkah siapa saja. Maka siapa pun akan tergoda menyusurinya dengan senter melesat-lesat dan obor menyala-nyala, o, tidak --bila lafalnya kuulangi, maka ajaib, sepenuh kota seakan diguyur lampu ribuan watt, menyuluh titik terdekat hingga sisi yang tergelap. Aku dan siapa pun akan megap oleh cahaya, berenang atas cahaya, dan lidahku terasa kelu melafalkan nama-nama!
Dan cahaya yang tak tepermanai dari ingatanku, sebagaimana fitrah sebuah kota, tentu akan mengalami masa reda dan surutnya juga, namun satu hal yang pasti: ia akan menggemaung sebagai sebuah nama paling indah. Itulah pertanda sebuah kota pernah ada, yang mungkin akan disebut juga di akhirat kelak, meskipun wujudnya di dunia sudah tak ada, sirna. Nama, bukankah itu warisan sejati dari dunia? Mungkin ia memang tak tercatat di kitab suci semisal Saba atau Eliah, Sinai atau Ararat, namun ia disebut dalam setiap cerita, legenda dan sejarah, melintasi usia, pulau, dan bangsa-bangsa. Meski pula secara fisik banyak yang berubah: ada yang kembali sebagai kampung pantai biasa, sepi, dan sunyi dalam kepungan pokok rumbia; ada yang tumbuh sebagai kota kecil, sesak, dan lamban; tempat pabrik hitam penuh jelaga; ada yang selalu kusut oleh konflik tak bertara, bahkan ada yang kita pun tak tahu di manakah gerangan kota itu pernah ada.
Lalu, kota apakah itu? Mungkin kau bertanya. Dan aku akan menjawab, ''Itulah dia kota-kota hikayat!" Duh, dalam kelu lidah, masih kusebut namamu: Barus-Singkel, Demak-Kudus, Gresik, Muar, Tidore-Malifut, Tiku, Siak, Bandar Sepuluh!
***
TAPI aneh, ketika aku dewasa dan mulai menyukai peta, nama-nama itu tidak lagi serta-merta benderang tiap kali ia kusebut, kubilang-bilang, bahkan kugosok ia dengan cara mengenangnya dalam-dalam; sebagai suasa ia terasa pudar. Beberapa di antaranya malah hilang, timbul-tenggelam dalam ingatan, di samping memang ada yang tak tercatat di dalam peta, sehingga untuk masa yang lama aku telah melupakannya.
Padahal, untuk masa yang lama pula, ia pernah hidup dalam kepala kanak dan remajaku, kubawa ke mana-mana. Dulu, sebagaimana anak-anak seusia, selalu kusebut ia dengan takjub, kujaga lafalnya dengan pantangan --meski sesekali teringat juga di tempat bermain dadu atau di tepian mandi telanjang-- dan susah-payah kami ''sucikan'' lagi dari kepala kami yang mulai digoda kemaruk dunia. Kami tak ubahnya menjaga warisan dua kota suci, nun di jazirah, yang di hati tak tergantikan, di lidah tidak sembarang dilafalkan!
Begitulah, aku merasa bahwa nama-nama kota istimewa itu tak bakal enyah dari kepalaku, mungkin juga di kepala banyak orang, sebab diwariskan dari lidah ke lidah yang fasih bercerita di surau tua tempat mengaji, di sekolah papan lapuk terlantar, di rumah-rumah doyong tercinta, serta padang belukar tempat gembala. Tak lupa di lepau-lepau kopi yang buka larut hingga pagi tiba, di mana ceracau dan igau, sesekali suara mabuk, campur-aduk dengan hempasan domino, denting gelas beradu, dan kartu-kartu!
Di surau tua, tentu Nenek Guru yang menghikayatkan kota-kota kudus-suci itu, takzim serupa doa. Ia bercerita tentang Sultan yang keras menegakkan hukum Tuhan demi lurusnya sunatullah --dan begitulah seharusnya-- meski menggantung kawan dan keluarga, dan suatu kali ada murid seorang seteru yang berhasil menggantikan diri sang guru di tiang gantungan, Sultan tak peduli. Titah suci harus dilaksanakan. Yang melaknat iman harus enyah. Dengan tatanan imanlah dua kota bertetangga itu, Demak dan Kudus, memberi tempat yang seluas-luasnya --dan sudah seharusnya begitu-- kepada para sunan atau para walinya yang diberkahi Maha Kuasa. Mereka adalah khalifatullah terpilih tanah Jawa, dengan tangannya sendiri membangun menara dan bandar besar, lalu menyerang kaum kafir-sipitoka di seberang lautan. Itulah, kata Nenek Guru, kota yang bila malam bertambah malam, bertambah pula cahaya bintang dan di sanalah malaikat turun malam hari. Tak seorang pun mengingkari, bahkan, kata Nenek --seperti mengancam-- sepasang murid yang tak patuh kepada Sultan atau Sunan (aku lupa apakah Nenek membedakan keduanya) telah menjelma menjadi anjing-anjing hitam di dalam kubur mereka....
Untuk mencairkan suasana, Nenek Guru akan menyanyikan sebuah syair lama --tak ada bosannya:"Hamzah Fansuri di dalam Mekkah, mencari Tuhan di Bait Al-Ka'bah, dari Barus ke Kudus terlalu payah, akhirnya dijumpa di dalam rumah.''
Di sekolah, Pak Guru Umar bercerita tentang kota yang menjadi pusat rempah-rempah, jadi rebutan orang Eropa. Ia juga membawa kami berkelok-liku terlebih dulu menyusuri daerah pantai yang penuh batang rumbia, pokok sagu dan parak kerambil, sebagai latar cerita untuk Tiku, sebuah kota pantai di Pariaman (sekarang masuk Agam) yang punya hubungan langsung dengan Kasultanan Aceh Darussalam. Itu cukup bukti memercayai pentingnya Tiku di masa lalu. Dan tentang Bandar Sepuluh, daerah tempat kami tinggal, diceritakan Pak Umar dengan penuh perasaan, ''Daerah kita ini dulunya kota pelabuhan ramai, mulai Muara Sakai di Ujung Tanjung, sampai Air Haji, Batangkapas dan Painan.'' Orang Portugis datang, mendirikan benteng di Pulau Cingkuk, yang sekarang masih ada, telantar. Dan puak Peranggi menjadikannya gerbang masuk ke pedalaman Minangkabau demi mengail untung dalam sangketa kaum adat dan pendekar Paderi, kaum berani-bijak bestari, kata Pak Umar, memihak.
Di masa remaja, ketika melanjutkan ke sekolah menengah, si penutur kisah --dalam mata pelajaran disebut sejarah-- berganti Pak Syahrial yang suka membawa buku-buku tua. ''Pada tahun 1475, Islam masuk ke Ternate dan Tidore. Tahun 1478 Raden Patah mendirikan Kerajaan Demak,'' kata sang guru botak itu, mungkin terlalu banyak menghapal angka, sebagai kode yang akan diurainya dengan rangkaian cerita.
Di rumah, ayah-ibu kami yang menghikayatkan tempat dan nama-nama, meski tak lengkap sebagai ihwal sebuah kota, tapi selalu menggoda. Kata ibu, istilah ''orang siak" di daerahku --artinya orang taat beribadah-- memang benar-benar berasal dari Siak secara harafiah. Ya, Siak Sri Indrapura, kota bandar di tepi Sungai Siak kebanggaan marwah puak Melayu, yang para pedagangnya sekaligus berdakwah sampai ke daerahku. Dari ayah aku dapat warisan kota hikayat --masih di ranah Melayu-- dari sisi kultural, yakni Bandar Muar, bersanding dengan Buluh Ketunggalan dan Kampung Lengang Sunyi. Tentu, karena ayahku fasih bakaba Nan Gombang Patuanan, cerita rakyat yang mengharu-biru, sehingga kota-kotanya campur-aduk antara fakta dan bayangan.
***
SEMENTARA itu, di padang belukar tempat gembala (bukan padang hijau terbuka, tapi padang duri rawa-rawa!), ada Pak Gali yang tak kalah fasih berkisah tentang kota-kota tempatnya singgah atau sekadar lewat. Beberapa kuyakin hanya ia kenal secara khayali. Tapi perlukah mempersoalkan benar atau tidaknya ia pernah melawat ke sana? Tidak. Cukup bukti cacat pada kakinya, kami percaya Pak Gali sudah berjalan jauh, meski ada saja bisik menyertai bahwa cacat itu lantaran ditembak polisi di kota rantauan, mungkin Banten atau Tanjungkarang. Apa pun, Pak Gali atau yang kemudian akrab kami panggil Pak Parewa, adalah penggembala kerbau yang baik, dan yang penting ia setia berhikayat tentang kota-kota. Ia sebut tentang warga kota yang berpantang menyembelih sapi di hari raya, tapi kerbau, demi menjaga perasaan umat beragama lain yang berbaur damai di sana; bahkan sebuah menara besar, agak gemuk, peninggalan sebelum Islam dibiarkan berdiri menjadi bagian dari kokohnya masjid. Sebuah masjid lagi, katanya, berada di kota sebelah barat, didirikan tanpa paku, agak ceper, malah cungkup makam orang-orang suci di sisi kiri masjid itu, terkesan lebih gembung, meninggi. ''Kenapa, Pak Gali?'' temanku bertanya, dan dijawab ringan saja, ''Ya, supaya peziarah mudah menemukannya!''
Ia lalu bicara tentang Singkil, kota para ulama yang utama di perbatasan Aceh, yang sebenarnya lebih tepat disebut masuk ke wilayah Medan, tapi beberapa kawanku protes tentang Tanah Batak. ''Apa ada orang Batak jadi ulama? Nenek awak cerita, orang Batak makan orang...,'' Uman, sepupuku yang taat, mengajukan alasan. Bila anggapan itu salah --dan itu terlihat dari geleng kepala Pak Gali-- toh ia tidak marah, dan tidak pula menghardik. Ia malah tersenyum dan menjelaskan lebih hati-hati bahwa ''banyak cerita yang sengaja dikaburkan pihak penjajah untuk mengadu-domba bangsa kita.''
Uman dan yang lain tak puas, maka Pak Gali bertanya, ''Ada yang tahu kamper?'' Kamper? Kami saling pandang, dan ketika ia menyebut kapur barus barulah kami tahu yang ia maksud. Tapi tahukah kalian kenapa ia disebut dengan nama sebuah kota tua di pantai Barat Sumatera? Entah, kata kami. Itu karena kamper dari Barus paling terkenal dan baik mutunya, sehingga kelak orang lebih senang menyebutnya kapur barus. Dan, kalian tahu di mana bekas pelabuhan utama kota Barus? Tak ada yang menjawab, hanya terdengar lenguh kerbau dan kecipak luluk di kubangan rawa-rawa. Barus atau Fansur bersisian dengan Sibolga, Sumatera Utara; dan di situlah dulu hidup seorang ulama besar yang syairnya sering dilagukan Nenek Gurumu (kami duga, ia pasti pernah mengintip kami mengaji!) dan dari situ para ulama mensyiarkan Islam sambil tak lupa berdagang, dan tentu saja berperang... katanya, dalam dan panjang. Menyentak, menakjubkan.
Tak ingin membuat kami kelewat tegang, ia kembali pamer soal kamper. ''Kamper atau kapur barus berasal dari getah yang mengeras di dalam batang pohon damar, berharga mahal di negeri Arab dan di kalangan Peranggi, sebab tak sekadar pengusir kecoak di almari seperti kau kenal tapi bahkan juga untuk bumbu masak para bangsawan,'' katanya meyakinkan (meski bagi kami sangat mengejutkan). Dan jangan lupa, katanya lagi, seperti kapur barus, buah pala di Ternate, Tidore hingga Malifut, telah membuat orang-orang kulit putih berebut kota-kota dan pelabuhannya. Hingga semaput!
***
BEGITULAH kota-kota hikayat itu diwariskan, berurat-akar dalam kepala kami. Akan tetapi, seiring waktu, kenangan itu pudarlah, sebagaimana kota-kota itu pun pudar dipiuh waktu. Adakah tradisi lepau yang lebih dominan kemudian, sehingga ketika aku ke luar dari tempurung kampung, aku jadi fasih menghapal nama-nama ''kota yang dikutuk segala kitab suci" atau ''kota-kota dalam daftar prakiraan cuaca dunia''? Inikah penyebab kota-kota hikayat, kota-kota kecil keramat, kian terkucil, digantikan kota-kota tipikal yang enak diobrolkan di tempat hiruk semacam kafe, bar, dan kedai pinggir jalan?
Nyaris aku percaya pada pikiran sempitku ini, tapi lalu teringat sosok lelaki tua yang memperkenalkanku lebih lanjut dengan kota-kota hikayat di masa lalu, penuh gairah dan semangat justru di lepau kopi: tempat paling hiruk dan selalu jadi tudingan telunjuk dalam hasrat hidup barokah di kampung! Jujur, dari sekian banyak sosok dan tempat imajinatif di masa kecilku --rumah, surau, sekolah tua, padang gembala dan lepau kopi-- sosok Pak Gali alias Pak Parewalah yang secara telak hidup di kepalaku dan adukkan cerita padang gembala dan lepau kopinyalah yang menemani hidupku sampai sekarang.
Waktu itu, aku sudah remaja, tidak lagi menggembala karena ayah dan ibuku menginginkan aku fokus sekolah --meski tetap saja tergoda lagak membual dan beradu kartu di warung Simpang Tiga. Setali tiga uang, kerbau Pak Gali juga dijual habis oleh ponakannya --kubayangkan seperti juru sita-- sehingga hari-hari Pak Gali banyak di lepau kopi, hidup selayaknya parewa sejati: tak punya kerja pasti, tapi selalu berbagi. Sejak itulah sapaan Pak Gali berubah kian kental jadi Pak Parewa. Nama tambahan yang justru mewakili keadaan dirinya yang sebenarnya. Ya, laki-laki itu memang layaknya seorang parewa, setaraf preman dalam kampung tapi selalu hangat kepada siapa pun.
Bila dengan orang seusia ia mengurangi ceritanya sebab ia dipandang sebelah mata, tidak begitu dengan yang muda-muda. Dengan kami --yang tumbuh jakun dan mulai tertarik pada pasangan-- ia tak bosan menceritakan kota yang entah pernah dikunjungi entah tidak. Kami tetap tak peduli. Jika tidak fisiknya pernah ke sana, toh pengetahuannya menjangkau setiap sudut kota yang diceritakannya. Selalu, sedari dulu, tanpa sungkan ia menyebut kota-kota itu sebagai ''kota dagang'' dan lantang menyatakan bahwa raja yang kuat (ia singgung juga soal selir), armada perang, benteng yang kokoh, pasar dan bandar merupakan pilar sebuah kota. Ia tak pernah menyebut ''kota suci'' meski tahu persis kota-kota yang diceritakannya itu penuh masjid besar-kecil, pusat penyebaran agama dan tempat berkumpulnya para wali; ia cukup menyebutnya kota dagang saja.
Bisa dikatakan, Nenek Guru di surau memperkenalkan sisi suci sebuah kota, sementara Pak Gali alias Pak Parewa di lepau memperkenalkan sisi hiruknya. Lewat cara ini tatanan pendidikan bersinergi; surau dan lepau mengisi hari-hari kami tiada henti...
***
''DI Demak Bintoro ada masjid raya yang tidak memakai paku....,'' begitu Pak Parewa pernah cerita. Suara itu kembali bergema ketika di hari baik bulan baik, aku pergi ke Demak. Bukan kunjungan khusus memang, sebagaimana para peziarah makam wali, hanya sekadar kangen suasana kampung-halaman. Di sinilah aku temukan sebagian cerita Pak Parewa: masjid raya, makam bercungkup besar, para peziarah datang dan pergi, meski hati lantak menyaksikan alun-alun yang sepi dan sungai di sisi kota yang mati.
Aku mencuci muka dengan air limau yang disediakan di serambi masjid raya, tradisi yang sama di daerahku untuk menyambut bulan suci Ramadhan atau bulan haji. Saat itulah wajah Pak Parewa dan Nenek Guru membayang wangi dalam wadah. Tersenyum. Begitu nyata. Seakan mengajakku ziarah ke kota-kota kuat keramat dari masa yang lewat. Tak tahu apakah aku masih cukup kuat mengikuti klangenan begini, atau memang butuh untuk menyalakan cahaya kota-kota itu lagi. O, cahaya yang tumpas dari jiwaku: jiwa di dunia yang hilang jiwa.... O, cahaya yang angslup dari dinding kota: kota yang tidur di bawah matahari yang tak tidur!
Aku singgahi Demak kini, sebagaimana pernah kusinggahi kota-kota hikayat yang lain, kadang dengan kegembiraan meluap, tapi lebih sering dengan sedih yang berlebih. Betapa tidak. Kota yang kukenang itu ternyata masih ada, hidup dalam takdirnya, meski di sisi lain kutemui ia dalam keadaan merana, hanya ditandai pasar becek atau menara semati tugu. Namun aku putuskan untuk terus menyusurinya tanpa merasa sia-sia....
Begitulah, di Kudus aku pernah singgah, dan merasa cahaya masa lalu itu lampus di sana. Di kota bermenara paling tua itu, dadaku sesak bukan oleh aroma cengkih dan tembakau, tapi digamit para pengemis buta dan tak buta, tengadah di jalan ke menara, lalu barisan buruh pelinting lewat tak putus, berbaur dengan kepadatan jalan pantura...
Aku juga pernah singgah di Gresik, tak sampai ke Giri. Kupilih pelabuhan, dan malam-malam tanpa cahaya bulan, aku menyusurinya bersama seorang kawan. Sungguh terasa keagungan sebuah kota, tapi lalu sedih sendiri ketika kusaksikan kapal-kapal kayu tua sandar tanpa gairah; seakan tak ada pelayaran esok hari...
Di tanah kelahiranku sendiri, ada sedikit catatan tentang Bandar Sepuluh, kerajaan masa lalu yang namanya sayup-sayup sepi, tapi sampai kini tak kutemukan di mana bekas bandar yang sepuluh itu, sebab memang betapa murung kenyataan; daerah laut tanpa pelabuhan, daerah pantai tanpa kampung-kampung yang meyakinkan...
Turun dari dataran tinggi Agam ke arah pantai Pariaman, kita bersua daerah Tiku, seolah kelok jalan akan menubruk langsung ke kebun kelapa dan bekas benteng tua yang merimba. Di sana aku pernah lama termangu, membayangkan betapa agungnya Tiku dahulu, dan lihatlah, alangkah lengang ia sekarang....
Yang aku belum pernah adalah ke Singkel dan Barus di ujung barat; Tidore dan Malifut di timur tanah air. Singkel sekarang masuk wilayah Aceh, dan Barus masuk Sumatera Utara, keduanya hanya dapat kubaca lewat titik kecil dalam peta. Tiap kali kubaca, gemetar tanganku dan berdenyar saraf kepala, meski selalu, masa lalu keduanya terasa lebih megah dibanding bayangan masa kini, bahkan masa depannya...
Begitu pun Tidore dan Malifut. Kota yang bangkrut! Meski kubayangkan segala yang menjadi modal masa silam masih dimilikinya: pala, cengkeh, segala rempah, benteng, gudang, dan jalan air yang sebenarnya tak akan berakhir selagi hasrat yang tidur dibangkitkan dan pulau-pulau dijaga datu-datu; tapi masih saja kita saksikan api dan batu-batu berterbangan. Tak hanya satu.
Aku pernah sudah begitu dekat dengan Bandar Muar, kota hikayat warisan ayah. Dari kota seribu museum, Melaka, jarak ke Bandar Muar tak sampai sejam perjalanan, tapi aku tak ke sana. Ada kecemasan lain jika aku melabuhkan ingatan, sebagaimana dulu aku ke Pelaihari, kota kecil di pedalaman Kalimantan. Ketika kuputuskan untuk tak mampir, aku merasa bakal lama tak berjumpa ayah.
Dari Melaka, aku akhirnya pulang menyusuri Sungai Siak melewati kota-kota sepanjang selat dan tepian sungai seperti Bengkalis, Perawang, Teluk Masjid, Sungai Pakning, dan Siak Sri Indrapura. Kota terakhir ini gampang dikenali lantaran sebuah istana dari abad ke-18 menyerupai masjid (mengingatkanku pada cerita ibu), masih kokoh berdiri di tepi air, meski kotanya sendiri tumbuh menjauh dari air.
O, kota-kota hikayat, kota-kota yang bakal atau telah tamat?! Tidak! Jangan! Tiba-tiba aku tersintak dari lamunan, seperti cemas dan ketakutan. Bersamaan dengan itu lenyaplah pula wajah-wajah yang kurindu, beserta kota-kota kenangan yang dihikayatkan dulu. Apa sebenarnya yang kucemaskan? Apa yang kutakutkan? Aku tak tahu. Aku hanya merasakan ada cahaya yang tiba-tiba direnggutkan dari diriku, menyemburat pudar, dan lampus! Gelap, aku merasakan gelap menyungkup alun-alun kota Demak, gelap di kota-kota yang dulu bercahaya, gelap bertahta di mana-mana...
/Rumahlebah Jogjakarta, Mei-November 2008
Selasa, 18 November 2008
Cerita yang Menyertai Wabah di Kampungku
Raudal Tanjung Banua
http://www.korantempo.com/
PADA awal 1980-an, ketika kelompok tani dan kelompencapir (kelompok pendengar, pewicara, dan pemirsa) mulai menjamur, sudah seharusnya kampungku mengadakan panen raya dengan hasil yang jauh lebih baik. Maklum, sebuah bendungan di bagian hulu sungai baru saja diresmikan di tahun 1976 oleh Ir. Sutami, Menteri Pekerjaan Umum dalam kabinet Soeharto. Empat kali berturut-turut sejak peresmian, hasil panen memang melimpah. Namun, tak lama kemudian, secara ajaib, panen kami hancur-lebur. Saat itu, wabah mencengkram kampungku: hama tikus merajalela, gangguan babi menjadi-jadi. Gagallah panen tahun-tahun itu, menyebabkan tak seorang pun memiliki segoni dua goni padi. Dan kami hanya punya tengkulak--wabah lain yang mengerikan!
Kini, daerahku kembali paceklik. Siklus berulang. Kali ini bukan hanya panen yang gagal, tapi hidup kian sulit pula, dalam segala hal. Harga-harga kebutuhan pokok melonjak tajam. Pupuk dan obat tanaman tak terjangkau. Banyak orang kampungku memutuskan pergi merantau, tapi tak lama kembali terdampar pulang. Tampaknya “wabah” hidup susah sudah merajalela ke mana-mana. Tapi tetap saja aku merasa, kampungku paling parah. Dari catatan lembaga sosial, jumlah anak kurang gizi (lebih tepat kurang makan) meningkat di daerahku. Perut mereka membuncit dan mata mereka melotot sedih. Setiap rumah hanya punya setekong dua tekong beras saja dan tidak mampu menambahnya sesuai dengan kebutuhan penghuninya. Saat beginilah, cerita-cerita seputar wabah hampir 30 tahun lalu itu kembali menyeruak seolah baru saja terjadi.
JIKA benar cerita dapat jadi pelipur lara pelerai demam, maka itu dibuktikan oleh orang kampungku dengan menghidupkan cerita-cerita yang mulanya memancing gelak tawa. Meski gelak tawa yang sedih. Di tengah hidup susah, mereka masih ingat kisah “tudung periuk dalam kuali” yang terjadi berapa waktu sebelum hama tikus menghantui.
Adalah Mak Roji, yang suaminya sudah meninggal, tinggal dengan enam anak. Anak-anak itu, maaf, seturut istilah orang kampung, “bodoh-bodoh”; dua orang tumbuh sebagai anak yang terganggu jiwa, yang lain punya tingkah aneh-aneh, seperti suka berjoget di keramaian. Menurut sahibul hikayat, mereka selalu bertengkar kalau mau makan. Ada-ada saja yang mereka pertengkarkan. Misalnya, nasi siapa paling banyak. Biasanya mereka bertimbang nasi di pinggan, dan ditaruh di atas telapak tangan, dan mana yang dianggap lebih berat itulah yang diperebutkan.
Hari itu, seperti biasa Mak Roji bersiap-siap ke sawah. Yang tidak biasa adalah masakannya hari itu. Ia masak nasi banyak sekali, maklum baru saja usai panen. Uap nasi dari beras baru mengepul wangi ke udara. Ia pun menggulai ikan campur paku, pastilah enak sekali. Tetapi anak-anak yang disuruh makan masih juga bertengkar, padahal hari untuk ke sawah sudah tinggi. Mak Roji akhirnya dengan geram mengambil nasi seperiuk dan memasukkannya ke dalam gulai paku di kuali. Dengan cara itu, tanpa rasa bersalah ia makan dengan lahapnya. Anak-anaknya yang tadi bertengkar hanya terdiam melihat ulah si emak. Mungkin mereka tak menduga bahwa nasi dan gulai sebanyak itu bisa habis sekali duduk dimakan orang seorang.
Lagi pula Mak Roji sampai hati betul, sebutir nasi pun tak ia sisakan, setangkai paku pun tak terbuang. Malah, demikian cerita orang-orang itu sambil mulai tertawa, Mak Roji masih sempat mengambil singkong rebus yang mengepul di hadapan anak-anaknya. Semua anak melongo bodoh, mungkin juga takjub, sehingga tak sadar kalau tangan si emak sudah meraih wadah dari hadapan mereka. Mereka baru sadar ketika si emak kepanasan singkong rebus, dan untuk menjaga wibawa tak mungkin ia semburkan ke luar, meski juga tak mungkin ia telan. Maka untuk menghembuskan hawa panas di mulutnya, Mak Roji berkata, “Ayo ke sawah, hah!” (Sampai di sini, orang yang bercerita dan yang mendengar sama meledak tawanya.) Lalu, setengah membuang muka yang sempat panik, Mak Roji menyambar peralatannya ke sawah dengan langkah seperti bebek pulang petang. Tawa orang-orang itu pun bertambah-tambah.
Singkat cerita, besoknya, tanpa ada sakit, Mak Roji meninggal dengan tenang. Tetapi cerita tentang “tudung periuk dalam kuali” terus menyertai. Yang menarik, enam anak Mak Roji silih berganti bercerita bahwa sebelum mak mereka meninggal dunia, ada isyarat tertentu yang disampaikannya. Sehari sebelum meninggal, perempuan kuat perkasa itu sempat menunjuk-nunjuk puncak Bukit Talau, yang memang tampak belaka dari sawahnya. Apa artinya? Beberapa orang bertanya sekadar iseng dan anak-anak Mak Roji berebut menjelaskan, seolah berebut pinggan.
“Beliau berpesan sering-seringlah memandang Bukit Talau,” kata si sulung.
“Untuk apa pula?” tanya seseorang, seraya melayangkan pandang ke Bukit Talau, sebuah bukit paling tinggi di kampungku, bagian dari Pegunungan Barisan.
“Banyak gunanya. Melihat awan, meninjau hujan....”
“Menghibur hati yang rawan, hahaha.... Ayo, Buyuang, tiup serulingmu!” kata seseorang. Dan orang kampung lainnya tertawa.
Kata si bungsu, yang agak pintar: “Di puncak Bukit Talau ada inyiak balang, jadi hati-hatilah kalau ke ladang!”
Orang-orang terdiam, tetapi seseorang menyela, “Tentu saja. Sejak dulu di sana inyiak berumah. Katakan kau sendiri yang takut....”
“Kalau soal inyiak saja awak tak takut. Tapi kata Mak, di puncak Talau juga ada bigau, ia akan turun menghalau celeng gembalanya....”
Orang-orang kembali terdiam, beberapa mulai gelisah.
“Kata Mak, bapak tidul-tidulan di puncak Talau, dekat batu belbentuk huluf waw,” kata si anak yang dianggap cadel dan terganggu jiwanya. “Kalau mau bigau tak tulun, bakal kemenyan bial bapak bangun kena asapnya, dan mencegah bigau menghalau celeng gembalaannya. Hus, hus, jangan tulun, kata bapak!”
“Di sana juga ada batu belah batu bertangkup, tapi ndak mau menyungkup badan Mak, sebab beliau yang menghabiskan makanan sekuali....” kata anak yang suka berjoget.
Pada bagian ini, biasanya orang-orang kembali meledak tawanya. Tentu saja, sebab cerita batu bertangkup di kampung kami merupakan cerita mengharukan. Seorang ibu yang bersedih disungkup batu belah saat sembunyi di sana. Hanya saja, itu disebabkan anak-anaknya yang durhaka: menghabiskan makanan sampai tak ada yang bersisa. Nah, dalam cerita Mak Roji, si ibu yang justru menghabiskan makanan!
Kata si sulung, agak malu, “Sebenarnya Mak minta kami menyimak suara dari Bukit Talau....”
Orang-orang tersenyum geli, tak hendak memperpanjang lagi pertanyaan. Sebab suara apa pula yang hendak disimak dari sana? Tapi aneh, beberapa pekan kemudian Bukit Talau memang bertingkah aneh. Malam-malam, terdengar gema suara di puncaknya, kadang gemuruh, kadang bunyi angin kencang, kadang desau yang tak kunjung hilang. Ada apa gerangan? Semua orang melepas pandang ke puncak Talau dan bukit-bukit sekitar. Tak ada yang berubah. Bukit Talau masih seperti dulu: tegak runcing dengan dua pucuk, seperti huruf M, yang satu lebih rendah dan yang lain agak sumbing. Jalan setapak peladang dan perimba masih melingkar di sisi-sisinya, seperti ular dalam kabut. Beberapa pondok bertengger, serupa sarang burung di dahan pohon besar. Beberapa pohon yang memberi bentuk pada Bukit Talau--karena besar dan rimbunnya--toh masih berdiri, tak mengubah pemandangan.
Orang-orang mulai cemas, dan segera teringat cerita “ular selingkar gunung”.
ALKISAH di Bukit Talau hidup seekor ular besar peliharaan Nenek Tatak, perempuan bagak, pemberani. Tahun-tahun itu, hanya dia yang berladang di puncak Bukit Talau, sedang yang lain hanya sampai di kaki dan pinggang bukit. Tentu bukan bukit yang tinggi membuat orang ciut nyali, tapi di situ bersarang harimau dan mungkin juga bigau (sebagaimana dikatakan si pintar anak Mak Roji). Menurut cerita, harimau tinggal di ngalau atau gua (mungkin ini yang dimaksud si tukang joget Mak Roji dengan batu belah batu bertangkup; atau yang dimaksud si cadel dengan batu huruf waw, dan dipercayainya bahwa arwah ayahnya di sana, jika merunut penghormatan orang kampung pada harimau sebagai “leluhur”).
Ah, lupakan dulu anak-anak Mak Roji sebab cerita Nenek Tatak sebenarnya tak ada hubungannya dengan harimau atau bigau, tikus dan babi, ini cerita tentang mimpi-mimpi--sekadar menghibur cemas hati!
Tiap hari Nenek Tatak bekerja di ladang, menajak rumput, menanam labu dan pisang. Ia baru akan beristirahat tengah hari dengan mengunyah sirih. Menjelang petang ia pulang, menuruni jalan setapak yang melingkar-lingkar. Suatu hari, saat beristirahat di bawah pohon jengkol, seekor ular kecil--orang kampung menyebut “sebesar batang korek api”--menyusup ke dalam kotak sirih sang nenek. Saat hendak mengambil sirih, ia singkirkan ular itu hati-hati, tapi sebentar hewan itu kembali menyusup, bahkan lebih dalam sampai ke balik pinang dan gambir. Setelah tiga kali begitu, si nenek akhirnya membiarkan ular itu ikut dengannya. Mula-mula dibiarkannya tinggal di dalam kotak sirih, sesekali dimasukkannya ke dalam tengkuluknya, sampai tak muat lagi. Ia pindahkan ke dalam tas rotannya. Hari demi hari si ular kian besar juga, dan akhirnya dibiarkannya tinggal di rumah. Orang kampung mulai takut, dan menyebar kabar bahwa Nenek Tatak punya anak seekor ular. Ia yang memang hidup sebatang kara itu sebenarnya tahan terhadap gunjing dan cercaan, tapi tak sampai hati jika si ular sampai menanggung akibatnya. Namun badannya sudah besar. Maka si ular mesti dipindahkan.
Tak mungkin si nenek menggendongnya, maka mereka harus berjalan beriringan sebelum orang-orang memergoki mereka. Bagi yang diam-diam sempat melihat, perjalanan itu tampak menyedihkan. Seperti sepasang ibu-anak. Terasa sekali mereka tak ingin berpisah. Tapi takdir berbeda. Akhirnya si ular dilepas ke belantara Bukit Talau.
Konon, bertahun-tahun kemudian, Nenek Tatak bermimpi bahwa si ular yang ia pelihara sejak “sebesar anak korek api” itu kini telah berubah jadi ular raksasa yang melingkari Bukit Talau. Dalam mimpi itu, si ular meminta supaya Nenek Tatak sudi mendatanginya lewat kepala di bagian puncak bukit yang sumbing. Sebelum mimpi berakhir malam itu, si ular mengangakan mulutnya, dan tampaklah benda sebentuk cincin sewarna permata! Si nenek menceritakan mimpi itu kepada beberapa orang, dan tak ada yang menolak ketika Angku Jurtatap yang ahli takwil meminta Nenek Tatak datang ke sana. Itu cincin Sicindai, kata si angku, banyak manfaat jika dipakai. Itu sama dengan rantai bertuah si bigau. Tapi si nenek menolak, bukan tak percaya mimpi, bukan sudah tak kuat mendaki, tapi hanya tak ingin balas jasa.
Pada malam berikutnya, mimpi yang sama datang kembali, dan si nenek tetap menolak. Setelah tiga kali menolak, terdengar suara, serupa gema, “Baiklah Nenek tua, engkau orang yang ikhlas. Emas permata tak engkau cari, balas budi tak diharap. Tapi biarkanlah aku melindungi nagari di selingkar Bukit Talau. Simak jika ada isyarat dariku, itu pertanda akan terjadi bahaya atau bencana!”
Dan benar: isyarat itu, gema dan gemuruh itu, jadi pertanda datangnya wabah!
ISYARAT itu akan menemukan titik terang apabila kita masuk ke dalam cerita berikutnya, yakni tentang “pasukan tikus menyeberangi jalan.” Adalah seorang sopir di kampungku yang konon pernah menyaksikan peristiwa ajaib itu. Pak Mua, nama sopir itu, sudah tua dan sakit-sakitan. Ini perlu dikemukakan sedikit, sebab lantaran sudah tua dan sakit, tidak seorang pun akan menanyakan lagi kebenaran ceritanya. Jika pun ia masih sehat, sebenarnya juga tak bakalan ada yang mendatangi, sebab cerita itu sudah menjadi cerita dari mulut ke mulut, dan boleh jadi jika Pak Mua ditanya, ia juga menyebut nama seorang lain sesama sopir yang mengalami langsung peristiwa seperti disebut dalam cerita. Begitu seterusnya. Cerita di kampung bukan soal sumber utama, bukan soal benar atau tidak, tapi bagaimana cerita itu mengalir sampai jauh. (Kini “hak paten” cerita itu dipegang oleh bekas kernet, Serel, yang masih bersemangat menceritakan kembali meski ia mengaku melihatnya setengah kabur sebab ketika itu ia baru bangun tidur.)
Begitulah, konon, sebelum panen gagal karena diserang tikus, Pak Mua melihat kejadian aneh tak lama berselang setelah musim tanam tahun itu. Sebagai sopir truk jarak jauh, yang mengangkut semen dari Padang ke Bengkulu, ia biasa melaju malam. Selepas tikungan Jaring Punai yang lengang, Pak Mua melihat sesosok bayangan aneh yang tak pernah ia lihat sebelumnya: kecil dan cebol untuk ukuran manusia. Ia mengibaskan tongkatnya yang diartikan Pak Mua sebagai permintaan agar truknya berhenti. Benar. Setelah truk berhenti, melintaslah beribu-ribu ekor tikus yang digembalakannya. Tikus-tikus itu berbaris rapi menyeberangi jalan, dan karena jumlahnya banyak, sampai tak terasa sudah ada sejumlah kendaraan yang terpaksa berhenti di belakang truk Pak Mua, serta kendaraan lain yang datang dari arah berlawanan. Semua memilih berhenti dan memberi jalan kepada pasukan tikus menyeberangi jalan.
Sesampai di rumah makan, para sopir berkumpul dan setengah menggigil bertanya tentang kejadian apa gerangan yang barusan mereka saksikan. Mereka sungguh tak paham. Berbagai tafsir pun mengumandang. Ada yang berpendapat si tikus berusaha pindah tempat sebab tempat sebelumnya sudah diaduk-aduk oleh orang proyek yang membuat bendungan. Ada yang bilang, pasukan tikus itu kini datang untuk membalas dendam. Ada yang menghubungkannya dengan Nabi Sulaiman: mungkin sang Nabi tak ingin ada satu pun makhluk teraniaya. Sebagian bilang, itu akibat dari upacara “obat padi” yang tak ada diselenggarakan lagi.
Ya, menyangkut kepercayaan pada upacara memang bisa jadi alasan sendiri. Sejak peresmian bendungan, prosesi turun ke sawah tidak lagi memakai perlengkapan yang disyaratkan: sesaji dan bunga-bunga. Para petani mulai jalan sendiri, suka berebut air, siapa cepat ia dapat dan musim tanam jadi tak serentak. Biasanya, berkat hujan dari langit, turun ke sawah milik bersama: para tetua membawa “obat” padi dari daun-daun dan pucuk tumbuhan, dihantarkan lewat pematang hingga sampai ke tengah sawah. Mantra-mantra keselamatan menggemaung. Semua makhluk semesta terasa agung: tikus tidak disebut tikus, tapi puti, artinya putri; babi disebut urang elok, artinya orang baik-baik; dan hanya berang-berang yang tetap disebut dengan berang-berang; dia toh tidak merusak padi, hanya membuang muntahan sisik ikan atau berak di pematang.
Setelah kejadian “pasukan tikus menyeberangi jalan” itu padi-padi di kampungku puso, hama tikus merajalela.... Jika itu benar campur-tangan Nabi Sulaiman atau Khaidir, maka, maaf saja, itu bukan campur tangan yang membawa berkah, Saudara.
KINI, tanpa isyarat dan aba-aba, wabah hama tikus kembali melanda kampungku dan kampung-kampung sekitarnya. Ini diperparah oleh “wabah” harga dan segala sesuatu menjadi langka. Harga-harga naik, minyak tanah tak ada. Pencurian meningkat. Dua hari yang lalu, pencuri bahkan membawa pergi periuk ibuku yang masih berisi nasi, di atas tungku. Di desa sebelah, seorang tengkulak diamuk warga karena menolak meminjamkan uang atau padi. Katanya, sudah tak ada modal lagi. Tapi warga yang terlanjur sakit hati tak bisa terima. Di tengah situasi sukar inilah, cerita-cerita kecil hampir tiga puluh tahun yang lalu, yang menyertai wabah di kampungku, kembali diminati. Aku sendiri tak tahu apakah ada hubungan antara cerita dulu dengan keadaan kini.
Ya, cerita-cerita itu kembali menyertai wabah di kampungku. Besar-kecil pada mempercakapkannya. Meski mereka lebih banyak mengomentari jalan cerita sesuai situasi sekarang. “Mengapa Pak Mua tidak menggilas saja tikus-tikus itu?” kata seorang anak muda di pos ronda, di tepi jalan raya.
“Hus! Tidak digilas saja keadaan sudah begini,” yang lain menimpali.
“Itu karena kita tak melawannya. Mestinya dihadapi, jika perlu sekalian dengan si bigau cebol pimpinan mereka itu,” ia meradang.
“Husni! Jangan terlalu kasar. Ia bertelinga bumi,” Kudal, si tukang cerita minta pengertian Husni.
“Kau masih peduli, Kudal? Dari tahun ke tahun kita begini. Sudah empat kali mestinya panen, hanya padi hampa. Untuk rokok saja kita menyetop mobil lewat!”
“Aku tak mau lagi memanggil tikus dengan puti, celeng dengan urang elok, bahkan harimau dengan inyiak balang,” kata Kutir dingin.
“Aku juga tak mau lagi. Kita saja yang menghormati mereka, sedang mereka tidak,” Mawi yang pendiam tampak menahan geram.
“Inyiak balang mengamuk karena semua hutan dijadikan ladang gambir, bahkan sampai ke puncak Bukit Talau. Makanya tak ada lagi suara-suara dari sana,” kata Kudal.
“Percuma. Wabah datang tak diundang, semuanya tiba-tiba. Apa yang dapat dilakukan saat harga sembako naik, meski jika semalaman Bukit Talau bergemuruh?”
“Dan apa pula komentar kau tentang tikus dan babi-babi?” desak yang lain.
“Sudah lama tak ada upacara obat padi di kampung kita,” Ikal yang menjawab.
“Tutup mulutmu, Kepinding! Dari dulu kita berupacara menyambut semuanya. Mulai dari Pemilu sampai peresmian jamban. Apa hasilnya?”
Mereka yang bergerombol di pos ronda mulai tegang. Mereka mulai bosan pada cerita-cerita yang menyertai wabah. Ada raut kesal kepada teman-teman sendiri yang semula dianggap fasih bercerita, sekarang tampak sebaliknya: terlalu larut dalam cerita. Mereka marah dan mual, meski sebenarnya lebih terarah pada keadaan. Saat itulah, iring-iringan kendaraan rombongan Pemda dan DPRD kabupaten kami lewat untuk sebuah kunjungan kerja di Balai Selasa, kecamatan di selatan. Ada peresmian mesjid sumbangan perantau, sekaligus peletakan batu pertama pembangunan SPBU milik ipar bupati. Bunyi sirene meraung-raung, seperti mengejek kampung-kampung yang lapar.
“Mereka datang!” kata Isul.
“Ya, mereka datang, tikus-tikus itu....”
“Babi-babi itu....”
“Hadang!”
“Lempar!”
“Jangan!”
Begitu saja, gerombolan anak-anak muda di pos ronda itu berloncatan ke jalan raya. Terdengar rem mencericit dan dentang benda keras beradu. Kaca-kaca berhamburan. Anak-anak muda yang marah dan lapar itu beringas berteriak, “Gilas mereka! Gilas! Jangan kita terus yang digilas!”
Peristiwa itu pun menjadi cerita baru yang menyertai wabah di kampungku!
Rumahlebah Yogyakarta, Agustus-November 2008
http://www.korantempo.com/
PADA awal 1980-an, ketika kelompok tani dan kelompencapir (kelompok pendengar, pewicara, dan pemirsa) mulai menjamur, sudah seharusnya kampungku mengadakan panen raya dengan hasil yang jauh lebih baik. Maklum, sebuah bendungan di bagian hulu sungai baru saja diresmikan di tahun 1976 oleh Ir. Sutami, Menteri Pekerjaan Umum dalam kabinet Soeharto. Empat kali berturut-turut sejak peresmian, hasil panen memang melimpah. Namun, tak lama kemudian, secara ajaib, panen kami hancur-lebur. Saat itu, wabah mencengkram kampungku: hama tikus merajalela, gangguan babi menjadi-jadi. Gagallah panen tahun-tahun itu, menyebabkan tak seorang pun memiliki segoni dua goni padi. Dan kami hanya punya tengkulak--wabah lain yang mengerikan!
Kini, daerahku kembali paceklik. Siklus berulang. Kali ini bukan hanya panen yang gagal, tapi hidup kian sulit pula, dalam segala hal. Harga-harga kebutuhan pokok melonjak tajam. Pupuk dan obat tanaman tak terjangkau. Banyak orang kampungku memutuskan pergi merantau, tapi tak lama kembali terdampar pulang. Tampaknya “wabah” hidup susah sudah merajalela ke mana-mana. Tapi tetap saja aku merasa, kampungku paling parah. Dari catatan lembaga sosial, jumlah anak kurang gizi (lebih tepat kurang makan) meningkat di daerahku. Perut mereka membuncit dan mata mereka melotot sedih. Setiap rumah hanya punya setekong dua tekong beras saja dan tidak mampu menambahnya sesuai dengan kebutuhan penghuninya. Saat beginilah, cerita-cerita seputar wabah hampir 30 tahun lalu itu kembali menyeruak seolah baru saja terjadi.
JIKA benar cerita dapat jadi pelipur lara pelerai demam, maka itu dibuktikan oleh orang kampungku dengan menghidupkan cerita-cerita yang mulanya memancing gelak tawa. Meski gelak tawa yang sedih. Di tengah hidup susah, mereka masih ingat kisah “tudung periuk dalam kuali” yang terjadi berapa waktu sebelum hama tikus menghantui.
Adalah Mak Roji, yang suaminya sudah meninggal, tinggal dengan enam anak. Anak-anak itu, maaf, seturut istilah orang kampung, “bodoh-bodoh”; dua orang tumbuh sebagai anak yang terganggu jiwa, yang lain punya tingkah aneh-aneh, seperti suka berjoget di keramaian. Menurut sahibul hikayat, mereka selalu bertengkar kalau mau makan. Ada-ada saja yang mereka pertengkarkan. Misalnya, nasi siapa paling banyak. Biasanya mereka bertimbang nasi di pinggan, dan ditaruh di atas telapak tangan, dan mana yang dianggap lebih berat itulah yang diperebutkan.
Hari itu, seperti biasa Mak Roji bersiap-siap ke sawah. Yang tidak biasa adalah masakannya hari itu. Ia masak nasi banyak sekali, maklum baru saja usai panen. Uap nasi dari beras baru mengepul wangi ke udara. Ia pun menggulai ikan campur paku, pastilah enak sekali. Tetapi anak-anak yang disuruh makan masih juga bertengkar, padahal hari untuk ke sawah sudah tinggi. Mak Roji akhirnya dengan geram mengambil nasi seperiuk dan memasukkannya ke dalam gulai paku di kuali. Dengan cara itu, tanpa rasa bersalah ia makan dengan lahapnya. Anak-anaknya yang tadi bertengkar hanya terdiam melihat ulah si emak. Mungkin mereka tak menduga bahwa nasi dan gulai sebanyak itu bisa habis sekali duduk dimakan orang seorang.
Lagi pula Mak Roji sampai hati betul, sebutir nasi pun tak ia sisakan, setangkai paku pun tak terbuang. Malah, demikian cerita orang-orang itu sambil mulai tertawa, Mak Roji masih sempat mengambil singkong rebus yang mengepul di hadapan anak-anaknya. Semua anak melongo bodoh, mungkin juga takjub, sehingga tak sadar kalau tangan si emak sudah meraih wadah dari hadapan mereka. Mereka baru sadar ketika si emak kepanasan singkong rebus, dan untuk menjaga wibawa tak mungkin ia semburkan ke luar, meski juga tak mungkin ia telan. Maka untuk menghembuskan hawa panas di mulutnya, Mak Roji berkata, “Ayo ke sawah, hah!” (Sampai di sini, orang yang bercerita dan yang mendengar sama meledak tawanya.) Lalu, setengah membuang muka yang sempat panik, Mak Roji menyambar peralatannya ke sawah dengan langkah seperti bebek pulang petang. Tawa orang-orang itu pun bertambah-tambah.
Singkat cerita, besoknya, tanpa ada sakit, Mak Roji meninggal dengan tenang. Tetapi cerita tentang “tudung periuk dalam kuali” terus menyertai. Yang menarik, enam anak Mak Roji silih berganti bercerita bahwa sebelum mak mereka meninggal dunia, ada isyarat tertentu yang disampaikannya. Sehari sebelum meninggal, perempuan kuat perkasa itu sempat menunjuk-nunjuk puncak Bukit Talau, yang memang tampak belaka dari sawahnya. Apa artinya? Beberapa orang bertanya sekadar iseng dan anak-anak Mak Roji berebut menjelaskan, seolah berebut pinggan.
“Beliau berpesan sering-seringlah memandang Bukit Talau,” kata si sulung.
“Untuk apa pula?” tanya seseorang, seraya melayangkan pandang ke Bukit Talau, sebuah bukit paling tinggi di kampungku, bagian dari Pegunungan Barisan.
“Banyak gunanya. Melihat awan, meninjau hujan....”
“Menghibur hati yang rawan, hahaha.... Ayo, Buyuang, tiup serulingmu!” kata seseorang. Dan orang kampung lainnya tertawa.
Kata si bungsu, yang agak pintar: “Di puncak Bukit Talau ada inyiak balang, jadi hati-hatilah kalau ke ladang!”
Orang-orang terdiam, tetapi seseorang menyela, “Tentu saja. Sejak dulu di sana inyiak berumah. Katakan kau sendiri yang takut....”
“Kalau soal inyiak saja awak tak takut. Tapi kata Mak, di puncak Talau juga ada bigau, ia akan turun menghalau celeng gembalanya....”
Orang-orang kembali terdiam, beberapa mulai gelisah.
“Kata Mak, bapak tidul-tidulan di puncak Talau, dekat batu belbentuk huluf waw,” kata si anak yang dianggap cadel dan terganggu jiwanya. “Kalau mau bigau tak tulun, bakal kemenyan bial bapak bangun kena asapnya, dan mencegah bigau menghalau celeng gembalaannya. Hus, hus, jangan tulun, kata bapak!”
“Di sana juga ada batu belah batu bertangkup, tapi ndak mau menyungkup badan Mak, sebab beliau yang menghabiskan makanan sekuali....” kata anak yang suka berjoget.
Pada bagian ini, biasanya orang-orang kembali meledak tawanya. Tentu saja, sebab cerita batu bertangkup di kampung kami merupakan cerita mengharukan. Seorang ibu yang bersedih disungkup batu belah saat sembunyi di sana. Hanya saja, itu disebabkan anak-anaknya yang durhaka: menghabiskan makanan sampai tak ada yang bersisa. Nah, dalam cerita Mak Roji, si ibu yang justru menghabiskan makanan!
Kata si sulung, agak malu, “Sebenarnya Mak minta kami menyimak suara dari Bukit Talau....”
Orang-orang tersenyum geli, tak hendak memperpanjang lagi pertanyaan. Sebab suara apa pula yang hendak disimak dari sana? Tapi aneh, beberapa pekan kemudian Bukit Talau memang bertingkah aneh. Malam-malam, terdengar gema suara di puncaknya, kadang gemuruh, kadang bunyi angin kencang, kadang desau yang tak kunjung hilang. Ada apa gerangan? Semua orang melepas pandang ke puncak Talau dan bukit-bukit sekitar. Tak ada yang berubah. Bukit Talau masih seperti dulu: tegak runcing dengan dua pucuk, seperti huruf M, yang satu lebih rendah dan yang lain agak sumbing. Jalan setapak peladang dan perimba masih melingkar di sisi-sisinya, seperti ular dalam kabut. Beberapa pondok bertengger, serupa sarang burung di dahan pohon besar. Beberapa pohon yang memberi bentuk pada Bukit Talau--karena besar dan rimbunnya--toh masih berdiri, tak mengubah pemandangan.
Orang-orang mulai cemas, dan segera teringat cerita “ular selingkar gunung”.
ALKISAH di Bukit Talau hidup seekor ular besar peliharaan Nenek Tatak, perempuan bagak, pemberani. Tahun-tahun itu, hanya dia yang berladang di puncak Bukit Talau, sedang yang lain hanya sampai di kaki dan pinggang bukit. Tentu bukan bukit yang tinggi membuat orang ciut nyali, tapi di situ bersarang harimau dan mungkin juga bigau (sebagaimana dikatakan si pintar anak Mak Roji). Menurut cerita, harimau tinggal di ngalau atau gua (mungkin ini yang dimaksud si tukang joget Mak Roji dengan batu belah batu bertangkup; atau yang dimaksud si cadel dengan batu huruf waw, dan dipercayainya bahwa arwah ayahnya di sana, jika merunut penghormatan orang kampung pada harimau sebagai “leluhur”).
Ah, lupakan dulu anak-anak Mak Roji sebab cerita Nenek Tatak sebenarnya tak ada hubungannya dengan harimau atau bigau, tikus dan babi, ini cerita tentang mimpi-mimpi--sekadar menghibur cemas hati!
Tiap hari Nenek Tatak bekerja di ladang, menajak rumput, menanam labu dan pisang. Ia baru akan beristirahat tengah hari dengan mengunyah sirih. Menjelang petang ia pulang, menuruni jalan setapak yang melingkar-lingkar. Suatu hari, saat beristirahat di bawah pohon jengkol, seekor ular kecil--orang kampung menyebut “sebesar batang korek api”--menyusup ke dalam kotak sirih sang nenek. Saat hendak mengambil sirih, ia singkirkan ular itu hati-hati, tapi sebentar hewan itu kembali menyusup, bahkan lebih dalam sampai ke balik pinang dan gambir. Setelah tiga kali begitu, si nenek akhirnya membiarkan ular itu ikut dengannya. Mula-mula dibiarkannya tinggal di dalam kotak sirih, sesekali dimasukkannya ke dalam tengkuluknya, sampai tak muat lagi. Ia pindahkan ke dalam tas rotannya. Hari demi hari si ular kian besar juga, dan akhirnya dibiarkannya tinggal di rumah. Orang kampung mulai takut, dan menyebar kabar bahwa Nenek Tatak punya anak seekor ular. Ia yang memang hidup sebatang kara itu sebenarnya tahan terhadap gunjing dan cercaan, tapi tak sampai hati jika si ular sampai menanggung akibatnya. Namun badannya sudah besar. Maka si ular mesti dipindahkan.
Tak mungkin si nenek menggendongnya, maka mereka harus berjalan beriringan sebelum orang-orang memergoki mereka. Bagi yang diam-diam sempat melihat, perjalanan itu tampak menyedihkan. Seperti sepasang ibu-anak. Terasa sekali mereka tak ingin berpisah. Tapi takdir berbeda. Akhirnya si ular dilepas ke belantara Bukit Talau.
Konon, bertahun-tahun kemudian, Nenek Tatak bermimpi bahwa si ular yang ia pelihara sejak “sebesar anak korek api” itu kini telah berubah jadi ular raksasa yang melingkari Bukit Talau. Dalam mimpi itu, si ular meminta supaya Nenek Tatak sudi mendatanginya lewat kepala di bagian puncak bukit yang sumbing. Sebelum mimpi berakhir malam itu, si ular mengangakan mulutnya, dan tampaklah benda sebentuk cincin sewarna permata! Si nenek menceritakan mimpi itu kepada beberapa orang, dan tak ada yang menolak ketika Angku Jurtatap yang ahli takwil meminta Nenek Tatak datang ke sana. Itu cincin Sicindai, kata si angku, banyak manfaat jika dipakai. Itu sama dengan rantai bertuah si bigau. Tapi si nenek menolak, bukan tak percaya mimpi, bukan sudah tak kuat mendaki, tapi hanya tak ingin balas jasa.
Pada malam berikutnya, mimpi yang sama datang kembali, dan si nenek tetap menolak. Setelah tiga kali menolak, terdengar suara, serupa gema, “Baiklah Nenek tua, engkau orang yang ikhlas. Emas permata tak engkau cari, balas budi tak diharap. Tapi biarkanlah aku melindungi nagari di selingkar Bukit Talau. Simak jika ada isyarat dariku, itu pertanda akan terjadi bahaya atau bencana!”
Dan benar: isyarat itu, gema dan gemuruh itu, jadi pertanda datangnya wabah!
ISYARAT itu akan menemukan titik terang apabila kita masuk ke dalam cerita berikutnya, yakni tentang “pasukan tikus menyeberangi jalan.” Adalah seorang sopir di kampungku yang konon pernah menyaksikan peristiwa ajaib itu. Pak Mua, nama sopir itu, sudah tua dan sakit-sakitan. Ini perlu dikemukakan sedikit, sebab lantaran sudah tua dan sakit, tidak seorang pun akan menanyakan lagi kebenaran ceritanya. Jika pun ia masih sehat, sebenarnya juga tak bakalan ada yang mendatangi, sebab cerita itu sudah menjadi cerita dari mulut ke mulut, dan boleh jadi jika Pak Mua ditanya, ia juga menyebut nama seorang lain sesama sopir yang mengalami langsung peristiwa seperti disebut dalam cerita. Begitu seterusnya. Cerita di kampung bukan soal sumber utama, bukan soal benar atau tidak, tapi bagaimana cerita itu mengalir sampai jauh. (Kini “hak paten” cerita itu dipegang oleh bekas kernet, Serel, yang masih bersemangat menceritakan kembali meski ia mengaku melihatnya setengah kabur sebab ketika itu ia baru bangun tidur.)
Begitulah, konon, sebelum panen gagal karena diserang tikus, Pak Mua melihat kejadian aneh tak lama berselang setelah musim tanam tahun itu. Sebagai sopir truk jarak jauh, yang mengangkut semen dari Padang ke Bengkulu, ia biasa melaju malam. Selepas tikungan Jaring Punai yang lengang, Pak Mua melihat sesosok bayangan aneh yang tak pernah ia lihat sebelumnya: kecil dan cebol untuk ukuran manusia. Ia mengibaskan tongkatnya yang diartikan Pak Mua sebagai permintaan agar truknya berhenti. Benar. Setelah truk berhenti, melintaslah beribu-ribu ekor tikus yang digembalakannya. Tikus-tikus itu berbaris rapi menyeberangi jalan, dan karena jumlahnya banyak, sampai tak terasa sudah ada sejumlah kendaraan yang terpaksa berhenti di belakang truk Pak Mua, serta kendaraan lain yang datang dari arah berlawanan. Semua memilih berhenti dan memberi jalan kepada pasukan tikus menyeberangi jalan.
Sesampai di rumah makan, para sopir berkumpul dan setengah menggigil bertanya tentang kejadian apa gerangan yang barusan mereka saksikan. Mereka sungguh tak paham. Berbagai tafsir pun mengumandang. Ada yang berpendapat si tikus berusaha pindah tempat sebab tempat sebelumnya sudah diaduk-aduk oleh orang proyek yang membuat bendungan. Ada yang bilang, pasukan tikus itu kini datang untuk membalas dendam. Ada yang menghubungkannya dengan Nabi Sulaiman: mungkin sang Nabi tak ingin ada satu pun makhluk teraniaya. Sebagian bilang, itu akibat dari upacara “obat padi” yang tak ada diselenggarakan lagi.
Ya, menyangkut kepercayaan pada upacara memang bisa jadi alasan sendiri. Sejak peresmian bendungan, prosesi turun ke sawah tidak lagi memakai perlengkapan yang disyaratkan: sesaji dan bunga-bunga. Para petani mulai jalan sendiri, suka berebut air, siapa cepat ia dapat dan musim tanam jadi tak serentak. Biasanya, berkat hujan dari langit, turun ke sawah milik bersama: para tetua membawa “obat” padi dari daun-daun dan pucuk tumbuhan, dihantarkan lewat pematang hingga sampai ke tengah sawah. Mantra-mantra keselamatan menggemaung. Semua makhluk semesta terasa agung: tikus tidak disebut tikus, tapi puti, artinya putri; babi disebut urang elok, artinya orang baik-baik; dan hanya berang-berang yang tetap disebut dengan berang-berang; dia toh tidak merusak padi, hanya membuang muntahan sisik ikan atau berak di pematang.
Setelah kejadian “pasukan tikus menyeberangi jalan” itu padi-padi di kampungku puso, hama tikus merajalela.... Jika itu benar campur-tangan Nabi Sulaiman atau Khaidir, maka, maaf saja, itu bukan campur tangan yang membawa berkah, Saudara.
KINI, tanpa isyarat dan aba-aba, wabah hama tikus kembali melanda kampungku dan kampung-kampung sekitarnya. Ini diperparah oleh “wabah” harga dan segala sesuatu menjadi langka. Harga-harga naik, minyak tanah tak ada. Pencurian meningkat. Dua hari yang lalu, pencuri bahkan membawa pergi periuk ibuku yang masih berisi nasi, di atas tungku. Di desa sebelah, seorang tengkulak diamuk warga karena menolak meminjamkan uang atau padi. Katanya, sudah tak ada modal lagi. Tapi warga yang terlanjur sakit hati tak bisa terima. Di tengah situasi sukar inilah, cerita-cerita kecil hampir tiga puluh tahun yang lalu, yang menyertai wabah di kampungku, kembali diminati. Aku sendiri tak tahu apakah ada hubungan antara cerita dulu dengan keadaan kini.
Ya, cerita-cerita itu kembali menyertai wabah di kampungku. Besar-kecil pada mempercakapkannya. Meski mereka lebih banyak mengomentari jalan cerita sesuai situasi sekarang. “Mengapa Pak Mua tidak menggilas saja tikus-tikus itu?” kata seorang anak muda di pos ronda, di tepi jalan raya.
“Hus! Tidak digilas saja keadaan sudah begini,” yang lain menimpali.
“Itu karena kita tak melawannya. Mestinya dihadapi, jika perlu sekalian dengan si bigau cebol pimpinan mereka itu,” ia meradang.
“Husni! Jangan terlalu kasar. Ia bertelinga bumi,” Kudal, si tukang cerita minta pengertian Husni.
“Kau masih peduli, Kudal? Dari tahun ke tahun kita begini. Sudah empat kali mestinya panen, hanya padi hampa. Untuk rokok saja kita menyetop mobil lewat!”
“Aku tak mau lagi memanggil tikus dengan puti, celeng dengan urang elok, bahkan harimau dengan inyiak balang,” kata Kutir dingin.
“Aku juga tak mau lagi. Kita saja yang menghormati mereka, sedang mereka tidak,” Mawi yang pendiam tampak menahan geram.
“Inyiak balang mengamuk karena semua hutan dijadikan ladang gambir, bahkan sampai ke puncak Bukit Talau. Makanya tak ada lagi suara-suara dari sana,” kata Kudal.
“Percuma. Wabah datang tak diundang, semuanya tiba-tiba. Apa yang dapat dilakukan saat harga sembako naik, meski jika semalaman Bukit Talau bergemuruh?”
“Dan apa pula komentar kau tentang tikus dan babi-babi?” desak yang lain.
“Sudah lama tak ada upacara obat padi di kampung kita,” Ikal yang menjawab.
“Tutup mulutmu, Kepinding! Dari dulu kita berupacara menyambut semuanya. Mulai dari Pemilu sampai peresmian jamban. Apa hasilnya?”
Mereka yang bergerombol di pos ronda mulai tegang. Mereka mulai bosan pada cerita-cerita yang menyertai wabah. Ada raut kesal kepada teman-teman sendiri yang semula dianggap fasih bercerita, sekarang tampak sebaliknya: terlalu larut dalam cerita. Mereka marah dan mual, meski sebenarnya lebih terarah pada keadaan. Saat itulah, iring-iringan kendaraan rombongan Pemda dan DPRD kabupaten kami lewat untuk sebuah kunjungan kerja di Balai Selasa, kecamatan di selatan. Ada peresmian mesjid sumbangan perantau, sekaligus peletakan batu pertama pembangunan SPBU milik ipar bupati. Bunyi sirene meraung-raung, seperti mengejek kampung-kampung yang lapar.
“Mereka datang!” kata Isul.
“Ya, mereka datang, tikus-tikus itu....”
“Babi-babi itu....”
“Hadang!”
“Lempar!”
“Jangan!”
Begitu saja, gerombolan anak-anak muda di pos ronda itu berloncatan ke jalan raya. Terdengar rem mencericit dan dentang benda keras beradu. Kaca-kaca berhamburan. Anak-anak muda yang marah dan lapar itu beringas berteriak, “Gilas mereka! Gilas! Jangan kita terus yang digilas!”
Peristiwa itu pun menjadi cerita baru yang menyertai wabah di kampungku!
Rumahlebah Yogyakarta, Agustus-November 2008
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel GarcÃa Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati