Tampilkan postingan dengan label Bandung Mawardi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bandung Mawardi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Januari 2018

Afrizal Malna: Bahasa adalah Hantu yang Mengancam

Bandung Mawardi
Suara Merdeka, 25 Jan 2oo8

Bahasa adalah hantu untuk memberi ancaman hidup dan mati atas kelahiran puisi. Afrizal terus mengurusi bahasa sebagai dalil dan risiko. Eksplorasi dan eksplanasi tentang bahasa bertebaran dalam tubuh puisi.. Afrizal dalam puisi-puisi lama tampak mengimani dan mengamini bahasa melawan rezim. Puisi-puisi lama Afrizal kerap mengandung “dendam di setiap akhir kalimat”. Dendam itu perlahan menyusut dalam puisi-puisi mutakhir.

Sabtu, 28 Juni 2014

Buku dan Pengisahan Proklamasi

Bandung Mawardi *
www.solopos.com, 16 Agu 2012

Sejarah bertaburan kisah. Sejarah memerlukan pengisahan. Indonesia bergerak di arus sejarah. Para pengisah memberi rujukan untuk pembukaan kembali halaman-halaman masa silam.

Kompetensi dan penggunaan bahasa dari para pengisah menentukan keberterimaan atau curiga. Kita justru bisa ada di persimpangan jalan saat para pengisah menyuguhkan perbedaan dan pertentangan.

Senin, 05 Agustus 2013

Imajinasi Subversif dan Iblis

Judul : Ular di Mangkuk Nabi
Penulis : Triyanto Triwikromo
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta\
Cetak : 2009
Tebal : xii + 168 halaman
Peresensi: Bandung Mawardi
Lampung Post,11 Okt 2oo9

Kamis, 24 Mei 2012

Umar Kayam: Pokok dan Tokoh

Bandung Mawardi
Kedaulatan Rakyat, 24 Mei 2oo9

Umar Kayam (1932 - 2002) adalah pokok dan tokoh dalam sastra, seni, kebudayaan, dan ilmu sosial. Nama ini menjadi bab penting dalam biografi kebudayaan Indonesia. Tokoh ini memang moncer untuk pelbagai hal dan memberi “sihir wacana” untuk publik. Orang berhak membaca dan menilai Umar Kayam karena cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, novelet Sri Sumarah dan Bawuk, novel Para Priyayi, dan novel Jalan Menikung. Orang berhak mengenali secara intim sosok Umar Kayam dalam kumpulan kolom Mangan Ora Mangan Kumpul, Sugih Tanpa Banda, Madhep Ngalor Sugih Madhep Ngidul Sugih, dan Satrio Piningit ing Kampung Pingit.

Sabtu, 24 Maret 2012

Tamsil Puitik Gamelan

Bandung Mawardi *
http://www.solopos.com/

Politik Indonesia sedang kisruh, sirna etika politik dan pudar sensibilitas kultural. Para politisi mirip tukang omong, saling sindir, mengecam dan mengejek. Elite membuat alibi atas dosa politik, sesama pengurus partai politik saling menebar fitnah dan hujatan, para manusia parlemen juga membuat proteksi politis agar selamat dalam sangkaan pelanggaran etika. Kondisi ini merisaukan, membuat kita alpa sejarah politik dalam bingkai selebrasi seni tradisional.

Selasa, 11 Oktober 2011

Acep Zamzam Noor: Gairah Sunyi Mencari Arti Abadi

Bandung Mawardi
http://www.lampungpost.com/

AMIR Hamzah menjadi penyair awal yang fasih menuliskan sunyi dalam religiositas dan kisah cinta. Buku puisi Nyanyi Sunyi (1935) adalah babak penting dalam perpuisian Indonesia modern yang intens mengisahkan sunyi.

Amir Hamzah menuliskan pengertian: Sunyi itu duka/Sunyi itu kudus/Sunyi itu lupa/Sunyi itu lampus.

Sunyi adalah representasi dan realisasi eksistensi manusia dalam pelbagai peristiwa, kondisi, dan kisah. Sunyi mengantarkan manusia dalam religiositas dan kisah cinta manusia. Sunyi menjadi ciri penting puisi Indonesia modern yang terus diwarisi dan dituliskan penyair-penyair mutakhir.

Puisi-puisi sunyi Amir Hamzah menjadi bukti pergulatan penyair mangartikulasikan sunyi sebagai kondisi yang terkatakan atau terbunyikan. Amir Hamzah menjadikan puisi dari sunyi ke bunyi. Bunyi yang sunyi. Puisi Padamu Jua adalah puisi yang mengabarkan kisah manusia yang ingin intim dengan Tuhan. Kondisi batin direpresentasikan dengan kata-kata keras dan lembut yang memuncak dalam sunyi.

Sunyi adalah kisah dan kasih dalam religiositas. Amir Hamzah dalam bait akhir menuliskan: Kasihmu sunyi/Menunggu seorang diri. Sunyi dalam puisi-puisi Amir Hamzah adalah kondisi dalam dan luar yang ingin menguji dan menantang eksistensi manusia.

Puisi-puisi sunyi pun dituliskan Sapardi Djoko Damono dalam buku puisi DukaMu Abadi (1969). Religiositas menjadi ruh dalam buku itu yang ditulis Sapardi dengan lirik-lirik sunyi.

Sapardi sebelum fase DukaMu Abadi sudah menuliskan sunyi dalam puisi Pada Suatu Malam (1964). Sunyi dalam puisi itu diartikan dengan acuan kondisi hidup yang menggelisahkan. Gelisah itu memuncak dalam pengertian: barangkali hidup adalah/doa yang panjang, dan sunyi adalah minuman keras.

Sapardi dalam puisi Prologue mengisahkan religiositas manusia yang ingin intim dengan Tuhan. Puisi itu mengacu pada kuasa Tuhan dan babak-babak sejarah penting kehidupan manusia yang direpresentasikan dalam kisah Qain dan Bukit Golgota. Konklusi dari kisah itu adalah “sepi manusia”.

Puisi-puisi sunyi religius yang diawali Amir Hamzah lalu Sapardi Djoko Damono dilanjutkan Acep Zamzam Noor dengan puisi-puisi sunyi dalam kisah cinta. Membaca buku puisi Menjadi Penyair Lagi (2007) Acep adalah membaca sunyi yang bertebaran. Buku itu mengabarkan puisi masih sanggup mencatat dan mengekalkan sunyi.

Buku itu memuat puisi-puisi awal Acep yang berada dalam alur puisi-puisi sunyi, yakni kumpulan puisi bagian pertama yang berjudul Ada yang Belum Kuucapkan.

Sunyi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005) diartikan sebagai tidak ada bunyi atau suara apa pun; hening; senyap; kosong; tidak ada orang; lengang; sepi. Pengertian itu bisa menjadi instrumen untuk membaca dan menginterpretasikan puisi-puisi Acep Zamzam Noor.

Sunyi terbaca dalam puisi Tak Bisa Kulupakan (1979) yang mengisahkan keinginan aku lirik melupakan pelbagai hal, kisah, suasana, dan peristiwa hidup. Keinginan itu sampai pada negasi-afirmasi bahwa ada ketidakmungkinan melupa terhadap “sepi yang sendu”.

Puisi Kuhitung Detak Jam (1981) yang dengan fasih mengisahkan sepi dalam pengalaman waktu. Sepi adalah pengalaman dalam waktu yang susah tertandai dalam hitungan waktu definitif. Sepi membuat manusia merasa lama atau sesaat yang cenderung teralami dalam waktu fenomenologis.

Acep menulis: Kenapa sepi/Padaku seakan menagih janji. Sepi adalah kondisi dalam waktu yang mengandung tuntutan untuk menagih janji.

Sepi dalam puisi itu adalah pengalaman diri dalam waktu yang tergesa. Acep menuliskan sunyi yang eksistensialis dalam puisi Kwatrin Sunyi (1981). Kondisi alam dan kondisi diri berada dalam relasi manifestasi: Hutan sunyi dan senyap, hati pun rindu dendam.

Sunyi dan senyap terpahamkan sebagai kondisi yang memungkinkan ada represi untuk perasaan-perasaan yang ingin lekas terealisasikan. Sunyi yang represif itu ingin disimpulkan dalam baris penutup: Sepi dalam hatimu: sepi pun menjadi rahasia. Sepi adalah rahasia yang teralami secara personal dan tertutup. Sepi dalam puisi itu berbeda dengan sepi dalam puisi Sebuah Lagu (1981) yang terkesan menjadi pengalaman personal.

Penyair dengan simbolis menuliskan pengalaman sepi dalam hutan puisi. Sepi dalam hutan puisi menjadi puncak pengalaman yang eksistensialis karena hadir dalam rahasia-rahasia kata dan makna.

Sunyi sebagai puncak kisah cinta dituliskan Acep Zamzam Noor dalam puisi Sajak yang Lahir dari Senyuman Ria Soemarta (1982). Penyair dengan definitif menjadikan sunyi sebagai konklusi peristiwa dalam kisah cinta.

Kisah cinta yang berakhir dengan sunyi kerap menjadi penerjemahan cinta yang memuncak dan sublim. Pemaknaan sunyi dilanjutkan Acep dalam puisi Masih Buat Ria Soemarta (1982). Puisi ini mengabarkan sunyi adalah puncak pencerahan cinta. Kesadaran waktu atas sepi dari cinta mengantarkan aku lirik dalam sembilu atau kesedihan mendalam.

Kesedihan itu semakin membuktikan bahwa cinta adalah perubahan dan cinta bakal memupuskan sepi yang sia-sia. Acep menuliskan dengan cinta: Hidup akan berubah karenanya, jadi lebih bicara/ Dari sekadar sepi yang sia-sia.

Puisi-puisi awal Acep Zamzam Noor eksplisit menunjukkan pergulatan tematik atas kisah cinta dan sunyi. Pergulatan itu terbahasakan dengan liris dan romantis.

Acep dengan kesadaran estetika membuktikan diri atas “gairah sunyi mencari arti abadi” (puisi Tangis Darah, 1982). Acep intensif bergulat dengan kesunyian yang “ingin sampai pada sunyi yang abadi” (puisi Desember, 1982). Babak awal perpuisian Acep Zamzam Noor tak mungkin melepaskan diri dari sunyi sebab “sunyi ini terus menyeru” (puisi Lagu Murni, 1982).

Acep Zamzam Noor adalah penyair sunyi yang terus menulis dan mengekalkan sunyi dalam puisi. Sunyi dalam puisi-puisi Acep Zamzam Noor adalah pengalaman-pengalaman manusia yang eksistensialis. Sunyi sanggup dibahasakan dan dikisahkan Acep Zamzam Noor dalam puisi yang liris dan romantis. Acep Zamzam Noor adalah penyair yang ada dengan “gairah sunyi mencari arti abadi”. Begitu.

*) Kritikus sastra dan peneliti di Kabut Institut (Solo).

Kamis, 29 September 2011

Seruan Foucault

Bandung Mawardi *
http://www.seputar-indonesia.com/

Filsafat abad XX mewarisi mozaik pikiran ganjil dan radikal ala Michel Foucault (1926–1984). Tokoh ini mengantar suguhansuguhan filsafat impresif,mendulang gagasan aneh, dan mengucap dalam bahasa pekat.

Foucault membeberkan pelbagai ihwal lakon peradaban abad XX mengacu babakbabak historis.Konon, semua gagasan itu bermula dari pandangan sejarah ala Foucault. Sejarah itu selalu berupa genealogi dan intervensi. Perubahan adalah niscaya dalam ranah pengetahuan dan model pemahaman. Arus pemikiran Foucault jadi menu signifikan untuk gairah filsafat mutakhir.

Sekian buku produksi Foucault: Madness and Civiliztion: A History of Insanity in the Age Reason,The Birth of the Clinic: An Archaeology of Medical Perception,The Order of Things: An Archaelogy of the Guman Sciences,The Archaelogy of Knowledge, Disiplin and Punish,dan The History of Sexuality.

Sekian buku ini mengguncang filsafat abad XX. Ikhtiar membaca dan menafsirkan pokok-pokok filsafat Foucault terus berlangsung sampai abad XXI.Pembacaan tak pernah rampung, eksplanasi tak pernah selesai,dan pemahaman selalu tak utuh. Publikasi buku berjudul Agama, Seksualitas,Kebudayaan ini jadi menu pelengkap atas buku-buku moncer Foucault. Pengumpulan serpihan gagasan jadi mengejutkan tatkala ditautkan dengan konstruksi gagasan-gagasan besar di zaman mutakhir.

Foucault dalam jangkauan sejarah agama abad XV dan XVI menemukan ada sikap penolakan umat terhadap iblis. Kalangan pemegang otoritas agama Kristen seru mendebatkan keberadaan dan bentuk penampakan iblis.Perdebatan berurusan dengan iman, gereja, dan nasib peradaban.Tema iblis ini mengandung sengketa kebenaran dan pemaknaan dosa. Foucault menganggap babak sejarah itu sebagai “perdebatan pelik tentang jenis kebenaran ilusi.”

Pengalaman beragama dan tafsir agama rentan dengan seteru mengandung ilusi. Klaim-klaim kebenaran agama jadi rapuh dan ringkih. Foucault juga menjelaskan makna agama dalam relasi seks, tubuh, dan dosa.Ajaran seksualitas dalam kitab suci kadang mengaburkan prosedur pemaknaan spiritualitas. Konsep tubuh dalam dosa, sinisme atas seksualitas, dan kuasa dosa tebarkan ketakutan- trauma berkepanjangan.

Penegatifan ini justru mengalpakan manusia dari kehendak mengarahkan diri menuju cinta ilahi.Tabu, larangan,dan mitos mengakibatkan laku seksualitas identik dosa: menjauhi orbit agama. Sejarah kelam pemikiran seksualitas ini direcoki Foucault melalui pembukaan selubung rasionalitas dan imajinasi. Erotisme dalam sejarah peradaban Eropa identik dengan peremehan dan stigma.

Foucault malah mengundang orang merefleksikan seksualitas sebagai basis kebudayaan. Seruan ini melampaui kegenitan filsafat erotisme dan pengekangan politik seksual. Bahasa menjadi medium ungkap kritis: mengurai dan mengalami seksualitas. Bahasa adalah undangan filosofis. Foucault menganggap kemunculan seksualitas dalam peradaban modern adalah “peristiwa” bergelimang nilai: terang dan samar.

Pandangan ini berkenaan kematian Tuhan dan kehampaan ontologis di batas pemikiran manusia. Pembungkaman sistematis atas diskursus seksualitas mirip represi kehendak untuk manusia memeriksa diri dan merasai sakralitas seksualitas. Konsekuensi telak adalah bahasa “dierotiskan” selama hampir dua abad (XIX dan XX). Semesta bahasa menyerap, mengubah,dan menempatkan seksualitas dalam kekosongan tanpa daulat manusia.

Seksualitas sebagai persoalan fundamental mendapati godaan dan pengukuhan. Kontradiksi dalam diskursus seksualitas selalu ada tanpa keterselesaian tafsiran. Foucault telaten sebarkan seruan filsafat seksualitas dalam agenda agama dan peradaban modern. Seni erotis di Barat dianggap Foucault sesak ilusi dan paradoks. Seni erotis justru membuat orang tidak belajar bercinta, tidak belajar mencurahkan diri untuk kenikmatan, tidak belajar memproduksi kenikmatan melalui orang lain, atau tidak belajar mengintensifkan-memaksimalkan kenikmatan.

Seni erotis memang memberi tendensi kemunculan ilmu seksual tapi rentan kabur oleh dominasi pemikiran- pemikiran formalistik. Masyarakat Eropa menggandrungi ilmu seksual selama sekian abad. Kebenaran seksualitas cenderung dijadikan substansi agenda ilmu seksual ketimbang prosedur memperoleh intensitas kenikmatan.Corak ini memengaruhi pandangan dunia untuk pembentukan masyarakat modern di Eropa. Seksualitas adalah basis peradaban sekaligus aib untuk kerapuhan sistem filsafat Eropa.●

25 September 2011
Bandung Mawardi, Pengelola Jagat Abjad Solo

Senin, 30 Mei 2011

Llosa Menggairahkan Sastra

Bandung Mawardi
Suara Karya, 21 Mei 2011

GABRIEL Garcia Marquez dalam pidato penerimaan Nobel Sastra 1982 mengabarkan bahwa Amerika Latin adalah dunia kekerasan, konflik ideologi, kemiskinan, perang saudara, politik diktaktor, dan rezim militeristik.

Dunia semrawut ini membuat Marques melawan dengan kata-kata. Sastra adalah pilihan untuk menguak labirin aib. Sastra menjalankan peran sebagai mikrofon pencerahan, penyadaran, dan pembebasan dengan pertaruhan bahasa, imajinasi, dan ideologis. Publik dunia pun menerima pukau dari kerja sastra Marquez.

Amerika Latin telah menjelma pancaran sastra untuk dunia. Marquez tampil dengan pergulatan estetika realisme-magis dan menebar sihir sastra bagi pembaca. Pikat sastra Latin mengenalkan dunia pada kerja sastra dari Pablo Neruda, Octavio Paz, Miguel Asturias, Jorge Luis Borges, Alejo Carpentier, Carlos Fuantes, dan Mario Vargas Llosa. Sastra Amerika Latin semakin memberi takjub pada dunia dengan penerimaan Nobel Sastra 2010 pada Mario Vargas Llosa. Momentum ini menandai geliat sastra dalam alur perubahan di Amerika Latin. Gambaran dunia Amerika Latin ala Marquez perlahan menemukan aksentuasi berbeda melalui lembaran-lembaran sastra produksi Llosa.

Nama Llosa mungkin masih agak asing di publik sastra Indonesia. Terjemahan-terjemahan sastra Amerika Latin ke dalam bahasa Indonesia memang melimpah tapi pilihan-pilihan pengarang terbatas. Buku-buku Gabriel Garcia Marquez merupakan jumlah terbesar ketimbang buku dari para pengarang Amerika Latin. Nama Llosa memang tidak sepopuler sosok Marquez. Para penikmat cerpen bisa membuka kembali lembaran-lembaran terjemahan sastra dunia untuk menemukan nama peraih Nobel Sastra 2010.

Nirwan Dewanto (1999) menyebut nama Llosa saat membincangkan ledakan sastra Amerika Latin bagi pembaca sastra dunia. Mario Vargas Llosa hidup dalam dunia represif kolonialis. Llosa mafhum fiksi mengandung watak subversif. Llosa pun menulis dengan kesusahan membedakan antara fiksi dengan realitas. Fiksi di dunia Amerika Latin menjangkiti dan meresap ke pelbagai ranah pengetahuan. Llosa memberi makna dunia Amerika Latin itu dengan kerja “novelisasi kehidupan.”

Llosa semakin membesarkan pancaran sastra Amerika Latin. Pengarang kelahiran 28 Maret 1936 ini menjadi juru bicara perkembangan sastra Amerika Latin mutakhir. Sosok ini memiliki arti penting dalam pengisahan dunia Amerika Latin. Argumentasi dari Akademi Swedia menjadi ciri dari spirit sastra Amerika Latin:

“Llosa mampu membuat pemetaan struktur kekuasaan dan penggambaran tajam atas perlawanan, pemberontakan, dan kekalahan seseorang.” Argumentasi ini mesti diletakkan dengan situasi politik, sosial, dan kultural di Amerika Latin seperti dikhotbahkan oleh Marquez sejak tahun 1980-an. Llosa juga diakui sanggup membebaskan diri dari rezim sastra realisme magis sebagai ciri terpenting sastra Amerika Latin pada periode 1960-an dan 1970-an dengan Marquez sebagai lokomotif.

Kemenangan Llosa juga menyeret sejarah ideologis para pengarang di Amerika Latin. Llosa pernah bermusuhan dengan Marquez secara ideologis dan manifestasi sastra. Sejarah itu menjadi impas dengan pengakuan kedua pengarang sebagai tokoh sastra dunia. Marquez menerima Nobel Sastra 1982 dan Llosa menerima Nobel Sastra 2010. Waktu memang terpaut jauh tapi buku-buku mereka adalah pancaran kegelisahan sastra Amerika Latin dalam jagat politik-kacau dari zaman ke zaman.

Sosok Llosa mungkin menandai peta sastra dunia secara baku dan fragmentatif. Corak sastra Amerika Latin seolah menebar sihir dalam menentukan kebermaknaan sastra dalam pergaulan global. Nobel Sastra sebagai legitimasi atas proyek sastra dunia memang tak sepi dari tendensi politik-ideologis. Pelbagai curiga telah dialamatkan pada Akademi Swedia tapi alur pemberian Nobel Sastra masih mencirikan tentang konsensus dan standarisasi sastra kelas dunia.

Pidato Gabriel Marquez dengan titel Kesunyian Amerika Latin (1982) mungkin bisa memberi penjelasan tentang kebermaknaan sastra Latin dalam kancah sastra dan politik-identitas di dunia. Marquez menjelaskan bahwa nasib manusia-manusia Amerika Latin terpengaruhi oleh kolonialisme dan resistensi secara politik-kultural. Biografi Amerika Latin seolah ingin dikonstruksi oleh Eropa. Perlawanan dengan sastra menjadikan dunia Amerika Latin merupakan dunia instabilitas. Marquez mengatakan: “…mereka (Eropa) berusaha mengukur kami dengan meteran mereka sendiri. Mereka lupa bahwa hidup itu tidak sama bagi semua orang. Pencarian identitas kami sendiri itu sangat meletihkan dan berdarah-darah…”

Biografi identitas dalam cengkeraman politik-kultural ala Eropa inilah penentu dari spirit sastra Amerika Latin mengandung perlawanan, pemberontakan, pembebasan, dan penyadaran. Llosa menyerap spirit itu untuk dikabarkan pada dunia kendati memakai sastra dalam genre dan pengucapan berbeda dari dominasi realisme-magis. Dunia telah menabalkan Llosa sebagai suara sastra dunia dengan kesejarahan dan biografi Amerika Latin. Pancaran sastra Amerika Latin dan kerja sastra para pengarang Amerika Latin telah ikut mengubah dan mendadani dunia dengan gelimang imajinasi dan olah bahasa. Llosa adalah suara dari dunia Amerika Latin untuk menggairahkan sastra di pelbagai negeri demi perayaan atas perubahan nasib dunia. Begitu.

Bandung Mawardi, Pengelola Jagat Abjad Solo
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/05/llosa-menggairahkan-sastra.html

Rabu, 27 April 2011

Monumen Kata untuk Sitor Situmorang

Judul : Menimbang Sitor Situmorang
Penyunting : J.J. Rizal
Penerbit : Komunitas Bambu dan KITLV, Jakarta
Terbit : 2009
Tebal : xiv + 293 Halaman
Peresensi : Bandung Mawardi *
Lampung Post, 27 Des 2009

SITOR Situmorang dicatat sebagai pokok dan tokoh kesusastraan Indonesia modern oleh Subagio Sastrowardoyo, A. Teeuw, A.H. Johns, dan Harry Aveling dalam esai-esai panjang dan kritis. Sitor pun diakui sebagai penyair mumpuni dan cerpenis memukau dengan pergulatan identitas-kultural.

Jejak-jejak kepenyairan Sitor telah terekam dalam buku puisi Surat Kertas Hijau (1953), Dalam Sajak (1955), Wajah Tak Bernama (1955), Zaman Baru (1962), Dinding Waktu (1976), Peta Perjalanan (1977), Angin Danau (1982), Paris la Nuit (2001), The Rites of the Bali Aga (2001), Biksu Tak Berjubah (2004), dan Sitor Situmorang: Kumpulan Sajak 1948–2005 (2006).

Daftar buku puisi ini mengukuhkan pencapaian estetika puisi dari Sitor Situmorang sebagai penyair “si anak hilang”. Frase ini kelak mendapati gugatan karena Sitor sudah bukan “si anak hilang”, tapi menjadi “si anak belang-belang”.

Ikhtiar penghormatan dan pendokumentasian jejak kepenyairan Sitor secara intensif dilakukan oleh J.J. Rizal dan Komunitas Bambu (Jakarta) melalui seri penerbitan buku Sitor. Rizal sebagai penyunting buku Sitor Situmorang: Kumpulan Sajak 1948–2005 (2006) mengingatkan bahwa untuk bisa menilai Sitor secara proposional, harus ada pembacaan utuh terhadap puisi-puisi Sitor sebagai juru bicara penting. Pembaca mesti juga membaca cerpen, esai, lakon, dan autobiografi Sitor agar tak gegabah dalam menjatuhkan vonis dalam tendensi sastra atau politis.

Ikhtiar besar lalu dibuktikan dengan penerbitan buku Menimbang Sitor Situmorang (2009) sebagai dedikasi penghormatan terhadap Sitor untuk laku sastra. Penerbitan buku ini terlambat lima tahun dari rencana persembahan untuk hari ulang tahun ke-80 pada 2004.

Buku ini menghimpun esai-esai kritis, serpihan biografis, dan puisi-puisi dari A. Teeuw, A.H. Johns, Afrizal Malna, Alle G. Hoekema, Binhad Nurrohmat, C.H. Watson, D.S. Moeljanto, Farida Soemargono, Harry Avelling, Hasyim Wahid, Johann Angerler, Martina Heinschke, Muhammad Haji Saleh, Pranita Dewi, Radhar Panca Dahana, Sitok Srengenge, Subagio Sastrowardoyo, dan V.S. Naipul.

Buku ini seperti monumen kata untuk mengekalkan Sitor Situmorang. Penghadiran kembali esai klasik dari Subagio Sastrowardoyo dengan judul Manusia Terasing di Balik Simbolisme Sitor Situmorang mengingatkan pembaca pada puncak olah estetika Sitor dalam napas kosmopolitanisme. Sitor menjadi sosok ahli waris dunia dengan menerima warisan-warisan estetika dunia di Barat dan Timur untuk diolah dalam puisi.

Simbolisme menjadi kekuatan Sitor dalam tegangan lokalitas dan modernitas. Sitor juga merepresentasikan gairah pengarang dalam badai eksistensialisme dalam sastra Indonesia modern. Sitor adalah tokoh penting dalam puisi dan pencapaian puncak estetika telah membuat puisi-puisi Sitor pantas diabadikan sebagai penanda zaman.

Subagio Sastrowardoyo memberi konklusi bahwa puisi-puisi panjang Sitor membayangkan inti kemanusiaan sebagai orang yang sadar kehadiran di mana pun dan waktu apa pun, tapi tidak sanggup untuk mempertalikan diri. Puisi-puisi Sitor mengucapkan diri sebagai manusia terasing. Keterasingan ini tak membuat Sitor berhenti atau mati. Puisi-puisi justru terus mengalir meski usia senja.

Puisi jadi perlambang dari diri dan negeri dalam pergulatan identitas-kultural. Konklusi ini mendapat penguatan dari A.H. Johns yang mengungkapkan bahwa pergulatan identitas-kultural membuat Sitor ada dalam dua dunia dengan risiko: acuan kultural terhadap Batak telah hilang dan perasaan menjadi Indonesia sebagai identitas geokultural belum lagi matang.

Sumbangan puisi ikut menentukan posisi Sitor dan makna kehadiran dalam peta sastra Indonesia modern. Afrizal Malna mengabadikan Sitor dalam puisi Kuda Merah untuk Sitor: Sitor, 80 tahun seperti tempat tidur yang penuh gam-/bar. Hei, mulut waktu. Hei, sore yang menutup jendela./ Ibu sudah tidur. Kita bermain lagi. kita curi kuda merah/ milik leluhur. Hei, jangan ribut. Jangan berisik, ya. Nanti/ kita ditangkap para penjaga leluhur. Petikan puisi ini mengingatkan proses Sitor mencari jalan pulang ke “rumah kultural”. Petualangan di berbagai negeri telah membuat lelah. Rumah kultural (Batak) menjadi tempat untuk mengonstruksi ulang identitas kultural.

Perjumpaan V.S. Naipul dengan Sitor Situmorang ketika di Jakarta melahirkan kesan, “Ia seorang penyair yang hadir sebagai penulis yang manusiawi dan suka merenung.” Peraih Nobel Sastra 2001 ini memerlukan diri mencatatkan Sitor sebagai penyair penting dalam belantara perpuisian dunia. Sitor memiliki dunia dan dunia memiliki Sitor. Kehadiran esai Merekonstruksi Masa Lalu dari Naipul adalah sisi samar dalam biografi Sitor. Naipul memilih perspektif ini mungkin karena mirip dengan pergulatannya untuk mencari dan bergelimang dengan identitas-kultural. Begitukah?

*) Peneliti Kabut Institut Solo dan Redaktur Jurnal Kandang Esai
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2009/12/buku-monumen-kata-untuk-sitor.html

Jumat, 01 April 2011

Godaan Puisi Dalam Politik

Bandung Mawardi*
Pikiran Rakyat, 23 Agus 2008

KONDISI politik Indonesia mulai masuk dalam dunia kata dan imajinasi. Perdebatan dalam wacana pemimpin tua dan muda menjadi ramai dengan sekian pernyataan politik dalam konstruksi bahasa imajinatif. Puisi menjadi pilihan untuk merumuskan pemikiran atas konsep kekuasaan dengan pertimbangan efek estetika dan sosial-politik.

Berita mengejutkan muncul dari Tifatul Sembiring (Presiden PKS) yang membacakan “Mega Pantun” di Bandung (Senin, 2 Agustus 2008) untuk memberi tanggapan balik dan tantangan pada Megawati Soekarnoputri. Pantun itu lahir dari tegangan perdebatan politik mengenai pemilihan presiden 2009 dalam konteks kaum muda dan kaum tua. Kehadiran pantun itu menjadi sesuatu yang unik dan menggelitik sebab tradisi politik Indonesia sejak Orde Baru selalu terkungkung dalam bahasa-bahasa formal dan retorika kaku.

Tifatul Sembiring mengungkapkan bahwa pembacaan pantun itu untuk merespons semua capres. Tifatul dengan eksplisit hendak mengambil posisi beda dari perdebatan panas antarcapres dengan pernyataan-pernyataan politis. Penempatan pantun sebagai hiburan tentu menjadi fenomena menarik dalam perpolitikan Indonesia. Tifatul memberi kesadaran kritis bahwa dalam arus dan alur politik Indonesia membutuhkan hiburan. Hiburan itu dalam pengertian Tifatul adalah pantun politik.

Inilah petikan pantun politik dari Tifatul Sembiring: Anak balita bertopi merah / Topi terbuat dari bahan katun / Daripada ibu jadi pemarah / Lebih baik kita berbalas pantun // Jadi pemimpin mesti telaten / Sambangi rakyat yang tak berbaju / Kalau ibu nak jadi presiden / Monggo kerso silakan maju // Buat apa pergi ke seberang / Airnya susu banyak berbatu / Buat apa melarang orang / Dah terbayang kursi RI satu. Apa pantun ini patut dibaca dan sekadar ditafsirkan sebagai hiburan? Tifatul Sembiring memang genit untuk masuk dalam perdebatan politik yang penuh godaan dan risiko untuk wacana pilihan presiden 2009. Pantun itu lebih dari sekadar hiburan sebab ada substansi mengenai ide, kritik, dan kepentingan politik.

Mengapa Tifatul memilih bentuk pantun? Pertanyaan ini patut diajukan untuk mengetahui peran pantun itu dalam konteks estetika dan politik. Pantun memang memiliki sistem longgar untuk mengungkapkan perasaan atau pikiran. Pantun dengan konvensi-konvensi estetika (sampiran dan isi) memungkinkan seseorang dengan lihai memainkan bahasa dan imajinasi. Tifatul dengan canggih memilih bentuk pantun itu untuk pengungkapan terbuka dengan tingkat sensitivitas politik yang tinggi. Pantun mungkin jadi juru bicara ampuh untuk Tifatul ketimbang dia membaca teks pidato atau menulis risalah politik untuk publik. Pantun satu sisi menjadi representasi pandangan politik dan di sisi lain menjadi kesadaran estetis pemain politik untuk sadar bahasa dan imajinasi.

Fenomena puisi (pantun) masuk politik memang sesuatu yang masih ganjil untuk konteks Indonesia. Ignas Kleden (Menulis Politik: Indonesia sebagai Utopia, 2001) mengingatkan bahwa puisi dan politik berada dalam ambivalensi yang sama. Puisi dan politik berjumpa dalam serba kemungkinan. Ignas Kladen memberi suatu pemahaman historis bahwa politik mulai zaman Bismarck adalah seni kemungkinan (the art of the possible) dan puisi mulai zaman Aristoteles adalah dunia kemungkinan (the wordl of the possible). Pembayangan Ignas Kleden atas kondisi Indonesia adalah politik sebagai seni kemungkinan bisa menemukan dirinya kembali dalam puisi sebagai dunia kemungkinan.

Pantun politik Tifatul adalah lanjutan dari fragmen politik mutakhir. Kesadaran estetika dan imajinasi dalam lakon politik Indonesia mulai eksplisit melalui iklan-iklan politik dan agenda-agenda politik-kebudayaan. Fenomena mengejutkan mulai kentara pada penampilan iklan politik Sutrisno Bachir (Ketua Umum PAN) menjelang puncak peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Iklan politik itu eksplisit menghadirkan kesadaran estetika dengan pemakaian referensi puisi “Diponegoro” dari Chairil Anwar. Kutipan penting untuk roh iklan politik itu: “Sekali berarti, sudah itu mati.”

Ungkapan itu menjadi acuan untuk interpretasi politis: “sekali berarti” adalah sebuah penegasan bahwa esensi kehidupan adalah perbuatan, kehendak untuk mencipta, dorongan untuk memberi yang terbaik, serta semangat untuk menjawab tantangan zaman. Tafsir itu hendak mencitrakan sosok dan pandangan Sutrisno Bachir mengenai kondisi Indonesia. Sutrisno Bachir lalu dengan taktis memakai ungkapan “hidup adalah perbuatan” sebagai aporisma politik yang estetis dan imajinatif dalam konteks politik. Iklan politik itu jadi bukti kontribusi Sutrisno dalam konstruksi politik Indonesia mutakhir dengan referensi puisi Chairil Anwar dan kesadaran atas imajinasi politik.

Pencitraan Sutrino Bachir dalam iklan politik merupakan realisasi dari kerja sama dengan tim produksi dari Rizal. Sentuhan-sentuhan estetika itu mungkin berasal dari Rizal untuk memberi karakteristik kuat dan implikatif. Iklan politik itu memang sanggup menjadi pusat perhatian publik dan memberi kesan progresif dalam penggarapan iklan sesuai dengan wacana kebudayaan visual mutakhir. Iklan politik dengan referensi puisi mulai mendapatkan perhatian besar dari pemain politik dan publik.

Kesadaran estetis dan imajinasi politik pun kentara dalam iklan politik Rizal Mallarangeng yang memutuskan untuk maju sebagai calon presiden. Aporisma terkenal dari Rizal adalah “If there is a will there is a way” (Jika ada kemauan, selalu ada jalan terbuka). Rizal dengan sadar memilih karakter estetik untuk menjadi jembatan dalam komunikasi dengan publik. Kesadaran itu mulai mengesankan kekuatan dan identitas intelektual dalam pemakaian bahasa Inggris. Rizal cenderung menampilkan diri sebagai sosok intelektual yang patut untuk menjadi pemimpin di Indonesia. Pemakaian bahasa Inggris itu mungkin terasa paradoks dengan kondisi masyarakat literasi Indonesia yang terbiasa masuk dalam wacana politik dengan bahasa Indonesia. Bahasa Inggris memang belum lazim untuk jadi pilihan komunikasi politik dengan publik.

Citra intelektual Rizal mungkin pengaruh selama studi dan menjadi pengajar di Amerika Serikat. Pengaruh itu semakin kentara dengan referensi puisi yang dihadirkan Rizal dalam advertorial di koran nasional. Advertorial dengan judul “Surat buat Semua” mencantumkan kutipan puisi dari penyair Robert Frost dari Amerika. Proses atau jalan politik yang ditempuh Rizal dalam perpolitikan Indonesia ingin menemukan pembenaran dengan acuan ungkapan terkenal dari Robert Frost: “This is a road less-traveled bay”. Rizal dengan kutipan puisi itu membayangkan bahwa ada pertemuan imajinasi dan kondisi riil dalam politik Indonesia.

Sutrisno Bachir dan Rizal Mallarangeng memosisikan diri sebagai pemain dengan referensi puisi. Posisi itu berbeda dengan Tifatul Sembiring yang berani menjadi pemain dengan pantun politik. Tifatul memang selama ini tidak dikenal sebagai penyair, tetapi kehadiran pantun politik itu membuktikan kesanggupan dan kesadaran Tifatul bahwa politik butuh imajinasi atau permainan bahasa yang estetis. Pemain (capres) lain yang belum tampil terbuka dengan iklan politik atau puisi adalah M. Fadjroel Rachman dan Ratna Sarumpaet. M. Fadjroel Rachman memang seorang penyair, esais, dan novelis. Kompetensi sastra itu itu belum jadi juru bicara ampuh dalam komunikasi politik meski Fadjroel Rachman sebelum pencalonan diri sudah menerbitkan buku kumpulan puisi Catatan Bawah Tanah (1993) dan Sejarah Lari Tergesa (2004). Ratna Sarumpaet sebagai seniman yang intens dalam teater dan sempat mengurusi Dewan Kesenian Jakarta juga belum hadir dengan puisi untuk komunikasi politik dengan publik.

Politik Indonesia menjadi ramai dan imajinatif dengan puisi. Pemakaian bahasa dengan bentuk puisi bisa melawan (menandingi) kodifikasi bahasa politik Indonesia yang selama ini cenderung kaku, formal, dan prosais. Politik menjadi pelangi dan reflektif karena puisi memberi hak untuk sekian interpretasi dengan tegangan teks dan realitas. Begitu.***

*) Peneliti Kabut Institut (Solo)
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/08/esai-godaan-puisi-dalam-politik.html

Jumat, 25 Juni 2010

Pasar Sastra

Bandung Mawardi
http://www.suarakarya-online.com/

Nasib sastra di negeri ini masuk dalam pasar dengan pelbagai sensasi dan ironi. Keluhan buku sastra tidak laku mulai dihajar dengan politik best seller atau mega best seller. Kuantitas penjualan menjadi pamrih. Konsekuensi dari model ini adalah perebutan konsumen dan jerat loyalitas. Gairah pasar sastra dibentuk untuk mengesahkan sirkulasi modal. Pamrih atas sebaran makna kualitatif kerap direalisasikan sebagai sampingan karena pasar ramai oleh ekstase artifisial dan kesemuan.

Iklan buku sastra gencar untuk ikut meramaikan politik dagang dalam penciptaan selera. Tampilan iklan di lembaran koran dan majalah atau poster dikemas dengan kekuatan pikat untuk menyebarkan gairah membeli (mengonsumsi), memiliki, dan membaca.

Transaksi pembelian buku diarahkan sebagai jaminan dari keberlangsungan pasar. Iklan buku sastra memang menganut pada konstruksi dan kontrol selera agar ada pembenaran atas makna kehadiran sastra. Marketing sastra pun mulai jadi urusan baku untuk membesarkan, menyelamatkan, dan meruntuhkan sastra. Pasar sastra dalam pameran buku terasakan dengan penataan buku-buku sastra di ruang-ruang pamer. Pemberian potongan harga atau obral juga menentukan lakon buku itu dalam limpahan buku-buku agama, politik, ekonomi, komputer, atau komik. Buku sastra dalam pameran buku kadang menempati diri dalam "kursi kehormatan" saat promosi penerbit. Posisi terhormat itu ditambahi dengan diskusi atau bedah buku dengan menghadirkan penulis. Buku sastra pun kerap dalam posisi terpuruk saat ditaruh di lantai dengan nilai obral lima ribu sampai lima belas ribu rupiah.

Kejatuhan harga kadang mengikutkan imaji tentang sastra itu murah dan tak laku. Pasar seperti menampik buku sastra.

Pembacaan atas pasar sastra memang lekat dengan pemahaman tentang bisnis dan kepenting pelbagai pihak dalam mengurusi sastra. Peran penerbit, penulis, distributor, atau pembaca kerap menimbulkan dilema dalam perbedaan pamrih. Buku sastra ada dengan mengandung potensi-potensi untuk dimaknai sebagai komoditi atau "makhluk".

Pertentangan pemaknaan pun rentan menimbulkan sanggahan dan pemakluman bergantung pada hitungan total penujalan dan resepsi publik dalam mengonsumsi-menggauli buku. Pasar sastra memang identik dengan ekonomi tapi memiliki efek sistemik pada pembacaan dan penilaian nasib sastra di publik. Mitos tentang buku sastra laku dengan batasan seribu ekslempar atau maksimal lima ribu eksemplar bisa diruntuhkan oleh kematangan penggarapan marketing sastra.

Buku sastra memiliki potensi menjebol mitos jika ditunjang oleh strategi pasar fenomenal. Angka penjualan novel Ayat-ayat Cinta, Laskar Pelangi, Perahu Kertas, atau Negeri 5 Menara memang memukau kendati itu menjadi kasus kecil dari ratusan judul buku sastra saat terkapar di pasar. lakon novel-novel laris itu ikut menentukan imaji publik atas sastra dengan abai atau tidak tahu representasi sastra di lahan kering alias susah memikat orang untuk membeli dan menggauli.

Pasar sastra memberi pelbagai kejutan, laba, pesimisme, dan derita jika disorot dari sekian lini. Hitungan pembagian dari harga buku sastra kerap menampilkan diskriminasi. Politik harga sastra menentukan nasib penulis, laba penerbit, atau gairah toko buku. Diskriminasi terjadi pada angka dan kualitas. Lakon pelik ini kadang menimbulkan keributan. Posisi pembeli sebagai pemasok uang dan penentu jumlah malah kerap terabaikan dalam pemberian makna kualitatif. Pasar sastra sekadar dunia uang dan absen dari nilai buku itu bagi pembaca. Penciptaan konsumen dan pengenalan-pengekalan selara bergantung pada penggarapan strategi pasar sasrta dalam pelbagai pertimbangan. Harga sastra memang kerap jadi masalah. Buku tipis tapi mahal membuat orang mengeluh.

Buku murah membuat orang curiga kualitas murahan. Politik harga sastra adalah penentu dari "harga diri" sastra di mata publik. Pemberian harga dalam urusan ekonomi tentu menimbulkan kesan pragmatis. Pengaruh dari model penciptaan selera sastra kadang membuat penentuan harga jadi tidak stabil mengacu pada kemungkinan kemauan publik pembaca.

Wacana pasar sastra ini jarang tercatat dan masuk dalam lembaran- lembaran sejarah sastra di negeri ini. Nasib sastra terlalu dipercayakan pada kritikus sastra, koran, majalah, jurnal, universitas, perpustakaan, sekolah, dosen, guru, atau komunitas. Pasar sastra sebagai penentu gairah dan keambrukan sastra mesti jadi perhatian untuk mengetahui aib dan keajaiban sastra. Sastra secara komersial adalah takdir pasar untuk menyempurnakan proyek negara dengan produksi buku-buku sastra berlabelkan: "Milik Pemerintah Tidak

Diperdagangkan". Pasar sastra mencakup keterlibatan pelbagai pihak dengan konsekuensi-konsekuensi untuk menentukan nasib sastra.

Pasar sastra dalam dunia jual-beli buku bekas kadang menyisakan jejak-jejak historis. Pembacaan dalam sisi ini bisa agak keluar dari hipnotis pasar mutakhir. Produksi buku pada masa lalu menyapa dengan pertanyaan tentang haraga, peredaran, dan akses pembaca. Kemunculan kembali buku-buku lawas atau bekas di pasar loak kerap menimbulkan imaji tentang situasi pasar pada masa lalu dan pemaknaan dari pembaca. Buku-buku sastra laris dari Marga T, Mira W, Eddy D Iskandar, Motinggo Busye, Teguh Esha, Ashadi Siregar, atau Maria A Sardjono bisa dibandingkan dengan kesusahan "menjual" buku-buku sastra produksi penerbit Pustaka Jaya, Djambatan, atau Gunung Agung. Jejak pasar sastra pada buku-buku lawas patut disambungkan dengan situasi pasar sastra hari ini untuk mengetahu alur dan pasang surut sastra. Begitu. ***

*) Bandung Mawardi, Peneliti Kabut Institut Solo dan Pemimpin Redaksi Jurnal Tempe Bosok

Kamis, 03 Juni 2010

Puisi yang Menyapa

Judul: Kolam
Penulis: Sapardi Djoko Damono
Penerbit: Editum, Jakarta
Cetak: 2009
Tebal: 120 Halaman
Peresensi: Bandung Mawardi
http://suaramerdeka.com/

HARI ini Sapardi Djoko Damono masih menyapa kita dengan puisi. Usia tua tak bisa jadi alasan untuk istirahat dari puisi. Tua adalah usia biologis tapi imajinasi belum tentu berbarengan dengan kerentaan. Imajinasi terus disemaikan dengan ketelatenan mengurusi kata dan makna. Sapardi menyuguhkan setumpuk puisi yang dikemas dalam buku Kolam sebagai bukti penyair menunaikan hajat kehidupan.

Puisi-puisi Sapardi masih memiliki ruh dalam kebersahajaan bahasa untuk peluapan makna. Kebersahajaan jadi dalil tanpa harus menutup pintu-pintu tafsir untuk pencarian dan penemuan makna. Konstruksi puisi Sapardi sejak dulu memang mengesankan olahan kata dalam batas otoritas bocah dan nabi. Kata-kata dituliskan dalam tegangan permainan dan perhitungan matang. Pola ini jadi penyebab puisi-puisi lahir dalam kebersahajaan tapi menyapa dengan mengena untuk refleksi.

Kolam dengan muatan 51 sajak ini terbagi menjadi tiga bagian dengan label “Buku Satu”, “Buku Dua”, dan “Buku 3”. Pembagian ini mengesankan pergulatan estetika dalam eksplorasi bentuk dan tematik. Sapardi dengan lihai menunjukkan olahan soneta dalam “Buku Dua”. Pilihan bentuk soneta ini mengingatkan pembaca pada kegandrungan para Pujangga Baru pada tahun 1930-an. Soneta pada masa itu memiliki sifat emansipatif dari bentuk-bentuk puisi lama. Kesadaran menasipatif itu kerap tak dibarengi dengan eksplorasi dalam olahan kata dan makna. Konvensi-konvensi dalam soneta pun diolah penyair mirip dengan penerimaan atas bentuk-bentuk puisi lama: pantun atau syair.

Sapardi menghadirkan puisi dalam bentuk soneta sejumlah lima belas. Bentuk soneta ini jadi pertaruhan untuk mengeksplorasi bahasa dan tema. Kehadiran 15 soneta itu membuktikan laku estetik yang matang dan istiqomah. Simaklah bait awal dalam “Sonet 4” ini: “Hidup terasa benar-benar tak mau redup/ketika sudah kaudengar pesan:/suatu hari semua bunyi rapat tertutup”/Penyanyi itu tuli. Suaramu terdengar pelahan.

Bentuk soneta tak jadi hambatan pada penyair untuk melepaskan keliaran imajinasi dalam tatanan kata bersahaja. Efek puitis jadi perhitungan matang untuk kehadiran soneta yang liris dan musikal. Bunyi jadi ruh untuk soneta mengucapkan diri. Perkara bunyi ini yang kerap diajukan Sapardi sebagai proposal dalam laku estetik menulis puisi. Bunyi adalah lambaran estetika untuk penyair sanggup menuliskan puisi yang berbunyi alias bernyawa. Simaklah dua bait akhir dalam “Sonet 13” yang sadar bunyi untuk olahan tematik hujan: Butir-butir hujan menderas dari sudur-sudut daun itu/tepat ketika kita lewat. Kupandang ke atas./Pohon itu tak lagi menatapmu. Membasahi kerudungmu,/meluncur ke pundakmu. Dibiarkannya kita melintas.//Kita pun bergegas agar segera sampai ke ujung jalan/tanpa bicara. Tak lagi berniat menafsirkan titik hujan? Soneta ini berbunyi dan mungkin memberi ekstase imajinasi.
***

KEBERSAHAJAAN puisi-puisi Sapardi tidak sekadar mengurusi olahan estetika tanpa kesadaran tematik. Tema tentang diri (manusia) memang menjadi pokok dalam pertaruhan estetika. Kesadaran itu digenapi dengan olahan puisi untuk mengisahkan sosok-sosok dalam peristiwa atau lakon kecil atau besar. Pilihan tematik jadi bab penting dari kepekaan Sapardi atas tegangan fakta dan fiksi.

Sapardi dalam puisi “Kota Kami” dengan kritis mengajukan lakon kota dalam tarikan masa lalu dan proses perubahan yang cepat. Kritik dengan puisi bersahaja ini memiliki efek imajinasi yang kental untuk dihadapkan dengan realitas kota hari ini. Sapardi menulis: Kota kami telah menyaksikan gedung-gedung dan pabrik-/pabrik dibangun sampai tumpah ruah keluar dari pinggir-/pinggirnya.//Dulu, kata dongeng itu, pernah ada sebuah danau agak di/pinggirnya tapi ia tidak ingat lagi kapan suasana yang mungkin/bisa menenteramkan hati itu tak lagi ada. Kritik keras ini berbunyi dalam puisi yang tak jatuh sebagai kumpulan kata untuk demonstrasi.

Sapardi pun mengajukan kritik dalam puisi “Asap Pabrik.” Puisi ini liris mengucapkan kritik untuk kesadaran ekologis, teologis, dan filosofis. Sapardi dengan canggih memerkarakan asap dalam jalinan imajinasi yang bertumpuk. Asap tak sekadar jadi tanda untuk polusi tapi juga tanda untuk kesadaran imperatif terhadap alam, manusia,. dan Tuhan. Simaklah: asap pabrik di kota/membumbung, hanya Tuhan/yang tahu ke mana//hanya Tuhan yang tahu/kenapa ia membumbung/dari cerobong itu//hanya kita tak tahu/hubungan antara asap dan Tuhan -//yang sama sekali tidak pernah/menyembunyikan apa pun/dari kita.

Membaca puisi-puisi Sapardi dalam buku ini seperti membuat babak lanjutan dari buku puisi DukaMu Abadi, Mata Pisau, Perahu Kertas, Hujan Bulan Juni, Mata Jendela, Ayat-Ayat Api, dan Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro? Babak lanjutan ini membuktikan Sapardi belum lelah mengurusi dan membunyikan kata dan makna. Buku Kolam memang jadi kolam imajinasi atas pelbagai peristiwa dan lakon untuk refleksi. Puisi ternyata masih ingin menyapa meski usia renta.

Buku puisi Kolam tentu jadi pertaruhan penyair untuk laku kreatif dalam olahan estetika puisi. Sapardi telah menuliskan dan menyuguhkan puisi pada pembaca. Silakan pembaca memberi nilai dan membalas sapaan puisi. Sapardi mafhum bahwa kehadiran puisi bukan kehadiran jawaban atau konklusi tapi perumusan tanya untuk godaan mencari-menemukan jawab pada pembaca. Dalil ini disajikan dalam puisi “Ketika Kita Membuka Lembaran Kertas Ini.” Simaklah dalam kaitan dengan kehadiran tanya dalam puisi: Ketika kita membuka puisi ini apakah lembaran/lembaran kertas ini bertanya untuk apa? Puisi ini telah menyapa dan menanyakan. Pembaca mau apa?

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati