Tampilkan postingan dengan label Sutejo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sutejo. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Februari 2019

Penulis Penjual Buku?

Refleksi Pendampingan Komunitas Baca-Tulis di Mojokerto
Sutejo

“Tugas penulis memang menulis yang berkualitas, tetapi jika tidak mengerti medan pasar, untuk apa kita menulis. Tersebab, menulis bukan sekadar idealisme tetapi juga bernilai ekonomi.” (Sutejo)
***

Sebelumnya, mohon maaf kepada para guru kehidupan yang sudah lebih dulu menulis. Ini hanya untuk menggairahkan kehidupan kata.

Minggu, 17 Maret 2013

Kesiapan Budaya Menyongsong Otonomi Daerah

Sutejo
Radar Madiun, 3 Okt 2000

Ketika reformasi bergelombang bak laut lepas, maka batu karang yang bernama status quo terkikis. Keangkuhan batu-batu pantai Orde Baru pecah oleh dahsyatnya dentuman ombak. Namun sayang, laut reformasi belum berhasil mengantarkan perahu idaman nurani bernama perubahan.

Rabu, 28 November 2012

Demokrasi di Babak “Goro-goro”

Judul : Titik Nadir Demokrasi
Pengarang: Emha Ainun Nadjib
Penerbit: Zaituna, November 1997
Tebal: xvi + 368 halaman
Peresensi :  Sutejo *
Kompas, 27 April 1997

Sabtu, 19 November 2011

MENULIS JADI BERKAH BELAJAR DARI KEPENULISAN PIPIET SENJA

Sutejo
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Pipiet Senja adalah nama samaran dari Etty Hadiwati Arief, yang lahir di Sumedang, 16 Mei 1956. “Bagiku, menulis sungguh membawa nikmat dan berkah.” Begitulah ungkapnya di akhir pengakuan proses kreatifnya di majalah Mata Baca, edisi Juni 2007, hal. 29. “Bersama buku aku bisa keliling tanah air, bahkan beberapa Negara pernah kusinggahi: Singapura, Malasyia, Mesir, dan Saudi Arabia. Melalui pena, aku dapat mengukir kata-kata indah dan bermakna, memberi pembelajaran kepada pembaca, sekaligus menghibur atau menemani mereka yang kebetulan senasib denganku. Nah, menulis ayooooo!”

Keinginan untuk tunaikan ibadah haji, misalnya, sudah lama dia pendam. Perempuan yang seumur hidupnya ditransfusi darah karena kelainan darah bawaan ini, memiliki semangat hidup yang luar biasa. Novelnya, Kupenuhi Janji (Dhaha Publishing, 2007) adalah ungkapan pengalaman sepulang berhaji. Haji yang sudah lama dicita-citakan. “Acapkali, selama bermalam-malam aku merangkai harapan dan mimpi menjadi tamu Allah, berkeliling Ka’bah, tawaf, melakukan sai, mencium Hajar Aswad, melempar jumrah….” Hal inilah, yang membawa Pipiet Senja mendapat tawaran kontrak ekslusif dari Penerbit Khairul Bayaan yang juga bersinergi dengan Travel Haji Ar-Rayyan.

“Nggak perlu bakat untuk bisa menulis!” begitulah judul kolom Proses Kreatif Mata Baca (April 2006:38-39). Saya percaya, lanjutnya, bahwa bakat itu memang ada. Tapi, saya lebih percaya bahwa keberhasilan seseorang dimulai karena dia mau mencoba dan berusaha menggali bakatnya, seberapa pun besarnya bakat tersebut. Bahkan kalau seseorang tidak punya bakat sekalipun, asal dia mau bekerja keras, maka pada beberapa profesi, seringkali dia akan tetap bisa berhasil walaupun dia tidak punya bakat.

Mengapa Safir Senduk bisa menulis artikel dan berita jurnalistik? Beginilah jawabnya, (a) karena sejak kecil dia terbiasa melihat ibunya menulis sehingga alam bawah sadarnya ikut membuatnya mau menulis, dan (b) dia juga menghadiri seminar dan pelatihan tentang cara menulis ang baik, dan (c) dia melatih, melatih, dan melatihnya dengan melakukan berulang-ulang hingga betul bisa dan terbiasa.

Sampai sekarang, Safir sudah menulis enam buku (a) Merancang Program Pensiun, (b) Mengantisipasi Risiko, (c) Mengelola Keuangan Keluarga, (d) Mengatur Pengeluaran Secara Bijak, dan (e) Mencari Uang Tambahan; semuanya diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo.

Menurut Safir, hanya ada lima langkah penting dalam menulis, yakni (a) memilih tema, (b) membuat kerangka, (c) membuat kerangka detail, (d) menulis, dan (e) baca lagi, dan baca lagi Mata Baca (April 2006:39).

Bagaimana dengan Anda? Marilah kita belajar dari Safir. Pertama, motivasi dan kerja berlatih yang luar biasa. Kenyakinannya akan tidak tergantungnya pada bakat adalah sebuah kejujuran yang menarik untuk kita tiru. Kebanyakan kita, selalu beralibi ketika diminta untuk menulis dengan alasan tidak bakat. Di mata, Safir, faktor terbesarnya adalah berlatih, berlatih, dan berlatih. Karena itu, marilah kita berlatih menulis. Karena menulis adalah keterampilan maka tidak ada cara lain kecuali mengembangkan keterampilan itu sendiri.

Kedua, adanya peran bawah sadar. Adi W Gunawan, dalam sebuah pelatihan pernah mengatakan, bahwa kehidupan kita 88% dikendalikan oleh bawah sadar. Pengalaman Safir, yang setiap saat melihat ibunya menulis, secara tidak langsung masuk ke pengalaman bawah sadar, dan karena itu, pada suatu waktu menjadi kekuatan yang ”luar biasa”. Di sinilah, barangkali penting kita menciptakan kondisi yang inspiratif: (a) bergaul dengan penulis, (b) berguru pada para penulis, dan (c) memfasilitasi rumah kita dengan sarana buku-buku sehingga menjadi kekuatan bawah sadar yang menggetarkan.

Ketiga, tentang langkah menulis yang sangat praktis. Apa yang diungkapkannya, secara umum, nyaris sudah diajarkan di bangku sekolah (dan kuliah). Permasalahannya, mengapa sampai sarjana kita tidak banyak temukan penulis? Langkah praktis Safir, karena itu, menarik untuk kita latihkan dalam praktik setiap hari.

Marilah kita awali dengan senantiasa merenungkan tema kehidupan apakah yang menarik untuk kita tulis. Setelah itu, alangkah baiknya jika dibuku hariannya misalnya, kita sempatkan untuk menuliskan kerangka tulisan dan detailnya dengan seksama. Baru jika kesempatan memungkinkan, pengembangan penulisan kita lakukan. Baca, baca, dan baca lagi sebagai proses editing pribadi. Sederhana kan?

Nah, tunggu apalagi. Sebuah jembatan emas dalam dunia bawah sadar itu akan menuntun kita pada hari esok yang menjanjikan. Menulis, bukankah dapat dijadikan gantungan hidup di hari depan? ***

*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos

Kamis, 16 Juni 2011

AJAR KEJUJURAN MENULIS DARI NUKILA AMAL*

Sutejo
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Dalam jurnal Prosa4 ketika diangkat tema Sastrawangi, Nukila Amal, termasuk salah seorang yang tidak setuju dengan istilah sastrawangi. Sebagaimana wawancara dia di BBC London. Karya monumentalnya, Cala Ibi oleh beberapa pihak dinobatkan sebagai puncak karya sastra mutakhir. Hal itu paling tidak dikemukakan oleh Budi Darma dalam resensinya di Tempo bulan Juni 2003 dan Bambang Sugiharto, pengajar Pascasarjana Seni Rupa ITB yang menobatkannya sebagai karya yang tidak biasa, sebagai puncak sastra mutakhir (Prosa4, 2004:219).

Perempuan Ternate ini, dilahirkan pada bulan Desember 1971, dan menamatkan sekolahnya di Sekolah Tinggi Pariwisata di Bandung. Dia sempat berprofesi di industri perhotelan dan perusahaan keuangan. Apa yang menarik dari proses kreatif Nukila Amal, berikut merupakan refleksi dari surat tertulis yang dimuat Prosa4: (a) bahwa menulis itu bukan sesuatu yang mudah, (b) soal kualitas karya merupakan otoritas pembaca, dan (c) menaruh kekaguman pada orang yang terus bergelut dalam kepenulisan.

Dari akuan pendek itu, memang tidak begitu banyak yang dapat tergali. Namun, di balik kesederhanaan prinsip kepenulisan itu memancarkan lampu kuning bagi calon penulis. Bagaimana kualitas karya Nukila Amal? Budi Darma memberikan penilaian begini, “Bahwa bahasa metafora yang digunakan Nukila Amal serba menabrak logika. Karena mimpi dipuja, realitas ditabrak, realitas digempur, sebagai konsekuensinya filsafat diusung masuk. Maka suara eksistensialisme pun masuk.” Sebuah novel eksperimentalis, aku Budi Darma. Saya sendiri, melihat bagaimana kekuatan prosa Nukila adalah faktor bahasa yang puitis dan filosofis. Sebuah perpaduan yang mengingatkan pada ungkapan lampau dunia filsafat, aforisme. Penting disimak, bahwa karya Cala Ibi ini sempat masuk 5 nominator Kathulistiwa Award.”

Belajar dari akuan Nukila ini, maka ada pesan penting memang: menulis itu tidak mudah. Penghargaan yang diberikan, dan apa pun penilaian orang tehadap suatu karya, bagi Nukila memang syah saja. Namun sebagaimana penulis lainnya, berkarya itu saja sudah luar biasa, kalau ada yang menilainya negatif, misalnya, itu memang hak pembaca. Dengan demikian, ketika generasi Nukila dinilai sebagai sastrawangi, ia pun tidak setuju karena itu merupakan penamaan yang tidak dicocokinya. Untuk inilah yang penting kita petik, menulis tidaklah gampang. Menulis itu proses. Menulis itu butuh keterampilan berbahasa. Menulis itu butuh kemampuan berpikir. Menulis itu butuh kemampuan eksplorasi. Dan menulis itu butuh seperaangkat motivasi agar ulet, rajin, dan tidak patah arang.

Menulis memang tidak mudah. Begitulah, maka jika kita ingin menulis maka dibutuhkan seperangkat hal di atas agar bagaimana ke depan ketidakmudahan itu dapat berubah menjadi mudah. Arswendo Atmowiloto, meskipun berbalik dengan pernyataan Nukila ini, yakni dengan mengatakan “menulis itu gampang” sesungguhnya itu untuk menumbuhkan motivasi saja. Hakikatnya, menulis memang seperti yang diungkapkan Nukila.

Sebagai syarat awal, misalnya, ada yang mengatakan begini penulis itu butuh: (a) ketajaman hati (empati), (b) kemampuan impresi dan refleksi, (c) kemampuan meditasi (berenung), (d) kemampuan ekspresi, (e) motivasi tinggi, (f) ulet, (g) tidak pongah dan sombong, (h) jujur, (i) taqdim dan religius, (j) kreatif, dan (k) tak pernah puas. Bayangkanlah bagaimana sulitnya? Gak usah kuatir, hal itu lebih mengoreantasikan agar kualitas dan hasil penelusuran lorong kepenulisan tidak tersesat, tidak gagal. Sudah banyak kasus para penulis yang jatuh bangun, melambung seperti balon gas setelah itu sirna. Barangkali ini sedikit metaforik dari apa yang diungkapkan Nukila Amal, bahwa menulis itu tidak mudah.

Hal kedua, bagaimanapun karya tergantung pembaca. Dalam perjalanan teori sastra Indonesia kita kenal apa yang disebut dengan teori resepsi sastra. Artinya, kebermaknaan sebuah teks sastra sangat tergantung pada kemampuan pembacanya. Wawasan kesastraannya, wawasan kebudayaannya, dan wawasan kebahasaannya akan berperan penting dalam mendorong meningkatnya kemampuan apresiasi ini. Dengan begitu, maka semakin tinggi kemampuan seorang pembaca akan semakin dimensional, semakin luas pula pemahamannya atas sebuah teks sastra. Penilaian baik buruk tidak semudah bagaimana kita melihat permukaan teks, tetapi mencoba masuk ke ruh teks dengan berbagai kemungkiinannya.

Dalam pandangan Maman S Mahayana persoalan kualitas memang terbuka. Senantiasa dapat didiskusikan. Karena itu, seorang penulis tidak boleh surut oleh komentar, kritik, dan penilaian pembaca maupun kritikus. Mereka memang punya hak dan otoritas akan tetapi hakikat teks adalah ruang terbuka yang senantiasa mengundang siapapun orang untuk datang dan menilaiannya. Gak usah kuatir. Penulis alir dalam imajinasi dan kreasi berpuncak pada gunung religi dalam beragam wajah.

Sedangkan terakhir, bagaimana sikap positif seorang penulis pada penulis lainnya dengan memberikan acungan jempol kepada yang lain. Sebagaimana pesan pertama, bahwa menulis itu sulit, maka keberhasilan seseorang dalam melahirkan karya penting untuk dinilai positif. Sebuah keinginan membangun motivasi dan memberikan apresiasi yang tinggi pada mereka yang terus bergulat meningkatkan kreativitas, nyali, dan berbagai bentuk yang mendorong produktivitas berkarya.

Kekaguman pada orang yang bergelut dunia kepenulisan tentunya menjadi ruh religius karena agama menggalakkan profesi ini. Hanya dalam kultur masyarakat yang rendah yang belum memberikan apresiasi tinggi macam Indonesia. Sebuah kemunafikan dari mentalitas masyarakat yang lebih mengideologikan prestise dan status-status lainnya.

Dengan demikian, sebagai pemantik menarik direnungkan ulang. Seorang penulis yang jujur pasti akan mengakui karya orang lain, dan memberikan apresiasi positif, sebaliknya orang yang rendah pengalaman mereka akan menganggap rendah terhadap karya tulis orang lain. Jika mengikuti pesan Nukila, maka penghormatan pada penulis menjadi hal yang semestinya perlu dilakukan. Sekalipun, sekali lagi, bahwa semuanya tergantung pada pembaca. Teks, bagaimanapun indahnya sebagaimana maksud pengarang dan penulis tetapi tetap berpulang sejauh mana ia bermakna bagi pembaca. Mudah-mudahan ke depan kita semakin terdidik menjadi pembaca yang baik, penulis yang baik, dan mediator (kritikus) teks yang baik sehingga perkembangan ilmu pengetahuan, seni budaya, teknologi informasi, politik dan hukum, sosial kemasyarakatan, akan semakin mendapatkan tempat yang jujur sehingga melahirkan manusia yang berbudaya dan berkarya.
****

*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos.

Jumat, 21 Januari 2011

BERKACA MENULIS DARI NUREL

Sutejo
http://sastra-indonesia.com/

Nama Nurel Javissyarqi memang belum seagung penulis Indonesia lainnya. Tetapi misteri perjalanan kepenulisan adalah etos nabi yang alir penuh jiwa berkorban, total, dan –nyaris—tanpa pamrih balas. Sebuah pemberontakkan pemikiran sering dilemparkan. Tradisi dibalikkan. Pilihan dilakukan, termasuk untuk memberikan pelajaran kepada orang tuanya. Penting dicatat, karena orang tuanya adalah guru konvensional yang terus alirkan kerapian, ketaatan, dan keberaturan lain. Hal ini dilakukan juga untuk mengatur Nurel dalam menentukan perguruan tinggi di mana jendela masa depan harapannya dapat diwujudkan. Tetapi jiwa berontak Nurel memilih untuk tidak selesaikan skripsi di jurusan ekonomi.

Apa yang menarik dari penulis ini? Beberapa hal berikut saya impresikan dari pertemuan empat hari bersama Maman S. Mahayana dan Kasnadi dalam tamasya budaya Jakarta-Bogor. Di emper rumah Bang Maman, hal-hal menarik berikut dapat direnungkan (a) ketidakpuasaannya atas institusi formal karena mengalirkan kebohongan, (b) memilih komunitas untuk mencerdaskan buah kepalanya, (c) pengalaman menulisnya adalah pergulatan sosial budaya lewat meditasi kultural ke berbagai tempat spiritual, (d) semangat lokalitasnya yang tinggi dalam menggerakkan dunia kepenulisan –dan karena itu dia mendirikan penerbit bernama Pustaka Pujangga–, (e) kebiasaan mengarang segala hal dalam pendidikan, dan (f) masa kecilnya sulit membaca –dan karena itu—baru bisa membaca di usia dia belajar di kelas-5 SD.

Unik? Tentu, begitulah jika kejujuran yang menjadi langit pemikiran kita. Persoalannya adalah apa yang Nurel miliki, ternyata, tidak dimiliki oleh kecenderungan remaja kita. Jiwa kepenulisannya muncul, ketika banyak pemikirannya yang tidak terfasilitasi oleh ruang-ruang publik. Di sinilah, maka Nurel mengedarkan pemikirannya berupa buku yang merupakan foto kopi ke berbagai komunitas kemudian dibedah dan dikritisi. Sebuah upaya pencerdasan bangsa, katanya. Ketika, teman-teman lokal lainnya (kemudian mendirikan penderbit Pustaka Ilalang) takut berbagai ancaman –yang mungkin dari pihak—keamaan, dia malah berkerlit, “Wong mencerdaskan anak-anak bangsa kok dilarang.” Di sinilah, tampak dua penting (a) keberanian yang luar biasa, dan (b) jiwa pemberontak khas anak muda. Ketika anak-anak muda lebih banyak memilih demo, lelaki Nurel sebaliknya memilih pena sebagai senjata bertarung pemikirannya.

Dalam ruang diskusi yang tak berdinding itu, Nurel juga tak alergi kritik. Di sinilah, memang akan terjadi proses refleksi dan penajaman. Ternyata, tidak ini saja upaya penajaman itu. Dia bahkan menyusuri tempat-tempat yang dinilai magis, lokalitas, dan spiritualitas. Dalam proses kepenulisannya, dia terinspirasi oleh beberapa tempat religius. Pondok Tegalsari, misalnya, di Ponorogo, adalah salah satu tempat terakhir yang dia kunjungi. Kasan Besari adalah sosok historis yang melahirkan Ronggowarsito sang pujangga besar nusantara. Di tempat-tempat itulah, akunya akan memantik kondisi magis (bawah sadar?) yang menarik. Realita ini barangkali mengingatkan apa yang diungkapkan Rendra, bahwasanya sastrawan (penulis) adalah agen kontemplasi sosial.

Selanjutnya, kenekatan untuk mengembangkan dunia kepenulisan terinspirasi oleh pengalaman masa kecil yang tidak menyenangkan. Yakni, baru di usia SD kelas-5 dia lancar membaca. Hal membuatnya termotivasi setelah mengenal dunia buku di saat-saat dia tekun berkomunitas di Jogjakarta. Di sinilah, barangkali sebuah ruh religius –yang rata-rata—tidak dimiliki oleh para guru. Jika Nurel seorang sastawan jatuh cinta pada dunia kepenulisan maka realita guru kita –yang tidak mencintai kepenulisan– akan menjadi paradoks sepanjang masa. Terlebih jika diamati, dalam berbagai penerbitan buku-bukunya dibiayai sendiri. Andai motivasi Nurel ini menjadi motivasi para guru, tentunya, akan menjadi sinyal positif di masa depan.

Bagaimana dengan Anda? Sebuah bilik cahaya yang menarik untuk diselisik mengingat ruang-ruang gelap dunia pendidikan kita nyaris tidak memberikan tempat untuk penyemaian dunia kepenulisan ini. Jika lahir 1000 Nurel saja, maka ibarat virus ia akan menjalar begitu cepat. Andai tiap kota di Jawa Timur lahir Nurel dengan idealismenya ini maka dinamika perbukuan akan menjadi dunia alternatif yang efektif mengubah mentalitas bangsa yang akut dan parah.

Hal lain yang menarik disimak adalah semangat lokalitas. Artinya, mengapa dia tidak memilih Jogja atau Jakarta sebagai persalinan pemikiran dan tulisan-tulisannya? Jawaban ringan sambil bercanda dia bilang, “Kalau di Jakarta aku kan hanya nomor kesekian puluh saja, atau bahkan ratusan. Tetapi kalau di Lamongan, tentu akan menjadi nomor satu karena yang merintis memang baru Nurel.” Sebuah logika berkarya yang menarik untuk diapresiasi. Pengibaran bendera penerbitan dari kabupaten daerah akan menjadi sejarah di masa depan.

Penulis, selanjutnya, meminjam metafor perjalanan Nurel adalah pentingnya jiwa pemberontak. Sebuah jiwa tidak kompromi atas kemapanan. Jiwa demikian dalam kepenulisan ibarat nyala api yang akan menghangatkan. Karena itu, menarik untuk ditransformasikan kepada siapa pun kita. Terlebih, anak-anak muda yang –nyaris menjadi agen perubahan—ini sudah lama terjebak pada politisasi peran sosialnya. Proses permenungan dan berkarya seperti terlupa oleh hirup pikuk politik.

Hal terakhir, dan ini yang menuntut mobilitas tinggi adalah bagaimana dia menyusuri beragam tempat untuk pengembangan pemikirannya: diskusi dan bedah buku. Sebuah upaya memasyarakatkan pemikiran di satu sisi dan pada sisi lain merupakan gerakan bawah tanah untuk melawan hegemoni arus atas Jakarta. Semacam pemberontakan? Jika meminjam kecenderungan berpikir Nurel, maka hal ini bisa jadi adalah upaya penyebaran virus kepenulisan dan pemberontakan berpikir.

Akhirnya, jika kita mampu mengapresiasi apa yang telah dilakukan Nurel, maka ada baiknya kita memilih sekian pemikiran dan kiprah dalam membumikan pemikiran dan karya. Keberanian Anda jadi penulis adalah mutiara masa depan. Jika itu dipelihara secara sempurna masa depan telah ada digenggaman Anda.
***

*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos

Rabu, 28 Januari 2009

MEMETIK METAFOR MENULIS EKA BUDIANTA*

Sutejo
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Sungguh saya terbelalak dengan metafor menulis yang diungkapkan Eka Budianta! Tulisan itu seperti bom, cinta. Sebuah sisi lain pengalaman menulis yang menggetarkan. Bagaimana tidak? Bom dan cinta seperti dua hal yang jauh tetapi didekatkan dalam satu makna. Bom simbol teror yang membuat orang ngeri. Tetapi bom dalam konteks pandangan Eka Budianto tentu menyaran pada bagaimana tulisan mampu melemparkan teror mental. Jargon ini sebangun dengan apa yang diungkapkan Putu Wijaya. Karena karya sastranya sering dikenal dengan sastra teror. Sedangkan cinta, mengingatkan ruh hakikat tertinggi hubungan antarmanusia atau dengan khaliq adalah cinta, mahabbah. Cinta yang meluap, kata Abdul Hadi, akan alir dalam beragam bentuk yang menggerakkan.

“Mengajar menulis memerlukan lebih dari merangkai kata-kata!” tulis Eka Budianta dalam pengantar bukunya yang berjudul Senyum untuk Calon Penulis (Alvabeta, 2005). Implisit ungkapan ini adalah kita perlu bermain, bertamasya, berempati, bermeditasi, dst. Sebab, ketika kita menulis (mengarang) kita juga berimajinasi, berbagi pengalaman, berangan-angan, berkomunikasi. Bukankah kita dengan berpikir, berimajinasi, berenung hakikatnya belajar mengarang itu sendiri?

Dia menuturkan pengalamannya mengikuti lokakarya mengarang yang diselenggarakan oleh sebuah perusahaan Australia. Uniknya, selama dua hari sama sekali tidak diajari merangkai kalimat. Tetapi hanya dilatih untuk bertanya dan menjawab! Sampai-sampai seorang yang sangat terpelajar kecewa kemudian meninggalkan latihan, “Saya ingin tahu bagaimana memilih topik, menyusun kalimat, dan alinea. Bukan berkhayal dan memecahkan persoalan yang mengada-ada begini.”

Belajar dari kasus “manusia sok terpelajar” ini adalah bukankah awal dari semua tulisan adalah imajinasi. Latihan imajinasi ini penting. Einstein bahkan mengatakan imajinasi itu lebih penting dari ilmu pengetahuan. Masalahnya adalah realita sosial masyarakat alergi dengan ini. Untuk itu, meletakkan kebiasaan imajinasi secara tepat dan bermanfaat adalah pintu bidang apa pun yang menarik untuk dipahami.

Di sinilah, maka yang terpenting modal penulis adalah: berpikir, berkhayal, berimajinasi, berempati, berenung, bertamasya, berpetualang, berselancar, bermeditasi, berandai-andai. Apa yang akan ditulis jika serangkai alat itu tidak terpunyai?

Dalam banyak kasus imajinasi adalah ikhwal utama yang mendorong seseorang terpanting dream kehidupannya. Tanpa imajinasi kehidupan akan kerontang seperti hutan di musim kemarau. Karena itu, jika imajinasi seseorang subur maka ibaratnya seperti hutan yang rimbun. Hutan rimbun akan memberikan ruang kehidupan akan segala satwa. Metafor satwa itu dengan sendirinya adalah orok-orok (ide) kepenulisan cemerlang.

Imajinasi yang benar akan teriringi oleh keyakinan mendalam. Sebuah basis penting dalam merengkuh ekspresi batin. Imajinasi dan keyakinan inilah kemudian yang memberikan motivasi tersendiri sehingga melahirkan tulisan (wujud ekspresi) yang seringkali serupa teror. Belajar dari bahasa teror Putu Wijaya, dalam akuannya, dia menulis alir saja. Yang terpenting baginya adalah imajinasi itu sendiri. Imajinasi yang bagaimana? Melompat. Karena itu, drama dan novel Putu Wijaya, sebagian pembaca akan menilai terpotong-potong. Tetapi, itu sesungguhnya ibarat musaik estetik yang kelindan dalam lompatan komunikasi.

Di sinilah, jika dasar utama kepenulisan adalah cinta, maka imajinasi yang terbangun adalah gerak cinta yang meluap pada realita. Cinta secara umum seringkali berkaitan dengan (a) cinta sesama manusia, (b) cinta lawan jenis, (c) cinta tanah air, dan (d) cinta keilahian. Dengan begitu cinta dalam konteks ini akan alirkan keberlibatan emosi, keterlibatan emosi akan membangun humanitas, dan humanitas akan lahirkan keharmonisan. Tulisan-tulisan yang bermakna paling tidak penting bermuara pada hal demikian.

Untuk itu, jika Anda ingin berkarya tentunya pemahaman akan makna cinta ini menjadi yang pertama untuk disematkan di dalam sanubari. Kenakalan pikir yang melahirkan teror-teror itu akan menjadi fondasi dan dinding bangunan. Sedangkan imajinasi akan menjadi atap dan langit bangunan itu sehingga memberikan keyamanan. Sebuah metafor unik yang dalam pandangan antropologis mengingatkan akan pentingnya kontekstualitas budaya di mana tulisan itu ber-sanad.

Mungkinkah kita yang baru memasuki pintu kepenulisan mampu melakukannya? Sangat mungkin. Bukankah cinta dan imajinasi adalah kodrat yang melekat? Persoalannya barangkali bagaimana menyemai dan menyuburkan keduanya di taman-taman kehidupan dan bagaimana merawatnya menjadi tumbuhan indah yang menghidupi?

Karena itu, latihan imajinasi sebagaimana dialami Eka Budianta ketika mengikuti pelatihan kepenulisan di Australia menarik untuk dikondisikan dalam praksis kehidupan kita. Mengapa? Untuk menyuburkan imajinasi sehingga berbuah cinta yang meneror. Bagaimana? Jika Anda kesulitan memahami ungkapan-ungkapan metaforik Eka Budianta ini barangkali menarik membaca tulisan serupa tentang ruh cinta dalam pengalaman Abdul Hadi di bagian kedua.
Ia akan menjadi jangkar dan jaring emosi yang menggerakkan!
***

*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos.

Jumat, 05 Desember 2008

HAMSAD RANGKUTI: MENULIS SEBAGAI PROFESI

Sutejo*
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Siapa yang tidak kenal Hamsad Rangkuti? Sastrawan ini lebih dikenal sebagai penulis fiksi yang andal. Kumpulan cerpennya, Bibir dalam Pispot mendapatkan hadiah Khatulistiwa Award dengan total Rp 70 juta berikut berjalan-jalan keliling Inggris.

Dalam laporan MataBaca, Hamsad mengungkapkan beberapa hal penting yang menarik untuk direnungkan. Hal menarik itu diantaranya adalah (a) dia mulai meninggalkan beberapa kegiatan yang tidak ada kaitannya dengan menulis, (b) semakin banyak membaca semakin banyak yang bisa diperoleh, (c) dialog dan narasi akan datang susul menyusul, begitu latar, tokoh dan peristiwa ditemukan (September, 2005:10). Di samping itu, dalam sebuah media nasional Hamsad diberitakan mempunyai kebiasaan aneh, “kungkum di kolam rumah setiap pagi berkisar 2 jam”.

Jika kita ingin belajar menulis dari tokoh ini, maka hal pertama yang menarik diingat adalah “bagaimana keberanian kita untuk meninggalkan hal-hal (tugas-tugas) yang tidak ada kaitannya dengan menulis”. Dalam praksis kehidupan mutakhir, memang, hal ini sulit dilakukan. Apalagi, jika kita mengingat banyak penulis yang melakoni profesi ganda. Ada yang dosen, dokter, psikolog, penyanyi, artis, wartawan, dan sebagainya. Hanya, hal positif yang dapat ditarik dari apa yang diputuskannya itu adalah (a) menulis butuh pengorbanan, (b) menulis butuh fokus, dan (c) menulis butuh profesionalitas.

Meninggalkan tugas lain selain menulis memang terlalu “naïf” barangkali bagi sebagian orang. Tetapi, dalam dunia kepenulisan banyak pula orang-orang yang memang hanya menggantungkan pada profesi kepenulisan. Nama-nama seperti Beni Setia, Harjono WS, Ratna Indraswari Ibrahim, Afrizal Malna, Ucu Agustin, Eka Kurniawan, dan Isbedy Setiawan adalah orang-orang yang istikomah di bidang kepenulisan.

Karena itu, hal-hal yang dapat dieksplorasi berkaitan untuk menyubutkan kepenulisan adalah kegiatan macam (a) membaca, (b) diskusi dengan kolega dan siapapun, (c) bertamasya spiritual untuk menemukan ide, (d) berenung, (e) meditasi, (f) mendengarkan musik dan menonton film, (g) mengritisi berita, (h) mendengarkan cerita dari teman, (i) mencari hal-hal unik di lingkungan, (j) mencari dan merenungkan hal-hal yang bernilai humanitas tinggi, (k) melukis, (l) seminar dan workshop, (m) sharing proses kreatif dengan banyak pihak, dan berbagai kegiatan empatif lainnya.

Mengapa kegiatan ini penting dibudidayakan? Tentunya, hal ini didasari oleh filosofi bahwa dar semua itulah ide kepenulisan dapat direngkuh. Dari pengalaman banyak penulis hal-hal itu dinilai dapat menelurkan ide menarik. Untuk ini, jika Anda berkepentingan untuk menemukan sejumlah ide maka hal-hal itu penting difasilitasi agar tugas-tugas kepenulisan dapat dikaryakan.

Kedua, berguru pada membaca. Bagi Hamsad, semakin banyak membaca memang akan semakin banyak yang dapat diperoleh. Karena, memang, dengan membaca transfer informasi dapat dipetik, pengetahuan dapat diraih. Pengalaman Negara Jepang, misalnya, bahkan telah mentradisikan membaca dan menulis dalam hari-hari keluarga di Jepang. Akibat dari hasil membaca ini bagi Jepang adalah transfer ilmu pengetahuan dan teknologi secara besar-besaran sejak 1962.

Dengan begitu, jika kita ingin menulis memang penting untuk membumikan kebiasaan membaca. Membaca sendiri memang ibu kandung dari ilmu pengetahuan. Di samping, dengan membaca imajinasi dapat berkeliaran bebas, mengembara tanpa batas, tanpa penyekat. Sebuah tamasya hati dalam bahasa Ibnu Duraid. Mengingat substansialitas membaca demikian maka kunci keberhasilan kepenulisan terpanggul di pundaknya. Hal ini mengingatkan akan filosofi membaca sebagai si peminta sehingga jadi kaya. Membaca dalam konteks kepenulisan fiksi tidak terbatas. Apa pun materi pembacaan akan memperkaya imajinasi: politikus busuk, perempuan peselingkuh, suami takut isteri, kriminalitas, sensualitas, dan sebagainya. Pendek kata dalam rumus penulisan fiksi tidak ada pembatasan materi. Semuanya bermanfaat untuk menumbuhkan imajinasi.

Ketiga, adalah pentingnya mengalir dalam menulis. Resep penting Hamsad adalah bagaimana dialog dan narasi akan datang sendiri ketika seorang pengarang telah mampu melakukan pelukisan latar, tokoh, dan terpilihnya peristiwa sebagai ruh cerita. Peristiwa dalam penulisan fiksi, sebagaimana saran banyak pengarang, bukanlah sekadar peristiwa biasa. Tetapi sebuah peristiwa terpilih. Peristiwa tentu melahirkan tokoh dan tempat, karena itu, ketiganya merupakan tautan penting yang menarik untuk dipahami.

Di situlah, sebagaimana pengakuan Hamsad narasi akan hadir, dialog akan menyusul. Dalam praktik komunikasi memang kehadiran tokoh nyaris tidak mungkin tanpa ”narasi”, tanpa dialog. Hal itu, akan tercipta ”otomatis”. Hanya, problem penulis baru biasanya adalah bagaimana memindahkan narasi ke dialog, dan dari dialog ke narasi.

Dalam praktik kepenulisan, dialog dapat dihadirkan dalam bentuk pertemuan tokoh, munculnya tokoh baru, melalui mimpi, atau lamunan. Untuk ini barangkali problemnya adalah bagaimana imajinasi pengarang lebih alami dalam memandang realita sosial. Kemahiran narasi sebaliknya dapat diciptakan misalnya untuk (a) melukiskan tokoh, (b) melukiskan seting, (c) menceritakan watak, (d) membuat alur cerita, (e) mengilustrasikan konflik, samapi (f) menceritakan lamunan.

Dalam pertemuan dengan penulis pada tahun 2001, Hamsad pernah menceritakan tentang cerpen yang sempat menimbulkan keresahan isterinya. Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu. Sebuah cerpen yang menurut amatan saya, itulah yang paling panjang judulnya. Berpijak dari contoh ini, maka hal menantang adalah keberanian kita untuk berbeda. Berani melakukan sesuatu yang –barangkali belum ada sebelumnya--. Contoh cerpen itu adalah “kelangkaan” dari aspek judul cerpen sebelumnya.

Hal lain yang dapat dipetik dari Hamsad adalah bagaimana menjadikan profesi menulis sebagai yang utama. Bahkan, sebagai gantungan hidup. Pilihan profesi yang tidak semua berani melakukannya. Apa pun tentu dalam logika motivasi jika ditekuni akan mendapatkan manfaat dan hasil yang tidak sedikit. Untuk itu, jika dunia semakin rumit, kompleks, maka pilihan kepenulisan sebagai profesi merupakan satu alternatif. Di samping, dunia kepenulisan ini akan memberikan kedewasaan dan kematangan mental-hati untuk menjadi manusia sempurna. Bercahaya hatinya, cari dan mengalir batok kepalanya.

Kesimpulan, jika kita pengin menulis fiksi maka mengalir sajalah dengan membayangkan tokoh, tempat, dan peristiwa. Narasi dan dialog dapat diciptakan. O, ya satu lagi, tentang kebiasaan Hamsad yang berendam di kolam, ternyata dilakukan untuk menemukan ide. Aneh, memang. Begitulah seringkali penulis memang aneh. Karena itu, jangan kuatir, jangan takut jika statu waktu menjadi manusia aneh! Selamat mencoba.. Mengawali hari ini menuai di hari nanti.
***

*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos

Sabtu, 29 November 2008

Anand Krishna: Menulis Ibarat Melahirkan

Sutejo
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Berawal dari penerbitan rekaman ceramah-ceramahnya tentang meditasi dalam bentuk buku pada tahun 1990, Anand Krishna lalu menjadi penulis buku yang sangat produktif. Hingga tahun ini telah 57 judul buku karya Anand dicetak, selain 7 judul buku audio dan 3 judul dalam bentuk VCD. Apabila dipukul rata selama 14 tahun, berarti setiap tahun ia dapat menulis sekitar empat judul buku! Meski demikian, ada tahun-tahun yang memperlihatkan ia memang sangat produktif seperti pada tahun 1999. Menurut Anand, tahun itu ia mampu menghasilkan 15 buku cetak dan audio.

Bagaimana hal itu dapat terjadi? Lelaki pengagum Soekarno itu menyebutkan bahwa hal ini dikarenakan oleh apa yang akan ditulisnya itu memang sudah lama menempel di kepalanya. Seluruh isi kepala yang menumpuk itu adalah buah dari ratusan buku yang telah dibaca sebelumnya dan tinggal dikeluarkan saja. "Kalau sedang menulis, rasa-rasanya seperti perempuan hendak melahirkan, tidak bisa ditahan-tahan lagi. Semuanya harus dikeluarkan segera," katanya.

Selain itu, produktivitas dalam menulis juga terjadi karena ia punya cukup banyak waktu. Saat ini, praktis kegiatan utamanya adalah mengajar meditasi, baik di rumahnya, di daerah Sunter maupun di Ciawi, dan menulis. Waktu cukup banyak itu dimilikinya karena sudah se¬lama 16 tahun ia membiasakan diri hanya tidur selama empat jam dalam sehari dan selalu selektif dalam memilih undangan untuk menjadi pembicara.

Apa yang dapat diambil dari Anand Krishna? Uh, luar biasa. Pertama, menyediakan banyak waktu dengan manajemen meminimalisir kegiatan. Seringkali, memang, kita tidak baik dalam mengelola kegiatan. Prinsip proporsionalitas dan mendahulukan yang lebih penting belum dimanaj dengan baik. Amanat penting dari pengalaman Anand, dengan sendirinya, adalah bagaimana kita memiliki manajemen kegiatan sehingga tetap positif untuk fasilitasi pengembangan kepenulisan.

Kedua, penggalian endapan pikiran hasil pembacaan yang sudah ada dalam pikiran. Di samping kebiasaan membaca yang luar biasa, bagi Anand, proses pengendapan membaca tentunya terproses di bawah sadar sehingga kental di dalam pikiran. Untuk ini, penting dipikirkan oleh kita calon penulis agar bagaimana membiasakan membaca dalam kegiatan sehari-hari. Jika mungkin, menjadikan membaca sebagai makanan pokok yang penting untuk diciptakan setiap hari.

Ketiga, menulis membutuhkan waktu tak pernah kompromi dalam pelahirannya. Sampai-sampai, Anand menyebutnya menulis itu seperti proses melahirkan. Artinya, masalah waktu tentunya tidak bisa ditawar-tawar. Untuk itu, yang penting dipikirkan adalah bagaimana kita mampu menyediakan ”sepenuh waktu” bagi calon anak berupa orok tulisan. Dengan begitu, maka, proses persalinan pun dapat lancar dan mendapat fasilitasi yang lumayan.

Keempat, profesi apapun tampaknya tidaklah tabu untuk membudayakan kepenulisan. Bahkan, sebagaimana saya singgung dalam tulisan yang lain, hal itu dapat mampu meningkatkan kesuksesan di bidang profesi yang kita geluti. Anand Khrisna adalah contoh penting sukses di bidang trainer di samping bidang kepenulisan. 57 buku lahir sejak tahun 1999 adalah bukti empirik yang luar biasa. Bahkan dalam satu tahun (1999) dia mampu melahirkan 15 buku!

Bagaimana dengan Anda? Sukses menulis tentu tak terlepas dari kemampuan membaca. Entah, suatu waktu hasil membaca itu akan seperti ”orok yang masak”, yang tinggal menunggu waktu persalinan. Ok, selamat mengandung untuk melahirkan ”anak-anak” yang cerdas di masa depan!***

*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos

Kamis, 20 November 2008

BERGURU PADA KETERBIUSAN MENULIS BUDI DARMA

Sutejo*
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Tanggal 8 Desember 2007 adalah hari pelepasan seorang sastrawan besar Indonesia. Sastrawan itu sering memiliki jargon yang unik, jargon itu diantaranya adalah (i) bahwa dunia sastra adalah dunia jungkir balik, (ii) pada mulanya karya sastra adalah tema, (iii) menulis itu berpikir, (iv) menulis rangkaian dari peristiwa kebetulan, (v) menulis itu seperti naik pesawat terbang (kuatnya imajinasi), (vi) menulis sebagai identitas budaya, karena itu ia hampir menuliskan seluruh tulisannya dalam bahasa Indonesia, (vii) menulis asal menulis dan asal mengikuti mood, tanpa draft, dan tanpa apa pun (sebuah kondisi terbius), (viii) menulis adalah masalah waktu, karena itu menulis akan lancar, manakala suasana menyenangkan untuk menulis tidak terganggu-ganggu, (ix) falsafah “realitas burung” yang mengerakkan, (x) pengarang adalah proses mencari, dan karya sastra adalah rangkaian proses mencari itu, dan (xi) pengarang tidak pernah puas dengan karyanya sendiri.

Dan pada hari itu, bersama itu pula diluncurkan buku untuk memperingatinya berjudul Bahasa, Sastra dan Budi Darma (JP Press, 2007). Buku ini pun mengupas senarai pemikirannya yang tersisa (tercecer) dari Budi Darma. Belajar memaknai proses kreatif Budi Darma tentunya dengan pemikiran imajinatif dan eksploratif. Sebab sebagaimana wawancara imajinatif Budi Darma dengan Sony Karsono dalam Prosa3 (2003:149-198) yang berjudul Obsesi, Burung Ganjil, Perempuan Berkumis tampak merupakan hal terpenting dalam perjalanan proses kreatifnya.

Budi Darma sendiri adalah seorang guru besar yang tahun lalu baru purna. Lelaki yang lahir pada 25 April 1937 ini, sejak muda telah gandrung dengan tulis-menulis. Pada 1974 ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi di Universitas Indiana, AS, jurusan Creative Writing. Ph.D-nya diselesaikan pada tahun 1978. Karya-karya yang lahir dari jemarinya diantaranya: Olenka (1980), Orang-Orang Bloominton (1980), Rafilus (1988), Solilokui (1993), Harmonium (1995), Nyonya Talis (1996), Kritikus Adinan (2002), Fofo dan Senggering (2006). Beberapa penghargaan telah dikoleksinya. Diantaranya adalah Olenka sebagai novel terbaik DKJ (1983), Hadiah Sastra dari Balai Pustaka (1984), Southeast Asean Award dari Pemerintah Thailand atas karyanya berjudul Orang-Orang Bloominton (1984), Anugerah Seni dari Pemerintah RI (1993), dan Freedom Institut Award (Ahmad Bakrie Award, 2005). Di samping itu, dia pernah mendapat penghargaan dari Kompas, termasuk beberapa cerpen terpilih sebagai cerpen-cerpen terbaik Kompas.

Dunia jungkir balik dalam pengertian pengalaman proses kreatif Budi Darma sesungguhnya merupakan dunia karakter yang mengalir yang alir pada para tokoh. Hal ini sebagaimana tampak kuat dalam Olenka dan Rafilus yang menunjukkan dunia jungkir balik itu. Dunia absurd yang tak terdeteksi oleh logika. Dan karena itu, logika ditabrak, filsafat diusung. Sebuah penjungkirbalikkan yang syah dalam karya.

Terkait dengan penjungkirbalikan itu, maka hal yang menariknya adalah bagaimana pentingnya tema dalam penulisan karya. Tema memang seperti sumur yang tanpa dasar, muara cerita tempat mengalir segala karakter melalui tokoh yang lahir melalui tema itu sendiri. Dengan demikian, tema seperti rumah pertama yang diancangkan, sementara tokoh dan karakter, alur dan peristiwanya, hanya merupakan penyangga cerita. Hal pengiring kemudian yang sekarang berkembang dalam pengalaman kreatif Budi Darma adalah nalar dan bahasa. Ketiga hal demikian merupakan hal penting yang saling bergandeng tangan.

Menulis itu berpikir. Berpikir artinya bernalar, bernalar artinya berbahasa secara cermat. Seperti dalam pengolahan tema yang memanfaatkan kemampuan bernalar dan berbahasa, berpikir adalah seperangkat kerja berbahasa yang elok dalam merangkai pemikiran. Karena para tokoh juga menyampaikan pemikiran, maka bercerita hakikatnya juga berpikir melalui para tokoh di dalamnya. Ujungnya, tokoh-tokoh yang diciptakan hidup dalam pikirannya sendiri (meskipun tentu diciptakan penulisanya).

Dalam konteks kehidupan berbahasa masyarakat intelektual kita seringkali terjadi kesalahan-kesalahan berpikir. Bagi Budi Darma, karena itu, pertama-tama syarat penulis ada dua hal (meminjam bahasa Prof Febiola): (a) ketajaman hati dan (b) kecerdasan berpikir. Dua hal ini tentu menjadi sebuah perpaduan pikir dan hati. Tak heran, jargon Budi Darma yang sering penulis dengar adalah menulis itu berpikir. Kecerdasan berpikir –yang dalam konteks temuan motivasi terakhir— mencakup berpikir sadar dan bawah sadar. Berpikir sadar menuntut pada kemampuan mengumpulkan informasi, membandingkan, menganalisis dan menilai. Sementara, kemampuan berpikir bawah sadar sesungguhnya lebih kompleks dan rumit. Dalam bahasa Adi W. Gunawan, kecakapan berpikir ini mencakupi: kebiasaan, emosi, memori jangka panjang, kepribadian, intuisi, kreativitas, persepsi, dan believe plus value.

Dengan kata lain, penulis sesungguhnya adalah kompleksitas berpikir yang terentang dalam tali otak kanan dan kiri. Bawah sadar dan sadar. Bahkan jika dicermati kecakapan berpikir bawah sadar lebih dominan daripada berpikir sadar. Hal ini, didasari fenomena bahwa proses kepenulisan seringkali berlangsung dalam wilayah bawah sadar. Dalam proses kreatif sering dipahami sebagai peristiwa mooding. Karena itu, barangkali dapat disimpulkan jargon Budi Darma yang mengatakan menulis itu berpikir sesungguhnya menyaran pada padang lapang keluasan cakupan berpikir yang demikian. Menulis sebuah kompleksitas berimajinasi, berempati, bermeditasi, beraksi, bernaluri, berkreasi, berkepribadian, berkeyakinan, beremosi, berkebiasaan, berpersepsi, dan seterusnya.

Sementara itu, ketajaman hati akan mengingatkan kita sebagai penulis penting memiliki: norma, moral, empati, humanitas, dan jenis kodrat “kebaikan” lainnya. Karena hati tak pernah bohong maka kesadaran penulis adalah kesadaran hati nurani. Ketajaman hati lebih dari itu mengingatkan kita akan pentingnya proses mental berpikir bawah sadar.

Hati akan menuntut rasa cinta, buah kasih, rasa sesama, rasa berlibat dalam segala bentuk. Di sini menyaran pada bagaimana menuangkan feeling dan tone penting dalam karya. Sementara, itu bagaimana ketajaman hati juga menuntun pada kemampuan mengkarakterkan tokoh dan kemas setting penting dengan membalutkannya pesan implisit. Sebuah ornamen unsur yang tertali oleh ketajaman hati. Pendek kata: karya sastra merupakan buah kelindan dari kodrat manusia sebagai homo sapiens, homo faber, dan homo ludens. Penuh aroma kognisi, aroma kerja keras, dan aroma imajinasi plus kreasi. Kemudian mengristal pada aroma humanitet yang me-ruh.

Dengan kata lain, karya sastra yang dilahirkan seorang penulis yang memiliki kemampuan berpikir dan ketajaman hati akan mengingatkan tentang “kebaikan”. Kodrat pesan implisit yang selalu dilesapkan, ditata berkelindan dalam ornamen unsur karya hingga memesona. Di sinilah, tampaknya yang menggerakkan Budi Darma dalam menilai segala tafsir dan karya dengan cara yang tak pernah “menyalahkan” tetapi selalu mengajak berenung, merefleksi diri. Sebab hakikat segala sesuatu beroposisi binner, dikotomi yang selalu menuyuguhkan dimensi makna. Tak heran, jika dalam sebuah esai menariknya yang diterbitkan Pusat Bahasa dan Remaja Rosdakarya ia mengatakan sastra sebagai “jendela yang terbuka”. Sebuah oase?

Hal lain dalam pengalaman menulis Budi Darma yang menarik adalah ternyata cerita yang dibangun sering dan banyak terinspirasi oleh peristiwa yang ditemukan secara kebetulan. Kebetulan demi kebetulan yang dirangkai, seakan kebetulan itu adalah sebuah isyarat baginya. Dengan demikian, jika kita menemukan sesuatu yang kebetulan maka menarik untuk direnungkan, direfleksikan, untuk pada akhirnya diimajinasikan ke dalam sebuah cerita. Bagaimanapun, peristiwa kebetulan hakikatnya bersifat khususi, yang tidak setiap orang dapat menemukannya (mengalami?), maka sebuah peluang kerja kreatif dapat bersandar jika diimbangi dengan pemikiran kreatif dan imajinatif. Sebuah makna metaforis dalam praksis kerja kreatif penting untuk terus ditumbuhkembangkan.

Selanjutnya, sebagaimana Budi Darma banyak bercerita tentang keinginannya terbang, maka banyak falsafah burung yang diidolakan dalam karya-karya. Derabat dan Gauhati, misalnya, mengambil tamsil burung ini sebagaimana pengalaman perjalanannya di India.
***

Sebagai seorang esais, Budi Darma sering berbagi pengalaman kreatif –baik secara langsung maupun tidak langsung--. Ada beberapa tulisan yang memuat pengalaman proses kreatifnya: (a) “Obsesi, Burung Ganjil, Perempuan Berkumis”: dialog (“imajinasi”) dengan Sony Karsono dalam Jurnal Prosa3 (2003:149-198); (b) “Memperhitungkan Masa Lalu” dalam Bukuku Kakiku (Sularto dkk, ed, 2004:67-83); (c) “Pengakuan” yang dimuat di kumpulan esai Solilokui (1998), (d) “Mulai dari Tengah” yang dimuat dalam buku Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang (Pamusuk Eneste, 1982); (e) “Prakata: Mula-mula adalah Tema” Pengantar dalam buku kumpulan cerpen Orang-Orang Bloominton (1980), dan (f) “Asal-usul Olenka” dalam novel Olenka (1983). Pada beberapa pertemuan penulis, sempat muncul juga pengakuan “tidak langsung” Budi Darma tentang proses kreatifnya. Yang semuanya penulis (maaf lupa tanggal dan tahunnya): dalam ruang-ruang kuliah ketika Budi Darma menceritakan karya-karya sastrawan semisal Fira Basuki, Sirikit Syah, dan Lan Fang. Kemudian dalam Peluncuran Kota Tanpa Kelamin karya Lan Fang di Toko Buku Toga Mas. Sebelumnya, dalam Pertemuan Sastrawan Nusantara di Surabaya ketika menjadi moderator Budi Darma. Sebelumnya, dalam pertemuan HISKI di Solo ketika UNS jadi penyelenggara. Sebelumnya, jauh sebelum penulis sarjana di IKIP Malang ketika dalam sebuah seminar Budi Darma bersama Zawawi Imron dalam seminar sastra. Terakhir dalam pelepasan Budi Darma sebagai guru besar Unesa sekaligus peringatan 70 tahun pengabdiannya dalam hidup: refleksi pembacaan atas karya Mashuri adalah refleksi tentang pengalaman kreatif di beberapa sisi.

“Pengakuan” sebagai tulisan yang dimuat dalam Solilokui berawal dari pengantar pembacaan cerpen Budi Darma di Taman Ismail Marzuki pada 10 Desember 1982, dimuat di Horison pada Mei-Juni 1982. Sebuah tulisan yang menyibak mengapa dan bagaimana Budi Darma menjadi pengarang.

Kemudian “Mulai dari Tengah” berisi pengakuan Budi Darma berkisar pada masalah yang sama: mengapa dan bagaimana mengarang. Pada beberapa pertemuan, Budi Darma mengatakan mengarang sebagai takdir. Banyak penulis sekarang yang nyaris mengikuti langkah Budi Darma ini macam Mashuri, Lan Fang, Yati Setiawan, dan Wawan Setiawan. Pada kesempatan lain, ketika bertemu dengan HU Mardiluhung, ia juga mengatakan menulis semacam takdir, karena ketika ia diminta kembali untuk menceritakan proses kreatifnya “tidak bisa”.

Mengapa takdir? Kodrat bakat, kemauan, dan kesempatan untuk menulis dalam argumen Budi Darma adalah bagian dari takdir ini. Mungkin ada orang yang memiliki bakat tetapi tidak memiliki kemauan dan kesempatan sehingga tidak mampu berkarya. Ada orang yang memiliki kemauan tetapi tidak memiliki kesempatan dan bakat sehingga tidak mampun menulis. Atau, bisa jadi ada kesempatan menulis karena tidak memiliki kemauan keras dan bakat yang mengelindan mereka tidak juga bisa berkarya. Sebuah takdir memang.

Meskipun dalam diskusi tentang proses kreatif sering kali muncul bahwa bakat bukanlah satu-satunya penentu (takdir?), tetapi akuan menarik Budi Darma adalah refleksi penting jika kita berniat membuka tabir pendora kepenulisan. Bagi kita penting pula merenungkan apa yang pernah diungkapkan Mochtar Lubis bahwa kebakatan hanyalah berandil sekitar 20 persen saja dari keberhasilan kepenulisan. Artinya, 80 persen sesungguhnya dibingkai oleh etos dan kerja keras dalam mewujudkannya. Sekaligus ini mengingatkan kita memang menulis merupakan keterampilan maka tidak ada cara lain dilatihkan seperti kala kita akan naik sepeda motor, berolahraga, berselancar, dan sebagainya.

Refleksi ketakdiran dalam kepengarangan Budi Darma dapat dipahami dalam akuan yang begini, “Tidak menulis menulis berarti berkhianat terhadap takdir. Tanpa menulis hidupnya terasa kosong, dan ia jarang menulis.” (Darma, 1984:2). Sebagai penulis Budi Darma seringkali tidak merasa bahagia sebaliknya sengsara. Sebagaimana diingatkan dalam teori refleksi, bahwa karya hakikatnya merupakan refleksi batin pengarang, sesungguhnya bermuara pada impresi pertama-tama atas realitas yang mengiringinya. Impresi Budi Darma, kemudian akan menjadi terjemah realita macam yang diingatkan dalam teori mimesis. Cerpen Pilot Bejo, misalnya, adalah transformasi imajinasi antara fakta dan fiksi atas realita Adam Air saat itu. Sebuah kodrat manusia yang hakiki memang menulis karena ayat-ayat yang dikalamkan Tuhan pertama kali mentasbihkan untuk pentingnya manusia membaca dan menulis. Sebuah perintah (takdir) manusia untuk menulis. Tetapi, sebagian kecil saja yang merasakan ketakdiran (kewajiban) ini sebagai dosa jika tidak mewujudkannya. Hardjono WS, penulis senior asal Mojokerto itu pun, pernah berpesan ketika di Ponorogo begini, “Ciri manusia itu menulis. Karena itu, jika tidak menulis bukanlah manusia!”

Sumur tanpa dasar proses kreatifnya mengingatkan kita untuk pentingnya berkarya. Ayu Sutarto bilang, menulis itu indah, berpikir itu merajut dzikir, dan berkarya itu merajut pesona. Sebuah aforisme refleksi ketakdiran yang mengesankan. Untuk inilah berkaca dari keberpikiran, kekaryaan, dan langkah menulis Budi Darma menarik untuk dibaca. Berguru pada Budi Darma. Nyantrik untuk memetik makna yang menggerakkan.

Sebelum menulis Budi Darma seringkali melakukan beberapa kegiatan. Wahyudi Siswanto dalam Budi Darma: Karya dan Dunianya (2005) mengisahkan ada empat kegiatan penting yang dilakukannya: (a) berjalan-jalan, (b) membaca, (c) mendengarkan, dan (d) memperoleh pengalaman. Kegiatan pra kepenulisan lazim ditempuh oleh para sastrawan. Sastrawan Danarto misalnya, selalu menulis pengalaman sosialnya dalam buku harian. NH Dini suka mengamati realita. Hamsad Rangkuti pun tak jauh berbeda.

Kegiatan pertama Budi Darma adalah berjalan-jalan. Penyair Beni Setia yang kini tinggal di Caruban, pernah bertutur pada penulis dia juga melakukan kegiatan seperti Budi Darma. Berjalan-jalan untuk menemukan ide. Pernah pada suatu kesempatan ia menaiki bus jurusan Surabaya, naik bus kota, sampai ia menemukan ide untuk kepenulisan. Budi Darma menyenangi kegiatan ini. Bahkan ketika di kampus, penulis sebagai mahasiswanya, sering menemukan Budi Darma berjalan ke kampus. Sapaan halus seringkali dalam bahasa kromo merupakan kekhasan “kelembutan hati”.

Novel-novel Budi Darma sering diilhami oleh kegiatan awal berjalan-jalan ini. Novel Ny Talis, Rafilus, dan Olenka. Pun cerpen-cerpennya macam Derabat, Gauhati, dan Mata yang Indah dia tulis saat berjalan-jalan ke India. Orang-Orang Bloomington adalah refleksi pengalaman perjalanannya tentang kota dan orang-orang Bloomington. “Di samping menghadapi kompleksitas pekerjaannya, Budi Darma suka berjalan-jalan. Tak peduli cuaca buruk, berjalan tiap hari... Bahkan pada saat hujan salju pun Budi Darma tetap berjalan kaki (Budi Darma, 1980:iv). Refleksi perjalanan itu tampak menonjol dalam cerpen “Bambang Subali Budiman”. Di samping itu, “Laki-Laki Tua Tanpa Nama”, “Charles Lebourne”, “Ny. Elberhart”, “Yorrick”, “Orez”, “Joshua Karabish” dan “Keluarga M” adalah hasil amatan dan refleksi-impresi dalam perjalanannya.

Beberapa kali sebenarnya, penulis sempat bertemu dengan Budi Darma sebelum menjadi “cantriknya” di lembaga formal. Di komunitas Toga Mas, misalnya, ternyata dua kali penulis temukan Budi Darma di sana. Budi Darma, seakan memberikan contoh bagaimana sebenarnya komunitas adalah “cara” mengoptimalkan potensi kepenulisan. Di ruang kelas, misalnya, Budi Darma pernah bercerita tentang Lan Fang dan Fira Basuki. Pada saat itu, hati kecil saya bertanya, “Kok begitu runtut Budi Darma menceritakan “latar pribadi”, eh, ternyata dia secara komunitas memang berlibat dengan penulis-penulis muda juga. Teman-teman lain (yang sebenarnya santrinya) banyak sekali, termasuk Mashuri, Wawan Setiawan, dan Shoim Anwar. Di sinilah, maka kepenulisan mengingatkan akan pengalaman banyak orang akan pentingnya komunitas. Sebuah ruang untuk berbagi, belajar, bergumul “dipelukan” guru kehidupan yang tak berdinding.

Hal lain, yang menonjol dari Budi Darma adalah kebiasaan membaca dna berbahasa. “Ketertiban berbahasa” adalah modal terbesar yang memesona. Dalam berbagai forum, yang saya ingat, adalah kemengaliran dalam berbahasa. Sebagian, orang menyebutnya sebagai “pendongeng ulung”. Termasuk ketika dia menceritakan cerpen Mashuri yang bertutur tentang latar dan tokoh dari kota kecil Lamongan, sungguh sama sekali tidak terprediksikan (ini diceritakan saat memberikan pengantar peyambutan (pelepasan?) Unesa atas purna tugas beliau secara formal.

Secara filosofis, kemudian, dapatlah dipahami bahwa menulis fiksi itu sesungguhnya mendongeng gaya baru. Untuk inilah, kemampuan imajinasi dan visualisasi dalam menciptakan citra pembaca menjadi kunci pentingnya. Sugesti bahasa dengan sendirinya menjadi pintu kemenarikan di samping “keruntutan penalaran” cerita yang memesona. Untuk inilah, jika Anda pengin menulis tidak ada cara lain dengan meningkatkan kemampuan berbahasa dan keruntutannya sebagai dinding tembok kepenulisan itu. Bagaimana? Tentu sebuah cermin menarik untuk kita pajang di ruang-ruang kepenulisan kita.

Berfilsafat. Pada sisi lain, sebenarnya kepenulisan Budi Darma seakan-akan mengajakarkan kita untuk terus-menerus mengais makna kefilsafatan. Logika karyanya, seakan menyadarkan akan eksistensi ketokohan yang menuntun pada puncak kesadaran. Perengkuhan makna. Untuk ini, jika kita memasuki dunia kepenulisan maka kecintaan pada filsafat akan menjadi alat lain yang menarik untuk direnungkan. Hakikat filsafat tentunya akan menyadarkan kita akan (a) kesadaran ontologis macam apa to manusia itu, siapa manusia itu, apa sebenarnya realita dan peristiwa itu dst; (b) kesadaran epistemologis macam bagaimana sesuatu bisa terjadi, kita diciptakan dalam kompleksitas proses, mekanisme kehidupan yang unik dan –dalam bahasa Budi Darma— sering terjadi secara kebetulan dst., dan (c) axiologis macam kebermaknaan, kehakikatan, kemakrifatan sesuatu terjadi.

Bersastra dengan sendirinya adalah berfilsafat, begitulah dia katakan pada sebuah ruang. Dalam kesadaran tariqah kesufian sering dikenal bahwa kehakikatan merupakan jembatan menuju kemakrifatan. Bersastra dengan sendirinya adalah semacam tariq untuk mencapai kesufian. Filosofi ini mengingatkan pengalaman berbagai negara maju yang berbudaya mereka menggauli sastra yang pertama-tama (baru menggauli filsafat) atau menggauli filsafat kemudian merengkuh dunia kesastraan. Atau, bisa jadi kedua akan lahir bersama karena memang kodrat kebineran filsafat dan sastra sesungguhnya bisa berwujud satu tetapi berdimensi dan bersisi wajah. Aristoteles adalah contoh filosof yang tidak saja menekuni filsafat tetapi juga sastra.

Pertanyaannya adalah bagaimanakah memanfaatkan kiat filosofis ini dalam kepenulisan? Hakikat kepenulisan adalah kesadaran di satu sisi dan di sisi lain adalah penghantaran komunikasi untuk membangun kesadaran itu sendiri. Karya sastra dengan sendirinya akan menjadi semacam ruang diskusi, refleksi dialogis untuk menyadarkan. Bukan khotbah. Sebab, sebagaimana disadari dalam teori kebenaran yang hakikatnya relatif, maka karya sastra akan selalu mempertanyakan. Karena karya sastra cenderung mengontekskan, meski termasuk pandangan sastra universalisme sekalipun.

Berpijak dari dunia kefilsafatan inilah, maka sesungguhnya pesan menarik lainnya dari proses kreatif Budi Darma adalah bagaimana sesungguhnya berkarya itu hakikatnya menyuguhnya “teks kebenaran” yang bersifat universal. Artinya, filosofi estetik dan kebermaknaannya bisa berlaku di mana saja dan kapan saja. Inilah, yang pada awal tahun 1984 sempat menimbulkan perdebatan unik antara sastra universal dan kontekstual yang dipelopori oleh Ariel Heriayanto dan Arief Budiman. Uniknya, kedua nama terakhir bukanlah sastrawan. Dengan begitu, kebenaran universal dalam teks sastra penting untuk tidak diperdebatkan karena dalam kontekstualitas itu ada universalitas kebenaran dan estetik. Di sinilah, barangkali, salah satu filosofi menarik dari belantara kepenulisan Budi Darma.

Termasuk cerpen Pilot Bejo sesungguhnya secara teks bersifat kontekstual tetapi secara maknawi sungguh memiliki filosofi makna yang menyadarkan akan eksistensi kehidupan bangsa yang konspiratif dan kolutif. Sebuah universalitas bangsa yang menyedihkan. Dalam teks Pilot Bejo, mengingatkan kita akan perbincangan yang dalam dua tahun terakhir yang dipicu oleh presentasi Budi Darma (baik dalam forum maupun media Jawa Pos) tentang fakta dan fiksi dalam sastra. Abdul Hadi, dalam perbincangan dengan penulis di Paramadina (di jelang pengukuhan guru besarnya 2008) menyadarkan kita bahwa hakikat teks tulis itu fiksi. Baik itu teks ilmiah maupun yang biasa kita kenal dengan karya fiksi. Bukankah pengungkapan pikiran sebenarnya fiksi itu sendiri?

Fakta dan fiksi karena itu, barangkali tidak perlu diperuncing. Hanya, dalam pengalaman Budi Darma, ternyata teks sastra yang dihasilkannya –sesungguhnya— banyak yang berawal dari fakta. Khususnya, fakta yang bersifat kebetulan. Dalam banyak akuannya, bahkan beda dalam narasi komunikasinya membedakan manakah yang fakta dan fiksi dalam komunikasinya terjadi secara tipis. Mungkin kerena kemampuan pendongengnya, atau memang, sengaja Budi Darma memformulasikannya dalam kebiasan yang indah. Bukankah abu-abu justru menggetarkan?

Sesungguhnya berbicara tentang pengalaman kepenulisan Budi Darma nyaris tidak dapt diceritakan. Karena baginya, menulis adalah takdir. Tetapi, sebagai ruang bercermin untuk memotivasi kepenulisan, tidak ada salahnya dicoba untuk “mempolakan” pengalaman itu. Tulisan pendek ini, sesungguhnya semacam sekunderisasi dalam empirisitas kreatif Budi Darma. Paling tidak, menyentakkan kita bahwa kepenulisan adalah belantara yang komprehensif, bukan parsial sebagaimana ditemukan di ruang-ruang kuliah dan sekolah kita yang cenderung memparsialkannya. Bukankah di dunia sastra semua bidang nyaris tak berdinding?

Merengkuh kepenulisan dalam pengalaman Budi Darma, satu hal yang penting adalah pentingnya kita mengidentifikasi aspek kebetulan dalam hidup. Kebetulan inilah kemudian –barangkali—bagian dari takdir itu sendiri. Takdir inspirasional di satu sisi dan di sisi lain mengingatkan akan sifat “khususi kepenulisan”. Sepakat atau tidak, pengalaman unik ini adalah pernik menarik yang dapat dijadikan pemantik kreatif para penulis lainnya di masa depan. Bagaimana dengan Anda? Menggauli sebanyak mungkin proses persalinan karya para penulis akan menuntun kita pada padang luas keunikan dunia kepenulisan itu sendiri.
***

*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos

Selasa, 18 November 2008

BELAJAR MENULIS DARI LAN FANG*

Sutejo
http://sastra-indonesia.com/

Pada tanggal 8 Desember 2007 di Unesa Surabaya kampus Lidah adalah acara Seminar Nasional Sastra Pop untuk mengiringi pelepasan Prof Budi Darma yang purna sebagai guru besar. Pada saat itu hadir, sederetan penulis, penyair, cerpenis macam: Lan Fang, Yati Setiawan, Mashuri, Audex, Kurnia Fabiola, dan Budi Darma sendiri. Rencana, Saparto Broto juga hadir sebagai pembicara. Tapi saat itu tidak dapat hadir karena ada kepentingan keluarga di Jakarta.

Acara itu, di samping berbicara bagaimana Budi Darma, juga berbicara masing-masing proses kreatif para nara sumber. Satu yang dapat dipelajari dalam tulisan pendek ini adalah bagaimana proses kreatif Lan Fang sebagai seorang novelis dan cerpenis. Ketika peluncuran bukunya berjudul Kota Tanpa Kelamin (2007) di Toga Mas Surabaya, dia pun berbicara banyak tentang proses kreatifnya. Pada saat itu, saya bersama Uki (wartawan Antara) bertemu dengan penulis macam M. Shoim Anwar, HU Mardiluhung, Wawan Setiawan, Budi Darma, Syirikit Syah, dan beberapa penulis lainnya.

Dari dua pertemuan itu, apa yang dapat dipelajari dari proses kreatifnya? Beberapa hal berikut menarik untuk dipikirkan (a) bahwa proses kepenulisan itu mengikuti alir sungai (mengalir saja), (b) inspirasi dari karya orang lain, (c) pesan yang ingin dikomunikasikan sampai kepada pembaca, (d) tidak terganggu oleh kategori pop atau serius, dan (e) terus menerus belajar. Lima pesan spiritual yang menggerakkan kita manakala akan memasuki ruang dan peluang kepenulisan.

Pertemuan demikian jika kita mau belajar dan merefleksikannya sebagai sebuah “sekolah alam” tentunya terlalu pendek pertemuan itu jika tidak diabadikan dalam kolom pikiran. Untuk inilah, maka mari kita refleksikan sebagai bahan bincangan menariknya. Pertama, memang benar bahwa proses kepenulisan itu mengalir saja. Jika kita ingin menulis maka “pokoknya menulis”, mengalirkan berbagai pengalaman batin, refleksi kehidupan sosial, bagi tuang hasil bacaan. Sebuah perjalanan karya yang tidak perlu dipikirkan apakah itu nanti masuk karya kategori tertentu. Dengan demikian proses kreatif tidak terkebiri, sebaliknya menemukan jati dirinya yang “luar biasa” alami. Dengan demikian, menulis itu memang sebuah alir pikiran dan perasaan yang sangat dipengaruhi oleh alur dan alir sungai kebahasaan yang dimilikinya.

Permalahan yang sering terjadi di kalangan pemula adalah mereka bingung anak menulis apa dan jenis apa. Mengikuti saran Lan Fang ini, maka ada baiknya kita mengalir, dan jika kemengaliran itu mengantarkan kita di tepiannya atau berakhir di laut mana adalah persoalan hayatan setelah berwujud. Dengan demikian, kadang empirisitas ini kelihatannya naif tetapi sesungguhnya tidak. Pengalaman Andrea Hirata dapat dijadikan contoh. Pengalaman kekagumannya pada guru di SD menginspirasikan dia untuk menulis tulisan-tulisan pendek yang mengalir begitu saja dan dia tidak pernah membayangkan kemudian menjadi novel yang sekarang bestseller. Pertemuan tidak tertuda dengan teman lagi kemudian mengirimkannya ke Bentang adalah lorong rahasia Illahi (semacam karma positif dari gurunya).

Kedua, karena karya hakikatnya sebuah pesan sosial maka seseorang ketika berkarya hakikatnya berkomunikasi pesan dengan orang lain. Dalam konteks ini tentunya adalah pesan penulis (cerpenis) kepada pembacanya. Penting disadari pesan fiksional memang bukan seperti khotbah jumat, maka menemukan pesan karya membutuhkan apa yang di dalam proses pemaknaan karya sastra dikenal pentingnya bekal (a) kode bahasa seorang pembaca, (b) pemahaman akan kode budaya, dan (c) pemahaman akan kode kesastraan. Seorang pengarang maupun pembaca tentunya terikat oleh tiga kode ini yang dalam “proses komunikasi” karya (teks) terjadi interaksi positif dan imajinatif dalam pemaknaan. Sebuah pemaknaan yang khas, karena dalam teori resepsi sastra hal itu sangat tergantung pula pada pengalaman, pikiran, dan imajinasi pembaca. Tugas seorang pengarang, sebagaimana kata Lan Fang, yang penting pesan komunikasi karya dapat sampai pada pembaca.

Isyarat lain dari proses kreatif Lan Fang yang menarik adalah, ternyata icon atau patron guru juga mewarnai proses persalinan karyanya. Budi Darma dalam perjalanan karya-karyanya, tampaknya merupakan apa yang dalam analog cerita Kung Fu cerita Dragon Master, adalah sebuah pergulatan tidak langsung. “Menimba air” dan “mengangkat kayu” adalah bagian dari proses belajar tidak langsung, peselancaran mengarungi laut kepenulisan yang tanpa prasangka.

Di balik pengakuan ini, tentu menerbitkan akuan lain. Ternyata dalam proses berkarya –sebagaimana sering juga saya ungkapkan—tidak terlepas pergulatan guru murid. Budi Darma adalah guru, dan Lan Fang adalah sang murid yang baik. Dalam sebuah ruang kuliah S3, Budi Darma panjang bercerita tentang penulis ini dengan menceritakannya “bagian proses kreatif” dan kebiasaan kecilnya. Sebuah komunikasi positif antara guru murid yang “tidak sadar”. Artinya, pergulatan bawah sadar yang menggetarkan dalam aku kata bahasa. Baik guru dan terlebih muridnya. Dalam ilmu persilatan kata, jika ada murid yang alir jujur, sang guru adalah angguk dan sanjung yang mendorongnya. Di sinilah, maka pengalaman menarik yang penting dipantik jika akan menulis belajar dari Lan Fang ini adalah falsafah proses kreatif yang mendudukkan (termasuk mendudukkan sang guru).

Sifat keguruan (dalam pemodelan ini) tentunya bisa beragam wujud pengaruhnya: (a) kecenderungan karya dan sifatnya, (b) motivasi kekaryaan, (c) penajaman mental kepenulisan, (d) pembangunan networking kepenulisan, dan (e) getar gerak yang terus menghidupkan. Sebuah pembelajaran yang alami karena dalam konteks komunitas demikian hubungan antara guru murid adalah hubungan tanpa batas dan sekat. Sebuah keuntungan yang seringkali tidak kita temukan dalam ruang-ruang formal dinding sekolah (kuliah).

Terakhir, bagaimana dalam merengkuh kepenulisan tidak terjebak pada oreantasi tertentu (kapling-kapling kategorti tertentu) akan banyak membantu kebebasan seorang penulis. Sebagaimana halnya Lan Fang yang tidak terikat apakah ia karya populer atau serius, pokoknya dia berkarya. Mengalir. Hal ini ternyata justru memberikan motivasi besar dalam menulis. Sebab, sebagaimana diungkapkan pula dalam peluncuran kumpulan cerpennya Kota Tanpa Kelamin yang dimoderatori Arif Santosa (redaktur budaya Jawa Pos) dia tidak percaya akan kategori pop dan serius. Yang penting pesannya tersampaikan kepada pembaca.

Di balik itu semua, hal kelima yang menarik dipelajari dari Lan Fang adalah belajar terus menerus. Bagaimana belajar seorang penulis? Dengan membaca yang tidak pernah henti. Karena membaca adalah induk karya maka seorang penulis larangan terbesarnya adalah berhenti membaca. Belajar artinya memahami. Memahami artinya memaknai. Memaknai artinya menjalani proses dialogis. Proses dialogis akan alirkan kematangan. Sebuah kausalitas proses yang tak pernah berhenti yang ujungnya adalah hikmah belajar. Sebuah makna yang tidak selalu formal tetapi proses pemaknaan akan sisi-sisi kehidupan yang elegan (bersisi hati) hingga berpinak falsafi. Di manakah ruang henti belajar? Sebuah metaforik hadis mengingatkan kita bahwa sejulur umur adalah proses belajar itu sendiri yang bersifat wajib. Masalahnya, masyarakat kita belum menjadi ruhul hadis ini sebagai ideologi pemaknaan tetapi baru sebatas jargon khotbah di langgar dan masjid. Sebuah kemunafikan laten yang barangkali pada pantai tertentu akan berbalik jadi hukuman karena manusia tidak amanah dalam kata.

Akhirnya maukah kita berkarya? Jika kita sepakat dengan sindiran Hardjono WS yang pernah mengatakan di SMA Immersion, bahwa ciri manusia yang membedakan dengan makhluk lain adalah menulis; maka marilah kita menulis agar gelar kemanusiaan ini tidak tercabut secara alamiah. Bukankah pengalaman banyak negara maju berhasil karena faktor keberhasilan mereka dalam karya tulis dan intensitas pembacaan mereka? Jika kita sering menghujat realita sosial maka arifnya sudah waktunya kita untuk berbuat, bukan merintih-rintih sebagaimana yang dipesankan oleh Taufik Ismail.

Imaji konseptual tentang kehidupan sosial, misalnya, sebagaimana banyak diungkapkan Taufik Ismail dalam kumpulan puisinya berjudul Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (2005) menarik untuk direfleksikan dalam kata dan karya. Mudah-mudahan masyarakat kita berubah dan mau berubah keadaan negeri yang berumah pedih ini sehingga kerobohannya terhindar karena warganya adalah pilar dan tembok hidupnya yang kokoh. Marilah kita kokohkan bangsa ini dengan menulis di satu sisi dan membaca pada sisi lainnya.
***

*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos

Minggu, 16 November 2008

Arswendo Atmowiloto: Menulis agar Percaya Diri

Sutejo
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Kalau ada penulis yang merasa tidak mampu melakukan kegiatan apa pun se¬lain menulis, itulah Arswendo Atmowi¬loto. Sejak SMA, ia sudah mulai menulis untuk menarik perhatian lawan jenisnya. Bentuk tulisannya adalah cerpen-cerpen remaja. Kemampuannya baru teruji ketika ia yang masih tinggal di sebuah kampung di Solo memenangi lomba cerpen yang diadakan salah satu koran terkemuka di Jakarta pada akhir 1960-an. Kemenangan ini dijadikannya pertanda bahwa menulis adalah jalan hidupnya.

Alasannya sederhana saja. Menurut penulis buku laris Mengarang Itu Gampang ini, ia ha¬nya diperhitungkan oleh kawan-kawannya semasa sekolah dulu karena ia pandai mengarang. Dalam kegiatan lain, seperti olahraga, ia hampir-hampir dianggap tidak ada. Oleh karena itu, menulis menjadi kegiatan yang membentuk kepercayaan dirinya.

Kepiawaian merangkai kalimat dan mengolah cerita dia buktikan saat masih menjadi redaktur majalah remaja Hai. Saat itu, ia mengasuh dan menulis sekitar 13 rubrik sekaligus, seperti ce¬rita bersambung Imung, Kiki, Senopati Pamungkas, dan Keluarga Cemara. Seluruh judul rubrik ini kemudian menjadi judul buku-bukunya.

Meskipun belum pernah menghitung secara serius, Arswendo memperkirakan sekitar 200 judul buku telah lahir dari tangannya hingga saat ini. Seri Imung saja telah dicetak 20 judul buku, sedangkan Kiki 9 judul, dan Keluarga Cemara telah terbit 8 judul. Belum judul-judul lain, seperti Mengarang Itu Gampang, Telaah Televisi, Menghitung Hari, Abal-abal, Canting, Dua Ibu, dan Sirkus. Paling tidak, dari ratusan judul itu, tiga di antaranya diangkat menjadi cerita sinetron, yaitu Imung, Canting, dan Keluarga Cemara.

Wuih! Luar biasa, 200 buku lebih? Itulah buah ketekunan yang diraih Arswendo. Sebab, di awal kepenulisannya, ketika pertama kali karya cerpennya dimuat atas ide cinta kepada teman sekelasnya, ternyata sang ”kekasih” tak mempercayai hingga sang kekasih sudah digaet orang. Pada waktu itu, amarah pun melonjak dengan banyak menulis puisi dan cerpen, namun sial setelah itu lama tak dimuat. Ada pesan menarik dari pengakuannya saat itu, yakni: ”Andaikan aku putus asa ketika itu, barangkali aku tidak jadi penulis.”

Di balik realita demikian, maka ada etos yang dapat dipetik, ada nyali yang penting dicermati. Menulis membutuhkan keduanya agar dapat memperoleh hasil maksimal. Arswendo adalah contoh menarik untuk diteladani. Ketika ia merasa bahwa ia tidak memiliki kemampuan lain kecuali menulis, maka dia memanfaatkannya untuk mencapai hasil yang maksimal.

Untuk itu, jika Anda ingin mengembangkan keterampilan hal terawal yang mutlak difasilitasi adalah keuletan dan etos ini. Meskipun, pada awalnya berangkat dari masalah cinta, tetapi dalam perkembangannya Arswendo banyak menuliskan masalah-masalah sosial, film, budaya, dan lain sebagainya.

Karena itu, penting dipikirkan untuk mengawali bagaimana menulis kuat di salah satu aspek baru merambah pada hal-hal lain. Selamat berkarya, mari kita belajar dari Arswendo! Berawal dari fiksi tak masalah, toh kemudian dapat menulis apapun. Fiksi, memang, seringkali menjadi pintu besar kepenulisan seseorang.***

*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos

MENGUAK JENDELA KEPENULISAN DJENAR MAESA AYU*

Sutejo*
http://media-sastrajatim.blogspot.com/

Djenar Maesa Ayu, adalah sastrawan perempuan mutakhir yang tidak pernah ambil pusing dengan berbagai sebutan. Sebutan yang mengganggu sebagian perempuan itu adalah sastrawangi. Dalam Prosa4, 2004) terungkap bagaimana sisip-sisi proses kreatifnya yang menarik untuk dikritisi sebagai cermin ajar. Beberapa karyanya telah dimuat di beberapa surat kabar dan majalah seperti: Kompas, Media Indonesia, Republika, Lampung Post, Horison, dan Majalah A+.

Perempuan eksotik ini membersitkan beberapa hal yang menarik (a) bahwa dia menulis karena ada desakan untuk menulis (ekspresi jiwa), (b) belajar secara tidak langsung pada karya orang lain, macam Hans Christian Andersen, (c) karya itu refleksi zamannya, dan (d) menulis itu memeri hadiah untuk diri sendiri. Perempuan pengarang ini memang luar biasa, pengalaman hidupnya yang tidak “menguntungkan”, lahir dari keluarga perceraian, namun dia sangat bersyukur mampu merefleksikan pengalaman “kecilnya” ke dalam teks. Bahkan, dalam akuannya dengan Djakarta edisi Oktober 2003, dia mengungkapkan bahwa pengungkapan seksualitas itu adalah buah pengalaman masa lalunya.

Apapun dan dari manapun selalu kita dapat membaca makna di balik pengalaman kreatif seseorang. Untuk inilah, yang unik dari Djenar adalah bagaimana ia memiliki jargon kepenulisan bahwa karya itu merupakan hadiah untuk diri sendiri. Sebuah akuan yang rendah hati memang, tetapi di balik itu, ternyata respon pro dan kontra atas dirinya memang luar biasa. Sebut misalnya, cerpen Menyusu Ayah yang sempat mendapat hadiah dari Yayasan Jurnal Perempuan menjadi semacam “protes” gender yang absurd, aneh, dan luar biasa. Sebuah penjungkirbalikan fenomena, berusung gagasan absurd dari sebuah norma yang dijungkirbalikkan.

Akankah alamat hadiah untuk diri sendiri punya makna bahwa sesungguhnya karya memang merupakan refleksi kejiwaan dirinya? Barangkali ia, barangkali tidak. Tetapi jika melihat dari apa yang diungkapkannya maka hal kedua yang dapat dipelajari memang demikian. Artinya, karya merupakan refleksi batin dan sosialitas pengarangnya. Untuk inilah, maka ketika seseorang berhasil menuliskan sebuah karya, misalnya, seringkali ia pun tidak mengerti mengapa kemudian yang tertulis adalah seperti yang terbaca kemudian. Hal itu sebagaimana disadari banyak penulis, memang menulis adalah sebuah proses bawah sadar, dan karena itu, tulisan seringkali menjadi aura peletupan, pelepasan, dari berbagai hal yang dialami, diketahui, dikritisi, dan lain sebagainya. Sebuah hal yang sangat sensasional manakala kita membaca buku semisal Menulis dengan Emosi dan Diam Bukan Emas yang keduanya diterbitkan oleh Grup Mizan.

Untuk ini, logikanya adalah semakin ruwet seorang penulis, semakin banyak menemukan keanehan diri, semakin banyak yang dipikirkan; maka akan semakin subur pula karya yang dilahirkannya. Dan itulah, memang apa yang dialami oleh penulis lain semisal A.A. Navis, istilahnya: sebuah rangkaian realita yang unik. Untuk itu, saran menarik yang dapat diturunkan kepada Anda adalah amatilah setiap fenomena sosial, pekalah terhadap hal kecil yang barangkali itu adalah isyarat tertentu. Pertemuan Budi Darma dengan Perempuan Berkumis dalam kurun satu minggu adalah keunikan menarik yang kemudian melahirkan beberapa tulisan bertema hal ini. Uniknya lagi, hal itu beriring dengan fenomena lainnya.

Lebih dari itu, maka hal penting yang dapat dipelajari dari Djenar adalah karya memang merupakan refleksi zamannya. Artinya, pandangan ini memang sudah lama, dan mendarahdaging, karena ada pandangan penting dalam teori yang dimunculkan oleh Aristoteles, teori mimetik. Sebuah potret zaman yang senantiasa akan terekam dalam kasanah sastra pada zamannya pula. Bumi Manusia, Rumah Kaca, Cerita dari Blora dari tangan Pramudya itu membersitkan zaman yang kelam dari serangkaian peristiwa yang pernah terjadi di zaman orde militer. Puncak dari orde militer adalah lahirnya Saman dan Larung dari tangan pengarang perempuan Ayu Utami.

Hal terakhir yang unik untuk dipegang adalah bagaimanapun penulis awal seringkali diinspirasikan oleh penulis-penulis sebelumnya. Djenar misalnya terinspirasi oleh pengalaman masa kecil ketika membaca Gadis Korek Api karya Hans Christian. Kemudian setelah dewasa dia banyak bertemu dengan karya-karya Budi Darma, Seno Gumia Adjidarma, Sutardji Calzoum Bahri, dan lain-lain. Dengan begitu, jika kita pengin menulis (dan mau belajar dari Djenar) adalah pentingnya kita tidak alergi membaca karya orang lain. Sebuah wilayah Dragon Master dalam belajar menimba air dan memikul kayu dalam istilah Lang Fang. Sebuah wilayah belajar yang meruang dan mewaktu kemudian menyatu dalam alur alir nadi kepenulisan nantinya.

Dengan demikian, bagaimanapun penting disadari bahwa menulis adalah sebuah wilayah yang kompleks yang seringkali disindirkan orang sebagai “orang yang tak punya gawean”. Percayalah, Anda memasuki wilayah yang paling sempurna karena semua bidang, semua aspek kehidupan, semua tataran masalah; terefleksikan utuh dalam teks-teks sastra maupun teks-teks lainnya. Daripada berpicik pikir menyindir orang menulis sebagai buah bual, melangkahlah Anda akan temukan wilayah tamasya hati sebagaimana disindirkan oleh Ibnu Duraid. Selamat bertamasya menemukan diri Anda untuk mencapai singga karya yang mempesona!***

*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos

Kamis, 13 November 2008

BELAJAR MENULIS DARI BERTRAND RUSSEL

Sutejo*
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Dalam buku Menulis itu Indah (Jendela, 2002) memuat tulisan Bertrand Russel dengan judul Bagaimana Saya Menulis (hal. 8-20). Belajar menulis atau sukses menulis orang lain (terlebih ia sastrawan dunia) dapatlah dipelajari pribadi, kiat, dan tips-nya dalam menulis. Bagaimana rahasia Russel?

Akuan berikut sebagai payung renung untuk memasuki dunia menulis yang luas: (a) ia tidak tahu bagaimana menulis yang baik, (b) sampai usia 21 tahun ia mengikuti gaya John Stuart Mill, (c) pada usia 21 tahun itu pula ia berkeyakinan bahwa menulis adalah meniru teknik para “dewa menulis” (Flaubert dan Walter Fater), (d) menemukan kekeliruan dalam satu aspek ia menuliskan kembali secara keseluruhan, (e) dia menemukan cara menulis secara bertahap, (f) belajar dari kesalahan, (g) apa yang ia tulis adalah yang ia yakini sebagai wahyu, (h) memanfaatkan pengalaman ovantour (berpetualang), (i) peniruan terhadap karya orang lain merupakan sesuatu yang berbahaya, (j) semua gaya bagus manakala mencerminkan kedalaman ekspresi kedalaman penulisnya, dan (k) dia punya tiga saran menulis yang diambil dari Pearsall Smith (iparnya).

Lain ladang lain pula tanamannya, begitulah barangkali yang pertama-tama dapat dimaknai dari pengalaman Russel. Seorang penulis dunia, ternyata begitu mempraktekkan pesan orang lain. Pesan penting yang dia lakukan adalah tiga saran dari iparnya (a) jangan menggunakan kalimat yang panjang jika kalimat pendek bisa dipakai, (b) jika ingin membuat pernyataan berisi beragam kualifikasi, taruhlah kualifikasi itu ke dalam kalimat terpisah, dan (c) jangan biarkan anak kalimat membaca pembaca pada dugaan yang bertentangan dengan akhir kalimat kita. Wah, pesan ini seperti seorang guru bahasa Indonesia saja.

Tapi begitulah, memang, jika kita jujur bidang apa pun, kemampuan menuangkan pikiran merupakan kemutlakan. Hanya orang yang pongah dan menganggap tidak penting bahasalah yang bilang begitu. Dalam amatan saya, ada dua hal yang dapat diterapkan dalam semua bidang (a) keunggulan kemampuan berpikir, dan (b) kemampaun membaca dan menulis.

Tiga saran dari ipar Russel itu, sesungguhnya dapat disederhanakan begini. Buatlah kalimat dalam tulisan pendek-pendek saja, sebab kecenderungan kalimat panjang berpotensi salah lebih besar, karena itu berpengaruh pada makna. Tiga saran itu, karenanya, menyarankan agar kita berhati-hati dalam membuat kalimat panjang baik itu bersifat kualifikatif maupun kalimat turunan. Untuk itu, jika Anda memasuki praksis kepenulisan mutlak bersentuhan dengan “aturan” ini.

Kedua, tidak usah berpikir tentang karya yang baik, pokoknya berkaryalah. Sebagaimana akuan Russel dalam perjalanan panjang kepenulisannya pun tidak paham bagaimana karya yang baik. Biarkan penilaian menjadi hak prerogatif pembaca, dan biarkan Anda tidak terusik oleh komentar pembaca. Ingat pengalaman Langit Kresna Hariadi ketika menuliskan 5 novel Gajahmada begitu banyak kritik berkaitan dengan data sejarah. “Biarkan anjing menggonggong kafilah (menulis) tetap berlari”. Bukankah novel Gajahmada kemudian bestseller padahal sebelumnya nyaris tidak ada penerbit yang sanggup menerbitkannya.

Flaubert, Walter Fater, dan John Stuar Mill menyebut ketiganya guru, “dewa-dewa”. Belajar dari gaya orang lain. Meskipun akhirnya dia berpesan meniru gaya orang lain hakikatnya berbahaya. Akuan ini menerbitkan pembelajaran begini: (i) meniru gaya orang lain menghilangkan kreativitas unik seorang penulis, dan (ii) jika tidak hati-hati kita akan terjebak pada pola orang lain padahal kepenulisan adalah keunikan-keunikan individu yang menarik untuk difasilitasi. Bolehlah, Anda meniru gaya orang lain, hal ini semata-mata untuk membuat alir kata kalimat lancar dan cepat, tetapi pada titik tertentu “tugu kepenulisan” Anda penting untuk didirikan.

Dalam proses menulis, setelah meniru gaya orang lain kita akan menemukan cara menulis “yang cocok” secara bertahap sekaligus menemukan kesalahan. Belajar dari kesalahan adalah kearifan berilmu. Meskipun ilmu menulis banyak tetapi tak jarang orang justru terjebak teori dan sama sekali tidak melangkah. Dosen menulis banyak tetapi karya tulis seringkali jiplak. Kesalahan dalam menulis adalah wajar, dan sebagaimana Russel, hal itu ditemukan setelah sekian lama menulis. Aib? Tentu bukan justru sebaliknya akan melahirkan kearifan dalam kepenulisan. Di sinilah, Russel sampai pada akuannya, “Aku menemukan tahap menulis itu secara bertahap.” Sebuah mutiara kejujuran yang menggerakkan siapa pun kita yang akan masuk lorong dan gua kepenulisan.

Selanjutnya, bahwa menulis itu diyakini sebagai wahyu. Ungkapan berlebihan? Tidak. Larik itu sesungguhnya bermakna begini, bahwa proses kepenulisan itu berlangsung pada saat tertentu, mooding, trans. Artinya, tidak sembarang waktu kita dapat melakukannya. Tetapi, semuanya tergantung situasi bawah sadar yang menggerakkan itu. Untuk inilah, maka jika kita ingin mengembangkan kepenulisan kondisi mood ini layak untuk dirindu dan disyukuri. Sebab, tidak semua orang mengalami dan menemukan sembarang waktu. Kegelisahan mendalam dan keinginan untuk mengungkapkan adalah pintu mooding itu.

Akhirnya, apa yang terpenting dalam menulis? Apa pun gaya yang kita pilih, yang terpenting adalah bagaimana tulisan itu dapat mencerminkan ekspresi terdalam kejiwaan dan kepribadian kita sebagai penulis. Petualangan Russel ketika menulis The Free man’s Worship adalah buah petualangan yang lama di Cumbridge hingga di Roma Italia. Saat advontur itulah dia merasakan kondisi trance, sesak, sebuah kenikmatan dunia imajinasi berbingkai realitas.

Dengan demikian, berguru pada pengalaman Bertrand Russel, tentu kita memasuki padang kejujuran tanpa batas, ruang-ruang kearifan tanpa sekat. Bukankah belajar (apa pun itu) hakikatnya proses. Dan di balik pengalaman proses kreatif Russel kita menemuakan proses, kesalahan, dan kearifan lain menarik dan memantik. Berpikir terbuka, kacamata insklusif, adalah modal lain dalam belajar dari sukses orang lain. Setuju?
***

*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati