Tampilkan postingan dengan label Rina Mahfuzah Nst. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rina Mahfuzah Nst. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 November 2008

KEDAI IBU

Rina Mahfuzah Nst
http://republika.co.id

Berkunjung ke rumah ibu, berarti berkunjung ke kedai ibu. Kedai, yang menyatu dengan bangunan rumah. Dulu, posisi kedai ibu lebih berada di depan jalan, tapi sejak jalan diperlebar, kedai ibu harus mundur beberapa meter ke belakang. Dan, itu berarti bangunan rumah menjadi lebih pendek.

Kedai ibu sekarang sangat jauh berbeda dengan kedai ibu yang dulu, sebelum ayah meninggal dunia. Dulu, bisa dibilang kedai ibu menjadi primadona di daerah kami. Banyak warga yang membeli kebutuhan hidup sehari-hari di kedai ibu. Dari mulai gula pasir, beras, minyak goreng, sampai sabun detergen tersedia. Alat-alat rumah tangga, seperti sapu, ember, termos dan baskom plastik juga ada. Begitu juga segala jenis rokok dan minuman ringan, para pembeli tinggal memilih sesukanya.

Tapi itu dulu, jauh sebelum ayah jatuh sakit dan disusul kematiannya yang sangat membuat kami terpukul. Ayahku seorang pria yang memiliki pergaulan luas. Banyak dari teman-temannya yang sering mengunjunginya. Salah satunya Pak Arbain dan istrinya. Mereka memiliki sebuah toko grosir keperluan sehari-hari yang lebih besar dari milik ayah.

Kalau mereka berkunjung ke rumah kami, aku dan kedua kakakku ikut senang. Pak Arbain dan istrinya tidak pernah lupa membawa buah tangan untuk kami. Ada-ada saja yang mereka bawa. Kadang mereka membawa makanan seperti martabak mesir, es campur, sate padang dan buah-buahan. Mereka juga pernah memberikan hadiah berupa sebuah pesawat televisi bermerk Sony untuk kami. Padahal, menurut Pak Arbain, televisi itu adalah hadiah dari sebuah perusahaan baterei, karena toko Pak Arbain terpilih sebagai toko penjual baterei terbanyak.

Pada suatu hari, istri Pak Arbain datang sendirian ke rumah. Wajahnya tidak seperti biasanya. Tak lama kemudian dia bercerita kepada ayah dan ibu mengenai masalah yang sedang dia hadapi yang membuatnya sedih. Ternyata, diam-diam Pak Arbain mempunyai seorang wanita idaman lain. Ayah dan ibu sangat terkejut, tapi tentu saja tidak dapat berbuat apa-apa, karena permasalahan yang dihadapi Pak Arbain dan istrinya tidak dapat dicampuri oleh pihak lain, meskipun ayah dan Pak Arbain teman akrab.

Tapi ayah dan ibu tidak tega setiap kali istri Pak Arbain mengadukan masalahnya. Mau tak mau ayah tampil juga di antara Pak Arbain dan istrinya. Ayah berusaha mendamaikan perseteruan mereka dan menyadarkan Pak Arbain untuk melepaskan wanita yang telah merusak kerukunan rumah tangganya. Ayah juga menasehati Pak Arbain supaya lebih mencintai istri dan anak-anaknya. Alhamdulillah, upaya keras ayah membuahkan hasil. Pak Arbain dan istrinya akhirnya saling berdamai.

Ayah adalah orang yang sangat mempercayai temannya. Ayah menganggap temannya tidak ubahnya seperti dirinya. Jadi, bila ayah adalah orang yang jujur dan tulus, maka teman ayahpun akan sama dengan dirinya. Ternyata ayah keliru. Sangat sangat keliru. Pada suatu hari yang tidak pernah akan kulupakan, ayah memberitahu kami kalau dia telah dihianati oleh Pak Arbain dan istrinya.

Ada satu kebiasaan dalam bisnis ayah untuk saling barter barang dengan selembar giro. Hari itu, saat ayah akan menyetorkan giro Pak Arbain, ternyata gironya kosong. Saat ayah akan mengkonfirmasi kepada Pak Arbain dan istrinya, mereka telah menghilang dari kota Medan! Padahal mereka telah mengambil barang dagangan ayah dalam jumlah lumayan besar! Maka tak ayal lagi, ayahlah yang harus menanggung semuanya!

Ayah berusaha bangkit kembali. Ayah mengambil fasilitas kredit dari sebuah bank pemerintah. Mulanya ibu kurang setuju, karena untuk mendapatkan sejumlah pinjaman, ayah harus memberikan sebuah agunan kepada bank. Ibu takut, suatu saat terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Ibu tidak ingin pihak bank mengambil alih hak kepemilikan atas sepetak tanah milik ibu, warisan dari almarhum kakek. Tapi ayah berusaha meyakinkan ibu, kalau hal itu tidak akan terjadi.

Sepandai-pandainya ayah menyembunyikan perasaan terluka, ibu dapat menangkapnya. Tidak jarang ibu mendapati ayah termenung sendiri, seperti sedang memikirkan sesuatu. Ibu sering menghibur ayah untuk mengikhlaskan perbuatan temannya dan berdoa untuk kelanggengan usaha kami.

Namun kian hari, kesehatan ayah seperti tersedot oleh kondisi keuangan yang mulai menurun dan cenderung tidak menentu. Hampir setiap bulan ayah harus ke dokter untuk memeriksakan kesehatannya. Tapi tidak juga dapat menyembuhkan ayah dari sakitnya. Beberapa bulan kemudian, ayah meninggalkan kami untuk selama-lamanya setelah koma beberapa hari di ruang ICU.

Berkunjung ke rumah ibu, berarti berkunjung ke kedai ibu. Sekarang, di kedai ibu tidak terlihat lagi berkarung-karung beras dan gula pasir. Tidak juga tampak bersusun botol minyak goreng kemasan. Ember, baskom dan beberapa perlengkapan rumah tangga yang lain juga tidak ada. Di dalam rak pajangan rokok, tidak lagi ibu menyusun rokok sampai ber pak, melainkan hanya per bungkus.Lambat laun barang dagangan ibu menyusut. Di kedai, ibu hanya menjual barang eceran. Seperti sabun mandi, gosok gigi dan odol. Ibu juga mempunyai stock sejumlah rokok, beberapa jenis makanan dan minuman ringan dan beberapa barang dagangan lainnya.

Tetapi, struktur bangunan kedai ibu sudah tua. Usianya sudah dua puluh tujuh tahun. Maklumlah kalau kini banyak ditemukan kebocoran di beberapa bagian atapnya. Tak jarang, bila sedang turun hujan, air hujan menerobos masuk melalui seng yang bocor. Kasihan ibu, harus membenahinya seorang diri."Sudahlah, Bu. Ibu tutup saja kedai ini. Ibu tinggal di rumah Sarah. Ibu tidak perlu capek-capek harus mengurus kedai dan rumah lagi," ujar kakak tertuaku pada suatu kesempatan.

"Bagaimanapun kondisi kedai ini, ibu tetap menyayangkan kalau harus ditutup. Almarhum ayahmu pasti menginginkan kedai ini terus dibuka. Sayang, tidak satu pun dari kalian yang hobi membuka kedai seperti ibu dan ayah," kata ibu."Bagi ibu, kedai ini seperti sebuah keajaiban, Fahmi. Meskipun pembeli yang datang membeli rokok, minuman, makanan dan barang lain dalam jumlah kecil, tapi saat ibu menghitung omset penjualan pada malam harinya ibu seperti tak percaya dengan jumlahnya. Allah itu maha besar, Nak. Sama halnya saat ibu membesarkan kalian dengan tetes keringat dan air mata," kata ibu lagi sambil menatapku.

Aku jadi terharu. Memang, acapkali ibu menyayangkan kenapa kami tidak meneruskan kedai peninggalan ayah atau membuka kedai seperti halnya ayah dan ibu. Tapi, di satu sisi ibu juga bersyukur dengan karir dan pekerjaan yang telah kami raih. Kak Sarah diterima bekerja di kantor walikota. Kak Fira diterima bekerja di sebuah perusahaan Farmasi, dan aku bekerja di sebuah perusahaan swasta.

Berkunjung ke rumah ibu, berarti berkunjung ke kedai ibu. Hari ini, kami semua berkumpul di ruang tamu, ruang berukuran 3 x 4 meter, setelah bangunan kedai. Hari ini ibu berulang tahun yang ke lima puluh enam. Suasana bahagia bercampur haru mewarnai ulang tahun ibu. Bayangkan, rumah mungil ibu dipenuhi anak, menantu dan cucu-cucunya!

"Beli rokok Jie Sam Soe sebatang," kata seorang pembeli. Aku mengangsurkan sebatang padanya.Kemudian datang pembeli lain, membeli sebungkus keripik pisang. Disertai pembeli lain yang hendak membeli sebotol Coca Cola dingin. Tak jelang lama, datang pula pembeli yang ingin membeli sabun mandi dan shampo. Aku meladeni mereka dengan senang.

Begitulah, semangat ibu untuk membuka kedainya tetap menyala. Dan semangat ibu untuk terus mengundang para pembeli datang ke kedainya sungguh sangat kami hargai! Sebagai kado ulang tahun buat ibu, kami memutuskan untuk merenovasi kedai ibu dan melengkapi isi kedai ibu dengan berbagai macam barang dagangan.

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati