Rina Mahfuzah Nst
http://republika.co.id
Berkunjung ke rumah ibu, berarti berkunjung ke kedai ibu. Kedai, yang menyatu dengan bangunan rumah. Dulu, posisi kedai ibu lebih berada di depan jalan, tapi sejak jalan diperlebar, kedai ibu harus mundur beberapa meter ke belakang. Dan, itu berarti bangunan rumah menjadi lebih pendek.
Kedai ibu sekarang sangat jauh berbeda dengan kedai ibu yang dulu, sebelum ayah meninggal dunia. Dulu, bisa dibilang kedai ibu menjadi primadona di daerah kami. Banyak warga yang membeli kebutuhan hidup sehari-hari di kedai ibu. Dari mulai gula pasir, beras, minyak goreng, sampai sabun detergen tersedia. Alat-alat rumah tangga, seperti sapu, ember, termos dan baskom plastik juga ada. Begitu juga segala jenis rokok dan minuman ringan, para pembeli tinggal memilih sesukanya.
Tapi itu dulu, jauh sebelum ayah jatuh sakit dan disusul kematiannya yang sangat membuat kami terpukul. Ayahku seorang pria yang memiliki pergaulan luas. Banyak dari teman-temannya yang sering mengunjunginya. Salah satunya Pak Arbain dan istrinya. Mereka memiliki sebuah toko grosir keperluan sehari-hari yang lebih besar dari milik ayah.
Kalau mereka berkunjung ke rumah kami, aku dan kedua kakakku ikut senang. Pak Arbain dan istrinya tidak pernah lupa membawa buah tangan untuk kami. Ada-ada saja yang mereka bawa. Kadang mereka membawa makanan seperti martabak mesir, es campur, sate padang dan buah-buahan. Mereka juga pernah memberikan hadiah berupa sebuah pesawat televisi bermerk Sony untuk kami. Padahal, menurut Pak Arbain, televisi itu adalah hadiah dari sebuah perusahaan baterei, karena toko Pak Arbain terpilih sebagai toko penjual baterei terbanyak.
Pada suatu hari, istri Pak Arbain datang sendirian ke rumah. Wajahnya tidak seperti biasanya. Tak lama kemudian dia bercerita kepada ayah dan ibu mengenai masalah yang sedang dia hadapi yang membuatnya sedih. Ternyata, diam-diam Pak Arbain mempunyai seorang wanita idaman lain. Ayah dan ibu sangat terkejut, tapi tentu saja tidak dapat berbuat apa-apa, karena permasalahan yang dihadapi Pak Arbain dan istrinya tidak dapat dicampuri oleh pihak lain, meskipun ayah dan Pak Arbain teman akrab.
Tapi ayah dan ibu tidak tega setiap kali istri Pak Arbain mengadukan masalahnya. Mau tak mau ayah tampil juga di antara Pak Arbain dan istrinya. Ayah berusaha mendamaikan perseteruan mereka dan menyadarkan Pak Arbain untuk melepaskan wanita yang telah merusak kerukunan rumah tangganya. Ayah juga menasehati Pak Arbain supaya lebih mencintai istri dan anak-anaknya. Alhamdulillah, upaya keras ayah membuahkan hasil. Pak Arbain dan istrinya akhirnya saling berdamai.
Ayah adalah orang yang sangat mempercayai temannya. Ayah menganggap temannya tidak ubahnya seperti dirinya. Jadi, bila ayah adalah orang yang jujur dan tulus, maka teman ayahpun akan sama dengan dirinya. Ternyata ayah keliru. Sangat sangat keliru. Pada suatu hari yang tidak pernah akan kulupakan, ayah memberitahu kami kalau dia telah dihianati oleh Pak Arbain dan istrinya.
Ada satu kebiasaan dalam bisnis ayah untuk saling barter barang dengan selembar giro. Hari itu, saat ayah akan menyetorkan giro Pak Arbain, ternyata gironya kosong. Saat ayah akan mengkonfirmasi kepada Pak Arbain dan istrinya, mereka telah menghilang dari kota Medan! Padahal mereka telah mengambil barang dagangan ayah dalam jumlah lumayan besar! Maka tak ayal lagi, ayahlah yang harus menanggung semuanya!
Ayah berusaha bangkit kembali. Ayah mengambil fasilitas kredit dari sebuah bank pemerintah. Mulanya ibu kurang setuju, karena untuk mendapatkan sejumlah pinjaman, ayah harus memberikan sebuah agunan kepada bank. Ibu takut, suatu saat terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Ibu tidak ingin pihak bank mengambil alih hak kepemilikan atas sepetak tanah milik ibu, warisan dari almarhum kakek. Tapi ayah berusaha meyakinkan ibu, kalau hal itu tidak akan terjadi.
Sepandai-pandainya ayah menyembunyikan perasaan terluka, ibu dapat menangkapnya. Tidak jarang ibu mendapati ayah termenung sendiri, seperti sedang memikirkan sesuatu. Ibu sering menghibur ayah untuk mengikhlaskan perbuatan temannya dan berdoa untuk kelanggengan usaha kami.
Namun kian hari, kesehatan ayah seperti tersedot oleh kondisi keuangan yang mulai menurun dan cenderung tidak menentu. Hampir setiap bulan ayah harus ke dokter untuk memeriksakan kesehatannya. Tapi tidak juga dapat menyembuhkan ayah dari sakitnya. Beberapa bulan kemudian, ayah meninggalkan kami untuk selama-lamanya setelah koma beberapa hari di ruang ICU.
Berkunjung ke rumah ibu, berarti berkunjung ke kedai ibu. Sekarang, di kedai ibu tidak terlihat lagi berkarung-karung beras dan gula pasir. Tidak juga tampak bersusun botol minyak goreng kemasan. Ember, baskom dan beberapa perlengkapan rumah tangga yang lain juga tidak ada. Di dalam rak pajangan rokok, tidak lagi ibu menyusun rokok sampai ber pak, melainkan hanya per bungkus.Lambat laun barang dagangan ibu menyusut. Di kedai, ibu hanya menjual barang eceran. Seperti sabun mandi, gosok gigi dan odol. Ibu juga mempunyai stock sejumlah rokok, beberapa jenis makanan dan minuman ringan dan beberapa barang dagangan lainnya.
Tetapi, struktur bangunan kedai ibu sudah tua. Usianya sudah dua puluh tujuh tahun. Maklumlah kalau kini banyak ditemukan kebocoran di beberapa bagian atapnya. Tak jarang, bila sedang turun hujan, air hujan menerobos masuk melalui seng yang bocor. Kasihan ibu, harus membenahinya seorang diri."Sudahlah, Bu. Ibu tutup saja kedai ini. Ibu tinggal di rumah Sarah. Ibu tidak perlu capek-capek harus mengurus kedai dan rumah lagi," ujar kakak tertuaku pada suatu kesempatan.
"Bagaimanapun kondisi kedai ini, ibu tetap menyayangkan kalau harus ditutup. Almarhum ayahmu pasti menginginkan kedai ini terus dibuka. Sayang, tidak satu pun dari kalian yang hobi membuka kedai seperti ibu dan ayah," kata ibu."Bagi ibu, kedai ini seperti sebuah keajaiban, Fahmi. Meskipun pembeli yang datang membeli rokok, minuman, makanan dan barang lain dalam jumlah kecil, tapi saat ibu menghitung omset penjualan pada malam harinya ibu seperti tak percaya dengan jumlahnya. Allah itu maha besar, Nak. Sama halnya saat ibu membesarkan kalian dengan tetes keringat dan air mata," kata ibu lagi sambil menatapku.
Aku jadi terharu. Memang, acapkali ibu menyayangkan kenapa kami tidak meneruskan kedai peninggalan ayah atau membuka kedai seperti halnya ayah dan ibu. Tapi, di satu sisi ibu juga bersyukur dengan karir dan pekerjaan yang telah kami raih. Kak Sarah diterima bekerja di kantor walikota. Kak Fira diterima bekerja di sebuah perusahaan Farmasi, dan aku bekerja di sebuah perusahaan swasta.
Berkunjung ke rumah ibu, berarti berkunjung ke kedai ibu. Hari ini, kami semua berkumpul di ruang tamu, ruang berukuran 3 x 4 meter, setelah bangunan kedai. Hari ini ibu berulang tahun yang ke lima puluh enam. Suasana bahagia bercampur haru mewarnai ulang tahun ibu. Bayangkan, rumah mungil ibu dipenuhi anak, menantu dan cucu-cucunya!
"Beli rokok Jie Sam Soe sebatang," kata seorang pembeli. Aku mengangsurkan sebatang padanya.Kemudian datang pembeli lain, membeli sebungkus keripik pisang. Disertai pembeli lain yang hendak membeli sebotol Coca Cola dingin. Tak jelang lama, datang pula pembeli yang ingin membeli sabun mandi dan shampo. Aku meladeni mereka dengan senang.
Begitulah, semangat ibu untuk membuka kedainya tetap menyala. Dan semangat ibu untuk terus mengundang para pembeli datang ke kedainya sungguh sangat kami hargai! Sebagai kado ulang tahun buat ibu, kami memutuskan untuk merenovasi kedai ibu dan melengkapi isi kedai ibu dengan berbagai macam barang dagangan.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Rina Mahfuzah Nst. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rina Mahfuzah Nst. Tampilkan semua postingan
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel García Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati