Sutan Iwan Soekri Munaf
http://www.suarakarya-online.com/
Amat menarik membaca tulisan Damhuri Muhammad yang diberi tajuk Sastra Islami dan Ketajaman Lidah Pena (Republika, Minggu, 26 Juni 2005). Cerpenis dan pengamat sastra ini terpesona melihat limpah ruahnya karya sastra terutama cerpen dengan label Islam pada akhir-akhir ini di negeri ini. Bersaman dengan keterpesonaannya itu, agaknya Damhuri juga mempertanyakan dengan kekhawatiran: Apakah sastra islami itu sungguh-sungguh eksis? Sejauh manakah ciri khas Islam dapat terpahami pada fiksi islami?
Apakah label islami yang ditempelkan di sampul buku serta justifikasi quranik dalam setiap karya-karya mereka, sudah cukup memadai untuk menyandang predikat sastra islami? Adakah parameter konstan yang dapat mengukur derajat keislaman karya sastra?
Kekhawatiran ini, apa pasal? Damhuri menyatakan : Kesimpangsiuran pemahaman terhadap sastra islami seperti dipertanyakan di atas, nampaknya masih menjadi problem mendasar yang belum terselesaikan bagi para penulis yang tekun melahirkan fiksi islami. Ini adalah akibat dari ulah memperlakukan sastra tak lebih dari sekadar medium demi meraih tujuan-tujuan dakwah.
Apalagi jika cerpenis ini menyimak di luar sastra, yang akhir-akhir ini muncul di layar kaca kita. Banyak sekali sinetron ditayangkan broadcast swasta kita, yang katanya berlabel Islam dengan TV sebagai medium dakwah, namun cenderung menjauh dari dakwah. Pasalnya, banyak sekali pemirsa yang menonton tayangan itu dicekoki dengan dunia hantu, kemusrikan dan ada upaya sekadar menakut-nakuti pemirsa.
Kendati begitu, saya tercenung selepas membaca kesimpulan cerpenis ini, yang menyatakan kesimpangsiuran ini akibat dari ulah memperlakukan sastra tak lebih sekadar medium demi meraih tujuan-tujuan dakwah. Apakah salah, jika sastra sebagai medium dakwah?
Pada hakikatnya sastrawan dan karyanya mempunyai tujuan berkomunikasi dengan pembacanya. Sesuai pendapat Harold D Lasswell, yang kemudian dijadikan salah satu teori komunikasi, bahwa saat manusia berkomunikasi selalu: Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect. Maka sastrawan yang memiliki gagasan berupa karya itu, yang ingin disampaikan kepada pembacannya, tentu akan memilih medium sastra. Pasalnya, sang sastrawan sudah memperkirakan dampak dari gagasannya yang dikomunikaikan kepada pembacanya lewat medium sastra itu.
Sudah banyak karya sastrawan yang berdampak terhadap pembacanya, sehingga bangsanya berubah. Biar bagaimana pun, Chairil Anwar bukan sekadar mencatat peristiwa menjelang kemerdekaan dan selama perang kemerdekaan di negeri ini. Sajak-sajaknya ikut menggerakkan dan memberi inspirasi anak bangsa negeri ini pada masa itu, bahkan hingga masa sesudahnya.
Berangkat dari kenyataan itu, bagi saya, sastra memang merupakan salah satu medium untuk menyampaikan gagasan dan perasaan, saat berkomunikasi dengan pembaca. Tentu saja, sastra bukan satu-satunya medium berkomunikasi!
Sejalan dengan itu, apakah salah, jika ada sastrawan yang ingin menyampaikan gagasan dan perasaannya tentang Islam dalam medium yang dikenal sebagai sastra? Bukankah karya sastra itu harus mencerahkan dan memberikan sesuatu yang berarti bagi pembacanya? Dan hal ini merupakan tanggungjawab sastrawan
Seorang sastrawan yang berkediaman di Bandung, Juniarso Ridwan mengetengahkan tangungjawab ini dengan mengutip pendapat Jean Paul Sartre. Tanggungjawab seniman, seperti halnya pengarang, senantiasa memperhatikan keberadaan dirinya dalam lingkup berbagai peristiwa aktual di seluruh pelosok bumi ini. Pengarang, selaku seniman, tidak bisa mengurung dirinya di dalam ruangan terkunci menara gading, seolah tak peduli dengan alam sekitarnya.
Disebutkan lebih jauh, bahwa perlu adanya tanggungjawab pengarang terhadap kondisi lingkungan, terlebih-lebih terhadap dirinya sendiri. Tanggungjawab ini diperlihatkan dengan sikap pengarang yang dengan tegas memilih pihak di dalam setiap peristiwa. Sikap untuk memilih ini dilakukan dengan penuh kesadaran, tidak untuk mencari keuntungan atau untuk mencari kesempatan berpetualang.
Berdasarkan naluri asasi manusia; yang berpijak pada cahaya kebebasan. Pihak mana yang dipilih, tidak penting dilihat, sebab dengan itu berarti sudah terpenuhinya tanggungjawab pengarang terhadap lingkungannya, baik ruang dan waktu, maupun terhadap dirinya sendiri.
Jadi, wajar seorang sastrawan (beragama Islam) dalam rasa tanggungjawabnya untuk menyampaikan pencerahan Islam dalam medium sastra. Apalagi bila menyimak sejarah, kehadiran Islam yang disampaikan Muhammad atas perintah Allah, justru pada kurun berjayanya sastra, terutama syair atau puisi di tanah Arab. Dan merupakan hak Allah untuk menyampaikan pesan-pesanNya dalam medium sastra (puisi). Mungkin salah satu tujuan Sang Khalik agar pesanNya cepat sampai pada orang-orang yang memahami dan menggandrungi sastra di kawasan itu.
Simak saja ayat-ayat Allah yang mencakup kaidah-kaidah sastra, baik dari segi estetik dan artistik maupun pesanNya maha amat puitik. Hal ini menunjukkan Islam dan sastra seperti ikan dan air, seyogianya di mana Islam berkembang, maka sastra pun berkibar pula.
Dalam sebuah esei di internet, Aguk Irawan, yang seorang penyair, cerpenis dan novelis yang berkediaman di Kairo, mengutip pendapat Najib Kaelani, sastrawan tersohor Arab, berkebangsaan Mesir. Najib berpendapat dalam pengantar bukunya yang sangat memukau Madhal Ila Adab Al-Islami (Pengantar Sastra Islam), bahwa kehadiran sastra Islami tidak sedikitpun menodai kekuatan estetik dan nilai artistik. Justru menguatkan apa yang orang sebut dengan sastra, karena subtansi Islam dan sastra berjalan seiring, yaitu tertumpuh pada dua unsur, yaitu keindahan dan pesan moral.
Lebih lanjut, kata Najib, sastra Islami bersumber pada konsep Islam terhadap kehidupan. Dan luasnya konsep ini melampaui kapasitas imajinasi yang terkandung dalam sastra, mulai dari konsep kebendaan, alam dan metafisika, serta hubungan sosio-kultur antar ummat manusia. Karenanya membawa benderah dakwa Islam, menurutnya adalah membawa misi kemanusian yang juga sebagai ujung tombak dari sastra itu sendiri. Dengan demikian, kehadiran sastra Islami adalah mencoba membumisasikan Islam KRGatau nilai IslamKRG tidak melalui pintu formalitas. melainkan jalur yang bisa menembus segala ruang dan waktu, yang dibungkus dengan label sastra.
Mungkin yang jadi masalah, sebagaimana kekhawatiran Damhuri, bahwa penulis yang memperkuda sastra dalam penyampaian pesan tanpa mengusung nilai-nilai estetik dan artistik, sehingga sulit melahirkan karya yang berkekuatan pesan.
Namun, sejalan dengan itu, pembaca makin hari makin meningkatkan kemauannya membaca karya sastra yang berkekuatan pesan dan tidak meninggalkan nilai artistik. Pada saatnya, pembaca akan meninggalkan penulis yang memperkuda sastra sebagai medium dakwah. tanpa mengindahkan kaidah sastra. Karena, pada hakikatnya, pembaca bukanlah sasaran tembak yang diam, namun manusia yang penuh keunikan dan selalu berkembang.
Berangkat dari kenyataan ini, saya merasa bersyukur dengan limpah ruahnya kaya-karya sastra (terutama cerpen) yang diterbitkan sejumlah penerbit, baik berupa majalah maupun buku sebagaimana diutarakan Damhuri Muhammad. Sudah menjadi tanggungjawab sastrawan unuk meningkatkan kualitasnya, sehingga menghasilkan karya sastra yang mengusung pesan dakwah namun amat mengindahkan keartistikan dan estetik. Bila tidak, sastrawan kehilangan pembacanya! ***
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Sutan Iwan Soekri Munaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sutan Iwan Soekri Munaf. Tampilkan semua postingan
Kamis, 07 Januari 2010
Senin, 17 November 2008
Waktu Pun Berhenti
Sutan Iwan Soekri Munaf
http://republika.co.id/
Waktu pun berhenti di sini. Jendela masih terbuka. Angin semilir menjalar dari luar, membawa aroma daun basah bekas gerimis. Iwan masih terpaku. Pikirannya mengembara ke masa itu, ketika dia bersilang tatap dengan Tisna dari jendela ini. Gadis bermata bundar itu pun menundukkan kepalanya.
Hati Iwan tersirap. Adik kelasnya, yang tinggal beberapa rumah dari kediaman Iwan itu, sedang menuju surau untuk shalat Magrib. Itu bukan kali pertama pertemuannya dengan Tisna. Setiap pertemuan pun tak ada perasaan begitu. Namun, silang tatap dari jendela kamarnya ini menimbulkan getar tersendiri."Terlalu cepat ke surau, Magrib masih setengah jam lagi," ujar Iwan sambil bangkit dari kursinya dan bergerak menuju jendela.
Tisna diam. Kepalanya menunduk, seperti tak kuasa ditengadahkannya."Aku menyusul. Aku akan mandi dulu," kata Iwan sambil menutup jendela.Tisna masih diam. Dia melangkah menuju surau. Langkah itu tak luput dari tatapan Iwan. Sehilang tubuh Tisna dari tatapannya, bersegeralah Iwan mandi dan menuju surau.
Semenjak silang tatap itu, perasaan Iwan tak nyaman jika dia tak bertemu dengan Tisna sekali saja dalam sehari. Seringkali Iwan sengaja melewati ruang kelas Tisna saat istirahat, dan biasanya Tisna sedang duduk di undakan tangga depan kelasnya, bersama beberapa siswi sekelasnya.Begitu bola mata mereka bertatapan, denyar darah Iwan bergelora. Namun, tak sepatah kata pun terucapkan, selain senyum di bibirnya. Begitu juga Tisna.
Namun, akibat gelora perasaannya itu pulalah, kemudian sikap Iwan menjadi gunjingan kawannya satu sekolah. Bahkan Oyong, kakak Tisna, sempat mendatangi Iwan."Jangan kau ganggu adikku," kata Oyong pada Iwan.Suatu sore, selepas kelulusan diumumkan, Iwan mengayuh sepedanya ke pantai. Dia ingin menikmati senja terindah dari kampung halamannya, sebelum merantau.Ketika Iwan menikmati saat mentari tergelincir di pantai, tiba-tiba Tisna menghampirinya.
Debur ombak yang berkejaran dan menghempas di pantai itu, seakan menjadi dirigen denyut jantungnya, sehingga denyar darah di aortanya semakin kencang."Aku tahu kau akan ke sini," kata Tisna seraya duduk di pasir, di sebelah Iwan.
Iwan diam. Hanya getar jiwanya bergoncang. "Maafkan ulah kakakku," sambung Tisna lagi. Goncangan itu mengakibatkan jemari Iwan bergerak menyentuh jemari Tisna. Tisna mendiamkan jemarinya disentuh Iwan. Waktu itu pun terasa berhenti. Namun, keindahan itu terpatahkan, ketika derum suara motor mendekati mereka. Dan, kemudian berhenti di depan mereka. Oyong turun dari motor dan cepat mendekati Tisna, segera menarik lengan adiknya. Bersamaan dengan itu, berhamburanlah ceracauan dari mulut Oyong.Iwan diam.Tisna mengikuti Oyong, duduk dibonceng dan tinggalkan Iwan sendiri.Ya. Semenjak itu makin kuat niat Iwan untuk kuliah di Jawa.
***
Sudah tigapuluh lima tahun berlalu. Kini, saat ini, gelora itu kembali. Ketika Iwan mendapat tugas dari kantornya untuk menyelesaikan urusan di Padang. Tadi siang dia sempatkan berkunjung ke kampung halamannya, Pariaman. Dan, menjelang matahari tergelincir ke peraduannya, seorang perempuan berkerudung mukena melewati jalan tanah pinggir rumahnya. Dari balik jendela kamarnya dulu itu, bersilang tatap dengan perempuan itu. Mata bundar perempuan itu masih memancarkan cahaya bening.
"Tisna," sapa Iwan dengan suara gemetar.Perempuan itu tersenyum."Jangan sampai Magrib terlewat. Waktunya singkat," ujar Tisna, masih dalam nada bergetar."Ya, aku segera ke surau. Aku mandi dulu," jawab Iwan.Tisna pun melangkah. Mata Iwan masih seperti dulu. Dia menatap tiap langkah Tisna. Hanya pada setiap langkah itu, kembali kenangan masa lalu bangkit.Selepas SMA, Iwan meneruskan ke perguruan tinggi di Jawa. Dan, sejak itu Iwan jarang pulang kampung, sibuk urusan kuliah dan kegiatan ekstra kampus. Hingga tiba suatu masa, menjelang akhir studinya, Iwan mendapat kabar tentang pernikahan Tisna.
Hatinya benar-benar remuk. Walaupun dua tahun berselang, Iwan menikahi Utami, koleganya di kancah ekstra universitas, hingga dianugerahi satu puteri dan dua putera; namun perasaan terdalamnya pada Tisna tak pernah hilang. Bahkan kekandasan cintanya membekas dalam. Boleh dibilang Utami hanya pelariannya.
***
Senja ini seperti senja yang dulu-dulu. Tak berubah. Pohon kelapa di pulau seberang seperti menari ditiup angin. Beberapa perahu nelayan tertambat di pantai. Burung camar beterbangan mencari sarangnya. Sedang gedebur ombak memecah pantai. Mentari bergerak lamban namun pasti, menuju peraduannya. Warna laut pun mulai orange, seperti warna langit. Iwan duduk di salah satu batu besar, di pantai. Matanya menatap jauh pada keindahan senja. "Belum berubah, kan?"
Suara itu mengejutkan Iwan. Suara yang amat dikenalnya, namun sudah lama tak pernah didengarnya.
"Tis," respon Iwan yang tak dapat menyembunyikan ketersirapan darahnya.
Tisna menjawab dengan senyum khasnya. Menyejukkan.
Tak ada yang berobah pada Tisna, kecuali ada gurat-gurat di dahinya. Matanya yang bundar tetap memancarkan cahaya bening. Sungguh menyejukkan hati.
"Tak enak dilihat orang," ujar Iwan kemudian.
"Aku hanya ingin minta maaf," sahut Tisna.
Iwan diam.
"Aku salah," tuturnya, "Sejak peristiwa itu, sekolahku tak beres. Bahkan pindah ke Padang pun tak dapat membendung kehancuran hatiku. Hari demi hari semakin tak menentu."
Iwan mendengarkan.
"Dua kali aku tak naik kelas," ujar Tisna sambil menatap ke tengah laut.
Iwan melihat mata Tisna berkaca-kaca. Namun suaranya masih terdengar bening.
"Hingga suatu hari aku terjerumus. Aku diperkosa," nada Tisna pun mulai sendu. "Aku hamil. Memang, akhirnya Si Keparat itu menikahiku. Aku pasrah saja."
Iwan kaget. Berita yang dia terima, Tisna menikah tanpa masalah. Dan sungguh di luar dugaan Iwan, Tisna yang tak pernah tinggal shalatnya, akan mengalami nasib begitu.
Senja mulai bergulir. Mentari tampak timbul tenggelam dipermainkan ombak di horizon sana.
"Aku mencoba bertahan, hingga lahir anak keduaku. Namun, pada tahun ke lima perkawinan kami, dia menceraikanku," ujar Tisna terbata.
Iwan mengeluarkan saputangan dari sakunya dan memberikan pada Tisna.
Tisna menghapus tumpahan bendungan air mata.
"Ah, aku terlalu banyak cerita tentang perjalanan hidupku. Bagaimana denganmu? Tampaknya engkau bahagia."
"Aku?" respon Iwan kaget.
"Aku ingin mendengarnya."
"Hidupku layaknya panggung sandiwara. Pertunjukan harus berlangsung."
"Sungguh beruntung perempuan itu."
Hampir setahun berlalu kunjungan Iwan ke kampungnya. Dan, kemarin dia mendapat SMS di telpon genggamnya, yang mengabarkan meninggalnya Tisna. Tadi dia masih sempat mengantarkan jenazah Tisna ke pemakaman. Sore ini, dari kamar ini, Iwan menatap ke luar jendela. Dia berharap, perempuan bermata bundar dengan cahaya bening itu akan lewat di samping rumahnya. Dan, siapa tahu dapat bersilang tatap.Hanya sepi yang menggerakkan detik demi detik, hingga adzan Magrib tiba. Tak ada mata bundar dengan cahaya bening. Namun, semuanya terasa masih ada.
Waktu pun berhenti di sini!
Bekasi, 2008
http://republika.co.id/
Waktu pun berhenti di sini. Jendela masih terbuka. Angin semilir menjalar dari luar, membawa aroma daun basah bekas gerimis. Iwan masih terpaku. Pikirannya mengembara ke masa itu, ketika dia bersilang tatap dengan Tisna dari jendela ini. Gadis bermata bundar itu pun menundukkan kepalanya.
Hati Iwan tersirap. Adik kelasnya, yang tinggal beberapa rumah dari kediaman Iwan itu, sedang menuju surau untuk shalat Magrib. Itu bukan kali pertama pertemuannya dengan Tisna. Setiap pertemuan pun tak ada perasaan begitu. Namun, silang tatap dari jendela kamarnya ini menimbulkan getar tersendiri."Terlalu cepat ke surau, Magrib masih setengah jam lagi," ujar Iwan sambil bangkit dari kursinya dan bergerak menuju jendela.
Tisna diam. Kepalanya menunduk, seperti tak kuasa ditengadahkannya."Aku menyusul. Aku akan mandi dulu," kata Iwan sambil menutup jendela.Tisna masih diam. Dia melangkah menuju surau. Langkah itu tak luput dari tatapan Iwan. Sehilang tubuh Tisna dari tatapannya, bersegeralah Iwan mandi dan menuju surau.
Semenjak silang tatap itu, perasaan Iwan tak nyaman jika dia tak bertemu dengan Tisna sekali saja dalam sehari. Seringkali Iwan sengaja melewati ruang kelas Tisna saat istirahat, dan biasanya Tisna sedang duduk di undakan tangga depan kelasnya, bersama beberapa siswi sekelasnya.Begitu bola mata mereka bertatapan, denyar darah Iwan bergelora. Namun, tak sepatah kata pun terucapkan, selain senyum di bibirnya. Begitu juga Tisna.
Namun, akibat gelora perasaannya itu pulalah, kemudian sikap Iwan menjadi gunjingan kawannya satu sekolah. Bahkan Oyong, kakak Tisna, sempat mendatangi Iwan."Jangan kau ganggu adikku," kata Oyong pada Iwan.Suatu sore, selepas kelulusan diumumkan, Iwan mengayuh sepedanya ke pantai. Dia ingin menikmati senja terindah dari kampung halamannya, sebelum merantau.Ketika Iwan menikmati saat mentari tergelincir di pantai, tiba-tiba Tisna menghampirinya.
Debur ombak yang berkejaran dan menghempas di pantai itu, seakan menjadi dirigen denyut jantungnya, sehingga denyar darah di aortanya semakin kencang."Aku tahu kau akan ke sini," kata Tisna seraya duduk di pasir, di sebelah Iwan.
Iwan diam. Hanya getar jiwanya bergoncang. "Maafkan ulah kakakku," sambung Tisna lagi. Goncangan itu mengakibatkan jemari Iwan bergerak menyentuh jemari Tisna. Tisna mendiamkan jemarinya disentuh Iwan. Waktu itu pun terasa berhenti. Namun, keindahan itu terpatahkan, ketika derum suara motor mendekati mereka. Dan, kemudian berhenti di depan mereka. Oyong turun dari motor dan cepat mendekati Tisna, segera menarik lengan adiknya. Bersamaan dengan itu, berhamburanlah ceracauan dari mulut Oyong.Iwan diam.Tisna mengikuti Oyong, duduk dibonceng dan tinggalkan Iwan sendiri.Ya. Semenjak itu makin kuat niat Iwan untuk kuliah di Jawa.
***
Sudah tigapuluh lima tahun berlalu. Kini, saat ini, gelora itu kembali. Ketika Iwan mendapat tugas dari kantornya untuk menyelesaikan urusan di Padang. Tadi siang dia sempatkan berkunjung ke kampung halamannya, Pariaman. Dan, menjelang matahari tergelincir ke peraduannya, seorang perempuan berkerudung mukena melewati jalan tanah pinggir rumahnya. Dari balik jendela kamarnya dulu itu, bersilang tatap dengan perempuan itu. Mata bundar perempuan itu masih memancarkan cahaya bening.
"Tisna," sapa Iwan dengan suara gemetar.Perempuan itu tersenyum."Jangan sampai Magrib terlewat. Waktunya singkat," ujar Tisna, masih dalam nada bergetar."Ya, aku segera ke surau. Aku mandi dulu," jawab Iwan.Tisna pun melangkah. Mata Iwan masih seperti dulu. Dia menatap tiap langkah Tisna. Hanya pada setiap langkah itu, kembali kenangan masa lalu bangkit.Selepas SMA, Iwan meneruskan ke perguruan tinggi di Jawa. Dan, sejak itu Iwan jarang pulang kampung, sibuk urusan kuliah dan kegiatan ekstra kampus. Hingga tiba suatu masa, menjelang akhir studinya, Iwan mendapat kabar tentang pernikahan Tisna.
Hatinya benar-benar remuk. Walaupun dua tahun berselang, Iwan menikahi Utami, koleganya di kancah ekstra universitas, hingga dianugerahi satu puteri dan dua putera; namun perasaan terdalamnya pada Tisna tak pernah hilang. Bahkan kekandasan cintanya membekas dalam. Boleh dibilang Utami hanya pelariannya.
***
Senja ini seperti senja yang dulu-dulu. Tak berubah. Pohon kelapa di pulau seberang seperti menari ditiup angin. Beberapa perahu nelayan tertambat di pantai. Burung camar beterbangan mencari sarangnya. Sedang gedebur ombak memecah pantai. Mentari bergerak lamban namun pasti, menuju peraduannya. Warna laut pun mulai orange, seperti warna langit. Iwan duduk di salah satu batu besar, di pantai. Matanya menatap jauh pada keindahan senja. "Belum berubah, kan?"
Suara itu mengejutkan Iwan. Suara yang amat dikenalnya, namun sudah lama tak pernah didengarnya.
"Tis," respon Iwan yang tak dapat menyembunyikan ketersirapan darahnya.
Tisna menjawab dengan senyum khasnya. Menyejukkan.
Tak ada yang berobah pada Tisna, kecuali ada gurat-gurat di dahinya. Matanya yang bundar tetap memancarkan cahaya bening. Sungguh menyejukkan hati.
"Tak enak dilihat orang," ujar Iwan kemudian.
"Aku hanya ingin minta maaf," sahut Tisna.
Iwan diam.
"Aku salah," tuturnya, "Sejak peristiwa itu, sekolahku tak beres. Bahkan pindah ke Padang pun tak dapat membendung kehancuran hatiku. Hari demi hari semakin tak menentu."
Iwan mendengarkan.
"Dua kali aku tak naik kelas," ujar Tisna sambil menatap ke tengah laut.
Iwan melihat mata Tisna berkaca-kaca. Namun suaranya masih terdengar bening.
"Hingga suatu hari aku terjerumus. Aku diperkosa," nada Tisna pun mulai sendu. "Aku hamil. Memang, akhirnya Si Keparat itu menikahiku. Aku pasrah saja."
Iwan kaget. Berita yang dia terima, Tisna menikah tanpa masalah. Dan sungguh di luar dugaan Iwan, Tisna yang tak pernah tinggal shalatnya, akan mengalami nasib begitu.
Senja mulai bergulir. Mentari tampak timbul tenggelam dipermainkan ombak di horizon sana.
"Aku mencoba bertahan, hingga lahir anak keduaku. Namun, pada tahun ke lima perkawinan kami, dia menceraikanku," ujar Tisna terbata.
Iwan mengeluarkan saputangan dari sakunya dan memberikan pada Tisna.
Tisna menghapus tumpahan bendungan air mata.
"Ah, aku terlalu banyak cerita tentang perjalanan hidupku. Bagaimana denganmu? Tampaknya engkau bahagia."
"Aku?" respon Iwan kaget.
"Aku ingin mendengarnya."
"Hidupku layaknya panggung sandiwara. Pertunjukan harus berlangsung."
"Sungguh beruntung perempuan itu."
Hampir setahun berlalu kunjungan Iwan ke kampungnya. Dan, kemarin dia mendapat SMS di telpon genggamnya, yang mengabarkan meninggalnya Tisna. Tadi dia masih sempat mengantarkan jenazah Tisna ke pemakaman. Sore ini, dari kamar ini, Iwan menatap ke luar jendela. Dia berharap, perempuan bermata bundar dengan cahaya bening itu akan lewat di samping rumahnya. Dan, siapa tahu dapat bersilang tatap.Hanya sepi yang menggerakkan detik demi detik, hingga adzan Magrib tiba. Tak ada mata bundar dengan cahaya bening. Namun, semuanya terasa masih ada.
Waktu pun berhenti di sini!
Bekasi, 2008
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel GarcÃa Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati