Tampilkan postingan dengan label Ibnu Rusydi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibnu Rusydi. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 November 2010

SAPARDI DJOKO DAMONO: Saya Sudah Lama Mempermasalahkan Waktu

Pewawancara: Ibnu Rusydi
http://korantempo.com/

Sapardi Djoko Damono kini berusia 69 tahun. Tapi, ia tak berhenti berkarya. Baru-baru ini ia meluncurkan buku puisi terbarunya, Kolam. Di Komunitas Salihara, Senin malam lalu, penggiat dan penggemar sastra membludak mengikuti diskusi bukunya.

Sapardi dengan tenang mendengarkan diskusi. Dia masih saja sederhana, dengan topi pet dan jaketnya yang itu-itu lagi. Seusai diskusi, dengan ramah dan rendah hati, ia masih tinggal melayani deretan permintaan tanda tangan dan foto bareng dari para fan. Setelah ruangan sepi, Tempo pun berbincang-bincang dengannya. Berikut ini petikan wawancara dengannya:

Puisi Anda kini dikatakan banyak menggunakan negasi?

Soal banyak negasi, saya tidak tahu. Ketika menulis saya tidak sadar. Saya juga kaget, “Oh, iya, tho?” Itulah gunanya nguping terhadap kritik dari orang.

Anda agak lama menulis Kolam?

Memang. Saya menulis tidak lancar lagi. Saya menulis Kolam pertama kali sejak 2003 atau 2004, terus diam lama. Saya betul-betul mencoba mencapai suatu teknik pengucapan yang tidak terpikir. Soneta, menulisnya itu tidak mudah, rumitnya minta ampun.

Apa pencapaian Anda di Kolam?

Saya ada pada taraf ketika aksara menjadi sangat penting. Sebetulnya ini mulai sajak Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro? (2002). Saya bermain-main dengan huruf besar dan italic. Tapi, kemudian saya lihat, hal-hal teknis ini tak penting bagi pembaca. Namun, ternyata bisa dipakai untuk menyampaikan sesuatu yang sangat problematik dalam kehidupan manusia: kontradiksi makna ganda dalam hidup. Karena sastra kita sastra tulis, ya lewat permainan huruf itu.

Anda bermain juga dengan Internet. Misalnya di Facebook. Tapi tak tampak banyak pengaruhnya di Kolam?

Saya tak tahu sampai seberapa jauh (teknologi) itu harus saya akui. Tapi memang, saya sadar ketika menulis sajak Di Depan Laptop, ternyata jargon dan konsep itu, pengertian itu, diksi itu, bisa dipakai. Cuma, memang saya belum seperti yang lain.

Sajak singkat Tempias menyiratkan kegelisahan Anda terhadap waktu yang berlari semakin cepat?

Saya sudah lama mempermasalahkan waktu. Memang ini concern saya sebenarnya (di sajak) itu, mulai lahir sampai mati. Kadang-kadang dalam hidup, sosial harus saya jadikan masalah saya sendiri, masalah personal. Kalau tidak, tak akan jadi (karya). Misalnya ada masalah Marsinah, Mei 1998, yang sebelum menjadi masalah personal, saya belum bisa menulis (tentang itu).

Kurt Vonnegut pernah bilang, “Penulis seperti radio yang menangkap “siaran” kreativitas dari sebuah pemancar, dari sebuah tempat di semesta.” Menurut Anda?

Saya kira iya. Tapi yang datang bukan konsep, melainkan kata. Bukan ide, tapi kata, ungkapan, imaji. Beranak-pinak kata-kata itu. Itu membentuk diri sendirinya sebagai sebuah dunia. Kata dengan sendirinya bergerak ke sana-kemari. Sebetulnya, yang membawa saya adalah kata-kata itu. Bukan saya yang membawanya.

Apa lagi yang Anda ingin capai sekarang?

Moga-moga, sampai pada ketika saya tidak ada, saya masih bisa menulis, tidak jompo, serta tidak linglung dan lupa. Saya selalu membayangkan bagaimana cara menulis yang lebih baik. Bila mentok, tidak bisa, cari cara pengucapan yang lain. Saya tak ingin ketika meninggal masih ada naskah yang belum jadi. Itu siksaan.

Jumat, 05 Desember 2008

Temu Sastrawan Dunia di Kota Tua

Ibnu Rusydi
http://www.tempo.co.id/

TEMPO Interaktif, Jakarta: Sebuah acara sastra bakal digelar di Kota Tua Jakarta dan Hotel Omni Batavia, 11-14 Desember nanti. Sastrawan dari berbagai negara diundang, termasuk peraih Nobel Sastra asal Turki, Orhan Pamuk, yang belum tentu bisa datang. Acara juga meliputi lomba, penerbitan buku, bazaar buku, pementasan dan wisata budaya.

Jakarta International Literary Festival (JILFEST) diselenggarakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Komunitas Cerpen Indonesia (KCI) dan Komunitas Sastra Indonesia (KSI). Tema yang dipilih adalah "Peran Jakarta dalam Kehidupan Sastra Dunia".

Tujuan diadakannya festival, menurut Kepala Subdinas Pembinaan pada Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta Jusuf Sugito kepada Tempo, antara lain mengangkat citra internasional Jakarta sebagai kota wisata budaya, menjalin kerjasama di antara sastrawan dunia dan mempromosikan Jakarta sebagai tempat menarik untuk dijadikan latar tempat penulisan produk sastra dan seni. "Pada tanggal 13, kami juga mengadakan workshop untuk siswa dan pelajar," ujarnya, Selasa (25/11).

Sastrawan asing yang direncanakan hadir, selain Pamuk, antara lain adalah Maria Emrl asal Portugis, Henry Chamberlouis (Prancis), Katrin Bandel dari Jerman, Ernst Ulrich Kratz (Inggris) dan Mikihiro Moriyama (Jepang).

Soal kedatangan Orhan Pamuk memang masih tentatif. "Agak sulit, dia agak repot dengan pemerintahnya. Tapi kami masih usahakan agar (Pamuk) bisa hadir," kata Jusuf. Sejumlah sastrawan asing lain sudah memberi lampu hijau kepastian datang. Di sisi pembicara asal Indonesia, "Sudah oke semua," Jusuf menambahkan.

Lomba cerpen yang diadakan mensyaratkan karya berlatar Jakarta. Pendaftaran karya, yang dibuka sejak September lalu, kini sudah tertutup. Para pemenang dan karyanya akan dibawa berkeliling ke negara para pemenang dan para nominator, untuk didiskusikan. JILFEST juga akan menerbitkan antologi cerpen dan puisi karya para peserta. Peluncuran digelar saat pembukaan festival itu.

"Lomba cerpen, saat ini dalam dalam tahap penilaian," kata Jusuf. Dari seluruh Indonesia, ada 362 karya yang dikirimkan ke panitia. Ada pula karya dari warga negara Indonesia yang tinggal di Singapura.

Selain bazaar buku sastra selama festival, ada pula pentas pembacaan puisi dan cerpen, juga musikalisasi puisi yang melibatkan sastrawan internasional. Digelar di Ibu Kota, festival juga mempertunjukkan kesenian Betawi. Para undangan juga akan dibawa berwisata ke Situ Babakan, Pasar Seni Ancol dan obyek-obyek wisata budaya lainnya.

Acara ini ditargetkan setidaknya menghimpun 150 peserta. Mereka adalah penyair, cerpenis, eseis, novelis, dan aktivis sastra lainnya dari Indonesia dan negara lainnya. Menurut seorang panitia, acara ini tadinya dijadwalkan pada 2009. Namun, Gubernur Jakarta meminta acara diajukan ke Desember. Pamuk, yang sempat menyanggupi datang bila acara dijadwalkan 2009, jadi tak pasti kehadirannya.

Minggu, 23 November 2008

Realisme Hamsad Rangkuti

Ibnu Rusydi
http://www.tempointeraktif.com/

TEMPO Interaktif, Jakarta: Sastrawan Hamsad Rangkuti, 65 tahun, menghabiskan akhir Ramadan di Bangkok. Kerajaan Thailand mengundang dia ke sana untuk menerima penghargaan sastra SEA Write Award. Ini penghargaan sastra tahunan dari kerajaan Thailand yang diberikan kepada pengarang Asia Tenggara.

Putri Maha Vhakri Sirindhorn menyerahkan penghargaan kepada Hamsad dan delapan pegiat sastra lainnya dalam sebuah upacara di Bangkok, 30 September lalu. Hamsad mendapatkan penghargaan itu karena buku kumpulan cerpennya, Bibir dalam Pispot.

Selain Hamsad, kali ini penghargaan diberikan kepada Mohammad Bin Pengiran Haji Abd Rahman (Brunei Darussalam), Sin Touch (Kamboja), Othong Kham-Insou (Laos), Hatta Azad Khan (Malaysia), Elmer Alindogan Ordonez (Filipina), Stella Kon (Singapura), Watchara Satjasarrasin (Thailand), dan Nguyen Ngoc Tu (Vietnam).

Hamsad menambah daftar pengarang Indonesia yang memperoleh penghargaan itu. Sejak 1978, sudah ada 30 orang yang menerima penghargaan itu, antara lain Goenawan Mohamad (1981), Umar Kayam (1987), A.A. Navis (1992), dan Suparto Brata untuk novel Saksi Mata pada 2007.

Dia tidak sepakat dengan seniman yang menyebutkan penghargaan itu sebagai arisan. "Saya emosi mendengar omongan itu. Saya bilang, jangan kauremehkan ini. Arisan ini harus ada setoran, yaitu karya. Kau tidak masuk arisan kalau tidak ada setoran. Ke-30 orang itu semua punya karya," tuturnya ketika dihubungi Tempo saat ia berada di Tenggarong, Kutai Kartanegara.

Hamsad bersama istrinya, Nurwindasari, dan putri bungsu Anggi Mauli Rangkuti berangkat ke Bangkok pada 25 September lalu. Istri ikut untuk jaga-jaga bila Hamsad sakit. Putrinya ikut untuk tugas khusus: penerjemah. "Saya tidak bisa berbahasa Inggris," kata Hamsad lewat telepon dari Tenggarong, Kutai Kartanegara.

Dua menit dipakai Hamsad untuk menyampaikan terima kasih dan harapannya akan perkembangan dunia sastra. Putrinya, Anggi, menerjemahkan ke bahasa Inggris. Wartawan setempat pun menanyai Hamsad. "Tapi yang diwawancara justru putri saya, yang menjawab pertanyaan soal saya dalam bahasa Inggris," ujar Hamsad sambil tertawa.

Susunan acara yang disodorkan panitia pada 26-30 September lumayan padat. "Hanya hari pertama yang kosong. Itu pun karena saya sampai malam di sana."

Hari selanjutnya, dia diajak jalan-jalan ke sejumlah museum, obyek wisata dan sejarah. "Saya jadi tidak bisa ke mana-mana," tuturnya. Maksudnya, tidak bisa jalan-jalan selain tempat-tempat yang dijadwalkan panitia.

Pada 1 Oktober bertepatan dengan Lebaran Idul Fitri, ia balik ke Jakarta. Beberapa hari kemudian, ia terbang ke Tenggarong, Kutai Kartanegara. Ia mengisi lokakarya menulis cerpen untuk para pegiat sastra di sana.

Ia juga memanfaatkan kesempatan itu untuk mencari bahan sejarah kerajaan Kutai. "Saya ingin menulis cerpen berlatar sejarah sini," tutur cerpenis yang belakangan banyak mengisi pelatihan menulis di berbagai daerah

Lalu, kapan waktu terbaiknya untuk menulis? "Selalu pagi, setelah salat subuh dan jalan kaki dua-tiga kilometer, saya pulang sudah segar, mandi, lalu mulai mengarang." Malam harinya, ia mematangkan tulisan itu.

Dia tetap berpegang teguh pada realisme, yang menjadi ciri khas cerpen-cerpennya. "Saya membikin apa yang pembaca suka," tutur peraih Khatulistiwa Literary Award pada 2003 itu. Ia mengaku tidak hendak memuaskan diri sendiri "maupun berakrobat kata-kata".

Minggu, 16 November 2008

Puisi Harus Memberontak

Ibnu Rusydi
http://www.tempointeraktif.com/

TEMPO Interaktif, Jakarta: Kebenaran puisi dengan kebenaran agama tak akan pernah bertemu. Wahyu Islam adalah jawaban. Sedangkan puisi, yang ilhamnya hadir bagaikan dibisikkan jin, adalah pertanyaan-pertanyaan. Puisi adalah pintu kejelekan. Kata-kata itu meluncur dari penyair Suriah, Adonis, di Komunitas Salihara, Jakarta, Senin malam lalu.

Di salah satu ruang di komunitas itu, di bawah sorot lampu, dalam balutan jas kelabu, penyair bernama asli Ali Ahmad Said Asbar itu menyampaikan ceramah bertajuk "Kebenaran Puisi dan Kebenaran Agama". Audiens tekun mendengar.

Ceramah tertulis itu melirik ke masa sebelum wahyu agama (Islam) turun, saat puisi tak sekadar seni bahasa. Puisi adalah pengetahuan supranatural yang bersumber dari alam gaib yang tak diketahui. Maka sering dikatakan puisi "diturunkan" kepada penyair.

Wahyu agama kemudian membatalkan "wahyu" puisi, dengan bahasa puisi sendiri, yakni bahasa Arab. Puisi pun tersingkir oleh wahyu agama dengan risalah Ilahi terakhir bagi manusia. Rasul-Nya adalah penutup para nabi.

Lalu bagaimana kebenaran dalam puisi bisa dihidupkan? Menurut Adonis, puisi harus memberontak. Puisi bisa hidup dalam kondisi yang terpisah dari wahyu agama. Sekularisme yang menumbuhkan pembaruan, sementara pembaruan tidak didorong oleh karakter asli agama--wahyu yang final.

Padahal akal manusia selalu menginginkan pembaruan melalui pertanyaan, keraguan, penciptaan, penolakan, terobosan, dan kebebasan. Maka, "Akal tidak akan mampu melakukan pembaruan kecuali terbebas dari perintah dan larangan agama," kata Adonis.

Menjawab pertanyaan hadirin, Adonis mengatakan tak pernah menyesal dilahirkan sebagai muslim. Dia mencintai Islam, maka ia mengkritik pemahaman terhadap Islam. Dia menegaskan, dirinya tak setitik pun ragu terhadap otentisitas teks wahyu Al-Quran.

Namun, seagung apa pun teks itu, akan menjadi kecil ketika melalui akal yang sempit. "Persoalannya, nalar muslim tak standar seperti teksnya (yang Agung)."

Adonis lahir di Al-Qassabin, Suriah, pada 1930. Sejak usia muda ia bertani. Ayahnya mengajar mengingat sejumlah puisi. Dia lalu mulai mengarang puisinya sendiri. Pada 1947, dia membaca puisi di hadapan Presiden Suriah Syukri al-Kuwatli. Ini mengantarnya meraih sejumlah beasiswa, yang berujung pada gelar sarjana filsafat pada 1954.

Ia sempat mencicipi penjara setahun karena terlibat dalam gerakan politik. Setelah bebas pada 1956, dia pindah ke Beirut, Libanon. Pada 1960-1961, dia mendapat beasiswa ke Paris. Setelah mengajar di Universitas Libanon dan Universitas Damaskus, Adonis hijrah ke Paris pada 1980, mengajar di Universitas Sorbonne. Saat itu Libanon terjerumus dalam kancah perang sipil.

Sudah lebih dari 30 puisi dan prosa ia lahirkan. Buku-buku itu diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Beberapa kali namanya disebut sebagai calon kuat penerima Hadiah Nobel Sastra, yakni pada 2005, 2006, dan 2007.

Dalam waktu dekat, salah satu kumpulan puisi Adonis akan terbit dalam bahasa Indonesia: Nyanyian Mihyar dari Damaskus. Buku terbitan Durakindo Publishing ini diterjemahkan Ahmad Mulyadi dari edisi dwibahasa Jerman-Arab. Versi aslinya terbit pada 1961. Budayawan Goenawan Mohamad menulis kata pengantarnya di edisi terjemahan itu.

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati