Pewawancara: Ibnu Rusydi
http://korantempo.com/
Sapardi Djoko Damono kini berusia 69 tahun. Tapi, ia tak berhenti berkarya. Baru-baru ini ia meluncurkan buku puisi terbarunya, Kolam. Di Komunitas Salihara, Senin malam lalu, penggiat dan penggemar sastra membludak mengikuti diskusi bukunya.
Sapardi dengan tenang mendengarkan diskusi. Dia masih saja sederhana, dengan topi pet dan jaketnya yang itu-itu lagi. Seusai diskusi, dengan ramah dan rendah hati, ia masih tinggal melayani deretan permintaan tanda tangan dan foto bareng dari para fan. Setelah ruangan sepi, Tempo pun berbincang-bincang dengannya. Berikut ini petikan wawancara dengannya:
Puisi Anda kini dikatakan banyak menggunakan negasi?
Soal banyak negasi, saya tidak tahu. Ketika menulis saya tidak sadar. Saya juga kaget, “Oh, iya, tho?” Itulah gunanya nguping terhadap kritik dari orang.
Anda agak lama menulis Kolam?
Memang. Saya menulis tidak lancar lagi. Saya menulis Kolam pertama kali sejak 2003 atau 2004, terus diam lama. Saya betul-betul mencoba mencapai suatu teknik pengucapan yang tidak terpikir. Soneta, menulisnya itu tidak mudah, rumitnya minta ampun.
Apa pencapaian Anda di Kolam?
Saya ada pada taraf ketika aksara menjadi sangat penting. Sebetulnya ini mulai sajak Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro? (2002). Saya bermain-main dengan huruf besar dan italic. Tapi, kemudian saya lihat, hal-hal teknis ini tak penting bagi pembaca. Namun, ternyata bisa dipakai untuk menyampaikan sesuatu yang sangat problematik dalam kehidupan manusia: kontradiksi makna ganda dalam hidup. Karena sastra kita sastra tulis, ya lewat permainan huruf itu.
Anda bermain juga dengan Internet. Misalnya di Facebook. Tapi tak tampak banyak pengaruhnya di Kolam?
Saya tak tahu sampai seberapa jauh (teknologi) itu harus saya akui. Tapi memang, saya sadar ketika menulis sajak Di Depan Laptop, ternyata jargon dan konsep itu, pengertian itu, diksi itu, bisa dipakai. Cuma, memang saya belum seperti yang lain.
Sajak singkat Tempias menyiratkan kegelisahan Anda terhadap waktu yang berlari semakin cepat?
Saya sudah lama mempermasalahkan waktu. Memang ini concern saya sebenarnya (di sajak) itu, mulai lahir sampai mati. Kadang-kadang dalam hidup, sosial harus saya jadikan masalah saya sendiri, masalah personal. Kalau tidak, tak akan jadi (karya). Misalnya ada masalah Marsinah, Mei 1998, yang sebelum menjadi masalah personal, saya belum bisa menulis (tentang itu).
Kurt Vonnegut pernah bilang, “Penulis seperti radio yang menangkap “siaran” kreativitas dari sebuah pemancar, dari sebuah tempat di semesta.” Menurut Anda?
Saya kira iya. Tapi yang datang bukan konsep, melainkan kata. Bukan ide, tapi kata, ungkapan, imaji. Beranak-pinak kata-kata itu. Itu membentuk diri sendirinya sebagai sebuah dunia. Kata dengan sendirinya bergerak ke sana-kemari. Sebetulnya, yang membawa saya adalah kata-kata itu. Bukan saya yang membawanya.
Apa lagi yang Anda ingin capai sekarang?
Moga-moga, sampai pada ketika saya tidak ada, saya masih bisa menulis, tidak jompo, serta tidak linglung dan lupa. Saya selalu membayangkan bagaimana cara menulis yang lebih baik. Bila mentok, tidak bisa, cari cara pengucapan yang lain. Saya tak ingin ketika meninggal masih ada naskah yang belum jadi. Itu siksaan.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Ibnu Rusydi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibnu Rusydi. Tampilkan semua postingan
Senin, 08 November 2010
Jumat, 05 Desember 2008
Temu Sastrawan Dunia di Kota Tua
Ibnu Rusydi
http://www.tempo.co.id/
TEMPO Interaktif, Jakarta: Sebuah acara sastra bakal digelar di Kota Tua Jakarta dan Hotel Omni Batavia, 11-14 Desember nanti. Sastrawan dari berbagai negara diundang, termasuk peraih Nobel Sastra asal Turki, Orhan Pamuk, yang belum tentu bisa datang. Acara juga meliputi lomba, penerbitan buku, bazaar buku, pementasan dan wisata budaya.
Jakarta International Literary Festival (JILFEST) diselenggarakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Komunitas Cerpen Indonesia (KCI) dan Komunitas Sastra Indonesia (KSI). Tema yang dipilih adalah "Peran Jakarta dalam Kehidupan Sastra Dunia".
Tujuan diadakannya festival, menurut Kepala Subdinas Pembinaan pada Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta Jusuf Sugito kepada Tempo, antara lain mengangkat citra internasional Jakarta sebagai kota wisata budaya, menjalin kerjasama di antara sastrawan dunia dan mempromosikan Jakarta sebagai tempat menarik untuk dijadikan latar tempat penulisan produk sastra dan seni. "Pada tanggal 13, kami juga mengadakan workshop untuk siswa dan pelajar," ujarnya, Selasa (25/11).
Sastrawan asing yang direncanakan hadir, selain Pamuk, antara lain adalah Maria Emrl asal Portugis, Henry Chamberlouis (Prancis), Katrin Bandel dari Jerman, Ernst Ulrich Kratz (Inggris) dan Mikihiro Moriyama (Jepang).
Soal kedatangan Orhan Pamuk memang masih tentatif. "Agak sulit, dia agak repot dengan pemerintahnya. Tapi kami masih usahakan agar (Pamuk) bisa hadir," kata Jusuf. Sejumlah sastrawan asing lain sudah memberi lampu hijau kepastian datang. Di sisi pembicara asal Indonesia, "Sudah oke semua," Jusuf menambahkan.
Lomba cerpen yang diadakan mensyaratkan karya berlatar Jakarta. Pendaftaran karya, yang dibuka sejak September lalu, kini sudah tertutup. Para pemenang dan karyanya akan dibawa berkeliling ke negara para pemenang dan para nominator, untuk didiskusikan. JILFEST juga akan menerbitkan antologi cerpen dan puisi karya para peserta. Peluncuran digelar saat pembukaan festival itu.
"Lomba cerpen, saat ini dalam dalam tahap penilaian," kata Jusuf. Dari seluruh Indonesia, ada 362 karya yang dikirimkan ke panitia. Ada pula karya dari warga negara Indonesia yang tinggal di Singapura.
Selain bazaar buku sastra selama festival, ada pula pentas pembacaan puisi dan cerpen, juga musikalisasi puisi yang melibatkan sastrawan internasional. Digelar di Ibu Kota, festival juga mempertunjukkan kesenian Betawi. Para undangan juga akan dibawa berwisata ke Situ Babakan, Pasar Seni Ancol dan obyek-obyek wisata budaya lainnya.
Acara ini ditargetkan setidaknya menghimpun 150 peserta. Mereka adalah penyair, cerpenis, eseis, novelis, dan aktivis sastra lainnya dari Indonesia dan negara lainnya. Menurut seorang panitia, acara ini tadinya dijadwalkan pada 2009. Namun, Gubernur Jakarta meminta acara diajukan ke Desember. Pamuk, yang sempat menyanggupi datang bila acara dijadwalkan 2009, jadi tak pasti kehadirannya.
http://www.tempo.co.id/
TEMPO Interaktif, Jakarta: Sebuah acara sastra bakal digelar di Kota Tua Jakarta dan Hotel Omni Batavia, 11-14 Desember nanti. Sastrawan dari berbagai negara diundang, termasuk peraih Nobel Sastra asal Turki, Orhan Pamuk, yang belum tentu bisa datang. Acara juga meliputi lomba, penerbitan buku, bazaar buku, pementasan dan wisata budaya.
Jakarta International Literary Festival (JILFEST) diselenggarakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Komunitas Cerpen Indonesia (KCI) dan Komunitas Sastra Indonesia (KSI). Tema yang dipilih adalah "Peran Jakarta dalam Kehidupan Sastra Dunia".
Tujuan diadakannya festival, menurut Kepala Subdinas Pembinaan pada Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta Jusuf Sugito kepada Tempo, antara lain mengangkat citra internasional Jakarta sebagai kota wisata budaya, menjalin kerjasama di antara sastrawan dunia dan mempromosikan Jakarta sebagai tempat menarik untuk dijadikan latar tempat penulisan produk sastra dan seni. "Pada tanggal 13, kami juga mengadakan workshop untuk siswa dan pelajar," ujarnya, Selasa (25/11).
Sastrawan asing yang direncanakan hadir, selain Pamuk, antara lain adalah Maria Emrl asal Portugis, Henry Chamberlouis (Prancis), Katrin Bandel dari Jerman, Ernst Ulrich Kratz (Inggris) dan Mikihiro Moriyama (Jepang).
Soal kedatangan Orhan Pamuk memang masih tentatif. "Agak sulit, dia agak repot dengan pemerintahnya. Tapi kami masih usahakan agar (Pamuk) bisa hadir," kata Jusuf. Sejumlah sastrawan asing lain sudah memberi lampu hijau kepastian datang. Di sisi pembicara asal Indonesia, "Sudah oke semua," Jusuf menambahkan.
Lomba cerpen yang diadakan mensyaratkan karya berlatar Jakarta. Pendaftaran karya, yang dibuka sejak September lalu, kini sudah tertutup. Para pemenang dan karyanya akan dibawa berkeliling ke negara para pemenang dan para nominator, untuk didiskusikan. JILFEST juga akan menerbitkan antologi cerpen dan puisi karya para peserta. Peluncuran digelar saat pembukaan festival itu.
"Lomba cerpen, saat ini dalam dalam tahap penilaian," kata Jusuf. Dari seluruh Indonesia, ada 362 karya yang dikirimkan ke panitia. Ada pula karya dari warga negara Indonesia yang tinggal di Singapura.
Selain bazaar buku sastra selama festival, ada pula pentas pembacaan puisi dan cerpen, juga musikalisasi puisi yang melibatkan sastrawan internasional. Digelar di Ibu Kota, festival juga mempertunjukkan kesenian Betawi. Para undangan juga akan dibawa berwisata ke Situ Babakan, Pasar Seni Ancol dan obyek-obyek wisata budaya lainnya.
Acara ini ditargetkan setidaknya menghimpun 150 peserta. Mereka adalah penyair, cerpenis, eseis, novelis, dan aktivis sastra lainnya dari Indonesia dan negara lainnya. Menurut seorang panitia, acara ini tadinya dijadwalkan pada 2009. Namun, Gubernur Jakarta meminta acara diajukan ke Desember. Pamuk, yang sempat menyanggupi datang bila acara dijadwalkan 2009, jadi tak pasti kehadirannya.
Minggu, 23 November 2008
Realisme Hamsad Rangkuti
Ibnu Rusydi
http://www.tempointeraktif.com/
TEMPO Interaktif, Jakarta: Sastrawan Hamsad Rangkuti, 65 tahun, menghabiskan akhir Ramadan di Bangkok. Kerajaan Thailand mengundang dia ke sana untuk menerima penghargaan sastra SEA Write Award. Ini penghargaan sastra tahunan dari kerajaan Thailand yang diberikan kepada pengarang Asia Tenggara.
Putri Maha Vhakri Sirindhorn menyerahkan penghargaan kepada Hamsad dan delapan pegiat sastra lainnya dalam sebuah upacara di Bangkok, 30 September lalu. Hamsad mendapatkan penghargaan itu karena buku kumpulan cerpennya, Bibir dalam Pispot.
Selain Hamsad, kali ini penghargaan diberikan kepada Mohammad Bin Pengiran Haji Abd Rahman (Brunei Darussalam), Sin Touch (Kamboja), Othong Kham-Insou (Laos), Hatta Azad Khan (Malaysia), Elmer Alindogan Ordonez (Filipina), Stella Kon (Singapura), Watchara Satjasarrasin (Thailand), dan Nguyen Ngoc Tu (Vietnam).
Hamsad menambah daftar pengarang Indonesia yang memperoleh penghargaan itu. Sejak 1978, sudah ada 30 orang yang menerima penghargaan itu, antara lain Goenawan Mohamad (1981), Umar Kayam (1987), A.A. Navis (1992), dan Suparto Brata untuk novel Saksi Mata pada 2007.
Dia tidak sepakat dengan seniman yang menyebutkan penghargaan itu sebagai arisan. "Saya emosi mendengar omongan itu. Saya bilang, jangan kauremehkan ini. Arisan ini harus ada setoran, yaitu karya. Kau tidak masuk arisan kalau tidak ada setoran. Ke-30 orang itu semua punya karya," tuturnya ketika dihubungi Tempo saat ia berada di Tenggarong, Kutai Kartanegara.
Hamsad bersama istrinya, Nurwindasari, dan putri bungsu Anggi Mauli Rangkuti berangkat ke Bangkok pada 25 September lalu. Istri ikut untuk jaga-jaga bila Hamsad sakit. Putrinya ikut untuk tugas khusus: penerjemah. "Saya tidak bisa berbahasa Inggris," kata Hamsad lewat telepon dari Tenggarong, Kutai Kartanegara.
Dua menit dipakai Hamsad untuk menyampaikan terima kasih dan harapannya akan perkembangan dunia sastra. Putrinya, Anggi, menerjemahkan ke bahasa Inggris. Wartawan setempat pun menanyai Hamsad. "Tapi yang diwawancara justru putri saya, yang menjawab pertanyaan soal saya dalam bahasa Inggris," ujar Hamsad sambil tertawa.
Susunan acara yang disodorkan panitia pada 26-30 September lumayan padat. "Hanya hari pertama yang kosong. Itu pun karena saya sampai malam di sana."
Hari selanjutnya, dia diajak jalan-jalan ke sejumlah museum, obyek wisata dan sejarah. "Saya jadi tidak bisa ke mana-mana," tuturnya. Maksudnya, tidak bisa jalan-jalan selain tempat-tempat yang dijadwalkan panitia.
Pada 1 Oktober bertepatan dengan Lebaran Idul Fitri, ia balik ke Jakarta. Beberapa hari kemudian, ia terbang ke Tenggarong, Kutai Kartanegara. Ia mengisi lokakarya menulis cerpen untuk para pegiat sastra di sana.
Ia juga memanfaatkan kesempatan itu untuk mencari bahan sejarah kerajaan Kutai. "Saya ingin menulis cerpen berlatar sejarah sini," tutur cerpenis yang belakangan banyak mengisi pelatihan menulis di berbagai daerah
Lalu, kapan waktu terbaiknya untuk menulis? "Selalu pagi, setelah salat subuh dan jalan kaki dua-tiga kilometer, saya pulang sudah segar, mandi, lalu mulai mengarang." Malam harinya, ia mematangkan tulisan itu.
Dia tetap berpegang teguh pada realisme, yang menjadi ciri khas cerpen-cerpennya. "Saya membikin apa yang pembaca suka," tutur peraih Khatulistiwa Literary Award pada 2003 itu. Ia mengaku tidak hendak memuaskan diri sendiri "maupun berakrobat kata-kata".
http://www.tempointeraktif.com/
TEMPO Interaktif, Jakarta: Sastrawan Hamsad Rangkuti, 65 tahun, menghabiskan akhir Ramadan di Bangkok. Kerajaan Thailand mengundang dia ke sana untuk menerima penghargaan sastra SEA Write Award. Ini penghargaan sastra tahunan dari kerajaan Thailand yang diberikan kepada pengarang Asia Tenggara.
Putri Maha Vhakri Sirindhorn menyerahkan penghargaan kepada Hamsad dan delapan pegiat sastra lainnya dalam sebuah upacara di Bangkok, 30 September lalu. Hamsad mendapatkan penghargaan itu karena buku kumpulan cerpennya, Bibir dalam Pispot.
Selain Hamsad, kali ini penghargaan diberikan kepada Mohammad Bin Pengiran Haji Abd Rahman (Brunei Darussalam), Sin Touch (Kamboja), Othong Kham-Insou (Laos), Hatta Azad Khan (Malaysia), Elmer Alindogan Ordonez (Filipina), Stella Kon (Singapura), Watchara Satjasarrasin (Thailand), dan Nguyen Ngoc Tu (Vietnam).
Hamsad menambah daftar pengarang Indonesia yang memperoleh penghargaan itu. Sejak 1978, sudah ada 30 orang yang menerima penghargaan itu, antara lain Goenawan Mohamad (1981), Umar Kayam (1987), A.A. Navis (1992), dan Suparto Brata untuk novel Saksi Mata pada 2007.
Dia tidak sepakat dengan seniman yang menyebutkan penghargaan itu sebagai arisan. "Saya emosi mendengar omongan itu. Saya bilang, jangan kauremehkan ini. Arisan ini harus ada setoran, yaitu karya. Kau tidak masuk arisan kalau tidak ada setoran. Ke-30 orang itu semua punya karya," tuturnya ketika dihubungi Tempo saat ia berada di Tenggarong, Kutai Kartanegara.
Hamsad bersama istrinya, Nurwindasari, dan putri bungsu Anggi Mauli Rangkuti berangkat ke Bangkok pada 25 September lalu. Istri ikut untuk jaga-jaga bila Hamsad sakit. Putrinya ikut untuk tugas khusus: penerjemah. "Saya tidak bisa berbahasa Inggris," kata Hamsad lewat telepon dari Tenggarong, Kutai Kartanegara.
Dua menit dipakai Hamsad untuk menyampaikan terima kasih dan harapannya akan perkembangan dunia sastra. Putrinya, Anggi, menerjemahkan ke bahasa Inggris. Wartawan setempat pun menanyai Hamsad. "Tapi yang diwawancara justru putri saya, yang menjawab pertanyaan soal saya dalam bahasa Inggris," ujar Hamsad sambil tertawa.
Susunan acara yang disodorkan panitia pada 26-30 September lumayan padat. "Hanya hari pertama yang kosong. Itu pun karena saya sampai malam di sana."
Hari selanjutnya, dia diajak jalan-jalan ke sejumlah museum, obyek wisata dan sejarah. "Saya jadi tidak bisa ke mana-mana," tuturnya. Maksudnya, tidak bisa jalan-jalan selain tempat-tempat yang dijadwalkan panitia.
Pada 1 Oktober bertepatan dengan Lebaran Idul Fitri, ia balik ke Jakarta. Beberapa hari kemudian, ia terbang ke Tenggarong, Kutai Kartanegara. Ia mengisi lokakarya menulis cerpen untuk para pegiat sastra di sana.
Ia juga memanfaatkan kesempatan itu untuk mencari bahan sejarah kerajaan Kutai. "Saya ingin menulis cerpen berlatar sejarah sini," tutur cerpenis yang belakangan banyak mengisi pelatihan menulis di berbagai daerah
Lalu, kapan waktu terbaiknya untuk menulis? "Selalu pagi, setelah salat subuh dan jalan kaki dua-tiga kilometer, saya pulang sudah segar, mandi, lalu mulai mengarang." Malam harinya, ia mematangkan tulisan itu.
Dia tetap berpegang teguh pada realisme, yang menjadi ciri khas cerpen-cerpennya. "Saya membikin apa yang pembaca suka," tutur peraih Khatulistiwa Literary Award pada 2003 itu. Ia mengaku tidak hendak memuaskan diri sendiri "maupun berakrobat kata-kata".
Minggu, 16 November 2008
Puisi Harus Memberontak
Ibnu Rusydi
http://www.tempointeraktif.com/
TEMPO Interaktif, Jakarta: Kebenaran puisi dengan kebenaran agama tak akan pernah bertemu. Wahyu Islam adalah jawaban. Sedangkan puisi, yang ilhamnya hadir bagaikan dibisikkan jin, adalah pertanyaan-pertanyaan. Puisi adalah pintu kejelekan. Kata-kata itu meluncur dari penyair Suriah, Adonis, di Komunitas Salihara, Jakarta, Senin malam lalu.
Di salah satu ruang di komunitas itu, di bawah sorot lampu, dalam balutan jas kelabu, penyair bernama asli Ali Ahmad Said Asbar itu menyampaikan ceramah bertajuk "Kebenaran Puisi dan Kebenaran Agama". Audiens tekun mendengar.
Ceramah tertulis itu melirik ke masa sebelum wahyu agama (Islam) turun, saat puisi tak sekadar seni bahasa. Puisi adalah pengetahuan supranatural yang bersumber dari alam gaib yang tak diketahui. Maka sering dikatakan puisi "diturunkan" kepada penyair.
Wahyu agama kemudian membatalkan "wahyu" puisi, dengan bahasa puisi sendiri, yakni bahasa Arab. Puisi pun tersingkir oleh wahyu agama dengan risalah Ilahi terakhir bagi manusia. Rasul-Nya adalah penutup para nabi.
Lalu bagaimana kebenaran dalam puisi bisa dihidupkan? Menurut Adonis, puisi harus memberontak. Puisi bisa hidup dalam kondisi yang terpisah dari wahyu agama. Sekularisme yang menumbuhkan pembaruan, sementara pembaruan tidak didorong oleh karakter asli agama--wahyu yang final.
Padahal akal manusia selalu menginginkan pembaruan melalui pertanyaan, keraguan, penciptaan, penolakan, terobosan, dan kebebasan. Maka, "Akal tidak akan mampu melakukan pembaruan kecuali terbebas dari perintah dan larangan agama," kata Adonis.
Menjawab pertanyaan hadirin, Adonis mengatakan tak pernah menyesal dilahirkan sebagai muslim. Dia mencintai Islam, maka ia mengkritik pemahaman terhadap Islam. Dia menegaskan, dirinya tak setitik pun ragu terhadap otentisitas teks wahyu Al-Quran.
Namun, seagung apa pun teks itu, akan menjadi kecil ketika melalui akal yang sempit. "Persoalannya, nalar muslim tak standar seperti teksnya (yang Agung)."
Adonis lahir di Al-Qassabin, Suriah, pada 1930. Sejak usia muda ia bertani. Ayahnya mengajar mengingat sejumlah puisi. Dia lalu mulai mengarang puisinya sendiri. Pada 1947, dia membaca puisi di hadapan Presiden Suriah Syukri al-Kuwatli. Ini mengantarnya meraih sejumlah beasiswa, yang berujung pada gelar sarjana filsafat pada 1954.
Ia sempat mencicipi penjara setahun karena terlibat dalam gerakan politik. Setelah bebas pada 1956, dia pindah ke Beirut, Libanon. Pada 1960-1961, dia mendapat beasiswa ke Paris. Setelah mengajar di Universitas Libanon dan Universitas Damaskus, Adonis hijrah ke Paris pada 1980, mengajar di Universitas Sorbonne. Saat itu Libanon terjerumus dalam kancah perang sipil.
Sudah lebih dari 30 puisi dan prosa ia lahirkan. Buku-buku itu diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Beberapa kali namanya disebut sebagai calon kuat penerima Hadiah Nobel Sastra, yakni pada 2005, 2006, dan 2007.
Dalam waktu dekat, salah satu kumpulan puisi Adonis akan terbit dalam bahasa Indonesia: Nyanyian Mihyar dari Damaskus. Buku terbitan Durakindo Publishing ini diterjemahkan Ahmad Mulyadi dari edisi dwibahasa Jerman-Arab. Versi aslinya terbit pada 1961. Budayawan Goenawan Mohamad menulis kata pengantarnya di edisi terjemahan itu.
http://www.tempointeraktif.com/
TEMPO Interaktif, Jakarta: Kebenaran puisi dengan kebenaran agama tak akan pernah bertemu. Wahyu Islam adalah jawaban. Sedangkan puisi, yang ilhamnya hadir bagaikan dibisikkan jin, adalah pertanyaan-pertanyaan. Puisi adalah pintu kejelekan. Kata-kata itu meluncur dari penyair Suriah, Adonis, di Komunitas Salihara, Jakarta, Senin malam lalu.
Di salah satu ruang di komunitas itu, di bawah sorot lampu, dalam balutan jas kelabu, penyair bernama asli Ali Ahmad Said Asbar itu menyampaikan ceramah bertajuk "Kebenaran Puisi dan Kebenaran Agama". Audiens tekun mendengar.
Ceramah tertulis itu melirik ke masa sebelum wahyu agama (Islam) turun, saat puisi tak sekadar seni bahasa. Puisi adalah pengetahuan supranatural yang bersumber dari alam gaib yang tak diketahui. Maka sering dikatakan puisi "diturunkan" kepada penyair.
Wahyu agama kemudian membatalkan "wahyu" puisi, dengan bahasa puisi sendiri, yakni bahasa Arab. Puisi pun tersingkir oleh wahyu agama dengan risalah Ilahi terakhir bagi manusia. Rasul-Nya adalah penutup para nabi.
Lalu bagaimana kebenaran dalam puisi bisa dihidupkan? Menurut Adonis, puisi harus memberontak. Puisi bisa hidup dalam kondisi yang terpisah dari wahyu agama. Sekularisme yang menumbuhkan pembaruan, sementara pembaruan tidak didorong oleh karakter asli agama--wahyu yang final.
Padahal akal manusia selalu menginginkan pembaruan melalui pertanyaan, keraguan, penciptaan, penolakan, terobosan, dan kebebasan. Maka, "Akal tidak akan mampu melakukan pembaruan kecuali terbebas dari perintah dan larangan agama," kata Adonis.
Menjawab pertanyaan hadirin, Adonis mengatakan tak pernah menyesal dilahirkan sebagai muslim. Dia mencintai Islam, maka ia mengkritik pemahaman terhadap Islam. Dia menegaskan, dirinya tak setitik pun ragu terhadap otentisitas teks wahyu Al-Quran.
Namun, seagung apa pun teks itu, akan menjadi kecil ketika melalui akal yang sempit. "Persoalannya, nalar muslim tak standar seperti teksnya (yang Agung)."
Adonis lahir di Al-Qassabin, Suriah, pada 1930. Sejak usia muda ia bertani. Ayahnya mengajar mengingat sejumlah puisi. Dia lalu mulai mengarang puisinya sendiri. Pada 1947, dia membaca puisi di hadapan Presiden Suriah Syukri al-Kuwatli. Ini mengantarnya meraih sejumlah beasiswa, yang berujung pada gelar sarjana filsafat pada 1954.
Ia sempat mencicipi penjara setahun karena terlibat dalam gerakan politik. Setelah bebas pada 1956, dia pindah ke Beirut, Libanon. Pada 1960-1961, dia mendapat beasiswa ke Paris. Setelah mengajar di Universitas Libanon dan Universitas Damaskus, Adonis hijrah ke Paris pada 1980, mengajar di Universitas Sorbonne. Saat itu Libanon terjerumus dalam kancah perang sipil.
Sudah lebih dari 30 puisi dan prosa ia lahirkan. Buku-buku itu diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Beberapa kali namanya disebut sebagai calon kuat penerima Hadiah Nobel Sastra, yakni pada 2005, 2006, dan 2007.
Dalam waktu dekat, salah satu kumpulan puisi Adonis akan terbit dalam bahasa Indonesia: Nyanyian Mihyar dari Damaskus. Buku terbitan Durakindo Publishing ini diterjemahkan Ahmad Mulyadi dari edisi dwibahasa Jerman-Arab. Versi aslinya terbit pada 1961. Budayawan Goenawan Mohamad menulis kata pengantarnya di edisi terjemahan itu.
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel GarcÃa Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati