Tampilkan postingan dengan label Bambang Agung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bambang Agung. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 November 2008

Sastra Dunia, Sastra Nasional

DEMIKIANLAH batas wilayah linguistik semakin mendekati batas wilayah negara, batas bangsa.
Bambang Agung*
http://www.korantempo.com/

DEMIKIANLAH batas wilayah linguistik semakin mendekati batas wilayah negara, batas bangsa. Bahasa adalah lemari penyimpan memori bangsa, baik yang busuk memuakkan maupun yang indah membanggakan. Dari hal-hal begini, antara lain, karakter suatu bangsa terbentuk. Pada hal semacam ini pula semestinya dicari "sastra kita, sastra nasional", dengan kata lain, sastra berbasis bangsa. Soal bagaimana bentuk ideal dan ukuran mutu "sastra nasional" idealnya, itu perkara lain yang layak diperdebatkan. Namun, satu hal pasti: sastra sampai batas tertentu mesti tunduk pada karakter bahasa.

Ini gampang dilihat dalam puisi, karya sastra yang paling tergantung pada karakter bahasa. Dibanding cerpen atau novel, puisi jauh lebih sukar diterjemahkan. Di samping padat metafor, rima dan ritme puisi sangat tergantung pada karakter masing-masing bahasa. Puisi dari bahasa Inggris, misalnya, akan kehilangan banyak bila diterjemahkan ke bahasa Polandia (lihat Joanna Janecka, "The Power of Sound", Translation Journal, October 2001) atau puisi Rimbaud akan kehilangan denting romantiknya saat diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris (lihat Michael Walker, "Translating Rimbaud's Poetry from French to English", Translation Journal, October 1998). Juga mudah diduga, kelebihan Shakespeare mengolah kekuatan kata satu suku akan menguap saat karyanya dialihbahasakan ke dalam bahasa yang minim hal demikian, seperti bahasa Indonesia.

Dalam rumah-penjara bahasa inilah, pengarang menemui tantangan dan peluang besar untuk mencipta atau mendobrak. Dalam faktor-faktor konkret demikian--bahasa hanya salah satu contoh di antara banyak faktor lain, misalnya pengalaman bersama (tragedi '65, pemerintahan rezim Orba, pendidikan yang buruk dan salah urus, dan seterusnya)--ke-bangsa-an sastra bisa ditelusuri.

Dengan begitu, baik "nasionalisme sempit" maupun penolakan keras hati terlampaui. Dengan begitu pula, arah pernyataan Moretti bisa dibalik: raison d'etre sastra nasional adalah terus-menerus menjadi "duri dalam daging" bagi sastra dunia dan sastra daerah. Dan itu mensyaratkan satu fakta sederhana: karya sastra nasional mempunyai kelebihan atau perbedaan dari sastra dunia maupun sastra daerah. Di sinilah daya cipta dipertarungkan dan prestasi dipertaruhkan. HUBUNGAN sastra dan politik adalah soal yang tidak pernah habis diperdebatkan. Tapi justru di sini posisi para pembela kemurnian sastra terlihat paling problematis.

Memang benar suatu ketika di suatu tempat, realisme pernah diklaim oleh sementara pihak sebagai satu-satunya bentuk sastra yang "paling benar" untuk menampilkan realitas. Memang benar pula, varian dari sastra ini, yakni realisme sosialis, pernah didukung oleh kekuasaan negara untuk menganaktirikan dan mencelakakan penulis sastra yang lain (lihat Vitally Shentalinsky, Arrested Voices: Resurrecting the Disappeared Writers of the Soviet Regime, 1993). Memang benar juga perumusan konsep realisme sosialis oleh pemikirnya, Georg Lukacs, sejak awal tidak kalis dari kerancuan. Meski mengklaim berangkat dari tradisi Marxis, model ideal Lukacs adalah karya-karya pengarang Jerman, Thomas Mann. Sementara itu, Marx dan Engels sendiri condong ke karya-karya pengarang Prancis, Balzac, yang agak sukar dimasukkan ke dalam kriteria ketat realisme sosialis Lukacs. Susahnya pula, Mann sendiri bersikap dingin-dingin saja, kalau tidak malah risi, dengan segala kesibukan Lukacs yang dikaitkan dengan dirinya. Masuknya seniman-penulis Marxis lain, Bertolt Brecht, ke dalam perdebatan membuat perkara semakin tidak sederhana.

Tapi terlepas dari keterbatasan metodologi maupun eksekusi pengolahan bahannya, menurut Moretti, kehebatan studi Lukacs adalah proyek rintisannya untuk memahami pola hegemoni simbolis pada zamannya. Cara kita mendekati sastra menggunakan sastra bandingan misalnya adalah cara pandang kita atas dunia.

Dengan demikian, dalam benak kaum pemurni sastra, dunia (sastra) yang mereka bayangkan adalah dunia (sastra) yang merdeka dari kepentingan politik atau pengaruh kekuasaan. Benarkah?

Cara pandang ini di samping tidak realistis, juga merugikan diri sendiri. Tidak realistis karena mengaburkan ketidakadilan yang ada.

Pengertian kekuasaan yang dirujuk Nirwan dan para pemurni sastra adalah kekuasaan negara. Meski harus diperiksa lebih lanjut, pengertian kekuasaan macam ini mungkin refleksi dari pengalaman politik menjelang tragedi '65 maupun rezim represif Orba. Sayangnya, pengertian macam ini gagal menangkap mekanisme kekuasaan pada dua tingkat: kekuasaan yang melampaui ruang lingkup negara dan kekuasaan yang bermain di antara jari-jari kaki kekuasaan negara.

Seperti dilihat Moretti, sastra dunia adalah sistem yang satu namun timpang, tidak adil. Sastra dari kebudayaan inti, Inggris dan Prancis, menyilangi dan mempengaruhi sastra-sastra dari kebudayaan pinggiran atau semipinggiran. Kalaupun terjadi arah sebaliknya, yang tidak terlalu sering terjadi, khalayak dari budaya pinggiran harus menebus dengan harga (secara finansial atau nonfinansial) yang jauh lebih tinggi. Boleh dihitung pula berapa persen dibanding karya sastra yang diproduksi dan ditulis pengarang dari budaya inti, karya yang diproduksi dan ditulis oleh pengarang dari budaya pinggiran bisa didengar.

Dalam sistem sastra dunia perimbangan kekuasaan tidak adil karena, dalam bahasa Itamar Even-Zohar, "Tidak ada kesejajaran dalam hubungan saling-pengaruh sastra. Sastra sasaran (sastra dari budaya pinggiran)... dipengaruhi oleh sastra sumber (sastra dari budaya inti) yang sepenuhnya mengabaikannya."

Hal yang sama berlaku untuk mekanisme hubungan kekuasaan sastra nasional dan sastra daerah: sastra daerah dipengaruhi oleh sastra dari pusat (Jakarta, terutama) yang sepenuhnya mengabaikannya. Komentar minor para penulis daerah terhadap hubungan tidak imbang antara pusat dan daerah ini terhadap dominasi pusat dalam dunia sastra terlalu sering kita dengar. Begitu pula bagaimana persoalan besar yang dihadapi seorang (bakal) sastrawan yang baik dan diharapkan berwawasan kosmopolitan bisa diatasi bila infrastruktur di sekitarnya: bahan bacaan, pendidikan, komunitas intelektual, tidak memadai? Kalimat berikut: "seorang penyair yang tumbuh di Bone atau Rogojampi yang... memandang serius... Sutasoma yang hanya dia baca terjemahan Inggrisnya" (cetak miring ditambahkan--BA) jelas menunjukkan betapa Nirwan lalai mempertimbangkan ketidakadilan distribusi fasilitas yang ada, betapa dia melupakan kekuasaan mikro yang bermain. Dan juga seberapa besar peluang penulis dari Bone, Rogojampi, atau tempat mana pun yang serba minim fasilitas mampu menembus seleksi gramatik penulisan sastra seorang redaktur ruang budaya di suatu media massa? Itu baru ketimpangan spasial, belum lagi soal ketimpangan finansial, diskriminasi, dan berbagai soal lain. Tapi barangkali semua ini juga tercecer dari pertimbangan kaum pemurni sastra.

Tapi yang lebih susah, karena berpretensi nonpolitis, kaum pemurni sastra tidak memiliki pijakan etis untuk bersuara sekaligus kemungkinan mengubah kenyataan yang sering tidak ideal. Di luar keluh-kesah dan aksi personal, setiap langkah lebih lanjut selalu terbentur pada batas ruang yang mereka bikin sendiri, ruang kedap politik. Di hadapan ketimpangan yang membutuhkan tindakan politik semisal kebobrokan pendidikan secara umum atau (apalagi) pendidikan sastra, di hadapan ratusan bakat sastra yang berguguran karena lembaga-lembaga kebudayaan yang salah urus dan distribusi fasilitas penunjang yang tidak adil, mereka terpaksa menjadi penonton. Mungkin penuh ratap, tapi tetap penonton.

Banyak hal yang masih harus dibenahi, dan masih terlalu mewah untuk bersikap sebagai penonton.

*) Lulus dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Bergabung dengan Tim Peneliti Sastra Eksil Indonesia.

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati