DEMIKIANLAH batas wilayah linguistik semakin mendekati batas wilayah negara, batas bangsa.
Bambang Agung*
http://www.korantempo.com/
DEMIKIANLAH batas wilayah linguistik semakin mendekati batas wilayah negara, batas bangsa. Bahasa adalah lemari penyimpan memori bangsa, baik yang busuk memuakkan maupun yang indah membanggakan. Dari hal-hal begini, antara lain, karakter suatu bangsa terbentuk. Pada hal semacam ini pula semestinya dicari "sastra kita, sastra nasional", dengan kata lain, sastra berbasis bangsa. Soal bagaimana bentuk ideal dan ukuran mutu "sastra nasional" idealnya, itu perkara lain yang layak diperdebatkan. Namun, satu hal pasti: sastra sampai batas tertentu mesti tunduk pada karakter bahasa.
Ini gampang dilihat dalam puisi, karya sastra yang paling tergantung pada karakter bahasa. Dibanding cerpen atau novel, puisi jauh lebih sukar diterjemahkan. Di samping padat metafor, rima dan ritme puisi sangat tergantung pada karakter masing-masing bahasa. Puisi dari bahasa Inggris, misalnya, akan kehilangan banyak bila diterjemahkan ke bahasa Polandia (lihat Joanna Janecka, "The Power of Sound", Translation Journal, October 2001) atau puisi Rimbaud akan kehilangan denting romantiknya saat diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris (lihat Michael Walker, "Translating Rimbaud's Poetry from French to English", Translation Journal, October 1998). Juga mudah diduga, kelebihan Shakespeare mengolah kekuatan kata satu suku akan menguap saat karyanya dialihbahasakan ke dalam bahasa yang minim hal demikian, seperti bahasa Indonesia.
Dalam rumah-penjara bahasa inilah, pengarang menemui tantangan dan peluang besar untuk mencipta atau mendobrak. Dalam faktor-faktor konkret demikian--bahasa hanya salah satu contoh di antara banyak faktor lain, misalnya pengalaman bersama (tragedi '65, pemerintahan rezim Orba, pendidikan yang buruk dan salah urus, dan seterusnya)--ke-bangsa-an sastra bisa ditelusuri.
Dengan begitu, baik "nasionalisme sempit" maupun penolakan keras hati terlampaui. Dengan begitu pula, arah pernyataan Moretti bisa dibalik: raison d'etre sastra nasional adalah terus-menerus menjadi "duri dalam daging" bagi sastra dunia dan sastra daerah. Dan itu mensyaratkan satu fakta sederhana: karya sastra nasional mempunyai kelebihan atau perbedaan dari sastra dunia maupun sastra daerah. Di sinilah daya cipta dipertarungkan dan prestasi dipertaruhkan. HUBUNGAN sastra dan politik adalah soal yang tidak pernah habis diperdebatkan. Tapi justru di sini posisi para pembela kemurnian sastra terlihat paling problematis.
Memang benar suatu ketika di suatu tempat, realisme pernah diklaim oleh sementara pihak sebagai satu-satunya bentuk sastra yang "paling benar" untuk menampilkan realitas. Memang benar pula, varian dari sastra ini, yakni realisme sosialis, pernah didukung oleh kekuasaan negara untuk menganaktirikan dan mencelakakan penulis sastra yang lain (lihat Vitally Shentalinsky, Arrested Voices: Resurrecting the Disappeared Writers of the Soviet Regime, 1993). Memang benar juga perumusan konsep realisme sosialis oleh pemikirnya, Georg Lukacs, sejak awal tidak kalis dari kerancuan. Meski mengklaim berangkat dari tradisi Marxis, model ideal Lukacs adalah karya-karya pengarang Jerman, Thomas Mann. Sementara itu, Marx dan Engels sendiri condong ke karya-karya pengarang Prancis, Balzac, yang agak sukar dimasukkan ke dalam kriteria ketat realisme sosialis Lukacs. Susahnya pula, Mann sendiri bersikap dingin-dingin saja, kalau tidak malah risi, dengan segala kesibukan Lukacs yang dikaitkan dengan dirinya. Masuknya seniman-penulis Marxis lain, Bertolt Brecht, ke dalam perdebatan membuat perkara semakin tidak sederhana.
Tapi terlepas dari keterbatasan metodologi maupun eksekusi pengolahan bahannya, menurut Moretti, kehebatan studi Lukacs adalah proyek rintisannya untuk memahami pola hegemoni simbolis pada zamannya. Cara kita mendekati sastra menggunakan sastra bandingan misalnya adalah cara pandang kita atas dunia.
Dengan demikian, dalam benak kaum pemurni sastra, dunia (sastra) yang mereka bayangkan adalah dunia (sastra) yang merdeka dari kepentingan politik atau pengaruh kekuasaan. Benarkah?
Cara pandang ini di samping tidak realistis, juga merugikan diri sendiri. Tidak realistis karena mengaburkan ketidakadilan yang ada.
Pengertian kekuasaan yang dirujuk Nirwan dan para pemurni sastra adalah kekuasaan negara. Meski harus diperiksa lebih lanjut, pengertian kekuasaan macam ini mungkin refleksi dari pengalaman politik menjelang tragedi '65 maupun rezim represif Orba. Sayangnya, pengertian macam ini gagal menangkap mekanisme kekuasaan pada dua tingkat: kekuasaan yang melampaui ruang lingkup negara dan kekuasaan yang bermain di antara jari-jari kaki kekuasaan negara.
Seperti dilihat Moretti, sastra dunia adalah sistem yang satu namun timpang, tidak adil. Sastra dari kebudayaan inti, Inggris dan Prancis, menyilangi dan mempengaruhi sastra-sastra dari kebudayaan pinggiran atau semipinggiran. Kalaupun terjadi arah sebaliknya, yang tidak terlalu sering terjadi, khalayak dari budaya pinggiran harus menebus dengan harga (secara finansial atau nonfinansial) yang jauh lebih tinggi. Boleh dihitung pula berapa persen dibanding karya sastra yang diproduksi dan ditulis pengarang dari budaya inti, karya yang diproduksi dan ditulis oleh pengarang dari budaya pinggiran bisa didengar.
Dalam sistem sastra dunia perimbangan kekuasaan tidak adil karena, dalam bahasa Itamar Even-Zohar, "Tidak ada kesejajaran dalam hubungan saling-pengaruh sastra. Sastra sasaran (sastra dari budaya pinggiran)... dipengaruhi oleh sastra sumber (sastra dari budaya inti) yang sepenuhnya mengabaikannya."
Hal yang sama berlaku untuk mekanisme hubungan kekuasaan sastra nasional dan sastra daerah: sastra daerah dipengaruhi oleh sastra dari pusat (Jakarta, terutama) yang sepenuhnya mengabaikannya. Komentar minor para penulis daerah terhadap hubungan tidak imbang antara pusat dan daerah ini terhadap dominasi pusat dalam dunia sastra terlalu sering kita dengar. Begitu pula bagaimana persoalan besar yang dihadapi seorang (bakal) sastrawan yang baik dan diharapkan berwawasan kosmopolitan bisa diatasi bila infrastruktur di sekitarnya: bahan bacaan, pendidikan, komunitas intelektual, tidak memadai? Kalimat berikut: "seorang penyair yang tumbuh di Bone atau Rogojampi yang... memandang serius... Sutasoma yang hanya dia baca terjemahan Inggrisnya" (cetak miring ditambahkan--BA) jelas menunjukkan betapa Nirwan lalai mempertimbangkan ketidakadilan distribusi fasilitas yang ada, betapa dia melupakan kekuasaan mikro yang bermain. Dan juga seberapa besar peluang penulis dari Bone, Rogojampi, atau tempat mana pun yang serba minim fasilitas mampu menembus seleksi gramatik penulisan sastra seorang redaktur ruang budaya di suatu media massa? Itu baru ketimpangan spasial, belum lagi soal ketimpangan finansial, diskriminasi, dan berbagai soal lain. Tapi barangkali semua ini juga tercecer dari pertimbangan kaum pemurni sastra.
Tapi yang lebih susah, karena berpretensi nonpolitis, kaum pemurni sastra tidak memiliki pijakan etis untuk bersuara sekaligus kemungkinan mengubah kenyataan yang sering tidak ideal. Di luar keluh-kesah dan aksi personal, setiap langkah lebih lanjut selalu terbentur pada batas ruang yang mereka bikin sendiri, ruang kedap politik. Di hadapan ketimpangan yang membutuhkan tindakan politik semisal kebobrokan pendidikan secara umum atau (apalagi) pendidikan sastra, di hadapan ratusan bakat sastra yang berguguran karena lembaga-lembaga kebudayaan yang salah urus dan distribusi fasilitas penunjang yang tidak adil, mereka terpaksa menjadi penonton. Mungkin penuh ratap, tapi tetap penonton.
Banyak hal yang masih harus dibenahi, dan masih terlalu mewah untuk bersikap sebagai penonton.
*) Lulus dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Bergabung dengan Tim Peneliti Sastra Eksil Indonesia.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Bambang Agung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bambang Agung. Tampilkan semua postingan
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel García Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati