Heri Latief
Kereta api terlambat lagi, salju telah membuat sistem sinyal kereta api kedinginan, lalu membeku, dan kebingungan tak bisa diatur lagi. Winter kali ini memang terasa aneh, cuacanya lebih dingin dan lebih membeku.
Aku terdampar di stasiun Utrecht, tak bisa melanjutkan perjalanan. Aku tak punya opsi lain kecuali menunggu di pojokan stasiun. Di luar badai salju lagi memburu waktu. Langit bagaikan bisu cemburu menyaksikan salju seperti kapas itu seakan-akan sedang bermain-main dengan angin.
Di dalam stasiun sudah banyak orang kebingungan yang menatap papan pengumuman, tak ada kereta api yang bergerak. Kemana mereka mesti mengadu? Antrian panjang mengular di bagian penerangan. Kulihat wajah wajah yang kecewa sibuk menelepon mengabarkan situasi yang tak ada jalan keluarnya. Mereka berdesakan mencari tempat untuk menunggu kabar baik.
Menunggu adalah sesuatu yang membosankan, apalagi menunggu sampai badai salju selesai memutihkan alam dan berharap sinyal kereta api bisa berfungsi lagi. Dinginpun mulai merangkak dari bawah telapak kaki, menembus sol sepatu dan sampai ke hidungku, mulailah bersin yang mengandung virus terbang kemana-mana.
Orang yang berdiri di sebelahku mukanya cemberutan, matanya melotot. Ia pasti takut kena sambar virus yang lewat bersinku itu. Apa boleh buat, aku memang punya alergi, ia boleh pindah tempat sesukanya, aku tak peduli.
Aku bersin lagi. Sekali ini bersinnya berhasil kublokkir, tapi akibatnya kentutpun keluar tanpa permisi, dan suaranya cempreng bagai suara terompet topeng monyet. Aku malu berat bah, tapi pura pura tak tau. Topiku makin dalam menutupi mukaku, syal yang melilit leher menyembunyikan wajahku. Aku tak berani melirik ke kiri dan ke kanan. Selama 10 detik aku menahan napas, akibatnya malah tambah parah, perutku jadi gembung dan terasa mual. Aku mau kentut lagi!
Hampir lima menit aku menahan kentut, akhirnya aku tak tahan lagi dan berlari ke arah pintu ke luar. Di luar angin dingin menerpa angin yang keluar dari badanku. Kulihat beberapa orang sedang asik merokok, asapnya ditelan ribuan salju yang seperti kapas itu. Malam menembangkan nyanyian angin musim dingin.
Aku masuk lagi ke dalam stasiun menuju kedai kopi, aku haus ingin minum kopi susu. Suara pengumuman tentang jadwal kereta api terdengar menggema di dinding. Sinyal kereta api ke arah utara katanya telah dibuka, akupun berdoa.
***
Di luar badai salju telah mulai mereda. Segelas kopi susu dan sebatang keretek ikut juga membakar sepi, tapi cuaca tetap tak bersahabat. Tumpukan salju menutupi trotoar dan jalanan. Seorang datang bertanya apa aku punya korek api. Setelah rokok jadi abu, percakapanpun bersambung sampai ke dalam stasiun, kami berdiskusi tentang badai salju sampai dengan masalah kelaparan yang masih menghantui dunia. Ia mengaku sebagai seorang pegawai negeri bagian urusan orang asing. Kesempatan bagiku untuk bertanya padanya tentang isu politik yang lagi ngehits, tema soal politik kambing hitam. Sekarang orang asing dijadikan alat politik praktis, apakah ini suatu tanda bahwa ada usaha untuk mengalihkan perhatian terhadap krisis ekonomi yang menimpa dunia dan juga Belanda.
“Retorika politik Belanda berdasarkan permintaan pasar, kerna krisis ekonomi maka orang gampang dipengaruhi rayuan populisme, orang bingung lagi nyari pegangan”, katanya kalem.
“Rupanya persoalannya cuma orang bingung lagi nyari pegangan. Itukah alasan utamanya? Bukankah bangsa barat suka bicara soal hak asasi manusia, tapi ternyata tak sanggup melihat kenyataan, bahwa ada orang asing di Belanda yang berhasil mendaki tangga karir politiknya hingga menduduki korsi gubernur di kota Rotterdam.
Teman diskusi yang ketemunya gara gara badai salju ini menjawab: “percayalah, jika terjadi krisis ekonomi yang berat seperti ini, bangsa apapun di dunia akan menyelematkan dirinya sendiri-sendiri. Kepercayaan public terhadap nilai nilai lama akan digantikan oleh pemikiran yang hanya mementingkan diri sendiri, korban dicari dari kelompok yang paling lemah, hukum alam berlaku”.
Pengumuman menggema lagi, semua sinyal telah diperbaiki, kereta api jalan lagi. Diskusi ditutup. Kami berpisah setelah sempat berdiskusi soal kemanusiaan, dan apakah hak asasi manusia itu juga dibilang kejadian alam?
Jawabannya ada pada diri kita masing masing, tergantung dari rasa kemanusiaan kita, bukan tergantung dari warna kulit ataupun perbedaan materi. Kemanusiaan adalah benteng terakhir untuk membuktikan bahwa manusia itu berbudaya dan mencintai perdamaian.
Amsterdam, 13/12/2010
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Heri Latief. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Heri Latief. Tampilkan semua postingan
Kamis, 13 Januari 2011
Sabtu, 25 September 2010
Puisi-Puisi Heri Latief
http://www.suarapembaruan.com/
Balada Sepiring Nasi Tempe
gembel busuk tersuruk di pojokan tembok rumahmu
melingkar seperti bangkai ular lapar
perutnya menyanyikan lagu lagu perang
meninabobokan impian para pecundang
terbang terbanglah kemelaratan
jika harga sepiring nasi tempe cuma jadi mosaik yang
melekat pada ban mobil jaguar sang penguasa
sakit hatinya rakyat dibalas dengan
tajamnya bayonet menikam segala yang melawan
pasrah rela nerima adalah peraturan
yang dipropagandakan dari istana kekuasaan
dan kamu tiarap ketakutan memeluk nasibmu
menjilat pantat demi kekayaan demi harta demi sorga
yang dibeli dari hasil memeras keringat mereka
yang lelap di trotoar berselimut embun malam
Bayanganmu
kemarin malam, kudengar swaramu lagi, mendesah manja,
jangan bilang aku bisa melupakanmu, jangan pernah
lupakan p elukan kita di ujung senja jakarta, tanpa kau
rasa bayanganmu melayang bersama rinduku,kulihat debu
jalanan pergi tamasya nikmati langit kotamu yang
berwarna jingga menyala, cinta!
Suu Kyi
suu kyi itu puisi
demokrasi pun ditakuti
Tournado Rossini
di balik cemburu ada rindu, kita tahu, dibalik iri ada
jalusi yang mengejek mimpi, kita tahu tak ada yang
abadi di dunia ini, yang ada kepentingan, angan-angan
dan kenyataan bukan cuma punya kita, tapi kita selalu
merindu pada bulan yang tersenyum genit pada belahan
sexy di dada sang putri, oya? siapa yang percaya pada
kesetiaan?
ketika materi menguasai isi hati, kita hanya bisa
meneteskan air liur pada sepiring tournado rossini,
dengan sausnya yang dihiasi peterselie, lihatlah
disana kita jumpa para pemuja kemiskinan yang memuja
kelaparan, sementara itu kita pura-pura membuang muka,
karena kita tahu betapa asyiknya jadi orang kaya!
Reuni
reuni, bukan pesta kematian
sisa sejarah kawan dan lawan
bertukar cerita lupa siapa
pada takdir memuja nasib
nyawa pinjaman sebatas usia
nyanyian doa pergi ke langit
jumpa dosa berselimut pahala
lalu, kenapa tuhan memanggilnya?
reuni, bukan dihayalkan sayangku
kulihat mereka yang telah pergi
satu demi satu datang menyapa
kisah jaman yang mendebarkan
jerit emosi urat darah pun pecah!
nyanyian dzikir cari batas nafsu
suratan hidup tepian maut, sunyi
menunggu waktu yang sudah pasti!
reuni, bukan badai hujan rindu
dunia tempat singgah sementara
racun ketakutan pemuas kepedihan
hanya mimpi berkuasa hari ini
nikmatilah, semua yang bisa dinikmati
tiada lagi yang musti disesali
liarnya kata bertaring bisunya sepi
mereka percaya di sana jumpa lagi
Rindu Bisu
janji matahari panas membara
racun polusi cemburu bisu buta
taring rindu diasah tajam berbisa
menyayat selapis memori kita
Balada Sepiring Nasi Tempe
gembel busuk tersuruk di pojokan tembok rumahmu
melingkar seperti bangkai ular lapar
perutnya menyanyikan lagu lagu perang
meninabobokan impian para pecundang
terbang terbanglah kemelaratan
jika harga sepiring nasi tempe cuma jadi mosaik yang
melekat pada ban mobil jaguar sang penguasa
sakit hatinya rakyat dibalas dengan
tajamnya bayonet menikam segala yang melawan
pasrah rela nerima adalah peraturan
yang dipropagandakan dari istana kekuasaan
dan kamu tiarap ketakutan memeluk nasibmu
menjilat pantat demi kekayaan demi harta demi sorga
yang dibeli dari hasil memeras keringat mereka
yang lelap di trotoar berselimut embun malam
Bayanganmu
kemarin malam, kudengar swaramu lagi, mendesah manja,
jangan bilang aku bisa melupakanmu, jangan pernah
lupakan p elukan kita di ujung senja jakarta, tanpa kau
rasa bayanganmu melayang bersama rinduku,kulihat debu
jalanan pergi tamasya nikmati langit kotamu yang
berwarna jingga menyala, cinta!
Suu Kyi
suu kyi itu puisi
demokrasi pun ditakuti
Tournado Rossini
di balik cemburu ada rindu, kita tahu, dibalik iri ada
jalusi yang mengejek mimpi, kita tahu tak ada yang
abadi di dunia ini, yang ada kepentingan, angan-angan
dan kenyataan bukan cuma punya kita, tapi kita selalu
merindu pada bulan yang tersenyum genit pada belahan
sexy di dada sang putri, oya? siapa yang percaya pada
kesetiaan?
ketika materi menguasai isi hati, kita hanya bisa
meneteskan air liur pada sepiring tournado rossini,
dengan sausnya yang dihiasi peterselie, lihatlah
disana kita jumpa para pemuja kemiskinan yang memuja
kelaparan, sementara itu kita pura-pura membuang muka,
karena kita tahu betapa asyiknya jadi orang kaya!
Reuni
reuni, bukan pesta kematian
sisa sejarah kawan dan lawan
bertukar cerita lupa siapa
pada takdir memuja nasib
nyawa pinjaman sebatas usia
nyanyian doa pergi ke langit
jumpa dosa berselimut pahala
lalu, kenapa tuhan memanggilnya?
reuni, bukan dihayalkan sayangku
kulihat mereka yang telah pergi
satu demi satu datang menyapa
kisah jaman yang mendebarkan
jerit emosi urat darah pun pecah!
nyanyian dzikir cari batas nafsu
suratan hidup tepian maut, sunyi
menunggu waktu yang sudah pasti!
reuni, bukan badai hujan rindu
dunia tempat singgah sementara
racun ketakutan pemuas kepedihan
hanya mimpi berkuasa hari ini
nikmatilah, semua yang bisa dinikmati
tiada lagi yang musti disesali
liarnya kata bertaring bisunya sepi
mereka percaya di sana jumpa lagi
Rindu Bisu
janji matahari panas membara
racun polusi cemburu bisu buta
taring rindu diasah tajam berbisa
menyayat selapis memori kita
Jumat, 25 Juni 2010
Sajak-Sajak Heri Latief
http://sastrapembebasan.wordpress.com/
Bisu
apa lagi yang mesti ditulis?
jika korupsi dianggap biasa
pemimpin cuma bisa nyanyi
di panggung tak ada suaranya
kerna bukan dia yang berkuasa
Amsterdam, 19/06/2010
Budak
uang panas membakar napsu
manusia jadi budaknya napsu
Amsterdam, 20/06/2010
Pengembara
setiap mengulang tahun
aku selalu ingat pesan ibu
bukalah mata hati jika pergi
jangan pulang kerna merindu
dunia pengembara siapa berani?
Amsterdam, 19 Juni 2010
Teks itu Bicara
jika keramaian kumpulan suara
tulislah sajak sebelum sarapan
refleksi diri bukan sekedar berpuisi
siraman rohani dari sebaris puisi?
silakan percaya pada layar kaca
Amsterdam, 19/06/2010
Jaraknya Mimpi
teknologi tinggi bikin hati kita makin dekat
jarak yang beribu kaki itu tinggal kenangan
waktu yang memberi tahu tentang rindu
duka dan bahagia selalu jalan bersama
pelabuhan mimpimu ada di dunia maya
Amsterdam, 18 Juni 2010
Bisu
apa lagi yang mesti ditulis?
jika korupsi dianggap biasa
pemimpin cuma bisa nyanyi
di panggung tak ada suaranya
kerna bukan dia yang berkuasa
Amsterdam, 19/06/2010
Budak
uang panas membakar napsu
manusia jadi budaknya napsu
Amsterdam, 20/06/2010
Pengembara
setiap mengulang tahun
aku selalu ingat pesan ibu
bukalah mata hati jika pergi
jangan pulang kerna merindu
dunia pengembara siapa berani?
Amsterdam, 19 Juni 2010
Teks itu Bicara
jika keramaian kumpulan suara
tulislah sajak sebelum sarapan
refleksi diri bukan sekedar berpuisi
siraman rohani dari sebaris puisi?
silakan percaya pada layar kaca
Amsterdam, 19/06/2010
Jaraknya Mimpi
teknologi tinggi bikin hati kita makin dekat
jarak yang beribu kaki itu tinggal kenangan
waktu yang memberi tahu tentang rindu
duka dan bahagia selalu jalan bersama
pelabuhan mimpimu ada di dunia maya
Amsterdam, 18 Juni 2010
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel GarcÃa Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati