Tampilkan postingan dengan label Dianing Widya Yudhistira. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dianing Widya Yudhistira. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 November 2008

MEMBURU CAHAYA

Dianing Widya Yudhistira
http://republika.co.id

Matahari mengeliat tepat di atas menara masjid. Kezia dan anjingnya berjingkat-jingkat di atas aspal jalan. Siang itu udara seperti berlomba-lomba menaikkan suhunya dengan suhu aspal yang sesekali terlihat asap di bagian tengahnya. Dari kejauhan aspal itu menciptakan cahaya kebiruan.

Kezia, perempuan berkulit coklat dengan gigi berderet rapi. Wajahnya biasa saja. Tapi, coba lihat matanya yang bening, mengabarkan bahwa hidup mesti disikapi dengan kebeningan hati. Alisnya yang lebat melindungi sepasang mata beningnya. Tepat di atas alis matanya, ada bekas luka yang sulit dihilangkan.

Kezia pernah terjatuh saat hendak menyeberang jalan. Kondisi jalan yang licin membuatnya tergelincir tepat di tengah jalan. Dahi sebelah kanan terbentur dinding trotoar. Di klinik seorang dokter, Kezia mendapat hadiah kecil berupa tujuh jahitan di dahinya. Itu ditambah nasehat sang dokter agar ia lebih agar berhati-hati, juga omelan sang nenek. Kezia tertawa kecil. Ia suka bila orang-orang mencemaskannya.

Ada satu kelebihan Kezia dengan perempuan lainnya yakni postur tubuhnya. Tinggi badannya tak seperti perempuan Asia lainnya. Tubuh gadis berusia 25 tahun itu menjulang mencapai angka 170 centi meter. Sebenarnya, ia pernah ditawari menjadi model. Tapi, Ia lebih senang memotret. Selesai kuliah, ia pun menekuni hobinya itu secara penuh. Ia lebih suka berpetualang dari satu kota ke kota lain memburu cahaya senja.

Ia suka memotret apa saja saat matahari hendak lingsir. Ia suka memotret anak-anak jalanan, rumah-rumah kardus, gubuk reot, pengemis, pejalan kaki, sopir angkutan kota, petani, dan sebagainya. Semuanya ia carikan momentum sore: saat matahari pelan-pelan masuk ke perut langit dan cahaya merah menghiasi di sekitarnya.

Kezia juga memotret rumah-rumah ibadah. Ia melakukan itu dengan ringan saja. Tapi, ia tidak pernah bisa memotret masjid. Tangannya selalu bergetar ketika hendak memotret. Ia selalu merasa tidak menemukan masjid yang pas untuk dipotret. Ia memang kerap menemukan masjid, dari yang kecil sampai yang mentereng, tapi ia rasakan semua gersang. Tidak berjiwa. Kadang terpuruk sepi.

Belum lama ini, ia menemukan sebuah masjid yang luas dan megah. Sang anjing yang dinamakan Buddy, terkagum-kagum melihatnya. Buddy, anjing terlatih yang menemani perjalanannya, memberi isyarat kepada Kezia agar mengarahkan kameranya ke masjid itu. Tapi Kezia menggelang.
"Tidak, Buddy. Masjid ini belum pas untuk diabadikan biarpun ribuan cahaya memancar di setiap sudut-sudutnya."

Seketiga raut wajah anjing itu berubah muram. Ia seolah ingin memperlihatkan kekecewaanya pada sang tuan. Kezia tidak mempedulikan. Ia kemudian justru melangkah meninggalkan masjid itu. Buddy tidak mungkin untuk bertahan di sana, terpaksa mengikuti langkah Kezia.

Siang makin panas. Sepatu coklat milik Kezia tak mampu menahan panas aspal. Ia meringis diantara deru motor, klakson mobil, decit rem truk saat lampu lalu lintas berwarna merah. Terlebih anjingnya, kakinya yang telanjang membuat kulitnya mengelupas. Mulutnya meringis menahan panas. Tapi mereka terus berjalan.

Beberapa ratus meter kemudian, tiba-tiba anjing itu menggonggong tiga kali, lalu berlari sekuat tenaga. Kezia heran: apa yang terjadi pada Buddy. Ia berusaha mengejar, tapi kalah cepat. Kezia pun tertinggal jauh. Bahkan, ia sempat berhenti dengan nafasnya yang ngos-ngosan. Beberapa puluh meter di depan, ia melihat anjing itu berhenti. Ia berbalik arah kepada Kezia sambil menggonggong beberapa kali.

"Sebuah masjid," gumamnya seperti berbisik begitu sampai di depan anjing itu. Sang anjing berdiri di pintu gerbang menghadap ke masjid. Kezia berteriak keras melarang ketika Buddy hendak membuka pintu pagar dengan mulutnya. Buddy menoleh ke arahnya. Kezia menggeleng dengan bola mata membulat penuh.

Anjing itu tak perduli. Ia terus berusaha membuka pelan-pelan pintu pagar masjid dengan kaki kanannya. Lalu menoleh ke Kezia dengan wajah memelas, seolah berharap Kezia membolehkan ia masuk ke masjid. Tapi Kezia melotot. Ia tahu itu sebagai bentuk larangan. Ia sadar diri kakinya tidak boleh menginjak tangga masjid.

Anjing itu begitu takjub melihat masjid itu. Kezia tak habis pikir. Tak ada yang istimewa dengan masjid itu. Kubah itu, beberapa tiang yang terpancang dalam masjid, tangga teras, tempat mengambil air wudhu, sama dengan masjid-masjid yang lain. Sekali lagi, biasa-biasa saja. Kezia memperhatikan anjingnya yang wajahnya memancarkan ketakjuban. Ia menggeleng-geleng kepala, heran dengan sikap anjingnya.
"Ayo kita jalan lagi, Buddy."

Anjing itu tidak beranjak.
"Buddy," teriak Kezia. Anjingnya tak menghiraukannya, malah tampak kian santai dan betah di situ. Kezia memandangi lagi masjid itu. Terdengar gonggongan anjingnya dua kali. Ia menatap anjingnya. Anjingnya menggonggong lagi dua Kali. Kezia memandang lagi ke masjid. Ia dengar lagi gonggongan anjingnya. Ia putuskan untuk masuk ke masjid.

Semilir angin menyejukkan pori-porinya tatkala ia memasuki halaman masjid. Tetapi mengapa sepi? Seperti tak ada tanda-tanda kehidupan di sini. Ketika ia melangkah hendak memanjakan kakinya dengan air, kran itu kering. Setetespun tak mengeluarkan air.

Kezia duduk-duduk di teras masjid. Ia tak berani masuk karena kakinya masih berdebu. Ia sandarkan kepalanya ke salah satu tiang masjid. Tas rangsel warna ungu berisi kamera ia taruh di sebelah kanan kakinya. Semilir angin pelan-pelan membuatnya lupa dengan anjingnya.

***

Di luar, setiap orang selalu bertanya, anjing siapa yang tertidur di depan pintu pagar? Begitu pula di dalam, perempuan manakah yang tertidur menyandar tiang masjid? Setiap hari yang melihat dan bertanya terus bertambah. Kabar perempuan dan anjing yang tertidur itu tersiar dari mulut ke mulut.

Masjid itu memang telah lama tak dipakai untuk shalat. Bukan karena orang-orang di sekeliling masjid malas shalat berjamaah, melainkan karena setiap dua gang terdapat mushala. Orang-orang lebih suka ke mushala terdekat ketimbang ke masjid. Lebih dekat.

Berbeda dengan sekarang. Ketika datang untuk melihat anjing dan seorang perempuan yang tertidur di sana, mereka menjadi tidak enak hati jika tidak shalat di masjid itu. Lama kelamaan masjid yang berdiri menghadap tanah kosong bekas bioskop yang terbakar itu kembali ramai.

Tapi orang-orang tidak berusaha membangunkan Kezia maupun anjing kesayangannya. Mereka pun telah tertidur berhari-hari, bahkan sampai berbulan-bulan. Wajah Kezia tak lagi letih, tetapi segar dan tenang. Ia baru terjaga setahun kemudian ketika anjingnya yang terjaga duluan menggonggong hebat.

Napas Kezia memburu kencang. Ia berlari menuju anjingnya. Mulutnya berkali-kali memanggil nama anjingnya sambil memeluknya. Wajahnya pucat ketika suhu anjing itu meninggi.

"Buddy, Buddy bangun sayang."
Anjing itu menggigil, padahal siang itu sangat panas. Matanya yang seperti enggan membuka sesekali menatap Kezia, lalu mengalihkan pandangannya ke masjid. Kezia bisa menangkap apa yang diinginkan oleh anjing itu: agar dirinya memotret masjid. Anjing itu seolah ingin mengatakan masjid itu kini mengalirkan kedamaian dan ketentraman. Lihatlah orang-orang yang kembali berbondong-bondong datang untuk beribadah di sana.

"Buddy, Buddy, ayo bangun. Berdiri sayang. Aku janji akan memotret masjid ini, aku janji."

Kezia berlari ke teras masjid hendak mengambil kameranya. Tetapi hatinya kecut. Tas rangsel warna ungu berisi kamera itu telah raib. Kezia lemas. Ia tidak bisa mengikuti keinginan anjingnya.

Dengan mata yang tak bercahaya, Kezia menoleh ke anjingnya. Ia hanya melihat wajah muram. Ia tak bisa membayangkan kecewanya anjing itu. Ia tidak tahu bagaimana harus menyampaikan permohonan maafnya. Senja pelan-pelan turun diikuti mendung yang menggantung. Cahaya kemerah-merahan di sekitar matahari yang siap masuk ke palung langit seperti lenyap tak berbekas.

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati