Rakhmat Giryadi
Menulis Cerita Pendek Karena Terpaksa
Saya menuls cerita pendek (cerpen) karena terpaksa. Ya, terpaksa saya
lakukan karena memang tidak ada yang harus saya lakukan selain menulis cerpen.
Karena terpaksa saya menulis cerpen dengan tangan di kertas folio bergaris.
Saya menulis cerpen, karena hanya pada cerpen saya bisa ‘berbuat’.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Rakhmat Giryadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rakhmat Giryadi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 15 Juli 2021
Kamis, 11 Maret 2010
Nyai Ontosoroh: Hikayat Perlawanan Sanikem
dari novel BUMI MANUSIA karya Pramoedya Ananta Toer
Rakhmat Giryadi
http://teaterapakah.blogspot.com/
BABAK I
Setting : Dekat Pabrik Gula Tulangan
ADEGAN 1
Orang-orang sedang bekerja, hilir mudik, membawa karung-karung (gula) dan juga batangan tebu dengan geledekan. Mereka bertelanjang dada. Tubuhnya hitam. Ada yang kekar. Tetapi ada juga yang kurus kering.
ADEGAN 2
Seorang Juragan (Mandor), dikawal oleh dua budaknya. Dengan berkacak pinggang, Mandor itu menuding-nuding, bahkan terkadang menendang para budak. Sementara di tempat yang berbeda anak-anak perempuan yang masih remaja, berlarian. Ibunya, mengikuti dengan isak tangisnya. Seorang laki-laki dengan kasar menangkap satu di antara mereka yang melarikan diri. Anak itu meronta-ronta. Tak ada yang berani melawan. Mereka hanya bisa menyaksikan dengan sedih. Laki-laki kasar itu itu menyerahkan anak itu kepada seorang Mandor. Dengan imbalan seketip dua ketip, mereka melepaskan anak itu dibawa Mandor, entah kemana?
ADEGAN 3
Upacara menjadi dewasa. Sanikem meronta-ronta, ketika Sastrotomo, menyeretnya.
1. Sastrotomo
(Menyeret Sanikem) Kamu sekarang sudah dewasa, sudah saatnya nasibmu berubah. Hari ini akan datang orang yang membawa nasibmu lebih baik dari sekarang. Maka bersucilah, agar kemelaratanmu menjadi cambuk masa depanmu.
Ibunya Sanikem hanya bisa tersedu. Ia menggayung air bercampur bunga tujuh macam, dari genthong. Sanikem diam terpaku ketika air bunga tujuh macam mulai membasahi tubuhnya.
2. Sanikem
Sejak saat itu, nama Sanikem, sedikit-demi sedikit luntur oleh kemauan keras orang tuanya.
Dua orang datang membawa pakaian dan tikar pandan. Sanikem telah berganti ujud menjadi perawan. Kemudian dia tidur terlentang di atas tikar pandan. Ibunya kemudian melangkahinya tiga kali.
3. Istri Sastrotomo
Tabahkan hatimu, Nak. Usiamu sudah 14 tahun. Kau sudah haid. Tidak baik kau dikatakan perawan kaseb. Maka relakan hari mudamu ini.
4. Sanikem
Betul, saya sudah dewasa, tetapi saya punya hak untuk menentukan pilihan.
5. Sastrotomo
Tak ada kata pilihan! Pemuda-pemuda melarat dan kampungan, tak patut untuk dipilih. Yang ada sekarang kau dipilih untuk menjadi istri seorang yang kaya raya. Siapapun orangnya!
Sastrotomo menyeret Sanikem. Sanikem meronta. Ibunya membuntut dengan hati yang meronta. Ia membawa sekopor pakaian anaknya yang kumal. Sementara di tempat lain para budak menerima upah, Sastrotomo muncul dengan hati riang. Di belakangnya ada Sanikem. Ibunya yang kelihatan renta, hanya bisa tertunduk lesu meratapi nasib anaknya. Di sudut lain, Tuan Besar Mellema berdiri tegak, angkuh dan sombong.
6. Sastrotomo
Betul, saya akan jadi Juru Bayar, Tuan? Ah, saya senang sekali. Juru Bayar adalah pekerjaan yang sudah sayaimpikan bertahun-tahun. Bertahun-tahun! Sebagai penggantinya, terimalah persembahan saya. Ini anak saya, Tuan Besar Mellema. Terimalah. (Kepada Sanikem) Sanikem, mendekatlah, Nak. Dia adalah Tuan Besar.
7. Istri Sastrotomo
Jangan, Pak, jangan! Kenapa Ikem, kau serahkan kepada laki-laki raksasa itu? Oh, Pak, Pak. Kenapa kau tega, Pak?
8. Tuan Besar Mellema
Jadi ini anakmu? Bagus, bagus. Kowe, pintar… (Tertawa).
Tuan Besar Mellema pergi bersama dua pengawalnya, membawa Sanikem tanpa perlawanan. Sementara Istri Sastrotomo, terisak melihat anaknya dibawa Tuan Besar Mellema.
9. Sastrotomo
(Tertawa girang) Akhirnya saya jadi Juru Bayar!
10. Istri Sastrotomo
Sampeyan menjadi Juru Bayar, tetepi sampeyan harus membayar mahal, dengan mengorbankan masa depan Sanikem. Dia darah daging kita. Tetapi sampeyan tega menjual untuk menjadi gundik, demi ambisi sampeyan, Pak.
11. Sastrotomo
Kamu jangan banyak omong. Saya telah memperjuangkan anak saya untuk menjadi wanita terhormat. Istri Tuan Besar. Tuan Besar di Tulangan yang sangat kaya raya dan terhormat. Sanikem akan terhormat. Dan kita akan terhormat, karena Sanikem akan menjadi kaya raya dan tidak menjadi gelandangan bersama pemuda-pemuda kampung yang tidak berpendidikan.
12. Istri Sastrotomo
Buat apa harta benda, kalau hatinya terpenjara. Hidupnya terkerangkeng dalam genggaman, seorang laki-laki. Kita sudah kehilangan segalanya, Pak. Kamu lebih memilih sekeping Golden dan jabatan palsu. Tetapi sampeyan telah mengorbankan segalanya yang telah kita miliki dan telah kita rawat bertahun-tahun.
Anak-anak kampung yang dengan tulus memberikan cintanya, tetapi sampeyan tolak. Sementara dia yang datang dengan membawa segerobak kepalsuan sampeyan terima dengan tangan terbuka. Sampeyan telah mengadu nasib itu menjadi tidak menentu, Pak…
13. Sastrotomo
Diamlah. Saya punya rencana lain untuk Ikem. Rencana ini pasti akan mengubah hidup kita. Dan tidak ada urusannya dengan lamaran pemuda-pemuda kampung yang pada gudhikan itu. Apa mau kamu hidup melarat, dan hanya mengandalkan dari penghasilan saya sebagai Juru Tulis? Saya ini, sebentar lagi akan naik pangkat jadi Juru Bayar. Kedudukan yang lebih tinggi dari sekedar Juru Tulis. Jabatan lebih tinggi akan lebih memudahkan segala urusan. Apalagi Juru Bayar.
Ikem telah mendapatkan laki-laki yang pantas. Mulai saat ini Sanikem tidak boleh keluar rumah. Tidak boleh memandang ke laki-laki yang berkeliaran dan tidak jelas itu. Ah, saya senang sekali. Juru Bayar adalah pekerjaan yang sudah saya impikan bertahun-tahun. Bertahun-tahun!
Hehe..he..he..Juru Bayar. Saya akan jadi Juru Bayar. Semua orang di Pabrik Gula itu akan tunggu saya berderet-deret. Harus tunggu uang dari tangan saya. He..he…he..Saya akan jadi kasir. Bertumpuk-tumpuk uang di jari-jari saya. Semua orang akan berurusan dengan saya, Si Juru Bayar! Mereka harus datang ke saya. Harus ambil uang dari tangan saya dengan membubuhkan cap jempol. Para buruh, pedagang, akan bungkuk-bungkuk di depan saya. Tuan Totok, Peranakan, akan beri tabik pada saya. Guratan pena saya berarti uang. Saya akan masuk golongan penguasa di pabrik. Mereka harus dengar kata-kata saya : ‘Hei! Tunggu kau, disitu! Tunggu kau, disitu! He..he…Kalian akan berderet antri tunggu uang dari tangan saya…!’
Kemarilah istriku. Kau harus ikut senang, suamimu ini akan jadi Juru Bayar! Berpakaianlah yang pantas, selayaknya istri orang terpandang. Kamu jangan bersedih. Ikem akan lebih terhormat kawin dengan laki-laki kaya. Dia akan menghuni rumah besar. Kita bisa diundang ke sana sewaktu-waktu. Ayo istriku kita songsong kehidupan yang lebih baik.
Istri Sastrotomo terpaku. Ligting meremang. Out Stage. Disudut lain, Mellema sedang memandang Sanikem yang bongsor dan kelihatan cantik. Beberapa pembantu jalan jongkok, menyediakan minum dan buah-buahan. Sanikem hanya berdiri terpaku di pojok ruang, Tuan Besar Mellema.
14. Tuan Besar Mellema
Kowe sudah 14. Kowe sudah besar dan cantik, seperti bunga di Tulangan atau seperti mawar dari Surabaya. Kowe jangan takut dengan saya. (Kepada Sastrotomo). Sastrotomo! Ini berisi 25 golden. Kelak, setelah kowe lulus dalam pemagangan selama dua tahun, kowe akan jadi Juru Bayar.
15. Sastrotomo
(On stage) Terimakasih Tuan Besar. Saya jamin Ikem sangat penurut. (Kepada Sanikem) Ikem anggap saja ini rumahmu yang baru. Kau tidak boleh keluar rumah ini tanpa ijin Tuan Besar Kuasa. Kau juga tidak boleh kembali ke rumah tanpa seijin Tuan dan seijin Bapakmu.
Sastrotomo meninggalkan panggung. Lighting meremang biru. Tirai menurun pelan-pelan. Percintaan di balik tirai. Dua penari karonsih/tayub menari dengan lembut. Tetapi isak tangis jelas terdengar dari ibu Sanikem. Lighting semakin temaram. Penari karonsih menghilang di balik tirai. Di sudut yang lain, Nyai Ontosoroh berdiri kokoh.
16. Nyai Ontosoroh
Kini, Sanikem telah lenyap. Hilang untuk selama-lamanya. Sekarang, saya adalah Nyai Boerderij Buiternzorg. Orang-orang memanggil saya Nyai Ontosoroh. Hidup menjadi Nyai terlalu sulit. Dia Cuma seorang budak belian yang kewajibannya hanya memuaskan tuannya. Dalam segala hal!
Sewaktu-waktu Nyai harus siap dengan kemungkinan Tuannya sudah mersa bosan, untuk dicampakan kembali, menjadi kere, tanpa hak perlawanan sedikitpun. Salah-salah, bisa badan diusir dengan semu anak-anaknya sendiri. Atau bahkan dengan tangan kosong. Ya, mereka telah membikin saya jadi Nyai begini. Maka saya harus jadi Nyai, jadi budak belian yang baik, Nyai yang sebaik-baiknya.
Mang, Mbok, ke sini kalian semua. (4 pelayan laki-laki dan 3 pelayan perempuan on stage). Dengar mulai saat ini kalian tidak usah kerja di sini. Kalian pasti sudah tahu saya adalah Nyai rumah ini sekarang. Saya tidak ingin ada saksi atas kehidupan saya sebagai Nyai di rumah ini. Kalian lebih berharga dari pada saya. Kalian kerja di sini, sedangkan saya, hina dina tanpa harga, tanpa kemauan sendiri berada di rumah ini.
Semua pekerjaan rumah biar saya kerjakan sendiri. Tetapi jangan kuatir, kalian akan pergi dengan membawa bekal. Lagi pula, di lain tempat pasti kalian akan bisa memburuh atau apa saja, karena kalian merdeka. Kecuali kau Darsam, tetaplah di sini. Jagalah saya!
Baiklah kalian berkemas, beresi barang-barang kalian. Kau Darsam, siapkan bekal secukupnya buat mereka.
Mereka out stage. Tuan Mellema on stage.
17. Tuan Besar Mellema
Nyai, kenapa kau mengusir semua Bujang dan Mbok? Pekerja-pekerja itu harus disewa untuk menjalakan usaha susu ternak rumah ini. Mulai saat ini kaupun harus mulai mengurusi semua urusan usaha. Satu hal yang harus kau ingat, majikan mereka adalah penghidupan mereka. Majikan penghidupan mereka adalah kau! Jadi kau harus jadi majikan yang baik, yang tahu bagaimana mengurus pekerjaannya.
Nyai, bacalah majalah-majalah itu selalu. Juga buku-buku itu akan membawamu kepada dunia yang maha luas. Dengan begitupun, bahasa melayu dan Belandamu akan terus maju dan Nyai akan semakin menguasai berbagai bidang dan pengetahuan.
18. Nyai Ontosoroh
Ya, saya akan menjalankan semua tugas sebaik-baiknya. Akan saya kerahkan seluruh tenaga dan perasaan yang ada di diri saya untuk Tuan. Sebaik-baiknya. Karena itulah tugas saya, sebagai Nyai Tuan. Apakah wanita Eropa diajar sebagaimana saya diajar sekarang ini, Tuan? Sudahkan saya seperti wanita Belanda?
19. Tuan Besar Mellema
Ha..ha..ha..tak mungkin kau seperti wanita Belanda. Juga tidak perlu. Kau cukup seperti sekarang. Kau lebih mampu dari rata-rata mereka, apalagi yang peranakan. Kau lebih cerdas dan lebih baik dari mereka semua. Tapi kau juga harus selalu kelihatan cantik, Nyai. Muka yang kusut dan pakaian yang berantakan juga pencerminan perusahaan yang kusut dan berantakan….
Darsam, masuk panggung (on stage) bersama Sastrotomo dan Istrinya datang dengan berjalan jongkok.
20. Darsam
Tuan, maaf Tuan, ada orang tua Nyai datang, Tuan. Mereka menunggu di depan.
21. Nyai Ontosoroh
Katakan kepada mereka, bahwa Sanikem tidak ada sekarang.
22. Tuan Besar Mellema
Temuilah…
23. Nyai Ontosoroh
Kalau saya menemuinya, berarti Tuan telah mengembalikan saya kepada pemiliknya semula. Apakah saya harus pergi dari sini? Bakal jadi apa kalau saya tidak sanggup bersikap keras. Luka terhadap kebanggaan dan harga diri tak jua mau menghilang. Bila teringat kembali bagaimana terhinannya saya dijual kepada Tuan. Saya tak mampu mengampuni kerakusan Ayah saya dan kelemahan Ibu saya. Sekali dalam hidup kita meski menentukan sikap. Sudahlah, biar semua putus sudah terhadap masa lalu. Itu sudah sebaik-baiknya yang saya bisa lakukan. Suruh mereka pulang atau Tuan akan kehilangan sapi-sapi dan pabrik susu itu…? Saya telah menjadi telor yang jatuh dari petarangan. Pecah. Bukan telor yang salah.
24. Tuan Besar Mellema
(Pause) Kau terlalu keras Nyai…Temui Ayahmu!
25. Nyai Ontosoroh
Saya memang ada ayah, dulu. Sekarang tidak. Kalau dia bukan tamu Tuan, sudah saya usir!
26. Tuan Besar Mellema
Jangan…!(Memberi kode pada Darsam). Darsam beritahu mereka…
27. Darsam
Nyai bilang…Di rumah ini tidak ada orang bernama Sanikem. Pergilah!
Suasana hening. Sastrotomo dan istinya beringsut pergi. Wajahnya penuh duka. Sastrotomo beringsut terus, seperti menapaki nasibnya yang tak berujung.
ADEGAN 4
Orang-orang sedang mengusung karung. Ada juga yang mengusungnya dengan gledekan. Suasana begitu sibuk. Nyai Ontosoroh, Tuan Besar Mellema, Annelise, Robert Mellema, dan Darsam, seperti bersiap-siap hendak mau pergi.
28. Nyai Ontosoroh
Kami harus pindah ke Wonokromo, karena kontrak perusahaan gula tidak memperpanjang jabatan Tuan Besar. Kami pindah ke Surabaya. TB Mellema membeli tanah luas di Wonokromo, penuh semak belukar dan dekat rumpun-rumpun hutan muda. Sapi yang dibeli dari Australia dipindahkan kemari.
Segala yang saya pelajari selama hidup bersama TB Mellema, telah sedikit mengembalikan harga diri saya. Tetapi sikap saya tetap, mempersiapkan diri untuk tidak akan lagi tergantung pada siapapun. Tentu saja sangat berlebihan seorang perempuan Jawa bicara tentang harga diri, apalagi, orang seperti saya yang masih begitu muda untuk berkeluarga.
Begitulah akhirnya saya mengerti, saya tidak tergantung pada TB Mellema. Sebaliknya dia sangat tergantung pada saya. Saya telah bisa mengambil sikap untuk ikut menentukan perkara. Tuan tidak pernah menolak. Bahkan ia sangat memaksa saya untuk terus belajar. Dalam hal ini ia seorang guru yang keras tetapi baik, saya seorang murid yang taat dan juga baik. Saya tahu, apa yang diajarkan oleh TB Mellema kelak akan berguna bagi diri saya dan anak-anak saya, kalau TB pulang ke Nederland.
Para buruh bergerak bersama-sama, mengikuti tuan mereka. Mereka membawa barang-barang pindahan. Darsam berjalan di depan. Musik. Lighting fide out.
Rakhmat Giryadi
http://teaterapakah.blogspot.com/
BABAK I
Setting : Dekat Pabrik Gula Tulangan
ADEGAN 1
Orang-orang sedang bekerja, hilir mudik, membawa karung-karung (gula) dan juga batangan tebu dengan geledekan. Mereka bertelanjang dada. Tubuhnya hitam. Ada yang kekar. Tetapi ada juga yang kurus kering.
ADEGAN 2
Seorang Juragan (Mandor), dikawal oleh dua budaknya. Dengan berkacak pinggang, Mandor itu menuding-nuding, bahkan terkadang menendang para budak. Sementara di tempat yang berbeda anak-anak perempuan yang masih remaja, berlarian. Ibunya, mengikuti dengan isak tangisnya. Seorang laki-laki dengan kasar menangkap satu di antara mereka yang melarikan diri. Anak itu meronta-ronta. Tak ada yang berani melawan. Mereka hanya bisa menyaksikan dengan sedih. Laki-laki kasar itu itu menyerahkan anak itu kepada seorang Mandor. Dengan imbalan seketip dua ketip, mereka melepaskan anak itu dibawa Mandor, entah kemana?
ADEGAN 3
Upacara menjadi dewasa. Sanikem meronta-ronta, ketika Sastrotomo, menyeretnya.
1. Sastrotomo
(Menyeret Sanikem) Kamu sekarang sudah dewasa, sudah saatnya nasibmu berubah. Hari ini akan datang orang yang membawa nasibmu lebih baik dari sekarang. Maka bersucilah, agar kemelaratanmu menjadi cambuk masa depanmu.
Ibunya Sanikem hanya bisa tersedu. Ia menggayung air bercampur bunga tujuh macam, dari genthong. Sanikem diam terpaku ketika air bunga tujuh macam mulai membasahi tubuhnya.
2. Sanikem
Sejak saat itu, nama Sanikem, sedikit-demi sedikit luntur oleh kemauan keras orang tuanya.
Dua orang datang membawa pakaian dan tikar pandan. Sanikem telah berganti ujud menjadi perawan. Kemudian dia tidur terlentang di atas tikar pandan. Ibunya kemudian melangkahinya tiga kali.
3. Istri Sastrotomo
Tabahkan hatimu, Nak. Usiamu sudah 14 tahun. Kau sudah haid. Tidak baik kau dikatakan perawan kaseb. Maka relakan hari mudamu ini.
4. Sanikem
Betul, saya sudah dewasa, tetapi saya punya hak untuk menentukan pilihan.
5. Sastrotomo
Tak ada kata pilihan! Pemuda-pemuda melarat dan kampungan, tak patut untuk dipilih. Yang ada sekarang kau dipilih untuk menjadi istri seorang yang kaya raya. Siapapun orangnya!
Sastrotomo menyeret Sanikem. Sanikem meronta. Ibunya membuntut dengan hati yang meronta. Ia membawa sekopor pakaian anaknya yang kumal. Sementara di tempat lain para budak menerima upah, Sastrotomo muncul dengan hati riang. Di belakangnya ada Sanikem. Ibunya yang kelihatan renta, hanya bisa tertunduk lesu meratapi nasib anaknya. Di sudut lain, Tuan Besar Mellema berdiri tegak, angkuh dan sombong.
6. Sastrotomo
Betul, saya akan jadi Juru Bayar, Tuan? Ah, saya senang sekali. Juru Bayar adalah pekerjaan yang sudah sayaimpikan bertahun-tahun. Bertahun-tahun! Sebagai penggantinya, terimalah persembahan saya. Ini anak saya, Tuan Besar Mellema. Terimalah. (Kepada Sanikem) Sanikem, mendekatlah, Nak. Dia adalah Tuan Besar.
7. Istri Sastrotomo
Jangan, Pak, jangan! Kenapa Ikem, kau serahkan kepada laki-laki raksasa itu? Oh, Pak, Pak. Kenapa kau tega, Pak?
8. Tuan Besar Mellema
Jadi ini anakmu? Bagus, bagus. Kowe, pintar… (Tertawa).
Tuan Besar Mellema pergi bersama dua pengawalnya, membawa Sanikem tanpa perlawanan. Sementara Istri Sastrotomo, terisak melihat anaknya dibawa Tuan Besar Mellema.
9. Sastrotomo
(Tertawa girang) Akhirnya saya jadi Juru Bayar!
10. Istri Sastrotomo
Sampeyan menjadi Juru Bayar, tetepi sampeyan harus membayar mahal, dengan mengorbankan masa depan Sanikem. Dia darah daging kita. Tetapi sampeyan tega menjual untuk menjadi gundik, demi ambisi sampeyan, Pak.
11. Sastrotomo
Kamu jangan banyak omong. Saya telah memperjuangkan anak saya untuk menjadi wanita terhormat. Istri Tuan Besar. Tuan Besar di Tulangan yang sangat kaya raya dan terhormat. Sanikem akan terhormat. Dan kita akan terhormat, karena Sanikem akan menjadi kaya raya dan tidak menjadi gelandangan bersama pemuda-pemuda kampung yang tidak berpendidikan.
12. Istri Sastrotomo
Buat apa harta benda, kalau hatinya terpenjara. Hidupnya terkerangkeng dalam genggaman, seorang laki-laki. Kita sudah kehilangan segalanya, Pak. Kamu lebih memilih sekeping Golden dan jabatan palsu. Tetapi sampeyan telah mengorbankan segalanya yang telah kita miliki dan telah kita rawat bertahun-tahun.
Anak-anak kampung yang dengan tulus memberikan cintanya, tetapi sampeyan tolak. Sementara dia yang datang dengan membawa segerobak kepalsuan sampeyan terima dengan tangan terbuka. Sampeyan telah mengadu nasib itu menjadi tidak menentu, Pak…
13. Sastrotomo
Diamlah. Saya punya rencana lain untuk Ikem. Rencana ini pasti akan mengubah hidup kita. Dan tidak ada urusannya dengan lamaran pemuda-pemuda kampung yang pada gudhikan itu. Apa mau kamu hidup melarat, dan hanya mengandalkan dari penghasilan saya sebagai Juru Tulis? Saya ini, sebentar lagi akan naik pangkat jadi Juru Bayar. Kedudukan yang lebih tinggi dari sekedar Juru Tulis. Jabatan lebih tinggi akan lebih memudahkan segala urusan. Apalagi Juru Bayar.
Ikem telah mendapatkan laki-laki yang pantas. Mulai saat ini Sanikem tidak boleh keluar rumah. Tidak boleh memandang ke laki-laki yang berkeliaran dan tidak jelas itu. Ah, saya senang sekali. Juru Bayar adalah pekerjaan yang sudah saya impikan bertahun-tahun. Bertahun-tahun!
Hehe..he..he..Juru Bayar. Saya akan jadi Juru Bayar. Semua orang di Pabrik Gula itu akan tunggu saya berderet-deret. Harus tunggu uang dari tangan saya. He..he…he..Saya akan jadi kasir. Bertumpuk-tumpuk uang di jari-jari saya. Semua orang akan berurusan dengan saya, Si Juru Bayar! Mereka harus datang ke saya. Harus ambil uang dari tangan saya dengan membubuhkan cap jempol. Para buruh, pedagang, akan bungkuk-bungkuk di depan saya. Tuan Totok, Peranakan, akan beri tabik pada saya. Guratan pena saya berarti uang. Saya akan masuk golongan penguasa di pabrik. Mereka harus dengar kata-kata saya : ‘Hei! Tunggu kau, disitu! Tunggu kau, disitu! He..he…Kalian akan berderet antri tunggu uang dari tangan saya…!’
Kemarilah istriku. Kau harus ikut senang, suamimu ini akan jadi Juru Bayar! Berpakaianlah yang pantas, selayaknya istri orang terpandang. Kamu jangan bersedih. Ikem akan lebih terhormat kawin dengan laki-laki kaya. Dia akan menghuni rumah besar. Kita bisa diundang ke sana sewaktu-waktu. Ayo istriku kita songsong kehidupan yang lebih baik.
Istri Sastrotomo terpaku. Ligting meremang. Out Stage. Disudut lain, Mellema sedang memandang Sanikem yang bongsor dan kelihatan cantik. Beberapa pembantu jalan jongkok, menyediakan minum dan buah-buahan. Sanikem hanya berdiri terpaku di pojok ruang, Tuan Besar Mellema.
14. Tuan Besar Mellema
Kowe sudah 14. Kowe sudah besar dan cantik, seperti bunga di Tulangan atau seperti mawar dari Surabaya. Kowe jangan takut dengan saya. (Kepada Sastrotomo). Sastrotomo! Ini berisi 25 golden. Kelak, setelah kowe lulus dalam pemagangan selama dua tahun, kowe akan jadi Juru Bayar.
15. Sastrotomo
(On stage) Terimakasih Tuan Besar. Saya jamin Ikem sangat penurut. (Kepada Sanikem) Ikem anggap saja ini rumahmu yang baru. Kau tidak boleh keluar rumah ini tanpa ijin Tuan Besar Kuasa. Kau juga tidak boleh kembali ke rumah tanpa seijin Tuan dan seijin Bapakmu.
Sastrotomo meninggalkan panggung. Lighting meremang biru. Tirai menurun pelan-pelan. Percintaan di balik tirai. Dua penari karonsih/tayub menari dengan lembut. Tetapi isak tangis jelas terdengar dari ibu Sanikem. Lighting semakin temaram. Penari karonsih menghilang di balik tirai. Di sudut yang lain, Nyai Ontosoroh berdiri kokoh.
16. Nyai Ontosoroh
Kini, Sanikem telah lenyap. Hilang untuk selama-lamanya. Sekarang, saya adalah Nyai Boerderij Buiternzorg. Orang-orang memanggil saya Nyai Ontosoroh. Hidup menjadi Nyai terlalu sulit. Dia Cuma seorang budak belian yang kewajibannya hanya memuaskan tuannya. Dalam segala hal!
Sewaktu-waktu Nyai harus siap dengan kemungkinan Tuannya sudah mersa bosan, untuk dicampakan kembali, menjadi kere, tanpa hak perlawanan sedikitpun. Salah-salah, bisa badan diusir dengan semu anak-anaknya sendiri. Atau bahkan dengan tangan kosong. Ya, mereka telah membikin saya jadi Nyai begini. Maka saya harus jadi Nyai, jadi budak belian yang baik, Nyai yang sebaik-baiknya.
Mang, Mbok, ke sini kalian semua. (4 pelayan laki-laki dan 3 pelayan perempuan on stage). Dengar mulai saat ini kalian tidak usah kerja di sini. Kalian pasti sudah tahu saya adalah Nyai rumah ini sekarang. Saya tidak ingin ada saksi atas kehidupan saya sebagai Nyai di rumah ini. Kalian lebih berharga dari pada saya. Kalian kerja di sini, sedangkan saya, hina dina tanpa harga, tanpa kemauan sendiri berada di rumah ini.
Semua pekerjaan rumah biar saya kerjakan sendiri. Tetapi jangan kuatir, kalian akan pergi dengan membawa bekal. Lagi pula, di lain tempat pasti kalian akan bisa memburuh atau apa saja, karena kalian merdeka. Kecuali kau Darsam, tetaplah di sini. Jagalah saya!
Baiklah kalian berkemas, beresi barang-barang kalian. Kau Darsam, siapkan bekal secukupnya buat mereka.
Mereka out stage. Tuan Mellema on stage.
17. Tuan Besar Mellema
Nyai, kenapa kau mengusir semua Bujang dan Mbok? Pekerja-pekerja itu harus disewa untuk menjalakan usaha susu ternak rumah ini. Mulai saat ini kaupun harus mulai mengurusi semua urusan usaha. Satu hal yang harus kau ingat, majikan mereka adalah penghidupan mereka. Majikan penghidupan mereka adalah kau! Jadi kau harus jadi majikan yang baik, yang tahu bagaimana mengurus pekerjaannya.
Nyai, bacalah majalah-majalah itu selalu. Juga buku-buku itu akan membawamu kepada dunia yang maha luas. Dengan begitupun, bahasa melayu dan Belandamu akan terus maju dan Nyai akan semakin menguasai berbagai bidang dan pengetahuan.
18. Nyai Ontosoroh
Ya, saya akan menjalankan semua tugas sebaik-baiknya. Akan saya kerahkan seluruh tenaga dan perasaan yang ada di diri saya untuk Tuan. Sebaik-baiknya. Karena itulah tugas saya, sebagai Nyai Tuan. Apakah wanita Eropa diajar sebagaimana saya diajar sekarang ini, Tuan? Sudahkan saya seperti wanita Belanda?
19. Tuan Besar Mellema
Ha..ha..ha..tak mungkin kau seperti wanita Belanda. Juga tidak perlu. Kau cukup seperti sekarang. Kau lebih mampu dari rata-rata mereka, apalagi yang peranakan. Kau lebih cerdas dan lebih baik dari mereka semua. Tapi kau juga harus selalu kelihatan cantik, Nyai. Muka yang kusut dan pakaian yang berantakan juga pencerminan perusahaan yang kusut dan berantakan….
Darsam, masuk panggung (on stage) bersama Sastrotomo dan Istrinya datang dengan berjalan jongkok.
20. Darsam
Tuan, maaf Tuan, ada orang tua Nyai datang, Tuan. Mereka menunggu di depan.
21. Nyai Ontosoroh
Katakan kepada mereka, bahwa Sanikem tidak ada sekarang.
22. Tuan Besar Mellema
Temuilah…
23. Nyai Ontosoroh
Kalau saya menemuinya, berarti Tuan telah mengembalikan saya kepada pemiliknya semula. Apakah saya harus pergi dari sini? Bakal jadi apa kalau saya tidak sanggup bersikap keras. Luka terhadap kebanggaan dan harga diri tak jua mau menghilang. Bila teringat kembali bagaimana terhinannya saya dijual kepada Tuan. Saya tak mampu mengampuni kerakusan Ayah saya dan kelemahan Ibu saya. Sekali dalam hidup kita meski menentukan sikap. Sudahlah, biar semua putus sudah terhadap masa lalu. Itu sudah sebaik-baiknya yang saya bisa lakukan. Suruh mereka pulang atau Tuan akan kehilangan sapi-sapi dan pabrik susu itu…? Saya telah menjadi telor yang jatuh dari petarangan. Pecah. Bukan telor yang salah.
24. Tuan Besar Mellema
(Pause) Kau terlalu keras Nyai…Temui Ayahmu!
25. Nyai Ontosoroh
Saya memang ada ayah, dulu. Sekarang tidak. Kalau dia bukan tamu Tuan, sudah saya usir!
26. Tuan Besar Mellema
Jangan…!(Memberi kode pada Darsam). Darsam beritahu mereka…
27. Darsam
Nyai bilang…Di rumah ini tidak ada orang bernama Sanikem. Pergilah!
Suasana hening. Sastrotomo dan istinya beringsut pergi. Wajahnya penuh duka. Sastrotomo beringsut terus, seperti menapaki nasibnya yang tak berujung.
ADEGAN 4
Orang-orang sedang mengusung karung. Ada juga yang mengusungnya dengan gledekan. Suasana begitu sibuk. Nyai Ontosoroh, Tuan Besar Mellema, Annelise, Robert Mellema, dan Darsam, seperti bersiap-siap hendak mau pergi.
28. Nyai Ontosoroh
Kami harus pindah ke Wonokromo, karena kontrak perusahaan gula tidak memperpanjang jabatan Tuan Besar. Kami pindah ke Surabaya. TB Mellema membeli tanah luas di Wonokromo, penuh semak belukar dan dekat rumpun-rumpun hutan muda. Sapi yang dibeli dari Australia dipindahkan kemari.
Segala yang saya pelajari selama hidup bersama TB Mellema, telah sedikit mengembalikan harga diri saya. Tetapi sikap saya tetap, mempersiapkan diri untuk tidak akan lagi tergantung pada siapapun. Tentu saja sangat berlebihan seorang perempuan Jawa bicara tentang harga diri, apalagi, orang seperti saya yang masih begitu muda untuk berkeluarga.
Begitulah akhirnya saya mengerti, saya tidak tergantung pada TB Mellema. Sebaliknya dia sangat tergantung pada saya. Saya telah bisa mengambil sikap untuk ikut menentukan perkara. Tuan tidak pernah menolak. Bahkan ia sangat memaksa saya untuk terus belajar. Dalam hal ini ia seorang guru yang keras tetapi baik, saya seorang murid yang taat dan juga baik. Saya tahu, apa yang diajarkan oleh TB Mellema kelak akan berguna bagi diri saya dan anak-anak saya, kalau TB pulang ke Nederland.
Para buruh bergerak bersama-sama, mengikuti tuan mereka. Mereka membawa barang-barang pindahan. Darsam berjalan di depan. Musik. Lighting fide out.
Sabtu, 17 Januari 2009
Kebenaran
Rakhmat Giryadi
http://kamarbudaya.wordpress.com/
Ada cerita pendek yang tak pernah saya lupakan. Bukan saja diskripsi karakter tokoh-tokohnya, seperti Ajo Sidi (Pembual) dan Haji Soleh (Penjaga Surau) yang kuat, tetapi ceritanya juga sangat menohok pikiran dan bahkan keyakinan. Betapa tidak, cerita pendek karangan A.A Navis, berjudul ‘Robohnya Surau Kami’ menyindir bahkan menuding, umat muslim yang hanya mengurusi akherat tetapi melupakan dunia. Ini soal kebenaran dan keyakinan.
Tidak tanggung-tanggung, A.A. Navis dalam ceritanya itu menggambarkan orang-orang yang taat beribadah malah masuk neraka. Katanya, Tuhan murka, karena orang yang kusuk beribadah melupakan kehidupan sosialnya, sehingga kehidupannya sendiri merana.
Padahal, Tuhan telah menciptakan bumi beserta isinya untuk kehidupan umatnya. Namun nyatanya banyak umat muslim yang melulu mengurusi akherat, daripada mengurusi keluarganya yang miskin.
Di dalam setiap cerpennya, A.A. Navis menampilkan wajah Indonesia di zamannya dengan penuh kegetiran. Penuh dengan kata-kata satir dan cemoohan akan kekolotan pemikiran manusia Indonesia saat itu - yang masih relevan di masa sekarang ini.
Cerpen ‘Robohnya Surau Kami’ bercerita tentang kisah tragis matinya seorang Kakek penjaga surau (masjid yang berukuran kecil) di kota kelahiran tokoh utama cerpen itu. Dia - si Kakek, meninggal dengan menggorok lehernya sendiri setelah mendapat cerita dari Ajo Sidi-si Pembual, tentang Haji Soleh yang masuk neraka walaupun pekerjaan sehari-harinya beribadah di Masjid, persis yang dilakukan oleh si Kakek.
Haji Soleh dalam cerita Ajo Sidi adalah orang yang rajin beribadah, semua ibadah dari A sampai Z ia laksanakan semua, dengan tekun.Tapi, saat “hari keputusan”, hari ditentukannya manusia masuk surga atau neraka, Haji Soleh malah dimasukkan ke neraka. Haji Soleh memprotes Tuhan, mungkin dia alpa pikirnya. Tapi, mana mungkin Tuhan alpa, maka dijelaskanlah alasan dia masuk neraka, “kamu tinggal di tanah Indonesia yang mahakaya raya,tapi, engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniyaya semua. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang.” Merasa tersindir dan tertekan oleh cerita Ajo Sidi, Kakek memutuskan bunuh diri. Dan Ajo Sidi yang mengetahui kematian Kakek hanya berpesan kepada istrinya untuk membelikan kain kafan tujuh lapis untuk Kakek, lalu pergi kerja.
Nah dari cerita ini kita menumukan bahwa kebenaran itu tidak mutlak. Kebenaran relative. Tetapi bagi Negara demokrasi, yang mutlak dan tidak mutlak harus bisa duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Artinya kebenaran suatu keyakinan tidak mutlak-mutlakan. Namun bagi orang yang sudah yakin, bahwa kebenaran adalah mutlak.
Haji Soleh, boleh jadi contoh orang yang berpikiran seperti itu. Bahwa kebenaran itu adalah mutlak, tidak bisa ditawar-tawar, meski harus menyerahkan nyawanya sendiri.
Kekonyolan cara berpikir seperti ini, masih menjangkiti kita. Negeri ini menjadi karut marut karena cara berpikirnya masih mutlak-mutlakan. Bahwa kebenaran yang diyakini adalah kebenaran yang harus diyakini orang lain. Kalau tidak : Perang!
Sungguh, dalam cerita ‘Robohnya Surau Kami’ itu, A.A. Navis mengajak kita (umat muslim) untuk tidak hanya rebut soal akhidah. Soal Akherat. Soal-soal yang sebenarnya di dalam kitab sendiri sudah diatur oleh Allah. Dan kalau kita berpegang pada itu, sebenarnya beragama atau meyakini sebuah keyakinan adalah hak setiap manusia, tanpa melalui penindasan apalagi paksaan. (dah ndak jamanya cak).
Namun kita semua telah bermain api. Kebesaran Islam telah diselewengkan untuk masud-maksud lain. Islam yang artinya selamat, malah sering dibelok-belokan ke tepi jurang, sehingga kita sering merinding, takut, trauma, bahkan malah menjadi bertanya-tanya, benarkah kita berada di kendaraan yang aman sampai ke akherat.
Haji Soleh, telah menyajadi korban, pembengkokan oleh Ajo Sidi sipembual itu. Haji Soleh, trauma, takut, bahkan dalam pikirannya bertanya besar, jadi selama ini jalan yang dipilihnya salah? Sementara Ajo Sidi sendiri dengan santai melalui kehidupan berikutnya.
Saya juga takut, keyakinan saya juga dibelok-belokan sampai ke tepi jurang. Saya takut, jangan-jangan setelah ditepi jurang, tidak ada yang menolong seperti Haji Soleh yang akhirnya bunuh diri. Sementara pihak lain yang membelok-belokan keyakinan, puas sembari tepuk dada: Akulah yang paling benar. Kalian wajib diperangi!
Sungguh, saya takut. Kenapa keyakinan yang terpendam dalam hati bisa menjadi beringas seperti itu. Kenapa kitab-kitab yang berhasa sastra tinggi seperti itu justru tidak membuat manusia berbudi pekerti halus?.
Kenapa keyakinan saya tiba-tiba digergaji oleh orang-orang yang merasa dirinya paling Islam. Paling benar. Siapa yang berhak diperangi dan memerangi! Semoga kita semua selamat.
Juli 8, 2008.
http://kamarbudaya.wordpress.com/
Ada cerita pendek yang tak pernah saya lupakan. Bukan saja diskripsi karakter tokoh-tokohnya, seperti Ajo Sidi (Pembual) dan Haji Soleh (Penjaga Surau) yang kuat, tetapi ceritanya juga sangat menohok pikiran dan bahkan keyakinan. Betapa tidak, cerita pendek karangan A.A Navis, berjudul ‘Robohnya Surau Kami’ menyindir bahkan menuding, umat muslim yang hanya mengurusi akherat tetapi melupakan dunia. Ini soal kebenaran dan keyakinan.
Tidak tanggung-tanggung, A.A. Navis dalam ceritanya itu menggambarkan orang-orang yang taat beribadah malah masuk neraka. Katanya, Tuhan murka, karena orang yang kusuk beribadah melupakan kehidupan sosialnya, sehingga kehidupannya sendiri merana.
Padahal, Tuhan telah menciptakan bumi beserta isinya untuk kehidupan umatnya. Namun nyatanya banyak umat muslim yang melulu mengurusi akherat, daripada mengurusi keluarganya yang miskin.
Di dalam setiap cerpennya, A.A. Navis menampilkan wajah Indonesia di zamannya dengan penuh kegetiran. Penuh dengan kata-kata satir dan cemoohan akan kekolotan pemikiran manusia Indonesia saat itu - yang masih relevan di masa sekarang ini.
Cerpen ‘Robohnya Surau Kami’ bercerita tentang kisah tragis matinya seorang Kakek penjaga surau (masjid yang berukuran kecil) di kota kelahiran tokoh utama cerpen itu. Dia - si Kakek, meninggal dengan menggorok lehernya sendiri setelah mendapat cerita dari Ajo Sidi-si Pembual, tentang Haji Soleh yang masuk neraka walaupun pekerjaan sehari-harinya beribadah di Masjid, persis yang dilakukan oleh si Kakek.
Haji Soleh dalam cerita Ajo Sidi adalah orang yang rajin beribadah, semua ibadah dari A sampai Z ia laksanakan semua, dengan tekun.Tapi, saat “hari keputusan”, hari ditentukannya manusia masuk surga atau neraka, Haji Soleh malah dimasukkan ke neraka. Haji Soleh memprotes Tuhan, mungkin dia alpa pikirnya. Tapi, mana mungkin Tuhan alpa, maka dijelaskanlah alasan dia masuk neraka, “kamu tinggal di tanah Indonesia yang mahakaya raya,tapi, engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniyaya semua. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang.” Merasa tersindir dan tertekan oleh cerita Ajo Sidi, Kakek memutuskan bunuh diri. Dan Ajo Sidi yang mengetahui kematian Kakek hanya berpesan kepada istrinya untuk membelikan kain kafan tujuh lapis untuk Kakek, lalu pergi kerja.
Nah dari cerita ini kita menumukan bahwa kebenaran itu tidak mutlak. Kebenaran relative. Tetapi bagi Negara demokrasi, yang mutlak dan tidak mutlak harus bisa duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Artinya kebenaran suatu keyakinan tidak mutlak-mutlakan. Namun bagi orang yang sudah yakin, bahwa kebenaran adalah mutlak.
Haji Soleh, boleh jadi contoh orang yang berpikiran seperti itu. Bahwa kebenaran itu adalah mutlak, tidak bisa ditawar-tawar, meski harus menyerahkan nyawanya sendiri.
Kekonyolan cara berpikir seperti ini, masih menjangkiti kita. Negeri ini menjadi karut marut karena cara berpikirnya masih mutlak-mutlakan. Bahwa kebenaran yang diyakini adalah kebenaran yang harus diyakini orang lain. Kalau tidak : Perang!
Sungguh, dalam cerita ‘Robohnya Surau Kami’ itu, A.A. Navis mengajak kita (umat muslim) untuk tidak hanya rebut soal akhidah. Soal Akherat. Soal-soal yang sebenarnya di dalam kitab sendiri sudah diatur oleh Allah. Dan kalau kita berpegang pada itu, sebenarnya beragama atau meyakini sebuah keyakinan adalah hak setiap manusia, tanpa melalui penindasan apalagi paksaan. (dah ndak jamanya cak).
Namun kita semua telah bermain api. Kebesaran Islam telah diselewengkan untuk masud-maksud lain. Islam yang artinya selamat, malah sering dibelok-belokan ke tepi jurang, sehingga kita sering merinding, takut, trauma, bahkan malah menjadi bertanya-tanya, benarkah kita berada di kendaraan yang aman sampai ke akherat.
Haji Soleh, telah menyajadi korban, pembengkokan oleh Ajo Sidi sipembual itu. Haji Soleh, trauma, takut, bahkan dalam pikirannya bertanya besar, jadi selama ini jalan yang dipilihnya salah? Sementara Ajo Sidi sendiri dengan santai melalui kehidupan berikutnya.
Saya juga takut, keyakinan saya juga dibelok-belokan sampai ke tepi jurang. Saya takut, jangan-jangan setelah ditepi jurang, tidak ada yang menolong seperti Haji Soleh yang akhirnya bunuh diri. Sementara pihak lain yang membelok-belokan keyakinan, puas sembari tepuk dada: Akulah yang paling benar. Kalian wajib diperangi!
Sungguh, saya takut. Kenapa keyakinan yang terpendam dalam hati bisa menjadi beringas seperti itu. Kenapa kitab-kitab yang berhasa sastra tinggi seperti itu justru tidak membuat manusia berbudi pekerti halus?.
Kenapa keyakinan saya tiba-tiba digergaji oleh orang-orang yang merasa dirinya paling Islam. Paling benar. Siapa yang berhak diperangi dan memerangi! Semoga kita semua selamat.
Juli 8, 2008.
Jumat, 09 Januari 2009
Baju Koruptor
Rakhmat Giryadi
http://kamarbudaya.wordpress.com/
Koruptor akan dibuatkan baju seragam. Katanya biar nyahok! Biar urat malunya mencuat! Biar kapok alias jera! Pertimbangan lain, agar koruptor tidak seperti selebriti di persidangan. Biar sama dengan pesakitan yang lain, seperti pencuri ayam yang memang dari sononya sudah dekil. Pokoknya, mereka harus dibuatkan baju, biar tidak menyakiti hati rakyat yang uangnya dicuri.
Boleh juga ide itu. Kalau boleh usul, jika perlu dibuatkan upacara khusus untuk koruptor. Mereka yang pernah korupsi diwajibkan ikut upacara atau apel koruptor. Biar ingat terus, kalau korupsi itu merugikan negera. (Tetapi menyehatkan keluarga. Hemm).
Asyik, pasti. Mereka pakai baju seragam koruptor, setiap Senin, atau hari apa terserah, disuruh mengikuti apel. Buatkan juga mars koruptor. Slank, yang sudah tersohor itu mungkin bisa menjadikan lagu Gosip Jalanan, jadi lagu wajib saat apel. Sementara doanya, Doa Minta Kutukan dari Kyai Mbeling Emha Ainun Najib. Sementara rakyat disuruh menonton di atas podium, sambil mesem-mesem. Ini seperti drama jaman Yunani kuno.
Namanya drama, pasti tidak sungguhan. Namanya drama pasti ada yang dilebih-lebihkan, agar penonton lupa kalau itu sebuah drama. Penonton juga harus disuguhi speaktakel-speaktakel yang hebat dari para actor. Penonton harus tidak diberi waktu untuk berfikir. Mereka harus terhanyut dalam drama itu, sampai menguras air mata.
Saat rakyat atau penonton menyeka air matanya, para aktorpun melenggang. Di belakang panggung mereka tertawa-tawa sambil berpelukan. Saling berjabat tangan, sambil menyantap anggur dan daging burung unta.Mereka berganti baju. Mereka bukan lagi actor. Mereka orang biasa. Kostum yang dikenakan pun digantung di rak. Ia kemudian menghirup udara bebas. Mereka menjadi orang biasa.
Sementara rakyat atau penonton yang menyaksikan pertunjukan drama itu pasti akan mengingat-ingat adegan yang paling dramatis. Apakah saat Brutus menikam Caesar, dan darahnya muncrat dari dada kirinya, sementara Brutus tertawa. Atau saat seperti Caligula menyudahi kekuasaannya dengan cara ‘ngedan.’ Dramatis! Itulah yang terkesan dalam hati penonton.
Rakyat juga akan hanya mengingat dramatisasi kostum dan mike up-nya Artalyta saat disidang. Atau saat Artalyta menangis karena merasa teraniaya. Tetapi rakyat tidak tahu, bagaimana Artalyta tersenyum-senyum di ruang tunggu persidangan yang ber AC sambil kontak sana-sini. Bercanda dengan cucu-cucunya. Dan sesekali membuat scenario (drama pengadilan) dengan Urip Tri Gunawan dari ruang tahanan yang jelas ‘berkelas’.
Sekali lagi ini hanya drama. Baju itu hanya kostum. Usai drama pasti akan dilepas. Dan mereka akan melupakan. Karena baju itu tidak melekat pada dirinya. Baju itu hanya pinjaman. Seperti Christian Bale melepas costum Batman. Ia tidak lagi menjadi si manusia perkasa. Tetapi manusia biasa yang pengecut, karena menyiksa orang tuanya. Pada dasarnya baju tak memberikan dampak apapun pada proses hukum yang sedang berjalan. Ini bisa melanggar azas praduga tak bersalah. Yang lebih esensi pemerintah dan penegak hukum harus membuatkan scenario (pasal-pasal) yang memang benar-benar membuat jera para koruptor. Ini esensinya. Apakah benar, misalnya koruptor/penyuap seperti Artalyta itu yang sudah mengobrak-abrik wibawa pengadilan hanya dihukum lima tahun dan denda Rp 250 juta?
Apa benar para koruptor yang mengembalikan uang korupsinya terbebas dari sangkaan korupsi? Bagaimana dengan pencuri ayam, yang babak belur, kemudian bahkan tewas dihakimi massa? Siapa yang dihukum? Pencuri ayamnya atau massa?
Korupsi memang harus dicegah. Tetepi tidak cukup hanya membuatkan baju seragam. Dalam novel Pramoedya Ananta Toer berjudul Korupsi, digambarkan sorang pegawai kecil yang jujur akhirnya tak tahan untuk tidak korupsi. Pasalnya ia merasa ada kesempatan berkorupsi dan sudah kapok melarat terus. Ia berkorupsi karena mentalnya lemah dan pengawasan kinerjanya juga lemah. Jadi persoalannya pada mental dan kesempatan!
September 9, 2008.
http://kamarbudaya.wordpress.com/
Koruptor akan dibuatkan baju seragam. Katanya biar nyahok! Biar urat malunya mencuat! Biar kapok alias jera! Pertimbangan lain, agar koruptor tidak seperti selebriti di persidangan. Biar sama dengan pesakitan yang lain, seperti pencuri ayam yang memang dari sononya sudah dekil. Pokoknya, mereka harus dibuatkan baju, biar tidak menyakiti hati rakyat yang uangnya dicuri.
Boleh juga ide itu. Kalau boleh usul, jika perlu dibuatkan upacara khusus untuk koruptor. Mereka yang pernah korupsi diwajibkan ikut upacara atau apel koruptor. Biar ingat terus, kalau korupsi itu merugikan negera. (Tetapi menyehatkan keluarga. Hemm).
Asyik, pasti. Mereka pakai baju seragam koruptor, setiap Senin, atau hari apa terserah, disuruh mengikuti apel. Buatkan juga mars koruptor. Slank, yang sudah tersohor itu mungkin bisa menjadikan lagu Gosip Jalanan, jadi lagu wajib saat apel. Sementara doanya, Doa Minta Kutukan dari Kyai Mbeling Emha Ainun Najib. Sementara rakyat disuruh menonton di atas podium, sambil mesem-mesem. Ini seperti drama jaman Yunani kuno.
Namanya drama, pasti tidak sungguhan. Namanya drama pasti ada yang dilebih-lebihkan, agar penonton lupa kalau itu sebuah drama. Penonton juga harus disuguhi speaktakel-speaktakel yang hebat dari para actor. Penonton harus tidak diberi waktu untuk berfikir. Mereka harus terhanyut dalam drama itu, sampai menguras air mata.
Saat rakyat atau penonton menyeka air matanya, para aktorpun melenggang. Di belakang panggung mereka tertawa-tawa sambil berpelukan. Saling berjabat tangan, sambil menyantap anggur dan daging burung unta.Mereka berganti baju. Mereka bukan lagi actor. Mereka orang biasa. Kostum yang dikenakan pun digantung di rak. Ia kemudian menghirup udara bebas. Mereka menjadi orang biasa.
Sementara rakyat atau penonton yang menyaksikan pertunjukan drama itu pasti akan mengingat-ingat adegan yang paling dramatis. Apakah saat Brutus menikam Caesar, dan darahnya muncrat dari dada kirinya, sementara Brutus tertawa. Atau saat seperti Caligula menyudahi kekuasaannya dengan cara ‘ngedan.’ Dramatis! Itulah yang terkesan dalam hati penonton.
Rakyat juga akan hanya mengingat dramatisasi kostum dan mike up-nya Artalyta saat disidang. Atau saat Artalyta menangis karena merasa teraniaya. Tetapi rakyat tidak tahu, bagaimana Artalyta tersenyum-senyum di ruang tunggu persidangan yang ber AC sambil kontak sana-sini. Bercanda dengan cucu-cucunya. Dan sesekali membuat scenario (drama pengadilan) dengan Urip Tri Gunawan dari ruang tahanan yang jelas ‘berkelas’.
Sekali lagi ini hanya drama. Baju itu hanya kostum. Usai drama pasti akan dilepas. Dan mereka akan melupakan. Karena baju itu tidak melekat pada dirinya. Baju itu hanya pinjaman. Seperti Christian Bale melepas costum Batman. Ia tidak lagi menjadi si manusia perkasa. Tetapi manusia biasa yang pengecut, karena menyiksa orang tuanya. Pada dasarnya baju tak memberikan dampak apapun pada proses hukum yang sedang berjalan. Ini bisa melanggar azas praduga tak bersalah. Yang lebih esensi pemerintah dan penegak hukum harus membuatkan scenario (pasal-pasal) yang memang benar-benar membuat jera para koruptor. Ini esensinya. Apakah benar, misalnya koruptor/penyuap seperti Artalyta itu yang sudah mengobrak-abrik wibawa pengadilan hanya dihukum lima tahun dan denda Rp 250 juta?
Apa benar para koruptor yang mengembalikan uang korupsinya terbebas dari sangkaan korupsi? Bagaimana dengan pencuri ayam, yang babak belur, kemudian bahkan tewas dihakimi massa? Siapa yang dihukum? Pencuri ayamnya atau massa?
Korupsi memang harus dicegah. Tetepi tidak cukup hanya membuatkan baju seragam. Dalam novel Pramoedya Ananta Toer berjudul Korupsi, digambarkan sorang pegawai kecil yang jujur akhirnya tak tahan untuk tidak korupsi. Pasalnya ia merasa ada kesempatan berkorupsi dan sudah kapok melarat terus. Ia berkorupsi karena mentalnya lemah dan pengawasan kinerjanya juga lemah. Jadi persoalannya pada mental dan kesempatan!
September 9, 2008.
Jumat, 02 Januari 2009
Lelaki Berselimut Kafan
Rakhmat Giryadi
http://sastraapakah.blogspot.com/
Setelah bertahun-tahun menjadi buronan, akhirnya seorang lelaki yang sudah tua keluar dari persembunyiannya. Hari itu adalah hari pertama ia keluar dari persembunyiannya. Lelaki yang dulu gagah perkasa, kini sudah reot. Batuknya seperti terompet. Tubuhnya menyebar bau bacin. Di bawah bayang-bayang gedung pencakar langit, ia berjalan mengendap-endap seperti tikus dengan koreng di tubuhnya.
Orang-orang menghindar sambil menutup hidung. Tong sampah dikorek-koreknya. Ia berebut nasi busuk dengan tikus got dan kucing liar. Seekor anjing menggertaknya. Tangan tua itu tak sempat menyentuh nasi yang penuh lalat. Nyawanya hampir lepas. Lapar, kembali mencakar-cakar perutnya. Sarung kumalnya dibebatkan diperutnya yang ceking.
Di tengah perutnya yang melilit-lilit, ia ingat masa keemasannya dulu. Orang-orang, meminta tabik. Segalanya telah dimiliki. Tetapi kini, keperkasaannya telah dimakan lumut yang terus menjalari tembok kekuasaannya. Sedikit demi sedikit tembok itu runtuh dan hanya tinggal lumut dan ilalang tumbuh subur di antara reruntuhannya.
“Dimana ada penjara untuk saya!” serunya di tengah kota yang penuh dengan asap hitam.
Kepada orang berbaju merah lelaki itu bertanya. Orang berbaju merah itu malah lari terbirit-birit. Orang berbaju kuning ngumpet di dekat rimbun pohon. Orang berbaju hijau berdoa semoga dia tidak dihampiri. Orang berbaju biru bergaya seperti penjual obat. Orang-orang yang berbaju hitam, mengiba-iba. Orang berbaju abu abu meraih hati dengan sekedar menunjukan jalan, meski jalan itu tidak tahu berarah ke mana.
Lelaki itu terus menyusuri trotoar bobrok. Bunga-bunga bogenvil tumbuh tak terawat. Di sebuah etalase toko ia melihat gambar wajahnya terpampang di sampul buku. “Ya, saya menyesal seperti dirimu, anjing! Saya ingin bertaobat. Antarkan saya pada polisi, atau kalau kau tau antarkan saya ke neraka biar saya dihukum-Nya. E..tapi surga juga boleh,” katanya, sambil pergi begitu saja.
Beberapa meter dari etalase toko yang kacanya pecah di sudutnya, ia melihat pamflet-pamflet tertempel di tiang-tiang listrik, tembok-tembok, sekat-sekat pembatas tanah kosong, kios-kios kecil. Warnanya buram. Tetapi ia masih mengenali foto yang ditempel dengan tulisan: BURONAN RAKYAT. Tulisan itu hampir tidak bisa dieja. Karena disana-sini telah dicoret-coret dengan cat semprot.
“Silahkan tangkap saya, Pak Polisi! Tolong antar saya ke penjara!” serunya pada seorang Polisi yang sedang menilang kendaraan bermotor. Polisi itu tak menggubrisnya. Uang damai segera dimasukan ke kantong celananya.
“Pak Polisi tunjukan saya, di mana kantor, Anda? Tangkaplah saya! Sayalah koruptor yang Anda cari-cari!” katanya dengan penuh harapan.
“Koruptor? Di negeri ini koruptor bukan penjahat. Tetapi profesi! Pergilah sana!" kata Polisi, sembari tersenyum kecil.
Lelaki bau tanah itu segera pergi. Keningnya berkerut. Kerutannya mempertegas garis ketuaannya. Ia sedang memikirkan kata-kata polisi tadi : Koruptor bukan penjahat. Korupsi sudah menjadi profesi.
Lebih kaget lagi, ketika mata lelaki itu melihat fotonya ditempel di tembok-tembok rumah, tiang penyangga jalan layang, tembok mal, plaza, hotel, motel, condominium, kantor polisi, gedung dewan, gedung kejaksaan. Bahkan ada yang dibuat spanduk, baliho berukuran raksasa. Poster-poster itu masih kelihatan baru. Disana tidak lagi tertulis BURONAN RAKYAT, tetapi, KEMBALILAH PAHLAWANKU!.
Sayang tak seorang pun yang mengenali dirinya. Foto yang dipampang itu foto seratus tahun yang lalu, atau berapa abad yang lalu atau entah tahun yang keberapa. Entahlah. Orang-orang besar gampang lupa dengan waktu yang telah berlalu. “Saya seorang pahlawan?” tanyanya kepada diri sendiri.
Ia tidak percaya dengan kata-kata dalam poster itu. Seorang koruptor yang telah menghabiskan trilyunan rupiah dianggap pahlawan? Apakah dunia sudah terbalik. “Ah, ini jebakan. Ini sindiran. Saya tidak percaya. Hukumlah saya, Pak Polisi. Saya sudah bosan dengan pelarian ini!” serunya, di tengah hiruk pikuk bunyi klakson dan umpatan para sopir mikrolet. Atau erangan anak-anak kecil mabuk lem.
Orang-orang tertawa melihat polah tingkah lekaki itu yang mengaku sebagai koruptor. Anak-anak kecil yang lupa sekolah mengira lelaki itu badut sirkus yang kehilangan rombongannya. Mereka bersorak riang. Kaleng yang biasa untuk mengemis mereka pukuli dengan uang logam. Lalu-lintas berhenti total. Para sopir dan penumpang berjoget di atap mobil.
Orang-orang yang menghuni gedung bertingkat juga berjoget. Sebuah helikopeter jatuh menabrak tower. Diketahui, pilotnya juga ikut berjoget di atas baling-baling. Pertunjukan itu dilaporkan langsung oleh 100 stasiun TV dalam dan luar negeri. “Ini sihir Inul Daratista, Anisa Bahar, Trio Macan. Semua menjadi ‘Kucing Garong.’” Teriak seorang reporter TV swasta sembari mengguncangkan pantatnya.
"Sayalah koruptor!” Tangkaplah saya," teriak lelaki tua itu.
Sedetik kemudian, kata-kata lelaki tua itu menyebar keseluruh negeri dan menyebar menjadi tagline baru. “Kita semua koruptor. Tangkaplah kita!” teriak orang seluruh negeri, sembari berjoget.
Seorang Polisi muda, mengerutkan kening. Sejurus matanya menatap lelaki yang berpakaian compang-camping. Bau bacin menebar keseluruh penjuru ruangnya.
“Sudahlah. Kenapa ragu-ragu. Sayalah yang menghabiskan uang negara trilyunan itu. Saya sudah bosan hidup dalam pelarian,” katanya sambil menyerahkan kedua tangannya untuk diborgol. Seribu kamera wartawan TV membidik adegan itu. Sedetik kemudian TV-TV menyetop siarannya. “Breaking News!” orang-orang mematung, melihat adegan yang mengharukan itu. Tetapi belum sempat air mata menetes, acara itu telah berganti lawak. “Ha..ha..ha..! Ternyata Srimulatan, to ini tadi!”
Keesokan harinya lelaki bahu tanah itu datang lagi ke kantor Polisi. “Hai orang gila mau apa lagi!” bentak Polisi muda.
Lelaki tua itu tak memperdulikannya. Ia menunjukan poster pada Polisi yang berpostur tambum. “Ini adalah saya. Saya ingin menyerahkan diri. Tangkaplah!” katanya dengan nada bergetar.
“Haaaa…haaaa….haaaa…!” Polisi itu tertawa lebar, selebar-lebarnya. Teman-temanya yang tahu, segera ikut tertawa. Siang itu, siang yang paling aneh. Ada seorang datang menyerahkan diri dan mengaku sebagai boronan kelas kakap. Tak biasanya ada penjahat yang menyerahkan diri begitu saja. Aneh sekali. “Haaaa..haaaaa…haaa!” kantor Polisi itu menjadi riuh.
Kotapun juga riuh penuh gelak tawa seperti gedung Srimulat tahun 1970-an. Orang-orang tertawa mendengar cerita anekdot itu. “Adu pungguk merindukan bulan. Kasihan deh aku, istruku datang bulan,” kata seorang eksekutif muda yang baru saja menikah.
“Tidak nyambung, blas!”
“Seperti dagelan!”
“Dia berbakat jadi politikus!”
“Semestinya, kamu pergi ke panti jompo atau bunuh diri saja,” ledek Polisi yang berkumis, ketika hari perlahan-lahan gelap dan lampu-lampu kota berpendar, menyambut malam.
Orang-orang berlarian seperti berkejaran dengan gelap. Mobil berdesak-desakan. Klakson berteriakan. Lengkingan peluit Polisi tak pernah berhenti. Adzan magrib seperti muncul dari lorong-lorong gaip kemudian menghilang begitu saja. Orang-orang tak mendengarnya. Di telingannya tersumbat handfree. Mobil-mobil bergoyang ke kiri dan ke kanan mengikuti irama housemusic. Dua atau tiga mobil saja yang terbang, mengikuti alunan seruling Sunda yang mendayu-dayu. Setiap senja, orang-orang mempersiapakan upacara adatnya sendiri-sendiri. Mereka para pertapa agung di sudut-sudut mal-mal, di kafe-kafe, bar-bar, pub, atau karaoke. Mereka para penyembah dewa malam. Dewa para pemabuk.
Sementara, lelaki bau tanah itu, berjalan seperti bajaj. Dilihatnya poster yang masih dalam genggamanya. Diejanya huruf demi huruf. Tetapi ia tak pernah menemukan arti dari tulisan itu. Yang ia tahu dan yakin, bahwa foto itu adalah dirinya. Tapi bagaimana orang-orang mau tau bahwa ia adalah buronan yang dicari-cari sebelumnya?
Sejarahpun telah menimbun namanya. Anak-anak sekolah telah membaca sejarah dengan cara terbalik. Bahwa sejarah mencatat nilai-nilai luhur. Sejarah adalah riwayat orang-orang besar. Tidak ada gembel, pecundang yang masuk dalam catatan sejarah. Buku-buku sejarah tetap seperti situs-situs purba yang menyimpan rahasianya. Anak-anak tidak tahu di balik lipatan-libatan buku sejarahnya ada darah pengingkaran.
“Bakar! Bakar saja!” teriak Pemimpin Kota, melihat noda darah di buku-buku sejarah.
Maka ribuan buku dibakar. Otak anak-anak dibaycline sampai putih bersih dan tidak amis. Maka sejarah telah lenyap. Anak-anak dan juga jutaan orang di kota ini dibuatkan sejarah baru. Sejarah yang tidak menimbun bau anyir darah.
“Orang-orang sudah pada pikun dengan sejarahnya,” kata lelaki tua itu sembari menyandarkan tubuhnya pada tembok berlumut. Bau pesing menusuk hidungnya. Seekor kucing garong, melompat dari tempat sampah. Giginya yang tajam, menggondol orok bayi yang busuk, dibuntal tas plastik warna hitam.
“Generasi baru dimatikan. Dibuang di tempat sampah. Generasi lama dibiarkan terkapar dengan segunung dosa di pundaknya,” desah lelaki itu. Sesaat kemudian terdengar dengkurnya. Orang-orang kota masih dengan darahnya yang meluap-luap.
“Urip gur mampir ngombe!” teriak anak muda sembari menuangkan vodka ke sloki yang dibuat dari potongan botol air mineral.
***
Suatu hari, menjelang magrib, lelaki itu pergi ke masjid. Ditemuinya ta’mir masjid. Ia katakan padanya, bahwa ia ingin menyerahkan diri sebagai buronan. Tak lupa ia menyodorkan poster yang dibawanya.
Ta’mir yang sudah tua dan sering dipanggil Pak Haji itu, berkata sambil menutup hidungya. “Kalau mau menyerahkan diri bukan di sini tempatnya, Pak, tetapi ke kantor Polisi,” sarannya.
Di gereja, di pura, di vihara, ia deterima dengan saran yang sama. Dilembaga peradilan tertinggi ia malah disuruh bertaubat dulu dan kemudian pergi ke panti jompo, atau terkadang digelandang Satpol Pamong Praja ke Dinas Sosial. Di kantor-kantor media massa ia dimasukan di kolom anekdot dan dibuat tertawaan para pemirsa dan pembaca. “Seorang lelaki kere, ingin merubah sejarah bangsa besar!” kata pakar sejarah dan politik di kaca-kaca televisi.
Ibu-ibu menangis sesenggukan. Berita tentang lelaki tua tadi seperti cerita opera sabun. “Dia pasti akan menang di endingnya nanti,” komentar ibu rumah tangga sembari mengunyah popcorn kesukaannya sebelum iklan-iklan lain mempengaruhi seleranya.
Lelaki tua itu bingung, ia tidak tahu harus berserah diri pada siapa. Ia pergi menyusuri kota yang disergap gelap malam. Ia melihat orang-orang seperti hidup bahagia. “Apakah mereka juga orang suci?” tanya lelaki itu dalam hati.
Di sudut yang lain orang-orang saling membunuh, hanya untuk merebutkan recehan. Sementara di TV-TV menyiarkan aksi pembunuhan itu secara langsung. Pemuda-pemuda dan remaja tanggung bertepuk dada. “Keren abis!”
Di kantor Polisi lelaki tua itu kembali ditertawakan. “Memangnya apa yang Bapak perbuat?” tanya seorang Polisi, sembari menjalankan bidak caturnya.
“Korupsi,” kata lelaki itu bergetar.
“Seorang koruptor itu, paling tidak bertampang tegar. Tidak memelas. Pakai dasi. Bawa mobil berkelas. Datang ke Polisi di dampingi dua atau tiga pengacara bonafide. Gembel semacam engkau apa yang dikorupsi? Skak! Mati!” dua Polisi itu kembali tertawa.
Kini, hanya tinggal satu tempat yang bisa ia tuju, rumahnya. Rumah yang telah lama ditinggalkannya dengan seluruh isinya. Lelaki bahu tanah berjalan menuju rumahnya. Namun sebenarnya ia ragu-ragu, karena ia pun sudah lupa bentuk rumahnya. Yang dia ingat hanya kata-kata kenanga. Atau Jl. Kenanga.
Setelah berhari-hari berjalan, lelaki itu baru menemukan Jl. Kenanga. Sebuah jalan yang penuh dengan pohon bunga kenanga. Lelaki itu mereka-reka ingatannya. Tak satupun yang ia ingat. Hanya bau harum bunga kenanga itulah yang meyakinkan dirinya bahwa di jalan itulah ia pernah tinggal.
Dan mobil mewah itu masih berjajar-jajar di sepanjang jalan. Hanya saja orang-orang yang hilir mudik di jalan itu semua berpakaian serba hitam dan berkaca mata hitam. Ribuan wartawan dari koran dan televisi tampak bergerombol di depan pintu gerbang. Di sepanjang pagar rumah yang tinggi itu, berjajar karangan bunga ucapan duka cita.
“Siapa yang meninggal dunia?” tanya lelaki itu, pada seorang yang baru turun dari BMW seri terbaru. Orang itu hanya menjawab singkat : “Eyang!”
Lelaki tua itu melihat foto yang dihias dengan bunga beraneka warna, dipajang dekat pintu gerbang rumah. Foto itu seperti dirinya. Bahkan sangat mirip. Di bawah foto itu ada tulisan, ‘Telah Meninggal Dunia Eyang Kakung yang Tercinta, dalam usia 100 tahun. Semoga Arwahnya Diterima Di Sisi Tuhan YME.’
“Kalau dia telah mati, lalu saya ini siapa? Hidup dan mati ternyata begitu dekat. Dekat sekali!” kata lelaki itu, sembari membetulkan sarungnya yang persis kafan.
Surabaya, Desember 2006.
http://sastraapakah.blogspot.com/
Setelah bertahun-tahun menjadi buronan, akhirnya seorang lelaki yang sudah tua keluar dari persembunyiannya. Hari itu adalah hari pertama ia keluar dari persembunyiannya. Lelaki yang dulu gagah perkasa, kini sudah reot. Batuknya seperti terompet. Tubuhnya menyebar bau bacin. Di bawah bayang-bayang gedung pencakar langit, ia berjalan mengendap-endap seperti tikus dengan koreng di tubuhnya.
Orang-orang menghindar sambil menutup hidung. Tong sampah dikorek-koreknya. Ia berebut nasi busuk dengan tikus got dan kucing liar. Seekor anjing menggertaknya. Tangan tua itu tak sempat menyentuh nasi yang penuh lalat. Nyawanya hampir lepas. Lapar, kembali mencakar-cakar perutnya. Sarung kumalnya dibebatkan diperutnya yang ceking.
Di tengah perutnya yang melilit-lilit, ia ingat masa keemasannya dulu. Orang-orang, meminta tabik. Segalanya telah dimiliki. Tetapi kini, keperkasaannya telah dimakan lumut yang terus menjalari tembok kekuasaannya. Sedikit demi sedikit tembok itu runtuh dan hanya tinggal lumut dan ilalang tumbuh subur di antara reruntuhannya.
“Dimana ada penjara untuk saya!” serunya di tengah kota yang penuh dengan asap hitam.
Kepada orang berbaju merah lelaki itu bertanya. Orang berbaju merah itu malah lari terbirit-birit. Orang berbaju kuning ngumpet di dekat rimbun pohon. Orang berbaju hijau berdoa semoga dia tidak dihampiri. Orang berbaju biru bergaya seperti penjual obat. Orang-orang yang berbaju hitam, mengiba-iba. Orang berbaju abu abu meraih hati dengan sekedar menunjukan jalan, meski jalan itu tidak tahu berarah ke mana.
Lelaki itu terus menyusuri trotoar bobrok. Bunga-bunga bogenvil tumbuh tak terawat. Di sebuah etalase toko ia melihat gambar wajahnya terpampang di sampul buku. “Ya, saya menyesal seperti dirimu, anjing! Saya ingin bertaobat. Antarkan saya pada polisi, atau kalau kau tau antarkan saya ke neraka biar saya dihukum-Nya. E..tapi surga juga boleh,” katanya, sambil pergi begitu saja.
Beberapa meter dari etalase toko yang kacanya pecah di sudutnya, ia melihat pamflet-pamflet tertempel di tiang-tiang listrik, tembok-tembok, sekat-sekat pembatas tanah kosong, kios-kios kecil. Warnanya buram. Tetapi ia masih mengenali foto yang ditempel dengan tulisan: BURONAN RAKYAT. Tulisan itu hampir tidak bisa dieja. Karena disana-sini telah dicoret-coret dengan cat semprot.
“Silahkan tangkap saya, Pak Polisi! Tolong antar saya ke penjara!” serunya pada seorang Polisi yang sedang menilang kendaraan bermotor. Polisi itu tak menggubrisnya. Uang damai segera dimasukan ke kantong celananya.
“Pak Polisi tunjukan saya, di mana kantor, Anda? Tangkaplah saya! Sayalah koruptor yang Anda cari-cari!” katanya dengan penuh harapan.
“Koruptor? Di negeri ini koruptor bukan penjahat. Tetapi profesi! Pergilah sana!" kata Polisi, sembari tersenyum kecil.
Lelaki bau tanah itu segera pergi. Keningnya berkerut. Kerutannya mempertegas garis ketuaannya. Ia sedang memikirkan kata-kata polisi tadi : Koruptor bukan penjahat. Korupsi sudah menjadi profesi.
Lebih kaget lagi, ketika mata lelaki itu melihat fotonya ditempel di tembok-tembok rumah, tiang penyangga jalan layang, tembok mal, plaza, hotel, motel, condominium, kantor polisi, gedung dewan, gedung kejaksaan. Bahkan ada yang dibuat spanduk, baliho berukuran raksasa. Poster-poster itu masih kelihatan baru. Disana tidak lagi tertulis BURONAN RAKYAT, tetapi, KEMBALILAH PAHLAWANKU!.
Sayang tak seorang pun yang mengenali dirinya. Foto yang dipampang itu foto seratus tahun yang lalu, atau berapa abad yang lalu atau entah tahun yang keberapa. Entahlah. Orang-orang besar gampang lupa dengan waktu yang telah berlalu. “Saya seorang pahlawan?” tanyanya kepada diri sendiri.
Ia tidak percaya dengan kata-kata dalam poster itu. Seorang koruptor yang telah menghabiskan trilyunan rupiah dianggap pahlawan? Apakah dunia sudah terbalik. “Ah, ini jebakan. Ini sindiran. Saya tidak percaya. Hukumlah saya, Pak Polisi. Saya sudah bosan dengan pelarian ini!” serunya, di tengah hiruk pikuk bunyi klakson dan umpatan para sopir mikrolet. Atau erangan anak-anak kecil mabuk lem.
Orang-orang tertawa melihat polah tingkah lekaki itu yang mengaku sebagai koruptor. Anak-anak kecil yang lupa sekolah mengira lelaki itu badut sirkus yang kehilangan rombongannya. Mereka bersorak riang. Kaleng yang biasa untuk mengemis mereka pukuli dengan uang logam. Lalu-lintas berhenti total. Para sopir dan penumpang berjoget di atap mobil.
Orang-orang yang menghuni gedung bertingkat juga berjoget. Sebuah helikopeter jatuh menabrak tower. Diketahui, pilotnya juga ikut berjoget di atas baling-baling. Pertunjukan itu dilaporkan langsung oleh 100 stasiun TV dalam dan luar negeri. “Ini sihir Inul Daratista, Anisa Bahar, Trio Macan. Semua menjadi ‘Kucing Garong.’” Teriak seorang reporter TV swasta sembari mengguncangkan pantatnya.
"Sayalah koruptor!” Tangkaplah saya," teriak lelaki tua itu.
Sedetik kemudian, kata-kata lelaki tua itu menyebar keseluruh negeri dan menyebar menjadi tagline baru. “Kita semua koruptor. Tangkaplah kita!” teriak orang seluruh negeri, sembari berjoget.
Seorang Polisi muda, mengerutkan kening. Sejurus matanya menatap lelaki yang berpakaian compang-camping. Bau bacin menebar keseluruh penjuru ruangnya.
“Sudahlah. Kenapa ragu-ragu. Sayalah yang menghabiskan uang negara trilyunan itu. Saya sudah bosan hidup dalam pelarian,” katanya sambil menyerahkan kedua tangannya untuk diborgol. Seribu kamera wartawan TV membidik adegan itu. Sedetik kemudian TV-TV menyetop siarannya. “Breaking News!” orang-orang mematung, melihat adegan yang mengharukan itu. Tetapi belum sempat air mata menetes, acara itu telah berganti lawak. “Ha..ha..ha..! Ternyata Srimulatan, to ini tadi!”
Keesokan harinya lelaki bahu tanah itu datang lagi ke kantor Polisi. “Hai orang gila mau apa lagi!” bentak Polisi muda.
Lelaki tua itu tak memperdulikannya. Ia menunjukan poster pada Polisi yang berpostur tambum. “Ini adalah saya. Saya ingin menyerahkan diri. Tangkaplah!” katanya dengan nada bergetar.
“Haaaa…haaaa….haaaa…!” Polisi itu tertawa lebar, selebar-lebarnya. Teman-temanya yang tahu, segera ikut tertawa. Siang itu, siang yang paling aneh. Ada seorang datang menyerahkan diri dan mengaku sebagai boronan kelas kakap. Tak biasanya ada penjahat yang menyerahkan diri begitu saja. Aneh sekali. “Haaaa..haaaaa…haaa!” kantor Polisi itu menjadi riuh.
Kotapun juga riuh penuh gelak tawa seperti gedung Srimulat tahun 1970-an. Orang-orang tertawa mendengar cerita anekdot itu. “Adu pungguk merindukan bulan. Kasihan deh aku, istruku datang bulan,” kata seorang eksekutif muda yang baru saja menikah.
“Tidak nyambung, blas!”
“Seperti dagelan!”
“Dia berbakat jadi politikus!”
“Semestinya, kamu pergi ke panti jompo atau bunuh diri saja,” ledek Polisi yang berkumis, ketika hari perlahan-lahan gelap dan lampu-lampu kota berpendar, menyambut malam.
Orang-orang berlarian seperti berkejaran dengan gelap. Mobil berdesak-desakan. Klakson berteriakan. Lengkingan peluit Polisi tak pernah berhenti. Adzan magrib seperti muncul dari lorong-lorong gaip kemudian menghilang begitu saja. Orang-orang tak mendengarnya. Di telingannya tersumbat handfree. Mobil-mobil bergoyang ke kiri dan ke kanan mengikuti irama housemusic. Dua atau tiga mobil saja yang terbang, mengikuti alunan seruling Sunda yang mendayu-dayu. Setiap senja, orang-orang mempersiapakan upacara adatnya sendiri-sendiri. Mereka para pertapa agung di sudut-sudut mal-mal, di kafe-kafe, bar-bar, pub, atau karaoke. Mereka para penyembah dewa malam. Dewa para pemabuk.
Sementara, lelaki bau tanah itu, berjalan seperti bajaj. Dilihatnya poster yang masih dalam genggamanya. Diejanya huruf demi huruf. Tetapi ia tak pernah menemukan arti dari tulisan itu. Yang ia tahu dan yakin, bahwa foto itu adalah dirinya. Tapi bagaimana orang-orang mau tau bahwa ia adalah buronan yang dicari-cari sebelumnya?
Sejarahpun telah menimbun namanya. Anak-anak sekolah telah membaca sejarah dengan cara terbalik. Bahwa sejarah mencatat nilai-nilai luhur. Sejarah adalah riwayat orang-orang besar. Tidak ada gembel, pecundang yang masuk dalam catatan sejarah. Buku-buku sejarah tetap seperti situs-situs purba yang menyimpan rahasianya. Anak-anak tidak tahu di balik lipatan-libatan buku sejarahnya ada darah pengingkaran.
“Bakar! Bakar saja!” teriak Pemimpin Kota, melihat noda darah di buku-buku sejarah.
Maka ribuan buku dibakar. Otak anak-anak dibaycline sampai putih bersih dan tidak amis. Maka sejarah telah lenyap. Anak-anak dan juga jutaan orang di kota ini dibuatkan sejarah baru. Sejarah yang tidak menimbun bau anyir darah.
“Orang-orang sudah pada pikun dengan sejarahnya,” kata lelaki tua itu sembari menyandarkan tubuhnya pada tembok berlumut. Bau pesing menusuk hidungnya. Seekor kucing garong, melompat dari tempat sampah. Giginya yang tajam, menggondol orok bayi yang busuk, dibuntal tas plastik warna hitam.
“Generasi baru dimatikan. Dibuang di tempat sampah. Generasi lama dibiarkan terkapar dengan segunung dosa di pundaknya,” desah lelaki itu. Sesaat kemudian terdengar dengkurnya. Orang-orang kota masih dengan darahnya yang meluap-luap.
“Urip gur mampir ngombe!” teriak anak muda sembari menuangkan vodka ke sloki yang dibuat dari potongan botol air mineral.
***
Suatu hari, menjelang magrib, lelaki itu pergi ke masjid. Ditemuinya ta’mir masjid. Ia katakan padanya, bahwa ia ingin menyerahkan diri sebagai buronan. Tak lupa ia menyodorkan poster yang dibawanya.
Ta’mir yang sudah tua dan sering dipanggil Pak Haji itu, berkata sambil menutup hidungya. “Kalau mau menyerahkan diri bukan di sini tempatnya, Pak, tetapi ke kantor Polisi,” sarannya.
Di gereja, di pura, di vihara, ia deterima dengan saran yang sama. Dilembaga peradilan tertinggi ia malah disuruh bertaubat dulu dan kemudian pergi ke panti jompo, atau terkadang digelandang Satpol Pamong Praja ke Dinas Sosial. Di kantor-kantor media massa ia dimasukan di kolom anekdot dan dibuat tertawaan para pemirsa dan pembaca. “Seorang lelaki kere, ingin merubah sejarah bangsa besar!” kata pakar sejarah dan politik di kaca-kaca televisi.
Ibu-ibu menangis sesenggukan. Berita tentang lelaki tua tadi seperti cerita opera sabun. “Dia pasti akan menang di endingnya nanti,” komentar ibu rumah tangga sembari mengunyah popcorn kesukaannya sebelum iklan-iklan lain mempengaruhi seleranya.
Lelaki tua itu bingung, ia tidak tahu harus berserah diri pada siapa. Ia pergi menyusuri kota yang disergap gelap malam. Ia melihat orang-orang seperti hidup bahagia. “Apakah mereka juga orang suci?” tanya lelaki itu dalam hati.
Di sudut yang lain orang-orang saling membunuh, hanya untuk merebutkan recehan. Sementara di TV-TV menyiarkan aksi pembunuhan itu secara langsung. Pemuda-pemuda dan remaja tanggung bertepuk dada. “Keren abis!”
Di kantor Polisi lelaki tua itu kembali ditertawakan. “Memangnya apa yang Bapak perbuat?” tanya seorang Polisi, sembari menjalankan bidak caturnya.
“Korupsi,” kata lelaki itu bergetar.
“Seorang koruptor itu, paling tidak bertampang tegar. Tidak memelas. Pakai dasi. Bawa mobil berkelas. Datang ke Polisi di dampingi dua atau tiga pengacara bonafide. Gembel semacam engkau apa yang dikorupsi? Skak! Mati!” dua Polisi itu kembali tertawa.
Kini, hanya tinggal satu tempat yang bisa ia tuju, rumahnya. Rumah yang telah lama ditinggalkannya dengan seluruh isinya. Lelaki bahu tanah berjalan menuju rumahnya. Namun sebenarnya ia ragu-ragu, karena ia pun sudah lupa bentuk rumahnya. Yang dia ingat hanya kata-kata kenanga. Atau Jl. Kenanga.
Setelah berhari-hari berjalan, lelaki itu baru menemukan Jl. Kenanga. Sebuah jalan yang penuh dengan pohon bunga kenanga. Lelaki itu mereka-reka ingatannya. Tak satupun yang ia ingat. Hanya bau harum bunga kenanga itulah yang meyakinkan dirinya bahwa di jalan itulah ia pernah tinggal.
Dan mobil mewah itu masih berjajar-jajar di sepanjang jalan. Hanya saja orang-orang yang hilir mudik di jalan itu semua berpakaian serba hitam dan berkaca mata hitam. Ribuan wartawan dari koran dan televisi tampak bergerombol di depan pintu gerbang. Di sepanjang pagar rumah yang tinggi itu, berjajar karangan bunga ucapan duka cita.
“Siapa yang meninggal dunia?” tanya lelaki itu, pada seorang yang baru turun dari BMW seri terbaru. Orang itu hanya menjawab singkat : “Eyang!”
Lelaki tua itu melihat foto yang dihias dengan bunga beraneka warna, dipajang dekat pintu gerbang rumah. Foto itu seperti dirinya. Bahkan sangat mirip. Di bawah foto itu ada tulisan, ‘Telah Meninggal Dunia Eyang Kakung yang Tercinta, dalam usia 100 tahun. Semoga Arwahnya Diterima Di Sisi Tuhan YME.’
“Kalau dia telah mati, lalu saya ini siapa? Hidup dan mati ternyata begitu dekat. Dekat sekali!” kata lelaki itu, sembari membetulkan sarungnya yang persis kafan.
Surabaya, Desember 2006.
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel García Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati