Leila S.Chudori
http://majalah.tempointeraktif.com/
INI adalah sebuah suara dari “sebelah sana”. Setelah 32 tahun “mereka”— karena Orde Baru memaksa kita untuk membelah manusia menjadi “kita” dan “mereka”—dibungkam suaranya dan “dibunuh” kehidupannya, mereka “lahir” kembali melalui sebuah suara: buku.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Leila S. Chudori. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Leila S. Chudori. Tampilkan semua postingan
Rabu, 09 November 2011
Selasa, 13 September 2011
“juru peta” sastra Indonesia [Hans Bague Jassin]
“Buku-buku para Manifestan dilarang terbit dan beredar.” (H.B. Jassin)
Leila S. Chudori
http://majalah.tempointeraktif.com/
DI samping mendapat julukan “Paus” Sastra Indonesia, Hans Bague Jassin juga dipanggil administrator dan diktator sastra. Ia pernah memukul Chairil Anwar. Dihukum 1 tahun penjara gara-gara cerpen Langit Makin Mendung. Inilah orang yang telah menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Indonesia. Lahir di Gorontalo, 31 Juli 191 7, mendapat gelar doktor honoris causa dari Universitas Indonesia, juru peta sastra Indonesia yang tak pernah lelah.
Sebagian kisah hidupnya yang disampaikan lewat Leila S. Chudori ini adalah atas permintaan TEMPO. TANGGAL 2 September 1970. Pengadilan Negeri Istimewa Jakarta Pusat penuh sesak. Ada wartawan, seniman, ulama, mahasiswa, pelajar. Semua memandang saya. Hakim Ketua Anton Abdurrachman Putra, S.H. mengangkat mukanya dan bertanya, “Saudara Jassin, kapan Anda siap membacakan pembelaan Anda?” “Sekarang.”
Suara saya meluncur, tegas dan pasti. Hari itu juga saya memang mantap membacakan pembelaan cerpen Langit Makin Mendung karangan Ki Panji Kusmin. Sudah saya siapkan sejak keributan meletus di Medan, sepanjang 100 halaman, setelah cerpen yang dimuat di majalah Sastra itu beredar. Saya berdiri sambil membaca. Saya lihat Hamka, saksi yang memberatkan, mendengarkan dengan saksama.
Ruang pengadilan begitu hening. Seluruh ruangan hanya terisi oleh suara saya yang bergelombang dan penuh keharuan. Saya amat yakin bahwa dunia imajinasi dan kenyataan adalah dua hal yang berbeda. Dan hingga kini, saya tetap percaya bahwa imajinasi tak layak diadili dan disetarakan dengan dalil agama yang punya sejarahnya sendiri.
Hampir tiga jam saya membacakan pleodoi bagi imajinasi pengarang yang hingga kini belum pernah saya lihat batang hidungnya itu. “Apakah kita harus memaksa seniman mendiamkan hati nuraninya, membutakan matanya, menulikan telinganya, mematikan perasaannya, dan melumpuhkan pikirannya buat hal-hal yang terjadi di sekitarnya?” tanya saya dalam pembelaan itu. Akhirnya hakim menjatuhkan vonis 1 tahun penjara dengan masa percobaan 2 tahun bagi saya. Tapi hingga kini saya tak sempat mengalami pengapnya empat tembok mati itu.
Saijah dan Adinda Jika saya tengok ke belakang dan mengenangperistiwa demi peristiwa satu per satu, rasanya saya sedang membuka dokumen kehidupan. Lihatlah itu, si Jassin kecil yang sedang bermain-main di pekarangan di suatu sore pada 1924. Kala itu saya baru tujuh tahun. Kami berdua, Ibu dan saya, tinggal di Gorontalo. Kata Ibu, Ayah sedang bekerja di Balikpapan. Tapi kemudian saya ketahui bahwa mereka sedang berpisah untuk sementara. Tiba-tiba seorang tuan berdiri tegak di pekarangan. Ia mengenakan helm dan melangkah menghampiri saya. Dipeluknya tubuh saya. Saya memberontak minta dilepaskan. Ternyata, tuan itu adalah ayah saya. Rupanya, Ayah dan Ibu memutuskan untuk rujuk.
Hari-hari bersama Ayah kembali adalah hari penuh disiplin. Sebagai anak tunggal saat itu kakak perempuan saya, Hapsah, meninggal di Sangihe — saya diharapkan Ayah berhasil dalam pendidikan. Ayah saya sendiri seorang otodidak. Bacaannya sangat luas, dari fiksi hingga ilmu bumi dan alam. Meski ia bekerja di BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij) antara 1902 dan 1905, ia tidak memiliki ijazah HIS (Hollandsch Inlandsche School). Tapi karena bacaannya yang luar biasa, ia mampu ujian dan lulus Klein Ambtenaar Examen (ujian persamaan HIS). Mungkin karena itulah Ayah lebih menyukai saya belajar atau membaca buku daripada bermain.
Ayah benar-benar mengondisikan saya untuk terus-menerus akrab dengan bacaan. Tak jarang ia minta saya membacakan koran-koran berbahasa Belanda ketika ia beristirahat makan siang. Selain koran Belanda, Ayah juga berlangganan Suara PBI (Persatuan Bangsa Indonesia), majalah dari partai yang didirikan oleh dr. Soetomo. Itu sebetulnya terlarang bagi seorang kerani BPM yang baik. Lemari buku Ayah selalu saya buka. Saya lalap, termasuk yang terlarang. Bayangkan, Roos van Batavia dan Melati van Agam sudah saya baca, padahal itu bukan bacaan anak-anak.
Karya sastrawan Prancis, Eugene Sue, yang diterjemahkan dalam bahasa Belanda jadi De Verborgenheiden van Parijs (Rahasia-Rahasia Kota Paris) saya lahap pula. Ada lagi empat serial buku Sexuele Zeden in Woord en Beeld (Tingkah laku seksual dalam Kata dan Gambar) yang diam-diam saya nikmati pula …. Karena di kota saya tidak ada HIS, Ayah menyuruh saya berguru pada seorang istri kerani, teman Ayah. Dan ketika HIS didirikan di Gorontalo pada 1926, saya langsung masuk kelas 2. Kegemaran saya membaca buku kemudian ditunjang oleh fasilitas 2 macam perpustakaan: perpustakaan untuk anak-anak dan untuk umum.
Dari perpustakaan umum sering pula saya meminjam buku untuk Ayah. Pelajaran bahasa di sekolah itulah yang kemudian memperluas perhatian saya pada sastra. Ketika itu anak-anak HIS diwajibkan menghafal sajak-sajak Belanda dan membacakannya di muka kelas. Terkadang kami diperintahkan bercerita dalam bahasa Belanda. Maksudnya agar bisa bersentuhan langsung dengan bahasa tersebut tanpa terlalu dipagari tata bahasa. Kami juga belajar bahasa Melayu.
Buku bacaan bahasa Melayu kami yang pertama adalah Rempah-Rempah. Melalui bacaan ini saya masuk ke dalam dunia binatang yang mampu berkomunikasi. Baru kemudian, ketika saya sudah kuliah di Fakultas Sastra, saya ketahui bahwa cerita-cerita itu diambil dari Hitopadesya, buku sastra anak-anak yang sangat terkenal dan tersebar di banyak negara di dunia.
Buku lain yang melekat dalam diri saya ketika anak-anak ialah karya klasik Melayu tulisan Arab, Hikayat si Miskin. Ketika saya duduk di kelas 4 HIS, saya berkenalan dengan sebuah cerita yang di kemudian hari terus-menerus meringkus perhatian saya: Saijah dan Adinda.
Kepala sekolah membacakannya di muka kelas dengan mimik dan intonasi yang sesuai dengan tuntutan cerita. Saijah dan Adinda merupakan bagian dari roman besar Max Havelaar, sebuah roman serius karya pengarang Belanda, Multatuli. Saat itu kami belum dapat menangkap seluruh keindahan karya dalam bahasa Belanda itu. Tapi saya sudah dapat merasakan kesedihan yang diungkapkannya.
Seingat saya, di situlah saya jatuh cinta pada buku-buku sastra. Ketika suatu kali saya jatuh sakit, Ayah bertanya apa yang saya inginkan sebagai oleh-oleh. “Buku,” jawab saya serta-merta. Ia tersenyum dan pulang membawakan buku-buku penuh gambar. Meski saya sedang sakit, betapa bahagianya saya membaca buku-buku itu.
Ketika di HIS itu pula saya belajar menulis. Kami sering dibawa piknik oleh guru-guru, dan pulangnya diwajibkan menulis tentang perjalanan itu. Tulisan yang dianggap baik dibacakan di muka kelas. Dan, ah, si Jassin kecil ketika itu dikenal sebagai voorlezen, si tukang baca cerita yang baik.
Bayangkan, waktu itu saya baru kelas 4 HIS. Saya digandeng untuk membacakan cerita di muka anak kelas 5. Saat itu saya juga mencoba-coba menulis puisi. Lahirnya puisi ini karena kekaguman saya pada seorang gadis manis bernama Mastinah. Ia bersuara merdu dan pandai mengaji. Saya tidak mengenalnya, hanya melihat fotonya di album. Ada perasaan untuk berkomunikasi dengannya. Tapi saya tak tahu alamatnya. Maka, lahirlah puisi itu.
Bayangkan, ketika itu saya baru berusia 12 tahun. Tapi celaka. Ayah mencurigai saya. Saya sangat takut dan malu. Ketika itu saya tengah berlayar. Maka, cepat-cepat saya buang sajak itu ke laut. Waduh, sayang sekali …. Sekitar tahun 1933, saya mulai menginjak HBS Medan. Pengetahuan dan kecintaan saya terhadap sastra mulai menukik. Saya berkenalan dengan kesusastraan Belanda, Inggris, Prancis, dan Jerman. Saya harus membaca sekitar 24 buku sastra Belanda, dan untuk bahasa lainnya masing-masing delapan buku.
Saya menelaah buku-buku itu dengan intens, dari persoalan plot hingga karakterisasinya. Inilah perjumpaan awal saya dengan pelajaran evaluasi karya sastra secara akademis. Helai pertama dokumen kehidupan saya di HBS melontarkan saya pada kenangan seorang guru sastra Belanda, Korpershoek. Seorang yang gagah, menarik, dan bersuara bagus. Dialah yang memperkenalkan saya pada pendekatan kritik sastra dan cara mendalami karya-karya klasik. Dia pula yang memperkenalkan saya pada De Tachtigers Beweging, Gerakan 80-an di Belanda. Begitu kagum saya pada pengetahuan sastranya, hingga saya ingin membagi kesenangan saya dengannya.
Saat itu, saya sudah menikmati majalah sastra Pujangga Baru. Nama-nama Takdir Alisyahbana, Amir Hamzah, Armijn Pane, dan Sanusi Pane menumbuhkan kekaguman saya karena karya-karya mereka yang tak kalah dengan sastra Belanda. Maka, dengan penuh semangat, saya tunjukkan majalah itu kepadanya. “Tuan, kami juga memiliki Tachtiger Beweging di Indonesia.” Tapi si tuan hanya melirik dengan ekor matanya. Aduh, sakit hati saya dengan sikap guru yang saya kagumi itu. Rasa nasionalisme saya terpukul. Saya sangat mencintai tanah air dan bahasa saya. Kenapa ia tak menghargai karya sastra Indonesia? Sejak itulah saya bertekad bekerja penuh bagi sastra Indonesia.
Rupanya, kekecewaan terhadap Korpershoek ada hikmahnya, menumbuhkan tekad pada diri saya. Lembaran dokumen kehidupan saya selanjutnya adalah surat-surat Leila. Ah, mengingat Medan artinya mengingat Leila. Seorang gadis Tapanuli yang besar di Solok. Seorang gadis yang bertutur lembut dan penuh perhatian. Seorang yang memiliki senyum yang tetap mengikuti saya hingga ke Gorontalo. Saya bertemu dengan Leila di perkumpulan pemuda Inheemse Jeugd Organisatie. Saya sekretaris perkumpulan itu, sedangkan Leila anggotanya. Mulanya biasa saja. Di pertemuan-pertemuan itu, kami sering berbincang. Meski perhatian Leila tumpah pada saya, saya belum menyadari arti Leila hingga saya ke Gorontalo.
Hubungan kami lebih banyak melalui surat-menyurat. Surat-surat itu saya kirim dari Jakarta, karena pada 19 itu saya sudah pindah ke Jakarta, sementara Leila mengirimkan balasannya dari Medan. Surat-menyurat itu mengungkapkan perasaan-perasaan kami. Suatu hari di akhir 1941, ada ketukan di pintu rumah. Ah, senyum Leila mengembang. Kami pun mengisi pertemuan itu dengan jalan-jalan, naik perahu di Tanjungpriok di bawah sinar bulan.
Saat itu, kami belum membicarakan soal pernikahan. Yang saya ingat betul adalah “rasa senang”. Kemudian Jepang datang, dan hubungan kami pun terputus. Dan, ah, orangtuanya tak dapat menunggu keadaan yang tak pasti itu. Akhirnya, ia dikawinkan dengan orang lain. Hati saya runtuh. Itulah sebabnya, barangkali, saya tak terlalu bahagia untuk mengenang hal yang sudah lalu.
Jadi Wartawan Medan, bagi saya, juga mengingatkan pada seorang tokoh pers nasional, Adinegoro. Pada akhir 1930-an, semangat pemuda sedang meluap-luap menginginkan kemerdekaan. Ketika itu Adinegoro memimpin dua penerbitan, yaitu harian Pewarta Deli dan majalah Lukisan Dunia. Saat itu saya sudah 17 tahun dan mulai menulis di beberapa media, termasuk di dua penerbitan yang dipimpin Adinegoro itu. Namun, saat itu saya belum membahas sastra secara intens.
Satu-satunya esei yang saya tulis saat itu, tentang aliran romantik. Ketika saya duduk di kelas III HBS, timbul keinginan belajar jurnalistik. Saya ingin membuktikan kemampuan saya menulis. Kebetulan, saya libur dua bulan. Malam-malam, mata saya terbuka lebar memikirkan ide baru ini. Maka, esok paginya, dengan celana pendek, saya bergegas ke rumah Pak Adinegoro. Saya ketuk pintu rumahnya. Ia sendiri yang keluar mengenakan kimono. Rupanya, ia baru siap hendak mandi. “Saya ingin belajar jurnalistik dari Tuan.” “Wah, saya tak punya waktu. Tapi, kalau mau langsung praktek, datang saja ke kantor. Kau bisa belajar menerjemahkan berita-berita yang dikirim kantor berita asing, dan menyusunnya menjadi tulisan. Bagaimana? Kapan mau mulai?” “Sekarang, Tuan,” jawab saya mantap.
Hari itu juga saya berkenalan dengan dunia jurnalistik. Dimulai dari menerjemahkan macam-macam berita dari kantor berita Aneta (yang kemudian menjadi Antara), kemudian belajar memperbaiki dan mengedit hasil laporan wartawan. Saya juga belajar membuat reportase, stenografi, dan sekaligus memotret. Lama-kelamaan saya dipercaya ikut menonton review film-film baru. Karena saya lagi magang, saya tak mendapat gaji. Tapi saya merasakan manfaat jurnalistik yang luar biasa. Terlebih lagi setiap kali tulisan saya dimuat, saya mendapatkan honorarium satu ringit — jumlah yang besar pada masanya.
1939 Masa HBS usai. Sebuah telegram dari Gorontalo dan kiriman uang 75 gulden menginginkan kedatangan saya. Dalam perjalanan pulang ke Gorontalo, saya mampir di Batavia, menginap di rumah keluarga Daud di kawasan Petojo. Saya ajukan keinginan saya yang sangat, untuk bertemu dengan Sutan Takdir Alisjahbana, seorang sastrawan yang namanya sudah menjulang saat itu.
Pertemuan pertama mengesankan. Kami berbicara, berbicara, dan berbicara. Kami sama-sama saling melontarkan pendapat tentang majalah Pujangga Baru, tentang kesusastraan, dan tentang bahasa. Bahkan, kami sudah sempat terbelit dalam sebuah perdebatan. “Bahasa Belanda lebih enak digunakan dibandingkan dengan bahasa Indonesia? Tidak,” kata Takdir dengan tegas dan mata berkilat.
Kilat mata yang masih terus terlihat hingga kini di usianya yang sudah mencapai 82 tahun. Saya bersikeras bahwa bahasa Belanda lebih enak di lidah. Ketika saya berlayar menuju Gorontalo, sesuatu yang lucu terjadi. Rupanya, surat Takdir juga ikut berlayar di kapal yang sama — begitu saya mendarat, saya menerima suratnya. “Di Balai Pustaka ada lowongan untuk pendidikan Hoofdredacteur (pimpinan redaksi). Jika Tuan berminat, datanglah,” bunyi surat itu.
Namun, kegembiraan saya akan tawaran itu harus saya tunda karena keinginan Ayah yang berlainan. Saya harus tinggal beberapa lama di Gorontalo, untuk magang di kantor asisten residen. Sebuah pekerjaan yang tak pernah saya bayangkan. Mengayuh sepeda, bermandi peluh pulang-pergi kantor. Dan setiap akhir bulan, saya hanya menonton rekan-rekan pegawai menghitung lembaran gaji mereka. Tapi, tentu banyak juga yang saya pelajari di kantor ini. Antara lain, bagaimana caranya berkorespondensi yang baik dan melakukan pengarsipan.
Rupanya, kerja administratif inilah yang kemudian membekali saya belajar mendokumentasikan karya-karya sastra di kemudian hari. Tapi, saya merasa itu bukanlah tempat saya. Saya lelah. Dan saya harus ke Batavia untuk bekerja di Balai Pustaka. Ketika akhirnya saya sampaikan keinginan yang tak tertahankan ini, Ayah tak membantah. Maka, saya pun berlayar kembali ke Batavia. Batavia Pagi hari, 1 Februari 1940.
Di kantor redaksi Balai Pustaka, Takdir mengerutkan keningnya, “Tuan siapa?” tanyanya memandangi pemuda berjas dan berdasi yang berdiri di hadapannya. Saya tunjukkan suratnya setelah berlayar bersama saya ke Gorontalo, barulah wajah Takdir mengembangkan senyum, “Ah, ya, ya, ya….” Hari itu juga, saya duduk bersama-sama. Tulis Sutan Sati, Armijn Pane, Aman Dt. Modjoindo, Nur Sutan Iskandar, dan, tentu saja, Takdir Alisjahbana. Saya segera ikut dalam tim untuk meresensi buku-buku yang kemudian dikirimkan ke berbagai media.
Resensi ini saya lakukan dengan sungguh-sungguh. Dan semangat saya mendokumentasikan tulisan-tulisan itu baru terlihat gunanya kemudian ketika semuanya dikompilasikan menjadi Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei yang kemudian mencapai empat jilid. Armijn juga sangat bersemangat memperkenalkan saya kepada banyak pemikiran Barat. Terutama dengan Freud, nama yang begitu banyak mempengaruhi penulisan Armijn dalam romannya, Belenggu, karya sastra Indonesia pertama yang menggunakan segi psikologi dalam.
Armijn juga menganjurkan saya membaca buku-buku filsafat. Begitu lengkapnya perpustakaan Balai Pustaka, hingga saya berkesempatan menjelajahi pemikiran-pemikiran Schopenhauer, Nietzsche, dan beberapa pemikir eksistensialis. Saya mempelajari intensitas hidup Nietzche melalui karyanya Also Sprach Zarathustra. Inilah pemberontakan terhadap moral dan pendidikan di Eropa yang saat itu dibelit oleh doktrin agama Kristen.
Lalu, saya baca pula Schopenhauer. Dia bertentangan dengan Nietzsche. Dunia ini maya, demikian Schopenhauer. Tidak, tolak Nietzsche, dunia ini bukan impian. Dunia ini kita. Manusia. Kitalah yang memutar dunia ini. Sementara itu, eksistensialisme mendarat di Indonesia sekitar tahun 1945. Saya pun berkenalan dengan Sartre, Camus, juga pemula-pemulanya.
Tentu saja, tak hanya pemikiran Barat yang saya geluti masa itu. Saya juga membaca filosof India, seperti Krishnamurti. Kebetulan, waktu itu saya bergabung dalam perkumpulan teosofi Blavatsky Park. Apa yang saya dapatkan dari teosofi? Perasaan bebas. Kebebasan. Suatu perasaan yang amat langka didapatkan dan diberikan. Satu hal yang saya ingat ialah: janganlah kita memaksakan anak-anak kita untuk menjadi apa yang kita kehendaki. Kenapa? Lihatlah alam sekitar kita. Begitu ragam pohon-pohon yang bertumbuhan di sekeliling kita. Ada pohon kelapa, ada pohon mangga, dan yang lain-lain. Mereka semua tumbuh secara alami menurut kodratnya. Tak bisa kita paksakan pohon-pohon ini menjadi pohon yang kita kehendaki. Jalan pikiran ini sangat meresap ke dalam diri saya.
Selain kebebasan, saya juga belajar menemukan diri sendiri. Saya belajar membebaskan dan menempatkan diri dalam hidup ini. Saya belajar banyak dari perkumpulan ini. Jadi, inilah dokumen kehidupan saya di tempat saya mengembara dalam berbagai alam pemikiran. Dari kiri, kanan, utara dan selatan. Saya larut di dalamnya, tapi terlepas dari pertentangan-pertentangan di antara mereka. Karena itu, semua pertentangan di antara berbagai pemikiran filsafat itu tetap harmonis dalam diri saya. Karena sikap saya pada pemikiran-pemikiran ini tak lepas dari keinginan untuk mempelajari perkembangan zaman.
Saya tak ingin seperti Sutan Takdir yang, menurut saya, tak mau menghargai perkembangan-perkembangan generasi muda. Misalnya sikap Takdir yang sulit sekali menghargai penemuan-penemuan dalam sajak-sajak Sutardji Calzoum Bachri. Selain sikap ingin mengikuti perkembangan zaman, keharmonisan dalam diri ini juga didukung oleh penghayatan saya terhadap isi Al Quran.
Rasanya, pemikiran Barat mana pun tak akan mengganggu religiusitas saya. Ini adalah sebuah proses penghayatan yang sangat berbeda. Saya sangat yakin bahwa apa yang tersebut dalam Al Quran itu adalah ayat-ayat yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad. Lihatlah, isinya begitu luas. Begitu tinggi. Begitu dalam. Dan bahasanya sangat indah. Tak ada satu bagian pun yang kurang dari bagian yang lain dalam kebenaran dan keindahannya.
Jadi, biarlah Nietzsche mengatakan “Tuhan telah mati”, atau Lekra memaki-maki saya. Tapi, isi tubuh dan batin saya sangat penuh dengan keyakinan saya pada ayat-ayat Allah. Chairil Anwar Seperti halnya dengan Leila, pertemuan saya dengan Chairil terjadi di perkumpulan kami di Medan. Bedanya, saya sudah melihat nama Chairil tercantum sebagai anggota redaksi Ons MULO Blad. Tulisan-tulisan Chairil, masa itu, berbentuk prosa. Saat itu Chairil baru 14 tahun, sedang saya lima tahun lebih tua.
Di perkumpulan kami yang mengorganisir kegiatan perpustakaan dan olahraga, saya bertemu dengan tubuh kurus itu. Ia senang sekali bermain pingpong. Ia selalu yakin pasti menang. Setiap kali mengalahkan lawan, Chairil berjingkrak, menjerit-jerit, dan bertepuk tangan. Tingkah laku inilah yang menarik perhatian saya. Ah, jadi inilah Chairil Anwar, pikir saya.
Perkenalan saya dengan Chairil selanjutnya terjadi di Batavia. Buat banyak orang, terutama para peminat sastra, mungkin ini satu dokumen yang terpenting dalam hidup saya. Ketika itu Jepang sudah masuk. Saya dipindahkan ke majalah Panji Pustaka yang dipimpin Armijn Pane. Sedangkan saya menjabat wakil pemimpin redaksi. Saat itu saya juga sedang getol menjelajahi toko buku Van Dorp dan kawasan Senen mencari buku-buku bekas.
Buku-buku itu saya kumpulkan karena saya mulai punya keinginan untuk membangun perpustakaan sendiri dan tidak bergantung pada perpustakaan Balai Pustaka belaka. Saya ingat, di antara banyak buku yang saya beli setiap saya terima gaji itu ada tiga buku bahasa Jerman yang saya sukai. Yang pertama berjudul Naturalismus, yang mengulas aliran naturalisme yang kedua Um Banne des Expressionismus yang berbicara tentang ekspresionisme. Sedangkan yang ketiga, Neue Sachlichtheit, yang mendiskusikan kesederhanaan baru.
Saya sangat tertarik pada ekspresionisme yang lebih langsung menyuarakan batin. Berbeda dengan naturalisme yang memberikan segala detail tentang pikiran dan kenyataan dari kelahiran hingga kematian.
Suatu siang, di sekitar 1943. Saya sedang duduk mengamati naskah, ketika seorang kurus, bermata merah, dan berambut kusut memasuki Balai Pustaka. Disodorkannya kertas-kertas itu. “Nih, sajak saya,” kata pemuda kurus itu yang tiada lain dari Chairil Anwar, dengan suara lantang. Nisan untuk Nenekanda Bukan kematian benar menusuk kalbu Keridlaanmu menerima segala tiba Tak kutahu setinggi itu atas debu dan duka maha tuan bertakhta.
Saya tatap wajah kurus dan mata merah itu. Sepasang mata galak yang nyala dan sarat dengan keinginan. “Bagus sekali,” kata saya. Lalu kami mulai membicarakan sajak yang ditulis pada Oktober 1942 itu. Itulah perkenalan saya yang lebih erat dengan Chairil Anwar. Saya usulkan sajak itu dimuat di Panji Pustaka. Namun, Armijn menolaknya karena individualisme Chairil yang terlalu dikedepankan. Padahal, saat itu Jepang sedang sibuk menjejalkan slogan kebersamaan Asia Raya. Dan, menurut Armijn, elemen kebaratan Chairil yang tampil jelas dalam sajaknya tidak tepat dimasyarakatkan. Ini sangat saya sayangkan. Saya merasa sajak Chairil perlu diketahui publik.
Belakangan saya ketik sajak-sajaknya yang berjumlah 20 buah itu rangkap enam. Saya sebarkan pada Takdir, Mohammad Said, Sutan Sjahrir (yang tiada lain paman Chairil) dan teman-teman lain, sedang aslinya saya simpan. Suatu hari Chairil menelepon. “Jassin, aku minta sajak-sajak asliku. ” Saya tanyakan buat apa ia meminta kembali sajak tulisan tangannya itu, karena saya ingin menyimpannya sebagai dokumentasi. “Kau juga untuk apa menyimpan-nyimpan? Itu sajak kan aku punya.” Saya jawab, “Kalau demikian maumu, baiklah.” Sajak tulisan tangan itu saya kembalikan.
Tapi sampai sekarang saya masih menyimpan sajak-sajak tulisan tangan Chairil yang lain. Kenapa saya begitu mempertahankan kelebihan sajak-sajak Chairil? Saya melihat pengaruh ekspresionisme dalam karyanya. Lihatlah baris-baris yang terdiri dari satu atau dua kata dalam sajak yang berjudul 1943: Mengaum! Mengguruh! Dalam buku Drift en Bezinning (Nafsu dan Pengendapan) yang berbicara mengenai persajakan dalam kesusastraan Belanda, diulas sajak-sajak yang harus melalui proses pengendapan dan sublimasi.
Saya kira sajak-sajak demikianlah yang mewarnai karya Chairil. Bait-baitnya tak hanya sekadar letusan-letusan saja. Ia tak akan pernah puas dengan sajak yang sekali jadi. Berhari-hari ia bisa berjalan dengan satu kata, lalu dikombinasikannya dengan kata lain. Ia pikirkan. Ia rasakan. Ia matangkan. Semua harus melalui proses pengendapan yang lama sekali. Kesan saya ini juga semakin kuat ketika terjadi insiden yang tak pernah saya lupakan.
Di tahun yang sama, Jepang mendirikan sebuah pusat kebudayaan. Sementara itu, dengan terbentuknya Himpunan Sastrawan Angkatan Baru, Armijn Pane dan kawan-kawan lain sering mengadakan diskusi sastra. Dalam diskusi itu saya mendapat giliran pertama berceramah. Pada waktu itu, saya masih agak terpengaruh oleh slogan Jepang yang menekankan segalanya untuk Asia Timur Raya. Saya katakan bahwa kita harus memberikan semangat perjuangan melalui karya sastra. Yang saya sebutkan sebagai contoh adalah sajak-sajak Ipih Hadi atau Asmara Hadi. Apa yang terjadi? Malam itu juga Chairil mengejek. “Itu semua cuma teriakan-teriakan. Semua orang juga bisa bikin sajak seperti itu.” Dia lantas melompat ke papan tulis. “Inilah contoh sebuah sajak,” katanya lantang.
Aku. Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang…. Terjadi perdebatan panas. Chairil menganggap sajak yang saya jadikan contoh tidak jujur keluar dari hati penciptanya. Lama-kelamaan saya terdiam juga dan mulai melihat kebenaran Chairil. Saya sangat menyesal telah membuat ceramah seperti itu. Rosihan Anwar yang saat itu hadir memberi komentar melihat sepak terjang debat Chairil, “tapi kalau Saudara bersikap seperti itu, bisa mati digebuk orang . . . ” Chairil dengan “keakuan”-nya memang menunjukkan ketakpeduliannya.
Buyung Saleh bahkan mengatakan sikap Chairil dalam sajaknya tak baik dan itu hasil dari orang yang tak mau berpikir panjang. Sajak Chairil yang dianggap individualistis ini ditolak oleh harian Asia Raya karena dianggap tidak sesuai dengan cita-cita Asia Timur Raya ketika itu. Akhirnya sajak Aku dimuat di Panji Pustaka. Namun, judulnya terpaksa diganti jadi Semangat. Buat saya, hal itu justru merusak identitas sajak itu sendiri, yakni keindividuannya.
Persahabatan saya dengan Chairil berlangsung terus. Dia memang tidak punya pekerjaan tetap. Dia memilih mengabdi pada seni. “Jassin, dalam kalangan kita sifat setengah-setengah bersimaharajalela benar. Kau tentu tahu ini. Aku memasuki kesenian dengan sepenuh hati . . . ,” demikian tulis Chairil pada saya dalam perjalanannya ke Jawa Timur, 8 Maret 1944.
Chairil sering gelisah dengan sajak-sajaknya. Setiap kata dipikir dan ditimbangnya benar. “Jassin prosaku, puisiku juga, dalamnya tiap kata akan kugali-korek sedalamnya, hingga ke kernword kernbeeld . . . ,” katanya dalam kartu pos dari Paron, Jawa Timur. Chairil datang mengunjungi rumah saya atau kantor, keluar-masuk semaunya saja. Tingkah lakunya sangat seenaknya. Dia akan mengangkat kaki dan berbicara begitu lantang ketika mengkritik orang.
Pengarang-pengarang tua seperti Dt. Modjoindo dan Tulis Sutan Sati banyak yang tak menyukai sikapnya. “Siapa anak muda yang bertingkah seperti itu?” Memang tak mudah untuk menyenangi tingkah laku Chairil. “Gantung saja dia,” kata Dt. Modjoindo dengan muka sebal. Bila dia masuk ke rumah, dan saya tak ada, dia akan meminjam buku-buku atau mesin ketik saya. Ada yang dikembalikan dan ada pula yang tidak, misalnya Belenggu. Saya kesal buku-buku ini tak kembali, karena saya sudah memberi catatan-catatan di pinggirnya.
Terkadang dia datang naik becak, dan dia minta saya membayarnya. Atau dia akan menunjukkan sajak-sajaknya lalu bercerita bahwa pamannya, Sjahrir, tak menyukai sajaknya Diponegoro. Padahal, menurut saya, itu adalah salah satu sajaknya yang menunjukkan bahwa ia juga seorang yang patriotik. Tapi ia gelisah juga jika dikritik pamannya.
Tahun 1945, ketika kami menerbitkan majalah Pantja Raja sebagai pengganti Panji Pustaka, sajak-sajak Chairil mulai bertaburan. Namanya menjulang tinggi. Dan Chairil tetap tak pernah berubah. Aksi militer pertama meletus. Kami semua keluar dari Balai Pustaka, dan jadilah saya penganggur. Tapi itu hanya berlangsung sebentar, karena Anjar Asmara mengajak saya bekerja di Mimbar Indonesia.
Suatu hari, di ruang redaksi, pelukis Baharuddi mengatakan ada sesuatu yang mengejutkan saya. “Menurut Taslim Ali, ada kemiripan antara sajak Krawang-Bekasi karya Chairil dan The Dead Young Soldiers tulisan Archibald MacLeash.” Saya sempat kecewa juga mendengar pernyataan ini, meskipun saat itu saya belum pernah membaca sajak MacLeash. Tapi saya tetap bertanya-tanya, kalau pun itu sajak plagiat, kenapa bisa begitu bagus. Apakah memang sajaknya yang bagus atau terjemahannya yang bagus? Terjadilah debat di antara kawan-kawan. “Ini bahasa Chairil. Tak mungkin sajak ini hasil plagiat. Rasa hidup yang tercermin dalam Krawang-Bekasi adalah rasa hidup Chairil,” kata pengarang Balfas yang menyenangi karya-karya Chairil. Saya masih bertahan pada keraguan.
Saya pikir, kalau pun ada persamaan, saya rasa tak mungkin sajak itu jiplakan. Ketika suatu kali sajak The Dead Young Soldiers tiba di meja saya, saya perhatikan dengan saksama. Ternyata, ada beberapa perbedaan yang mendasar antara kedua sajak itu. Lihatlah, kata-kata dalam sajak Chairil begitu bagus dan gambarannya lain sama sekali dengan sajak MacLeash. Memang mereka membicarakan hal yang sama. Tapi kalaupun orang mengklaim Krawang-Bekasi adalah sajak terjemahan, ya sebenarnya tidak juga. Saya merasa bahwa sajak ini sungguh-sungguh sesuatu yang dirasakan Chairil Anwar. Katakanlah, sajak MacLeash itu adalah katalisator untuk penggerak dan penciptaan Krawang-Bekasi.
Akhirnya saya menyetujui pendapat Balfas. Oleh karena pengungkapan sajak Chairil ini lain, sajak ini tetap Chairil. Saya tak mengatakan sajak itu asli Chairil. Saya tetap menunjukkan ia dipengaruhi sajak MacLeash, tapi Krawang-Bekasi tetap punya pribadi sendiri. Chairil bukannya manusia yang tidak butuh uang. Suatu kali ia memang membutuhkannya. Lalu ia menerjemahkan sajak pujangga Tiongkok Hsu Chih-Mo, dengan judul Datang Dara Hilang Dara. Dan dicantumkannya namanya sendiri. Dan inilah yang membawa kami pada suatu perkelahian.
Saat itu tahun 1949, saya sedang bermain sandiwara di Gedung Kesenian Jakarta. Di belakang layar, saya duduk dan mencoba memasuki sebuah peran. Malam itu saya bukan Jassin. Saya adalah seorang mantri yang bekerja pada seorang apoteker. Rosihan Anwar yang berperan sebagai apoteker itu menyimpan keinginan untuk menghancurkan musuh dengan alat peledak penemuannya. Dan saya, dalam peran itu, mengetahui rahasia ini. Tapi saya tak boleh membuka mulut. Ini semua sudah diatur dalam lakon Api karya Usmar Ismail yang juga menyutradarai sandiwara ini.
Sementara saya duduk meresapi peran itu, tapi hei, kenapa si kurus itu lalu-lalang di muka saya? “Hmh . . . ,” dia mencibir. Dan segera berkelebat ingatan saya pada tulisan terakhir saya di Mimbar Indonesia berjudul Karya Asli, Saduran dan Plagiat. Dan saya segera tahu arti cibiran itu. Meski saya membela Krawang-Bekasi, tak pelak Chairil merasa tersindir dengan tulisan saya itu. “Kamu cuma bisa menyindir saja! Tak ada yang lain!” teriaknya. Saat itu saya sudah telanjur menghayati tokoh mantri yang tertekan. Dan hati saya jadi panas. “Saya juga bisa lebih dari itu!” kata saya.
Dan buktinya . . . buk! Saya tumbuk dia. Tubuh kurus itu terpelanting. Orang-orang berkerumun. “Ada apa?” teriak Usmar Ismail. Dan layar siap terangkat. “Jassin memukul Chairil,” teriak yang lain. Kami dilerai. Chairil didorong keluar. Nyata sekali ia kaget, karena selama ini saya sangat jarang berbicara dan hampir tak pernah marah. Kawan-kawan pun tercengang, bagaimana seorang Jassin yang begitu penyabar bisa memukul Chairil?
Layar terbuka. Babak demi babak dimulai. Dan ternyata Chairil menonton dan duduk tepat di muka sekali. Semula saya tak memperhatikannya. Tapi saya lihat ia menunjuk-nunjuk saya…. Beberapa waktu kemudian, saya dengar ia suka ke Taman Siswa tempat Affandi biasa melukis. Eh dia latihan angkat besi. Tubuh kurus itu belajar angkat besi. “Aku mau pukul si Jassin,” katanya. Dan suatu sore dia muncul di ruang tamu. Saya bersiap menghadapinya.
Tapi tiba-tiba, “Jassin, saya lapar,” dengan gayanya yang biasa. Gaya Chairil …. Jumat pagi, 26 April 1949. Di atas delman dengan Takdir, kami ikut iring-iringan pemakaman Chairil menuju Karet. Di Karet, di Karet (daerahku yad.) sampai juga deru angin. Beraninya ia mengatakan itu dalam sajaknya, jauh sebelum ia meninggal. Saya kagum pada keberanian itu. Tak pernah saya berani membayangkan daerah di mana saya terbujur nanti.
Pada usia 27 tahun ia sudah berbaring tanpa nyawa. Dan kematiannya ini digunakan oleh kaum republiken untuk memperlihatkan persatuan dan solidaritas. Berbondong-bondong kami mengiringi penyair itu ke Karet.
“Paus” Sastra Indonesia Apa beda Angkatan 45 dengan Angkatan 66?
Memang benar, secara estetika, karya Angkatan 45 dengan 66 tak banyak berbeda. Namun, saya melihat segi sejarah dan politik yang begitu kuat. Bagi saya, timbulnya suatu angkatan selalu harus disertai unsur estetika, politik, dan sejarah. Apakah orang tidak menyetujui atau mengkritik pandangan saya, hal itu saya anggap sebagai pendapat yang lain. Yang jelas, saya mendapat beragam Julukan pada awal 1950-an — karena ada yang menganggap pengaruh saya terlalu besar dalam kesusastraan Indonesia. “Lihatlah pilihan Jassin dalam Gema Tanah Air. Berapa sastrawan yang dipilih itu masih hidup?” tanya Gayus Siagian menanggapi prasaran saya dalam Simposium Sastra Indonesia pertama.
Gayus menganggap pilihan saya tak bernilai, tapi toh “sastrawan selalu senang jika sudah disebut-sebut Jassin,” katanya. Karena ia menganggap saya begitu berkuasa, ia menjuluki saya “Paus Sastra Indonesia”. Nama ini bukanlah sebuah pujian, tetapi kritik untuk saya. Di dalam majalah Siasat Balfas mengatakan bahwa saya bukanlah seorang kritikus sastra yang baik karena ulasan saya kekurangan gagasan. Kritik sastra saya, menurut Balfas, lebih banyak memperhatikan banyaknya penerbitan daripada nilai-nilai buku itu sendiri.
Dan bagi Balfas, saya tak lain seorang administrator karena saya tukang mengumpulkan dokumen dan buku-buku. Tak lama kemudian, eseis Rustandi Kartakusumah menjuluki saya sebagai seorang diktator. Katanya, apa yang saya katakan selalu langsung saja diterima orang dan saya mempergunakan kepercayaan orang-orang itu dalam menilai sastra. Saya tak tahu kenapa Rustandi yang juga berusaha menulis sajak itu harus berpendapat seperti itu. Yang saya tahu, saya memang tak selalu menyukai sajak-sajaknya.
Pekerjaan seorang kritikus adalah menilai. Kita harus bisa menilai sebuah karya sastra dengan perasaan dan sejumlah kriteria. Jika tidak, maka nilai kritik itu tak akan bisa bertahan. Apa pun yang dikatakan Balfas tentang ulasan sastra saya, toh buku-buku saya masih dipakai oleh anak-anak SMA dan mahasiswa fakultas sastra. Orang-orang masih mengutip pendapat yang saya ucapkan 20 atau 30 tahun yang lalu. Saya sendiri heran. Mungkin ulasan saya lontarannya cukup jauh ke depan. Saya tidak sekadar asal ngomong ketika membicarakan karya-karya sastra. Selain saya ingin kritik saya bernilai, saya cukup berhati-hati untuk tidak menyakiti orang.
Pernah juga saya bertanya-tanya pada diri saya tentang kritik saya. Tapi ternyata saya lihat sastrawan pilihan-pilihan saya itu bisa survive. Seperti Amir Hamzah yang saya namakan Raja Penyair Pujangga Baru dan Chairil Anwar yang saya namakan Pelopor Angkatan 45. Dulu saya mengkritik beberapa tulisan, hingga orang yang dikritik itu “mati”. Akibatnya, saya malu bertemu dengan penulisnya. Saya kira sekarang, saya lebih diplomatis dan menonjolkan segi positif karya seseorang.
Jika saya tak membicarakan karya penulis, itu karena tulisannya memang tak baik atau saya sendiri tak mungkin membicarakan semua karya. Metode saya mengkritik juga sering dianggap tidak ilmiah. Saya memang khawatir jika menganalisa sebuah karya sastra dengan pendekatan yang terlalu ilmiah. Saya sangat mementingkan perasaan ketika membaca. Tapi toh saya bisa menghargai kritikus lain yang menggunakan pendekatan ilmiah, misalnya Subagio Sastrowardoyo dan Sri Rahayu Prihatmi. Mereka memang ilmiah, tapi tetap mementingkan kemanusiaan sebuah karya. Mereka menggunakan ilmu sastra, tetapi toh tetap menghargai keharuan.
Ditinggal Arsiti Bukan Leila dari Medan saja yang pernah menghampiri hati saya. Dalam lembaran-lembaran dokumentasi kehidupan saya, ada nama-nama Tine de Bruin, Rumi, Arsiti. Tine de Bruin, seorang perempuan Indo Belanda berkulit putih bersih dan berambut pirang. Jika saya memang mengawininya, bukan karena saya mencintainya. Saya sangat membedakan arti cinta, sayang, nafsu, dan kasihan. Saya iba pada Tine karena nasib yang menimpanya.
Ketika saya mulai berkenalan dengannya Tine di pertengahan 1944, suami Tine ditangkap Jepang. Sejak itu ia harus mengurus kedua anaknya sendiri dari nafkah yang ia dapat dari bekerja sebagai pelayan restoran. Kami memang dekat, tak lepas karena perasaan iba saya kepadanya dan anak-anaknya. Tahun 1946, suatu malam. seorang wanita berparas sederhana mengetuk pintu rumah. Ia datang untuk melamar pekerjaan. Kebetulan pula, saya sedang mencari seseorang yang dapat membantu pekerjaan saya. Maka, ia, Arsiti, saya terima bekerja di rumah.
Arsiti memang tidak berpendidikan tinggi, tapi ia mau belajar. Selama membantu di rumah, ia mengerti kecintaan saya pada buku-buku. Dia juga mengerti tingkah laku kawan-kawan saya, seperti Chairil, yang nyelonong masuk ke rumah dan meminjam buku atau menyantap makanan saya. Secara alami, Arsiti dan saya menjadi sepasang kekasih. Dan kami memutuskan untuk menikah.
Tak terkatakan betapa bahagianya ketika anak kami yang pertama, Hannibal, lahir pada 27 Mei 1947. Suatu malam, 1962, Arsiti mengeluh sakit perut. Mukanya pucat dan badannya panas. Ia berjalan ke serambi seperti setengah tak sadar. Disentuhnya pinggiran kursi. Ia masuk ke kamar lagi dan menatap wajahnya sendiri di muka cermin. Disentuhnya pipinya dan berkata, “Aku sehat, kan? Aku sehat, ya. . . ?” Kemudian ia berjalan ke sana kemari dengan gelisah. “Sebetulnya saya tak rela meninggalkan semua ini,” katanya. Jadi, ia sudah punya firasat.
Suasana di rumah terbangun seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Saya merasa ada suara dari dunia lain yang merasuki telinga saya. Esoknya, saya bawa ia ke rumah sakit. Dan sore itu dia meninggal. Kami mengadakan pengajian sampai malam ketujuh. Kami kirimkan doa-doa untuk Arsiti. Malam kedelapan pengajian usai. Dan saya kesepian. Padahal, saya tetap ingin mengirimkan doa itu pada Arsiti. Lalu, timbullah keinginan untuk bisa mengerti apa yang saya baca. Maka, selama itu, setiap kali saya membaca dan meresapi ayat-ayat Al Quran, saya merasa Arsiti tetap hadir dalam kehidupan saya.
Sepertinya ia masih ada dan tetap berkomunikasi. Ketika ia sakit, ia pernah ngompol. Dan sampai ia meninggal, saya tak ingin mengganti sepreinya. Bau pesing itu menjadi nikmat buat saya…. Desember, sembilan bulan setelah Arsiti meninggal Lily — istri saya yang sekarang — sudah sering datang. Ia masih keluarga saya juga dan kami sudah lama saling kenal. Kami pun menikah pada 16 Desember 1962.
Pramudya dan Lekra
Saya sudah mengenal Pramudya Ananta Toer sejak 1946 ketika ia mengirimkan cerpennya ke Pantja Raja. Judulnya Ke Mana. Setahun kemudian ketika ia ditahan karena agresi militer Belanda, kami masih tetap berhubungan karena ia selalu meminjam buku-buku melalui Prof. Resink. Ketika ia bebas dari penjara pada 1949, hubungan kami tetap baik. Sebagai pengarang, Pram sangat produktif dan karya-karyanya yang baik bermunculan di berbagai majalah. Biasanya sebelum diterbitkan, karya-karyanya ditunjukkannya pada saya. Misalnya Mereka yang Dilumpuhkan dan Perburuan.
Pada 1953-54 Pram diundang oleh Sticusa (Stichting Culturele Samenwerking), atau Yayasan Kerja Sama Indonesia-Belanda, ke Belanda. Ternyata, di sana ia mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan, sehingga waktu setahun itu tak dihabiskannya. Dalam keadaan frustrasi, ia kembali ke Tanah Air. Dan rupanya rasa frustrasi ini ditampung oleh Lekra. Ia diberi kesempatan berbicara di depan umum dan mengajar kesusastraan dan sejarah di Universitas Res Publika — yang sekarang menjadi Universitas Trisakti.
Jika ada undangan-undangan ke luar negeri, Lekra mengirim Pram sebagai pemimpin rombongan. Dan tentu saja ia harus menyuarakan kecenderungan politik Lekra. Saat itu terlihatlah sikapnya yang sudah kekiri-kirian. Sementara itu, redaksi Sastra selalu dikritik bahwa karangan yang dimuat tak memperlihatkan kerakyatan dan terlalu memihak pada kaum majikan. Kecaman semakin gencar dilancarkan melalui ruangan sastra Lentera di surat kabar Bintang Timur. Pengasuh ruang ini Pram sendiri.
Cerpen-cerpen, esei, dan sajak yang dimuat di situ sifatnya sangat agresif dan menghantam kiri-kanan. Seingat saya tidak banyak karya yang dimuat itu memiliki nilai sastra yang tinggi. Bagi saya ini bukan hal yang baik bagi sastra dan kemanusiaan itu sendiri, karena penekanannya menjadi politis.
Bayangkan, semua tulisan yang bagi mereka tak searah dengan aliran realisme sosial dihantam terus-menerus, baik yang dirnuat di majalah Sastra maupun media lainnya. Melihat sikap keras saya, Lekra berusaha dengan berbagai cara mempengaruhi saya. Pram pernah datang ke rumah. “Bung Jassin, sebenarnya rekan-rekan saya ingin menyerang Bung Jassin habis-habisan. Tapi saya yakinkan bahwa saya bisa bicara empat mata dengan Bung Jassin tentang bagaimana kita melihat sastra. Bung Jassin tak sadar sekarang ini adalah abad milik rakyat. Jadi, ukuran-ukuran sastra yang dipakai harus kerakyatan. Sebaiknya kita menjejakkan kaki ke bumi agar karya bisa mencapai orang-orang kebanyakan,” kata Pram.
Saya kira sastra memiliki ukuran dan nilai-nilainya. Isinya boleh apa saja. Tak harus bicara tentang senjata atau perjuangan secara harfiah, toh sastra itu bisa ditujukan untuk siapa saja. Kita bisa bicara tentang sebuah keluarga dan itu bisa sampai ke rakyat. Namun, selama perdebatan itu, saya memang lebih banyak berdiam diri dan menjawab seperlunya saja. Tapi sudah jelas, kami tak berjumpa dalam suatu titik temu. Apalagi saya tetap menekankan bahwa karya apa pun — apakah dia memakai nama rakyat atau tidak — jika memang tak baik, saya tak bisa menerimanya sebagai karya sastra.
Awal 1960-an, sesudah Bung Karno mengumumkan Dekrit Presiden dan Manipol-Usdek serta Nasakom, jurang pemisah antara Pram dkk. dan saya semakin lebar. Dengan gencar mereka menyerang siapa saja yang dianggap tidak merakyat. Lama-kelamaan serangan mereka bukan hanya terhadap ide sastra kami, tapi juga kepada pribadi-pribadi kami.
Agustus 1963. Kami merasa sudah saatnya menyatakan pemikiran tentang kesenian dan kebudayaan. Banyak seniman dan budayawan yang berdatangan ke redaksi Sastra di Jalan Raden Saleh 24. Ada Bokor Hutasuhut, Wiratmo Soekito, Zaini, Goenawan Mohamad, Arief Budiman, dan banyak lagi. Mereka mengutarakan pemikiran bersama dalam membentuk apa yang kemudian dikenal sebagai Manifes Kebudayaan.
Kelompok ini sebenarnya tidak sengaja dibentuk dan tak pula memiliki kartu anggota atau persyaratan administratif. Kami hanya kumpul-kumpul berdasarkan pemikiran dan perasaan yang sama. Kami tulis pernyataan itu sebagai sebuah antitesis dari slogan Lekra, “politik adalah panglima”. Sebab, amatlah berbahaya jika semua cara dihalalkan demi politik.
Teks Manifes kami lontarkan pertama kali di harian Berita Republik dan mendapat dukungan dari banyak seniman di Jakarta, luar Jakarta, dan bahkan yang sedang tinggal di luar negeri. Teks yang ditandatangani 20 orang pada 17 Agustus 1963 itu juga dimuat di majalah Sastra. Tanggal 8 Mei 1964, pagi hari. RRI mengudarakan larangan resmi Presiden Soekarno terhadap Manifes Kebudayaan.
Kami, para penanda tangan, dianggap kontra revolusi dan menentang ManipolUsdek. Meski saya tak terlalu heran dengan larangan ini, saya kecewa juga. Toh saya mengerti posisi Soekarno yang memang tak bisa berbuat lain. Mungkin, sebagai seorang ayah ia tak ingin anak-anaknya bertengkar terus-menerus. Tentu saja pelarangan inilah yang diinginkan Lekra sejak semula. Sejak hari itu dan seterusnya kami “dibersihkan” habis-habisan: di instansi pemerintah dan nonpemerintah, di kampus-kampus digeser atau langsung dinonaktifkan.
Untuk menghindari pengganyangan yang lebih ganas, kami mengirim telegram permintaan maaf kepada Soekarno. Tapi ini pun hampir tak ada gunanya. Buku-buku para Manifestan dilarang terbit dan beredar. Mendadak buku-buku saya menghilang dari toko buku Gunung Agung. Penerbitnya menceritakan bagaimana Pemuda Rakyat ramai-ramai mendatangi toko itu dan mempertanyakan kenapa buku Jassin masih bercokol di situ. Dan tentu saja penerbitnya ketakutan.
Di Lembaga Bahasa tempat saya bekerja, saya menyadari bahwa sebagian anak buah saya adalah mahasiswa yang sering datang ke Bintang Timur. Saya menyadari bahwa mereka memata-matai saya setiap hari. Tapi saya tak ambil pusing. Bahkan pernah secara terang-terangan salah satu dari mereka menyampaikan pesan Pram agar surat-surat pribadi Pram yang saya simpan dikembalikan. Barangkali ia takut persahabatan saya dengannya dulu itu bisa membahayakannya. Udara busuk dan penuh kedengkian ini mencapai puncaknya ketika saya dibebastugaskan dari tugas mengajar di Fakultas Sastra UI.
Sebelumnya saya sudah mengajukan surat pengunduran diri untuk menghindari korban yang berjatuhan. Saya jadi semakin rajin memperdalam Islam dan ayat-ayat Quran. Di tengah galau tak menentu itu, saya mencoba menerjemahkan The Spirit of Islam karya Syed Ameer Ali menjadi Api Islam. Sementara itu, Masagung, pemilik penerbit dan toko buku Gunung Agung itu, dengan baik hati tetap membayar honor buku-buku saya, meski untuk sementara buku itu dihentikan peredarannya.
Menerjemahkan Al Quran Musim gugur di Leiden, September 1972. Di apartemen Kampung Melayu di mana mahasiswa Indonesia dan Malaysia wira-wiri, saya memandangi daun-daun memerah lantas gugur berderai-derai. Udara yang sejuk itu merangsang saya menerjemahkan ayat demi ayat Al Quran indah yang saya cintai itu. Buku Mulia itu saya tenteng ke mana-mana: London, Paris, dan kota-kota lainnya di Eropa.
Sejak 1950 saya mulai berkenalan akrab dengan Al Quran. Sejak saya masih menjadi mahasiswa Prof. A.S. Alatas, Prof. Prijono, dan Prof. Hussein Djajadiningrat. Di Fakultas Sastra UI, kami diwajibkan belajar sastra Melayu yang banyak menggunakan idiom bahasa Arab serta ayat Quran. Maka, kami harus belajar bahasa Arab, serta ayat Quran. Ketika itulah saya melihat betapa indah dan puitisnya terjemahan Al Quran karya Marmaduke Pickthallt, The lorious Koran. Bandingkanlah dengan terjemahan Mahmud Junus dalam bahasa Indonesia, yang terlalu mengikuti lekuk bahasa Arab, hingga keindahannya berkurang.
Pada saat Arsiti pergi, saya semakin ingin memasukkan ayat-ayat itu ke dalam diri saya dan mengirimkannya kepada orang yang pernah berarti dalam hidup saya. Saya pelajari Al Quran dengan saksama selama 10 tahun 5 bulan. Tidak hanya mempelajari Al Quran secara akademis saja, tapi bahkan ayat-ayat itu menjadi bagian dari diri saya. Di mobil saya selalu menghafal dan membaca ayat Kursi, atau ayat-ayat lain yang saya sukai. Maka, begitu orang mendengar si Jassin yang “tak tahu apa-apa tentang Islam” itu akan menerjemahkan Al Quran, ributlah semua.
Lalu, atas inisiatif Gubernur Ali Sadikin, saya dipertemukan dengan Majelis Ulama cabang Jakarta di rumah Gubernur di Jalan Taman Suropati. Saya bawa dua kopor berisi beberapa Al Quran asli yang saya hayati dari hari ke hari, buku-buku terjemahan dalam bahasa Indonesia, Inggris, Belanda, Jerman, dan Prancis, bermacam kamus Arab dan banyak catatan saya selama mempelajari Quran. Melihat buku-buku bahasa Arab itu dan mendengar penjelasan saya, hilanglah desas-desus bahwa saya menerjemahkan langsung dari bahasa Belanda.
Sekitar 20 orang ahli agama menanyai saya dengan ramah. “Pak Jassin, apakah Pak Jassin mengetahui bahwa menerjemahkan Al Quran itu memerlukan bermacam-macam ilmu. Dan kenapa Pak Jassin ingin menerjemahkan Al Quran?” tanya ulama pertama. “Sebelum saya menjawab pertanyaan Bapak, izinkanlah saya menjelaskan kenapa saya tertarik menerjemahkan Al Quran,” jawab saya.
Maka, saya jelaskan ketertarikan saya, dulu hingga kepergian Arsiti. Saya jelaskan semua proses pemahaman dan penghayatan saya, dari hari ke hari hingga bertahun-tahun. Kemudian saya jelaskan pula bahwa saya ingin Al Quran dimengerti dan dihayati dengan bahasa yang baik dan puitis. Mendengar penjelasan saya panjang-lebar, akhirnya para ulama itu mempercayai usaha saya. Dan akhirnya mereka bersedia membantu menilai hasil terjemahan saya kelak.
Selanjutnya saya dipersilakan memilih sendiri anggota tim penilai itu, di antaranya Bapak Muchtar Luthfi al-Anshory, ulama yang berjiwa seni. Tentu saja, ada berbagai reaksi pada penerbitan terjemahan Al Quran yang saya beri judul Bacaan Mulia itu. Ada hantaman, ada caci-maki, bahkan ada tantangan untuk berdebat di muka umum. Dan ini semua saya hadapi dengan tenang. Tapi, hingga cetakan ketiga yang segera akan terbit, saya kira Allah swt. tetap melindungi saya dan mengetahui maksud baik saya.
Saya ingat keterharuan ulama dan pengarang besar Hamka ketika saya sampaikan keinginan saya menerjemahkan Al Quran — begitu pengadilan kasus Langit Makin Mendung usai. Dia mengerti benar bahwa saya tahu bagaimana menerjemahkan Max Havelaar yang saya lakukan dalam 12 bulan itu, dan bagaimana pula menerjemahkan Al Quran. Bagi saya, yang terakhir ini adalah sebuah tugas yang harus saya lakukan dengan penuh penghayatan. Itulah sebagian kecil dari dokumentasi kehidupan pribadi saya.
Adapun Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin di Kompleks Taman Ismail Mrzuki, Jakarta, sampai kini menyimpan sekitar 30 ribu buku dan majalah sastra. Jika kau tengok lemari-lemari itu, yang penuh dengan kumpulan map-map tebal yang sudah mulai dikumpulkan sejak 45 tahun lalu, kau bisa lihat dokumentasi kehidupan sastra Indonesia. Impian saya — meski tak seliar mimpi para seniman — ialah mendirikan dokumentasi sastra dunia. Bertingkat-tingkat. Sastra Asia, Afrika, Eropa, Amerika, Amerika Latin. Ya, semuanya. Jadi jika kita memasuki gedung itu, kita seperti memasuki dunianya sastra dunia. Dan itu saya usahakan di hari-hari saya yang tua ini.
Meski sekarang pendengaran saya sudah semakin berkurang, hingga pernah menyerang rasa percaya diri, saya masih tetap memiliki keinginan yang kuat untuk membina sastra Indonesia. Saya masih berjalan kaki pulang-pergi dari rumah ke TIM, untuk bekerja bagi sastra dan seni.
Saya berjalan dan berjalan sambil menghafal ayat Al Quran. Mungkin kematian sama dengan gugurnya daun dari pohonnya. Kematian adalah sesuatu yang alami dan tak perlu disedihkan. Tapi, saya tak mau memikirkannya. Karena itu, setelah lelah berjalan saya hanya beristirahat sebentar. Lalu berjalan lagi, membuka buku-buku itu lagi. Dan, bait-bait sajak Chairil itu terus nyala dalam diri….
30 September 1989
Leila S. Chudori
http://majalah.tempointeraktif.com/
DI samping mendapat julukan “Paus” Sastra Indonesia, Hans Bague Jassin juga dipanggil administrator dan diktator sastra. Ia pernah memukul Chairil Anwar. Dihukum 1 tahun penjara gara-gara cerpen Langit Makin Mendung. Inilah orang yang telah menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Indonesia. Lahir di Gorontalo, 31 Juli 191 7, mendapat gelar doktor honoris causa dari Universitas Indonesia, juru peta sastra Indonesia yang tak pernah lelah.
Sebagian kisah hidupnya yang disampaikan lewat Leila S. Chudori ini adalah atas permintaan TEMPO. TANGGAL 2 September 1970. Pengadilan Negeri Istimewa Jakarta Pusat penuh sesak. Ada wartawan, seniman, ulama, mahasiswa, pelajar. Semua memandang saya. Hakim Ketua Anton Abdurrachman Putra, S.H. mengangkat mukanya dan bertanya, “Saudara Jassin, kapan Anda siap membacakan pembelaan Anda?” “Sekarang.”
Suara saya meluncur, tegas dan pasti. Hari itu juga saya memang mantap membacakan pembelaan cerpen Langit Makin Mendung karangan Ki Panji Kusmin. Sudah saya siapkan sejak keributan meletus di Medan, sepanjang 100 halaman, setelah cerpen yang dimuat di majalah Sastra itu beredar. Saya berdiri sambil membaca. Saya lihat Hamka, saksi yang memberatkan, mendengarkan dengan saksama.
Ruang pengadilan begitu hening. Seluruh ruangan hanya terisi oleh suara saya yang bergelombang dan penuh keharuan. Saya amat yakin bahwa dunia imajinasi dan kenyataan adalah dua hal yang berbeda. Dan hingga kini, saya tetap percaya bahwa imajinasi tak layak diadili dan disetarakan dengan dalil agama yang punya sejarahnya sendiri.
Hampir tiga jam saya membacakan pleodoi bagi imajinasi pengarang yang hingga kini belum pernah saya lihat batang hidungnya itu. “Apakah kita harus memaksa seniman mendiamkan hati nuraninya, membutakan matanya, menulikan telinganya, mematikan perasaannya, dan melumpuhkan pikirannya buat hal-hal yang terjadi di sekitarnya?” tanya saya dalam pembelaan itu. Akhirnya hakim menjatuhkan vonis 1 tahun penjara dengan masa percobaan 2 tahun bagi saya. Tapi hingga kini saya tak sempat mengalami pengapnya empat tembok mati itu.
Saijah dan Adinda Jika saya tengok ke belakang dan mengenangperistiwa demi peristiwa satu per satu, rasanya saya sedang membuka dokumen kehidupan. Lihatlah itu, si Jassin kecil yang sedang bermain-main di pekarangan di suatu sore pada 1924. Kala itu saya baru tujuh tahun. Kami berdua, Ibu dan saya, tinggal di Gorontalo. Kata Ibu, Ayah sedang bekerja di Balikpapan. Tapi kemudian saya ketahui bahwa mereka sedang berpisah untuk sementara. Tiba-tiba seorang tuan berdiri tegak di pekarangan. Ia mengenakan helm dan melangkah menghampiri saya. Dipeluknya tubuh saya. Saya memberontak minta dilepaskan. Ternyata, tuan itu adalah ayah saya. Rupanya, Ayah dan Ibu memutuskan untuk rujuk.
Hari-hari bersama Ayah kembali adalah hari penuh disiplin. Sebagai anak tunggal saat itu kakak perempuan saya, Hapsah, meninggal di Sangihe — saya diharapkan Ayah berhasil dalam pendidikan. Ayah saya sendiri seorang otodidak. Bacaannya sangat luas, dari fiksi hingga ilmu bumi dan alam. Meski ia bekerja di BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij) antara 1902 dan 1905, ia tidak memiliki ijazah HIS (Hollandsch Inlandsche School). Tapi karena bacaannya yang luar biasa, ia mampu ujian dan lulus Klein Ambtenaar Examen (ujian persamaan HIS). Mungkin karena itulah Ayah lebih menyukai saya belajar atau membaca buku daripada bermain.
Ayah benar-benar mengondisikan saya untuk terus-menerus akrab dengan bacaan. Tak jarang ia minta saya membacakan koran-koran berbahasa Belanda ketika ia beristirahat makan siang. Selain koran Belanda, Ayah juga berlangganan Suara PBI (Persatuan Bangsa Indonesia), majalah dari partai yang didirikan oleh dr. Soetomo. Itu sebetulnya terlarang bagi seorang kerani BPM yang baik. Lemari buku Ayah selalu saya buka. Saya lalap, termasuk yang terlarang. Bayangkan, Roos van Batavia dan Melati van Agam sudah saya baca, padahal itu bukan bacaan anak-anak.
Karya sastrawan Prancis, Eugene Sue, yang diterjemahkan dalam bahasa Belanda jadi De Verborgenheiden van Parijs (Rahasia-Rahasia Kota Paris) saya lahap pula. Ada lagi empat serial buku Sexuele Zeden in Woord en Beeld (Tingkah laku seksual dalam Kata dan Gambar) yang diam-diam saya nikmati pula …. Karena di kota saya tidak ada HIS, Ayah menyuruh saya berguru pada seorang istri kerani, teman Ayah. Dan ketika HIS didirikan di Gorontalo pada 1926, saya langsung masuk kelas 2. Kegemaran saya membaca buku kemudian ditunjang oleh fasilitas 2 macam perpustakaan: perpustakaan untuk anak-anak dan untuk umum.
Dari perpustakaan umum sering pula saya meminjam buku untuk Ayah. Pelajaran bahasa di sekolah itulah yang kemudian memperluas perhatian saya pada sastra. Ketika itu anak-anak HIS diwajibkan menghafal sajak-sajak Belanda dan membacakannya di muka kelas. Terkadang kami diperintahkan bercerita dalam bahasa Belanda. Maksudnya agar bisa bersentuhan langsung dengan bahasa tersebut tanpa terlalu dipagari tata bahasa. Kami juga belajar bahasa Melayu.
Buku bacaan bahasa Melayu kami yang pertama adalah Rempah-Rempah. Melalui bacaan ini saya masuk ke dalam dunia binatang yang mampu berkomunikasi. Baru kemudian, ketika saya sudah kuliah di Fakultas Sastra, saya ketahui bahwa cerita-cerita itu diambil dari Hitopadesya, buku sastra anak-anak yang sangat terkenal dan tersebar di banyak negara di dunia.
Buku lain yang melekat dalam diri saya ketika anak-anak ialah karya klasik Melayu tulisan Arab, Hikayat si Miskin. Ketika saya duduk di kelas 4 HIS, saya berkenalan dengan sebuah cerita yang di kemudian hari terus-menerus meringkus perhatian saya: Saijah dan Adinda.
Kepala sekolah membacakannya di muka kelas dengan mimik dan intonasi yang sesuai dengan tuntutan cerita. Saijah dan Adinda merupakan bagian dari roman besar Max Havelaar, sebuah roman serius karya pengarang Belanda, Multatuli. Saat itu kami belum dapat menangkap seluruh keindahan karya dalam bahasa Belanda itu. Tapi saya sudah dapat merasakan kesedihan yang diungkapkannya.
Seingat saya, di situlah saya jatuh cinta pada buku-buku sastra. Ketika suatu kali saya jatuh sakit, Ayah bertanya apa yang saya inginkan sebagai oleh-oleh. “Buku,” jawab saya serta-merta. Ia tersenyum dan pulang membawakan buku-buku penuh gambar. Meski saya sedang sakit, betapa bahagianya saya membaca buku-buku itu.
Ketika di HIS itu pula saya belajar menulis. Kami sering dibawa piknik oleh guru-guru, dan pulangnya diwajibkan menulis tentang perjalanan itu. Tulisan yang dianggap baik dibacakan di muka kelas. Dan, ah, si Jassin kecil ketika itu dikenal sebagai voorlezen, si tukang baca cerita yang baik.
Bayangkan, waktu itu saya baru kelas 4 HIS. Saya digandeng untuk membacakan cerita di muka anak kelas 5. Saat itu saya juga mencoba-coba menulis puisi. Lahirnya puisi ini karena kekaguman saya pada seorang gadis manis bernama Mastinah. Ia bersuara merdu dan pandai mengaji. Saya tidak mengenalnya, hanya melihat fotonya di album. Ada perasaan untuk berkomunikasi dengannya. Tapi saya tak tahu alamatnya. Maka, lahirlah puisi itu.
Bayangkan, ketika itu saya baru berusia 12 tahun. Tapi celaka. Ayah mencurigai saya. Saya sangat takut dan malu. Ketika itu saya tengah berlayar. Maka, cepat-cepat saya buang sajak itu ke laut. Waduh, sayang sekali …. Sekitar tahun 1933, saya mulai menginjak HBS Medan. Pengetahuan dan kecintaan saya terhadap sastra mulai menukik. Saya berkenalan dengan kesusastraan Belanda, Inggris, Prancis, dan Jerman. Saya harus membaca sekitar 24 buku sastra Belanda, dan untuk bahasa lainnya masing-masing delapan buku.
Saya menelaah buku-buku itu dengan intens, dari persoalan plot hingga karakterisasinya. Inilah perjumpaan awal saya dengan pelajaran evaluasi karya sastra secara akademis. Helai pertama dokumen kehidupan saya di HBS melontarkan saya pada kenangan seorang guru sastra Belanda, Korpershoek. Seorang yang gagah, menarik, dan bersuara bagus. Dialah yang memperkenalkan saya pada pendekatan kritik sastra dan cara mendalami karya-karya klasik. Dia pula yang memperkenalkan saya pada De Tachtigers Beweging, Gerakan 80-an di Belanda. Begitu kagum saya pada pengetahuan sastranya, hingga saya ingin membagi kesenangan saya dengannya.
Saat itu, saya sudah menikmati majalah sastra Pujangga Baru. Nama-nama Takdir Alisyahbana, Amir Hamzah, Armijn Pane, dan Sanusi Pane menumbuhkan kekaguman saya karena karya-karya mereka yang tak kalah dengan sastra Belanda. Maka, dengan penuh semangat, saya tunjukkan majalah itu kepadanya. “Tuan, kami juga memiliki Tachtiger Beweging di Indonesia.” Tapi si tuan hanya melirik dengan ekor matanya. Aduh, sakit hati saya dengan sikap guru yang saya kagumi itu. Rasa nasionalisme saya terpukul. Saya sangat mencintai tanah air dan bahasa saya. Kenapa ia tak menghargai karya sastra Indonesia? Sejak itulah saya bertekad bekerja penuh bagi sastra Indonesia.
Rupanya, kekecewaan terhadap Korpershoek ada hikmahnya, menumbuhkan tekad pada diri saya. Lembaran dokumen kehidupan saya selanjutnya adalah surat-surat Leila. Ah, mengingat Medan artinya mengingat Leila. Seorang gadis Tapanuli yang besar di Solok. Seorang gadis yang bertutur lembut dan penuh perhatian. Seorang yang memiliki senyum yang tetap mengikuti saya hingga ke Gorontalo. Saya bertemu dengan Leila di perkumpulan pemuda Inheemse Jeugd Organisatie. Saya sekretaris perkumpulan itu, sedangkan Leila anggotanya. Mulanya biasa saja. Di pertemuan-pertemuan itu, kami sering berbincang. Meski perhatian Leila tumpah pada saya, saya belum menyadari arti Leila hingga saya ke Gorontalo.
Hubungan kami lebih banyak melalui surat-menyurat. Surat-surat itu saya kirim dari Jakarta, karena pada 19 itu saya sudah pindah ke Jakarta, sementara Leila mengirimkan balasannya dari Medan. Surat-menyurat itu mengungkapkan perasaan-perasaan kami. Suatu hari di akhir 1941, ada ketukan di pintu rumah. Ah, senyum Leila mengembang. Kami pun mengisi pertemuan itu dengan jalan-jalan, naik perahu di Tanjungpriok di bawah sinar bulan.
Saat itu, kami belum membicarakan soal pernikahan. Yang saya ingat betul adalah “rasa senang”. Kemudian Jepang datang, dan hubungan kami pun terputus. Dan, ah, orangtuanya tak dapat menunggu keadaan yang tak pasti itu. Akhirnya, ia dikawinkan dengan orang lain. Hati saya runtuh. Itulah sebabnya, barangkali, saya tak terlalu bahagia untuk mengenang hal yang sudah lalu.
Jadi Wartawan Medan, bagi saya, juga mengingatkan pada seorang tokoh pers nasional, Adinegoro. Pada akhir 1930-an, semangat pemuda sedang meluap-luap menginginkan kemerdekaan. Ketika itu Adinegoro memimpin dua penerbitan, yaitu harian Pewarta Deli dan majalah Lukisan Dunia. Saat itu saya sudah 17 tahun dan mulai menulis di beberapa media, termasuk di dua penerbitan yang dipimpin Adinegoro itu. Namun, saat itu saya belum membahas sastra secara intens.
Satu-satunya esei yang saya tulis saat itu, tentang aliran romantik. Ketika saya duduk di kelas III HBS, timbul keinginan belajar jurnalistik. Saya ingin membuktikan kemampuan saya menulis. Kebetulan, saya libur dua bulan. Malam-malam, mata saya terbuka lebar memikirkan ide baru ini. Maka, esok paginya, dengan celana pendek, saya bergegas ke rumah Pak Adinegoro. Saya ketuk pintu rumahnya. Ia sendiri yang keluar mengenakan kimono. Rupanya, ia baru siap hendak mandi. “Saya ingin belajar jurnalistik dari Tuan.” “Wah, saya tak punya waktu. Tapi, kalau mau langsung praktek, datang saja ke kantor. Kau bisa belajar menerjemahkan berita-berita yang dikirim kantor berita asing, dan menyusunnya menjadi tulisan. Bagaimana? Kapan mau mulai?” “Sekarang, Tuan,” jawab saya mantap.
Hari itu juga saya berkenalan dengan dunia jurnalistik. Dimulai dari menerjemahkan macam-macam berita dari kantor berita Aneta (yang kemudian menjadi Antara), kemudian belajar memperbaiki dan mengedit hasil laporan wartawan. Saya juga belajar membuat reportase, stenografi, dan sekaligus memotret. Lama-kelamaan saya dipercaya ikut menonton review film-film baru. Karena saya lagi magang, saya tak mendapat gaji. Tapi saya merasakan manfaat jurnalistik yang luar biasa. Terlebih lagi setiap kali tulisan saya dimuat, saya mendapatkan honorarium satu ringit — jumlah yang besar pada masanya.
1939 Masa HBS usai. Sebuah telegram dari Gorontalo dan kiriman uang 75 gulden menginginkan kedatangan saya. Dalam perjalanan pulang ke Gorontalo, saya mampir di Batavia, menginap di rumah keluarga Daud di kawasan Petojo. Saya ajukan keinginan saya yang sangat, untuk bertemu dengan Sutan Takdir Alisjahbana, seorang sastrawan yang namanya sudah menjulang saat itu.
Pertemuan pertama mengesankan. Kami berbicara, berbicara, dan berbicara. Kami sama-sama saling melontarkan pendapat tentang majalah Pujangga Baru, tentang kesusastraan, dan tentang bahasa. Bahkan, kami sudah sempat terbelit dalam sebuah perdebatan. “Bahasa Belanda lebih enak digunakan dibandingkan dengan bahasa Indonesia? Tidak,” kata Takdir dengan tegas dan mata berkilat.
Kilat mata yang masih terus terlihat hingga kini di usianya yang sudah mencapai 82 tahun. Saya bersikeras bahwa bahasa Belanda lebih enak di lidah. Ketika saya berlayar menuju Gorontalo, sesuatu yang lucu terjadi. Rupanya, surat Takdir juga ikut berlayar di kapal yang sama — begitu saya mendarat, saya menerima suratnya. “Di Balai Pustaka ada lowongan untuk pendidikan Hoofdredacteur (pimpinan redaksi). Jika Tuan berminat, datanglah,” bunyi surat itu.
Namun, kegembiraan saya akan tawaran itu harus saya tunda karena keinginan Ayah yang berlainan. Saya harus tinggal beberapa lama di Gorontalo, untuk magang di kantor asisten residen. Sebuah pekerjaan yang tak pernah saya bayangkan. Mengayuh sepeda, bermandi peluh pulang-pergi kantor. Dan setiap akhir bulan, saya hanya menonton rekan-rekan pegawai menghitung lembaran gaji mereka. Tapi, tentu banyak juga yang saya pelajari di kantor ini. Antara lain, bagaimana caranya berkorespondensi yang baik dan melakukan pengarsipan.
Rupanya, kerja administratif inilah yang kemudian membekali saya belajar mendokumentasikan karya-karya sastra di kemudian hari. Tapi, saya merasa itu bukanlah tempat saya. Saya lelah. Dan saya harus ke Batavia untuk bekerja di Balai Pustaka. Ketika akhirnya saya sampaikan keinginan yang tak tertahankan ini, Ayah tak membantah. Maka, saya pun berlayar kembali ke Batavia. Batavia Pagi hari, 1 Februari 1940.
Di kantor redaksi Balai Pustaka, Takdir mengerutkan keningnya, “Tuan siapa?” tanyanya memandangi pemuda berjas dan berdasi yang berdiri di hadapannya. Saya tunjukkan suratnya setelah berlayar bersama saya ke Gorontalo, barulah wajah Takdir mengembangkan senyum, “Ah, ya, ya, ya….” Hari itu juga, saya duduk bersama-sama. Tulis Sutan Sati, Armijn Pane, Aman Dt. Modjoindo, Nur Sutan Iskandar, dan, tentu saja, Takdir Alisjahbana. Saya segera ikut dalam tim untuk meresensi buku-buku yang kemudian dikirimkan ke berbagai media.
Resensi ini saya lakukan dengan sungguh-sungguh. Dan semangat saya mendokumentasikan tulisan-tulisan itu baru terlihat gunanya kemudian ketika semuanya dikompilasikan menjadi Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei yang kemudian mencapai empat jilid. Armijn juga sangat bersemangat memperkenalkan saya kepada banyak pemikiran Barat. Terutama dengan Freud, nama yang begitu banyak mempengaruhi penulisan Armijn dalam romannya, Belenggu, karya sastra Indonesia pertama yang menggunakan segi psikologi dalam.
Armijn juga menganjurkan saya membaca buku-buku filsafat. Begitu lengkapnya perpustakaan Balai Pustaka, hingga saya berkesempatan menjelajahi pemikiran-pemikiran Schopenhauer, Nietzsche, dan beberapa pemikir eksistensialis. Saya mempelajari intensitas hidup Nietzche melalui karyanya Also Sprach Zarathustra. Inilah pemberontakan terhadap moral dan pendidikan di Eropa yang saat itu dibelit oleh doktrin agama Kristen.
Lalu, saya baca pula Schopenhauer. Dia bertentangan dengan Nietzsche. Dunia ini maya, demikian Schopenhauer. Tidak, tolak Nietzsche, dunia ini bukan impian. Dunia ini kita. Manusia. Kitalah yang memutar dunia ini. Sementara itu, eksistensialisme mendarat di Indonesia sekitar tahun 1945. Saya pun berkenalan dengan Sartre, Camus, juga pemula-pemulanya.
Tentu saja, tak hanya pemikiran Barat yang saya geluti masa itu. Saya juga membaca filosof India, seperti Krishnamurti. Kebetulan, waktu itu saya bergabung dalam perkumpulan teosofi Blavatsky Park. Apa yang saya dapatkan dari teosofi? Perasaan bebas. Kebebasan. Suatu perasaan yang amat langka didapatkan dan diberikan. Satu hal yang saya ingat ialah: janganlah kita memaksakan anak-anak kita untuk menjadi apa yang kita kehendaki. Kenapa? Lihatlah alam sekitar kita. Begitu ragam pohon-pohon yang bertumbuhan di sekeliling kita. Ada pohon kelapa, ada pohon mangga, dan yang lain-lain. Mereka semua tumbuh secara alami menurut kodratnya. Tak bisa kita paksakan pohon-pohon ini menjadi pohon yang kita kehendaki. Jalan pikiran ini sangat meresap ke dalam diri saya.
Selain kebebasan, saya juga belajar menemukan diri sendiri. Saya belajar membebaskan dan menempatkan diri dalam hidup ini. Saya belajar banyak dari perkumpulan ini. Jadi, inilah dokumen kehidupan saya di tempat saya mengembara dalam berbagai alam pemikiran. Dari kiri, kanan, utara dan selatan. Saya larut di dalamnya, tapi terlepas dari pertentangan-pertentangan di antara mereka. Karena itu, semua pertentangan di antara berbagai pemikiran filsafat itu tetap harmonis dalam diri saya. Karena sikap saya pada pemikiran-pemikiran ini tak lepas dari keinginan untuk mempelajari perkembangan zaman.
Saya tak ingin seperti Sutan Takdir yang, menurut saya, tak mau menghargai perkembangan-perkembangan generasi muda. Misalnya sikap Takdir yang sulit sekali menghargai penemuan-penemuan dalam sajak-sajak Sutardji Calzoum Bachri. Selain sikap ingin mengikuti perkembangan zaman, keharmonisan dalam diri ini juga didukung oleh penghayatan saya terhadap isi Al Quran.
Rasanya, pemikiran Barat mana pun tak akan mengganggu religiusitas saya. Ini adalah sebuah proses penghayatan yang sangat berbeda. Saya sangat yakin bahwa apa yang tersebut dalam Al Quran itu adalah ayat-ayat yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad. Lihatlah, isinya begitu luas. Begitu tinggi. Begitu dalam. Dan bahasanya sangat indah. Tak ada satu bagian pun yang kurang dari bagian yang lain dalam kebenaran dan keindahannya.
Jadi, biarlah Nietzsche mengatakan “Tuhan telah mati”, atau Lekra memaki-maki saya. Tapi, isi tubuh dan batin saya sangat penuh dengan keyakinan saya pada ayat-ayat Allah. Chairil Anwar Seperti halnya dengan Leila, pertemuan saya dengan Chairil terjadi di perkumpulan kami di Medan. Bedanya, saya sudah melihat nama Chairil tercantum sebagai anggota redaksi Ons MULO Blad. Tulisan-tulisan Chairil, masa itu, berbentuk prosa. Saat itu Chairil baru 14 tahun, sedang saya lima tahun lebih tua.
Di perkumpulan kami yang mengorganisir kegiatan perpustakaan dan olahraga, saya bertemu dengan tubuh kurus itu. Ia senang sekali bermain pingpong. Ia selalu yakin pasti menang. Setiap kali mengalahkan lawan, Chairil berjingkrak, menjerit-jerit, dan bertepuk tangan. Tingkah laku inilah yang menarik perhatian saya. Ah, jadi inilah Chairil Anwar, pikir saya.
Perkenalan saya dengan Chairil selanjutnya terjadi di Batavia. Buat banyak orang, terutama para peminat sastra, mungkin ini satu dokumen yang terpenting dalam hidup saya. Ketika itu Jepang sudah masuk. Saya dipindahkan ke majalah Panji Pustaka yang dipimpin Armijn Pane. Sedangkan saya menjabat wakil pemimpin redaksi. Saat itu saya juga sedang getol menjelajahi toko buku Van Dorp dan kawasan Senen mencari buku-buku bekas.
Buku-buku itu saya kumpulkan karena saya mulai punya keinginan untuk membangun perpustakaan sendiri dan tidak bergantung pada perpustakaan Balai Pustaka belaka. Saya ingat, di antara banyak buku yang saya beli setiap saya terima gaji itu ada tiga buku bahasa Jerman yang saya sukai. Yang pertama berjudul Naturalismus, yang mengulas aliran naturalisme yang kedua Um Banne des Expressionismus yang berbicara tentang ekspresionisme. Sedangkan yang ketiga, Neue Sachlichtheit, yang mendiskusikan kesederhanaan baru.
Saya sangat tertarik pada ekspresionisme yang lebih langsung menyuarakan batin. Berbeda dengan naturalisme yang memberikan segala detail tentang pikiran dan kenyataan dari kelahiran hingga kematian.
Suatu siang, di sekitar 1943. Saya sedang duduk mengamati naskah, ketika seorang kurus, bermata merah, dan berambut kusut memasuki Balai Pustaka. Disodorkannya kertas-kertas itu. “Nih, sajak saya,” kata pemuda kurus itu yang tiada lain dari Chairil Anwar, dengan suara lantang. Nisan untuk Nenekanda Bukan kematian benar menusuk kalbu Keridlaanmu menerima segala tiba Tak kutahu setinggi itu atas debu dan duka maha tuan bertakhta.
Saya tatap wajah kurus dan mata merah itu. Sepasang mata galak yang nyala dan sarat dengan keinginan. “Bagus sekali,” kata saya. Lalu kami mulai membicarakan sajak yang ditulis pada Oktober 1942 itu. Itulah perkenalan saya yang lebih erat dengan Chairil Anwar. Saya usulkan sajak itu dimuat di Panji Pustaka. Namun, Armijn menolaknya karena individualisme Chairil yang terlalu dikedepankan. Padahal, saat itu Jepang sedang sibuk menjejalkan slogan kebersamaan Asia Raya. Dan, menurut Armijn, elemen kebaratan Chairil yang tampil jelas dalam sajaknya tidak tepat dimasyarakatkan. Ini sangat saya sayangkan. Saya merasa sajak Chairil perlu diketahui publik.
Belakangan saya ketik sajak-sajaknya yang berjumlah 20 buah itu rangkap enam. Saya sebarkan pada Takdir, Mohammad Said, Sutan Sjahrir (yang tiada lain paman Chairil) dan teman-teman lain, sedang aslinya saya simpan. Suatu hari Chairil menelepon. “Jassin, aku minta sajak-sajak asliku. ” Saya tanyakan buat apa ia meminta kembali sajak tulisan tangannya itu, karena saya ingin menyimpannya sebagai dokumentasi. “Kau juga untuk apa menyimpan-nyimpan? Itu sajak kan aku punya.” Saya jawab, “Kalau demikian maumu, baiklah.” Sajak tulisan tangan itu saya kembalikan.
Tapi sampai sekarang saya masih menyimpan sajak-sajak tulisan tangan Chairil yang lain. Kenapa saya begitu mempertahankan kelebihan sajak-sajak Chairil? Saya melihat pengaruh ekspresionisme dalam karyanya. Lihatlah baris-baris yang terdiri dari satu atau dua kata dalam sajak yang berjudul 1943: Mengaum! Mengguruh! Dalam buku Drift en Bezinning (Nafsu dan Pengendapan) yang berbicara mengenai persajakan dalam kesusastraan Belanda, diulas sajak-sajak yang harus melalui proses pengendapan dan sublimasi.
Saya kira sajak-sajak demikianlah yang mewarnai karya Chairil. Bait-baitnya tak hanya sekadar letusan-letusan saja. Ia tak akan pernah puas dengan sajak yang sekali jadi. Berhari-hari ia bisa berjalan dengan satu kata, lalu dikombinasikannya dengan kata lain. Ia pikirkan. Ia rasakan. Ia matangkan. Semua harus melalui proses pengendapan yang lama sekali. Kesan saya ini juga semakin kuat ketika terjadi insiden yang tak pernah saya lupakan.
Di tahun yang sama, Jepang mendirikan sebuah pusat kebudayaan. Sementara itu, dengan terbentuknya Himpunan Sastrawan Angkatan Baru, Armijn Pane dan kawan-kawan lain sering mengadakan diskusi sastra. Dalam diskusi itu saya mendapat giliran pertama berceramah. Pada waktu itu, saya masih agak terpengaruh oleh slogan Jepang yang menekankan segalanya untuk Asia Timur Raya. Saya katakan bahwa kita harus memberikan semangat perjuangan melalui karya sastra. Yang saya sebutkan sebagai contoh adalah sajak-sajak Ipih Hadi atau Asmara Hadi. Apa yang terjadi? Malam itu juga Chairil mengejek. “Itu semua cuma teriakan-teriakan. Semua orang juga bisa bikin sajak seperti itu.” Dia lantas melompat ke papan tulis. “Inilah contoh sebuah sajak,” katanya lantang.
Aku. Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang…. Terjadi perdebatan panas. Chairil menganggap sajak yang saya jadikan contoh tidak jujur keluar dari hati penciptanya. Lama-kelamaan saya terdiam juga dan mulai melihat kebenaran Chairil. Saya sangat menyesal telah membuat ceramah seperti itu. Rosihan Anwar yang saat itu hadir memberi komentar melihat sepak terjang debat Chairil, “tapi kalau Saudara bersikap seperti itu, bisa mati digebuk orang . . . ” Chairil dengan “keakuan”-nya memang menunjukkan ketakpeduliannya.
Buyung Saleh bahkan mengatakan sikap Chairil dalam sajaknya tak baik dan itu hasil dari orang yang tak mau berpikir panjang. Sajak Chairil yang dianggap individualistis ini ditolak oleh harian Asia Raya karena dianggap tidak sesuai dengan cita-cita Asia Timur Raya ketika itu. Akhirnya sajak Aku dimuat di Panji Pustaka. Namun, judulnya terpaksa diganti jadi Semangat. Buat saya, hal itu justru merusak identitas sajak itu sendiri, yakni keindividuannya.
Persahabatan saya dengan Chairil berlangsung terus. Dia memang tidak punya pekerjaan tetap. Dia memilih mengabdi pada seni. “Jassin, dalam kalangan kita sifat setengah-setengah bersimaharajalela benar. Kau tentu tahu ini. Aku memasuki kesenian dengan sepenuh hati . . . ,” demikian tulis Chairil pada saya dalam perjalanannya ke Jawa Timur, 8 Maret 1944.
Chairil sering gelisah dengan sajak-sajaknya. Setiap kata dipikir dan ditimbangnya benar. “Jassin prosaku, puisiku juga, dalamnya tiap kata akan kugali-korek sedalamnya, hingga ke kernword kernbeeld . . . ,” katanya dalam kartu pos dari Paron, Jawa Timur. Chairil datang mengunjungi rumah saya atau kantor, keluar-masuk semaunya saja. Tingkah lakunya sangat seenaknya. Dia akan mengangkat kaki dan berbicara begitu lantang ketika mengkritik orang.
Pengarang-pengarang tua seperti Dt. Modjoindo dan Tulis Sutan Sati banyak yang tak menyukai sikapnya. “Siapa anak muda yang bertingkah seperti itu?” Memang tak mudah untuk menyenangi tingkah laku Chairil. “Gantung saja dia,” kata Dt. Modjoindo dengan muka sebal. Bila dia masuk ke rumah, dan saya tak ada, dia akan meminjam buku-buku atau mesin ketik saya. Ada yang dikembalikan dan ada pula yang tidak, misalnya Belenggu. Saya kesal buku-buku ini tak kembali, karena saya sudah memberi catatan-catatan di pinggirnya.
Terkadang dia datang naik becak, dan dia minta saya membayarnya. Atau dia akan menunjukkan sajak-sajaknya lalu bercerita bahwa pamannya, Sjahrir, tak menyukai sajaknya Diponegoro. Padahal, menurut saya, itu adalah salah satu sajaknya yang menunjukkan bahwa ia juga seorang yang patriotik. Tapi ia gelisah juga jika dikritik pamannya.
Tahun 1945, ketika kami menerbitkan majalah Pantja Raja sebagai pengganti Panji Pustaka, sajak-sajak Chairil mulai bertaburan. Namanya menjulang tinggi. Dan Chairil tetap tak pernah berubah. Aksi militer pertama meletus. Kami semua keluar dari Balai Pustaka, dan jadilah saya penganggur. Tapi itu hanya berlangsung sebentar, karena Anjar Asmara mengajak saya bekerja di Mimbar Indonesia.
Suatu hari, di ruang redaksi, pelukis Baharuddi mengatakan ada sesuatu yang mengejutkan saya. “Menurut Taslim Ali, ada kemiripan antara sajak Krawang-Bekasi karya Chairil dan The Dead Young Soldiers tulisan Archibald MacLeash.” Saya sempat kecewa juga mendengar pernyataan ini, meskipun saat itu saya belum pernah membaca sajak MacLeash. Tapi saya tetap bertanya-tanya, kalau pun itu sajak plagiat, kenapa bisa begitu bagus. Apakah memang sajaknya yang bagus atau terjemahannya yang bagus? Terjadilah debat di antara kawan-kawan. “Ini bahasa Chairil. Tak mungkin sajak ini hasil plagiat. Rasa hidup yang tercermin dalam Krawang-Bekasi adalah rasa hidup Chairil,” kata pengarang Balfas yang menyenangi karya-karya Chairil. Saya masih bertahan pada keraguan.
Saya pikir, kalau pun ada persamaan, saya rasa tak mungkin sajak itu jiplakan. Ketika suatu kali sajak The Dead Young Soldiers tiba di meja saya, saya perhatikan dengan saksama. Ternyata, ada beberapa perbedaan yang mendasar antara kedua sajak itu. Lihatlah, kata-kata dalam sajak Chairil begitu bagus dan gambarannya lain sama sekali dengan sajak MacLeash. Memang mereka membicarakan hal yang sama. Tapi kalaupun orang mengklaim Krawang-Bekasi adalah sajak terjemahan, ya sebenarnya tidak juga. Saya merasa bahwa sajak ini sungguh-sungguh sesuatu yang dirasakan Chairil Anwar. Katakanlah, sajak MacLeash itu adalah katalisator untuk penggerak dan penciptaan Krawang-Bekasi.
Akhirnya saya menyetujui pendapat Balfas. Oleh karena pengungkapan sajak Chairil ini lain, sajak ini tetap Chairil. Saya tak mengatakan sajak itu asli Chairil. Saya tetap menunjukkan ia dipengaruhi sajak MacLeash, tapi Krawang-Bekasi tetap punya pribadi sendiri. Chairil bukannya manusia yang tidak butuh uang. Suatu kali ia memang membutuhkannya. Lalu ia menerjemahkan sajak pujangga Tiongkok Hsu Chih-Mo, dengan judul Datang Dara Hilang Dara. Dan dicantumkannya namanya sendiri. Dan inilah yang membawa kami pada suatu perkelahian.
Saat itu tahun 1949, saya sedang bermain sandiwara di Gedung Kesenian Jakarta. Di belakang layar, saya duduk dan mencoba memasuki sebuah peran. Malam itu saya bukan Jassin. Saya adalah seorang mantri yang bekerja pada seorang apoteker. Rosihan Anwar yang berperan sebagai apoteker itu menyimpan keinginan untuk menghancurkan musuh dengan alat peledak penemuannya. Dan saya, dalam peran itu, mengetahui rahasia ini. Tapi saya tak boleh membuka mulut. Ini semua sudah diatur dalam lakon Api karya Usmar Ismail yang juga menyutradarai sandiwara ini.
Sementara saya duduk meresapi peran itu, tapi hei, kenapa si kurus itu lalu-lalang di muka saya? “Hmh . . . ,” dia mencibir. Dan segera berkelebat ingatan saya pada tulisan terakhir saya di Mimbar Indonesia berjudul Karya Asli, Saduran dan Plagiat. Dan saya segera tahu arti cibiran itu. Meski saya membela Krawang-Bekasi, tak pelak Chairil merasa tersindir dengan tulisan saya itu. “Kamu cuma bisa menyindir saja! Tak ada yang lain!” teriaknya. Saat itu saya sudah telanjur menghayati tokoh mantri yang tertekan. Dan hati saya jadi panas. “Saya juga bisa lebih dari itu!” kata saya.
Dan buktinya . . . buk! Saya tumbuk dia. Tubuh kurus itu terpelanting. Orang-orang berkerumun. “Ada apa?” teriak Usmar Ismail. Dan layar siap terangkat. “Jassin memukul Chairil,” teriak yang lain. Kami dilerai. Chairil didorong keluar. Nyata sekali ia kaget, karena selama ini saya sangat jarang berbicara dan hampir tak pernah marah. Kawan-kawan pun tercengang, bagaimana seorang Jassin yang begitu penyabar bisa memukul Chairil?
Layar terbuka. Babak demi babak dimulai. Dan ternyata Chairil menonton dan duduk tepat di muka sekali. Semula saya tak memperhatikannya. Tapi saya lihat ia menunjuk-nunjuk saya…. Beberapa waktu kemudian, saya dengar ia suka ke Taman Siswa tempat Affandi biasa melukis. Eh dia latihan angkat besi. Tubuh kurus itu belajar angkat besi. “Aku mau pukul si Jassin,” katanya. Dan suatu sore dia muncul di ruang tamu. Saya bersiap menghadapinya.
Tapi tiba-tiba, “Jassin, saya lapar,” dengan gayanya yang biasa. Gaya Chairil …. Jumat pagi, 26 April 1949. Di atas delman dengan Takdir, kami ikut iring-iringan pemakaman Chairil menuju Karet. Di Karet, di Karet (daerahku yad.) sampai juga deru angin. Beraninya ia mengatakan itu dalam sajaknya, jauh sebelum ia meninggal. Saya kagum pada keberanian itu. Tak pernah saya berani membayangkan daerah di mana saya terbujur nanti.
Pada usia 27 tahun ia sudah berbaring tanpa nyawa. Dan kematiannya ini digunakan oleh kaum republiken untuk memperlihatkan persatuan dan solidaritas. Berbondong-bondong kami mengiringi penyair itu ke Karet.
“Paus” Sastra Indonesia Apa beda Angkatan 45 dengan Angkatan 66?
Memang benar, secara estetika, karya Angkatan 45 dengan 66 tak banyak berbeda. Namun, saya melihat segi sejarah dan politik yang begitu kuat. Bagi saya, timbulnya suatu angkatan selalu harus disertai unsur estetika, politik, dan sejarah. Apakah orang tidak menyetujui atau mengkritik pandangan saya, hal itu saya anggap sebagai pendapat yang lain. Yang jelas, saya mendapat beragam Julukan pada awal 1950-an — karena ada yang menganggap pengaruh saya terlalu besar dalam kesusastraan Indonesia. “Lihatlah pilihan Jassin dalam Gema Tanah Air. Berapa sastrawan yang dipilih itu masih hidup?” tanya Gayus Siagian menanggapi prasaran saya dalam Simposium Sastra Indonesia pertama.
Gayus menganggap pilihan saya tak bernilai, tapi toh “sastrawan selalu senang jika sudah disebut-sebut Jassin,” katanya. Karena ia menganggap saya begitu berkuasa, ia menjuluki saya “Paus Sastra Indonesia”. Nama ini bukanlah sebuah pujian, tetapi kritik untuk saya. Di dalam majalah Siasat Balfas mengatakan bahwa saya bukanlah seorang kritikus sastra yang baik karena ulasan saya kekurangan gagasan. Kritik sastra saya, menurut Balfas, lebih banyak memperhatikan banyaknya penerbitan daripada nilai-nilai buku itu sendiri.
Dan bagi Balfas, saya tak lain seorang administrator karena saya tukang mengumpulkan dokumen dan buku-buku. Tak lama kemudian, eseis Rustandi Kartakusumah menjuluki saya sebagai seorang diktator. Katanya, apa yang saya katakan selalu langsung saja diterima orang dan saya mempergunakan kepercayaan orang-orang itu dalam menilai sastra. Saya tak tahu kenapa Rustandi yang juga berusaha menulis sajak itu harus berpendapat seperti itu. Yang saya tahu, saya memang tak selalu menyukai sajak-sajaknya.
Pekerjaan seorang kritikus adalah menilai. Kita harus bisa menilai sebuah karya sastra dengan perasaan dan sejumlah kriteria. Jika tidak, maka nilai kritik itu tak akan bisa bertahan. Apa pun yang dikatakan Balfas tentang ulasan sastra saya, toh buku-buku saya masih dipakai oleh anak-anak SMA dan mahasiswa fakultas sastra. Orang-orang masih mengutip pendapat yang saya ucapkan 20 atau 30 tahun yang lalu. Saya sendiri heran. Mungkin ulasan saya lontarannya cukup jauh ke depan. Saya tidak sekadar asal ngomong ketika membicarakan karya-karya sastra. Selain saya ingin kritik saya bernilai, saya cukup berhati-hati untuk tidak menyakiti orang.
Pernah juga saya bertanya-tanya pada diri saya tentang kritik saya. Tapi ternyata saya lihat sastrawan pilihan-pilihan saya itu bisa survive. Seperti Amir Hamzah yang saya namakan Raja Penyair Pujangga Baru dan Chairil Anwar yang saya namakan Pelopor Angkatan 45. Dulu saya mengkritik beberapa tulisan, hingga orang yang dikritik itu “mati”. Akibatnya, saya malu bertemu dengan penulisnya. Saya kira sekarang, saya lebih diplomatis dan menonjolkan segi positif karya seseorang.
Jika saya tak membicarakan karya penulis, itu karena tulisannya memang tak baik atau saya sendiri tak mungkin membicarakan semua karya. Metode saya mengkritik juga sering dianggap tidak ilmiah. Saya memang khawatir jika menganalisa sebuah karya sastra dengan pendekatan yang terlalu ilmiah. Saya sangat mementingkan perasaan ketika membaca. Tapi toh saya bisa menghargai kritikus lain yang menggunakan pendekatan ilmiah, misalnya Subagio Sastrowardoyo dan Sri Rahayu Prihatmi. Mereka memang ilmiah, tapi tetap mementingkan kemanusiaan sebuah karya. Mereka menggunakan ilmu sastra, tetapi toh tetap menghargai keharuan.
Ditinggal Arsiti Bukan Leila dari Medan saja yang pernah menghampiri hati saya. Dalam lembaran-lembaran dokumentasi kehidupan saya, ada nama-nama Tine de Bruin, Rumi, Arsiti. Tine de Bruin, seorang perempuan Indo Belanda berkulit putih bersih dan berambut pirang. Jika saya memang mengawininya, bukan karena saya mencintainya. Saya sangat membedakan arti cinta, sayang, nafsu, dan kasihan. Saya iba pada Tine karena nasib yang menimpanya.
Ketika saya mulai berkenalan dengannya Tine di pertengahan 1944, suami Tine ditangkap Jepang. Sejak itu ia harus mengurus kedua anaknya sendiri dari nafkah yang ia dapat dari bekerja sebagai pelayan restoran. Kami memang dekat, tak lepas karena perasaan iba saya kepadanya dan anak-anaknya. Tahun 1946, suatu malam. seorang wanita berparas sederhana mengetuk pintu rumah. Ia datang untuk melamar pekerjaan. Kebetulan pula, saya sedang mencari seseorang yang dapat membantu pekerjaan saya. Maka, ia, Arsiti, saya terima bekerja di rumah.
Arsiti memang tidak berpendidikan tinggi, tapi ia mau belajar. Selama membantu di rumah, ia mengerti kecintaan saya pada buku-buku. Dia juga mengerti tingkah laku kawan-kawan saya, seperti Chairil, yang nyelonong masuk ke rumah dan meminjam buku atau menyantap makanan saya. Secara alami, Arsiti dan saya menjadi sepasang kekasih. Dan kami memutuskan untuk menikah.
Tak terkatakan betapa bahagianya ketika anak kami yang pertama, Hannibal, lahir pada 27 Mei 1947. Suatu malam, 1962, Arsiti mengeluh sakit perut. Mukanya pucat dan badannya panas. Ia berjalan ke serambi seperti setengah tak sadar. Disentuhnya pinggiran kursi. Ia masuk ke kamar lagi dan menatap wajahnya sendiri di muka cermin. Disentuhnya pipinya dan berkata, “Aku sehat, kan? Aku sehat, ya. . . ?” Kemudian ia berjalan ke sana kemari dengan gelisah. “Sebetulnya saya tak rela meninggalkan semua ini,” katanya. Jadi, ia sudah punya firasat.
Suasana di rumah terbangun seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Saya merasa ada suara dari dunia lain yang merasuki telinga saya. Esoknya, saya bawa ia ke rumah sakit. Dan sore itu dia meninggal. Kami mengadakan pengajian sampai malam ketujuh. Kami kirimkan doa-doa untuk Arsiti. Malam kedelapan pengajian usai. Dan saya kesepian. Padahal, saya tetap ingin mengirimkan doa itu pada Arsiti. Lalu, timbullah keinginan untuk bisa mengerti apa yang saya baca. Maka, selama itu, setiap kali saya membaca dan meresapi ayat-ayat Al Quran, saya merasa Arsiti tetap hadir dalam kehidupan saya.
Sepertinya ia masih ada dan tetap berkomunikasi. Ketika ia sakit, ia pernah ngompol. Dan sampai ia meninggal, saya tak ingin mengganti sepreinya. Bau pesing itu menjadi nikmat buat saya…. Desember, sembilan bulan setelah Arsiti meninggal Lily — istri saya yang sekarang — sudah sering datang. Ia masih keluarga saya juga dan kami sudah lama saling kenal. Kami pun menikah pada 16 Desember 1962.
Pramudya dan Lekra
Saya sudah mengenal Pramudya Ananta Toer sejak 1946 ketika ia mengirimkan cerpennya ke Pantja Raja. Judulnya Ke Mana. Setahun kemudian ketika ia ditahan karena agresi militer Belanda, kami masih tetap berhubungan karena ia selalu meminjam buku-buku melalui Prof. Resink. Ketika ia bebas dari penjara pada 1949, hubungan kami tetap baik. Sebagai pengarang, Pram sangat produktif dan karya-karyanya yang baik bermunculan di berbagai majalah. Biasanya sebelum diterbitkan, karya-karyanya ditunjukkannya pada saya. Misalnya Mereka yang Dilumpuhkan dan Perburuan.
Pada 1953-54 Pram diundang oleh Sticusa (Stichting Culturele Samenwerking), atau Yayasan Kerja Sama Indonesia-Belanda, ke Belanda. Ternyata, di sana ia mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan, sehingga waktu setahun itu tak dihabiskannya. Dalam keadaan frustrasi, ia kembali ke Tanah Air. Dan rupanya rasa frustrasi ini ditampung oleh Lekra. Ia diberi kesempatan berbicara di depan umum dan mengajar kesusastraan dan sejarah di Universitas Res Publika — yang sekarang menjadi Universitas Trisakti.
Jika ada undangan-undangan ke luar negeri, Lekra mengirim Pram sebagai pemimpin rombongan. Dan tentu saja ia harus menyuarakan kecenderungan politik Lekra. Saat itu terlihatlah sikapnya yang sudah kekiri-kirian. Sementara itu, redaksi Sastra selalu dikritik bahwa karangan yang dimuat tak memperlihatkan kerakyatan dan terlalu memihak pada kaum majikan. Kecaman semakin gencar dilancarkan melalui ruangan sastra Lentera di surat kabar Bintang Timur. Pengasuh ruang ini Pram sendiri.
Cerpen-cerpen, esei, dan sajak yang dimuat di situ sifatnya sangat agresif dan menghantam kiri-kanan. Seingat saya tidak banyak karya yang dimuat itu memiliki nilai sastra yang tinggi. Bagi saya ini bukan hal yang baik bagi sastra dan kemanusiaan itu sendiri, karena penekanannya menjadi politis.
Bayangkan, semua tulisan yang bagi mereka tak searah dengan aliran realisme sosial dihantam terus-menerus, baik yang dirnuat di majalah Sastra maupun media lainnya. Melihat sikap keras saya, Lekra berusaha dengan berbagai cara mempengaruhi saya. Pram pernah datang ke rumah. “Bung Jassin, sebenarnya rekan-rekan saya ingin menyerang Bung Jassin habis-habisan. Tapi saya yakinkan bahwa saya bisa bicara empat mata dengan Bung Jassin tentang bagaimana kita melihat sastra. Bung Jassin tak sadar sekarang ini adalah abad milik rakyat. Jadi, ukuran-ukuran sastra yang dipakai harus kerakyatan. Sebaiknya kita menjejakkan kaki ke bumi agar karya bisa mencapai orang-orang kebanyakan,” kata Pram.
Saya kira sastra memiliki ukuran dan nilai-nilainya. Isinya boleh apa saja. Tak harus bicara tentang senjata atau perjuangan secara harfiah, toh sastra itu bisa ditujukan untuk siapa saja. Kita bisa bicara tentang sebuah keluarga dan itu bisa sampai ke rakyat. Namun, selama perdebatan itu, saya memang lebih banyak berdiam diri dan menjawab seperlunya saja. Tapi sudah jelas, kami tak berjumpa dalam suatu titik temu. Apalagi saya tetap menekankan bahwa karya apa pun — apakah dia memakai nama rakyat atau tidak — jika memang tak baik, saya tak bisa menerimanya sebagai karya sastra.
Awal 1960-an, sesudah Bung Karno mengumumkan Dekrit Presiden dan Manipol-Usdek serta Nasakom, jurang pemisah antara Pram dkk. dan saya semakin lebar. Dengan gencar mereka menyerang siapa saja yang dianggap tidak merakyat. Lama-kelamaan serangan mereka bukan hanya terhadap ide sastra kami, tapi juga kepada pribadi-pribadi kami.
Agustus 1963. Kami merasa sudah saatnya menyatakan pemikiran tentang kesenian dan kebudayaan. Banyak seniman dan budayawan yang berdatangan ke redaksi Sastra di Jalan Raden Saleh 24. Ada Bokor Hutasuhut, Wiratmo Soekito, Zaini, Goenawan Mohamad, Arief Budiman, dan banyak lagi. Mereka mengutarakan pemikiran bersama dalam membentuk apa yang kemudian dikenal sebagai Manifes Kebudayaan.
Kelompok ini sebenarnya tidak sengaja dibentuk dan tak pula memiliki kartu anggota atau persyaratan administratif. Kami hanya kumpul-kumpul berdasarkan pemikiran dan perasaan yang sama. Kami tulis pernyataan itu sebagai sebuah antitesis dari slogan Lekra, “politik adalah panglima”. Sebab, amatlah berbahaya jika semua cara dihalalkan demi politik.
Teks Manifes kami lontarkan pertama kali di harian Berita Republik dan mendapat dukungan dari banyak seniman di Jakarta, luar Jakarta, dan bahkan yang sedang tinggal di luar negeri. Teks yang ditandatangani 20 orang pada 17 Agustus 1963 itu juga dimuat di majalah Sastra. Tanggal 8 Mei 1964, pagi hari. RRI mengudarakan larangan resmi Presiden Soekarno terhadap Manifes Kebudayaan.
Kami, para penanda tangan, dianggap kontra revolusi dan menentang ManipolUsdek. Meski saya tak terlalu heran dengan larangan ini, saya kecewa juga. Toh saya mengerti posisi Soekarno yang memang tak bisa berbuat lain. Mungkin, sebagai seorang ayah ia tak ingin anak-anaknya bertengkar terus-menerus. Tentu saja pelarangan inilah yang diinginkan Lekra sejak semula. Sejak hari itu dan seterusnya kami “dibersihkan” habis-habisan: di instansi pemerintah dan nonpemerintah, di kampus-kampus digeser atau langsung dinonaktifkan.
Untuk menghindari pengganyangan yang lebih ganas, kami mengirim telegram permintaan maaf kepada Soekarno. Tapi ini pun hampir tak ada gunanya. Buku-buku para Manifestan dilarang terbit dan beredar. Mendadak buku-buku saya menghilang dari toko buku Gunung Agung. Penerbitnya menceritakan bagaimana Pemuda Rakyat ramai-ramai mendatangi toko itu dan mempertanyakan kenapa buku Jassin masih bercokol di situ. Dan tentu saja penerbitnya ketakutan.
Di Lembaga Bahasa tempat saya bekerja, saya menyadari bahwa sebagian anak buah saya adalah mahasiswa yang sering datang ke Bintang Timur. Saya menyadari bahwa mereka memata-matai saya setiap hari. Tapi saya tak ambil pusing. Bahkan pernah secara terang-terangan salah satu dari mereka menyampaikan pesan Pram agar surat-surat pribadi Pram yang saya simpan dikembalikan. Barangkali ia takut persahabatan saya dengannya dulu itu bisa membahayakannya. Udara busuk dan penuh kedengkian ini mencapai puncaknya ketika saya dibebastugaskan dari tugas mengajar di Fakultas Sastra UI.
Sebelumnya saya sudah mengajukan surat pengunduran diri untuk menghindari korban yang berjatuhan. Saya jadi semakin rajin memperdalam Islam dan ayat-ayat Quran. Di tengah galau tak menentu itu, saya mencoba menerjemahkan The Spirit of Islam karya Syed Ameer Ali menjadi Api Islam. Sementara itu, Masagung, pemilik penerbit dan toko buku Gunung Agung itu, dengan baik hati tetap membayar honor buku-buku saya, meski untuk sementara buku itu dihentikan peredarannya.
Menerjemahkan Al Quran Musim gugur di Leiden, September 1972. Di apartemen Kampung Melayu di mana mahasiswa Indonesia dan Malaysia wira-wiri, saya memandangi daun-daun memerah lantas gugur berderai-derai. Udara yang sejuk itu merangsang saya menerjemahkan ayat demi ayat Al Quran indah yang saya cintai itu. Buku Mulia itu saya tenteng ke mana-mana: London, Paris, dan kota-kota lainnya di Eropa.
Sejak 1950 saya mulai berkenalan akrab dengan Al Quran. Sejak saya masih menjadi mahasiswa Prof. A.S. Alatas, Prof. Prijono, dan Prof. Hussein Djajadiningrat. Di Fakultas Sastra UI, kami diwajibkan belajar sastra Melayu yang banyak menggunakan idiom bahasa Arab serta ayat Quran. Maka, kami harus belajar bahasa Arab, serta ayat Quran. Ketika itulah saya melihat betapa indah dan puitisnya terjemahan Al Quran karya Marmaduke Pickthallt, The lorious Koran. Bandingkanlah dengan terjemahan Mahmud Junus dalam bahasa Indonesia, yang terlalu mengikuti lekuk bahasa Arab, hingga keindahannya berkurang.
Pada saat Arsiti pergi, saya semakin ingin memasukkan ayat-ayat itu ke dalam diri saya dan mengirimkannya kepada orang yang pernah berarti dalam hidup saya. Saya pelajari Al Quran dengan saksama selama 10 tahun 5 bulan. Tidak hanya mempelajari Al Quran secara akademis saja, tapi bahkan ayat-ayat itu menjadi bagian dari diri saya. Di mobil saya selalu menghafal dan membaca ayat Kursi, atau ayat-ayat lain yang saya sukai. Maka, begitu orang mendengar si Jassin yang “tak tahu apa-apa tentang Islam” itu akan menerjemahkan Al Quran, ributlah semua.
Lalu, atas inisiatif Gubernur Ali Sadikin, saya dipertemukan dengan Majelis Ulama cabang Jakarta di rumah Gubernur di Jalan Taman Suropati. Saya bawa dua kopor berisi beberapa Al Quran asli yang saya hayati dari hari ke hari, buku-buku terjemahan dalam bahasa Indonesia, Inggris, Belanda, Jerman, dan Prancis, bermacam kamus Arab dan banyak catatan saya selama mempelajari Quran. Melihat buku-buku bahasa Arab itu dan mendengar penjelasan saya, hilanglah desas-desus bahwa saya menerjemahkan langsung dari bahasa Belanda.
Sekitar 20 orang ahli agama menanyai saya dengan ramah. “Pak Jassin, apakah Pak Jassin mengetahui bahwa menerjemahkan Al Quran itu memerlukan bermacam-macam ilmu. Dan kenapa Pak Jassin ingin menerjemahkan Al Quran?” tanya ulama pertama. “Sebelum saya menjawab pertanyaan Bapak, izinkanlah saya menjelaskan kenapa saya tertarik menerjemahkan Al Quran,” jawab saya.
Maka, saya jelaskan ketertarikan saya, dulu hingga kepergian Arsiti. Saya jelaskan semua proses pemahaman dan penghayatan saya, dari hari ke hari hingga bertahun-tahun. Kemudian saya jelaskan pula bahwa saya ingin Al Quran dimengerti dan dihayati dengan bahasa yang baik dan puitis. Mendengar penjelasan saya panjang-lebar, akhirnya para ulama itu mempercayai usaha saya. Dan akhirnya mereka bersedia membantu menilai hasil terjemahan saya kelak.
Selanjutnya saya dipersilakan memilih sendiri anggota tim penilai itu, di antaranya Bapak Muchtar Luthfi al-Anshory, ulama yang berjiwa seni. Tentu saja, ada berbagai reaksi pada penerbitan terjemahan Al Quran yang saya beri judul Bacaan Mulia itu. Ada hantaman, ada caci-maki, bahkan ada tantangan untuk berdebat di muka umum. Dan ini semua saya hadapi dengan tenang. Tapi, hingga cetakan ketiga yang segera akan terbit, saya kira Allah swt. tetap melindungi saya dan mengetahui maksud baik saya.
Saya ingat keterharuan ulama dan pengarang besar Hamka ketika saya sampaikan keinginan saya menerjemahkan Al Quran — begitu pengadilan kasus Langit Makin Mendung usai. Dia mengerti benar bahwa saya tahu bagaimana menerjemahkan Max Havelaar yang saya lakukan dalam 12 bulan itu, dan bagaimana pula menerjemahkan Al Quran. Bagi saya, yang terakhir ini adalah sebuah tugas yang harus saya lakukan dengan penuh penghayatan. Itulah sebagian kecil dari dokumentasi kehidupan pribadi saya.
Adapun Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin di Kompleks Taman Ismail Mrzuki, Jakarta, sampai kini menyimpan sekitar 30 ribu buku dan majalah sastra. Jika kau tengok lemari-lemari itu, yang penuh dengan kumpulan map-map tebal yang sudah mulai dikumpulkan sejak 45 tahun lalu, kau bisa lihat dokumentasi kehidupan sastra Indonesia. Impian saya — meski tak seliar mimpi para seniman — ialah mendirikan dokumentasi sastra dunia. Bertingkat-tingkat. Sastra Asia, Afrika, Eropa, Amerika, Amerika Latin. Ya, semuanya. Jadi jika kita memasuki gedung itu, kita seperti memasuki dunianya sastra dunia. Dan itu saya usahakan di hari-hari saya yang tua ini.
Meski sekarang pendengaran saya sudah semakin berkurang, hingga pernah menyerang rasa percaya diri, saya masih tetap memiliki keinginan yang kuat untuk membina sastra Indonesia. Saya masih berjalan kaki pulang-pergi dari rumah ke TIM, untuk bekerja bagi sastra dan seni.
Saya berjalan dan berjalan sambil menghafal ayat Al Quran. Mungkin kematian sama dengan gugurnya daun dari pohonnya. Kematian adalah sesuatu yang alami dan tak perlu disedihkan. Tapi, saya tak mau memikirkannya. Karena itu, setelah lelah berjalan saya hanya beristirahat sebentar. Lalu berjalan lagi, membuka buku-buku itu lagi. Dan, bait-bait sajak Chairil itu terus nyala dalam diri….
30 September 1989
Minggu, 31 Juli 2011
Mochtar Lubis: Pahlawan Saya Mahatma Gandhi
ditulis ulang: Leila S. Chudori
http://tempointeraktif.com/
Dalam usia 70 tahun pekan lalu, wartawan sejak sebelum perang ini mengenang banyak hal. Dari “zaman keemasan pers Indonesia”, hubungannya dengan Bung Karno, sampai bagaimana menjaga semangat dalam sel penjara.
Dialah wartawan Indonesia yang banyak memperoleh penghargaan internasional. Antara lain Hadiah Ramon Magsaysay dari Filipina, dan Pena Emas dari Federasi Pemimpin Redaksi Sedunia. Sastrawan yang juga banyak meraih hadiah ini, yang mendirikan majalah sastra Horison, dan salah seorang anggota Akademi Jakarta ini bertutur tentang semua itu kepada Leila S. Chudori.
***
Saat itu saya masih berusia sembilan tahun. Dan saya ingat betul, di suatu pagi, ayah yang bekerja sebagai seorang demang di Kerinci, melarang kami bermain di halaman belakang rumah kami yang luas. Rumah kami yang terletak di bukit memang dipenuhi pohon, dan kami sering memanjat pohon-pohon itu untuk memandang kota Sungai Penuh atau menonton yang terjadi di halaman belakang penjara. Tapi, justru karena ayah melarang, saya jadi penasaran. Saya terbelalak, karena saya melihat ayah saya beserta seorang dokter kenalan keluarga kami dan kontrolir Belanda berdiri di halaman belakang penjara.
Kemudian dua tahanan yang lunglai keluar dari pintu penjara diiringi pengawal penjara. Tahanan itu diperintahkan tengkurap di dua balai. Kaki dan tangan mereka diikat. Dua orang berpakaian hitam dan membawa cambuk panjang menyusul. Setelah dokter memeriksa kedua tahanan, kepala penjara memberi perintah pada dua orang berpakaian hitam tadi. Maka keduanya memulai mencambuki punggung kedua narapidana itu. Setiap kali cambuk itu mendarat di punggung mereka, hatiku terasa ikut dicambuk.
Dari jauh saya bisa melihat dengan jelas darah segar yang menetes. Kenapa Bapak tidak menghentikan tindakan itu? Dan bagaimana dokter kenalan kami bisa berdiri di sana? Lalu, kenapa kepala polisi yang selama ini begitu ramah tamah pada kami kelihatan garang di sana? Saya tak tahan lagi, saya menangis, saya berlari ke rumah.
Di rumah saya katakan pada ibu badan saya panas. Saya meringkuk di tempat tidur sampai Bapak pulang. Siang hari, Bapak banyak memandangi saya dengan lembut. Saat itu saya menyadari, ia pasti tahu bahwa saya mengintip kejadian itu. “Sekarang kau mengerti kenapa aku selalu melarang anak-anakku untuk menjadi pegawai Belanda. Cukup satu saja di keluarga ini!” katanya sambil mengusap kepala saya.
Saya menangis dengan hati perih. Belakangan saya baru tahu identitas kedua narapidana malang itu. Bapak bercerita bahwa kedua orang yang dicambuk itu kuli kontrak dari pulau Jawa. Mereka bekerja di perkebunan teh terbesar di Indonesia di daerah Kayu Aro, Kerinci. Karena upah mereka tidak memadai, maka para kuli ini suka meminjam uang. Nah, jika kontrak habis sementara mereka masih berhutang, terpaksa mereka bikin kontrak baru dengan Belanda. Ini menyebabkan mereka harus jadi kuli kontrak sampai mati.
Mereka yang sudah tidak tahan dengan beban itu lalu mencoba melarikan diri. Mereka yang kabur dan tertangkap itulah yang dipecut punggungnya hingga keluar darah. Kejadian ini terus membayang di benak saya, hingga mempengaruhi pandangan saya terhadap keadilan. Dan agaknya peristiwa inilah menjadi dasar dari sikap saya sebagai wartawan maupun sebagai penulis.
MASA KECIL
Sentuhan saya pada kesenian sebenarnya diawali dengan melukis. Saya mulai melukis ketika saya masih di sekolah rakyat. Baru ketika saya duduk di kelas V saya mulai menulis cerita anak-anak. Mungkin saya terpengaruh oleh ibu saya yang sering mendongeng dan saya mengulangnya buat adik-adik. Abang dari ibu saya seorang seniman Mandailing yang menulis syair-syair dalam huruf Mandailing. Ibu melahirkan saya di Padang 7 Maret 1922 sebagai anak keenam. Kami semua berjumlah 10 bersaudara yang terdiri lima perempuan dan lima lelaki.
Ibu saya, Siti Madinah bermarga Nasution meninggal ketika berusia 96 tahun. Ayah saya Raja Padapotan bermarga Lubis meninggal ketika berusia 75 tahun. Meski lahir dan dibesarkan di Padang, saya tetap merasa sebagai seorang Mandailing. Bagi saya, Mandailing adalah tanah yang cantik. Pada zaman kolonial, daerah itu masih penuh harimau, gajah, dan burung-burung dan tak mungkin saya bisa-lupakan alamnya dan gunung Merapinya, ada sungai yang indah berpasir mengandung emas. Orang Mandailing mencari nafkah dari tanaman karet, tapi jika harga karet jatuh, mereka ke sungai mendulang emas.
Meski ayah saya bekerja sebagai demang, tak bosan-bosannya ia mengatakan kepada kami, “Jangan kalian bekerja kepada pemerintah Belanda.” Sebagai pegawai Belanda, ayah saya terkenal tegas, tak pandang bulu. Ia pernah diturunkan pangkatnya gara-gara menampar seorang kontrolir Belanda. Ayah saya kesal karena kontrolir itu bersikap congkak.
Kesadaran bahwa kita dijajah cepat sekali tumbuh di dalam diri saya. Ayah tak mau menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah Belanda. Ia masukkan abang saya ke America Methodist Boys Scool di Medan, abang saya tertua dikirim sekolah di Singapura, dan saya sendiri setelah lulus sekolah rakyat dikirim ke Sekolah Ekonomi di Sumatera Tengah. Padahal, saya ingin masuk MULO, karena saya ingin jadi dokter. “Jangan! Kalau kamu sekolah dokter, nanti bekerja pula sama Belanda,” cegah ayah saya. Jadi, dengan berat hati saya Sekolah Ekonomi di Kayu Tanam, di kaki gunung di luar kota Padang.
Sekolah ini memang agak istimewa dari segi kurikulum maupun filsafat. Ini sekolah yang didirikan oleh salah seorang tokoh pendidikan yang bernama S.M Latief. Ia lulusan pertanian tinggi di Nederland. Latief membangun sekolah ini dengan tujuan mendidik anak Indonesia untuk menjadi mandiri, merdeka dan anti kolonialisme. Mereka mengajar kepada murid agar para murid jangan ada yang mau bekerja dengan Belanda setelah lulus nanti. Akhirnya, saya memang menyukai guru-gurunya dan setuju dengan filsafat sekolah itu, yakni anti kolonialisme. Maka kami mengerti apa arti penjajahan, mengapa kita menginginkan kemerdekaan, apa arti Indonesia Raya, apa harga diri bangsa, dan seterusnya.
Dalam hal kurikulum, sekolah ini agak berbeda dengan sekolah umum lainnya. Anak-anak yang bersekolah di situ bisa meneruskan SMP ke SMA yang sama. Dan masih semuda itu, kami sudah diajarkan pemikiran Adam Smith dan teori ekonomi lainnya. Selain itu, mereka juga tidak ingin menjejalkan hafalan seenaknya. Mereka ingin kami mengerti filsafat hidup melalui berbagai praktek.
Misalnya, suatu hari, kami diajarkan main catur. Mula-mula saya heran dan tidak melihat konteks pengajaran catur dalam hidup. Setelah delapan bulan gurunya bertanya, kenapa kita belajar main catur. Semua murid mengangkat tangan. Seorang kawan saya menjawab, “karena permainan ini mengajak kita berpikir berbagai langkah dan antisipasi ke masa depan dan belajar berpikir yang matang.” Dan guru saya membenarkan.
Ketika libur, anak-anak yang sudah kelas senior disuruh latihan kerja di perkebunan karet atau perkebunan kelapa sawit atau di pabrik, dan dianjurkan bergaul dengan kuli-kuli. Selain itu, karena kami tinggal di asrama yang fasilitasnya lengkap tersedia. Kami bisa main tenis, berenang, atau naik gunung. Jika pelajaran botani, kami diajak masuk hutan untuk mempelajari kekayaan tanaman Indonesia selama 10 hari atau lebih. Jadi kami tidak mengurung diri di kelas saja.
Yang paling mengesankan adalah perpustakaan sekolah yang saat itu yang terbesar di Sumatera karena memiliki 35 ribu buku. Latief mempunyai cara sendiri untuk mengumpulkan buku sebanyak itu. Setiap tiga bulan sekali, ia menerbitkan sebuah majalah bernama Resensi dalam empat bahasa: Jerman, Belanda, dan Prancis. Kemudian dia kirimkan ke semua penerbit di seluruh dunia. Maka para penerbit mengirim buku-buku sastra, ekonomi, politik, dan buku-buku lainnya ke perpustakaannya.
Yang lebih penting lagi, kami selalu didorong untuk selalu membaca. Cara mereka mendorong kami adalah dengan memberikan kredit angka jikalau kami bisa menceritakan kembali buku yang sudah kami baca. Melalui perpustakaan itulah saya mengenal karya sastra dunia. Saya ingat betul, salah satu buku yang berkesan bagi saya dimasa kanak-kanak adalah Tom Sowyer karya Mark Twain yang terjemahannya diterbitkan oleh Balai Pustaka. Sungguh saya melihat diri seolah-olah seperti Tom yang senang bertualang itu.
Saya juga terkesan oleh karya Hernet Becheer Stowe yang berjudul Uncle Tom’s Cabin. Betapa sedihnya ketika saya membaca halaman terakhir buku itu. Setelah lebih dewasa, saya mulai menyukai buku sastra klasik Perancis karya Dostoyesky dan berbagai sastra klasik Perancis dan Inggris. Untuk sastra kontenporer saya penggemar Albert Camus dan Ernest Hamingway. Ketika saya berusia 16 tahun saya bergabung dengan Indonesia Muda, sebuah pergerakan yang mendukung gerakan nasionalis untuk merebut kemerdekaan. Anggotanya adalah pemuda berusia 16 ke atas.
MASA PENJAJAHAN
Sebelum Perang Dunia II, sekitar tahun 1940-an, saya lulus sekolah. Karena saya bercita-cita ingin menjadi dokter, maka saya pindah ke Jakarta. Semula saya berkerja di Bank Factorij, sebuah bank besar Belanda yang mendukung finansial industri gula di pulau Jawa. Sementara abang saya, Bactar Lubis, yang sekolah di America Methodist Boys Scool, sudah bekerja di konsulat jenderal Inggris.
Selama saya bekerja di sana, saya selalu berterus terang pada rekan Belanda, “kalian tak boleh berlama-lama di sini.” Lalu kami mulai berdiskusi hingga meningkat menjadi perdebatan yang panas. Dua tahun kemudian, Jepang datang. Kantor Bank Fatorij langsung disita. Saya ingat betul, betapa gembiranya kawan-kawan saya yang menyangka akan dibantu orang Jepang. Ketika Jepang mendarat di Banten, orang Jakarta sudah siap menyambut. Saya menunggu mereka di Hayam Wuruk.
Di sebelah saya ada seorang nyonya muda Belanda dengan anaknya yang berumur sekitar lima tahun. Ketika tentara Jepang masuk, baunya menyerang hidung kami karena mereka baru saja berperang dan tak pernah mandi. Ada yang menuntun sepeda dan semua membawa senapan yang lebih panjang dari badannya. Eh, tiba-tiba anak kecil Belanda itu berteriak dalam bahasa Belanda sambil menunjuk bendera Jepang, “Mami, mami alangkah jeleknya bendera itu,mami…” Ibunya menyuruh anaknya menutup mulut sambil melirik saya, wajahnya tampak ketakutan. Saya tersenyum padanya. Dan nyonya muda itu membungkuk sedikit serta menarik anaknya, lalu mereka pergi.
Di situlah saya melihat betapa takutnya Belanda terhadap orang Jepang. Orang Indonesia pada umumnya gembira bukan karena Jepang masuk Indonesia, tapi gembira merayakan kekalahan Belanda. Ada yang percaya bahwa Jepang akan memberikan kemerdekaan itu dan adapula yang curiga dengan kehadiran Jepang. Belum lama ini terbuka bagaimana tentara Jepang memperlakukan wanita-wanita Korea. Saya merasa mereka pernah memperlakukan hal yang sama terhadap perempuan Indonesia.
Saya mendengar dari beberapa kawan, mereka melihat perempuan-perempuan Indonesia yang dibawa ke Tanjung Priok untuk dikirim ke Ambon dan ke tempat lain tentara Jepang bertugas. Entahlah. Memang ada yang melakukan investigasi tentang hal ini. Saya menganggur sekitar sebulan. Bang Bachtar bergabung dengan stasion radio yang saat itu sudah dikuasai Jepang. Bang Bachtar menginformasikan bahwa kantor radio militer Jepang memerlukan anggota redaksi yang mampu siaran berbahasa Inggris. Saya melamar dan diterima. Maka, pekerjaan saya setiap hari mendengarkan VOA, BBC, Radio Australia, Radio Belanda, dan Radio siaran asing lainnya. Setelah itu saya harus mencatat dan bikin laporan dan komentar.
Selain saya, ada beberapa orang Indonesia dan orang Belanda bekas redaksi Kantor Berita Belanda di Indonesia Aneta yang bekerja di sana. Kantor radio militer Jepang itu terletak di jalan Riau, belakang President Hotel sekarang. Saya senang karena saya bebas mengetahui apa yang terjadi di dunia dan setiap kali ada berbagai informasi, saya sampaikan pada Bang Bachtar yang ikut gerakan mempersiapkan perjuangan untuk merebut kemerdekaan.
Jepang memang kejam. Tapi mereka memperlakukan saya cukup baik. Terus terang, secara tidak langsung, saya belajar jurnalistik ketika bekerja di radio militer Jepang itu. Saya ikut latihan militer karena senang dengan latihannya yang keras. Pada zaman Jepang pula saya berkenalan dengan Hally yang kemudian menjadi istri saya. Ceritanya, Hally dulu bekerja sebagai staf di surat kabar Asia Raya yang diterbitkan Jepang. Ia berkawan dengan istri Rosihan Anwar yang bekerja di sana. Banyak wartawan bekerja di sana, termasuk B.M Diah dan Rosihan Anwar. Nah, saya berkenalan disitu.
Saat itu, sabun wangi sangat sukar didapat. Kebetulan saya menjadi salah satu juru distributor sabun wangi kepada kawan-kawan. Nah, salah satu sabun itu saya berikan pada Hally, untuk merayunya, ha,ha,ha… Maklum, sabun wangi adalah barang eksotik saat itu. Kami berpacaran dan menikah tahun 1945. Bulan Agustus 1945, saya sudah berjanji pada Bang Bachtar, saya akan memberitahu mereka jika Jepang kalah. Bang Bachtar dan kawan-kawannya sudah mempersiapkan pemuda-pemuda Indonesia. Jadi begitu saya mendengar berita tersebut, langsung saya kasih tahu padannya.
Bang Bachtar, Jusuf Ronodipuro, Taslim Ali, dan kawan-kawannya yang lainnya akhirnya merebut RRI Jakarta. Karena Bachtar dianggap salah satu pemimpin yang merebut RRI dari tangan Jepang, ia ditangkap polisi Kenpentai dan disiksa cukup berat. Setelah proklamasi ia masuk Akademi Militer Yogya.
MENJADI WARTAWAN
Setelah proklamasi, seorang kawan yang bekerja di Kantor Berita Antara mengajak saya membantu Antara. Sebetulnya Kantor berita Antara sudah didirikan di masa penjajahan Belanda, tapi pada masa pendudukan Jepang sempat dipegang oleh kantor berita Jepang Domei. Setelah Jepang kalah, Bung Adam Malik membenahinya kembali. Seorang wartawan Antara, Syahrudin juga mengajak saya untuk bergabung. Saya segera bergabung karena memang tertarik untuk menjadi wartawan.
Beberapa hari setelah saya bekerja, tiba-tiba Bang Bachtar mengajak saya masuk Akademi Militer di Yogya. “Kita harus ikut bertempur melawan Belanda yang akan datang ke sini. Abang sudah mendaftar di AMN. Kalau kamu mau ikut, kita bisa atur…” katanya. Terus terang, saya sempat tertarik untuk ikut berjuang dengan senapan. Maklum saat itu saya masih muda dan jiwa saya masih berkobar-kobar. “Tunggu dulu, Bang. Saya sudah berjanji dengan Bung Adam (Malik) untuk membantu Antara. Saya harus bicara dulu dengannya,” jawab saya. “Baik, saya tunggu tiga hari,” kata Bang Bachtar.
Saya agak bingung dan saya datangi Bung Adam. “Bung Adam, program perjuangan kemerdekaan nampaknya harus berubah… saya mau masuk militer saja…” kata saya. Bung Adam kaget. “Ah, jangan. Berjuta pemuda Indonesia sudah siap berjuang angkat senjata. Tapi yang berjuang dengan pena susah dicari,” bujuk Bung Adam. “Aduuuh,” saya garuk kepala, “kasih waktu dua harilah, Bung.” Buat saya pendapat Bung Adam dan Bang Bachtar sama-sama sah dan berharga.
Perjuangan pena maupun senjata sama beratnya, hanya lapangan yang berbeda. Dilema ini menyebabkan saya tak bisa tidur semalaman. Tapi, saya tertarik dengan bidang jurnalistik. “Bang, saya mau jadi wartawan saja …,” kata saya akhirnya. Bang Bachtar berangkat, lulus AMN, jadi letnan dan bertempur di daerah Krawang Bekasi.
Tahun 1949, muncullah ide untuk mendirikan sebuah harian yang independen dari pengaruh Belanda. Kawan-kawan mengatakan bahwa kita perlu satu suara yang mewakili Republik Indonesia. Ide dan dorongan datang antara lain dari Hasyim Mahdan, juru bicara komando militer Jakarta Hiswara, seorang wartawan Kolonel dan Yahya, Gubernur Militer Jakarta dan saya. Indonesia Raya lahir tanggal 29 Desember 1949 dengan filsafat Dari Rakyat Untuk Rakyat. Logonya berwarna hitam dan terbit hanya empat halaman. Headline kami yang pertama adalah tentang timbang terima kedaulatan Indonesia di Istana Merdeka.
Karena dulu belum ada yang namanya SIT (Surat Ijin Terbit) atau SIUP (Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers), jalan untuk penerbitan Indonesia Raya sangat mudah. Cukup hanya dengan mendaftar kantor polisi saja. Saat itu jumlah “awak kapal” Indonesia Raya hanya sekitar 15 orang, termasuk reporter dan korektor. Pemimpin Redaksi pertama adalah Hiswara, dan beberapa saat kemudian, baru saya menggantikannya.
Memang saat itu pers belum menjadi industri besar. Penghasilan Indonesia Raya sebagian besar tertolong karena kami dilanggani beberapa ribu eksemplar oleh Angkatan Darat, yang beranggapan perlunya surat kabar yang mendukung Republik Indonesia untuk mengimbangi pers Belanda. Seingat saya, demikian pula keadaan oplah harian Pedoman dan Abadi. Dalam keadaan kesulitan cashflow, selalu ada saja pengusaha yang membantu kami, antara lain almarhum Syahzam, adik Perdana Menteri Syahrir Dasaad Haji Gani.
Saya merasakan yang sering kami sebut secara bergurau sebagai zaman keemasan pers Indonesia. Di tahun pertama kemerdekaan sistim parlementer dilaksanakan, partai-partai yang punya suara terbesar membentuk pemerintahan dari tahun 1946 sampai tahun 1955. Kebebasan pers saat itu sangat baik dan jauh lebih terjamin dibandingkan dengan masa kini. Bayangkan, berbagai harian bisa mengkritik pemerintah secara langsung. Jika pemerintah tersinggung paling-paling mereka membantah. Artinya pemerintah mengerti yang disebut hak jawab.
Hally, istri saya, sangat kritis terhadap berita-berita yang dimuat harian Indonesia Raya. Jika Indonesia Raya dianggap melempem, ia pasti menyindir saya. “Kok, rasanya sudah nggak enak ya baca Indonesia Raya.” Saya tertawa saja. Buat saya, komentar Hally memang penting karena ia sangat berharga dalam kehidupan saya. Ia adalah istri yang setia dan mengerti akan perjuangan. Ia sangat tabah ketika saya dipenjara. Ia tahu itu konsekuensi perjuangan. Tentu Hally sangat sedih. Tapi Hally sangat mendukung perjuangan kami sepenuhnya. Ketika saya ditahan di Madiun, Hally pasti muncul setiap bulan, naik KA berjubel-jubel, dengan ibu Anak Agung, Anak Agung Gde Agung, Yunan Nasution, dan lain-lain.
BUNG KARNO DAN SAYA
Orang sering menganggap saya sebagai musuh bebuyutan Bung Karno. Sebenarnya saya sangat menghargai Bung Karno pada awal pemerintahannya hingga masyarakat dan pers bisa sebebas itu. Bahkan, percaya atau tidak, Bung Karno pernah menjadi salah satu idola saya pada zaman Belanda. Pada zaman pendudukan jepang saya mulai skeptis padanya karena ia menganjurkan anak-anak muda masuk Romusha dan Heiho. Sebagai pemimpin seharusnya ia tahu akibatnya pada anak-anak muda yang kagum padanya.
Pertemuan saya pertama kali ketika saya mewakili Antara di Yogyakarta. Saat itu, ibu kota Indonesia masih di Yogyakarta. Saya ingat, ada sekitar lima atau enam wartawan yang berbincang dengan Bung Karno dan banyak orang, sehingga saya tak punya kesempatan berbincang secara personal. Ketika Bung Karno kembali ke Jakarta dan masuk ke Istana Merdeka, saya mulai mengenal Bung Karno secara pribadi. Maklum saat itu, tak seperti masa kini, Istana Merdeka sangat terbuka bagi wartawan. Bung Karno rajin mengundang kami makan bersama sambil mengobrol, saya terkesan oleh keramahan dan kehangatannya. Bayangkan, kami selalu diperlakukan sama, duduk bersama dan makan bersama di satu meja.
Indonesia Raya mulai mengkritik Bung Karno ketika ia kawin lagi dengan Hartini. Suatu hari kami didatangi serombongan perempuan yang menamakan dirinya Perhimpunan Puteri Indonesia (PPI). Ini organisasi pembebasan wanita yang sama sekali tidak identik dengan filsafat Dharma Wanita. Sayang saya lupa nama ketuanya. Yang jelas rekan-rekan wanita ini mengutarakan kekecewaan mereka, kenapa Presiden Indonesia yang mereka hormati dan selalu memuji harkat wanita wanita Indonesia itu bisa kawin lagi.
Mereka semua berpihak pada Fatmawati dan mengatakan harian Indonesia Raya harus membicarakan soal ini. ” Ini menyangkut martabat perempuan. Lihat, masak ibu negara diperlakukan seperti ini,” kata salah satu anggota PPI. “Tunggu dulu. Apa benar Presiden kawin lagi, kami harus mengecek lagi,” kata saya merasa terdesak. Lalu mereka menginformasikan Bung Karno mengawini Hartini di Cipanas. Akhirnya, saya pergi sendiri ke sana.
Saya cari penghulunya ke Kantor Urusan Agama. “Pak, saya dengar ada kabar gembira ya. Presiden kita sudah memperbesar keluarganya dan saya dengar bapak yang mengawinkan? ” Penghulu itu nampak senang mendengar pertanyaan saya, “O, betul Pak…” katanya semangat. Dia membuka bukunya. Saya baca: nama Soekarno, jabatan Presiden Indonesia dan seterusnya. Dan nama itu memang menikah dengan Hartini. Saya catat apa yang saya baca. Kisah ini kami beritakan di harian Indonesia Raya sebagai head line dan editorial keesokan harinya. Pemberitaan kami mengakibatkan kehebohan. Apalagi, kami juga menekankan di editorial bahwa betapa tak pantasnya seorang pemimpin memberi contoh demikian.
Yang kami dengar kemudian, Bu Fatmawati bermaksud meninggalkan istana. Yang menarik, setelah hebohnya headline itu, Bung Karno toh masih mengundang saya ke Istana Bogor untuk menghadiri acara rutin yang diadakannya. Ini acara berpiknik Bung Karno dengan wartawan beserta istri masing-masing sambil makan siang, mendengarkan musik dan menari lenso. Sikapnya tetap baik. Malah dia berolok-olok kepada rekan-rekan, “Alaah, Mochtar kan cuma cemburu sama saya…” Ha,ha,ha …Bung Karno memang lucu.
Indonesia Raya terus menghantam perkawinan-perkawinan Bung Karno berikutnya setelah perkawinannya dengan Hartini. Tapi Bung Karno tidak pernah bereaksi terhadap tulisan-tulisan itu. Yang membuat Bung Karno berang adalah tulisan saya mengenai sikap Bung Karno terhadap Jepang. Saya mengkritiknya gara-gara ratusan ribu pemuda Indonesia bersedia menjadi Romusha dan Heiho. Mereka mati disiksa Jepang karena mengikuti seruan Bung Karno dalam pidatonya untuk membantu perjuangan tentara Jepang. Saya punya banyak bukti kejamnya perlakuan Jepang terhadap pemuda-pemuda Indonesia yang ikut Romusha.
Ketika Ibu Kota dikembalikan ke Jakarta, Bung Adam Malik bilang kami harus keliling Asia Tenggara untuk membuat kontak-kontak untuk Kantor Berita Antara. Di Filipina, kami bertemu dengan dua orang Indonesia yang pernah ikut Romusha. Tubuh mereka bagaikan mayat, sudah tak berdaging dan mata cekung. Adapun yang bersedia bergabung dengan Jibakutai, pasukan bunuh diri Jepang. Saat terakhir Jepang di Jakarta, sebelum pasukan Inggris masuk, saya bertemu dengan satu regu Jibakutai mereka digunduli, berbadan besar dan tidak bersedia berbicara.
Sayang ketika Jepang kalah, Jepang banyak membakari dokumen militer mereka. Saya yakin, sebenarnya belakangan Soekarno menyadari bahwa imbauannya terhadap pemuda Indonesia untuk bergabung menjadi Romusha dan Heiho adalah kesalahan besar. Namun, tampaknya sudah terlajur termakan slogan “Inggris kita linggis, Amerika kita seterika”, meski sudah jelas Jepang akan kalah.
Suatu hari Jaksa Agung Suprapto menelpon saya: “Bung Mochtar, coba datang kemari sebentar.” Sayapun datang. Pak Suprapto menceritakan ada telepon dari Istana mengenai tulisan Romusha.” Saya tertawa. “Perkara Romusha? Wah, saya senang sekali kalau bisa bicara dengan Presiden soal Romusha,” sambut saya. “Saya siap dituntut, Pak. Saya bisa mengumpulkan sekitar 100 atau 200 orang yang pernah ikut Romusha” sambung saya lagi.
Saat itu undang-undang masih berlaku dengan baik, jadi saya siap menghadapi tuntutan seorang Presiden pun. “Tunggu dulu,” kata Jaksa Agung, “Saya harus lapor dulu pada Bung Karno.” Tiga hari kemudian saya ditelepon Jaksa Agung dan saya diminta singgah lagi. “Bung Karno tidak jadi menuntut…”kata Jaksa Agung Suprapto. “Lho, kenapa? Saya sudah menyatakan sudah bersedia kok,” kata saya. “Entah. Katanya, cabut saja,” jawab Jaksa Agung Suprapto.
Salah satu contoh lagi tentang kemerdekaan pers saat itu adalah kasus Roeslan Abdulgani, menteri luar negeri waktu itu. Ia menuntut Harian Indonesia Raya. Wakru itu ada undang-undang yang melarang warga negara Indonesia membawa mata uang asing ke luar negeri tanpa izin Departemen Keuangan. Roeslan Abdulgani dititipi uang oleh kawannya yang bernama D. Quelyu, bekas direktur Percetakan Negara, untuk suatu keperluan. Lalu kami mendengar keluhan orang Departemen Keuangan tenteng pelanggaran ini. Isi tulisan Indonesia Raya merusak nama baiknya. Kami membuktikan memang dia telah melakukannya, dan hakim membebaskan saya dari dakwaan Ruslan Abdulgani.
Belakangan, Roeslan Abdulganilah yang menjadi terdakwa. Bayangkan, zaman itu, seoarang menteri bisa dibawa kemeja hijau. Dan bahkan di dalam pengadilan terbukti Roeslan telah membawa uang asing hingga ia dijatuhi hukuman penjara dua tahun sekian bulan. Presiden Soekarno segera memberi amnesti kepada Roeslan, maka ia tak dipenjara. Hubungan saya dengan Roeslan tetap baik setelah kejadian itu, paling tidak dari pihak saya tidak pernah terjadi apa-apa. Hal-hal semacam ini masih bisa dilakukan pers jaman itu terutama, karena lembaga yudikatif masih sangat indenpenden.
Di masa itu pers masih dimungkinkan untuk menulis seorang menteri melanggar peraturan dan melakukan korupsi. Tentu saja sang menteri boleh menuntut. Tapi sang pemimpin redaksi juga mendapat kesempatan membuktikan apa yang ditulis itu bukan omong kosong. Ini menunjukkan bahwa perangkat hukum saat itu seperti hakim, jaksa, dan pengacara, masih bisa dipercaya intergritasnya. Tapi setelah Bung Karno mulai kacau, membubarkan konstituante dan mengangkat dirinya sebagai presiden seumur hidup, hancurlah masa jaya pers Indonesia.
Ketika BK meninggal, terus terang saya sangat sedih. Buat saya, biar bagaimana, ia adalah seorang pemimpin besar yang banyak jasanya. Memang jasanya dihancurkannya sendiri dan telah meninggalkan warisan yang harus dibereskan kembali. Sebagai seorang tokoh, ia seorang tokoh yang tragis. Ia disanjung rakyat, bahkan hingga kini, tapi dalam kurun waktu terakhir, ia terlalu asyik dengan petualangan politiknya dengan PKI yang tidak bermutu.
Saya banyak kawan-kawan lain adalah korban-korban dari PKI dan Lekra, jadi sulit bagi kami untuk melihat rasio di balik tindakan-tindakan mereka. Di dalam dunia kesenian, PKI tak kalah agresifnya. Saya tak pernah kenal Pramoedya Ananta Toer, sastrawan yang tokoh Lekra, secara dekat, karena bagi saya dunia kami memang berbeda. Bahwa kemudian buku-buku saya, Achdiat Kartamihardja, Takdir Alisjahbana, dan pengarang-pengarang lain dilarang karena desakan Lekra adalah salah satu desakan yang tidak mengherankan.
Pelarangan itu resminya menyatakan buku-buku itu anti demokrasi terpimpin. Saya ingat betul, sebelum saya ditahan oleh Soekarno, secara kebetulan saya bertemu dengan Aidit di resepsi di kedutaan RRC di Jakarta. “Aaah, Bung Mochtar, sudah lama tidak bertemu,” tegur Aidit. “Bung Aidit, makin hebat saja,” jawab saya: “Aaah, tidak, biasa saja. Begini Bung, saya ingin meramal sesuatu. Kelihatannya Bung Moctar dan mungkin anak-anak Bung tidak mungkin saya bikin menjadi PKI. Tapi saya pastikan, cucu Bung Mochtar suatu hari akan menjadi PKI. Saya yakin.” Saya tertawa mendengar ramalan itu.
Tahun 1974, ketika para wartawan senior diajak Pangkobkamtib (saat itu) Jenderal Soemitro mengunjungi pulau Buru, kata-kata Aidit terngiang kembali. Apa katanya, jika ia melihat kawan-kawannya bekerja di pulau terpencil seperti ini, memacul, membersihkan WC dan kesepian? Apakah Aidit masih akan tertawa terbahak-bahak? Kami mendapatkan waktu tersendiri untuk berbincang dengan Pramoedya. Ia menceritakan bagaimana beratnya tinggal di pulau Buru dan bagaimana mereka harus mendirikan rumah-rumah itu sekaligus menanam jagung dan membangun komunitas dari nol.
Pram mengeluh bahwa penjagaan terhadap mereka sangat keras dan jika ada yang berani mencoba lari, hukumannya sangat berat. Pram kelihatan sangat emosional dan memperlihatkan bahwa ia tak setuju dengan perlakuan terhadap penghuni penjara. Ia kelihatan sangat geram dan saya bersimpati kepadanya.
SAYA DITAHAN
Di suatu malam jumat, 21 Desmber 1956, saya ditahan atas perintah Bung Karno. Ia memerintahkan Nasution untuk menangkap saya. Nampaknya akhirnya kesal juga melihat tak bosan-bosannya mengkritiknya. Beberapa kawan sudah mulai mengolok-olok saya karena masih juga berseliweran dan belum juga ditahan Bung Karno. Awalnya penangkapan tokoh-tokoh PSI dan Masyumi, seperti Syahrir, Subadio (Sastropratomo) dan Natsir. Saya mengkritik penangkapan ini. Lalu saya dikenakan tahanan rumah.
Indonesia Raya boleh terbit. Saya tetap menulis tajuk rencana. Caranya, Hally membawa naskah itu ke kantor dan sementara saya tetap di rumah saya di jaga dua CPM bersenjata penuh setiap hari. Bulan pertama, saya tak boleh terima tamu, bulan berikutnya saya sudah mulai bisa merayu para penjaga. Saya bercerita tentang alasan saya mengkritik Bung Karno. Akhirnya mereka mulai mengerti, kalau saya mau keluar rumah.
“Pokoknya kami tutup mata deh, Pak…” kata mereka. Mereka percaya saya tak akan melarikan diri dan saya memang tak pernah berencana melarikan diri kemana-mana. Suatu hari, malah para penjaga CPM itu yang permisi mau pergi sebentar. “Pak kalau letnan kontrol, tolong dong bilang kami di belakang. Kami tinggalkan senjata. Kami mau ke Jakarta Kota cari duit…” Mereka pergi ke Glodok. Ketika letnannya datang saya bilang anak buahnya sedang di belakang. Pernah pula suatu malam, mereka minta izin pulang. “Pak, sudah dua minggu saya tidak tidur sama istri, jadi minta pulang ya …” Nah, karena itu para penjaga CPM bisa kompak dengan saya.
Setelah tiga bulan, saya bilang, “Eh, sudah lama saya tidak nonton film. Nonton yuk…” Mereka mau dan katanya: “Tapi belakagan saja datangnya, biar tidak kelihatan. Bapak terlalu dikenal orang, kalau ketahuan, kami yang susah.” Saya setuju. Maka saya nunggu di mobil sampai penonton sudah masuk semua, lantas kedua CPM itu mengurus tiketnya di Globe Teater. Ternyata tidak pakai karcis karena ada tempat duduk gratis buat anggota pemadam kebakaran yang dapat dipakai.
“Pak, kolonel mau nonton, ” kata CPM itu kepada menejer bioskop. “O, beres …” Saya segera diantar ke dalam dan orang-orang memberi hormat pada saya. Saya menahan tawa geli. Dulu, jabatan kolonel itu sangat tinggi. Begitulah kehidupan saya selama empat tahun, Indonesia Raya tetap beredar dan tetap laku. Setelah saya dibebaskan, saya mendapat undangan dari International Press Institute untuk menghadiri sebuah konprensi international di Tel Aviv. Di dalam konperensi itu saya mengatakan bahwa berbagai pemerintah negara berkembang tidak suka pada kebebasan pers. Banyak pemerintah negara berkembang takut di ekspos. Bung Karno nampaknya tidak suka dengan ucapan saya.
Ketika saya pulang, mampir di Singapura karena janji ketemu dengan istri saya untuk honey moon kedua. Ketika kami tiba di Kemayoran, di Imigrasi, pegawainya mengatakan “Maaf Pak, ada perintah jika bapak pulang, paspornya harap diserahkan pada kami.” Saya jawab, “Ambil saja.” Sebulan saya tidak diapa-apakan. Lalu saya dipanggil Peperti (Penguasa Preng Tinggi), “Pak, kami diperintah menahan Bapak.”
Waktu itu Mayor Pepertinya adalah Mayor Sudharmono yang sekarang menjadi Wakil Presiden. Jadi tugasnya dulu adalah menangkap-nangkapi orang. Alasannya menangkap saya karena saya dianggap menjelek-jelekan kepala negara. Padahal saya hanya mengatakan bahwa kebanyakan berbagai negara berkembang tidak suka kebebasan pers dan sama sekali tidak menyebut Bung Karno. Akibatnya, saya dibawa ke RTM (Rumah Tahanan Militer) di jalan Budi Utomo, dan dimasukkan ke dalam sel. Itulah pertama kali saya masuk sel.
Saya mendapat kamar yang sempit. Saya merasa gusar dan marah. Saya tak bisa duduk, tak bisa tidur. Beberapa hari dalam keadaan demikian, saya seperti mendengar suara bahwa jika saya terlalu merasakan penderitaan di sel itu, saya akan sakit. Benar juga. Maka saya menulis surat untuk Hally agar membawakan buku-buku bacaan, kertas, dan pena. Saya membaca dan rajin menulis buku harian sekaligus bersosialisasi dengan orang-orang sesama ditahan. Ada serdadu, ada yang ditahan dengan tuduhan subversi, ada pencopet, ada pembunuh. Pokoknya mereka sangat menarik untuk dijadikan bahan cerita.
Setelah beberapa lama di sana, saya dipindahkan ke RTM Madiun. Penjara di Madiun ini, berbeda dengan sebelumnya, penuh sesak dengan sebelumnya tahanan politik seperti Prawoto Mangunkusumo, Yunan Nasution, Kyai Ashari, Sultan Hamid, Princen dan lain-lain. Tapi saya anggap penderitaan di penjara ini tak seberapa karena direktur penjaranya seorang kapten yang gila tenis. Ia selalu mengajak kami main tenis setiap kali ada yang membawa bola tenis baru dari Jakarta. Bahkan kami sering dibawa main tenis ke tengah kota, minimal sebulan sekali.
Sekali waktu kami dipanggil kepala penjara yang baru dapat instruksi dari Jakarta. “PKI mengadu, katanya bapak-bapak terlalu enak hidupnya di Madiun. Jadi sementara ini kita jangan main tenis di luar dulu,” katanya. Maklum, zaman itu PKI sedang dominan. Ketika peristiwa gerakan 30 September PKI pecah, saya masih di penjara Madiun. Kami semua hanya mendengar peristiwa itu dari radio Jakarta.
Yang pertama disiarkan adalah nama-nama Dewan Revolusi. Saya ingat, yang pertamakali bereaksi adalah pak Subadio, “Wah, ini jelas PKI.” Kami semua langsung berdiskusi dan berkesimpulan bahwa di belakang itu adalah PKI. Kami semua memang menentang PKI.
Kami berbincang dengan pemimpin penjara, seorang komandan CPM, saya bilang, “Mayor, kalau PKI bisa jalan terus, kamilah yang pertama dibunuh di Madiun. Apakah anda bisa menjamin keamanan kami?” Mayor itu menjawab terus terang, “Tidak bisa Pak. Persenjataan dan anak buah kami tidak cukup. Tapi saya akan berusaha mengumpulkan senjata apapun ke sini. Nah, terserah Bapak-bapak akan melakukan apa. Jika mereka menyerbu, dengan anak buah yang lima orang ini, terserahlah.” Kami menghargai keterusterangannya dan kerja samanya, dan langsung menyusun strategi.
Rekan-rekan sepenjara dari Masyumi segera mengontak kawan-kawannya di Madiun, entah bagaimana mereka juga mendapatkan senjata dan mereka menyatakan siap untuk menjaga orang-orang yang di penjara. Suasana saat itu sangat menyeramkan dan tegang. Ketika saya mendengar salah satu korbannya adalah Ade Irma Suryani Nasution, hati saya menangis dan luka. Ini peristiwa yang sungguh gila. Sambil tiduran, meski mata terpicing, saya teringat kembali bagaimana kejam dan berkuasanya PKI ketika Bung Karno memberi angin.
Saya ingat bagaimana pandainya mereka menteror orang-orang yang menentang mereka. Tapi seberapapun kejamnya PKI masa lalu, saya tak setuju jika ada anak-anak, atau saudara eks PKI ikut-ikutan terkena getahnya seperti apa yang terjadi di masa Orde Baru. Artinya mereka dihukum berdasarkan guilt by association. Konsep bersih lingkungan adalah sebuah konsep yang sangat tidak saya setujui.
Apa salah anak-anak, kemenakan, atau cucu-cucu orang-orang PKI itu? Yang bersalah adalah orang tua mereka, bukan anak-anaknya atau saudaranya yang belum tentu percaya pada ideologi yang dianut bapak, adik, atau kakaknya. Itu sangat tidak adil dan tidak manusiawi. Tentang kejadian itu sendiri, saya tetap percaya bahwa kejadian tanggal 30 September itu adalah gerakan PKI.
SASTRA
Saya sudah mulai menulis sastra secara serius tahun 1946. Semuanya diawali karena saya tergugah melihat anak-anak muda yang mengikuti perjuangan bersenjata. Saya pernah mengikuti Syahrir, perdana menteri RI waktu itu, dan beberapa pejabat Departemen Luar Negeri ke Yogyakarta. Di kereta api ikut juga Soebandrio yang kala itu menjadi Sekjen Departemen Penerangan. Kala itu Bung Karno sudah pindah di Yogyakarta, tapi perdana menteri masih di Jakarta.
Kami naik kereta api ke Yogyakarta. Ketika kami menyeberangi batas antara tentara Republik dan tentara Belanda di kali Bekasi, saya melihat anak-anak Indonesia mulai menembak. Kami jalan terus ke Karawang. Kereta api berhenti. Lalu, kami dapat laporan, beberapa anak Indonesia terkena tembak. Soebandrio sebagai dokter segera bertindak. Dia mendiagnosa ada yang kakinya harus dipotong. Karena tidak ada alat untuk melakukan operasi, kaki mereka dipotong dengan gergaji. Sungguh mati, saya tak kuat melihatnya. Itulah sebabnya jika saya melihat para politikus Indonesia mempermainkan rakyat, wuaduh, saya marah besar. Saya sudah melihat bagaimana rakyat bersedia mengorbankan jiwanya untuk kemerdekaan Indonesia.
Saya tidak ingin terlalu emosional dalam sebuah penulisan jurnalistik, meski yang saya lihat adalah realita. Menyadari keterbatasan jurnalistik, saya lalu menuangkan hal-hal seperti itu ke dalam sastra. Sastra bisa mengekspresikan persoalan humanitas dan emosi manusia dengan kuat. Cerita pendek saya yang pertama dimuat di majalah Siasat. Waktu itu, usia saya sekitar 24 tahun. Lalu cerita pendek berikutnya dimuat di Mimbar Indonesia. Saya selalu menulis sebuah kisah fiksi berdasarkan pengalaman-pengalaman saya.
Sastra saya adalah kisah nyata berdasarkan kisah masyarakat kehidupan yang nyata. Bromocorah, Harimau-harimau, Kuli Kontrak, Si Djamal semuanya adalah berdasarkan kisah nyata. Bromocorah diilhami pada saat saya ditahan Bung Karno di Madiun. Bromocorah yang mengilhami saya itu kerjanya membelah kayu, dan saya sendiri sering mencari kayu untuk saya ukir. Kami sering mengobrol dan dia menceritakan ketika lari ke Riau. Saat itu masih banyak perampok kapal yang datang dari Singapura. Dan dia mengaku sering ikut kapal-kapal itu untuk merampok.
Cerita pendek Dara juga adalah sebuah kisah nyata tentang anak puteri kawan saya. Mengembara dalam Rimba adalah pengalaman saya ketika masih muda mengembara dalam hutan-hutan. Si Djamal memperlihatkan kenaifan manusia Indonesia. Dia seorang intel di Yogyakarta ditugaskan memata-matai Belanda di Jakarta. Belum apa-apa, yang dilakukannya pertama kali adalah mendatangi saya di kantor, menunjukkan kartu intel yang dimilikinya, dan menceritakan ke seluruh dunia bahwa ia adalah intel. Waduh, naif betul. Saya tertawa terbahak-bahak melihat kelakuannya.
Juga banyak yang merasa bahwa dalam Senja di Djakarta saya menceritakan sebagian kawan-kawan saya. Soedjatmoko sampai menghampiri saya dan mengatakan, “pasti tokoh ini adalah saya….” Dan saya jawab, “saya tak akan bilang apa-apa, tapi yang pasti memang ada Anda.” Kami sama-sama tertawa.
Saya ingat, suatu pagi ketika saya naik mobil menuju kantor Indonesia Raya, saya melihat seorang wanita yang kotor dan setengah telanjang. Ia berdiri di bawah pohon dan beberapa kali saya lewat, ia tampak tertawa sendiri, dan ngobrol sendirian. Sepotong kain yang menutup pinggulnya tampak kotor dan sobek-sobek. Maka saya tanyakan pada Hally, apakah ia memiliki sepotong kain batik bekas untuk diberikan pada perempuan itu. Hally segera memberi sepotong kain baik, dan sehelai blus.
Pagi itu juga saya menghampiri perempuan itu. Karena nampaknya sukar berbicara dengannya, saya hanya menggunakan bahasa tangan saja bahwa saya ingin memberikan kain batik dan blus itu padanya. Ia malah lari meninggalkan saya, dan setiap kali saya mendekat ia menjauh malu-malu. Beberapa hari saya bolak-balik, dan yang terjadi adalah wanita itu lari setiap kali melihat saya. Akhirnya saya tinggalkan saja potongan kain itu di bawah pohon.
Dari jauh, saya melihatnya ia mengambil kain batik dan blus itu. Sebuah pertanyaan yang selalu mengganggu saya adalah: apakah wanita itu benar-benar gila atau ia berpura-pura gila? Setelah beberapa lama, akhirnya saya menulis sebuah cerita pendek berjudul Perempuan Gila. Isi ceritanya adalah seorang perempuan yang sebenarnya tidak gila, tapi karena tidak memiliki baju, maka ia berpura-pura menjadi gila.
Saya ingat, saya menerima beberapa surat yang menyukai cerpen itu, tapi beberapa surat lain protes karena menganggap saya membesar-besarkan kondisi kemiskinan di Indonesia. Nampaknya banyak juga orang Indonesia yang menolak untuk melihat realitas di sekelilingnya. Tapi, semua komentar ini penting untuk saya.
Kritikus yang paling saya perhatikan di dunia ini adalah isteri saya sendiri. Seperti dalam dunia jurnalistik, Hally pun berperan penting dalam dunia kepenulisan saya. Ia sangat penting bukan hanya dalam karya saya, tapi dalam kehidupan saya. Terkadang karya saya, saya ubah karena kritik Hally, tapi sering juga saya biarkan.
Perhatian saya terhadap dunia sastra salah satunya adalah melalui Yayasan Obor. Ini adalah satu yayasan yang antara lain bergerak di bidang penerjemahan karya sastra asing ke Indonesia. Saya menganggap, masyarakat Indonesia patut diperkenalkan dengan karya sastra dunia, yang bukan hanya dunia Barat tapi juga belahan dunia lainnya, misalnya India, Filipina, Muangthai, Kenya, dan negara Dunia ketiga lainnya misalnya negara Amerika Tengah dan Selatan. Tapi itu tak berarti saya tak menghargai sastra Indonesia. Saya menyukai karyakarya Ramadhan KH karena ia sangat memperhatikan persoalan sosial. Novelnya Kemelut Hidup dan Keluarga Permana sangat menyentuh perasaan saya.
Saya juga menyukai karya Achdiat Kartamihardja dan Rendra. Saya juga menyukai Sutardji Calzoum Bachri karena ia berhasil membuat inovasi baru dalam dunia kepenyairan Indonesia. Tapi yang saya kenal betul sebagai seorang penyair dan secara pribadi adalah nama Chairil Anwar. Pertemuan pertama saya di rumah seorang teman. Lantas, saya juga sering bertemu di rumah Bung Syahrir. Saya tertarik dengan semangatnya yang selalu berapi-api, matanya selalu merah, dan badannya ceking seperti kekurangan makan. Mungkin karena itu dia selalu datang ke rumah saya tepat jam makan siang, ha,ha,ha…
Chairil pernah juga menyumbang perpustakaan saya dengan buku-buku curiannya. Ha,ha,ha. Ceritanya begini. Setiap hari saya menuju kantor majalah Mutiara, kantor saya sebelum mendirikan Indonesia Raya, saya selalu melalui sebuah toko buku besar yang terkenal, Van Dorp. Saya tahu betul, Chairil sangat ahli mencuri buku di situ. Pernah saya iseng-iseng bilang, “Ril, saya ingin deh sebuah buku.” Chairil mencatat nama buku itu, lalu katanya: “Beres. Kau bonceng aku ke toko buku itu, Tar.”Setengah jam kemudian dia datang, dan melempar buku itu ke atas meja saya.
Dia juga sering meminjam buku milik perpustakaan USIS (United States Information Service) untuk saya dan tidak mengembalikannya. Gila nggak!! Ha,ha,ha… Bicara tentang Chairil berarti bicara soal wanita-wanita impiannya. Pacar Chairil banyak betul. Kelihatannya waktu Chairil hanya habis digunakan untuk pacar-pacar dan puisinya. Kami selalu prihatin melihat cara Chairil menggunakan waktunya. “Ril, kau ini jangan seperti lilin, terbakar di ujung atas dan bawah. Kau punya bakat begitu bagus. Jaga dong kesehatanmu.” Dia selalu menjawab dengan matanya yang merah dan suara parau, “Ah, itu kan prinsip hidup kalian yang borjuis. Aku ini seniman murni.”
Seringkali kini jika kita berdebat soal sastra dan kebudayaan, saya teringat Chairil karena pemikiran Chairil tentang budaya sangat tajam. Memang benar, sekarang banyak sekali seniman-seniman muda yang potensial dan banyak pula forum-forum yang tumbuh. Tapi saya tidak yakin diskusi-diskusi atau forum yang terjadi kini mengekspresikan keadaan di masyarakat. Saya ikut dalam Forum Kebudayaan yang diorganisasi oleh Fuad Hassan. Banyak rekan-rekan, antara lain Sutan Takdir Alisyahbana, Umar Kayam, yang duduk di dalam forum ini yang bertugas mempersiapkan ide-ide masalah kebudayaan yang harus masuk dalam Kongres Kebudayaan. Tapi nyatanya, yang dilontarkan oleh anggota forum tak ada yang diperhatikan sama sekali.
Salah satu contoh saja, saya diminta menulis peranan seniman dalam masyarakat. Lalu saya bilang, “Saya tidak suka tema ini. Ini sudah sering dibicarakan dan tak ada gunanya diulang-ulang. Saya ingin memfokuskan persoalan kebudayaan hari ini dan mendatang.” Lalu surat saya tidak dibalas lagi. Ya sudahlah, saya tak perlu datang. Bagi saya, uang satu milyar rupiah ongkos Kongres Kebudayaan itu buang-buang uang saja. Saya merindukan perdebatan-perdebatan kebudayaan yang mampu membuat kita berpikir lebih mendalam tentang problem-problem kebudayaan yang sedang dan akan kita hadapi.
Saya teringat terjadinya perdebatan panas tentang apakah sastra bisa menggerakkan masyarakat untuk menjadi revolusi. Tentu saja saya tak percaya sebuah karya sastra secara langsung bisa meletupkan revolusi besar. Jika kita menulis sastra dengan mengungkapkan nurani, dengan sendirinya sastra itu sudah menyentuh perasaan manusia, dan mendorong manusia untuk berpikir. Jadi saya lebih percaya bahwa sastra bisa menggerakkan manusia untuk berpikir.
MASA ORDE BARU
Ketika Orde Baru, harapan saya mulai tumbuh. Tapi harapan dan kegembiraan saya hanya berusia beberapa tahun pertama. Saya mulai kecewa ketika Orde Baru tidak cukup rasional dalam menangani soal Taman Mini Indonesia Indah. Ketika mahasiswa protes dan Arief Budiman sampai digiring ke atas truk, saya sedih dan mulai ragu terhadap keadilan Orde Baru.
Rekan-rekan di Indonesia Raya mulai menganggap ada sesuatu yang terulang kembali di dalam Orde Baru. Ketika Ibu Tien mulai tampil dengan usulnya mendirikan Taman Mini Indonesia, sikap kami menentang karena kami anggap TMII bukanlah sebuah prioritas untuk saat itu.
Banyak ahli ekonomi maupun rekan wartawan yang menganggap bahwa prioritas pertama adalah menaikkan taraf hidup rakyat. Tidak ada yang bermimpi setiap rakyat harus mampu tinggal di rumah mewah, tapi paling tidak rakyat harus bisa menikmati taraf hidup yang paling minimum, dan kebutuhan dasar sehari-hari sudah harus bisa dicapai. Tapi, masih ada sekitar 20 sampai 30 juta rakyat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Ketika Indonesia Raya menulis kritik terhadap TMII melalui pemberitaan dan tajuk rencana, pers Indonesia belum mengalami belenggu yang ketat seperti masa kini. Buktinya kami masih bisa memuat tulisan-tulisan orang yang mengkritik berdirinya Taman Mini. Saya kira, Orde Baru masih mengalami masa balita sehingga mereka masih mentoleransi kritik-kritik. Jadi kami tidak dibreidel, tidak ditegur, bahkan tidak ditelepon sama sekali.
Di masa Orde Baru pun saya pernah ditahan tanpa melalui pengadilan, tanpa kesalahan, dan hingga sekarang tak pernah ada penjelasan apa pun. Semua bermula ketika tanggal 15 Januari 1974 saya berangkat ke Paris untuk memenuhi undangan UNESCO. Di sepanjang jalan dari Matraman ke Senen, saya lihat betapa ramainya anak-anak muda bergerombol. Saya tidak mendengar apa-apa tentang Malari atau Peristiwa Lima Belas Januari sebelumnya. Yang saya tahu adalah, ketika pulang dari Paris, harian Indonesia Raya bersama berbagai media lainnya telah ditutup. Dan saya ditahan tanpa alasan yang jelas.
Dalam sebuah wawancara majalah TEMPO dengan Jenderal Yoga Soegama, ia mengungkapkan sesuatu yang menggelikan. Ia menganggap bahwa saya adalah PSI atau paling tidak simpatisan PSI. Dan saya dengar saya dituduh pernah mengadakan pertemuan dengan Hariman Siregar di kantor Indonesia Raya dalam rangka menggerakkan mahasiswa. Itu semua adalah tuduhan yang sungguh tidak bermutu!
Memang benar saya sering berdiskusi dengan anak-anak muda, karena mereka sering bertandang ke rumah saya, hingga sekarang. Diskusi itu memang ngalor-ngidul dari soal dunia, hingga kritik-kritik kebijakan pemerintahan Orde Baru. Tapi itu hanya diskusi biasa yang saya yakin dilakukan berjuta penduduk Indonesia di berbagai forum resmi maupun tak resmi. Jadi hingga hari ini, Indonesia Raya beserta Harian KAMI, Nusantara, Pedoman dan lain-lainnya sudah tinggal makam saja.
Indonesia Raya pasti dikhawatirkan karena kritik-kritiknya. Apalagi sekarang, ketika soal komisi Haji Thahir dan Pertamina ramai dipersoalkan. Maklum, kami mendapatkan bukti-bukti kasus korupsi Pertamina sampai satu koper banyaknya. Isi dokumen itu antara lain adalah laporan pengeluaran minyak yang kemudian dimanipulasi pada saat penjualan. Dan selisih beribu-ribu liter minyak itu tak jelas ke mana larinya. Headline harian Indonesia Raya terus menerus membicarakan masalah korupsi ini hingga berminggu-minggu lamanya karena saya anggap ini kasus yang harus diberantas.
Seingat saya, reaksi pemerintah kemudian membentuk Panitia Tujuh dengan ketua Wilopo. Waduh, berapa puluh ribu rupiah ongkos yang dikeluarkan Indonesia Raya untuk memfotokopikan dokumen-dokumen itu, padahal kami tidak terlalu kaya. Tapi, kami pikir, ini demi pemberantasan korupsi dan karena pemerintah yang meminta, maka kami berikan. Satu kopor fotokopi dokumen kami berikan kepada Panitia Tujuh, dan satu kopor gede lagi buat Kejaksaan Agung. Toh sampai hari ini tak pernah terdengar hasilnya. Padahal Adam Malik sudah bilang, pemerintah akan menyediakan 80 orang akuntan untuk memeriksa keuangan Pertamina.
Setahun setelah kami mengekspos kasus Pertamina, saya ikut menyelenggarakan International Association Cultural Freedom di Bali yang dihadiri berbagai intelektual asing dan Indonesia. Ternyata, Ibnu Sutowo mengadakan resepsi untuk para peserta pertemuan itu di sebuah gedung di jalan Merdeka Barat. Karena saya yang mengantar beberapa tamu asing itu, maka mau tak mau saya juga ikut ke resepsi itu. Untuk pertamakali, setelah ekspos Pertamina itu, saya bertemu dengan Ibnu. Dan saya kagum, betapa correctnya sikap Ibnu kepada saya. Dengan sopan dia mempersilahkan kami dan mengatakan senang sekali bisa menjamu kami. Dia tidak menyentuh apa pun soal pemberitaan kami.
Sebenarnya kami pernah mendapatkan tanda-tanda optimisme dari pihak pemerintah untuk menerbitkan Indonesia Raya kembali. Tapi syaratnya adalah: nama korannya harus diganti jika pemimpim redaksinya saya, atau namanya tetap Indonesia Raya dengan pemimpin redaksi berbeda. Saya menolak persyaratan ini. Karena jika saya menerima salah satu persyaratan itu, berarti seolah-olah yang dituduhkan kepada saya itu memang benar.
Saya ingat, ketika saya baru dilepaskan dari tahanan setelah beberapa bulan. Pagi itu, saya masih melukis dan tiba-tiba saja seorang petugas penjara terengah-engah menceritakan bahwa saya dipanggil oleh Jaksa Agung Ali Said. “Biasanya kabar baik, Pak…” kata petugas. “Wah, nanti dulu deh, saya masih mau melukis,” jawab saya. Pagi itu, saya memang sedang dalam mood ingin melukis. Tapi petugas itu memaksa. Akhirnya, saya setuju dan dibawa mobil menuju kantor Jaksa Agung Ali Said.
Di dalam kantornya, Ali Said langsung menjabat saya dan mengatakan bahwa ada kabar baik, “Anda dibebaskan!” “Dibebaskan? Saya boleh ke mana saja?” tanya saya. “Ya, ke mana saja!” Ali Said menceritakan pertemuannya dengan pak Harto bahwa investigasi tentang saya menghasilkan kesimpulan bahwa saya tak bersalah dan tak ada bukti saya ikut menggerakkan Malari. Dan menurut Ali Said, Pak Harto mengatakan, “Sudah saya bilang pada Yoga, memang tak mungkin Mochtar Lubis melakukan hal yang bodoh seperti itu.” Cerita Ali Said ini kemudian saya tuliskan langsung di buku harian saya. Dan buku harian itu kini sudah diterbitkan sebagai sebuah buku dalam bahasa Belanda.
Saya mengerti jika pers masa kini sulit untuk memberitakan soal nepotisme dengan telanjang, misalnya. Saya merasa simpati dan sedih. Begitu banyak wartawan muda yang sangat potensial, mampu berbahasa Inggris dan berwawasan luas, tapi geraknya terbatas karena adanya SIUPP. Saya mengerti betul jika wartawan muda menjadi frustrasi karena mereka pasti sudah membongkar berbagai skandal, tapi demi kelangsungan hidup penerbitan maka masalah-masalah korupsi dan nepotisme itu tak bisa ditulis secara blak-blakan.
Orang memakai alasan bahwa kebebasan pers hanya bisa hidup di Barat. Saya sama sekali tak setuju dengan pandangan yang begitu simplistik ini. Ketika saya diwawancarai sebuah harian tentang Hari Pers Nasional, saya jawab bahwa itu adalah hari berkabung untuk pers Indonesia. Wartawan muda itu kaget dan mengajukan argumennya bahwa kini industri pers sudah lebih maju. Tentu saja industri pers sudah lebih maju. Tapi kalau ada wartawan yang menganggap bahwa SIUPP itu wajar dan menganggap bahwa kebebasan pers itu hanya hidup di negara-negara Barat, alangkah sedihnya saya.
Hal lain yang perlu ditulis saat ini, menurut saya adalah soal harkat wanita Indonesia. Menurut saya, meski sekarang sudah banyak wanita kota yang berpendidikan tinggi dan berpikiran maju, lelaki Indonesia masih tetap patriarkis, tetap chauvinis dan egois. Secara kultural, mereka masih lebih dinomorsatukan hingga dalam soal sosial dan politik, perempuan masih selalu didiskriminasi.
Pernah saya ke pantai Selatan Ujung Kulon (Binuangen) saya bertemu seorang perempuan usia 14 tahun. Setelah kami bercakap-cakap, saya menjadi sedih dan sakit hati. Ketika berusia 11 tahun dia sudah dipaksa kawin. Laki-laki itu meninggalkannya setelah empat bulan. Dikawinkan lagi, ditinggal lagi setelah dua bulan. Sekarang dia sudah dipaksa kawin lagi untuk ketiga lagi.
Saya heran, bagaimana undang-undang perkawinan bisa melindungi perempuan di desa seperti ini. Di kota pun sebenarnya persamaan hak wanita dan pria Indonesia masih terbatas di atas kertas saja. Salah satunya adalah tragedi Dharma Wanita. Buat saya sungguh menggelikan melihat seorang wanita menjadi Ketua Dharma Wanita hanya karena suaminya adalah seorang menteri. Padahal bisa saja isteri dari salah satu anak buahnya jauh lebih mampu memimpin. Bagi saya, Dharma Wanita adalah sebuah konsep dan pemikiran yang maha feodal.
Saya pernah membuat penelitian untuk sebuah organisasi internasional tentang PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga) ke pulau Alor. Organisasi ini pernah mendengar bahwa bantuan yang diberikan kepada PKK tidak digunakan secara efisien. Saya bertemu dengan isteri lurah dan menanyakan efektifitas PKK. Ibu lurah mengatakan bahwa saya hanya boleh melempar pertanyaan pada perempuan yang mendampinginya. Selama dua jam ibu-ibu itu tak (berani) mengeluarkan sepatah kata pun. Bagi saya, ini sangat mencemaskan. Kemudian saya dengar bahwa Ibu lurah itu buta huruf, karena itu pendampingnya yang harus bicara atas nama dia.
Pernah juga saya menyaksikan ibu-ibu dibawa ke pusat PKK untuk mendapat makanan sehat, susu, dan kacang-kacangan. Ketika saya tanyakan salah seorang ibu apakah di rumah mereka mendapat makanan yang sama, maka ibu itu menjawab tidak. Mereka hanya bisa memakan seadanya. Padahal, laporan-laporan PKK yang diberikan kepada pihak donor adalah keadaan dan situasi yang bagus, timbangan bayi sehat, makan setiap hari bergizi dan laporan-laporan indah lainnya. Perhatian saya terhadap perempuan saya ekspresikan dalam kumpulan cerita pendek yang saya beri judul Perempuan.
APA YANG SAYA INGINKAN KINI
Kini saya adalah seorang Bapak dari tiga anak dan kakek dari 10 cucu-cucu yang manis. Tak ada satu pun anak saya yang menjadi wartawan maupun penulis. Mungkin mereka kenyang melihat bapaknya dipenjara melulu, ha,ha,ha…
Saya merasa beruntung selalu berbadan sehat dan tidak dibebani penyakit yang serius. Saya hanya pernah sakit kena malaria di Srilanka. Saya menjaga kesehatan saya dengan rajin beryoga. Ini salah satu oleh-oleh saya dari penjara selain keahlian mendongkel pintu dan mencopet dompet, ha,ha,ha…
Saya juga rajin berlatih kungfu dari seorang guru yang sudah sangat tua. Selain itu saya main tenis seminggu dua kali setiap jam enam pagi. Itu saya lakukan sejak usia 16 tahun. Olah raga saya yang lain adalah naik gunung. Saya sering naik gunung sendirian saja, menikmati hutan sendirian. Indah sekali. Karena keranjingan olah raga itu, maka ketika saya checkup di Singapura, sang dokter kagum mengatakan, “You have a fine machine, Mr.Lubis” katanya tertawa.
Meski saya punya kiritik besar terhadap kehidupan sosial, politik, dan ekonomi di Indonesia saat ini, saya selalu berpandangan optimistis. Saya tidak ingin bersikap pahit, karena itu tidak akan membantu memperbaiki keadaan. Pahlawan saya adalah Mahatma Gandhi. Saya merasa sangat beruntung pernah bertemu dengannya.
Waktu itu saya harus menghadiri Konperensi Asia pertama. Untuk menerobos blokade Belanda, kami mengendarai pesawat milik Patnaik, seorang pengusaha India yang sangat simpati dengan perjuangan Indonesia. Ia segera menyediakan beberapa kapal terbang buat menjemput kami di Maguwo. Sampai di Singapura, baru kami naik pesawat lain ke India.
Gandhi mendatangi delegasi kami. Ia begitu sederhana dengan mengenakan selembar kain putih dan sandal. Melihat mukanya saja, saya sudah jatuh sayang kepadanya begitu bening, begitu halus dan lembut. Tingkah lakunya persis seperti yang sering digambarkan media dan buku-buku tentang dirinya. Dengan membaca pemikiran Gandhi, saya selalu percaya akan perjuangan tanpa kekerasan.
Saya tak percaya bedil dan saya tak ingin aliran darah. Saat ini, banyak yang menganggap keberhasilan Orde Baru adalah stabilitas. Tapi untuk saya, stabilitas yang tercipta sangat semu karena berbagai hal dilakukan dengan paksaan. Tapi, seperti biasa, saya masih percaya, masyarakat Indonesia akan terus menerus menuntut haknya untuk berpartisipasi. Saya percaya, kita semua adalah orang-orang yang pandai…
14 Maret 1992
Sumber: http://202.158.52.214/id/arsip/1992/03/14/MEM/mbm.19920314.MEM7774.id.html
http://tempointeraktif.com/
Dalam usia 70 tahun pekan lalu, wartawan sejak sebelum perang ini mengenang banyak hal. Dari “zaman keemasan pers Indonesia”, hubungannya dengan Bung Karno, sampai bagaimana menjaga semangat dalam sel penjara.
Dialah wartawan Indonesia yang banyak memperoleh penghargaan internasional. Antara lain Hadiah Ramon Magsaysay dari Filipina, dan Pena Emas dari Federasi Pemimpin Redaksi Sedunia. Sastrawan yang juga banyak meraih hadiah ini, yang mendirikan majalah sastra Horison, dan salah seorang anggota Akademi Jakarta ini bertutur tentang semua itu kepada Leila S. Chudori.
***
Saat itu saya masih berusia sembilan tahun. Dan saya ingat betul, di suatu pagi, ayah yang bekerja sebagai seorang demang di Kerinci, melarang kami bermain di halaman belakang rumah kami yang luas. Rumah kami yang terletak di bukit memang dipenuhi pohon, dan kami sering memanjat pohon-pohon itu untuk memandang kota Sungai Penuh atau menonton yang terjadi di halaman belakang penjara. Tapi, justru karena ayah melarang, saya jadi penasaran. Saya terbelalak, karena saya melihat ayah saya beserta seorang dokter kenalan keluarga kami dan kontrolir Belanda berdiri di halaman belakang penjara.
Kemudian dua tahanan yang lunglai keluar dari pintu penjara diiringi pengawal penjara. Tahanan itu diperintahkan tengkurap di dua balai. Kaki dan tangan mereka diikat. Dua orang berpakaian hitam dan membawa cambuk panjang menyusul. Setelah dokter memeriksa kedua tahanan, kepala penjara memberi perintah pada dua orang berpakaian hitam tadi. Maka keduanya memulai mencambuki punggung kedua narapidana itu. Setiap kali cambuk itu mendarat di punggung mereka, hatiku terasa ikut dicambuk.
Dari jauh saya bisa melihat dengan jelas darah segar yang menetes. Kenapa Bapak tidak menghentikan tindakan itu? Dan bagaimana dokter kenalan kami bisa berdiri di sana? Lalu, kenapa kepala polisi yang selama ini begitu ramah tamah pada kami kelihatan garang di sana? Saya tak tahan lagi, saya menangis, saya berlari ke rumah.
Di rumah saya katakan pada ibu badan saya panas. Saya meringkuk di tempat tidur sampai Bapak pulang. Siang hari, Bapak banyak memandangi saya dengan lembut. Saat itu saya menyadari, ia pasti tahu bahwa saya mengintip kejadian itu. “Sekarang kau mengerti kenapa aku selalu melarang anak-anakku untuk menjadi pegawai Belanda. Cukup satu saja di keluarga ini!” katanya sambil mengusap kepala saya.
Saya menangis dengan hati perih. Belakangan saya baru tahu identitas kedua narapidana malang itu. Bapak bercerita bahwa kedua orang yang dicambuk itu kuli kontrak dari pulau Jawa. Mereka bekerja di perkebunan teh terbesar di Indonesia di daerah Kayu Aro, Kerinci. Karena upah mereka tidak memadai, maka para kuli ini suka meminjam uang. Nah, jika kontrak habis sementara mereka masih berhutang, terpaksa mereka bikin kontrak baru dengan Belanda. Ini menyebabkan mereka harus jadi kuli kontrak sampai mati.
Mereka yang sudah tidak tahan dengan beban itu lalu mencoba melarikan diri. Mereka yang kabur dan tertangkap itulah yang dipecut punggungnya hingga keluar darah. Kejadian ini terus membayang di benak saya, hingga mempengaruhi pandangan saya terhadap keadilan. Dan agaknya peristiwa inilah menjadi dasar dari sikap saya sebagai wartawan maupun sebagai penulis.
MASA KECIL
Sentuhan saya pada kesenian sebenarnya diawali dengan melukis. Saya mulai melukis ketika saya masih di sekolah rakyat. Baru ketika saya duduk di kelas V saya mulai menulis cerita anak-anak. Mungkin saya terpengaruh oleh ibu saya yang sering mendongeng dan saya mengulangnya buat adik-adik. Abang dari ibu saya seorang seniman Mandailing yang menulis syair-syair dalam huruf Mandailing. Ibu melahirkan saya di Padang 7 Maret 1922 sebagai anak keenam. Kami semua berjumlah 10 bersaudara yang terdiri lima perempuan dan lima lelaki.
Ibu saya, Siti Madinah bermarga Nasution meninggal ketika berusia 96 tahun. Ayah saya Raja Padapotan bermarga Lubis meninggal ketika berusia 75 tahun. Meski lahir dan dibesarkan di Padang, saya tetap merasa sebagai seorang Mandailing. Bagi saya, Mandailing adalah tanah yang cantik. Pada zaman kolonial, daerah itu masih penuh harimau, gajah, dan burung-burung dan tak mungkin saya bisa-lupakan alamnya dan gunung Merapinya, ada sungai yang indah berpasir mengandung emas. Orang Mandailing mencari nafkah dari tanaman karet, tapi jika harga karet jatuh, mereka ke sungai mendulang emas.
Meski ayah saya bekerja sebagai demang, tak bosan-bosannya ia mengatakan kepada kami, “Jangan kalian bekerja kepada pemerintah Belanda.” Sebagai pegawai Belanda, ayah saya terkenal tegas, tak pandang bulu. Ia pernah diturunkan pangkatnya gara-gara menampar seorang kontrolir Belanda. Ayah saya kesal karena kontrolir itu bersikap congkak.
Kesadaran bahwa kita dijajah cepat sekali tumbuh di dalam diri saya. Ayah tak mau menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah Belanda. Ia masukkan abang saya ke America Methodist Boys Scool di Medan, abang saya tertua dikirim sekolah di Singapura, dan saya sendiri setelah lulus sekolah rakyat dikirim ke Sekolah Ekonomi di Sumatera Tengah. Padahal, saya ingin masuk MULO, karena saya ingin jadi dokter. “Jangan! Kalau kamu sekolah dokter, nanti bekerja pula sama Belanda,” cegah ayah saya. Jadi, dengan berat hati saya Sekolah Ekonomi di Kayu Tanam, di kaki gunung di luar kota Padang.
Sekolah ini memang agak istimewa dari segi kurikulum maupun filsafat. Ini sekolah yang didirikan oleh salah seorang tokoh pendidikan yang bernama S.M Latief. Ia lulusan pertanian tinggi di Nederland. Latief membangun sekolah ini dengan tujuan mendidik anak Indonesia untuk menjadi mandiri, merdeka dan anti kolonialisme. Mereka mengajar kepada murid agar para murid jangan ada yang mau bekerja dengan Belanda setelah lulus nanti. Akhirnya, saya memang menyukai guru-gurunya dan setuju dengan filsafat sekolah itu, yakni anti kolonialisme. Maka kami mengerti apa arti penjajahan, mengapa kita menginginkan kemerdekaan, apa arti Indonesia Raya, apa harga diri bangsa, dan seterusnya.
Dalam hal kurikulum, sekolah ini agak berbeda dengan sekolah umum lainnya. Anak-anak yang bersekolah di situ bisa meneruskan SMP ke SMA yang sama. Dan masih semuda itu, kami sudah diajarkan pemikiran Adam Smith dan teori ekonomi lainnya. Selain itu, mereka juga tidak ingin menjejalkan hafalan seenaknya. Mereka ingin kami mengerti filsafat hidup melalui berbagai praktek.
Misalnya, suatu hari, kami diajarkan main catur. Mula-mula saya heran dan tidak melihat konteks pengajaran catur dalam hidup. Setelah delapan bulan gurunya bertanya, kenapa kita belajar main catur. Semua murid mengangkat tangan. Seorang kawan saya menjawab, “karena permainan ini mengajak kita berpikir berbagai langkah dan antisipasi ke masa depan dan belajar berpikir yang matang.” Dan guru saya membenarkan.
Ketika libur, anak-anak yang sudah kelas senior disuruh latihan kerja di perkebunan karet atau perkebunan kelapa sawit atau di pabrik, dan dianjurkan bergaul dengan kuli-kuli. Selain itu, karena kami tinggal di asrama yang fasilitasnya lengkap tersedia. Kami bisa main tenis, berenang, atau naik gunung. Jika pelajaran botani, kami diajak masuk hutan untuk mempelajari kekayaan tanaman Indonesia selama 10 hari atau lebih. Jadi kami tidak mengurung diri di kelas saja.
Yang paling mengesankan adalah perpustakaan sekolah yang saat itu yang terbesar di Sumatera karena memiliki 35 ribu buku. Latief mempunyai cara sendiri untuk mengumpulkan buku sebanyak itu. Setiap tiga bulan sekali, ia menerbitkan sebuah majalah bernama Resensi dalam empat bahasa: Jerman, Belanda, dan Prancis. Kemudian dia kirimkan ke semua penerbit di seluruh dunia. Maka para penerbit mengirim buku-buku sastra, ekonomi, politik, dan buku-buku lainnya ke perpustakaannya.
Yang lebih penting lagi, kami selalu didorong untuk selalu membaca. Cara mereka mendorong kami adalah dengan memberikan kredit angka jikalau kami bisa menceritakan kembali buku yang sudah kami baca. Melalui perpustakaan itulah saya mengenal karya sastra dunia. Saya ingat betul, salah satu buku yang berkesan bagi saya dimasa kanak-kanak adalah Tom Sowyer karya Mark Twain yang terjemahannya diterbitkan oleh Balai Pustaka. Sungguh saya melihat diri seolah-olah seperti Tom yang senang bertualang itu.
Saya juga terkesan oleh karya Hernet Becheer Stowe yang berjudul Uncle Tom’s Cabin. Betapa sedihnya ketika saya membaca halaman terakhir buku itu. Setelah lebih dewasa, saya mulai menyukai buku sastra klasik Perancis karya Dostoyesky dan berbagai sastra klasik Perancis dan Inggris. Untuk sastra kontenporer saya penggemar Albert Camus dan Ernest Hamingway. Ketika saya berusia 16 tahun saya bergabung dengan Indonesia Muda, sebuah pergerakan yang mendukung gerakan nasionalis untuk merebut kemerdekaan. Anggotanya adalah pemuda berusia 16 ke atas.
MASA PENJAJAHAN
Sebelum Perang Dunia II, sekitar tahun 1940-an, saya lulus sekolah. Karena saya bercita-cita ingin menjadi dokter, maka saya pindah ke Jakarta. Semula saya berkerja di Bank Factorij, sebuah bank besar Belanda yang mendukung finansial industri gula di pulau Jawa. Sementara abang saya, Bactar Lubis, yang sekolah di America Methodist Boys Scool, sudah bekerja di konsulat jenderal Inggris.
Selama saya bekerja di sana, saya selalu berterus terang pada rekan Belanda, “kalian tak boleh berlama-lama di sini.” Lalu kami mulai berdiskusi hingga meningkat menjadi perdebatan yang panas. Dua tahun kemudian, Jepang datang. Kantor Bank Fatorij langsung disita. Saya ingat betul, betapa gembiranya kawan-kawan saya yang menyangka akan dibantu orang Jepang. Ketika Jepang mendarat di Banten, orang Jakarta sudah siap menyambut. Saya menunggu mereka di Hayam Wuruk.
Di sebelah saya ada seorang nyonya muda Belanda dengan anaknya yang berumur sekitar lima tahun. Ketika tentara Jepang masuk, baunya menyerang hidung kami karena mereka baru saja berperang dan tak pernah mandi. Ada yang menuntun sepeda dan semua membawa senapan yang lebih panjang dari badannya. Eh, tiba-tiba anak kecil Belanda itu berteriak dalam bahasa Belanda sambil menunjuk bendera Jepang, “Mami, mami alangkah jeleknya bendera itu,mami…” Ibunya menyuruh anaknya menutup mulut sambil melirik saya, wajahnya tampak ketakutan. Saya tersenyum padanya. Dan nyonya muda itu membungkuk sedikit serta menarik anaknya, lalu mereka pergi.
Di situlah saya melihat betapa takutnya Belanda terhadap orang Jepang. Orang Indonesia pada umumnya gembira bukan karena Jepang masuk Indonesia, tapi gembira merayakan kekalahan Belanda. Ada yang percaya bahwa Jepang akan memberikan kemerdekaan itu dan adapula yang curiga dengan kehadiran Jepang. Belum lama ini terbuka bagaimana tentara Jepang memperlakukan wanita-wanita Korea. Saya merasa mereka pernah memperlakukan hal yang sama terhadap perempuan Indonesia.
Saya mendengar dari beberapa kawan, mereka melihat perempuan-perempuan Indonesia yang dibawa ke Tanjung Priok untuk dikirim ke Ambon dan ke tempat lain tentara Jepang bertugas. Entahlah. Memang ada yang melakukan investigasi tentang hal ini. Saya menganggur sekitar sebulan. Bang Bachtar bergabung dengan stasion radio yang saat itu sudah dikuasai Jepang. Bang Bachtar menginformasikan bahwa kantor radio militer Jepang memerlukan anggota redaksi yang mampu siaran berbahasa Inggris. Saya melamar dan diterima. Maka, pekerjaan saya setiap hari mendengarkan VOA, BBC, Radio Australia, Radio Belanda, dan Radio siaran asing lainnya. Setelah itu saya harus mencatat dan bikin laporan dan komentar.
Selain saya, ada beberapa orang Indonesia dan orang Belanda bekas redaksi Kantor Berita Belanda di Indonesia Aneta yang bekerja di sana. Kantor radio militer Jepang itu terletak di jalan Riau, belakang President Hotel sekarang. Saya senang karena saya bebas mengetahui apa yang terjadi di dunia dan setiap kali ada berbagai informasi, saya sampaikan pada Bang Bachtar yang ikut gerakan mempersiapkan perjuangan untuk merebut kemerdekaan.
Jepang memang kejam. Tapi mereka memperlakukan saya cukup baik. Terus terang, secara tidak langsung, saya belajar jurnalistik ketika bekerja di radio militer Jepang itu. Saya ikut latihan militer karena senang dengan latihannya yang keras. Pada zaman Jepang pula saya berkenalan dengan Hally yang kemudian menjadi istri saya. Ceritanya, Hally dulu bekerja sebagai staf di surat kabar Asia Raya yang diterbitkan Jepang. Ia berkawan dengan istri Rosihan Anwar yang bekerja di sana. Banyak wartawan bekerja di sana, termasuk B.M Diah dan Rosihan Anwar. Nah, saya berkenalan disitu.
Saat itu, sabun wangi sangat sukar didapat. Kebetulan saya menjadi salah satu juru distributor sabun wangi kepada kawan-kawan. Nah, salah satu sabun itu saya berikan pada Hally, untuk merayunya, ha,ha,ha… Maklum, sabun wangi adalah barang eksotik saat itu. Kami berpacaran dan menikah tahun 1945. Bulan Agustus 1945, saya sudah berjanji pada Bang Bachtar, saya akan memberitahu mereka jika Jepang kalah. Bang Bachtar dan kawan-kawannya sudah mempersiapkan pemuda-pemuda Indonesia. Jadi begitu saya mendengar berita tersebut, langsung saya kasih tahu padannya.
Bang Bachtar, Jusuf Ronodipuro, Taslim Ali, dan kawan-kawannya yang lainnya akhirnya merebut RRI Jakarta. Karena Bachtar dianggap salah satu pemimpin yang merebut RRI dari tangan Jepang, ia ditangkap polisi Kenpentai dan disiksa cukup berat. Setelah proklamasi ia masuk Akademi Militer Yogya.
MENJADI WARTAWAN
Setelah proklamasi, seorang kawan yang bekerja di Kantor Berita Antara mengajak saya membantu Antara. Sebetulnya Kantor berita Antara sudah didirikan di masa penjajahan Belanda, tapi pada masa pendudukan Jepang sempat dipegang oleh kantor berita Jepang Domei. Setelah Jepang kalah, Bung Adam Malik membenahinya kembali. Seorang wartawan Antara, Syahrudin juga mengajak saya untuk bergabung. Saya segera bergabung karena memang tertarik untuk menjadi wartawan.
Beberapa hari setelah saya bekerja, tiba-tiba Bang Bachtar mengajak saya masuk Akademi Militer di Yogya. “Kita harus ikut bertempur melawan Belanda yang akan datang ke sini. Abang sudah mendaftar di AMN. Kalau kamu mau ikut, kita bisa atur…” katanya. Terus terang, saya sempat tertarik untuk ikut berjuang dengan senapan. Maklum saat itu saya masih muda dan jiwa saya masih berkobar-kobar. “Tunggu dulu, Bang. Saya sudah berjanji dengan Bung Adam (Malik) untuk membantu Antara. Saya harus bicara dulu dengannya,” jawab saya. “Baik, saya tunggu tiga hari,” kata Bang Bachtar.
Saya agak bingung dan saya datangi Bung Adam. “Bung Adam, program perjuangan kemerdekaan nampaknya harus berubah… saya mau masuk militer saja…” kata saya. Bung Adam kaget. “Ah, jangan. Berjuta pemuda Indonesia sudah siap berjuang angkat senjata. Tapi yang berjuang dengan pena susah dicari,” bujuk Bung Adam. “Aduuuh,” saya garuk kepala, “kasih waktu dua harilah, Bung.” Buat saya pendapat Bung Adam dan Bang Bachtar sama-sama sah dan berharga.
Perjuangan pena maupun senjata sama beratnya, hanya lapangan yang berbeda. Dilema ini menyebabkan saya tak bisa tidur semalaman. Tapi, saya tertarik dengan bidang jurnalistik. “Bang, saya mau jadi wartawan saja …,” kata saya akhirnya. Bang Bachtar berangkat, lulus AMN, jadi letnan dan bertempur di daerah Krawang Bekasi.
Tahun 1949, muncullah ide untuk mendirikan sebuah harian yang independen dari pengaruh Belanda. Kawan-kawan mengatakan bahwa kita perlu satu suara yang mewakili Republik Indonesia. Ide dan dorongan datang antara lain dari Hasyim Mahdan, juru bicara komando militer Jakarta Hiswara, seorang wartawan Kolonel dan Yahya, Gubernur Militer Jakarta dan saya. Indonesia Raya lahir tanggal 29 Desember 1949 dengan filsafat Dari Rakyat Untuk Rakyat. Logonya berwarna hitam dan terbit hanya empat halaman. Headline kami yang pertama adalah tentang timbang terima kedaulatan Indonesia di Istana Merdeka.
Karena dulu belum ada yang namanya SIT (Surat Ijin Terbit) atau SIUP (Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers), jalan untuk penerbitan Indonesia Raya sangat mudah. Cukup hanya dengan mendaftar kantor polisi saja. Saat itu jumlah “awak kapal” Indonesia Raya hanya sekitar 15 orang, termasuk reporter dan korektor. Pemimpin Redaksi pertama adalah Hiswara, dan beberapa saat kemudian, baru saya menggantikannya.
Memang saat itu pers belum menjadi industri besar. Penghasilan Indonesia Raya sebagian besar tertolong karena kami dilanggani beberapa ribu eksemplar oleh Angkatan Darat, yang beranggapan perlunya surat kabar yang mendukung Republik Indonesia untuk mengimbangi pers Belanda. Seingat saya, demikian pula keadaan oplah harian Pedoman dan Abadi. Dalam keadaan kesulitan cashflow, selalu ada saja pengusaha yang membantu kami, antara lain almarhum Syahzam, adik Perdana Menteri Syahrir Dasaad Haji Gani.
Saya merasakan yang sering kami sebut secara bergurau sebagai zaman keemasan pers Indonesia. Di tahun pertama kemerdekaan sistim parlementer dilaksanakan, partai-partai yang punya suara terbesar membentuk pemerintahan dari tahun 1946 sampai tahun 1955. Kebebasan pers saat itu sangat baik dan jauh lebih terjamin dibandingkan dengan masa kini. Bayangkan, berbagai harian bisa mengkritik pemerintah secara langsung. Jika pemerintah tersinggung paling-paling mereka membantah. Artinya pemerintah mengerti yang disebut hak jawab.
Hally, istri saya, sangat kritis terhadap berita-berita yang dimuat harian Indonesia Raya. Jika Indonesia Raya dianggap melempem, ia pasti menyindir saya. “Kok, rasanya sudah nggak enak ya baca Indonesia Raya.” Saya tertawa saja. Buat saya, komentar Hally memang penting karena ia sangat berharga dalam kehidupan saya. Ia adalah istri yang setia dan mengerti akan perjuangan. Ia sangat tabah ketika saya dipenjara. Ia tahu itu konsekuensi perjuangan. Tentu Hally sangat sedih. Tapi Hally sangat mendukung perjuangan kami sepenuhnya. Ketika saya ditahan di Madiun, Hally pasti muncul setiap bulan, naik KA berjubel-jubel, dengan ibu Anak Agung, Anak Agung Gde Agung, Yunan Nasution, dan lain-lain.
BUNG KARNO DAN SAYA
Orang sering menganggap saya sebagai musuh bebuyutan Bung Karno. Sebenarnya saya sangat menghargai Bung Karno pada awal pemerintahannya hingga masyarakat dan pers bisa sebebas itu. Bahkan, percaya atau tidak, Bung Karno pernah menjadi salah satu idola saya pada zaman Belanda. Pada zaman pendudukan jepang saya mulai skeptis padanya karena ia menganjurkan anak-anak muda masuk Romusha dan Heiho. Sebagai pemimpin seharusnya ia tahu akibatnya pada anak-anak muda yang kagum padanya.
Pertemuan saya pertama kali ketika saya mewakili Antara di Yogyakarta. Saat itu, ibu kota Indonesia masih di Yogyakarta. Saya ingat, ada sekitar lima atau enam wartawan yang berbincang dengan Bung Karno dan banyak orang, sehingga saya tak punya kesempatan berbincang secara personal. Ketika Bung Karno kembali ke Jakarta dan masuk ke Istana Merdeka, saya mulai mengenal Bung Karno secara pribadi. Maklum saat itu, tak seperti masa kini, Istana Merdeka sangat terbuka bagi wartawan. Bung Karno rajin mengundang kami makan bersama sambil mengobrol, saya terkesan oleh keramahan dan kehangatannya. Bayangkan, kami selalu diperlakukan sama, duduk bersama dan makan bersama di satu meja.
Indonesia Raya mulai mengkritik Bung Karno ketika ia kawin lagi dengan Hartini. Suatu hari kami didatangi serombongan perempuan yang menamakan dirinya Perhimpunan Puteri Indonesia (PPI). Ini organisasi pembebasan wanita yang sama sekali tidak identik dengan filsafat Dharma Wanita. Sayang saya lupa nama ketuanya. Yang jelas rekan-rekan wanita ini mengutarakan kekecewaan mereka, kenapa Presiden Indonesia yang mereka hormati dan selalu memuji harkat wanita wanita Indonesia itu bisa kawin lagi.
Mereka semua berpihak pada Fatmawati dan mengatakan harian Indonesia Raya harus membicarakan soal ini. ” Ini menyangkut martabat perempuan. Lihat, masak ibu negara diperlakukan seperti ini,” kata salah satu anggota PPI. “Tunggu dulu. Apa benar Presiden kawin lagi, kami harus mengecek lagi,” kata saya merasa terdesak. Lalu mereka menginformasikan Bung Karno mengawini Hartini di Cipanas. Akhirnya, saya pergi sendiri ke sana.
Saya cari penghulunya ke Kantor Urusan Agama. “Pak, saya dengar ada kabar gembira ya. Presiden kita sudah memperbesar keluarganya dan saya dengar bapak yang mengawinkan? ” Penghulu itu nampak senang mendengar pertanyaan saya, “O, betul Pak…” katanya semangat. Dia membuka bukunya. Saya baca: nama Soekarno, jabatan Presiden Indonesia dan seterusnya. Dan nama itu memang menikah dengan Hartini. Saya catat apa yang saya baca. Kisah ini kami beritakan di harian Indonesia Raya sebagai head line dan editorial keesokan harinya. Pemberitaan kami mengakibatkan kehebohan. Apalagi, kami juga menekankan di editorial bahwa betapa tak pantasnya seorang pemimpin memberi contoh demikian.
Yang kami dengar kemudian, Bu Fatmawati bermaksud meninggalkan istana. Yang menarik, setelah hebohnya headline itu, Bung Karno toh masih mengundang saya ke Istana Bogor untuk menghadiri acara rutin yang diadakannya. Ini acara berpiknik Bung Karno dengan wartawan beserta istri masing-masing sambil makan siang, mendengarkan musik dan menari lenso. Sikapnya tetap baik. Malah dia berolok-olok kepada rekan-rekan, “Alaah, Mochtar kan cuma cemburu sama saya…” Ha,ha,ha …Bung Karno memang lucu.
Indonesia Raya terus menghantam perkawinan-perkawinan Bung Karno berikutnya setelah perkawinannya dengan Hartini. Tapi Bung Karno tidak pernah bereaksi terhadap tulisan-tulisan itu. Yang membuat Bung Karno berang adalah tulisan saya mengenai sikap Bung Karno terhadap Jepang. Saya mengkritiknya gara-gara ratusan ribu pemuda Indonesia bersedia menjadi Romusha dan Heiho. Mereka mati disiksa Jepang karena mengikuti seruan Bung Karno dalam pidatonya untuk membantu perjuangan tentara Jepang. Saya punya banyak bukti kejamnya perlakuan Jepang terhadap pemuda-pemuda Indonesia yang ikut Romusha.
Ketika Ibu Kota dikembalikan ke Jakarta, Bung Adam Malik bilang kami harus keliling Asia Tenggara untuk membuat kontak-kontak untuk Kantor Berita Antara. Di Filipina, kami bertemu dengan dua orang Indonesia yang pernah ikut Romusha. Tubuh mereka bagaikan mayat, sudah tak berdaging dan mata cekung. Adapun yang bersedia bergabung dengan Jibakutai, pasukan bunuh diri Jepang. Saat terakhir Jepang di Jakarta, sebelum pasukan Inggris masuk, saya bertemu dengan satu regu Jibakutai mereka digunduli, berbadan besar dan tidak bersedia berbicara.
Sayang ketika Jepang kalah, Jepang banyak membakari dokumen militer mereka. Saya yakin, sebenarnya belakangan Soekarno menyadari bahwa imbauannya terhadap pemuda Indonesia untuk bergabung menjadi Romusha dan Heiho adalah kesalahan besar. Namun, tampaknya sudah terlajur termakan slogan “Inggris kita linggis, Amerika kita seterika”, meski sudah jelas Jepang akan kalah.
Suatu hari Jaksa Agung Suprapto menelpon saya: “Bung Mochtar, coba datang kemari sebentar.” Sayapun datang. Pak Suprapto menceritakan ada telepon dari Istana mengenai tulisan Romusha.” Saya tertawa. “Perkara Romusha? Wah, saya senang sekali kalau bisa bicara dengan Presiden soal Romusha,” sambut saya. “Saya siap dituntut, Pak. Saya bisa mengumpulkan sekitar 100 atau 200 orang yang pernah ikut Romusha” sambung saya lagi.
Saat itu undang-undang masih berlaku dengan baik, jadi saya siap menghadapi tuntutan seorang Presiden pun. “Tunggu dulu,” kata Jaksa Agung, “Saya harus lapor dulu pada Bung Karno.” Tiga hari kemudian saya ditelepon Jaksa Agung dan saya diminta singgah lagi. “Bung Karno tidak jadi menuntut…”kata Jaksa Agung Suprapto. “Lho, kenapa? Saya sudah menyatakan sudah bersedia kok,” kata saya. “Entah. Katanya, cabut saja,” jawab Jaksa Agung Suprapto.
Salah satu contoh lagi tentang kemerdekaan pers saat itu adalah kasus Roeslan Abdulgani, menteri luar negeri waktu itu. Ia menuntut Harian Indonesia Raya. Wakru itu ada undang-undang yang melarang warga negara Indonesia membawa mata uang asing ke luar negeri tanpa izin Departemen Keuangan. Roeslan Abdulgani dititipi uang oleh kawannya yang bernama D. Quelyu, bekas direktur Percetakan Negara, untuk suatu keperluan. Lalu kami mendengar keluhan orang Departemen Keuangan tenteng pelanggaran ini. Isi tulisan Indonesia Raya merusak nama baiknya. Kami membuktikan memang dia telah melakukannya, dan hakim membebaskan saya dari dakwaan Ruslan Abdulgani.
Belakangan, Roeslan Abdulganilah yang menjadi terdakwa. Bayangkan, zaman itu, seoarang menteri bisa dibawa kemeja hijau. Dan bahkan di dalam pengadilan terbukti Roeslan telah membawa uang asing hingga ia dijatuhi hukuman penjara dua tahun sekian bulan. Presiden Soekarno segera memberi amnesti kepada Roeslan, maka ia tak dipenjara. Hubungan saya dengan Roeslan tetap baik setelah kejadian itu, paling tidak dari pihak saya tidak pernah terjadi apa-apa. Hal-hal semacam ini masih bisa dilakukan pers jaman itu terutama, karena lembaga yudikatif masih sangat indenpenden.
Di masa itu pers masih dimungkinkan untuk menulis seorang menteri melanggar peraturan dan melakukan korupsi. Tentu saja sang menteri boleh menuntut. Tapi sang pemimpin redaksi juga mendapat kesempatan membuktikan apa yang ditulis itu bukan omong kosong. Ini menunjukkan bahwa perangkat hukum saat itu seperti hakim, jaksa, dan pengacara, masih bisa dipercaya intergritasnya. Tapi setelah Bung Karno mulai kacau, membubarkan konstituante dan mengangkat dirinya sebagai presiden seumur hidup, hancurlah masa jaya pers Indonesia.
Ketika BK meninggal, terus terang saya sangat sedih. Buat saya, biar bagaimana, ia adalah seorang pemimpin besar yang banyak jasanya. Memang jasanya dihancurkannya sendiri dan telah meninggalkan warisan yang harus dibereskan kembali. Sebagai seorang tokoh, ia seorang tokoh yang tragis. Ia disanjung rakyat, bahkan hingga kini, tapi dalam kurun waktu terakhir, ia terlalu asyik dengan petualangan politiknya dengan PKI yang tidak bermutu.
Saya banyak kawan-kawan lain adalah korban-korban dari PKI dan Lekra, jadi sulit bagi kami untuk melihat rasio di balik tindakan-tindakan mereka. Di dalam dunia kesenian, PKI tak kalah agresifnya. Saya tak pernah kenal Pramoedya Ananta Toer, sastrawan yang tokoh Lekra, secara dekat, karena bagi saya dunia kami memang berbeda. Bahwa kemudian buku-buku saya, Achdiat Kartamihardja, Takdir Alisjahbana, dan pengarang-pengarang lain dilarang karena desakan Lekra adalah salah satu desakan yang tidak mengherankan.
Pelarangan itu resminya menyatakan buku-buku itu anti demokrasi terpimpin. Saya ingat betul, sebelum saya ditahan oleh Soekarno, secara kebetulan saya bertemu dengan Aidit di resepsi di kedutaan RRC di Jakarta. “Aaah, Bung Mochtar, sudah lama tidak bertemu,” tegur Aidit. “Bung Aidit, makin hebat saja,” jawab saya: “Aaah, tidak, biasa saja. Begini Bung, saya ingin meramal sesuatu. Kelihatannya Bung Moctar dan mungkin anak-anak Bung tidak mungkin saya bikin menjadi PKI. Tapi saya pastikan, cucu Bung Mochtar suatu hari akan menjadi PKI. Saya yakin.” Saya tertawa mendengar ramalan itu.
Tahun 1974, ketika para wartawan senior diajak Pangkobkamtib (saat itu) Jenderal Soemitro mengunjungi pulau Buru, kata-kata Aidit terngiang kembali. Apa katanya, jika ia melihat kawan-kawannya bekerja di pulau terpencil seperti ini, memacul, membersihkan WC dan kesepian? Apakah Aidit masih akan tertawa terbahak-bahak? Kami mendapatkan waktu tersendiri untuk berbincang dengan Pramoedya. Ia menceritakan bagaimana beratnya tinggal di pulau Buru dan bagaimana mereka harus mendirikan rumah-rumah itu sekaligus menanam jagung dan membangun komunitas dari nol.
Pram mengeluh bahwa penjagaan terhadap mereka sangat keras dan jika ada yang berani mencoba lari, hukumannya sangat berat. Pram kelihatan sangat emosional dan memperlihatkan bahwa ia tak setuju dengan perlakuan terhadap penghuni penjara. Ia kelihatan sangat geram dan saya bersimpati kepadanya.
SAYA DITAHAN
Di suatu malam jumat, 21 Desmber 1956, saya ditahan atas perintah Bung Karno. Ia memerintahkan Nasution untuk menangkap saya. Nampaknya akhirnya kesal juga melihat tak bosan-bosannya mengkritiknya. Beberapa kawan sudah mulai mengolok-olok saya karena masih juga berseliweran dan belum juga ditahan Bung Karno. Awalnya penangkapan tokoh-tokoh PSI dan Masyumi, seperti Syahrir, Subadio (Sastropratomo) dan Natsir. Saya mengkritik penangkapan ini. Lalu saya dikenakan tahanan rumah.
Indonesia Raya boleh terbit. Saya tetap menulis tajuk rencana. Caranya, Hally membawa naskah itu ke kantor dan sementara saya tetap di rumah saya di jaga dua CPM bersenjata penuh setiap hari. Bulan pertama, saya tak boleh terima tamu, bulan berikutnya saya sudah mulai bisa merayu para penjaga. Saya bercerita tentang alasan saya mengkritik Bung Karno. Akhirnya mereka mulai mengerti, kalau saya mau keluar rumah.
“Pokoknya kami tutup mata deh, Pak…” kata mereka. Mereka percaya saya tak akan melarikan diri dan saya memang tak pernah berencana melarikan diri kemana-mana. Suatu hari, malah para penjaga CPM itu yang permisi mau pergi sebentar. “Pak kalau letnan kontrol, tolong dong bilang kami di belakang. Kami tinggalkan senjata. Kami mau ke Jakarta Kota cari duit…” Mereka pergi ke Glodok. Ketika letnannya datang saya bilang anak buahnya sedang di belakang. Pernah pula suatu malam, mereka minta izin pulang. “Pak, sudah dua minggu saya tidak tidur sama istri, jadi minta pulang ya …” Nah, karena itu para penjaga CPM bisa kompak dengan saya.
Setelah tiga bulan, saya bilang, “Eh, sudah lama saya tidak nonton film. Nonton yuk…” Mereka mau dan katanya: “Tapi belakagan saja datangnya, biar tidak kelihatan. Bapak terlalu dikenal orang, kalau ketahuan, kami yang susah.” Saya setuju. Maka saya nunggu di mobil sampai penonton sudah masuk semua, lantas kedua CPM itu mengurus tiketnya di Globe Teater. Ternyata tidak pakai karcis karena ada tempat duduk gratis buat anggota pemadam kebakaran yang dapat dipakai.
“Pak, kolonel mau nonton, ” kata CPM itu kepada menejer bioskop. “O, beres …” Saya segera diantar ke dalam dan orang-orang memberi hormat pada saya. Saya menahan tawa geli. Dulu, jabatan kolonel itu sangat tinggi. Begitulah kehidupan saya selama empat tahun, Indonesia Raya tetap beredar dan tetap laku. Setelah saya dibebaskan, saya mendapat undangan dari International Press Institute untuk menghadiri sebuah konprensi international di Tel Aviv. Di dalam konperensi itu saya mengatakan bahwa berbagai pemerintah negara berkembang tidak suka pada kebebasan pers. Banyak pemerintah negara berkembang takut di ekspos. Bung Karno nampaknya tidak suka dengan ucapan saya.
Ketika saya pulang, mampir di Singapura karena janji ketemu dengan istri saya untuk honey moon kedua. Ketika kami tiba di Kemayoran, di Imigrasi, pegawainya mengatakan “Maaf Pak, ada perintah jika bapak pulang, paspornya harap diserahkan pada kami.” Saya jawab, “Ambil saja.” Sebulan saya tidak diapa-apakan. Lalu saya dipanggil Peperti (Penguasa Preng Tinggi), “Pak, kami diperintah menahan Bapak.”
Waktu itu Mayor Pepertinya adalah Mayor Sudharmono yang sekarang menjadi Wakil Presiden. Jadi tugasnya dulu adalah menangkap-nangkapi orang. Alasannya menangkap saya karena saya dianggap menjelek-jelekan kepala negara. Padahal saya hanya mengatakan bahwa kebanyakan berbagai negara berkembang tidak suka kebebasan pers dan sama sekali tidak menyebut Bung Karno. Akibatnya, saya dibawa ke RTM (Rumah Tahanan Militer) di jalan Budi Utomo, dan dimasukkan ke dalam sel. Itulah pertama kali saya masuk sel.
Saya mendapat kamar yang sempit. Saya merasa gusar dan marah. Saya tak bisa duduk, tak bisa tidur. Beberapa hari dalam keadaan demikian, saya seperti mendengar suara bahwa jika saya terlalu merasakan penderitaan di sel itu, saya akan sakit. Benar juga. Maka saya menulis surat untuk Hally agar membawakan buku-buku bacaan, kertas, dan pena. Saya membaca dan rajin menulis buku harian sekaligus bersosialisasi dengan orang-orang sesama ditahan. Ada serdadu, ada yang ditahan dengan tuduhan subversi, ada pencopet, ada pembunuh. Pokoknya mereka sangat menarik untuk dijadikan bahan cerita.
Setelah beberapa lama di sana, saya dipindahkan ke RTM Madiun. Penjara di Madiun ini, berbeda dengan sebelumnya, penuh sesak dengan sebelumnya tahanan politik seperti Prawoto Mangunkusumo, Yunan Nasution, Kyai Ashari, Sultan Hamid, Princen dan lain-lain. Tapi saya anggap penderitaan di penjara ini tak seberapa karena direktur penjaranya seorang kapten yang gila tenis. Ia selalu mengajak kami main tenis setiap kali ada yang membawa bola tenis baru dari Jakarta. Bahkan kami sering dibawa main tenis ke tengah kota, minimal sebulan sekali.
Sekali waktu kami dipanggil kepala penjara yang baru dapat instruksi dari Jakarta. “PKI mengadu, katanya bapak-bapak terlalu enak hidupnya di Madiun. Jadi sementara ini kita jangan main tenis di luar dulu,” katanya. Maklum, zaman itu PKI sedang dominan. Ketika peristiwa gerakan 30 September PKI pecah, saya masih di penjara Madiun. Kami semua hanya mendengar peristiwa itu dari radio Jakarta.
Yang pertama disiarkan adalah nama-nama Dewan Revolusi. Saya ingat, yang pertamakali bereaksi adalah pak Subadio, “Wah, ini jelas PKI.” Kami semua langsung berdiskusi dan berkesimpulan bahwa di belakang itu adalah PKI. Kami semua memang menentang PKI.
Kami berbincang dengan pemimpin penjara, seorang komandan CPM, saya bilang, “Mayor, kalau PKI bisa jalan terus, kamilah yang pertama dibunuh di Madiun. Apakah anda bisa menjamin keamanan kami?” Mayor itu menjawab terus terang, “Tidak bisa Pak. Persenjataan dan anak buah kami tidak cukup. Tapi saya akan berusaha mengumpulkan senjata apapun ke sini. Nah, terserah Bapak-bapak akan melakukan apa. Jika mereka menyerbu, dengan anak buah yang lima orang ini, terserahlah.” Kami menghargai keterusterangannya dan kerja samanya, dan langsung menyusun strategi.
Rekan-rekan sepenjara dari Masyumi segera mengontak kawan-kawannya di Madiun, entah bagaimana mereka juga mendapatkan senjata dan mereka menyatakan siap untuk menjaga orang-orang yang di penjara. Suasana saat itu sangat menyeramkan dan tegang. Ketika saya mendengar salah satu korbannya adalah Ade Irma Suryani Nasution, hati saya menangis dan luka. Ini peristiwa yang sungguh gila. Sambil tiduran, meski mata terpicing, saya teringat kembali bagaimana kejam dan berkuasanya PKI ketika Bung Karno memberi angin.
Saya ingat bagaimana pandainya mereka menteror orang-orang yang menentang mereka. Tapi seberapapun kejamnya PKI masa lalu, saya tak setuju jika ada anak-anak, atau saudara eks PKI ikut-ikutan terkena getahnya seperti apa yang terjadi di masa Orde Baru. Artinya mereka dihukum berdasarkan guilt by association. Konsep bersih lingkungan adalah sebuah konsep yang sangat tidak saya setujui.
Apa salah anak-anak, kemenakan, atau cucu-cucu orang-orang PKI itu? Yang bersalah adalah orang tua mereka, bukan anak-anaknya atau saudaranya yang belum tentu percaya pada ideologi yang dianut bapak, adik, atau kakaknya. Itu sangat tidak adil dan tidak manusiawi. Tentang kejadian itu sendiri, saya tetap percaya bahwa kejadian tanggal 30 September itu adalah gerakan PKI.
SASTRA
Saya sudah mulai menulis sastra secara serius tahun 1946. Semuanya diawali karena saya tergugah melihat anak-anak muda yang mengikuti perjuangan bersenjata. Saya pernah mengikuti Syahrir, perdana menteri RI waktu itu, dan beberapa pejabat Departemen Luar Negeri ke Yogyakarta. Di kereta api ikut juga Soebandrio yang kala itu menjadi Sekjen Departemen Penerangan. Kala itu Bung Karno sudah pindah di Yogyakarta, tapi perdana menteri masih di Jakarta.
Kami naik kereta api ke Yogyakarta. Ketika kami menyeberangi batas antara tentara Republik dan tentara Belanda di kali Bekasi, saya melihat anak-anak Indonesia mulai menembak. Kami jalan terus ke Karawang. Kereta api berhenti. Lalu, kami dapat laporan, beberapa anak Indonesia terkena tembak. Soebandrio sebagai dokter segera bertindak. Dia mendiagnosa ada yang kakinya harus dipotong. Karena tidak ada alat untuk melakukan operasi, kaki mereka dipotong dengan gergaji. Sungguh mati, saya tak kuat melihatnya. Itulah sebabnya jika saya melihat para politikus Indonesia mempermainkan rakyat, wuaduh, saya marah besar. Saya sudah melihat bagaimana rakyat bersedia mengorbankan jiwanya untuk kemerdekaan Indonesia.
Saya tidak ingin terlalu emosional dalam sebuah penulisan jurnalistik, meski yang saya lihat adalah realita. Menyadari keterbatasan jurnalistik, saya lalu menuangkan hal-hal seperti itu ke dalam sastra. Sastra bisa mengekspresikan persoalan humanitas dan emosi manusia dengan kuat. Cerita pendek saya yang pertama dimuat di majalah Siasat. Waktu itu, usia saya sekitar 24 tahun. Lalu cerita pendek berikutnya dimuat di Mimbar Indonesia. Saya selalu menulis sebuah kisah fiksi berdasarkan pengalaman-pengalaman saya.
Sastra saya adalah kisah nyata berdasarkan kisah masyarakat kehidupan yang nyata. Bromocorah, Harimau-harimau, Kuli Kontrak, Si Djamal semuanya adalah berdasarkan kisah nyata. Bromocorah diilhami pada saat saya ditahan Bung Karno di Madiun. Bromocorah yang mengilhami saya itu kerjanya membelah kayu, dan saya sendiri sering mencari kayu untuk saya ukir. Kami sering mengobrol dan dia menceritakan ketika lari ke Riau. Saat itu masih banyak perampok kapal yang datang dari Singapura. Dan dia mengaku sering ikut kapal-kapal itu untuk merampok.
Cerita pendek Dara juga adalah sebuah kisah nyata tentang anak puteri kawan saya. Mengembara dalam Rimba adalah pengalaman saya ketika masih muda mengembara dalam hutan-hutan. Si Djamal memperlihatkan kenaifan manusia Indonesia. Dia seorang intel di Yogyakarta ditugaskan memata-matai Belanda di Jakarta. Belum apa-apa, yang dilakukannya pertama kali adalah mendatangi saya di kantor, menunjukkan kartu intel yang dimilikinya, dan menceritakan ke seluruh dunia bahwa ia adalah intel. Waduh, naif betul. Saya tertawa terbahak-bahak melihat kelakuannya.
Juga banyak yang merasa bahwa dalam Senja di Djakarta saya menceritakan sebagian kawan-kawan saya. Soedjatmoko sampai menghampiri saya dan mengatakan, “pasti tokoh ini adalah saya….” Dan saya jawab, “saya tak akan bilang apa-apa, tapi yang pasti memang ada Anda.” Kami sama-sama tertawa.
Saya ingat, suatu pagi ketika saya naik mobil menuju kantor Indonesia Raya, saya melihat seorang wanita yang kotor dan setengah telanjang. Ia berdiri di bawah pohon dan beberapa kali saya lewat, ia tampak tertawa sendiri, dan ngobrol sendirian. Sepotong kain yang menutup pinggulnya tampak kotor dan sobek-sobek. Maka saya tanyakan pada Hally, apakah ia memiliki sepotong kain batik bekas untuk diberikan pada perempuan itu. Hally segera memberi sepotong kain baik, dan sehelai blus.
Pagi itu juga saya menghampiri perempuan itu. Karena nampaknya sukar berbicara dengannya, saya hanya menggunakan bahasa tangan saja bahwa saya ingin memberikan kain batik dan blus itu padanya. Ia malah lari meninggalkan saya, dan setiap kali saya mendekat ia menjauh malu-malu. Beberapa hari saya bolak-balik, dan yang terjadi adalah wanita itu lari setiap kali melihat saya. Akhirnya saya tinggalkan saja potongan kain itu di bawah pohon.
Dari jauh, saya melihatnya ia mengambil kain batik dan blus itu. Sebuah pertanyaan yang selalu mengganggu saya adalah: apakah wanita itu benar-benar gila atau ia berpura-pura gila? Setelah beberapa lama, akhirnya saya menulis sebuah cerita pendek berjudul Perempuan Gila. Isi ceritanya adalah seorang perempuan yang sebenarnya tidak gila, tapi karena tidak memiliki baju, maka ia berpura-pura menjadi gila.
Saya ingat, saya menerima beberapa surat yang menyukai cerpen itu, tapi beberapa surat lain protes karena menganggap saya membesar-besarkan kondisi kemiskinan di Indonesia. Nampaknya banyak juga orang Indonesia yang menolak untuk melihat realitas di sekelilingnya. Tapi, semua komentar ini penting untuk saya.
Kritikus yang paling saya perhatikan di dunia ini adalah isteri saya sendiri. Seperti dalam dunia jurnalistik, Hally pun berperan penting dalam dunia kepenulisan saya. Ia sangat penting bukan hanya dalam karya saya, tapi dalam kehidupan saya. Terkadang karya saya, saya ubah karena kritik Hally, tapi sering juga saya biarkan.
Perhatian saya terhadap dunia sastra salah satunya adalah melalui Yayasan Obor. Ini adalah satu yayasan yang antara lain bergerak di bidang penerjemahan karya sastra asing ke Indonesia. Saya menganggap, masyarakat Indonesia patut diperkenalkan dengan karya sastra dunia, yang bukan hanya dunia Barat tapi juga belahan dunia lainnya, misalnya India, Filipina, Muangthai, Kenya, dan negara Dunia ketiga lainnya misalnya negara Amerika Tengah dan Selatan. Tapi itu tak berarti saya tak menghargai sastra Indonesia. Saya menyukai karyakarya Ramadhan KH karena ia sangat memperhatikan persoalan sosial. Novelnya Kemelut Hidup dan Keluarga Permana sangat menyentuh perasaan saya.
Saya juga menyukai karya Achdiat Kartamihardja dan Rendra. Saya juga menyukai Sutardji Calzoum Bachri karena ia berhasil membuat inovasi baru dalam dunia kepenyairan Indonesia. Tapi yang saya kenal betul sebagai seorang penyair dan secara pribadi adalah nama Chairil Anwar. Pertemuan pertama saya di rumah seorang teman. Lantas, saya juga sering bertemu di rumah Bung Syahrir. Saya tertarik dengan semangatnya yang selalu berapi-api, matanya selalu merah, dan badannya ceking seperti kekurangan makan. Mungkin karena itu dia selalu datang ke rumah saya tepat jam makan siang, ha,ha,ha…
Chairil pernah juga menyumbang perpustakaan saya dengan buku-buku curiannya. Ha,ha,ha. Ceritanya begini. Setiap hari saya menuju kantor majalah Mutiara, kantor saya sebelum mendirikan Indonesia Raya, saya selalu melalui sebuah toko buku besar yang terkenal, Van Dorp. Saya tahu betul, Chairil sangat ahli mencuri buku di situ. Pernah saya iseng-iseng bilang, “Ril, saya ingin deh sebuah buku.” Chairil mencatat nama buku itu, lalu katanya: “Beres. Kau bonceng aku ke toko buku itu, Tar.”Setengah jam kemudian dia datang, dan melempar buku itu ke atas meja saya.
Dia juga sering meminjam buku milik perpustakaan USIS (United States Information Service) untuk saya dan tidak mengembalikannya. Gila nggak!! Ha,ha,ha… Bicara tentang Chairil berarti bicara soal wanita-wanita impiannya. Pacar Chairil banyak betul. Kelihatannya waktu Chairil hanya habis digunakan untuk pacar-pacar dan puisinya. Kami selalu prihatin melihat cara Chairil menggunakan waktunya. “Ril, kau ini jangan seperti lilin, terbakar di ujung atas dan bawah. Kau punya bakat begitu bagus. Jaga dong kesehatanmu.” Dia selalu menjawab dengan matanya yang merah dan suara parau, “Ah, itu kan prinsip hidup kalian yang borjuis. Aku ini seniman murni.”
Seringkali kini jika kita berdebat soal sastra dan kebudayaan, saya teringat Chairil karena pemikiran Chairil tentang budaya sangat tajam. Memang benar, sekarang banyak sekali seniman-seniman muda yang potensial dan banyak pula forum-forum yang tumbuh. Tapi saya tidak yakin diskusi-diskusi atau forum yang terjadi kini mengekspresikan keadaan di masyarakat. Saya ikut dalam Forum Kebudayaan yang diorganisasi oleh Fuad Hassan. Banyak rekan-rekan, antara lain Sutan Takdir Alisyahbana, Umar Kayam, yang duduk di dalam forum ini yang bertugas mempersiapkan ide-ide masalah kebudayaan yang harus masuk dalam Kongres Kebudayaan. Tapi nyatanya, yang dilontarkan oleh anggota forum tak ada yang diperhatikan sama sekali.
Salah satu contoh saja, saya diminta menulis peranan seniman dalam masyarakat. Lalu saya bilang, “Saya tidak suka tema ini. Ini sudah sering dibicarakan dan tak ada gunanya diulang-ulang. Saya ingin memfokuskan persoalan kebudayaan hari ini dan mendatang.” Lalu surat saya tidak dibalas lagi. Ya sudahlah, saya tak perlu datang. Bagi saya, uang satu milyar rupiah ongkos Kongres Kebudayaan itu buang-buang uang saja. Saya merindukan perdebatan-perdebatan kebudayaan yang mampu membuat kita berpikir lebih mendalam tentang problem-problem kebudayaan yang sedang dan akan kita hadapi.
Saya teringat terjadinya perdebatan panas tentang apakah sastra bisa menggerakkan masyarakat untuk menjadi revolusi. Tentu saja saya tak percaya sebuah karya sastra secara langsung bisa meletupkan revolusi besar. Jika kita menulis sastra dengan mengungkapkan nurani, dengan sendirinya sastra itu sudah menyentuh perasaan manusia, dan mendorong manusia untuk berpikir. Jadi saya lebih percaya bahwa sastra bisa menggerakkan manusia untuk berpikir.
MASA ORDE BARU
Ketika Orde Baru, harapan saya mulai tumbuh. Tapi harapan dan kegembiraan saya hanya berusia beberapa tahun pertama. Saya mulai kecewa ketika Orde Baru tidak cukup rasional dalam menangani soal Taman Mini Indonesia Indah. Ketika mahasiswa protes dan Arief Budiman sampai digiring ke atas truk, saya sedih dan mulai ragu terhadap keadilan Orde Baru.
Rekan-rekan di Indonesia Raya mulai menganggap ada sesuatu yang terulang kembali di dalam Orde Baru. Ketika Ibu Tien mulai tampil dengan usulnya mendirikan Taman Mini Indonesia, sikap kami menentang karena kami anggap TMII bukanlah sebuah prioritas untuk saat itu.
Banyak ahli ekonomi maupun rekan wartawan yang menganggap bahwa prioritas pertama adalah menaikkan taraf hidup rakyat. Tidak ada yang bermimpi setiap rakyat harus mampu tinggal di rumah mewah, tapi paling tidak rakyat harus bisa menikmati taraf hidup yang paling minimum, dan kebutuhan dasar sehari-hari sudah harus bisa dicapai. Tapi, masih ada sekitar 20 sampai 30 juta rakyat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Ketika Indonesia Raya menulis kritik terhadap TMII melalui pemberitaan dan tajuk rencana, pers Indonesia belum mengalami belenggu yang ketat seperti masa kini. Buktinya kami masih bisa memuat tulisan-tulisan orang yang mengkritik berdirinya Taman Mini. Saya kira, Orde Baru masih mengalami masa balita sehingga mereka masih mentoleransi kritik-kritik. Jadi kami tidak dibreidel, tidak ditegur, bahkan tidak ditelepon sama sekali.
Di masa Orde Baru pun saya pernah ditahan tanpa melalui pengadilan, tanpa kesalahan, dan hingga sekarang tak pernah ada penjelasan apa pun. Semua bermula ketika tanggal 15 Januari 1974 saya berangkat ke Paris untuk memenuhi undangan UNESCO. Di sepanjang jalan dari Matraman ke Senen, saya lihat betapa ramainya anak-anak muda bergerombol. Saya tidak mendengar apa-apa tentang Malari atau Peristiwa Lima Belas Januari sebelumnya. Yang saya tahu adalah, ketika pulang dari Paris, harian Indonesia Raya bersama berbagai media lainnya telah ditutup. Dan saya ditahan tanpa alasan yang jelas.
Dalam sebuah wawancara majalah TEMPO dengan Jenderal Yoga Soegama, ia mengungkapkan sesuatu yang menggelikan. Ia menganggap bahwa saya adalah PSI atau paling tidak simpatisan PSI. Dan saya dengar saya dituduh pernah mengadakan pertemuan dengan Hariman Siregar di kantor Indonesia Raya dalam rangka menggerakkan mahasiswa. Itu semua adalah tuduhan yang sungguh tidak bermutu!
Memang benar saya sering berdiskusi dengan anak-anak muda, karena mereka sering bertandang ke rumah saya, hingga sekarang. Diskusi itu memang ngalor-ngidul dari soal dunia, hingga kritik-kritik kebijakan pemerintahan Orde Baru. Tapi itu hanya diskusi biasa yang saya yakin dilakukan berjuta penduduk Indonesia di berbagai forum resmi maupun tak resmi. Jadi hingga hari ini, Indonesia Raya beserta Harian KAMI, Nusantara, Pedoman dan lain-lainnya sudah tinggal makam saja.
Indonesia Raya pasti dikhawatirkan karena kritik-kritiknya. Apalagi sekarang, ketika soal komisi Haji Thahir dan Pertamina ramai dipersoalkan. Maklum, kami mendapatkan bukti-bukti kasus korupsi Pertamina sampai satu koper banyaknya. Isi dokumen itu antara lain adalah laporan pengeluaran minyak yang kemudian dimanipulasi pada saat penjualan. Dan selisih beribu-ribu liter minyak itu tak jelas ke mana larinya. Headline harian Indonesia Raya terus menerus membicarakan masalah korupsi ini hingga berminggu-minggu lamanya karena saya anggap ini kasus yang harus diberantas.
Seingat saya, reaksi pemerintah kemudian membentuk Panitia Tujuh dengan ketua Wilopo. Waduh, berapa puluh ribu rupiah ongkos yang dikeluarkan Indonesia Raya untuk memfotokopikan dokumen-dokumen itu, padahal kami tidak terlalu kaya. Tapi, kami pikir, ini demi pemberantasan korupsi dan karena pemerintah yang meminta, maka kami berikan. Satu kopor fotokopi dokumen kami berikan kepada Panitia Tujuh, dan satu kopor gede lagi buat Kejaksaan Agung. Toh sampai hari ini tak pernah terdengar hasilnya. Padahal Adam Malik sudah bilang, pemerintah akan menyediakan 80 orang akuntan untuk memeriksa keuangan Pertamina.
Setahun setelah kami mengekspos kasus Pertamina, saya ikut menyelenggarakan International Association Cultural Freedom di Bali yang dihadiri berbagai intelektual asing dan Indonesia. Ternyata, Ibnu Sutowo mengadakan resepsi untuk para peserta pertemuan itu di sebuah gedung di jalan Merdeka Barat. Karena saya yang mengantar beberapa tamu asing itu, maka mau tak mau saya juga ikut ke resepsi itu. Untuk pertamakali, setelah ekspos Pertamina itu, saya bertemu dengan Ibnu. Dan saya kagum, betapa correctnya sikap Ibnu kepada saya. Dengan sopan dia mempersilahkan kami dan mengatakan senang sekali bisa menjamu kami. Dia tidak menyentuh apa pun soal pemberitaan kami.
Sebenarnya kami pernah mendapatkan tanda-tanda optimisme dari pihak pemerintah untuk menerbitkan Indonesia Raya kembali. Tapi syaratnya adalah: nama korannya harus diganti jika pemimpim redaksinya saya, atau namanya tetap Indonesia Raya dengan pemimpin redaksi berbeda. Saya menolak persyaratan ini. Karena jika saya menerima salah satu persyaratan itu, berarti seolah-olah yang dituduhkan kepada saya itu memang benar.
Saya ingat, ketika saya baru dilepaskan dari tahanan setelah beberapa bulan. Pagi itu, saya masih melukis dan tiba-tiba saja seorang petugas penjara terengah-engah menceritakan bahwa saya dipanggil oleh Jaksa Agung Ali Said. “Biasanya kabar baik, Pak…” kata petugas. “Wah, nanti dulu deh, saya masih mau melukis,” jawab saya. Pagi itu, saya memang sedang dalam mood ingin melukis. Tapi petugas itu memaksa. Akhirnya, saya setuju dan dibawa mobil menuju kantor Jaksa Agung Ali Said.
Di dalam kantornya, Ali Said langsung menjabat saya dan mengatakan bahwa ada kabar baik, “Anda dibebaskan!” “Dibebaskan? Saya boleh ke mana saja?” tanya saya. “Ya, ke mana saja!” Ali Said menceritakan pertemuannya dengan pak Harto bahwa investigasi tentang saya menghasilkan kesimpulan bahwa saya tak bersalah dan tak ada bukti saya ikut menggerakkan Malari. Dan menurut Ali Said, Pak Harto mengatakan, “Sudah saya bilang pada Yoga, memang tak mungkin Mochtar Lubis melakukan hal yang bodoh seperti itu.” Cerita Ali Said ini kemudian saya tuliskan langsung di buku harian saya. Dan buku harian itu kini sudah diterbitkan sebagai sebuah buku dalam bahasa Belanda.
Saya mengerti jika pers masa kini sulit untuk memberitakan soal nepotisme dengan telanjang, misalnya. Saya merasa simpati dan sedih. Begitu banyak wartawan muda yang sangat potensial, mampu berbahasa Inggris dan berwawasan luas, tapi geraknya terbatas karena adanya SIUPP. Saya mengerti betul jika wartawan muda menjadi frustrasi karena mereka pasti sudah membongkar berbagai skandal, tapi demi kelangsungan hidup penerbitan maka masalah-masalah korupsi dan nepotisme itu tak bisa ditulis secara blak-blakan.
Orang memakai alasan bahwa kebebasan pers hanya bisa hidup di Barat. Saya sama sekali tak setuju dengan pandangan yang begitu simplistik ini. Ketika saya diwawancarai sebuah harian tentang Hari Pers Nasional, saya jawab bahwa itu adalah hari berkabung untuk pers Indonesia. Wartawan muda itu kaget dan mengajukan argumennya bahwa kini industri pers sudah lebih maju. Tentu saja industri pers sudah lebih maju. Tapi kalau ada wartawan yang menganggap bahwa SIUPP itu wajar dan menganggap bahwa kebebasan pers itu hanya hidup di negara-negara Barat, alangkah sedihnya saya.
Hal lain yang perlu ditulis saat ini, menurut saya adalah soal harkat wanita Indonesia. Menurut saya, meski sekarang sudah banyak wanita kota yang berpendidikan tinggi dan berpikiran maju, lelaki Indonesia masih tetap patriarkis, tetap chauvinis dan egois. Secara kultural, mereka masih lebih dinomorsatukan hingga dalam soal sosial dan politik, perempuan masih selalu didiskriminasi.
Pernah saya ke pantai Selatan Ujung Kulon (Binuangen) saya bertemu seorang perempuan usia 14 tahun. Setelah kami bercakap-cakap, saya menjadi sedih dan sakit hati. Ketika berusia 11 tahun dia sudah dipaksa kawin. Laki-laki itu meninggalkannya setelah empat bulan. Dikawinkan lagi, ditinggal lagi setelah dua bulan. Sekarang dia sudah dipaksa kawin lagi untuk ketiga lagi.
Saya heran, bagaimana undang-undang perkawinan bisa melindungi perempuan di desa seperti ini. Di kota pun sebenarnya persamaan hak wanita dan pria Indonesia masih terbatas di atas kertas saja. Salah satunya adalah tragedi Dharma Wanita. Buat saya sungguh menggelikan melihat seorang wanita menjadi Ketua Dharma Wanita hanya karena suaminya adalah seorang menteri. Padahal bisa saja isteri dari salah satu anak buahnya jauh lebih mampu memimpin. Bagi saya, Dharma Wanita adalah sebuah konsep dan pemikiran yang maha feodal.
Saya pernah membuat penelitian untuk sebuah organisasi internasional tentang PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga) ke pulau Alor. Organisasi ini pernah mendengar bahwa bantuan yang diberikan kepada PKK tidak digunakan secara efisien. Saya bertemu dengan isteri lurah dan menanyakan efektifitas PKK. Ibu lurah mengatakan bahwa saya hanya boleh melempar pertanyaan pada perempuan yang mendampinginya. Selama dua jam ibu-ibu itu tak (berani) mengeluarkan sepatah kata pun. Bagi saya, ini sangat mencemaskan. Kemudian saya dengar bahwa Ibu lurah itu buta huruf, karena itu pendampingnya yang harus bicara atas nama dia.
Pernah juga saya menyaksikan ibu-ibu dibawa ke pusat PKK untuk mendapat makanan sehat, susu, dan kacang-kacangan. Ketika saya tanyakan salah seorang ibu apakah di rumah mereka mendapat makanan yang sama, maka ibu itu menjawab tidak. Mereka hanya bisa memakan seadanya. Padahal, laporan-laporan PKK yang diberikan kepada pihak donor adalah keadaan dan situasi yang bagus, timbangan bayi sehat, makan setiap hari bergizi dan laporan-laporan indah lainnya. Perhatian saya terhadap perempuan saya ekspresikan dalam kumpulan cerita pendek yang saya beri judul Perempuan.
APA YANG SAYA INGINKAN KINI
Kini saya adalah seorang Bapak dari tiga anak dan kakek dari 10 cucu-cucu yang manis. Tak ada satu pun anak saya yang menjadi wartawan maupun penulis. Mungkin mereka kenyang melihat bapaknya dipenjara melulu, ha,ha,ha…
Saya merasa beruntung selalu berbadan sehat dan tidak dibebani penyakit yang serius. Saya hanya pernah sakit kena malaria di Srilanka. Saya menjaga kesehatan saya dengan rajin beryoga. Ini salah satu oleh-oleh saya dari penjara selain keahlian mendongkel pintu dan mencopet dompet, ha,ha,ha…
Saya juga rajin berlatih kungfu dari seorang guru yang sudah sangat tua. Selain itu saya main tenis seminggu dua kali setiap jam enam pagi. Itu saya lakukan sejak usia 16 tahun. Olah raga saya yang lain adalah naik gunung. Saya sering naik gunung sendirian saja, menikmati hutan sendirian. Indah sekali. Karena keranjingan olah raga itu, maka ketika saya checkup di Singapura, sang dokter kagum mengatakan, “You have a fine machine, Mr.Lubis” katanya tertawa.
Meski saya punya kiritik besar terhadap kehidupan sosial, politik, dan ekonomi di Indonesia saat ini, saya selalu berpandangan optimistis. Saya tidak ingin bersikap pahit, karena itu tidak akan membantu memperbaiki keadaan. Pahlawan saya adalah Mahatma Gandhi. Saya merasa sangat beruntung pernah bertemu dengannya.
Waktu itu saya harus menghadiri Konperensi Asia pertama. Untuk menerobos blokade Belanda, kami mengendarai pesawat milik Patnaik, seorang pengusaha India yang sangat simpati dengan perjuangan Indonesia. Ia segera menyediakan beberapa kapal terbang buat menjemput kami di Maguwo. Sampai di Singapura, baru kami naik pesawat lain ke India.
Gandhi mendatangi delegasi kami. Ia begitu sederhana dengan mengenakan selembar kain putih dan sandal. Melihat mukanya saja, saya sudah jatuh sayang kepadanya begitu bening, begitu halus dan lembut. Tingkah lakunya persis seperti yang sering digambarkan media dan buku-buku tentang dirinya. Dengan membaca pemikiran Gandhi, saya selalu percaya akan perjuangan tanpa kekerasan.
Saya tak percaya bedil dan saya tak ingin aliran darah. Saat ini, banyak yang menganggap keberhasilan Orde Baru adalah stabilitas. Tapi untuk saya, stabilitas yang tercipta sangat semu karena berbagai hal dilakukan dengan paksaan. Tapi, seperti biasa, saya masih percaya, masyarakat Indonesia akan terus menerus menuntut haknya untuk berpartisipasi. Saya percaya, kita semua adalah orang-orang yang pandai…
14 Maret 1992
Sumber: http://202.158.52.214/id/arsip/1992/03/14/MEM/mbm.19920314.MEM7774.id.html
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel García Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati