KRT. Suryanto Sastroatmodjo
http://www.sastra-indonesia.com/
Tiada yang bertanda benalu
Tatkala hayat menderai ke hulu
Masih gemulung rahmat terakhir
Pada papasan yang tergulir.
Sahabat Sandra yang teliti.
Coraknya masih seperti apa yang pernah kuutarakan dulu. Beberapa rekan pengajar akademi mengatakan, kalau naskah ceramah ilmiah di Seminar Kelana ini terlampau kering jadinya. Aku menghela nafas. Beberapa kali kutanyakan kepada Retno yang mengetahui secara pasti, berapa orang pesertanya, berapa anggaran yang berhasil ditekan. Tahun lalu, aku benar-benar perih. Gaji tiga bulan kukorbankan untuk menambal kekurangan yang belum terencana sebelumnya. Nah, pada waktu itu, kuakui, Sandra gagasanmu bagus sekali. Bagaimana kalau Akademi kita memikul biaya seminar yang unik ini?
Sahabat Sandra yang tekun.
Helai-helai makalah itu kemudian kuteliti kembali. Ah, ya, sahabat – sesungguhnya aku merasa sedih, bahwa dalam soal-soal yang berhubungan dengan pemecahan masalah-masalah budaya, maka biasanya jaranglah pemikiran yang gemilang datang. Harus diperlakukan serangkaian diskusi sengit, terpadu dan berkelanjutan, sampai akhirnya ditemukan sebuah kepastian sederhana. Namun demikian, belum ada yang bisa memuaskan para perancang.
Dalam sekali aku isap rokok kretek Cap Gelang yang asapnya melingkar-lingkar dan penyok, sehingga gambaran yang muncul adalah mirip petak persawahan di atas bukit. Dengan nafas landung aku kemudian meletakkan kertas penghabisan, yang sudah penuh coretan. Nah, ada di dalamnya kesalahan-kesalahan tulis yang pantas diberi coretan merah, kemudian di bawahnya ditaruh beberapa perkataan yang merupakan pembetulan. Cara yang tidak aku senangi; karena “keterangan hakikat”, rampung sempurna setelah digoreskan – bukan mencoret-mencoret, yang berkesan kalut itu.
Gulang-gulingan pemikiran manusia acapkali berserabut. Dengan demikian, apa yang muncul ke permukaan adalah sesuatu yang kadang telah melalui siratan dan kepuasan, sedangkan apa yang selebihnya merupakan kemasan-kemasan yang lebih menonjol. Di kala kita berbicara tentang suara batin insani, maka ada yang tersesat atau lepas dari perhatian awali. Maka hendaknya kita mencoba untuk menafsirkan bentangan-bentangan jagat yang tercipta. Bukankah kita adalah sepancar dari keutuhan yang liat? Dengan demikian, kita merasakan wawasan dunia.
Baiklah, kita tengok Matahari di luar. Balkon rumah tua yang bercat putih ini menjadi kuning muda oleh berkas sinar sepenggal. Sedang pohon keluwih yang baru berumur sepuluhtahun menjuntaikan dahan-dahannya yang berwarna lumut, bila angin singgah maka reranting ciliknya meng-obat-abitkan daunnya yang lonjong, dengan pinggiran yang bagai digunting. Seraya menikmati kehangatan pagihari, aku buka kembali buku harian yang telah penuh. Huruf-huruf cetak yang ramai berjumpalitan di dalamnya mengkiaskan tentang lecehan terhadap hidup, yang kekar mencongak. Sedang dalam peradaban kita menyiapkan sangkutan angan.
“Di mana terdapat lompatan, di situ pula ditemukan suatu koreksi. Di mana terdapat tukikan mendalam, ada dekatnya peradaban angan.” Ini bukan kata-kata mutiara, melainkan kebijakan bagi setiap penulis. Kalau ia berupaya untuk mengkiaskan pengharapan, sebaiknya lebih dulu ia sentuh osikan yang menggelepar. Baru dari situ, kerja bisa dimulai, bisa digalang. Bisa ditukikkan semampu hati. Aku mengeluh sedikit. “Sebaiknya, kuajak generasi muda untuk memaafkan segala kekhilafan dari para pendahulunya, agar supaya dengan angkatan kini mampu berkisah tentang Cintanya.” Fitrah yang saya maksudkan ialah: realitas umat.
Seseorang membelah bukit, untuk menggali sumber-budaya yang demikian luhurnya. Ada yang lebih gamblang daripada itu: kiat manusia melebihi ruang dan waktu. Tatkala aku menyambut hangatnya pencar-sinar mentari, mengolak-alik naskah yang hendak kupersembahkan kepada pertemuan kawula muda – aku temukan bintik-bintik yang belang. Antara lain kalimat itu berbunyi begini: “Kehidupan semakin lama semakin membuat kita terancam kebisuan. Mengapakah kita enggan berbicara tentang sikap lugas kita sendiri? Kenapakah kita justru menyembunyikan getaran yang sundul-langit, yang karena tak menemukan arus yang tepat, kemudian menabrak tebing-tebing kesetiaan?” Kenapa kita malahan berusaha merahasiakan lagu-lagu sukmawi, lantaran kita sendiri mempercayai datangnya penebusan dan menutupi sungkup tagihan?
Rasanya, penghidupan yang dilayari Anak Manusia menuju bandar-bandar nan jauh tanpa tepi, tambah memberati tanggungannya. Penawaran buat mengekalkan satu derajat kemanusiaan, di tengah larutnya situasi. Permintaan tentang tampilnya tokoh berbobot di tengah kemelut zaman, seraya memantapkan hak-hidupnya.” Sebagian cendekiawan baru hanya melahirkan kegelisahan.
Apakah yang telah kukatakan tadi? Sebuah gugatan, ataukah sebuah pembelaan? Tidak juga yang pertama ataupun yang kedua. Sahabatku budiman, kala kita terlibat percakapan akrab di tebing Muara Citra, pernah dirimu berucap sebagai berikut: “Aku sangat menggandrungi manusia. Tiada lebih berharga dari masa depan kemanusiaan ini. Karena itu, jikalau terdapat suatu gerakan yang berkeinginan buat mendobraknya, atau lebih dahsyat lagi: hendak meniadakan sumbangsih kemanusiaan untuk perbaikan derajat hayati pada masa kini, akulah orang pertama yang bakal menentangnya mati-matian.”
“Tentu saja,” tukasku pula. “Siapa yang tidak sejalan dengan pandangan ini? Aku pun, kalamana berkata tentang upaya melempar kesigapan untuk merebut lahan-lahan keberuntungan bagi anak cucu sendiri, tentunya akan mengatasnamakan semua yang telah kita singgung dalam wacana di atas.
“Ah, bukan begitu sahabat. Di situ terasa, bahwa persoalan yang sehat dan apik telah kaubawa kepada nuansa politik yang menekankan satu pembenaran kekuasaan dan pelanggengan kekuasaan. Padahal, sebetulnya aku ‘kan hanya mengutarakan tentang perimbangan antara naluri kita yang paling halus dengan segala rekadaya yang menuju pada perbaikan nasib. Ya, meskipun yang bernama perbaikan nasib niscaya menyangkut hari esok onggok-onggokan pribadi, dan bukan kelompok luas yang bernama wargabangsa seluruhnya.”
“Itupun bebas untuk dikedepankan, kawan –“ Namun begitu, setiap kita hadir di tengah perjamuan kemasyarakatan (di mana manusia secara lantang serta berani mempertaruhkan kejantanannya), dia terkejut, dia bagaikan tersengat. Senantiasa, nilai-nilai yang lebih peka muncul tanpa disengaja!”
“Mohon diredakan sedikit, angin kencang di daratan ini, sayangku. Bukankah kita sependapat untuk tidak memperuncing pertentangan semacam ini? Agaknya, seperti bandar-bandar yang dulu kita belum mengenalnya secara cermat, dan belum menyinggahinya, toh dewasa ini tanpa dikehendaki akan segera menyengat kesadaran. Soalnya, pelayaran makin lebar-jembar-luas. Tanah rantau yang kita jelang juga telah menggoda saat-saat berjaga. Dengan peristiwa ini, kuyakin pengertian suku, sanak, sedulur tak lagi jadi bahan pergunjingan. Bukan lagi layak dipertaruhkan sebagai andalan kesetiaan.”
Sandra tersayang.
Baiklah. Kutoleh kembang-kembang suflir di pot kecil sebelah kiri beranda ini. Aku renungi warnanya yang hijau-pupus, yang membuat diri mendambakan kesejukan. Tadi, air dari kendi tanah telah menyiraminya agak sedikit, sehingga bau tanah bercampur rabuk di pot itu menyerakkan aroma tertentu. Aku bersedekap. Di luar, bayang-bayang semakin memanjang ke barat.
Oya, aku lupa mematikan lampu pletik-plenik yang mengumpul dalam robyongan di langit-langit tengah ini. Siang menjadi terasa sumuk, bila beranda masih juga dilisir listrik pada siang-temarang. Kukunci kebekuanku sendiri. Kukatupkan kebisuanku yang lindri-lindri. Kututup kebahasaan yang lebih berperekat sangsi – dan lebih baik jika aku merobohkan kesombongan yang begitu menyesakkan. O, sahabat muda! Dalam tindihan tandas, kurasakan bahwa masih banyak lagi lagu-lagu bisa kulantunkan, apabila diri telah menerima seluruh penyerahan dari orang lain, dari penjuru lain. Juga dari seberang, tatkala anak-anak bangsa menjejalkan inti-soalnya.
Sandra yang selalu kusebut dalam hari-hari sibukku!
Helai penghabisan belum juga tuntas. Tapi kertas itu sudah kuremas. Padahal, tujuh pertanyaan yang hendak kuajukan ke sidang terhormat Mahkamah Sejarah terus bersuntuk di sini. Kumerasa, kalau aku tak sanggup menggelantar sekarang, maka aku masih menunda pembayaran hutang. Karena mustahil buat menindih suatu tanggapan yang getir, katimbang berperilaku getir itu sendiri. Atau mencancang laku angkuh di tengah kadang-sumanak. Lebih memahitkan apabila kita menolak perbincangan yang mengacu kepada kecerahan sastra. Baiklah, kawan – baiklah. Kita bawa pertemuan untuk seminar kelana yang membawa bahagia, peduli orang-orang di luar melupakannya nanti.
“Kitab duniawi sengaja mengunci pengumpanan kepada dunia,” demikian aku mulai menyerang keberatanmu yang kemarin menabrakku. “Oleh sebab itu aku sengaja membernaskan kepuasanku, untuk misalnya menandaskan bahwasanya hidup yang telah dirancang, lagipula dipatoki, niscaya bakal lebih mulia daripada segala yang cuma mendadak tiba di tengah pergaulan sesama manusia. Maka, tiada lagi tawar-menawar. Malahan aku selanjutnya memilih sikap yang kurasa paling tepat buat mengatasi perselisihan.”
“Mengapa menjadi takut dan melepaskan diri dari ancaman sang waktu?” demikian dirimu secara merdu melontarkan deraan. “Sewaktu patokan di tengah jagat telah ditancapkan, hal ini berarti bahwa Kebudayaan sendiri telah menjadi makna utama. Kukira, dirimu mesti meletakkan diri sebagai tokoh yang wigati, yang bukan mencari pembenaran dan bukan mengemis perhatian sesama. Kau harus menjadi sebuah kiblat budaya sendiri!”
Terusterang, aku malu. Jernihnya pikiranmu yang demikian kuat, demikian menggugah, masih terus bersipongang hingga hari sekarang. Pada waktu kita hendak bersuara, sejumlah angka dapat dipagut pada kekuatan yang sangat duniawi; kiranya pantas diingat bahwa kita memiliki sukma yang putih. Sukma sejati, yang mengantar tiap insan ke kompas keadilan. Suatu kemustian, bahwa kita hindari pandangan-pandangan kerdil, sahabat, tanpa memalingkan kegagahan yang diikrarkan.
Sandra nan teliti.
Periksalah kembali, periksalah kembali catatan di tanganmu. Adakah yang masih perlu ditutup dengan coretan? Atau karet penghapus sudah cukup untuk menyembunyikan ungkapan keplantrangan yang begitu teramat menggoda? Aku mengipas-kipas kesumukan dengan melonggarkan dasi di leher. Tapi, bau parfummu sedap nian. Aku lalu bergumam: “Dengarlah, sayang, tindihan tandas berarti tahap-hidup telah ditelonjongkan menuju semenanjung ke tengah laut, dengan suara ombak yang lebih keras dan menampar. Kalau bukan anak-anak jaman ini yang memekikkan suara itu, lantas siapa lagi? Rasanya sangat tepat, bila kita yang berada di perbatasan ini menjadi satu titian yang kokoh dasarnya. Dua tebing telah diperhubungkan ujungnya.”
“Dan dikau, apakah dalam seminar kelana ini masih punya harapan kepada wajah-wajah belia yang senantiasa menatapmu dengan mata yang dahaga itu? Dan dikau, apakah salam seminar kelana ini masih menyimpan kerisauan, karena diri digayuti ringkih dan kerongkongan mengering ini? Tak guna menyampaikan paparan-tanggap. Kusimpan kunci di ladang tetangga!
—
*) Tanggung jawab penulisan pada PuJa
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan
Minggu, 16 November 2008
Kamis, 13 November 2008
Catatan Perjalanan "DIA-WALI" dari Balam
Nurel Javissyarqi*
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/
Cerita ini bermula saat saya habis ngelayap dari Bandar Lampung, kotanya penyair Opera Kebun Lada (judul antologi puisi Y. Wibowo). Sebelum berkisah jauh mengenai judul, sebaiknya saya mencuplik beberapa perolehan dari pelayaran Bakauheni menuju Merak.
Di tengah selat, dalam kantong kapal laut kelas ekonomi, saya melihat burung elang Jawa menyebrani ubun-ubun gulungan ombak samudera, kelepakan sayapnya seimbang perkasa, perutnya terisi tiada lebih, dan tak kurang di tengah lawatan.
Saya jadi berfikir, kenapa saat diri ini sudah berada dalam perut kapal menuju Merak, elang Jawa itu malah hendak menyebrang ke tlatah Sumatra. Jangan-jangan ada yang tertinggal dari perjalanan saya? Telapak kaki, kabut yang kan menjelma awan rindu. Atau ada sesuatu perjanjian dengan pulau sebrang itu?
Diri merasakan, burung itu kan hinggap di badan kapal yang sedang saya tumpangi sebab kelelahan, namun tak. Ia memilih mengapung di atas ketinggian gelombang sejarak sepuluh meter, sambil senantiasa mengimbangi hembusan angin yang membuatnya kesulitan mencapai tujuan bertempo cepat.
Sang burung telah ketahui bagaimana menguasai desakan bayu serta hasrat dirinya demi mencapai pantai, lawatannya kali itu seperti tak yang pertama. Dirinya tiada gentar keraguan meski menyimpan was-was di tengah tenaganya, yang suatu saat bisa habis ketika tiba-tiba angin kencang datang menghantam kelepakan sayapnya.
Atau mungkin sang elang coklat itu mengisyaratkan diri saya, untuk tandang kembali kepada kepulauan cantik di sana.
Baiklah, persoalan ini saya biarkan mengendap bagi referensi demi isyarat-isyarat lebih jelas ketika realitas dilalui bermata cerlang cemerlang.
Sebuah penerimaan kesadaraan akan pengalaman yang mampu menjadi penentu gerak selanjutnya bagi perhitungan. Saya biarkan segalanya mengalir dalam; apa itu keganjilan, misteri hayat serta realitas tampakan yang beredar di perjalanan.
Semuanya diri anggap harmoni, warna-warni kehidupan menyenangkan bagi sejati kembara.
Kapal saya tumpangi terus mendesak melaju ke Merak, sementara kepakan elang menjauhi kapal menuju Bakauheni. Ini riwayat tanda apa yang kan terjadi nanti?
Semuanya melangkah apa adanya, segalanya memuara pada tujuan masing-masing dengan resiko berbeda. Tubuh kapal menyibak kulit lautan, gelombang menari-nari dengan keindahan deru decak ombak.
Ibarat seluruh isi dunia tak perlu dimaknai, semua berjalan sederhana, nilai-nilai terbangun atas kepala anak-anak manusia. Seolah ocehan musim harus diterima, dan kita mengikuti perubahannya semacam wacana, menggelinding menghabisnya bola salju. Atau semakin membesar pada sebuah persoalan revolusi.
Batas dan puncak, besar dan kecil menuju titik-titik yang semuanya bermakna sama, ketika benar-benar mengiyakan kesadaran perjalanan hayat. Mungkin?
Ketika waktu terus berjalan, saya mengikuti keinginannya berkendaraan masa; dunia berjalan, semua melangkah berkeindahan. Carut-marut hanya milik orang-orang tergesa, berburu-memburu mangsa biasa, atau berlari dari kenyataan hutang berlimpah, sedang bias-bias hutang bangsa-negara dipikul anak-anaknya.
Lalu bathin ini berucap; bangsa maju itu seperti elang tak membawa bekal kecuali dalam perutnya saat hendak kembara, menembus cakrawala harapannya. Terpenting ialah tanggung jawab diri, keluarga serta tradisi, agar senantiasa lestari meski di kepulauan lain; inilah dunianya burung-burung elang.
Mata yang tajam, sanggup mengawasi kedalaman lautan, ada gerak ikan menjadi miliknya buat energi pacuan selanjutnya, demi waktu dan masa depan belulang.
Cerita pembuka saya hentikan di sini, saya turun di pelabuhan Merak. Hari itu dalam bulan suci ramadhan menginjak hari yang ke sepuluh.
Seperti biasa dalam tradisi kembara, tiada kewajiban menjalankan ibadah puasa. Apa yang seorang kembara sandang, bukan sebagai manusia dalam tempat yang sama. Dirinya tidak berada dalam satuan letak, ketika beredarnya matahari menunjukkan masa berbuka atau dimulainya puasa.
Atau ini sekadar alasan-alasan saja yang kurang tebal iman, sehingga gugurlah kewajiban untuk ngelayapkan segala persoalan diri yang diemban, demi lebih nikmat saat menyeruput segelas wedang.
Di pelabuhan Merak, saya berhenti di warung kaki lima yng pernah diri singgahi sewaktu akan ke Bakauheni. Saya terbiasa mengakrabi satu tempat, agar tampak rilek ketika akan menjalankan suatu lanjutan rencana.
Sebenarnya di semua tempat, ada wilayah-wilayah akrab ketika kita benar-benar merasa tak jauh dari rumah. Atau di mana pun tempat ialah bumi tuhan, wilayah kekuasaan kesadaran akan amahan, yang tengah dijalankan seorang kembara.
Dalam ruang-ruang terpencil dan asing, kita akan temukan diri yang tidak asing, ketika benar-benar dalam lingkaran kedekatan mata air nurani sebagai pandangan pejalan. Atau kita memang tidak berada di mana-mana, meski sedang ke mana saja dan jauh dari saudara.
Sebenarnya, saya dari Merak ingin mampir ke Tanara Banten. Namun, terkadang rencana juga perlu diubah, seperti cara elang meringankan tubuh agar tak terdesak hembusan angin kencang.
Teman saya sewaktu di Jombang, yang kini bermukim di Tanara, menyuruh mampir sepulang dari Balam (Bandar Lampung). Tetapi teman lain pernah bercerita, bahwa teman yang ada di Tanara itu, setengah bulan yang lalu pernah ke Jawa Timur, tepatnya Bojonegoro, namun ia tak mampir ke Lamongan.
Jadi seolah impaslah bila diri ini tak datang menuruti rencana ke bumi Tanara. Di Merak, saya memilih bus jurusan Bekasi Timur. Sebuah pilihan tak mampir ke Tanara, tetapi langsung ke teman satunya di Bekasi.
Ketika saya berada atau sampai di terminal Serang. Adzan magrib berkumandang atau waktunya berbuka. Seperti biasa di terminal, para penjual keluar-masuk ke bus yang berhenti, untuk menjajakan makanan ringan.
Para penumpang pada beli untuk melepaskan ikatan puasa, sesua-suap berbuka bagi kewajiban pengganjal perut dari seharian tak termasuki bahan kehidupan.
Saat penjual-penjual itu tawarkan dagangannya pada saya, saya hanya geleng-gelengkan kepala. Semua penjual yang menawarkan pada saya, berkata ke teman-temannya; Diawali (Bermakna saya sudah mengawali berbuka, alis tak berpuasa di hari itu. Atau saya awali buka sebelum waktunya, maka mereka menyebut saya “diawali” atau mendahului).
Karena saya sering main-main dengan kata-kata, kata “diawali” itu saya pisah menjadi “dia” dan “wali” atau para penjual itu menyebut saya Wali, he...
Kata yang saya putus itu mampu menghibur diri ini, yang sudah sakit gigi berhari-hari di Bandar Lampung, juga saat berada di senjakala Serang itu. Inilah salah satu kenang-kenangan sewaktu di terminal Serang dalam bulan suci.
Ketika sopir telah selesai menunaikan sholat magrib, lantas bus di jalankan kembali menuju Bekasi. Kala itu saya menulis sms buat kawan-kawan Balam, begini; “Saya menaiki Merak menuju Bekasi (bekas kekasih), & terimakasih perjamuannya saudara-saudaraku, yang bikin aku lupa rumah, ...ala maak.
Saya teringat selalu di Lampung; sakit gigi, sumur putri, pantai pasir putih, senyum mungil dan wajah-wajah pulau Sumatra yang aduhai…., kawan-kawan di Lada (Lembaga Advokasi Anak Jalanan), di SPL (Serikat Petani Lampung) serta SKL (Sekolah Kebudayaan Lampung).
Ya syukurlah, semua kawan-kawan di sana sudah bikin suara jaringan lembaga-lembaga yang mapan, tetapi saya masih suka keluyuran. Banyak orang berusaha ingin mapan, namun saya malah takut kemapanan, he...
Tidakkah kemapanan itu bisa pula bikin sakit udun, alis terkumpulnya darah kotor dibagian tubuh tertentu yang menyakitkan. Kalau resiko jalan-jalan tentu paling-paling masuk angin, sakit gigi juga pegal-pegal. Itulah hayat, semuanya mendapati resiko serta kenikmatan tersendiri.
Salam bagi kenikmatan dan derita. Saya yang kini menjadi burung elang, terbang di antara dua pulau Dwipa.
*) Pengelana. November 2005, Lamongan.
Keterangan: perjalanan kali itu adalah awal penyebaran buku-buku stensilan PUstaka puJAngga ke luar Jawa. Selepas dari Balam, saya membentuk Forum Sastra Lamongan bersama kawan-kawan; Rodli TL, Haris del Hakim, A. Syauqi Sumbawi, Imamuddin SA, dan Javed Paul Syatha.
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/
Cerita ini bermula saat saya habis ngelayap dari Bandar Lampung, kotanya penyair Opera Kebun Lada (judul antologi puisi Y. Wibowo). Sebelum berkisah jauh mengenai judul, sebaiknya saya mencuplik beberapa perolehan dari pelayaran Bakauheni menuju Merak.
Di tengah selat, dalam kantong kapal laut kelas ekonomi, saya melihat burung elang Jawa menyebrani ubun-ubun gulungan ombak samudera, kelepakan sayapnya seimbang perkasa, perutnya terisi tiada lebih, dan tak kurang di tengah lawatan.
Saya jadi berfikir, kenapa saat diri ini sudah berada dalam perut kapal menuju Merak, elang Jawa itu malah hendak menyebrang ke tlatah Sumatra. Jangan-jangan ada yang tertinggal dari perjalanan saya? Telapak kaki, kabut yang kan menjelma awan rindu. Atau ada sesuatu perjanjian dengan pulau sebrang itu?
Diri merasakan, burung itu kan hinggap di badan kapal yang sedang saya tumpangi sebab kelelahan, namun tak. Ia memilih mengapung di atas ketinggian gelombang sejarak sepuluh meter, sambil senantiasa mengimbangi hembusan angin yang membuatnya kesulitan mencapai tujuan bertempo cepat.
Sang burung telah ketahui bagaimana menguasai desakan bayu serta hasrat dirinya demi mencapai pantai, lawatannya kali itu seperti tak yang pertama. Dirinya tiada gentar keraguan meski menyimpan was-was di tengah tenaganya, yang suatu saat bisa habis ketika tiba-tiba angin kencang datang menghantam kelepakan sayapnya.
Atau mungkin sang elang coklat itu mengisyaratkan diri saya, untuk tandang kembali kepada kepulauan cantik di sana.
Baiklah, persoalan ini saya biarkan mengendap bagi referensi demi isyarat-isyarat lebih jelas ketika realitas dilalui bermata cerlang cemerlang.
Sebuah penerimaan kesadaraan akan pengalaman yang mampu menjadi penentu gerak selanjutnya bagi perhitungan. Saya biarkan segalanya mengalir dalam; apa itu keganjilan, misteri hayat serta realitas tampakan yang beredar di perjalanan.
Semuanya diri anggap harmoni, warna-warni kehidupan menyenangkan bagi sejati kembara.
Kapal saya tumpangi terus mendesak melaju ke Merak, sementara kepakan elang menjauhi kapal menuju Bakauheni. Ini riwayat tanda apa yang kan terjadi nanti?
Semuanya melangkah apa adanya, segalanya memuara pada tujuan masing-masing dengan resiko berbeda. Tubuh kapal menyibak kulit lautan, gelombang menari-nari dengan keindahan deru decak ombak.
Ibarat seluruh isi dunia tak perlu dimaknai, semua berjalan sederhana, nilai-nilai terbangun atas kepala anak-anak manusia. Seolah ocehan musim harus diterima, dan kita mengikuti perubahannya semacam wacana, menggelinding menghabisnya bola salju. Atau semakin membesar pada sebuah persoalan revolusi.
Batas dan puncak, besar dan kecil menuju titik-titik yang semuanya bermakna sama, ketika benar-benar mengiyakan kesadaran perjalanan hayat. Mungkin?
Ketika waktu terus berjalan, saya mengikuti keinginannya berkendaraan masa; dunia berjalan, semua melangkah berkeindahan. Carut-marut hanya milik orang-orang tergesa, berburu-memburu mangsa biasa, atau berlari dari kenyataan hutang berlimpah, sedang bias-bias hutang bangsa-negara dipikul anak-anaknya.
Lalu bathin ini berucap; bangsa maju itu seperti elang tak membawa bekal kecuali dalam perutnya saat hendak kembara, menembus cakrawala harapannya. Terpenting ialah tanggung jawab diri, keluarga serta tradisi, agar senantiasa lestari meski di kepulauan lain; inilah dunianya burung-burung elang.
Mata yang tajam, sanggup mengawasi kedalaman lautan, ada gerak ikan menjadi miliknya buat energi pacuan selanjutnya, demi waktu dan masa depan belulang.
Cerita pembuka saya hentikan di sini, saya turun di pelabuhan Merak. Hari itu dalam bulan suci ramadhan menginjak hari yang ke sepuluh.
Seperti biasa dalam tradisi kembara, tiada kewajiban menjalankan ibadah puasa. Apa yang seorang kembara sandang, bukan sebagai manusia dalam tempat yang sama. Dirinya tidak berada dalam satuan letak, ketika beredarnya matahari menunjukkan masa berbuka atau dimulainya puasa.
Atau ini sekadar alasan-alasan saja yang kurang tebal iman, sehingga gugurlah kewajiban untuk ngelayapkan segala persoalan diri yang diemban, demi lebih nikmat saat menyeruput segelas wedang.
Di pelabuhan Merak, saya berhenti di warung kaki lima yng pernah diri singgahi sewaktu akan ke Bakauheni. Saya terbiasa mengakrabi satu tempat, agar tampak rilek ketika akan menjalankan suatu lanjutan rencana.
Sebenarnya di semua tempat, ada wilayah-wilayah akrab ketika kita benar-benar merasa tak jauh dari rumah. Atau di mana pun tempat ialah bumi tuhan, wilayah kekuasaan kesadaran akan amahan, yang tengah dijalankan seorang kembara.
Dalam ruang-ruang terpencil dan asing, kita akan temukan diri yang tidak asing, ketika benar-benar dalam lingkaran kedekatan mata air nurani sebagai pandangan pejalan. Atau kita memang tidak berada di mana-mana, meski sedang ke mana saja dan jauh dari saudara.
Sebenarnya, saya dari Merak ingin mampir ke Tanara Banten. Namun, terkadang rencana juga perlu diubah, seperti cara elang meringankan tubuh agar tak terdesak hembusan angin kencang.
Teman saya sewaktu di Jombang, yang kini bermukim di Tanara, menyuruh mampir sepulang dari Balam (Bandar Lampung). Tetapi teman lain pernah bercerita, bahwa teman yang ada di Tanara itu, setengah bulan yang lalu pernah ke Jawa Timur, tepatnya Bojonegoro, namun ia tak mampir ke Lamongan.
Jadi seolah impaslah bila diri ini tak datang menuruti rencana ke bumi Tanara. Di Merak, saya memilih bus jurusan Bekasi Timur. Sebuah pilihan tak mampir ke Tanara, tetapi langsung ke teman satunya di Bekasi.
Ketika saya berada atau sampai di terminal Serang. Adzan magrib berkumandang atau waktunya berbuka. Seperti biasa di terminal, para penjual keluar-masuk ke bus yang berhenti, untuk menjajakan makanan ringan.
Para penumpang pada beli untuk melepaskan ikatan puasa, sesua-suap berbuka bagi kewajiban pengganjal perut dari seharian tak termasuki bahan kehidupan.
Saat penjual-penjual itu tawarkan dagangannya pada saya, saya hanya geleng-gelengkan kepala. Semua penjual yang menawarkan pada saya, berkata ke teman-temannya; Diawali (Bermakna saya sudah mengawali berbuka, alis tak berpuasa di hari itu. Atau saya awali buka sebelum waktunya, maka mereka menyebut saya “diawali” atau mendahului).
Karena saya sering main-main dengan kata-kata, kata “diawali” itu saya pisah menjadi “dia” dan “wali” atau para penjual itu menyebut saya Wali, he...
Kata yang saya putus itu mampu menghibur diri ini, yang sudah sakit gigi berhari-hari di Bandar Lampung, juga saat berada di senjakala Serang itu. Inilah salah satu kenang-kenangan sewaktu di terminal Serang dalam bulan suci.
Ketika sopir telah selesai menunaikan sholat magrib, lantas bus di jalankan kembali menuju Bekasi. Kala itu saya menulis sms buat kawan-kawan Balam, begini; “Saya menaiki Merak menuju Bekasi (bekas kekasih), & terimakasih perjamuannya saudara-saudaraku, yang bikin aku lupa rumah, ...ala maak.
Saya teringat selalu di Lampung; sakit gigi, sumur putri, pantai pasir putih, senyum mungil dan wajah-wajah pulau Sumatra yang aduhai…., kawan-kawan di Lada (Lembaga Advokasi Anak Jalanan), di SPL (Serikat Petani Lampung) serta SKL (Sekolah Kebudayaan Lampung).
Ya syukurlah, semua kawan-kawan di sana sudah bikin suara jaringan lembaga-lembaga yang mapan, tetapi saya masih suka keluyuran. Banyak orang berusaha ingin mapan, namun saya malah takut kemapanan, he...
Tidakkah kemapanan itu bisa pula bikin sakit udun, alis terkumpulnya darah kotor dibagian tubuh tertentu yang menyakitkan. Kalau resiko jalan-jalan tentu paling-paling masuk angin, sakit gigi juga pegal-pegal. Itulah hayat, semuanya mendapati resiko serta kenikmatan tersendiri.
Salam bagi kenikmatan dan derita. Saya yang kini menjadi burung elang, terbang di antara dua pulau Dwipa.
*) Pengelana. November 2005, Lamongan.
Keterangan: perjalanan kali itu adalah awal penyebaran buku-buku stensilan PUstaka puJAngga ke luar Jawa. Selepas dari Balam, saya membentuk Forum Sastra Lamongan bersama kawan-kawan; Rodli TL, Haris del Hakim, A. Syauqi Sumbawi, Imamuddin SA, dan Javed Paul Syatha.
BAYANG DAN BOYONG
KRT. Suryanto Sastroatmodjo
http://media-sastrajatim.blogspot.com/
Mari kita silakan para tamu memasuki baluwarti ini, saudaraku – ketika barisan yang kita nanti-nantikan sudah mulai memperlihatkan langkahnya yang tegap dan tegas. Marilah kita persilahkan para sanak-kadang yang sudah semalaman berkuyup-embun di luar pager-banon sana, dan biarkanlah mereka pagi ini ikut menikmati selamat datang ini.
“Tiada yang lebih membesarkan hati daripada keluwesan yang berbicara, lantaran dorongan jiwa yang sepatutnya. Tiada yang lebih mewakili kelugasan sejati katimbang pertimbangan yang diambil pada awal kelahiran sebuah hari – lantaran itulah titiwanci utama untuk menunjukkan harga kewibawaan,” demikian rantunan kalimat anda, pada kesempatan untuk membeberkan, seberapa jauhnya Anak Manusia berperang dengan Ayahbundanya dari seberang, buat menemukan wujud gairah yang tak – tertebak. Maka, aku mungkin harus menerimanya untuk sementara, sebagai satu bagian dari tiarapku sendiri, sebelum pada saatnya mengepalkan tinju ke hadapan.
Jangan hendaknya kita berpikir, bahwa jikalau salah seorang keluarga dekat kita takut pulang ke rumah, dengan sendirinya dia berusaha untuk menjauhkan diri dari salam-selawat dan rangkul-rungkus. Dan jika ada orang lain yang kepingin menelusurinya, dia siap mengelak. Akan lengkap kiranya kedirian kita yang laif-dhaif seperti ini, seandainya tiada perewang lain yang menganggap ketelodoran adalah warna lain. Dan pada hakikatnya, orang belum pernah menemukan ‘wangkot-celupan’-nya.
“Salawat-salawat kesentausaan,” desismu kala itu. “Karena kehidupan menagih kesan dengan begitu kuat dan kerasnya, sehingga apa yang berlangsung terkemudian adalah suatu gaya-ucap yang kurang lebih sebagai tudingan, sesalan, susulan dan bahkan juga umpatan. Kita belum juga tumbuh sebagai pribadi yang memiliki corak nan gumathok.”
“Walaupun, yang kaumaksudkan itu masih dalam batas gambaran suatu kurun waktu tertentu, dan belum berarti sepanjang masa?” demikian desakanku lebih jauh. Maka dikau mengernyitkan kening, kemudian balik berdetus: “Sahabat, mustahil kita tak menganggapnya sebagai Peristiwa yang selamanya. Bukankah kita sepaham untuk mengatakan, bahwa kebebasan wujud sama harganya dengan kebebasan isi? Dan bahwa tatanan yang digariskan oleh pakem-pakem keluruhan itu diantebi oleh suatu sosok berpengaruh yang diterima secara bulat oleh kelompok besar orang seikhwan? Aku yakin, faham-faham yang kita buat serta kemudian dibingkiskan kepada dunia, adalah juga berasal dari pandangan yang telah purba, bukan sesuatu yang masih dalam babak penyesuaian-diri yang nyamut-nyamut. Dan aku percaya, masyarakat kita masih dapat diajak bertoleransi sebatas meng-ugemi ihwal-ihwal maujudnya Rasa dan Nalarwening – sebelum dua hal yang kita ucapkan tadi mengabur di halimun dingin…”
Sahabatku Dina!
Berpikir adalah suatu arah-tanggon pada poros kreatif yang jelas. Karenanya, dengan berpikir itu, kita menuju kepada pewedaran gagasan yang hendak ditekankan, dan bukan sebagai ancangan semata. Dalam hal-hal yang besar resikonya untuk mewujudkan pikiran yang terpendam, maka seorang filosof mesti bersikap yang lebih demokratik, dalam arti bisa meng-emong situasi, meng-emong lingkungan yang majemuk.
Dina yang setiawan dan senantiasa tanggap.
Hari ini adalah hari kesebelas dari perjalananku ke daerah Orang Badui di Banten Kidul. Suatu upaya untuk meneliti, sejauh mana manusia yakin akan makna kemerdekaan batin, dan bagaimana hal itu bisa dirungkebi sebagai hak milik langgeng. Warga Badui Dalam di Cibeo misalnya punya anggapan, bahwasanya Jagat Ageng (dunia besar, makrokosmos) ini bukan sesuatu yang berdiri sendiri, tanpa pasak-pasak yang melekatkannya dengan anasir-anansir semesta lainnya. Perekat-utamanya adalah jagat alit, yang terdiri dari manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan, yang kesemuanya berhubungan secara kekeluargaan, dan punya peranan berbeda-beda, namun diemban bersama dalam satu ritme-kerja yang berirama, saling-dorong serta saling-resapkan. Jagat alit bisa terkoyak, bisa retak, manakala salah satu anasirnya meninggalkan kedisiplinan nan luhur, dan memperturutkan “karsane dhewe” (kehendak sendiri), membelot dari irama-hayati yang telah tersusun jelas, selaras dengan firman Pemangku Jagat Akbar ini.
Maka keseimbangan alam tak bisa lain diartikan sebagai keseimbangan agama, yang menggugah setiap jasad dan roh untuk melaksanakan tugas-tugas kebaikan. Bila satu sama lain tidak menempati tugas nan rapi, cermat, berdisiplin tinggi, maka pasak-pasak bakal retak, dan bumi pun terbengkalai. Perekat paling utama adalah wasiat leluhur (karuhun, poyang), yang tertulis dalam lontar-lontar tua yang diguratkan sedari mulakala. Tiap warga setia Badui pada dasarnya adalah pekerja, yang takkan istirah, bila bukan pada saatnya yang telah ditentukan menurut pathokan yang keramat. Pekerja adalah pusat greget-grengseng-nya tindak positif, yang mendorong tubuh, tangan-tangan dan urat-urat ini menggeliat dan berkeringat, lantaran melakukan karya kemanusiaan nan tangguh. Adalah tolol untuk melakukan hambatan, pengangguran ataupun juga kemalasan, bila dalam nuraninya sudah tumbuh kepercayaan: tanpa karya, seseorang adalah si mati, si mayat, yang tanpa faedah apapun. Pekerjaan yang berdayaguna bagi sesama hidup, merupakan sumbangsih nyata dari warga di sana, yang diamanatkan oleh nenek-moyang, dan dipegang teguh.
Sahabatku Dina!
Aku memang bersemangat untuk menekankan hal-hal yang begini berderap. Di kala orang di mana-mana sibuk berseminar tentang tenaga kerja dan peranan angkatan muda, aku menahan nafas. Terasa, teramat banyak orang menghamburkan potensinya untuk berbincang serta berdebat tentang kiblat ketenagakerjaan pada zaman gemuruh dan penuh keluh ini. Siratan gagasan yang berasal dari suasana masa lampau sering luput dari sentuhan. Kita lantas sibuk bikin dalih-dalih dan rumusan selangit tanpa teringat, bahwa rumusan purbawi telah pernah digenggam orang, seraya masa pun pernah menggodok dalih yang bagaimana pun rumitnya, melalui gaung sejarah. Kalau teringat akan hal ini, maka saya berpesan, sebaiknya kita terus menggali karyasastra lokal, yang tertulis dalam pelbagai bahasa daerah di pedalaman Nusantara, untuk mencari rujukan nan tepat. Hanya dengan cara begini, teruji kemampuan kesarjaan menurut kadar semestinya – bukan hanya berdasar fakta kelulusan di atas kertas!
Sahabatku Dina!
Ucapanmu setahun lewat masih kuingat: “Pur, hendaknya gaya hidup dewasa kini bisa lebih kita benahi, agar kita bukan cuma berlenggak-lenggok sebagai boneka berbusana apik. Tapi yang penting, bagaimana orang pun tahu, busana apik itu dipintal dari benang, dan benang dicari bahannya dari tanaman kapas. Dan upaya menanam mengingatkan orang kepada kerja berluluk lumpur, mandi keringat, melambuk tanah. Sama sibuk dan gemuruhnya dengan karya gemilang para pekerja pabrik tekstil yang tak kenal siang dan malam buat memenuhi kecenderungan masyarakat untuk berbusana rapi dan apik. Bila kita hanya terpancang pada boneka berjalan yang memperagakan gaun-gaun mahal semata, niscaya pikiran akan terhenti pada lipatan ketiak. Angan-angan pun terwatasi dambaan cethek, Pur.”
“Lumrah, masyarakat yang tengah berkembang tak menyiasati lingkungan, sebagaimana yang dikehendaki oleh bangsa yang telah mapan. Gelaran yang hadir mungkin hanya terbit karena desakan situasi, Dien.
“Itu bukan penilaian sehat, Pur. Hanya sinyalemen kurang sehat dari dirimu. Karena aku tahu, setiap kita bicara tentang pakem-pakem kebijakan yang diunggulkan oleh sukubangsa di Nusantara, kau selalu terhenti pada sebut-sebutan semata, nama-nama ajektif dan penjudulan karya sastra yang ditinggalkan oleh suku tersebut pada hari lampaunya. Kau tak mengejar tentang betapa gerangan pokal-pokal yang ditampilkan Guru Besar, sosok andalan. Cara begini akan mengatasi pikiran tentang gambaran superlatif mahakarya satu zaman, yang keberadaannya bisa mungkin hanya pajangan. Ia diboyong oleh tahap nan ada, namun tak berperekat maknawi.”
“Dan sastra yang diboyong oleh warganya, diberi tandatangan oleh keturunannya, tapi tanpa bayang ‘tantangan terpendam’ serta ‘tuntutan-tuntutan nan semakin meningkat’, rasanya sulit dilestarikan.”
“Tadi, itulah yang hendak kukatakan, Pur. Seandainya perlawatanmu ke daerah Badui itu membawa juga hasil ekskavasi budaya yang lebih komplit, misalnya buah pikiran Manusia Utamanya, telaah-telaah di berbagai situasi, dan upaya penyelamatan diri suku tersebut dalam melawan campur-tangan pihak luar, … nah, niscaya kau bakal lebih menggenggam makna kerja berjaya yang pada orang-orang modern pun masih diributkan.”
Aku unjal-nafas. Pagi telah merambat kepada siang lembut. Kubuka jendela kecil di ruang tenaga pengajar di Universitas Kotapraja yang telah empat dasawarsa membekaskan jejak-juang tergamblang di negeriku. Angin semilir mengantar kembang melati sedhompol yang tumbuh liar berbanjar di bawah cepuri putih, agak ke dalam. Sebelahnya, rumpun alamanda kemalas-malasan bergoyang, dalam hijau-pupusnya nan nyaris pucat. Seekor burung pipit, yang nampaknya terbang kesasar dari pesawahan di arah seberang-sana, hinggap di ranting kecil kembang srengenge yang agak layu, lantaran jarang disirami oleh tukang kebun. Burung itu menelengkan kepalanya, seperti menatapku, yang iseng melepas kesumukan ini.
Sahabatku Dina!
Pabilakah lagi kita bisa beromong-omong bebas seperti di saat usai mengajar, atau mengambil sela-sela yang makin langka ini? Para mahasiswa sekarang seperti kurang bergairah dalam menempa dan menampi bulir-bulir ilmu yang dilisankan; terlebih-lebih bila bibir kita yang serasa pecah-pecah untuk melisankan kerisauan hari esok nan penuh deru!
---
*) Tanggung jawab penulisan pada PuJa
http://media-sastrajatim.blogspot.com/
Mari kita silakan para tamu memasuki baluwarti ini, saudaraku – ketika barisan yang kita nanti-nantikan sudah mulai memperlihatkan langkahnya yang tegap dan tegas. Marilah kita persilahkan para sanak-kadang yang sudah semalaman berkuyup-embun di luar pager-banon sana, dan biarkanlah mereka pagi ini ikut menikmati selamat datang ini.
“Tiada yang lebih membesarkan hati daripada keluwesan yang berbicara, lantaran dorongan jiwa yang sepatutnya. Tiada yang lebih mewakili kelugasan sejati katimbang pertimbangan yang diambil pada awal kelahiran sebuah hari – lantaran itulah titiwanci utama untuk menunjukkan harga kewibawaan,” demikian rantunan kalimat anda, pada kesempatan untuk membeberkan, seberapa jauhnya Anak Manusia berperang dengan Ayahbundanya dari seberang, buat menemukan wujud gairah yang tak – tertebak. Maka, aku mungkin harus menerimanya untuk sementara, sebagai satu bagian dari tiarapku sendiri, sebelum pada saatnya mengepalkan tinju ke hadapan.
Jangan hendaknya kita berpikir, bahwa jikalau salah seorang keluarga dekat kita takut pulang ke rumah, dengan sendirinya dia berusaha untuk menjauhkan diri dari salam-selawat dan rangkul-rungkus. Dan jika ada orang lain yang kepingin menelusurinya, dia siap mengelak. Akan lengkap kiranya kedirian kita yang laif-dhaif seperti ini, seandainya tiada perewang lain yang menganggap ketelodoran adalah warna lain. Dan pada hakikatnya, orang belum pernah menemukan ‘wangkot-celupan’-nya.
“Salawat-salawat kesentausaan,” desismu kala itu. “Karena kehidupan menagih kesan dengan begitu kuat dan kerasnya, sehingga apa yang berlangsung terkemudian adalah suatu gaya-ucap yang kurang lebih sebagai tudingan, sesalan, susulan dan bahkan juga umpatan. Kita belum juga tumbuh sebagai pribadi yang memiliki corak nan gumathok.”
“Walaupun, yang kaumaksudkan itu masih dalam batas gambaran suatu kurun waktu tertentu, dan belum berarti sepanjang masa?” demikian desakanku lebih jauh. Maka dikau mengernyitkan kening, kemudian balik berdetus: “Sahabat, mustahil kita tak menganggapnya sebagai Peristiwa yang selamanya. Bukankah kita sepaham untuk mengatakan, bahwa kebebasan wujud sama harganya dengan kebebasan isi? Dan bahwa tatanan yang digariskan oleh pakem-pakem keluruhan itu diantebi oleh suatu sosok berpengaruh yang diterima secara bulat oleh kelompok besar orang seikhwan? Aku yakin, faham-faham yang kita buat serta kemudian dibingkiskan kepada dunia, adalah juga berasal dari pandangan yang telah purba, bukan sesuatu yang masih dalam babak penyesuaian-diri yang nyamut-nyamut. Dan aku percaya, masyarakat kita masih dapat diajak bertoleransi sebatas meng-ugemi ihwal-ihwal maujudnya Rasa dan Nalarwening – sebelum dua hal yang kita ucapkan tadi mengabur di halimun dingin…”
Sahabatku Dina!
Berpikir adalah suatu arah-tanggon pada poros kreatif yang jelas. Karenanya, dengan berpikir itu, kita menuju kepada pewedaran gagasan yang hendak ditekankan, dan bukan sebagai ancangan semata. Dalam hal-hal yang besar resikonya untuk mewujudkan pikiran yang terpendam, maka seorang filosof mesti bersikap yang lebih demokratik, dalam arti bisa meng-emong situasi, meng-emong lingkungan yang majemuk.
Dina yang setiawan dan senantiasa tanggap.
Hari ini adalah hari kesebelas dari perjalananku ke daerah Orang Badui di Banten Kidul. Suatu upaya untuk meneliti, sejauh mana manusia yakin akan makna kemerdekaan batin, dan bagaimana hal itu bisa dirungkebi sebagai hak milik langgeng. Warga Badui Dalam di Cibeo misalnya punya anggapan, bahwasanya Jagat Ageng (dunia besar, makrokosmos) ini bukan sesuatu yang berdiri sendiri, tanpa pasak-pasak yang melekatkannya dengan anasir-anansir semesta lainnya. Perekat-utamanya adalah jagat alit, yang terdiri dari manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan, yang kesemuanya berhubungan secara kekeluargaan, dan punya peranan berbeda-beda, namun diemban bersama dalam satu ritme-kerja yang berirama, saling-dorong serta saling-resapkan. Jagat alit bisa terkoyak, bisa retak, manakala salah satu anasirnya meninggalkan kedisiplinan nan luhur, dan memperturutkan “karsane dhewe” (kehendak sendiri), membelot dari irama-hayati yang telah tersusun jelas, selaras dengan firman Pemangku Jagat Akbar ini.
Maka keseimbangan alam tak bisa lain diartikan sebagai keseimbangan agama, yang menggugah setiap jasad dan roh untuk melaksanakan tugas-tugas kebaikan. Bila satu sama lain tidak menempati tugas nan rapi, cermat, berdisiplin tinggi, maka pasak-pasak bakal retak, dan bumi pun terbengkalai. Perekat paling utama adalah wasiat leluhur (karuhun, poyang), yang tertulis dalam lontar-lontar tua yang diguratkan sedari mulakala. Tiap warga setia Badui pada dasarnya adalah pekerja, yang takkan istirah, bila bukan pada saatnya yang telah ditentukan menurut pathokan yang keramat. Pekerja adalah pusat greget-grengseng-nya tindak positif, yang mendorong tubuh, tangan-tangan dan urat-urat ini menggeliat dan berkeringat, lantaran melakukan karya kemanusiaan nan tangguh. Adalah tolol untuk melakukan hambatan, pengangguran ataupun juga kemalasan, bila dalam nuraninya sudah tumbuh kepercayaan: tanpa karya, seseorang adalah si mati, si mayat, yang tanpa faedah apapun. Pekerjaan yang berdayaguna bagi sesama hidup, merupakan sumbangsih nyata dari warga di sana, yang diamanatkan oleh nenek-moyang, dan dipegang teguh.
Sahabatku Dina!
Aku memang bersemangat untuk menekankan hal-hal yang begini berderap. Di kala orang di mana-mana sibuk berseminar tentang tenaga kerja dan peranan angkatan muda, aku menahan nafas. Terasa, teramat banyak orang menghamburkan potensinya untuk berbincang serta berdebat tentang kiblat ketenagakerjaan pada zaman gemuruh dan penuh keluh ini. Siratan gagasan yang berasal dari suasana masa lampau sering luput dari sentuhan. Kita lantas sibuk bikin dalih-dalih dan rumusan selangit tanpa teringat, bahwa rumusan purbawi telah pernah digenggam orang, seraya masa pun pernah menggodok dalih yang bagaimana pun rumitnya, melalui gaung sejarah. Kalau teringat akan hal ini, maka saya berpesan, sebaiknya kita terus menggali karyasastra lokal, yang tertulis dalam pelbagai bahasa daerah di pedalaman Nusantara, untuk mencari rujukan nan tepat. Hanya dengan cara begini, teruji kemampuan kesarjaan menurut kadar semestinya – bukan hanya berdasar fakta kelulusan di atas kertas!
Sahabatku Dina!
Ucapanmu setahun lewat masih kuingat: “Pur, hendaknya gaya hidup dewasa kini bisa lebih kita benahi, agar kita bukan cuma berlenggak-lenggok sebagai boneka berbusana apik. Tapi yang penting, bagaimana orang pun tahu, busana apik itu dipintal dari benang, dan benang dicari bahannya dari tanaman kapas. Dan upaya menanam mengingatkan orang kepada kerja berluluk lumpur, mandi keringat, melambuk tanah. Sama sibuk dan gemuruhnya dengan karya gemilang para pekerja pabrik tekstil yang tak kenal siang dan malam buat memenuhi kecenderungan masyarakat untuk berbusana rapi dan apik. Bila kita hanya terpancang pada boneka berjalan yang memperagakan gaun-gaun mahal semata, niscaya pikiran akan terhenti pada lipatan ketiak. Angan-angan pun terwatasi dambaan cethek, Pur.”
“Lumrah, masyarakat yang tengah berkembang tak menyiasati lingkungan, sebagaimana yang dikehendaki oleh bangsa yang telah mapan. Gelaran yang hadir mungkin hanya terbit karena desakan situasi, Dien.
“Itu bukan penilaian sehat, Pur. Hanya sinyalemen kurang sehat dari dirimu. Karena aku tahu, setiap kita bicara tentang pakem-pakem kebijakan yang diunggulkan oleh sukubangsa di Nusantara, kau selalu terhenti pada sebut-sebutan semata, nama-nama ajektif dan penjudulan karya sastra yang ditinggalkan oleh suku tersebut pada hari lampaunya. Kau tak mengejar tentang betapa gerangan pokal-pokal yang ditampilkan Guru Besar, sosok andalan. Cara begini akan mengatasi pikiran tentang gambaran superlatif mahakarya satu zaman, yang keberadaannya bisa mungkin hanya pajangan. Ia diboyong oleh tahap nan ada, namun tak berperekat maknawi.”
“Dan sastra yang diboyong oleh warganya, diberi tandatangan oleh keturunannya, tapi tanpa bayang ‘tantangan terpendam’ serta ‘tuntutan-tuntutan nan semakin meningkat’, rasanya sulit dilestarikan.”
“Tadi, itulah yang hendak kukatakan, Pur. Seandainya perlawatanmu ke daerah Badui itu membawa juga hasil ekskavasi budaya yang lebih komplit, misalnya buah pikiran Manusia Utamanya, telaah-telaah di berbagai situasi, dan upaya penyelamatan diri suku tersebut dalam melawan campur-tangan pihak luar, … nah, niscaya kau bakal lebih menggenggam makna kerja berjaya yang pada orang-orang modern pun masih diributkan.”
Aku unjal-nafas. Pagi telah merambat kepada siang lembut. Kubuka jendela kecil di ruang tenaga pengajar di Universitas Kotapraja yang telah empat dasawarsa membekaskan jejak-juang tergamblang di negeriku. Angin semilir mengantar kembang melati sedhompol yang tumbuh liar berbanjar di bawah cepuri putih, agak ke dalam. Sebelahnya, rumpun alamanda kemalas-malasan bergoyang, dalam hijau-pupusnya nan nyaris pucat. Seekor burung pipit, yang nampaknya terbang kesasar dari pesawahan di arah seberang-sana, hinggap di ranting kecil kembang srengenge yang agak layu, lantaran jarang disirami oleh tukang kebun. Burung itu menelengkan kepalanya, seperti menatapku, yang iseng melepas kesumukan ini.
Sahabatku Dina!
Pabilakah lagi kita bisa beromong-omong bebas seperti di saat usai mengajar, atau mengambil sela-sela yang makin langka ini? Para mahasiswa sekarang seperti kurang bergairah dalam menempa dan menampi bulir-bulir ilmu yang dilisankan; terlebih-lebih bila bibir kita yang serasa pecah-pecah untuk melisankan kerisauan hari esok nan penuh deru!
---
*) Tanggung jawab penulisan pada PuJa
SAHIBULHIKAYAT ALHAYAT
KRT. Suryanto Sastroatmodjo
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/
Dalam kegaduhan yang menerpa
dalam gemulung alunmu jua
kuabadikan jalinan masa
menjadi si kidung cinta.
Pitra yang baik.
Adakalanya kita menjadi tenang dan teduh, karena merasa ada di tengah keluarga sendiri. Adakalanya menjadi lembut dan pasrah, bahkan narima ing pandum, setelah merasakan dahsyatnya angin puting beliung yang mendera pondok damai kita. Dan adakalanya pula, tatkala perhatian terpusat kepada segala yang terbaik, yang tergumpal, yang kental serta pepal, maka kita menjadi lembek. Mungkinkah aku sekarang berkata begini padamu, karena banyak merasakan hantaman-hantaman dalam kalbu ini? Kalau tergoda untuk mencari jalan-jalan kecil desa-huni-sunyi?
Pitra yang baik.
Banyak di antara kawan dekat berterus-terang, alangkah baiknya apabila kita menciptakan sendiri relung-relung bahagia yang dapat diresapkan serta diabadikan. Relung-relung ini, barangkali berupa sebuah kalung emas berhiaskan batu-batu mulia, semisal jamrut dan mirah delima, atau pending bertahtakan ratna mutu manikam. Di dalamnya tertulis nama-nama dari orang yang dekat dengan diri kita, atau bisa juga rautan wajahnya, bayang-bayangnya, atau ujud apa saja yang kita sanggup mengingatnya selalu. Kukira, dulu dikau memperkirakan soal ini. Kukira, ada dalam dirimu semacam kerinduan untuk memiliki rekaman saat-saat bahagia yang begitu dalam. Tapi, apakah sempat membayangkan suatu Taj mahal dan Taman Bergantung di Babilonia? Inilah yang kembali menyentuh hati kita kini, justru ketika masa yang menggelisahkan (tapi penuh kesan manis) itu terjadi.
Pitra yang baik.
Gumpalan-gumpalan mega dari masalalu ada di jantungku sendiri. Kalau kuingin menguakkannya, aku kan mencoba sekuat daya, yang alangkah pedihnya untuk melakukannya. Kukira, Pitra merasakan pula sesuatu yang menggumpal dalam rabu, tatkala perjalanan kasih pernah kita lalui, kita sentuh dan kita pagut. Sedemikian jauhnya, ngelangutnya gagasan ini, sehingga kancah yang dibentuk serasa di atas bidang tanpa garis. Andaikata dapat mengejawantahkan kembali jelajah terhadap kehidupan, kita bisa mengatakannya dulu, seperti sesuatu yang penuh kekitrang – kendati makin sulit buat memisalkannya pula.
Pitra nan budiman.
Sekiranya percakapan musim – yang pernah kita perkenalkan kepada dunia, dan kini kita singgung sejenak – menjadi bagian dari kenangan tak terlupakan, o, sungguh indah membangkitkannya hangat. Diri kita seakan menjadi hulubalang di tengah medan perang yang kita pergelarkan ulang. Namun demikian, bukan siulnya perang itu sendiri yang jadi obsesi dari hidup yang melingkar-lingkar ini. Melainkan sikap dan geliat laku dari sang hulubalang, yang sekian puluh tahun mengatur suara-suara dari kekuatan yang kokoh. Ataukah justru kokoh, tapi menenggelamkan hingga ke dasar yang sedalam-dalamnya?
Pitra sayang.
Ada titik-singgung dari lantunan kenang dan pengharapan untuk membenahi harikini. Kuyakin, saatnya belum terlambat. Kemarin, di kala hatiku sumpeg dan kembali kuinjak pasir pantai yang lembut keputih-putihan di ujung barat kota, aku menemukan bagian cerah dari segi hidup ini. Ah, bukan sentimental, kalau bicara begini. Hanya sekedar mencuplik hal-hal yang menggembirakan, dan alangkah girangnya, sehatnya, segarnya – karena diri sempat bermain di lingkaran masa silam. Lagi pula, sesekali, kita mempertautkan kembali jasad dan ruh kita kepada alam kedamaian yang pernah kita kagumi, rujuki serta selami cukup lama.
Mengapa manusia membicarakan tentang kubur, padahal jauh di dasar hatinya sesungguhnya dia teramat takut akan kematian? Mengapa manusia berusaha mencuwik sebagian dari tatanilai yang tersuruk di balik ranjang zaman, sementara dirinya enggan untuk dilibatkan kepada peristiwa yang berhubungan dengan kebringasan el-maut yang tanpa ampun itu? Terkadang, ada yang memang musti dinyanyikan, padahal kita benar-benar ngeri untuk memperkatakannya. Terkadang ada yang teramat menyembilu hati, karena itu dirasakan perlunya untuk hidup yang bukanlah hidup itu sendiri – kehidupan yang diancangkan dengan setengah hati ternyata sama sia-sianya. Lebih indah membentangkannya, dengan batin paling siap untuk itu. Atau menjulangkannya, lantaran dirinya menyangga suatu titiwanci.
Pitra yang tersayang.
Apabila seperti keluhanmu kemarin dulu, semakin lama makin mahal kita tersenyum (ah, yang benar…!) – maka di sini pun aku kan bisa memberikan jawaban yang kurang lebih mirip. Begini: pada saat manusia enggan memberikan senyumannya kepada sesama hidup, mahal senyum kepada dunia dan seisinya, yah – pada waktu itupun dia ada merasakan sesuatu himpitan yang terberat. Himpitan, yang kau tahu sendiri, menjadi bagian dari makna hayati itu sendiri. Himpitan, kawan. Himpitan, karena orang dalam keterpanggilannya dengan situasi-situasi jiwani yang sulit ditebak, dia terjempelak. Kadang, diperlukan upaya untuk menerjemahkan penilaian kita terhadap Sang Waktu, karena di situlah terdapat bentangan yang sesungguhnya. Lewat penamaan Waktu yang meletihkan (ataupun juga memperkaya jatidiri!) maka terpenuhi tuntutan yang terbaik. Sebaliknya, manusia terlalu papa untuk penggandaan ilmu.
Pitra yang tersayang.
Dalam hal-hal yang nisbi, kibarkanlah benderamu yang lebar jembar serta perlihatkan kepada dunia, bahwasanya dirimu mampu menjadi pencetus dari katahatimu. Dalam hal-hal yang nisbi – kukatakan hal ini semata-mata buat menekankan betapa dunia terlampau lama dimainkan oleh lagu-lagu kenisbian itu, dan bagaimana kita sendiri lantas tergoyang-goyang antara yang meremang dan yang menimbulkan perkiraan, ikhwal semua, kemajemukan semata. Kemudian dirimu melangkah, seraya bergumam. Dirimu melangkah seraya meragukan temuan-temuan hari muda yang baru saja berlalu. Namun jelas, hal semacam ini pantas direnungkan, sahabatku.
Kauperhatikan, bahwasanya gambaran-gambaran dalam jiwamu adalah milik yang terpatri pada tembok kebaktian yang cukup lama juga. Kita adalah anak dari pengembaraan bakti yang mengandung secuil rasa bahagia. Kita, anak dari keping-keping pengalaman rohani dari masa yang terkadang kurang diperhitungkan jamannya. Karena itu, jangan biarkan airputih yang tenang dalam gelas di depanmu tak terjamah, karena dirimu hanyut dalam lamunan hampa. Coba, teguklah air itu, lantas tenangkan diri di tengah suasana sekeliling. Kemudian, kau akrabi jam-jam yang mendekat itu. Kuyakin, ada yang bakal terselesaikan di kala hari ini menggelayut.
Pitra yang budiman.
Pada waktu helai-helai warkah kaukirimkan padaku dari sebuah kampung nelayan yang sunyi itu, apakah sebenarnya yang tengah kaupikirkan? Kau menyebut kampung itu Jaladriseta, lautan nan putih. Hmm, terdengarnya seperti suatu sindiran yang agak menggelikan. Lautan, di manapun juga, disebut biru karena keluasannya dan kesemestaan yang dipangkunya. Buih-buih yang ditampungnya di kala datang alun-gelombang pasang, niscaya menciptakan percikan warna putih memplak. Bukan putih samudera raya itu, kawan, melainkan hanya luapan busa yang menggarang. Sedangkan sang maha-raya-air-gemair yang membentang dari sini ke suatu cakrawala tanpa watas, meronakan kebiruan nan menggelanggang – dan alangkah menghanyutkan hal itu! Kita bisa menyatu di pusat birunya.
Pitra yang baik.
Kembali kepada pasir yang halus-lembut, bumi memutih dan tatapan serba-lapang di kejauhan. Ada yang hilang dari tubuh dan sukma, kurasakan hal itu berlangsung. Kau masih terlalu remaja saat itu. Kalau kusebut sekarang: sudah berapa kali purnama, berapa kali musim semi, sayangku? Aku sendiri, kalau kuingat pada masa lampau mempunyai nalar serta pemikiran yang belum mantap. Apa yang terlekat di benak, tiada lain hanyalah rautwajahmu yang manis nan belia. Mungkin masih diperlukan proses waktu yang panjang, sebelum putik bersemi merekah, menyerbakkan harumnya. Masih dibutuhkan jangka waktu yang memberikan kekuatan rohani, sebelum bibir ini mengucapkan kepastian kata, bukan sekadar sumpah-sumpah setia yang naif. Sekali lagi, sambil merenungi air muka samudera yang jembarnya tiada terselami. Wahai, dikala segalanya telah jauh di belakang, kini kita seperti menyanyikan lagu duka yang tak tentu nadanya. Dada terasa sesak.
Kampung nelayan itu tentunya masih memiliki gubuk-gubuk beratap ilalang, dinding anyaman daun palma, dan manakala angin senja melolong panjang dalam kembaranya, dia tak lupa mengusap-usap tepian atap pondok yang ringkih. Masa itu, kita sempat bermesraan sejenak di bawah naungan gubuk nan sepi. Di tengah rungsung badai di lautan sana, terdapat badai lain yang tak kalah gemuruhnya. Itulah gelombang darah muda kita, yang payah diteduhkan. Segalanya berlangsung lembut, nyaris tanpa keperihan, apalagi kegetiran. Tapi, sekarang – kala kita coba menyimak kembali bekas-jejak yang lenyap di hamparan pasir. Kegetiran pun singgah di sanubari. Lalu aku duduk, tercenung, dan mencoba mengingat-ingat kembali. Sudah berapa musim panas? Sudah berapa musim hujan? Sudah berapa musim badai? Sudah Gemulung yang menderu-deru masih keras berkumandang, sayangku. Paling kuat deru-dera itu jadi rasa ringkih nan muncul sesekali. Ya, tatkala beberapa helai rambut di pelipis mulai memutih dan pikiran susah ditentramkan, menjelang tidur malam.
Pitra yang baik.
“Kupikir, hari makin gelap dan makin gelap juga…”
“Siapa bilang hari menggelap? Kunang-kunang beterbangan di langit. Ada dua-tiga butir bintang-gemintang di langit beludru biru.”
“Kau mencoba meneduhkan angin kencang yang bertiup?”
“Kau mencoba menyiramkan air ke api unggun dahsyat ini?”
“Bukan, bukan begitu. Tapi aku tiba-tiba merasa sedih…”
“Jangan sedih. Kita berdua menyatukan hati yang gelisah.”
“Tapi, tapi kita belum layak berjalan terlalu jauh…”
“Memang belum. Cuma saja, mustahil diri menghindarinya!”
Sekali lagi, dan sekali lagi, kalimat-kalimat yang pernah meluncur dari bibirmu dan bibirku mengiang bersipongang. Kita takkan lolos dari kepungan peristiwa lampau, betapapun telah mengabut halimun. Karena, dia sebagian dari makna yang terpahat di jantung yang masih kuat berdegup. Menjadi serpihan dari pori-pori kulit denyutan darah hayati.
Pitra yang budiman.
Tentunya, kau ditemani oleh kedua anakmu kini, yang keduanya telah berangkat remaja. Sayang, sayang sekali terlalu cepat kau menemukan batu gelang yang mengakhiri masa bahagia rumahtanggamu. Suamimu yang tua, yang bangsawan berbudi luhur, pergi dinihari sesudah kapalnya yang megah itu hancur berkeping-keping oleh badai di pelayaran musim bunga. Kuharap kau tabah dalam derita senyap tanpa pendamping. Kelak, jika putra-putramu telah menjadi dewasa, niscaya keduanya akan lebih melengkapkan bahagiamu yang terpenggal. Kau akan bermuara di laut pula.
---
*) Tanggung jawab penulisan pada PuJa
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/
Dalam kegaduhan yang menerpa
dalam gemulung alunmu jua
kuabadikan jalinan masa
menjadi si kidung cinta.
Pitra yang baik.
Adakalanya kita menjadi tenang dan teduh, karena merasa ada di tengah keluarga sendiri. Adakalanya menjadi lembut dan pasrah, bahkan narima ing pandum, setelah merasakan dahsyatnya angin puting beliung yang mendera pondok damai kita. Dan adakalanya pula, tatkala perhatian terpusat kepada segala yang terbaik, yang tergumpal, yang kental serta pepal, maka kita menjadi lembek. Mungkinkah aku sekarang berkata begini padamu, karena banyak merasakan hantaman-hantaman dalam kalbu ini? Kalau tergoda untuk mencari jalan-jalan kecil desa-huni-sunyi?
Pitra yang baik.
Banyak di antara kawan dekat berterus-terang, alangkah baiknya apabila kita menciptakan sendiri relung-relung bahagia yang dapat diresapkan serta diabadikan. Relung-relung ini, barangkali berupa sebuah kalung emas berhiaskan batu-batu mulia, semisal jamrut dan mirah delima, atau pending bertahtakan ratna mutu manikam. Di dalamnya tertulis nama-nama dari orang yang dekat dengan diri kita, atau bisa juga rautan wajahnya, bayang-bayangnya, atau ujud apa saja yang kita sanggup mengingatnya selalu. Kukira, dulu dikau memperkirakan soal ini. Kukira, ada dalam dirimu semacam kerinduan untuk memiliki rekaman saat-saat bahagia yang begitu dalam. Tapi, apakah sempat membayangkan suatu Taj mahal dan Taman Bergantung di Babilonia? Inilah yang kembali menyentuh hati kita kini, justru ketika masa yang menggelisahkan (tapi penuh kesan manis) itu terjadi.
Pitra yang baik.
Gumpalan-gumpalan mega dari masalalu ada di jantungku sendiri. Kalau kuingin menguakkannya, aku kan mencoba sekuat daya, yang alangkah pedihnya untuk melakukannya. Kukira, Pitra merasakan pula sesuatu yang menggumpal dalam rabu, tatkala perjalanan kasih pernah kita lalui, kita sentuh dan kita pagut. Sedemikian jauhnya, ngelangutnya gagasan ini, sehingga kancah yang dibentuk serasa di atas bidang tanpa garis. Andaikata dapat mengejawantahkan kembali jelajah terhadap kehidupan, kita bisa mengatakannya dulu, seperti sesuatu yang penuh kekitrang – kendati makin sulit buat memisalkannya pula.
Pitra nan budiman.
Sekiranya percakapan musim – yang pernah kita perkenalkan kepada dunia, dan kini kita singgung sejenak – menjadi bagian dari kenangan tak terlupakan, o, sungguh indah membangkitkannya hangat. Diri kita seakan menjadi hulubalang di tengah medan perang yang kita pergelarkan ulang. Namun demikian, bukan siulnya perang itu sendiri yang jadi obsesi dari hidup yang melingkar-lingkar ini. Melainkan sikap dan geliat laku dari sang hulubalang, yang sekian puluh tahun mengatur suara-suara dari kekuatan yang kokoh. Ataukah justru kokoh, tapi menenggelamkan hingga ke dasar yang sedalam-dalamnya?
Pitra sayang.
Ada titik-singgung dari lantunan kenang dan pengharapan untuk membenahi harikini. Kuyakin, saatnya belum terlambat. Kemarin, di kala hatiku sumpeg dan kembali kuinjak pasir pantai yang lembut keputih-putihan di ujung barat kota, aku menemukan bagian cerah dari segi hidup ini. Ah, bukan sentimental, kalau bicara begini. Hanya sekedar mencuplik hal-hal yang menggembirakan, dan alangkah girangnya, sehatnya, segarnya – karena diri sempat bermain di lingkaran masa silam. Lagi pula, sesekali, kita mempertautkan kembali jasad dan ruh kita kepada alam kedamaian yang pernah kita kagumi, rujuki serta selami cukup lama.
Mengapa manusia membicarakan tentang kubur, padahal jauh di dasar hatinya sesungguhnya dia teramat takut akan kematian? Mengapa manusia berusaha mencuwik sebagian dari tatanilai yang tersuruk di balik ranjang zaman, sementara dirinya enggan untuk dilibatkan kepada peristiwa yang berhubungan dengan kebringasan el-maut yang tanpa ampun itu? Terkadang, ada yang memang musti dinyanyikan, padahal kita benar-benar ngeri untuk memperkatakannya. Terkadang ada yang teramat menyembilu hati, karena itu dirasakan perlunya untuk hidup yang bukanlah hidup itu sendiri – kehidupan yang diancangkan dengan setengah hati ternyata sama sia-sianya. Lebih indah membentangkannya, dengan batin paling siap untuk itu. Atau menjulangkannya, lantaran dirinya menyangga suatu titiwanci.
Pitra yang tersayang.
Apabila seperti keluhanmu kemarin dulu, semakin lama makin mahal kita tersenyum (ah, yang benar…!) – maka di sini pun aku kan bisa memberikan jawaban yang kurang lebih mirip. Begini: pada saat manusia enggan memberikan senyumannya kepada sesama hidup, mahal senyum kepada dunia dan seisinya, yah – pada waktu itupun dia ada merasakan sesuatu himpitan yang terberat. Himpitan, yang kau tahu sendiri, menjadi bagian dari makna hayati itu sendiri. Himpitan, kawan. Himpitan, karena orang dalam keterpanggilannya dengan situasi-situasi jiwani yang sulit ditebak, dia terjempelak. Kadang, diperlukan upaya untuk menerjemahkan penilaian kita terhadap Sang Waktu, karena di situlah terdapat bentangan yang sesungguhnya. Lewat penamaan Waktu yang meletihkan (ataupun juga memperkaya jatidiri!) maka terpenuhi tuntutan yang terbaik. Sebaliknya, manusia terlalu papa untuk penggandaan ilmu.
Pitra yang tersayang.
Dalam hal-hal yang nisbi, kibarkanlah benderamu yang lebar jembar serta perlihatkan kepada dunia, bahwasanya dirimu mampu menjadi pencetus dari katahatimu. Dalam hal-hal yang nisbi – kukatakan hal ini semata-mata buat menekankan betapa dunia terlampau lama dimainkan oleh lagu-lagu kenisbian itu, dan bagaimana kita sendiri lantas tergoyang-goyang antara yang meremang dan yang menimbulkan perkiraan, ikhwal semua, kemajemukan semata. Kemudian dirimu melangkah, seraya bergumam. Dirimu melangkah seraya meragukan temuan-temuan hari muda yang baru saja berlalu. Namun jelas, hal semacam ini pantas direnungkan, sahabatku.
Kauperhatikan, bahwasanya gambaran-gambaran dalam jiwamu adalah milik yang terpatri pada tembok kebaktian yang cukup lama juga. Kita adalah anak dari pengembaraan bakti yang mengandung secuil rasa bahagia. Kita, anak dari keping-keping pengalaman rohani dari masa yang terkadang kurang diperhitungkan jamannya. Karena itu, jangan biarkan airputih yang tenang dalam gelas di depanmu tak terjamah, karena dirimu hanyut dalam lamunan hampa. Coba, teguklah air itu, lantas tenangkan diri di tengah suasana sekeliling. Kemudian, kau akrabi jam-jam yang mendekat itu. Kuyakin, ada yang bakal terselesaikan di kala hari ini menggelayut.
Pitra yang budiman.
Pada waktu helai-helai warkah kaukirimkan padaku dari sebuah kampung nelayan yang sunyi itu, apakah sebenarnya yang tengah kaupikirkan? Kau menyebut kampung itu Jaladriseta, lautan nan putih. Hmm, terdengarnya seperti suatu sindiran yang agak menggelikan. Lautan, di manapun juga, disebut biru karena keluasannya dan kesemestaan yang dipangkunya. Buih-buih yang ditampungnya di kala datang alun-gelombang pasang, niscaya menciptakan percikan warna putih memplak. Bukan putih samudera raya itu, kawan, melainkan hanya luapan busa yang menggarang. Sedangkan sang maha-raya-air-gemair yang membentang dari sini ke suatu cakrawala tanpa watas, meronakan kebiruan nan menggelanggang – dan alangkah menghanyutkan hal itu! Kita bisa menyatu di pusat birunya.
Pitra yang baik.
Kembali kepada pasir yang halus-lembut, bumi memutih dan tatapan serba-lapang di kejauhan. Ada yang hilang dari tubuh dan sukma, kurasakan hal itu berlangsung. Kau masih terlalu remaja saat itu. Kalau kusebut sekarang: sudah berapa kali purnama, berapa kali musim semi, sayangku? Aku sendiri, kalau kuingat pada masa lampau mempunyai nalar serta pemikiran yang belum mantap. Apa yang terlekat di benak, tiada lain hanyalah rautwajahmu yang manis nan belia. Mungkin masih diperlukan proses waktu yang panjang, sebelum putik bersemi merekah, menyerbakkan harumnya. Masih dibutuhkan jangka waktu yang memberikan kekuatan rohani, sebelum bibir ini mengucapkan kepastian kata, bukan sekadar sumpah-sumpah setia yang naif. Sekali lagi, sambil merenungi air muka samudera yang jembarnya tiada terselami. Wahai, dikala segalanya telah jauh di belakang, kini kita seperti menyanyikan lagu duka yang tak tentu nadanya. Dada terasa sesak.
Kampung nelayan itu tentunya masih memiliki gubuk-gubuk beratap ilalang, dinding anyaman daun palma, dan manakala angin senja melolong panjang dalam kembaranya, dia tak lupa mengusap-usap tepian atap pondok yang ringkih. Masa itu, kita sempat bermesraan sejenak di bawah naungan gubuk nan sepi. Di tengah rungsung badai di lautan sana, terdapat badai lain yang tak kalah gemuruhnya. Itulah gelombang darah muda kita, yang payah diteduhkan. Segalanya berlangsung lembut, nyaris tanpa keperihan, apalagi kegetiran. Tapi, sekarang – kala kita coba menyimak kembali bekas-jejak yang lenyap di hamparan pasir. Kegetiran pun singgah di sanubari. Lalu aku duduk, tercenung, dan mencoba mengingat-ingat kembali. Sudah berapa musim panas? Sudah berapa musim hujan? Sudah berapa musim badai? Sudah Gemulung yang menderu-deru masih keras berkumandang, sayangku. Paling kuat deru-dera itu jadi rasa ringkih nan muncul sesekali. Ya, tatkala beberapa helai rambut di pelipis mulai memutih dan pikiran susah ditentramkan, menjelang tidur malam.
Pitra yang baik.
“Kupikir, hari makin gelap dan makin gelap juga…”
“Siapa bilang hari menggelap? Kunang-kunang beterbangan di langit. Ada dua-tiga butir bintang-gemintang di langit beludru biru.”
“Kau mencoba meneduhkan angin kencang yang bertiup?”
“Kau mencoba menyiramkan air ke api unggun dahsyat ini?”
“Bukan, bukan begitu. Tapi aku tiba-tiba merasa sedih…”
“Jangan sedih. Kita berdua menyatukan hati yang gelisah.”
“Tapi, tapi kita belum layak berjalan terlalu jauh…”
“Memang belum. Cuma saja, mustahil diri menghindarinya!”
Sekali lagi, dan sekali lagi, kalimat-kalimat yang pernah meluncur dari bibirmu dan bibirku mengiang bersipongang. Kita takkan lolos dari kepungan peristiwa lampau, betapapun telah mengabut halimun. Karena, dia sebagian dari makna yang terpahat di jantung yang masih kuat berdegup. Menjadi serpihan dari pori-pori kulit denyutan darah hayati.
Pitra yang budiman.
Tentunya, kau ditemani oleh kedua anakmu kini, yang keduanya telah berangkat remaja. Sayang, sayang sekali terlalu cepat kau menemukan batu gelang yang mengakhiri masa bahagia rumahtanggamu. Suamimu yang tua, yang bangsawan berbudi luhur, pergi dinihari sesudah kapalnya yang megah itu hancur berkeping-keping oleh badai di pelayaran musim bunga. Kuharap kau tabah dalam derita senyap tanpa pendamping. Kelak, jika putra-putramu telah menjadi dewasa, niscaya keduanya akan lebih melengkapkan bahagiamu yang terpenggal. Kau akan bermuara di laut pula.
---
*) Tanggung jawab penulisan pada PuJa
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel GarcÃa Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati