Hudan Hidayat
http://www.jawapos.com/
Dalam upayanya meredam filsafat dan ideologi penciptaan yang saya ajukan, yakni keyakinan saya bahwa penceritaan ketelanjangan dibolehkan oleh Kitab Suci, dan Kitab Suci pun telah mendemonstrasikan melalui kisahnya sendiri (“pornografi” Adam dan Hawa), Taufiq Ismail melancarkan serangan balik dengan menggesernya ke dalam upaya stigma akan tendensi sastra: sastra SMS – Sastra Mazhab Selangkangan – atau sastra FAK – Fiksi Alat Kelamin – (Jawa Pos, 17 Juni 2007). Inilah upaya yang mengingatkan saya akan cara-cara Lekra menggempur lawan-lawannya dulu, dengan menyebut mereka "Manikebu".
Terasa bagi saya serangan balik Taufiq sangat mematikan. Dengan semangat anti-dialog dan anti-wacana, Taufiq seolah petinju yang memukul lawannya dengan tinju "kalang-kabut". Atau seolah banjir bandang yang menyerbu permukiman manusia tanpa nurani – nurani sastra. Dalam SMS-nya pada saya, Taufiq menyebut tentang "kebakaran budaya", yang penyebabnya antara lain sastra SMS atau sastra FAK, yang "bersama VCD porno dan situs seks internet... ikut merangsang perkosaan, menyebarkan penyakit kelamin menular, aborsi dan (minimum) masturbasi".
Begitulah serangan balik Taufiq Ismail yang mematikan itu. Dan saya merasa terkunci: saya mewacanakan kemungkinan melukiskan ketelanjangan dalam sastra, sepanjang ketelanjangan itu berfungsi untuk sesuatu yang lebih tinggi. Tetapi Taufiq berkelit akan kemungkinan sebuah tafsir. Ia lebih suka berteriak seolah “nabi tanpa wahyu”, yang mengacukan kepalannya pada fenomena sastra yang berseberangan dengan dirinya. Maka, bagaimana bila Taufiq malas berpikir akan kemungkinan tafsir, tapi serentak dengan itu gemar menghujat fenomena sastra yang disebutnya sastra SMS atau sastra FAK.
Kategori yang dibuat Taufiq dengan men-stigma sastra SMS atau sastra FAK, menimbulkan persoalan dalam cara kita memandang dunia sastra. Termasuk cara kita berlogika dalam dunia sastra. Seperti SMS Goenawan Mohamad kepada saya, "Akan lebih berharga jika polemik yang timbul bukan seperti teriakan ‘copet!’, ‘lonte lu!’, atau ‘babi!’ Serangan terhadap satu tendensi dalam sastra akan lebih berharga jika dikemukakan dalam cara kritik sastra: dengan telaah, argumentasi, penalaran yang kuat, gaya menulis yang meyakinkan atau menggugah." Karena itu, bagi saya, mematahkan kecenderungan sastra tanpa telaah sastra, tampak seakan "tujuan menghalalkan cara".
Pertanyaan untuk Taufiq, sudahkah dia membaca buku-buku penulis yang diserangnya dengan gencar itu? Apakah boleh pelukisan ketelanjangan di dalam buku-buku itu? Apakah ketelanjangan di sana bukan sebuah ancang-ancang, untuk meraih makna kesepian atau ketuhanan? Di sinilah Taufiq tidak bisa menghindar dari filsafat penciptaan dan ideologi penciptaan yang saya ajukan. Menghindarinya sambil memukul langsung fenomena itu sebagai sastra FAK, adalah ibarat hakim tuli dalam satu sidang.
Sang hakim tidak mau mendengar alasan mengapa sang terdakwa "melakukan persetubuhan". Sang hakim hanya berpegang pada saksi-saksi, yang mungkin dirinya sendiri. Saksi yang tidak melihat keseluruhan rangkaian kejadian. Saksi yang hanya melihat scene persetubuhan. Lalu mengatakan telah terjadi persetubuhan. Padahal yang terjadi sebaliknya: bukan persetubuhan, tapi pemerkosaan. Di mana sang wanita diperkosa, bersetubuh bukan atas kemauannya.
Inilah prototipe sang hakim otoriter. Dia sudah bukan hakim lagi. Tetapi menjadi pemerkosa juga. Pemerkosa terhadap hak korban untuk berbicara.
Saya berpendapat, sastra yang disebut Taufiq sastra FAK itu, bukan sastra FAK atau sastra SMS. Sebutlah novel Saman karya Ayu Utami atau cerpen-cerpen Djenar Maesa Ayu. Mereka bukan “sastra FAK”. Saman memang bukan karya sastra sekuat klaim tokoh di sampul belakang buku Saman. Tetapi bukan sastra FAK. Di sana, tubuh diangkat mengatasi tubuh. Meski tak terlalu meninggi. Karena itu, menyebutnya sebagai sastra FAK adalah ibarat memandang malam tak bercahaya. Padahal di angkasa ada juga cahaya. Sebuah generalisasi yang menyesatkan.
Demikian juga dengan cerpen-cerpen Djenar. Ambillah misal cerpen Menyusu Ayah di Jurnal Perempuan atau Melukis Jendela di majalah sastra Horison. Di kedua cerpen ini Djenar memang menyebutkan alat kelamin, tapi alat kelamin itu sekadar pintu masuk untuk makna lain. Yakni, penderitaan sang anak yang menjadi korban kekerasan keluarga. Darinya menyembul simpati akan korban kekerasan. Bukan nafsu seks dalam konteks "sastra mazhab selangkangan" yang dituduhkan Taufiq.
Lihatlah, betapa mengharukan bagaimana seorang anak di dalam cerpen Menyusu Ayah harus memetamorfosakan dirinya menjadi lelaki, demi terhindar dari kekerasan kaum lelaki. Atau lambang "jendela" dalam cerpen Djenar Melukis Jendela. Sebuah kehendak untuk berpindah dari kehidupan kini yang menyesakkannya. Tapi jendela yang dibayangkan itu pun menelan dirinya. Dengan hasrat berpindah dan hilangnya tokoh Mayra ke dalam “jendela” lain, seolah Djenar hendak mengatakan, "Dengarlah, tak ada yang sempurna di bumi!" Jadi cerpen itu sebuah metafora (dan karena itu para redaktur Horison yang muda-muda dan cerdas itu memuatnya). Maka, di mana “FAK” atau "Sastra Mazhab Selangkangan" di kedua cerpen itu?
Demikian juga kalau kita membaca cerpen Mariana Amiruddin di Jawa Pos, Kota Kelamin, yang timbul bukan hasrat seks tetapi simpati akan manusia modern yang lelah mengatasi hipokrisi, yang selalu ditutup rapat seolah kelamin yang dibalut pada tubuh manusia.
Taufiq menyebut Ayu dan Djenar sebagai pelopor “sastra FAK”. Definisinya sederhana. Yakni, sastra yang ada atau berputar pada kelamin. Tanpa mau melihat ada transendensi. Tetapi Taufiq a historis. Sebab, kalau seperti itu definisi sastra “FAK”, mengapa Taufiq tidak menggugat novel Belenggu (yang ditolak Balai Pustaka karena moral selingkuhnya), atau novel Telegram dan Olenka. Bahkan puisi-puisi Rendra (yang memuja genital wanita) dan puisi Amuk Sutardji Calzoum Bachri – sebuah pencarian ketuhanan dengan lambang kucing, tetapi tak juga bisa menghindar dari menyebut nama alat kelamin laki-laki di dalam lariknya.
Khusus novel Telegram Putu Wijaya dan Olenka Budi Darma, baik tokoh "aku" maupun Fanton bertindak gila-gilaan dengan hidup. Fanton bahkan merebut istri orang (Olenka) dan menidurinya tiap ada kesempatan. Olenka diperlakukannya seolah peta. Tangannya menyusur ke segenap tubuh Olenka dan kemudian berhenti di satu lubang: "Ini jalan ke surga!"
Tokoh "aku" lebih gila lagi. Dia membayangkan bersetubuh dengan ibunya yang "telah" mati. Sambil mereguk bir (ini minuman kerun kesukaanku, lho Pak), dia menyetubuhi ibunya dalam mimpi. Tetapi toh nasib kedua novel ini mendapat tempat terhormat dalam sastra Indonesia. Mengapa? Karena ada transendensi. Walau pada Olenka, hemat saya, transendensi di sana terkesan takluk pada "dunia". Dengan lanturan yang bersandar pada "dunia", meski berhasil pada bentuk, membuat Olenka seolah inlanderisasi dalam sastra Indonesia. Olenka tak mampu mencari sumber orientasi sendiri.
Fenomena penulis "tubuh" ini sudah dibelokkan kapitalisasi pasar, dengan menggesernya ke soal seolah melulu seks dalam blow-up opini. Konon, karena begitulah rating yang disukai masyarakat: seks. Dan, orang seperti Taufiq, yang seharusnya melawan kapitalisasi opini sastra seperti itu, dengan menunjukkan bahwa substansi sastra mereka bukan melulu seks, malah ikut-ikutan menunggang gelombang. Dunia sastra yang pernah membesarkannya, "diselewengkannya" ke dalam arus besar yang disebutnya "Gerakan Syahwat Merdeka". Padahal sastra yang ditulis itu bukanlah semata "syahwat merdeka". Tetapi "syahwat" sebagai sampiran untuk kemerdekaan manusia. Kemuliaan manusia. Persis seperti novel Sendalu yang bertaburan alat dan nafsu kelamin yang ditulis Chavchay Syaifullah, tetapi dengan motif memperjuangkan perempuan sebagai korban perkosaan. Atau tokoh pelacur dalam cerpen Ahmadun, Pintu, yang mengoyak-ngoyak pakaiannya sendiri di dalam masjid, demi kehendak untuk telanjang (suci) saat menghadap Tuhannya.
Saya disebutnya sebagai komponen “sastra FAK” (pastilah Mariana Amiruddin juga). Apakah dasarnya? Karena kami menulis novel Tuan dan Nona Kosong? Karena saya dan Mariana melepaskan payudara, vagina, dan penis dari tempatnya dan benda-benda itu berkitar-kitar mengunjungi penonton?
Memang benar kami melukiskan hal-hal yang demikian. Tetapi, “sastra FAK”-kah itu? Tengoklah sekali lagi: betapa benda-benda itu cara kami menghampiri Tuhan. Seperti dalam irama lain (cerpen Lelaki Ikan dan Tongkatku, Musa) saya menyapa Tuhan. Lihatlah seorang lelaki di dalam novel itu melompat ke udara sambil berkata, "Tuhan tidak seperti kita kira. Jadi mari kita rayakan hidup ini. Jangan benci kami!"
Tuan Taufiq, barangkali seniman memang mengidap kegilaan. Tetapi kegilaan yang meninggi untuk menjangkau Tuhan. Menjangkau Tuhan dengan lambang dan sampiran, sehingga sastra menjadi dunia metafora yang sedap untuk dibaca. Mencerahkan manusia.
Duh, nasib seekor hh.
19 Juni 2007
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Hudan Hidayat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hudan Hidayat. Tampilkan semua postingan
Selasa, 10 Maret 2009
Jumat, 21 November 2008
“Politik Sastra” Versus “Politik Tekstual Sastra”
Hudan Hidayat
http://hudanhidayat.multiply.com/
“Politik tekstual sastra” sangat berbeda dengan “politik sastra”, “sebagaimana jaringan urat dan daging dalam tubuh”. Perbedaan yang telah dilompati oleh Tuan Edy A Effendi. Lompatan semacam ini, adalah kehendak untuk mencampur dan mengabur fenomena hidup.
Feminisme sebagai fenomena kehidupan, membawa wacana peran perempuan dan peran lelaki. Tapi, saat Simone De Beauvoir pandang-memandang dengan dunia dan mulai menuliskan bukunya Second Sex, bukanlah “politik tubuh” tapi “politik tekstual tubuh”.
Upayanya membongkar konstruksi budaya patriarkal yang bukan dalam arti gerakan, adalah investigasi sejarah yang mengikutkan ceruk-meruk pikiran, tentang hakekat tubuh perempuan dan tubuh lelaki.
“Politik tekstual tubuh” ini baru menjadi “politik tubuh”, saat seorang Gadis Arivia di Indonesia mendirikan Jurnal Perempuan.
Mengapa “politik tubuh” dengan prinsip kebenaran diperlukan?
Karena hampir mustahil mengantarkan “politik tekstual tubuh” kehadapan publik tanpa medium institusi. Dan apakah maksud kedua tokoh yang berlainan ruang dan waktu ini, dengan “politik tubuh” dan “politik tekstual tubuh”, kalau bukan didorong oleh hasrat untuk menunjukkan dan menggapai keberagaman eksistensi, demi kesetaraan dan keadilan itu sendiri?
Kita bisa tak sepakat dengan argumen Simone De Beauvoir, saat ia melacak tubuh dalam varian species. Misalnya, saya belum diyakinkan oleh kategori “takdir” yang menjadi sub-judul bukunya. Bagi saya kata-kata “takdir” merujuk kepada yang transendental. Tapi bagi Simon, kata “takdir’ hanya berhenti pada “data biologis” beragamnya species.
Tapi dengan begitu, pelacakan terhadap hakekat peran tubuh perempuan dan lelaki telah terhenti. Sebab, awal dari spirit De Beauvoir, adalah untuk mengejar mula pertama dari, atau bagi, kesetaraan yang menjadi medan perjuangan kaum perempuan terhadap dominasi dan ragam laku lelaki?
Eksposenya yang amat indah itu (saya terkenang keindahan Frued saat ia menuliskan psikoanalisa) , tidak menjawab siapakah manusia lelaki pertama dan manusia perempuan pertama, dan bagaimana corak mengada kedua manusia yang berbeda jenis kelamin ini?
Kalau “data biologis” De Beauvoir tidak menemukan jawaban atas kemungkinan instinktif yang terbawa oleh gen, maka sebuah embrio patriakal pastilah bermula dari interaksi manusia lelaki pertama dan manusia perempuan pertama, yang tentu saja berkembang dan meluas pada lingkungan awalnya.
Sebab, konstruksi kebudayaan patriarkal yang kita kenal kini, adalah turunan belaka dari lingkungan awal yang berkembang dan meluas itu.
Tapi, kapan mulainya dan di mana awalnya?
Adalah “politik tubuh” yang mengantarkan “tubuh” menjadi kristal, dan “politik tekstual tubuh” yang membuat unsur kristal berbinar. Persis seperti “tubuh malam” yang menggelar dirinya, tapi kunang-kunang malam yang membuat mata bisa memandang keelokannya. Atau politik negara yang mengantarkan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Tuan Edy A Effendi dalam postingnya, bolak-balik menggunakan pemakaian antara “politik sastra” dan “politik tekstual sastra” yang bercampur, seraya hendak menarik saya pada, atau mengingatkan peran akan, niat untuk membongkar “politik sastra”. Bahwa sejarah sastra 13 tahun terakhir melibatkan saya dalam peran semacam itu.
Tapi Tuan Edy lupa, bahwa statemen itu ditempatkan bukan sebagai pernyataan terpisah tapi bersambung. Yakni: ketertarikan saya akan “politik tekstual sastra”.
Dalam sambungan semacam itu, kata “tidak ada niat” itu harus ditempatkan. Sebab hanya berhenti pada membongkar “politik sastra”, maka tubuh yang bercahaya itu akan kehilangan peluang untuk menguakkan unsurnya (tubuh yang indah, kata Dewi). Ia hanya akan berhenti pada peristiwa. Berhenti pada “politik tubuh”. Pada “politik sastra”. Ini sama dengan dunia tanpa tujuan. Atau manusia berjalan tanpa tahu mengapa langkahnya gontai.
“Politik tubuh” atau “politik sastra” yang signifikan, hadir puluhan tahun silam saat seorang penyair menerbitkan bukunya. Tapi substansi buku itu bukan lagi menjadi “politik sastra” atau peristiwa sastra yang dimaksud Tuan Edy, tapi telah menjadi “politik tekstual sastra”.
Begitulah saya membaca ketika seorang penyair Sutardji calzoum Bachri dengan radikal dan konsisten menggeluti temanya dalam bukunya O Amuk Kapak. Sebutan radikal dan konsisten, bagi sang seniman, adalah kesetiaannya menggeluti tema bahwa ia mencari kedalaman dengan temanya, bahwa ia konsisten dengan upaya terhadap temanya itu.
Seorang seniman bukanlah terutama seseorang yang menasbihkan dirinya sebagai pembongkar “politik sastra”. Dia bukanlah seorang politisi sastra (seperti diterminologikan pada dirinya sendiri oleh Saut Situmorang). Tapi seorang yang dipukau oleh isi sastra itu sendiri. Dipukau oleh dunia ini sendiri. Persis seperti anak kecil yang terpesona memandang keluasan alam. Atau seseorang takjub ketika benda abstrak (pikiran) bisa menghasilkan benda konkret (grafis huruf).
Mengapa saya gemar membaca Sutardji?
Karena pada penyair ini, kata radikal dan konsisten yang didambakan Tuan Edy, bekerja dengan intensitas yang tiada terkira.
Adalah salah, kalau karena ketertarikan saya, lalu seseorang memandang bahwa itu adalah upaya seorang Hudan untuk membongkar seorang Sutardji dalam aspek “politik sastra” dan “politik tekstual sastra”nya.
Seorang sutardji tidak melakukan “politik sastra” (kecuali mungkin perannya sebagai aktor intelektual di dalam “pengadilan puisi” di Bandung itu). Tapi melakukan habis-habisan “politik tekstual sastra”.
“Politik tekstual sastra” Sutardji, bekerja dalam dua bidang secara simultan. Bidang yang saling menopang sekaligus saling menjauhi. Kata yang hendak dilepaskannya dari makna, adalah sebuah tindakan revolusioner dalam dunia sastra Indonesia modern. Di saat sastrawan angkatan 45 dan 66 masih berkelindan dengan derap dan arus revolusi, yang meninggalkan jejaknya pada penciptaan realis, maka Sutardji terbang dan menebang langit dengan kapaknya meminjam esai Mariana tentang Sutardji. Apakah yang ditebang Sutardji?
Sebuah langit sebagai benda alam?
Tapi Sutardji menebang juga konvensi bersastra di negeri kita. Dengan melepaskan fungsi makna dari kata, Tardji bukanlah sebagaimana disebutkan Ignas Kleden sebagai, atau hanyalah, sebuah strategi literer yang hanya bisa dirujukkan pada semangat penciptaan, sehingga tidak perlu dikejar maksudnya dalam bingkai common sense.
Sebab cara pandang seperti ini, seolah meledek upaya pencarian Sutardji, seolah tak akan sampai upaya seperti itu. Atau di bidang prosa, seolah menggaung kembali kata-kata resah Iwan Simatupang: Hans (HB. Jassin), dapatkah kita melewati ambang yang tak terkatakan itu?
Tapi “politik tekstual sastra” Tarji benar-benar memberikan cara pandang lain. Bukan hanya bertarung dengan konvensi sastra yang melingkupinya. Tapi terutama bertarung dengan gagasan sastranya sendiri. “Politik tekstual sastra” itu akhirnya harus berhadapan dengan dirinya sendiri sebagai penyair.
Dan itu dimulai dari kredonya yang amat terkenal itu: kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Segera muncul: kalau kata bukan alat maka ia hanya pengertian belaka. Tapi dapatkah ada pengertian tanpa adanya kesadaran? Dan apalah artinya kesadaran tanpa medium bagi seorang penyair atau novelis. Dan medium itu adalah kata. Dan pada mulanya kata adalah titik yang ditarik menjadi garis lurus, yang berkelok menjadi huruf.
Karena pengertian adalah kesadaran, maka kita dapati makna yang terurai pada puncak-puncak yang ditunjukkan Sutardji sendiri dalam puisinya, sebagai “alat” bagi pengertian Sutardji dan pembaca puisi Sutardji.
Kata memang bukan alat (belaka) untuk mengantarkan makna. Tapi kata menjadi medium bagi kesadaran jiwa.
Tesis inilah yang saya pilih saat menuliskan “kredo seni di atas kredo puisi”.
Ketika kata menjadi bebas, kebebasannya bukanlah terbang dan menebang semata semantik, menceraikan dirinya sehingga tak terjejah lagi. Kata bebas dan terbang untuk mencari kata-kata lain yang kiranya cocok untuk dayanya sendiri. Yang membuat kreatif, kata Tardji.
Tapi tetap: kata yang terbang dan menebang itu, adalah dan hanyalah benda mati tanpa kesadaran. Pengertian pun adalah benda mati tanpa kesadaran. Persis seperti Tuhan adalah nothing tanpa dunia dan manusia. Atau Tuhan menjadi nothing tanpa diriNya. Sebab tiap kesadaran membutuhkan ruang, seperti roh membutuhkan tubuh sebagai ruang.
Karena itu Tuhan menubuh pada dunia.
Atau roh menubuh pada badan manusia.
Dan kesadaran menubuh pada kata-kata.
Dengan lain perkataan, kata memang adalah medium untuk mengantarkan pengertian. Tapi pengertian kreatif, yang menjauh dari pengertian sehari-hari dalam maknanya.
Di sinilah titik pisah antara “kredo seni di atas kredo puisi”.
Begitulah saya menemukan kreatifitas “menceraikan” kata ini, atau kata-kata yang bebas itu, bukan terutama pada sajak “hampa nilai” yang diajukan Ignas Kleden (ping di atas pong). Tapi juga pada permainan penceraian tipografi yang berakibat pada pengubahan makna yang sampai pada kita.
Dalam sebuah kajiannya yang sangat bagus tentang Sutardji (tapi kapan Ignas akan menulis sebuah buku tanpa diundang? Dan inilah poltik sastra itu!) yang dimuat dalam harian Kompas (Puisi dan Dekonstruksi: Perihal Sutardji Calzoum Bachri), Ignas menunjukkan kontradiksi pikirannya sendiri.
Bagi saya, demikian Ignas, pemikiran-pemikiran dalam Kredo Puisi menjadi menarik bukan dalam kedudukannya sebagai suatu teori tentang puisi, tetapi terutama sebagai rencana kerja seorang penyair. Kredo itu membuat kita terkesan dan mungkin terkejut, bukan karena argumen-argumen yang diajukannya mengenai sense dan nonsense, tetapi dia menjadi menarik sebagai suatu program, suatu desain, dan bahkan suatu tekad. »
Harga dan nilai kredo tersebut tidak selayaknya diukur berdasarkan konsistensi dalil-dalilnya, tapi terutama berdasarkan pertanyaan: apakah penyairnya sanggup mewujdukan apa yang telah dia deklarasikan.
Perhatikanlah kekaguman seorang Ignas akan Sutardji yang membawa serta perlawanan bawah sadarnya – daya kreatif Ignas. Sebuah kontradiksi diletakkan Ignas: bukankah saat saat sang penyair sanggup mewujudkan apa yang telah dideklarasikannya, adalah pemenuhan bagi konsistensi dalil-dalilnya?
Syang Hai yang dikutip Ignas bisa menjadi representasi bagi kreatifitas Sutardji memainkan kata. Juga melepaskan kata dari makna dan pengertiannya. Tapi hilangkanlah larik terakhir (sembilu jarakMu merancap nyaring), apakah Ignas masih mengatakan puisi itu seolah gumam seseorang yang berzikir menyebut nama Tuhan? Tidakkah ia menjadi sebuah permainan kata yang memang unik dan kita rasakan keindahan penyebutan-penyebut annya, tapi menjadi sesuatu yang gelap dalam tingkat penafsiran: apakah ini? Apakah yang dikehendaki sang penyair dengan sebuah struktur kata yang mengingatkan saya pada sebuah olahraga di masa kecil: pingpong. Di mana kata berjatuhan dari bidang satu ke bidang yang lain, seolah bola putih yang kecil itu.
Ping di atas pong
Pong di atas ping
Ping ping bilang pong
Pong pong bilang ping
Mau pong? Bilang ping
Mau ping? Bilang pong
Mau mau bilang ping
Ya pong ya ping
Ya ping ya pong
Tak ya pong tak ya ping
Ya tak ping ya tak pong
Kutakpunya ping
Kutakpunya pong
Pinggir ping kumau pong
Tak tak bilang ping
Pinggir pong kumau ping
Tak tak bilang pong
Sembilu jarakMu merancap nyaring
Dalam sebuah sajak yang sarat humor (jadi tidak benar kalau sastra Indonesia, tegang dan kekurangan humor seperti kata Ayu Utami dalam kolomnya di sebuah media), Sutardji datang dengan “puisi prosa” tapi mengandung magis puisi: ikan membawa air dalam mulut taman, katanya. Sebuah larik yang mengejutkan : bagaimana mungkin seekor ikan membawa air (ke) dalam mulut taman? Pastilah air yang dibawanya itu tersimpan dalam mulutnya. Lalu ia keluarkan ke taman itu. Tapi permainan tipografi puisi menjelaskan bukan itu maknanya.
ikan membawa air
dalam mulut
taman
Dengan membaca sajak ini dalam tipografinya, terlihat makna itu. Tapi pola larik itu diletakkan, juga pemakaian «tanda tanpa tanda», membuat kita membaca puisi itu seolah prosa, sehingga kita sampai pada kesimpulan, atau sejenak kesimpulan itu terserap, pada pengasingan kata dengan misteri maknanya (seolah ikan itu membawa air dalam mulut taman).
Sejauhnya saya ingin menghindar dari kategori Saut Situmorang, yang menempatkan sastra sebagai dunia kangou yang harus memakan kurban dengan jalan saling menumbangkan. Saya melihat sesuatu bekerja bukan sebagai penumbangan tapi sebagai “bagaimana cara memandang ». Dunia ini memang tempat orang berpandang-pandanga n. Karena itu kalau saya membuat “kredo seni di atas kredo puisi”, bukanlah lalu saya meniatkan untuk menumbangkan Sutardji. Tapi melihat cara lain seperti cara lain yang dilihat Sutardji.
Atau kalau saya tidak bersetuju dengan pandangan dominan di negeri ini, yakni mereka yang menganut bahwa pengarang sudah mati setelah karyanya lahir. Sebab saya mempunyai angle lain. Bahwa seni itu, sungguh adalah kehidupan itu sendiri. Kehidupan dimana fiksi dan fakta berimpit, saling menunjukkan dirinya seperti dua sisi mata uang dari keping yang sama.
Dan itulah seni fiksi dan seni fakta – sebuah basis bagi pengertiaan saya tentang dunia penciptaan.
Barukah basis itu? Tidak. Kita bisa melihat seni fiksi dan seni fakta ini bekerja dalam tubuh dalang, dimana cerita wayang kita kagumi bukan hanya pada peristiwa yang diceritakan sang dalang, tapi oleh gerak dan gerik dari tubuh sang dalang.
Tuan Takdir mengobarkan « polemik kebudayaan » seraya dengan angkuh membenamkan tradisi sebagai sebuah masa lalu yang tak perlu diingat lagi. Tapi serentak dengan itu, segera pula ia memasuki kontradiksinya sendiri.
Katanya:
Hal itu bukan sekali-sekali berarti, bahwa dalam kebudayaan Indonesia yang sedang tumbuh itu tiada akan terdapat sesuatu element prae-Indonesia jua pun. Pertentangan semangat prae-Indonesaia bukanlah pertentangan 100 persen, pertentangan dalam segala hal.
Tapi dia menulis juga, tentang “kebudayaan Indonesia tiadalah mungkin sambungan kebudayaan Jawa, sambungan kebudayaan Melayu, sambungan kebudayaan Sunda atau kebudayaan yang lain.”
Atau seperti kata-kata Armijn, “kita mengakui keindahan pantun. Tapi tempatnya bukan pada masa kini.”
Tapi dengan cepat keangkuhan seperti ini patah oleh sebuah disertai Dahm, yang memperlihatkan betapa seorang Sukarno dibayang-bayangi oleh tradisi wayang yang digemarinya sejak kecil, yang telah membuat dirinya menjadi pemimpin modern Indonesia.
Dan itulah seni fiksi dan seni fakta. Kenyataan hidup yang menunjukkan dua sisi dari keping uang yang sama.
Ada yang hendak saya ulang-ulang, bila berhadapan dengan sejarah. Saya tak ingin mengatakan orang budaya telah kalah dengan orang politik. Tapi dengan getir saya bisa berkata: bahwa orang budaya tidak ada yang serevolusioner orang politik dalam temanya.
Sebab, bila orang politik melakukan perjuangan politik sampai masuk penjara dan dengan gemilang menuliskannya dalam teks politik (Indonesia Menggugat atau Renungan Indonesia misalnya), maka orang budaya menyerah pada sensor “Balai Pustaka”?
Lihatlah metapora yang dipakai dalam novel di kedua angkatan itu (Balai Pustaka dan Pujangga Baru). Tak satu pun kita temukan metapora tentang bebasnya Indonesia dari penjajahan kolonial. Tokoh-tokoh novel di dalam kedua angkatan itu, seolah kehilangan daya imajinasinya untuk memetaporakan kebebasan Indonesia melalui peristiwa dan makna novel yang diceritakannya. Padahal klaim bahwa sastra adalah alat perjuangan bangsa sudah menjadi jargon.
Bahkan pada angkatan 45 pun, metapora tentang kebebasan ini tak kita temui. Sehingga kita menjadi sedih saat Jassin dalam bukunya Kesusastraan Indonesia Jaman Jepang, demi mencari metapora yang saya maksudkan, memaksa puisi Chairil « Hampa » sebagai metapora bagi kehendak untuk kemerdekaan Indonesia.
Kita tahu, Hampa bukanlah sebuah puisi yang bisa dicantelkan dalam bingkai kehendak untuk merdeka itu, karena Hampa adalah sebuah puisi dimana mekanisme jiwa Chairil sudah tidak tahan lagi akibat jalan hidup yang dipilihnya sendiri.
Tuan Edy dalam postingnya menuntut saya agar radikal dan konsisten dalam berkata-kata. Agar jangan bereksistensi secara palsu saat berada di ruang manapun. Menarilah seperti dirimu, katanya. Tapi Tuan Edy lupa, apakah pengertian ruang dalam zaman yang makin menyempit ini? Dan apakah pengertian palsu?
Bagi saya sebuah milis yang serius dengan temanya, senilai dengan sebuah ruang koran atau ruang buku. Dan apakah peserta milis ini masuk ke dalam “ruang yang lain”? Tentu tidak. Sebab ruang kini sudah berimpit: kita menjadi anggota suatu milis seraya tetap membaca dunia.
Kafka telah lama meninggalkan kita, dan karena itu ruang jiwanya tak mungkin berimpit pada ruang kita. Tapi sebagai orang yang datang belakangan, ruang jiwa Kafka masuk ke dalam ruang privat saya. Ruang privat yang saya pelihara dengan baik.
Tapi dalam ruang itu saya mesti menyisihkan ruang bagi otensitas saya sendiri. Saya juga harus menyisihkannya untuk ruang bagi nilai in absentia yang saya rindukan. Sebagai seorang seniman saya harus mampu menangkapnya untuk dihadirkan bukan pada masa depan tapi pada masa sekarang.
Lama saya merenungi masa depan itu seperti buah apel di mana pohonnya ada tapi tidak terlihat dengan mata fisik kita. Atau entah di kandung telur siapa dan di sperma lelaki mana seorang “Hitler” yang lain. Ia ada di suatu tempat, di lelaki dan perempuan yang akan datang kemudian, sebagaimana sebuah rahim dan sperma yang akan membawa Newton yang lain. Atau mungkin “mereka” sudah hadir di masa kini? Siapa yang tahu. Dalam keseluruhan gerak semesta maha-luas ini, kita hanya setitik debu yang sombre sendiri.
Pohon apel itu hanya bisa dilihat dengan mata jiwa. Sebuah kesadaran yang membelah diri dengan radikal, yang tak hanya berpuas dengan tepuk tangan atau menangguk pujian (yang nyatanya kerap dilakukan melalui politik sastra yang berlebihan itu), adalah kesadaran yang mungkin bisa menangkap pohon yang telah hadir tapi tidak kelihatan itu.
Apakah palsu, kalau kita bereksistensi dengan ruang kita sendiri? Kalau kita tidak pernah beranjak dari ruang kita sendiri.
Palsu adalah sebuah tindakan eksistensi yang mengingkari hati nurani, yang dalam dunia politik menjadi samar mana strategi mana niat yang sudah dikebiri.
Pada seorang seniman kepalsuan terbaca pada temanya, pada ungkapan jiwanya saat dia menulis. Tema sastra dari sebuah jiwa yang palsu suka membalik angin. Kalau badai besar datang dia sembunyikan temanya dalam retorika yang mengebiri pendiriannya. Kalau badai reda dia kembali dengan temanya.
Sikap gagah-gagahan yang datang dari dunia kanak-kanak seperti itu, tentulah bukan etos yang kita kehendaki.
Mengapa demikian?
Karena saya meyakini kesusastraan bukanlah sekedar pajangan huruf-huruf untuk olahraga pemikiran.
Tidak.
Kesusastraan adalah hidup itu sendiri.
Hidup dari rentang sakrataul maut, dari serius dan main-main.
Mungkin main-main adalah sebuah bonus bagi jiwa yang resah dan gundah. Mungkin main-main adalah salah satu mekanismenya agar dia tidak gila. Tapi selebihnya kesusastraan adalah upaya menguakkan kebenaran. Menguakkan kebenaran sambil bermain-main. Karena bermain-main sesungguhnya adalah wajah lain dari sebuah kesungguhan.
Tentu saja menguakkan kebenaran bagi sastra adalah mengambil jalan menikung. Dalam tiap tikungan itu ia melambung, melambungkan pikiran untuk berimajinasi secara bebas, untuk berfantasi secara bebas. Karena hanya dengan kebebasan itulah barangkali pohon yang tak kelihatan tapi ada itu bisa dipetik. Dimakan buahnya oleh orang kini atau orang yang akan datang.
Tubuh kita boleh mati. Tapi pikiran kita akan abadi sebagai obor bagi mereka yang mencoba meraih misteri Tuhan dalam tiap bidangnya, dengan umpan yang mungkin dari kesusastraan.
Dalam dunia semacam itu, sungguh tidak ada tempat bagi sikap yang palsu. Apalagi sikap yang hanya seolah-olah telah berhasil menguakkan kebenaran lalu menghardikkannya dengan paksaan, padahal ia baru berjalan-jalan di kulit kebenaran. Kulit yang terasa sebagai dunia formal-moral- agama yang hendak mengkerangkeng kebebasan manusia dalam tiap ciptaan dan ekspresinya. Dari mereka yang miskin tafsir.
Karena tidak mau terkerangkeng, saya mencoba membuat kategori sendiri dalam upaya merebut makna dunia. Makna yang saya kategorikan sebagai takdir dunia, misteri dunia dan tafsir dunia.
Karena itu saat membaca Kitab itu lagi, saya melihat ketimpangan demi ajaran moral yang baik, seolah buruk itu bukan dari Tuhan sebagai implementasi dari kategori takdir.
“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf. Dan Yusufpun bermaksud (melakukannya pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang terpilih.”
Inilah ayat tentang pelajaran pornografi, yang dengan sangat berani diceritakan oleh sang Penguasa Bumi. Berani, karena melibatkan Nabi yang dipilihnya sendiri.
Berhadapan dengan penceritaan semacam itu, tidaklah diperlukan imajinasi dan fantasi yang luar biasa untuk membayangkan sebuah pergumulan demi “permainan burung” yang akan berlangsung.
Segeralah kita tahu betapa Tuhan sayang pada kita. Mengajarkan bukan saja pandai berbicara tapi melatih imajinasi dan fantasi sebagai alat ampuh demi menguakkan rahasiaNya di langit dan di bumi.
Menyadari betapa tak terperikan rahasia langit dan bumi, maka Dia membekali manusia dengan kebebasan berpikir tanpa batas, yang diajarkanNya secara imajinatif dan fantastik tentang benda-benda dan nafsu-nafsu manusia.
Tapi manusia mengkerangkeng kebebasan itu ke dalam tafsir yang sungguh bertolak belakang dengan apa yang Ia sendiri ingin maksudkan:
“Ayat ini tidaklah menunjukkan bahwa nabi Yusuf a.s. punya keinginan yang buruk terhadap wanita itu (Zulaicha), akan tetapi godaan itu demikian besarnya sehingga andaikata dia tidak dikuatkan dengan keimanan kepada Allah s.w.t tentu dia jatuh ke dalam kemaksiatan.”
Bukankah teks itu sendiri yang berkata, bahwa keduanya saling menginginkan? Bahwa kemudian Yusuf melihat tanda dari Tuhannya maka “tanda” itu tidak serta merta menggugurkan “keinginan” yang sudah terlanjur menjalar ke dalam diri Yusuf.
Ataukah kita harus menafsirkan seperti ini: keinginan tersebut menjalar ke dalam diri Yusuf tapi secepat kilat ia berhenti, karena melihat tanda itu.
Tapi apa pula bedanya perdefinisi “keinginan” seperti itu? Toh Tuhan tidak sedang bermain pokrol bambu.
Tuhan mencintai manusia. Tapi manusia suka membuat orang lain “malas” mencintai Tuhan.
Sebagaimana begitulah adanya.
Tapi tak begitu seharusnya.
Jakarta, 26 april 2008
http://hudanhidayat.multiply.com/
“Politik tekstual sastra” sangat berbeda dengan “politik sastra”, “sebagaimana jaringan urat dan daging dalam tubuh”. Perbedaan yang telah dilompati oleh Tuan Edy A Effendi. Lompatan semacam ini, adalah kehendak untuk mencampur dan mengabur fenomena hidup.
Feminisme sebagai fenomena kehidupan, membawa wacana peran perempuan dan peran lelaki. Tapi, saat Simone De Beauvoir pandang-memandang dengan dunia dan mulai menuliskan bukunya Second Sex, bukanlah “politik tubuh” tapi “politik tekstual tubuh”.
Upayanya membongkar konstruksi budaya patriarkal yang bukan dalam arti gerakan, adalah investigasi sejarah yang mengikutkan ceruk-meruk pikiran, tentang hakekat tubuh perempuan dan tubuh lelaki.
“Politik tekstual tubuh” ini baru menjadi “politik tubuh”, saat seorang Gadis Arivia di Indonesia mendirikan Jurnal Perempuan.
Mengapa “politik tubuh” dengan prinsip kebenaran diperlukan?
Karena hampir mustahil mengantarkan “politik tekstual tubuh” kehadapan publik tanpa medium institusi. Dan apakah maksud kedua tokoh yang berlainan ruang dan waktu ini, dengan “politik tubuh” dan “politik tekstual tubuh”, kalau bukan didorong oleh hasrat untuk menunjukkan dan menggapai keberagaman eksistensi, demi kesetaraan dan keadilan itu sendiri?
Kita bisa tak sepakat dengan argumen Simone De Beauvoir, saat ia melacak tubuh dalam varian species. Misalnya, saya belum diyakinkan oleh kategori “takdir” yang menjadi sub-judul bukunya. Bagi saya kata-kata “takdir” merujuk kepada yang transendental. Tapi bagi Simon, kata “takdir’ hanya berhenti pada “data biologis” beragamnya species.
Tapi dengan begitu, pelacakan terhadap hakekat peran tubuh perempuan dan lelaki telah terhenti. Sebab, awal dari spirit De Beauvoir, adalah untuk mengejar mula pertama dari, atau bagi, kesetaraan yang menjadi medan perjuangan kaum perempuan terhadap dominasi dan ragam laku lelaki?
Eksposenya yang amat indah itu (saya terkenang keindahan Frued saat ia menuliskan psikoanalisa) , tidak menjawab siapakah manusia lelaki pertama dan manusia perempuan pertama, dan bagaimana corak mengada kedua manusia yang berbeda jenis kelamin ini?
Kalau “data biologis” De Beauvoir tidak menemukan jawaban atas kemungkinan instinktif yang terbawa oleh gen, maka sebuah embrio patriakal pastilah bermula dari interaksi manusia lelaki pertama dan manusia perempuan pertama, yang tentu saja berkembang dan meluas pada lingkungan awalnya.
Sebab, konstruksi kebudayaan patriarkal yang kita kenal kini, adalah turunan belaka dari lingkungan awal yang berkembang dan meluas itu.
Tapi, kapan mulainya dan di mana awalnya?
Adalah “politik tubuh” yang mengantarkan “tubuh” menjadi kristal, dan “politik tekstual tubuh” yang membuat unsur kristal berbinar. Persis seperti “tubuh malam” yang menggelar dirinya, tapi kunang-kunang malam yang membuat mata bisa memandang keelokannya. Atau politik negara yang mengantarkan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Tuan Edy A Effendi dalam postingnya, bolak-balik menggunakan pemakaian antara “politik sastra” dan “politik tekstual sastra” yang bercampur, seraya hendak menarik saya pada, atau mengingatkan peran akan, niat untuk membongkar “politik sastra”. Bahwa sejarah sastra 13 tahun terakhir melibatkan saya dalam peran semacam itu.
Tapi Tuan Edy lupa, bahwa statemen itu ditempatkan bukan sebagai pernyataan terpisah tapi bersambung. Yakni: ketertarikan saya akan “politik tekstual sastra”.
Dalam sambungan semacam itu, kata “tidak ada niat” itu harus ditempatkan. Sebab hanya berhenti pada membongkar “politik sastra”, maka tubuh yang bercahaya itu akan kehilangan peluang untuk menguakkan unsurnya (tubuh yang indah, kata Dewi). Ia hanya akan berhenti pada peristiwa. Berhenti pada “politik tubuh”. Pada “politik sastra”. Ini sama dengan dunia tanpa tujuan. Atau manusia berjalan tanpa tahu mengapa langkahnya gontai.
“Politik tubuh” atau “politik sastra” yang signifikan, hadir puluhan tahun silam saat seorang penyair menerbitkan bukunya. Tapi substansi buku itu bukan lagi menjadi “politik sastra” atau peristiwa sastra yang dimaksud Tuan Edy, tapi telah menjadi “politik tekstual sastra”.
Begitulah saya membaca ketika seorang penyair Sutardji calzoum Bachri dengan radikal dan konsisten menggeluti temanya dalam bukunya O Amuk Kapak. Sebutan radikal dan konsisten, bagi sang seniman, adalah kesetiaannya menggeluti tema bahwa ia mencari kedalaman dengan temanya, bahwa ia konsisten dengan upaya terhadap temanya itu.
Seorang seniman bukanlah terutama seseorang yang menasbihkan dirinya sebagai pembongkar “politik sastra”. Dia bukanlah seorang politisi sastra (seperti diterminologikan pada dirinya sendiri oleh Saut Situmorang). Tapi seorang yang dipukau oleh isi sastra itu sendiri. Dipukau oleh dunia ini sendiri. Persis seperti anak kecil yang terpesona memandang keluasan alam. Atau seseorang takjub ketika benda abstrak (pikiran) bisa menghasilkan benda konkret (grafis huruf).
Mengapa saya gemar membaca Sutardji?
Karena pada penyair ini, kata radikal dan konsisten yang didambakan Tuan Edy, bekerja dengan intensitas yang tiada terkira.
Adalah salah, kalau karena ketertarikan saya, lalu seseorang memandang bahwa itu adalah upaya seorang Hudan untuk membongkar seorang Sutardji dalam aspek “politik sastra” dan “politik tekstual sastra”nya.
Seorang sutardji tidak melakukan “politik sastra” (kecuali mungkin perannya sebagai aktor intelektual di dalam “pengadilan puisi” di Bandung itu). Tapi melakukan habis-habisan “politik tekstual sastra”.
“Politik tekstual sastra” Sutardji, bekerja dalam dua bidang secara simultan. Bidang yang saling menopang sekaligus saling menjauhi. Kata yang hendak dilepaskannya dari makna, adalah sebuah tindakan revolusioner dalam dunia sastra Indonesia modern. Di saat sastrawan angkatan 45 dan 66 masih berkelindan dengan derap dan arus revolusi, yang meninggalkan jejaknya pada penciptaan realis, maka Sutardji terbang dan menebang langit dengan kapaknya meminjam esai Mariana tentang Sutardji. Apakah yang ditebang Sutardji?
Sebuah langit sebagai benda alam?
Tapi Sutardji menebang juga konvensi bersastra di negeri kita. Dengan melepaskan fungsi makna dari kata, Tardji bukanlah sebagaimana disebutkan Ignas Kleden sebagai, atau hanyalah, sebuah strategi literer yang hanya bisa dirujukkan pada semangat penciptaan, sehingga tidak perlu dikejar maksudnya dalam bingkai common sense.
Sebab cara pandang seperti ini, seolah meledek upaya pencarian Sutardji, seolah tak akan sampai upaya seperti itu. Atau di bidang prosa, seolah menggaung kembali kata-kata resah Iwan Simatupang: Hans (HB. Jassin), dapatkah kita melewati ambang yang tak terkatakan itu?
Tapi “politik tekstual sastra” Tarji benar-benar memberikan cara pandang lain. Bukan hanya bertarung dengan konvensi sastra yang melingkupinya. Tapi terutama bertarung dengan gagasan sastranya sendiri. “Politik tekstual sastra” itu akhirnya harus berhadapan dengan dirinya sendiri sebagai penyair.
Dan itu dimulai dari kredonya yang amat terkenal itu: kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Segera muncul: kalau kata bukan alat maka ia hanya pengertian belaka. Tapi dapatkah ada pengertian tanpa adanya kesadaran? Dan apalah artinya kesadaran tanpa medium bagi seorang penyair atau novelis. Dan medium itu adalah kata. Dan pada mulanya kata adalah titik yang ditarik menjadi garis lurus, yang berkelok menjadi huruf.
Karena pengertian adalah kesadaran, maka kita dapati makna yang terurai pada puncak-puncak yang ditunjukkan Sutardji sendiri dalam puisinya, sebagai “alat” bagi pengertian Sutardji dan pembaca puisi Sutardji.
Kata memang bukan alat (belaka) untuk mengantarkan makna. Tapi kata menjadi medium bagi kesadaran jiwa.
Tesis inilah yang saya pilih saat menuliskan “kredo seni di atas kredo puisi”.
Ketika kata menjadi bebas, kebebasannya bukanlah terbang dan menebang semata semantik, menceraikan dirinya sehingga tak terjejah lagi. Kata bebas dan terbang untuk mencari kata-kata lain yang kiranya cocok untuk dayanya sendiri. Yang membuat kreatif, kata Tardji.
Tapi tetap: kata yang terbang dan menebang itu, adalah dan hanyalah benda mati tanpa kesadaran. Pengertian pun adalah benda mati tanpa kesadaran. Persis seperti Tuhan adalah nothing tanpa dunia dan manusia. Atau Tuhan menjadi nothing tanpa diriNya. Sebab tiap kesadaran membutuhkan ruang, seperti roh membutuhkan tubuh sebagai ruang.
Karena itu Tuhan menubuh pada dunia.
Atau roh menubuh pada badan manusia.
Dan kesadaran menubuh pada kata-kata.
Dengan lain perkataan, kata memang adalah medium untuk mengantarkan pengertian. Tapi pengertian kreatif, yang menjauh dari pengertian sehari-hari dalam maknanya.
Di sinilah titik pisah antara “kredo seni di atas kredo puisi”.
Begitulah saya menemukan kreatifitas “menceraikan” kata ini, atau kata-kata yang bebas itu, bukan terutama pada sajak “hampa nilai” yang diajukan Ignas Kleden (ping di atas pong). Tapi juga pada permainan penceraian tipografi yang berakibat pada pengubahan makna yang sampai pada kita.
Dalam sebuah kajiannya yang sangat bagus tentang Sutardji (tapi kapan Ignas akan menulis sebuah buku tanpa diundang? Dan inilah poltik sastra itu!) yang dimuat dalam harian Kompas (Puisi dan Dekonstruksi: Perihal Sutardji Calzoum Bachri), Ignas menunjukkan kontradiksi pikirannya sendiri.
Bagi saya, demikian Ignas, pemikiran-pemikiran dalam Kredo Puisi menjadi menarik bukan dalam kedudukannya sebagai suatu teori tentang puisi, tetapi terutama sebagai rencana kerja seorang penyair. Kredo itu membuat kita terkesan dan mungkin terkejut, bukan karena argumen-argumen yang diajukannya mengenai sense dan nonsense, tetapi dia menjadi menarik sebagai suatu program, suatu desain, dan bahkan suatu tekad. »
Harga dan nilai kredo tersebut tidak selayaknya diukur berdasarkan konsistensi dalil-dalilnya, tapi terutama berdasarkan pertanyaan: apakah penyairnya sanggup mewujdukan apa yang telah dia deklarasikan.
Perhatikanlah kekaguman seorang Ignas akan Sutardji yang membawa serta perlawanan bawah sadarnya – daya kreatif Ignas. Sebuah kontradiksi diletakkan Ignas: bukankah saat saat sang penyair sanggup mewujudkan apa yang telah dideklarasikannya, adalah pemenuhan bagi konsistensi dalil-dalilnya?
Syang Hai yang dikutip Ignas bisa menjadi representasi bagi kreatifitas Sutardji memainkan kata. Juga melepaskan kata dari makna dan pengertiannya. Tapi hilangkanlah larik terakhir (sembilu jarakMu merancap nyaring), apakah Ignas masih mengatakan puisi itu seolah gumam seseorang yang berzikir menyebut nama Tuhan? Tidakkah ia menjadi sebuah permainan kata yang memang unik dan kita rasakan keindahan penyebutan-penyebut annya, tapi menjadi sesuatu yang gelap dalam tingkat penafsiran: apakah ini? Apakah yang dikehendaki sang penyair dengan sebuah struktur kata yang mengingatkan saya pada sebuah olahraga di masa kecil: pingpong. Di mana kata berjatuhan dari bidang satu ke bidang yang lain, seolah bola putih yang kecil itu.
Ping di atas pong
Pong di atas ping
Ping ping bilang pong
Pong pong bilang ping
Mau pong? Bilang ping
Mau ping? Bilang pong
Mau mau bilang ping
Ya pong ya ping
Ya ping ya pong
Tak ya pong tak ya ping
Ya tak ping ya tak pong
Kutakpunya ping
Kutakpunya pong
Pinggir ping kumau pong
Tak tak bilang ping
Pinggir pong kumau ping
Tak tak bilang pong
Sembilu jarakMu merancap nyaring
Dalam sebuah sajak yang sarat humor (jadi tidak benar kalau sastra Indonesia, tegang dan kekurangan humor seperti kata Ayu Utami dalam kolomnya di sebuah media), Sutardji datang dengan “puisi prosa” tapi mengandung magis puisi: ikan membawa air dalam mulut taman, katanya. Sebuah larik yang mengejutkan : bagaimana mungkin seekor ikan membawa air (ke) dalam mulut taman? Pastilah air yang dibawanya itu tersimpan dalam mulutnya. Lalu ia keluarkan ke taman itu. Tapi permainan tipografi puisi menjelaskan bukan itu maknanya.
ikan membawa air
dalam mulut
taman
Dengan membaca sajak ini dalam tipografinya, terlihat makna itu. Tapi pola larik itu diletakkan, juga pemakaian «tanda tanpa tanda», membuat kita membaca puisi itu seolah prosa, sehingga kita sampai pada kesimpulan, atau sejenak kesimpulan itu terserap, pada pengasingan kata dengan misteri maknanya (seolah ikan itu membawa air dalam mulut taman).
Sejauhnya saya ingin menghindar dari kategori Saut Situmorang, yang menempatkan sastra sebagai dunia kangou yang harus memakan kurban dengan jalan saling menumbangkan. Saya melihat sesuatu bekerja bukan sebagai penumbangan tapi sebagai “bagaimana cara memandang ». Dunia ini memang tempat orang berpandang-pandanga n. Karena itu kalau saya membuat “kredo seni di atas kredo puisi”, bukanlah lalu saya meniatkan untuk menumbangkan Sutardji. Tapi melihat cara lain seperti cara lain yang dilihat Sutardji.
Atau kalau saya tidak bersetuju dengan pandangan dominan di negeri ini, yakni mereka yang menganut bahwa pengarang sudah mati setelah karyanya lahir. Sebab saya mempunyai angle lain. Bahwa seni itu, sungguh adalah kehidupan itu sendiri. Kehidupan dimana fiksi dan fakta berimpit, saling menunjukkan dirinya seperti dua sisi mata uang dari keping yang sama.
Dan itulah seni fiksi dan seni fakta – sebuah basis bagi pengertiaan saya tentang dunia penciptaan.
Barukah basis itu? Tidak. Kita bisa melihat seni fiksi dan seni fakta ini bekerja dalam tubuh dalang, dimana cerita wayang kita kagumi bukan hanya pada peristiwa yang diceritakan sang dalang, tapi oleh gerak dan gerik dari tubuh sang dalang.
Tuan Takdir mengobarkan « polemik kebudayaan » seraya dengan angkuh membenamkan tradisi sebagai sebuah masa lalu yang tak perlu diingat lagi. Tapi serentak dengan itu, segera pula ia memasuki kontradiksinya sendiri.
Katanya:
Hal itu bukan sekali-sekali berarti, bahwa dalam kebudayaan Indonesia yang sedang tumbuh itu tiada akan terdapat sesuatu element prae-Indonesia jua pun. Pertentangan semangat prae-Indonesaia bukanlah pertentangan 100 persen, pertentangan dalam segala hal.
Tapi dia menulis juga, tentang “kebudayaan Indonesia tiadalah mungkin sambungan kebudayaan Jawa, sambungan kebudayaan Melayu, sambungan kebudayaan Sunda atau kebudayaan yang lain.”
Atau seperti kata-kata Armijn, “kita mengakui keindahan pantun. Tapi tempatnya bukan pada masa kini.”
Tapi dengan cepat keangkuhan seperti ini patah oleh sebuah disertai Dahm, yang memperlihatkan betapa seorang Sukarno dibayang-bayangi oleh tradisi wayang yang digemarinya sejak kecil, yang telah membuat dirinya menjadi pemimpin modern Indonesia.
Dan itulah seni fiksi dan seni fakta. Kenyataan hidup yang menunjukkan dua sisi dari keping uang yang sama.
Ada yang hendak saya ulang-ulang, bila berhadapan dengan sejarah. Saya tak ingin mengatakan orang budaya telah kalah dengan orang politik. Tapi dengan getir saya bisa berkata: bahwa orang budaya tidak ada yang serevolusioner orang politik dalam temanya.
Sebab, bila orang politik melakukan perjuangan politik sampai masuk penjara dan dengan gemilang menuliskannya dalam teks politik (Indonesia Menggugat atau Renungan Indonesia misalnya), maka orang budaya menyerah pada sensor “Balai Pustaka”?
Lihatlah metapora yang dipakai dalam novel di kedua angkatan itu (Balai Pustaka dan Pujangga Baru). Tak satu pun kita temukan metapora tentang bebasnya Indonesia dari penjajahan kolonial. Tokoh-tokoh novel di dalam kedua angkatan itu, seolah kehilangan daya imajinasinya untuk memetaporakan kebebasan Indonesia melalui peristiwa dan makna novel yang diceritakannya. Padahal klaim bahwa sastra adalah alat perjuangan bangsa sudah menjadi jargon.
Bahkan pada angkatan 45 pun, metapora tentang kebebasan ini tak kita temui. Sehingga kita menjadi sedih saat Jassin dalam bukunya Kesusastraan Indonesia Jaman Jepang, demi mencari metapora yang saya maksudkan, memaksa puisi Chairil « Hampa » sebagai metapora bagi kehendak untuk kemerdekaan Indonesia.
Kita tahu, Hampa bukanlah sebuah puisi yang bisa dicantelkan dalam bingkai kehendak untuk merdeka itu, karena Hampa adalah sebuah puisi dimana mekanisme jiwa Chairil sudah tidak tahan lagi akibat jalan hidup yang dipilihnya sendiri.
Tuan Edy dalam postingnya menuntut saya agar radikal dan konsisten dalam berkata-kata. Agar jangan bereksistensi secara palsu saat berada di ruang manapun. Menarilah seperti dirimu, katanya. Tapi Tuan Edy lupa, apakah pengertian ruang dalam zaman yang makin menyempit ini? Dan apakah pengertian palsu?
Bagi saya sebuah milis yang serius dengan temanya, senilai dengan sebuah ruang koran atau ruang buku. Dan apakah peserta milis ini masuk ke dalam “ruang yang lain”? Tentu tidak. Sebab ruang kini sudah berimpit: kita menjadi anggota suatu milis seraya tetap membaca dunia.
Kafka telah lama meninggalkan kita, dan karena itu ruang jiwanya tak mungkin berimpit pada ruang kita. Tapi sebagai orang yang datang belakangan, ruang jiwa Kafka masuk ke dalam ruang privat saya. Ruang privat yang saya pelihara dengan baik.
Tapi dalam ruang itu saya mesti menyisihkan ruang bagi otensitas saya sendiri. Saya juga harus menyisihkannya untuk ruang bagi nilai in absentia yang saya rindukan. Sebagai seorang seniman saya harus mampu menangkapnya untuk dihadirkan bukan pada masa depan tapi pada masa sekarang.
Lama saya merenungi masa depan itu seperti buah apel di mana pohonnya ada tapi tidak terlihat dengan mata fisik kita. Atau entah di kandung telur siapa dan di sperma lelaki mana seorang “Hitler” yang lain. Ia ada di suatu tempat, di lelaki dan perempuan yang akan datang kemudian, sebagaimana sebuah rahim dan sperma yang akan membawa Newton yang lain. Atau mungkin “mereka” sudah hadir di masa kini? Siapa yang tahu. Dalam keseluruhan gerak semesta maha-luas ini, kita hanya setitik debu yang sombre sendiri.
Pohon apel itu hanya bisa dilihat dengan mata jiwa. Sebuah kesadaran yang membelah diri dengan radikal, yang tak hanya berpuas dengan tepuk tangan atau menangguk pujian (yang nyatanya kerap dilakukan melalui politik sastra yang berlebihan itu), adalah kesadaran yang mungkin bisa menangkap pohon yang telah hadir tapi tidak kelihatan itu.
Apakah palsu, kalau kita bereksistensi dengan ruang kita sendiri? Kalau kita tidak pernah beranjak dari ruang kita sendiri.
Palsu adalah sebuah tindakan eksistensi yang mengingkari hati nurani, yang dalam dunia politik menjadi samar mana strategi mana niat yang sudah dikebiri.
Pada seorang seniman kepalsuan terbaca pada temanya, pada ungkapan jiwanya saat dia menulis. Tema sastra dari sebuah jiwa yang palsu suka membalik angin. Kalau badai besar datang dia sembunyikan temanya dalam retorika yang mengebiri pendiriannya. Kalau badai reda dia kembali dengan temanya.
Sikap gagah-gagahan yang datang dari dunia kanak-kanak seperti itu, tentulah bukan etos yang kita kehendaki.
Mengapa demikian?
Karena saya meyakini kesusastraan bukanlah sekedar pajangan huruf-huruf untuk olahraga pemikiran.
Tidak.
Kesusastraan adalah hidup itu sendiri.
Hidup dari rentang sakrataul maut, dari serius dan main-main.
Mungkin main-main adalah sebuah bonus bagi jiwa yang resah dan gundah. Mungkin main-main adalah salah satu mekanismenya agar dia tidak gila. Tapi selebihnya kesusastraan adalah upaya menguakkan kebenaran. Menguakkan kebenaran sambil bermain-main. Karena bermain-main sesungguhnya adalah wajah lain dari sebuah kesungguhan.
Tentu saja menguakkan kebenaran bagi sastra adalah mengambil jalan menikung. Dalam tiap tikungan itu ia melambung, melambungkan pikiran untuk berimajinasi secara bebas, untuk berfantasi secara bebas. Karena hanya dengan kebebasan itulah barangkali pohon yang tak kelihatan tapi ada itu bisa dipetik. Dimakan buahnya oleh orang kini atau orang yang akan datang.
Tubuh kita boleh mati. Tapi pikiran kita akan abadi sebagai obor bagi mereka yang mencoba meraih misteri Tuhan dalam tiap bidangnya, dengan umpan yang mungkin dari kesusastraan.
Dalam dunia semacam itu, sungguh tidak ada tempat bagi sikap yang palsu. Apalagi sikap yang hanya seolah-olah telah berhasil menguakkan kebenaran lalu menghardikkannya dengan paksaan, padahal ia baru berjalan-jalan di kulit kebenaran. Kulit yang terasa sebagai dunia formal-moral- agama yang hendak mengkerangkeng kebebasan manusia dalam tiap ciptaan dan ekspresinya. Dari mereka yang miskin tafsir.
Karena tidak mau terkerangkeng, saya mencoba membuat kategori sendiri dalam upaya merebut makna dunia. Makna yang saya kategorikan sebagai takdir dunia, misteri dunia dan tafsir dunia.
Karena itu saat membaca Kitab itu lagi, saya melihat ketimpangan demi ajaran moral yang baik, seolah buruk itu bukan dari Tuhan sebagai implementasi dari kategori takdir.
“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf. Dan Yusufpun bermaksud (melakukannya pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang terpilih.”
Inilah ayat tentang pelajaran pornografi, yang dengan sangat berani diceritakan oleh sang Penguasa Bumi. Berani, karena melibatkan Nabi yang dipilihnya sendiri.
Berhadapan dengan penceritaan semacam itu, tidaklah diperlukan imajinasi dan fantasi yang luar biasa untuk membayangkan sebuah pergumulan demi “permainan burung” yang akan berlangsung.
Segeralah kita tahu betapa Tuhan sayang pada kita. Mengajarkan bukan saja pandai berbicara tapi melatih imajinasi dan fantasi sebagai alat ampuh demi menguakkan rahasiaNya di langit dan di bumi.
Menyadari betapa tak terperikan rahasia langit dan bumi, maka Dia membekali manusia dengan kebebasan berpikir tanpa batas, yang diajarkanNya secara imajinatif dan fantastik tentang benda-benda dan nafsu-nafsu manusia.
Tapi manusia mengkerangkeng kebebasan itu ke dalam tafsir yang sungguh bertolak belakang dengan apa yang Ia sendiri ingin maksudkan:
“Ayat ini tidaklah menunjukkan bahwa nabi Yusuf a.s. punya keinginan yang buruk terhadap wanita itu (Zulaicha), akan tetapi godaan itu demikian besarnya sehingga andaikata dia tidak dikuatkan dengan keimanan kepada Allah s.w.t tentu dia jatuh ke dalam kemaksiatan.”
Bukankah teks itu sendiri yang berkata, bahwa keduanya saling menginginkan? Bahwa kemudian Yusuf melihat tanda dari Tuhannya maka “tanda” itu tidak serta merta menggugurkan “keinginan” yang sudah terlanjur menjalar ke dalam diri Yusuf.
Ataukah kita harus menafsirkan seperti ini: keinginan tersebut menjalar ke dalam diri Yusuf tapi secepat kilat ia berhenti, karena melihat tanda itu.
Tapi apa pula bedanya perdefinisi “keinginan” seperti itu? Toh Tuhan tidak sedang bermain pokrol bambu.
Tuhan mencintai manusia. Tapi manusia suka membuat orang lain “malas” mencintai Tuhan.
Sebagaimana begitulah adanya.
Tapi tak begitu seharusnya.
Jakarta, 26 april 2008
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel García Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati