Tampilkan postingan dengan label R. Timur Budi Raja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label R. Timur Budi Raja. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Januari 2009

ANAK-ANAK YANG SETIAP PAGI MEMUNGUTI AIRMATA

:LANSKAP KEKERASAN DALAM NARASI PUITIK
R. Timur Budi Raja
http://aksaraapi.blogspot.com/

I.
Saat sajak-sajak ini disodorkan hingga sampai di tangan saya, tak ada lain yang melintas di benak saya, kecuali kecurigaan. Tepatnya, keinginan untuk mencurigai. Lebih-lebih mengingat ketika kawan saya, Taqin, -sang penelepon gelap yang berposisi di Surabaya itu-, mengabarkan bahwa satu jam kemudian pasca kontak dia akan berkunjung ke tempat saya di Junok.

“Wah, brengket benar Si Taqin! Bukankah jarak dari Surabaya ke Bangkalan tidak cukup ditempuh dengan waktu satu jam perjalanan?” begitu saya berpikir normatif. Pikiran normatif itu langsung ambyar, ketika tiba-tiba di kepala saya meledak kembali kisah pesawat Challenger, yang sesungguhnya telah lama sayup dalam ingatan pengetahuan saya. “Apakah rumus-rumus matematika dan fisika itu masih menjadi penting untuk menghitung kemungkinan dan kepastian?” pikir saya lagi.

Ah, saya cuma bisa terkejut saja ternyata. Lalu mengklaim rencana kedatangannya itu sebagai sebuah gagasan kenakalan terburu-buru yang kejam.

Bagaimana tidak? Kampung saya saat itu tengah dirawat oleh sejumlah perasaan takut dan bersalah, setelah peristiwa pembantaian yang dilakukan satu keluarga besar blater, -warga kampung saya-, terhadap tiga orang warga dari kampung lain. Dimana-mana media massa memberitakannya.

Para pelaku pembantaian beserta keluarga besarnya memang telah pergi jauh melarikan diri dari balas sakit hati keluarga korban dan kejaran aparatur hukum, entah kemana. Tapi, kengerian yang ditinggalkannya kami rasakan terus berhembus dari satu rumah ke rumah yang lain, menggerogoti jam-jam hening yang berlesatan. Seluruh warga di kampung saya tak ada yang berani keluar rumah pada malam hari, seperti ada kekhawatiran yang berkembang menjadi keyakinan di tengah kami, bahwa akan ada serangan balasan yang membabi buta dari kampung korban untuk membantai siapa pun dari kampung kami. Akhirnya, warga memilih dan menentukan sikap awas terhadap siapa saja.

Taqin? Tidakkah dia mendengarnya? Tidakkah dia membacanya?

II.
Curiga? Kecurigaan? Mencurigai?

Cukup aneh memang. Tapi begitulah, saya seorang yang negatif. Dan saya beruntung karena kebiasaan atau cara pandang yang demikian, justru membuat saya terus tertantang untuk menajamkan seluruh kepekaan, menemukan detil dan membuat reka-reka perimbangan yang mendekati obyektif, dari menu-menu persoalan yang saya hadapi.

Narsis? Mungkin saja! Tapi bukan itu yang hendak saya paparkan.

Dulu, secara kebetulan saya pernah mendengar kalimat-kalimat ini:

“Tuhan itu ada, atau kita yang mengadakan Tuhan?”

“Mana yang benar; Perempuan yang mandi di sungai, atau sungai yang mandi pada (tubuh) perempuan?”

Pernyataan atau pertanyaan tersebut memang klise, tapi juga kritis, dekonstruktif, subversib, dan provokatif. Mengundang pikiran-pikiran saya untuk berkembang curiga. Curiga dan berpikir kepada (kenyataan) Tuhan itu sendiri, curiga kepada siapa (si) yang mengatakannya dan curiga kepada sejarah (nya).

Pertama, demi proses berpikir, keduanya menjadi sangat menarik dan dialektik. Kedua, sebagai hasil atau capaian, keduanya (dalam pandangan saya) sama benarnya.

Sajak-sajak dalam buku ini juga telah mengantarkan saya pada kecurigaan yang sebangun. Apakah kelahirannya memang dikehendaki sang penyair, sebagai anak yang ditunggu-tunggu dan kelahirannya musti dirayakan (dengan cara launching, misalnya)? Atau sebaliknya; mereka adalah bahasa kegagalan penyair saat mimpi basah, kalimat-kalimat hitam yang gagap tak bermuara tapi belingsatan minta dituliskan, bergestur sajak tapi rohnya hantu, anak-anak yang didesak untuk lahir hingga tak sempurna secara fisik atau bawaannya (premature, demikian kira-kira istilahnya?)

Kelahiran sebuah sajak seperti layaknya kelahiran seorang manusia. Membutuhkan waktu panjang dan proses yang berantai. Seorang anak lahir dari rahim manusia berjenis kelamin perempuan, yang kelak kemudian dipanggilnya ibu, yang telah melakukan perkawinan dengan manusia berjenis kelamin laki-laki, yang nanti disebutnya ayah.

Sang ibu memiliki sel telur yang merupakan cikal-bakal manusia baru. Untuk membentuk manusia dibutuhkan pembuahan dan inilah peran manusia berjenis kelamin laki-laki. Dia membuahi sel telur dengan apa yang disebut sperma. Bila antara sel telur dan sperma ada kecocokan, maka terbentuklah tubuh manusia. Selama sembilan bulan sembilan hari manusia baru memulai tahap awal kehidupannya dalam rahim seorang ibu. Setelah itu, waktu pun mendesak melahirkannya. Dalam proses kelahirannya, dia tidak berjuang sendiri. Sang ibu turut bersikeras melepas sakit airmatanya agar buah hatinya lahir dan selamat.

Namun, tidak semua manusia terlahir dikehendaki sang ibu dan ayahnya. Ada mereka yang terlahir karena terpaksa dan atau dipaksa untuk lahir. Mereka melampaui proses itu dengan terpaksa dan atau dipaksa pula. Dengan kata lain, mereka dilahirkan secara premature. Belum selesai proses itu dilewati, mereka dipaksa untuk segera melanjutkan ke proses kehidupan selanjutnya, tanpa diberi kesempatan untuk menentukan pilihan. Sebagian dari yang terpaksa dan atau dipaksa tersebut mampu melampaui proses itu dengan baik, berhasil melanjutkan ke proses kehidupan selanjutnya. Sebagian yang lain harus menerima nasib: tak sempat menghirup udara bumi yang penuh polusi, kolusi, dan nepotisme ini.

Demikian pula sajak!

Kehadiran sajak seperti layaknya kelahiran manusia, karena sengaja untuk dilahirkan, terpaksa untuk dilahirkan, atau kehendak memaksanya dilahirkan. Hasilnya, tidak semua sajak berhasil menurut kacamata sastra!

Lalu, bagaimana dengan sajak-sajak dalam buku ini?

III.
Sapardi Djoko Damono pernah mengatakan, “Sebuah sajak adalah hasil dari sebuah proses. Dari awal sampai akhir proses itu, si penyair terlibat sepenuhnya. Begitu memabukkan, sehingga di ujung proses itu biasanya terkejut.”

Artinya, sajak yang telah selesai ditulis dan berhasil itu mempersonifikasikan diri sebagai sesuatu yang tak ia kenal, atau menjadi berbeda dengan apa yang sebelumnya pernah dibayangkan si penyair. Bisa jadi, karena seluruh yang disadari dan yang tidak disadarinya dilepaskan ke dalam sajak itu. Kerja kreatif memang bukan kerja spekulan, itulah sebabnya!

Goenawan Mohammad juga menulis: “Apa gunanya seorang penyair menulis sajak, kalau sajaknya dapat diuraikan isinya secara tuntas.”

Dengan kata lain, sebuah sajak, sebagai hasil dari proses yang ‘mabuk’, yang segala ucapannya tidak mudah untuk dipahami oleh pembaca dalam sekali baca. Membutuhkan pemahaman dalam memaknai sebuah sajak.

IV.
Setelah melampaui proses pemahaman yang cukup lama, saya masih juga tak mudah menemukan ukuran apa yang akan saya gunakan sebagai bekal pembacaan saya terhadap sajak-sajak dalam buku ini. Ada beberapa sajak yang musti saya baca berulang-ulang, hingga saya tiba di kedalaman dunia yang dibangunnya. Ada sebagian yang saya perhatikan dengan sungguh-sungguh, lalu saya menemukan sesuatu. Membacanya kembali dan berkali-kali menemukan sesuatu. Ada pula yang dengan terpaksa harus saya tinggalkan, dengan perasaan menyesal, dimana membaca baris pertamanya saja telah cukup bagi saya.

Karena semangat kecurigaan saya cukup besar, maka saya pun segera memutuskan untuk kembali men-serius-i kegiatan membaca!

Eit, tunggu dulu! Curiga karena apa? Curiga atas apa?

Asumsi awal pada pembacaan pertama, saya ‘menuduh’ Arif “Nyambek” Rahman, Dodik Kristanto, M. Sijjib, dan Ilham Persyada Syarif (para penyair dalam buku ini) telah mengalami keterjebakan ke dalam aktivitas pengekploitasian dan penimbunan kata-kata. Kaya diksi, boros dan maknanya tak utuh.

Disadari atau tidak, pada beberapa sajak (lihat: Fragmen Sore, Fragmen Batu Berlumut, Madu Lembayung, Biji Sunyi, Kari), kerap terjadi pengulangan-pengulangan (repetisi) kata dan kalimat-kalimat yang seharusnya tidak dilakukan. Bukankah pengulangan-pengulangan itu akan menjadi para pengganggu, bila kehadirannya tidak banyak berarti?

Bukan berarti bahwa sajak tak boleh mengenal repetisi atau pengulangan kata/kalimat, sebagaimana bahasa Indonesia sewajarnya. Pengulangan-pengulangan itu biasanya dilakukan untuk mengejar bunyi, makna dan efek-efek tertentu.

Dari sudut yang lain, dengan masih berlatar belakang kecurigaan, saya mencium aroma kecenderungan militeristik yang seragam dan pola-pola pendekatan kekerasan yang dilakukan dalam merepresi kata-kata. Membuat jalinan-jalinan sengkarut dan membentuk metafor-metafor kesakitan. (Lihat: Duka Muara, Rumah Sakit, Mata Sapi)

Bila benar, saya khawatir, pada kerja kepenulisan kreatif seperti inilah kata-kata kehilangan kesadarannya yang wajar.

Meski saya masih tetap saja curiga, jangan-jangan lanskap-lanskap kekerasan yang terjadi terhadap kata-kata dan bangunan teks sajak-sajak dalam buku ini merupakan represesentasi dari traumatika sejarah, potret-potret ingatan kegusaran realitas social politik yang gemuruh penuh konflik. Lalu para penyair ini dan generasi angkatan mereka; anak-anak yang setiap pagi memunguti airmata itu, mereka yang menyimpan kesakitan kota besar, menatap dan mencatat seluruh “kebrengketan” seluruh orde lewat kisah-kisah dan ingatan social. Ketakutan yang mengajari mereka kemudian untuk belajar memegang pisau garpu dan melakukan kekerasan terhadap kata-kata.
***

Namun, dunia sajak bukanlah sebuah dunia dengan kewajaran yang mutlak, kewajaran yang terjadi pada realitas manusia sehari-hari.

Sajak juga memang tak diharuskan untuk mengenal adanya gramatikal. Dunia sajak adalah dunia dimana realitas murni dan realitas imajinasi terbangun dalam sebuah teks, sama-sama memiliki logika dengan pengertian yang sepadan, yaitu sebagai benang merah kata-kata. Dunia sajak adalah dunia subyektivitas. Tak salah dan tak benar, tak hitam putih selayaknya realitas murni yang kita alami.

Pembaca pun tak bisa (berhak) menganggap bahwa sajak adalah realita yang ada di sekeliling kita. Namun pembaca juga tidak bisa (berhak) menganggap bahwa sajak hanyalah imajinasi sang pengarang, sebuah realita yang tak pernah ada di sekeliling kita.

Maka, yang ada ketika membaca sebuah sajak adalah dengan membuang seluruh realita, imajinasi di kepala kita, dan menerima sebuah realita yang baru, yang ada dalam sajak itu sendiri.

V.
Bersama kecurigaan yang terus menggayut di kepala saya, beberapa sajak telah menempatkan posisi terdepan untuk membuat saya cepat-cepat menggapainya dan menyodorkannya di hadapan pembaca. Sajak-sajak itu telah menarik diri saya pada kedalaman makna yang telah dibangunnya. Setiap kata, kalimat membangunkan imajinasi saya pada sebuah tempat tertinggi, dan melelapkan saya pada keindahan-keindahan hakiki dalam pandangan saya.

VI.
Sebagaimana apa yang telah saya kemukakan, tak ada kewajaran yang mutlak dalam sebuah sajak, maka tak ada pula yang mutlak dari kecurigaan saya. Keberhasilan sajak-sajak tetap bergantung kepada “kecurigaan” para pembacanya. Maka, mari mulai mencurigai dan membaca sajak-sajak dalam buku ini!
***

Bangkalan, 13 Februari 2008

Disampaikan dalam diskusi dan bedah buku antologi puisi “DUKA MUARA”, karya tujuh penyair Komunitas RaboSore, di Joglo, UNESA, pada hari Rabu, tanggal 13 February 2008.

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati