sastra-indonesia.com
Bingkisan Sajak
siapa ngerti jodoh
aku takut kau tersesat di penjara kata
cerita lama biarkan menjadi legenda
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Kamis, 14 November 2013
Selasa, 16 Agustus 2011
Bung Tomo Bersajak
http://tempointeraktif.com/
Catata terkait: http://sastra-indonesia.com/2009/01/bung-tomo-pahlawan-penyair-indonesia/
Pu, Pu Garpu.
Mungkinkah wartawan menipu?
Sampai pembaca terbius bisu?
Yang dhalim tidak disapu,
4 sal wartawan bemandi susu. ***
BAIT di atas adalah salah satu bagian sajak yang kemudian populer dari Bung Tomo. Malam 2 Agustus itu ia mebacakan sajak-sajaknya Kepada Bangsaku (1946). Terali Sutera, dan KAMI (1966). Yang paling mendapat banyak sambutan adalah Kelompok Dinner-Set Saling Bertanya, tentang perilaku sebagian kaum wartawan kini.
Setelah dua tiga bait, selalu muncul ulangan:
“Petani-petani kecil cengkeh.
Tertawa sinis terkekeh-kekeh.
Pengisap-pengisap kretek,
Ikut protes merengek-rengek.”
Selesai bait ini, bendera merah dari kertas yang ada di tangannya dinaikkannya ke atas dan seperti yang telah diminta, hadirin meneriakkan:
“pungli, pung, pungli, pung.”
Sajak dinner-set ini dinyatakan ditujukan kepada Persatuan Wartawan Indonesia, yang beberapa waktu lalu menerima hadiah sumbangan perlengkapan alat-alat makan dari Ptobosutejo, adik seibu Presiden Suharto.
Kata Bung Tomo: “Saya mual mendengar pidato sambutan Ketua PWI Harmoko ketika menerima hadiah tersebut. Berlebihan pidatonya — hanya untuk dinner-set yang 7 juta rupiah”. Harmoko beberapa hari kemudian bilang: “Lha wong dikasih kok Ya harus menyatakan terimakasih.”
Altar Teater Luwes Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) di Tanan Ismail Marzuki Jakarta, cukup meriah dan penuh semangat. Di sisi podium, ada sebuah meriam terbuat dari kertas, patah larasnya. Kemudian tulisan: Merdeka tapi bingung ….. Bendera merah putih cukup besar terpampang disisi lain.
Bung Tomo malam itu mengenakan batik merah jambu. Biar umurnya kini sudah 57 tahun, suaranya masih lantang, mengingatkan orang pada singa corong radio yang membakar semangat kemerdekaan dulu.
Kemudian muncul Ketua Dewan Keluarga Mahasiswa (DKM) Labes Widar yang naik pentas untuk menyematkan lencana Merah Putih dan lambang Garuda Pancasila ke dada Bung Tomo. Kata Labes Widar “Di Yogya beberapa waktu yang lalu, seorang mahasiswa ditangkap karena mengenakan Merah Putih ini. Saya ingin tahu, apakah Bung Tomo akan ditangkap juga.”
Setelah Bung Tomo, tampil antara lain penyair-penyair Abdul Hadi WM, Sutardji Calzoum Bachri, Taufiq Ismail, membacakan sajak-sajak. Antara lain: Kembalikan Indonesia Padaku, sajak ‘Taufiq. Kaos bertuliskan judul sajak tersebut, cap bendera Merah Putih kecil dan Garuda Pancasila, habis terjual.
Suasana memang santai dan kacau. Untung Tomo sendiri, ketika ditanya pendapatnya tentang anak-anak muda yang bersajak-sajak dengan nyindir dan tidak jarang jorok, herkata: “daripada mereka main tembak, kan lebih baik baca sajak. Kreatif.”
03 September 1977
Sumber: http://ip52-214.cbn.net.id/id/arsip/1977/09/03/PT/mbm.19770903.PT75394.id.html
Catata terkait: http://sastra-indonesia.com/2009/01/bung-tomo-pahlawan-penyair-indonesia/
Pu, Pu Garpu.
Mungkinkah wartawan menipu?
Sampai pembaca terbius bisu?
Yang dhalim tidak disapu,
4 sal wartawan bemandi susu. ***
BAIT di atas adalah salah satu bagian sajak yang kemudian populer dari Bung Tomo. Malam 2 Agustus itu ia mebacakan sajak-sajaknya Kepada Bangsaku (1946). Terali Sutera, dan KAMI (1966). Yang paling mendapat banyak sambutan adalah Kelompok Dinner-Set Saling Bertanya, tentang perilaku sebagian kaum wartawan kini.
Setelah dua tiga bait, selalu muncul ulangan:
“Petani-petani kecil cengkeh.
Tertawa sinis terkekeh-kekeh.
Pengisap-pengisap kretek,
Ikut protes merengek-rengek.”
Selesai bait ini, bendera merah dari kertas yang ada di tangannya dinaikkannya ke atas dan seperti yang telah diminta, hadirin meneriakkan:
“pungli, pung, pungli, pung.”
Sajak dinner-set ini dinyatakan ditujukan kepada Persatuan Wartawan Indonesia, yang beberapa waktu lalu menerima hadiah sumbangan perlengkapan alat-alat makan dari Ptobosutejo, adik seibu Presiden Suharto.
Kata Bung Tomo: “Saya mual mendengar pidato sambutan Ketua PWI Harmoko ketika menerima hadiah tersebut. Berlebihan pidatonya — hanya untuk dinner-set yang 7 juta rupiah”. Harmoko beberapa hari kemudian bilang: “Lha wong dikasih kok Ya harus menyatakan terimakasih.”
Altar Teater Luwes Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) di Tanan Ismail Marzuki Jakarta, cukup meriah dan penuh semangat. Di sisi podium, ada sebuah meriam terbuat dari kertas, patah larasnya. Kemudian tulisan: Merdeka tapi bingung ….. Bendera merah putih cukup besar terpampang disisi lain.
Bung Tomo malam itu mengenakan batik merah jambu. Biar umurnya kini sudah 57 tahun, suaranya masih lantang, mengingatkan orang pada singa corong radio yang membakar semangat kemerdekaan dulu.
Kemudian muncul Ketua Dewan Keluarga Mahasiswa (DKM) Labes Widar yang naik pentas untuk menyematkan lencana Merah Putih dan lambang Garuda Pancasila ke dada Bung Tomo. Kata Labes Widar “Di Yogya beberapa waktu yang lalu, seorang mahasiswa ditangkap karena mengenakan Merah Putih ini. Saya ingin tahu, apakah Bung Tomo akan ditangkap juga.”
Setelah Bung Tomo, tampil antara lain penyair-penyair Abdul Hadi WM, Sutardji Calzoum Bachri, Taufiq Ismail, membacakan sajak-sajak. Antara lain: Kembalikan Indonesia Padaku, sajak ‘Taufiq. Kaos bertuliskan judul sajak tersebut, cap bendera Merah Putih kecil dan Garuda Pancasila, habis terjual.
Suasana memang santai dan kacau. Untung Tomo sendiri, ketika ditanya pendapatnya tentang anak-anak muda yang bersajak-sajak dengan nyindir dan tidak jarang jorok, herkata: “daripada mereka main tembak, kan lebih baik baca sajak. Kreatif.”
03 September 1977
Sumber: http://ip52-214.cbn.net.id/id/arsip/1977/09/03/PT/mbm.19770903.PT75394.id.html
Jumat, 10 Desember 2010
1975 [Sajak Robin Dos Santos Soares]
Robin Dos Santos Soares
http://www.kompasiana.com/robin
Aku merasa kesepian, kehilangan nalar, suara hati.
Tersesat di hutan-hutan hijau.
Pagi itu 7 Desember 1975, aku berlari melawan arus manusia dan binatang.
Bersembunyi di batu-batu tajam melihat kupu-kupu hitam terbang dengan bom.
Sejarah sedang bergerak dengan genosida.
Ibuku korbankan nyawanya untuk aku:
berlari dan berteriak sampai di ujung dunia.
Kamu sudah menyaksikan kematian ibumu, adik-adikmu,
saudaramu tidak tahu apa arti perang, politik dan ideologi.
Hari ini aku mendekati aroma kematian ibuku,
aku masih dalam kesunyian dengan jiwaku, jantungku yang mulai membeku.
Aku ingin berlari lagi melewati hutan-hutan hijau, bersembunyi dibalik batu-batu tajam. Mencoba mengingatkan mayat-mayat tak terhitung, berdiri di tepi gunung Matebian dengan protes terhadapa perang, pemerkosaan, pembunuhan massal.
Kini tenagaku hanya bergerak dari gubukku mengatur nafas, membuang ludah. Tanganku tidak bisa bergerak dengan pena. Hatiku tidak buta dengan sejarah yang mulai hilang bersama kotoranku disantap anjingku, babiku yang rakus setiap hari.
Patria ou Morte
http://www.kompasiana.com/robin
Aku merasa kesepian, kehilangan nalar, suara hati.
Tersesat di hutan-hutan hijau.
Pagi itu 7 Desember 1975, aku berlari melawan arus manusia dan binatang.
Bersembunyi di batu-batu tajam melihat kupu-kupu hitam terbang dengan bom.
Sejarah sedang bergerak dengan genosida.
Ibuku korbankan nyawanya untuk aku:
berlari dan berteriak sampai di ujung dunia.
Kamu sudah menyaksikan kematian ibumu, adik-adikmu,
saudaramu tidak tahu apa arti perang, politik dan ideologi.
Hari ini aku mendekati aroma kematian ibuku,
aku masih dalam kesunyian dengan jiwaku, jantungku yang mulai membeku.
Aku ingin berlari lagi melewati hutan-hutan hijau, bersembunyi dibalik batu-batu tajam. Mencoba mengingatkan mayat-mayat tak terhitung, berdiri di tepi gunung Matebian dengan protes terhadapa perang, pemerkosaan, pembunuhan massal.
Kini tenagaku hanya bergerak dari gubukku mengatur nafas, membuang ludah. Tanganku tidak bisa bergerak dengan pena. Hatiku tidak buta dengan sejarah yang mulai hilang bersama kotoranku disantap anjingku, babiku yang rakus setiap hari.
Patria ou Morte
Sajak-Sajak Fatah Yasin Noor
http://sastra-indonesia.com/
Puisi dalam Peti Jenasah
Aku menjumpaimu saat air mata itu telah mengering. Seperti puisi mati dalam peti jenasah. Tapi aku mencoba membongkar lapis demi lapis riwayat daun di situ. Seperti hujan kemarin, bau tanah dan asap dupa masih menyergapku. Aku tak percaya engkau telah tiada. Seharum bau kematian itu sendiri, dari semerbak kembang mawar dan melati yang menembus kamarku. Di sini, semakin tegas dan penuh makna saat senyum di potretmu itu terus memandangku. Dinding ikut gemetar. Padahal ribuan puisi telah kutulis atas matamu. Dan getaran jiwamu yang senantiasa bercahaya. Tak ada isyarat sebelumnya, bahwa perjumpaan mesra kita berakhir di situ.
Kalimatmu seperti ingin mendekati Tuhan. Dari tumpukan kertas yang terus menggunung, menjadi instalasi dalam rumahmu. Bayangkan bagaimana kata-kata berloncatan di situ, tak dibaca lagi. Karena ingatan semakin terbatas, dan engkau terus menggerutu soal kenangan. Mari kita terus menyimpan data itu untuk anak-cucu, katanya. Maka, tak ada yang lebih baik daripada kehidupan dan perbuatan.
2008
Tuhan dan Sungai
Seperti puisi. Masih ada Tuhan di situ. Masih terus beringsut seperti tak terpermanai. Cahaya yang juga masih menyemburat tajam dalam sengatannya. Siapa tahu di sebalah sana ada yang diam-diam meleleh. Mengeluarkan kegenitan alam yang merangsang daun untuk rebah ke tanah. Tapi ini masih
Tuhan dan Sungai
sore. Tentu saja ada yang tengah bersiap untuk turun ke kali. Sungai-sungi yang dulu menyimpan riwayat kejernihan air. Dan waktu yang terus berputar. Atas nama perubahan yang diam-diam membentuk wajahmu seperti itu. Tak bisa kembali seperti mula. Apa boleh buat, katamu, begitulah waktu. Demi waktu di mana orang-orang harus sibuk berkarya. Membongkar pikiran dan tenaga entah untuk apa. Ada kesejahteraan yang dikaitkan dengan pendapatan dari kerja keras. Sungguh sederhana, ketika dia bilang bahwa mempelajari teknik tidak harus duduk dulu di bangku sekolah.
Tapi ini masih sore, walau sebentar lagi turun malam. Artinya, matahari sebentar lagi tak menampakkan batang hidungnya lagi. Ia beringsut ke barat, tenggelam di barat. Sungguh setia sejak dulu kala, seperti engkau yang setia melukis untuk dijual. Tumbuh pertanyaan, apa artinya hidup. Engkau bisa berhenti sejenak, untuk sekian tahun tak melukis. Seperti mengundang inspirasi baru untuk bisa bekerja lagi seperti biasa. Tapi rasanya nonsens ketika tahu betapa hampa hidup ini. Hidup bagai melukis di atas air. Tapi tak apa, lebih baik begitu. Kita beruntung masih diberi kesempatan hidup. Hidup untuk lebih banyak berbuat, mengukir keringat jadi jejak-jejak yang dibaca waktu. Kenapa tidak?
2008
Puisi dalam Peti Jenasah
Aku menjumpaimu saat air mata itu telah mengering. Seperti puisi mati dalam peti jenasah. Tapi aku mencoba membongkar lapis demi lapis riwayat daun di situ. Seperti hujan kemarin, bau tanah dan asap dupa masih menyergapku. Aku tak percaya engkau telah tiada. Seharum bau kematian itu sendiri, dari semerbak kembang mawar dan melati yang menembus kamarku. Di sini, semakin tegas dan penuh makna saat senyum di potretmu itu terus memandangku. Dinding ikut gemetar. Padahal ribuan puisi telah kutulis atas matamu. Dan getaran jiwamu yang senantiasa bercahaya. Tak ada isyarat sebelumnya, bahwa perjumpaan mesra kita berakhir di situ.
Kalimatmu seperti ingin mendekati Tuhan. Dari tumpukan kertas yang terus menggunung, menjadi instalasi dalam rumahmu. Bayangkan bagaimana kata-kata berloncatan di situ, tak dibaca lagi. Karena ingatan semakin terbatas, dan engkau terus menggerutu soal kenangan. Mari kita terus menyimpan data itu untuk anak-cucu, katanya. Maka, tak ada yang lebih baik daripada kehidupan dan perbuatan.
2008
Tuhan dan Sungai
Seperti puisi. Masih ada Tuhan di situ. Masih terus beringsut seperti tak terpermanai. Cahaya yang juga masih menyemburat tajam dalam sengatannya. Siapa tahu di sebalah sana ada yang diam-diam meleleh. Mengeluarkan kegenitan alam yang merangsang daun untuk rebah ke tanah. Tapi ini masih
Tuhan dan Sungai
sore. Tentu saja ada yang tengah bersiap untuk turun ke kali. Sungai-sungi yang dulu menyimpan riwayat kejernihan air. Dan waktu yang terus berputar. Atas nama perubahan yang diam-diam membentuk wajahmu seperti itu. Tak bisa kembali seperti mula. Apa boleh buat, katamu, begitulah waktu. Demi waktu di mana orang-orang harus sibuk berkarya. Membongkar pikiran dan tenaga entah untuk apa. Ada kesejahteraan yang dikaitkan dengan pendapatan dari kerja keras. Sungguh sederhana, ketika dia bilang bahwa mempelajari teknik tidak harus duduk dulu di bangku sekolah.
Tapi ini masih sore, walau sebentar lagi turun malam. Artinya, matahari sebentar lagi tak menampakkan batang hidungnya lagi. Ia beringsut ke barat, tenggelam di barat. Sungguh setia sejak dulu kala, seperti engkau yang setia melukis untuk dijual. Tumbuh pertanyaan, apa artinya hidup. Engkau bisa berhenti sejenak, untuk sekian tahun tak melukis. Seperti mengundang inspirasi baru untuk bisa bekerja lagi seperti biasa. Tapi rasanya nonsens ketika tahu betapa hampa hidup ini. Hidup bagai melukis di atas air. Tapi tak apa, lebih baik begitu. Kita beruntung masih diberi kesempatan hidup. Hidup untuk lebih banyak berbuat, mengukir keringat jadi jejak-jejak yang dibaca waktu. Kenapa tidak?
2008
Jumat, 25 Juni 2010
Sajak-Sajak Heri Latief
http://sastrapembebasan.wordpress.com/
Bisu
apa lagi yang mesti ditulis?
jika korupsi dianggap biasa
pemimpin cuma bisa nyanyi
di panggung tak ada suaranya
kerna bukan dia yang berkuasa
Amsterdam, 19/06/2010
Budak
uang panas membakar napsu
manusia jadi budaknya napsu
Amsterdam, 20/06/2010
Pengembara
setiap mengulang tahun
aku selalu ingat pesan ibu
bukalah mata hati jika pergi
jangan pulang kerna merindu
dunia pengembara siapa berani?
Amsterdam, 19 Juni 2010
Teks itu Bicara
jika keramaian kumpulan suara
tulislah sajak sebelum sarapan
refleksi diri bukan sekedar berpuisi
siraman rohani dari sebaris puisi?
silakan percaya pada layar kaca
Amsterdam, 19/06/2010
Jaraknya Mimpi
teknologi tinggi bikin hati kita makin dekat
jarak yang beribu kaki itu tinggal kenangan
waktu yang memberi tahu tentang rindu
duka dan bahagia selalu jalan bersama
pelabuhan mimpimu ada di dunia maya
Amsterdam, 18 Juni 2010
Bisu
apa lagi yang mesti ditulis?
jika korupsi dianggap biasa
pemimpin cuma bisa nyanyi
di panggung tak ada suaranya
kerna bukan dia yang berkuasa
Amsterdam, 19/06/2010
Budak
uang panas membakar napsu
manusia jadi budaknya napsu
Amsterdam, 20/06/2010
Pengembara
setiap mengulang tahun
aku selalu ingat pesan ibu
bukalah mata hati jika pergi
jangan pulang kerna merindu
dunia pengembara siapa berani?
Amsterdam, 19 Juni 2010
Teks itu Bicara
jika keramaian kumpulan suara
tulislah sajak sebelum sarapan
refleksi diri bukan sekedar berpuisi
siraman rohani dari sebaris puisi?
silakan percaya pada layar kaca
Amsterdam, 19/06/2010
Jaraknya Mimpi
teknologi tinggi bikin hati kita makin dekat
jarak yang beribu kaki itu tinggal kenangan
waktu yang memberi tahu tentang rindu
duka dan bahagia selalu jalan bersama
pelabuhan mimpimu ada di dunia maya
Amsterdam, 18 Juni 2010
Sabtu, 05 Juni 2010
Sajak-Sajak Amien Wangsitalaja
http://www.sastra-indonesia.com/
Kembali
jika aku pantas
menuai bahgia ini
izinkan aku
kembali
dan
kusadap rahsia waktu
yang tlah merapuhkan egoku
di hadapan pesonamu
dan
seperti segarnya pagi
kuasyiki keceriaan
rona fitri
Ramadhan
kupercaya hadirmu
memperbesar kemungkinan
luruhnya angkuh
redamnya dendam
dan bersama waktu
egoku rapuh
leh pesonamu
ramadhan
Hikayat Perahu Sampan
–esti
kau menggali lukaku
sedalam kenangan sungai
aku
dengan perahu sampanku
pernah sangat setia menyibak riak
menyisir nostalgia
kala angin semilir atau kencang
kala mentari hangat atau menyengat
dan air pasang
dan air surut
begitulah
terlalu aku menyanjung sampan
menggauli tanjung
kerana bagiku
riwayat sungai
dan ketenangan
amatlah berarti
tapi kenapa
kau menggali lukaku
sedalam kenangan sungai
Bulan
intiplah bulan itu, ukhti
kerana ia tersenyum
saat kurangkum dalamnya dekap
dan kau mulai bercerita
dengan ceria
tentang tempat
yang purnama bisa makin ada makna
“di kotaku” katamu
ya, di kotamu
di tubuh kotamu
di tubuhmu
dan tidakkah kaulihat
aku sudah mulai membuka pintu
menatap kota
menatap tubuh kota
menatap tubuhmu
“ada makna” kataku
dan kau tersenyum
bersama bulan yang terlihat
dan dalamnya dekap
ya
Kembali
jika aku pantas
menuai bahgia ini
izinkan aku
kembali
dan
kusadap rahsia waktu
yang tlah merapuhkan egoku
di hadapan pesonamu
dan
seperti segarnya pagi
kuasyiki keceriaan
rona fitri
Ramadhan
kupercaya hadirmu
memperbesar kemungkinan
luruhnya angkuh
redamnya dendam
dan bersama waktu
egoku rapuh
leh pesonamu
ramadhan
Hikayat Perahu Sampan
–esti
kau menggali lukaku
sedalam kenangan sungai
aku
dengan perahu sampanku
pernah sangat setia menyibak riak
menyisir nostalgia
kala angin semilir atau kencang
kala mentari hangat atau menyengat
dan air pasang
dan air surut
begitulah
terlalu aku menyanjung sampan
menggauli tanjung
kerana bagiku
riwayat sungai
dan ketenangan
amatlah berarti
tapi kenapa
kau menggali lukaku
sedalam kenangan sungai
Bulan
intiplah bulan itu, ukhti
kerana ia tersenyum
saat kurangkum dalamnya dekap
dan kau mulai bercerita
dengan ceria
tentang tempat
yang purnama bisa makin ada makna
“di kotaku” katamu
ya, di kotamu
di tubuh kotamu
di tubuhmu
dan tidakkah kaulihat
aku sudah mulai membuka pintu
menatap kota
menatap tubuh kota
menatap tubuhmu
“ada makna” kataku
dan kau tersenyum
bersama bulan yang terlihat
dan dalamnya dekap
ya
Sajak-Sajak Persembahan Denny Mizhar
http://www.sastra-indonesia.com/
Kepada Sang Maestro Topeng Malangan
Kau Dalam Kenangan
;Mbah Karimun
Merindu waktu
kau sematkan roh
pada kayu berwajah dirimu.
Lembut tanganmu
membelah, membedah
garis-garis kehidupan
dengan rancak gemulai.
Nampak detak jantung mu
dalam bingkai foto
ketika aku pandang
saat kau menari.
Kau bangun sumber air hayati
dari guratanmu
merubah wujudmu
menjadi burung melintasi awan
;maka terbacalah
dirimu di garis cakrawala.
Di sini aku tunggu
berduaan denganmu
di tepi dunia yang beda
menggambar wajahmu
dengan harum kamboja.
Jarak antara kau
aku cukup jauh
kau tiupkan nyawa
melekat di wajahku
memainkan rindu di panggungmu.
Malang, 16 Februari 2010
Tarian Kepulangan
;Mbah Karimun
Langit gerimis
Pekat hitam
Menurunkan malaikat.
Bumi pun terbela
Mengantar pada malam duka
Kepergian nafas sukma.
Kau melintas disebuah tarian kepulangan
Memelukku yang resah akan kota bersegala warna
:Sempurnalah wajah ciptaanmu.
Kau yang pergi
kau yang hidup
kau yang menari.
Langit membuka pintu
panggung sunyi untukmu
harum kamboja pesonamu.
Malang, 15 Februari 2010
Membangun Duka
Aku tak lagi berdiri di samping nisan itu.
berkali-kali aku merenungi duka cita semalam,
sehabis angin mewartakan rintik hujan di mataku.
Aku tak lagi berdiri di samping nisan itu.
air mataku tak sanggup lagi tumpah,
sehabis nasib patah dari masaku.
Menggenggam tanah,
bau harum melati terasa.
menyimpan prasasti misteri tangan-Nya.
Membangun kembali rumahku,
dengan tanah yang aku genggam.
menghiasnya kamboja dan wangi serimpi
Rumahku tersusun
dari duka mendalam.
Sehabis kau pergi,
aku meninggalkan nisanmu.
Malang, 2010
Di Pintu Surga
terbuka sudah
rahasia surga
kau mengetuk
dengan lekuk tubuhmu
berduan sepasang wajah
melangkah masuk dengan tarian
Malang, Februari 2010
*) Mbah Karimun: Sang Maestro Topeng Malangan, Beliau telah telah berpulang kerumah Tuhan pada14/2/2010
Kepada Sang Maestro Topeng Malangan
Kau Dalam Kenangan
;Mbah Karimun
Merindu waktu
kau sematkan roh
pada kayu berwajah dirimu.
Lembut tanganmu
membelah, membedah
garis-garis kehidupan
dengan rancak gemulai.
Nampak detak jantung mu
dalam bingkai foto
ketika aku pandang
saat kau menari.
Kau bangun sumber air hayati
dari guratanmu
merubah wujudmu
menjadi burung melintasi awan
;maka terbacalah
dirimu di garis cakrawala.
Di sini aku tunggu
berduaan denganmu
di tepi dunia yang beda
menggambar wajahmu
dengan harum kamboja.
Jarak antara kau
aku cukup jauh
kau tiupkan nyawa
melekat di wajahku
memainkan rindu di panggungmu.
Malang, 16 Februari 2010
Tarian Kepulangan
;Mbah Karimun
Langit gerimis
Pekat hitam
Menurunkan malaikat.
Bumi pun terbela
Mengantar pada malam duka
Kepergian nafas sukma.
Kau melintas disebuah tarian kepulangan
Memelukku yang resah akan kota bersegala warna
:Sempurnalah wajah ciptaanmu.
Kau yang pergi
kau yang hidup
kau yang menari.
Langit membuka pintu
panggung sunyi untukmu
harum kamboja pesonamu.
Malang, 15 Februari 2010
Membangun Duka
Aku tak lagi berdiri di samping nisan itu.
berkali-kali aku merenungi duka cita semalam,
sehabis angin mewartakan rintik hujan di mataku.
Aku tak lagi berdiri di samping nisan itu.
air mataku tak sanggup lagi tumpah,
sehabis nasib patah dari masaku.
Menggenggam tanah,
bau harum melati terasa.
menyimpan prasasti misteri tangan-Nya.
Membangun kembali rumahku,
dengan tanah yang aku genggam.
menghiasnya kamboja dan wangi serimpi
Rumahku tersusun
dari duka mendalam.
Sehabis kau pergi,
aku meninggalkan nisanmu.
Malang, 2010
Di Pintu Surga
terbuka sudah
rahasia surga
kau mengetuk
dengan lekuk tubuhmu
berduan sepasang wajah
melangkah masuk dengan tarian
Malang, Februari 2010
*) Mbah Karimun: Sang Maestro Topeng Malangan, Beliau telah telah berpulang kerumah Tuhan pada14/2/2010
Sketsa-Sketsa Fajar Alayubi
http://www.sastra-indonesia.com/
Kaulah Hati
Kaulah Merkuri
di hadapan Sang Pemilik jagat raya
Kaulah hati
Wahai yang dianugrahi mahkota laksana raja Ishtar,
Mars tersipu wajahnya semerah rubi
Bumi tersanjung langit biru dan laut dalamnya
sungai yang mengalir pun jadi nadinya
Oh paras rupawan,
kecemburuan Venus selaksa hujan
keringatmu bercucur, menguap rasa sampai ke hulu
Bima Sakti
Kekasihmu bagaikan Andromeda
kecintaan Alesis pada padang gemintangnya
merengutkan keningnya
: kaulah pesirah, padangku tiada sejengkal dalam hatimu.
Kesaksian
Aku melukis bumi sirna
coklat langitnya,
hampa udaranya
burung-burung terbang menjilati senja
angannya jenuh melayang khayang
terbakar di tiap sayapnya
laku di atas rimba arang
Pantai sunyi kugurat badannya
telak rebah ia berselimut tinta hitam
Percikan warna api kusulut di punggungnya
selaksa luka dari sayap yang berkobar
agar langit tumbuh lembayung
Agar tampak tangan tak jahil mendurja alam,
ku apung batu karang sebagai bayang-bayang
; buih-buih ringan hiasan pucat pepasir.
Agitasi
Taman sedang kembang
geliat benih beranjak tingkah
sebelum kuntum, bunga hayal berbuah
kecambah muda mudah goyah
angin dari barat
ke timur membelai batuan karang
kayuh rayuan ke seribu pulau
serau nyiur sampai terberai
semak dan perdu
lelumut di batang tubuh
luluh.
“Koma” Cuma Sekali
aku belum mati
saat ini, di tempat sunyi
dimensi ketiga hampa kata
tiada larik hijau pelangi
merah delima dihitung jari
dirasa panca indra berganda
sekepal hati berbagi dua
: tuju surga atau neraka
sewindu telah di gerbang fana
mengetuk nama purwa sempurna
“aku dimana ?”
kau di depanku berduka.
Semut Pundak
Semut-semut pundak di muka dan halaman senggal-senggol mata dan pena
pagi tadi
sebelum ibu menyapu lantai manis gula, mereka sibuk juga berbenah
“cepat !” kataku
“nanti dulu,” kata ibu
“berpencar !”
kaki meja tulisku jalan pelarian
“naik !”
Kaulah Hati
Kaulah Merkuri
di hadapan Sang Pemilik jagat raya
Kaulah hati
Wahai yang dianugrahi mahkota laksana raja Ishtar,
Mars tersipu wajahnya semerah rubi
Bumi tersanjung langit biru dan laut dalamnya
sungai yang mengalir pun jadi nadinya
Oh paras rupawan,
kecemburuan Venus selaksa hujan
keringatmu bercucur, menguap rasa sampai ke hulu
Bima Sakti
Kekasihmu bagaikan Andromeda
kecintaan Alesis pada padang gemintangnya
merengutkan keningnya
: kaulah pesirah, padangku tiada sejengkal dalam hatimu.
Kesaksian
Aku melukis bumi sirna
coklat langitnya,
hampa udaranya
burung-burung terbang menjilati senja
angannya jenuh melayang khayang
terbakar di tiap sayapnya
laku di atas rimba arang
Pantai sunyi kugurat badannya
telak rebah ia berselimut tinta hitam
Percikan warna api kusulut di punggungnya
selaksa luka dari sayap yang berkobar
agar langit tumbuh lembayung
Agar tampak tangan tak jahil mendurja alam,
ku apung batu karang sebagai bayang-bayang
; buih-buih ringan hiasan pucat pepasir.
Agitasi
Taman sedang kembang
geliat benih beranjak tingkah
sebelum kuntum, bunga hayal berbuah
kecambah muda mudah goyah
angin dari barat
ke timur membelai batuan karang
kayuh rayuan ke seribu pulau
serau nyiur sampai terberai
semak dan perdu
lelumut di batang tubuh
luluh.
“Koma” Cuma Sekali
aku belum mati
saat ini, di tempat sunyi
dimensi ketiga hampa kata
tiada larik hijau pelangi
merah delima dihitung jari
dirasa panca indra berganda
sekepal hati berbagi dua
: tuju surga atau neraka
sewindu telah di gerbang fana
mengetuk nama purwa sempurna
“aku dimana ?”
kau di depanku berduka.
Semut Pundak
Semut-semut pundak di muka dan halaman senggal-senggol mata dan pena
pagi tadi
sebelum ibu menyapu lantai manis gula, mereka sibuk juga berbenah
“cepat !” kataku
“nanti dulu,” kata ibu
“berpencar !”
kaki meja tulisku jalan pelarian
“naik !”
Sabtu, 03 April 2010
Sajak-Sajak Pablo Neruda
Diterjemahkan Saut Situmorang
http://sautsitumorang.multiply.com/
Nyanyian buat Sierra Maestra
Kalau biasanya keheningan yang diharapkan dari kita saat meninggalkan
tempat sanak saudara kita dikuburkan,
maka aku minta satu menit yang riuh rendah,
sekali ini saja suara seluruh Amerika,
hanya satu menit nyanyian riuh rendah
aku minta untuk menghormati Sierra Maestra.
Marilah kita lupakan sebentar manusia:
saat ini marilah kita hormati tanah ini
yang menyembunyikan dalam gunung gunungnya yang misterius
bara api yang akan membakar padang padang prairie.
Aku merayakan hutan hutan kecil perkasa
yang mendiami bukit bukit batu karang,
malam yang penuh suara bisikan tak terartikan,
dengan kerlap kerlip cahaya bintang bintang,
keheningan telanjang hutan hutan,
misteri bangsa bangsa yang tak berbendera:
sampai semuanya mulai berdenyut,
lalu meledak jadi api membara seperti api unggun.
Lelaki lelaki berjanggut gagah perkasa turun
untuk menciptakan damai di seluruh negeri,
sekarang segalanya cerah tapi dulu
segalanya suram di Sierra Maestra:
itulah makanya kumohon satu menit saja
untuk menyanyikan Nyanyian Protes ini.
Aku mulai dengan kata kata ini
semoga diikuti di seluruh benua Amerika
“Bukalah matamu bangsa bangsa yang dihina
Sierra Maestra ada di mana mana.”
*) Sierra Maestra adalah daerah perbukitan di Kuba yang menjadi pusat perlawanan gerilyawan Komunis pimpinan Fidel Castro dan Che Guevara yang akhirnya menumbangkan kekuasaan diktator militer dukungan Amerika Serikat, Batista, di tahun 1959.
***
Kawan Itu
Kemudian Sandino memasuki hutan
dia tembakkan peluru peluru keramatnya
melawan para pelaut penyerbu
yang dilatih dan dibayar oleh New York:
bumi terbakar hangus, suara suara tembakan bergema di daunan:
orang Yankee itu tak menyangka apa yang akan terjadi:
dia berpakaian terlalu rapi untuk perang
sepatu dan senjatanya mengkilap
tapi segera dia mengerti
siapa Sandino dan Nicaragua:
kuburan buat para perampok berambut pirang:
di udara, pohon, jalan, air
pasukan gerilya Sandino di mana mana
bahkan di whiskey yang sedang dibuka,
mereka habisi dengan kematian kilat
para tentara Louisiana yang gagah perkasa itu
yang biasa menggantung mati orang orang Negro
dengan keberanian luar biasa:
duaribu laki laki berkerudung sibuk
mengurusi satu laki laki Negro, seutas tali dan sebuah pohon.
Segalanya berbeda di sini:
Sandino menyerang dan menunggu,
Sandino datang bersama malam,
dia adalah cahaya dari laut yang membunuh,
Sandino adalah menara penuh bendera,
Sandino adalah senapan penuh harapan.
Ini adalah pelajaran berbeda,
di West Point pelajaran dilakukan dengan bersih:
mereka tak pernah diajarkan di sekolah
bahwa siapa yang membunuh bisa juga dibunuh:
orang orang Amerika Serikat ini tidak pernah diajarkan
bahwa kita mencintai negeri tercinta kita yang sedih ini
dan kita akan mempertahankan bendera kita
yang dengan sakit dan cinta kita ciptakan.
Kalau mereka tidak mempelajari ini di Philadelphia
mereka mempelajarinya dengan darah di Nicaragua:
pemimpin rakyat menunggu di sana:
Augusto C. Sandino namanya.
Dan dalam nyanyian ini abadi namanya
penuh keagungan seperti sebuah ledakan tiba tiba
yang memberikan kita api dan cahaya
dalam melanjutkan perjuangannya.
(Diterjemahkan dari buku "Song of Protest, Poems by Pablo Neruda", New York, 1976)
http://sautsitumorang.multiply.com/
Nyanyian buat Sierra Maestra
Kalau biasanya keheningan yang diharapkan dari kita saat meninggalkan
tempat sanak saudara kita dikuburkan,
maka aku minta satu menit yang riuh rendah,
sekali ini saja suara seluruh Amerika,
hanya satu menit nyanyian riuh rendah
aku minta untuk menghormati Sierra Maestra.
Marilah kita lupakan sebentar manusia:
saat ini marilah kita hormati tanah ini
yang menyembunyikan dalam gunung gunungnya yang misterius
bara api yang akan membakar padang padang prairie.
Aku merayakan hutan hutan kecil perkasa
yang mendiami bukit bukit batu karang,
malam yang penuh suara bisikan tak terartikan,
dengan kerlap kerlip cahaya bintang bintang,
keheningan telanjang hutan hutan,
misteri bangsa bangsa yang tak berbendera:
sampai semuanya mulai berdenyut,
lalu meledak jadi api membara seperti api unggun.
Lelaki lelaki berjanggut gagah perkasa turun
untuk menciptakan damai di seluruh negeri,
sekarang segalanya cerah tapi dulu
segalanya suram di Sierra Maestra:
itulah makanya kumohon satu menit saja
untuk menyanyikan Nyanyian Protes ini.
Aku mulai dengan kata kata ini
semoga diikuti di seluruh benua Amerika
“Bukalah matamu bangsa bangsa yang dihina
Sierra Maestra ada di mana mana.”
*) Sierra Maestra adalah daerah perbukitan di Kuba yang menjadi pusat perlawanan gerilyawan Komunis pimpinan Fidel Castro dan Che Guevara yang akhirnya menumbangkan kekuasaan diktator militer dukungan Amerika Serikat, Batista, di tahun 1959.
***
Kawan Itu
Kemudian Sandino memasuki hutan
dia tembakkan peluru peluru keramatnya
melawan para pelaut penyerbu
yang dilatih dan dibayar oleh New York:
bumi terbakar hangus, suara suara tembakan bergema di daunan:
orang Yankee itu tak menyangka apa yang akan terjadi:
dia berpakaian terlalu rapi untuk perang
sepatu dan senjatanya mengkilap
tapi segera dia mengerti
siapa Sandino dan Nicaragua:
kuburan buat para perampok berambut pirang:
di udara, pohon, jalan, air
pasukan gerilya Sandino di mana mana
bahkan di whiskey yang sedang dibuka,
mereka habisi dengan kematian kilat
para tentara Louisiana yang gagah perkasa itu
yang biasa menggantung mati orang orang Negro
dengan keberanian luar biasa:
duaribu laki laki berkerudung sibuk
mengurusi satu laki laki Negro, seutas tali dan sebuah pohon.
Segalanya berbeda di sini:
Sandino menyerang dan menunggu,
Sandino datang bersama malam,
dia adalah cahaya dari laut yang membunuh,
Sandino adalah menara penuh bendera,
Sandino adalah senapan penuh harapan.
Ini adalah pelajaran berbeda,
di West Point pelajaran dilakukan dengan bersih:
mereka tak pernah diajarkan di sekolah
bahwa siapa yang membunuh bisa juga dibunuh:
orang orang Amerika Serikat ini tidak pernah diajarkan
bahwa kita mencintai negeri tercinta kita yang sedih ini
dan kita akan mempertahankan bendera kita
yang dengan sakit dan cinta kita ciptakan.
Kalau mereka tidak mempelajari ini di Philadelphia
mereka mempelajarinya dengan darah di Nicaragua:
pemimpin rakyat menunggu di sana:
Augusto C. Sandino namanya.
Dan dalam nyanyian ini abadi namanya
penuh keagungan seperti sebuah ledakan tiba tiba
yang memberikan kita api dan cahaya
dalam melanjutkan perjuangannya.
(Diterjemahkan dari buku "Song of Protest, Poems by Pablo Neruda", New York, 1976)
Kamis, 05 Maret 2009
Sajak-Sajak Mashuri
http://mashurii.blogspot.com/
Menanam Darah
di penghujung millenia
aku baca seraut wajah penuh nestapa
menenun waktu; tampak burung gagak, anak-anak retak
dan segala senapang
menghunus jantung dan harapan
siap mencipta merih nan panjang
aku lihat ibu turun ke huma
mencabut rumput, menyisakan beberapa tangkai jagung
katanya: ‘pakailah sandal, juga kerudung
karena segala jagung selalu bersarung’
tapi rumput selalu tumbuh di tanah
sesering babi hutan tumbuh di darah
kadang ia menyelinap pelan, berderap, menjelma siluman
mengoyak anak-anak yang terlelap di kalbu
sedangkan seluruh jagung telah kehilangan
sarung dan tongkolnya
lalu terdengar suara: ‘cangkul, cangkul, cangkul
yang dalam….”*
aku pun bisa menebak, telapak bakal meninggalkan jejak
ke segala arah
dengan darah
yang tak henti membercak
Surabaya, 2009
*) nyanyian kanak
Koordinat Kosong
terdengar suara bergetar di suatu siang:
bahwa dewa-dewa, apapun namanya, telah mencabut titah
---gelas telah pecah
ada yang bersorak di pinggir kutub
ada yang lara di sebuah pertemuan, meletup
antara garis lintang utara-selatan
dan bujur barat-timur
tercatat: koordinat kosong
menjelma titik-titik putih, hitam pun putih, hitam yang putih
tapi tafsir menjadi khianat pada kata
sabda pun terbiar di dermaga
di gigir ombak, dalam buih, dalam perih
ratusan abad: dua millenia yang sekarat
Surabaya, 2009
Sesobek Peta Dunia
di sudut peta, di sebuah dunia ketiga
seorang nelayan menepuk laut
ia tahu pepohon bakau telah mengiringi usianya
ke lampau
matanya yang mulai rabun menangkap
alam masih bersetia mendekap, meski di ruang gelap
ia mengirimkan jala, melepas anak-anak ikan
di jalan kebebasan
ia masih percaya, bahwa segala sabda
masih bermuara di laut lepas
ia mengerti musim dan mengirim
mantra-mantra, mengetuk pintu
langit ketujuh
dengan aroma pantai, buih, dan riuh
camar yang mencubit ombak
di sudut lain, ada yang ingat dongeng:
kisah-kisah besar dari alam lain, seperti dingin
dengan salju
mengelus rambut
mencair di dahi
dan mengirimkan sejuta imaji, tentang prisma
yang membias cahaya
atau piramida
dengan sudut gaibnya
yang menjinakan ular
dan bisa liar: dengan doa
dari sana
sebuah dunia telah merebut tempat
dari barat, ketika matahari tak lagi pusat
di sebuah sudut, di panggung
ketika pertunjukan sampai di ujung
layar tak sepenuhnya menggelar
montase, luka
mungkin hanya bayang-bayang
tapi bayang-bayang telah kelewat telanjang
ia menjelma hantu yang lebih menakutkan
dari sebilah pedang
dengan darah menghitam di matanya
untuk merobek peta
yang telah ditulis dengan tinta, yang disuling dari darah
Surabaya, 2009
Menanam Darah
di penghujung millenia
aku baca seraut wajah penuh nestapa
menenun waktu; tampak burung gagak, anak-anak retak
dan segala senapang
menghunus jantung dan harapan
siap mencipta merih nan panjang
aku lihat ibu turun ke huma
mencabut rumput, menyisakan beberapa tangkai jagung
katanya: ‘pakailah sandal, juga kerudung
karena segala jagung selalu bersarung’
tapi rumput selalu tumbuh di tanah
sesering babi hutan tumbuh di darah
kadang ia menyelinap pelan, berderap, menjelma siluman
mengoyak anak-anak yang terlelap di kalbu
sedangkan seluruh jagung telah kehilangan
sarung dan tongkolnya
lalu terdengar suara: ‘cangkul, cangkul, cangkul
yang dalam….”*
aku pun bisa menebak, telapak bakal meninggalkan jejak
ke segala arah
dengan darah
yang tak henti membercak
Surabaya, 2009
*) nyanyian kanak
Koordinat Kosong
terdengar suara bergetar di suatu siang:
bahwa dewa-dewa, apapun namanya, telah mencabut titah
---gelas telah pecah
ada yang bersorak di pinggir kutub
ada yang lara di sebuah pertemuan, meletup
antara garis lintang utara-selatan
dan bujur barat-timur
tercatat: koordinat kosong
menjelma titik-titik putih, hitam pun putih, hitam yang putih
tapi tafsir menjadi khianat pada kata
sabda pun terbiar di dermaga
di gigir ombak, dalam buih, dalam perih
ratusan abad: dua millenia yang sekarat
Surabaya, 2009
Sesobek Peta Dunia
di sudut peta, di sebuah dunia ketiga
seorang nelayan menepuk laut
ia tahu pepohon bakau telah mengiringi usianya
ke lampau
matanya yang mulai rabun menangkap
alam masih bersetia mendekap, meski di ruang gelap
ia mengirimkan jala, melepas anak-anak ikan
di jalan kebebasan
ia masih percaya, bahwa segala sabda
masih bermuara di laut lepas
ia mengerti musim dan mengirim
mantra-mantra, mengetuk pintu
langit ketujuh
dengan aroma pantai, buih, dan riuh
camar yang mencubit ombak
di sudut lain, ada yang ingat dongeng:
kisah-kisah besar dari alam lain, seperti dingin
dengan salju
mengelus rambut
mencair di dahi
dan mengirimkan sejuta imaji, tentang prisma
yang membias cahaya
atau piramida
dengan sudut gaibnya
yang menjinakan ular
dan bisa liar: dengan doa
dari sana
sebuah dunia telah merebut tempat
dari barat, ketika matahari tak lagi pusat
di sebuah sudut, di panggung
ketika pertunjukan sampai di ujung
layar tak sepenuhnya menggelar
montase, luka
mungkin hanya bayang-bayang
tapi bayang-bayang telah kelewat telanjang
ia menjelma hantu yang lebih menakutkan
dari sebilah pedang
dengan darah menghitam di matanya
untuk merobek peta
yang telah ditulis dengan tinta, yang disuling dari darah
Surabaya, 2009
Jumat, 27 Februari 2009
Sajak-Sajak Arsyad Indradi
http://www.republika.co.id/
http://arsyadindradi.blogspot.com/
SYAIR GURHAH
Siapa membaca syair gurdah
Di tengah malam ketika bulan memancar
Rumahrumah dan pepohonan pada tafakur
Menyingkap liriklirik yang dihampar angin
Mataku berlinangan membaca diri
Di alun terbang
Dalam dendang doa dan pujian
Bulan memancar
Bulan penuh di dalam dada
Memancar Subhanallah
Kemana kita menyempurnakan harapan
Ke sana kita menghadap menyerahkan diri
Banjrbaru, 2006
SENJA LURUH
Dangau sesak dengan cahaya redupredup
Persawahan yang lama terbengkalai
Dia terhampar di atas tumpukan jerami
Duhai lama nian menunggu
Cepatlah lepaskan tali kehidupan
Cepat ambili
Ruh yang turun di atas bumi
Yang mengandung bau cendana
Menghembus liar di padang banta
Langit berawan habiskan selaksa belalang
Terbang menjelajahi padang ilalang
Ambil daku yang membuat cinta
Yang aku sendiri merindu
Penat tiada terkira
Menanggung dalam raga
Duhai ambilkan semua warna ruhku
Ciuman kasih dan nista
Aku silau dalam cahayaku yang lelah
Burungburung kehilangan pengepak sayap
Langit dan hutan membungkus ruhku
Masuk dalam mimpi abadi
Banjarbaru, 2004
MUSAFIR
Tidak lebih yang kupinta cuma doa
Melunaskan airmata harikehari
Yang jatuh ke jejak langkah
Setiap aku menulis risalah
Perjalanan dalam puisi
Doa adalah titian
Penyeberangan
Menuju batas
Kembali ke akhir
Menyempurnakan nafas
Banjarbaru, 2006
KEMARAU
Siapa menghentak kurungkurung
ke penghabisan suara burung
jalan setapak mencari batas
hari beruap panas
menyusur suara keririang memilu
di selasela kayukayuan
sewaktu matahari menusuk
Ketika menyeberang guntung
kau berkata :
Siapa yang menghentak kurungkurung
di penghabisan suara burung
senantiasa panas menggantang
Tanah huma seperti siput dipepes
sunyi tiada berdaya
dalam letupan buah para
dikunyah matahari
Banjarbaru, 2005
http://arsyadindradi.blogspot.com/
SYAIR GURHAH
Siapa membaca syair gurdah
Di tengah malam ketika bulan memancar
Rumahrumah dan pepohonan pada tafakur
Menyingkap liriklirik yang dihampar angin
Mataku berlinangan membaca diri
Di alun terbang
Dalam dendang doa dan pujian
Bulan memancar
Bulan penuh di dalam dada
Memancar Subhanallah
Kemana kita menyempurnakan harapan
Ke sana kita menghadap menyerahkan diri
Banjrbaru, 2006
SENJA LURUH
Dangau sesak dengan cahaya redupredup
Persawahan yang lama terbengkalai
Dia terhampar di atas tumpukan jerami
Duhai lama nian menunggu
Cepatlah lepaskan tali kehidupan
Cepat ambili
Ruh yang turun di atas bumi
Yang mengandung bau cendana
Menghembus liar di padang banta
Langit berawan habiskan selaksa belalang
Terbang menjelajahi padang ilalang
Ambil daku yang membuat cinta
Yang aku sendiri merindu
Penat tiada terkira
Menanggung dalam raga
Duhai ambilkan semua warna ruhku
Ciuman kasih dan nista
Aku silau dalam cahayaku yang lelah
Burungburung kehilangan pengepak sayap
Langit dan hutan membungkus ruhku
Masuk dalam mimpi abadi
Banjarbaru, 2004
MUSAFIR
Tidak lebih yang kupinta cuma doa
Melunaskan airmata harikehari
Yang jatuh ke jejak langkah
Setiap aku menulis risalah
Perjalanan dalam puisi
Doa adalah titian
Penyeberangan
Menuju batas
Kembali ke akhir
Menyempurnakan nafas
Banjarbaru, 2006
KEMARAU
Siapa menghentak kurungkurung
ke penghabisan suara burung
jalan setapak mencari batas
hari beruap panas
menyusur suara keririang memilu
di selasela kayukayuan
sewaktu matahari menusuk
Ketika menyeberang guntung
kau berkata :
Siapa yang menghentak kurungkurung
di penghabisan suara burung
senantiasa panas menggantang
Tanah huma seperti siput dipepes
sunyi tiada berdaya
dalam letupan buah para
dikunyah matahari
Banjarbaru, 2005
Sajak-Sajak Acep Zamzam Noor
http://www2.kompas.com/
Sungai dan Muara
Kesepian telah meyakinkan kita
Bahwa setiap sudut bumi menyimpan sisi gelap
Yang berbeda. Dari getar tanganmu aku dapat meraba
Musim dingin tak pernah memadamkan matahari sepenuhnya
Sedang dari mataku kau melihat hujan segera menyusut
Lalu kita berpelukan seperti dua musim yang bertemu
Dalam kesepian yang sama. Kita menyalakan tungku di kamar
Sambil membakar seluruh pakaian dan keyakinan kita
Menjadi asap yang memenuhi ruang dan waktu
Kita tak mengundang salju turun membasahi ranjang
Tapi detik-detik menggenang dari cucuran keringat kita
Kuraba setiap lekuk tubuhmu seperti meraba setiap sudut
Bola dunia. Aku tergelincir di belahan bumi yang landai
Atau terengah di belahan lain yang berbukit-bukit
Lalu kausentuh kemarauku dengan tangan musim semimu
Hingga rumput-rumput menghijau di seluruh tubuhku
Dan kita berciuman seperti bertemunya sungai dan muara
Yang saling mengisi dan sekaligus melepaskan
Menjadi Penyair Lagi
Melva, di Karang Setra, kutemukan helai-helai rambutmu
Di lantai keramik yang licin. Aku selalu terkenang kepadamu
Setiap melihat iklan sabun, shampo atau pasta gigi
Atau setiap menyaksikan penyanyi dangdut di televisi
Kini aku sendirian di hotel ini dan merasa
Menjadi penyair lagi. Bau parfummu yang memabukkan
Tiba-tiba menyelinap lewat pintu kamar mandi
Dan menyerbuku bagaikan baris-baris puisi
Kau tahu, Melva, aku selalu gemetar oleh kata-kata
Sedang bau aneh dari tengkuk, leher dan ketiakmu itu
Telah menjelmakan kata-kata juga
Kini aku sendirian di hotel ini dan merasa
Menjadi penyair lagi. Helai-helai rambutmu yang kecoklatan
Kuletakkan dengan hati-hati di atas meja kaca
Bersama kertas, rokok dan segelas kopi. Lalu kutulis puisi
Ketika kurasakan bibirmu masih tersimpan di mulutku
Ketika suaramu masih memenuhi telinga dan pikiranku
Kutulis puisi sambil mengingat-ingat warna sepatu
Celana dalam, BH serta ikat pinggangmu
Yang dulu kautinggalkan di bawah ranjang
Sebagai ucapan selamat tinggal
Tidak, Melva, penyair tidak sedih karena ditinggalkan
Juga tidak sakit karena akhirnya selalu dikalahkan
Penyair tidak menangis karena dikhianati
Juga tidak pingsan karena mulutnya dibungkam
Penyair akan mati apabila kehilangan tenaga kata-kata
Atau kata-kata saktinya berubah menjadi prosa:
Misalkan peperangan yang tak henti-hentinya
Pembajakan, pesawat jatuh, banjir atau gempa bumi
Misalkan korupsi yang tak habis-habisnya di negeri ini
Kerusuhan, penjarahan, perkosaan atau semacamnya
O, aku sendirian di sini dan merasa menjadi penyair lagi
Perubahan
Kami menunggu seseorang
Menunggu seseorang yang membawa obor
Dan menyimpan bajak serta lunas perahu di matanya
Mengaku bukan penyair atau pegawai negeri
Berbicara dengan bahasa sederhana dan mengerti
Persoalan sehari-hari. Sudah lama kami tegang
Kami melihat arus sungai yang deras
Menyaksikan gerak air di antara batu-batu
Airmata kami runtuh juga akhirnya
Sepanjang jalan kami menundukkan kepala
Menghitung langkah kaki
Kami luluh dan kami pun bisu
Kami seperti orang-orang asing di sini
Tak tahu apapun yang akan terjadi
Kami mengubur kata-kata di dasar hati
Menyumbat kedua telinga
Perubahan yang kami rindukan
Tak kunjung terucapkan
Kau pun Tahu
Kau pun tahu, tak ada lagi cinta
Dalam pengembaraanku
Bintang-bintang yang kuburu
Semua meninggalkanku
Lampu-lampu sepanjang jalan
Padam, semua rambu seakan
Menunjuk ke arah jurang
Kau pun tahu, tak ada lagi cinta
Dalam setiap ucapanku
Suara yang masih terdengar
Berasal dari kegelapan
Kata-kata yang kusemburkan
Menjadi asing dan mengancam
Seperti bunyi senapan
Kau pun tahu, tak ada lagi cinta
Dalam puisi-puisiku
Kota telah dipenuhi papan-papan iklan
Maklumat-maklumat ditulis orang
Dengan kasar dan tergesa-gesa
Mereka yang berteriak
Tak jelas maunya apa
Kau pun tahu, tak ada lagi cinta
Dalam doa-doaku
Aku sembahyang di comberan
Menjalani hidup tanpa keyakinan
Perempuan-perempuan yang kupuja
Seperti juga para pemimpin itu --
Semuanya tak bisa dipercaya
Kau pun tahu, tak ada lagi cinta
Di negeriku yang busuk ini
Pidato dan kentut sulit dibedakan
Begitu juga tertawa dan menangis
Mereka yang lelap tidur
Bangunnya pada kesiangan
Padahal ingin disebut pahlawan
Terbelah
Pertempuran demi pertempuran telah melumpuhkanku
Sedang langit mengurungku dengan mendung kemurungannya
Tariklah sedikit ujung kerudungmu, Siti
Biar langit mengendurkan urat-uratnya dan bumi yang lelah
Sejenak istirah dari pergolakannya yang abadi
Dari bibirmu seratus patung keindahan telah dipahatkan
Sedang senyumanmu dikekalkan seribu puisi
Tapi di tanganku, Siti, kwas seperti kehilangan gema
Dalam genggamanku pena seperti kehabisan suara
Belantara nilai terlalu rumit dalam otakku
Sungai-sungai kemiskinan bermuara di mataku
Aku bukan pelukis, Siti, yang riang dalam sunyi
Bukan penyair seperti Attar atau Rumi
Mulutku busuk meniupkan bau rumah sakit
Sedang telingaku deras mengalirkan kotoran pabrik
Dunia terlalu panas bagi perasaanku yang berminyak
Singkaplah sedikit kerudungmu, Siti
Aku ingin berenang sepanjang kemurnianmu
Ingin berwuduk dalam ketulusanmu
Gerimiskanlah airmatamu, Siti
Dan hujankanlah kata-katamu agar semesta pucat
Agar langit meruntuhkan keangkuhannya di hatiku
Sekali lagi, Siti, sekali lagi
Aku bukan pelukis
Bukan penyair
Seperti Puisi
Seperti puisi dulu aku mengenalmu
Dekat danau tenang, dekat rumput ilalang
Matahari menyalakan kita
Dalam kobaran rindu. Seperti puisi aku menyentuhmu
Dengan jemari embun
Seperti puisi
Aku memandikanmu dalam pagi yang menggenang
Betapa panjang jika harus kucatat dalam kalimat
Atau kunyanyikan lewat balada
Seperti puisi gairah ini kupadatkan, rindu ini
Kukentalkan. Tahun-tahun kuringkas, abad-abad kusingkat
Negeri-negeri kulebur, kekuasaan-kekuasaan kusulap
Menjadi sekedar kesunyian
Seperti dulu aku mengenalmu dekat danau tenang
Dekat rumput ilalang
Seperti puisi yang datang dan menghilang
Jika kukenangkan sebuah pulau, laut dan langit
Alangkah jauhnya kita:
Aku telah menemukanmu dari dunia lain
Tapi kau tak kunjung menjumpaiku di lagu-lagu
Di ayat-ayat suci, di baris-baris puisi
Padahal aku dekat sekali denganmu
Bicara pada hatimu dan menjadi pakaian tidurmu
Padahal aku sering menuntunmu ke sebuah pulau
Bercerita tentang laut dan langit biru
Sungai dan Muara
Kesepian telah meyakinkan kita
Bahwa setiap sudut bumi menyimpan sisi gelap
Yang berbeda. Dari getar tanganmu aku dapat meraba
Musim dingin tak pernah memadamkan matahari sepenuhnya
Sedang dari mataku kau melihat hujan segera menyusut
Lalu kita berpelukan seperti dua musim yang bertemu
Dalam kesepian yang sama. Kita menyalakan tungku di kamar
Sambil membakar seluruh pakaian dan keyakinan kita
Menjadi asap yang memenuhi ruang dan waktu
Kita tak mengundang salju turun membasahi ranjang
Tapi detik-detik menggenang dari cucuran keringat kita
Kuraba setiap lekuk tubuhmu seperti meraba setiap sudut
Bola dunia. Aku tergelincir di belahan bumi yang landai
Atau terengah di belahan lain yang berbukit-bukit
Lalu kausentuh kemarauku dengan tangan musim semimu
Hingga rumput-rumput menghijau di seluruh tubuhku
Dan kita berciuman seperti bertemunya sungai dan muara
Yang saling mengisi dan sekaligus melepaskan
Menjadi Penyair Lagi
Melva, di Karang Setra, kutemukan helai-helai rambutmu
Di lantai keramik yang licin. Aku selalu terkenang kepadamu
Setiap melihat iklan sabun, shampo atau pasta gigi
Atau setiap menyaksikan penyanyi dangdut di televisi
Kini aku sendirian di hotel ini dan merasa
Menjadi penyair lagi. Bau parfummu yang memabukkan
Tiba-tiba menyelinap lewat pintu kamar mandi
Dan menyerbuku bagaikan baris-baris puisi
Kau tahu, Melva, aku selalu gemetar oleh kata-kata
Sedang bau aneh dari tengkuk, leher dan ketiakmu itu
Telah menjelmakan kata-kata juga
Kini aku sendirian di hotel ini dan merasa
Menjadi penyair lagi. Helai-helai rambutmu yang kecoklatan
Kuletakkan dengan hati-hati di atas meja kaca
Bersama kertas, rokok dan segelas kopi. Lalu kutulis puisi
Ketika kurasakan bibirmu masih tersimpan di mulutku
Ketika suaramu masih memenuhi telinga dan pikiranku
Kutulis puisi sambil mengingat-ingat warna sepatu
Celana dalam, BH serta ikat pinggangmu
Yang dulu kautinggalkan di bawah ranjang
Sebagai ucapan selamat tinggal
Tidak, Melva, penyair tidak sedih karena ditinggalkan
Juga tidak sakit karena akhirnya selalu dikalahkan
Penyair tidak menangis karena dikhianati
Juga tidak pingsan karena mulutnya dibungkam
Penyair akan mati apabila kehilangan tenaga kata-kata
Atau kata-kata saktinya berubah menjadi prosa:
Misalkan peperangan yang tak henti-hentinya
Pembajakan, pesawat jatuh, banjir atau gempa bumi
Misalkan korupsi yang tak habis-habisnya di negeri ini
Kerusuhan, penjarahan, perkosaan atau semacamnya
O, aku sendirian di sini dan merasa menjadi penyair lagi
Perubahan
Kami menunggu seseorang
Menunggu seseorang yang membawa obor
Dan menyimpan bajak serta lunas perahu di matanya
Mengaku bukan penyair atau pegawai negeri
Berbicara dengan bahasa sederhana dan mengerti
Persoalan sehari-hari. Sudah lama kami tegang
Kami melihat arus sungai yang deras
Menyaksikan gerak air di antara batu-batu
Airmata kami runtuh juga akhirnya
Sepanjang jalan kami menundukkan kepala
Menghitung langkah kaki
Kami luluh dan kami pun bisu
Kami seperti orang-orang asing di sini
Tak tahu apapun yang akan terjadi
Kami mengubur kata-kata di dasar hati
Menyumbat kedua telinga
Perubahan yang kami rindukan
Tak kunjung terucapkan
Kau pun Tahu
Kau pun tahu, tak ada lagi cinta
Dalam pengembaraanku
Bintang-bintang yang kuburu
Semua meninggalkanku
Lampu-lampu sepanjang jalan
Padam, semua rambu seakan
Menunjuk ke arah jurang
Kau pun tahu, tak ada lagi cinta
Dalam setiap ucapanku
Suara yang masih terdengar
Berasal dari kegelapan
Kata-kata yang kusemburkan
Menjadi asing dan mengancam
Seperti bunyi senapan
Kau pun tahu, tak ada lagi cinta
Dalam puisi-puisiku
Kota telah dipenuhi papan-papan iklan
Maklumat-maklumat ditulis orang
Dengan kasar dan tergesa-gesa
Mereka yang berteriak
Tak jelas maunya apa
Kau pun tahu, tak ada lagi cinta
Dalam doa-doaku
Aku sembahyang di comberan
Menjalani hidup tanpa keyakinan
Perempuan-perempuan yang kupuja
Seperti juga para pemimpin itu --
Semuanya tak bisa dipercaya
Kau pun tahu, tak ada lagi cinta
Di negeriku yang busuk ini
Pidato dan kentut sulit dibedakan
Begitu juga tertawa dan menangis
Mereka yang lelap tidur
Bangunnya pada kesiangan
Padahal ingin disebut pahlawan
Terbelah
Pertempuran demi pertempuran telah melumpuhkanku
Sedang langit mengurungku dengan mendung kemurungannya
Tariklah sedikit ujung kerudungmu, Siti
Biar langit mengendurkan urat-uratnya dan bumi yang lelah
Sejenak istirah dari pergolakannya yang abadi
Dari bibirmu seratus patung keindahan telah dipahatkan
Sedang senyumanmu dikekalkan seribu puisi
Tapi di tanganku, Siti, kwas seperti kehilangan gema
Dalam genggamanku pena seperti kehabisan suara
Belantara nilai terlalu rumit dalam otakku
Sungai-sungai kemiskinan bermuara di mataku
Aku bukan pelukis, Siti, yang riang dalam sunyi
Bukan penyair seperti Attar atau Rumi
Mulutku busuk meniupkan bau rumah sakit
Sedang telingaku deras mengalirkan kotoran pabrik
Dunia terlalu panas bagi perasaanku yang berminyak
Singkaplah sedikit kerudungmu, Siti
Aku ingin berenang sepanjang kemurnianmu
Ingin berwuduk dalam ketulusanmu
Gerimiskanlah airmatamu, Siti
Dan hujankanlah kata-katamu agar semesta pucat
Agar langit meruntuhkan keangkuhannya di hatiku
Sekali lagi, Siti, sekali lagi
Aku bukan pelukis
Bukan penyair
Seperti Puisi
Seperti puisi dulu aku mengenalmu
Dekat danau tenang, dekat rumput ilalang
Matahari menyalakan kita
Dalam kobaran rindu. Seperti puisi aku menyentuhmu
Dengan jemari embun
Seperti puisi
Aku memandikanmu dalam pagi yang menggenang
Betapa panjang jika harus kucatat dalam kalimat
Atau kunyanyikan lewat balada
Seperti puisi gairah ini kupadatkan, rindu ini
Kukentalkan. Tahun-tahun kuringkas, abad-abad kusingkat
Negeri-negeri kulebur, kekuasaan-kekuasaan kusulap
Menjadi sekedar kesunyian
Seperti dulu aku mengenalmu dekat danau tenang
Dekat rumput ilalang
Seperti puisi yang datang dan menghilang
Jika kukenangkan sebuah pulau, laut dan langit
Alangkah jauhnya kita:
Aku telah menemukanmu dari dunia lain
Tapi kau tak kunjung menjumpaiku di lagu-lagu
Di ayat-ayat suci, di baris-baris puisi
Padahal aku dekat sekali denganmu
Bicara pada hatimu dan menjadi pakaian tidurmu
Padahal aku sering menuntunmu ke sebuah pulau
Bercerita tentang laut dan langit biru
Kamis, 19 Februari 2009
Sajak-Sajak Deddy Arsya
http://m.kompas.com/
Toko Serba Lima Ribu
”aku masuki dirimu seperti memasuki toko serba lima ribu. aku
satu set mainan anak-anak, tusuk gigi, dan satu pak pengorek
telinga. ibuku boneka hiu gergaji, ayahku kampak bermata dua
seperti dalam cerita silat di televisi. kau ingin menyebut nama-
nama pemilik bibir yang pernah mengucapkan cinta dan hidup
dalam kenanganmu. tapi orang-orang masuk dan keluar
membawa apa saja menjauh dari pintu.”
”aku pendingan ruangan yang menempel di sudut toko itu.
seseorang, mungkin pelayan yang mengerti isyarat hati, akan
mengganti lagu dari tape di meja kasir dan menyembunyikan
satu peristiwa bunuh diri di kantong belakang. menyalakan
kipas angin di sudut lain dan menggumamkan kematian yang
dingin. tidakkah pendingin ruangan, kipas angin, dan tape di
meja kasir juga bagian yang akan dijual dari dirimu?”
”termasuk yang ingin kau lupakan: peristiwa bunuh diri itu!”
”aku membawa pacarku ke dalam dirimu suatu petang,
berbelanja boneka anjing bermata besar dengan uang pas-
pasan, dan menemukan tulang rusukku di antara gigi depannya
yang runcing. aku memelihara omong kosong dengan
mengingat hari ulang tahun kakek buyut kita yang menghilang
dalam sebuah pertempuran. pacarku akan mengulang omong
kosong itu beberapa kali, dan mengutuk kesepianku. mungkin
kepada lelaki lain yang dia kencani.”
”aku terus melubangi pohon di halamanmu dan menjulurkan
sebelah tangan untuk membuka pintu. ada yang rebah tepat di
pintu masuk di suatu hujan badai dan menyadari dengan
terlambat: ayah kita di masa lalu pernah memangkas rambut
kita sampai botak di bawah rindang pohon itu.”
”kita besar dan menemukan diri tak lagi sesederhana bunyi
ketuk yang diwakilkan suara batuk atau desir air pembasuh
kaki itu. ibu bergegas turun dan menemukanku telah telanjang
dengan tubuh warna-warni.”
”kau seperti toko serba lima ribu!”
Perburuan
"aku bayangan anjing hitam di tepi danau itu, bayangan dari
matamu, ketika bulan penuh dan riak surut ke pusat denyut."
"hantu apa yang kau pelihara hingga terjaga sepanjang malam?
jangan melibatkan aku dalam pertempuran-pertempuran
sengitmu itu lagi."
"anak rusa yang aku buru telah masuk ke dalammu. tapi anak
panah setajam apa pun tak akan melukainya. hanya getar busur
itu juga yang akan tinggal padaku."
"aku terus memelihara bayangan anjing hitam di tepi hutan
raya itu. aku tak tahu, ketika air danau penuh, ia telah sampai
ke situ. mengejarmu."
Sajak Kota Tambang
"tak pernah aku merasa dawat mataku tumpah seperti ini untuk
mencatatmu. puisi ini puisi yang menangis. aku tak bisa
menangkapmu lebih jauh lagi. aku kehilanganmu, dan kota
tambang ini terlihat lebih menyakitkan dari atas sini."
"kau tegak berdiri di simpang itu, sementara aku larut di kelok-
kelok belakang. kau bisa memilih sementara aku dibawa
kembara tak tentu tujuan."
"aku telah membunyikan tambur di pagi buta dengan penuh
suka cita untuk mengusir kesepian hujan yang mengirisku di
bawah sana. berhentilah bersekolah sehari atau dua hari ini, aku
akan mengutarakan seluruh cita-cita dan tertidur mati. kau
boleh pergi ke manapun setelah itu."
"aku memasuki lorong-lorong itu dengan kaki yang luka. aku
membawa nyanyian televisi yang membuat ginjalku tambah
buruk, seperti suara kelelawar dan bau udara terkurung itu.
sementara kau ingin mendesakkan ke kepalaku sakit yang lain."
"aku ke rumah sakit sepekan berikutnya, dan mendapati dirimu
berenang-renang dalam tabung oksigen. aku terjerat selang-
selang infus, dan menggigit kabel-kabel pengeras suara yang
memperdengarkan ceramah agama setiap pagi sehabis jam lima."
"aku telah mencongkel mataku sendiri sebagai lampu atau
sebagai sarapan pagimu. tetapi surga dan neraka hadir bersisian
dalam surat kabar yang tiba tinggihari."
"aku sering kehabisan udara untuk bernafas. lorong dalam
dirimu begitu panjang dan jauh. kita merasa lebih baik
sendirian. kita mestinya memelihara jarak itu. melupakan cinta
yang perlahan membusuk di rabu."
"aku tak lagi percaya pada impianmu yang menggebu-gebu.
juga pada mata yang bercahaya di dalam sana. kita sebaiknya
memelihara omong kosong untuk merasa bahagia. kita tak akan
lagi bergairah memandang diri masing-masing."
"tubuh kita semakin hitam. udara terasa. kota tambang itu
semakin diam. aku dari atas sini, sudah bukan suamimu lagi."
Toko Serba Lima Ribu
”aku masuki dirimu seperti memasuki toko serba lima ribu. aku
satu set mainan anak-anak, tusuk gigi, dan satu pak pengorek
telinga. ibuku boneka hiu gergaji, ayahku kampak bermata dua
seperti dalam cerita silat di televisi. kau ingin menyebut nama-
nama pemilik bibir yang pernah mengucapkan cinta dan hidup
dalam kenanganmu. tapi orang-orang masuk dan keluar
membawa apa saja menjauh dari pintu.”
”aku pendingan ruangan yang menempel di sudut toko itu.
seseorang, mungkin pelayan yang mengerti isyarat hati, akan
mengganti lagu dari tape di meja kasir dan menyembunyikan
satu peristiwa bunuh diri di kantong belakang. menyalakan
kipas angin di sudut lain dan menggumamkan kematian yang
dingin. tidakkah pendingin ruangan, kipas angin, dan tape di
meja kasir juga bagian yang akan dijual dari dirimu?”
”termasuk yang ingin kau lupakan: peristiwa bunuh diri itu!”
”aku membawa pacarku ke dalam dirimu suatu petang,
berbelanja boneka anjing bermata besar dengan uang pas-
pasan, dan menemukan tulang rusukku di antara gigi depannya
yang runcing. aku memelihara omong kosong dengan
mengingat hari ulang tahun kakek buyut kita yang menghilang
dalam sebuah pertempuran. pacarku akan mengulang omong
kosong itu beberapa kali, dan mengutuk kesepianku. mungkin
kepada lelaki lain yang dia kencani.”
”aku terus melubangi pohon di halamanmu dan menjulurkan
sebelah tangan untuk membuka pintu. ada yang rebah tepat di
pintu masuk di suatu hujan badai dan menyadari dengan
terlambat: ayah kita di masa lalu pernah memangkas rambut
kita sampai botak di bawah rindang pohon itu.”
”kita besar dan menemukan diri tak lagi sesederhana bunyi
ketuk yang diwakilkan suara batuk atau desir air pembasuh
kaki itu. ibu bergegas turun dan menemukanku telah telanjang
dengan tubuh warna-warni.”
”kau seperti toko serba lima ribu!”
Perburuan
"aku bayangan anjing hitam di tepi danau itu, bayangan dari
matamu, ketika bulan penuh dan riak surut ke pusat denyut."
"hantu apa yang kau pelihara hingga terjaga sepanjang malam?
jangan melibatkan aku dalam pertempuran-pertempuran
sengitmu itu lagi."
"anak rusa yang aku buru telah masuk ke dalammu. tapi anak
panah setajam apa pun tak akan melukainya. hanya getar busur
itu juga yang akan tinggal padaku."
"aku terus memelihara bayangan anjing hitam di tepi hutan
raya itu. aku tak tahu, ketika air danau penuh, ia telah sampai
ke situ. mengejarmu."
Sajak Kota Tambang
"tak pernah aku merasa dawat mataku tumpah seperti ini untuk
mencatatmu. puisi ini puisi yang menangis. aku tak bisa
menangkapmu lebih jauh lagi. aku kehilanganmu, dan kota
tambang ini terlihat lebih menyakitkan dari atas sini."
"kau tegak berdiri di simpang itu, sementara aku larut di kelok-
kelok belakang. kau bisa memilih sementara aku dibawa
kembara tak tentu tujuan."
"aku telah membunyikan tambur di pagi buta dengan penuh
suka cita untuk mengusir kesepian hujan yang mengirisku di
bawah sana. berhentilah bersekolah sehari atau dua hari ini, aku
akan mengutarakan seluruh cita-cita dan tertidur mati. kau
boleh pergi ke manapun setelah itu."
"aku memasuki lorong-lorong itu dengan kaki yang luka. aku
membawa nyanyian televisi yang membuat ginjalku tambah
buruk, seperti suara kelelawar dan bau udara terkurung itu.
sementara kau ingin mendesakkan ke kepalaku sakit yang lain."
"aku ke rumah sakit sepekan berikutnya, dan mendapati dirimu
berenang-renang dalam tabung oksigen. aku terjerat selang-
selang infus, dan menggigit kabel-kabel pengeras suara yang
memperdengarkan ceramah agama setiap pagi sehabis jam lima."
"aku telah mencongkel mataku sendiri sebagai lampu atau
sebagai sarapan pagimu. tetapi surga dan neraka hadir bersisian
dalam surat kabar yang tiba tinggihari."
"aku sering kehabisan udara untuk bernafas. lorong dalam
dirimu begitu panjang dan jauh. kita merasa lebih baik
sendirian. kita mestinya memelihara jarak itu. melupakan cinta
yang perlahan membusuk di rabu."
"aku tak lagi percaya pada impianmu yang menggebu-gebu.
juga pada mata yang bercahaya di dalam sana. kita sebaiknya
memelihara omong kosong untuk merasa bahagia. kita tak akan
lagi bergairah memandang diri masing-masing."
"tubuh kita semakin hitam. udara terasa. kota tambang itu
semakin diam. aku dari atas sini, sudah bukan suamimu lagi."
Minggu, 21 Desember 2008
Sajak-Sajak Sayyid Madany Syani
http://www.lampungpost.com/
Perempuan Ilalang
;Dian Hartati
masih terjagakah kau wahai perempuan ilalang
menempa kesetiaan pada keriut angin musim berkabut
dini hari yang membawakan lilin ke hadapanmu
menghembuskan rasa sayang
di pelipis dan ubun-ubunmu
perempuan yang dihembus garis waktu
menepi ke dalam bilik dan bersemedi
hingga waktu tidak lagi dingin terhadapnya
perempuan ilalang, meruap
hingga ke rusuk zaman
Rumah Cinta, Juni 2008
Perempuan Ilalang
;nta
;semisal sepi yang menempuh angan
berkelindan mencapai waktu dengan
kekosongan
laut merah tembaga
menyepuh yang terkelupas dalam hati
dengan kesendiriannya
siapa menjemput siapa!
senyum yang legit, ditiriskan melalui ilalang
rimbun memenuhi pagar
hanya perempuan dalam kenestapaan
menunggu waktu
menunggu, sang kekasih
di pintu pantai yang menggebu
sementara debu masih menderu
dedaun dan ranting-ranting kering
mendesau
melelahkan ilalang dalam pertapaannya
siapa menemu siapa!
perempuan terbujur di atas dipan
menempa kesengsaraan
merajut kesetiaan
dalam dada, dalam hati yang riskan
Rumah Cinta, September 2008
Aku Menunggumu di Sisi Keramaian
;yandre mariandiko
musim bermain itu kau habiskan dalam rumah
tak ada ibu, tak ada ayah
menikam debu dan bekas akar lilin yang tumpah
sementara, di tanah lapang belakang rumah
anak-anak sibuk bermain bola
sambil menunggu kacang kuning dan semangka berbuah
riuh rendah
kau merajut kesepian itu dengan angan
tanpa pangan dan usiran guru ngaji di mesjid
ketika kau tak pandai meraba huruf ba
keramaian menjadi asing
bahkan dengan debur ombak pesisir sekalipun
kau rindu akan kehadiran ayah
tangis pun kau titipkan kepada pengendara jauh
dengan harap bisa diterima oleh ibu
namun, tangismu begitu kering
ditelan udara pagi yang menghapus mimpimu tentang keramaian
kau pun bergegas untuk ke sekolah
mungkin harap dengan pertemuan itu
mungkin juga hanya kekosongan yang harus kau lakoni
setiap hari
Rumah Cinta, November 2008
Ngiangmu
;Rudi Datuak
kau telah bertemu dengan nasib
genggaman yang menirukan igau
hujan menikam darah
dan aku ingat semasa kita berteduh
dalam ruang kopi yang hangat
kurindu gumammu sahabat
menebas pilu di antara jalanan yang rawan
dan kau berceloteh tentang masa depan
yang begitu suram kurasa
ngiang suara yang tertuba
cium garis tanganmu yang swarga
dimana kau menjemput nasib
dengan gegas, dan bertemu raib
yang tak dapat kau tolak
oh langit, dengan darah tergenang
menghitung pertanda sebagai pasi
dan wajahmu jatuh dalam kental kopi
yang kuseruput semalaman
kau telah berkawan dengan kafan
meniadakan nafas dan retak tangis kawan-kawan
rapal doa dan igau yang jemu
tentang masa depan
selamat jalan!
Rumah Cinta, November 2008
Perempuan Ilalang
;Dian Hartati
masih terjagakah kau wahai perempuan ilalang
menempa kesetiaan pada keriut angin musim berkabut
dini hari yang membawakan lilin ke hadapanmu
menghembuskan rasa sayang
di pelipis dan ubun-ubunmu
perempuan yang dihembus garis waktu
menepi ke dalam bilik dan bersemedi
hingga waktu tidak lagi dingin terhadapnya
perempuan ilalang, meruap
hingga ke rusuk zaman
Rumah Cinta, Juni 2008
Perempuan Ilalang
;nta
;semisal sepi yang menempuh angan
berkelindan mencapai waktu dengan
kekosongan
laut merah tembaga
menyepuh yang terkelupas dalam hati
dengan kesendiriannya
siapa menjemput siapa!
senyum yang legit, ditiriskan melalui ilalang
rimbun memenuhi pagar
hanya perempuan dalam kenestapaan
menunggu waktu
menunggu, sang kekasih
di pintu pantai yang menggebu
sementara debu masih menderu
dedaun dan ranting-ranting kering
mendesau
melelahkan ilalang dalam pertapaannya
siapa menemu siapa!
perempuan terbujur di atas dipan
menempa kesengsaraan
merajut kesetiaan
dalam dada, dalam hati yang riskan
Rumah Cinta, September 2008
Aku Menunggumu di Sisi Keramaian
;yandre mariandiko
musim bermain itu kau habiskan dalam rumah
tak ada ibu, tak ada ayah
menikam debu dan bekas akar lilin yang tumpah
sementara, di tanah lapang belakang rumah
anak-anak sibuk bermain bola
sambil menunggu kacang kuning dan semangka berbuah
riuh rendah
kau merajut kesepian itu dengan angan
tanpa pangan dan usiran guru ngaji di mesjid
ketika kau tak pandai meraba huruf ba
keramaian menjadi asing
bahkan dengan debur ombak pesisir sekalipun
kau rindu akan kehadiran ayah
tangis pun kau titipkan kepada pengendara jauh
dengan harap bisa diterima oleh ibu
namun, tangismu begitu kering
ditelan udara pagi yang menghapus mimpimu tentang keramaian
kau pun bergegas untuk ke sekolah
mungkin harap dengan pertemuan itu
mungkin juga hanya kekosongan yang harus kau lakoni
setiap hari
Rumah Cinta, November 2008
Ngiangmu
;Rudi Datuak
kau telah bertemu dengan nasib
genggaman yang menirukan igau
hujan menikam darah
dan aku ingat semasa kita berteduh
dalam ruang kopi yang hangat
kurindu gumammu sahabat
menebas pilu di antara jalanan yang rawan
dan kau berceloteh tentang masa depan
yang begitu suram kurasa
ngiang suara yang tertuba
cium garis tanganmu yang swarga
dimana kau menjemput nasib
dengan gegas, dan bertemu raib
yang tak dapat kau tolak
oh langit, dengan darah tergenang
menghitung pertanda sebagai pasi
dan wajahmu jatuh dalam kental kopi
yang kuseruput semalaman
kau telah berkawan dengan kafan
meniadakan nafas dan retak tangis kawan-kawan
rapal doa dan igau yang jemu
tentang masa depan
selamat jalan!
Rumah Cinta, November 2008
Kamis, 18 Desember 2008
Sajak-Sajak Mashuri
http://mashurii.blogspot.com/
Doa Buat Pelacur yang Terbakar Semalam
sebuah pagi menghardikku dengan sepi
aku pun menghadirkan koran pagi, sepotong ubi
juga secangkir kopi
di halaman depan, anjing dan kucing berlari-lari
di halaman depan koran, tertulis: ‘pelacur mampus
hangus dilalap api’
aku ingat kebakaran semalam di layar televisi sialan
---api dengan jalang mengamuk rumah bordil
para perempuan hibuk berlari sambil bugil
tapi ada yang seperti Sita, diam terpanggang
kini, jiwaku pun menggigil
aku raih gorengan ubi, tapi ia jelma potongan tubuh tak rapi
aku angkat kopi, ia pun jadi darah hitam dan mendidih
karena ular di perutku kelewat lapar, aku tak ambil peduli
aku lahap tubuh hangus itu, juga darah beku
aku terus saja memamahnya seperti seekor kambing
yang tak lelah menggerakkan gerahamnya
dan kesepian pagi itu pun pecah di perutku;
ada kucing dan anjing berlari-lari di ususku, aku juga mencium
bau tubuh pelacur hangus di usus buntu…
aku lalu berdoa, “semoga pelacur yang terkubur bersama cinta itu
masuk surga”
aku pun berharap agar ia masih bisa melepaskan dahaga
kucing dan anjing yang berkejaran di perutku
yang sakitnya semakin tak terkira…
Surabaya, 2008
Seorang Perempuan Muda untuk Hari Tua
perempuan berkulit kencana itu menata batu di hatimu
meski jemarimu jompo untuk menyangga lengan mimpi,
kau masih bermimpi: kau seorang pangeran teruna
menunggang kuda putih, mengokang senapang
ke arah rusa berlari kencang
---dan begitu banyak penjudi yang bertaruh
rusa itu dirimu atau perempuan muda itu
tapi sesumbarmu membuat seluruh hutan beku:
‘akulah pemburu yang rakus daging mentah
lihatlah betapa batu-batu itu telah menjadi rumah
tempatku bertolak dan berpulang…
aku akan membidik binatang itu tepat di kelaminnya
agar kelelakianku bisa bersuara….’
tapi siapa percaya pada suara yang keluar
dari kerongkongan renta ---suara yang tak bisa menyapa
dirinya sendiri
bahkan kulitmu pun kertas tisu bergelambir
dengan kaki seperti mesin yang harus langsir
setelah telanjang
dan kau menyaksikan tubuh perempuan itu kejang
sendiri di ranjang
ia pun berbaju
zirah, mengiringi keberangkatanmu yang terbata
ke rimba buruan, tempat anganmu berpulang
pada kelamin lecet
sambil bernyanyi ‘gugur bunga’
yang terpeleset
‘telah gugur kejantananku….’
kau menatapnya dengan mata terpejam
dan berangan baju logam itu tenggelam ke lautan asam
dan kau bisa menyaksikan sebentuk tubuh melepuh
dan erangnya membuat seluruh sendimu rapuh
---para penjudi mengangkat cawan arak,
bersulang pada jejak
: tubuhmu berubah
ditumbuhi bulu, berjalan merangkak
dengan kemaluan bengkak oleh peluru…
Surabaya, 2008
Peristiwa Luka
di akhir 1400, kau mencatat peristiwa luka
--ingatan-ingatan dihancurkan, kata terpenggal,
juga rindu terjungkal ke kelam waktu…
apa yang tersisa, kecuali senyap yang kelewat batas
kecuali harap yang kelewat gelap
juga abjad-abjad membatu…
ada yang beku di ubunmu
seperti tetes es ---yang tak mungkin mencair
meski matahari kau undang sebagai tamu
dan duduk di tamanmu
tapi kau mencatat lewat bibir bertabir
lewat sakit yang berulir, juga nestapa yang memuncak
ke batas tiada ---duka yang tak pernah berbilang
angka
kisah-kisah itu tumpah ruah
tapi terusir ke pinggir tanah
terguling ke kawah
yang dengan hikmat kau sebut sejarah
kau lihat panji lain berkibar
sebentuk bibir berikrar: sebuah dunia baru
yang tumbuh dengan sayap-sayap kekar
telah memacu nadi untuk lari atau berposisi
di akhir 1400 itu, kau lihat angin menggunting
pohon asam
sebatang tumbang di tepi jalan
sebatang lain ditanam di gigir pegunungan
lewat desir nyiur, kau saksikan pesisir mengalir
dan matamu pun berair, karena anyir darah
tak kunjung bersudah
dari pelupukmu yang berwindu gelisah
agar kau lupa lara, kau khianati diri
sambil terus bersetia melabuh mimpi
meski lewat sepi
lewat cakap tak terkatakan, tak terwartakan
dengan gerak dan pandang
bahkan cukup hanya dengan diam
Surabaya, 2008
Doa Buat Pelacur yang Terbakar Semalam
sebuah pagi menghardikku dengan sepi
aku pun menghadirkan koran pagi, sepotong ubi
juga secangkir kopi
di halaman depan, anjing dan kucing berlari-lari
di halaman depan koran, tertulis: ‘pelacur mampus
hangus dilalap api’
aku ingat kebakaran semalam di layar televisi sialan
---api dengan jalang mengamuk rumah bordil
para perempuan hibuk berlari sambil bugil
tapi ada yang seperti Sita, diam terpanggang
kini, jiwaku pun menggigil
aku raih gorengan ubi, tapi ia jelma potongan tubuh tak rapi
aku angkat kopi, ia pun jadi darah hitam dan mendidih
karena ular di perutku kelewat lapar, aku tak ambil peduli
aku lahap tubuh hangus itu, juga darah beku
aku terus saja memamahnya seperti seekor kambing
yang tak lelah menggerakkan gerahamnya
dan kesepian pagi itu pun pecah di perutku;
ada kucing dan anjing berlari-lari di ususku, aku juga mencium
bau tubuh pelacur hangus di usus buntu…
aku lalu berdoa, “semoga pelacur yang terkubur bersama cinta itu
masuk surga”
aku pun berharap agar ia masih bisa melepaskan dahaga
kucing dan anjing yang berkejaran di perutku
yang sakitnya semakin tak terkira…
Surabaya, 2008
Seorang Perempuan Muda untuk Hari Tua
perempuan berkulit kencana itu menata batu di hatimu
meski jemarimu jompo untuk menyangga lengan mimpi,
kau masih bermimpi: kau seorang pangeran teruna
menunggang kuda putih, mengokang senapang
ke arah rusa berlari kencang
---dan begitu banyak penjudi yang bertaruh
rusa itu dirimu atau perempuan muda itu
tapi sesumbarmu membuat seluruh hutan beku:
‘akulah pemburu yang rakus daging mentah
lihatlah betapa batu-batu itu telah menjadi rumah
tempatku bertolak dan berpulang…
aku akan membidik binatang itu tepat di kelaminnya
agar kelelakianku bisa bersuara….’
tapi siapa percaya pada suara yang keluar
dari kerongkongan renta ---suara yang tak bisa menyapa
dirinya sendiri
bahkan kulitmu pun kertas tisu bergelambir
dengan kaki seperti mesin yang harus langsir
setelah telanjang
dan kau menyaksikan tubuh perempuan itu kejang
sendiri di ranjang
ia pun berbaju
zirah, mengiringi keberangkatanmu yang terbata
ke rimba buruan, tempat anganmu berpulang
pada kelamin lecet
sambil bernyanyi ‘gugur bunga’
yang terpeleset
‘telah gugur kejantananku….’
kau menatapnya dengan mata terpejam
dan berangan baju logam itu tenggelam ke lautan asam
dan kau bisa menyaksikan sebentuk tubuh melepuh
dan erangnya membuat seluruh sendimu rapuh
---para penjudi mengangkat cawan arak,
bersulang pada jejak
: tubuhmu berubah
ditumbuhi bulu, berjalan merangkak
dengan kemaluan bengkak oleh peluru…
Surabaya, 2008
Peristiwa Luka
di akhir 1400, kau mencatat peristiwa luka
--ingatan-ingatan dihancurkan, kata terpenggal,
juga rindu terjungkal ke kelam waktu…
apa yang tersisa, kecuali senyap yang kelewat batas
kecuali harap yang kelewat gelap
juga abjad-abjad membatu…
ada yang beku di ubunmu
seperti tetes es ---yang tak mungkin mencair
meski matahari kau undang sebagai tamu
dan duduk di tamanmu
tapi kau mencatat lewat bibir bertabir
lewat sakit yang berulir, juga nestapa yang memuncak
ke batas tiada ---duka yang tak pernah berbilang
angka
kisah-kisah itu tumpah ruah
tapi terusir ke pinggir tanah
terguling ke kawah
yang dengan hikmat kau sebut sejarah
kau lihat panji lain berkibar
sebentuk bibir berikrar: sebuah dunia baru
yang tumbuh dengan sayap-sayap kekar
telah memacu nadi untuk lari atau berposisi
di akhir 1400 itu, kau lihat angin menggunting
pohon asam
sebatang tumbang di tepi jalan
sebatang lain ditanam di gigir pegunungan
lewat desir nyiur, kau saksikan pesisir mengalir
dan matamu pun berair, karena anyir darah
tak kunjung bersudah
dari pelupukmu yang berwindu gelisah
agar kau lupa lara, kau khianati diri
sambil terus bersetia melabuh mimpi
meski lewat sepi
lewat cakap tak terkatakan, tak terwartakan
dengan gerak dan pandang
bahkan cukup hanya dengan diam
Surabaya, 2008
Rabu, 03 Desember 2008
Sajak-Sajak Bernando J Sujibto
http://www.padangekspres.co.id/
PROSESI XXV
tubuh ini adalah bastar di sebuah altar yang dingin
menjumpai hari-hari seperti patung di malam buta
lengking percakapan demi percakapan kaum paria tertelan
gerhana dan malam celaka eksodus ke kampung ingatan
padamkan matamu, padamkan mataku, rilke
aku akan kembali kepada kepekatan hikayat nenek moyang
menyerahkan tubuh kepada bunga-bunga musim di jalannya
memeram reguk-keminyan dan ritual agung di sebuah goa
tanpa borgol dan kunci-kunci keserakahan tengek dunia
gema doa menajamkan kilap batu akik, juga sorot mata kita
menembus dinding batu dan langit yang membuka selangkang
jalan-jalan menawarkan bunga kepada para pelayatnya
sumarah juntai tetangkai bulan-bulan terbuai, aduhai....
nyalakan mataku, nyalakan matamu, rilke
aku akan menjemputmu dengan nyala mata pelangi
mengajakmu kembali kepada masa silam kita sendiri
di sini akan tergali jalan-jalan takdir yang tak terhenti
2007/2008
Lambai Nyiur Teluk Bayur, ii
1/
liuk nyiur berderai
ke simpang lambai
terberai setangkai
jatuh tergadai lebai
2/
jika laut tak lagi mengombak
pasir karang menabung maut
bukan cuma rambut terjambak
ingatan jua lumpuh berlumut
3/
ke rantau jangan bawa pisau
tanah rantau leluhur ibu jua
jika laut kabarkan segala risau
kembali, tanah tak ada dusta
4/
lambai nyiur tersekat diam
di lembar senja yang karam
tubuhmu makin menghitam
apa yang dipasrahkab malam?
2008
Mengejar Senja -sujoyoko
1/
Senja diam di sebuah stasiun
Ataupun di ujung dermaga seberang
Tanpa lambai selain kedip gugur alismu
Senja tak pernah beranjak menunggu
Menguji kesetiaan di jalan yang simpang
Ada aroma keminyan dan rekah kembang
Sesekali peluit dingin meniup gugu
Saat ini, apa yang hendak dirisaukan
Dari akhir matahari menjelang malam
Untuk sesuatu yang menunggu?
2/
Tubuh kita berlarian ke pesisir selatan
Mengejar senja yang akan karam di lautmu
Di sini langit terbakar, bisikmu
Gunung-gunung melepas cadar
Menyaksikan perjumpaan
Melunaskan ingatan
Tak perlu kembali ke pulau ini lagi, pesanmu
Setelah matahari berkubur di mata kita masing-masing
2008
Sumur Kecil di Ngalau Indah
dari balik bukit itu ada bisik rancak
memanggil rinduku kepada hijau semak
sisa gerimis mencair dari julur bibir ilalang
semak membuka selangkang jalan-jalan lapang
di ujung lembah sebuah lereng sawah
bayanganku berkaca-kaca ke dalam lubuk
air sumur kecil yang mengalir sendiri ke bawah
kaki bukit yang mulai ranggas—ke akar-akar
mata air sumur kecil itu dari akar-akar
menjemput laut dari juntai kedipannya
kualirkan darahku ke lubukmu yang entah
menggali palung istirah dari dasar jantung
kepada rukuk dhuhur-ashar yang ku-qashar
tanah merekapku seperti akar-akar
hapus wajah asinku hingga ke pucuk
aku akan kembali kepada kuncup
sumur kecil di sebuah bukit mungil
sumur kecil mencipta sungai
memalung lautan sendiri
gelombangnya berdzikir
sederas darah jantungku
Payakumbuh, April 2008
PROSESI XXV
tubuh ini adalah bastar di sebuah altar yang dingin
menjumpai hari-hari seperti patung di malam buta
lengking percakapan demi percakapan kaum paria tertelan
gerhana dan malam celaka eksodus ke kampung ingatan
padamkan matamu, padamkan mataku, rilke
aku akan kembali kepada kepekatan hikayat nenek moyang
menyerahkan tubuh kepada bunga-bunga musim di jalannya
memeram reguk-keminyan dan ritual agung di sebuah goa
tanpa borgol dan kunci-kunci keserakahan tengek dunia
gema doa menajamkan kilap batu akik, juga sorot mata kita
menembus dinding batu dan langit yang membuka selangkang
jalan-jalan menawarkan bunga kepada para pelayatnya
sumarah juntai tetangkai bulan-bulan terbuai, aduhai....
nyalakan mataku, nyalakan matamu, rilke
aku akan menjemputmu dengan nyala mata pelangi
mengajakmu kembali kepada masa silam kita sendiri
di sini akan tergali jalan-jalan takdir yang tak terhenti
2007/2008
Lambai Nyiur Teluk Bayur, ii
1/
liuk nyiur berderai
ke simpang lambai
terberai setangkai
jatuh tergadai lebai
2/
jika laut tak lagi mengombak
pasir karang menabung maut
bukan cuma rambut terjambak
ingatan jua lumpuh berlumut
3/
ke rantau jangan bawa pisau
tanah rantau leluhur ibu jua
jika laut kabarkan segala risau
kembali, tanah tak ada dusta
4/
lambai nyiur tersekat diam
di lembar senja yang karam
tubuhmu makin menghitam
apa yang dipasrahkab malam?
2008
Mengejar Senja -sujoyoko
1/
Senja diam di sebuah stasiun
Ataupun di ujung dermaga seberang
Tanpa lambai selain kedip gugur alismu
Senja tak pernah beranjak menunggu
Menguji kesetiaan di jalan yang simpang
Ada aroma keminyan dan rekah kembang
Sesekali peluit dingin meniup gugu
Saat ini, apa yang hendak dirisaukan
Dari akhir matahari menjelang malam
Untuk sesuatu yang menunggu?
2/
Tubuh kita berlarian ke pesisir selatan
Mengejar senja yang akan karam di lautmu
Di sini langit terbakar, bisikmu
Gunung-gunung melepas cadar
Menyaksikan perjumpaan
Melunaskan ingatan
Tak perlu kembali ke pulau ini lagi, pesanmu
Setelah matahari berkubur di mata kita masing-masing
2008
Sumur Kecil di Ngalau Indah
dari balik bukit itu ada bisik rancak
memanggil rinduku kepada hijau semak
sisa gerimis mencair dari julur bibir ilalang
semak membuka selangkang jalan-jalan lapang
di ujung lembah sebuah lereng sawah
bayanganku berkaca-kaca ke dalam lubuk
air sumur kecil yang mengalir sendiri ke bawah
kaki bukit yang mulai ranggas—ke akar-akar
mata air sumur kecil itu dari akar-akar
menjemput laut dari juntai kedipannya
kualirkan darahku ke lubukmu yang entah
menggali palung istirah dari dasar jantung
kepada rukuk dhuhur-ashar yang ku-qashar
tanah merekapku seperti akar-akar
hapus wajah asinku hingga ke pucuk
aku akan kembali kepada kuncup
sumur kecil di sebuah bukit mungil
sumur kecil mencipta sungai
memalung lautan sendiri
gelombangnya berdzikir
sederas darah jantungku
Payakumbuh, April 2008
Jumat, 28 November 2008
Sajak-Sajak Bernando J Sujibto
http://darisebuahsudut.blogspot.com/
Semestinya Hijau
semestinya hijau daun yang jatuh sekalipun
jika kuning akan dikubur tanah
dan membekukan batu-batu sebagai tanda
semestinya hijau yang tumbuh di kepala ini
jika putih akan menghantarkan kepada basi
dan menanggalkan kepada yang tak dikenal
semestinya hijau
engkau kembali
semestinya hijau
aku menyapamu
2008
Selalu
jika tiba-tiba datang ke sebuah ruang yang sama, dimana kita merasa tidak pernah bisa melepasnya benar-benar, saat itu pula saya tidak bisa menemukan apapun selain yang sudah-sudah.
jika hidup ibarat sebuah kereta--berjalan dan tidak pernah kembali--mungkin yang perlu direnungi bahwa hidup juga standing still, terdiam dan tidak jarang mengulang, jika tidak mau dikatakan selalu. ketika saat begini, yang terbayang adalah jalan lain yang tidak pernah tersadarkan harus dengan apa dan bagaimana menemukan dan menjalaninya. sejauh itu pula yang saya temukan sebagai bagian dari perjalan hidup panjang.
mungkin dari sini, dari sebuah tempat yang tak bisa berjalan ini, sebuah pohon dengan akarnya yang rindang bisa mengangkatku kepada pencaharian itu......
Semestinya Hijau
semestinya hijau daun yang jatuh sekalipun
jika kuning akan dikubur tanah
dan membekukan batu-batu sebagai tanda
semestinya hijau yang tumbuh di kepala ini
jika putih akan menghantarkan kepada basi
dan menanggalkan kepada yang tak dikenal
semestinya hijau
engkau kembali
semestinya hijau
aku menyapamu
2008
Selalu
jika tiba-tiba datang ke sebuah ruang yang sama, dimana kita merasa tidak pernah bisa melepasnya benar-benar, saat itu pula saya tidak bisa menemukan apapun selain yang sudah-sudah.
jika hidup ibarat sebuah kereta--berjalan dan tidak pernah kembali--mungkin yang perlu direnungi bahwa hidup juga standing still, terdiam dan tidak jarang mengulang, jika tidak mau dikatakan selalu. ketika saat begini, yang terbayang adalah jalan lain yang tidak pernah tersadarkan harus dengan apa dan bagaimana menemukan dan menjalaninya. sejauh itu pula yang saya temukan sebagai bagian dari perjalan hidup panjang.
mungkin dari sini, dari sebuah tempat yang tak bisa berjalan ini, sebuah pohon dengan akarnya yang rindang bisa mengangkatku kepada pencaharian itu......
Rabu, 19 November 2008
Sajak-Sajak Evi Idawati
http://republika.co.id
REDUM KARANG
Akar langit bergelantung di tubuh bumi
Memahat takdir dari lisan rerumputan
Terhampar awan bagi sujud dan keheningan
"Ceritakan padaku kisah bintang,
detak yang terpanggang
ruh bagi awan dan halilintar."
Bergetar sayap capung di rebah pepohonan
Engkau menyusui umbi yang tertanam
Daunnya menjalar berkeliaran
Merajai arah sambil menabuh tubuh
Aku berdendang merajam malam
"Jasad ini aku persembahkan bagi kesakitan
rekaman lara dan ketaklukan."
Tatah tubuhku dengan bibirmu, lelakiku
Jelajahi semesta yang aku bangun di rahimku
Aku mengendapkan matahari di sana
Menunggangi waktu
Engkau menggiring peluh
Menjelmakan embun
Merandai di dada
Merambat lambat menggenang
Di pusar denyut samuderaku
dari redum karang yang terendam
Yogyakarta, 2008
SAJADAH
telah aku terima sajadah
yang engkau kirimkan kepadaku, kekasihku
yang bertuliskan namamu
yang engkau titipkan lewat rabiah
dia berkata-kata padaku tentang dirimu
dan memberikan aku mangga yang ranum
dia juga menunjukkan karpet yang beragam padaku
tapi dia menggulung milikku dan menyerahkannya
pada seorang lelaki untuk membawanya pergi
"kamu lebih memerlukan sajadah
daripada karpet. bergegaslah.
bayarlah aku limaribu
kamu akan mendapatkan milikmu"
lalu lelaki itupun pergi membawa
gulungan karpet tanpa menoleh lagi padaku
padahal dia yang menyeret tanganku melintasi awan
membelah lautan dan menghadapkan aku padamu
telah aku terima ikrar
yang disebutkan rabiah padaku, kekasihku
dengan luapan cinta dan pemujaanku padamu
aku senantiasa menyapa langit dan semesta
menyerahkan diriku untuk mencintaimu
getar dan detak
tangis yang menggenangi pori-pori
limpahan rindu untuk dirimu
telah aku terima semua
yang dikatakan rabiah padaku, kekasihku
mutlak! maafkan, jika senantiasa
aku meminta ridho dan kasihmu
Jakarta, 2008
AKU MEMETIK NAMAMU DARI LANGIT
Bukan pada fajar aku menengadah
Dan menemukan namamu di langit
Lalu memetiknya
Dan meletakkannya di hatiku
Tapi waktu tengah malam kala semesta benderang
Dan awan mengirimkan isyarat dan tanda masa depan
Aku memetik namamu dari langit
Mengumpulkan bintang dan menaburkanya di matamu
Kerlip dan binarnya seperti arus
Yang menghanyutkan aku dalam beliungnya
Hamparkan hatimu untukku
Menjadi sajadah, mihrab dan nadiku
Jika sunyi masih mendekam
Dan aku menggapai sayap yang tertinggal
Aku sedang menjadi penjaga bagimu
Aku mengambil namamu dari langit
Membangun rasi bintang dan menimbunnya
Akan tiba saatnya sinarnya cemerlang
Melesat keatas dan berbinar
Kau tahu, aku mengukirnya
Dalam rintihan dan desah kata
Yang menjagaku senantiasa
Terbang dan mengepakkan sayapku
Menabur percik cahaya abadi di hatimu
Yogyakarta, 2008
REDUM KARANG
Akar langit bergelantung di tubuh bumi
Memahat takdir dari lisan rerumputan
Terhampar awan bagi sujud dan keheningan
"Ceritakan padaku kisah bintang,
detak yang terpanggang
ruh bagi awan dan halilintar."
Bergetar sayap capung di rebah pepohonan
Engkau menyusui umbi yang tertanam
Daunnya menjalar berkeliaran
Merajai arah sambil menabuh tubuh
Aku berdendang merajam malam
"Jasad ini aku persembahkan bagi kesakitan
rekaman lara dan ketaklukan."
Tatah tubuhku dengan bibirmu, lelakiku
Jelajahi semesta yang aku bangun di rahimku
Aku mengendapkan matahari di sana
Menunggangi waktu
Engkau menggiring peluh
Menjelmakan embun
Merandai di dada
Merambat lambat menggenang
Di pusar denyut samuderaku
dari redum karang yang terendam
Yogyakarta, 2008
SAJADAH
telah aku terima sajadah
yang engkau kirimkan kepadaku, kekasihku
yang bertuliskan namamu
yang engkau titipkan lewat rabiah
dia berkata-kata padaku tentang dirimu
dan memberikan aku mangga yang ranum
dia juga menunjukkan karpet yang beragam padaku
tapi dia menggulung milikku dan menyerahkannya
pada seorang lelaki untuk membawanya pergi
"kamu lebih memerlukan sajadah
daripada karpet. bergegaslah.
bayarlah aku limaribu
kamu akan mendapatkan milikmu"
lalu lelaki itupun pergi membawa
gulungan karpet tanpa menoleh lagi padaku
padahal dia yang menyeret tanganku melintasi awan
membelah lautan dan menghadapkan aku padamu
telah aku terima ikrar
yang disebutkan rabiah padaku, kekasihku
dengan luapan cinta dan pemujaanku padamu
aku senantiasa menyapa langit dan semesta
menyerahkan diriku untuk mencintaimu
getar dan detak
tangis yang menggenangi pori-pori
limpahan rindu untuk dirimu
telah aku terima semua
yang dikatakan rabiah padaku, kekasihku
mutlak! maafkan, jika senantiasa
aku meminta ridho dan kasihmu
Jakarta, 2008
AKU MEMETIK NAMAMU DARI LANGIT
Bukan pada fajar aku menengadah
Dan menemukan namamu di langit
Lalu memetiknya
Dan meletakkannya di hatiku
Tapi waktu tengah malam kala semesta benderang
Dan awan mengirimkan isyarat dan tanda masa depan
Aku memetik namamu dari langit
Mengumpulkan bintang dan menaburkanya di matamu
Kerlip dan binarnya seperti arus
Yang menghanyutkan aku dalam beliungnya
Hamparkan hatimu untukku
Menjadi sajadah, mihrab dan nadiku
Jika sunyi masih mendekam
Dan aku menggapai sayap yang tertinggal
Aku sedang menjadi penjaga bagimu
Aku mengambil namamu dari langit
Membangun rasi bintang dan menimbunnya
Akan tiba saatnya sinarnya cemerlang
Melesat keatas dan berbinar
Kau tahu, aku mengukirnya
Dalam rintihan dan desah kata
Yang menjagaku senantiasa
Terbang dan mengepakkan sayapku
Menabur percik cahaya abadi di hatimu
Yogyakarta, 2008
Selasa, 18 November 2008
BAKAR TONGKANG
http://www.korantempo.com/
Marhalim Zaini
: episode tun amoy
tak di malam
kau tinggalkan siam
dalam tahun demam
tapi di hujan
kau curi api daratan
dari pelabuhan bagan
itu dewa kie ong ya
menghitung gigil cahaya
di biji kayu sempoa
ia menunggu ombakmu
menghala ke matahari
ke hulu sebuah mimpi:
tentang lelaki yang berlari
mengejar riwayat angin selat
ke sengat musim yang tak tercatat
namakukah itu
yang berkibar di layar
saat tongkang terbakar?
tapi kau menghalau asap hio
dengan kipas lipatan peta cina
ke kobaran api hutan melayu
ke wajahku sampah jerebu
meruap hinggap ke tatap
mata langit yang gelap
maka izinkan aku jadi tan ki
memikul bola duri
mengelilingi tubuhmu
angkuh membatu
di atap bang liau
agar kau tahu
aku kian mencandu
bau amis ikanmu
bagai merindu
aroma payau
lautmu
bahwa di akar api-api
pagi pernah bernyanyi
tentang lancang kuning
yang tersadai di pantai
tentang nelayan tua
yang membakar jala
tentang janda raja-raja
yang menjahit kebaya
di mana anak sungai
membuang muka
menghanyutkan kota
entah di jawa
entah di malaysia
mungkin pula melaka
diam-diam berdusta
tentang batas warna
bendera marga
diam-diam menelikung
hikayat semenanjung
berkaki buntung
terseret angin tanjung
ke kuala rawa
tempat kita memuja
segala yang menjaga
segala yang tak tampak
sebagai yang berkehendak
segala yang tak padam
sebagai tuhan
maka sembahyang ini, tun
tak sujud pada jumat
pun tak takut pada sebat
sebab telah tumbang
tiang tongkang
ke seberang
ke sebuah kampung
ke ujung halaman kitab
ke jantung segala gelap
di kelentengmu
atau di surauku
kita mengaji rindu
pada dinding pelantar
atau selembar tikar
ada jejak bandar
bekas terbakar
kita mematung saja
bagai perahu tua
yang menunggu senja
siapa tahu ada cinta
atau syair lama
tentang ular naga
yang berpagut
dalam surga
nanti saat petang
baba cina datang
pakai baju marga ang
bawa sesajen satu dulang
apa kau akan pulang?
aku takut pulang
pada lengang
yang panjang
lampion-lampion itu, tun
rumah-rumah malam
yang menunggu padam
orang-orang rokan
menanam cahayanya
di ujung pelabuhan
singgahlah sebagai pelaut
bukan sebagai kayu hanyut
niscaya kau akan disambut
bagai laksemana raja dilaut
merantaulah seperti berperang
tak pulang sebagai pecundang
niscaya kau akan terpandang
bagai sultan namamu dikenang
tapi aku pendurhaka
kau pun tak setia
siapa di antara kita
yang dikutuk dewa
jadi dermaga
kota tua
itu sempoa kie ong ya
menggigil ditimbun cahaya
tak di siam atau di bagan
hujan mencuri api hutan
ke mana menghala matahari
di kaki lelaki musim berlari
namakukah itu
yang berkibar di layar
saat tongkang terbakar?
kampung asap, 2008
Marhalim Zaini
: episode tun amoy
tak di malam
kau tinggalkan siam
dalam tahun demam
tapi di hujan
kau curi api daratan
dari pelabuhan bagan
itu dewa kie ong ya
menghitung gigil cahaya
di biji kayu sempoa
ia menunggu ombakmu
menghala ke matahari
ke hulu sebuah mimpi:
tentang lelaki yang berlari
mengejar riwayat angin selat
ke sengat musim yang tak tercatat
namakukah itu
yang berkibar di layar
saat tongkang terbakar?
tapi kau menghalau asap hio
dengan kipas lipatan peta cina
ke kobaran api hutan melayu
ke wajahku sampah jerebu
meruap hinggap ke tatap
mata langit yang gelap
maka izinkan aku jadi tan ki
memikul bola duri
mengelilingi tubuhmu
angkuh membatu
di atap bang liau
agar kau tahu
aku kian mencandu
bau amis ikanmu
bagai merindu
aroma payau
lautmu
bahwa di akar api-api
pagi pernah bernyanyi
tentang lancang kuning
yang tersadai di pantai
tentang nelayan tua
yang membakar jala
tentang janda raja-raja
yang menjahit kebaya
di mana anak sungai
membuang muka
menghanyutkan kota
entah di jawa
entah di malaysia
mungkin pula melaka
diam-diam berdusta
tentang batas warna
bendera marga
diam-diam menelikung
hikayat semenanjung
berkaki buntung
terseret angin tanjung
ke kuala rawa
tempat kita memuja
segala yang menjaga
segala yang tak tampak
sebagai yang berkehendak
segala yang tak padam
sebagai tuhan
maka sembahyang ini, tun
tak sujud pada jumat
pun tak takut pada sebat
sebab telah tumbang
tiang tongkang
ke seberang
ke sebuah kampung
ke ujung halaman kitab
ke jantung segala gelap
di kelentengmu
atau di surauku
kita mengaji rindu
pada dinding pelantar
atau selembar tikar
ada jejak bandar
bekas terbakar
kita mematung saja
bagai perahu tua
yang menunggu senja
siapa tahu ada cinta
atau syair lama
tentang ular naga
yang berpagut
dalam surga
nanti saat petang
baba cina datang
pakai baju marga ang
bawa sesajen satu dulang
apa kau akan pulang?
aku takut pulang
pada lengang
yang panjang
lampion-lampion itu, tun
rumah-rumah malam
yang menunggu padam
orang-orang rokan
menanam cahayanya
di ujung pelabuhan
singgahlah sebagai pelaut
bukan sebagai kayu hanyut
niscaya kau akan disambut
bagai laksemana raja dilaut
merantaulah seperti berperang
tak pulang sebagai pecundang
niscaya kau akan terpandang
bagai sultan namamu dikenang
tapi aku pendurhaka
kau pun tak setia
siapa di antara kita
yang dikutuk dewa
jadi dermaga
kota tua
itu sempoa kie ong ya
menggigil ditimbun cahaya
tak di siam atau di bagan
hujan mencuri api hutan
ke mana menghala matahari
di kaki lelaki musim berlari
namakukah itu
yang berkibar di layar
saat tongkang terbakar?
kampung asap, 2008
Minggu, 16 November 2008
KESUNYIAN SANG PUJANGGA
Kepada almarhum Suryanto Sastroatmodjo
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=662
Pujangga itu
mendiami lembah pekabutan kemanusiaan
gema suaranya memantul
ke dinding-dinding karang peradaban.
Ia tak kehabisan kehendak, tapi di sanalah telempapnya
kala kita tak sanggup menjangkau kelembutan sukma.
Ia telanjang bagaikan batu-batu diguyur deras hujan
juga sengatan matahari kesadaran.
Yang melihat lelangkahnya di tengah kota sekadar wujud,
kita tiada daya bercakap, manakala anggukan membuyar.
Waktu selalu merawat dirinya beserta alam kelembutan
isyarat angin serupa ibunda mengamatinya penuh takjub
kala ia melantunkan kata-kata menyayat-nyayat bathin
bebatuan kerikil berserak, deru hiruk-pikuk keramaian.
Ia mendamba mendayung alam ke muara sentausa
sedekahnya bersandar pada gundukan batu besar,
kepala berbaring itu, mengisi nyanyian renungan
saat berdiri, bencah moyang beri restu kerelaan.
Tampak kepanditaan hadir tidak butuhkan apa-apa
hanya yang tercurah sedari langit dirinya tengadah
kuasa-Nya dijangkau kalbu terdekat, kasih insani.
Kerinduan merengkuh sesyairan lelaku nasibnya
kangen bermelodi kesegaran air mengucur. Oh…
gemerincing alunan jiwa tak henti lafalkan mantra.
Tetumbuhan memberi petuah
bagi ruh-ruh kepekaan
menceburkan diri
dalam belahan dada ranum menampung rahmah.
Jalan dilalui, dedaun menyapa bebulu sayap mengepak
membisikkan kalimah yang terdapati tak terekam indra.
Dan tiap denyutan darahnya bersimpan peristiwa
aliran-alirannya tampak jernih sebening hatinya.
Pandangannya menembus jauh tak hilang kendali,
persaksiannya menggedor tanjung-tanjung sukma
pribadinya terkandung unsur-unsur kelembutan
ulet seserat-serat pohon mewangi kehidupan.
Rambutnya tergerai memantulkan sinar mahkota
tiadalah terlihat mewah, tampak segar sederhana
benda serta makna, fitroh teremban hikayat-hayat.
Ia terima, mendapati kulit tubuhnya langsat
sentuhan halus bayu pertiwi
senafas bayi-bayi menghidupi rumput
tiupan terisi nikmat
di kedalaman jiwamu tak tersentuh.
Di sanalah kita temukan diri, arah-arah terpampang
perlihatkan pribadi, kala kita mencipta kasih sayang.
Kala berjalan tiada dapati bayangan, dirinya tersembunyi
tertunduk santun mematung merasai cahaya rasa malu,
kekhusyukkan menyendiri dalam selubung keduniawian
terpisah sedari bebauan asap dupa pujaan.
Ia bergegas saat orang-orang berbondong meminta
ialah bukan berlari tanggung jawab, tetapi sungguh
sungkan memantul balik dalam diri masing-masing
mendiami sunyi petuah.
Pantulannya seolah angkuh saat melihat penuh iri
tetapi, lagi-lagi nalar buruk terpatahkan
menyelai lelapisan persoalan.
Ia terbiasa mengupas jiwa-jiwa menjelma pancaran hayat
dengus suara kaki-kaki melangkah pada gumam panjang,
bathin bernafas sesama, siuman dari kemabukan bayang.
Yang melihatnya dimaknai menerus, ia tegur pelahan.
Oh… tubuh telanjang lebur dalam hawa sedap malam
burung-burung melihatnya terbalut sutra kehormatan
:yang tampak ialah penipuan-penipuan.
Tidakkah niatan jernih takkan terbodohi
merawat kebeningan sampai ujung di balik pandang.
Bergetarlah jiwa-jiwa jujur mendaki cahaya kesadaran
gerak terdalam berkaki pusaran, jenjang ditentukan
pekabutan tak menyilaukan mata memberi kelegaan.
Yang diidamkan ikhlas menerima manis-getir dilalui,
ia tak menyangkal ada memberi tempat tak berkenan.
Sungguh lembut memasuki lubang jarum merajut artian
tak bakal miliki sukma pendendam, nyala bukan ambisi
namun menaklukkan air mata menjelma batu permata.
Butiran garam diterjang ombak bathin bergelora
karang terbesar menampung ruang-ruang mungkin
hikmah tinggi cakrawakla tabah berlatih kesungguhan.
Huruf-huruf terdiam mengeluarkan daya
sedari sarang langit mewujud pengajaran
lintang-gemintang cerlangkan mata angin.
Kesemangatan tentram berlabuh pengetahuan,
bukan dalam batok kepala menyimpan kekayaan,
perbendaharaan tersembunyi dalam kalbu insan.
Nurani terbimbing pada keheningan kasih menghujam
kesungguhan tekad ketetapan niat cemerlangkan akal,
menilik setiap pijakan hati berkaca dibawa jernih fikiran
di balik tanda terdapat ruang-ruang menanggung makna.
Bukan hendak mengisi semua penuh bobot
yang berharga tergali serupa ricik-gemericik
siapa melewatinya mendapati petikan hikmah
bebuah ranum hasil kekangan musim-musim
menyuguhkan pribadi diterima lapang dada.
Mungkin alunan-alunan ini dikau bilang menjemukan
saat penalaran menjangkau tak berkendara kesucian
atau pencarian sungguh, namun tak didasari niatan.
Malam hadir, meliuk bertarian unggun penciptaan;
ia bakar kesepian, alam rindu gagasan-gagasannya.
Bersiaplah menempa anak-anak di kesenyapan kangen,
kadang malam larut jauhkan nyala api rindu penciptaan
diajaknya dahaga dalam kebisuan pencarian keyakinan.
Perenungan lelangkah hening tempaan pelaku hayati
membawanya ke selubung sunyi mewarta kelembutan,
bibir-bibir kabut mengatup dalam rongga-rongga nafas.
Bathin petapa mengombak di lautan kata-kata mewaktu
ia meringkuk di tepi jalan, sering di luar pintu tertutup.
Ia tak menunggu siapa-siapa, jiwanya tidak tergopoh,
hangat pencariannya menceburkan diri di telaga kasih.
Oh yang berendam di sendang, minumlah seteguk
mengingatkan usiamu dalam perimbangan jiwamu
kesaksian hayat, terbuhul wewarna pelita rahmat.
Ia tak bermaksud melukis kesenyapan nan gaib,
tapi mengangkat bertangan lembut tak tersentuh.
Lamur mengembun di kulit lenganmu bukan kelalaian,
keterjagaan santun antara tak pedulikan malam berbagi
kekuncup abadi, tawarkan rindumu ke peraduan hangat.
Sesekali menghisap batang rokok penuh tarikan dalam
nafas-nafas ingatkan masa lalu, menggali ikhwal terlewat.
Pagi terbuka kekayaan, kau bertamu di kediamannya
paling muskil mencipta sunyi memberat serasa ringan,
melantunkan mungkin di kepalamu nan selalu bertaya
akan gaib kehidupan.
Ini percakapan meleburkan setia, yang merindu
mengajak jiwamu terbang ke tlatah ditaksirkan
batas kebekuan memancar, tenggelamkan kenang
menggugah dakian penciptaan.
Lelapisan itu menggubah kesabaran ingatan
kekisah mempercayai mimpi mengajak teridam
kepurnaan waktu lahirnya derajad kehendak sesama,
malam-siang melarut jiwamu mengikuti nafas kehadiran.
Ini sepantun hening memaklumatkan pergumulan,
penyatuan ruh batas alam mengangkat keluputan
menjelma sayap membimbing nafas ke peraduan.
Senjakala melangkahi lika-liku kesuburan, mata bathin
mengenyam gending kepada lereng pesawahan Dwipa.
Berilah kesaksian jasad kalimah-kalimah ini,
menderas sealunan ditabuh waktu-waktu lalu.
Patahan terberi, bukan pemaksaan bathin serampang.
Sejak keteringatan wajah-wajah hampir menyerupaimu,
ketampanan santun bersahabat, maha guru paling bijak.
Jiwaku ini tertambat lelangkah paling akrab,
tekat melumurkan wewaktu di masa-masa intim
teruskan limpahan berkah tak habis ditelan lelah.
Keringat dingin menambah puncak kesaksianmu
langit-laut hadirkan birunya gelombang ke pantai
berbulir-bulirnya garam menuju ceruk perenungan.
Pedesaan menanti kita, lebur pada kesaksian syahdu
gemintang di cakrawala menandaskan hayat dimaknai,
selendang menari di lengan kasihmu menarik sahabat
bagaikan sesyairan sampur para penari waktu.
Di kemanakan batas biru memberi keabadian tarian
jiwa-tubuh bergetar, bebulu sayap terangkat sukma
tengadah nafas berhembus menggebu menuruti lagu.
Bukan keinginan semua terhampar, dilewati perjanjian
melumuri tarian tinta mata pena setajam malam terjaga.
Ini titah pujangga, melambari kasihmu berkeyakinan
memandangi lekuk perjalanan terawat setiap penanda
terangkat pemaknaan wewaktu dipersiapkan bagimu.
Usiamu tertelan semangat kata menembus kebisuan
merangsek naluri pada saksi semula, kerinduan kasih.
Tarikan nafasmu perjelas perbedaan mengenyam ragu
merawat kesunyian berabad-abad memperbesarmu.
Keterpisahan tak, masa-masa dilalui tempaan abadi
manakala kegusaran merenggut perjuangan kembali,
kehendak dicitakan itu, dilakoninya bermakna titisan.
Wewaktu mematangkan kulit keriput pepohon Jati
tegak mengeras menerobos musim dedaun rontok
kemuncul lestari menandaskan tubuh matang jiwa
serat-serat pohon Waru dengan otot-otot terjaga
berbagi pergantian jaman menghujami makna.
Hujan deras menggigit, kebangkitan berulang
bayu tuah berhembus jiwamu meloloskan diri
kepada semburat jingga senjakala
yang memawarkan rindumu
dalam pelukan cakrawala.
Perjumpaan penalaran, mewartakan tekadmu
ditandaskan malam purnama ditarik pelayarnya
menyeberangi wengi pelik lewati nyanyian pesisir.
Antara nafas langgeng, kesantausaan irama imbang
melingkupi yang dihendaki kepada gagasan gemilang.
Mata membaca kalimah berita merasai jiwa
mengeja kehausan kehendak hadir tiba-tiba
kerelaan tersiar-terkembang di pedalaman.
Ketika arungi kesyahduan, keayuan alam bercahaya
keteguhan mengawal jiwamu; para prajurut menjaga
kala sang raja berpelesiran ke negeri jauh tanpa kuasa.
Ia hentikan derap kudanya, menyusuri jalan sendiri
oleh semua penglihatan buyar menjelma kepasrahan.
Kemiskinan itu tangga tingkatan tertinggi kehidupan,
serupa rasa demam mencapai kesaksian tak terbantah.
Ini peleburan kenang, terbakar sajak di tungku setia
memperbaharui wujud abu dalam tumbukan sesal,
sengaja mencari-cari butiran halus kelembutan hati.
Kalimah bukan penampung rupa bejana, air tak terukur
saat tak secangkir pengharapan, tapi niatmu manunggal
kata-kata lebur menguap, butirannya di dedaun kalbu
tersuling sedari keraguan ditandaskan sakit berulang.
Kesaksian hadir membaca alamat-alamat berkelebat
raut-raut bertengger di dedahan menanti panggilan
merunduk penuh santun berdedaun Salam gugur.
Kembang kemuncul ketabahan,
kiranya bebuah ranum mewangi
semua tidak kuasa tidak tengadah,
memetiknya bagi lambung kembara.
Keyakinan perbaharui jiwamu pada pagi kebugaran
menelusupi pori-porimu, perjalanan berulang dinilai.
Ditata laiknya bebatuan candi di pegunungan puja
letak peribadatan bergumul seirama para penyaksi.
Dan keterbatasan membetulkan lelangkahmu memilih
agar tak terbebani di persimpang bathin teridam hayat
memakmurkan sesama.
Manakala demam berkurang persaksianmu yakin
bergumul kalbu rindu dalam gelayutan mesra,
semisal purnama di tengah pencarian wengi.
Malam menjamah gurun pada kulit getarkan jiwamu
terpesona jagad hatimu oleh kesantunan sang resi
dalam menapaki tangga kekabutan menanjak
membebaskan bayang sedari tubuh keraguan.
Yang pantas bertengger di ubun-ubun kesenyapan abadi
tahap dilalui beserta unsur pribadi berkeagungan rasa
kepurnaan gagasan membeletat sesama, tiada terlupa
kaki-kaki tersandung batu, rerumputan terinjak menghijau.
17 Februari 2008, Lamongan, Jawa.
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=662
Pujangga itu
mendiami lembah pekabutan kemanusiaan
gema suaranya memantul
ke dinding-dinding karang peradaban.
Ia tak kehabisan kehendak, tapi di sanalah telempapnya
kala kita tak sanggup menjangkau kelembutan sukma.
Ia telanjang bagaikan batu-batu diguyur deras hujan
juga sengatan matahari kesadaran.
Yang melihat lelangkahnya di tengah kota sekadar wujud,
kita tiada daya bercakap, manakala anggukan membuyar.
Waktu selalu merawat dirinya beserta alam kelembutan
isyarat angin serupa ibunda mengamatinya penuh takjub
kala ia melantunkan kata-kata menyayat-nyayat bathin
bebatuan kerikil berserak, deru hiruk-pikuk keramaian.
Ia mendamba mendayung alam ke muara sentausa
sedekahnya bersandar pada gundukan batu besar,
kepala berbaring itu, mengisi nyanyian renungan
saat berdiri, bencah moyang beri restu kerelaan.
Tampak kepanditaan hadir tidak butuhkan apa-apa
hanya yang tercurah sedari langit dirinya tengadah
kuasa-Nya dijangkau kalbu terdekat, kasih insani.
Kerinduan merengkuh sesyairan lelaku nasibnya
kangen bermelodi kesegaran air mengucur. Oh…
gemerincing alunan jiwa tak henti lafalkan mantra.
Tetumbuhan memberi petuah
bagi ruh-ruh kepekaan
menceburkan diri
dalam belahan dada ranum menampung rahmah.
Jalan dilalui, dedaun menyapa bebulu sayap mengepak
membisikkan kalimah yang terdapati tak terekam indra.
Dan tiap denyutan darahnya bersimpan peristiwa
aliran-alirannya tampak jernih sebening hatinya.
Pandangannya menembus jauh tak hilang kendali,
persaksiannya menggedor tanjung-tanjung sukma
pribadinya terkandung unsur-unsur kelembutan
ulet seserat-serat pohon mewangi kehidupan.
Rambutnya tergerai memantulkan sinar mahkota
tiadalah terlihat mewah, tampak segar sederhana
benda serta makna, fitroh teremban hikayat-hayat.
Ia terima, mendapati kulit tubuhnya langsat
sentuhan halus bayu pertiwi
senafas bayi-bayi menghidupi rumput
tiupan terisi nikmat
di kedalaman jiwamu tak tersentuh.
Di sanalah kita temukan diri, arah-arah terpampang
perlihatkan pribadi, kala kita mencipta kasih sayang.
Kala berjalan tiada dapati bayangan, dirinya tersembunyi
tertunduk santun mematung merasai cahaya rasa malu,
kekhusyukkan menyendiri dalam selubung keduniawian
terpisah sedari bebauan asap dupa pujaan.
Ia bergegas saat orang-orang berbondong meminta
ialah bukan berlari tanggung jawab, tetapi sungguh
sungkan memantul balik dalam diri masing-masing
mendiami sunyi petuah.
Pantulannya seolah angkuh saat melihat penuh iri
tetapi, lagi-lagi nalar buruk terpatahkan
menyelai lelapisan persoalan.
Ia terbiasa mengupas jiwa-jiwa menjelma pancaran hayat
dengus suara kaki-kaki melangkah pada gumam panjang,
bathin bernafas sesama, siuman dari kemabukan bayang.
Yang melihatnya dimaknai menerus, ia tegur pelahan.
Oh… tubuh telanjang lebur dalam hawa sedap malam
burung-burung melihatnya terbalut sutra kehormatan
:yang tampak ialah penipuan-penipuan.
Tidakkah niatan jernih takkan terbodohi
merawat kebeningan sampai ujung di balik pandang.
Bergetarlah jiwa-jiwa jujur mendaki cahaya kesadaran
gerak terdalam berkaki pusaran, jenjang ditentukan
pekabutan tak menyilaukan mata memberi kelegaan.
Yang diidamkan ikhlas menerima manis-getir dilalui,
ia tak menyangkal ada memberi tempat tak berkenan.
Sungguh lembut memasuki lubang jarum merajut artian
tak bakal miliki sukma pendendam, nyala bukan ambisi
namun menaklukkan air mata menjelma batu permata.
Butiran garam diterjang ombak bathin bergelora
karang terbesar menampung ruang-ruang mungkin
hikmah tinggi cakrawakla tabah berlatih kesungguhan.
Huruf-huruf terdiam mengeluarkan daya
sedari sarang langit mewujud pengajaran
lintang-gemintang cerlangkan mata angin.
Kesemangatan tentram berlabuh pengetahuan,
bukan dalam batok kepala menyimpan kekayaan,
perbendaharaan tersembunyi dalam kalbu insan.
Nurani terbimbing pada keheningan kasih menghujam
kesungguhan tekad ketetapan niat cemerlangkan akal,
menilik setiap pijakan hati berkaca dibawa jernih fikiran
di balik tanda terdapat ruang-ruang menanggung makna.
Bukan hendak mengisi semua penuh bobot
yang berharga tergali serupa ricik-gemericik
siapa melewatinya mendapati petikan hikmah
bebuah ranum hasil kekangan musim-musim
menyuguhkan pribadi diterima lapang dada.
Mungkin alunan-alunan ini dikau bilang menjemukan
saat penalaran menjangkau tak berkendara kesucian
atau pencarian sungguh, namun tak didasari niatan.
Malam hadir, meliuk bertarian unggun penciptaan;
ia bakar kesepian, alam rindu gagasan-gagasannya.
Bersiaplah menempa anak-anak di kesenyapan kangen,
kadang malam larut jauhkan nyala api rindu penciptaan
diajaknya dahaga dalam kebisuan pencarian keyakinan.
Perenungan lelangkah hening tempaan pelaku hayati
membawanya ke selubung sunyi mewarta kelembutan,
bibir-bibir kabut mengatup dalam rongga-rongga nafas.
Bathin petapa mengombak di lautan kata-kata mewaktu
ia meringkuk di tepi jalan, sering di luar pintu tertutup.
Ia tak menunggu siapa-siapa, jiwanya tidak tergopoh,
hangat pencariannya menceburkan diri di telaga kasih.
Oh yang berendam di sendang, minumlah seteguk
mengingatkan usiamu dalam perimbangan jiwamu
kesaksian hayat, terbuhul wewarna pelita rahmat.
Ia tak bermaksud melukis kesenyapan nan gaib,
tapi mengangkat bertangan lembut tak tersentuh.
Lamur mengembun di kulit lenganmu bukan kelalaian,
keterjagaan santun antara tak pedulikan malam berbagi
kekuncup abadi, tawarkan rindumu ke peraduan hangat.
Sesekali menghisap batang rokok penuh tarikan dalam
nafas-nafas ingatkan masa lalu, menggali ikhwal terlewat.
Pagi terbuka kekayaan, kau bertamu di kediamannya
paling muskil mencipta sunyi memberat serasa ringan,
melantunkan mungkin di kepalamu nan selalu bertaya
akan gaib kehidupan.
Ini percakapan meleburkan setia, yang merindu
mengajak jiwamu terbang ke tlatah ditaksirkan
batas kebekuan memancar, tenggelamkan kenang
menggugah dakian penciptaan.
Lelapisan itu menggubah kesabaran ingatan
kekisah mempercayai mimpi mengajak teridam
kepurnaan waktu lahirnya derajad kehendak sesama,
malam-siang melarut jiwamu mengikuti nafas kehadiran.
Ini sepantun hening memaklumatkan pergumulan,
penyatuan ruh batas alam mengangkat keluputan
menjelma sayap membimbing nafas ke peraduan.
Senjakala melangkahi lika-liku kesuburan, mata bathin
mengenyam gending kepada lereng pesawahan Dwipa.
Berilah kesaksian jasad kalimah-kalimah ini,
menderas sealunan ditabuh waktu-waktu lalu.
Patahan terberi, bukan pemaksaan bathin serampang.
Sejak keteringatan wajah-wajah hampir menyerupaimu,
ketampanan santun bersahabat, maha guru paling bijak.
Jiwaku ini tertambat lelangkah paling akrab,
tekat melumurkan wewaktu di masa-masa intim
teruskan limpahan berkah tak habis ditelan lelah.
Keringat dingin menambah puncak kesaksianmu
langit-laut hadirkan birunya gelombang ke pantai
berbulir-bulirnya garam menuju ceruk perenungan.
Pedesaan menanti kita, lebur pada kesaksian syahdu
gemintang di cakrawala menandaskan hayat dimaknai,
selendang menari di lengan kasihmu menarik sahabat
bagaikan sesyairan sampur para penari waktu.
Di kemanakan batas biru memberi keabadian tarian
jiwa-tubuh bergetar, bebulu sayap terangkat sukma
tengadah nafas berhembus menggebu menuruti lagu.
Bukan keinginan semua terhampar, dilewati perjanjian
melumuri tarian tinta mata pena setajam malam terjaga.
Ini titah pujangga, melambari kasihmu berkeyakinan
memandangi lekuk perjalanan terawat setiap penanda
terangkat pemaknaan wewaktu dipersiapkan bagimu.
Usiamu tertelan semangat kata menembus kebisuan
merangsek naluri pada saksi semula, kerinduan kasih.
Tarikan nafasmu perjelas perbedaan mengenyam ragu
merawat kesunyian berabad-abad memperbesarmu.
Keterpisahan tak, masa-masa dilalui tempaan abadi
manakala kegusaran merenggut perjuangan kembali,
kehendak dicitakan itu, dilakoninya bermakna titisan.
Wewaktu mematangkan kulit keriput pepohon Jati
tegak mengeras menerobos musim dedaun rontok
kemuncul lestari menandaskan tubuh matang jiwa
serat-serat pohon Waru dengan otot-otot terjaga
berbagi pergantian jaman menghujami makna.
Hujan deras menggigit, kebangkitan berulang
bayu tuah berhembus jiwamu meloloskan diri
kepada semburat jingga senjakala
yang memawarkan rindumu
dalam pelukan cakrawala.
Perjumpaan penalaran, mewartakan tekadmu
ditandaskan malam purnama ditarik pelayarnya
menyeberangi wengi pelik lewati nyanyian pesisir.
Antara nafas langgeng, kesantausaan irama imbang
melingkupi yang dihendaki kepada gagasan gemilang.
Mata membaca kalimah berita merasai jiwa
mengeja kehausan kehendak hadir tiba-tiba
kerelaan tersiar-terkembang di pedalaman.
Ketika arungi kesyahduan, keayuan alam bercahaya
keteguhan mengawal jiwamu; para prajurut menjaga
kala sang raja berpelesiran ke negeri jauh tanpa kuasa.
Ia hentikan derap kudanya, menyusuri jalan sendiri
oleh semua penglihatan buyar menjelma kepasrahan.
Kemiskinan itu tangga tingkatan tertinggi kehidupan,
serupa rasa demam mencapai kesaksian tak terbantah.
Ini peleburan kenang, terbakar sajak di tungku setia
memperbaharui wujud abu dalam tumbukan sesal,
sengaja mencari-cari butiran halus kelembutan hati.
Kalimah bukan penampung rupa bejana, air tak terukur
saat tak secangkir pengharapan, tapi niatmu manunggal
kata-kata lebur menguap, butirannya di dedaun kalbu
tersuling sedari keraguan ditandaskan sakit berulang.
Kesaksian hadir membaca alamat-alamat berkelebat
raut-raut bertengger di dedahan menanti panggilan
merunduk penuh santun berdedaun Salam gugur.
Kembang kemuncul ketabahan,
kiranya bebuah ranum mewangi
semua tidak kuasa tidak tengadah,
memetiknya bagi lambung kembara.
Keyakinan perbaharui jiwamu pada pagi kebugaran
menelusupi pori-porimu, perjalanan berulang dinilai.
Ditata laiknya bebatuan candi di pegunungan puja
letak peribadatan bergumul seirama para penyaksi.
Dan keterbatasan membetulkan lelangkahmu memilih
agar tak terbebani di persimpang bathin teridam hayat
memakmurkan sesama.
Manakala demam berkurang persaksianmu yakin
bergumul kalbu rindu dalam gelayutan mesra,
semisal purnama di tengah pencarian wengi.
Malam menjamah gurun pada kulit getarkan jiwamu
terpesona jagad hatimu oleh kesantunan sang resi
dalam menapaki tangga kekabutan menanjak
membebaskan bayang sedari tubuh keraguan.
Yang pantas bertengger di ubun-ubun kesenyapan abadi
tahap dilalui beserta unsur pribadi berkeagungan rasa
kepurnaan gagasan membeletat sesama, tiada terlupa
kaki-kaki tersandung batu, rerumputan terinjak menghijau.
17 Februari 2008, Lamongan, Jawa.
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel GarcÃa Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati