Tampilkan postingan dengan label Dwi Fitria. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dwi Fitria. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Februari 2009

Dipandang Sebelah Mata

Dwi Fitria
http://jurnalnasional.com/

Hingga kini pendidikan sastra belum mendapat perhatian semestinya.

Ada beberapa bacaan wajib yang harus dibaca oleh para siswa sekolah menengah di Amerika. Selain Shakespeare yang tentu saja tak akan dilewatkan, karya-karya klasik semisal A Tale of Two Cities buah pena Charles Dickens, The Scarlett Letter karya Nathaniel Hawthorne hanya sedikit dari bacaan yang wajib dibaca para pelajar sekolah menengah berusia 12-18 tahun di sana.

Tahun 2007 American Library Association (Asosiasi Perpustakaan Amerika) bahkan punya ide untuk menyandingkan buku-buku sastra klasik itu dengan karya-karya sastra yang lebih kontemporer semisal Life of Pi karya Yann Martel, The Kite Runner yang ditulis oleh Khaled Hosseini, atau Night oleh Ellie Wiesel.

Ini mereka lakukan untuk terus memupuk minat baca para siswa, dengan pemikiran bahwa para siswa akan lebih mudah mendalami materi bacaan yang lebih berhubungan dengan kondisi zaman mereka.

Di Indonesia, kondisi pengajaran sastra yang kondusif seperti itu masih jauh panggang dari api. Jangankan memasukkan buku-buku pengarang mutakhir sebagai bagian dari kurikulum, karya-karya klasik semisal Bumi Manusia, Merahnya Merah, atau Harimau Harimau saja, belum menjadi bagian dari bacaan wajib para siswa sekolah menengah. Hingga saat ini, sastra belum juga mendapatkan porsi yang semestinya dalam sistem pendidikan kita.

“Kondisi ini memang sudah jadi masalah yang belum juga ditemukan solusinya. Sastra tidak diperhatikan karena masih saja banyak yang menganggap bahwa sastra itu kurang penting. Yang dipentingkan hanyalah hal-hal yang bersifat fisik saja. Padahal pendidikan bahasa dan sastra yang tepat akan memperkaya batin para siswanya,” ujar Dewaki Kramadibrata, mantan ketua Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas
Indonesia.

Tekanan Kurikulum

Kurikulum di Indonesia, telah beberapa kali mengalami perubahan mulai dari tahun 1950, 1958, 1964, 1968, 1975/1976, 1984, 1994, 2004 dan kemudian 2006. Pada tahun 1984 pelajaran Bahasa Indonesia, berubah menjadi pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Tetapi penekanan pelajaran ini masih berat “hanya” pada aspek kebahasaannya saja. Sastra seolah-olah menjadi tambahan, karena hanya diajarkan 2-3 jam perminggu.

Sementara kurikulum terbaru, kurikulum 2006, memberikan keleluasaan bagi para guru untuk mengembangkan sendiri materi ajarnya. Dalam kurikulum baru itu ada begitu banyak mata pelajaran yang dibebankan kepada siswa. Namun, porsi pendidikan humaniora seperti bahasa dan sastra harus bersaing ketat dengan mata pelajaran lain yang berhubungan dengan eksakta.

Endo Senggono, Ketua PDS HB Jassin mengatakan ada inisiatif untuk memasukkan materi-materi sastra yang lebih “segar” ke dalam kurikulum terbaru. Beberapa peneliti pendidikan kerap datang ke PDS untuk melakukan pengayaan terhadap materi sastra yang diajarkan.

“Sayangnya kemudian, semangat yang seharusnya bisa membawa perubahan ini dibenturkan pada sistem pendidikan yang berbasis pada Ujian Nasional yang sifatnya masih tersentralisasi,” ujar Endo. “Inisiatif untuk mengajarkan materi sastra dengan lebih menekankan pada apresiasi kemudian harus terbentur pada format ujian pilihan ganda yang hanya menguji pengetahuan teknis sebatas siapa yang mengarang apa, atau karya sastra ini diciptakan pada tahun berapa, termasuk pada angkatan sastra yang mana.”

Hal lain yang masih menjadi batu sandungan adalah kompetensi guru bahasa dan sastra Indonesia. Menurut Nur Zen Hae, seorang sastrawan yang cukup punya perhatian pada perkembangan pendidikan sastra, kebanyakan guru masih terpaku pada teori bahasa alih-alih apresiasi sastra sendiri.

“Contohnya jika memelajari esai, bukannya memperkenalkan esai sebagai bentuk tulisan, tapi malah menghapalkan bentuk-bentuk esai, semisal deskriptif, atau naratif. Atau puisi, karena kurang memahami bagaimana mengupas sebuah puisi, yang dibuat kemudian adalah musikalisasi puisi. Bahkan lebih parah lagi, pelajaran tentang itu bahkan dilewatkan begitu saja.”

Menghidupkan Apreasiasi

Dalam proses pendidikan guru di fakultas-fakultas keguruan, proporsi apresiasi sastra yang sesungguhnya merupakan salah satu bagian terpenting dalam pengajaran sastra, tidak sebesar hal-hal lain yang berhubungan dengan aspek linguistiknya. “Pelajaran-pelajaran semisal morfologi, sintaksis, metode penelitian punya porsi yang besar. Mata kuliah yang berhubungan dengan apresiasi sastra mungkin hanya sepertiganya saja,” ujar penyair yang saat ini menjabat Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta itu.

Sehingga untuk mengembangkan minat sastranya, seorang mahasiswa institut keguruan harus mencari di luar. “Jangan berharap terlalu banyak dari mata kuliah yang diberikan, pendidikan sastra yang kaya justru akan didapatkan jika aktif mengunjungi diskusi dan acara sastra yang kerap diadakan di kantung-kantung budaya semisal Taman Ismail Marzuki atau Utan Kayu.”

Sementara menurut Dewaki, agak kurang tepat jika kesalahan sepenuhnya ditimpakan kepada pendidik. “Guru pada dasarnya hanya mengikuti kurikulum yang berlaku.” Kurikulum saat ini masih lebih memberikan memberikan penekanan pada penguasaan teknis bahasa saja. “Proporsi untuk membedah sastra secara lebih serius memang diberikan, tapi kesannya bukanlah sebuah kewajiban. Boleh dilakukan boleh tidak.”

Apresiasi sastra bukannya tidak diusahakan, buku-buku pelajaran dengan menggunakan kurikulum 2006 telah memasukkan proporsi semisal analisis teks sastra. “Tapi tetap teks-teks yang dimasukkan amatlah panjang. Saya tak yakin siswa berminat untuk bahkan membacanya,” ujar Dewaki.

Selain itu pelajaran bahasa yang masuk dalam kategori humaniora masih harus bersaing dengan pelajaran eksakta. “Guru harus bisa memilah-milah waktu yang sedikit, dengan pelajaran-pelajaran lain di luar bahasa, yang proporsinya tidak bisa dibilang ringan,” ujar Dewaki. ”Jalan sastra sepertinya masih panjang untuk bisa menempati posisi yang seharusnya.”

Minggu, 23 November 2008

Melenyapkan Jarak dengan Penonton

Dwi Fitria
http://jurnalnasional.com/

Pertunjukan Gandrik menjadi fasih berbicara dengan audiens dari berbagai kalangan.

Dalam Indonesian Dance Festival 2008 yang baru saja berlalu ditampilkanlah sebuah pertunjukan tari tak biasa. Pertunjukan itu berjudul Prichet and Me, alih-alih berupa sebuah pertunjukan tari konvensional, pentas yang dijadikan pamungkas IDF tersebut lebih banyak menampilkan dialog tanya jawab antara koreografenya Jerome Bel, dan Pritchet Kunlun, seorang penari tradisional Thailand.

Di salah satu bagian pertunjukan yang cukup unik itu Bel mengatakan bagaimana suatu hari, ia yang selama bertahun-tahun berprofesi sebagai seorang penari merasakan sebuah kejenuhan yang tak terperikan. Yang membuatnya kemudian memutuskan untuk berhenti menjadi penari, dan selama dua tahun membaca semua buku yang ada tentang seni.

Satu hal yang ia rasakan kuat adalah bagaimana panggung telah membuat para seniman terasing dari audiensnya. Ia kemudian muncul kembali sebagai seorang conceptual artist yang peduli pada reaksi penontonnya. Maka pada pertunjukan Bel, gelak tawa bukanlah hal asing, komentar iseng malah ditanggapi, dan improvisasi menjadi sebuah kewajaran. Seorang dramaturg asal Jerman yang juga menyaksikan pertunjukan Bel malam itu mengatakan bahwa meski sudah lima kali menyaksikan pertunjukan itu, ia tak pernah bosan. Sebab bentuknya cair dan selalu berubah.

Dalam ranah teater tradisional Indonesia, ada sebuah format yang amat memungkinkan mencairnya batas antara penonton dan pemain dalam sebuah pertunjukan teater sampakan. Di tanah air, Teater Gandrik dari Yogyakarta mengolah bentuk pertunjukan ini dengan membaurkannya dalam format yang modern.

“Gandrik memang kuat dalam bentuk sampakannya. Kebanyakan aktornya adalah para aktor yang berpendidikan. Oleh karena itulah mereka juga memahami teater modern. Mereka membuat sebuah upaya yang amat baik mengemas sedemikian rupa sebuah format teater rakyat sehingga menjadi lebih mudah diterima oleh masyarakat modern,” ujar esais sekaligus pengamat budaya, Radhar Panca Dahana kepada Jurnal Nasional pada Jumat (21/11) lalu.

Dalam pertunjukan-pertunjukannya Teater Gandrik senantiasa menampilkan spontanitas berbalut humor segar yang tak akan kesulitan dipahami oleh audiens dari banyak kalangan.

Spontanitas sesungguhnya merupakan bagian dari teater rakyat Indonesia. Berbagai jenis pertunjukan di Jawa Timur, Betawi, Sunda, atau Padang mengaburkan batas antara panggung dan penonton. Dialog antara penonton dan pemain bukan lagi hal yang asing, sebab dalam format teater rakyat, tak ada dinding yang membatasi antara penonton dan panggung.

“Dialog akan terjadi bila ada satu kesamaan simbolik secara linguistik antara penonton dan panggung. Jika terjadi kesenjangan simbolis sebagaimana teaer modern, atau teater eksperimental, maka komunikasi tidak bisa terus terjadi. Setidaknya tidak secara langsung karena penonton harus melakukan defamiliarisasi atau desimbolisasi dari panggung yang mungkin abstrak dan absurd,” ujar Radhar.

Sampakan dan Teater Modern
Kelebihan Teater Gandrik adalah kemampuannya menggabungkan antara yang tradisional dan modern. “Mereka menunjukkan bahwa teater tradisi memiliki kelaikan dalam kehidupan seni masa kini. Bahwa teater tradisi juga bisa bercengkrama dengan bentuk modern, sehingga membuat teater tradisi itu tetap kontemporer,” ujar Radhar.

Menurut Radhar bentuk pertunjukan teater Gandrik menyiratkan kekhasan dan keunikan dari seni tradisi Jawa. Teater yang kini dikomandoi Butet Kertarejasa itu memperlihatkan kemampuan untuk menggabungkan berbagai khasanah budaya dari berbagai daerah dan wilayah dan luar negeri, yang menurut Radhar dapatlah dianggap sebagai sebuah bentuk kesenian Jawa kontemporer.

Bentuk sampakan sebagaimana yang diangkat oleh Teater Gandrik menurut Radhar adalah sebuah bentuk khas kesenian Indonesia yang sebaiknya amat baik bila dikembangkan di Indonesia. “itu adalah sebuah simbiosa mutualistis yang membuka ruang agar teater kita mampu mengangkat persoalan modern tapi bisa berkarib-karib dengan dengan publiknya.”

Menurut Radhar di awal perkembangan teater di Eropa, gaya macam ini amat lazim. Commedia dell’arte adalah satu di antaranya. Bentuk pertunjukan ini adalah sebuah jenis teater improvisasi yang berkembang di Italia di abad ke-16. Penampilan biasanya dilakukan tanpa naskah, dan diadakan di luar ruangan dengan menggunakan property sederhana. Lontaran-lontaran dialog saling menimpali antara aktor panggung dan penonton menjadi hal yang amat lumrah dalam pertunjukan jenis ini.

Setelah menjadi amat populer di abad ke-18, bentuk pertunjukan semacam yang ditawarkan oleh Commedia dell’arte ini perlahan menghilang. Terbentuklah pemikiran di teater Eropa yang hanya mempedulikan panggungnya. Muncul istilah the show must go on, yang artinya apa pun yang terjadi maka pertunjukan akan terus berjalan. Berkembanganya pemikiran ini menyebabkan teater makin berjarak dengan audiensnya. Sisa-sisa pertunjukan mirip sampakan hanya bisa ditemukan di beberapa negara saja semisal Kazakhstan dan negara-negara Asia Tengah lainnya.

Naskah dan Improvisasi
Kemampuan improvisasi adalah salah satu kemampuan yang amat dibutuhkan para aktor yang menggunakan metode sampakan dalam pertunjukan. Meskipun menurut Radhar kemampuan ini sesungguhnya adalah sesuatu yang wajib dimiliki oleh setiap aktor dalam bentuk teater apa pun

Dalam teater Gandrik, kemampuan berimprovisasi itu adalah sesuatu yang sepertinya sudah menginternalisasi pada setiap aktornya. Meskipun kemampuan itu tak datang serta-merta. Menurut Agus Noor, cerpenis yang telah dua kali diminta menulis naskah panggung untuk Gandrik, kelompok teater ini selalu mengadakan sebuah pembacaan di mana tiap aktor langsung melakukan intrepretasi pribadi mereka.

Menulis naskah untuk kelompok teater sekelas Gandrik gampang-gampang susah. “Dalam proses pembuatan naskah, saya selalu mengingat baik karakter teman-teman Gandrik yang sebagai besar memang humoris, dan piawai membuat parodi,” ujar Agus yang bersama Ayu Utami membuat naskah Sidang Susila untuk Gandrik yang dipentaskan di berbagai kota di Indonesia pada 2007 lalu itu.

Teater Gandrik berusaha menampilkan persoalan-persoalam dalam masyarakat dengan cara yang unik, komikal dan menggelitik, oleh karena itulah Agus Noor juga mencoba menerapkan pola pikir ini dalam menggarap naskah kelompok teater itu. Meski demikian kemampuan tinggi para aktornya memungkinkan naskah apa pun yang ditampilkan memiliki ciri khas Gandrik secara otomatis.

Pada Juni 2009 mendatang, Teater Gandrik kembali akan menggelar sebuah pertunjukan bertajuk Presiden Kita Tercinta. Alkisah, presiden di sebuah negara dikisahkan terbunuh. Negara tersebut membutuhkan seorang presiden baru. Berbeda dengan negara-negara lain di mana seorang presiden disaring dengan ketat, seluruh warga negara di sana selama masih sehat jasmani dan rohani wajib mencalonkan diri.

Rakyat juga berbondong-bondong mencari sosok yang dianggap cocok untuk menjadi presiden mereka selanjutnya. Hingga suatu hari ditemukanlah seorang petani yang dianggap memiliki semua karakteristik yang dicari dalam diri seorang presiden. Petani yang tak tahu apa-apa itu tak bisa menolak, sebab konstitusi mengharuskan ia menjadi presiden.

“Banyak aspek sejarah Indonesia, mulai dari tahun 60-an hingga sekarang, yang saya ambil untuk naskah pementasan ini. Tapi tentu saja dengan tak melupakan untuk berkaca pada kondisi terkini Indonesia,” ujar Agus Noor.

Minggu, 16 November 2008

Bhineka Tunggal Ika dalam Prosa

Dwi Fitria
http://jurnalnasional.com/

Pengarang kita memaknai keindonesiaannya dengan cara masing-masing.
Max Lane, penerjemah karya-karya Pramoedya pernah mengatakan bahwa sejarah dan sastra adalah dua alat paling andal untuk membentuk konsep kebangsaan dalam diri individu sebuah bangsa. Dalam bukunya Bangsa yang Belum Selesai, Max Lane menekankan bagaimana pentingnya memelajari ulang sejarah dan sastra untuk membentuk karakter bangsa Indonesia.

Kondisi suatu bangsa dapat dilihat dari karya sastranya. Oleh karenanya kualitas pemahaman seorang pengarang mengenai makna jati dirinya sebagai bagian dari sebuah bangsa akan tercermin dalam karya-karyanya. Para pengarang mutakhir memiliki cara masing-masing untuk memaknai keindonesiaan mereka.

Sebagai seorang pengarang, Puthut EA berusaha melihat permasalahan yang sedang dihadapi bangsa dengan cara kritis dan kemudian mengolahnya dalam medium sastra. “Concern saya lebih di cerpen, meskipun tidak utuh, saya menggambarkan segi-segi kecil wajah Indonesia dengan cara sendiri,” ujar pengarang kelahiran Rembang, 28 Maret 1977 itu.

Dalam kumpulan-kumpulan cerpennya Sebuah Kitab yang Tak Suci (2001), Dua Tangisan pada Satu Malam(2003) dan Sarapan Pagi Penuh Dusta (2004), Puthut mengangkat hal-hal yang berbeda sesuai dengan perhatiannya pada masalah sejarah, kebudayaan, perempuan juga agama.

Puthut sendiri percaya bahwa sastra adalah representasi dari kondisi Indonesia. Apa pun bentuknya, karya setiap pengarang adalah kepingan-kepingan yang secara keseluruhan membentuk wajah Indonesia saat itu.

Kearifan lokal
Ia mengambil contoh Laskar Pelangi dan Ayat-Ayat Cinta yang laris manis bak kacang goreng di pasaran. Dua karya itu menggambarkan Indonesia dari sudut pandang yang amat bertolak belakang. “Saya memandang kedua karya itu dalam konteks keindonesiaan. Yang satu sarat dengan gagasan modernis, sementara yang lain memperlihatkan adanya kecenderungan laki-laki sentris,” ujarnya. Meski bertolak belakang kedua buku itu menggambarkan apa yang sedang terjadi di dalam masyarakat saat ini.

Lain Puthut, lain Cok Sawitri. Penulis perempuan kelahiran Sidemen, Karangasem, Bali 1 September 1968 itu melihat keindonesiaan sebagai penghormatan terhadap keragaman yang ada di nusantara. “Kekuatan bangsa Indonesia terletak kepada keberagamannya. Oleh karena itulah menurut saya keindonesiaan maknanya adalah rasa hormat kepada martabat juga semua kearifan lokal yang ada di seluruh pelosok Indonesia.”

Sehingga menurut Cok, saat bertemu orang-orang dari berbagai daerah yang berbeda dipertemukan, tidak akan ada yang merasa lebih atau kurang, karena sesungguhnya semuanya adalah puncak-puncak tersendiri dari kebudayaan yang jika dipersatukan akan membentuk apa yang dimaksud dengan Indonesia.

Sayangnya kesadaran akan kebhinekaan ini semakin lama menurutnya semakin menurun. “Perkembangan bangsa Indonesia saat ini, melenceng jauh dari cita-cita awalnya. Sehingga kelompok minoritas cenderung terpinggirkan. Padahal yang disebut Indonesia sekarang berhutang budi pada semua elemen yang membentuknya.”

Ketidaksadaraan akan kebhinekaan ini dikhawatirkan Cok akan berakibat buruk terpecah belahnya Indonesia di masa mendatang. “Mungkin belum kita rasakan, tapi tak mustahil perpecahan semacam itu bisa terjadi dua puluh tiga puluh tahun ke depan. Jika kesadaran mengenai kebhinekaan ini tak juga dipulihkan,” katanya. Penawar satu-satunya bagi kondisi ini adalah ditegakkannya Pancasila dalam berbagai aspek kehidupan. Termasuk juga dalam sisi sosial budayanya.

Kesadaran inilah yang kemudian mendorong Cok untuk mengeksplorasi legenda serta kekayaan folklore lokal dalam banyak karyanya. Janda dari Jirah, Karyanya yang teranyar diterbitkan oleh Gramedia pada 2007 lalu, mengangkat kembali sosok Calonarang, dengan menggunakan sudut pandang yang lebih positif. Bertolak belakang dari penggambaran Calonarang selama ini, pada Janda dari Jirah, sosok itu digambarkan sebagai perempuan sakti yang bijaksana.

Saat ini Cok juga sedang membuat rekonstruksi kitab Sutasoma. “Itu cara saya untuk mengapresiasi keindonesiaan saya. Dengan tidak membiarkan kekayaan budaya leluhur lenyap begitu saja,” kata perempuan yang juga aktif bergelut di dunia teater itu.

Sayangnya usahanya ini kerap tak mendapatkan apresiasi yang semestinya. “Buku saya yang terakhir misalnya. Penerbit menuntut untuk mengedit isinya. Padahal reinterpretasi semacam itu jika diedit tanpa pemahaman yang memadai tentang Sutasoma, malah akan merusak isinya,” kata Cok.

Dalam sebuah diskusi mengenai Globalisasi Ekonomi dan Kebudayaan Francis Fukuyama pernah mengatakan bahwa Globalisasi akan berjalan lurus dengan homogenisasi di bidang-bidang ekonomi, politik juga budaya. Namun ekonomi dan politiklah yang akan bersentuhan langsung dengan proses ini. Sebab untuk menjadikan dirinya maju, sebuah masyarakat haruslah berbentuk demokrasi, dan harus terkoneksi ke pasar global. Oleh sebab itulah homogenisasi terjadi lebih cepat pada institusi dan ideologi.

Dinamis dan terbuka
Sementara dalam level budaya, proses ini tak bisa dikatakan berlangsung sama cepatnya. Bahkan menurut Fukuyama, ada semacam resistensi terhadap homogenisasi budaya. Budaya adalah salah satu aspek yang tidak akan dengan mudah mengalami proses ini. Budaya dinamis dan terbuka tapi dengan mengacu pada nilai-nilai yang sudah terbentuk budaya akan menyeleksi dengan sendirinya hal-hal yang dianggap cocok atau tak cocok menjadi bagiannya.

Arus globalisasi memperderas aliran informasi yang masuk ke Indonesia. Tak terkecuali bagi para sastrawan, kemudahan akses ini tentulah membuat para pengarang semakin banyak terekspos pengaruh luar. Kondisi ini menurut Puthut EA bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan. ”Keindonesiaan kita sejak dulu adalah sesuatu yang dinamis, dan masuknya pengaruh luar bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan,” ujarnya.

Yang perlu mendapatkan perhatian justru mental terjajah yang telah sedemikian lama menjadi momok dan seolah-olah terinternalisasi pada karakter banyak orang Indonesia. “Memandang segala sesuatu yang datang dari Barat sebagai sesuatu yang wah, padahal sesungguhnya hal-hal yang datang dari budaya kita amat sarat imajinasi dan nilai-nilai. Cara pandang inilah yang harus dibalik,” kata Puthut lagi.

Hal ini juga berlaku dalam menilik kiprah sastra Indonesia di dunia internasional. “Kita terlalu naïf memandang kemajuan sastra negara lain. Jika yang dimaksud maju adalah dikonsumsi secara luas oleh masyarakat internasional, maka harus dipertanyakan adalah banyakkah pihak yang mendukung penerjemahan.”

Padahal secara kualitas, sejak dahulu bangsa Indonesia memiliki kekayaan yang sangat kaya. “ Kurang kualitas apa Serat Centhini, karya-karya Budi Darma, atau karya Pram,” ujarnya.

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati