Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Sihar Ramses Simatupang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sihar Ramses Simatupang. Tampilkan semua postingan
Jumat, 16 Maret 2018
Membayangkan Debat Seru "MMKI" di PDS H.B. Jassin
Kamis, 01 Maret 2018
Bedah buku Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia di PDS HB Jassin
Bedah buku Membongkar
Mitos Kesusastraan Indonesia akan diadakan di PDS HB Jassin pada April depan
dengan pembahas Sihar Ramses Simatupang dan moderator Bp. Eka Chris Eka
Budianta. Mari ramaikan dan jangan ketinggalan untuk order bukunya. LIMITED
STOKS.
Senin, 08 November 2010
Radhar Panca Dahana: Ada Masalah dalam Pola Relasi Kesenian Kita!
Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/
Teaterikalisasi puisi dari buku antologi karya penyair Radhar Panca Dahana yang berjudul Lalu Batu kemarin digulirkan Teater Kosong di Gedung Kesenian Jakarta 10-11 April. Para aktor menyajikan pertunjukan yang ekspresif. Padahal, improvisasi bahasa puisi yang menjadi ”bahasa milik aktor” bukan pekerjaan yang mudah.
Namun yang menjadi perhatian malam itu—siapa lagi—kalau bukan Radhar Panca Dahana, sang penyair yang kondisi kesehatannya sempat memburuk. Ia tampil penuh semangat. Beberapa karya puisi yang telah dihafalnya di luar kepala begitu lancar dan lantang diucapkan malam itu.
Ditemui secara terpisah oleh SH, Radhar menyatakan antologi berjudul Lalu Batu itu sangat bermakna bagi dirinya.
Bagi Radhar, manusia mengejar waktu, lewat ilmu pengetahuan dan teknologi. ”Salah satu obsesi manusia adalah mengalahkan waktu,” ujarnya. Pada intinya, perjalanan mengalahkan waktu itu adalah sebuah upaya menaklukkan si empunya waktu juga, menaklukkan Tuhan. Karena baginya pemilik waktu adalah Tuhan.
Lalu Batu punya maksud bahwa batu adalah ”tempat berdiamnya waktu”. Ketika dia menjalani proses dan akhirnya dimakamkan pun dia menjadi batu. Seperti sebuah fosil. Jadi, kalau dia menjalani sebuah proses, maka ujung akhirannya adalah batu.
Radhar, selain dikenal ”bandel” juga termasuk orang yang kreatif. Menanggapi itu, sekalipun membantah, dan mengatakan bahwa yang bandel itu pada hakikatnya bukan cuma seniman dan tak paralel dengan kreativitas yang dia lakukan selama ini.
Dalam pertemuan dengan SH, Radhar menegaskan ketertarikannya yang lebih pada puisi ketimbang prosa yang cenderung beretorika. ”Saya jenuh beretorika. Pada puisi kita bisa lebih mengutamakan makna,” tandas penyair yang telah menghasilkan beberapa antologi puisi dan satu cerpen itu.
Berikut, Radhar mengungkapkan lebih banyak lagi pandangannya tentang sastra Indonesia.
Kenapa Anda lebih tertarik pada puisi? Prosa tak menarik ketimbang puisi?
Bagi saya, bukan puisi lebih menarik dari prosa, tapi puisi lebih sulit dari pada prosa. Dunia kita sekarang adalah dunia yang dikuasai prosa, dunia yang prosaik. Dunia prosaik ini sudah dikuasai seluruh kepentingan yang ada di bumi—kepentingan politik, bisnis, agama, dan lain-lain. Semua bermain dengan prosa yang sangat bagus, retorikanya bagus, tetapi tetap dunia retorik.
Padahal, retorika yang pernah menjadi raja di abad pertengahan telah dipinggirkan pada abad ke-19. Pelajaran retorika di kuliah filsafat juga sudah tidak ada. Namun, dunia sekarang justru kembali pada retorika dan ternyata sukses.
Seorang kritikus sastra dari Prancis, Antoine Compagnon, mengatakan retorika kembali muncul pada milenium baru dengan bukti-bukti seperti itu. Dunia prosaik yang semacam itu bagi saya sangat ganas, sangat liar, karena tiba-tiba orang harus berebut untuk hidup dengan mempertahankan retorikanya, termasuk media massa. Media massa ‘kan begitu, main gede-gedean headline. Sampai sekarang yang paling banal, paling jorok sudah muncul ‘kan?
Perbedaannya dengan puisi?
Puisi adalah tempat kata-kata mendapat penghargaan setinggi-tingginya. Puisi adalah sebuah dunia tempat kata-kata dimainkan seminimal mungkin dan seefektif mungkin untuk bisa menyelami makna sedalam-dalamnya. Cuma, persoalannya ternyata kemajuan sudah begitu luar biasa. Dunia prosa membahana. Perubahan-perubahan sudah lagi tidak tertangkap dalam pikiran kita dan sudah tidak termuat lagi dalam bahasa. Bahasa apa pun sudah tidak cukup lagi menggambarkan kenyataan sekarang.
Baru-baru ini JS Badudu memunculkan kamus bahasa serapan, begitu tebal. Artinya bahasa serapan sudah begitu banyak. Dengan bahasa serapan yang berasal dari Inggris, Jawa, Sunda itu pun bahasa Indonesia belum cukup mumpuni untuk menggambarkan kenyataan sekarang. Penyair pun mengalami kesulitan. Bagaimana dengan bahasa yang semiskin itu kita harus menggambarkan realitas semesta yang begitu kayanya. Penyair mengalami krisis ketika bahasa sebagai senjata utamanya, mengalami pemiskinan yang luar biasa. Ada berbagai macam bahasa baru dari dunia teknologi, sains dan lain-lain, yang tidak begitu mudah tercerap di dalam puisi. Puisi-puisi mutakhir tiba-tiba memasukkan begitu saja kosa-kata baru, lemari es, komputer, digit, karena dia terbata-bata melihat itu. Seorang penyair sangat sensitif terhadap hal seperti itu. Seorang penyair kan sebelum ini menerakan sebuah kata misalnya ”kau” atau ”antipati”, ini kata asing. Dia harus mengerti dulu dong, apa yang disebut dengan ”antipati”, apa yang disebut dengan ”kau”. Tapi sekarang dalam dunia yang gagap seperti ini, kita main masuk-masukin kata sebelum kita tahu apa artinya. Kenapa? Kita juga mengalami kesulitan untuk memaknai kenyataan dan kehidupan melalui kata-kata itu. Kehidupan ini aku maknai dengan kata-kataku. Dan kata-kata tidak cukup.
Nah, kecepatan perkembangan hidup peradaban kita sekarang ini, seperti kata Bill Gates, tidak diukur lagi oleh kecepatan melainkan oleh percepatan. Sementara bahasa berkembang seperti siput. Kita ngomong salah sedikit aja langsung dikoreksi, ‘eh salah lo!’ Orang Minang bilang, ‘Itu bahasa Jawa’. Terus, orang Sunda bilang itu bahasa sanskrit. Orang main tuding-tudingan. Lha terus kenapa kalau bahasa Jawa?
Bahasa planet juga boleh, prokem diinjek-injek dan lain-lain. Kita harus melepaskan bahasa dari
telikungan-telikungan itu, penjara-penjara itu. Makanya waktu ”Masa Depan Kesunyian”, ”97”, kumpulan cerpen saya, dibacakan dengan 10 bahasa. Marissa Haque baca bahasa Belanda. Desy Ratnasary baca bahasa Sunda. Rano Karno bahasa Betawi, Teguh Esha bahasa prokem. Satu cerpen bisa diekspresikan dengan berbagai bahasa yang pemaknaannya jadi beda-beda. Jadi sumber kekayaan dong, bagi bahasa, pengetahuan dan bagi kebudayaan itu sendiri. Jadi kalau begitu bahasa dibatasi, begitu pula membeku peradaban.
Tanggapan Anda terhadap sejarah kesusasteraan yang berlangsung lambat dan kurang dinamis?
Saya kira yang harus ditanggapi bukan karya-karyanya saja, tetapi pola relasi antara para seniman tersebut. Saya kira, kita ada masalah dengan pola relasi tersebut. Masalahnya, adanya kecenderungan, nah ini mungkin agak sentimental, ada kecenderungan yang terciptanya satu pola relasi patronklienistik. Artinya saya sangat menyayangkan beberapa teman yang harus menggantungkan diri kepada kekuatan-kekuatan literer tertentu yang didukung oleh kekuatan non-literer, misalnya kekuatan media, ekonomi, kekuatan politik dan lain-lain sehingga kekuatan sastranya sendiri tidak cukup bisa dipertahankan karena dia juga harus mempertahankan yang lain-lainnya itu.
Termasuk politik kesenian di dalamnya?
Termasuk dong. Artinya secara langsung sastra atau dunia literer itu sudah dipolitisasi untuk menciptakan kekuatan-kekuatan ini. Yang pada akhirnya dia berkompetisi. Kalau kompetisi itu sampai pada tingkatan dunia intelektual, katakanlah melahirkan cara berpikir, cara pandang, mazhab, sesuatu yang tersendiri dalam cara melihat kehidupan kita, nggak apa-apa. Itu bagus. Tapi kan kadang-kadang yang terjadi bukan perang konsep. Perang emosi. Perang sentimentalia, perang masa lalu, itu nggak perlu kan? Makanya saya bilang patronklienistik.
Itu berpengaruh pada sejarah sastra kita?
Sangat berpengaruh. Karena kemudian beberapa pengarang atau seniman yang tidak bisa terserap atau terhisap pada pusaran-pusaran itu, dia jadi terpinggirkan, teralienasi dan dengan sendirinya kesempatannya, peluangnya berkurang. Tampil dalam forum lokal dan internasional berkurang. Ia mungkin berbakat tapi tidak mempunyai kemampuan relasional yang bagus. Kemampuan publikasi yang bagus. Tidak punya modal yang cukup untuk bergaul, tidak bisa ngumpul di kafe-kafe untuk gimana gitu. Saya adalah pengarang yang mulainya dari situ. Saya adalah seniman kere sejak dulu. Sejak SMP saya sudah menghasilkan uang sendiri.
Tren seperti itu sejak kapan?
Sejak 80-an. Ada beberapa pengarang yang tidak setuju dengan tren itu akhirnya terpinggirkan karena dia tidak mampu main lagi di sentrum.
Anda punya keinginan untuk mencari solusinya?
Saya tidak pernah membayangkan diri saya untuk jadi solusionis, orang yang menciptakan solusi solusi. Cuma saya ingin memperlihatkan kenyataan itu saja. Disetujui atau tidak. Banyak orang mungkin tidak menyetujui mungkin ya dengan cara menipu dirinya sendiri. Silakan saja. Tapi bagi orang yang bisa melihatnya dengan clear dan jernih, harus mengakuinya kan?
Bukan tak mungkin, suatu saat, Anda pun bisa saja tersesat di labirin itu?
Bisa saja! Bisa saja! Memangnya saya tidak merasakan tarikan itu? Saya ditarik-tarik. Betot kanan betot kiri. Dan saya harus melawan itu untuk bisa mempertahankan independensi kita. Menjadi manusia yang independen sekarang ini, dalam bidang apa pun sangat sulit, termasuk sastra.
Angkatan Pujangga Baru tidak dalam kondisi seperti itu?
Saya kira juga iya, tetapi dalam pengertian yang berbeda. Ada cara bermain yang lebih fair. Artinya
kalau memang berbakat walaupun mungkin bukan selebriti dinilai dengan saksama. Bukan karena ia anak presiden, kita harus memberi perhatian yang saksama sehingga penilaian karya sastranya menjadi bias. Penilaian karya sastra jangan dikaitkan dengan yang nonliterer. Jangan dikaitkan dengan yang sifatnya politis, sosial, kultural, nggak bisa dong.
Atau kesalahan semua ini karena sekarang kita tak punya pengamat sastra?
Sebenarnya pengamat sastra itu selalu ada. Selama masyarakat ada, pengamat itu ada. Karena pengamat yang paling utama adalah masyarakat itu. Kalau kamu punya pengamat seribu tapi tidak ada masyarakat, siapa yang mau beli? Untuk apa puisi diciptakan. Yang penting kan pengamatnya masyarakat itu sendiri. Kritikus mati nggak apa-apa kalau masyarakatnya tetap ada. Nah, masyarakat yang hidup apresiatif sastra itu yang harus kita tumbuhkan. Jangan menumbuhkan kritikus-kritikus
hebat tapi mayarakatnya buta. Jangan dibalik dong.
http://www.sinarharapan.co.id/
Teaterikalisasi puisi dari buku antologi karya penyair Radhar Panca Dahana yang berjudul Lalu Batu kemarin digulirkan Teater Kosong di Gedung Kesenian Jakarta 10-11 April. Para aktor menyajikan pertunjukan yang ekspresif. Padahal, improvisasi bahasa puisi yang menjadi ”bahasa milik aktor” bukan pekerjaan yang mudah.
Namun yang menjadi perhatian malam itu—siapa lagi—kalau bukan Radhar Panca Dahana, sang penyair yang kondisi kesehatannya sempat memburuk. Ia tampil penuh semangat. Beberapa karya puisi yang telah dihafalnya di luar kepala begitu lancar dan lantang diucapkan malam itu.
Ditemui secara terpisah oleh SH, Radhar menyatakan antologi berjudul Lalu Batu itu sangat bermakna bagi dirinya.
Bagi Radhar, manusia mengejar waktu, lewat ilmu pengetahuan dan teknologi. ”Salah satu obsesi manusia adalah mengalahkan waktu,” ujarnya. Pada intinya, perjalanan mengalahkan waktu itu adalah sebuah upaya menaklukkan si empunya waktu juga, menaklukkan Tuhan. Karena baginya pemilik waktu adalah Tuhan.
Lalu Batu punya maksud bahwa batu adalah ”tempat berdiamnya waktu”. Ketika dia menjalani proses dan akhirnya dimakamkan pun dia menjadi batu. Seperti sebuah fosil. Jadi, kalau dia menjalani sebuah proses, maka ujung akhirannya adalah batu.
Radhar, selain dikenal ”bandel” juga termasuk orang yang kreatif. Menanggapi itu, sekalipun membantah, dan mengatakan bahwa yang bandel itu pada hakikatnya bukan cuma seniman dan tak paralel dengan kreativitas yang dia lakukan selama ini.
Dalam pertemuan dengan SH, Radhar menegaskan ketertarikannya yang lebih pada puisi ketimbang prosa yang cenderung beretorika. ”Saya jenuh beretorika. Pada puisi kita bisa lebih mengutamakan makna,” tandas penyair yang telah menghasilkan beberapa antologi puisi dan satu cerpen itu.
Berikut, Radhar mengungkapkan lebih banyak lagi pandangannya tentang sastra Indonesia.
Kenapa Anda lebih tertarik pada puisi? Prosa tak menarik ketimbang puisi?
Bagi saya, bukan puisi lebih menarik dari prosa, tapi puisi lebih sulit dari pada prosa. Dunia kita sekarang adalah dunia yang dikuasai prosa, dunia yang prosaik. Dunia prosaik ini sudah dikuasai seluruh kepentingan yang ada di bumi—kepentingan politik, bisnis, agama, dan lain-lain. Semua bermain dengan prosa yang sangat bagus, retorikanya bagus, tetapi tetap dunia retorik.
Padahal, retorika yang pernah menjadi raja di abad pertengahan telah dipinggirkan pada abad ke-19. Pelajaran retorika di kuliah filsafat juga sudah tidak ada. Namun, dunia sekarang justru kembali pada retorika dan ternyata sukses.
Seorang kritikus sastra dari Prancis, Antoine Compagnon, mengatakan retorika kembali muncul pada milenium baru dengan bukti-bukti seperti itu. Dunia prosaik yang semacam itu bagi saya sangat ganas, sangat liar, karena tiba-tiba orang harus berebut untuk hidup dengan mempertahankan retorikanya, termasuk media massa. Media massa ‘kan begitu, main gede-gedean headline. Sampai sekarang yang paling banal, paling jorok sudah muncul ‘kan?
Perbedaannya dengan puisi?
Puisi adalah tempat kata-kata mendapat penghargaan setinggi-tingginya. Puisi adalah sebuah dunia tempat kata-kata dimainkan seminimal mungkin dan seefektif mungkin untuk bisa menyelami makna sedalam-dalamnya. Cuma, persoalannya ternyata kemajuan sudah begitu luar biasa. Dunia prosa membahana. Perubahan-perubahan sudah lagi tidak tertangkap dalam pikiran kita dan sudah tidak termuat lagi dalam bahasa. Bahasa apa pun sudah tidak cukup lagi menggambarkan kenyataan sekarang.
Baru-baru ini JS Badudu memunculkan kamus bahasa serapan, begitu tebal. Artinya bahasa serapan sudah begitu banyak. Dengan bahasa serapan yang berasal dari Inggris, Jawa, Sunda itu pun bahasa Indonesia belum cukup mumpuni untuk menggambarkan kenyataan sekarang. Penyair pun mengalami kesulitan. Bagaimana dengan bahasa yang semiskin itu kita harus menggambarkan realitas semesta yang begitu kayanya. Penyair mengalami krisis ketika bahasa sebagai senjata utamanya, mengalami pemiskinan yang luar biasa. Ada berbagai macam bahasa baru dari dunia teknologi, sains dan lain-lain, yang tidak begitu mudah tercerap di dalam puisi. Puisi-puisi mutakhir tiba-tiba memasukkan begitu saja kosa-kata baru, lemari es, komputer, digit, karena dia terbata-bata melihat itu. Seorang penyair sangat sensitif terhadap hal seperti itu. Seorang penyair kan sebelum ini menerakan sebuah kata misalnya ”kau” atau ”antipati”, ini kata asing. Dia harus mengerti dulu dong, apa yang disebut dengan ”antipati”, apa yang disebut dengan ”kau”. Tapi sekarang dalam dunia yang gagap seperti ini, kita main masuk-masukin kata sebelum kita tahu apa artinya. Kenapa? Kita juga mengalami kesulitan untuk memaknai kenyataan dan kehidupan melalui kata-kata itu. Kehidupan ini aku maknai dengan kata-kataku. Dan kata-kata tidak cukup.
Nah, kecepatan perkembangan hidup peradaban kita sekarang ini, seperti kata Bill Gates, tidak diukur lagi oleh kecepatan melainkan oleh percepatan. Sementara bahasa berkembang seperti siput. Kita ngomong salah sedikit aja langsung dikoreksi, ‘eh salah lo!’ Orang Minang bilang, ‘Itu bahasa Jawa’. Terus, orang Sunda bilang itu bahasa sanskrit. Orang main tuding-tudingan. Lha terus kenapa kalau bahasa Jawa?
Bahasa planet juga boleh, prokem diinjek-injek dan lain-lain. Kita harus melepaskan bahasa dari
telikungan-telikungan itu, penjara-penjara itu. Makanya waktu ”Masa Depan Kesunyian”, ”97”, kumpulan cerpen saya, dibacakan dengan 10 bahasa. Marissa Haque baca bahasa Belanda. Desy Ratnasary baca bahasa Sunda. Rano Karno bahasa Betawi, Teguh Esha bahasa prokem. Satu cerpen bisa diekspresikan dengan berbagai bahasa yang pemaknaannya jadi beda-beda. Jadi sumber kekayaan dong, bagi bahasa, pengetahuan dan bagi kebudayaan itu sendiri. Jadi kalau begitu bahasa dibatasi, begitu pula membeku peradaban.
Tanggapan Anda terhadap sejarah kesusasteraan yang berlangsung lambat dan kurang dinamis?
Saya kira yang harus ditanggapi bukan karya-karyanya saja, tetapi pola relasi antara para seniman tersebut. Saya kira, kita ada masalah dengan pola relasi tersebut. Masalahnya, adanya kecenderungan, nah ini mungkin agak sentimental, ada kecenderungan yang terciptanya satu pola relasi patronklienistik. Artinya saya sangat menyayangkan beberapa teman yang harus menggantungkan diri kepada kekuatan-kekuatan literer tertentu yang didukung oleh kekuatan non-literer, misalnya kekuatan media, ekonomi, kekuatan politik dan lain-lain sehingga kekuatan sastranya sendiri tidak cukup bisa dipertahankan karena dia juga harus mempertahankan yang lain-lainnya itu.
Termasuk politik kesenian di dalamnya?
Termasuk dong. Artinya secara langsung sastra atau dunia literer itu sudah dipolitisasi untuk menciptakan kekuatan-kekuatan ini. Yang pada akhirnya dia berkompetisi. Kalau kompetisi itu sampai pada tingkatan dunia intelektual, katakanlah melahirkan cara berpikir, cara pandang, mazhab, sesuatu yang tersendiri dalam cara melihat kehidupan kita, nggak apa-apa. Itu bagus. Tapi kan kadang-kadang yang terjadi bukan perang konsep. Perang emosi. Perang sentimentalia, perang masa lalu, itu nggak perlu kan? Makanya saya bilang patronklienistik.
Itu berpengaruh pada sejarah sastra kita?
Sangat berpengaruh. Karena kemudian beberapa pengarang atau seniman yang tidak bisa terserap atau terhisap pada pusaran-pusaran itu, dia jadi terpinggirkan, teralienasi dan dengan sendirinya kesempatannya, peluangnya berkurang. Tampil dalam forum lokal dan internasional berkurang. Ia mungkin berbakat tapi tidak mempunyai kemampuan relasional yang bagus. Kemampuan publikasi yang bagus. Tidak punya modal yang cukup untuk bergaul, tidak bisa ngumpul di kafe-kafe untuk gimana gitu. Saya adalah pengarang yang mulainya dari situ. Saya adalah seniman kere sejak dulu. Sejak SMP saya sudah menghasilkan uang sendiri.
Tren seperti itu sejak kapan?
Sejak 80-an. Ada beberapa pengarang yang tidak setuju dengan tren itu akhirnya terpinggirkan karena dia tidak mampu main lagi di sentrum.
Anda punya keinginan untuk mencari solusinya?
Saya tidak pernah membayangkan diri saya untuk jadi solusionis, orang yang menciptakan solusi solusi. Cuma saya ingin memperlihatkan kenyataan itu saja. Disetujui atau tidak. Banyak orang mungkin tidak menyetujui mungkin ya dengan cara menipu dirinya sendiri. Silakan saja. Tapi bagi orang yang bisa melihatnya dengan clear dan jernih, harus mengakuinya kan?
Bukan tak mungkin, suatu saat, Anda pun bisa saja tersesat di labirin itu?
Bisa saja! Bisa saja! Memangnya saya tidak merasakan tarikan itu? Saya ditarik-tarik. Betot kanan betot kiri. Dan saya harus melawan itu untuk bisa mempertahankan independensi kita. Menjadi manusia yang independen sekarang ini, dalam bidang apa pun sangat sulit, termasuk sastra.
Angkatan Pujangga Baru tidak dalam kondisi seperti itu?
Saya kira juga iya, tetapi dalam pengertian yang berbeda. Ada cara bermain yang lebih fair. Artinya
kalau memang berbakat walaupun mungkin bukan selebriti dinilai dengan saksama. Bukan karena ia anak presiden, kita harus memberi perhatian yang saksama sehingga penilaian karya sastranya menjadi bias. Penilaian karya sastra jangan dikaitkan dengan yang nonliterer. Jangan dikaitkan dengan yang sifatnya politis, sosial, kultural, nggak bisa dong.
Atau kesalahan semua ini karena sekarang kita tak punya pengamat sastra?
Sebenarnya pengamat sastra itu selalu ada. Selama masyarakat ada, pengamat itu ada. Karena pengamat yang paling utama adalah masyarakat itu. Kalau kamu punya pengamat seribu tapi tidak ada masyarakat, siapa yang mau beli? Untuk apa puisi diciptakan. Yang penting kan pengamatnya masyarakat itu sendiri. Kritikus mati nggak apa-apa kalau masyarakatnya tetap ada. Nah, masyarakat yang hidup apresiatif sastra itu yang harus kita tumbuhkan. Jangan menumbuhkan kritikus-kritikus
hebat tapi mayarakatnya buta. Jangan dibalik dong.
Jumat, 29 Oktober 2010
Catatan Temu Sastra MPU V Siasat Sastra di Pusar Arus Global
Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/
Sejalan dengan Maria Vargas Llosa, penulis kelahiran Peru yang menggondol Hadiah Nobel Sastra 2010, bagaimanapun, sastrawan membutuhkan kiat khusus untuk karyanya di tengah arus global.
Eksplorasi mulai dari tema adat istiadat, fenomena “keluarga” hingga teknik bercerita yang unik, sangat dibutuhkan. Selain itu, kendati sudah merancang teknik canggih, dari berbahasa, struktur hingga alur sekali pun, karya sastra tetap membutuhkan energi sosio-politik lokal.
Hal itu dinyatakan seorang peserta dalam seminar bertajuk “Lokal Global dalam Sastra Indonesia” di Taman Budaya Lampung, Sabtu (2/10) yang diamini salah satu pembicara, Triyanto Triwikromo yang juga dikenal sebagai editor sastra sebuah harian umum di Kota Semarang.
Dia melontarkan bahwa pembicaraan soal lokalitas dan globalitas karya sastra yang tak pelak menyinggung juga persoalan batas kebudayaan. Bila dulu, papar Triyanto, kita memahami kelokalitasan dan keglobalitasan adalah entitas yang beku, tak bergerak, statis maka kini identitas tak pernah mandek.
Triyanto kemudian mengatakan bahwa tak ada ruang, sekali pun dengan gagah disebut lokal yang steril dari pengaruh ruang-ruang lain. Ruang lain, menyusup sedemikian deras ke dalam kelokalan sebuah teks sastra, misalnya karena pengaruh globalisme, tumbuh seperti sebuah virus yang tak terbendung.
Triyanto mencontohkan dialektika lokal-global pada sebuah karya sastra terbaru, yang dicontohkannya ada pada karya Arundhati Roy “The God of Small Things”. Arundhati, ujar Triyanto, mampu menyiasati berkah sekaligus ancaman globalitas. Jhumpa Lahiri menurut Triyanto hidup di dua dunia namun tak serta-merta larut di jantung sastra global, malah memunculkan kisah imigran, menggarap dunia batas lokal dan global, lalu berhasil.
Jose Ortega, disitir oleh Anton Kurnia dan Triyanto, pernah mengatakan sastra Amerika Latin adalah respons imajinatif terhadap segala pandangan dunia, aturan norma dan tata sosial yang datang dari barat.
Hal yang sama, ketika di antara para novelis Amerika Latin, sebut saja penulis Chili Luis Sepulveda yang mengungkapkan “The Old Man Who Read Love Stories” dalam novel yang tipis, realis dan terang-benderang, Gabriel Garcia Marquez penulis asal Kolombia malah mengungkapkan dengan bahasa yang puitik dan berpanjang-panjang. Namun, di tengah orang-orang di Kota Mokondo yang mau menukarkan hasil kekayaan alamnya dengan kaca pembesar para Gipsi Marquez sesungguhnya tak hanya membawa metafora bahasa saja. Energi Marquez adalah energi kolektif dari sejarah sosial-politik bangsa-bangsa Amerika Latin.
Energi Sosial
Pertanyaannya, bagaimanakah perkembangan sastra Indonesia selepas zaman dan masa Amir Hamzah, Marah Rusli, lalu pencarian modernitas Sutan Takdir Alisjahbana hingga Idrus dan Chairil Anwar, memasuki masa global, di mana penulis sastra Indonesia tak mungkin lagi berada dalam kondisi membebaskan begitu saja karyanya ke arah global karena perkembangan ke globalan justru akan kembali mempertanyakan identitas lokalitas. Tak bisa dipungkiri, risiko globalitas akan mengarah pada bahaya lain, keseragaman dan totalitarian.
Bagaimanapun, keunikan karya Pramoedya Ananta Toer yang tak lekang di sejarah, kendati diklaim mengusung paham terbaru dari realisme sosial ataupun humanisme, misalnya, telah ikut membawa kisah lokal di Arok-Dedes, juga kosmologi wong ngetan Jawa Timur di Perburuan, kendati diungkapkan dalam bahasa Indonesia sekali pun.
Pramoedya dan Marquez, melalui cara berbahasa yang berbeda telah menangkap persoalan lokal, namun mampu menarik perhatian para penikmat sastra global. Sebuah strategi kalau tak disebut sebagai visi-misi atau pandangan dunia dari si penulis yang membawakan teks sesuai perkembangan zamannya. Tentu dengan berbagai risiko, seperti Marquez, seyakin apakah penulis ini bahwa caranya berbahasa dapat ditangkap dan dimengerti oleh sebagian besar rakyat Amerika Latin. Sebuah karya, bukan teks eksklusif, seperti seorang yang berteriak dari menara gading, di tengah padang pasir yang sunyi.
Secara umum, seminar di tengah acara Temu Sastra Nusantara Mitra Praja Utama (MPU) di Lampung, yang pada seminar sesi pertama menghadirkan pembicara selain Triyanto yaitu tokoh pers dan penyair Djadjat Sudradjat dan sastrawan Lampung Asarpin lalu pada seminar sesi kedua menghadirkan pembicara antara lain sastrawan Yanusa Nugroho, Jamal D Rahman, dan sastrawan Lampung Iswadi Pratama itu menarik perhatian untuk disimak.
Masing-masing pembicara secara umum juga mengungkapkan tegangan lokal dan global dari latar belakang masing-masing. Sebuah tema seminar yang sejak dulu terasa klise, tapi sesungguhnya sulit dan berat untuk dipraktikkan dalam sebuah teks, terutama bagi penulis Indonesia di masa sekarang yang merasa berada di antara gaya khas sastrawan besar di masa silam.
http://www.sinarharapan.co.id/
Sejalan dengan Maria Vargas Llosa, penulis kelahiran Peru yang menggondol Hadiah Nobel Sastra 2010, bagaimanapun, sastrawan membutuhkan kiat khusus untuk karyanya di tengah arus global.
Eksplorasi mulai dari tema adat istiadat, fenomena “keluarga” hingga teknik bercerita yang unik, sangat dibutuhkan. Selain itu, kendati sudah merancang teknik canggih, dari berbahasa, struktur hingga alur sekali pun, karya sastra tetap membutuhkan energi sosio-politik lokal.
Hal itu dinyatakan seorang peserta dalam seminar bertajuk “Lokal Global dalam Sastra Indonesia” di Taman Budaya Lampung, Sabtu (2/10) yang diamini salah satu pembicara, Triyanto Triwikromo yang juga dikenal sebagai editor sastra sebuah harian umum di Kota Semarang.
Dia melontarkan bahwa pembicaraan soal lokalitas dan globalitas karya sastra yang tak pelak menyinggung juga persoalan batas kebudayaan. Bila dulu, papar Triyanto, kita memahami kelokalitasan dan keglobalitasan adalah entitas yang beku, tak bergerak, statis maka kini identitas tak pernah mandek.
Triyanto kemudian mengatakan bahwa tak ada ruang, sekali pun dengan gagah disebut lokal yang steril dari pengaruh ruang-ruang lain. Ruang lain, menyusup sedemikian deras ke dalam kelokalan sebuah teks sastra, misalnya karena pengaruh globalisme, tumbuh seperti sebuah virus yang tak terbendung.
Triyanto mencontohkan dialektika lokal-global pada sebuah karya sastra terbaru, yang dicontohkannya ada pada karya Arundhati Roy “The God of Small Things”. Arundhati, ujar Triyanto, mampu menyiasati berkah sekaligus ancaman globalitas. Jhumpa Lahiri menurut Triyanto hidup di dua dunia namun tak serta-merta larut di jantung sastra global, malah memunculkan kisah imigran, menggarap dunia batas lokal dan global, lalu berhasil.
Jose Ortega, disitir oleh Anton Kurnia dan Triyanto, pernah mengatakan sastra Amerika Latin adalah respons imajinatif terhadap segala pandangan dunia, aturan norma dan tata sosial yang datang dari barat.
Hal yang sama, ketika di antara para novelis Amerika Latin, sebut saja penulis Chili Luis Sepulveda yang mengungkapkan “The Old Man Who Read Love Stories” dalam novel yang tipis, realis dan terang-benderang, Gabriel Garcia Marquez penulis asal Kolombia malah mengungkapkan dengan bahasa yang puitik dan berpanjang-panjang. Namun, di tengah orang-orang di Kota Mokondo yang mau menukarkan hasil kekayaan alamnya dengan kaca pembesar para Gipsi Marquez sesungguhnya tak hanya membawa metafora bahasa saja. Energi Marquez adalah energi kolektif dari sejarah sosial-politik bangsa-bangsa Amerika Latin.
Energi Sosial
Pertanyaannya, bagaimanakah perkembangan sastra Indonesia selepas zaman dan masa Amir Hamzah, Marah Rusli, lalu pencarian modernitas Sutan Takdir Alisjahbana hingga Idrus dan Chairil Anwar, memasuki masa global, di mana penulis sastra Indonesia tak mungkin lagi berada dalam kondisi membebaskan begitu saja karyanya ke arah global karena perkembangan ke globalan justru akan kembali mempertanyakan identitas lokalitas. Tak bisa dipungkiri, risiko globalitas akan mengarah pada bahaya lain, keseragaman dan totalitarian.
Bagaimanapun, keunikan karya Pramoedya Ananta Toer yang tak lekang di sejarah, kendati diklaim mengusung paham terbaru dari realisme sosial ataupun humanisme, misalnya, telah ikut membawa kisah lokal di Arok-Dedes, juga kosmologi wong ngetan Jawa Timur di Perburuan, kendati diungkapkan dalam bahasa Indonesia sekali pun.
Pramoedya dan Marquez, melalui cara berbahasa yang berbeda telah menangkap persoalan lokal, namun mampu menarik perhatian para penikmat sastra global. Sebuah strategi kalau tak disebut sebagai visi-misi atau pandangan dunia dari si penulis yang membawakan teks sesuai perkembangan zamannya. Tentu dengan berbagai risiko, seperti Marquez, seyakin apakah penulis ini bahwa caranya berbahasa dapat ditangkap dan dimengerti oleh sebagian besar rakyat Amerika Latin. Sebuah karya, bukan teks eksklusif, seperti seorang yang berteriak dari menara gading, di tengah padang pasir yang sunyi.
Secara umum, seminar di tengah acara Temu Sastra Nusantara Mitra Praja Utama (MPU) di Lampung, yang pada seminar sesi pertama menghadirkan pembicara selain Triyanto yaitu tokoh pers dan penyair Djadjat Sudradjat dan sastrawan Lampung Asarpin lalu pada seminar sesi kedua menghadirkan pembicara antara lain sastrawan Yanusa Nugroho, Jamal D Rahman, dan sastrawan Lampung Iswadi Pratama itu menarik perhatian untuk disimak.
Masing-masing pembicara secara umum juga mengungkapkan tegangan lokal dan global dari latar belakang masing-masing. Sebuah tema seminar yang sejak dulu terasa klise, tapi sesungguhnya sulit dan berat untuk dipraktikkan dalam sebuah teks, terutama bagi penulis Indonesia di masa sekarang yang merasa berada di antara gaya khas sastrawan besar di masa silam.
Kamis, 02 April 2009
Geliat “Kritis” Cerpenis Malaysia
Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/
Aku saksikan wajahnya yang dipajang berbagai koran, biasanya di halaman sosial; atau aku melihat sekilas mobil suaminya yang diparkir di luar salah satu hotel – mobil dengan pelat bernomor satu digit (orang kaya jadah) yang mudah diingat. Namun, aku tak pernah bertemu Alissa….
Barisan kalimat di atas adalah bagian dari salah satu cerpen “Yang Terkasih”, dari antologi cerpen berjudul Pahlawan dan Cerita Lainnya karya Karim Raslan, sastrawan Malaysia yang melaunching bukunya di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Jakarta (4/9).
Dialihbahasakan oleh Naning Pranoto dan A Rahman Abu, halaman 5 dari buku terbitan Yayasan Obor Indonesia ini hanyalah salah satu ungkapan emotif dari tokoh di cerpen-cerpennya terhadap strafikasi sosial di negeri jiran. Cerpen “Yang Terkasih” mengungkapkan kisah tokoh utama bernama Shukor, seorang wartawan yang ditelepon mantan pacarnya saat menjadi korban penganiayaan suaminya yang tak lain seorang bangsawan Melayu.
Hal ini kemudian menjadi fokus dari seorang pengamat, Maman S Mahayana, yang diundang sebagai salah satu pembicara mendampingi Nirwan Arsuka. “Saya yakin, buku ini bermasalah kalau diterbitkan di Malaysia,” ujar Maman S Mahayana, salah satu pembicara yang juga pengajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Didampingi oleh Nirwan Arsuka, Maman kemudian membeberkan karya Karim Raslan pada cerpen “Ayo ke Timur”. Cerpen ini mengangkat tentang dunia pelacuran di Sabah, yang mengisahkan tentang tokoh utama yang memesan gadis di sebuah hotel.
“Tentang perdagangan manusia. Benar atau tidak, itu soal lain,” ujar Maman, sambil mengungkapkan sebuah nama penulis Malaysia, yang juga sempat mendapatkan teguran karena mengambil kilas sensualitas sekali pun lewat metafora “arungi bahtera, gelombang samudera”.
Antologi ini memperlihakan gaya bertutur yang terkadang agak sensual. Karya Karim, dikomentari Maman, merepresentasikan gaya hidup bangsawan Melayu yang seolah berkutat mempertahankan keluhuran narasi. Di balik itu, banyak rambu dan tabu ditabraknya. Meski tidak dapat menghindari dari hakikatnya yang fiksionalitas, antologi cerpen ini lebih menyerupai potret keluarga bangsawan Melayu yang tidak semuanya baik-baik saja. Selalu ada penyimpangan. Dikatakan oleh Maman, dua sisi itulah yang yang kebetulan dihadirkan dalam ke-8 cerpen dalam antologi ini.
Alur dan Humor
Di luar hal itu, kehadiran penulis satu rumpun – bahasa Melayu – tetap menarik perhatian buat khazanah sastra kita. Seperti kehadiran beberapa tokoh penyair di tanah jiran – nama seperti Taufik Ismail, Sutardji Calzoum Bachri hingga karya Pramoedya Ananta Toer yang diminati di banyak negeri – juga telah banyak dikenal. Karya beberapa penulis bahkan kerap diterbitkan di Majalah Dewan Sastera yang dikenal cukup berwibawa.
Tentang karya Karim Raslan, Nirwan Arsuka mengomentari bahwa pengacara, kolumnis dan penulis buku lulusan Cambridge University kelahiran 1963 itu, mempunyai keunikan justru pada alurnya.
Nirwan Arsuka mengatakan bahwa ada dua bentuk pengungkapan dalam alur. Dari gelap ke terang sebagaimana dilakukan oleh karya kanak-kanak atau karya religius. Lalu, karya yang mulanya terang dan pada akhirnya kisah tersingkap secara mengejutkan. “Karim tak menghadirkan peristiwa awal secara dramatis, hadir di suasna yang tenang dan tanpa ketegangan. Lalu cerita bergerak pelan lalu terungkap dan nampak semuanya di bagian belakang,” ujarnya.
Dia juga mengomentari bahwa bentuk semacam ini – termasuk kejenakaannya – nampak pada karya-karya Idrus (Kumpulan karya Idrus: “Dari Ave Maria, ke Jalan Lain ke Roma”, red). Penulis-penulis Indonesia, kata Nirwan, sangat konsentrasi pada bentuk dan pola namun sering melupakan kekuatan plot. “Misalnya pada Eka Kurniawan dan AS. Laksana yang jenaka tapi bukan dalam peristiwa dan pengalaman antropologis melainkan mengarah pada faktor bahasa. Kejenakaan hanya dibentuk dari bahasa imaji baru yang terasa lucu, misalnya ‘kencing yang terbahak-bahak’,” papar Nirwan.
Pendapat ini akhirnya dipatahkan oleh Maman dengan mengungkapkan banyak nama penulis Indonesia lainnya yang cukup jenaka di dalam kisah. Nama-nama sastrawan seperti Mahbub Djunaedi, Firman Muntaco, SM Ardan dan Ajip Rosidi, adalah segelintir sastrawan yang ada di dalam referensinya.
http://www.sinarharapan.co.id/
Aku saksikan wajahnya yang dipajang berbagai koran, biasanya di halaman sosial; atau aku melihat sekilas mobil suaminya yang diparkir di luar salah satu hotel – mobil dengan pelat bernomor satu digit (orang kaya jadah) yang mudah diingat. Namun, aku tak pernah bertemu Alissa….
Barisan kalimat di atas adalah bagian dari salah satu cerpen “Yang Terkasih”, dari antologi cerpen berjudul Pahlawan dan Cerita Lainnya karya Karim Raslan, sastrawan Malaysia yang melaunching bukunya di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Jakarta (4/9).
Dialihbahasakan oleh Naning Pranoto dan A Rahman Abu, halaman 5 dari buku terbitan Yayasan Obor Indonesia ini hanyalah salah satu ungkapan emotif dari tokoh di cerpen-cerpennya terhadap strafikasi sosial di negeri jiran. Cerpen “Yang Terkasih” mengungkapkan kisah tokoh utama bernama Shukor, seorang wartawan yang ditelepon mantan pacarnya saat menjadi korban penganiayaan suaminya yang tak lain seorang bangsawan Melayu.
Hal ini kemudian menjadi fokus dari seorang pengamat, Maman S Mahayana, yang diundang sebagai salah satu pembicara mendampingi Nirwan Arsuka. “Saya yakin, buku ini bermasalah kalau diterbitkan di Malaysia,” ujar Maman S Mahayana, salah satu pembicara yang juga pengajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Didampingi oleh Nirwan Arsuka, Maman kemudian membeberkan karya Karim Raslan pada cerpen “Ayo ke Timur”. Cerpen ini mengangkat tentang dunia pelacuran di Sabah, yang mengisahkan tentang tokoh utama yang memesan gadis di sebuah hotel.
“Tentang perdagangan manusia. Benar atau tidak, itu soal lain,” ujar Maman, sambil mengungkapkan sebuah nama penulis Malaysia, yang juga sempat mendapatkan teguran karena mengambil kilas sensualitas sekali pun lewat metafora “arungi bahtera, gelombang samudera”.
Antologi ini memperlihakan gaya bertutur yang terkadang agak sensual. Karya Karim, dikomentari Maman, merepresentasikan gaya hidup bangsawan Melayu yang seolah berkutat mempertahankan keluhuran narasi. Di balik itu, banyak rambu dan tabu ditabraknya. Meski tidak dapat menghindari dari hakikatnya yang fiksionalitas, antologi cerpen ini lebih menyerupai potret keluarga bangsawan Melayu yang tidak semuanya baik-baik saja. Selalu ada penyimpangan. Dikatakan oleh Maman, dua sisi itulah yang yang kebetulan dihadirkan dalam ke-8 cerpen dalam antologi ini.
Alur dan Humor
Di luar hal itu, kehadiran penulis satu rumpun – bahasa Melayu – tetap menarik perhatian buat khazanah sastra kita. Seperti kehadiran beberapa tokoh penyair di tanah jiran – nama seperti Taufik Ismail, Sutardji Calzoum Bachri hingga karya Pramoedya Ananta Toer yang diminati di banyak negeri – juga telah banyak dikenal. Karya beberapa penulis bahkan kerap diterbitkan di Majalah Dewan Sastera yang dikenal cukup berwibawa.
Tentang karya Karim Raslan, Nirwan Arsuka mengomentari bahwa pengacara, kolumnis dan penulis buku lulusan Cambridge University kelahiran 1963 itu, mempunyai keunikan justru pada alurnya.
Nirwan Arsuka mengatakan bahwa ada dua bentuk pengungkapan dalam alur. Dari gelap ke terang sebagaimana dilakukan oleh karya kanak-kanak atau karya religius. Lalu, karya yang mulanya terang dan pada akhirnya kisah tersingkap secara mengejutkan. “Karim tak menghadirkan peristiwa awal secara dramatis, hadir di suasna yang tenang dan tanpa ketegangan. Lalu cerita bergerak pelan lalu terungkap dan nampak semuanya di bagian belakang,” ujarnya.
Dia juga mengomentari bahwa bentuk semacam ini – termasuk kejenakaannya – nampak pada karya-karya Idrus (Kumpulan karya Idrus: “Dari Ave Maria, ke Jalan Lain ke Roma”, red). Penulis-penulis Indonesia, kata Nirwan, sangat konsentrasi pada bentuk dan pola namun sering melupakan kekuatan plot. “Misalnya pada Eka Kurniawan dan AS. Laksana yang jenaka tapi bukan dalam peristiwa dan pengalaman antropologis melainkan mengarah pada faktor bahasa. Kejenakaan hanya dibentuk dari bahasa imaji baru yang terasa lucu, misalnya ‘kencing yang terbahak-bahak’,” papar Nirwan.
Pendapat ini akhirnya dipatahkan oleh Maman dengan mengungkapkan banyak nama penulis Indonesia lainnya yang cukup jenaka di dalam kisah. Nama-nama sastrawan seperti Mahbub Djunaedi, Firman Muntaco, SM Ardan dan Ajip Rosidi, adalah segelintir sastrawan yang ada di dalam referensinya.
Minggu, 22 Februari 2009
Peluncuran Buku “Menoleh Silam Melirik Esok”
Dari Buku ke Perdebatan Lekra-Manikebu
Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id
Jakarta-Pertemuan itu sebenarnya bukan pertemuan yang pertama kali sehingga tidak lagi menjadi pertemuan luar biasa.
Mereka, para pembicara, berbeda latar belakang. Seorang di antaranya adalah sastrawan yang aktif di Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat, ikatan seniman yang berideologi realisme sosialis) dan kini tinggal di Prancis, JJ Kusni. Seorang lagi, sastrawan penandatangan Manifestasi Kebudayaan di Indonesia, Taufiq Ismail. Moderatornya, Ikranegara, penyair dan penulis–belakangan berperan dalam film Laskar Pelangi yang diangkat dari novel Andrea Hirata, yang disutradarai Mira Lesmana dan Riri Riza.
Agenda di Teater Utan Kayu (TUK), Jl Utan Kayu, Jakarta (18/2), adalah “Dialog Manifes Kebudayaan dan Lekra” menandai peluncuran buku JJ Kusni bertajuk Menoleh Silam Melirik Esok, terbitan Ultimus Bandung Februari 2009. Buku ini berisi komentarnya di milis selama dia bekerja dan tinggal di Paris, kisah sejarah pada masa prahara itu, hingga kisah pribadinya sebagai figur sastrawan “eksil”.
Namun, pertemuan kelompok budayawan dengan perbedaan latar belakang itu sudah acapkali terjadi, antara lain pertemuan yang dimediasi oleh mendiang sastrawan Ramadhan KH di awal tahun 2000-an, serta dihadiri sastrawan Lekra dan Manifes. Juga peluncuran buku karya mendiang Pramoedya Ananta Toer, Sobron Aidit yang dihadiri para sastrawan Manifes, atau sebaliknya.
“Dialog ini sudah terlambat, bahkan pertemuan pribadi antarsastrawan berbeda latar politik pun sudah dilakukan sejak dulu,” ujar Putu Oka Sukanta.
Namun, pertemuan dalam rangka peluncuran buku ini tetap hangat dalam perdebatan. Kendati berbicara rekonsiliasi, mereka tetap membawa luka psikologi dalam memori masing-masing. Kusni Sulang–nama masa silam JJ Kusni–juga Taufiq Ismail sama-sama berkisah, masih menyebutkan rentetan kelemahan kelompok yang berseberangan dengannya.
Pertemuan itu tetap bukan hal yang luar biasa. Martin Aleida malah mempertanyakan maksud pertemuan itu, seperti juga Martin menanyakan latar JJ Kusni yang mewakili Lekra di momen diskusi, juga mempertanyakan kapasitasnya sebagai sejarawan di buku itu. Forum diskusi mempertanyakan komitmen Taufiq untuk berekonsiliasi. Amarzan Loebis menimpali bahwa sejarah Lekra dan Manifes adalah sejarah yang telah menjadi jenazah.
Pertanyakan Masa Lalu
Diskusi berjalan dinamis, penuh emosi, dan sedikit bernuansa arogansi. Martin mengatakan, kualitas teks JJ Kusni “belum apa-apa” ketimbang barisan anggota Lekra lainnya. Ia sekaligus mempertanyakan karya Sitor yang tak masuk dalam buku yang disusun Taufiq.
“Anda boleh lupa menyertakan nama yang lain, tapi jangan nama Sitor Situmorang”. Taufiq kemudian menjawab bahwa sejak remaja dirinya menyukai buku kumpulan puisi Sitor Situmorang bertajuk Surat Kertas Hijau dan ketika singgah di Italia dalam perjalanan studi ke Amerika Serikat, dia bahkan teringat buku Sitor, Lagu Gadis Itali.
“Untuk Sitor, kami memintanya secara khusus. Tidak bisa tidak, ini (Sitor) raksasa puisi. Saya mengutus langsung (mendiang penyair) Hamid Jabbar, tapi dia (Sitor Situmorang) menolak dengan sombong. Dia tak mau memberikan,” papar Taufiq.
Kepada media Kompas, Maret tahun 2002, penyair Sitor Situmorang dalam dialog di kalangan budayawan di kebun belakang situs Ki Padmosusastro, Solo, memang mengaku menolak karyanya dimasukkan dalam buku Antologi Puisi Indonesia susunan Taufiq Ismail dan terbitan majalah Horison bekerja sama dengan Departemen Pendidikan Nasional, serta pihak sponsor. Respons itu dilakukannya karena dia tahu di proyek yang sama dan orang yang sama (Taufiq Ismail-red)-dalam penerbitan antologi, sebelumnya-namanya sudah tak dimasukkan.
Pada antologi pertama itu, nama Sitor yang tak tercantum justru dipersoalkan pemerhati sastra lainnya.
Joesoef Isak, yang sedang tak sehat dan berniat ke Singapura, hadir di momen diskusi dan menyatakan kerinduan dua kubu di negeri ini untuk saling memaafkan. Putu Oka Sukanta yang mengisahkan perjalanan hidupnya menjadi dokter ahli refleksi kemudian menyatakan kekangenannya untuk bertemu dengan JJ Kusni–surprise dapat bertemu dengan rekan karib.
Menurut Martin, JJ Kusni bukan Pramoedya Ananta Toer. Sikapnya tak mewakili sikap semua orang yang punya trauma politik. Dia mengkritik niat keikhlasan Taufiq pada rekonsiliasi. Aktivis muda Yeni Rosa Damayanti, bahkan mengingatkan ribuan korban yang wafat tanpa penuntasan hukum, juga pengadilan pada dua kubu besar dalam prahara 1965, sebelum niatan saling memaafkan dilakukan–Yeni mencontohkan pengadilan di Afrika Selatan.
Rekonsiliasi harus diungkapkan terlebih dahulu dari pihak korban. Namun, Taufiq mengambil referensi sejarah di Malaysia, bahwa rekonsiliasi tak bermakna hitungan dagang yang harus diaudit. Ini bisa dimaknai saling memaafkan dari kedua kelompok tanpa membicarakan lagi sejarah karena keduanya “sama-sama satu bangsa” yang menatap hari esok dan masa depan.
“Bila rantai dendam masih membelit tubuh bangsa, bagaimana kita mau maju ke depan, memasuki abad ini, semua itu sudah tak terpakai,” ujarnya.
Jurnalis senior Aristides Katoppo, kemudian menimpali bahwa perbedaan dapat menjadi energi buat perjalanan berbangsa karena negeri ini justru berlandaskan ke-bineka-an. Jurnalis, penyair dan penandatangan Manifestasi Kebudayaan, Goenawan Mohamad menyatakan sejarah bukan bangkai namun yang lebih penting adalah mempelajari untuk konteks masa depan. “Banyak kesalahan Lekra dan Manikebu, salah satunya adalah memberi alasan untuk menindas kebebasan. Kini kita merebut kembali dan menggunakan kemerdekaan yang ada,” ujar Goenawan.
Inilah sejarah generasi yang seakan rekonsilasi namun belum pernah–mungkin tak akan pernah menyetujui sepenuhnya istilah itu. Zaman bergerak dan bergeser–namun kenangan organisasi Lekra dan catatan masa silam transkrip tandatangan dan pernyataan Manifestasi Kebudayaan tak pernah lekang.
“Itulah sejarah paman-paman sekalian,” ujar seorang sastrawan muda. Sastrawan berusia 30-an itu kemudian menambahkan, “Sejarah yang telah menenggelamkan sejarah-sejarah lainnya, kedua kubu makin buram dalam menjalankan visi dan masa depan.”
Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id
Jakarta-Pertemuan itu sebenarnya bukan pertemuan yang pertama kali sehingga tidak lagi menjadi pertemuan luar biasa.
Mereka, para pembicara, berbeda latar belakang. Seorang di antaranya adalah sastrawan yang aktif di Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat, ikatan seniman yang berideologi realisme sosialis) dan kini tinggal di Prancis, JJ Kusni. Seorang lagi, sastrawan penandatangan Manifestasi Kebudayaan di Indonesia, Taufiq Ismail. Moderatornya, Ikranegara, penyair dan penulis–belakangan berperan dalam film Laskar Pelangi yang diangkat dari novel Andrea Hirata, yang disutradarai Mira Lesmana dan Riri Riza.
Agenda di Teater Utan Kayu (TUK), Jl Utan Kayu, Jakarta (18/2), adalah “Dialog Manifes Kebudayaan dan Lekra” menandai peluncuran buku JJ Kusni bertajuk Menoleh Silam Melirik Esok, terbitan Ultimus Bandung Februari 2009. Buku ini berisi komentarnya di milis selama dia bekerja dan tinggal di Paris, kisah sejarah pada masa prahara itu, hingga kisah pribadinya sebagai figur sastrawan “eksil”.
Namun, pertemuan kelompok budayawan dengan perbedaan latar belakang itu sudah acapkali terjadi, antara lain pertemuan yang dimediasi oleh mendiang sastrawan Ramadhan KH di awal tahun 2000-an, serta dihadiri sastrawan Lekra dan Manifes. Juga peluncuran buku karya mendiang Pramoedya Ananta Toer, Sobron Aidit yang dihadiri para sastrawan Manifes, atau sebaliknya.
“Dialog ini sudah terlambat, bahkan pertemuan pribadi antarsastrawan berbeda latar politik pun sudah dilakukan sejak dulu,” ujar Putu Oka Sukanta.
Namun, pertemuan dalam rangka peluncuran buku ini tetap hangat dalam perdebatan. Kendati berbicara rekonsiliasi, mereka tetap membawa luka psikologi dalam memori masing-masing. Kusni Sulang–nama masa silam JJ Kusni–juga Taufiq Ismail sama-sama berkisah, masih menyebutkan rentetan kelemahan kelompok yang berseberangan dengannya.
Pertemuan itu tetap bukan hal yang luar biasa. Martin Aleida malah mempertanyakan maksud pertemuan itu, seperti juga Martin menanyakan latar JJ Kusni yang mewakili Lekra di momen diskusi, juga mempertanyakan kapasitasnya sebagai sejarawan di buku itu. Forum diskusi mempertanyakan komitmen Taufiq untuk berekonsiliasi. Amarzan Loebis menimpali bahwa sejarah Lekra dan Manifes adalah sejarah yang telah menjadi jenazah.
Pertanyakan Masa Lalu
Diskusi berjalan dinamis, penuh emosi, dan sedikit bernuansa arogansi. Martin mengatakan, kualitas teks JJ Kusni “belum apa-apa” ketimbang barisan anggota Lekra lainnya. Ia sekaligus mempertanyakan karya Sitor yang tak masuk dalam buku yang disusun Taufiq.
“Anda boleh lupa menyertakan nama yang lain, tapi jangan nama Sitor Situmorang”. Taufiq kemudian menjawab bahwa sejak remaja dirinya menyukai buku kumpulan puisi Sitor Situmorang bertajuk Surat Kertas Hijau dan ketika singgah di Italia dalam perjalanan studi ke Amerika Serikat, dia bahkan teringat buku Sitor, Lagu Gadis Itali.
“Untuk Sitor, kami memintanya secara khusus. Tidak bisa tidak, ini (Sitor) raksasa puisi. Saya mengutus langsung (mendiang penyair) Hamid Jabbar, tapi dia (Sitor Situmorang) menolak dengan sombong. Dia tak mau memberikan,” papar Taufiq.
Kepada media Kompas, Maret tahun 2002, penyair Sitor Situmorang dalam dialog di kalangan budayawan di kebun belakang situs Ki Padmosusastro, Solo, memang mengaku menolak karyanya dimasukkan dalam buku Antologi Puisi Indonesia susunan Taufiq Ismail dan terbitan majalah Horison bekerja sama dengan Departemen Pendidikan Nasional, serta pihak sponsor. Respons itu dilakukannya karena dia tahu di proyek yang sama dan orang yang sama (Taufiq Ismail-red)-dalam penerbitan antologi, sebelumnya-namanya sudah tak dimasukkan.
Pada antologi pertama itu, nama Sitor yang tak tercantum justru dipersoalkan pemerhati sastra lainnya.
Joesoef Isak, yang sedang tak sehat dan berniat ke Singapura, hadir di momen diskusi dan menyatakan kerinduan dua kubu di negeri ini untuk saling memaafkan. Putu Oka Sukanta yang mengisahkan perjalanan hidupnya menjadi dokter ahli refleksi kemudian menyatakan kekangenannya untuk bertemu dengan JJ Kusni–surprise dapat bertemu dengan rekan karib.
Menurut Martin, JJ Kusni bukan Pramoedya Ananta Toer. Sikapnya tak mewakili sikap semua orang yang punya trauma politik. Dia mengkritik niat keikhlasan Taufiq pada rekonsiliasi. Aktivis muda Yeni Rosa Damayanti, bahkan mengingatkan ribuan korban yang wafat tanpa penuntasan hukum, juga pengadilan pada dua kubu besar dalam prahara 1965, sebelum niatan saling memaafkan dilakukan–Yeni mencontohkan pengadilan di Afrika Selatan.
Rekonsiliasi harus diungkapkan terlebih dahulu dari pihak korban. Namun, Taufiq mengambil referensi sejarah di Malaysia, bahwa rekonsiliasi tak bermakna hitungan dagang yang harus diaudit. Ini bisa dimaknai saling memaafkan dari kedua kelompok tanpa membicarakan lagi sejarah karena keduanya “sama-sama satu bangsa” yang menatap hari esok dan masa depan.
“Bila rantai dendam masih membelit tubuh bangsa, bagaimana kita mau maju ke depan, memasuki abad ini, semua itu sudah tak terpakai,” ujarnya.
Jurnalis senior Aristides Katoppo, kemudian menimpali bahwa perbedaan dapat menjadi energi buat perjalanan berbangsa karena negeri ini justru berlandaskan ke-bineka-an. Jurnalis, penyair dan penandatangan Manifestasi Kebudayaan, Goenawan Mohamad menyatakan sejarah bukan bangkai namun yang lebih penting adalah mempelajari untuk konteks masa depan. “Banyak kesalahan Lekra dan Manikebu, salah satunya adalah memberi alasan untuk menindas kebebasan. Kini kita merebut kembali dan menggunakan kemerdekaan yang ada,” ujar Goenawan.
Inilah sejarah generasi yang seakan rekonsilasi namun belum pernah–mungkin tak akan pernah menyetujui sepenuhnya istilah itu. Zaman bergerak dan bergeser–namun kenangan organisasi Lekra dan catatan masa silam transkrip tandatangan dan pernyataan Manifestasi Kebudayaan tak pernah lekang.
“Itulah sejarah paman-paman sekalian,” ujar seorang sastrawan muda. Sastrawan berusia 30-an itu kemudian menambahkan, “Sejarah yang telah menenggelamkan sejarah-sejarah lainnya, kedua kubu makin buram dalam menjalankan visi dan masa depan.”
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel GarcÃa Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati

