Judul: Manusia Bersarung Kodok
Alihbahasa Aceh: Fauzan Santa
Penulis: Azhari, Agus Nur Amal
Editor: Azhari, Elsa Clave
Penerbit: Komunitas Tikar Pandan, Secours Populaire Francaise, Marque
Syndicate
Tahun: 2006
Isi: 96 halaman
Peresensi : Donny Anggoro *
ruangbaca.com
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Jumat, 16 Juli 2021
Senin, 10 Mei 2021
Barat-Timur dalam Mitos yang Kontras
Bernando J. Sujibto *
Jawa Pos, 13 Mei 2018
Kelemahan novel ini terletak pada cerita yang monoton dan tokoh-tokoh yang dihadirkan Orhan Pamuk sangat tipikal sebagai alter ego Orhan Pamuk sendiri.
DALAM sebuah kesempatan pada Maret 2016, Orhan Pamuk pernah menuturkan bahwa dirinya ingin menulis novel pendek. Sebuah tradisi kepengarangan yang tidak akrab dengan dirinya. “Saya perlu berlari melintasi samudra,” tuturnya untuk menggambarkan sebuah upaya distingtif dari kebiasaan menulis novel-novel panjang, yang secara umum di atas 400 halaman.
Jawa Pos, 13 Mei 2018
Kelemahan novel ini terletak pada cerita yang monoton dan tokoh-tokoh yang dihadirkan Orhan Pamuk sangat tipikal sebagai alter ego Orhan Pamuk sendiri.
DALAM sebuah kesempatan pada Maret 2016, Orhan Pamuk pernah menuturkan bahwa dirinya ingin menulis novel pendek. Sebuah tradisi kepengarangan yang tidak akrab dengan dirinya. “Saya perlu berlari melintasi samudra,” tuturnya untuk menggambarkan sebuah upaya distingtif dari kebiasaan menulis novel-novel panjang, yang secara umum di atas 400 halaman.
Rabu, 21 April 2021
Bercengkerama dengan Pendekar Bahasa
Muhammad Nanda Fauzan *
Jawa Pos, 8 Des 2019
Laiknya sosok pendekar atau kesatria, buku ini tidak saja memiliki serangkaian serangan yang jitu, tetapi juga memiliki kuda-kuda dan pokok pertahanan yang kukuh.
Judul buku ini sekelebat mengingatkan saya pada James Murray dan Dokter Minor, dua tokoh sentral dalam film biopik bertajuk The Professor and the Madman (2019). Kombinasi ciamik antara seorang poliglot –dengan latar belakang nonakademis– dan kecerdasan seorang dokter militer yang mengidap gangguan kejiwaan.
Jawa Pos, 8 Des 2019
Laiknya sosok pendekar atau kesatria, buku ini tidak saja memiliki serangkaian serangan yang jitu, tetapi juga memiliki kuda-kuda dan pokok pertahanan yang kukuh.
Judul buku ini sekelebat mengingatkan saya pada James Murray dan Dokter Minor, dua tokoh sentral dalam film biopik bertajuk The Professor and the Madman (2019). Kombinasi ciamik antara seorang poliglot –dengan latar belakang nonakademis– dan kecerdasan seorang dokter militer yang mengidap gangguan kejiwaan.
Sabtu, 23 November 2019
Muda Dipeluk Maut
Judul Buku : Mereka yang Mati Muda, Sekali Berarti dan Sesudah itu (bukan Berarti) Mati!
Penulis : Arifin Surya Nugraha dkk
Penerbit : Bio Pustaka, Yogyakarta
Cetakan : I (Pertama) 2008
Tebal : 200 halaman
Peresensi: MG. Sungatno *
Media Indonesia, 22 Nov 2008
Penulis : Arifin Surya Nugraha dkk
Penerbit : Bio Pustaka, Yogyakarta
Cetakan : I (Pertama) 2008
Tebal : 200 halaman
Peresensi: MG. Sungatno *
Media Indonesia, 22 Nov 2008
Selasa, 21 Oktober 2014
Likurai dan Pendidikan Cinta Tanah Air
Judul Buku: Likurai Untuk Sang Mempelai (Sebuah Novel)
Penulis: Robert Fahik
Pengantar: Yohanes Sehandi
Epilog: Mezra E. Pellandou
Penerbit: Cipta Media Yogyakarta
Cetakan I: Desember 2013
Tebal Buku: xx + 124 halaman
Peresensi: Ignasius S. Roy Tei Seran, Fransiskus X. Taolin *
robertusfahik.blogspot.com
Penulis: Robert Fahik
Pengantar: Yohanes Sehandi
Epilog: Mezra E. Pellandou
Penerbit: Cipta Media Yogyakarta
Cetakan I: Desember 2013
Tebal Buku: xx + 124 halaman
Peresensi: Ignasius S. Roy Tei Seran, Fransiskus X. Taolin *
robertusfahik.blogspot.com
Jumat, 30 Mei 2014
Sastra Islami dan ‘Jalan Tengah’
Judul Buku: Pesan Al-Qur’an untuk Sastrawan
Penulis: Aguk Irawan MN
Penerbit: Jalasutra, Jogjakarta
Cetakan: I, November 2013
Tebal: x + 434 hlm.
Peresensi: Ridwan Munawwar Galuh *)
Jawa Pos, 01 Des 2013
Penulis: Aguk Irawan MN
Penerbit: Jalasutra, Jogjakarta
Cetakan: I, November 2013
Tebal: x + 434 hlm.
Peresensi: Ridwan Munawwar Galuh *)
Jawa Pos, 01 Des 2013
Selasa, 24 September 2013
Sebuah Ziarah kepada Puisi
Judul: Curriculum Vitae
Penulis: Frans Nadjira
Tebal: 203 halaman
Penerbit: Matamerabook, 2007
Peresensi: Riki Dhamparan Putra
http://www.balipost.co.id/
Penulis: Frans Nadjira
Tebal: 203 halaman
Penerbit: Matamerabook, 2007
Peresensi: Riki Dhamparan Putra
http://www.balipost.co.id/
Senin, 05 Agustus 2013
KOMPLEKSITAS PROBLEMATIKA KEHIDUPAN DALAM APRESIASI DAN SOLUSI
Judul Buku: Senarai Pemikiran Sutejo (Menyisir Untaian Kata, Menemukan Dawai Makna)
Penulis: Sutejo
Prolog: Prof Dr Soediro Satoto
Epilog: Nurel Javissyarqi
Penyusun: Masuki M. Astro dan Nurel Javissyarqi
Penerbit: Spectrum Center Press dan Pustaka Felica
Halaman: xvi + 922; 15 cm x 23 cm
ISBN: 978-6021-96-100-1
Tahun: Cetakan I, Januari 2013
Peresensi: Imamuddin SA
Penulis: Sutejo
Prolog: Prof Dr Soediro Satoto
Epilog: Nurel Javissyarqi
Penyusun: Masuki M. Astro dan Nurel Javissyarqi
Penerbit: Spectrum Center Press dan Pustaka Felica
Halaman: xvi + 922; 15 cm x 23 cm
ISBN: 978-6021-96-100-1
Tahun: Cetakan I, Januari 2013
Peresensi: Imamuddin SA
Imajinasi Subversif dan Iblis
Judul : Ular di Mangkuk Nabi
Penulis : Triyanto Triwikromo
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta\
Cetak : 2009
Tebal : xii + 168 halaman
Peresensi: Bandung Mawardi
Lampung Post,11 Okt 2oo9
Penulis : Triyanto Triwikromo
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta\
Cetak : 2009
Tebal : xii + 168 halaman
Peresensi: Bandung Mawardi
Lampung Post,11 Okt 2oo9
Kamis, 04 Juli 2013
Saat Sejarah dan Romansa Percintaan Berkelindan
Judul buku: Amba
Penulis: Laksmi Pamuntjak
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 2012
Tebal: 494 halaman
Peresensi: Dodiek Adyttya Dwiwanto
Jurnal Nasional, 30 Juni 2013
Penulis: Laksmi Pamuntjak
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 2012
Tebal: 494 halaman
Peresensi: Dodiek Adyttya Dwiwanto
Jurnal Nasional, 30 Juni 2013
Sabtu, 23 Maret 2013
Perempuan dalam Dunia Kakawin, Perkawinan dan Seksualitas
Judul Buku : Perempuan dalam Dunia Kakawin, Perkawinan dan Seksualitas di Istana Indic Jawa dan Bali
Penulis : Helen Creese
Tebal : xiv + 316 hlm
Penerbit : Pustaka Larasan, Juni 2012
Penerjemah : Ida Bagus Putra Yadnya
Penyunting : I Nyoman Darma Putra
Peresensi : IDG Windhu Sancaya *
Bali Post, 24 Des 2012
Penulis : Helen Creese
Tebal : xiv + 316 hlm
Penerbit : Pustaka Larasan, Juni 2012
Penerjemah : Ida Bagus Putra Yadnya
Penyunting : I Nyoman Darma Putra
Peresensi : IDG Windhu Sancaya *
Bali Post, 24 Des 2012
Gairah, Cinta dan Persahabatan
Judul : Pesta Para Janda
Penulis : Yunis Kartika
Penerbit : Chibi Publisher, Bandung
Tebal : xiv + 221 halaman
Cetakan II : November 2012
Peresensi : Wayan Sunarta
Bali Post, 17 Feb 2013
Penulis : Yunis Kartika
Penerbit : Chibi Publisher, Bandung
Tebal : xiv + 221 halaman
Cetakan II : November 2012
Peresensi : Wayan Sunarta
Bali Post, 17 Feb 2013
Rabu, 28 November 2012
Demokrasi di Babak “Goro-goro”
Judul : Titik Nadir Demokrasi
Pengarang: Emha Ainun Nadjib
Penerbit: Zaituna, November 1997
Tebal: xvi + 368 halaman
Peresensi : Sutejo *
Kompas, 27 April 1997
Pengarang: Emha Ainun Nadjib
Penerbit: Zaituna, November 1997
Tebal: xvi + 368 halaman
Peresensi : Sutejo *
Kompas, 27 April 1997
Kamis, 11 Oktober 2012
Butir-Butir Asmaul Husna Di Negeri Kanguru
Masuki M. Astro
http://www.antarabali.com/
Penyair Zawawi Imron menggambarkan kemuliaan seorang ibu dengan amat memukau. Pria asal Madura itu dalam puisinya "Ibu" melukiskan, bila kasih ibu ibarat samudera, maka sempit lautan teduh.
"Kalau aku ikut ujian, lalu ditanya tentang pahlawan namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu," demikian bait puisi penyair si Celurit Emas itu.
http://www.antarabali.com/
Penyair Zawawi Imron menggambarkan kemuliaan seorang ibu dengan amat memukau. Pria asal Madura itu dalam puisinya "Ibu" melukiskan, bila kasih ibu ibarat samudera, maka sempit lautan teduh.
"Kalau aku ikut ujian, lalu ditanya tentang pahlawan namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu," demikian bait puisi penyair si Celurit Emas itu.
Sabtu, 28 Juli 2012
Tagore, Kemerdekaan dan Tuhan Dalam Hati
Judul : Rabindranath Tagore, Puisi Sepanjang Masa
Penulis : IBG Agastia, IBM Dharma Palguna, Swami Rama, Narayan Champawat, Nyoman Tustthi Eddy, I Wayan Westa
Penyunting: I Wayan Westa dan Ni Made Tisnawati
Penerbit : Yayasan Dharma Sastra Denpasar 2002
Tebal : i-ix, 185 halaman
Peresensi : Mas Ruscitadewi
http://www.balipost.co.id/
Penulis : IBG Agastia, IBM Dharma Palguna, Swami Rama, Narayan Champawat, Nyoman Tustthi Eddy, I Wayan Westa
Penyunting: I Wayan Westa dan Ni Made Tisnawati
Penerbit : Yayasan Dharma Sastra Denpasar 2002
Tebal : i-ix, 185 halaman
Peresensi : Mas Ruscitadewi
http://www.balipost.co.id/
Kamis, 10 Mei 2012
Wangi Bunga Di Atas Makam
Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/
Mendamba, adalah puncak do’a bathin nan serius, yang dilakukan orang tua pada anaknya, guru pada muridnya, dosen terhadap mahasiswanya, kiai pada santrinya, agar kelak anak didik dan anak asuhnya menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama. Tak heran jika kemudian para orang tua rela mengucurkan jutaan rupiah demi pendidikan anaknya, dengan harapan agar kelak di kemudian hari tidak bernasib seperti bapaknya. Namun tentu saja lebih baik dari segi apapun; moral, intelektual, spiritual sebagai harkat martabat hidupnya.
http://sastra-indonesia.com/
Mendamba, adalah puncak do’a bathin nan serius, yang dilakukan orang tua pada anaknya, guru pada muridnya, dosen terhadap mahasiswanya, kiai pada santrinya, agar kelak anak didik dan anak asuhnya menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama. Tak heran jika kemudian para orang tua rela mengucurkan jutaan rupiah demi pendidikan anaknya, dengan harapan agar kelak di kemudian hari tidak bernasib seperti bapaknya. Namun tentu saja lebih baik dari segi apapun; moral, intelektual, spiritual sebagai harkat martabat hidupnya.
Senin, 19 Maret 2012
KELINDAN TRAGEDI DAN EKSOTISME
Maman S Mahayana *
http://mahayana-mahadewa.com/
Hanna Fransisca, Konde Penyair Han (Jakarta: Katakita, 2010), 141 halaman.
Kwee Tek Hoay, awal tahun 1900-an. Perintis sastra Indonesia ini berhasil membangun tradisi berdiskusi di kalangan penulis peranakan Tionghoa. Ia juga kerap menghidupkan pantun dan syair dalam pesta para nyonya Tionghoa. Pada zamannya, sastrawan peranakan Tionghoa—sebagaimana dicatat Claudine Salmon—berhasil menyebarkan karya-karyanya ke seantero negeri ini. Sesungguhnya, dari situlah langkah perjalanan sastra Indonesia dalam tradisi cetak, dimulai!
http://mahayana-mahadewa.com/
Hanna Fransisca, Konde Penyair Han (Jakarta: Katakita, 2010), 141 halaman.
Kwee Tek Hoay, awal tahun 1900-an. Perintis sastra Indonesia ini berhasil membangun tradisi berdiskusi di kalangan penulis peranakan Tionghoa. Ia juga kerap menghidupkan pantun dan syair dalam pesta para nyonya Tionghoa. Pada zamannya, sastrawan peranakan Tionghoa—sebagaimana dicatat Claudine Salmon—berhasil menyebarkan karya-karyanya ke seantero negeri ini. Sesungguhnya, dari situlah langkah perjalanan sastra Indonesia dalam tradisi cetak, dimulai!
Senin, 31 Oktober 2011
Kritik tanpa subyektivitas
Subagio Sastrowardoyo
http://majalah.tempointeraktif.com/
MITOS DAN KOMUNIKASI
Umar Junus
Sinar Harapan, Jakarta 1981,
237 halaman
KRITIK sastra modern cenderung kehendak bersifat ilmiah. Unsur subyektif di dalam penghayatan karya sastra, seperti kesan dan citarasa pribadi, sebanyak mungkin hendak dihindari. Cita-citanya kini adalah mendapatkan metode penelitian, ukuran penilaian, ketepatan peristilahan serta kesimpulan pemikiran yang dapat dipertanggungjawabkan kepada penalaran yang bisa berlaku secara umum.
Strukturalisme dan semiotik yang dianut Umar Junus dalam bukunya Mitos dan Komunikasi adalah teori mutakhir dalam kritik sastra yang berkembang di Eropa, khususnya di Prancis. Kedua teori itu mula-mula berdasarkan penglihatan linguistik (ilmu bahasa) dengan metode analisa, yang diterapkan kemudian pada bidang antropologi, psikoanalisa, senirupa, senimusik, dan akhirnya pada kesusastraan.
Strukturalisme itu berusaha mengungkapkan hubungan-hubungan dalam yang memberikan bentuk dan tugas pada berbagai bahasa. Yang menjadi pokok perhatian adalah struktur bahasa-struktur dalam arti kombinasi dan relasi unsur-unsur formal yang menunjukkan pertautan yang logis pada sesuatu obyek.
Dilupakan Sejarah Pada lapangan yang lebih luas, para sarjana strukturalisme hendak meletakkan dasar bagi yang disebutnya semiotik, ilmu tanda-tanda. Ilmu ini tidak hanya bertalian dengan bahasa saja sebagai sistem tanda-tanda. Tetapi juga dengan sistem tanda-tanda lainnya, yang dipakai dalam antarhubung atau komunikasi manusia. Juga mitos yang menjadi sasaran perhatian antropologi, dan dipergunakan Umar Junus sebagai istilah pengertian di dalam sastra, menjadi obyek penelitian semiotik.
Umar Junus adalah seorang linguis yang berkecimpung dalam bidang penelitian sastra. Dengan mempergunakan asas penglihatan dan metode pendekatan strukturalisme dan semiotik, kesimpulan-kesimpulan yang diperolehnya dari penyelidikan kesusastraan modern Indonesia tidak boleh dikatakan tidak menarik. Kesadarannya akan obyektivitas yang didasarkan pada segi formal tampak pada penggunaan tabel perbandingan serta perhitungan persentase gejala sastra yang ditemukan.
Bagan dan grafik yang bercorak ilmu pasti itu diakuinya sendiri telah menjadi trade mark baginya. Di samping pada cara dan bentuk pendekatan yang obyektif-matematis itu, kesimpulan-kesimpulan Umar Junus berpangkal pada asas sastra yang umum, yang boleh dikata sudah pasti baginya: sastra modern selalu membarui dirinya (hal. 9) kenyataan dalam karya sastra adalah otonom dan terlepas dari kenyataan dalam kehidupan sehari-hari (hal. 198) karya sastra pada dasarnya adalah mitos (hal. 92) perubahan sastra baru memperlihatkan kekuatannya bila dihubungkan dengan perubahan sosio-budaya (hal. 160).
Dari asas-asas yang sebenarnya berkait-kaitan itu ditemukannya nilai pada karya Armin Pane Belengu, roman yang menurut pendapatnya cenderung dilupakan sejarah. Roman itu telah memperlihatkan style individu, yang menyatukan pemikiran yang disampaikan dengan strukturnya. Kedudukannya sejajar dengan karya Iwan Simatupang dan Putu Wijaya pada tahap perkembangan yang kemudian, yang juga menyesuaikan struktur karangan dengan konsep pikirannya tentang masyarakat yang dianggap kacau dan penuh misteri. Karya-karya mereka tidak melanjutkan tradisi tukang cerita dengan teknik yang tidak ada hubungan fungsionalnya dengan keseluruhan dan hakikat cerita.
Dalam roman Atheis Achdiat K. Miharja dan Maut dan Perangnya Mochar Lubis misalnya, teknik — oleh Umar Junus disebut senapas dengan istilah struktur — hanya semata-mata hiasan. Umar Junus cenderung memuji keberhasilan karya Iwan Simatupang dan Putu Wijaya dalam bentuk roman dan drama. Dan karya Sutardji Calzoum Bachri dalam bentuk puisi. Yang ketiga-tiganya, tidak membawa pengertian yang jelas.
Dijelaskan juga oleh Umar Junus karya Iwan, Putu dan Sutardji adalah suatu gejala modern Indonesia, yang “lebih memperlihatkan perjuangan sia-sia dari pribadi untuk mendapatkan kemerdekaannya, karena dominasi keadaan tertentu yang penuh dengan misteri.” (hal. 175). Cakap juga kesimpulan yang ditarik Umar Junus dari tanggapan kekuasaan misteri di dalam masyarakat itu.
Karena tidak mungkin mengadakan komunikasi dengan kekuatan misteri, karya-karya mereka pun tidak komunikatif. Sedang kata-kata yang mereka pergunakan tak punya arti, kehilangan arti nominalnya. Masih bertalian dengan pandangannya, bahwa kenyataan di dalam karya sastra bukan kenyataan atau realitas yang kongkrit, maka dikatakan oleh Umar Junus, bahwa cerita di dalam sastra adalah mitos. Maksudnya, “generalisasi dari suatu ‘peristiwa’ yang dianggap terjadi, dan dianggap akan selalu terjadi” (hal. 95).
Realisme yang melekatkan kesusastraan kepada realitas yang kongkrit sebenarnya mitos juga. Yang terjadi dalam perkembangan dari romantisme ke realisme adalah pergantian mitos lama dengan mitos baru. Dalam sejarah terdapat penolakan terhadap tradisi mitos yang mendahuluinya. Proses demikian kita lihat pada sastra modern yang selalu membarui dirinya.
Buku Umar Junus ini berharga sebagai uraian kritik sastra modern Indonesia yang berpangkal pada asas teori strukturalisme dan semiotik. Yang menarik adalah pengungkapan aspek-aspek baru dalam roman Belenggu yang ditinjaunya dari sudut pertentangan tradisi dan modern, realitas dan mimni. Demikian pula bab-bab mengenai perkembangan mutakhir sastra Indonesia yang dilihatnya dari tiadanya komunikasi dengan masyarakat, merupakan halaman yang tidak boleh diabaikan. Tapi tak ada gading yang tak retak, memang. Pandangan sastra Umar Junus, menurut selera saya, terlalu mutlak dan tegang.
Kesan saya waktu membaca buku ini, ialah bahwa saya berhadapan dengan seorang peneliti sastra yang terlalu kaku berpegang pada teori yang dianutnya. Selaku seorang penganut agama yang terlalu fanatik berpegang pada dogma-dogmanya. Hal itu terutama tampak pada bab pertama yang berjudul Teori Sastra dan Kreativitas Sastra Dalam bab itu dengan nada angkuh dan lagak, ia mengesampingkan hasil pendekatan kritikus lain sebelumnya, seperti Teeuw, Boen Oemarjati dan Hutagalung. Dilontarkan cemoohannya kepada usaha-usaha mereka yang gagal dan sia-sia, yang dikiranya menyandarkan kritik mereka pada filologi.
Ketegangan Pendapat Kemutlakan pandangan itu terbukti juga pada pernyataannya, bahwa sastra modern selalu membarui dirinya. Pernyataan itu sudah tidak bersifat deskriptif lagi berdasarkan pengamatan obyektif pada perkembangan yang ada, tetapi lebih bersifat preskriptif, seakan-akan harus demikian adanya. Karena ketegangan pandangan, Umar Junus cenderung tidak menyadari kontradiksi-kontradiksi pada pendiriannya.
Misalnya, dinyatakannya bahwa ia tidak setuju dengan pembagian sastra dalam angkatan-angkatan. Tetapi pembagian berdasarkan style puisi pada masa sebelum Chairil Anwar, pada Chairil dan pada Sutardji tidak lain dari perbedaan angkatan juga yang disangkutkan pada nama penyair (hal. 34). Demikian juga waktu dicelanya anggapan, bahwa kritik sastra kita hanya tentang sastra modern dan sastra modern kita adalah sesuatu yang dipengaruhi Barat (hal. 16, pada halaman berikutnya ia mengatakan, bahwa “kita tidak mungkin melepaskan diri dari perkembangan teori penyelidikan sastra di Barat.”
Saya kira, ketegangan dan kemutlakan pandangan itu disebabkan oleh metode penelitian Umar Junus. Ia berpegang pada teori yang diperoleh orang lain, yang sebenarnya masih banyak mengandung masalah yang ia tidak bersedia menghadapinya secara kritis. Proses sebaliknya mungkin sekali akan lebih berhasil: dengan bekal asas-asas ilmu keterbukaan hati serta kepekaan rasa menelaah dan mengritik karya-karya sehingga kita sampai kepada teori sastra sendiri.
_______18 Juli 1981
Dijumput dari: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1981/07/18/BK/mbm.19810718.BK51149.id.html
http://majalah.tempointeraktif.com/
MITOS DAN KOMUNIKASI
Umar Junus
Sinar Harapan, Jakarta 1981,
237 halaman
KRITIK sastra modern cenderung kehendak bersifat ilmiah. Unsur subyektif di dalam penghayatan karya sastra, seperti kesan dan citarasa pribadi, sebanyak mungkin hendak dihindari. Cita-citanya kini adalah mendapatkan metode penelitian, ukuran penilaian, ketepatan peristilahan serta kesimpulan pemikiran yang dapat dipertanggungjawabkan kepada penalaran yang bisa berlaku secara umum.
Strukturalisme dan semiotik yang dianut Umar Junus dalam bukunya Mitos dan Komunikasi adalah teori mutakhir dalam kritik sastra yang berkembang di Eropa, khususnya di Prancis. Kedua teori itu mula-mula berdasarkan penglihatan linguistik (ilmu bahasa) dengan metode analisa, yang diterapkan kemudian pada bidang antropologi, psikoanalisa, senirupa, senimusik, dan akhirnya pada kesusastraan.
Strukturalisme itu berusaha mengungkapkan hubungan-hubungan dalam yang memberikan bentuk dan tugas pada berbagai bahasa. Yang menjadi pokok perhatian adalah struktur bahasa-struktur dalam arti kombinasi dan relasi unsur-unsur formal yang menunjukkan pertautan yang logis pada sesuatu obyek.
Dilupakan Sejarah Pada lapangan yang lebih luas, para sarjana strukturalisme hendak meletakkan dasar bagi yang disebutnya semiotik, ilmu tanda-tanda. Ilmu ini tidak hanya bertalian dengan bahasa saja sebagai sistem tanda-tanda. Tetapi juga dengan sistem tanda-tanda lainnya, yang dipakai dalam antarhubung atau komunikasi manusia. Juga mitos yang menjadi sasaran perhatian antropologi, dan dipergunakan Umar Junus sebagai istilah pengertian di dalam sastra, menjadi obyek penelitian semiotik.
Umar Junus adalah seorang linguis yang berkecimpung dalam bidang penelitian sastra. Dengan mempergunakan asas penglihatan dan metode pendekatan strukturalisme dan semiotik, kesimpulan-kesimpulan yang diperolehnya dari penyelidikan kesusastraan modern Indonesia tidak boleh dikatakan tidak menarik. Kesadarannya akan obyektivitas yang didasarkan pada segi formal tampak pada penggunaan tabel perbandingan serta perhitungan persentase gejala sastra yang ditemukan.
Bagan dan grafik yang bercorak ilmu pasti itu diakuinya sendiri telah menjadi trade mark baginya. Di samping pada cara dan bentuk pendekatan yang obyektif-matematis itu, kesimpulan-kesimpulan Umar Junus berpangkal pada asas sastra yang umum, yang boleh dikata sudah pasti baginya: sastra modern selalu membarui dirinya (hal. 9) kenyataan dalam karya sastra adalah otonom dan terlepas dari kenyataan dalam kehidupan sehari-hari (hal. 198) karya sastra pada dasarnya adalah mitos (hal. 92) perubahan sastra baru memperlihatkan kekuatannya bila dihubungkan dengan perubahan sosio-budaya (hal. 160).
Dari asas-asas yang sebenarnya berkait-kaitan itu ditemukannya nilai pada karya Armin Pane Belengu, roman yang menurut pendapatnya cenderung dilupakan sejarah. Roman itu telah memperlihatkan style individu, yang menyatukan pemikiran yang disampaikan dengan strukturnya. Kedudukannya sejajar dengan karya Iwan Simatupang dan Putu Wijaya pada tahap perkembangan yang kemudian, yang juga menyesuaikan struktur karangan dengan konsep pikirannya tentang masyarakat yang dianggap kacau dan penuh misteri. Karya-karya mereka tidak melanjutkan tradisi tukang cerita dengan teknik yang tidak ada hubungan fungsionalnya dengan keseluruhan dan hakikat cerita.
Dalam roman Atheis Achdiat K. Miharja dan Maut dan Perangnya Mochar Lubis misalnya, teknik — oleh Umar Junus disebut senapas dengan istilah struktur — hanya semata-mata hiasan. Umar Junus cenderung memuji keberhasilan karya Iwan Simatupang dan Putu Wijaya dalam bentuk roman dan drama. Dan karya Sutardji Calzoum Bachri dalam bentuk puisi. Yang ketiga-tiganya, tidak membawa pengertian yang jelas.
Dijelaskan juga oleh Umar Junus karya Iwan, Putu dan Sutardji adalah suatu gejala modern Indonesia, yang “lebih memperlihatkan perjuangan sia-sia dari pribadi untuk mendapatkan kemerdekaannya, karena dominasi keadaan tertentu yang penuh dengan misteri.” (hal. 175). Cakap juga kesimpulan yang ditarik Umar Junus dari tanggapan kekuasaan misteri di dalam masyarakat itu.
Karena tidak mungkin mengadakan komunikasi dengan kekuatan misteri, karya-karya mereka pun tidak komunikatif. Sedang kata-kata yang mereka pergunakan tak punya arti, kehilangan arti nominalnya. Masih bertalian dengan pandangannya, bahwa kenyataan di dalam karya sastra bukan kenyataan atau realitas yang kongkrit, maka dikatakan oleh Umar Junus, bahwa cerita di dalam sastra adalah mitos. Maksudnya, “generalisasi dari suatu ‘peristiwa’ yang dianggap terjadi, dan dianggap akan selalu terjadi” (hal. 95).
Realisme yang melekatkan kesusastraan kepada realitas yang kongkrit sebenarnya mitos juga. Yang terjadi dalam perkembangan dari romantisme ke realisme adalah pergantian mitos lama dengan mitos baru. Dalam sejarah terdapat penolakan terhadap tradisi mitos yang mendahuluinya. Proses demikian kita lihat pada sastra modern yang selalu membarui dirinya.
Buku Umar Junus ini berharga sebagai uraian kritik sastra modern Indonesia yang berpangkal pada asas teori strukturalisme dan semiotik. Yang menarik adalah pengungkapan aspek-aspek baru dalam roman Belenggu yang ditinjaunya dari sudut pertentangan tradisi dan modern, realitas dan mimni. Demikian pula bab-bab mengenai perkembangan mutakhir sastra Indonesia yang dilihatnya dari tiadanya komunikasi dengan masyarakat, merupakan halaman yang tidak boleh diabaikan. Tapi tak ada gading yang tak retak, memang. Pandangan sastra Umar Junus, menurut selera saya, terlalu mutlak dan tegang.
Kesan saya waktu membaca buku ini, ialah bahwa saya berhadapan dengan seorang peneliti sastra yang terlalu kaku berpegang pada teori yang dianutnya. Selaku seorang penganut agama yang terlalu fanatik berpegang pada dogma-dogmanya. Hal itu terutama tampak pada bab pertama yang berjudul Teori Sastra dan Kreativitas Sastra Dalam bab itu dengan nada angkuh dan lagak, ia mengesampingkan hasil pendekatan kritikus lain sebelumnya, seperti Teeuw, Boen Oemarjati dan Hutagalung. Dilontarkan cemoohannya kepada usaha-usaha mereka yang gagal dan sia-sia, yang dikiranya menyandarkan kritik mereka pada filologi.
Ketegangan Pendapat Kemutlakan pandangan itu terbukti juga pada pernyataannya, bahwa sastra modern selalu membarui dirinya. Pernyataan itu sudah tidak bersifat deskriptif lagi berdasarkan pengamatan obyektif pada perkembangan yang ada, tetapi lebih bersifat preskriptif, seakan-akan harus demikian adanya. Karena ketegangan pandangan, Umar Junus cenderung tidak menyadari kontradiksi-kontradiksi pada pendiriannya.
Misalnya, dinyatakannya bahwa ia tidak setuju dengan pembagian sastra dalam angkatan-angkatan. Tetapi pembagian berdasarkan style puisi pada masa sebelum Chairil Anwar, pada Chairil dan pada Sutardji tidak lain dari perbedaan angkatan juga yang disangkutkan pada nama penyair (hal. 34). Demikian juga waktu dicelanya anggapan, bahwa kritik sastra kita hanya tentang sastra modern dan sastra modern kita adalah sesuatu yang dipengaruhi Barat (hal. 16, pada halaman berikutnya ia mengatakan, bahwa “kita tidak mungkin melepaskan diri dari perkembangan teori penyelidikan sastra di Barat.”
Saya kira, ketegangan dan kemutlakan pandangan itu disebabkan oleh metode penelitian Umar Junus. Ia berpegang pada teori yang diperoleh orang lain, yang sebenarnya masih banyak mengandung masalah yang ia tidak bersedia menghadapinya secara kritis. Proses sebaliknya mungkin sekali akan lebih berhasil: dengan bekal asas-asas ilmu keterbukaan hati serta kepekaan rasa menelaah dan mengritik karya-karya sehingga kita sampai kepada teori sastra sendiri.
_______18 Juli 1981
Dijumput dari: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1981/07/18/BK/mbm.19810718.BK51149.id.html
Kolase genit sastra indonesia
Sapardi Djoko Damono
http://majalah.tempointeraktif.com/
DARI PERISTIWA KE IMAJINASI: WAJAH SASTRA DAN BUDAYA INDONESIA
Oleh: Umar Junus
Penerbit: PT Gramedia, Jakarta, 1983, 175 halaman
DUA puluh karangan dalam bunga rampai ini bisa dianggap benar-benar mewakili penulisnya, setidaknya dalam gaya bahasa dan cara berpikir. Anak judulnya, Wajah Sastra dan Budaya Indonesia, mencerminkan perhatian pengarang yang luas, meski sebenarnya pokok bahasan Umar Junus adalah sastra.
Umar Junus memang pengarang yang subur, dan mungkin yang paling banyak menulis dan menyiarkan karyanya di antara pengamat sastra Indonesia dewasa ini. Kesuburan itu membuktikan kecekatannya mengajukan masalah, dan sekaligus ketergesaannya menarik kesimpulan- atau kadang merumuskan persoalan.
Karangan dalam buku ini dibagi menjadi tiga bagian: Bagian I, “Realitas dan Imajinasi”, Bagian II, “Karya Sastra dan Pembaca”, dan Bagian III, “Hakikat Suatu Karya”. Untuk kumpulan karangan ini, Taufik Abdullah menulis sebuah kata pengantar – karangan yang justru paling menarik dalam bunga rampai ini.
Dalam pengantarnya, Taufik berusaha sebaik mungkin merumuskan pokok pikiran karangan Umar Junus usaha ini merupakan hal yang tidak mudah. Sebab, Umar Junus adalah seorang pengamat sastra yang gaya tulisannya khas memiliki “kenakalan”, “kesombongan”, dan “kegenitan” – meminjam istilah yang dipakai Taufik Abdullah.
Dalam hubungan ini, perlu dicatat bahwa Taufik memberikan nilai positif terhadap ketiga pengertian itu. Jumlah halaman yang hanya 175 untuk 20 karangan menunjukkan bahwa pokok pikiran Umar Junus hanya sempat diuraikan dalam karangan yang ringkas.
Ringkasnya karangan itu sangat terasa karena sebenarnya pengarang berusaha menunjukkan – dan meyakinkan pembaca – hal-hal baru sehubungan dengan teori mutakhir tentang sastra. Bagaimanapun juga – terutama kalau kita memasukkan “jenis” pembaca di Indonesia ke dalam pertimbangan kita – hal-hal “baru” seperti yang disampaikan oleh Umar Junus dalam bukunya membutuhkan ruang lebih luas untuk menjelaskannya.
Dalam ruang sempit, yang berupa karangan ringkas, tentu pelbagai konsep yang diajukan Umar Junus menjadi berdesak-desak. Dan banyaknya konsep dalam ruang sempit memberikesan pikiran yang meloncat-loncat. Karangan yang berjudul “Maka Terjadilah Sebuah Collage” bisa dipergunakan sebagai contoh. Karangan ini, yang menghabiskan 12 halaman, merupakan usaha yang sungguh-sungguh untuk menjelaskan novel Putu Wijaya, Stasiun.
Untuk menunjukkan bahwa Stasiun merupakan kolase, Umar Junus memulai karangannya dengan serentetan nama, kutipan, serta konsep pengamat dan budayawan Barat. Penyebutan tersebut menyebabkan karangan itu terasa meloncat ke sana kemari. Bagaimanapun, ruang yang begitu sempit tidak akan bisa dipergunakan sebaik-baiknya untuk menjelaskan konsep-konsep yang susul-menyusul.
Loncatan-loncatan itu juga terasa karena tampaknya konsep tersebut tidak disusun secara bertahap. Semacam kolase saja. Masalahnya, karena yang disampaikan Umar Junus itu merupakan semacam pembelaan bagi teknik Putu, maka ia harus bisa meyakinkan pembaca. Barangkali benar bahwa Stasiun adalah kolase – suatu hal yang sudah diuji Umar Junus lewat serangkaian konsep sastra dan kesenian mutakhir. Namun, tentu tidak seharusnya pembelaan itu berbentuk kolase konsep pula.
Perlu ditekankan lagi bahwa Umar Junus adalah pengamat yang subur. Barangkali situasilah yang menyebabkan kesuburan itu menghasilkan karangan ringkas semacam yang dikumpulkan dalam bunga rampai ini. Hal itu tidak begitu menguntungkan. Sebab, pada dasarnya, pelbagai masalah yang diajukan pengarang menuntut ruang lebih luas. Bukan suatu kebetulan bahwa karangan yang relatif panjang dalam buku ini seperti “Unsur Luar dalam Novel Indonesia”, “Anakronisme dalam Karya Sastra”, dan “Puisi yang Mantra di Indonesia: Suatu Interpretasi”, merupakan yang paling berharga.
Mungkin Profesor Teeuw benar, pendekatan Umar Junus ini memberi ‘harapan bagi kritik sastra Indonesia. Namun, agar harapan itu terkabul, Umar Junus masih harus menyeleksi pendekatan dan peralatan kritik yang paling dikuasainya, dan kemudian mencobakannya dalam karangan yang (jauh) lebih panjang – yang ditulis dengan lebih tenang, dan dalam gaya yang tidak terlalu melelahkan.
____________________05 November 1983
Dijumput dari: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1983/11/05/BK/mbm.19831105.BK45052.id.html
http://majalah.tempointeraktif.com/
DARI PERISTIWA KE IMAJINASI: WAJAH SASTRA DAN BUDAYA INDONESIA
Oleh: Umar Junus
Penerbit: PT Gramedia, Jakarta, 1983, 175 halaman
DUA puluh karangan dalam bunga rampai ini bisa dianggap benar-benar mewakili penulisnya, setidaknya dalam gaya bahasa dan cara berpikir. Anak judulnya, Wajah Sastra dan Budaya Indonesia, mencerminkan perhatian pengarang yang luas, meski sebenarnya pokok bahasan Umar Junus adalah sastra.
Umar Junus memang pengarang yang subur, dan mungkin yang paling banyak menulis dan menyiarkan karyanya di antara pengamat sastra Indonesia dewasa ini. Kesuburan itu membuktikan kecekatannya mengajukan masalah, dan sekaligus ketergesaannya menarik kesimpulan- atau kadang merumuskan persoalan.
Karangan dalam buku ini dibagi menjadi tiga bagian: Bagian I, “Realitas dan Imajinasi”, Bagian II, “Karya Sastra dan Pembaca”, dan Bagian III, “Hakikat Suatu Karya”. Untuk kumpulan karangan ini, Taufik Abdullah menulis sebuah kata pengantar – karangan yang justru paling menarik dalam bunga rampai ini.
Dalam pengantarnya, Taufik berusaha sebaik mungkin merumuskan pokok pikiran karangan Umar Junus usaha ini merupakan hal yang tidak mudah. Sebab, Umar Junus adalah seorang pengamat sastra yang gaya tulisannya khas memiliki “kenakalan”, “kesombongan”, dan “kegenitan” – meminjam istilah yang dipakai Taufik Abdullah.
Dalam hubungan ini, perlu dicatat bahwa Taufik memberikan nilai positif terhadap ketiga pengertian itu. Jumlah halaman yang hanya 175 untuk 20 karangan menunjukkan bahwa pokok pikiran Umar Junus hanya sempat diuraikan dalam karangan yang ringkas.
Ringkasnya karangan itu sangat terasa karena sebenarnya pengarang berusaha menunjukkan – dan meyakinkan pembaca – hal-hal baru sehubungan dengan teori mutakhir tentang sastra. Bagaimanapun juga – terutama kalau kita memasukkan “jenis” pembaca di Indonesia ke dalam pertimbangan kita – hal-hal “baru” seperti yang disampaikan oleh Umar Junus dalam bukunya membutuhkan ruang lebih luas untuk menjelaskannya.
Dalam ruang sempit, yang berupa karangan ringkas, tentu pelbagai konsep yang diajukan Umar Junus menjadi berdesak-desak. Dan banyaknya konsep dalam ruang sempit memberikesan pikiran yang meloncat-loncat. Karangan yang berjudul “Maka Terjadilah Sebuah Collage” bisa dipergunakan sebagai contoh. Karangan ini, yang menghabiskan 12 halaman, merupakan usaha yang sungguh-sungguh untuk menjelaskan novel Putu Wijaya, Stasiun.
Untuk menunjukkan bahwa Stasiun merupakan kolase, Umar Junus memulai karangannya dengan serentetan nama, kutipan, serta konsep pengamat dan budayawan Barat. Penyebutan tersebut menyebabkan karangan itu terasa meloncat ke sana kemari. Bagaimanapun, ruang yang begitu sempit tidak akan bisa dipergunakan sebaik-baiknya untuk menjelaskan konsep-konsep yang susul-menyusul.
Loncatan-loncatan itu juga terasa karena tampaknya konsep tersebut tidak disusun secara bertahap. Semacam kolase saja. Masalahnya, karena yang disampaikan Umar Junus itu merupakan semacam pembelaan bagi teknik Putu, maka ia harus bisa meyakinkan pembaca. Barangkali benar bahwa Stasiun adalah kolase – suatu hal yang sudah diuji Umar Junus lewat serangkaian konsep sastra dan kesenian mutakhir. Namun, tentu tidak seharusnya pembelaan itu berbentuk kolase konsep pula.
Perlu ditekankan lagi bahwa Umar Junus adalah pengamat yang subur. Barangkali situasilah yang menyebabkan kesuburan itu menghasilkan karangan ringkas semacam yang dikumpulkan dalam bunga rampai ini. Hal itu tidak begitu menguntungkan. Sebab, pada dasarnya, pelbagai masalah yang diajukan pengarang menuntut ruang lebih luas. Bukan suatu kebetulan bahwa karangan yang relatif panjang dalam buku ini seperti “Unsur Luar dalam Novel Indonesia”, “Anakronisme dalam Karya Sastra”, dan “Puisi yang Mantra di Indonesia: Suatu Interpretasi”, merupakan yang paling berharga.
Mungkin Profesor Teeuw benar, pendekatan Umar Junus ini memberi ‘harapan bagi kritik sastra Indonesia. Namun, agar harapan itu terkabul, Umar Junus masih harus menyeleksi pendekatan dan peralatan kritik yang paling dikuasainya, dan kemudian mencobakannya dalam karangan yang (jauh) lebih panjang – yang ditulis dengan lebih tenang, dan dalam gaya yang tidak terlalu melelahkan.
____________________05 November 1983
Dijumput dari: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1983/11/05/BK/mbm.19831105.BK45052.id.html
Minggu, 23 Oktober 2011
Yang Tak Picisan dalam Roman Pergaoelan
Suryadi*
Padang Ekspres, 17 Mei 2009
BUKU ini membahas sebuah korpus karya sastra Indonesia yang muncul di akhir masa kolonial yang selama ini luput dari ‘mata (kurang) awas’ studi (sejarah) kesusastraan Indonesia karena dianggap picisan. Korpus itu disebut roman pergaoelan (RP), yang diterbitkan oleh Penerbit Penyiaran Ilmoe (1939-1942) di Bukittinggi.
Mengutip definisi dari penerbitnya sendiri, istilah roman pergaoelan kurang lebih berarti “berbagai macam warna, bentuk, dan gambaran dari pergaulan”. Tetapi di sisi lain istilah itu juga berarti sejenis “genre sastra, novel atau cerita tentang pergaulan dan hubungan [antar] sesama manusia” (p.69).
Dalam buku ini, Sudarmoko—dosen Fakultas Sastra Universitas Andalas (UNAND), sekarang jadi dosen tamu di Hankuk University, Korea—menelaah struktur dan konteks sosio-budaya dan kesejarahan RP. Ia membahas sejumlah aspek yang mendukung keberadaan RP, seperti penerbitnya, karya, pembaca, dan reaksi-reaksi politis dan literer terhadapnya.
Bab I (hlm.1-20) membahas efek kanonisasi dalam penelitian ilmiah dan kritik sastra Indonesia yang mengakibatkan karya-karya yang berada di luar mainstream menjadi terabaikan, kemudian melanjutkannya dengan paparan tentang prinsip-prinsip dasar sosiologi sastra dan ideologi dalam sastra yang menjadi landasan teoretis penelitian ini, dan diakhir dengan penjelasan mengenai struktur buku ini.
Keberadaan Penerbit Penyiaran Ilmoe (PI) dan konteks sosio-budaya dan politik yang melahirkan dan membesarkannya dideskripsikan dalam Bab 2 (hlm.21-62). Kehadiran PI tidak lepas dari perkembangan kota Bukittinggi (Fort de Kock) di awal abad ke-20 yang pada dekade-dekade berikutnya ikut menggairahkan pertumbuhan usaha penerbitam/percetakan pribumi. Bab ini memberi gambaran historis yang multi dimensi seputar usaha ini di daerah pada zaman kolonial: tentang para penggiat dan latar belakang pendidikan dan ideologi mereka, pemodalnya, produk-produk yang dihasilkannya dan strategi pemasarannya, serta pengawasan-pengawasan politis yang dilakukan Pemerintah Kolonial.
Bab 3 (hlm.63-112) menganalisa aspek intrinsik RP. Sebelum membahas aspek intrinsik empat contoh RP yang telah dipilih, penulis melukiskan kemunculan genre ini, dengan berbagai macam nama, di Sumatera pada tahun 1930-an. Hal itu dimulai dari terbitnya Madjalah Dunia Pengalaman sebelum kemudian muncul beberapa nama lain seperti Lukisan Pudjangga, Tjedrawasih, Gubahan Maya, dan Mustika Alhambra. Kemudian genre ini muncul pula di Padang di tahun 1940-an yang diberi nama Roman Indonesia (p.63-4).
Empat contoh RP yang dibahas penulis adalah Angkatan Baroe (Hamka, 1939), Kamang Affair (Martha [Maisir Thaib], 1939), Joerni-Joesri (Matu Mona, 1940), dan Rahasia Pembongkaran (Surapati, 1941). Sudarmoko menyajikan sinopsis keempat roman itu, menganalisa tema-tema utama masing-masing teks dan membahas pandangan ideologi (pengarang) yang terepresentasi di dalamnya. Ia menunjukkan bahwa hakikat RP adalah representasi dunia pergerakan dan nasionalisme anak muda bumiputera di daerah dalam ranah literer yang mencoba ‘melawan’ wacana politik, budaya, dan sastra bentukan kolonialis Belanda yang didominasi oleh pusat (Batavia).
Bab 4 (hlm.113-45) berisi paparan historis mengenai reaksi-reaksi seputar RP: yang berupa polemik menyangkut estetika dan dampak sosial genre ini maupun yang berupa reaksi politis dari Pemerintah Kolonial Belanda (dan kemudian Jepang) terhadapnya. Dalam bab penutup (Bab 5; hlm. 147-53) penulis antara lain menyatakan bahwa penelitan terhadap korpus RP telah memberi kontribusi dalam membuka pembicaraan yang lebih luas dan dalam mengenai sejarah kesusatraaan Indonesia dan keberadaan penerbit karya sastra di daerah, di luar lingkungan Balai Pestaka.
Buku ini memperkenalkan kepada kita banyak nama pengarang sastra Indonesia yang, karena karya-karya mereka diletakkan di luar karya-karya mainstream, tidak dikenal namanya dalam peta historis kesusatraan Indonesia, seperti Aziz Thaib, Maisir Thaib (Martha), Thaher Samad, Tamar Djaja, St. R. Alamsjah, M. Kasim, Hs. Bakry, D. Umri, Mohd. Hasan Tansa, Mahals, Aminar, Nuraji ZR, Merayu Sukma, SZ Kamisir, Fajoermiah, Suara Sutji, dan Roma-Nita – untuk sekedar menyebut beberapa nama.
Buku yang juga berisi ilustrasi ini—aslinya adalah thesis MA Sudarmoko di Universitas Leiden (2005)—berhasil mengungkapkan sisi-sisi lain dari dinamika dunia kesusastraan Indonesia di akhir zaman penjajahan. Seperti diungkapkan Umar Junus dalam pengantarnya (hlm. ix-xiii), Sudarmoko, yang dinilai berani keluar dari mainstream penelitian kesusaatraan Indonesia yang sangat bersifat kanonik (warisan kolonialisme Belanda), berhasil menggambarkan dimensi lain kesusastraan Indonesia di akhir zaman penjajahan.
Dalam pemahaman yang luas istilah kanon (canon) merujuk kepada pengakuan yang bersifat melembaga terhadap daftar karya yang dianggap patut dicontoh, seperti karya-karya yang merupakan sastra nasional sebuah negara. Istilah kanon juga merujuk kepada system of rules untuk menciptakan karya-karya tersebut. Secara tradisional kanon sastra dimaknai sebagai susunan kronologis para pengarang terkenal dan karya-karya sastra utama yang tetap bertahan dalam ujian waktu karena nilai guna intrinsiknya yang terkait selama beabad-abad oleh suatu kesatuan budaya.
Namun belakangan ini pandangan di atas telah diserang oleh kritikus yang berargumen bahwa kanon tradisional itu pada dasarnya adalah semacam konstruksi sosial yang, karena kecenderungannya mengeyampingkan minoritas tertentu, merefleksikan relasi kuasa ketimbang nilai-nilai estetika. Sudarmoko tampaknya adalah salah seorang dari golongan penggugat itu. Lewat buku ini ia mengungkapkan aspek estetika, sosial, budaya, ekonomi, politik, ideologi, bahkan agama yang amat menarik di balik kehadiran sebuah korpus ‘sastra pinggiran’ yang disebut roman pergaoelan, yang selama beberapa dekade (sengaja) dilupakan karena sudah terlanjur dicap picisan.
_________________
*) Suryadi, alumnus Fakultas Sanstra UNAND, dosen dan peneliti pada Faculteit Geesteswetenschappen Universiteit Leiden, Belanda
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2009/05/buku-yang-tak-picisan-dalam-roman.html
Padang Ekspres, 17 Mei 2009
BUKU ini membahas sebuah korpus karya sastra Indonesia yang muncul di akhir masa kolonial yang selama ini luput dari ‘mata (kurang) awas’ studi (sejarah) kesusastraan Indonesia karena dianggap picisan. Korpus itu disebut roman pergaoelan (RP), yang diterbitkan oleh Penerbit Penyiaran Ilmoe (1939-1942) di Bukittinggi.
Mengutip definisi dari penerbitnya sendiri, istilah roman pergaoelan kurang lebih berarti “berbagai macam warna, bentuk, dan gambaran dari pergaulan”. Tetapi di sisi lain istilah itu juga berarti sejenis “genre sastra, novel atau cerita tentang pergaulan dan hubungan [antar] sesama manusia” (p.69).
Dalam buku ini, Sudarmoko—dosen Fakultas Sastra Universitas Andalas (UNAND), sekarang jadi dosen tamu di Hankuk University, Korea—menelaah struktur dan konteks sosio-budaya dan kesejarahan RP. Ia membahas sejumlah aspek yang mendukung keberadaan RP, seperti penerbitnya, karya, pembaca, dan reaksi-reaksi politis dan literer terhadapnya.
Bab I (hlm.1-20) membahas efek kanonisasi dalam penelitian ilmiah dan kritik sastra Indonesia yang mengakibatkan karya-karya yang berada di luar mainstream menjadi terabaikan, kemudian melanjutkannya dengan paparan tentang prinsip-prinsip dasar sosiologi sastra dan ideologi dalam sastra yang menjadi landasan teoretis penelitian ini, dan diakhir dengan penjelasan mengenai struktur buku ini.
Keberadaan Penerbit Penyiaran Ilmoe (PI) dan konteks sosio-budaya dan politik yang melahirkan dan membesarkannya dideskripsikan dalam Bab 2 (hlm.21-62). Kehadiran PI tidak lepas dari perkembangan kota Bukittinggi (Fort de Kock) di awal abad ke-20 yang pada dekade-dekade berikutnya ikut menggairahkan pertumbuhan usaha penerbitam/percetakan pribumi. Bab ini memberi gambaran historis yang multi dimensi seputar usaha ini di daerah pada zaman kolonial: tentang para penggiat dan latar belakang pendidikan dan ideologi mereka, pemodalnya, produk-produk yang dihasilkannya dan strategi pemasarannya, serta pengawasan-pengawasan politis yang dilakukan Pemerintah Kolonial.
Bab 3 (hlm.63-112) menganalisa aspek intrinsik RP. Sebelum membahas aspek intrinsik empat contoh RP yang telah dipilih, penulis melukiskan kemunculan genre ini, dengan berbagai macam nama, di Sumatera pada tahun 1930-an. Hal itu dimulai dari terbitnya Madjalah Dunia Pengalaman sebelum kemudian muncul beberapa nama lain seperti Lukisan Pudjangga, Tjedrawasih, Gubahan Maya, dan Mustika Alhambra. Kemudian genre ini muncul pula di Padang di tahun 1940-an yang diberi nama Roman Indonesia (p.63-4).
Empat contoh RP yang dibahas penulis adalah Angkatan Baroe (Hamka, 1939), Kamang Affair (Martha [Maisir Thaib], 1939), Joerni-Joesri (Matu Mona, 1940), dan Rahasia Pembongkaran (Surapati, 1941). Sudarmoko menyajikan sinopsis keempat roman itu, menganalisa tema-tema utama masing-masing teks dan membahas pandangan ideologi (pengarang) yang terepresentasi di dalamnya. Ia menunjukkan bahwa hakikat RP adalah representasi dunia pergerakan dan nasionalisme anak muda bumiputera di daerah dalam ranah literer yang mencoba ‘melawan’ wacana politik, budaya, dan sastra bentukan kolonialis Belanda yang didominasi oleh pusat (Batavia).
Bab 4 (hlm.113-45) berisi paparan historis mengenai reaksi-reaksi seputar RP: yang berupa polemik menyangkut estetika dan dampak sosial genre ini maupun yang berupa reaksi politis dari Pemerintah Kolonial Belanda (dan kemudian Jepang) terhadapnya. Dalam bab penutup (Bab 5; hlm. 147-53) penulis antara lain menyatakan bahwa penelitan terhadap korpus RP telah memberi kontribusi dalam membuka pembicaraan yang lebih luas dan dalam mengenai sejarah kesusatraaan Indonesia dan keberadaan penerbit karya sastra di daerah, di luar lingkungan Balai Pestaka.
Buku ini memperkenalkan kepada kita banyak nama pengarang sastra Indonesia yang, karena karya-karya mereka diletakkan di luar karya-karya mainstream, tidak dikenal namanya dalam peta historis kesusatraan Indonesia, seperti Aziz Thaib, Maisir Thaib (Martha), Thaher Samad, Tamar Djaja, St. R. Alamsjah, M. Kasim, Hs. Bakry, D. Umri, Mohd. Hasan Tansa, Mahals, Aminar, Nuraji ZR, Merayu Sukma, SZ Kamisir, Fajoermiah, Suara Sutji, dan Roma-Nita – untuk sekedar menyebut beberapa nama.
Buku yang juga berisi ilustrasi ini—aslinya adalah thesis MA Sudarmoko di Universitas Leiden (2005)—berhasil mengungkapkan sisi-sisi lain dari dinamika dunia kesusastraan Indonesia di akhir zaman penjajahan. Seperti diungkapkan Umar Junus dalam pengantarnya (hlm. ix-xiii), Sudarmoko, yang dinilai berani keluar dari mainstream penelitian kesusaatraan Indonesia yang sangat bersifat kanonik (warisan kolonialisme Belanda), berhasil menggambarkan dimensi lain kesusastraan Indonesia di akhir zaman penjajahan.
Dalam pemahaman yang luas istilah kanon (canon) merujuk kepada pengakuan yang bersifat melembaga terhadap daftar karya yang dianggap patut dicontoh, seperti karya-karya yang merupakan sastra nasional sebuah negara. Istilah kanon juga merujuk kepada system of rules untuk menciptakan karya-karya tersebut. Secara tradisional kanon sastra dimaknai sebagai susunan kronologis para pengarang terkenal dan karya-karya sastra utama yang tetap bertahan dalam ujian waktu karena nilai guna intrinsiknya yang terkait selama beabad-abad oleh suatu kesatuan budaya.
Namun belakangan ini pandangan di atas telah diserang oleh kritikus yang berargumen bahwa kanon tradisional itu pada dasarnya adalah semacam konstruksi sosial yang, karena kecenderungannya mengeyampingkan minoritas tertentu, merefleksikan relasi kuasa ketimbang nilai-nilai estetika. Sudarmoko tampaknya adalah salah seorang dari golongan penggugat itu. Lewat buku ini ia mengungkapkan aspek estetika, sosial, budaya, ekonomi, politik, ideologi, bahkan agama yang amat menarik di balik kehadiran sebuah korpus ‘sastra pinggiran’ yang disebut roman pergaoelan, yang selama beberapa dekade (sengaja) dilupakan karena sudah terlanjur dicap picisan.
_________________
*) Suryadi, alumnus Fakultas Sanstra UNAND, dosen dan peneliti pada Faculteit Geesteswetenschappen Universiteit Leiden, Belanda
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2009/05/buku-yang-tak-picisan-dalam-roman.html
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel García Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati