Tampilkan postingan dengan label Ahmadun Yosi Herfanda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahmadun Yosi Herfanda. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Februari 2012

Kegairahan dan Estetika dalam Berpuisi [1]

Bagian pertama dari dua tulisan
Ahmadun Yosi Herfanda
_Republika, 30 April 2006

Poetry begins in delight And ends in wisdom.

Tesis singkat penyair AS, Robert Frost, di atas rasanya sangat pas untuk memulai pembicaraan tentang sajak-sajak karya 50 perempuan dalam Antologi Puisi Perempuan Penyair Indonesia (APPPI) 2005 (Risalah Badai dan Ksi, 2005) yang dieditori oleh Mathori A Elwa.

Kegairahan Perempuan dan Problem Estetika Sastra [2]

Bagian Terakhir dari Dua Tulisan
Ahmadun Yosi Herfanda
__Republika, 07 Mei 2006

Di tengah mencairnya ‘orientasi estetik’ (orientasi kesastraan) dalam berpuisi dewasa ini muncul sangat banyak penulis perempuan. Mereka memaraki komunitas-komunitas penggemar puisi, sejak komunitas saiber sampai penerbitan buku. Mereka bahkan menjadi motor utama komunitas-komunitas tersebut. Komunitas Bunga Matahari, misalnya, ditokohi Gratiagusti Chananya Rompas (Anya). Cybersastra.net dikomandani Medy Loekito. Sedangkan Risalah Badai — penerbit antologi-natologi puisi khusus karya perempuan — dimotori oleh Amdai Muth Siregar.

Selasa, 30 Agustus 2011

Sastra, Planet Senen, dan Potret Buram Bangsa

Ahmadun Yosi Herfanda*
Republika, 7 Sep 2008

MESKI bergerak ke arah perbaikan, negeri ini masih banyak menyisakan potret buram. Dan, itulah yang disorot oleh sastrawan Taufiq Ismail pada orasi sastranya dalam acara Nongkrong Sastra dan Musik Merdeka di plasa Gelanggang Remaja Jakarta Pusat, di Planet Senen, Jumat, 29 Agustus 2008, yang lalu.

"Sesudah enam puluh tiga tahun merdeka, apabila kita berharap akan keadilan, masih bisakah saudaraku menemukan keadilan di Indonesia hari ini, setelah pincang, tersaruk digebrak krisis, dihantam bencana, dan kehabisan angka kita menghitungnya," katanya. Ungkapan Taufiq itu tentu bukan untuk membuat kita pesimis, tapi menyadarkan kita betapa masih banyaknya pekerjaan yang harus kita selesaikan untuk mengisi kemerdekaan, betapa masih banyak tugas para pemimpin bangsa untuk membawa negeri ini ke arah kemajuan, keadilan dan kemakmuran.

Setelah dilanda krisis dan berbagai kerusuhan pada masa akhir kekuasaan Soeharto, bertubi-tubi negeri ini dilanda bencana alam yang dahsyat, sejak tsunami Aceh hingga gempa Yogya. Belum lagi berbagai kasus korupsi dan penggelapan uang negara dalam kasus BLBI dan dana BI misalnya.Melonjaknya harga minyak dunia pun ikut melonjakkan harga BBM dalam negeri yang berakibat makin tergencetnya nasib rakyat oleh kenaikan harga kebutuhan hidup sehari-hari. Sementara, beban hutang negara Rp 1.600 triliun pun menjadi beban tersendiri, yang menyita hampir 40 persen APBN untuk mencicilnya.

Jadinya memang tidak mudah untuk menyelamatkan negeri ini dari ancaman kebangkrutan ekonomi dan kehancuran budaya. Seperti disorot oleh Taufiq pada orasinya itu, akhlak berbagai kalangan masyarakat juga mengalami kemerosotan, termasuk kalangan anggota Dewan, pejabat, penegak hukum, dan sastrawan. Berbagai kasus korupsi dan perselingkuhan melanda Dewan, sementara dari kalangan sastrawan banyak yang mengagungkan kebebasan seks dengan dalih kebebasan berekspresi.

"Akhlak merosot, budaya permisif serba boleh menjadi-jadi. Narkoba, alkohol, nikotin, dan pornografi. Hak pakai alat kelamin di badan orang lain tak dihormati. VCD biru dalam kata-kata menjadi gaya fiksi masa kini, asyik dengan masalah selangkangan dan sekitar ini, diusung dengan rasa kagum kronis pada teori-teori neo-liberalisme," kata Taufiq. Pada akhir orasinya, Taufiq bertanya, masih adakah harapan bagi kita, manusia Indonesia? Dan, ia menjawabnya sendiri, "Mudah-mudahan masih ada. Ya, masih ada. Dengan kerja keras diiringi khusyuknya doa, dari atas sampai ke bawah. Berpeluh dalam kerja, menangis dalam doa. Semoga Indonesia kita tetap disayangiNya, selalu dilindungiNya."

Kawasan Planet Senen, yang pada tahun 1960-an menjadi semacam oase budaya bagi kota Jakarta, dan banyak melahirkan seniman besar, belakangan pun terkena polusi moral. Kawasan tempat nongkrong dan tumbuhnya Wim Umboh, Sukarno M Nur, Misbah Yusa Biran, Hamsad Rangkuti, Ajip Rosyidi dan SM Ardan itu belakangan kehilangan citranya sebagai oase budaya. Citra yang melekat pada kawasan Senen, tinggal kawasan bisnis, premanisme dan pelacuran.

Kesadaran untuk merevitalisasi fungsi kultural Planet Senen dan mengembalikan citranya sebagai salah satu oase budaya bagi kota Jakarta, akhir-akhir ini mencul dari beberapa penyair seperti Imam Maarif, Irman Syah, Ahmad Sekhu dan Giyanto Subagio. Mereka mencoba mendenyutkan kembali aktivitas kesenian sastra, tari, lukis, dan teater -- dari Gelanggang Remaja Jakarta Pusat yang menempati kawasan Planet Senen.

Untuk mendukung upaya itu pula Nongkrong Sastra dan Musik Merdeka digelar di plasa gelanggang remaja tersebut, atas kerja sama antara Komunitas Sastra Indonesia (KSI) dan Komunitas Planet Senen (KoPS), serta dukungan penuh Dedy Mizwar, Misbah Yusa Biran dan Taufiq Ismail. "Senen dulu banyak melahirkan seniman besar. Di sini pula dimulainya teater modern Indonesia," kata Misbah.

"Kegiatan ini positif sekali untuk mengembalikan citra dan fungsi kawasan Senen, bukan hanya sebagai kawasan bisnis, tapi juga oase kesenian bagi kota Jakarta," kata walikota Jakarta Pusat Dr Hj Sylviana Murni pada sambutan yang dibacakan wakilnya, Dadang Effendi. "Kami sangat mendukung kegiatan seperti ini," tambah Kasubdin Kebudayaan dan Pariwisata Jakarta Pusat, Bambang Subekti.

Diawali dengan diskusi bertajuk Sastra Urban dan Kemerdekaan dengan pembicara Irman Syah, Helvy Tiana Rosa, dan Agus R Sarjono, acara dipuncaki orasi sastra oleh Taufiq Ismail. Sebelum orasi, panggung diisi pentas baca puisi oleh Ahmad Sekhu, Widodo Arumdono, Diah Hadaning, Aby Nuh, Medy Loekito, Misbah Yusa Biran, Jamal D Rahman, Giyanto Subagio, dan Viddy AD Daery, serta baca cerpen oleh Yohana Gabe Threenov Siahaan.

Panggung yang dipasang di sebelah patung perjuangan kemudian diisi baca puisi, antara lain oleh Rukmi Wisnu Wardani, Mustafa Ismail, Sihar Ramses Simatupang, Amien Kamil, A Badri AQT, dan baca cerpen oleh Hamsad Rangkuti. Sejumlah penyair, seperti Imam Maarif, sempat naik ke atas balkon patung untuk membacakan sajaknya. Sejumlah grup musik, seperti Prasta dari Bogor pimpinan Uthe dengan vokalis Irma, serta performance arts Asep Sutajaya dan Abah Bopeng, menyempurnakan acara hingga larut malam.

Kesenian telah kembali menggeliat di Planet Senen, kembali menghamparkan oase sejuk di tengah kota Jakarta yang makin gerah, bising, sibuk, macet, dan penuh dekadensi moral. Semoga saja, kesenian-kesenian yang digelar di Senen adalah seni yang menjaga moral, yang mencerahkan hati nurani, dan menyempurnakan harkat serta martabat kemanusiaan publiknya, bukan yang sebaliknya.

* Ahmadun Yosi Herfanda, Wartawan Republika
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/09/wacana-sastra-planet-senen-dan-potret.html

Sabtu, 26 Februari 2011

Buku-buku Sutan Takdir Alisabana

Ahmadun Yosi Herfanda
http://www.infoanda.com/Republika

Beberapa buku tentang Sutan Takdir Alisyahbana (STA) dan pemikirannya, belum lama ini, diterbitkan dalam rangka 100 tahun sang tokoh. Dua buku di antaranya, Sutan Takdir Alisyahbana Dalam Kenangan dan Manusia Renaisance, diterbitkan oleh Dian Rakyat. Keduanya berisi kumpulan tulisan para pakar dan sama-sama disunting oleh Abu Hasan Asy’ari.

Sederet diskusi pun diadakan untuk membahas buku-buku dan pemikiran STA, antara lain di Taman Ismail Marzuki, The Habibie Center, dan kampus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Depok. Sejumlah media massa pun menyambut cukup antusias diskusi-diskusi tersebut, dengan memberikan ruang cukup lebar untuk pemberitaannya.

Almarhum STA semasa hidupnya telah menulis cukup banyak buku. Setidaknya ada 35 buku karya STA yang telah terbit, berupa tiga buku filsafat, sembilan buku kebudayaan, delapan buku bahasa, 12 buku sastra (termasuk novel dan kumpulan puisi), dan tiga buku umum.

Di antara novel STA yang paling terkenal dan fenomenal adalah Layar Terkembang. Novel ini menduduki tempat yang sangat istimewa dalam sejarah sastra Indonesia, karena menawarkan konsep pembaruan budaya sekaligus pemuliaan terhadap kaum perempuan. Melalui tokoh Tuti, jelas sekali bagaimana gambaran perempuan yang ideal menurut STA: Terpelajar, berpikiran maju, dan menjadi aktivis serta pelopor perubahan sosial ke arah kemajuan.

Selain melalui buku, pemikiran STA juga banyak dilansir dalam berbagai tulisan yang dimuat di berbagai media massa sejak tahun 1930-an. Pemikiran STA tentang kebudayaan Indonesia bahkan sempat berkembang menjadi polemik panjang, dalam dasawarsa 1930-an, yang antara lain melibatkan Sanusi Pane dan Ki Hajar Dewantara.

Dalam polemik itu konsep-konsep budaya Timur dan Barat dicoba didialogkan untuk menemukan konsep budaya baru bagi masa depan bangsa. Dari polemik tersebut lahir sebuah buku berjudul Polemik Kebudayaan (dirangkum oleh Achdiat Kartamihardja), yang sampai sekarang masih sering dijadikan rujukan oleh para pakar budaya ketika membicarakan tentang masa depan kebudayaan nasional. Artinya, polemik tersebut telah memberikan dasar-dasar penting bagi pengembangan kebudayaan Indonesia.

Karena karya-karya sastranya, terutama novel Layar Terkembang, dan polemik kebudayaannya yang sangat menyejarah, selama ini masyarakat lebih mengenal STA sebagai sastrawan dan budayawan, yang pernah memimpin majalah Pujangga Baru. Nama majalah itu pun oleh HB Jassin lantas dijadikan nama angkatan Angkatan Pujangga Baru dalam sastra Indonesia, dengan STA sebagai pelopornya. Penempatan STA sebagai pelopor Angkatan Pujangga Baru, tentu, makin memantapkan posisinya dalam sejarah sastra Indonesia, sekaligus menguatkan eksistensi kesastrawanannya.

Namun, sumbangan penting STA bagi bangsa ini tentu tidak hanya dalam bidang sastra dan budaya. STA juga memberi sumbangan penting di bidang pendidikan, filsafat, dan sosiologi, yang mempengaruhi perkembangan kebudayaan nasional, setidaknya di bidang pemikiran budaya.

Buku-buku yang diterbitkan Dian Rakyat di atas mencoba menghadirkan gambaran ketokohan STA yang seutuhnya, dan antara yang satu dengan lainnya saling melengkapi, sehingga perlu dibaca keduanya. Buku Sutan Takdir Alisyahbana Dalam Kenangan menggambarkan sosok STA dan berbagai perannya. Sedangkan Manusia Renaisance lebih menyorot pemikiran-pemikirannya.

Dari karya dan pemikirannya, terlihat bahwa STA adalah manusia berkarakter laut, dan bukan gunung. Dinamis dan ingin cepat maju, serta tak pernah mau tinggal diam melihat bangsanya yang masih terbelakang. Wajar kalau ada yang menyebut STA sebagai fajar modernisme Indonesia.

Luar biasanya, semangat untuk membangun Indonesia modern dilontarkan STA sebelum negara bernama Indonesia lahir. Sejak awal dasawarsa 1930-an, tidak lelah-lelahnya tokoh dinamis ini memperjuangkan kemajuan bangsa melalui pemikiran sastra, bahasa, filsafat, dan terutama kebudayaan.

STA yakin, untuk memajukan suatu bangsa, peran kebudayaan sangat vital. STA yakin, agar dapat berjalan dengan baik, suatu masyarakat harus memiliki kebudayaan yang dapat menjadi dasar atau sandaran bagi kemajuan ilmu dan teknologi. Jadi, pesan tersirat STA, kalau ingin bangsa ini maju dan sejahtera lahir-batin, jangan sepelekan kebudayaan.

*) Wartawan Republika

Sabtu, 18 September 2010

Sastra, Abdul Hadi WM, dan Orientasi Penciptaan

Ahmadun Yosi Herfanda
http://www.infoanda.com/Republika

Peran dan keberadaan (eksistensi) Abdul Hadi WM dalam sastra Indonesia sangat paradigmatik. Dia tidak hanya muncul sebagai penyair dan sastrawan ternama, tapi juga membawa konsep estetika penting — puitika sufistik — yang cukup berpengaruh pada perkembangan kesastraan Indonesia pada masanya dan masa sesudahnya.

Jika kebudayaan adalah sistem nilai, dan kesastraan adalah ekspresi terpenting kebudayaan, maka Abdul Hadi WM — dengan nilai-nilai esoterik Islam yang dikembangkannya melalui sastra itu — adalah paradigma kebudayaan Indonesia. Dia adalah contoh penting dari sedikit sastrawan Indonesia — bersama Kuntowijoyo, dan Emha Ainun Nadjib — yang dengan gigih mencoba membangun tradisi penciptaan (sastra) baru yang lebih mencerahkan.

Orientasi penciptaan

Bagaimana sebuah karya sastra dicipta dan bagaimana fungsinya di masyarakat, sangat tergantung pada komitmen estetik, dan orientasi penciptaan pengarangnya. Berdasarkan tujuan penciptaannya, Abrams mengelompokkan karya sastra ke dalam empat orientasi.

Pertama, karya sastra sebagai tiruan alam atau penggambaran alam. Kedua, karya sastra sebagai media untuk mencapai tujuan tertentu pada pembacanya. Ketiga, karya sastra sebagai pancaran perasaan, pikiran, ataupun pengalaman sastrawannya. Dan, keempat, karya sastra sebagai sesuatu yang otonom, mandiri, lepas dari alam sekeliling, pembaca maupun pengarangnya.

Pada orientasi kedua Abram, karya sastra dipandang sebagai media untuk tujuan-tujuan yang cenderung pragmatik. Misalnya saja, sastra untuk pencerahan dan pencerdasan masyarakat, untuk sosialisasi nilai-nilai dan ajaran agama, untuk membangun kesadaran politik tertentu, atau untuk mendorong munculnya kesadaran sosial tertentu guna mendorong proses perubahan sosial.

Dalam bahasa tokoh renaisans Indonesia, Sutan Takdir Alisyahbana, sastra harus memiliki fungsi pencerdasan masyarakat. Dan, karena itu, sastra tidaklah bisa hanya bermewah-mewah dengan keindahan untuk mencapai kepuasan seseorang dalam mencipta, tetapi harus dilibatkan secara aktif dalam seluruh pembangunan bangsa. Sastra, harus membuat orang (pembaca) lebih optimis dan menghadapi hidup dengan semangat juang yang tinggi untuk mengatasi berbagai masalah dan situasi kritis. Dan, ini dibuktikannya melalui novel Layar Terkambang serta Kalah dan Menang.

Orientasi yang cenderung pragmatik itu juga terlihat pada sajak-sajak patriotik Rabendranat Tagore yang ikut mendorong semangat patriotisme kaum terpelajar India untuk membebaskan bangsanya dari penjajahan Ingris, sajak-sajak Kahlil Gibran yang ikut menyebarkan kearifan hidup bagi jutaan pembacanya di berbagai negara, atau sajak-sajak cinta tanah air Moh Yamin yang ikut mendorong tumbuhnya rasa cinta tanah air dan kesadaran akan pentingnya memiliki bangsa yang merdeka. Dan, tentu juga terlihat pada sajak-sajak Abdul Hadi WM yang ikut mendorong peningkatan kualitas kesalehan sosial dan spiritual pembacanya.

Sajak berjudul Tuhan, Kita Begitu Dekat berikut ini cukup representatif untuk menggambarkan komitmen dan orientasi estetik Abdul Hadi WM:

Tuhan,
Kita begitu dekat
Seperti api dan panas
Aku panas dalam apimu

Tuhan,
Kita begitu dekat
Seperti kain dan kapas
Aku kapas dalam kainmu

Tuhan,
Kita begitu dekat
Seperti angin dan arahnya

Kita begitu dekat

Dalam gelap
Kini aku nyala
Pada lampu padammu

Bila dibaca sepintas, sajak tersebut di atas terkesan sederhana, hanya menggambarkan kedekatan penyair (Abdul Hadi WM) dengan Tuhannya, dengan metafor api dan panas, kain dan kapas, serta angin dan arahnya. Tapi, kalau dikaji secara intertekstual — dengan metode intertekstualitasnya Julia Christeva — sajak tersebut dapat dikaitkan dengan konsep yang rumit tentang tasawuf.

Menurut Kristeva, intertekstualitas merupakan kunci untuk memahami sebuah teks sastra secara lengkap. Dalam dua bukunya — Revolution in Poetic Language (1974) dan Desire in Language: A Semiotic Approach to Literature and Art (1979) — Kristeva mengingatkan pentingnya dimensi ruang dan waktu dalam menafsir teks sastra.

Menurutnya, sebuah teks sastra diciptakan di dalam ruang dan waktu yang konkret. Karena itu, selalu ada relasi antara suatu teks sastra dengan teks lainnya dalam suatu ruang, dan antara satu teks sastra dengan teks sebelumnya di dalam garis waktu.

Puisi memang karya imajinatif — lahir melalui proses penciptaan yang mengandalkan kemampuan pencitraan (imagery) tentang suatu pemikiran atau perasaan tertentu. Tetapi, persoalan yang diangkat akan selalu berkait dengan persoalan yang hidup di ruang dan waktu yang kongkret, yang mempengaruhi pikiran dan perasaan penyairnya, serta keyakinan estetik, bahkan ideologi dan keberagamaan — sang penyair.

*) Redaktur dan pelayan sastra

Sastra, Abdul Hadi WM, dan Fenomena Puisi Sufistik

Ahmadun Yosi Herfanda
http://www.infoanda.com/Republika

Dalam bahasa A Teeuw, karya sastra tidak pernah lahir dari ruang kosong — selalu ada teks-teks lain yang ikut mempengaruhi proses kelahiran dan ikut mewarnai karakternya. Dalam kasus sajak Abdul Hadi tersebut di atas, teks-teks yang mempengaruhinya adalah konsep-konsep tentang tasawuf.

Sederhananya, kemanunggalan (menyatunya) Abdul Hadi dengan Tuhannya adalah kemanunggalan sifat, seperti kemanunggalan api dengan panasnya. Melalui puisi itu, secara tersirat Abdul Hadi ikut meluruskan dan mengkristalkan konsep kemanunggalan mahluk dengan Tuhannya yang dalam mistik Jawa disebut manunggaling kawulo-Gusti dan dalam ilmu tasawuf disebut tasawuf union mistika atau wahdatul wujud. Pada bait terakhir, Abdul Hadi menyediakan diri menjadi nyala, cahaya, penyuluh, penerang jalan, jika lampu Tuhan (agama) padam. Ini juga dapat dibaca sebagai komitmen bersastra Abdul Hadi, seperti tersirat pada sajak-sajaknya yang lain, bahwa bersastra, menulis puisi, adalah bagian dari upaya untuk mencerahkan rohani masyarakat (pembaca).

Puitika sufistik

Sejak dasawarsa 1970-an hingga akhir 1980-an dalam kesastraan Indonesia berkembang fenomena atapun kecenderungan sastra (puitika) sufistik. Tumbuhnya kecenderungan tersebut tidak terlepas dari peran Abdul Hadi WM dalam mengembangkan puitika sufistik, baik melalui sajak-sajaknya maupun esei-eseinya, terutama yang dimuat pada rubrik Dialog Harian Berita Buana.

Jika dirunut, puitika sufistik yang dikembangkan oleh Abdul Hadi WM merupakan mata rantai dari rantai panjang tradisi sastra sufistik yang dapat dirunut sampai ke akar tradisinya di kalangan para penyair sufi Persia, seperti Ibnu Arabi, Hafiz, Jalaluddin Rumi, dan Al-Hallaj. Di Indonesia, mata rantai tradisi sastra sufi dapat dirunut dari Hamzah Fansyuri yang ‘abadi’ dengan Syair Perahu-nya, kemudian Amir Hamzah dengan sajak-sajak romantik-religiusnya, lalu ke masa 1970-an yang ditokohi oleh Abdul Hadi WM dengan sajak-sajak sufistiknya.

Ketika itu, Abdul Hadi memang menjadi redaktur rubrik satra Dialog Harian Berita Buana yang bersama Majalah Sastra Horison dan rubrik-rubrik sastra surat kabar Jakarta lainnya menjadi semacam kiblat perkembangan sastra Indonesia. Pada saat itulah Abdul Hadi WM mengembangkan pengaruhnya pada perkembangan sastra Indonesia, terutama tradisi penulisan puisi.

Cukup banyak penyair, terutama dari generasi 1980-an, seperti Ahmad Nurullah, Jamal D. Rahman, Acep Zamzam Nor, Achmad Syubbanuddin Alwy, Mathori A. Elwa, dan Soni Farid Maulana, yang ikut memilih puitika sufistik sebagai landasan kreatifnya. Untuk merambah puitika sufistik, seseorang memang tidak harus menjalani tarikat sufi, atau mengikuti mazhab sufi tertentu untuk bisa melahirkan karya sufistik. Menurut Abdul Hadi, kesufian seseorang dalam bersastra justru ditentukan oleh cara berpikir, way of life, gambaran dunia yang hidup dalam batin, serta sistem nilai yang menguasai jiwa yang tertuang ke dalam karya sastra.

Karena sifatnya yang esoterik dan universal, puitika sufistik bahkan dapat melampaui batas-batas agama. Penyair-penyair non-Muslim, seperti Tagore dan Khalil Gibran, menurut Abdul Hadi WM, pun dapat melahirkan sajak-sajak sufisik. Dan, di sinilah garis kes amaan agama (universalitas agama) mendapatkan penegasan.

Puitika Timur

Bersamaan dengan berkembangnya puitika sufistik, pada dasawarsa 1970-an hingga 1980-an, kecenderungan untuk kembali ke puitika Timur juga sedang menguat. Selain tampak pada banyak karya sastra, upaya untuk menggali dan mengembangkan estetika Timur juga banyak dilakukan, sejak melalui penelitian, pengkajian, diskusi, hingga seminar da penerbitan buku. Berbagai rubrik sastra di surat kabar, majalah dan jurnal ilmiah, pun banyak mempublikasikan tulisan seputar pentingnya untuk menggali dan mengembangkan estetika Timur, sebagai budaya tandingan (counter culture), ataupun estetika tandingan (counter aesthetic), terhadap estetika dan budaya Barat yang cukup dominan dalam sastra Indonesia.

Selain Abdul Hadi WM yang mengembangkan serta memasyarakatkan puitika sufistik, dalam menumbuhkan estetika Timur itu, turut berperan pula Kuntowijoyo dengan konsep sastra profetik dan sastra transendennya, Emha Ainun Nadjib dengan konsep estetika kaffah-nya, Danarto dengan cerpen-cerpen Islam kejawennya, Darmanto Jatman dan Linus Suryadi AG dengan estetika Jawanya, serta Wisran Hadi dengan estetika Minangnya. Dapat disebut juga Taufiq Ismail, yang tetap produktif dengan sajak-sajak sosial-religiusnya.

Paradigma

Di tengah kecenderungan estetika Timur yang menguat dalam sastra Indonesia kontemporer sejak 1970-an, puitika sufistik menjadi mainstream yang cukup dominan dengan cukup banyak pengaruh dan pengikut. Di sinilah tampak sosok penting Abdul Hadi WM, bukan sekadar popularitas kepenyairannya, tapi juga paradigma yang dibawa dan dikembangkannya, yakni paradigma sastra sufistik.

Sastra adalah nafas kebudayaan. Dan, Abdul Hadi WM telah ikut menafasi kebudayaan Indonesia dengan puitika sufistik, dan prinsip-prinsip seni yang Islami, untuk ikut mendorong masyarakat ke arah pencerahan sosial dan spiritual. Upayanya itu, bagaimanapun, telah menjadi penyeimbang bagi pengaruh budaya Barat yang hedonis dan sekuler. Karena itu, Abdul Hadi WM, beserta karya-karya dan pemikirannya, adalah paradigma tersendiri dalam kebudayaan Indonesia.

*) Redaktur sastra Republika

Sabtu, 11 September 2010

Penyair Dunia Mengaduk Budaya di Sungai Musi

Ahmadun Yosi Herfanda
http://www.infoanda.com/Republika

Membaca puisi di atas geladak Kapal Sigentar Alam yang melaju di atas Sungai Musi, Palembang, penyair Emha Ainun Nadjib harus mengandalkan spontanitas dan kemampuan vokalnya melawan deru angin dan suara mesin. Tapi, sajak yang ia rangkai secara spontan di atas kapal cukup apik dan retoris:

Palembang,
Aku melihat
para penyembah cinta
dari Belanda, Italia,
Jerman, Australia…
Membawa cinta untuk diaduk
di atas kapal malam ini.
Palembang,
Marilah kita melakukan
pernikahan budaya
melalui puisi…

Emha memang dikenal piawai berimprovisasi dan merangkai retorika secara spontan. Sementara, penyair-penyair lain termasuk beberapa penyair manca negara yang tidak mengandalkan improvisasi, agak keteter dan suara mereka pecah oleh terjangan angin yang cukup kencang. ”Suaraku hilang diterbangkan angin,” ujar Flavio Santi, penyair dari Italia, usai membaca sajak di kapal itu.

Meskipun begitu, acara baca puisi di atas kapal pesiar tersebut menjadi sesi yang sangat unik dan mengesankan bagi para peserta The Indonesian International Poetry Festival (IIPF) 2006, yang digelar di Palembang (2-3 Juli) dan Jakarta (5-8 Juli), itu. Tidak hanya di panggung gedung kesenian, mereka juga mencoba mengaduk budaya lewat puisi di atas kapal, di tengah sungai, seperti kutipan sajak spontan Emha di atas.

Festival yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Dewan Kesenian Sumatera Selatan (DKSS) ini diikuti sekitar 40 penyair dari 37 negara. Selain Santi, dari manca negara ada Hans Wap, Tsead Bruinja, dan Peter Swanborn (Belanda), Martin Jankowski (Jerman), Flavio Santi (Italia), Anni Sumari (Finlandia), Hal Jugde (Australia), Khairulizam (Malaysia), serta Madeleine Lee (Singapura).

Di kota empek-empek Palembang, acara utama digelar di gedung Graha Budaya. Para penyair bergantian membaca puisi dalam bahasa ibu (asli) mereka masing-masing, kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Selain Emha, beberapa penyair Indonesia yang tampil di Palembang, antara lain Taufiq Ismail, D Zawawi Imran, Acep Zamzam Noor, Jamal D Rahman, Dorothea Rosa Herliani, Ahmadun Yosi Herfanda, dan Raudal Tanjung Banua.

Sebuah buku antologi puisi setebal 476 halaman, bertajuk Poetry and Sincerity, yang dieditori oleh Agus R Sarjono dan Martin Mooij, melengkapi even sastra yang bernuansa wisata dan penuh semangat persahabatan tersebut. ”Festival ini didedikasikan untuk semangat persahabatan dan kemanusiaan,” ujar Agus, yang juga ketua panitia festival.

Bagi para penyair Indonesia, kata pengamat sastra yang juga angota panitia festival, Maman S Mahayana, festival puisi ini dapat membuka peluang untuk mengenal karya dan sosok penyair dari negara-negara lain. Mereka dapat saling berkenalan sehingga lingkup pergaulan sastra mereka menjadi lebih luas. ”Pengenalan itu akan memperkaya perspektif, gagasan, dan proses kreatif penciptaan puisi bagi mereka,” katanya.

Festival puisi ini juga diyakini dapat meningkatkan kesepahaman lintas budaya melalui puisi. Pengamat sastra dari Universitas Tasmania yang kini sedang menekuni studi tentang Indonesia, Heather Curnov, melihat even ini dapat menjadi forum dialog budaya antar-bangsa guna membangun saling pengertian. ”Penyair-penyair dari berbagai negara dapat bertemu dan berdialog bebas tentang sastra dan budaya masing-masing,” katanya.

Dengan menyaksikan festival ini, para pengamat sastra juga dapat memperbandingkan gagasan, gaya pembacaan puisi, dan estetika bahasa dari banyak penyair dari negara lain. Tampak, misalnya, para penyair Indonesia dan Malaysia lebih ekspresif dalam membaca sajak di panggung. Sedangkan penyair-penyair Eropa dan Australia lebih dingin dan datar.

Sajak-sajak para penyair Eropa dan Australia rata-rata juga lebih sederhana dan komunikatif, serta banyak mengangkat pengalaman keseharian, termasuk catatan perjalanan. Sedangkan sajak-sajak penyair Indonesia cenderung berestetika lebih rumit dengan tema-tema yang berat, serta cenderung berfilsafat, atau berisi kritik sosial-politik yang tajam dan pedas.

Meskipun begitu, ada benang merah yang jelas menyatukan karya-karya mereka, yakni semangat kemanusiaan. Martin Mooij yakin, nilai-nilai kemanusiaan yang disuarakan oleh para penyair itu akan berumur panjang dan bermakna universal. ”Penyair tidak akan berhenti melontarkan suara-suara manusia yang lemah di tengah puncak kekerasan perang, pembungkaman, tekanan senjata, atau penjara,” tulisnya pada pengantar buku.

Di Jakarta, acara utama digelar di Teater Kecil dan Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) serta di areal air mancur Monas. Sederet penyair Indonesia, seperti Abdul Hadi WM, Aslan Abidin, Anwar Putra Bayu, Azhari, Gus tf Sakai, Godi Suwarna, Nenden Lilis, Sitor Situmorang, T Wijaya, dan Warih Wisatsana, menambah kesemarakan pentas baca puisi, yang diantarkan oleh Santi Diansari dan Acep Zamzam Noor. Emha, yang tampil bersama grup musik Kiai Kanjeng, menambah daya tarik pertunjukan.

Sesi acara yang juga menarik dan mengesankan adalah penayangan rekaman seluruh acara festival dengan teknologi digital-hologram di atas air mancur Monas. Tayangan digital yang digarap oleh Hery Dim dan Malhamang Zamzam itu sempat memukau ribuan penonton yang sedang berekreasi di Monas. Para penyair dari manca negara pun sempat dibuat takjub. ”Baru pertama kali ini saya mengikuti acara sastra yang spektakuler seperti ini,” komentar penyair Jerman, Martin Jankowski.

Betapa tidak, di udara terbuka, di atas air mancur Monas, terpampang ‘layar virtual’ yang selama sekitar dua jam menayangkan cuplikan-cuplikan terpenting acara festival, sejak pembukaan di Palembang, sampai pentas terakhir di TIM. Malam harinya (8 Juli) acara ditutup di Teater Kecil TIM. Dan, berakhirlah perhelatan besar yang begitu bermakna dan sangat mengesankan itu.

Selasa, 03 Februari 2009

Puisi-Puisi Ahmadun Yosi Herfanda

http://www.hupelita.com/
Doa Pembuka

hanya milikmu cahaya pagi hingga senja
dan rahasia kegelapan ketika malam tiba
pada muhammad kauanugerahkan kemuliaan
pada sulaiman kaulimpahkan keberadaan
kau tunjukkan keindahanmu melalui yusuf
dan cinta kasihmu melalui isa
di hati kekasihmu sejati pun kautanam
rahasia kemakrifatan

kaujadikan perut burung-burung
kenyang ketika petang
dan lapar kembali ketika pagi
hingga terdengar selalu kicaunya
menghiasi kelompok hari yang terjaga

kaujadikan bintang-bintang
selalu bertasbih padamu
kauciptakan pohon-pohonan
selalu berzikir padamu
o, allah, anugerahi aku kesetiaan
tanganku menjadi tanganmu
kakiku menjadi kakimu
lidahku menjadi lidahmu
mataku menjadi matamu
telingaku menjadi telingamu
hatiku menjadi istanamu
:bumi dan langit tak mengandungku
tapi hamba berimanku mengandungku*

*dari Hadis Qudsi
1989



Sajak Urat Leher

karena cinta tuhan meletakkan
dua malaikat di pundakmu
-inilah pengasuh-pengasuhmu
kata tuhan. sayap-sayapnya
bisa membawamu terbang ke langit
sekaligus berpijak di bumi lagi

engkau tak perlu takut
malaikat bukan polisi atau satpam
bersih dari amplop dan uang sogok
tak suka dijilat maupun menjilat
malaikat bersih dari nafsu-nafsu burukmu
karena cinta tuhan meletakkan
dua malaikat di pundakmu
karena cinta tuhan lebih dekat
dari urat lehermu

1990



Zikir Seekor cacing

dalam duniamu aku cacing tak bermakna
yang melata dari lumpur ke lumpur
peradaban tanpa jiwa, yang menggeliat
di selokan-selokan kumuh kota, yang
bahagia ketika pohon-pohon berbunga

cobalah kaudengar zikirku, menetes
jadi madu di pucuk-pucuk akar pohon itu
kucangkul tanah keras jadi gembur
kurabuk ladang tanpa hara jadi subur
kubimbing akar-akar pohonan
menyusup sela-sela batu dan belukar
menghisap sari madu kehidupan
sedang aku cukup tumbuh
dari daun-daun gugur

di kota-kota padat beton dan baja
aku jadi penghuni tak berharga
tapi dengarlah kecipak ikan-ikan
bernyanyi atas kehadiranku
ketika tubuhku kurelakan
lumat jadi santapan

akulah si paling buruk rupa
diantara para kekasih dunia
namun syukurku tak tertahankan
ketika dapat ikut menyuburkan
taman bunga di beranda

1990



Sungai Iman

sungai itu panjang sekali
mengalir ke dalam tubuhmu
dengan penuh cinta aku pun berlayar
bersenandung dalam konser ikan-ikan

sungai itu dalam sekali
berpusar dalam palung jiwamu
dengan penuh gairah aku pun menyelam
menangkap makna hidup pada mata kerang

sungai itu panjang sekali
di arusnya aku memburumu
tak sampai-sampai

1990



Zikir Semut

semut-semut pun kauanugerahi
sepercik cahaya pagi
hatinya yang kaucintai
terang dalam kegelapan hari

ketika cahaya langit mekar
berjuta semut berzikir
berderet di akar pohon
bagai beribu sufi
menyanyikan shalawat nabi

karena kauanugerahi kekuatan
semut-semut dengan ringan
memanjat ranting dan daun
meletakkan cintaku
di putik bunga

dan sang embun pun berkata:
barangsiapa tak kauanugerahi cahaya
akan tersuruk-suruk langkahnya
bagai semut kehilangan kepala

1990

Senin, 17 November 2008

Sastra, MPU, dan Persoalan Lingkungan

Ahmadun Yosi Herfanda
http://republika.co.id/

Masalah lingkungan dan jejak alam pada sastra menjadi tema penting dalam Temu Sastra III Mitra Praja Utama (MPU), yang berlangsung di Hotel Panorama Lembang, Bandung, 4-6 November 2008. Selain menempatkan sastra dan lingkungan hidup sebagai tema acara, jejak alam pada sastra menjadi salah satu tema diskusi.

Persoalan lingkungan, seperti diakui Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf saat membuka acara, memang sedang menjadi perhatian Pemda Provinsi Jabar. Mengikuti semangat peduli lingkungan itu, temu sastra yang diikuti oleh sekitar 60 sastrawan dan peminat sastra dari 10 provinsi anggota MPU itu pun mengambil tema tentang lingkungan.

Temu Sastra MPU yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jabar itu merupakan yang ke-tiga. Untuk pertama kali, Temu Sastra MPU diadakan di Anyer, Banten, dan yang kedua diadakan di Pantai Sanur, Bali -- diselenggarakan oleh Pemprov masing-masing.

Temu sastra ini diselenggarakan secara bergiliran oleh 10 provinsi anggota MPU. Semula dua tahun sekali, namun kini menjadi setahun sekali dan tahun depan (2009) giliran Pemprov Jawa Tengah sebagai penyelenggara -- direncanakan akan digelar di kawasan Borobudur.

Peserta Temu Sastra MPU cukup terbatas. Tiap provinsi hanya mendapat jatah lima peserta (4 sastrawan dan 1 birokrat) yang akomodasinya ditanggung Panitia. Jika akan menambah jumlah peserta, maka menjadi tanggungan Pemprov masing-masing. Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta selalu mengirimkan peserta terbanyak. Tahun ini, misalnya, mengirimkan 15 peserta (11 sastrawan dan 4 birokrat).

Menu utama Temu Sastra MPU meliputi diskusi, pentas sastra (baca puisi dan cerpen), sidang peserta, serta wisata budaya. Di Bandung, temu sastra ini mencatatkan satu langkah maju dengan diterbitkannya dua buku karya peserta yang merupakan salah satu rekomendasi dari Temu Sastra MPU Bali -- yakni buku kumpulan cerpen Sebelum Meledak dan kumpulan puisi Tangga Menuju Langit.

Sedikitnya delapan pembicara ditampilkan pada Temu Sastra MPU Bandung. Maman S Mahayana dan Safrina Noorman membahas jejak alam dalam sastra Indonesia, M Irfan Hidayatullah dan Warih Wisatsana membahas peran komunitas sastra, Beni Setia membahas pengaruh lingkungan dalam proses kreatif, Triyanto Triwikromo membahas sastra dan dunia maya, Jakob Sumarjo membahas manusia dan pantun Sunda, serta Bambang Sugiharto membahas manusia Indonesia dalam sastra mutakhir.

Jejak alam
Sesuai dengan tema acara, sesi diskusi yang menampilkan Maman S Mahayana dan Safrina Noorman penting untuk disimak. Maman membahas jejak alam dalam prosa Indonesia, sedangkan Safrina membahas jejak alam dalam puisi Indonesia.Karya sastra, menurut Maman, selalu mengungkapkan empat konflik laten yang dihadapi manusia: konflik dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dengan alam, dan dengan Tuhan.

Jika sastra (novel) diyakini sebagai representasi gagasan sastrawannya ketika berhadapan dengan serangkaian konflik itu, maka jejak alam dalam novel Indonesia mutakhir, kata Maman, laksana potret masyarakat Indonesia dalam memandang dan memperlakukan alam.Dalam hampir semua novel Indonesia, yang coba menempatkan alam tidak sekadar sebagai latar cerita tetapi juga sebagai masalah yang coba diangkatnya, alam bukanlah ancaman yang menakutkan. "Karena itu, alam tidak diperlakukan sebagai problem yang serius," kata Maman.

Bahkan, dalam banyak puisi Indonesia, tambah Maman, alam justru menjadi objek yang penuh pesona, yang inspiring. Maka, jejak alam dalam sastra Indonesia adalah ekspresi kekaguman, keterpesonaan, dan hasrat melakukan persahatan dengan alam. "Alam dalam sastra Indonesia tak tersentuh sebagai problem yang serius," ujarnya.

Dalam puisi, tambah Safrina, alam disikapi secara kontekstual terikat pada ruang dan waktu. Jika pada masa Pujangga Baru muncul puisi-puisi yang memuja alam dalam kerangka pembangunan bangsa dan tanah air, maka dalam perkembangannya alam hadir untuk menyuarakan penindasan atas alam dan berbagai masalah yang terkait dengannya."Penghadiran alam dalam puisi masa kini menyiratkan posisi manusia dalam hubungan mereka dengan alam dan bagaimana sikap serta pandangan mereka terhadap alam," ujar Safrina.

Rekomendasi
Sidang peserta yang diikuti wakil-wakil dari 10 provinsi, dan dipimpin oleh ketua panitia pelaksana Acep Zamzam Noor serta anggota tim kurator Ahda Imran, menghasilkan sembilan rekomendasi. Antara lain, mendukung keputusan MPU untuk menyelenggarakan Temu Sastra MPU setahun sekali, serta memutuskan Provinsi Jawa Tengah sebagai penyelenggara Temu Sastra IV MPU tahun 2009, dan Provinsi Lampung sebagai penyelenggara Temu Sastra V MPU tahun 2010.

Sidang juga merekomendasikan agar tiap provinsi anggota MPU membentuk Mitra Sastra MPU yang bertugas membantu Dinas terkait dalam memilih peserta Temu Sastra MPU dari provinsi masing-masing. Dalam hal ini, sidang juga merekomendasikan agar ada regenerasi sastrawan peserta Temu Sastra MPU dengan tetap melihat karya sebagai pertimbangan utama.

Guna membantu keberangkatan peserta, sidang juga menegaskan kewajiban tiap Pemprov anggota MPU untuk membiayai peserta Temu Sastra MPU dari provinsi masing-masing. Tiap provinsi anggota MPU wajib mengirimkan minimal 7 orang peserta yang terdiri dari 5 orang sastrawan dan 2 orang birokrat dari Dinas terkait.

Direkomendasikan pula agar ada pengamat dari Sekretariat Bersama (Sekber) MPU yang bertugas untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan Temu Sastra MPU, serta perlunya ada sesi diskusi yang menghadirkan pihak Sekber MPU dan birokrat dari Dinas terkait. Sidang juga merekomendasi Trianto Triwikromo serta Dorothe Rosa Herliany untuk menjadi anggota kurator Temu Sastra IV MPU. Penunjukan anggota kurator lainnya dipercayakan kepada Pemprov Jawa Tengah.

Pertunjukan sastra di teras Hotel Panorama berlangsung dua malam berturut-turut. Hampir semua peserta mendapat giliran untuk membacakan karya-karya mereka -- puisi dan penggalan cerpen. Dengan cukup memukau, Dede Yusuf pun dua kali tampil membacakan sajak. Penampilan pertama sendiri, dan penampilan kedua berduet dengan penyair Dina Oktaviani.

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati