S.W. Teofani
http://sastra-indonesia.com/
Cahaya kembali pada cahaya. Cahaya berkumpul bersama cahaya. Hanya cahaya yang tahu cahaya.
Aku pahat huruf-huruf itu di diding kastil. Saat lelah menerobos pualam. Mencari celah menembus kegelapan. Bilah huruf itu menjelma kekuatan. Aku terhenti mengenang. Muasal diri bukan cahaya. Tapi ada cahaya pada diri. Kepada cahaya seharusnya diri berpulang. Dengan cahaya diri berjalan. Selain cahaya, pada diri adalah kegelapan-kegelapan yang harus dimusnahkan. Selain cahaya, pada diri adalah bagian-bagian yang harus dihancurkan. Maka diri menjadi pertarungan kegelapan dan benderang.
Peluh bercucuran. Darah berceceran. Sekeliling hilang. Aku tak tahu di mana gelap, di mana terang. Diam, lelah setelah pertarungan. Hingga lesap seluruh kesadaran. Pekat setiap penglihatan. Bergeming pada bisu paling muram.
Pelan…pelan terpejam. Pelan…pelan…teredam.
Setelahnya hilang, pada kehampaan paling lenyap.
Perlahan hadir terang. Datang begitu benderang. Menyilaukan. Mencemaskan. Tak selamanya manusia siap dengan cahaya. Tak selamanya Bani Adam bisa tanpa cahaya. Kutata hati, kuhela jiwa, hingga semua siap menyesap, tersesap, dan mengasap bersama cahaya.
Aku terlahir bersama cahaya, cahaya kasih, cahaya cinta, cahaya ilahiat yang memesona. Lalu aku bertumbuh, satu-satu cahaya itu padam, tepatnya kupadamkan. Kupungut kegelapan-kegelapan sepanjang perjalanan. Karena kulupa akan pulang. Dan tak tahu di mana jalan pulang.
Kulihat beberapa orang menbawa cahaya. Dalam redup dan nyala. Mereka merayap, terjerembab, tersaruk, terpental. Beberapa sampai tujuan dengan sinar semakin terang. Yang lain tanggal sebelum pelabuhan. Demikian yang kubaca pada kitab purba.
Ini waktuku menyisir kegelapan, karena nyala tinggal serpihan, cahaya telah muram. Meski sejumput, tetap kujaga. Berharap kembali benderang, menjelma nyala yang menuntunku pulang. Sekelilingku temaram. Tak jelas mana buram dan hitam. Putih pun berubah suram. Yang suram menghitam. Di sana tersembunyi setiap noda. Tertutup helai-helai dosa. Tak ada lagi pembeda mana warna mana rupa. Semua terperangkap dalam kesempurnaan pekat.
Nyala yang seberkas kuretas di ruas yang hanya seutas. Utas yang begitu keras tapi getas. Aku takut ia patah, kemana nyala itu kutatah? Kucari celah untuk mendedah tabir yang menyimpan gigir terang. Kulecut jiwa agar kukuh mendepa. Meniti jalan-jalan yang belum pernah kurentang. Mengungkai kelam-kelam yang menyembunyikan sinar. Hingga wujudku tak lagi berupa. Aku melupa semua yang bisa kuraba. Tinggal rasa-rasa tanpa bentuk nyata.
Kutemukan berkas lain. Meski samar, aku tahu, itu nyala tertutup mega. Terhalang dukana kabut senja. Dia mendekat. Aku merapat. Saling menggapai, serupa jiwa terluka rindu menyapa. Lalu kami bertukar kata.
“Nyalaku hampir padam, mungkinkan hadir lagi pijar?”
“Sinarku pun redup. Tapi, sebelumnya aku sesuatu yang tiada, lalu mengada dengan cahaya sempurna, itu pertanda kita bisa kembali menyala.”
“Kau yakin?”
“Jangan turuti keraguanmu, karena keraguan regu-regu kegelapan. Sedang keyakinan empu setiap benderang. Buang jauh-jauh mamang itu. Biarkan cahaya leluasa menghampirimu.
“Mengapa kau bersusah payah meyakinkanku. Bukankan jika kau biarkan aku meragu, tiada kerugian bagimu.”
“Kau pungut satu kegelapan lagi. Memindai kebaikan untuk sang lain, meski hanya seutas kata, membuat jiwa kita menyala. Membiarkan keburukan, meski bukan kita pelakunya, sama saja memadamkan cahaya. Akankah kita terang seorang? Sementara sekeliling gulita.
“Apa yang kau bicarakan? Mengapa kau begitu pemurah?
“Adakah cahaya hadir untuk meminta, cahaya mengada untuk memberi nyala.”
Aku diam, menekur kata-katamu, tapi kulihat nyalamu semakin nyata, aku mendambanya.
“Mengapa cahayamu kini nyata?”
“Karena ada kau tempatku menyatakannya. Cahaya butuh kegelapan untuk mengada. Atau laman-laman yang tak seterang dirinya.”
“Adakah yang lebih terang darimu?”
“Ha….ha..ha.., aku hanya temaram, bukan terang, masih ada cahaya di atas cahaya. Jika ada benderang, aku menjadi laman yang menyatakan hadirnya.”
“Adakah musabab lainnya?”
“Karena aku lepaskan cahayaku untukmu. Semakin kita lepas, cahaya semakin menyala. Lepaskan cahaya-cahaya yang ada padamu. Jangan kau tahan, agar nyalamu nyata.”
“Bagaimana?
“Urai seluruh berkas, ia akan menabur bias.”
“Aku tak bisa”
“Ketika kau berkata bisa, itulah berkas cahaya. Minimal untuk dirimu. Maka jiwamu akan menyala, kau ragu?”
Aku mengangguk di antara yakin dan tak mungkin.
“Kini kau tahu apa yang membuat cahaya menyala?”
“Ya..kau menabur kebaikan-kebaikan.”
“Yang kulakukan belum seberapa, tapi nyala itu telah nyata. Kau tahu sesuatu?”
“Maksudmu?”
“Jika kukatakan ini dengan bangga, nyala itu kembali tiada. Aku-kita-mengatakannya untuk menelisiknya. Kuberharap kau mendapatkan nyala yang kau damba.”
“Aku bersungguh mendapatkannya. Bersediakah kau membantuku?”
“Aku pun sedang menyalakan sinarku. Kita bisa saling jaga, tak akan berkurang nyalaku saat aku membantumu, justru semakin saja. Sebaliknya, kau tak akan kehilangan nyala karena membantuku atau yang lain, nyala itu akan nyata sempurna.”
Aku terdiam. Kulihat sebentuk celah, kau memberi isyarat. Lalu kita menjadi siluet, menembus kegelapan, memilih celah yang kita nantikan.
Ternyata di luar masih temaram, cahaya seperti menghilang. Hadir keriap kecemasan. Kau menenangkan.
“Kenapa cahaya sekeliling tiada sempurna?”
“Karena kau tak yakin dengan cahayamu. Kau berharap cahaya di luar dirimu.”
“Benarkah…”
Aku menekur kata-katanya. Lama, tapi keraguan itu masih ada.
“Ketika kau mempertanyakan yang tak ada, kegelisahan-kegelisahanmu menjelma tembok raksasa yang menghalangi cahaya.”
“Iya,” aku menjawab dengan kata sepatah saja.
Aku ngungun pada setiap rasa. Aku semakin rindu pada cahaya, cahaya diri yang pernah ada. Aku begitu merindukannya.
“Dimana ia, mengapa begitu lama tiada menyala?”
“Ketika kau kehilangnya cahaya, itulah saat hadirnya.
Aku merasa ada berkas menyala, begitu perlahan. Dalam diam, hatiku mengeja; Rabby..Engkau cahaya hati dan bumi, cahaya jiwa dan semesta, darimu dan kepadamu seluruh cahaya yang ada. Berkahi hidupku dengan cahaya.”
Aku membuka mata, kau masih di tempat semula. Kini kudapati bayang-bayangku pada dirimu.
Kau seperti ada untuk menjagaku, sampai bagian-bagian yang hilang pun kau kembalikan. Cahaya adalah bagian hidupku yang hilang, kau bantu aku memungutnya satu-satu. Kau tersenyum padaku, aku mengangguk pada ketenangan penuh. Lalu kita meninggalkan kegelapan demi kegelapan.
Menjumput nyala yang tersisa, menjadikannya benderang bagi semesta.
Kini kurasai hadirmu. Bukan kehadiran biasa. Tak kudapati wangi bunga, karena wewangi membuat kita lupa pada ketinggian cita. Rekahnya memanjakan mata hingga lalai pada apa-apa yang ada di balik wujudnya. Lalai itu yang memadamkan cahaya demi cahaya.
Kita beriring menyisir tebing. Tiada indah taman, tak juga ria kekupu. Yang ada hening telaga dan seluruh ketenangannya. Tak kulihat pelangi waktu, selain berkas-berkas cahaya yang enggan membentuk aurora.
Tak kutemui pelangi biru muda merah jambu. Keindahan pelangi membuat kita lupa pada asalnya: cahaya. Tanpa cahaya tak ada pembiasan pelangi, tak terlihat bunga-bunga yang mewangi.
Di sisimu aku menghela: Tak ada yang lebih indah dari pertemuan dua cahaya. Tiada bara pada sinarnya, tiada beku pada diamnya. Lalu kita melesap menuju Mahacahaya, yang bertengger pada arasy tertinggi. Kami mendengar bait-bait yang disenandungkan secara takzim. Serupa gema sayap pasukan burung-burung terbang membumbung. Tak kutengok lagi bentala yang jauh. Lesap pada cakrawala yang tak pernah kudepa.
Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (An-Nur: 35)
S.W. Teofani. Banyak menulis cerpen, telah menyelesaikan Novel Shih-lifo-shih
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label S.W. Teofani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label S.W. Teofani. Tampilkan semua postingan
Selasa, 31 Mei 2011
Senin, 16 Mei 2011
Dendam Rembulan
S.W. Teofani
http://sastra-indonesia.com/
Adalah masa di mana kebenaran menyatakan halnya. Kejujuran menunjukan adanya. Tak ada yang mampu menutupi meski pintu dari baja. Tak ada tempat tersembunyi meski ceruk paling ciut. Aku ingin bertanya, pernahkah kau menyimpan dusta? Kemudian mencari pembenaran-pembenaran untuk menipiskan dosa. Merangkai kelopak-kelopak makna yang bisa menutupinya. Bersembunyi pada diri supaya tak ada yang melihatnya.
Suatu ketika kau pun berkata, “Tak ada tempat bersembunyi paling rapi, kecuali kejujuran itu sendiri.”
Itulah yang merenggut seluruhku untuk bersunyi, mengasing dari setiap keakraban. Meninggalkan setiap pembicaraan yang akan membuat luka dan mencipta dusta. Karena luka telah menjadi sayat paling mengerikan, dusta telah menjadi hantu paling menakutkan. Aku pernah meluka, aku pernah berdusta. Luka itu kutebus dengan nyawa, dusta itu berbalas serupa. Tak ada ruang-ruang yang luput dari pembalasan atas dosa dan dusta yang menjadi utang hidup kita.
Malam itu adalah malam petaka. Aku mendapati seluruhku lunglai tanpa daya. Sebelumnya, tak pernah terlintas aku akan mengalami semua. Sejak menikah, aku dan suamiku adalah pasangan bertabur bahagia. Tak ada gadamala yang mengganggu mahligai suka. Kami membangun kastil di tepi hutan. Sebelum kelahiran buah cinta, hari-hari kami dipenuhi doa dan sukacita. Kami bagai sejoli yang berbulan madu begitu lama.
Delapan puluh purnama kami meminta, buah rasa datang juga. Bayi merah menjadi penutup segala resah. Yang mengabarkan cerita hidup kami masih panjang. Ada keturunan yang akan mengisahkan leluhurnya. Ada generasi yang menuturkan kakek buyutnya. Aku dan suamiku akan tersebut dalam silsilah yang dikenang sepanjang ruang yang terbentang. Kami merasa menjadi manusia yang paling diberkati di seluruh penjuru bumi.
Hidup memang bukan kereta yang berjalan lurus pada satu rel saja. Pencipta menuntun kita ke tempat-tempat tak terduga. Ke kisah-kisah tak tereka. Kehidupan menjadi petualangan panjang yang menagih kesabaran. Lalu kita akan tersucikan dengan keiklasan yang mata airnya tersembunyi di ceruk paling liang.
Pada tengah malam purnama aku terjaga. Saat kubuka mata, tak kudapati seorang jua. Suamiku tak ada di tempatnya. Anakku nihil dari pandang mata. Dengan gegas rasa, aku mencarinya. Kubuka setiap pintu yang ada. Hampa. Teriakku menggema. Kuberlari ke persada, tak kutemukan keduanya. Gundahku semakin saja.
Kutembus malam penuh cekam, antara sinar rembulan dan lolong srigala. Embun mulai membasahi rerumputan. Halimun mengadang pandang. Hawa dingin menusuk belulang. Aku mendekap diri dengan bimbang. Ke mana anak dan suamiku? Sekali lagi kuteriakan nama mereka. Diam tak ada sautan. Tinggal gema di malam buta. Aku menuju tepi desa, mungkinkah mereka ke sana? Mengapa aku tak diajak serta?
Kulintasi padang ilalang, disaksikah ketabahan rembulan. Cahayanya mengikuti setiap gerakku. Seperti mata yang menjadi saksi derita yang kubawa. Sebentar aku tengadah, menatap penuh harap pada bulatnya yang nanap.
“Rembulan…kau telah menyaksikan setiap tapak yang melintas di padang ilalang ini, di tepi hutan ini, dan di setiap sudut bumi. Kabarkan padaku ke manakah suami dan anakku pergi. Tuntun langkahku menemukannya.”
Aku mendapati tatapan rembulan penuh warta, tapi ku tak mampu membacanya.
Aku tertunduk takzim mengadu pada bumi.
“Bumi, kau menyangga kaki semua mahluk dengan penuh kesabaran, di bagian mana kedua cintaku kini kau papah?”
Bumi menenangkanku, dia memberi jawab, tapi aku tak mampu memahami bahasanya. Lalu aku bersimpuh, menekur pada doa paling dalam.
“Duhai Pemilik Rembulan, Penopang seluruh kehidupan, bimbing mata batinku menuju penyejuk hatiku, anak dan suamiku. Sebagaimana Engkau kumpulkan kami sebelum tidur, kumpulkanlah kembali kami dalam ridho-Mu.”
Munajatku lebih dalam dari panjangnya malam. Ditutun kekuatan pemilik semesta, kakiku melangkah, menuju perdu bergoyang. Tanganku gemetar, ada cemas penuh di sana, mengapa kakiku melangkah di tempat ini?
Telingaku mendengar rintih lirih. Degub jantungku berdetak lebih kencang.
“Ibu….Ibu…” Makin lama suara itu nyata.
“Putraku….” Tubuhku tersedot jasad lungai yang tergolek di belukar.
Aku mendekapnya, tubuhnya penuh luka, bercak darah di mana-mana. Kuciumi seluruh luka dan keelokan yang tersisa. Raungku tak terbendung.
“Ibu..,” suaranya lirih, lalu menghilang ditelan alam yang lengang. Suara terakhir sebelum tidur panjang.
Tangisku menjadi. Senggukku liar. Aku belai wajahnya yang pasi, matanya terkatub, saat hendak kupapah, sepotong tangannya jatuh. Aku menjerit… kupungut dengan sedan tak tentu.
“Robby….apa salah hambamu, mengapa kau biarkan anakku teraniaya. Siapa yang melakukannya.”
Aku bersimpuh dengan ratap penuh. Lalu tengadah, rembulan masih di sana. Kembali aku mengharap sinarnya.
“Rembulan… kau saksi setiap duka malam ini. Siapa yang melakukan ini pada anakku?”
Rembulan itu memberi jawab sempurna, yang tak kutahu maknanya.
Kupapah putra semata wayangku, kupungut tangannya. Dengan gontai kutembus rungkut belukar. Tiba-tiba kutersadar sesuatu, di mana suamiku?
Aku berjalan setengah terpejam. Tubuhku berpijak tak sempurna, melayang pun tak imbang. Aku terus berjalan, antara limbung dan bimbang. Kaki kananku mengantuk sesuatu. Kaki kiriku kembali tersaruk benda itu, kucoba melompatinya. Mataku menelisik, aku tak bisa menukar gusar.
“Suamiku….” Spontan kutubruk tubuh itu, tanpa melepas anakku. Dibantu sinar purnama, kudapati kepalanya yang terbelah dua. Aku tak tahan melihatnya. Tak sanggup lagi untuk berdiri. Tersimpuh di antara mayat orang-orang terkasih, anakku di pangkuan dan suami di hadapan.
“Mengapa aku tak sekalian?” pupus semua tandan kesabaran yang aku lempangkan. Wajahku terhambur di tubuh kaku itu. Senggukku saling buru. Hingga sedak dan isak menyesak dalam cerkau risau. Bunga sriwijaya mekar, menghantarkan semerbak di sekelilingku. Kurarasi geruh malam ini.
Satu-satu sedanku hilang. Kubiarakan kedua jasad itu kaku. Aku baringkan tubuh anakku di samping ayahnya. Aku menepi dari keduanya. Kuhela napas hingga tandas. Kupejam mata hingga lega. Parlahan kubuka, menatap rembulan di sunyi awan. Masih di tempatnya, dengan cerlang lebih terang. Aku ingin menangkap sasmita dari setiap pendarnya.
“Rembulan, terangi hatiku, dengan cahayamu. Cahaya yang dipancarkan dari Mahacahaya. Izinkan aku membaca isyarat-isyaratnya.”
Bulan itu tersenyum padaku, dengan sungging paling pilu. Setiap pesannya mengabarkan dendam yang terbalaskan. Aku mencoba mengingat helai-helai hitam yang pernah kutanam di masa silam, hingga kutuai segumpal cekam di malam jahanam. Kutatap bulat rembulan, piasnya merawikan laman-laman silam, pada masa yang hampir kulupakan.
Ibuku, wanita yang begitu mengasihiku, sebelum mengembuskan napas terakhir, berpesan. Wanita agung itu menitipkan tiga ekor kucing kesayangannya padaku. Betapa pun cintaku pada wanita yang melahirkanku, aku tak mungkin menjaga kucing-kucing itu. Tanpan sebab, aku sangat membencinya sejak ada. Rasa itu hadir begitu dahsyatnya. Jangankan memelihara, melihat pun aku tak suka.
Sebelum hari ketujuh kematian ibu, aku berjalan ke tepi hutan membawa anak beranak binatang itu. Pada rimbun yang lebat, kutinggalkan ketiganya. Aku pulang. Esoknya, kucing-kucing itu telah kembali. Di hati paling bening, aku merasa bersalah. Kusia-siakan amanah maula hidupku. Kucampakan binatang tak berdosa hanya karena tak suka yang membuta. Tapi rasa benciku menutup semua bisik suci. Kuulangi lagi esoknya, membawa ketiganya ke tempat berbeda. Tapi Tuhan memang menganugerahkan indera istimewa pada hewan kesayangan Rasul-Nya.
Lusanya, kucing-kucing itu kembali lagi. Aku ditawan kebencian tak tertawar. Hari-hariku menjadi rencana-rencana melenyapkan ketiganya. Hingga di sebuah malam purnama, di tepi hutan yang sepi, disaksikan sinar rembulan serupa, aku habisi ketiganya. Kupotong tangan anaknya, kubelah kepala bapaknya, sementara sang ibu lolos dari murka. Dia berlari saat aku kalap menghajar anak dan suaminya. Tapi sempat kutangkap matanya menetapku dengan pilu. Tersemat rasa bersalah yang sangat pada ibuku. Banyangnya hadir dengan hardik paling sengit. Tapi kekesalanku tandas malam itu. Amarahku bagai air menerobos tanggul.
Adakan malam itu induk kucing berdoa di hadapan sang rambulan yang sama. Lalu rembulan itu mencatat semua laranya menjadi dendam abadi pada tapa sunyi?
Kini aku menunduk, rembulan itu seperti mengutuk.
“Apa salah binatang itu. Adakah dia mengganggumu? Adakan dia menyusahkanmu. Dia hanya mengaharap sisa kasihmu. Tapi kau berikan segumpal dendam yang telah kusimpan pada catatan-catatan kehidupan.”
“Rembulan, adakan kucing itu dendam.” Hatiku gemuruh, andai pun dendam, itu adalah haknya. Tak malukah aku mengharap kucing itu ikhlas menerima bongkah amarahku yang picik itu. Sementara kubiarkan hatiku dirasuki murka.
Dengan muram rembulan mempertanyakan, “Apakah yang bisa dilakukannya atas dendam itu? Dia tak berdaya. Pada ketidakberdayaannya, Tuhanku-Tuhan kita, telah berjanji mengabulkan doanya. Dan aku, menjadi saksi setiap pintanya.”
“Adakah kau tahu perasaanku?” Entah mengapa aku masih mengiba.
“Adakah kau tahu perasaan binatang tak berdosa itu, serupa itulah perasaanya waktu itu.”
Ingatanku terpelanting saat aku begitu menggebu membunuh kucing-kucing polos itu. Aku merasa tak ada yang tahu. Sekalipun tahu, adakah yang menyalahkanku? Kemudian aku mempertanyakan pengakuan ke-Tuhananku, saat merasa tak ada saksi atas kekejianku. Kini tak kurasai apa pun, selain keperkasaan kekuatan tak terengkuh. Rembulan itu memancarkan pesan-pesan pada sabah yang terbaca makna.
“Tak ada yang sia-sia. Meski seberkas kau toreh luka, sebesar itu yang akan kau terima.”
Aku hanya menunduk, mengeja kecerobohan diri dengan telisik paling nyeri. Kusaksikan kepala suamiku yang hancur serupa kepala kuncing yang kubantai. Tangan anakku, tak beda tangan anak kucing yang kupatahkan. Aku merangkang. Mengumpulkan energi yang ada. Mengais buah kebencian masa silam. Sesalku tandas. Mengapa orang-orang terkasihku ikut serta pada dosaku? Semakin kurarai sesal, menggunung beban jiwaku. Tak ada yang bisa kulakukan, selain mengharap rinai ampunan.
Robbanna, dzolamna anfusana , failam taghfirlana, wa tarhamna lanakunaan minal khoisirin.
Ya…Tuhanku, sesungguhnya aku telah aniaya pada diriku. Seandainya Engkau tak mengampuni dan merahmatiku, maka aku adalah orang yang merugi.
Bandar Lampung, Maret 2010
S.W. Teofani, cerpenis tinggal di Lampung, telah menyelesaikan novel Shih-lifo-shih.
http://sastra-indonesia.com/
Adalah masa di mana kebenaran menyatakan halnya. Kejujuran menunjukan adanya. Tak ada yang mampu menutupi meski pintu dari baja. Tak ada tempat tersembunyi meski ceruk paling ciut. Aku ingin bertanya, pernahkah kau menyimpan dusta? Kemudian mencari pembenaran-pembenaran untuk menipiskan dosa. Merangkai kelopak-kelopak makna yang bisa menutupinya. Bersembunyi pada diri supaya tak ada yang melihatnya.
Suatu ketika kau pun berkata, “Tak ada tempat bersembunyi paling rapi, kecuali kejujuran itu sendiri.”
Itulah yang merenggut seluruhku untuk bersunyi, mengasing dari setiap keakraban. Meninggalkan setiap pembicaraan yang akan membuat luka dan mencipta dusta. Karena luka telah menjadi sayat paling mengerikan, dusta telah menjadi hantu paling menakutkan. Aku pernah meluka, aku pernah berdusta. Luka itu kutebus dengan nyawa, dusta itu berbalas serupa. Tak ada ruang-ruang yang luput dari pembalasan atas dosa dan dusta yang menjadi utang hidup kita.
Malam itu adalah malam petaka. Aku mendapati seluruhku lunglai tanpa daya. Sebelumnya, tak pernah terlintas aku akan mengalami semua. Sejak menikah, aku dan suamiku adalah pasangan bertabur bahagia. Tak ada gadamala yang mengganggu mahligai suka. Kami membangun kastil di tepi hutan. Sebelum kelahiran buah cinta, hari-hari kami dipenuhi doa dan sukacita. Kami bagai sejoli yang berbulan madu begitu lama.
Delapan puluh purnama kami meminta, buah rasa datang juga. Bayi merah menjadi penutup segala resah. Yang mengabarkan cerita hidup kami masih panjang. Ada keturunan yang akan mengisahkan leluhurnya. Ada generasi yang menuturkan kakek buyutnya. Aku dan suamiku akan tersebut dalam silsilah yang dikenang sepanjang ruang yang terbentang. Kami merasa menjadi manusia yang paling diberkati di seluruh penjuru bumi.
Hidup memang bukan kereta yang berjalan lurus pada satu rel saja. Pencipta menuntun kita ke tempat-tempat tak terduga. Ke kisah-kisah tak tereka. Kehidupan menjadi petualangan panjang yang menagih kesabaran. Lalu kita akan tersucikan dengan keiklasan yang mata airnya tersembunyi di ceruk paling liang.
Pada tengah malam purnama aku terjaga. Saat kubuka mata, tak kudapati seorang jua. Suamiku tak ada di tempatnya. Anakku nihil dari pandang mata. Dengan gegas rasa, aku mencarinya. Kubuka setiap pintu yang ada. Hampa. Teriakku menggema. Kuberlari ke persada, tak kutemukan keduanya. Gundahku semakin saja.
Kutembus malam penuh cekam, antara sinar rembulan dan lolong srigala. Embun mulai membasahi rerumputan. Halimun mengadang pandang. Hawa dingin menusuk belulang. Aku mendekap diri dengan bimbang. Ke mana anak dan suamiku? Sekali lagi kuteriakan nama mereka. Diam tak ada sautan. Tinggal gema di malam buta. Aku menuju tepi desa, mungkinkah mereka ke sana? Mengapa aku tak diajak serta?
Kulintasi padang ilalang, disaksikah ketabahan rembulan. Cahayanya mengikuti setiap gerakku. Seperti mata yang menjadi saksi derita yang kubawa. Sebentar aku tengadah, menatap penuh harap pada bulatnya yang nanap.
“Rembulan…kau telah menyaksikan setiap tapak yang melintas di padang ilalang ini, di tepi hutan ini, dan di setiap sudut bumi. Kabarkan padaku ke manakah suami dan anakku pergi. Tuntun langkahku menemukannya.”
Aku mendapati tatapan rembulan penuh warta, tapi ku tak mampu membacanya.
Aku tertunduk takzim mengadu pada bumi.
“Bumi, kau menyangga kaki semua mahluk dengan penuh kesabaran, di bagian mana kedua cintaku kini kau papah?”
Bumi menenangkanku, dia memberi jawab, tapi aku tak mampu memahami bahasanya. Lalu aku bersimpuh, menekur pada doa paling dalam.
“Duhai Pemilik Rembulan, Penopang seluruh kehidupan, bimbing mata batinku menuju penyejuk hatiku, anak dan suamiku. Sebagaimana Engkau kumpulkan kami sebelum tidur, kumpulkanlah kembali kami dalam ridho-Mu.”
Munajatku lebih dalam dari panjangnya malam. Ditutun kekuatan pemilik semesta, kakiku melangkah, menuju perdu bergoyang. Tanganku gemetar, ada cemas penuh di sana, mengapa kakiku melangkah di tempat ini?
Telingaku mendengar rintih lirih. Degub jantungku berdetak lebih kencang.
“Ibu….Ibu…” Makin lama suara itu nyata.
“Putraku….” Tubuhku tersedot jasad lungai yang tergolek di belukar.
Aku mendekapnya, tubuhnya penuh luka, bercak darah di mana-mana. Kuciumi seluruh luka dan keelokan yang tersisa. Raungku tak terbendung.
“Ibu..,” suaranya lirih, lalu menghilang ditelan alam yang lengang. Suara terakhir sebelum tidur panjang.
Tangisku menjadi. Senggukku liar. Aku belai wajahnya yang pasi, matanya terkatub, saat hendak kupapah, sepotong tangannya jatuh. Aku menjerit… kupungut dengan sedan tak tentu.
“Robby….apa salah hambamu, mengapa kau biarkan anakku teraniaya. Siapa yang melakukannya.”
Aku bersimpuh dengan ratap penuh. Lalu tengadah, rembulan masih di sana. Kembali aku mengharap sinarnya.
“Rembulan… kau saksi setiap duka malam ini. Siapa yang melakukan ini pada anakku?”
Rembulan itu memberi jawab sempurna, yang tak kutahu maknanya.
Kupapah putra semata wayangku, kupungut tangannya. Dengan gontai kutembus rungkut belukar. Tiba-tiba kutersadar sesuatu, di mana suamiku?
Aku berjalan setengah terpejam. Tubuhku berpijak tak sempurna, melayang pun tak imbang. Aku terus berjalan, antara limbung dan bimbang. Kaki kananku mengantuk sesuatu. Kaki kiriku kembali tersaruk benda itu, kucoba melompatinya. Mataku menelisik, aku tak bisa menukar gusar.
“Suamiku….” Spontan kutubruk tubuh itu, tanpa melepas anakku. Dibantu sinar purnama, kudapati kepalanya yang terbelah dua. Aku tak tahan melihatnya. Tak sanggup lagi untuk berdiri. Tersimpuh di antara mayat orang-orang terkasih, anakku di pangkuan dan suami di hadapan.
“Mengapa aku tak sekalian?” pupus semua tandan kesabaran yang aku lempangkan. Wajahku terhambur di tubuh kaku itu. Senggukku saling buru. Hingga sedak dan isak menyesak dalam cerkau risau. Bunga sriwijaya mekar, menghantarkan semerbak di sekelilingku. Kurarasi geruh malam ini.
Satu-satu sedanku hilang. Kubiarakan kedua jasad itu kaku. Aku baringkan tubuh anakku di samping ayahnya. Aku menepi dari keduanya. Kuhela napas hingga tandas. Kupejam mata hingga lega. Parlahan kubuka, menatap rembulan di sunyi awan. Masih di tempatnya, dengan cerlang lebih terang. Aku ingin menangkap sasmita dari setiap pendarnya.
“Rembulan, terangi hatiku, dengan cahayamu. Cahaya yang dipancarkan dari Mahacahaya. Izinkan aku membaca isyarat-isyaratnya.”
Bulan itu tersenyum padaku, dengan sungging paling pilu. Setiap pesannya mengabarkan dendam yang terbalaskan. Aku mencoba mengingat helai-helai hitam yang pernah kutanam di masa silam, hingga kutuai segumpal cekam di malam jahanam. Kutatap bulat rembulan, piasnya merawikan laman-laman silam, pada masa yang hampir kulupakan.
Ibuku, wanita yang begitu mengasihiku, sebelum mengembuskan napas terakhir, berpesan. Wanita agung itu menitipkan tiga ekor kucing kesayangannya padaku. Betapa pun cintaku pada wanita yang melahirkanku, aku tak mungkin menjaga kucing-kucing itu. Tanpan sebab, aku sangat membencinya sejak ada. Rasa itu hadir begitu dahsyatnya. Jangankan memelihara, melihat pun aku tak suka.
Sebelum hari ketujuh kematian ibu, aku berjalan ke tepi hutan membawa anak beranak binatang itu. Pada rimbun yang lebat, kutinggalkan ketiganya. Aku pulang. Esoknya, kucing-kucing itu telah kembali. Di hati paling bening, aku merasa bersalah. Kusia-siakan amanah maula hidupku. Kucampakan binatang tak berdosa hanya karena tak suka yang membuta. Tapi rasa benciku menutup semua bisik suci. Kuulangi lagi esoknya, membawa ketiganya ke tempat berbeda. Tapi Tuhan memang menganugerahkan indera istimewa pada hewan kesayangan Rasul-Nya.
Lusanya, kucing-kucing itu kembali lagi. Aku ditawan kebencian tak tertawar. Hari-hariku menjadi rencana-rencana melenyapkan ketiganya. Hingga di sebuah malam purnama, di tepi hutan yang sepi, disaksikan sinar rembulan serupa, aku habisi ketiganya. Kupotong tangan anaknya, kubelah kepala bapaknya, sementara sang ibu lolos dari murka. Dia berlari saat aku kalap menghajar anak dan suaminya. Tapi sempat kutangkap matanya menetapku dengan pilu. Tersemat rasa bersalah yang sangat pada ibuku. Banyangnya hadir dengan hardik paling sengit. Tapi kekesalanku tandas malam itu. Amarahku bagai air menerobos tanggul.
Adakan malam itu induk kucing berdoa di hadapan sang rambulan yang sama. Lalu rembulan itu mencatat semua laranya menjadi dendam abadi pada tapa sunyi?
Kini aku menunduk, rembulan itu seperti mengutuk.
“Apa salah binatang itu. Adakah dia mengganggumu? Adakan dia menyusahkanmu. Dia hanya mengaharap sisa kasihmu. Tapi kau berikan segumpal dendam yang telah kusimpan pada catatan-catatan kehidupan.”
“Rembulan, adakan kucing itu dendam.” Hatiku gemuruh, andai pun dendam, itu adalah haknya. Tak malukah aku mengharap kucing itu ikhlas menerima bongkah amarahku yang picik itu. Sementara kubiarkan hatiku dirasuki murka.
Dengan muram rembulan mempertanyakan, “Apakah yang bisa dilakukannya atas dendam itu? Dia tak berdaya. Pada ketidakberdayaannya, Tuhanku-Tuhan kita, telah berjanji mengabulkan doanya. Dan aku, menjadi saksi setiap pintanya.”
“Adakah kau tahu perasaanku?” Entah mengapa aku masih mengiba.
“Adakah kau tahu perasaan binatang tak berdosa itu, serupa itulah perasaanya waktu itu.”
Ingatanku terpelanting saat aku begitu menggebu membunuh kucing-kucing polos itu. Aku merasa tak ada yang tahu. Sekalipun tahu, adakah yang menyalahkanku? Kemudian aku mempertanyakan pengakuan ke-Tuhananku, saat merasa tak ada saksi atas kekejianku. Kini tak kurasai apa pun, selain keperkasaan kekuatan tak terengkuh. Rembulan itu memancarkan pesan-pesan pada sabah yang terbaca makna.
“Tak ada yang sia-sia. Meski seberkas kau toreh luka, sebesar itu yang akan kau terima.”
Aku hanya menunduk, mengeja kecerobohan diri dengan telisik paling nyeri. Kusaksikan kepala suamiku yang hancur serupa kepala kuncing yang kubantai. Tangan anakku, tak beda tangan anak kucing yang kupatahkan. Aku merangkang. Mengumpulkan energi yang ada. Mengais buah kebencian masa silam. Sesalku tandas. Mengapa orang-orang terkasihku ikut serta pada dosaku? Semakin kurarai sesal, menggunung beban jiwaku. Tak ada yang bisa kulakukan, selain mengharap rinai ampunan.
Robbanna, dzolamna anfusana , failam taghfirlana, wa tarhamna lanakunaan minal khoisirin.
Ya…Tuhanku, sesungguhnya aku telah aniaya pada diriku. Seandainya Engkau tak mengampuni dan merahmatiku, maka aku adalah orang yang merugi.
Bandar Lampung, Maret 2010
S.W. Teofani, cerpenis tinggal di Lampung, telah menyelesaikan novel Shih-lifo-shih.
Rabu, 27 April 2011
Bukan Lembar yang Hilang*
S.W. Teofani
http://www.lampungpost.com/
TAK pernah terpikir aku akan menggoreskan pena untuk frasa ini. Tapi memang yang digariskan hadir pasti kan tiba. Jika kau cari di kumpulan surat-suratku kepada yang kucintai Ny. Abendanon, tulisan ini takkan kau temukan. Tapi ini bukan lembar yang hilang.
Seperti kumpulan naskah itu, lampir ini pun tak ada pada kiraku. Saat melepas segala beban kepada yang terkasih Ny. Abendanon, aku tak pernah menghitung kelak jejak penaku menjadi nyala zaman. Bagiku, menuangnya sepenuh cinta telah membebaskan jiwa dari segala belenggu duka. Sungguh tak kuraba jika bulir duka yang menjadi tinta suatu masa menjelma minyak lentera yang tak ada habisnya.
Aku tak pernah punya ingin namaku mengharum melebihi saat kuada. Semua berjalan di luar kuasa kalam pun kiraku. Andai penaku anak panah, tak pernah kutarik gendewa begitu rupa. Aku tak lebih melesakkannya pada sebuah cita, segumpal ingin, yang kuwasilahkan pada lembar-lembar yang kukirimkan kepada sang kekasih Ny. Abendanon. Dialah sahabat, ibu, kekasih jiwa yang memahami hasratku.
Atau tanpa kusadari dia racun hidupku, yang membuat tak nyaman dengan gelar raden ayu pun segala tradisi yang di matanya adalah belenggu. Perlahan penuh kepastian, umpama tetes air yang melubangkan batu, aku setumbuk dengannya. Dia hembuskan pengetahuan Eropa, aku menerima begitu rupa. Aku turut mendepa ada yang salah pada tradisi bangsaku, ada yang tak adil pada kaumku. Meskipun untuk segala cara pandang itu aku melukai hati ibundaku, mengoyak kepatuhan kaumku, menggundahkan saudara-saudaraku. Apa yang kuanggap benar, tak seiya dengan tradisi. Lalu mereka menggelariku pembangkang. Raden ayu yang berperilaku tak lugu. Menerjang pagar-pagar yang terpancang sepanjang ruang.
Aku tak pernah meraba, jika suatu masa lembar-lembar yang kukirimkan padanya menjadi cahaya yang lebih cerlang dari pelita. Ada yang bernaung pada pendarnya, juga mendapati kerlip nyala yang diterima dari kejauhan masa. Ada pula yang selalu mengenangnya dengan lambang-lambang suka yang dicipta dari zamannya.
Aku mendamba suatu zaman di mana perempuan tak terhalang menyecap pengetahuan. Kini zaman telah melerai belenggu-belenggu waktu. Tak kudapati lagi kumpulan perempuan yang diam di kamar menunggu pinangan. Bilik-bilik perawan dihuni saat mentari menepi. Kala benderang, wanita-wanita zaman menatah pengetahuan juga memamah remah kehidupan. Bertebaran bersama kaum Adam meraih rezeki pun kepandaian. Terang telah terbit, gelap telah menyisip, meskipun hadir kegelapan-kegelepan lain yang menjadi tugas cahaya kehidupan. Maka perempuan-perempuan akan menjadi lentera pada setiap zamannya. Kita hanya punya kisah dan waktu yang berbeda, pun keberuntungan yang tak sama. Adakah di masaku aku paling bercahaya? Tidak. Telah bertebaran bunga-bunga bangsa yang bermekaran pada ranah dan ruang yang tetap menjadi rahasia.
Setelah tiba masa pingitan, aku disibukan oleh hantu-hantu kecemasan yang berkeliaran. Zamanku menelikung langkah hingga kakiku lumpuh di bilik mimpi. Aku hanya punya angan suatu hari akan lempang kaki lembut perempuan ke ranah yang mampu dia jamah. Lalu aku goreskan pena hati dengan tinta yang dicelup pada setiap lelehan saksi sunyi. Di kertas kanvas kehidupan aku goreskan setiap yang menyesak di angan-angan. Kukirimkan keluhku ke negeri yang jauh. Kucecap semangat dari jiwa yang membarakan impian. Aku tak tahu berapa harga prangko yang kububuhkan, hingga lembar-lembar itu menembus dari zaman ke zaman. Mewangikan segugus ide yang tak semua terwujudkan. Adalah di ujung waktuku sebagian mimpiku maujud, meskipun masih menyisa harap tak terungkap. Andaikan ini menjadi sigi yang menerangi, aku tak sendiri.
Di ranah lain di ruang bangsaku, bermunculan perempuan-perempuan sezaman yang sebangun denganku. Yang juga merindu cahaya mentari pemekar biji-biji pengetahuan. Satu demi satu bermunculan, menumbuhkan kecambah-kecambah yang lebih mencerdaskan. Pada waktunya di musim hujan tetumbuhan itu bermunculan, bersemi menyemai diri. Hingga tumbraslah anak pemikiran tentang kesetaraan pada lahan perubahan. Lalu anak-anak zaman mengenangkanku, mengagungkan surat-suratku, hingga yang lain tersembunyi di balik batu-batu peradaban.
Jika di masaku aku banyak mengenal teman wanita sebangsa, mungkin tak hanya kepada Ny. Abendanon kukirim semua warta. Tersebutlah si cerdas Rohana, yang terlahir semasa denganku. Dia pun merindu kaumnya tak bersembunyi di bilik rumah gadang. Andai ruang menambatkankan kami, adalah dua sejoli yang saling menghargai dengan perpaduan energi. Tapi tak ada yang disesalkan dari pertautan ketentuan. Semua berjalan dengan tuntunan Tangan Yang Sama. Dia yang menghidupkan kami untuk menorehkan langkah-langkah kecil demi cita-cita tak terduga.
Adalah Rohana, yang bersuamikan Kudus, melangkah lebih lempang, menatah lebih dalam. Dengan waktu yang lebih panjang dari yang kumiliki, diterobosnya segala yang sebelumnya mimpi. Aku lebih banyak mencecap pengetahuan Belanda, meskipun tetap kujunjung adiluhung budaya bangsaku, sedang Rohana melahap yang datang dari negeri yang jauh pun bangsanya sendiri. Tidaklah patut membanding keberuntungan, tapi tak mengapa memuji kelebihan kawan. Saat aku disibukan dengan pikiran-pikiranku yang tertuang di lembar-lembar saksi sejarah itu, dia telah mendidik kaumnya dengan taksa. Jika aku asyik membaca lembar-lembar kabar dari Eropa, dia mencipta laman berita itu bagi kaumnya. Di tangannya pula Soenting Melayu menjadi warta pertama kaum hawa di Nusantara.
Belum tunai langkah cergas Rohana menitah kaumnya. Dia dirikan Sekolah Amai Setia untuk mematangkan pribadi kaumnya. Adakah langkah itu tak melebihi tajamnya surat-suratku? Jika buah pena menjadi getah damar yang menyalakan dian, langkah-langkahnya menjadi matahari yang menerangi semesta sepenuh tulus. Rohana, adakah kau lebih beruntung terlahir sebagai perempuan Sumatera, yang tak harus terbelenggu kasta. Ah…tak ada sesal kita Perca atau Dwipa, pun wanita di belehan Indonesia lainnya, ikhtiar dan ketentuan Yang Agung telah manjadikan kita ada dengan kurang dan lebihnya.
Jika aku boleh cemburu, karena kau tunai mendapat pengajaran dari guru-guru agamamu. Untuk mendapat pengajaran tentang agama, aku berperantara bangsa Belanda, dengan orang Belanda pula, yang bangsa tak disuka bangsa kita. Kepada Senouck Hugronye aku tanyakan tentang agama. Di tanahku, begitu sulit aku bertemu ahli-ahli agama yang siap menjawab gelisah manahku hingga tak tertangkup semua gelisah membara itu. Maka Rohana, begitu lengkap kau cecap berbagai cabang pengetahuan. Andai cita kita tersambung di masa itu, mungkin telah kita bagi segala ruah pun gelisah. Akan kukirimkan meja tulis ukiran Jepara untuk saksi-saksi kerjamu, pun gamelan Jawa yang aku suka.
Belum tunai kusebut satu-satu pendar lakumu. Tak cukup kau bimbing kaum Hawa memegang pena, mengukirkan tinta, kau ajarkan pada mereka beradu cerdas menukar barang pada Belanda. Kau tak hanya piawai menisik kain menejelujur benang, jalur dagang pun kau lempangkan. Ilmu siasah pun kau praktekkan. Duhai Putri Minang, adakah keraguan bangsa ini mengharumkan seluruh jejakmu, hingga aku lebih bersinar darimu?
Tak cukup bagimu Soenting Melayu pun Amai Setia, setelah prahara menerpa, kau lebih kukuh mengunggah langkah. Kau bangun Rohana School yang menandaskan baktimu pada kaum pun bangsamu. Di sana kau didik anak-anak zaman dengan takrir purna. Maka silaulah Belanda pada seluruh yang kau sangga. Sia-sia bangsa Eropa itu tak mengizinkanmu mengenyam pendidikan di sekolahnya, ternyata pengetahuanmu melampaui tempaan mereka. Maka menjadilah kau wanita utama, pendidik anak-anak bangsa kala gelap masih gulita karena Kartini tak seorang saja.
* Terinspirasi dari surat-surat Kartini dan kisah perjuangan Rohana Kudus.
** Untuk Mamak, perempuan tangguh yang paling mencintaiku.
Kastil Nurul Yaqin, April 2011
http://www.lampungpost.com/
TAK pernah terpikir aku akan menggoreskan pena untuk frasa ini. Tapi memang yang digariskan hadir pasti kan tiba. Jika kau cari di kumpulan surat-suratku kepada yang kucintai Ny. Abendanon, tulisan ini takkan kau temukan. Tapi ini bukan lembar yang hilang.
Seperti kumpulan naskah itu, lampir ini pun tak ada pada kiraku. Saat melepas segala beban kepada yang terkasih Ny. Abendanon, aku tak pernah menghitung kelak jejak penaku menjadi nyala zaman. Bagiku, menuangnya sepenuh cinta telah membebaskan jiwa dari segala belenggu duka. Sungguh tak kuraba jika bulir duka yang menjadi tinta suatu masa menjelma minyak lentera yang tak ada habisnya.
Aku tak pernah punya ingin namaku mengharum melebihi saat kuada. Semua berjalan di luar kuasa kalam pun kiraku. Andai penaku anak panah, tak pernah kutarik gendewa begitu rupa. Aku tak lebih melesakkannya pada sebuah cita, segumpal ingin, yang kuwasilahkan pada lembar-lembar yang kukirimkan kepada sang kekasih Ny. Abendanon. Dialah sahabat, ibu, kekasih jiwa yang memahami hasratku.
Atau tanpa kusadari dia racun hidupku, yang membuat tak nyaman dengan gelar raden ayu pun segala tradisi yang di matanya adalah belenggu. Perlahan penuh kepastian, umpama tetes air yang melubangkan batu, aku setumbuk dengannya. Dia hembuskan pengetahuan Eropa, aku menerima begitu rupa. Aku turut mendepa ada yang salah pada tradisi bangsaku, ada yang tak adil pada kaumku. Meskipun untuk segala cara pandang itu aku melukai hati ibundaku, mengoyak kepatuhan kaumku, menggundahkan saudara-saudaraku. Apa yang kuanggap benar, tak seiya dengan tradisi. Lalu mereka menggelariku pembangkang. Raden ayu yang berperilaku tak lugu. Menerjang pagar-pagar yang terpancang sepanjang ruang.
Aku tak pernah meraba, jika suatu masa lembar-lembar yang kukirimkan padanya menjadi cahaya yang lebih cerlang dari pelita. Ada yang bernaung pada pendarnya, juga mendapati kerlip nyala yang diterima dari kejauhan masa. Ada pula yang selalu mengenangnya dengan lambang-lambang suka yang dicipta dari zamannya.
Aku mendamba suatu zaman di mana perempuan tak terhalang menyecap pengetahuan. Kini zaman telah melerai belenggu-belenggu waktu. Tak kudapati lagi kumpulan perempuan yang diam di kamar menunggu pinangan. Bilik-bilik perawan dihuni saat mentari menepi. Kala benderang, wanita-wanita zaman menatah pengetahuan juga memamah remah kehidupan. Bertebaran bersama kaum Adam meraih rezeki pun kepandaian. Terang telah terbit, gelap telah menyisip, meskipun hadir kegelapan-kegelepan lain yang menjadi tugas cahaya kehidupan. Maka perempuan-perempuan akan menjadi lentera pada setiap zamannya. Kita hanya punya kisah dan waktu yang berbeda, pun keberuntungan yang tak sama. Adakah di masaku aku paling bercahaya? Tidak. Telah bertebaran bunga-bunga bangsa yang bermekaran pada ranah dan ruang yang tetap menjadi rahasia.
Setelah tiba masa pingitan, aku disibukan oleh hantu-hantu kecemasan yang berkeliaran. Zamanku menelikung langkah hingga kakiku lumpuh di bilik mimpi. Aku hanya punya angan suatu hari akan lempang kaki lembut perempuan ke ranah yang mampu dia jamah. Lalu aku goreskan pena hati dengan tinta yang dicelup pada setiap lelehan saksi sunyi. Di kertas kanvas kehidupan aku goreskan setiap yang menyesak di angan-angan. Kukirimkan keluhku ke negeri yang jauh. Kucecap semangat dari jiwa yang membarakan impian. Aku tak tahu berapa harga prangko yang kububuhkan, hingga lembar-lembar itu menembus dari zaman ke zaman. Mewangikan segugus ide yang tak semua terwujudkan. Adalah di ujung waktuku sebagian mimpiku maujud, meskipun masih menyisa harap tak terungkap. Andaikan ini menjadi sigi yang menerangi, aku tak sendiri.
Di ranah lain di ruang bangsaku, bermunculan perempuan-perempuan sezaman yang sebangun denganku. Yang juga merindu cahaya mentari pemekar biji-biji pengetahuan. Satu demi satu bermunculan, menumbuhkan kecambah-kecambah yang lebih mencerdaskan. Pada waktunya di musim hujan tetumbuhan itu bermunculan, bersemi menyemai diri. Hingga tumbraslah anak pemikiran tentang kesetaraan pada lahan perubahan. Lalu anak-anak zaman mengenangkanku, mengagungkan surat-suratku, hingga yang lain tersembunyi di balik batu-batu peradaban.
Jika di masaku aku banyak mengenal teman wanita sebangsa, mungkin tak hanya kepada Ny. Abendanon kukirim semua warta. Tersebutlah si cerdas Rohana, yang terlahir semasa denganku. Dia pun merindu kaumnya tak bersembunyi di bilik rumah gadang. Andai ruang menambatkankan kami, adalah dua sejoli yang saling menghargai dengan perpaduan energi. Tapi tak ada yang disesalkan dari pertautan ketentuan. Semua berjalan dengan tuntunan Tangan Yang Sama. Dia yang menghidupkan kami untuk menorehkan langkah-langkah kecil demi cita-cita tak terduga.
Adalah Rohana, yang bersuamikan Kudus, melangkah lebih lempang, menatah lebih dalam. Dengan waktu yang lebih panjang dari yang kumiliki, diterobosnya segala yang sebelumnya mimpi. Aku lebih banyak mencecap pengetahuan Belanda, meskipun tetap kujunjung adiluhung budaya bangsaku, sedang Rohana melahap yang datang dari negeri yang jauh pun bangsanya sendiri. Tidaklah patut membanding keberuntungan, tapi tak mengapa memuji kelebihan kawan. Saat aku disibukan dengan pikiran-pikiranku yang tertuang di lembar-lembar saksi sejarah itu, dia telah mendidik kaumnya dengan taksa. Jika aku asyik membaca lembar-lembar kabar dari Eropa, dia mencipta laman berita itu bagi kaumnya. Di tangannya pula Soenting Melayu menjadi warta pertama kaum hawa di Nusantara.
Belum tunai langkah cergas Rohana menitah kaumnya. Dia dirikan Sekolah Amai Setia untuk mematangkan pribadi kaumnya. Adakah langkah itu tak melebihi tajamnya surat-suratku? Jika buah pena menjadi getah damar yang menyalakan dian, langkah-langkahnya menjadi matahari yang menerangi semesta sepenuh tulus. Rohana, adakah kau lebih beruntung terlahir sebagai perempuan Sumatera, yang tak harus terbelenggu kasta. Ah…tak ada sesal kita Perca atau Dwipa, pun wanita di belehan Indonesia lainnya, ikhtiar dan ketentuan Yang Agung telah manjadikan kita ada dengan kurang dan lebihnya.
Jika aku boleh cemburu, karena kau tunai mendapat pengajaran dari guru-guru agamamu. Untuk mendapat pengajaran tentang agama, aku berperantara bangsa Belanda, dengan orang Belanda pula, yang bangsa tak disuka bangsa kita. Kepada Senouck Hugronye aku tanyakan tentang agama. Di tanahku, begitu sulit aku bertemu ahli-ahli agama yang siap menjawab gelisah manahku hingga tak tertangkup semua gelisah membara itu. Maka Rohana, begitu lengkap kau cecap berbagai cabang pengetahuan. Andai cita kita tersambung di masa itu, mungkin telah kita bagi segala ruah pun gelisah. Akan kukirimkan meja tulis ukiran Jepara untuk saksi-saksi kerjamu, pun gamelan Jawa yang aku suka.
Belum tunai kusebut satu-satu pendar lakumu. Tak cukup kau bimbing kaum Hawa memegang pena, mengukirkan tinta, kau ajarkan pada mereka beradu cerdas menukar barang pada Belanda. Kau tak hanya piawai menisik kain menejelujur benang, jalur dagang pun kau lempangkan. Ilmu siasah pun kau praktekkan. Duhai Putri Minang, adakah keraguan bangsa ini mengharumkan seluruh jejakmu, hingga aku lebih bersinar darimu?
Tak cukup bagimu Soenting Melayu pun Amai Setia, setelah prahara menerpa, kau lebih kukuh mengunggah langkah. Kau bangun Rohana School yang menandaskan baktimu pada kaum pun bangsamu. Di sana kau didik anak-anak zaman dengan takrir purna. Maka silaulah Belanda pada seluruh yang kau sangga. Sia-sia bangsa Eropa itu tak mengizinkanmu mengenyam pendidikan di sekolahnya, ternyata pengetahuanmu melampaui tempaan mereka. Maka menjadilah kau wanita utama, pendidik anak-anak bangsa kala gelap masih gulita karena Kartini tak seorang saja.
* Terinspirasi dari surat-surat Kartini dan kisah perjuangan Rohana Kudus.
** Untuk Mamak, perempuan tangguh yang paling mencintaiku.
Kastil Nurul Yaqin, April 2011
Jumat, 01 April 2011
Gapura-Puri
S.W. Teofani
http://sastra-indonesia.com/
Kau menyambangiku ketika seluruh pintu puri telah kukunci. Kita bertukar kata di balik benteng yang lebih batu dari pualam. Tak ada lagi cekrama atau sesiah laksmi. Tinggal dinding murah pemahaman yang lebih agung dari rasa. Kita bukan lagi sepasang jiwa yang mendaki gigir takdir. Kau dan aku menjadi kumpulan keterbatasan yang luruh pada ketentuan Mahapasti. Tak ada lagi sesesap harap yang kita titipkan pada puing senyap. Sebab asa telah membumbung pada manzila yang lebih langit dari arasy.
Hati tak lagi mengeja kemungkinan beriringan mamasuki gapura. Telah kubangun puri jiwa yang melampaui wingitnya candi. Kutisik waktu dengan benang pengharapan yang lebih substil dari semua ingin.
Kusisir jalan sunyi yang melebihi kesenyapan nadir.
Kuikhlaskan semua jeda tanpa depa-depa yang disangka suka. Kupilih takdir-sebagaimana takdir mendekapku-untuk menjaga suhuf yang memuliakan Injil juga Tabut.
Kau pun telah memasuki sebuah gapura, bukan yang dulu kita tuju. Kau gandeng bidadari yang sudah memberimu sebocah peri.
Kemudian kita mengikhlaskan semua pengharapan seperti merelakan daun kering yang tanggal dan tertinggal. Tak kita pertanyakan lagi di mana dia terserak. Masing-masing diri mengeja bebatu waktu manjadi undakan yang kita daki tanpa tahu awal dan tepi. Menerima ketentuan Sang Hakim tanpa beban, sebagaimana tak pernah kita pertanyakan mengapa kita dilahirkan.
Kau menyapa saat aku mansyuk mengenyam benang waktu. Melupakan tapak-tapak jerih yang menjejak begitu duri. Mengais ingin sesungguh jiwa. Melompati tebing, manatah ngarai, menikmati cemas harap saat maksud hampir sampai. Tapi kita hanya pemain yang tak pernah tahu ke mana bola takdir berpihak. Kau dan aku hanya bisa berlapang jiwa saat semua ikhtiar maknanya tetap menjadi rahasia. Sedang maksud kita menjadi cita yang tak bernah mewujud.
Kau datang saat aku sempurna melupa semua tapak yang pernah kita jejak. Tak pernah tersisa penyesalan atas semua ingin yang tak sampai, karena kita hanya mengikuti sebuah kepastian. Seperti bintang-bintang yang patuh pada garis edar. Lintasan itu kadang bersejajar beberapa masa, seolah akan selalu sepanjang waktu.
Tapi mahluk tak punya hak atas keabadian, juga kepastian. Semua hanya kesementaraan dan selalu menyisakan pertanyaan. Kita pun tersadar tak berada pada satu lintasan takdir. Lintasan kita menjauh, segala yang kita maksud tertebar di kaki nasib. Lalu berjalan lagi pada garis hidup masing-masing. Menerima semua ketentuan dengan diam tanpa dendam.
Jangan ketuk pintu puriku, atau kau harap kubuka jendela. Karena aku tak menginginkan angin masuk mengusik segala mansyuk. Kau telah tahu aku tak menyesal pun mengharap. Aku pun faham jalan yang telah kau pilih. Maka biarlah hati kita saling tahu tanpa isyarat apa pun. Seperti gunung yang diam dengan segala beban yang dikandungnya. Dia tak pernah mengeluhkan lahar yang hendak keluar, pun magma membara. Tetap ditebarkannya kesejukan pada setiap yang memandang juga keindahan para pendaki. Maka biarlah kita menjadi paku-paku masa lalu yang mengukuhkan kesementaraan diri.
Di puri ini, kulolosi setiap huruf pada mushaf dari pengaitnya. Kujajar menjadi pagar. Lalu kupahat batu-batu puri dengan kukuku. Kuserupakan pahatan itu dengan setiap aksara mushaf hingga membentuk makna. Kubiarkan jari berdarah dengan warna merah menghitam. Huruf-huruf itu tak hanya terpahat, tapi juga bersinar dari setiap tetesnya. Jangan kau tanyakan pedih atau luka, karena aku tak lagi merasainya. Aku telah memilihnya. Apa yang lebih kokoh dari sebuah pilihan. Memilih berarti siap akibat dari setiap jalan yang dilaluinya. Begitu pun diriku.
Tak ku tolak dikatakan gila. Karena kewarasan tak memberiku apa pun selain kegilaan serupa. Biarlah kulalar jalan-jalan yang tak hendak dilalui siapa jua. Kan terus kupahat huruf-huruf ini hingga memenuhi bebatu puri. Puri yang membuatku tak akan berpaling pada apa pun. Tempat yang memberiku kehidupan dalam kediaman dan kebisuan. Yang menyelimutiku dengan ketenangan dalam luka dan kegilaan.
Bergumullah kau pada kewarasan yang menggilakanmu. Sedang aku memilih gila untuk mewaraskan jiwaku.
Jangan kau ucapkan kata kasihan padaku. Karena aku tak butuh kasih yang itu. Aku menggapai kasih Yang Satu. Yang mengilhami segala kasih, juga kasih yang dulu kau paparkan. Itu hanya sejentik dari seluruh kasih yang dihadiahkan Yang Satu.
Kini sepuluh kuku jariku telah mengelupas. Darahnya membasahi busana takdir yang kukenakan.
Tinggalkannlah aku. Jangan kau mematung di pintu puri. Aku tak ingin kau iba pada diriku. Karena aku tak pernah menginginkan itu. Aku tahu apa yang ku ingin, juga yang kumau. Dan itu, bukan mau kita dahulu. Aku telah memilih duri dari daging, menyukai lapar dari kenyang, mencintai senyap dari riang.
Apa lagi yang menundamu untuk pergi. Aku tak mengharapkanmu meski tak membencimu. Aku telah memilih pengharapan yang diharapkan sedikit orang. Pulanglah ke gapuramu. Jika kau ingin tahu tentangku, seluruhku telah menerangkannya padamu. Jangan kau membatu di halaman puriku. Aku khawatir seluruhmu-juga hatimu-benar-benar menjadi batu. Patung penghias puri yang tak mengenakanku.
Jika kau tak juga beranjak, ini yang terakhir untukmu. Kulit jariku telah mengelupas bergesek dengan huruf dan batu. Bukan lagi darah yang menabur bercak, juga sayatan daging tanganku hampir tandas. Kini aku menggoreskan huruf-huruh itu dengan tulang belulangkangku. Hingga gemeretak bunyi tulang dan batu. Kini bebatu puri tak lagi hitam. Telah kucipta lukisan abstrak dengan kuas daging dan cat darah. Jika itu masih kurang, kan kubiarkan satu per satu sambungan tulangku terberai, asal berpindah semua huruf dalam mushaf pada dinding, langit, juga lantai puri.
Jangan kau tanyakan tentang rasa sakit. Telah kuhapus seluruh rasa selain Cinta pada pengembus huruf-huruf itu. Satu per satu belulangku raras. Bermula dari tangan, kaki, kepala, bahkan tengkorakku tak lagi berupa. Semua tanggal, menyebar menjadi patahan yang menghantarkan setiap perpindahan huruf-huruf mushaf.
Kedua mataku pun tak lagi menyatu pada tengkorak kepala. Dia terbetot dari ceruk persembunyian. Semua kini menjadi pemindah huruf-huruf. Jari-jari, tangan, kaki, kerangka, daging, darah, usus, hati, jantung, semua beterbaran, hingga kupertanyakan di mana aku?
Semua tercecer, tapi tak menebar anyir, setiap bercak membawa wangi kesturi yang mengharumkan puri. Kulihat hatiku begitu ria, lebih ria saat kau dan aku menggapai jalan gapura. hati itu nyata merahnya, berkilau dengan bentuk yang lebih indah.
Ah…hatiku….seindah itu, hati yang menyatu dengan huruf-huruf mushaf.
Sekali lagi, aku tak akan menolak jika disebut gila, karena kegilaan ini sangat indah. Lebih indah dari laman-laman keindahan di sudut mana jua.
Sudah, aku telah katakan semua tentang halku. Kini kupinta, tinggalkan aku. Meski ku di dalam puri, kurasai dirimu yang mematung di terasnya. Apa lagi yang kau nanti. Tidakkah kau rasa cukup ceritaku?
“Maafkan aku, jika tak hendak meninggalkan purimu, meski aku telah memiliki gapura juga peri kecilnya,” suaramu patah-patah.
“Kenapa kau tak juga pergi.”
“Katakan padaku satu hal, setelah itu aku kan meninggalkan puri, juga seluruhmu, ” suaramu penuh harap.
“Katakanlah.”
“Apakah aku penyebab kegilaanmu, maafkan aku….?”
“Dengarkan, tak kan kuulangi, B u k a n!”
Bandar Lampung
Agustus—September 2010
S.W. Teofani, Lahir dan tinggal di Lampung.
Cerpennya dimuat di Lampung Post. Kini sedang menekuni karya sastra.
http://sastra-indonesia.com/
Kau menyambangiku ketika seluruh pintu puri telah kukunci. Kita bertukar kata di balik benteng yang lebih batu dari pualam. Tak ada lagi cekrama atau sesiah laksmi. Tinggal dinding murah pemahaman yang lebih agung dari rasa. Kita bukan lagi sepasang jiwa yang mendaki gigir takdir. Kau dan aku menjadi kumpulan keterbatasan yang luruh pada ketentuan Mahapasti. Tak ada lagi sesesap harap yang kita titipkan pada puing senyap. Sebab asa telah membumbung pada manzila yang lebih langit dari arasy.
Hati tak lagi mengeja kemungkinan beriringan mamasuki gapura. Telah kubangun puri jiwa yang melampaui wingitnya candi. Kutisik waktu dengan benang pengharapan yang lebih substil dari semua ingin.
Kusisir jalan sunyi yang melebihi kesenyapan nadir.
Kuikhlaskan semua jeda tanpa depa-depa yang disangka suka. Kupilih takdir-sebagaimana takdir mendekapku-untuk menjaga suhuf yang memuliakan Injil juga Tabut.
Kau pun telah memasuki sebuah gapura, bukan yang dulu kita tuju. Kau gandeng bidadari yang sudah memberimu sebocah peri.
Kemudian kita mengikhlaskan semua pengharapan seperti merelakan daun kering yang tanggal dan tertinggal. Tak kita pertanyakan lagi di mana dia terserak. Masing-masing diri mengeja bebatu waktu manjadi undakan yang kita daki tanpa tahu awal dan tepi. Menerima ketentuan Sang Hakim tanpa beban, sebagaimana tak pernah kita pertanyakan mengapa kita dilahirkan.
Kau menyapa saat aku mansyuk mengenyam benang waktu. Melupakan tapak-tapak jerih yang menjejak begitu duri. Mengais ingin sesungguh jiwa. Melompati tebing, manatah ngarai, menikmati cemas harap saat maksud hampir sampai. Tapi kita hanya pemain yang tak pernah tahu ke mana bola takdir berpihak. Kau dan aku hanya bisa berlapang jiwa saat semua ikhtiar maknanya tetap menjadi rahasia. Sedang maksud kita menjadi cita yang tak bernah mewujud.
Kau datang saat aku sempurna melupa semua tapak yang pernah kita jejak. Tak pernah tersisa penyesalan atas semua ingin yang tak sampai, karena kita hanya mengikuti sebuah kepastian. Seperti bintang-bintang yang patuh pada garis edar. Lintasan itu kadang bersejajar beberapa masa, seolah akan selalu sepanjang waktu.
Tapi mahluk tak punya hak atas keabadian, juga kepastian. Semua hanya kesementaraan dan selalu menyisakan pertanyaan. Kita pun tersadar tak berada pada satu lintasan takdir. Lintasan kita menjauh, segala yang kita maksud tertebar di kaki nasib. Lalu berjalan lagi pada garis hidup masing-masing. Menerima semua ketentuan dengan diam tanpa dendam.
Jangan ketuk pintu puriku, atau kau harap kubuka jendela. Karena aku tak menginginkan angin masuk mengusik segala mansyuk. Kau telah tahu aku tak menyesal pun mengharap. Aku pun faham jalan yang telah kau pilih. Maka biarlah hati kita saling tahu tanpa isyarat apa pun. Seperti gunung yang diam dengan segala beban yang dikandungnya. Dia tak pernah mengeluhkan lahar yang hendak keluar, pun magma membara. Tetap ditebarkannya kesejukan pada setiap yang memandang juga keindahan para pendaki. Maka biarlah kita menjadi paku-paku masa lalu yang mengukuhkan kesementaraan diri.
Di puri ini, kulolosi setiap huruf pada mushaf dari pengaitnya. Kujajar menjadi pagar. Lalu kupahat batu-batu puri dengan kukuku. Kuserupakan pahatan itu dengan setiap aksara mushaf hingga membentuk makna. Kubiarkan jari berdarah dengan warna merah menghitam. Huruf-huruf itu tak hanya terpahat, tapi juga bersinar dari setiap tetesnya. Jangan kau tanyakan pedih atau luka, karena aku tak lagi merasainya. Aku telah memilihnya. Apa yang lebih kokoh dari sebuah pilihan. Memilih berarti siap akibat dari setiap jalan yang dilaluinya. Begitu pun diriku.
Tak ku tolak dikatakan gila. Karena kewarasan tak memberiku apa pun selain kegilaan serupa. Biarlah kulalar jalan-jalan yang tak hendak dilalui siapa jua. Kan terus kupahat huruf-huruf ini hingga memenuhi bebatu puri. Puri yang membuatku tak akan berpaling pada apa pun. Tempat yang memberiku kehidupan dalam kediaman dan kebisuan. Yang menyelimutiku dengan ketenangan dalam luka dan kegilaan.
Bergumullah kau pada kewarasan yang menggilakanmu. Sedang aku memilih gila untuk mewaraskan jiwaku.
Jangan kau ucapkan kata kasihan padaku. Karena aku tak butuh kasih yang itu. Aku menggapai kasih Yang Satu. Yang mengilhami segala kasih, juga kasih yang dulu kau paparkan. Itu hanya sejentik dari seluruh kasih yang dihadiahkan Yang Satu.
Kini sepuluh kuku jariku telah mengelupas. Darahnya membasahi busana takdir yang kukenakan.
Tinggalkannlah aku. Jangan kau mematung di pintu puri. Aku tak ingin kau iba pada diriku. Karena aku tak pernah menginginkan itu. Aku tahu apa yang ku ingin, juga yang kumau. Dan itu, bukan mau kita dahulu. Aku telah memilih duri dari daging, menyukai lapar dari kenyang, mencintai senyap dari riang.
Apa lagi yang menundamu untuk pergi. Aku tak mengharapkanmu meski tak membencimu. Aku telah memilih pengharapan yang diharapkan sedikit orang. Pulanglah ke gapuramu. Jika kau ingin tahu tentangku, seluruhku telah menerangkannya padamu. Jangan kau membatu di halaman puriku. Aku khawatir seluruhmu-juga hatimu-benar-benar menjadi batu. Patung penghias puri yang tak mengenakanku.
Jika kau tak juga beranjak, ini yang terakhir untukmu. Kulit jariku telah mengelupas bergesek dengan huruf dan batu. Bukan lagi darah yang menabur bercak, juga sayatan daging tanganku hampir tandas. Kini aku menggoreskan huruf-huruh itu dengan tulang belulangkangku. Hingga gemeretak bunyi tulang dan batu. Kini bebatu puri tak lagi hitam. Telah kucipta lukisan abstrak dengan kuas daging dan cat darah. Jika itu masih kurang, kan kubiarkan satu per satu sambungan tulangku terberai, asal berpindah semua huruf dalam mushaf pada dinding, langit, juga lantai puri.
Jangan kau tanyakan tentang rasa sakit. Telah kuhapus seluruh rasa selain Cinta pada pengembus huruf-huruf itu. Satu per satu belulangku raras. Bermula dari tangan, kaki, kepala, bahkan tengkorakku tak lagi berupa. Semua tanggal, menyebar menjadi patahan yang menghantarkan setiap perpindahan huruf-huruf mushaf.
Kedua mataku pun tak lagi menyatu pada tengkorak kepala. Dia terbetot dari ceruk persembunyian. Semua kini menjadi pemindah huruf-huruf. Jari-jari, tangan, kaki, kerangka, daging, darah, usus, hati, jantung, semua beterbaran, hingga kupertanyakan di mana aku?
Semua tercecer, tapi tak menebar anyir, setiap bercak membawa wangi kesturi yang mengharumkan puri. Kulihat hatiku begitu ria, lebih ria saat kau dan aku menggapai jalan gapura. hati itu nyata merahnya, berkilau dengan bentuk yang lebih indah.
Ah…hatiku….seindah itu, hati yang menyatu dengan huruf-huruf mushaf.
Sekali lagi, aku tak akan menolak jika disebut gila, karena kegilaan ini sangat indah. Lebih indah dari laman-laman keindahan di sudut mana jua.
Sudah, aku telah katakan semua tentang halku. Kini kupinta, tinggalkan aku. Meski ku di dalam puri, kurasai dirimu yang mematung di terasnya. Apa lagi yang kau nanti. Tidakkah kau rasa cukup ceritaku?
“Maafkan aku, jika tak hendak meninggalkan purimu, meski aku telah memiliki gapura juga peri kecilnya,” suaramu patah-patah.
“Kenapa kau tak juga pergi.”
“Katakan padaku satu hal, setelah itu aku kan meninggalkan puri, juga seluruhmu, ” suaramu penuh harap.
“Katakanlah.”
“Apakah aku penyebab kegilaanmu, maafkan aku….?”
“Dengarkan, tak kan kuulangi, B u k a n!”
Bandar Lampung
Agustus—September 2010
S.W. Teofani, Lahir dan tinggal di Lampung.
Cerpennya dimuat di Lampung Post. Kini sedang menekuni karya sastra.
Minggu, 27 Februari 2011
Gaun yang Kusimpan
S.W. Teofani
http://www.lampungpost.com/
INI gaun terindah yang kumiliki. Kutisik dengan peniti hati, kusulam dengan benang jiwa. Setiap rendanya adalah tembang hatiku saat membayangkan malam yang agung bersamamu. Setiap rajutannya adalah senandung doa tentang masa yang akan kita jaga.
Kekasih, kau adalah lelaki pertama yang kupercaya menghantarkanku ke pesta. Padamu kupercayakan sebentuk hati yang kelak harus kau jaga.
Kubiarkan setiap mata mengejamu sebagai paro nyawaku. Sukma yang kelak memanjakan pada setiap keluh.
Engkau datang tepat saat gaun itu sempurna membalut tubuhku. Aku berkaca, keindahan bagai diturunkan dari ketinggian nirwana. Bukan karena gaun itu putih sempurna, tapi kilau hatiku yang melampaui awan tanpa mega. Bukan karena selendang keemasan yang melengkapi warnanya, tapi cahaya bahagia yang hanya bisa dirasai Kamaratih kala berjumpa Kamajaya.
Aku mengangguk takzim di hadapanmu. Ungkapan terima kasih atas kesabaranmu menungguku merapikan diri. Menata hati atas kegugupan saat hendak melangkah di sisimu. Di depan ribuan tatap mata di pesta itu. Tapi, tatap lembutmu menenangkanku. Dengan santun kau jaga aku meniti tapak demi tapak ke altar agung. Aku merasa nyaman, umpama tangkai tersemat di dahan. Aku bermantel damai, melebihi kedamaian yang dijanjikan puncak ketenangan.
Di antara jiwa-jiwa yang ria, aku merasa paling bahagia. Di antara gegap gempita pesta, aku hening, memaknai seluruhmu yang nyata di sampingku. Hingga pesta usai, hati kita tak masai.
Malam itu kita melangkah di atas nada jiwa. Suara menjadi kersik yang mengurangi makna. Kata menjadi penanda yang tak kita pilih untuk menyampaikan seluruh denting rasa. Diam menjadi lebih agung dari segala racikan doa. Tarikan napas menjadi ketuk dawai yang lebih lembut dari gamelan Jawa. Malam kita tutup tanpa pesan. Karena perpisahan menjadi hantu paling menakutkan bagi jiwa yang menabur pengharapan.
Esok adalah janji hati untuk semakin mengukuhkan panji. Kau hadapkan aku pada wanita agung yang membuatmu mengada di dunia. Kau kenalkan aku pada laki-laki yang kau sebut bapak. Kau sambangkan aku pada kerabatmu sebagai wanita pilihan yang akan kau satukan dengan empu kehidupanmu. Tak ada kata yang mewakili ungkapan bahagia, tak ada bahasa yang melampaui suka. Aku menunggu, di mana hari menjadi batas bagi jalan-jalan yang kita lempangkan. Aku tak meragukanmu!
Kemudian kita saling memanai waktu. Menghitung yang lalu dan tiba. Menjuntai yang mungkin dan yang musykil. Aku mendapatimu bagai petarung yang terluka. Aku ingin membalut setiap sayatan di tubuhmu, tapi carikku tak pernah sampai. Aku ingin mengeringkan setiap tetes darahmu, tapi tanganku telah lunglai. Kau diam laksana patung Brahmana tanpa dosa. Kau acuhkan aku yang menggapai hingga masai. Terbentur pada seluruh angkuh yang kau cipta.
Aku mengingatkanmu tentang jalan kita. Kau diam. Aku melangkah sendirian, mengungkai seluruh kenang yang memungkinkan kau kembali ke jalan itu. Tapi aku semakin limbung. Kutarik bongkahan masa lalu yang memberatkan seluruhku. Engkau diam di entah. Hingga aku hempaskan segala beban.
“Kekasih, akankan kita lanjutkan perjalanan. Atau kuhapus setiap tapak yang pernah kita jejak?”
Kau diam bagai gitar tanpa temali. Hatiku merasai beban batinmu.
“Jika kau tak sanggup lanjutkan, mari istirahat. Pohon rindang akan memulihkan tenagamu. Jika kau terluka, aku yang akan mengobati. Jika kau takut dengan masa depan, lihatlah, aku punya selaksa pengharapan untuk menegarkanmu. Aku siap memapahmu sampai di menara-menara suci. Apa yang kau ragukan pada seluruhku?”
Kau tetap diam menyamai kesunyian siksa.
“Kekasih, aku tak kan meminta yang tak kau beri. Aku tak kan mengharap yang tak kau punya. Aku ikhlas pada yang ada.”
“Ada yang tak kau ketahui.” Aku terkesima, suara itu seperti telah berabad kunantikan.
“Aku tak sebaik yang kau kira, aku tak sesuci yang kau sangka.”
“Adakah aku ingin dikhitbah malaikat. Apakah aku mendamba menikah dengan nabi? Aku juga manusia biasa. Aku tak menengok masa yang telah binasa. Esok adalah masa yang akan menyucikan kita. Menyepuh setiap dosa, sebelum kembali pada ridho-Nya. Apa lagi yang kau ragukan?”
Kembali kau diam, melebihi tapa gunung-gunung. Kulihat bimbang pada seluruhmu. Untuk pertama kali aku meragukanmu.
“Ada yang lain?”
Engkau tertunduk, melampaui kedalaman ceruk.
Kata-kataku habis. Hatiku lebih hening dari gugusan batu. Kita biarkan ombak mengamuk, halilintar bergemuruh, angin menggoyahkan semesta. Kabut turun, alam mulai menampakkan kengerian. Dalam getar kerapuhan, lirih aku mengeja….
“Kekasih……jika karena luka, aku masih sedia. Jika karena dosa, aku bisa terima. Tapi karena yang lain…aku tak punya kata.”
Kau menunduk tanpa daya.
“Jangan pergi,” ketakutanmu sebanding bayi merah kehilangan ibunya.
“Apa yang kau beratkan dariku?”
“Kau satu-satunya wanita yang pernah kuhadapkan pada empu kehidupanku.”
“Karena itu aku percaya, karena itu aku tak ragu. Tapi… pengkhianatan melebihi belati tajam yang mengoyak jantungku.”
“Bertahanlah.”
“Untuk apa?”
Tundukmu menembus pusat bumi. Terpekur pada geming sempurna.
“Aku bisa pahami kekhilafan, tapi aku tak bisa menyakiti hati lain, hati perempuanmu.”
Hening… tetes-tetes bening mewakili denting.
***
Sahara menuntunku merindukan oasis. Aku sisir hamparan pasir bersama kengerian angin gurun. Entah di mana tepi, di mana ujung. Kaki terus melangkah. Tapak-tapaknya dibimbing oleh arah yang belum pernah kujamah. Aku memandang sekeliling. Dari seluruh penjuru, tak kudapati penanda kehidupan. Hanya tebaran pasir diterpa percik-percik terik.
Aku menghela, kadang Tuhan menghendaki manusia benar-benar dalam kesendirian mengarungi padang hidup yang tepinya entah di mana. Tapi di sanalah kita benar-benar bersama-Nya. Keyakinan itu mengukuhkan kalbu untuk melanjutkan apa yang seharusnya. Aku bersimpuh, ingin menanggalkan apa-apa yang harus kutinggalkan.
Tundukku sebanding takzim para sufi.
“Roby…..aku bukan Siti Hajar. Yang begitu tulus melepas suami tercintanya dengan hati lain. Tapi beri aku kebesaran hati seperti yang Kau anugerahkan kepadanya.
Aku bukan Ibrahim, yang ikhlas menyerahkan kepada-Mu anak semata wayangnya. Tapi, beri aku keikhlasan serupa ketika Kau ambil apa-apa yang tak harus kujaga.
Aku bukan Nabi Isa, yang menyerahkan pipi kanannya ketika ditampar pipi kirinya. Tapi berikan aku percikan pemaafnya, untuk menerima setiap duka yang tak kuduga.
Kudongakkan kepala, menatap jauh cakrawala. Kudapati bersih sempurna, petanda hujan tak kan tiba. Kuteringat sehelai gaun pesta. Putih serupa. Kan kulipat dengan jemari jiwa. Kusimpan pada lemari hati yang mungkin tak kan kukenakan lagi.
Bandar Lampung, Ujung 2009
- Happy birthday my best friend Eli D., 25 Desember 2009
- Kado untuk telaga hatiku, 28 Desember 2009
http://www.lampungpost.com/
INI gaun terindah yang kumiliki. Kutisik dengan peniti hati, kusulam dengan benang jiwa. Setiap rendanya adalah tembang hatiku saat membayangkan malam yang agung bersamamu. Setiap rajutannya adalah senandung doa tentang masa yang akan kita jaga.
Kekasih, kau adalah lelaki pertama yang kupercaya menghantarkanku ke pesta. Padamu kupercayakan sebentuk hati yang kelak harus kau jaga.
Kubiarkan setiap mata mengejamu sebagai paro nyawaku. Sukma yang kelak memanjakan pada setiap keluh.
Engkau datang tepat saat gaun itu sempurna membalut tubuhku. Aku berkaca, keindahan bagai diturunkan dari ketinggian nirwana. Bukan karena gaun itu putih sempurna, tapi kilau hatiku yang melampaui awan tanpa mega. Bukan karena selendang keemasan yang melengkapi warnanya, tapi cahaya bahagia yang hanya bisa dirasai Kamaratih kala berjumpa Kamajaya.
Aku mengangguk takzim di hadapanmu. Ungkapan terima kasih atas kesabaranmu menungguku merapikan diri. Menata hati atas kegugupan saat hendak melangkah di sisimu. Di depan ribuan tatap mata di pesta itu. Tapi, tatap lembutmu menenangkanku. Dengan santun kau jaga aku meniti tapak demi tapak ke altar agung. Aku merasa nyaman, umpama tangkai tersemat di dahan. Aku bermantel damai, melebihi kedamaian yang dijanjikan puncak ketenangan.
Di antara jiwa-jiwa yang ria, aku merasa paling bahagia. Di antara gegap gempita pesta, aku hening, memaknai seluruhmu yang nyata di sampingku. Hingga pesta usai, hati kita tak masai.
Malam itu kita melangkah di atas nada jiwa. Suara menjadi kersik yang mengurangi makna. Kata menjadi penanda yang tak kita pilih untuk menyampaikan seluruh denting rasa. Diam menjadi lebih agung dari segala racikan doa. Tarikan napas menjadi ketuk dawai yang lebih lembut dari gamelan Jawa. Malam kita tutup tanpa pesan. Karena perpisahan menjadi hantu paling menakutkan bagi jiwa yang menabur pengharapan.
Esok adalah janji hati untuk semakin mengukuhkan panji. Kau hadapkan aku pada wanita agung yang membuatmu mengada di dunia. Kau kenalkan aku pada laki-laki yang kau sebut bapak. Kau sambangkan aku pada kerabatmu sebagai wanita pilihan yang akan kau satukan dengan empu kehidupanmu. Tak ada kata yang mewakili ungkapan bahagia, tak ada bahasa yang melampaui suka. Aku menunggu, di mana hari menjadi batas bagi jalan-jalan yang kita lempangkan. Aku tak meragukanmu!
Kemudian kita saling memanai waktu. Menghitung yang lalu dan tiba. Menjuntai yang mungkin dan yang musykil. Aku mendapatimu bagai petarung yang terluka. Aku ingin membalut setiap sayatan di tubuhmu, tapi carikku tak pernah sampai. Aku ingin mengeringkan setiap tetes darahmu, tapi tanganku telah lunglai. Kau diam laksana patung Brahmana tanpa dosa. Kau acuhkan aku yang menggapai hingga masai. Terbentur pada seluruh angkuh yang kau cipta.
Aku mengingatkanmu tentang jalan kita. Kau diam. Aku melangkah sendirian, mengungkai seluruh kenang yang memungkinkan kau kembali ke jalan itu. Tapi aku semakin limbung. Kutarik bongkahan masa lalu yang memberatkan seluruhku. Engkau diam di entah. Hingga aku hempaskan segala beban.
“Kekasih, akankan kita lanjutkan perjalanan. Atau kuhapus setiap tapak yang pernah kita jejak?”
Kau diam bagai gitar tanpa temali. Hatiku merasai beban batinmu.
“Jika kau tak sanggup lanjutkan, mari istirahat. Pohon rindang akan memulihkan tenagamu. Jika kau terluka, aku yang akan mengobati. Jika kau takut dengan masa depan, lihatlah, aku punya selaksa pengharapan untuk menegarkanmu. Aku siap memapahmu sampai di menara-menara suci. Apa yang kau ragukan pada seluruhku?”
Kau tetap diam menyamai kesunyian siksa.
“Kekasih, aku tak kan meminta yang tak kau beri. Aku tak kan mengharap yang tak kau punya. Aku ikhlas pada yang ada.”
“Ada yang tak kau ketahui.” Aku terkesima, suara itu seperti telah berabad kunantikan.
“Aku tak sebaik yang kau kira, aku tak sesuci yang kau sangka.”
“Adakah aku ingin dikhitbah malaikat. Apakah aku mendamba menikah dengan nabi? Aku juga manusia biasa. Aku tak menengok masa yang telah binasa. Esok adalah masa yang akan menyucikan kita. Menyepuh setiap dosa, sebelum kembali pada ridho-Nya. Apa lagi yang kau ragukan?”
Kembali kau diam, melebihi tapa gunung-gunung. Kulihat bimbang pada seluruhmu. Untuk pertama kali aku meragukanmu.
“Ada yang lain?”
Engkau tertunduk, melampaui kedalaman ceruk.
Kata-kataku habis. Hatiku lebih hening dari gugusan batu. Kita biarkan ombak mengamuk, halilintar bergemuruh, angin menggoyahkan semesta. Kabut turun, alam mulai menampakkan kengerian. Dalam getar kerapuhan, lirih aku mengeja….
“Kekasih……jika karena luka, aku masih sedia. Jika karena dosa, aku bisa terima. Tapi karena yang lain…aku tak punya kata.”
Kau menunduk tanpa daya.
“Jangan pergi,” ketakutanmu sebanding bayi merah kehilangan ibunya.
“Apa yang kau beratkan dariku?”
“Kau satu-satunya wanita yang pernah kuhadapkan pada empu kehidupanku.”
“Karena itu aku percaya, karena itu aku tak ragu. Tapi… pengkhianatan melebihi belati tajam yang mengoyak jantungku.”
“Bertahanlah.”
“Untuk apa?”
Tundukmu menembus pusat bumi. Terpekur pada geming sempurna.
“Aku bisa pahami kekhilafan, tapi aku tak bisa menyakiti hati lain, hati perempuanmu.”
Hening… tetes-tetes bening mewakili denting.
***
Sahara menuntunku merindukan oasis. Aku sisir hamparan pasir bersama kengerian angin gurun. Entah di mana tepi, di mana ujung. Kaki terus melangkah. Tapak-tapaknya dibimbing oleh arah yang belum pernah kujamah. Aku memandang sekeliling. Dari seluruh penjuru, tak kudapati penanda kehidupan. Hanya tebaran pasir diterpa percik-percik terik.
Aku menghela, kadang Tuhan menghendaki manusia benar-benar dalam kesendirian mengarungi padang hidup yang tepinya entah di mana. Tapi di sanalah kita benar-benar bersama-Nya. Keyakinan itu mengukuhkan kalbu untuk melanjutkan apa yang seharusnya. Aku bersimpuh, ingin menanggalkan apa-apa yang harus kutinggalkan.
Tundukku sebanding takzim para sufi.
“Roby…..aku bukan Siti Hajar. Yang begitu tulus melepas suami tercintanya dengan hati lain. Tapi beri aku kebesaran hati seperti yang Kau anugerahkan kepadanya.
Aku bukan Ibrahim, yang ikhlas menyerahkan kepada-Mu anak semata wayangnya. Tapi, beri aku keikhlasan serupa ketika Kau ambil apa-apa yang tak harus kujaga.
Aku bukan Nabi Isa, yang menyerahkan pipi kanannya ketika ditampar pipi kirinya. Tapi berikan aku percikan pemaafnya, untuk menerima setiap duka yang tak kuduga.
Kudongakkan kepala, menatap jauh cakrawala. Kudapati bersih sempurna, petanda hujan tak kan tiba. Kuteringat sehelai gaun pesta. Putih serupa. Kan kulipat dengan jemari jiwa. Kusimpan pada lemari hati yang mungkin tak kan kukenakan lagi.
Bandar Lampung, Ujung 2009
- Happy birthday my best friend Eli D., 25 Desember 2009
- Kado untuk telaga hatiku, 28 Desember 2009
Selasa, 25 Januari 2011
Bukan Puncak Huangshan
S.W. Teofanip
http://www.lampungpost.com/
TERSEBAB kau memilih jalan yang lebih mendaki dari Puncak Huangshan, aku merasa malu berani menyuntingkan tunjung biru pada mahkotamu. Seharusnya kuberada pada ketinggian sanjung manjadi takdirmu. Kau terima dengan rela pelepah hati masaiku. Tapi, di malam yang telah dihalalkan kubuka cindai jinggamu, aku tak mampu menatap kejora jiwa itu.
Bibirmu yang tak seranum kuncup kenanga, meneteskan makna-makna melampaui sabda. Meski matamu tak secerlang kaca, kedalamannya menundukkan keangkuhan sahara. Seluruhku lumat pada keteduhan yang kau pungut dari belantara sukma.
Dalam keheningan malam yang dihentikan debar harap, aku mematung dengan sebab yang tak tertangkap. Menatap sosokmu pun aku luruh. Senyummu yang tak jeda menakhta pada pipimu nan merona, menahan setiap kehendak penuh bara. Apakah aku telah menikahi peri, ataukah bidadari?
Kulihat tapakmu berpijak di bumi, rautmu pun tak menabur kejelitaan purna, tapi apa yang membuatku mabuk dalam pana.
Seharusnya kubimbing kau pada sesiah mahamesra, atau kutunaskan cumbu paling rayu. Tapi aku seperti hamba menghadap ratu. Kau begitu agung dalam diam dan kulum. Bahkan aku tak tahu, apakah harus mengulurkan tangan untuk memulai atau menghaturkan seluruh khidmat umpama cantrik bertemu mahadewi.
Kucoba bersitatap, retinaku terantuk kilau pupilmu yang memaksa rela menumbuk permadani. Di pelaminan itu, kau melebihi Sinta yang menjaga kesucian. Tapi aku bukan Rama, ksatria bijaksana itu, pun Rahwana si durjana. Aku hanya menusia tanpa tanda untuk cinta juga citra.
Saat aku berani mengangkat pandang, tetap tak mampu bertaut dengan tatapmu. Apakah kau Robiah Agung yang tak terjamah nafsu. Tapi mengapa kau sedia dengan ikatan ini?
Aku tak mungkin menyalahkanmu. Bukan kau menolak inginku, tapi seluruhku luruh sebelum tunas hendak itu menjembul pada jasad mahawadak. Dan kita biarkan malam menyisakan mamang tanpa kenang.
***
Pada enam pergantian waktu, engkau tetap tak terjamah. Menatapmu aku tak ubah laron yang silau pada pijar dian. Seucap kata terbaik pun begitu sia-sia dibanding kedip matamu. Aku lebih suka terdiam mengeja seluruh kemungkinan tentangmu. Di hadapmu, kubiarkan diri tanpa rupa, luruh tak berasa.
“Mengapa kau memilihku sebagai takdirmu?”
Frasamu menjadi denting pertama dari ginonjing jiwa kita.
“Karena aku mencintaimu.”
“Karena cinta menangih pembuktian, salahkah jika aku mempertanyakannya?”
“Apa yang kau inginkan?”
“Temui Al Malik.” Suaramu tenang, penuh kelembutan, tanpa kehilangan rasa yakin.
“Maksudmu?”
“Temui Rajamu.”
Kau hanya membubuhkan sedikit penegasan.
“Bisakah dipertandas…?” Kucoba meyakinkan diri atas pinta itu.
“Tidakkah cukup jelas, temui Al Malik, Maharaja itu!” Suaramu meninggi. Pupilmu yang biasa redup, memijar. Aku terhentak meski tak gentar.
“Siapakah engkau? Mengapa pintamu begitu ganjil? Seorang Sulaiman bisa memindahkan singgasananya ke hadapan Bilqis dalam sekejap. Bandung Bondowoso mampu membangunkan seribu candi dalam semalam untuk membuktikan cintanya pada Roro Jonggrang, tapi aku? Aku bukan siapa-siapa. Aku tak punya ribuan tentara jin untuk melakukan semua. Kau telah menerima akadku, bisakah kau terima aku apa adanya?” Aku mengimbangi nada yang kau cipta, kecanggunganku sirna.
“Adakah aku meminta kemegahan yang diminta perempuan-perempuan itu? Aku meminta sesuatu yang mampu kau lakukan tanpa bantuan tentara kera milik Rama atau pasukan jinnya Raja Sulaiman. Adakah aku berlebihan?”
“Duhai…pilihan hatiku, tidakkah ini mulai bencana itu. Jika kau minta Taj Mahal, aku akan berguru ke negeri Syah Jehan, membangunkan mendiang Guru Isa. Tapi kau meminta yang tak mungkin dilakukan manusia biasa. Seorang Musa pun tak sanggup menatap Cahaya Al Malik di Gunung Sina, kau memintaku menemui-Nya. Ya muhyal qulub….adakah pilihan untukku?”
“Kau telah memilihku, aku meminta temui Al Malik, hanya itu.” Aku diam, mulai meragukan cinta yang kulafazkan, antara menyesal dan mengental. Tapi mundur tetap bukan pilihan.
“Berjalanlah ke arah matahari tenggelam. Ikuti jejak burung-burung yang tak bisa lagi mengepakkan sayap. Ke sebuah puncak yang lebih mulia dari Huangshan.” Suaramu sayup antara nyata dan ngiang.
***
Aku berada di tempat yang kau inginkan, Kekasih. Meski belum sampai pada pintamu. Aku meragukan diri bisa memenuhi yang kau mau. Tapi mencoba lebih agung dari meragu.
Aku tak sendiri. Sebelumku tak terhitung manusia yang mendaki tempat ini. Tapi tak ada yang mengabariku telah bertemu Al Malik. Kulihat kesah dan lelah di wajah mereka, merarasi maksud yang tak mewujud. Raut-rautnya lebih menyedihkan dari tentara kalah perang, dengan tubuh penuh kasusahan. Pemandangan itu menerbankan maksudku yang belum teguh.
Aku surut. Saat hendak kembali, tangan kukuh mencengkeram bahuku. Sosok itu tegak di sampingku. Matanya begitu elang, menembus ranyah kalbuku.
“Engkau menyerah sebelum memulai?” Suaranya setajam belati.
“Aku tak mau melakukan kesia-siaan.” Kuberanikan membalas kilaunya.
“Adakah yang sia-sia setiap tapak menuju Al Malik?”
“Kau lihat orang-orang itu pulang hampa, haruskah aku melakukan hal serupa?”
“Kita tak harus mengikuti orang-orang kalah, masih ada diksi kemenangan.”
“Aku manusia biasa, tak kan bermimpi bertemu Al Malik.”
“Kau tahu, para nabi pun manusia biasa. Adakah mereka disebut nabi tanpa cobaan? Adakah kau disebut beriman tanpa ujian? Benar kita manusia biasa, tapi kita adalah makhluk yang diciptakan Zat Luar Biasa. Dan kita diperintahkan untuk menemui-Nya.”
“Untuk apa?”
“Kau bertanya untuk apa? Tidakkah Al Malik tujuan tiap makhluk. Ke mana kita kembali kalau tidak kepada-Nya? Hidup hanya memilih dua hal; menuju Al Malik atau menghamba syaitan.”
Aku diam, dia bukan manusia biasa, pikirku. Hatiku mengeja halnya.
“Kau akan tetap pergi?”
“Lebih baik mati dalam perjalanan menuju Al Malik daripada hidup tanpa tujuan.”
Lalu dia meninggalkanku begitu saja. Aku terdiam dalam pana. Tersisa ngiang kata terakhirnya.
“Tunggu…” Dia tetap bergegas. Aku mengejarnya. Jalannya begitu cergas. Aku mempercepat langkah hingga manjajar diri.
“Aku ikut….”
“Mantapkan hatimu.”
Aku hanya diam, berharap dia menguatkanku jika rapuh. Kutemukan jawab di matanya.
***
Kami beriringan menuju tempat tanpa alamat. Menyisir jalan setapak yang penuh jejak juga bercak. Ada tilas pergi dan kembali. Ada bercak darah pun peluh lelah.
Aku meraba rasa yang tak berupa. Termasukah aku yang pergi untuk kembali? Atau yang pergi untuk kepergian itu sendiri.
Kami melintasi taman tanpa nama. Dengan rupa-rupa tawan di dalamnya. Ada sepasang angsa memadu cinta, juga kijang kencana bagus rupa. Aku ingin menangkapnya. Tidakkah rusa itu bisa menyenangkan kekasihku, hingga ia lupa mempertanyakan Al Malik. Aku mengedip pada teman perjalanan, berahap ia mengiyakan. Kulihat alis matanya beradu tanda marah padaku.
“Adakah rusa itu lebih membahagiakan dari pertemuan dengan Al Malik?”
“Rusa itu nyata, sedang Al Malik?”
“Maka manusia disebut beriman karena percaya pada yang gaib. Jika kau meragukannya, tak pernah ada jalan menuju Al Malik untukmu.”
Aku diam, termangu antara gamang dan bimbang.
“Jika kau menuju Al Malik karena yang lain, Al Malik tak akan memalingkan wajah padamu.” Suaranya semakin mantap.
“Kau seperti pernah bertemu Al Malik.”
“Karena aku belum bertemu Al Malik, kupelajari jalan-jalan menuju Al Malik.”
“Kau tahu banyak tentang jalan menuju Al Malik.”
“Yang kuketahui belum seberapa, tapi kucoba melintasinya. Kau sendiri?”
“Aku selalu tergoda dan tak tahu jalan ke sana.”
“Lalu, kau akan kembali?”
“Aku akan mengikutimu?”
“Kenapa?”
“Karena kau lebih mengerti.”
***
Kami meneruskan perjalanan. Mendaki ketinggian tanpa undakan. Menyisir tebing paling ngarai. Memanjat gigir yang lebih cadas dari stalaktit. Menjejak terjal paling koral. Menapaki magma paling batu yang menguras kesabaran juga kekuatan.
Sampai di sebuah lembah kami istirah. Mengeja yang nanti dan yang sudah.
Entah berapa waktu telah kami tatah. Pun berapa lagi yang akan terjamah. Kami tak tahu mula dan ujung, awal dan khatam. Aku menatap teman yang seorang, kudapati matanya memendam bimbang serupa.
“Apakah kita tetap menuju Al Malik?”
“Iya!” angguknya tandas. Meski kuyakin dia mengeja jalan-jalan buntu dengan letih paling kuyu.
“Al Malik….Al Malik…kami datang dengan seluruh ketidaktahuan. Terimalah langkah kecil kami yang begitu siput. Tuntun tapak lemah ini menuju Engkau. Tunjuki jalan yang Kau rahasiakan. Amiiin.”
Suara itu lebih dalam dari palung. Lebih getar dari gelombang. Aku terbawa magnitnya, meleburi kefanaan.
***
Sejurus aku tersadar pada dahaga yang paling lapar. Di sekelilingku rimbun pohon buah-buahan. Juga unggas yang siap jadi buruan. Kucari jawab pada matanya untuk menuntaskan hasrat.
“Jangan turuti kehendak nafsu. Kita bukan sedang mengembarakan keinginan raga. Biarkan jasadmu merana. Rasakan wisata jiwamu merindu Al Malik. Jika kau manjakan wadak itu, akan terpejam mata jiwamu dari Al Malik. Tahanlah…sampai Dia sendiri yang memberikannya.”
“Sampai kapan?”
“Sampai kita menemui-Nya.”
Aku diam, mengatur kehendak yang membuncah. Menjepit nafsu yang menggelagah. Bagai kabut dan asap saling mencegah. Seluruhku payah. Hingga kurasa sesesap jiwa bermandi cahaya.
Pada kali lain aku tergoda, teringat kekasihku, muasal segala cerita.
“Kekasih,…ikhlaskan jika aku tak lagi menemuimu. Kita yang saling ikat karena syahadah harus terpisah. Karena tebing yang kau ingin bukan Puncak Huangshan, gunung indah tempat bersenang.” Aku menggumam dalam kepasrahan.
“Lupakan dia. Al Malik tidak menyapa hati yang bertakhta sang lain di dalamnya.”
Kutatap sahabatku, dia lelah kuyu, tapi tak pernah disebutnya selain Al malik juga jalan-jalan selain jalan menuju Al Malik. Aku cemburu. Mungkin dia yang pantas bertemu Al Malik. Dan aku….
Bandar Lampung
Ramadan, 1431 Hijriah
http://www.lampungpost.com/
TERSEBAB kau memilih jalan yang lebih mendaki dari Puncak Huangshan, aku merasa malu berani menyuntingkan tunjung biru pada mahkotamu. Seharusnya kuberada pada ketinggian sanjung manjadi takdirmu. Kau terima dengan rela pelepah hati masaiku. Tapi, di malam yang telah dihalalkan kubuka cindai jinggamu, aku tak mampu menatap kejora jiwa itu.
Bibirmu yang tak seranum kuncup kenanga, meneteskan makna-makna melampaui sabda. Meski matamu tak secerlang kaca, kedalamannya menundukkan keangkuhan sahara. Seluruhku lumat pada keteduhan yang kau pungut dari belantara sukma.
Dalam keheningan malam yang dihentikan debar harap, aku mematung dengan sebab yang tak tertangkap. Menatap sosokmu pun aku luruh. Senyummu yang tak jeda menakhta pada pipimu nan merona, menahan setiap kehendak penuh bara. Apakah aku telah menikahi peri, ataukah bidadari?
Kulihat tapakmu berpijak di bumi, rautmu pun tak menabur kejelitaan purna, tapi apa yang membuatku mabuk dalam pana.
Seharusnya kubimbing kau pada sesiah mahamesra, atau kutunaskan cumbu paling rayu. Tapi aku seperti hamba menghadap ratu. Kau begitu agung dalam diam dan kulum. Bahkan aku tak tahu, apakah harus mengulurkan tangan untuk memulai atau menghaturkan seluruh khidmat umpama cantrik bertemu mahadewi.
Kucoba bersitatap, retinaku terantuk kilau pupilmu yang memaksa rela menumbuk permadani. Di pelaminan itu, kau melebihi Sinta yang menjaga kesucian. Tapi aku bukan Rama, ksatria bijaksana itu, pun Rahwana si durjana. Aku hanya menusia tanpa tanda untuk cinta juga citra.
Saat aku berani mengangkat pandang, tetap tak mampu bertaut dengan tatapmu. Apakah kau Robiah Agung yang tak terjamah nafsu. Tapi mengapa kau sedia dengan ikatan ini?
Aku tak mungkin menyalahkanmu. Bukan kau menolak inginku, tapi seluruhku luruh sebelum tunas hendak itu menjembul pada jasad mahawadak. Dan kita biarkan malam menyisakan mamang tanpa kenang.
***
Pada enam pergantian waktu, engkau tetap tak terjamah. Menatapmu aku tak ubah laron yang silau pada pijar dian. Seucap kata terbaik pun begitu sia-sia dibanding kedip matamu. Aku lebih suka terdiam mengeja seluruh kemungkinan tentangmu. Di hadapmu, kubiarkan diri tanpa rupa, luruh tak berasa.
“Mengapa kau memilihku sebagai takdirmu?”
Frasamu menjadi denting pertama dari ginonjing jiwa kita.
“Karena aku mencintaimu.”
“Karena cinta menangih pembuktian, salahkah jika aku mempertanyakannya?”
“Apa yang kau inginkan?”
“Temui Al Malik.” Suaramu tenang, penuh kelembutan, tanpa kehilangan rasa yakin.
“Maksudmu?”
“Temui Rajamu.”
Kau hanya membubuhkan sedikit penegasan.
“Bisakah dipertandas…?” Kucoba meyakinkan diri atas pinta itu.
“Tidakkah cukup jelas, temui Al Malik, Maharaja itu!” Suaramu meninggi. Pupilmu yang biasa redup, memijar. Aku terhentak meski tak gentar.
“Siapakah engkau? Mengapa pintamu begitu ganjil? Seorang Sulaiman bisa memindahkan singgasananya ke hadapan Bilqis dalam sekejap. Bandung Bondowoso mampu membangunkan seribu candi dalam semalam untuk membuktikan cintanya pada Roro Jonggrang, tapi aku? Aku bukan siapa-siapa. Aku tak punya ribuan tentara jin untuk melakukan semua. Kau telah menerima akadku, bisakah kau terima aku apa adanya?” Aku mengimbangi nada yang kau cipta, kecanggunganku sirna.
“Adakah aku meminta kemegahan yang diminta perempuan-perempuan itu? Aku meminta sesuatu yang mampu kau lakukan tanpa bantuan tentara kera milik Rama atau pasukan jinnya Raja Sulaiman. Adakah aku berlebihan?”
“Duhai…pilihan hatiku, tidakkah ini mulai bencana itu. Jika kau minta Taj Mahal, aku akan berguru ke negeri Syah Jehan, membangunkan mendiang Guru Isa. Tapi kau meminta yang tak mungkin dilakukan manusia biasa. Seorang Musa pun tak sanggup menatap Cahaya Al Malik di Gunung Sina, kau memintaku menemui-Nya. Ya muhyal qulub….adakah pilihan untukku?”
“Kau telah memilihku, aku meminta temui Al Malik, hanya itu.” Aku diam, mulai meragukan cinta yang kulafazkan, antara menyesal dan mengental. Tapi mundur tetap bukan pilihan.
“Berjalanlah ke arah matahari tenggelam. Ikuti jejak burung-burung yang tak bisa lagi mengepakkan sayap. Ke sebuah puncak yang lebih mulia dari Huangshan.” Suaramu sayup antara nyata dan ngiang.
***
Aku berada di tempat yang kau inginkan, Kekasih. Meski belum sampai pada pintamu. Aku meragukan diri bisa memenuhi yang kau mau. Tapi mencoba lebih agung dari meragu.
Aku tak sendiri. Sebelumku tak terhitung manusia yang mendaki tempat ini. Tapi tak ada yang mengabariku telah bertemu Al Malik. Kulihat kesah dan lelah di wajah mereka, merarasi maksud yang tak mewujud. Raut-rautnya lebih menyedihkan dari tentara kalah perang, dengan tubuh penuh kasusahan. Pemandangan itu menerbankan maksudku yang belum teguh.
Aku surut. Saat hendak kembali, tangan kukuh mencengkeram bahuku. Sosok itu tegak di sampingku. Matanya begitu elang, menembus ranyah kalbuku.
“Engkau menyerah sebelum memulai?” Suaranya setajam belati.
“Aku tak mau melakukan kesia-siaan.” Kuberanikan membalas kilaunya.
“Adakah yang sia-sia setiap tapak menuju Al Malik?”
“Kau lihat orang-orang itu pulang hampa, haruskah aku melakukan hal serupa?”
“Kita tak harus mengikuti orang-orang kalah, masih ada diksi kemenangan.”
“Aku manusia biasa, tak kan bermimpi bertemu Al Malik.”
“Kau tahu, para nabi pun manusia biasa. Adakah mereka disebut nabi tanpa cobaan? Adakah kau disebut beriman tanpa ujian? Benar kita manusia biasa, tapi kita adalah makhluk yang diciptakan Zat Luar Biasa. Dan kita diperintahkan untuk menemui-Nya.”
“Untuk apa?”
“Kau bertanya untuk apa? Tidakkah Al Malik tujuan tiap makhluk. Ke mana kita kembali kalau tidak kepada-Nya? Hidup hanya memilih dua hal; menuju Al Malik atau menghamba syaitan.”
Aku diam, dia bukan manusia biasa, pikirku. Hatiku mengeja halnya.
“Kau akan tetap pergi?”
“Lebih baik mati dalam perjalanan menuju Al Malik daripada hidup tanpa tujuan.”
Lalu dia meninggalkanku begitu saja. Aku terdiam dalam pana. Tersisa ngiang kata terakhirnya.
“Tunggu…” Dia tetap bergegas. Aku mengejarnya. Jalannya begitu cergas. Aku mempercepat langkah hingga manjajar diri.
“Aku ikut….”
“Mantapkan hatimu.”
Aku hanya diam, berharap dia menguatkanku jika rapuh. Kutemukan jawab di matanya.
***
Kami beriringan menuju tempat tanpa alamat. Menyisir jalan setapak yang penuh jejak juga bercak. Ada tilas pergi dan kembali. Ada bercak darah pun peluh lelah.
Aku meraba rasa yang tak berupa. Termasukah aku yang pergi untuk kembali? Atau yang pergi untuk kepergian itu sendiri.
Kami melintasi taman tanpa nama. Dengan rupa-rupa tawan di dalamnya. Ada sepasang angsa memadu cinta, juga kijang kencana bagus rupa. Aku ingin menangkapnya. Tidakkah rusa itu bisa menyenangkan kekasihku, hingga ia lupa mempertanyakan Al Malik. Aku mengedip pada teman perjalanan, berahap ia mengiyakan. Kulihat alis matanya beradu tanda marah padaku.
“Adakah rusa itu lebih membahagiakan dari pertemuan dengan Al Malik?”
“Rusa itu nyata, sedang Al Malik?”
“Maka manusia disebut beriman karena percaya pada yang gaib. Jika kau meragukannya, tak pernah ada jalan menuju Al Malik untukmu.”
Aku diam, termangu antara gamang dan bimbang.
“Jika kau menuju Al Malik karena yang lain, Al Malik tak akan memalingkan wajah padamu.” Suaranya semakin mantap.
“Kau seperti pernah bertemu Al Malik.”
“Karena aku belum bertemu Al Malik, kupelajari jalan-jalan menuju Al Malik.”
“Kau tahu banyak tentang jalan menuju Al Malik.”
“Yang kuketahui belum seberapa, tapi kucoba melintasinya. Kau sendiri?”
“Aku selalu tergoda dan tak tahu jalan ke sana.”
“Lalu, kau akan kembali?”
“Aku akan mengikutimu?”
“Kenapa?”
“Karena kau lebih mengerti.”
***
Kami meneruskan perjalanan. Mendaki ketinggian tanpa undakan. Menyisir tebing paling ngarai. Memanjat gigir yang lebih cadas dari stalaktit. Menjejak terjal paling koral. Menapaki magma paling batu yang menguras kesabaran juga kekuatan.
Sampai di sebuah lembah kami istirah. Mengeja yang nanti dan yang sudah.
Entah berapa waktu telah kami tatah. Pun berapa lagi yang akan terjamah. Kami tak tahu mula dan ujung, awal dan khatam. Aku menatap teman yang seorang, kudapati matanya memendam bimbang serupa.
“Apakah kita tetap menuju Al Malik?”
“Iya!” angguknya tandas. Meski kuyakin dia mengeja jalan-jalan buntu dengan letih paling kuyu.
“Al Malik….Al Malik…kami datang dengan seluruh ketidaktahuan. Terimalah langkah kecil kami yang begitu siput. Tuntun tapak lemah ini menuju Engkau. Tunjuki jalan yang Kau rahasiakan. Amiiin.”
Suara itu lebih dalam dari palung. Lebih getar dari gelombang. Aku terbawa magnitnya, meleburi kefanaan.
***
Sejurus aku tersadar pada dahaga yang paling lapar. Di sekelilingku rimbun pohon buah-buahan. Juga unggas yang siap jadi buruan. Kucari jawab pada matanya untuk menuntaskan hasrat.
“Jangan turuti kehendak nafsu. Kita bukan sedang mengembarakan keinginan raga. Biarkan jasadmu merana. Rasakan wisata jiwamu merindu Al Malik. Jika kau manjakan wadak itu, akan terpejam mata jiwamu dari Al Malik. Tahanlah…sampai Dia sendiri yang memberikannya.”
“Sampai kapan?”
“Sampai kita menemui-Nya.”
Aku diam, mengatur kehendak yang membuncah. Menjepit nafsu yang menggelagah. Bagai kabut dan asap saling mencegah. Seluruhku payah. Hingga kurasa sesesap jiwa bermandi cahaya.
Pada kali lain aku tergoda, teringat kekasihku, muasal segala cerita.
“Kekasih,…ikhlaskan jika aku tak lagi menemuimu. Kita yang saling ikat karena syahadah harus terpisah. Karena tebing yang kau ingin bukan Puncak Huangshan, gunung indah tempat bersenang.” Aku menggumam dalam kepasrahan.
“Lupakan dia. Al Malik tidak menyapa hati yang bertakhta sang lain di dalamnya.”
Kutatap sahabatku, dia lelah kuyu, tapi tak pernah disebutnya selain Al malik juga jalan-jalan selain jalan menuju Al Malik. Aku cemburu. Mungkin dia yang pantas bertemu Al Malik. Dan aku….
Bandar Lampung
Ramadan, 1431 Hijriah
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel GarcÃa Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati