Tampilkan postingan dengan label Wawancara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wawancara. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Januari 2018

LEBIH JAUH DENGAN DOKTOR IGNAS KLEDEN

Pewawancara: St. Sularto
jehovahsabaoth.wordpress.com

DOKTOR Ignas Kleden (46) berlatar belakang ilmu filsafat, tetapi kegiatan sehari-hari terutama di bidang sosial, politik dan kebudayaan. Tahun 1982 memperoleh gelar MA ilmu filsafat dari Universitas Munchen. Awal tahun 1995 memperoleh gelar doktor sosiologi dari Universitas Bielefeld, Jerman. Disertasinya menggugat studi-studi Clifford Geertz (69) tentang Indonesia secara keseluruhan.

Senin, 23 Januari 2012

HALIM HD: Perahu Bahan Refleksi Kita

Halim HD
Anton Bae (Pewawancara)
beritamusi.com

PADA Senin, 20 Juli 2009 lalu, penerbit Pustaka Melayu, Teater Potlot, dan BeritaMusi.Com, bertempat di kantor redaksi BeritaMusi.Com, Jalan Basuki Rachmad No.1608-I, Palembang, mengadakan peluncuran dan diskusi novel Perahu karya Conie Sema. Sebagai pembicara dalam diskusi tampil budayawan Halim HD, peneliti sastra dari Balai Bahasa Palembang Dian S, dan Sutrisman Dinah, seorang aktifis pers yang kini bekerja untuk Sriwijaya Post.

Selasa, 06 Desember 2011

Joko Pinurbo: Saat Ini Puisi bukan hanya Milik Penyair

Joko Pinurbo, Akmal Nasery Basral
http://www.ruangbaca.com/

“RASANYA saya pernah baca puisi di sini,” ujar Joko Pinurbo perlahan. Pandangan matanya lalu mengembara, menjelajah menembus remang malam, seperti ingin mencocokkan apa yang sedang dilihatnya itu dengan sekeping kenangan: tembok yang beberapa bagiannya mengelupas, halaman terbuka yang dirawat seadanya, dan sejarah panjang rumah itu: kantor majalah kampus Balairung, Universitas Gajah Mada, yang terletak di kawasan perumahan dosen Bulaksumur B-21.

Di langit, bulan seperti menua dengan cepat. Puluhan mahasiswa pengelola majalah duduk lesehan di depan Jokpin, nama panggilan penyair berusia 44 tahun ini. Wajah-wajah antusias mereka membentuk cuplikan siluet yang dihasilkan dari pendar kerlip lentera yang berserakan di atas tikar. Dengan sigaret yang seolah tak putus-putus menghuni bibir, suara lembutnya kembali terdengar seolah berzikir. “Ya, benar. Saya pernah baca puisi di sini bareng Wiji Thukul,” ujar peraih Khatulistiwa Literary Award 2005 ini seperti ingin meyakinkan diri sendiri.

Reporter Ruang Baca Akmal Nasery Basral yang hadir di antara hadirin Sabtu malam, 13 Januari itu, menyarikan diskusi yang berlangsung, ditambah dengan obrolan Jokpin sebelumnya dengan sejumlah peminat sastra di toko buku Toga Mas, Gejayan, beberapa saat sebelumnya, serta korespondensi dengan surat elektronik.

Apakah akan ada buku Anda yang direncanakan terbit tahun ini? Dan kemana arah licencia poetica yang ingin dituju?

Saya memang sedang menyiapkan buku kumpulan puisi terbaru. Saya masih belum tahu ke mana arahnya, mengalir saja. Tugas saya menulis, pembaca yang bersukacita, he, he, he … Masih dengan langgam yang konon sudah dianggap pembaca sebagai ciri saya. Namun saya tetap berusaha menyajikan sejumlah kisah baru, citraan baru, metafor baru, aforisma baru, dan sensasi-sensasi baru. Baru dalam arti belum ada dalam puisi-puisi saya sebelumnya.

Maksudnya Anda mengucapkan “selamat tinggal celana”?

Tidak juga. Masih ada makhluk bernama celana, tapi dengan sentuhan baru. Mungkin juga ada cerita mengenai “kesepian individual” dan “kesepian sosial”. Tapi tenanglah, tak ada kecap nomor satu. He, he, he …

Kesulitan apa yang Anda rasakan dalam penggarapan buku kali ini?

Secara makro boleh dibilang saat ini puisi bukan hanya milik para penyair. Para penulis novel dan cerpen pun semakin banyak yang bereksplorasi serius dengan diksi. Beberapa orang menurut saya bahkan meraih pencapaian estetika puisi yang cukup berhasil. Dunia industri pun menunjukkan kecenderungan serupa. Kalau kita lihat iklan sekarang ini, banyak sekali kalimat iklan yang menunjukkan kadar puitik yang tinggi, dan benar-benar diolah dengan rasa bahasa yang bagus. Ini tantangan bagi para penyair, terutama bagi saya sendiri. Sebab kalau kualitas sajak-sajak saya di bawah kualitas bahasa iklan, apa tidak sebaiknya saya berhenti sebagai penyair?

Bagaimana caranya mengolah peristiwa-peristiwa yang bersliweran sehari-sehari menjadi puisi?

Pertama saya punya ini (Jokpin mengeluarkan buku kecil dari saku celananya – red). Semua hal penting yang saya saksikan saya catat. Dan kalau sudah masuk buku ini, harus saya tuntaskan jadi puisi. Kalau sudah sampai rumah, saya pindahkan ke dalam komputer. Saya punya beberapa folder dari puisi yang belum jadi. Setelah jam 11 malam, biasanya saya olah lagi beberapa ide dalam folder itu. Kalau mandek di satu ide, saya pindah dulu ke ide yang lain. Itu salah satu enaknya mengolah puisi. Saya tidak tahu bagaimana dalam prosa, tapi di puisi berpindah-pindah dalam pengolahan ide itu cukup mengasyikkan.

Sekarang Anda dipandang sudah mempunyai gaya pengucapan sendiri yang berbeda dengan penyair-penyair sebelum Anda. Bagaimana proses pencariannya?

Saya sudah lebih dari 20 tahun menulis puisi. Artinya menulis secara serius. Saya pelajari sajak-sajak Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, Sutardji Calzoum Bachri, Sitor Situmorang, dan sebagainya. Saya pelajari betul-betul sampai saya tahu ciri masing-masing penyair. Dengan begitu lebih mudah bagi saya untuk menghindari gaya pengucapan yang pernah mereka lakukan. Tapi ternyata dalam perjalanannya ya tetap sulit juga. Boleh dibilang baru pada tahun 1996 itulah ketika saya menggunakan ungkapan-ungkapan celana, saya merasa menemukan gaya yang selama ini saya cari-cari.

(Serangkaian penjelajahan kreatif Jokpin yang menggunakan celana sebagai identitas puisinya, dimulai dari sajak berjudul “Celana, 1” di bawah ini.

CELANA, 1
Ia ingin membeli celana baru buat pergi ke pesta supaya tampak lebih tampan dan meyakinkan.
Ia telah mencoba seratus model celana di berbagai toko busana namun tak menemukan satu pun yang cocok untuknya.
Bahkan di depan pramuniaga yang merubung dan membujuk-bujuknya ia malah mencopot celananya sendiri dan mencampakkannya.
“Kalian tidak tahu ya, aku sedang mencari celana yang paling pas dan pantas buat nampang di kuburan.”
Lalu ia ngacir tanpa celana dan berkelana mencari kubur ibunya hanya untuk menanyakan,“Ibu, kausimpan di mana celana lucu yang kupakai waktu bayi dulu?”
(1996)
Sejak itu, berbagai macam “versi celana” sudah dihasilkan Jokpin dengan ciri-ciri: pilihan kata dan bentuk yang bersahaja, suasana yang segar cenderung lucu, namun tetap menyimpan tema-tema esensial, bahkan dengan kedalaman religiositas, seperti pada “Celana Ibu” yang ditulisnya pada 2004,
CELANA IBU
Maria sangat sedih menyaksikan anaknya mati di kayu salib tanpa celana dan hanya berbalutkan sobekan jubah yang berlumuran darah.
Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang ke kubur anaknya itu, membawakan celana yang dijahitnya sendiri.
“Paskah?” tanya Maria.
“Pas sekali, Bu,” jawab Yesus gembira.
Mengenakan celana buatan ibunya,
Yesus naik ke surga).

Jika Mei 1998 dijadikan salah satu tonggak sejarah Indonesia modern, adakah ciri-ciri signifikan yang membedakan puisi pra-reformasi, dan puisi-puisi pasca-reformasi?

Menurut saya tidak ada perbedaan mendasar. Tidak terjadi semacam patahan dan gempa, misalnya, yang membuat keadaan benar-benar berubah. Perbedaannya, sekarang ini tampak semakin banyak orang keranjingan puisi. Keranjingan menulis maupun sekadar menikmati puisi. Juga ruang untuk publikasi dan sosialisasi puisi semakin luas dan beragam, baik melalui media cetak maupun media cyber. Namun situasi ini, sekali lagi, belum melahirkan terjadinya perubahan mendasar atau radikal dalam khasanah perpuisian Indonesia jika yang dimaksud adalah perubahan yang, katakanlah, bersifat ideologis.

Apakah hal itu membuat anda kecewa dan risau?

Saya tidak gusar dan risau mengenai hal ini. Bagi saya, dengan terus berjalan dan berkembang sambil melakukan eksplorasi di sana-sini — inilah yang sepengamatan saya terjadi dalam dunia penulisan puisi kita sekarang — jauh lebih penting dari sekadar menciptakan sensasi besar yang sifatnya sesaat dan artifisial. Kenyataan ini menunjukkan bahwa dunia sastra, khususnya puisi, tidak mudah dikooptasi atau menjadi subordinasi dari dunia politik. Dan sesungguhnya, tanpa ada perubahan politik pun, dari dirinya sendiri sastra, dalam hal ini puisi, dituntut untuk terus berkembang, melakukan eskplorasi, menciptakan kesegaran-kesegaran. Jika tidak, dunia puisi akan stagnan dan membosankan.

Jika peristiwa sosial politik sebesar Peristiwa Mei 1998 yang mengakhiri dominasi rezim yang berkuasa puluhan tahun masih gagal menjadi inspirasi para penyair, lantas bagaimana Anda melihat pokok masalahnya?

Ada dua kemungkinan. Pertama, para penyair tidak tergiur lagi oleh kepalsuan-kepalsuan dan kesemuan-kesemuan dalam dunia politik. Memang pernah pada awal-awal masa “reformasi” kita kebanjiran sajak-sajak “reformasi”, tapi sebagian besar segera menguap karena mutu sastranya tak seberapa kuat dan lebih banyak ditulis dalam suasana euforia semata. Kedua, mereka tidak lagi terpukau pada metanarasi atau narasi-narasi besar. Banyak di antara mereka yang berusaha menghidupkan daya puitik dengan menggali dan menjelajah yang hal-hal yang (tampak) kecil dan sederhana untuk menyentuh esensi yang lebih dalam dan kompleks. Untuk mengungkap liku-liku pergulatan jiwa manusia. Saya teringat apa yang pernah dikemukakan W.S. Rendra dalam sebuah esainya di tahun 1982 tentang apakah ada faedahnya seniman menggarap peristiwa-peristiwa kecil. Menurut Rendra “…gagasan besar sering justru suka meminjam peristiwa kecil. Tidak semua gagasan besar harus punya wadah peristiwa besar…. Ironisnya justru gagasan-gagasan remehlah yang sering meminjam peristiwa-peristiwa yang dramatis atau eksentrik. Ironis pula bahwa seniman yang ‘sok seni’ hanya sampai pada ‘tipu seni’ dan bukan ‘daya seni’.”

Siapa saja tokoh-tokoh penyair yang menonjol pasca-reformasi, dan apa ciri utama karya-karya mereka?

Saya belum ingin menggunakan paradigma ketokohan. Kita masih perlu waktu untuk melihat dan menguji bobot “ketokohan” para penyair kita. Namun saya gembira melihat penyair-penyair muda berbakat kelahiran tahun 1970-an dan 1980-an yang muncul dan tumbuh berkembang setelah “gerakan reformasi”. Mereka itu antara lain Hasan Aspahani, Inggit Putria Marga, Raudal Tanjung Banua, Wayan “Jengki” Sunarta, Ricky Damparan Putra, Nur Zen Hae, Ari Pahala Hutabarat, Jimmy Maruli Alfian, Binhad Nurrohmat, Putu Vivi Lestari, Dina Oktaviani, Ira Komang Puspitaningsih, Aida Idris, S. Yoga, TS Pinang, Nanang Suryadi, Urip Herdiman Kambali, Firman Venayaksa, Pranita Dewi, Aurelia Tiara. Itu yang sempat saya amati, di luar itu saya kira masih banyak nama-nama lain.

Ada pengamatan khusus?

Baru sekarang saya menyaksikan munculnya generasi penyair yang jumlah penyair perempuannya agak sebanding dengan jumlah penyair pria. Mereka itu anak-anak muda yang pintar dan cerdas, memiliki wawasan intelektual yang luas, mungkin karena dukungan kemajuan teknologi informasi juga. Terus terang saya belum bisa merumuskan apa ciri utama karya mereka karena saya sendiri tengah menikmati mereka. Mungkin belum tampak ciri tertentu yang benar-benar dominan. Syukur jika malah beragam. Yang jelas, karya-karya mereka menunjukkan adanya upaya untuk menjelajahi sumber-sumber penciptaan yang beraneka warna, mulai dari tradisi sampai budaya pop. Juga ada usaha untuk menjajaki berbagai kemungkinan bentuk atau cara pengucapan. Kalau mau bekerja lebih keras, saya kira mereka memiliki potensi hebat untuk memberikan sumbangan berarti bagi perkembangan dunia puisi Indonesia.

Apakah sepengamatan Anda para penyair “baru” ini adalah mereka yang berusia muda, dalam arti masih berusia di bawah 40 tahun?

Oh ya, saya juga senang dan terharu melihat mereka yang sudah cukup umur ikut terjun ke gelanggang penulisan puisi dengan kegairahan yang mengagumkan. Sebutlah misalnya Mas Yohannes Sugiyanto dan Mas Slamet Widodo. Memang kreativitas tidak mengenal usia. Yang tua belum tentu kalah semangat dengan yang muda, dan yang muda silakan “bertarung” dengan yang tua. Dalam hal kerja kreatif dan pencapaian estetik, sebenarnya saya tidak suka menggunakan paradigma tua-muda, senior-yunior dan semacamnya. Kata seorang penyair, usia adalah “sebongkah harta yang tak terduga batasnya”.

Forum pertemuan para penyair kerap sekali diadakan, baik antar daerah, maupun pada tingkat fora internasional di berbagai kota di Indonesia. Jumlahnya bahkan lebih banyak dibandingkan forum-forum sejenis bagi prosais. Tapi mengapa kuantitas output berupa buku-buku puisi terlihat tak sederas karya-karya prosais?

Betul. Bahkan tampaknya semakin banyak orang ingin menjadi penyair. Artis ingin menjadi penyair. Pengusaha ingin menjadi penyair. Bahkan penulis prosa yang sudah sukses pun ingin menjadi penyair. Hahaha…. Tapi mengapa kuantitas produksi buku-buku puisi tak segencar buku-buku prosa? Saya kira ini karena pertimbangan bisnis saja. Bagi penerbit, buku puisi dianggap belum merupakan komoditas layak jual. Tetapi bisa juga yang terjadi adalah buku-buku puisi itu sendiri yang terkesan terlalu “angkuh”, seakan-akan ditulis untuk dinikmati penyairnya sendiri plus lingkaran kecil pertemanannya. Padahal dalam kenyataannya, bahkan para penyair pun belum tentu membeli buku puisi karya penyair lain, ha, ha, ha. Di sisi lain, bukankah buku-buku puisi karya artis malah lebih “mudah” diterbitkan dan lebih laku pula? Nah!

(Di akhir pertemuan malam itu, para mahasiswa meminta Jokpin membacakan salah satu puisi. Dia memilih Terompet Tahun Baru. “Ini sajak yang baru, dan karenanya saya masih hafal,” katanya.

Terompet Tahun Baru
Aku dan Ibu pergi jalan-jalan ke pusat kota untuk meramaikan malam tahun baru.
Ayah pilih menyepi di rumah saja sebab beliau harus menemani kalender pada saat-saat terakhirnya.
Hai, aku menemukan sebuah terompet ungu tergeletak di pinggir jalan.
Aku segera memungutnya dan membersihkannya dengan ujung bajuku.
Kutiup berkali-kali, tidak juga berbunyi.
Mengapa terompet ini bisu, Ibu?
Mungkin karena terbuat dari kertas kalender, anakku.

Para mahasiswa memberikan aplaus meriah atas pembacaan spontan itu. Dalam remang cahaya, terlihat mata penyair bertubuh ringkih itu memerah. Dia mencoba sekuat tenaga menahan agar butir-butir air di sudut matanya tak pecah).

Joko Pinurbo
Lahir: 11 Mei 1962
Pendidikan: Jurusan Sastra Indonesia IKIP (Sekarang Universitas) Sanata Dharma, Yogyakarta.
Antologi Puisi:
Celana (1999)
Di Bawah Kibaran Sarung (2001)
Pacar Kecilku (2002)
Telepon Genggam (2003)
Kekasihku (2004)
Pacar Senja – Seratus Puisi Pilihan (2005)

Penghargaan:
Penghargaan Sastra Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2002, untuk Di Bawah Kibaran Sarung).
Tokoh Sastra Pilihan Tempo (2001)

Selasa, 13 September 2011

9 Pertanyaan untuk Koh Young-Hun: Masyarakat Korea Semakin Berminat pada Indonesia

Ika Karlina Idris
http://jurnalnasional.com/25 Juli 2007

NAMA Prof Koh Young-Hun mungkin masih asing di telinga kita. Maklum saja, ia pakar Bahasa Indonesia dari Korea. Sedangkan Bahasa Korea hingga saat ini belum popular di Indonesia. Kunjungannya di Indonesia kali ini dalam rangka Seminar Internasional Sutardji Calzoum Bachri.

Dia menunjukkan, meski berbeda, namun ada kesamaan antara sastra Indonesia dengan Korea. Bahkan, ia pernah memberi tahu mahasiswanya bahwa orang-orang pintar berusia sampai 27 tahun saja. Kenapa? Karena Chairil Anwar dan Lee Sang meninggal pada usia itu. Keduanya adalah penyair handal di negerinya masing-masing pada masanya. Mereka tumbuh di lingkungan yang sama dan bergaul dengan semua lapisan masyarakat.

“Saya ini sudah 50 tahun. Jadi saya tak bisa lagi sepintar mereka,” ujarnya berkelakar.

Apa yang dilakukan Koh saat ini untuk mengenalkan sastra Korea di Indonesia? Berikut petikan wawancara Jurnal Nasional dengannya, Kamis pekan lalu, seusai seminar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

1. Mengapa tertarik belajar Bahasa Indonesia?
Saya masuk universitas tahun 1977. berarti sudah 30 tahun mempelajari sastra Indonesia. Awalnya saya tertarik karena saya anggap Indonesia itu penuh harapan. Saya kira masa depannya akan terang. Dengan begitu, tentunya Korea akan menjalin kerja sama dan pasti saya akan punya peranan di sana.

2. Sejak kapan Bahasa Indonesia dipelajari di universitas Korea?
Di Universitas Hankuk kajian Indonesia sudah ada sejak 1964. Tahun berikutnya, berganti menjadi Jurusan Kajian Melayu- Indonesia (Department of Malay-Indonesian Studies) Hankuk University of Foreign Studies (HUFS). Ini karena bahasa Melayu dan Indonesia hampir sama.

Sudah ada 2.000 lulusan kami dan ada 80 dosen yang mengajar. Bidangnya macam-macam, mulai dari linguistik, sastra, sampai politik. Tahun ini, pihak kami mengundang dua orang dosen tamu dari kedua kajian, salah satunya adalah Tomi Kristomi dari Universitas Indonesia (UI).

Pada tingkat S1, mahasiswa mempelajari sejarah kesusastraan, sastra, masyarakat Melayu dan sebagainya. Di tingkat S2, mahasiwa mengkaji sastra Indonesia lisan dan modern, penulis yang berpengaruh di Indonesia, dan penulis karya Melayu lisan. Sudah banyak lho orang Korea yang mendapat gelar S2 dan S3.

3. Sebaliknya, Bahasa Korea di Indonesia bagaimana?
Kajian Bahasa Korea baru ada tahun lalu di Fakultas Ilmu Budaya UI. Ada sekitar 45 orang yang diterima, setengah dari mereka menerima beasiswa dari perusahaan Korea yang ada di sini.

Lama beasiswanya bermacam-macam, mulai dari setahun sampai empat tahun. Saya pribadi kasih beasiwa ke satu orang, lamanya empat tahun. Minat belajar memang sudah ada. Hanya saja, staf pengajarnya belum cukup. Saat ini ada beberapa yang belajar di Korea, mungkin 3-4 tahun lagi baru jurusan ini bisa mandiri.

3. Berarti Indonesia tak punya ahli Bahasa Korea?
Bisa dibilang begitu. Padahal, merekalah yang dapat membantu kalau kedua negara mau memperluas kerja sama. SBY kan berkunjung ke Korea tanggal 24 Juli ini. Beberapa waktu lalu, ada telepon masuk ke saya bertanya tentang penerjemah.

Kalau ada presiden ketemu presiden, harus ada dua interpreter. Dari Korea ada banyak, tapi orang Indonesia yang interpretasi untuk presiden tampaknya tak ada. Lulusan UI saja belum ada. Jadi, mungkin harus gunakan Bahasa Inggris.

Jadi, pada dasarnya harus ada dua interpreter, dari Indonesia dan Korea. Coba pikirkan kalau hanya orang Korea saja yang menerjemahkan? Bisa-bisa memiringkan makna atau jadi tidak seimbang. Kalau ada makna yang dibelokkan bisa bahaya karena akan memengaruhi kebijakan masing-masing negara.

4. Selain sastra, apa ada persamaan lain antara Korea dan Indonesia?
Menarik sekali membicarakan ini. Tentu saja ada saya kira. Pram (Pramoedya Ananta Toer) pernah menggunakan istilah Koreanisasi pada sebuah makalahnya yang berjudul Indonesia. Pada tahun 1945, saat Jepang menduduki Indonesia, sebenarnya mereka sudah menjajah Korea lebih dulu. Karena itu Pram menganggap pihak Jepang membawa cara menjajahnya ke Indonesia.

Jadi cara efektif untuk menjajah Indonesia itu sudah ada, misalnya saja kerja paksa. Latar belakang budaya kita banyak persamaannya. Di Indonesia ada budaya priyayi, di Korea juga ada. Nilai-nilai dan latar belakang budaya tidak begitu berbeda.

5. Anda mengutip Pramoedya, suka tulisannya?
Ya. Bisa dibilang dia penulis kesukaan saya. Sampai-sampai S3 saya mengambil kajian tentang karya Pram.

Sebenarnya waktu itu saya mau ambil kuliah di Indonesia. Tapi, waktu itu tak ada dosen UI yang mau jadi pembimbing saya. Buku Pram kan dilarang beredar semasa Orde Baru, jadi dosen takut ditangkap. Akhirnya saya ambil gelar doktor di Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia. Selesai tahun 1993. Disertasi saya tersebut dibukukan dengan judul Pemikiran Pramoedya Ananta Toer dalam Novel-novel Mutakhirnya (1996).

6. Apakah saat ini ada proyek di Indonesia?
Bersama dengan Korea Translation Institute, kami ditugaskan Pemerintah untuk menerjemahkan 12 cerpen Korea ke lima bahasa asing, yaitu Thailand, China, Inggris, Vietnam, dan Indonesia. Cerpen ini mewakili setiap zaman, dari tahun 1950-an sampai 1990-an. Sastra itu kan mencerminkan kondisi masyarakat. Kalau sudah baca 12 cerpen itu, kemungkinanan kita sudah bisa kenal masyarakat Korea pada setiap zaman.

7. Seperti apa bentuk kerja sama antara kedua negara?
Pemerintah kita sudah beberapa kali saling mengunjungi untuk mempererat hubungan. Belakangan, jumlah perdagangan antara kedua Negara mencapai sekitar U$15 miliar, dan penanaman modal Korea di Indonesia sampai sekarang berjumlah U$11 miliar dalam 1.000 proyek.

Kenyataan ini bisa dimaknai bahwa Indonesia adalah negara ke-3 terbesar dalam jumlah penanaman modal Korea di luar negeri. Segala perkembangan kerja-sama dan gejala-gejala di Korea saat ini memperlihatkan bahwa rakyat kami semakin berminat pada Indonesia dalam berbagai bidang.

8. Mereka tertarik juga belajar Bahasa Indonesia?
Tantu saja. Lulusan kami yang 2.000 orang itu selama ini berperan penting. Merekalah yang menjadi peredam masalah yang timbul antara karyawan Korea dengan karyawan Indonesia di tempat kerja. Masalah itu bisa karena beda latar belakang sosial-budaya, nilai filsafat kehidupan dan etos kerja.

Mereka yang pernah belajar Bahasa Indonesia di kampus, tentu lebih kenal Indonesia daripada mereka yang tidak. Mereka berusaha mempunyai pandangan yang berpegang teguh pada nilai-nilai yang dihargai Indonesia melalui pendidikan.

9. Seberapa penting sebenarnya belajar sastra dan budaya kedua negara ini?
Penting sekali. Kalau orang Korea mau kerja sama dengan Indonesia, hanya bawa modal dan teknologi saja tak cukup. Mereka akan gagal karena tak tahu budaya dan latar belakang Indonesia. Saya yakin budaya menopang bidang-bidang yang lain. Kalau tahu budaya, kita tahu juga yang lain.
**

Biodata
Nama: Prof Koh Young-Hun
Tempat/Tanggal Lahir: 27 September 1958
Anak:
Koh Byoung-seo
Koh Soo-min
Pendidikan
- Sarjana Jurusan Kajian Melayu-Indonesia HUFS (1981)
- Magister Kesusastraan HUFS (1983), mengkaji novel Perburuan karangan Pramoedya
- S2 di Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia (1986)
- Doktor di Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia (1993)
Pekerjaan
- Ketua Jurusan Kajian Melayu- Indonesia (Department of Malay-Indonesian Studies) Hankuk University of Foreign Studies (HUFS)
- Pusat Kebudayaan Indonesia
- Wakil Ketua Korea Association of Malay and Indonesia Studies
- Wakil Ketua Global Association of Indology and Asia Studies

Dijumput dari: http://dindunz.wordpress.com/2008/08/09/ternyata-aku-tidak-bertepuk-sebelah-tangan/

Senin, 30 Mei 2011

Pertanyaan untuk Maman S. Mahayana, Kritikus Sastra Indonesia

Maman S. Mahayana
Pewawancara: Dony P. Herwanto
http://mahayana-mahadewa.com/

Kembali ke Akar Tradisi

Di sini (Korea.red) sudah jam sembilan malam Don. Begitu jawab Maman S. Mahayana, Kritikus Sastra Indonesia ketika wartawan Jurnal Bogor, Dony P. Herwanto menyapanya lewat jaringan pertemanan Facebook (FB). Maman yang tercatat sebagai warga Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor itu, kini tinggal di Korea. Alumnus Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) tahun 1986 itu juga tercatat sebagai Asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Depdiknas sejak 2000-sekarang, Konsultan Penerbit Balai Pustaka, Pembaca Ahli Jurnal Mahawangsa, Universiti Putra Malaysia, Pembaca Ahli Jurnal Asia Tenggara Hankuk University Korea, dan konsultan Jurnal Asia, jurnal dwibahasa Inggris-Korea, memuat khazanah sastra dari negara-negara Asia. Lantas, bagaimana Maman menilai perkembangan sastra dan peran sastrawan dalam pembentukan kebudayaan Indonesia? Berikut petikan wawancaranya.

{ margin-bottom: 0.21cm; }
Sejauhmana posisi dan peranan sastrawan (Indonesia) dalam pembentukan kebudayaan Indonesia?

Ini pertanyaan bagus dan saya pikir, pertanyaan itu juga “mewakili” pandangan masyarakat atas posisi dan peranan sastrawan Indonesia dalam kehidupan kebangsaan kita. Untuk menjawab pertanyaan itu, saya coba kembali dulu ke belakang. Siapakah yang merumuskan konsep Tanah Air, Ibu Pertiwi, Tanah Tumpah Darah(ku) sebagai sebuah wilayah politik yang bernama Indonesia yang mencakupi keberadaan pulau-pulau yang membentang dari Sabang sampai Merouke? Coba baca puisi-puisi Mohammad Yamin. Maka, kita akan menemukan, penyair itulah yang melontarkan gagasan tentang Tanah Air Indonesia sebagai kesatuan wilayah politik. Yamin pula salah seorang yang merumuskan pernyataan Sumpah Pemuda itu. Bagaimana seorang penyair dapat berpikir jauh ke depan tentang konsep abstrak yang bernama Indonesia?

Siapa pula yang awalnya coba memikirkan tentang konsep kebudayaan Indonesia?

Coba perhatikan pula pemikiran Ajip Rosidi tahun 1950-an dan usaha sastrawan Angkatan 70-an (Abdul Hadi WM, Sutardji Calzoum Bachri, Danarto, dll) yang terkenal dengan gagasannya “Kembali ke Akar kembali ke tradisi”. Jika pemikiran para sastrawan itu ditarik ke wilayah politik, itulah yang sekarang ini berlaku di berbagai daerah: Otonomi Daerah? Jadi, para sastrawan sudah memikirkan, pentingnya sastrawan mengangkat kekayaan wilayahnya sejak tahun 1950-an itu yang lalu semarak tahun 1970-an.

Sudah sejauh mana Anda menilai perkembangan sastra nusantara saat ini?

Sebagai sastra Indonesia yang berkembang di wilayah Nusantara, adanya otonomi daerah memungkinkan mereka bergerak lebih leluasa, menerbitkan buku-buku sastra dan melakukan berbagai kegiatan sastra yang tentu saja akan sangat berpengaruh bagi dinamika kehidupan sastra. Jadi sekarang ini, munculnya sastrawan dari berbagai daerah itu, salah satunya tentu saja dimungkinkan oleh adanya keleluasaan mereka dalam melakukan pergerakannya yang tidak terkungkung sebatas bermain di wilayahnya sendiri. Kondisinya sekarang ini sangat baik dan akan lebih baik di masa yang akan datang.

Apa pendapat Anda terhadap kritik sastra yang kerap dituding mengalami krisis?

Jika masih ada yang beranggapan bahwa kritik sastra (Indonesia) mengalami krisis, jawabannya ada tiga kemungkinan (1) dia tidak memahami hakikat dan kategori kritik sastra, (2) dia tidak membaca sejarah, dan (3) tidak memahami kritik sastra sekaligus tidak tahu sejarah dan sekadar cari sensasi yang sebenarnya sudah sangat basi. Isu tentang kritik sastra mengalami krisis, itu isu yang -seperti tadi saya katakan-sangat basi, usang, dan kedaluwarsa. Lihatlah sejak awal tahun 1930-an, berapa banyak esai sastra, resensi buku sastra, biografi sastrawan, ulasan atas karya sastra. Itu semua adalah bagian dari kritik sastra. Cuma, esai-esai itu termasuk kategori kritik sastra umum.

Apa hubungan sastra dengan konteks perkembangan masyarakat?

Ada hal yang menarik dari pertanyaan ini, yaitu bahwa dalam perkembangan sastra Indonesia rupanya sering sangat dipengaruhi oleh perkembangan masyarakatnya. Maka, lihat saja, bagaimana sastra Indonesia awal (tahun 1920-an) tumbuh dan berbeda dengan sastra Indonesia (lama) lantaran ada perubahan yang terjadi di masyakarat. Begitu juga melihat karya-karya zaman Pujangga Baru, zaman Jepang, Angkatan 45, tahun 1950-an, Angkatan 66, Angkatan 70-an, sampai ke sastra kontemporer sekarang ini. Perubahan yang terjadi di masyarakat selalu diikuti dengan perubahan tema dan gaya pengucapan sastrawan Indonesia.

Cukupkah fungsi Koran dalam menjaga dinamika kehidupan sastra bagi, oleh dan untuk masyarakat kita?

Jika mengingat bahwa koran sekarang ini tidak terlepas dari tarik-menarik antara kepentingan komersial dan kepentingan ideal, maka menurut saya, fungsi koran dewasa ini sudah cukup memberi kontribusi. Sayangnya, banyak juga suratkabar yang lebih memilih iklan atau berita kriminal daripada memuat karya sastra. Padahal, pemuatan karya sastra atau esai sastra di suratkabar, apalagi ditulis oleh para pemula, itu sesungguhnya investasi kultural untuk masa depan. Mereka nanti akan menjadi penulis atau sastrawan andal yang karya-karya mereka itu dimuat.

Apakah Anda menilai ada usaha “meluruskan” sejarah sastra yang konon banyak diselewengkan?

Buku-buku sejarah sastra Indonesia memang perlu direvisi. Banyak hal yang harus diperbaiki, beberapa di antaranya menyangkut: (1) periodesasi yang tidak membuat dikotomi sastra Indonesia lama dan sastra Indonesia baru; (2) nama-sama sastrawan yang luput dari catatan sejarah; misalnya, peranan sastrawan peranakan Tionghoa, peranan suratkabar dalam ikut menyemarakkan kehidupan sastra, (3) pentingnya memasukkan persoalan di belakang lahirnya sebuah teks sastra, misalnya, bagaimana puisi “Tanah Air” Muhammad Yamin lahir dan apa yang melatarbelakangi gagasannya itu, (4) pentingnya memasukkan sastrawan yang berada di berbagai daerah sebagai bagian dari sastra Indonesia; bukankah Indonesia tidak akan lengkap tanpa daerah-daerah itu. Jadi, sastra Indonesia harus meliputi juga perkembangan dan dinamika sastra di berbagai daerah itu, (5) pentingnya melakukan inventarisasi komunitas-komunitas sastra di berbagai daerah di seluruh Indonesia untuk melengkapi peta sastra Indonesia.

Adakah tindakan nyata untuk melakukan perubahan itu?

Dinamika kehidupan sastra di berbagai daerah merupakan bentuk dari usaha melakukan perubahan itu. Termasuk terbitnya sejumlah buku baru (tentang kesusastraan Indonesia) yang mencoba pula melihat kawan-kawan sastrawan dari berbagai daerah di Indonesia.

Apa yang Anda kerjakan di saat senggang?

Membaca dan menulis adalah bagian dar kehidupan saya sehari-hari. Membaca dan menulis dalam pengertian yang luas. Bukankah ketika kita sedang menunggu kereta, melihat lalu lalang pedagang asongan, itu juga bagian dari membaca (kehidupan). Bukankah ketika kita berada di atas pesawat dan asyik memandangi awan, itu juga bagian dari membaca (kebesaran Tuhan). Itu semua kemudian ditulis (pada kertas, atau dalam hati). Ketika kita melihat seorang pengemis, misalnya, di sana kita membaca, ada sesuuatu yan tak beres dari kehidupan bangsa ini. Kita membaca kehidupan di sekita kita. Lalu kita tulislah keprihatinan kita itu dalam hati dan pikiran kita, bagaimana kita berbuat sesuatu, betapapun kecilnya.

Senin, 08 November 2010

Wawancara Paramoedya Ananta Toer: “Yang Tidak Setuju, Ya minggir Saja”

Mustafa Ismail, Arif Zulkifli, Hermien Y. Kleden, Mardiyah Chamim
http://majalah.tempointeraktif.com/04 Mei 1999

SEBELUM berangkat, Pram bersedia menerima Mustafa Ismail, Arif Zulkifli, Hermien Y. Kleden, Mardiyah Chamim, dan fotografer Robin Ong dari TEMPO hingga beberapa kali. Sembari mengenakan kaus putih dan kain sarung, Pram, ketika menjawab pertanyaan TEMPO, sesekali suaranya meninggi dan keras tatkala menjawab pertanyaan agak sensitif.

Lahir di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925 sebagai anak sulung dari sembilan bersaudara, Pram mengaku ayahnya seorang nasionalis yang pernah dipenjara Belanda. Sejak SD, “Saya banyak membaca karena orang tua saya mempunyai perpustakaan yang cukup besar untuk ukuran kota kecil,” tutur Pram.

Pram mulai membaca koran dalam bahasa Belanda, Melayu, dan Jawa sejak usia delapan tahun, sehingga ketertarikannya pada sejarah dan politik tampaknya dimulai pada usia yang sangat dini. Pendidikan formalnya hanya berakhir hingga SMP, tetapi minatnya untuk mendalami ilmu pengetahuan dan politik tetap intens.

Pada awal 1960-an, Pram dikenal sebagai salah satu tokoh Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), organisasi yang berafiliasi kepada PKI (Partai Komunis Indonesia).

Kegiatan Pram di Lekra dan wewenangnya sebagai staf redaksi Lentera, lembaran budaya harian Bintang Timur, belakangan membuat ia terlibat dalam polemik terkenal, yang hingga kini tampaknya masih menyimpan rasa tak nyaman pada beberapa sastrawan yang berseberangan dengan dia.

Ini disebabkan perbedaan konsep berkesenian di antara kedua kubu itu: kubu pertama, Pram dengan Lekra-nya. Kubu kedua adalah pencetus Manifes Kebudayaan. Perbedaan kedua kubu itu kemudian dirangkum dalam sebuah buku yang komprehensif berjudul Prahara Budaya yang disusun oleh Taufiq Ismail dan D.S. Moeljanto.

Terakhir, pada 1965, PKI tumbang. Orang-orang yang bersimpati dan berafiliasi dengan partai itu pun “diangkat”. Ada yang dibunuh, tidak sedikit pula yang dipenjarakan. Salah seorang yang dipenjarakan itu adalah Pram, yang sampai dibawa ke Pulau Buru. Tanggal 13 Oktober 1965, Pram ditangkap di rumahnya—kini disita—di kawasan Rawamangun dan ia mengaku dianiaya hingga pendengarannya terganggu.

Di Pulau Buru, hidupnya selama belasan tahun tidak mematikan semangatnya untuk menulis. Beberapa karyanya—tetralogi pulau Buru, dimulai dari Bumi Manusia, Jejak Langkah, Anak Semua Bangsa, dan berakhir dengan Rumah Kaca–berhasil diselundupkan ke luar dan diterbitkan.

Pada 1979 ia dibebaskan, meski melalui berbagai rintangan. Ia tetap rajin menulis, dengan tulisan tangan atau dengan sebuah mesin tik tua, karena, “Saya tidak bisa mengikuti irama teknologi,” katanya ketika ditanya mengapa tidak menggunakan komputer. Dengan kacamata setebal plus empat setengah, ditemani 32 batang rokok sehari, Pram mengisi hari-harinya dengan membaca koran serta mendokumentasikannya dengan rapi di perpustakaannya yang mengagumkan dan terpelihara.

Berikut adalah petikan wawancara Pram dengan TEMPO beberapa hari sebelum keberangkatannya ke AS:

Waktu di Pulau Buru, apakah pernah terpikirkan bahwa Anda akan seperti ini, diundang ke mana-mana?

Tak pernah membayangkan. Menulis, bagi saya, adalah tugas pribadi dan tugas nasional. Setelah saya menyelesaikan tugas, ya sudah, saya tak pernah memikirkannya atau membaca ulang tulisan saya sendiri.

Anda kan banyak menulis roman sejarah, termasuk saat di Pulau Buru, bagaimana mengorganisasikan data itu?

Penulisan tetralogi itu punya sejarah panjang. Setelah saya menerbitkan Hoakiau di Indonesia, saya diculik dan ditahan. Pulang dari tahanan ini, saya diminta mengajar di Universitas Res Publica (sekarang Universitas Trisakti). Bagaimana saya mengajar di perguruan tinggi? SMP saja saya tidak tamat. Jadi saya mengajar dengan cara saya sendiri. Setiap mahasiswa yang saya beri kuliah, saya wajibkan mempelajari koran selama satu tahun, lalu mereka membuat naskah kerja. Saya mengajar mulai 1962 sampai 1965. Kalikan saja, tiga puluh naskah dari 30 mahasiswa. Itu sekian tahun yang saya pelajari, saya mendapat petunjuk, sumber-sumber historis. Dari sanalah saya mempunyai bahan-bahan sejarah.

Tapi waktu Anda dibawa ke Pulau Buru, bahan-bahan itu kan ditinggal?

Kalau ada sesuatu yang sangat menarik, saya tidak lupa.

Apa betul untuk mengingat kembali setting sejarah dan mengembalikan ingatan, Anda selalu menceritakan berulang-ulang kepada teman-teman di Pulau Buru?

Ceritanya, sebelum diberikan izin menulis, sekitar sebelum pemilu tahun 1971, kami—sekitar 12 orang—dikucilkan dan tak boleh bergaul di antara satu dengan yang lain. Saya bercerita kepada mereka setiap saat apel. Akhirnya cerita itu menyebar ke seluruh kamp konsentrasi yang tak kecil itu. Luas Pulau Buru itu satu setengah kali Pulau Bali sementara kamp konsentrasi itu luasnya sepertiga dari Pulau Buru. Pada 1973 saya baru dibebaskan dari pengucilan.

Apakah Anda dikenal oleh kawan-kawan itu sebagai pencerita?

Oh, tidak. Praktis tidak begitu. Saya menulis saja. Tetapi waktu itu keadaan sedang genting karena ada 11 tahanan politik dibunuh. Karena keadaan yang mencekam itu, saya bercerita untuk mengendurkan ketegangan dan juga untuk menunjukkan: lihat Nyai Ontosoroh, dia perempuan, seorang diri melawan kekuasaan kolonial. Kalian lelaki, masa musibah begitu saja bisa turun morilnya. Dan ternyata berhasil.

Apa betul pembebasan Anda pada 1979 ada campur tangan pihak asing?

Betul. Sebelum meninggalkan Buru kami harus menandatangani surat pernyataan bahwa kami diperlakukan dengan baik. Sebagai tahanan politik yang tak punya hak, ya kami tanda tangani saja. Ternyata, di utara Selat Madura, sekitar 30 orang diturunkan dari kapal. Sementara itu, kapalnya langsung berangkat ke Jakarta. Rencananya, sebetulnya, kami mau disembunyikan di Pulau Nusakambangan. Tapi, sejak di Pulau Buru, tampaknya kami sudah diamati oleh gereja Katolik. Saya melihat sendiri orang gereja itu diusir, ia tidak boleh dekat-dekat. Tapi dia memantau sampai dunia internasional tahu bahwa ada sebagian tahanan politik yang tak diangkut ke Jakarta. Lantas itu menjadi berita internasional.

Setelah diketahui persoalannya oleh pihak internasional, rupanya mereka mengalah.

Bagaimana dengan pembelaan Anda terhadap Soekarno, terutama berkaitan dengan para sastrawan tahun 1960-an yang menyerang Bung Karno dengan pandangannya yang membatasi pengarang melalui Manifes Kebudayaan. Kenapa Anda begitu kukuh membela pandangan realisme sosialis sampai sekarang ?

Saya tak pernah membela realisme sosialis. Saya memang diminta berbicara mengenai realisme sosialis di UI. Dengan pengetahuan saya yang sedikit ya saya laksanakan. Kok terus dicap pendukung realisme sosialis. Saya terima undangan itu justru untuk mencari input.

Sekarang kan Anda dekat dengan beberapa orang Manifes Kebudayaan, tetapi kelihatannya masih berjarak juga dengan beberapa yang lain. Apa yang membedakan sikap Anda ini?

Soal Manifes Kebudayaan, itu persoalan pada masa Soekarno, saat Indonesia terjadi perang dingin. Semua orang supaya bersatu melawan Barat yang menghendaki Indonesia jadi jarahannya. Saya membantu Soekarno dan itu didukung juga oleh semua yang menghendaki Indonesia menjadi negara yang mandiri. Sementara itu, Manifes Kebudayaan kan menghendaki kebebasan kreatif. Itu dilakukan setelah Central Inteligence Agency (CIA) membuat kongres. Setelah itu baru muncul Manifesto Kebudayaan (Manikebu). Dan kita tahu tujuan CIA. Itu yang kita lawan. Soekarno sendiri mengatakan bahwa ia tahu orang-orang yang menerima uang dari Amerika berikut jumlahnya.

Anda menganggap penanda tangan Manifes Kebuda-yaan itu pengkhianat Soekarno?

Menurut saya begitu. Sampai sekarang rasanya tidak berubah.

Sejauh mana sih Manifes Kebudayaan merongrong kewibawaan Soekarno?

Karena mereka memecah kesatuan untuk menghadapi Barat.

Bukankah orang Manifes Kebudayaan itu sedang mengkritik Soekarno?

Itu bukan mengkritik. Ia membuat jalan lain yang merugikan.

Apakah hubungan Anda dengan H.B. Jassin baik-baik saja?

Dia guru saya. Tetapi, setelah saya menilai ia tidak konsekuen dengan ajarannya, ya saya tinggalkan. Dia guru saya yang mengajarkan tentang humanisme universal. Lantas ada penindasan terhadap minoritas Tionghoa, dia diam saja. Ada pembantaian jutaan orang, dia diam saja. Hak-hak satu setengah juta orang dirampas dan diinjak-injak, dia diam saja. Malah dia diberi penghargaan Mahaputra oleh Orde Baru. Jadi bagaimana prinsipnya tentang humanisme? Karena itu, ketika dia sakit, no. Saya tidak mau tahu.

Sebetulnya berapa keras benturan antara Anda dan orang-orang Manifes Kebudayaan ketika itu?

Saya cuma membuat polemik. Saya hanya menulis. Masa semua kekuatan ini harus erkepal pada jari tinju untuk membela dan memukul lawan RI. Itu saja. Yang tidak setuju, ya minggir saja. Negara kan dalam keadaan bahaya. Soekarno sendiri sudah tujuh kali lolos dalam pembunuhan.

Anda juga dituduh membakar karya-karya orang Manifes Kebudayaan?

Omong kosong. Kalau saya bakar dokumentasi orang lain, kan gila. Jika saya mau, saya bawa pulang.

Kenapa Anda seperti hidup dalam dendam masa lalu?

Itu terserah saja, kan orang punya pendapat. Menurut penilaian saya sendiri saya tidak pernah mengkhianati prinsip saya.

Apa betul sastrawan-sastrawan Lekra, katanya, dulu sangat arogan dan menindas?

Menindas? Kekuasaannya itu dari mana? Yang berkuasa itu Angkatan Darat karena menguasai teritorial. Saya bekerja membantu harian Bintang Timur. Kantor Bintang Timur pernah dilempar granat sekali, tak pernah ada penyelidikan. Padahal Bintang Timur itu loyal terhadap Soekarno. Pelarangan-pelarangan ide itu bukan berasal dari Soekarno, bukan dari Lekra, tapi Angkatan Darat. Koran-koran dibredel. Itu dilakukan oleh Angkatan Darat. Tapi yang dituduh melakukan itu Lekra. Aneh-aneh saja.

Sekarang kita bicara karya sastra. Dalam Bumi Manusia, buku itu seperti bercerita sendiri. Kemudian terjadi pergeseran teks pada Jejak Langkah saat pengarang menjadi pihak yang berkisah. Apakah itu disengaja?

Cerita itu yang bermain sendiri. Dan ini memang satu cara menulis yang saya pelajari dari Steinbeck dan Idrus. Jadi, kalau kita membaca, kata-kata itu membangunkan gambar di dalam otak. Sampai setua ini, itulah cara saya (menulis).

Dengan sastra membela rakyat, seperti yang Anda katakan, apakah itu bukan bagian pandangan realisme sosialis?

Barangkali. Tetapi saya tak tahu betul. Saya hanya menulis yang saya yakini. Dan keyakinan terbesar adalah berpihak pada rakyat dengan cara dan kemampuan apa pun. Bahwa itu disalahkan silakan saja, itu hak orang lain. Karena itu, saya tak pernah merasa punya musuh dalam sastra.

Kalau setiap karya harus menyuarakan rakyat, lalu sebetulnya bagaimana penilaian Anda terhadap karya yang tak bercerita tentang rakyat?

Ya, boleh saja bercerita tentang individual asalkan membela kebenaran, keadilan.

Dalam sebuah karya sastra mana yang lebih penting, pembelaan pada rakyat, atau keindahan yang diciptakan dalam karya sastra itu?

Soal keindahan itu banyak persoalan. Apa itu keindahan? Menurut Pujangga Baru, keindahan itu terletak pada bahasa. Bagi saya, keindahan itu terletak pada kemanusiaan dan perjuangan untuk kemanusiaan: pembebasan terhadap penindasan. Jadi keindahan itu terletak pada kemurnian kemanusiaan, bukan dalam mengutak-atik bahasa.

Kalau yang lebih penting adalah pemihakan kepada rakyat, sementara keindahan itu nomor dua, lalu apa bedanya antara karya sastra yang membela rakyat dan pidato politik yang membela rakyat?

Ya, itu sejalan saja. Setiap orang tidak bisa lepas dari politik. Politik dalam hal ini berarti kekuasaan. Segala sesuatu yang bersinggungan atau terangkum dalam kekuasaan adalah politik. Mengibarkan bendera Merah Putih serta pemihakan pada RI itu sudah politik. Membayar pajak itu sudah politik, karena itu memberikan masukan kepada kas negara. Kalau tak menolak menjadi warga negara Indonesia itu juga politik. Tidak ada yang bebas dari politik.

Termasuk karya sastra?

Termasuk. Semuanya.

Katanya Anda tak membaca karya-karya sastrawan Indonesia, Anda tak tertarik atau tak mau?

Tidak ada artinya untuk saya. Orang dalam penindasan, membaca dengan foya-foya. Membaca buku Perjalanan Pengantin (karya Ajip Rosidi, Red.), saya tak bisa. Orang yang tertindas seperti saya tak bisa menikmati karya seperti itu.

Kalau karya Seno Gumira Adjidarma?

Cuma karya dia yang saya baca. Satu saja cerpennya yang saya baca. Dan itu sudah lama sekali. Ketika saya baru pulang dari Pulau Buru. Dan saya lihat dia pengarang baik. Dia mempunyai keberanian. Tidak ragu-ragu menyatakan kebenaran yang dia anggap kebenaran

Novel Saman karya Ayu Utami?

Satu halaman saya baca. Isinya seks melulu. Untuk saya, itu kan sudah lewat.

Apakah itu sebabnya semua tulisan Anda, jika bukan novel-novel tentang revolusi, novel sejarah?

Ya, karena, menurut saya, sejarah itu penting. Sejarah itu kan rumah tempat orang melanglangi dunia. Jadi, kalau dia tak tahu dari mana ia berangkat, ia tak mengerti tujuan.

Peristiwa Mei, misalnya, jatuhnya Orde Baru, apakah akan dibuat novel?

Saya tidak menulis itu. Itu merupakan suatu bagian dari proses yang belum selesai. Soal Orde Baru. Jika saya tulis juga, itu menjadi jurnalisme. Bukan sastra.

Dari sekian karya Anda meski-pun Anda tidak pernah membacanya kembali, mana yang paling Anda sukai?

Sama saja. Semua itu anak-anak rohani saya. Masing-masing punya sejarahnya sendiri. Semua saya sayang.

Kebebasan ini membuat Anda kembali berkumpul dengan keluarga. Apakah Anda pernah berterima kasih untuk kembali berkumpul dengan Orde Baru itu?

Terima kasih? Buat apa saya berterima kasih. Pernah ada pertemuan dengan wartawan lokal dan luar negeri. Mereka bertanya apakah saya tidak menginginkan amnesti. Lha, yang berhak memberikan amnesti itu saya kepada kekuasaan. Seperti sekarang, Budiman menolak grasi, itu (keputusan) yang betul. Kenapa diampuni, memang dia salah apa? Kan persoalannya karena pemikiran dia tidak sama dengan penguasa. Sekitar tiga tahun sebelumnya saya ucapkan itu: saya yang berhak memberikan amnesti, bukan sebaliknya.

Menyemai Sastra dari Ujung Timur Pulau Dewata

Nyoman Tusthi Eddy
Pewawancara: Asti Musman
http://www.balipost.co.id/

BAGI kalangan sastrawan, Kepala SMU Amplapura Nyoman Tusthi Eddy cukup dikenal. Pria kelahiran Pidpid, Karangasem tahun 1945 yang menyemai sastra dari ujung timur Pulau Dewata ini sering menulis puisi dan artikel di sejumlah koran. Selain koran lokal, juga jurnal budaya yang diterbitkan di Malaysia dan Brunei. Dalam pengamatan penulis yang telah menerbitkan 16 buku sastra ini, dunia mengarang, seringkali dipandang sebelah mata oleh para siswa, dan orang awam pun menilainya hanya sebagai pekerjaan seorang seniman yang hobi melamun. Padahal, menurutnya, mengarang akan membuka lebih luas gagasan dalam pikiran kita yang bisa disampaikan dalam kerja sehari-hari. Apakah Anda, sidang pembaca, salah satu orang yang benci dengan pelajaran mengarang? Jangan menjawabnya terlebih dulu sebelum Anda membaca hasil wawancara Bali Post kali ini. Hasil wawancara ini juga disiarkan di Radio Global FM, Sabtu (26/4) kemarin.

PELAJARAN mengarang kembali diaktifkan dalam ujian nasional, apa komentar Anda?
Sebenarnya pelajaran mengarang dari dulu sudah ada. Cuma dalam tes evaluasi tahap akhir nasional sejak tiga tahun yang lalu tidak muncul dalam Ebtanas. Sejak tahun ajaran 2002/2003, pelajaran mengarang dimunculkan kembali. Kemunculan kembali pengajaran mengarang ini sebagai ujian praktik dalam rangka menyongsong pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi. Dalam kurikulum itu, setiap pelajaran yang dipelajari siswa bukan saja harus dipahami secara teori, tetapi juga harus mempunyai kompetensi atau harus benar-benar memahami bidang terapannya. Nah, untuk itu, kembali pada bahasa Indonesia, bidang terapannya yang paling jelas adalah mengarang.

Apa keuntungan mengarang?
Jika orang mengatakan bahwa mengarang itu adalah pekerjaan merenung, sastra adalah hasil renungan, itulah citra yang terjadi berpuluh-puluh tahun ada dalam masyarakat. Ini karena masyarakat kita hanya ada beberapa persen yang memahami sastra. Karangan sebenarnya merupakan pengungkapan kehidupan nyata. Karena itu tidak benar kalau karangan itu hasil perenungan. Keuntungan karang-mengarang itu banyak. Misalnya, di perguruan tinggi seseorang harus menulis skripsi, lebih tinggi lagi menulis tesis, lalu disertasi. Orang yang saat sekolah kesulitan mengarang, lalu terbawa-bawa hingga keperguruan tinggi. Di sana ia akan setengah mampu kalau menyusun skripsi. Ini saya buktikan pada banyak mahasiswa. Banyak yang mengatakan sulit menulis skripsi.

Nah, ini artinya ia kesulitan karang-mengarang. Sebenarnya menulis skripsi itu paling mudah. Saya berpengalaman menulis skripsi walaupun hanya skripsi sarjana muda. Menulis skripsi itu sangat mudah karena bahannya tersedia dan teknik menulisnya juga ada. Pola-polanya sudah disediakan, tuangkan saja, kan banyak juga pembimbing. Menulis puisi, itu yang paling sulit. Bisakah saudara mendapatkan puisi dalam tiga bulan? Belum tentu. Kalau saya menargetkan skrispi itu dalam enam bulan, jika bahan sudah ada dan outline-nya disetujui, jangankan enam bulan, tiga bulan saja sudah selesai. Dulu skripsi saya diberi target tiga bulan, tapi dalam dua bulan sudah selesai.

Lantas bicara soal kualitas guru yang kurang memadai, apakah peningkatan finansial akan menggairahkan mereka?
Saya kira tidak selalu letaknya di sana. Gaji guru berapa kali naik? Di era otonomi daerah tunjangan guru lebih banyak sumbernya, misalnya dari daerah dapat, dan ada sumber lain. Musyawarah Guru Bidang Studi juga diadakan. Tetapi mutu guru tetap tidak meningkat. Memang ia jalan, namun hanya jalan di tempat. Jadi bukan soal uang. Kebanyakan bukan soal itu. Kecuali jika mau seperti imbauan pemerintah, jika saudara jadi guru terpaksa, itu sudah diketahui oleh pemerintah. Sekarang saudara sudah terjun ke sana. Cobalah saudara berdamai dengan profesi guru. Sama dengan orang dikawin paksa. Kalau mau dua atau tiga tahun tumbuh cinta antara keduanya, baguslah. Tetapi kalau sudah punya anak dan masih ada sekat yang sulit ditembus, pada akhirnya ia akan cerai. Baik itu cerai kamuflase atau cerai beneran.

Di sisi lain, Anda juga suka menulis puisi, apa keuntungannya?
Jawabannya, menulis puisi itu tidak punya arti apa-apa. Tetapi sebagai manusia, bagi saya, menulis puisi itu ada artinya. Sama saja, artinya jika manusia hanya mengurusi perut dan maunya enak tidur, itu artinya manusia itu tidak berevolusi. Manusia berevolusi itu bukan hanya fisiknya, namun juga mentalnya tahap budayanya juga berevolusi. Jika ada yang mengatakan, pak tidak ada gunanya menulis puisi, itu hanya klangenan. Jika ada yang mengatakan demikian, maka banyak hal di kebudayaan manusia ini tidak ada gunanya. Apa gunanya kesenian? Apa gunanya main layang-layang? Apa gunanya agama? Orang yang enggak beragama juga sehat-sehat, misalnya di Rusia zaman dulu, memang benar fisiknya sehat, namun bagaimana dengan jiwanya? Puisi adalah salah satu skrup yang mencirikan manusia adalah manusia. Itu hasil kebudayaan.

Dalam buku CD Louise diinterpretasikan tentang orang yang cacat fisik, maka untuk mengkompensasikannya mereka menulis puisi. Mengapa? Dengan menulis puisi-puisi mantra karena fisiknya tidak berjalan normal, mentalnya normal, maka puisi-puisinya memiliki tuah. Secara magis bisa dinikmati. Misalnya, panah-panah dibacakan puisi sebelum dipakai berburu. Sehingga apa yang diharapkan akan terjadi dalam kenyataan.

Lantas, pendapat Anda melihat perkembangan puisi saat ini?
Perkembangan puisi saat ini sangat kompleks. Ini beda jika dibandingkan awal saya menulis di Bali Post, karya-karya lebih seragam. Tema yang dipakai saat itu lebih banyak tema sosial atau filosofi kehidupan. Sedangkan sekarang, tema sosial memang ada, namun lebih mengarah ke protes. Struktur atau komposisi puisinya juga jauh lebih kaya dibandingkan dulu. Pada tahun 1970 hingga 1980-an puisinya masih konvensional, tidak jauh dari gaya puisi Angkatan 45. Sekarang rasanya hampir tidak dapat terdeteksi lagi.
Hanya Bali Post yang konsisten menerbitkan puisi.

Apakah ini mengkhawatirkan karena media lain tidak melakukan hal itu?
Ya, sebagai penulis puisi, itu memang kurang sehat, cukup mengkhawatirkan. Seharusnya semua media sekarang ini memberikan ruang pada itu.

Bagaimana dengan perkembangan puisi yang ditulis dalam bahasa Bali?
Sebelum ada putra Bali yang menerima hadiah Rancage, puisi-puisi berbahasa Bali yang dimuat di Bali Post memang kurang menggembirakan. Puisi hanya dipakai untuk menutup ruang kosong. Tetapi setelah sekitar delapan orang putra Bali yang menerima Rancage, pemuatan sastra Bali modern di Bali Post semakin bagus. Memang biasanya yang diprioritaskan yang berbahasa Indonesia, namun bagi saya itu tidak masalah, sama saja. Bahkan dulu ketika Saba Sastra Bali membuka ruangan di Bali Post, di sana spesial satu halaman untuk sastra Bali, baik cerita pendek, kajian dan puisi.

***

Anda akan tetap tinggal di Karangasem?
Saya ingat ketika pak Fuad Hasan menjadi Mendikbud, saya pernah meminta rekomendasi buku saya “Mengenal Bali Modern”. Lalu beliau menulis surat pada saya, “Dik Tusthi, saya tahu Karangasem, saya pernah berkunjung ke sana. Sebaiknya Anda tetap saja tinggal di Karangsem! Jangan berlatah-latah setiap penyair harus pindah ke Jakarta. Tinggallah di Karangasem, karena daerah itu kondusif, masih murni”.

Tetapi sebenarnya ada alasan lain, mengapa saya tidak pindah ke mana-mana. Karena saya guru, saya pikirkan masalah finansial. Dengan gaji seperti sekarang, saya bisa makan pasir di Denpasar! Kedua, saya ingat teori kreativitas. Di mana pun dia tinggal, dia akan tetap kreatif. Dalam biografinya Boris Pasternak, saat ia akan mapan sebagai pengarang, ia kembali ke desa. Dari sana ia mengarang. Saya lihat juga pengarang-pengarang yang lain. Misalnya seperti Umbu Landu Paranggi yang sekarang sangat membenci Yogya, katanya Malioboro sudah bukan Malioboro lagi. Bahkan Wianta juga kembali ke desanya. Jadi, di mana pun ia sebenarnya bisa berkreativitas. Ini bukan egonya seniman.

Anda guru dan juga seniman tulen, bagaimana upaya merangkum keduanya?
Saya rasanya bukan seniman tulen. Saya sedikit seniman palsu. Yang namanya ilham, namanya kreativitas, sering saya korbankan di meja kerja saya di sekolah. Ini contoh nyata, sekali waktu ketika saya mengerjakan tugas-tugas dinas, misalnya saya diobsesi oleh ilham untuk menulis cerpen saya segera menulis. Karena mencatatnya tidak suntuk dan saya masih tersita perhatian dengan tugas dinas, maka ketika saya lihat catatan itu kembali ilhamnya bisa hilang.

BIODATA
Nama : Nyoman Tusthi Eddy
Tempat/tgl lahir : Pidpid, Karangasem, 12 Desember 1945
Nama istri : Ni Nengah Wijani
Nama anak-anak : I Gede Agustina Adi Sumantri
Made Lily Hermayanthi
Ketut Budi Sastrawan
Putu Dedy Ariawan

Pekerjaan :
Kepala SMU Saraswati Amplapura
Asisten Dosen Universitas Mahasaraswati Denpasar Kelas Eksekutif di Amplapura/FKIP
Ketua Seksi Sastra Nasional Listibiya Kabupaten Karangasem
Penulis puisi, cerpen, esai, artikel dan resensi buku di Bali Post, Suara Karya, Kompas, Horison, Basis, Warta Hindu Dhrama, Sarad dan sejumlah media lainnya.

Radhar Panca Dahana: Ada Masalah dalam Pola Relasi Kesenian Kita!

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

Teaterikalisasi puisi dari buku antologi karya penyair Radhar Panca Dahana yang berjudul Lalu Batu kemarin digulirkan Teater Kosong di Gedung Kesenian Jakarta 10-11 April. Para aktor menyajikan pertunjukan yang ekspresif. Padahal, improvisasi bahasa puisi yang menjadi ”bahasa milik aktor” bukan pekerjaan yang mudah.

Namun yang menjadi perhatian malam itu—siapa lagi—kalau bukan Radhar Panca Dahana, sang penyair yang kondisi kesehatannya sempat memburuk. Ia tampil penuh semangat. Beberapa karya puisi yang telah dihafalnya di luar kepala begitu lancar dan lantang diucapkan malam itu.

Ditemui secara terpisah oleh SH, Radhar menyatakan antologi berjudul Lalu Batu itu sangat bermakna bagi dirinya.

Bagi Radhar, manusia mengejar waktu, lewat ilmu pengetahuan dan teknologi. ”Salah satu obsesi manusia adalah mengalahkan waktu,” ujarnya. Pada intinya, perjalanan mengalahkan waktu itu adalah sebuah upaya menaklukkan si empunya waktu juga, menaklukkan Tuhan. Karena baginya pemilik waktu adalah Tuhan.

Lalu Batu punya maksud bahwa batu adalah ”tempat berdiamnya waktu”. Ketika dia menjalani proses dan akhirnya dimakamkan pun dia menjadi batu. Seperti sebuah fosil. Jadi, kalau dia menjalani sebuah proses, maka ujung akhirannya adalah batu.

Radhar, selain dikenal ”bandel” juga termasuk orang yang kreatif. Menanggapi itu, sekalipun membantah, dan mengatakan bahwa yang bandel itu pada hakikatnya bukan cuma seniman dan tak paralel dengan kreativitas yang dia lakukan selama ini.

Dalam pertemuan dengan SH, Radhar menegaskan ketertarikannya yang lebih pada puisi ketimbang prosa yang cenderung beretorika. ”Saya jenuh beretorika. Pada puisi kita bisa lebih mengutamakan makna,” tandas penyair yang telah menghasilkan beberapa antologi puisi dan satu cerpen itu.

Berikut, Radhar mengungkapkan lebih banyak lagi pandangannya tentang sastra Indonesia.

Kenapa Anda lebih tertarik pada puisi? Prosa tak menarik ketimbang puisi?

Bagi saya, bukan puisi lebih menarik dari prosa, tapi puisi lebih sulit dari pada prosa. Dunia kita sekarang adalah dunia yang dikuasai prosa, dunia yang prosaik. Dunia prosaik ini sudah dikuasai seluruh kepentingan yang ada di bumi—kepentingan politik, bisnis, agama, dan lain-lain. Semua bermain dengan prosa yang sangat bagus, retorikanya bagus, tetapi tetap dunia retorik.

Padahal, retorika yang pernah menjadi raja di abad pertengahan telah dipinggirkan pada abad ke-19. Pelajaran retorika di kuliah filsafat juga sudah tidak ada. Namun, dunia sekarang justru kembali pada retorika dan ternyata sukses.

Seorang kritikus sastra dari Prancis, Antoine Compagnon, mengatakan retorika kembali muncul pada milenium baru dengan bukti-bukti seperti itu. Dunia prosaik yang semacam itu bagi saya sangat ganas, sangat liar, karena tiba-tiba orang harus berebut untuk hidup dengan mempertahankan retorikanya, termasuk media massa. Media massa ‘kan begitu, main gede-gedean headline. Sampai sekarang yang paling banal, paling jorok sudah muncul ‘kan?

Perbedaannya dengan puisi?

Puisi adalah tempat kata-kata mendapat penghargaan setinggi-tingginya. Puisi adalah sebuah dunia tempat kata-kata dimainkan seminimal mungkin dan seefektif mungkin untuk bisa menyelami makna sedalam-dalamnya. Cuma, persoalannya ternyata kemajuan sudah begitu luar biasa. Dunia prosa membahana. Perubahan-perubahan sudah lagi tidak tertangkap dalam pikiran kita dan sudah tidak termuat lagi dalam bahasa. Bahasa apa pun sudah tidak cukup lagi menggambarkan kenyataan sekarang.

Baru-baru ini JS Badudu memunculkan kamus bahasa serapan, begitu tebal. Artinya bahasa serapan sudah begitu banyak. Dengan bahasa serapan yang berasal dari Inggris, Jawa, Sunda itu pun bahasa Indonesia belum cukup mumpuni untuk menggambarkan kenyataan sekarang. Penyair pun mengalami kesulitan. Bagaimana dengan bahasa yang semiskin itu kita harus menggambarkan realitas semesta yang begitu kayanya. Penyair mengalami krisis ketika bahasa sebagai senjata utamanya, mengalami pemiskinan yang luar biasa. Ada berbagai macam bahasa baru dari dunia teknologi, sains dan lain-lain, yang tidak begitu mudah tercerap di dalam puisi. Puisi-puisi mutakhir tiba-tiba memasukkan begitu saja kosa-kata baru, lemari es, komputer, digit, karena dia terbata-bata melihat itu. Seorang penyair sangat sensitif terhadap hal seperti itu. Seorang penyair kan sebelum ini menerakan sebuah kata misalnya ”kau” atau ”antipati”, ini kata asing. Dia harus mengerti dulu dong, apa yang disebut dengan ”antipati”, apa yang disebut dengan ”kau”. Tapi sekarang dalam dunia yang gagap seperti ini, kita main masuk-masukin kata sebelum kita tahu apa artinya. Kenapa? Kita juga mengalami kesulitan untuk memaknai kenyataan dan kehidupan melalui kata-kata itu. Kehidupan ini aku maknai dengan kata-kataku. Dan kata-kata tidak cukup.

Nah, kecepatan perkembangan hidup peradaban kita sekarang ini, seperti kata Bill Gates, tidak diukur lagi oleh kecepatan melainkan oleh percepatan. Sementara bahasa berkembang seperti siput. Kita ngomong salah sedikit aja langsung dikoreksi, ‘eh salah lo!’ Orang Minang bilang, ‘Itu bahasa Jawa’. Terus, orang Sunda bilang itu bahasa sanskrit. Orang main tuding-tudingan. Lha terus kenapa kalau bahasa Jawa?

Bahasa planet juga boleh, prokem diinjek-injek dan lain-lain. Kita harus melepaskan bahasa dari
telikungan-telikungan itu, penjara-penjara itu. Makanya waktu ”Masa Depan Kesunyian”, ”97”, kumpulan cerpen saya, dibacakan dengan 10 bahasa. Marissa Haque baca bahasa Belanda. Desy Ratnasary baca bahasa Sunda. Rano Karno bahasa Betawi, Teguh Esha bahasa prokem. Satu cerpen bisa diekspresikan dengan berbagai bahasa yang pemaknaannya jadi beda-beda. Jadi sumber kekayaan dong, bagi bahasa, pengetahuan dan bagi kebudayaan itu sendiri. Jadi kalau begitu bahasa dibatasi, begitu pula membeku peradaban.

Tanggapan Anda terhadap sejarah kesusasteraan yang berlangsung lambat dan kurang dinamis?

Saya kira yang harus ditanggapi bukan karya-karyanya saja, tetapi pola relasi antara para seniman tersebut. Saya kira, kita ada masalah dengan pola relasi tersebut. Masalahnya, adanya kecenderungan, nah ini mungkin agak sentimental, ada kecenderungan yang terciptanya satu pola relasi patronklienistik. Artinya saya sangat menyayangkan beberapa teman yang harus menggantungkan diri kepada kekuatan-kekuatan literer tertentu yang didukung oleh kekuatan non-literer, misalnya kekuatan media, ekonomi, kekuatan politik dan lain-lain sehingga kekuatan sastranya sendiri tidak cukup bisa dipertahankan karena dia juga harus mempertahankan yang lain-lainnya itu.

Termasuk politik kesenian di dalamnya?

Termasuk dong. Artinya secara langsung sastra atau dunia literer itu sudah dipolitisasi untuk menciptakan kekuatan-kekuatan ini. Yang pada akhirnya dia berkompetisi. Kalau kompetisi itu sampai pada tingkatan dunia intelektual, katakanlah melahirkan cara berpikir, cara pandang, mazhab, sesuatu yang tersendiri dalam cara melihat kehidupan kita, nggak apa-apa. Itu bagus. Tapi kan kadang-kadang yang terjadi bukan perang konsep. Perang emosi. Perang sentimentalia, perang masa lalu, itu nggak perlu kan? Makanya saya bilang patronklienistik.

Itu berpengaruh pada sejarah sastra kita?

Sangat berpengaruh. Karena kemudian beberapa pengarang atau seniman yang tidak bisa terserap atau terhisap pada pusaran-pusaran itu, dia jadi terpinggirkan, teralienasi dan dengan sendirinya kesempatannya, peluangnya berkurang. Tampil dalam forum lokal dan internasional berkurang. Ia mungkin berbakat tapi tidak mempunyai kemampuan relasional yang bagus. Kemampuan publikasi yang bagus. Tidak punya modal yang cukup untuk bergaul, tidak bisa ngumpul di kafe-kafe untuk gimana gitu. Saya adalah pengarang yang mulainya dari situ. Saya adalah seniman kere sejak dulu. Sejak SMP saya sudah menghasilkan uang sendiri.

Tren seperti itu sejak kapan?

Sejak 80-an. Ada beberapa pengarang yang tidak setuju dengan tren itu akhirnya terpinggirkan karena dia tidak mampu main lagi di sentrum.

Anda punya keinginan untuk mencari solusinya?

Saya tidak pernah membayangkan diri saya untuk jadi solusionis, orang yang menciptakan solusi solusi. Cuma saya ingin memperlihatkan kenyataan itu saja. Disetujui atau tidak. Banyak orang mungkin tidak menyetujui mungkin ya dengan cara menipu dirinya sendiri. Silakan saja. Tapi bagi orang yang bisa melihatnya dengan clear dan jernih, harus mengakuinya kan?

Bukan tak mungkin, suatu saat, Anda pun bisa saja tersesat di labirin itu?

Bisa saja! Bisa saja! Memangnya saya tidak merasakan tarikan itu? Saya ditarik-tarik. Betot kanan betot kiri. Dan saya harus melawan itu untuk bisa mempertahankan independensi kita. Menjadi manusia yang independen sekarang ini, dalam bidang apa pun sangat sulit, termasuk sastra.

Angkatan Pujangga Baru tidak dalam kondisi seperti itu?

Saya kira juga iya, tetapi dalam pengertian yang berbeda. Ada cara bermain yang lebih fair. Artinya
kalau memang berbakat walaupun mungkin bukan selebriti dinilai dengan saksama. Bukan karena ia anak presiden, kita harus memberi perhatian yang saksama sehingga penilaian karya sastranya menjadi bias. Penilaian karya sastra jangan dikaitkan dengan yang nonliterer. Jangan dikaitkan dengan yang sifatnya politis, sosial, kultural, nggak bisa dong.

Atau kesalahan semua ini karena sekarang kita tak punya pengamat sastra?

Sebenarnya pengamat sastra itu selalu ada. Selama masyarakat ada, pengamat itu ada. Karena pengamat yang paling utama adalah masyarakat itu. Kalau kamu punya pengamat seribu tapi tidak ada masyarakat, siapa yang mau beli? Untuk apa puisi diciptakan. Yang penting kan pengamatnya masyarakat itu sendiri. Kritikus mati nggak apa-apa kalau masyarakatnya tetap ada. Nah, masyarakat yang hidup apresiatif sastra itu yang harus kita tumbuhkan. Jangan menumbuhkan kritikus-kritikus
hebat tapi mayarakatnya buta. Jangan dibalik dong.

SAPARDI DJOKO DAMONO: Saya Sudah Lama Mempermasalahkan Waktu

Pewawancara: Ibnu Rusydi
http://korantempo.com/

Sapardi Djoko Damono kini berusia 69 tahun. Tapi, ia tak berhenti berkarya. Baru-baru ini ia meluncurkan buku puisi terbarunya, Kolam. Di Komunitas Salihara, Senin malam lalu, penggiat dan penggemar sastra membludak mengikuti diskusi bukunya.

Sapardi dengan tenang mendengarkan diskusi. Dia masih saja sederhana, dengan topi pet dan jaketnya yang itu-itu lagi. Seusai diskusi, dengan ramah dan rendah hati, ia masih tinggal melayani deretan permintaan tanda tangan dan foto bareng dari para fan. Setelah ruangan sepi, Tempo pun berbincang-bincang dengannya. Berikut ini petikan wawancara dengannya:

Puisi Anda kini dikatakan banyak menggunakan negasi?

Soal banyak negasi, saya tidak tahu. Ketika menulis saya tidak sadar. Saya juga kaget, “Oh, iya, tho?” Itulah gunanya nguping terhadap kritik dari orang.

Anda agak lama menulis Kolam?

Memang. Saya menulis tidak lancar lagi. Saya menulis Kolam pertama kali sejak 2003 atau 2004, terus diam lama. Saya betul-betul mencoba mencapai suatu teknik pengucapan yang tidak terpikir. Soneta, menulisnya itu tidak mudah, rumitnya minta ampun.

Apa pencapaian Anda di Kolam?

Saya ada pada taraf ketika aksara menjadi sangat penting. Sebetulnya ini mulai sajak Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro? (2002). Saya bermain-main dengan huruf besar dan italic. Tapi, kemudian saya lihat, hal-hal teknis ini tak penting bagi pembaca. Namun, ternyata bisa dipakai untuk menyampaikan sesuatu yang sangat problematik dalam kehidupan manusia: kontradiksi makna ganda dalam hidup. Karena sastra kita sastra tulis, ya lewat permainan huruf itu.

Anda bermain juga dengan Internet. Misalnya di Facebook. Tapi tak tampak banyak pengaruhnya di Kolam?

Saya tak tahu sampai seberapa jauh (teknologi) itu harus saya akui. Tapi memang, saya sadar ketika menulis sajak Di Depan Laptop, ternyata jargon dan konsep itu, pengertian itu, diksi itu, bisa dipakai. Cuma, memang saya belum seperti yang lain.

Sajak singkat Tempias menyiratkan kegelisahan Anda terhadap waktu yang berlari semakin cepat?

Saya sudah lama mempermasalahkan waktu. Memang ini concern saya sebenarnya (di sajak) itu, mulai lahir sampai mati. Kadang-kadang dalam hidup, sosial harus saya jadikan masalah saya sendiri, masalah personal. Kalau tidak, tak akan jadi (karya). Misalnya ada masalah Marsinah, Mei 1998, yang sebelum menjadi masalah personal, saya belum bisa menulis (tentang itu).

Kurt Vonnegut pernah bilang, “Penulis seperti radio yang menangkap “siaran” kreativitas dari sebuah pemancar, dari sebuah tempat di semesta.” Menurut Anda?

Saya kira iya. Tapi yang datang bukan konsep, melainkan kata. Bukan ide, tapi kata, ungkapan, imaji. Beranak-pinak kata-kata itu. Itu membentuk diri sendirinya sebagai sebuah dunia. Kata dengan sendirinya bergerak ke sana-kemari. Sebetulnya, yang membawa saya adalah kata-kata itu. Bukan saya yang membawanya.

Apa lagi yang Anda ingin capai sekarang?

Moga-moga, sampai pada ketika saya tidak ada, saya masih bisa menulis, tidak jompo, serta tidak linglung dan lupa. Saya selalu membayangkan bagaimana cara menulis yang lebih baik. Bila mentok, tidak bisa, cari cara pengucapan yang lain. Saya tak ingin ketika meninggal masih ada naskah yang belum jadi. Itu siksaan.

Jumat, 29 Oktober 2010

Berkarya = Tantangan yang Harus Dilewati [Remy Sylado]

Remy Sylado
Pewawancara: Lona Olavia
http://www.suarapembaruan.com/

Seni adalah ungkapan perasaan, demikianlah pernyataan yang sering kita dengar mengenai seni. Memang, jika kita renungkan sejenak, maka sesungguhnya ungkapan tersebut benar adanya. Sebab, seni itu sendiri memang merupakan ungkapan dari pengalaman-pengalaman batin seseorang yang kemudian dituangkan melalui berbagai medium seni, yang akhirnya dapat kita nikmati sebagai sebuah mahakarya.

Bagi seorang seniman, seperti Remy Sylado yang biasa juga ditulis dengan angka 23761 yang diambil dari chord pertama lirik lagu All My Loving karya The Beatles, berkarya adalah sebuah tantangan yang harus dilewati. Berkarya adalah menjawab tantangan dan memecahkan permasalahan-permasalahan yang timbul, baik permasalahan yang ada di dalam diri sendiri maupun berbagai permasalahan yang ada di luar diri.

Keinginan-keinginan untuk memecahkan permasalahan itulah yang mengakibatkan kan seorang seniman berkarya dan terlihatlah bahwa setiap bentuk karya seni memuat unsur-unsur budaya. Kemudian dengan menggunakan berbagai ungkapan yang dipilihnya, maka lahirlah sebuah potret tentang kebudayaan.

Kesenimanan Remy Sylado tak diragukan lagi. Budayawan yang berkecimpung dalam seni musik, seni rupa, sastra, dan teater ini membuat dirinya pantas menjadi salah satu seniman komplet yang digemari masyarakat Indonesia.

Pada tahun 2002, sosok budayawan populer seangkatan dengan WS Rendra ini mendapat penghargaan Sastra Khatulistiwa untuk karya novelnya. Kemudian, pada tahun 2003 mendapat penghargaan Festival Film Bandung (FFB) sebagai aktor terpuji untuk aktingnya di film. Pada tahun yang sama, Remy meraih Anugerah Indonesia untuk karya-karya teater musikalnya.

Tak hanya itu, pria kelahiran Makassar 12 Juli 1945 silam itu, tiga tahun kemudian (2006) juga berhasil memenangi anugerah sastra terbaik oleh Pusat Bahasa untuk novelnya. Serta, meraih penghargaan dari Istana Wakil Presiden sebagai satu-satunya kritikus musik dan Anugerah Satya Lencana Kebudayaan dari negara, karena kepeloporannya di bidang kesenian kontemporer.

Dalam kariernya yang serbabisa, Remy Sylado pun sering didaulat menjadi pembicara kunci bidang sastra dan bahasa, di universitas-universitas di dalam dan luar Indonesia.

Berikut, hasil wawancara seniman komplet yang bernama asli Yapi Panda Abdiel Tambayong dengan SP, di kediamannya daerah Cipinang Muara, Jakarta, baru-baru ini.

Bagaimana pandangan Anda terhadap budaya bahasa yang diasimilasi?

Bahasa Indonesia sebenarnya jangan harus dicurigai dan diharuskan menjadi bahasa asli Nusantara. Sebab, bahasa Indonesia sesuai namanya Indo, artinya dapat menyerap segala macam kosakata dari lintasan budaya yang masuk ke Indonesia.

Jadi, harus selalu terbuka untuk menyerap, tapi sebelum menyerapnya harus disesuaikan dahulu dengan lafal kita. Lagi pula, itu hal biasa dalam sebuah bangsa yang modern. Namun, kita harus memiliki kesepakatan untuk menjaganya, supaya dapat mencapai tingkat yang mulia.

Bagaimana cara melestarikan bahasa Indonesia?

Bahasa Indonesia dapat kita lestarikan lewat karya sastra, karena gawang bahasa dilihat dari kemampuan sebuah bangsa dapat menciptakan karya sastra. Pasalnya, penggunaan bahasa dalam karya sastra dinilai sebagai peranti yang paling asasi.

Sejauh mana perkembangan karya sastra di kalangan anak muda?

Saya nilai sudah maju. Itu terlihat dari banyaknya karya sastra yang ditulis dengan latar remaja yang lazim disebut teenlit. Saat ini, peluang untuk menjadi penulis sangat terbuka lebar, tidak seperti pada tahun 60-an. Dulu, untuk menjadi pengarang, orang harus melalui sebuah persyaratan yang sulit, layaknya melamar menjadi wartawan di media cetak. Kalau, sekarang kan sudah tidak lagi.

Sekarang soal seni musik. Bagaimana menanggapi alat musik dan lagu tradisional yang diklaim milik bangsa lain?

Kita harus melihat persolan itu dengan sedikit arif. Sebab, sebagian besar orang yang mengklaim itu adalah orang Indonesia yang menjadi imigran lalu menjadi

warga negara sana. Mereka sudah tinggal di sana sejak tiga turunan dan sering dinyanyikan lagu Indonesia oleh neneknya, sehingga otomatis lagu ataupun alat musik itu menjadi satu kesatuan dengan bangsa tersebut. Jadi, janganlah kita terlalu panas melihat masalah itu.

Apa yang harus dilakukan untuk mencegahnya muncul lagi?

Pemerintah harus secepatnya memasukkan kekayaan bangsa Indonesia ke dalam Undang-Undang Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).

Mengenai seni rupa, apa pengaruh teknologi terhadap perkembangan seni rupa, khususnya seni lukis?

Semakin canggihnya teknologi yang mengakibatkan orang bisa mendesain dengan menggunakan komputer berdampak pada bermunculannya variasi-variasi baru dalam dunia lukis. Jadi, mau tidak mau, kita harus melihat itu sebagai perkembangan proses kebudayaan.

Contohnya, dahulu orang bikin animasi hanya dengan menggambar di secarik kertas, namun sekarang bisa tiga dimensi dengan menggunakan komputer. Maka dari itu, kita harus melihatnya sebagai penemuan bentuk seni rupa baru, yaitu seni rupa yang bisa bergerak.

Soal seni pertunjukan, kenapa dunia teater kita terkesan lambat berkembang?

Menurut saya, itu disebabkan empat hal. Pertama, pola berpikir kita tentang teater di Indonesia, pada umumnya masih terbatas pada model tahun 50-an dan 60-an. Jadi, melihat cara mengucapkan intonasinya dianggap harus mengeluarkan urat nadi. Kedua, teater kita tidak bisa memasuki dunia orang membutuhkan. Maksudnya, kurang bisa menghadirkan tontonan yang baik dan bermutu.

Ketiga, kurang ada kemauan dan juga keberanian dari para sineas teater untuk keluar dari model tahun 50-an dan 60-an, serta menyajikannya secara unik. Keempat, ada dilema yang muncul antara ingin menjadi teater Barat dan ke-indonesiaan.

Bagaimana cara menumbuhkan teater?

Sineas teater kita harus berusaha keras berpikir baru, supaya teater Indonesia dapat menjadi bagian yang dibutuhkan. Caranya, dengan menyajikan cara pertunjukan yang baru. Misalnya, seperti yang dilakukan sineas dalam menyajikan pertunjukannya di beberapa kafe di kota Paris atau disebut teater kafe.

Selain itu, kita juga harus bisa memahami secara betul istilah modern teater tahun 50-an yang berorientasi pada sastra dan 70-an antara gagasan barat dan pola tradisonal, yang hanya sebatas pengertian kontemporer.

Sementara di abad 21 ini. dengan hadirnya komputer, kita harus bisa memanfaatkannya secara optimal untuk mengembangkan pertunjukan teater moderen. Sehingga, pertunjukan itu mampu memberikan dua sisi hal yang menarik kepada penonton, yaitu sisi hiburan dan sisi kekayaan intelektual.

Senin, 27 September 2010

Sastra Islam versus Penyempitan Ilmu Islam

http://gusdurian.net/
Majalah Horison, 7/1984

Wawancara Abdurrahman Wahid, sang kiai dari Ciganjur, dengan Hardi, wartawan Majalah Horison. Tulisan ini masih sangat relevan bagi kita, untuk mengkaji gugus pemikiran Gus Dur. Terutama dalam hal dialektika antara Islam sebagai sebuah agama, dengan Islam sebagai sebuah hasil kebudaayaan. Dengan membaca ini, –meski dalam pandangan saya materi wawancara lebih bisa diperdalam,– setidaknya ada pintu masuk bagi kita untuk mempelajari setiap perca pemikiran sang cucu Hadlratusy-Syaikh Hasyim Asy’arie tersebut. (Saiful Amien Sholihin)

Lahir di Denanyar Jombang pada tahun 1941, merasa nggak pernah lama kumpul dengan ayahnya, karena sang ayah jadi menteri agama di Jakarta. Lucunya, bapaknya tak pernah mau sekolahkan di madrasah tetapi di sekolah rakyat, sekolah umum. Dari sekolah dasar ia ke SMEP, baru setelah itu ke pesantren.

Dia kuliah di al-Azhar Mesir. Menurut pengakuannya ia bosan dengan formalisme (sementara itu seorang temannya dengan mudah mengejek dan mengomentari…bosan atau tidak mampu mengikuti kuliah?…) di universitas tersebut dan lari ke Irak di Universitas Baghdad. Di situ ia merasa bahwa agama benar-benar sebagai objek studi, waktu itu ia berumur 26 tahun dan 4 tahun ngendon di sana. Lantas pulang ke tanah air, dan sekarang merintis pesantren Ciganjur. Muridnya datang pergi, belum bisa dikatakan. Sebab bikin pesantren dalam sepuluh tahun pertama jangan mengharap muridnya lebih dari belasan, katanya.

Abdurrahman Wahid orangnya ceria, gemuk tapi kesan lambannya hilang begitu berbicara dengan Jawa medoknya, fasih, lancar, dan tidak formal, tapi bagi yang formal pikirannya, bisa memerahkan telinga.

Tolong deh, pak kiai jelaskan tentang sastra Islam? Misalkan tentang adanya keharusan bersumberkan Al-Qur’an atau Hadis. Tentu saja lebih afdol kalau digambari latar belakang kesejarahan.

Sebelum saya menjelaskan pendirian saya, kita harus melihatnya dari dua jurusan perkembangan studi, sebagai pengertian itu sendiri dan kedua adalah pemahaman kita dari perkembangan selama ini.

Kalau kita lihat perkembangan historis, sebenarnya sastra Islam bagian dari peradaban Islam. Jadi, sastra bagian dari peradaban. Dan peradaban itu adalah benteng yang agung dari kebudayaan. Kalau diikuti ini lantas sebenarnya kita bisa melihat bahwasanya peradaban Islam itu suatu gabungan yang mempunyai dua sikap yang utama, di satu pihak watak eklektik dari peradaban Islam itu, yaitu watak yang mampu menyerap, menyerap dari mana saja! Umpamanya kalau kita baca fabel-fabel dari al-Zais, maka banyak unsur-unsur yang diambilkan dan Yunani, Romawi, India itu dalam karangannya yang berjudul Kitabulhayawan yang terdiri dari empat jilid yang tebal. Itu merupakan kisah binatang yang terlengkap, dan di dalamnya kita bisa melihat dari sudut pengetahuan umum, sastra, juga pengetahuan kejiwaan orang dan sebagainya. Nah….di sinilah al-Zais meramu kebudayaan yang berbagai lalu menjadikannya bagian-bagian dari peradaban Islam.

Lain kita lihat yang namanya Abu Hanifah seorang ahli fikih. Dalam bayangan kita seorang ahli fikih itu mesti seorang yang sarungan, memakai jubah yang tak pernah keluar rumah hanya menekuni soal-soal akhirat dan dunia ini. Tetapi, kenyataannya ia seorang arsitek, yang kebetulan ia memborong pembuatan pagar kota Baghdad. Nah! Di situlah ia ketika membuat lengkung gapura (Arcade) ia mengambil dari daerah Asia Tengah. Bukan dari Arab, mudahnya dari Afganistan, Samarkand Rusia atau daerah yang disebut beyond the river, daerah Iran paling timur. Abu Hanifah mengambil itu dan dia dipuji-puji dalam suatu kronikel sejarah. Ternyata lengkungan gapura Hanifah itu daya tampungnya, bobotnya jauh lebih baik daripada lengkungan Arab. Padahal waktu itu daerah tersebut bukan daerah muslim. jadi mudahnya ia mengambil arsitektur non-Muslim dan memasukannya menjadi arsitektur Islam.

Satu contoh lagi seorang yang bernama Abu Amrin Ibnu Alla’ adalah seorang ulama yang terkenal asketik sekali. Dia salah seorang dari sepuluh pembaca Al-Qur`an yang sah (cara membaca Al-Qur’an itu ada sepuluh gaya, jadi ada majroha ada majrehe…jadi intonasi dan diksinya). Di antara sepuluh itu ada Abu Amrin itu. Lha, Abu Amrin itu salah seorang musikolog yang mengambil musik India. … Kita semua tahu musik India bersumberkan pada agama Hindu yang panteistik nafasnya.

Al Khalil ibnu Ahmad adalah seorang peletak dasar bahasa Arab, karena dia penyusun kamus yang pertama dalam bahasa Arab, kamus Ain dalam dua jilid. Menarik sekali di dalam kamus tersebut ia membagi ilmu dalam sepuluh bagian. Mengikuti pembagian para ilmuwan Yunani, jadi ada fisika, metafisika, estetika, politika…… pokoknya yang bejumlah sepuluh itulah. Padahal al-Khalil itu seorang yang amat streng di dalam masalah Al-Qur`an. Ia streng dalam gramatika, sehingga jangan sampai ada penyelewengan dalam pengertian. Lho, tapi anehnya, kok ia tidak segan-segan mengambil ilmu orang Yunani? Nah, pada waktu yang belakangan pembagian ilmu al-Khalil itu mengalami satu di antara sepuluh tadi hanya menjadi ilmu agama! Kayak fikih misalnya. Tadinya tidak?

Lantas yang bernama al-Farabi seorang Filosof Islam (semua orang Islam yang belajar filsafat Islam pasti tahu itu), juga Ibnu Sina itu ‘kan jagonya filsuf Islam? Lantas kalau ditanya… apa pikiran al-Farabi tentang negara? Maka negara menurut dia adalah “negara Tuhan” jadi negara agama. Dan dia bikin buku, namanya Negara Utama. Apa yang dimaksud dia sebagai negara utama? Ternyata seluruhnya dibangun atas dasar asas-asas pemerintahan Plato. Al-Qur’an sebagai sumber, tapi kerangkanya ‘kan dari Plato?

Berarti tidak harus selalu plek dengan Al-Qur’an atau Hadis?

Nah… persis itu… materi boleh dari situ, tapi kerangka, bebas saja kita ambil. Tadi, ini yang saya katakan peradaban Islam itu yang agung, yang sudah diakui sebagai salah satu di antara peradaban dunia (Oikumene) itu mempunyai watak eklektik, mampu menyerap dan tidak takut-takut. Dengan sendirinya sastra Islam juga demikian. Sastra Islam harus mampu menyerap dan dikembangkan, dimatangkan. Dan kalau perkembangan peradaban Islam seperti itu, tidak bisa dikatakan hanya milik orang Islam saja, tetapi juga milik orang lain yang hidup dalam masyarakat Islam.

Karena itu ketika masa jaya-jayanya peradaban Islam, pendukungnya juga ada yang orang Kristen serta orang Yahudi.

Pada abad berapa itu?

Ya… mulai abad ketujuh hingga abad kedua belas, dan justru ketika Islam itu diartikan sebagai sesuatu yang sempit. Maka menjadi menurun peradaban Islam.

Tapi yang menyempitkan antara lain dari kalangan Islam sendiri?
Lha… itu masalahnya. Tetapi kalau kita lihat dari sejarah, di mana sastra Islam merupakan bagian dari peradaban Islam, maka dengan sendirinya sastra Islam menjadi bagian dari humanisme universal…..

Lho, kok begitu?

Ya… sebab dengan begitu tak bisa di sekat-sekat lagi sebagai ini miliknya orang Islam dan itu miliknya orang yang bukan Islam. Peradaban Islam yang benar-benar Islam adalah suatu peradaban yang mampu mengayomi semua orang dan boleh digunakan oleh semua orang. Dalam hal ini saya mau ambil contoh kasus HB. Yassin…..

Langit makin mendung?

Bukan … itu lho….. Al-Qur’an Bacaan Mulia, terjemahannya HB. Yassin. Nah, di situ ada yang menganggap bahwa Yassin tidak memenuhi persyaratan menerjemahkan, karena dia tidak bisa berbahasa Arab. Kok berani-beraninya dia menerjemahkan Al-Qur’an?…. Di sini saya tidak memihak ke mana-mana, tetapi kalau saya ditanya bagaimana pendapat saya maka saya jawabnya begitu.

Lho, apa benar bahwa sebagai ukuran harus bisa berbahasa Arab, ‘kan Yassin cukup dewasa untuk bisa membaca bermacam-macam terjemahan, mengambil dari sini dan situ. Lagi pula itu juga bukan terjemahan resmi (standard translation). Dia ‘kan sudah bilang bahwa itu ‘bacaan” reading…Noble reading… ya artinya sesuatu bisa dibaca semua orang.

Maka sebagai konsekuensi bahwa sastra Islam bagian dari humanisme universal, pertama dia tidak boleh dibatasi penggunaannya, hanya oleh dan untuk orang Islam saja, atau hanya oleh orang yang telah diberi predikat “memenuhi syarat”. Kedua, dari proyeksi sejarah ini lain kelihatan bahwa yang mengislamkan bukan orangnya dan bukan juga rangkanya, dan bukan pula materinya yaitu Al-Qur’an dan Hadis, sebagai sumber ada dan tentu boleh digunakan. Tetapi, karena ini sastra bukan sesuatu yang sifatnya formal legalistik gitu… sumber lain juga masuk… apa salahnya? Dan tidak selalu bersumber pada Al-Qur’an juga tidak apa-apa. Sebab pengalaman beragama itu tidak mesti berqur’an dan berhadis atau berkitab-kitab. Contohnya, orang kampung agamanya dalam skala nol sampai seratus, dia menjalankan Lima saja sudah bagus. Nol dalam arti praktek keagamaan, tetapi ia merasa sebagai orang Islam, ‘kan dia sudah beragama. Sama punya hak! Begitu. Haknya sama dengan yang seratus. Kalau skalanya memang kecil dan dia dipaksa harus menggunakan sumber resmi sebagai referensi… ya nggak akan jadi.

Menurut saya pengalaman beragama, sebagai orang Islam itu mempunyai keabsahan sendiri yang tidak bersumber dari sumber resmi. Tadi referensinya dengan hidup itu sendiri.

Ini lalu membuka ke masalah yang peka, yang sekarang di Malaysia diperdebatkan lama antara Cikgu Shanon Ahmad dan Cikgu Kasim Ahmad. Menurut Kasim Ahmad definisi sastra Islam adalah, sastra yang mampu melancarkan inti atau nilai Islam, tidak usah formal. Kalau di sini bisa kita contohkan apakah yang dibikin di TVRI setiap malam Jumat itu disebut drama Islam? Di mana masyarakat Islam pemirsa di berondong dengan ayat-ayat Al-Qur’an? Ataukah setiap drama yang di dalamnya memancarkan nilai-nilai Islam itu sudah bisa dikatakan drama Islam! Itu pikiran saya.

Di Malaysia pernah ada suatu simposium tentang itu, dan di sini terjadi perdebatan antara saya dan Shiddiq Baba seorang Sekjen Hakim kuliah Islam di Malaysia. Di situ dia mengatakan bahwa ukuran dari sastra Islam itu adalah aplikasinya, apakah aplikasinya itu Islami menurut dia. Jadi umpama saja, kalau beribadat apakah sastra Islam itu lalu menunjukkan jalan kepada peribadatan yang menuju salatnya. Jadi kalau tidak menunjukkan itu ya tidak Islam. Sehingga dalam sastra Islam, tidak mungkin membicarakan tokoh seorang pelacur.

Saya tidak setuju dengan pandangannya, lantas saya kemukakan bahwa perasaan keagamaan seorang pelacur belum tentu kalah dengan seorang yang bersembahyang di masjid. Sebab, begini, intensitas pengalaman beragama itu ada dua ekspresinya. Ada ekspresi implisit ada ekspresi eksplisit. Yang implisit lebih ke dalam sedangkan yang eksplisit mengikuti ajaran agama secara tuntas. Dua-duanya ini menurut saya punya hak yang sama untuk diekspresikan, dan sama-sama Islam.

Tentu saja dengan catatan bahwa asal ia menggambarkan secara tepat bahwa inilah visi Islam. Sebab begini, Nabi sendiri dalam hadis mengatakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Dan di dalam Al-Qur’an itu disebutkan bahwa ilmu itu ada dua macam. Yaitu ilmu yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat. Yang tidak bermanfaat harus dijauhi dan dibuang, sedangkan yang bermanfaat yang dipakai. Jadi, dengan ini watak eklektisisme ini tidak terlalu liberal sepenuhnya sehingga menjadi sekular, melainkan ada tolok ukurannya yaitu pada watak normatifnya agama Islam. Tapi tidak berarti harus membelenggu atau tradisionalisme legalistik, bukan begitu…. tapi lebih merupakan tolok ukur yang moral. Dan tolok ukur moral ini antaranya adalah manfaat dan keseimbangan. Sebab sebaik-baiknya perkara, kata Nabi itu, yang berada ditengah.

Moderat…..?

Yaa… Jadi keseimbangan ini menyangkut pada kehidupan kita dalam pola konsumtif dan produktif. Yang komsumtif saja tidak benar, yang produktif saja juga tidak benar. Idealnya adalah adanya keseimbangan keduanya. Ini menurut saya adalah ukurannya. Pengalaman-pengalaman agama dalam norma-normanya yang luas yang membentuk pribadi manusia, yang menurut saya memberi watak Islami kepada penerapan yang dilakukan Islam.

Tolong deh dicontohin pengarang Islam baik yang dalam negeri atau yang luar negeri?

Kita harus bagi dua yaitu yang mementingkan penampilan impuls-impuls Islam, dan kedua yang formal legalistik. Contohnya misalnya karya Jamil Suherman, yang menampilkan kehidupan para santri di pesantren, di mana di situ ada unsur formal legalistiknya, jadi di situ digambarkan kehidupan yang baik menurut pesantren itu begini, tapi yang begini tidak kalah indahnya dengan sastra biasa asal mampu menggarap.

Tetapi religiositas bisa dicari pada hal-hal yang kelihatan bukan agama, misalnya jalan tak ada ujung karya Mochtar Lubis itu. Itu jelas bukan novel agama, itu novel psikologis. Kisah guru Isa yang impoten, dan menemukan kejantanannya lagi setelah hilang ketakutannya. Ini menurut saya tidak kurang religiusitasnya dengan karya Hamka yang bejudul Di bawah Lindungan Ka’bah.

Taufiq al-Hakim seoarang sastrawan besar Arab yang berkali-kali dicalonkan orang Arab untuk menerima Hadiah Nobel, itu menceritakan problem kejiwaan orang muslim pada masa transisi dari tradisional ke masa modernisme.

Sastrawan yang bagus lagi bernama Majid Mahkos, yang mengisahkan orang-orang miskin, di samping itu novelnya ada juga yang sejenis dengan Somerset Maugham itu jadi ada suspense-nya begitu. Novelnya yang mengharukan bagi saya adalah yang berjudul Lorong-lorong Sempit. Nah…. dari judulnya saja sudah tergambar, apa maunya pengarang. Ada erotisme versi orang miskin, mereka tiada pilihan lain menjalani hidup seperti itu. Kesadaran beragama itu muncul… tergambar… dan mengambil bentuknya yang tidak legal formalistik. Tapi, yang formal dan indah ada juga, seperti pengarang yang bemama Mahmod Atas al-Akhad, yang mengisahkan sahabat-sahabat Nabi itu, berserial …. Jelas sekali di situ yang digambarkan perang-perang Islam yang termasyhur, tatanan pemerintahan zaman dulu.

Kalau sastrawan Indonesia yang karyanya bernafaskan Islam baik yang formal atau yang tidak ..

Saya ambil contoh Navis…. Amir Hamzah…

Khairil Anwar?

Semacam Khairil Anwar itu, untuk orang Islam Indonesia yang santri sulit untuk menerima Khairil sebagai sastrawan Islam, tetapi saya sendiri menerimanya ketika ia berbicara tentang Tuhan dan ia beragama Islam ya… itulah ekspresi dari sastra Islam.

Kalau Taufiq Ismail, bukankah ada tanda formalistik dalam karyanya yang muncul akhir ini?

Ya… memang

Tolong deh, diuraikan tentang sufisme…………

Ya sufisme merupakan jembatan, tidak sepenuhnya legal formalistik, justru legal formalistik yang selalu harus-harus… jangan…jangan dicounter dengan pendekatan dengan Tuhan, familiarity, keakraban dengan Tuhan yang bisa menembus benteng harus… jangan-jangan… tadi dengan suatu lompatan. Artinya begini, oleh orang sufi itu inhern dalam pemikiran, bahwa penyelamatan itu letaknya di tangan Tuhan semata. Kita harus mampu memetik rasa cinta kepada Tuhan untuk memahami kapasitas Tuhan sang penyelamat itu. Nah, itu sebenamya ciri-ciri agama yang lahir di Timur Tengah, misalnya Yesus Sang Penyelamat, Abraham penyelamat, Yasep penyelamat, bahkan David yang bisa membunuh Goliat saja dianggap penyelamat. Itu pola Tunur Tengah.

Lain dengan agama Asia timur penyelamat dilakukan oleh subjek itu sendiri bukan Tuhan, misalnya Buddhisme, jadi pada dasarnya agama Asia timur itu tidak butuh Tuhan. Misalnya, Taoisme dan lain-lain. Di Asia Barat itu, Tuhan sebagai penyelamat, karena manusia itu ya objek ya subjek dari kehidupan ini. Nah, sufisme mewarisi tradisi Timur Tengah, dan itu berarti bahwa apa pun yang Anda perbuat, apakah Anda pengikut seratus persen legal formalistik atau pengikut syariah yang paling top, apakah Anda itu orang suci yang paling memelihara kehidupan dan semua kewajiban dalam Islam Anda penuhi dan semua larangan Anda jauhi, belum tentu Anda di terima oleh Tuhan. Sebab penerimaan itu ditentukan oleh Tuhan, bukan oleh Anda. Ini inti dari sufisme….. yang bisa menjembatani manusia dengan Tuhan, hingga Tuhan itu gampangnya mau tergerak untuk menyelamatkan manusia. Itu adalah cinta anda kepada tuhan, karena itu akan membuat Tuhan cinta kepada Anda. Karena itu cinta dan kasih merupakan elemen terpenting dari sufisme, maka di sini saya tekankan tentang kesalehan orang-orang sufi. Kasalehan yang bukan karena legal formalistiknya.

Saya melihat ada kecenderungan bersufi-sufi pads sastrawan kita yang agamanya Islam, akhir-akhir ini.

Kecendrungan tersebut saya pikir suatu kedewasaan, dan ini sesuai dengan kebutuhan hidup modern, bagaimanapun juga dunia modern itu ‘kan menyembunyikan ketegangan antara rasio dengan wahyu. Sebab, ada aspek-aspek kehidupan yang harus diikuti secara rasional sampai tuntas. Umpamanya saja soal biologi, di mana biologi harus mampu sampai ke bioengineering, di mana manusia di kotak-katik padahal itu hak Tuhan, lho….. Nah, dalam hal ini bagaimana tuntutan rasio yang tuntas, kalau perlu arepe reko-reko motret Gusti Allah…. ha haa pada hal itu ‘kan kekurangajaran, kalau ditinjau dari sudut agama…. lha ini bagaimana? Pada hemat saya jembatannya ya sufisme itu.

Dengan sufisme orang kembali kepada kebesaran Tuhan, dan dengan tidak mengingkari kehadiran dunia yang ada sekarang. Orang sufi berkata bahwa ayat Al-Qur’an itu begini “akhirat itu lebih baik dan lebih langsung, bukan berarti dunia tidak baik? Ha ha ha…., mereka selalu begitu. Ukurannya ‘kan jadi jelas…”

Konon penduduk Indonesia 90% beragama Islam, dan hampir setiap kecamatan kalau tak silap pasti ada pesantrennya. Lantas, kenapa kok tidak banyak penyair Islam yang muncul. Lagi pula Al-Qur’an sendiri dalam bentuk syair bukan prosa.

Begini ya.., sebabnya sangat kompleks, di samping menyangkut soal bahasa juga kondisi sosiologis berperanan pula. Tapi, saya melihat dalam perspektif jangka panjang. Kalau kita teliti, ternyata ada penyempitan ilmu. Dimensi ilmu dalam Islam disempitkan. Itu sudah saya jelaskan dengan contoh seorang al-Khalil yang dengan keterbukaannya dengan tanpa kehilangan asas Islamnya menerima ilmu para filsuf Yunani. Semenjak lima atau enam abad yang lalu ilmu Islam itu dipreteli. Sehingga macam musik dan sastra itu tak termasuk. Padahal kalau mau peradaban Islam menjadi bagus, kuat, seharusnya ya ada. Dan pesantren hanya mengajarkan yang itu. Ada contoh sastrawan Islam terkemuka yang bernama al-Ma’ari yang bergelar penyair pahit, dia jenius, pintar dalam membangun sastranya….. peka begitu. Tapi, beliau ini buta sejak kecil karena suatu penyakit. Nah, dalam syairnya ia memaki-maki Allah, dan maki-makian al-Ma’ari tadi tak kalah indahnya dengan syair beliau yang memuji Tuhan.

Dan yang begini ini, kalau masuk pesantren ‘kan kena sensor, tinggal yang ngalem atau memuji-memuji saja yang bebas, seperti syairnya Abu Nuas seorang penyair yang sarkastik, tetapi dipakai di pesantren syairnya yang ini… Aduh Allah, aku sebenarnya bukan orang yang patut jadi ahli surga, tapi aku juga tidak kuat di neraka. Nah… jenis yang gitu yang selamat, lainnya dikena sensor…. haha haha. Sebetulnya sih tidak dilarang atau di sensor, cuma tidak diajarkan, dan bahasa bakunya ‘kan bahasa Arab. Jadi, perlahan-lahan ada penurunan kualitas dan penciutan cakrawala.

Bagaimana pendapat saudara dengan puisi Emha Ainun Nadjib?

Kalau Emha ‘kan jelas Islam dalam arti membicarakan Asmaul Husna, sembilan puluh sembilan. Doa, otomatis itu formal. Padahal yang diperlukan yang tidak formal itu, Sutarji misalnya itu tidak pernah formal, tapi dan dalam syairnya ia menyebut-nyebut Allah, Tuhan, tapi tidak membikin definisi resmi yang mapan. Sebagai ilustrasi, pernah ia bilang kepada saya bahwa ia begitu penuh “Islam” nya sehingga ia melihat sungai pun, ia beranggapan bahwa sungai itu Islam, karena itu ia tidak berani berak di sungai…. ha ha ha. Yaitu, menurut saya, itu ekspresi keagamaan dia, kalau benar, ia memang merasa itu. Dan yang begini ini sebetulnya yang akan bisa berkembang.

Sebab, bagaimanapun juga sastra model Taufiq Ismail atau Emha Ainun Nadjib itu membutuhkan perbendaharaan yang cukup. Tetapi, nanti dengan matangnya kita menyerap informasi dari negara Arab, yang tidak lagi menggunakan bahasa Arab pesantren (..Kan Arab pesantren itu bahasa klasik…. bukan Arab sehari-hari, bukan bahasa Arab pasaran…. sekarang ya Timur Tengah ini merupakan sumber pengiriman mahasiswa kita yang belajar agama itu ‘kan banyak sekali…) baik dari lingkungan pesantren atau tidak dengan sendirinya kalau mereka nanti pulang, akan membawa sesuatu yang baru yang berbeda dengan mbah-mbah nya yang dulu.

Ini saya rasakan sendiri dengan angkatan-angkatan sekarang. Bedanya begini…. angkatan sekarang ini berangkat ke Arab belum “siap” dalam pandangan ilmu agama. Sebab begini… anak-anak ini ada yang nakal, daripada menjadi korban ganja oleh bapaknya dikirimkan ke Mesir, dengan sendirinya masalah bahasa masih belum baik, sehingga belum siap menerima ilmu agama. Saya lain, ketika berangkat saya umur 23 tahun, saya sudah menyelesaikan gramatika bahasa Arab 1000 baris yang saya sudah hafal. Sehingga sampai di sana langsung nggandeng dengan ilmu-ilmu Islam yang ada di sana.

Lha anak sekarang! Karena ilmu agama belum siap, mereka menerima ilmu yang lain, termasuk sastra…baik. sehingga ada keragaman yang besar yang mereka dapat di sana. Angkatan saya yang jelas begitu itu, Kiai Mustafa Bisri yang ikut baca puisi Palestina dulu itu (maksudnya pembacaan puisi Palestina di TIM. red) dia ini yang mengikuti sastra Arab dengan rajin, sedangkan saya sambilan saja. Nah, yang begitu itu nanti akan banyak.

Tapi, jangan lupa nanti suara militan Islam juga akan keluar dengan tolok ukur yang sempit dan akan berhadapan dengan kelompok yang tidak terlalu formal dalam mengembangkan ekspresi Islam. Nanti akan tembak-menembak.

Dan ini kalau tidak dimanage yang baik oleh pemimpin umat, maka ini bisa berakibat fatal bagi kelompok yang mau mencoba mengekspresikan agama secara bebas.

Pasti kalah?

Ya pasti kalah dan dia akan lari dari agama. Dan oleh karena itu, ini merupakan tugas pemimpin agama Islam itu sendiri, harus mampu ngemong mereka.

Termasuk saudara yang aktif di DKJ ini….

Mudah-mudahan bisa berfungsi begitu, selama ini sebagai orang yang berkecimpung dalam ilmu agama dan kebetulan menyinggung bidang lain, bidang pemikiran budaya secara umum, maka tugas saya itu mempertahankan kembelingan dan kebandelan terhadap interogasi dan penghakiman dari establisment agama.

Sumber: http://gusdurian.net/opini/mambaulhikmah/sastra-islam-versus-penyempitan-ilmu-islam/

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati