Rialita Fithra Asmara
http://media-sastrajatim.blogspot.com/
Ini bukan tentang khuldi, buah yang dimakan oleh Adam dan Hawa. Tapi buah yang muncul dari sebuah bunga yang telah terlebih dahulu mengalami penyerbukan secara sempurna. Benang sari dan putik telah dihalalkan untuk bertemu lewat hembusan angin.
Kulihat wajah istriku bersemu merah seperti senja, biasanya itu terjadi pada istriku ketika dia malu atau sedang menyembunyikan sesuatu dariku.
“Kau ingin berkata sesuatu?” tanyaku kemudian. Tak ada jawaban, melainkan kulihat istriku tampak begitu khusuk mengelus-ngelus perutnya yang membuncit, tentu dengan wajah yang tetap bersemu merah. Melihatnya, aku jadi gemas. Kuletakkan koran yang semula kubaca.
“Dokter bilang kurang dua minggu lagi.” Istriku mulai berjalan mendekatiku.
“Oh…ya? Kapan kau periksa lagi ke dokter? Kenapa aku tak diberi tahu?” kuberikan dia serentetan pertanyaan. Aku sebagai suami pasti dikatakan tak bertanggung jawab jika harus membiarkan istrinya sendirian memeriksakan kehamilannya. Aku paling tidak tahan dengan omongan orang.
“Belakangan ini kau mulai sibuk dengan penelitianmu.” Mendengar kata penelitian, aku mulai berantusias menceritakan tentang dipecatnya pluto dari kedudukannya sebagai planet dengan berbagai alasan, salah satunya karena orbitnya overlap dengan neptunus.
“Lalu, kapan bumi dipecat sebagai planet? Kalau dipecat, bagaimana kalau kita ganti menjadi surga?”
Mendengar respon istriku, aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Sejurus kemudian kudengar istriku berkata lagi.
“Jangan bilang kalau kau akan beralih pada astronomi?”
“Aku tak kan beralih dari botani1. Sejak kecil aku suka tanaman.” Tiba-tiba istriku mencium keningku, dia memang sangat mendukungku menjadi peneliti berbagai jenis tanaman. Tak heran bila rumah kami mempunyai pagar hidup. Tanaman yang kami gunakan untuk pagar hidup adalah bambu hias dari jenis bambu jepang dan bambu kuning.
Malam semakin menguasai hari, memaksa kami untuk sejenak menghentikan obrolan agar segera melepas lelah setelah seharian mencucurkan keringat. Malam itu kupeluk istriku begitu erat, dua minggu lagi akan lahir buah cinta kami. Kami menyebutnya buah dari surga. Tak ada alasan lain, kenapa kami menyebutnya demikian selain ia lahir dari penyerbukan yang direstui disaksikan tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi serta diikat lewat perjanjian agung di depan penghulu. Saat itu, seribu malaikat, seribu rumput turut bertasbih mendoakan cinta kami.
Dua minggu kemudian…
Istriku merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya. Segera ia kubawa ke rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa istriku harus dioperasi, itu jalan satu-satunya. Aku sangat khawatir mendengarnya, apa ada yang tidak beres dari buah surga kami.
“Tenanglah, Pak Fajar berdoa saja semoga tak terjadi apa-apa dengan istri dan anak Bapak.” Dokter Bambang mencoba meyakinkanku.
Aku pergi ke sebuah mushalla, mengadu pada Sang Pemilik Segala Waktu. Hatiku teriris, seperti luka yang baru lalu disiram gerimis. Di saat yang pedih teramat miris, seharusnya aku berada di sisi istriku, dia pasti kesakitan sendirian. Oh Tuhan, aku tak tega membayangkannya. Kubasuh seluruh wajahku dengan air wudhu yang menentramkan. Kuhadapkan wajahku pada kiblat dengan pengharapan sekaligus penyerahan yang amat sangat.
Beberapa jam berlalu, kulihat dokter Bambang keluar dari ruang operasi dengan roman wajah yang sulit untuk ditafsirkan. Hatiku semakin was-was.
“Dok…!” Kuhadang langkah dokter Bambang yang rambutnya mulai memutih termakan usia.
“Istri Anda baik-baik saja.”
“Anak saya, bagaimana dengan anak saya Dok?”
“Anak Anda lahir dalam keadaan conjoined 2, besok akan ada rapat para dokter untuk menolong anak Bapak.” Dokter Bambang meninggalkanku yang terkulai lemas.
Aku segera ke ruang khusus di mana anakku di rawat, kulihat dua bayi yang dalam keadaan dempet dan terlihat amat lemah. Benarkah mereka buah surga yang kami harapkan. Aku sama sekali tak punya kekuatan untuk memberitahukan semua ini pada istriku.
Langkahku terasa lunglai, kamar di mana istriku dirawat semakin dekat dan bibirku, sungguh bibirku terasa kelu.
“Mas, kenapa tanganmu terasa dingin?” Istriku memegang tanganku.
“A…ku…”
“Oh…ya di mana bayi kita, aku ingin segera melihatnya.” Matanya begitu berbinar waktu mengatakan hal itu.
Kubelai rambutnya dengan lembut lalu kukecup keningnya.
“Anak kita masih perlu sedikit perawatan, karena dia lahir lewat operasi.” Kulihat rona kekecewaan di wajah istriku.
“Besok aku harus menemui dokter Bambang, untuk memastikan bagaimana keadaan anak kita.”
“Pergilah, lakukan apa saja untuk buah surga kita!” Dia meremas tanganku begitu kuat seolah dia menitipkan harapan yang begitu besar padaku.
Keesokan harinya beberapa dokter telah berkumpul di sebuah ruangan yang telah disediakan. Aku datang tepat waktu. Hari ini adalah hari penentuan langkah apa yang akan dilakukan pada anakku. Aku merasa gerah berada pada ruangan ini walaupun ruangan ini full AC. Tampak dokter Bambang yang sedang berbincang serius dengan orang yang duduk di sebelahnya. Seorang lelaki yang belakangan kutahu bernama Profesor Rusdi, maju ke depan dan menjelaskan tentang bayi kembar yaitu anakku.
Menurut penjelasannya, bayi kembar itu ada dua macam yaitu kembar satu telur dan dua telur. Kembar yang sebetulnya itu adalah monozigotic3. Dalam kembar monozigotic ini ada satu sel telur dan satu sperma yang kemudian dia berkembang membelah di dalamnya. Apabila pembelahannya sempurna, maka keadaan bayi kembar tersebut baik-baik saja. Tak ada masalah. Berbeda cerita jika pembelahan yang terjadi tidak sempurna, hal tersebut bisa mengakibatkan bayi kembar conjoined atau kembar siam. Karena bayi kembar ini pertama kali ditemukan di Siam (Thailand), maka disebut bayi kembar siam. Mendengar hal itu, aku teringat anakku, berarti anakku mengalami kembar siam.
Aku mengalihkan pandanganku, kulihat wajah satu-per satu orang yang ada di ruangan itu. Semua tampak serius, tiba-tiba terdengar bunyi HP dari salah seorang diantara mereka. Kontan saja semua pandangan tertuju pada si pemilik HP yang ternyata seorang dokter muda, kalau dipikir-pikir sebaya denganku. Kira-kira berumur dua puluh delapanan. Profesor Rusdi memandang tajam ke arahnya. Dokter muda tersebut meminta maaf dan ia menekan beberapa tombol dalam HP nya. Kupikir ia mematikannya.
Aku sebenarnya sudah tak sabar. Sebenarnya anakku bisa ditolong atau tidak. Penjelesan profesor terlalu bertele-tele, sungguh membuatku makin was-was. Kudengar suara profesor itu mulai mengisi ruangan. Kali ini dia menjelaskan tentang macam dari conjoined. Macamnya antara lain, thoracopagus4, craniopagus5, abdominopagus6, ischipagus7, dan pygopagus8. Penyebab yang paling banyak menyebabkan hal itu adalah genetik (sekitar 20-25 persen).
Aku semakin tak sabar, kuacungkan tanganku.
“Maaf Prof, sebenarnya kembar jenis apa yang dialami anak saya, lalu kenapa sampai sekarang anak saya belum ditangani?”
Semua mata memandang ke arahku, aku tak perduli.
“Sabar, Pak Fajar. Kembar siam yang dialami anak Anda termasuk jenis dempet dada (thoracopagus) dan dempet perut (abdominopagus). Kalaupun dilakukan operasi pemisahan harus mengadakan kajian terhadap organ tubuh kedua bayi.
“Lalu kenapa tidak cepat dilakukan?” Tanpa menunggu respon lanjutan, segera kutinggalkan ruangan itu. Tak ada gunanya.
Dokter Bambang menyusulku.
“Kami mengerti perasaan Anda, yakinlah kami akan lakukan yang terbaik.”
“Dan secepatnya!” selaku. Dokter Bambang menepuk pundakku tiga kali kemudian ia kembali ke ruangan itu. Entah berapa lama lagi pertemuan itu dilakukan, aku tak tahu. Yang kutahu anakku harus segera ditolong dan istriku ingin segera menjumpai buah surga kami.
Kujumpai istriku yang tertidur di ruangannya. Kuurungkan kakiku untuk memasukinya. Aku duduk di sebuah kursi yang terletak di depan kamar istriku. Pikiranku melayang pada beberapa hari lalu sebelum istriku melahirkan. Aku pernah melihat istriku makan buah pisang yang dempet, jangan-jangan… Segera kusingkirkan prasangka buruk itu. Bukankah itu hanya mitos? Kami berdua sama-sama dididik dengan ilmu pengetahuan, mana mungkin mempercayai hal yang seperti itu. Hal yang sama sekali tak berdasar. Non sense!.
Kemudian kuruntut silsilah keluargaku mulai dari nenek, kakek, keluarga bapakku, keluarga ibuku dan seterusnya tak ada yang kembar. Kalau tentang keluarga istriku aku tak tahu banyak karena ia dibesarkan di sebuah panti asuhan. Lamunanku buyar ketika kudengar suara rintihan istriku. Bergegas aku masuk kamarnya. Kulihat ia memegangi perut bekas jahitan. Wajahnya tampak begitu lelah.
“Apa yang sakit?” kupegang tangannya.
“Bekas jahitan terasa gatal.”
“Sudah, jangan digaruk!” Aku membelai rambutnya dengan lembut.
“Bagaimana anak kita Mas?”
“Mungkin besok akan dioperasi.”
“Dioperasi, apa yang terjadi?” Istriku membelalakan matanya.
“Anak kita kembar siam, jadi harus dipisah, tapi kau tak usah khawatir, semua pasti baik-baik saja.” Tak ada jawaban selain kulihat gerimis yang tiba-tiba muncul dari kedua bola mata istriku. Kupalingkan wajahku, aku paling tidak tahan melihat wanita menangis apalagi wanita itu istriku. Wanita yang telah menitipkan tulang rusuknya pada tubuhku.
Malam itu aku tidur di rumah sakit, aku tidur di samping istriku. Dia hanya diam dan sangat dingin. Kucoba menghiburnya, ia tak bergeming sedikit pun tetapi dia tetap memegang tanganku begitu erat hingga akhirnya ia tertidur. Berbeda denganku, aku sama sekali tak bisa memejamkan mata. Entah aku seperti merasakan sesuatu.
Semakin malam suasana rumah sakit semakin mencekam, kadang terdengar suara mengerang kesakitan, suara orang muntah, suara kereta dorong, dan entah suara apa lagi. Ah…tangisan bayi, aku yakin itu suara tangisan bayi. Jangan-jangan itu suara anakku. Aku berlari mengejarnya, tapi kulihat bayi kembarku semakin menjauh, hingga tak terdengar lagi suara teriakan mereka.
“Mas, Mas Fajar!” Samar-samar kulihat istriku yang mengguncang-ngguncangkan tubuhku.
“Apa Mas mimpi buruk?”. Aku hanya menggelengkan kepala walaupun kuyakin istriku tidak percaya dengan jawabanku.
“Mas, aku ingin melihat bayi kita!” Istriku merajuk ingin segera melihat bayinya.
“Tidak bisa Dek, mereka harus dirawat secara intensif untuk persiapan operasi.” Aku mencoba memberi dia pengertian.
Setelah mengguyurkan air ke seluruh tubuhku semua terasa segar dan seolah kesedihan luruh satu per satu walaupun tidak semua bersama jatuhnya air ke bawah, aku pergi ke ruangan khusus di mana anakku dirawat. Ada yang aneh, kulihat para suster mulai melepas alat-alat yang menempel pada tubuh anakku. Baru saja aku akan mengatakan sesuatu, dokter Bambang sudah berada di belakangku.
“Bayi Anda jantungnya mengalami kebocoran.”
“Jangan bilang kalau anak kami tidak bisa…”
“Ya… mereka telah kembali ke tempat yang lebih tenang.” Dokter Bambang memelukku.
Semua harapan seperti lenyap begitu saja, dunia kami akan sunyi tanpa tangisan bayi, buah dari surga yang lama kami nanti. Aku harus mengabarkan ini pada istriku dengan cara seperti apa? Aku sama sekali tak mengerti.
Di luar, tiba-tiba terdengar suara petir yang menyambar-nyambar, dan langit berubah menjadi mendung. Sambaran petir itu menghasilkan panas yang luar biasa yang dapat dengan mudah membakar dan menghancurkan seluruh unsur yang ada di bumi, termasuk harapanku, buah surga kami, dan mungkin nanti hati istriku.
Turunlah hujan yang begitu deras. Sewaktu kukatakan bahwa anak kami telah meninggal, hujan begitu lebat keluar dari kedua mata istriku, dan mengalir di atas pipi istriku yang ranum. Tak ada suara selain isak tangis dan deras hujan. Aku terduduk lemas di ranjang istriku. Buah dari surga itu benar-benar telah kembali ke surga. Tagisan istriku berubah menjadi raungan yang memilukan, ia membuang barang-barang yang ada di sekitarnya, terakhir ia melempar apel ke wajahku. Melihatnya, kupeluk istriku. Ia mencoba melepaskan pelukanku, ia meronta dan meronta, aku semakin dibuat kalut olehnya. Aku semakin mempererat pelukanku, kuhujani ia dengan beberapa ciuman di keningnya lalu kubisikkan sesuatu di lubang telinganya dengan mesra.
“Buah itu akan hadir lagi, yakinlah!”
Tangisnya terhenti, punggung istriku terasa basah, ternyata aku juga menangis. Entah apa sebabnya hujan di luar reda.
Kedatangan membawakan sebuah kehangatan
Yang ditiupkan dari jiwa yang menyimpan harapan
Dan…
Kepergian menyuguhkan kesepian
Yang lahir dari jiwa yang bertabur kekosongan
*) Malang, Jawa Timur
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Rialita Fithra Asmara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rialita Fithra Asmara. Tampilkan semua postingan
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel GarcÃa Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati