M.D. Atmaja
http://sastra-indonesia.com/
Pagi itu, langit cerah membelai kemuning batang padi yang merunduk. Perkasa merengkuh bumi setelah selesai diberangkus kabut. Manik-manik embun berkilauan, menghiasi pandangan letih menatap hari yang semakin membeban berat. Ah, pagi ini terlalu indah untuk merenungi kesialan nasib di hari kemarin, ucapku pelan.
“Ja!” panggil Karman, Paklik Karman petugas pertanian kabupaten yang kebetulan tinggal di samping rumah.
“Pripun, Lik?” tanyaku malas, “Ada apa?”
“Nanti di Kabupaten ada penyuluhan pertanian.” Ucap Paklik Karman sopan, meskipun berbicara denganku, yang petani ini, meskipun pernah dihina setan jahaman yang kini berbakti untuk negeri para koruptor.
“Weh, yang benar, Lik? Wah, Bupati ternyata menepati janji ya. Petani mulai diperhatikan.”
“Jangan seperti itu, Ja, apa selama ini Dinas tidak memperhatikan apa? Capek-capek dari kantor aku keliling ke setiap desa hanya untuk kalian, petani.”
“Hahaha…” tawaku menggelegak. “Lha, Dinas kan tidak pernah menjanjikan apa-apa sama petani, Lik! Yang sering janji-janji kan para calon Bupati itu. hahaha…”
“Halah, piye bisa mewakili Bapakmu?” tanya Paklik Karman.
“Coba lihat nanti, Lik.”
“Wah, kok kami tidak disuruh datang, Lik. Kan lumayan ada makanan gratis, plus, hehehehe…” saut Kangmas Gathak yang baru saja datang dengan Dhimas Gathuk.
“Lha, kalau kalian mau ikut boleh. Ini kan acara untuk petani.” Sahut Paklik Karman dalam senyum senang.
“Mendingan kita ajak seluruh kampung saja, Kang!” sahut Dhimas Gathuk. “Biar Kabupaten bangkrut.”
“Ah, selama ini kami dari Dinas sudah berusaha mengajak petani untuk bekerja sama, tapi mereka selalu bilang kalau tidak perlu acara-acara seperti itu. Daripada uang habis untuk penyuluhan, bagi mereka, lebih baik dialokasikan untuk penyediaan pupuk dan benih.”
“Ya, itu bener, Lik, bener tahi laler enak seger hahaha… Petani itu memang lebih pintar dan bijak ketimbang kalian hahaha…” Dhimas Gathuk terus saja memberondong Paklik Karman yang justru tersenyum.
Paklik Karman sendiri maklum dengan Dhimas Gathuk, sebab mantan aktivis kiri yang terdesak ke pinggir sampai tidak mampu berbuat apa-apa selain menjalankan ideologi petani itu untuk diri sendiri.
“Siapa yang jadi pembicara?” tanyaku.
“Dari Pusat. Juga akan ada si Pak Krie-Krie.”
“Ha?” Dhimas Gathuk kaget, sama sepertiku.
“Lha, Pak Krie-Krie mau ngomong apa? Dia kan bukan petani.” Sahutku.
“Setidaknya beliau ini memiliki suatu kebijakan mengenai pemberdayaan petani.” Ungkap Paklik Karman.
“Perberdayaan untuk diberdayakan dukungannya? Hahaha…” Dhimas Gathuk kembali. “Bagaimana dia bisa memiliki kebijakan baik untuk petani. Gak mungkin! Mbel gedes! Lha wong dia selama ini memperkosa tanah mau bicara soal mengolah tanah. Gombal mikiyo. Ngapusi!”
“Jangan seperti itu, Dhi.” Sahutku, jangan sampai Paklik Karman tersingung.
“Itu urusan dia sendiri. Sejauh dia memiliki visi dan misi yang baik tidak ada salahnya to, Dhi, kalau kita dengarkan.” Sahut Paklik Karman bijak dan terus berusaha mengasuh kami.
“Hahaha… MBEL GEDES! Tidak percaya. Masak bisa seorang pemerkosa tanah, berpikir baik tentang tanah? Lha, di ujung Timur saja dia memperkosa sampai darah pertiwi muncrat. Membuat petani tidak bisa menanam. Membuat petani kehilangan sawah. Terus kebijakan yang mau seperti apa lagi, Lik? Pemerkosa tanah tidak layak bicara soal kebijakan petani yang manusiawi? Ah, MBEL GEDES. Tidak percaya!”
“Terus, mau bagaimana?” sahutku sementara Kangmas Gathak hanya senyam-senyum melihat tingkat adiknya.
“Wes, tidak usah berangkat! Tidak usah didengar omongan gombal mukiyo. Pemerkosa berlagak jadi Dewi Sri. Semprul!”
Studio SDS – masih dalam Perjalanan Pulang, 24 April 2011.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label M.D. Atmaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label M.D. Atmaja. Tampilkan semua postingan
Senin, 16 Mei 2011
Jumat, 01 April 2011
NB: Aku Sangat Merindukanmu!
M.D. Atmaja
http://sastra-indonesia.com/
Serintik hujan mengisi malam wening. Memelodikan tembang kenangan tentang perjalanan jauh yang menyayat pilu. Semerbak sisa asap di pedupan, menggelayutkan mimpi. Mengajak seorang lelaki untuk terpekur dalam kesendirian yang tidak akan mampu dimengerti orang lain. Awang-uwung yang tadinya senyap, dikagetkan dering pesan singkat. Pesan dari kawan yang jauh.“Jalan-jalanlah. Jangan tenggelam dalam selimut.” Pesan itu penuh bujuk.
Si lelaki memandang lelah. Sudah seharian memandangi layar notebook 10 inc dalam kerasnya jalan-jalan ide. Berkirim surat dengan beberapa sahabat pena yang ada di seberang lautan.
“Aku tadi juga baru pulang dari jalan-jalan.” Si lelaki membalas pesan singkat itu.
“Kemana?” balasan langsung cepat diterima.
“Ke pantai. Lihat kapal karam.” Si lelaki mengetik cepat namun tidak langsung mengirimkan. Ia memikirkan sesuatu. Kalimat yang bisa menjadi wakil bagi pikiran yang menggelayut semenjak sore. “Nelayan dan petani masih malang.”
Lalu, pesan itu dikirimkan. Sesaat yang lama, tidak juga muncul tanda balasan. Sementara tabuhan hujan terus mengalun. Terdengar bimbang.
“Bukan itu!” isi balasan pesan yang diterima.
“Heh? Lantas?” si lelaki pun ikut berkirim yang singkat.
“Kawan-kawan menitip salam. Kamu harusnya tidak sibuk sendiri. Demi perkembanganmu. Keluar dan diskusi.”
Si lelaki membacai pesan itu dalam tarikan napas yang berat. Ia mulai memahami dengan yang dimaksudkan dengan “jalan-jalan” itu. Bertemu, berkumpul ria dengan orang-orang seprofesi atau para pakar kritik untuk mendongkrak nama agar lekas populer. Si lelaki tersenyum kecil, “Memang harus membuat jeneng dulu, baru bisa membuat jenang merah dan putihnya” bisiknya pada dirinya sendiri.
“Aku juga baru diskusi. Via mail!” si lelaki menulis pesan sambil tersenyum kecil, mengingat orang-orang yang diajak diskusi itu. Profesor, pun Doktor tanpa menghitung kepingan selain tetesan embun pengetahuan.
“Keluar. Menimba ilmu. Sadar diri masih anak kecil.” Balasan dengan cepat diterima.
Pesan yang kali ini dibaca memercikkan api ke bola mata yang terasa lelah. Dadanya sesak ketika mendapati dirinya sebagai anak kecil. Umur yang belum begitu cukup untuk pantas mendapatkan tempat untuk berpijak di depan orang lain. Berpijak sebagai dirinya sendiri. Pada tabuhan rintik hujan itu, yang tadinya mengalun merdu berubah menjadi genderang perang.
“Memang anak kecil, tapi sanggup meruntuhkan gunungmu!” tulis si lelaki yang sudah bersiap mengirimkan.
Namun dia terdiam sejenak. Mencermati segurat gambar Semar yang ada di depan meja kerjanya. Tangannya gemetar membuat handphone terlepas dan membentur meja.
“Ada apa, Mas?” tanya istrinya yang terbangun.
“Tidak.”
“Sudah malam. Tidur dulu, Mas.”
“Belum mengantuk.”
Perempuan itu masih saja terbaring sambil terus mengamati suaminya dengan menahan kantuk. Keburaman lampu di atas meja, habis ditelan sorot mata layu yang dipenuhi amarah. Berkobar jauh menyulut ketenangan bayi berumur setengah tahun untuk terkesiap. Langsung merenggek, meminta buntalan daging basah yang berair hangat dan manis dari ibu.
“Kalau ada masalah, cerita saja, Mas. Aku memang tidak bisa membantumu apa-apa, tapi aku istrimu.” Ucap perempuan itu sambil terus meneteki anaknya.
Pandangan si lelaki masih terpaku pada semar yang menempeli dinding. “Gus Nailil menyuruhku jalan-jalan. Ketemu orang-orang dan diskusi.”
“Ya besok-besok, Mas, sempatkan waktu.”
“Untuk apa? Saling membanggakan karya dan pengalaman sambil menenggak anggur?”
“Ya untuk silaturahmi, Mas.” Sahut istrinya dengan ringan.
“Sepertinya, tidak banyak,” ucap lelaki itu tidak selesai.
“Yah, memang sudah bukan menjadi takdirmu, Mas, untuk memiliki relasi penulis terkenal. Biar Gus Nailil saja yang berada di samping penulis besar itu, dan membesarkan diri bersama mereka. Lalu, memang sudah menjadi takdirmu, Mas, yang hanya akan hidup di samping petani. Takdir yang sudah kamu pilih sendiri. Jangan takut.”
Ucapan perempuan itu, membuat si lelaki menarik pandangan. Menemukan perempuan dengan dada setengah terbuka, sementara buah hati mereka menggelayut dengan tenang. Senyuman kecil tersungging. Sudah enam tahun menjalani semua itu bersama-sama, dalam pembagian yang sungguh tidak adil. Perempuan dari keluarga mapan, dituntun ke dalam lumpur petani yang tidak menawarkan apa-apa. Dan selama itu pula, si lelaki tidak mendengar sepatah keluh yang memberatkan.
Lelaki itu langsung menghapus seluruh pesannya. “Yah, mungkin lain waktu, Gus. Kalau Allah sudah memberikan kesempatan dan mereka mau bertemu dengan seorang hina seperti aku ini.” Tulis lelaki itu yang langsung dikirimkan.
Lama, tidak ada balasan. Si lelaki memandangi anaknya yang terus menetek. Ia mengetik pesan lagi, “NB. Aku sangat merindukanmu!” dan dikirimkan.
Bersamaan dengan itu, handphone si istri berdering. Sebuah pesan singkat masuk ke dan menemukan sebaris yang sudah lama sekali tidak di dengar: Aku sangat merindukanmu!
Studio SDS Fictionbooks, Sabtu Pon 26 Maret 2011
http://sastra-indonesia.com/
Serintik hujan mengisi malam wening. Memelodikan tembang kenangan tentang perjalanan jauh yang menyayat pilu. Semerbak sisa asap di pedupan, menggelayutkan mimpi. Mengajak seorang lelaki untuk terpekur dalam kesendirian yang tidak akan mampu dimengerti orang lain. Awang-uwung yang tadinya senyap, dikagetkan dering pesan singkat. Pesan dari kawan yang jauh.“Jalan-jalanlah. Jangan tenggelam dalam selimut.” Pesan itu penuh bujuk.
Si lelaki memandang lelah. Sudah seharian memandangi layar notebook 10 inc dalam kerasnya jalan-jalan ide. Berkirim surat dengan beberapa sahabat pena yang ada di seberang lautan.
“Aku tadi juga baru pulang dari jalan-jalan.” Si lelaki membalas pesan singkat itu.
“Kemana?” balasan langsung cepat diterima.
“Ke pantai. Lihat kapal karam.” Si lelaki mengetik cepat namun tidak langsung mengirimkan. Ia memikirkan sesuatu. Kalimat yang bisa menjadi wakil bagi pikiran yang menggelayut semenjak sore. “Nelayan dan petani masih malang.”
Lalu, pesan itu dikirimkan. Sesaat yang lama, tidak juga muncul tanda balasan. Sementara tabuhan hujan terus mengalun. Terdengar bimbang.
“Bukan itu!” isi balasan pesan yang diterima.
“Heh? Lantas?” si lelaki pun ikut berkirim yang singkat.
“Kawan-kawan menitip salam. Kamu harusnya tidak sibuk sendiri. Demi perkembanganmu. Keluar dan diskusi.”
Si lelaki membacai pesan itu dalam tarikan napas yang berat. Ia mulai memahami dengan yang dimaksudkan dengan “jalan-jalan” itu. Bertemu, berkumpul ria dengan orang-orang seprofesi atau para pakar kritik untuk mendongkrak nama agar lekas populer. Si lelaki tersenyum kecil, “Memang harus membuat jeneng dulu, baru bisa membuat jenang merah dan putihnya” bisiknya pada dirinya sendiri.
“Aku juga baru diskusi. Via mail!” si lelaki menulis pesan sambil tersenyum kecil, mengingat orang-orang yang diajak diskusi itu. Profesor, pun Doktor tanpa menghitung kepingan selain tetesan embun pengetahuan.
“Keluar. Menimba ilmu. Sadar diri masih anak kecil.” Balasan dengan cepat diterima.
Pesan yang kali ini dibaca memercikkan api ke bola mata yang terasa lelah. Dadanya sesak ketika mendapati dirinya sebagai anak kecil. Umur yang belum begitu cukup untuk pantas mendapatkan tempat untuk berpijak di depan orang lain. Berpijak sebagai dirinya sendiri. Pada tabuhan rintik hujan itu, yang tadinya mengalun merdu berubah menjadi genderang perang.
“Memang anak kecil, tapi sanggup meruntuhkan gunungmu!” tulis si lelaki yang sudah bersiap mengirimkan.
Namun dia terdiam sejenak. Mencermati segurat gambar Semar yang ada di depan meja kerjanya. Tangannya gemetar membuat handphone terlepas dan membentur meja.
“Ada apa, Mas?” tanya istrinya yang terbangun.
“Tidak.”
“Sudah malam. Tidur dulu, Mas.”
“Belum mengantuk.”
Perempuan itu masih saja terbaring sambil terus mengamati suaminya dengan menahan kantuk. Keburaman lampu di atas meja, habis ditelan sorot mata layu yang dipenuhi amarah. Berkobar jauh menyulut ketenangan bayi berumur setengah tahun untuk terkesiap. Langsung merenggek, meminta buntalan daging basah yang berair hangat dan manis dari ibu.
“Kalau ada masalah, cerita saja, Mas. Aku memang tidak bisa membantumu apa-apa, tapi aku istrimu.” Ucap perempuan itu sambil terus meneteki anaknya.
Pandangan si lelaki masih terpaku pada semar yang menempeli dinding. “Gus Nailil menyuruhku jalan-jalan. Ketemu orang-orang dan diskusi.”
“Ya besok-besok, Mas, sempatkan waktu.”
“Untuk apa? Saling membanggakan karya dan pengalaman sambil menenggak anggur?”
“Ya untuk silaturahmi, Mas.” Sahut istrinya dengan ringan.
“Sepertinya, tidak banyak,” ucap lelaki itu tidak selesai.
“Yah, memang sudah bukan menjadi takdirmu, Mas, untuk memiliki relasi penulis terkenal. Biar Gus Nailil saja yang berada di samping penulis besar itu, dan membesarkan diri bersama mereka. Lalu, memang sudah menjadi takdirmu, Mas, yang hanya akan hidup di samping petani. Takdir yang sudah kamu pilih sendiri. Jangan takut.”
Ucapan perempuan itu, membuat si lelaki menarik pandangan. Menemukan perempuan dengan dada setengah terbuka, sementara buah hati mereka menggelayut dengan tenang. Senyuman kecil tersungging. Sudah enam tahun menjalani semua itu bersama-sama, dalam pembagian yang sungguh tidak adil. Perempuan dari keluarga mapan, dituntun ke dalam lumpur petani yang tidak menawarkan apa-apa. Dan selama itu pula, si lelaki tidak mendengar sepatah keluh yang memberatkan.
Lelaki itu langsung menghapus seluruh pesannya. “Yah, mungkin lain waktu, Gus. Kalau Allah sudah memberikan kesempatan dan mereka mau bertemu dengan seorang hina seperti aku ini.” Tulis lelaki itu yang langsung dikirimkan.
Lama, tidak ada balasan. Si lelaki memandangi anaknya yang terus menetek. Ia mengetik pesan lagi, “NB. Aku sangat merindukanmu!” dan dikirimkan.
Bersamaan dengan itu, handphone si istri berdering. Sebuah pesan singkat masuk ke dan menemukan sebaris yang sudah lama sekali tidak di dengar: Aku sangat merindukanmu!
Studio SDS Fictionbooks, Sabtu Pon 26 Maret 2011
Pedagogi: Humanisme Edukasi Sastra
M.D. Atmaja
http://sastra-indonesia.com/
Keberadaan karya sastra dibentuk oleh masyarakat yang melalui tangan seorang sastrawan (penulis) karya sastra itu dihadirkan yang sebenarnya untuk masyarakat itu sendiri. Sastrawan sebatas pada sarana dalam pemanifestasian gejala sehingga keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari unsur utama pembentuk karya yang dihasilkan. Pun, latar belakang serta kedudukan sosial mempengaruhi karya dalam proses penciptaan yang secara tidak langsung menyusupkan tendensi. Dalam lingkup yang lebih jauh lagi, pergolakan sosial politik suatu bangsa ikut memberikan warna. Ini yang menjadi dasar atas bahasa sebagai medium bagi manifestasi karya sastra yang tidak bersifat individual tetapi jauh lebih dari itu, bahasa memiliki sifat evolusi sosial.Selama lebih dari tiga puluh tahun generasi bangsa Indonesia – murid sekolah dan para mahasiswa – mempelajari Kesusastraan Indonesia yang notabene telah diakui oleh penguasa (baca: Orba) dan karya sastra itu dinilai memiliki khasanah kesusastraan yang tinggi.
Bagi saya, nilai tinggi kesusastraan tidak terletak pada kadar keindahan semata, (keindahan yang saya maksudkan adalah permainan bahasa) akantetapi lebih pada tujuan dalam menyampaikan suatu pesan. Sastra memiliki nilai tendensi dan manensasi, sebab penciptaan sebuah karya sastra merupakan hasil dari deretan intuisi, persepsi serta imajinasi yang memiliki ketergantungan pada struktur jiwa dan rohani sastrawan. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh paradigma yang menyatakan bahwa penciptaan bangunan karya sastra terdiri dari kombinasi antara tesa dan antitesa.
Tesa sebagai kenyataan yang tengah dihadapi sastrawan yang terdapat dalam karya yang dihasilkan. Selanjutnya, yang disebut dengan antitesa yaitu sikap subjektive sastrawan dan sekaligus intersubjektive. Dari perhelatan tesa dan antitesa tersebut akan menghasilkan sintesa yang merupakan dialog perlawanan diantara keduanya. Sintesa memiliki sifat akan idealisme, imajinatif serta kekreatifan yang dibentuk dan dipengaruhi oleh cita-cita sastrawan.
Tendensi dan manensasi yang terkandung dalam karya sastra dapat dilakukan sebagai media pendidikan kepada masyarakat pembaca, sebab sastra memiliki sifat pedogogis yang bersifat humanis. Di dalam strukturnya memang memungkinkan adanya nilai hegemoni akantetapi, sepenuhnya dari proses pemaknaan diserahkan kepada pembaca dalam melakukan interpretasi teks sastra. Melalui karya yang dihasilkan dari tangan sastrawan ini, sastrawan dapat berperan sebagai guru di tengah masyarakatnya.
Akantetapi, maksud dan tendensi sastra yang sarat dengan faktor latarbelakang sastrawan mempengaruhi nilai pendidikan yang ada di dalamnya. Misalnya saja, apabila seorang sastrawan memiliki kencenderungan politik tertentu maka nilai dari pendidikan yang temaktub akan mengarahkan publik pembaca ke arah yang sama dengan muatan politis sastrawan. Seperti karya yang dihasilkan seniman Lekra, tendensi yang diemban adalah untuk memberikan rakyat pendidikan mengenai politik Marxisme-Leninisme yang bergerak dengan filsafat MDH-nya.
Tendensi dalam karya sastrawan Marxis memiliki sifat normatif dengan peninjauan masalah secara epistemologi, yang memuat pesan realisme sosialis. Ini menjadikan sastra untuk berdiri sebagai pembela kepentingan rakyat banyak untuk menuju kepada revolusi. Seperti karya sastra lainnya, meski mengandung tendensi politik, sastra mengemban sifat pedagogisnya tidak secara eksplisit, namun melakukan penggambaran secara historis atas konflik sosial yang digambarkan.
Sastra dalam pandangan para kritikus Marxis lebih ditafsirkan sebagai penggambaran mengenai determinisme ekonomi, kriteria probabilitas kebenaran pada keadaan masyarakat di zamannya. Kritikus Marxis juga akan mengkaji mengenai hubungan masyarakat yang saling berkaitan sebagai makhluk sosial, yaitu sususnan masyarakat dalam bidang ekonomi, masyarakat dalam tatanan struktur bawah (rakyat jelata), yang harus menentukan kehidupan sosial politik, intelektual serta kehidupan kultural struktur bangunan atas.
Hal tersebut dapat dipandang dari sudut pandang yang menyatakan bahwa, sastra tidak lahir di dalam kondisi yang terkekang, yaitu secara ide dan pemikiran. Karya sastra lahir berdasarkan suatu mekanisme yang dialektis dengan kondisi sosio-kultural sastrawan. Sastra dituntut untuk mampu menggambarkan pandangan dunia kehidupan, karena dalam sastra termanifestasikan ide, pemikiran, pesan dan tujuan, tema dan amanat sekaligus seluruh deferensi kultural yang ada di dalam kehidupan realitas masyarakat.
Tendensi yang diemban karya sastra, secara keseluruhan memiliki nilai humanis yang memberikan kebebasan pada pembaca dalam mengambil pesan yang ada di dalamnya. Nilai pedagogis yang diemban sastra lebih mengarah pada pendidikan moral, seperti yang termuat di dalam cerpen “Surabaya” karya Idrus: “… jika yang kuat tidak berjalan di atas keadilan, bagaimana pun juga kuatnya, ia akan diberi Tuhan kekalahan dan malapetaka.” (Surabaya, Idrus, Gema tanah Air 2, hlm. 44).
Pernyataan Idrus ini dapat dipandang sebagai gelora semangat yang dikelola sedemikian rupa untuk menciptakan generasi yang berani membela keadilan dan kebenaran. Untuk melawan kejahatan yang disimbolkan melalui pasukan Sekutu yang mendarat di Surabaya, Idrus menyatakan pada kita semua untuk berani karena Tuhan bersama orang yang benar, dan Tuhan membenci orang yang salah. Akantetapi, Idrus pun menjadi orang yang realistis, bahwa melawan kejahatan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Seperti kita lihat dalam: “… tapi jenderal-jenderal abad dua puluh berpendapat lain: mereka lebih percaya kepada meriam-meriamnya dari pada dogma-dogma khayal itu” (Surabaya, Idrus, Gema Tanah Air 2, hml. 44).
Tendensi di dalam karya sastra dapat digunakan untuk membangun paradigma berpikir masyarakat. Nilai humanistik untuk menyerahkan kebenaran hanya pada pembaca tersebut, Idrus menuangkan dalam dua pandangan berbeda. Yaitu mengenai mereka yang percaya pada keyakinan agama atau percaya pada kualitas teknologi manusia. Ini sisi humanisme sastra, tidak melakukan penghakiman atas benar atau salah, akantetapi memberikan pendidikan dengan cara memberikan gambaran mengenai sesuatu yang nyata di antara berbagai pilihan kemudian menggambarkan keadaan idealisnya kehidupan.
Tendensi yang digunakan untuk membangun paradigma berpikir masyarakat, atau untuk mempengaruhi, serta menggerakkan dalam rangka mencapai tujuan-tujuan yang dikehendaki sastrawan. Tendensi tidak melulu pesan moral atau politik, akantetapi segala nilai kehidupan yang dapat menjadikan sastra sebagai sarana pedagogis dengan memberikan informasi atau sekedar suatu pemikiran yang dianggap benar oleh sastrawan.
Unsur dasar dari karya sastra adalah hubungan perkembangan sejarah dengan kondisi realis di dalam kehidupan manusia. Karya sastra tidak dapat sepenuhnya dipisahkan dari kehidupan realitas, sehingga pengkajian karya sastra hendaknya dijalankan secara holistik. Hubungan karya sastra dengan masyarakat, atau dengan kata lain, antara idealisme dan materialisme adalah satu hubungan yang saling terkait dan hubungan yang interaktif. Melihat hubungan dengan cara seperti ini memungkinkan adanya kesengajaan sastrawan untuk memasukkan kepentingan individual dan komunal di dalam karya yang dihasilkan. Meskipun demikian, karya sastra tetap sebagai media yang bersifat pedagogis dan humanis. Tidak ada yang lebih humanis ketimbang agama dan sastra.
Studio SDS Fictionbooks, Jumat Pahing 25 Maret 2010
http://sastra-indonesia.com/
Keberadaan karya sastra dibentuk oleh masyarakat yang melalui tangan seorang sastrawan (penulis) karya sastra itu dihadirkan yang sebenarnya untuk masyarakat itu sendiri. Sastrawan sebatas pada sarana dalam pemanifestasian gejala sehingga keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari unsur utama pembentuk karya yang dihasilkan. Pun, latar belakang serta kedudukan sosial mempengaruhi karya dalam proses penciptaan yang secara tidak langsung menyusupkan tendensi. Dalam lingkup yang lebih jauh lagi, pergolakan sosial politik suatu bangsa ikut memberikan warna. Ini yang menjadi dasar atas bahasa sebagai medium bagi manifestasi karya sastra yang tidak bersifat individual tetapi jauh lebih dari itu, bahasa memiliki sifat evolusi sosial.Selama lebih dari tiga puluh tahun generasi bangsa Indonesia – murid sekolah dan para mahasiswa – mempelajari Kesusastraan Indonesia yang notabene telah diakui oleh penguasa (baca: Orba) dan karya sastra itu dinilai memiliki khasanah kesusastraan yang tinggi.
Bagi saya, nilai tinggi kesusastraan tidak terletak pada kadar keindahan semata, (keindahan yang saya maksudkan adalah permainan bahasa) akantetapi lebih pada tujuan dalam menyampaikan suatu pesan. Sastra memiliki nilai tendensi dan manensasi, sebab penciptaan sebuah karya sastra merupakan hasil dari deretan intuisi, persepsi serta imajinasi yang memiliki ketergantungan pada struktur jiwa dan rohani sastrawan. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh paradigma yang menyatakan bahwa penciptaan bangunan karya sastra terdiri dari kombinasi antara tesa dan antitesa.
Tesa sebagai kenyataan yang tengah dihadapi sastrawan yang terdapat dalam karya yang dihasilkan. Selanjutnya, yang disebut dengan antitesa yaitu sikap subjektive sastrawan dan sekaligus intersubjektive. Dari perhelatan tesa dan antitesa tersebut akan menghasilkan sintesa yang merupakan dialog perlawanan diantara keduanya. Sintesa memiliki sifat akan idealisme, imajinatif serta kekreatifan yang dibentuk dan dipengaruhi oleh cita-cita sastrawan.
Tendensi dan manensasi yang terkandung dalam karya sastra dapat dilakukan sebagai media pendidikan kepada masyarakat pembaca, sebab sastra memiliki sifat pedogogis yang bersifat humanis. Di dalam strukturnya memang memungkinkan adanya nilai hegemoni akantetapi, sepenuhnya dari proses pemaknaan diserahkan kepada pembaca dalam melakukan interpretasi teks sastra. Melalui karya yang dihasilkan dari tangan sastrawan ini, sastrawan dapat berperan sebagai guru di tengah masyarakatnya.
Akantetapi, maksud dan tendensi sastra yang sarat dengan faktor latarbelakang sastrawan mempengaruhi nilai pendidikan yang ada di dalamnya. Misalnya saja, apabila seorang sastrawan memiliki kencenderungan politik tertentu maka nilai dari pendidikan yang temaktub akan mengarahkan publik pembaca ke arah yang sama dengan muatan politis sastrawan. Seperti karya yang dihasilkan seniman Lekra, tendensi yang diemban adalah untuk memberikan rakyat pendidikan mengenai politik Marxisme-Leninisme yang bergerak dengan filsafat MDH-nya.
Tendensi dalam karya sastrawan Marxis memiliki sifat normatif dengan peninjauan masalah secara epistemologi, yang memuat pesan realisme sosialis. Ini menjadikan sastra untuk berdiri sebagai pembela kepentingan rakyat banyak untuk menuju kepada revolusi. Seperti karya sastra lainnya, meski mengandung tendensi politik, sastra mengemban sifat pedagogisnya tidak secara eksplisit, namun melakukan penggambaran secara historis atas konflik sosial yang digambarkan.
Sastra dalam pandangan para kritikus Marxis lebih ditafsirkan sebagai penggambaran mengenai determinisme ekonomi, kriteria probabilitas kebenaran pada keadaan masyarakat di zamannya. Kritikus Marxis juga akan mengkaji mengenai hubungan masyarakat yang saling berkaitan sebagai makhluk sosial, yaitu sususnan masyarakat dalam bidang ekonomi, masyarakat dalam tatanan struktur bawah (rakyat jelata), yang harus menentukan kehidupan sosial politik, intelektual serta kehidupan kultural struktur bangunan atas.
Hal tersebut dapat dipandang dari sudut pandang yang menyatakan bahwa, sastra tidak lahir di dalam kondisi yang terkekang, yaitu secara ide dan pemikiran. Karya sastra lahir berdasarkan suatu mekanisme yang dialektis dengan kondisi sosio-kultural sastrawan. Sastra dituntut untuk mampu menggambarkan pandangan dunia kehidupan, karena dalam sastra termanifestasikan ide, pemikiran, pesan dan tujuan, tema dan amanat sekaligus seluruh deferensi kultural yang ada di dalam kehidupan realitas masyarakat.
Tendensi yang diemban karya sastra, secara keseluruhan memiliki nilai humanis yang memberikan kebebasan pada pembaca dalam mengambil pesan yang ada di dalamnya. Nilai pedagogis yang diemban sastra lebih mengarah pada pendidikan moral, seperti yang termuat di dalam cerpen “Surabaya” karya Idrus: “… jika yang kuat tidak berjalan di atas keadilan, bagaimana pun juga kuatnya, ia akan diberi Tuhan kekalahan dan malapetaka.” (Surabaya, Idrus, Gema tanah Air 2, hlm. 44).
Pernyataan Idrus ini dapat dipandang sebagai gelora semangat yang dikelola sedemikian rupa untuk menciptakan generasi yang berani membela keadilan dan kebenaran. Untuk melawan kejahatan yang disimbolkan melalui pasukan Sekutu yang mendarat di Surabaya, Idrus menyatakan pada kita semua untuk berani karena Tuhan bersama orang yang benar, dan Tuhan membenci orang yang salah. Akantetapi, Idrus pun menjadi orang yang realistis, bahwa melawan kejahatan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Seperti kita lihat dalam: “… tapi jenderal-jenderal abad dua puluh berpendapat lain: mereka lebih percaya kepada meriam-meriamnya dari pada dogma-dogma khayal itu” (Surabaya, Idrus, Gema Tanah Air 2, hml. 44).
Tendensi di dalam karya sastra dapat digunakan untuk membangun paradigma berpikir masyarakat. Nilai humanistik untuk menyerahkan kebenaran hanya pada pembaca tersebut, Idrus menuangkan dalam dua pandangan berbeda. Yaitu mengenai mereka yang percaya pada keyakinan agama atau percaya pada kualitas teknologi manusia. Ini sisi humanisme sastra, tidak melakukan penghakiman atas benar atau salah, akantetapi memberikan pendidikan dengan cara memberikan gambaran mengenai sesuatu yang nyata di antara berbagai pilihan kemudian menggambarkan keadaan idealisnya kehidupan.
Tendensi yang digunakan untuk membangun paradigma berpikir masyarakat, atau untuk mempengaruhi, serta menggerakkan dalam rangka mencapai tujuan-tujuan yang dikehendaki sastrawan. Tendensi tidak melulu pesan moral atau politik, akantetapi segala nilai kehidupan yang dapat menjadikan sastra sebagai sarana pedagogis dengan memberikan informasi atau sekedar suatu pemikiran yang dianggap benar oleh sastrawan.
Unsur dasar dari karya sastra adalah hubungan perkembangan sejarah dengan kondisi realis di dalam kehidupan manusia. Karya sastra tidak dapat sepenuhnya dipisahkan dari kehidupan realitas, sehingga pengkajian karya sastra hendaknya dijalankan secara holistik. Hubungan karya sastra dengan masyarakat, atau dengan kata lain, antara idealisme dan materialisme adalah satu hubungan yang saling terkait dan hubungan yang interaktif. Melihat hubungan dengan cara seperti ini memungkinkan adanya kesengajaan sastrawan untuk memasukkan kepentingan individual dan komunal di dalam karya yang dihasilkan. Meskipun demikian, karya sastra tetap sebagai media yang bersifat pedagogis dan humanis. Tidak ada yang lebih humanis ketimbang agama dan sastra.
Studio SDS Fictionbooks, Jumat Pahing 25 Maret 2010
Selasa, 29 Maret 2011
MUSIK-TARIAN KEABADIAN; EKSTASE DIMABUK CINTA
M.D. Atmaja
http://sastra-indonesia.com/
PENGANTAR
Cinta sebagai sesuatu yang lumrah dalam kehidupan manusia, yang di dalamnya dipenuhi dengan puja-puji atas sesuatu yang dicintai. Hidup yang dipenuhi dengan rasa cinta, membuat kehidupan menjadi lebih indah dan bermakna. Cinta yang menjadikan hidup indah, dan indah di sini tidak mengacu pada keindahan materi, melainkan lebih pada pengaruh dari keindahan rasa yang menentukan eksistensi dari dunia materi. Menurut saya, cinta itu jauh dari apa yang namanya nilai badaniah, karena cinta bersifat ruh yang suci dan membawa manusia pada jalan terang yang memabukkan.
Ibnu Al-Arabi (Shah, 1985: 95) mengungkapkan suatu “Cinta Istimewa” yang mana mampu memilih dalam pengungkapan yang lebih, “keindahan-keindahan semata terdiamkan: sifat kesederhanaan melimpah”. Bahwa cinta itu tidak hanya mengacu pada sesuatu yang indah secara bentuk, namun memberikan nilai yang lebih dari itu. keberadaannya terkadang tersembunyi, karena bersifat ruh dan berada di dalam jiwa manusia.
Perjalanan manusia, hakekatnya dimulai dari rasa cinta akan sesuatu. Cinta juga dapat dikatakan sebagai rangsangan dari dalam diri yang menggerakkan manusia untuk berbuat sesuatu demi mencapai sesuatu yang dicintai. Cinta sebagai rasa yang sejati dan mampu menjauhkan manusia dari kejahatan, walau terkadang, ketika cinta memiliki cabang, cinta bisa menghadirkan berhala baru yang akhirnya menyekutukan Hidup (Tuhan). Cinta itu, menurut Jalaluddin Rumi (Schimmel, 2002: 213) sebagai kehidupan yang abadi, dan melipat-gandakan kehidupan yang menyenangkan.
Karena keberadaan cinta sebagai kehidupan yang abadi dan melipat-gandakan kesenangan, yang tentu saja untuk manusia, maka seringkali seorang pecinta mengalami keterlupaan pada dunia realitas. Hal ini yang dinamakan sebagai ekstase karena cinta, yang menyenangkan dalam keberlimpahan dapat membuat mabuk. Walau tanpa candu dan minuman berakhohol, manusia dapat mabuk karena cinta. Lebih hebat dari benda-benda yang memabukkan semisal candu dan anggur, cinta bisa membuat manusia seperti manusia gila yang tidak tersembuhkan kecuali oleh sesuatu yang dicintai.
Tulisan ini merupakan hasil dari pembacaan dan pemahaman, kemudian saya berusaha menafsirkan dari karya Nurel Javissyarqi berjudul “Musik-Tarian Keabadian, V : I – LXXIV” dalam antologi puisi “Kitab Para Malaikat” yang diterbitkan Pustaka Pujangga tahun 2007. Saya mencoba menguraikan bagaimana pengalaman Nurel Javissyarqi dalam perjalanan pengelanaannya untuk menuliskan energi-energi cinta yang ditemui.
JALAN KE-WIKU-AN
Tidak bermaksud menisbatkan sesuatu, namun menurut saya pribadi, seseorang yang berjalan menuruti rasa cinta, seseorang tersebut mencoba jalan yang dilakukan para Wiku. Hal ini disadari argumen, bahwa para Wiku itu sudah berusaha untuk melepaskan kepentingan-kepentingan duniawi yang tidak memiliki manfaat untuk perjalanan manusia yang lebih panjang di alam akhirat. Atau, para Wiku menjalani kehidupan di jalan tertentu yang mereka percayai untuk mencapai tarf hidup yang lebih tinggi, misalnya moksa dalam ajaran Hindu-Budha ataupun Penyatuan (mahrifat) dalam tasawuf Islam.
Saya memiliki alasan khusus dengan menggunakan istilah Wiku, bukan rahib atau Biksu walau dari keseluruhan istilah yang ada merujuk pada satu makna, yaitu para pemeluk teguh dari suatu agama atau keyakinan. Hanya saja, istilah Wiku lebih umum untuk semua kalangan, sebagai manusia bijak (manusia Jawa yang bijak) dan memiliki kedekatan dengan manusia, alam, dan tatanan kosmos lain yang lebih tinggi, serta Hidup (Tuhan).
Hal mendasar ketika saya menuliskan ini, bahwa dalam pemahaman saya ketika manusia berusaha berjalan di perjalanan cinta dia seperti seorang Wiku, yang berusaha sebijak mungkin. Karena bagaimana pun juga, jalan hidup seorang Wiku digerakkan oleh cinta, yang entah karena cinta pada diri sendiri karena ingin mencari keselamatan, cinta pada manusia yang berusaha memberikan pencerahan hidup, dan cinta pada Hidup (Hyang atau Tuhan) demi mendapatkan cinta kasih-Nya.
Jalan seorang Wiku dapat saya temukan di dalam puisi Musik-Tarian Keabadian karya Nurel Javissyarqi pada ayat:
Di atas ketinggian dahan, ruh para malaikat penunggu bukit datang berseru,
bergelombang siur bayu berkilau membusa liar di pantai pada kulit luka menerawan,
ia menghisap arus keringat perjuangan, haus akan madu kepujanggaan (V : IV) (Kitab Para Malaikat, 2007: 31)
Ketika kita berusaha untuk memahami sebuah langkah awal yang dimiliki oleh seorang Wiku dalam memulai perjalanannnya, dapat dikatakan sebagai pengetahuan mengenai sesuatu hal. Perjalanan di dasari oleh pengetahuan, sebab pengetahuan membawa pada kesadaran seseorang untuk menjalani sesuatu yang di dalamnya jauh sekali dari apa yang namanya paksaan. Cinta adalah gerakan hati, karena itu keberadaannya di dasari oleh kesadaran yang tanpa paksaan. Tidak ada cinta yang memaksa, baik untuk mencintai atau cintai.
Seperti halnya, sebagai contoh cinta manusia kepada Tuhan, dimana seorang hamba memiliki pengetahuan akan keesaan Tuhan. Pengetahuan dapat didapat dari lima indera manusia, yang akan membawa suatu rasa nikmat ketika manusia dekat pada apa yang diketahui dan dicintai. Dan apabila cinta mengikuti pada apa yang diketahui dan dikenal, maka cinta akan terbagi menurut pengenalannya yang melalui panca indera (Al-Ghazali, 1994: 511). Akantetapi, cinta berangkat dari pengetahuan itu, yang melalui panca indera manusia bisa mengenal, sehingga menurut saya ini yang mendasari Nurel Javissyarqi mengatakan: “di atas ketinggian dahan”.
“Di atas ketinggian dahan” sebagai langkah awal mengenai suatu perjalanan. Pengetahuan dari indera hanya sebagai langkah awal bagi sang Wiku sampai dalam babak perjalanannya mendengarkan “ruh para malaikat penunggu bukit datang berseru”. Seruan di sini dapat kita pandang sebagai buah dari pengetahuan indera mengenai sesuatu. Karena ini dalam konteks Jalan Ke-Wiku-an, maka saya langsung merujukkan pada aspek spiritualitas. Seruan malaikat yang menunggu bukit (baca: tempat tinggi dalam aspek spiritual) agar sang Wiku tidak berhenti dalam menimba ilmu. Hal ini bisa ditilik, antara dahan dan bukit lebih tinggi bukit sehingga, sang Wiku yang memiliki pengetahuan mengenai sesuatu hal diseru dari atas, dari keilmuan yang lebih tinggi.
Seruan ini merupakan panggilan bagi orang yang memahami karena memiliki pengetahuan dan kesadaran. Pengetahuan serta kesadaran yang akhirnya menumbuhkan cinta membuat sang Wiku untuk mau meniti jalan demi mencapai pengetahun yang lebih tinggi. Tentu saja, pengetahuan yang tidak dapat diraih dengan kemampuan panca indera. Cinta yang merupakan kehidupan serta cahaya (Al-Jauziyah, 2009: 421) akan membawa manusia untuk memahami lebih jauh melalui indera keenam yang bertempat di hati (Al-Ghazali, 1994: 512).
Seruan malaikat itu, tentu saja musti di dengar dengan indera keenam, melalui rasa sejati (sanubari manusia). Ketika manusia hendak menjalani seruan itu, dia pun akan merasakan hidup yang dipenuhi penderitaan, yang “membusa liar di pantai pada kulit luka” yang mana menyatakan penderitaan ini hanya sebatas pada resiko yang sungguh tidak sebanding dengan kenikmatan cinta. Hal ini, ketika kita menempuh jalan cinta seorang Wiku pada Tuhan untuk mencapai kebijaksanaan maka seperti sabda Rasulullah SAW ketika seorang sahabat mengatakan, “aku mencintai Allah Ta’ala” maka Rasulullah SAW bersabda: bersedialah untuk menghadapi bala’ (cobaan)” (HR. At Tirmidzi dalam Al-Ghazali, 1994: 505).
Karena itu, untuk siap menghadapi cobaan dari Allah, manusia yang menempuh jalan ke-Wiku-an mesti mampu untuk “menghisap arus keringat perjuangan” yang Nurel Javissyarqi ungkapkan. Dan menurut saya, “menghisap arus keringat perjuangan” sebagai tapak jalan dalam memperoleh ilmu pengetahuan mengenai agama, pun mengenai kehidupan serta tingkatan-tingkatan cinta. Lalu, Nurel Javissyarqi pun mengatakan: “haus akan madu kepujanggaan” yang menyatakan nilai dari keluhuran karya seorang pujangga. Bukan pada seorang pujangganya, namun lebih pada karya yang dihasilkan.
Hal ini dapat ditilik dari pandangan Aristoteles (dalam Ratna, 2007: 70) yang mengungkapkan berfungsi karya seni untuk mensucikan jiwa manusia (Aristoteles dalam Ratna, 2007: 70), maupun pendapat dari Imam Al-Ghazali (Abdul Hadi W.M., 2004: 34) yang menyatakan bahwa efek yang ditimbulkan karya seni terhadap jiwa manusia sangat besar, dan karenanya menentukan pembentukan moral dan penghayatan keagamaannya. “Madu kepujanggaan” mengarahkan manusia untuk belajar kebijaksanaan dari seni.
“Madu kepujanggaan” karena itu, Nurel Javissyarqi melanjutkan puisinya dengan:
Sesobek-sobek kenangan ganjil dalam puisi,
kau pegang bagi teori atas hukum-hukummu (V : IX) (Kitab Para Malaikat, 2007: 31).
Rangkaian kata yang tadinya mengandung kemajemukan makna, Nurel Javissyarqi sederhanakan menjadi “sesobek-sobek kenangan ganjil dalam puisi” yang lebih memberikan pengertian secara sederhana. “Sesobek-sobek kenangan” dapat kita pahami sebagai penggalan dari sebuah pengetahuan mengenai hal yang “ganjil”. Kita perlu mengingat kalau istilah “ganjil” lebih merujuk pada keanehan atau keindahan yang ada di luar batas manusia, sehingga dengan ini saya pun menyimpulkan istilah “ganjil” bermakna pada keesaan dan kekuatan Tuhan. Seperti dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Bukhari (Al-Qasimi, 2010; 293), Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya di antara syair itu ada hikmah”.
Hikmah atau patahan-patahan ilmu kebijaksanaan yang membawa manusia pada jalan cinta ini lah yang layak untuk pahami. Bahkan, secara radikal kita bisa saja mengatakan Quran sebagai serangkaian puisi yang Tuhan Semesta Alam turunkan ke bumi untuk menjadi pegangan Kitab Islam sehingga agama tersebut menjadi Rahmatan Lil ‘Alamin. Sehingga puisi yang Nurel Javissyarqi maksudkan adalah Quran itu sendiri, yang akhirnya bagi seorang pejalan yang menempuh jalan ke-Wiku-an, akan menggunakan Quran (baca juga: kitab suci) sebagai penunjuk jalan. Itu yang mungkin saja dimaksudkan Nurel Javissyarqi dengan: “kau pegang bagi teori atas hukum-hukummu”, yaitu adalah puisi sebagai simbolisme dari kitab suci. Untuk mencapai tingkatan tinggi, jalan kebatinan (tasawuf Jawa) mengenal tingkatan-tingkatan, yaitu sarengat, tarekat, hakekat, mahrifat (Mulder, 1984: 24-25).
Menjadi seorang pejalan yang menempuh untuk mencapai taraf yang lebih tinggi, menjadi seorang Wiku atau seorang pecinta yang mencapai ma’rifat, maka manusia hendaknya menjadikan Quran (kitab suci) sebagai pegangan hidup dan hukum. Selain itu, ada aspek lain yang berada di luar diri manusia yaitu alam semesta yang mana, dalam Quran surat Adz-Dzariyat ayat 20, yaitu: “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yaqin” dan melalui tanda-tanda itu, manusia bisa belajar mengenai hakekat kehidupan.
Dari alam itu, kita bisa belajar mengenai hakekat dalam perjalanan ke-Wiku-an ini:
Menimbang tidak lebih berat,
bayangkan ia awan, kau pelajar di matanya (V : XXIX) (Kitab Para Malaikat, 2007: 32)
Belajar dari alam mengenai kehidupan, hakekat hidup dan bagaimana menjalani kehidupan agar menjadi bijaksana. Sebab, seorang Wiku adalah sosok yang dekat dengan alam yang merupakan tempat dimana Tuhan memanifestasikan kekuatannya. Untuk itu, dalam tradisi Jawa mengenal adanya “memayu-hayuning bawana” yang oleh Sosrosudigdo diterjemahkan sebagai menguasakan keselamatan dunia pada umumnya (Mulder, 1984: 39-40). Istilah menjaga keselamatan adalah dengan membaca tanda-tanda alam, yang secara tidak langsung menjadikan alam sebagai guru bagi kehidupan manusia. Seperti para petani yang menggunakan tanda-tanda alam dalam kerja pertanian mereka.
Bersinggungan dengan kondisi ini, saya teringat dengan lagu yang dinyanyikan Ebit G. Ade, berjudul “Bahasa Matahari”, dimana mempelajari alam dengan kalimat rahasia karena Tuhan menghendaki manusia memelihara bumi dan isinya. Alam menjadi suatu medan pembelajaran bagi manusia yang menempuh jalan ini. Di dalam alam itu, terkadang Tuhan memberikan pertanda mengenai sesuatu, sehingga manusia Jawa memiliki ilmu titen atau menandai dengan skema gathak-gathuk yang dilandasi dengan rasa sejati.
Belajar dari alam ini, Nurel Javissyarqi tegaskan kembali dalam ayat:
Usah menyebut di masa kapan ialah sudut menjangkau kepenuhan,
mengkristal embun daun jati di hutan pelajaran, ambil perekat mahabbah itu
demi untaian rambutmu menghitam panjang sepenantian ganjil abadi (V : LIV) (Kitab Para Malaikat, 2007: 33)
Dengan mempelajari alam ini, bisa membuat manusia mengenal hakekat Hidup (Tuhan) secara lebih dalam untuk mencapai tahapan cinta seorang Wiku pada Tuhan (Hyang). Dengan melihat alam, “mempersaksikan kebaikan, kemurahan, karunia dan nikmat Allah yang zhahir maupun yang batin” (Al-Jauziyah, 2009: 427) yang mana dapat menambah rasa cinta tersebut.
Karena itu, “mengkristal embun daun jati di hutan pelajaran” berarti memahami kehidupan, mengenai kebaikan, kemurahan, karunia serta nikmat Allah tersebut, sehingga manusia akan menemukan “perekat mahabbah” pada apa “ganjil abadi”. Sudah saya sebutkan di atas, bahwa istilah “ganjil” bermakna pada keesaan dan kekuatan Tuhan, sehingga perjalanan seorang Wiku adalah perjalanan di jalan cinta menuju Tuhan Yang Maha Abadi.
Dan ketika seorang manusia menempuh jalan ke-Wiku-an ini, tidak perduli seberapa mudanya ia, namun ketika kesadaran dan pengetahuan menuntun untuk melangkah, maka:
Hilang kepemudaan atas kehendak berkepompong, benang-benang
sutramu balutan penari ulat, akan menjelma kekupu di panggung bayangan,
nantinya bakal berkabarkan cahaya kepenuhan (V : XLII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 33)
Sehingga, di sana kita menemui bagaimana manfaat dan kelebihan ketika manusia menyadari atas jati-diri seorang Wiku, yang hidup dalam kesederhanaan, kerasnya perjalanan yang bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk umat manusia yang berada di sekitarnya. Dan mungkin saja lebih jauh, karena Wiku adalah pertapa hari dalam penjagaan malam.
MANUSIA CINTA
Manusia cinta, yang saya maksudkan adalah manusia yang mengisi hidupnya dengan cinta. Saya sengaja membedakannya dengan perjalanan ke-Wiku-an, sebab manusia cinta ini keberadaannya kadang tersembunyi dari orang lain, dan terkadang tidak mengindahkan orang lain. Hanya ada dirinya sendiri dan objek yang dicintai. Mungkin saja ini, yang diungkapkan Maman S. Mahayana (2007: vii) dalam mengantari “Kitab Para Malaikat” dengan mengatakan, serangkaian keasyikmasyukan, keterlenaan dan ekstase yang memabukkan dirinya sendiri.
Manusia cinta berusaha keras dengan semua kekurangan, dan mungkin saja keterbatasan pengetahuan. Akantetapi, manusia cinta ini memiliki kadar cinta yang banyak, yang membuatnya berusaha keras menuju yang dia cintai. Perjuangan manusia cinta dapat kita lihat di:
Anak-anak menarik tali pedati seberat beban hidupnya,
Ia terlunta mengamati bening-hening-cermin berserak duka (V : XII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 31)
Seperti inilah penggambaran manusia cinta itu. Dia seperti “anak-anak” kecil yang menjadi simbol atas keterbatasan pengetahuan hidup. Pengetahuan di sini merujuk kepada pengetahuan agama dan kebijaksanaan. Jadi, manusia cinta berbekal keinginan untuk membawa kehidupannya pada jalan cinta. Seperti yang Nurel Javissyarqi ungkapkan: “menarik tali pedati seberat beban hidupnya” yang menggambarkan mengenai usaha manusia cinta untuk membawa diri menemui sang tercinta.
Tapi, sebentar, saya masih ragu, apakah ini sebagai penggambaran kehidupan manusia yang memiliki pengetahun sedikit namun menuju pada jalan cinta, atau justru rasa cinta yang besar membuat manusia cinta menjadi seperti anak kecil. Manusia yang berubah kanak karena perasaan cinta terus mendesak, membuat ilmu tidak berjalan selain kekuatan keinginan itu sendiri. Menjadi sesuatu yang cukup logis, ketika manusia cinta dibutakan dan dibodohkan oleh cinta. Sebab, seperti bagi manusia cinta, perbuatan dan ilmu bercampur menjadi satu. Bahkan, manusia itu sendiri sudah tenggelam di dalam cinta.
Keadaan ini dapat kita temukan dalam tulisan Rauf Mazari, Niazi (Shah, 1985: 327) yang mengatakan bahwa: “Cinta adalah Perbuatan, Perbuatan adalah Pengetahuan, Pengetahuan adalah Kebenaran, Kebenaran adalah Cinta”. Dari ungkapan ini, kita bisa menilik kembali mengenai aspek dari perbuatan dan pengetahuan sang manusia cinta. Ia, manusia cinta adalah manusia yang menuruti kehendak hati (cinta) yang terus mendesaknya untuk melakukan gerakan. Di dalam gerakannya, ada pengetahuan dan di dalam pengetahuannya ada kebenaran, setelah itu keseluruhannya bernama cinta.
Sudah tidak ada lagi objek dan subjek, bersatu lebur menjadi satu yaitu cinta. Karena itu, manusia cinta menjadi anak kecil, bahkan Syibli dan Junaid (Shah, 1985: 207) menyatakan kalau kekuatan cinta mampu membuat manusia menjadi gila. Karena kondisi ini, cukup wajar jiwa Nurel Javissyarqi menyatakan: “terlunta mengamati beling-hening-cermin berserak luka” yang mana mereka (manusia cinta) mampu melihat diri dengan jernih. Manusia cinta mampu mengenal dirinya sendiri, sehingga merasa sakit dengan kehidupan manusia yang fana.
Ketika manusia telah mampu melihat dirinya sendiri, tentang bagaimana keadaan hidupnya, maka Nurel Javissyarqi lalu berucap:
Di dasar kesunyian, temukan tangisan tinta hitam di waktu lambat membisu,
berharum kembang khusyuk sesalan kalbu (V : LVI) (Kitab Para Malaikat, 2007: 33)
Diri yang sejati, yang berada di dalam sanubari, kebenaran manusia nampak dengan jelas oleh manusia cinta. Ungkapan “kesunyian” dapat dimaknai sebagai hati manusia, karena sunyi dipandang mengandung nilai keheningan dan tentu saja, adalah kesucian. Hati manusia hakekatnya sunyi, tidak bising dengan keinginan. Gerakan dari hati itu pun pasti, merujuk pada kebaikan yang didasari oleh hakekat dan ruh kehidupan, yaitu cinta dan Tuhan.
Ketika manusia mengedepankan hati, dan dengannya melihat realitas dirinya yang dikejar oleh hawa nafsu, maka hati itu sedikit banyak akan merasakan prihatin. Apalagi kalau itu adalah “tinta hitam” kehidupannya sendiri, maka manusia pecinta akan lebih merasakan sakit, merasa kalau dirinya begitu hina di depan Kekasihnya. “Dasar kesunyian” merujuk pada perenungan manusia atas jalan hidup manusia. Ketika di sana menemukan berbagai “tinta hitam” sebagai perjalanan (baca: takdir) yang sudah terlaksana dan tidak sesuai dengan sanubari, maka manusia cinta pun merasakan kesedihannya.
Kesedihan di sini bukan karena dosa-dosa yang mengancam yang membuatnya masuk ke neraka. Akantetapi lebih pada perasaan tidak pantas untuk bersanding dengan sang Kekasih. Sampai, “berharum kembang khusyuk sesalan kalbu” atas kehidupan yang sudah dijalani. Inilah, hakekat dari hati yang sudah pernah saya bahas dalam uraian “Hukum-hukum Pecinta, Nasehat Penyari untuk Diri” bahwa hati manusia adalah pemangku otoritas kehidupan. Dan manusia cinta, meletakkan seluruh perjalanan hidupnya pada hati, arah mana yang musti ditempuh dan bagaimana.
PERTEMUAN RINDU
Bagaimana perasaan kita kalau sedang menanggung perasaan rindu, kemudian disuatu ketika yang sangat kita nantikan, kita bisa bertemu dalam pertemuan rindu untuk melepaskan semua rasa yang ada? Tidak bisa terbayangkan indahnya, menghadapi perjamuan yang membayangi hidup kita setiap tarikan napas. Ini keajaiban rindu, yang tidak hanya sekedar dari rangsangan hebat pada seseorang untuk melakukan sesuatu, yang tentu saja demi tersalurkan hasrat kerinduan tersebut.
Bayu meniup api melambai, bara bergolak ke uluh hati dan prasangka
tumpah merajah prahara, menelusup ke dada, meruh ke dalam sukma (V : II) (Kitab Para Malaikat, 2007: 31)
Perasaan rindu pada sesuatu yang dicintai selayaknya kejadian angin yang meniup api: “bayu meniup api melambai” yang dapat membuat kerinduan semakin besar. Kerinduan yang semisalnya saja kita umpamakan dengan percikan api kecil di tumpukan daunan kering, maka api itu dapat membesar dan menghanguskan keseluruhan daunan tersebut. Kita lihat saja, berbagai kasus kebakaran hutan yang justru semakin meluas ketika ada angin bertiup. Aspek rindu digantikan oleh aspek “api melambai” sedangkan aspek “bayu” dapat disebut dengan perasaan sendiri yang membawa pada suatu ketergantungan atau perasaan membutuhkan.
Rasa membutuhkan yang tentu saja membuat seseorang untuk bertemu dengan sesuatu yang dicinta menuntunnya untuk melakukan suatu gerakan (entah itu perjalanan atau sekedar menjalankan aktivitas) dalam rangka memuaskan rindu. Al-Jauziyah (2009: 444) memandang rindu sebagai salah satu pengaruh dan hukum cinta, yang sekaligus merupakan perjalanan hati menuju kekasih (suatu yang dicintai) dalam keadaan bagaimana pun. Perjalanan menuju kekasih ini tidak semerta-merta tindakan untuk bertemu, dia dapat berwujud apa saja yang mesti dilakukan dalam usaha mengobati rindu.
Kalau Nurel Javissyarqi mengumpakan rindu sebagai jilatan api, hal ini dapat dipahami, seperti yang juga diungkapkan Al-Jauziyah (2009: 444) bahwa rindu dapat membakar hati dan menghentakkan jantung. Hal ini dapat kita pahami dari berbagai kasus, yang tentu saja merupakan pengalaman pribadi setiap manusia. Bahwa rindu, membuat hati manusia tidak tenang, tidak jenak dalam melakukan berbagai aktivitas, yang ada di dalam benak manusia perindu hanya bagaimana caranya untuk bertemu dengan yang dirindui.
Rindu yang memuncak dan tidak tertahan, kemudian juga tidak tersalurkan akan membawa keresahan yang sangat. Tidak sedikit yang sampai terbawa ke alam mimpi. Resahnya hati dalam merindukan yang dicintai tersebut, oleh Nurel Javissyarqi dikatakan mampu: “bara bergolak ke ulu hati dan prasangka tumpah merajah prahara” yang mengungkapkan mengenai keresahan dimaksud. Resah yang tidak segera terobati akan mendatangkan kekalutan yang membuat seseorang berada dalam keraguan-keraguannya sendiri.
Kita juga bisa melihat mengenai suatu nilai dari sembahyangnya manusia atau pemujaan manusia pada sesuatu. Manusia yang bersembahyang (yang tulus) karena di dorong oleh aspek rindu ini. Keinginan untuk bertemu dan perasaan membutuhkan. Memang kita tidak bisa memukul rata dalam pendapat ini, bahwa tidak setiap orang yang bersembahyang karena rindu, lebih banyak yang karena faktor membutuhkan pertolongan. Akantetapi, ini sebagai penggambaran saja, bahwa dalam konteks religius seorang pecinta yang merasakan rindu pada Tuhannya akan menjadikan sembahyang sebagai media bertemu.
Sampai ketika kerinduan terus ada, kerinduan yang “meruh dalam sukma” seorang pecinta terkadang tidak bisa lepas dari yang dicintai. Ia kemudian melakukan suatu aktivitas yang bisa membuat si pecinta senantiasa bersama dengan yang dicintai. Ketika kita merujukkan khasanah ini pada kecintaan manusia pada Tuhan, maka seperti yang dilakukan para Wiku, maka mereka akan senantiasa meluangkan keseluruhan dari kehidupan mereka untuk mendekatkan diri pada Tuhan dengan cara bersemedi atau menyepi. Semedi di sini bukan hanya masalah mengenai pemusatan pemikiran, namun di dalamnya terdapat doa, pemujaan, dan tentu saja kontemplasi.
Kerangka bersemadi adalah sebagai perwujudan dari penggunaan keseluruhan waktu (seluruh hidup) untuk berada lebih dengan dengan Tuhan, sehingga di dalam semedi yang terpenting adalah pertemuan itu sendiri. Keadaan diri, saat itu tidak dihiraukan apakah mengalami penderitaan atau berada di ujung kehidupan, sebab pertemuan dengan sang Kekasih (Tuhan) sebagai hal yang paling utama dan menepis semua penderitaan manusia.
Keadaan ini seperti dalam penggambaran Ansari dari Herat (Huxley, 2001: 418) yang menyatakan bahwa: “Ketahuilah bahwa ketika kamu belajar untuk mengabaikan dirimu, kamu akan mencapai yang kamu kasihi.” Perihal yang mana, seseorang tidak lagi memperdulikan diri, hanya mengenai pertemuan dirinya dengan kekasih. Semadi sebagai bagian dari ritual doa yang merupakan aspek dari usaha untuk memenuhi kerinduan kodrati dari hati manusia untuk mencurahkan cinta dan rasa syukur kepada sang Pencipta (Davamony, 1985: 265).
Semadi juga sebagai jalan bagi manusia, dalam literatur Jawa, untuk memusatkan kesaktian, kekuatan kosmis yang ada di dalam dirinya sendiri (Magnis-Suseno SJ, 1985: 104). Semadi, jalan mendekatkan diri pada kehidupan semesta serta Tuhan untuk mencapai kekuatan ketuhanan (atau magis) yang mana sebagai hasil dari kedekatan manusia dengan Tuhan. Pertemuan yang berlangsung lama menjadikan manusia yang bersemadi memiliki keistimewaan yang oleh masyarakat Jawa disebut dengan kasekten atau kesaktian.
Pelaksanaan dari semadi sebagai pelaksanaan dari laku spiritual, yang dapat juga dikatakan sebagai suatu perjalanan menuju kesejatian hidup atau Tuhan. Jalan yang ditempuh dalam perjalanan ini adalah dengan lebih membersihkan hati untuk mencapai kesucian rasa sejati atau aspek ilahi dalam diri manusia. Jadi, perjalanan seorang pecinta dalam mencapai tingkatan religius adalah perjalanan hati, seperti dengan berpuasa, bersemadi, beribadah yang di dalamnya menyangkut shalat dan pujian lainnya.
DI GERBANG CINTA
Manusia yang mencintai, kemudian merasakan gejolak rindu, setelah itu melakukan perjalanan untuk bertemu dengan yang tercinta, dia mengalami keterlupaan pada dunianya. Keterlupaan yang saya maksudkan lebih pada kepasrahan hidup, yang dilakukan secara totalitas. Apalabila dalam khasanah manusia Jawa, totalitas di sini tercermin dalam pandangan nrima ing pandhum, menerima semua hal (nasib) yang sudah digariskan oleh Tuhan. Sifat pasrah dalam konteks ini bukan pasrah pasif, melainkan pasrah yang aktif dimana manusia berusaha keras dan meletakkan semua keputusan di tangan Tuhan.
Sikap nrima manusia Jawa sebagai sikap untuk mau menerima nasib, dan sikap bersabar, yang berarti sikap menerima nasib dengan rela (Koentjaraningrat, 1994: 404). Sabar dan rela, yang menuntun manusia untuk menerima apa pun yang sudah Tuhan berikan dalam jalan cinta. Kepasrahan juga disertai dengan rasa yaqin, dimana nasib yang diterima adalah yang terbaik dari Tuhan. Yaqin mampu memberikan kekuatan dalam melakukan kepasrahan total, sebab “di dalam yaqin tidak ada keraguan sama sekali” (Al-jauziyah, 2009: 352).
Manusia yang pasrah secara total, seperti yang diungkapkan Nurel Javissyarqi dalam ayat berikut:
Kau pena tergolek tidak menghiraukan lelembaran kertas,
membiarkan diri terlelap sampai hilang rasa berkata (V : LXVIII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 34).
“Pena yang tergolek” menjabarkan mengenai pertautan bangunan simbol kepasrahan manusia. Pena, seperti manusia yang dalam gerakan dibutuhkan adanya kekuasaan. Akantetapi, pena di sini membiarkan dirinya tergeletak kalau tidak ada tangan yang menggunakannya untuk membuat suatu garis atau kata. Lalu, tangan siapa yang menggerakkan pena? Itu adalah kekuasaan Tuhan, dimana manusia yang yaqin tidak akan bergerak sama sekali, tidak akan meronta kalau nanti tiba waktunya Tuhan mencelupkannya di dalam cawan tinta atau membiarkan tergeletak begitu saja.
Nuansa yang tergambar di sini, hanya untuk menggambarkan mengenai kematian hawa nafsu manusia. Yang dalam pandangan hidup manusia Jawa, dikatakan sebagai mati sajroning urip lan urip sajroning mati. Orang yang pasrah dalam ketotalitasan, akan nampak seperti orang mati, akantetapi jiwanya terus bergerak menuju yang tercinta. Sebab, ketika Tuhan yang menjadi sang Kekasih, maka hanya dengan kematian itu manusia bisa bertemu Tuhan untuk lebih lama.
Terkuaklah kerahasiaan sedari menampar kekangan,
rindu lebur lenyap sudah dan kematian membangkitkan rasa
dan perasaan menjelma pengetahuan pertama (V : LXXIV) (Kitab Para Malaikat, 2007: 34)
Kepercayaan para pecinta, ketika mereka mencapai kematian mereka mampu untuk mencapai Tuhan, sebab tubuh mereka bersifat duniawi dan tidak mampu menggapai dunia ruh. Sa’di (dalam Seyyed Hossein Nasr et al, 2003: 343) mengatakan bahwa: “Para pecinta terbunuh oleh sang Kekasih [Tetapi] mereka yang terbunuh tidak dapat berbicara”. Terbunuh di sini untuk mencapai aspek penyatuan. Kematian seorang pecinta berarti memasuki kehidupan yang sebenarnya, karena “Orang yang mengetahui kekuatan rahasia perputaran cepat itu, hidup di dalam Tuhan: Cinta sedang membunuh dan menghidupkan mereka – mengetahuinya…” (Rumi dalam Schimmel, 2002: 238).
Lantas, apakah mereka yang terbunuh itu mati? Untuk menjawab dan mengakhiri kajian ini, saya mengutip langsung syair Jalaluddin Rumi (Schimmel, 2002: 238): “Para pecinta aneh – semakin mereka dibunuh, semakin mereka hidup”.
Bantul – Studio SDS Fictionbooks, 01 Maret 2010
http://sastra-indonesia.com/
PENGANTAR
Cinta sebagai sesuatu yang lumrah dalam kehidupan manusia, yang di dalamnya dipenuhi dengan puja-puji atas sesuatu yang dicintai. Hidup yang dipenuhi dengan rasa cinta, membuat kehidupan menjadi lebih indah dan bermakna. Cinta yang menjadikan hidup indah, dan indah di sini tidak mengacu pada keindahan materi, melainkan lebih pada pengaruh dari keindahan rasa yang menentukan eksistensi dari dunia materi. Menurut saya, cinta itu jauh dari apa yang namanya nilai badaniah, karena cinta bersifat ruh yang suci dan membawa manusia pada jalan terang yang memabukkan.
Ibnu Al-Arabi (Shah, 1985: 95) mengungkapkan suatu “Cinta Istimewa” yang mana mampu memilih dalam pengungkapan yang lebih, “keindahan-keindahan semata terdiamkan: sifat kesederhanaan melimpah”. Bahwa cinta itu tidak hanya mengacu pada sesuatu yang indah secara bentuk, namun memberikan nilai yang lebih dari itu. keberadaannya terkadang tersembunyi, karena bersifat ruh dan berada di dalam jiwa manusia.
Perjalanan manusia, hakekatnya dimulai dari rasa cinta akan sesuatu. Cinta juga dapat dikatakan sebagai rangsangan dari dalam diri yang menggerakkan manusia untuk berbuat sesuatu demi mencapai sesuatu yang dicintai. Cinta sebagai rasa yang sejati dan mampu menjauhkan manusia dari kejahatan, walau terkadang, ketika cinta memiliki cabang, cinta bisa menghadirkan berhala baru yang akhirnya menyekutukan Hidup (Tuhan). Cinta itu, menurut Jalaluddin Rumi (Schimmel, 2002: 213) sebagai kehidupan yang abadi, dan melipat-gandakan kehidupan yang menyenangkan.
Karena keberadaan cinta sebagai kehidupan yang abadi dan melipat-gandakan kesenangan, yang tentu saja untuk manusia, maka seringkali seorang pecinta mengalami keterlupaan pada dunia realitas. Hal ini yang dinamakan sebagai ekstase karena cinta, yang menyenangkan dalam keberlimpahan dapat membuat mabuk. Walau tanpa candu dan minuman berakhohol, manusia dapat mabuk karena cinta. Lebih hebat dari benda-benda yang memabukkan semisal candu dan anggur, cinta bisa membuat manusia seperti manusia gila yang tidak tersembuhkan kecuali oleh sesuatu yang dicintai.
Tulisan ini merupakan hasil dari pembacaan dan pemahaman, kemudian saya berusaha menafsirkan dari karya Nurel Javissyarqi berjudul “Musik-Tarian Keabadian, V : I – LXXIV” dalam antologi puisi “Kitab Para Malaikat” yang diterbitkan Pustaka Pujangga tahun 2007. Saya mencoba menguraikan bagaimana pengalaman Nurel Javissyarqi dalam perjalanan pengelanaannya untuk menuliskan energi-energi cinta yang ditemui.
JALAN KE-WIKU-AN
Tidak bermaksud menisbatkan sesuatu, namun menurut saya pribadi, seseorang yang berjalan menuruti rasa cinta, seseorang tersebut mencoba jalan yang dilakukan para Wiku. Hal ini disadari argumen, bahwa para Wiku itu sudah berusaha untuk melepaskan kepentingan-kepentingan duniawi yang tidak memiliki manfaat untuk perjalanan manusia yang lebih panjang di alam akhirat. Atau, para Wiku menjalani kehidupan di jalan tertentu yang mereka percayai untuk mencapai tarf hidup yang lebih tinggi, misalnya moksa dalam ajaran Hindu-Budha ataupun Penyatuan (mahrifat) dalam tasawuf Islam.
Saya memiliki alasan khusus dengan menggunakan istilah Wiku, bukan rahib atau Biksu walau dari keseluruhan istilah yang ada merujuk pada satu makna, yaitu para pemeluk teguh dari suatu agama atau keyakinan. Hanya saja, istilah Wiku lebih umum untuk semua kalangan, sebagai manusia bijak (manusia Jawa yang bijak) dan memiliki kedekatan dengan manusia, alam, dan tatanan kosmos lain yang lebih tinggi, serta Hidup (Tuhan).
Hal mendasar ketika saya menuliskan ini, bahwa dalam pemahaman saya ketika manusia berusaha berjalan di perjalanan cinta dia seperti seorang Wiku, yang berusaha sebijak mungkin. Karena bagaimana pun juga, jalan hidup seorang Wiku digerakkan oleh cinta, yang entah karena cinta pada diri sendiri karena ingin mencari keselamatan, cinta pada manusia yang berusaha memberikan pencerahan hidup, dan cinta pada Hidup (Hyang atau Tuhan) demi mendapatkan cinta kasih-Nya.
Jalan seorang Wiku dapat saya temukan di dalam puisi Musik-Tarian Keabadian karya Nurel Javissyarqi pada ayat:
Di atas ketinggian dahan, ruh para malaikat penunggu bukit datang berseru,
bergelombang siur bayu berkilau membusa liar di pantai pada kulit luka menerawan,
ia menghisap arus keringat perjuangan, haus akan madu kepujanggaan (V : IV) (Kitab Para Malaikat, 2007: 31)
Ketika kita berusaha untuk memahami sebuah langkah awal yang dimiliki oleh seorang Wiku dalam memulai perjalanannnya, dapat dikatakan sebagai pengetahuan mengenai sesuatu hal. Perjalanan di dasari oleh pengetahuan, sebab pengetahuan membawa pada kesadaran seseorang untuk menjalani sesuatu yang di dalamnya jauh sekali dari apa yang namanya paksaan. Cinta adalah gerakan hati, karena itu keberadaannya di dasari oleh kesadaran yang tanpa paksaan. Tidak ada cinta yang memaksa, baik untuk mencintai atau cintai.
Seperti halnya, sebagai contoh cinta manusia kepada Tuhan, dimana seorang hamba memiliki pengetahuan akan keesaan Tuhan. Pengetahuan dapat didapat dari lima indera manusia, yang akan membawa suatu rasa nikmat ketika manusia dekat pada apa yang diketahui dan dicintai. Dan apabila cinta mengikuti pada apa yang diketahui dan dikenal, maka cinta akan terbagi menurut pengenalannya yang melalui panca indera (Al-Ghazali, 1994: 511). Akantetapi, cinta berangkat dari pengetahuan itu, yang melalui panca indera manusia bisa mengenal, sehingga menurut saya ini yang mendasari Nurel Javissyarqi mengatakan: “di atas ketinggian dahan”.
“Di atas ketinggian dahan” sebagai langkah awal mengenai suatu perjalanan. Pengetahuan dari indera hanya sebagai langkah awal bagi sang Wiku sampai dalam babak perjalanannya mendengarkan “ruh para malaikat penunggu bukit datang berseru”. Seruan di sini dapat kita pandang sebagai buah dari pengetahuan indera mengenai sesuatu. Karena ini dalam konteks Jalan Ke-Wiku-an, maka saya langsung merujukkan pada aspek spiritualitas. Seruan malaikat yang menunggu bukit (baca: tempat tinggi dalam aspek spiritual) agar sang Wiku tidak berhenti dalam menimba ilmu. Hal ini bisa ditilik, antara dahan dan bukit lebih tinggi bukit sehingga, sang Wiku yang memiliki pengetahuan mengenai sesuatu hal diseru dari atas, dari keilmuan yang lebih tinggi.
Seruan ini merupakan panggilan bagi orang yang memahami karena memiliki pengetahuan dan kesadaran. Pengetahuan serta kesadaran yang akhirnya menumbuhkan cinta membuat sang Wiku untuk mau meniti jalan demi mencapai pengetahun yang lebih tinggi. Tentu saja, pengetahuan yang tidak dapat diraih dengan kemampuan panca indera. Cinta yang merupakan kehidupan serta cahaya (Al-Jauziyah, 2009: 421) akan membawa manusia untuk memahami lebih jauh melalui indera keenam yang bertempat di hati (Al-Ghazali, 1994: 512).
Seruan malaikat itu, tentu saja musti di dengar dengan indera keenam, melalui rasa sejati (sanubari manusia). Ketika manusia hendak menjalani seruan itu, dia pun akan merasakan hidup yang dipenuhi penderitaan, yang “membusa liar di pantai pada kulit luka” yang mana menyatakan penderitaan ini hanya sebatas pada resiko yang sungguh tidak sebanding dengan kenikmatan cinta. Hal ini, ketika kita menempuh jalan cinta seorang Wiku pada Tuhan untuk mencapai kebijaksanaan maka seperti sabda Rasulullah SAW ketika seorang sahabat mengatakan, “aku mencintai Allah Ta’ala” maka Rasulullah SAW bersabda: bersedialah untuk menghadapi bala’ (cobaan)” (HR. At Tirmidzi dalam Al-Ghazali, 1994: 505).
Karena itu, untuk siap menghadapi cobaan dari Allah, manusia yang menempuh jalan ke-Wiku-an mesti mampu untuk “menghisap arus keringat perjuangan” yang Nurel Javissyarqi ungkapkan. Dan menurut saya, “menghisap arus keringat perjuangan” sebagai tapak jalan dalam memperoleh ilmu pengetahuan mengenai agama, pun mengenai kehidupan serta tingkatan-tingkatan cinta. Lalu, Nurel Javissyarqi pun mengatakan: “haus akan madu kepujanggaan” yang menyatakan nilai dari keluhuran karya seorang pujangga. Bukan pada seorang pujangganya, namun lebih pada karya yang dihasilkan.
Hal ini dapat ditilik dari pandangan Aristoteles (dalam Ratna, 2007: 70) yang mengungkapkan berfungsi karya seni untuk mensucikan jiwa manusia (Aristoteles dalam Ratna, 2007: 70), maupun pendapat dari Imam Al-Ghazali (Abdul Hadi W.M., 2004: 34) yang menyatakan bahwa efek yang ditimbulkan karya seni terhadap jiwa manusia sangat besar, dan karenanya menentukan pembentukan moral dan penghayatan keagamaannya. “Madu kepujanggaan” mengarahkan manusia untuk belajar kebijaksanaan dari seni.
“Madu kepujanggaan” karena itu, Nurel Javissyarqi melanjutkan puisinya dengan:
Sesobek-sobek kenangan ganjil dalam puisi,
kau pegang bagi teori atas hukum-hukummu (V : IX) (Kitab Para Malaikat, 2007: 31).
Rangkaian kata yang tadinya mengandung kemajemukan makna, Nurel Javissyarqi sederhanakan menjadi “sesobek-sobek kenangan ganjil dalam puisi” yang lebih memberikan pengertian secara sederhana. “Sesobek-sobek kenangan” dapat kita pahami sebagai penggalan dari sebuah pengetahuan mengenai hal yang “ganjil”. Kita perlu mengingat kalau istilah “ganjil” lebih merujuk pada keanehan atau keindahan yang ada di luar batas manusia, sehingga dengan ini saya pun menyimpulkan istilah “ganjil” bermakna pada keesaan dan kekuatan Tuhan. Seperti dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Bukhari (Al-Qasimi, 2010; 293), Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya di antara syair itu ada hikmah”.
Hikmah atau patahan-patahan ilmu kebijaksanaan yang membawa manusia pada jalan cinta ini lah yang layak untuk pahami. Bahkan, secara radikal kita bisa saja mengatakan Quran sebagai serangkaian puisi yang Tuhan Semesta Alam turunkan ke bumi untuk menjadi pegangan Kitab Islam sehingga agama tersebut menjadi Rahmatan Lil ‘Alamin. Sehingga puisi yang Nurel Javissyarqi maksudkan adalah Quran itu sendiri, yang akhirnya bagi seorang pejalan yang menempuh jalan ke-Wiku-an, akan menggunakan Quran (baca juga: kitab suci) sebagai penunjuk jalan. Itu yang mungkin saja dimaksudkan Nurel Javissyarqi dengan: “kau pegang bagi teori atas hukum-hukummu”, yaitu adalah puisi sebagai simbolisme dari kitab suci. Untuk mencapai tingkatan tinggi, jalan kebatinan (tasawuf Jawa) mengenal tingkatan-tingkatan, yaitu sarengat, tarekat, hakekat, mahrifat (Mulder, 1984: 24-25).
Menjadi seorang pejalan yang menempuh untuk mencapai taraf yang lebih tinggi, menjadi seorang Wiku atau seorang pecinta yang mencapai ma’rifat, maka manusia hendaknya menjadikan Quran (kitab suci) sebagai pegangan hidup dan hukum. Selain itu, ada aspek lain yang berada di luar diri manusia yaitu alam semesta yang mana, dalam Quran surat Adz-Dzariyat ayat 20, yaitu: “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yaqin” dan melalui tanda-tanda itu, manusia bisa belajar mengenai hakekat kehidupan.
Dari alam itu, kita bisa belajar mengenai hakekat dalam perjalanan ke-Wiku-an ini:
Menimbang tidak lebih berat,
bayangkan ia awan, kau pelajar di matanya (V : XXIX) (Kitab Para Malaikat, 2007: 32)
Belajar dari alam mengenai kehidupan, hakekat hidup dan bagaimana menjalani kehidupan agar menjadi bijaksana. Sebab, seorang Wiku adalah sosok yang dekat dengan alam yang merupakan tempat dimana Tuhan memanifestasikan kekuatannya. Untuk itu, dalam tradisi Jawa mengenal adanya “memayu-hayuning bawana” yang oleh Sosrosudigdo diterjemahkan sebagai menguasakan keselamatan dunia pada umumnya (Mulder, 1984: 39-40). Istilah menjaga keselamatan adalah dengan membaca tanda-tanda alam, yang secara tidak langsung menjadikan alam sebagai guru bagi kehidupan manusia. Seperti para petani yang menggunakan tanda-tanda alam dalam kerja pertanian mereka.
Bersinggungan dengan kondisi ini, saya teringat dengan lagu yang dinyanyikan Ebit G. Ade, berjudul “Bahasa Matahari”, dimana mempelajari alam dengan kalimat rahasia karena Tuhan menghendaki manusia memelihara bumi dan isinya. Alam menjadi suatu medan pembelajaran bagi manusia yang menempuh jalan ini. Di dalam alam itu, terkadang Tuhan memberikan pertanda mengenai sesuatu, sehingga manusia Jawa memiliki ilmu titen atau menandai dengan skema gathak-gathuk yang dilandasi dengan rasa sejati.
Belajar dari alam ini, Nurel Javissyarqi tegaskan kembali dalam ayat:
Usah menyebut di masa kapan ialah sudut menjangkau kepenuhan,
mengkristal embun daun jati di hutan pelajaran, ambil perekat mahabbah itu
demi untaian rambutmu menghitam panjang sepenantian ganjil abadi (V : LIV) (Kitab Para Malaikat, 2007: 33)
Dengan mempelajari alam ini, bisa membuat manusia mengenal hakekat Hidup (Tuhan) secara lebih dalam untuk mencapai tahapan cinta seorang Wiku pada Tuhan (Hyang). Dengan melihat alam, “mempersaksikan kebaikan, kemurahan, karunia dan nikmat Allah yang zhahir maupun yang batin” (Al-Jauziyah, 2009: 427) yang mana dapat menambah rasa cinta tersebut.
Karena itu, “mengkristal embun daun jati di hutan pelajaran” berarti memahami kehidupan, mengenai kebaikan, kemurahan, karunia serta nikmat Allah tersebut, sehingga manusia akan menemukan “perekat mahabbah” pada apa “ganjil abadi”. Sudah saya sebutkan di atas, bahwa istilah “ganjil” bermakna pada keesaan dan kekuatan Tuhan, sehingga perjalanan seorang Wiku adalah perjalanan di jalan cinta menuju Tuhan Yang Maha Abadi.
Dan ketika seorang manusia menempuh jalan ke-Wiku-an ini, tidak perduli seberapa mudanya ia, namun ketika kesadaran dan pengetahuan menuntun untuk melangkah, maka:
Hilang kepemudaan atas kehendak berkepompong, benang-benang
sutramu balutan penari ulat, akan menjelma kekupu di panggung bayangan,
nantinya bakal berkabarkan cahaya kepenuhan (V : XLII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 33)
Sehingga, di sana kita menemui bagaimana manfaat dan kelebihan ketika manusia menyadari atas jati-diri seorang Wiku, yang hidup dalam kesederhanaan, kerasnya perjalanan yang bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk umat manusia yang berada di sekitarnya. Dan mungkin saja lebih jauh, karena Wiku adalah pertapa hari dalam penjagaan malam.
MANUSIA CINTA
Manusia cinta, yang saya maksudkan adalah manusia yang mengisi hidupnya dengan cinta. Saya sengaja membedakannya dengan perjalanan ke-Wiku-an, sebab manusia cinta ini keberadaannya kadang tersembunyi dari orang lain, dan terkadang tidak mengindahkan orang lain. Hanya ada dirinya sendiri dan objek yang dicintai. Mungkin saja ini, yang diungkapkan Maman S. Mahayana (2007: vii) dalam mengantari “Kitab Para Malaikat” dengan mengatakan, serangkaian keasyikmasyukan, keterlenaan dan ekstase yang memabukkan dirinya sendiri.
Manusia cinta berusaha keras dengan semua kekurangan, dan mungkin saja keterbatasan pengetahuan. Akantetapi, manusia cinta ini memiliki kadar cinta yang banyak, yang membuatnya berusaha keras menuju yang dia cintai. Perjuangan manusia cinta dapat kita lihat di:
Anak-anak menarik tali pedati seberat beban hidupnya,
Ia terlunta mengamati bening-hening-cermin berserak duka (V : XII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 31)
Seperti inilah penggambaran manusia cinta itu. Dia seperti “anak-anak” kecil yang menjadi simbol atas keterbatasan pengetahuan hidup. Pengetahuan di sini merujuk kepada pengetahuan agama dan kebijaksanaan. Jadi, manusia cinta berbekal keinginan untuk membawa kehidupannya pada jalan cinta. Seperti yang Nurel Javissyarqi ungkapkan: “menarik tali pedati seberat beban hidupnya” yang menggambarkan mengenai usaha manusia cinta untuk membawa diri menemui sang tercinta.
Tapi, sebentar, saya masih ragu, apakah ini sebagai penggambaran kehidupan manusia yang memiliki pengetahun sedikit namun menuju pada jalan cinta, atau justru rasa cinta yang besar membuat manusia cinta menjadi seperti anak kecil. Manusia yang berubah kanak karena perasaan cinta terus mendesak, membuat ilmu tidak berjalan selain kekuatan keinginan itu sendiri. Menjadi sesuatu yang cukup logis, ketika manusia cinta dibutakan dan dibodohkan oleh cinta. Sebab, seperti bagi manusia cinta, perbuatan dan ilmu bercampur menjadi satu. Bahkan, manusia itu sendiri sudah tenggelam di dalam cinta.
Keadaan ini dapat kita temukan dalam tulisan Rauf Mazari, Niazi (Shah, 1985: 327) yang mengatakan bahwa: “Cinta adalah Perbuatan, Perbuatan adalah Pengetahuan, Pengetahuan adalah Kebenaran, Kebenaran adalah Cinta”. Dari ungkapan ini, kita bisa menilik kembali mengenai aspek dari perbuatan dan pengetahuan sang manusia cinta. Ia, manusia cinta adalah manusia yang menuruti kehendak hati (cinta) yang terus mendesaknya untuk melakukan gerakan. Di dalam gerakannya, ada pengetahuan dan di dalam pengetahuannya ada kebenaran, setelah itu keseluruhannya bernama cinta.
Sudah tidak ada lagi objek dan subjek, bersatu lebur menjadi satu yaitu cinta. Karena itu, manusia cinta menjadi anak kecil, bahkan Syibli dan Junaid (Shah, 1985: 207) menyatakan kalau kekuatan cinta mampu membuat manusia menjadi gila. Karena kondisi ini, cukup wajar jiwa Nurel Javissyarqi menyatakan: “terlunta mengamati beling-hening-cermin berserak luka” yang mana mereka (manusia cinta) mampu melihat diri dengan jernih. Manusia cinta mampu mengenal dirinya sendiri, sehingga merasa sakit dengan kehidupan manusia yang fana.
Ketika manusia telah mampu melihat dirinya sendiri, tentang bagaimana keadaan hidupnya, maka Nurel Javissyarqi lalu berucap:
Di dasar kesunyian, temukan tangisan tinta hitam di waktu lambat membisu,
berharum kembang khusyuk sesalan kalbu (V : LVI) (Kitab Para Malaikat, 2007: 33)
Diri yang sejati, yang berada di dalam sanubari, kebenaran manusia nampak dengan jelas oleh manusia cinta. Ungkapan “kesunyian” dapat dimaknai sebagai hati manusia, karena sunyi dipandang mengandung nilai keheningan dan tentu saja, adalah kesucian. Hati manusia hakekatnya sunyi, tidak bising dengan keinginan. Gerakan dari hati itu pun pasti, merujuk pada kebaikan yang didasari oleh hakekat dan ruh kehidupan, yaitu cinta dan Tuhan.
Ketika manusia mengedepankan hati, dan dengannya melihat realitas dirinya yang dikejar oleh hawa nafsu, maka hati itu sedikit banyak akan merasakan prihatin. Apalagi kalau itu adalah “tinta hitam” kehidupannya sendiri, maka manusia pecinta akan lebih merasakan sakit, merasa kalau dirinya begitu hina di depan Kekasihnya. “Dasar kesunyian” merujuk pada perenungan manusia atas jalan hidup manusia. Ketika di sana menemukan berbagai “tinta hitam” sebagai perjalanan (baca: takdir) yang sudah terlaksana dan tidak sesuai dengan sanubari, maka manusia cinta pun merasakan kesedihannya.
Kesedihan di sini bukan karena dosa-dosa yang mengancam yang membuatnya masuk ke neraka. Akantetapi lebih pada perasaan tidak pantas untuk bersanding dengan sang Kekasih. Sampai, “berharum kembang khusyuk sesalan kalbu” atas kehidupan yang sudah dijalani. Inilah, hakekat dari hati yang sudah pernah saya bahas dalam uraian “Hukum-hukum Pecinta, Nasehat Penyari untuk Diri” bahwa hati manusia adalah pemangku otoritas kehidupan. Dan manusia cinta, meletakkan seluruh perjalanan hidupnya pada hati, arah mana yang musti ditempuh dan bagaimana.
PERTEMUAN RINDU
Bagaimana perasaan kita kalau sedang menanggung perasaan rindu, kemudian disuatu ketika yang sangat kita nantikan, kita bisa bertemu dalam pertemuan rindu untuk melepaskan semua rasa yang ada? Tidak bisa terbayangkan indahnya, menghadapi perjamuan yang membayangi hidup kita setiap tarikan napas. Ini keajaiban rindu, yang tidak hanya sekedar dari rangsangan hebat pada seseorang untuk melakukan sesuatu, yang tentu saja demi tersalurkan hasrat kerinduan tersebut.
Bayu meniup api melambai, bara bergolak ke uluh hati dan prasangka
tumpah merajah prahara, menelusup ke dada, meruh ke dalam sukma (V : II) (Kitab Para Malaikat, 2007: 31)
Perasaan rindu pada sesuatu yang dicintai selayaknya kejadian angin yang meniup api: “bayu meniup api melambai” yang dapat membuat kerinduan semakin besar. Kerinduan yang semisalnya saja kita umpamakan dengan percikan api kecil di tumpukan daunan kering, maka api itu dapat membesar dan menghanguskan keseluruhan daunan tersebut. Kita lihat saja, berbagai kasus kebakaran hutan yang justru semakin meluas ketika ada angin bertiup. Aspek rindu digantikan oleh aspek “api melambai” sedangkan aspek “bayu” dapat disebut dengan perasaan sendiri yang membawa pada suatu ketergantungan atau perasaan membutuhkan.
Rasa membutuhkan yang tentu saja membuat seseorang untuk bertemu dengan sesuatu yang dicinta menuntunnya untuk melakukan suatu gerakan (entah itu perjalanan atau sekedar menjalankan aktivitas) dalam rangka memuaskan rindu. Al-Jauziyah (2009: 444) memandang rindu sebagai salah satu pengaruh dan hukum cinta, yang sekaligus merupakan perjalanan hati menuju kekasih (suatu yang dicintai) dalam keadaan bagaimana pun. Perjalanan menuju kekasih ini tidak semerta-merta tindakan untuk bertemu, dia dapat berwujud apa saja yang mesti dilakukan dalam usaha mengobati rindu.
Kalau Nurel Javissyarqi mengumpakan rindu sebagai jilatan api, hal ini dapat dipahami, seperti yang juga diungkapkan Al-Jauziyah (2009: 444) bahwa rindu dapat membakar hati dan menghentakkan jantung. Hal ini dapat kita pahami dari berbagai kasus, yang tentu saja merupakan pengalaman pribadi setiap manusia. Bahwa rindu, membuat hati manusia tidak tenang, tidak jenak dalam melakukan berbagai aktivitas, yang ada di dalam benak manusia perindu hanya bagaimana caranya untuk bertemu dengan yang dirindui.
Rindu yang memuncak dan tidak tertahan, kemudian juga tidak tersalurkan akan membawa keresahan yang sangat. Tidak sedikit yang sampai terbawa ke alam mimpi. Resahnya hati dalam merindukan yang dicintai tersebut, oleh Nurel Javissyarqi dikatakan mampu: “bara bergolak ke ulu hati dan prasangka tumpah merajah prahara” yang mengungkapkan mengenai keresahan dimaksud. Resah yang tidak segera terobati akan mendatangkan kekalutan yang membuat seseorang berada dalam keraguan-keraguannya sendiri.
Kita juga bisa melihat mengenai suatu nilai dari sembahyangnya manusia atau pemujaan manusia pada sesuatu. Manusia yang bersembahyang (yang tulus) karena di dorong oleh aspek rindu ini. Keinginan untuk bertemu dan perasaan membutuhkan. Memang kita tidak bisa memukul rata dalam pendapat ini, bahwa tidak setiap orang yang bersembahyang karena rindu, lebih banyak yang karena faktor membutuhkan pertolongan. Akantetapi, ini sebagai penggambaran saja, bahwa dalam konteks religius seorang pecinta yang merasakan rindu pada Tuhannya akan menjadikan sembahyang sebagai media bertemu.
Sampai ketika kerinduan terus ada, kerinduan yang “meruh dalam sukma” seorang pecinta terkadang tidak bisa lepas dari yang dicintai. Ia kemudian melakukan suatu aktivitas yang bisa membuat si pecinta senantiasa bersama dengan yang dicintai. Ketika kita merujukkan khasanah ini pada kecintaan manusia pada Tuhan, maka seperti yang dilakukan para Wiku, maka mereka akan senantiasa meluangkan keseluruhan dari kehidupan mereka untuk mendekatkan diri pada Tuhan dengan cara bersemedi atau menyepi. Semedi di sini bukan hanya masalah mengenai pemusatan pemikiran, namun di dalamnya terdapat doa, pemujaan, dan tentu saja kontemplasi.
Kerangka bersemadi adalah sebagai perwujudan dari penggunaan keseluruhan waktu (seluruh hidup) untuk berada lebih dengan dengan Tuhan, sehingga di dalam semedi yang terpenting adalah pertemuan itu sendiri. Keadaan diri, saat itu tidak dihiraukan apakah mengalami penderitaan atau berada di ujung kehidupan, sebab pertemuan dengan sang Kekasih (Tuhan) sebagai hal yang paling utama dan menepis semua penderitaan manusia.
Keadaan ini seperti dalam penggambaran Ansari dari Herat (Huxley, 2001: 418) yang menyatakan bahwa: “Ketahuilah bahwa ketika kamu belajar untuk mengabaikan dirimu, kamu akan mencapai yang kamu kasihi.” Perihal yang mana, seseorang tidak lagi memperdulikan diri, hanya mengenai pertemuan dirinya dengan kekasih. Semadi sebagai bagian dari ritual doa yang merupakan aspek dari usaha untuk memenuhi kerinduan kodrati dari hati manusia untuk mencurahkan cinta dan rasa syukur kepada sang Pencipta (Davamony, 1985: 265).
Semadi juga sebagai jalan bagi manusia, dalam literatur Jawa, untuk memusatkan kesaktian, kekuatan kosmis yang ada di dalam dirinya sendiri (Magnis-Suseno SJ, 1985: 104). Semadi, jalan mendekatkan diri pada kehidupan semesta serta Tuhan untuk mencapai kekuatan ketuhanan (atau magis) yang mana sebagai hasil dari kedekatan manusia dengan Tuhan. Pertemuan yang berlangsung lama menjadikan manusia yang bersemadi memiliki keistimewaan yang oleh masyarakat Jawa disebut dengan kasekten atau kesaktian.
Pelaksanaan dari semadi sebagai pelaksanaan dari laku spiritual, yang dapat juga dikatakan sebagai suatu perjalanan menuju kesejatian hidup atau Tuhan. Jalan yang ditempuh dalam perjalanan ini adalah dengan lebih membersihkan hati untuk mencapai kesucian rasa sejati atau aspek ilahi dalam diri manusia. Jadi, perjalanan seorang pecinta dalam mencapai tingkatan religius adalah perjalanan hati, seperti dengan berpuasa, bersemadi, beribadah yang di dalamnya menyangkut shalat dan pujian lainnya.
DI GERBANG CINTA
Manusia yang mencintai, kemudian merasakan gejolak rindu, setelah itu melakukan perjalanan untuk bertemu dengan yang tercinta, dia mengalami keterlupaan pada dunianya. Keterlupaan yang saya maksudkan lebih pada kepasrahan hidup, yang dilakukan secara totalitas. Apalabila dalam khasanah manusia Jawa, totalitas di sini tercermin dalam pandangan nrima ing pandhum, menerima semua hal (nasib) yang sudah digariskan oleh Tuhan. Sifat pasrah dalam konteks ini bukan pasrah pasif, melainkan pasrah yang aktif dimana manusia berusaha keras dan meletakkan semua keputusan di tangan Tuhan.
Sikap nrima manusia Jawa sebagai sikap untuk mau menerima nasib, dan sikap bersabar, yang berarti sikap menerima nasib dengan rela (Koentjaraningrat, 1994: 404). Sabar dan rela, yang menuntun manusia untuk menerima apa pun yang sudah Tuhan berikan dalam jalan cinta. Kepasrahan juga disertai dengan rasa yaqin, dimana nasib yang diterima adalah yang terbaik dari Tuhan. Yaqin mampu memberikan kekuatan dalam melakukan kepasrahan total, sebab “di dalam yaqin tidak ada keraguan sama sekali” (Al-jauziyah, 2009: 352).
Manusia yang pasrah secara total, seperti yang diungkapkan Nurel Javissyarqi dalam ayat berikut:
Kau pena tergolek tidak menghiraukan lelembaran kertas,
membiarkan diri terlelap sampai hilang rasa berkata (V : LXVIII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 34).
“Pena yang tergolek” menjabarkan mengenai pertautan bangunan simbol kepasrahan manusia. Pena, seperti manusia yang dalam gerakan dibutuhkan adanya kekuasaan. Akantetapi, pena di sini membiarkan dirinya tergeletak kalau tidak ada tangan yang menggunakannya untuk membuat suatu garis atau kata. Lalu, tangan siapa yang menggerakkan pena? Itu adalah kekuasaan Tuhan, dimana manusia yang yaqin tidak akan bergerak sama sekali, tidak akan meronta kalau nanti tiba waktunya Tuhan mencelupkannya di dalam cawan tinta atau membiarkan tergeletak begitu saja.
Nuansa yang tergambar di sini, hanya untuk menggambarkan mengenai kematian hawa nafsu manusia. Yang dalam pandangan hidup manusia Jawa, dikatakan sebagai mati sajroning urip lan urip sajroning mati. Orang yang pasrah dalam ketotalitasan, akan nampak seperti orang mati, akantetapi jiwanya terus bergerak menuju yang tercinta. Sebab, ketika Tuhan yang menjadi sang Kekasih, maka hanya dengan kematian itu manusia bisa bertemu Tuhan untuk lebih lama.
Terkuaklah kerahasiaan sedari menampar kekangan,
rindu lebur lenyap sudah dan kematian membangkitkan rasa
dan perasaan menjelma pengetahuan pertama (V : LXXIV) (Kitab Para Malaikat, 2007: 34)
Kepercayaan para pecinta, ketika mereka mencapai kematian mereka mampu untuk mencapai Tuhan, sebab tubuh mereka bersifat duniawi dan tidak mampu menggapai dunia ruh. Sa’di (dalam Seyyed Hossein Nasr et al, 2003: 343) mengatakan bahwa: “Para pecinta terbunuh oleh sang Kekasih [Tetapi] mereka yang terbunuh tidak dapat berbicara”. Terbunuh di sini untuk mencapai aspek penyatuan. Kematian seorang pecinta berarti memasuki kehidupan yang sebenarnya, karena “Orang yang mengetahui kekuatan rahasia perputaran cepat itu, hidup di dalam Tuhan: Cinta sedang membunuh dan menghidupkan mereka – mengetahuinya…” (Rumi dalam Schimmel, 2002: 238).
Lantas, apakah mereka yang terbunuh itu mati? Untuk menjawab dan mengakhiri kajian ini, saya mengutip langsung syair Jalaluddin Rumi (Schimmel, 2002: 238): “Para pecinta aneh – semakin mereka dibunuh, semakin mereka hidup”.
Bantul – Studio SDS Fictionbooks, 01 Maret 2010
Minggu, 27 Februari 2011
SEKUNTUM BUNGA REVOLUSI; DALAM SUATU PENCARIAN
M.D. Atmaja
http://sastra-indonesia.com/
PENGANTAR
Seluruh dari kita, pastinya sepakat kalau saya mengatakan kehidupan manusia ini selayaknya perjalanan dari suatu tempat menuju suatu tempat yang lain. Dalam perjalanan itu, kita akan menemukan berbagai persoalan, entah persoalan yang menyenangkan maupun yang tidak kita senangi. Pun, selayaknya dalam perjalanan juga, dapat dipastikan kita melewati suatu jalan yang kita pilih. Terdengar menyenangkan saat membayangkan keadaan ini, berjalan dalam suatu perjalanan yang kita ingini, di jalan sendiri yang kita pilih, dengan menggunakan kendaraan yang dipilih juga sendiri kemudian diusahakan, demi menuju ke suatu tempat juga yang sudah kita tentukan.
Dalam perjalanan itu, seringkali menemukan berbagai macam hal yang berbeda dari apa yang ada di dalam pikiran. Misalnya saja, kita bertemu dengan seseorang yang memiliki jalan lain dengan tujuan yang (mungkin saja) sama dengan kita. Namun, banyak sekali perbedaan yang akan kita temukan, entah itu jalan, kendaraan, atau sikap dan cara pandang seseorang tersebut di dalam menjalani perjalanan(hidup)nya.
Tulisan ini, adalah uraian mengenai aspek-aspek perjalanan yang termuat di dalam surat Sekuntum Bunga Revolusi, X : I-XCI dalam antologi puisi Kitab Para Malaikat (2007) karya Nurel Javissyarqi yang diterbitkan oleh Pustaka Pujangga.
Perjalanan di dalam surat ini terekam, yang menurut saya merupakan pencerminan dari kehidupan sang penyair itu sendiri, tentang bagaimana dia menentukan sikap dalam hidup dan cara menjalani kehidupannya. Lebih jauh dari itu semua, si penyair yang terus saja menisbatkan diri sebagai “pengelana” secara tidak langsung mengumpulkan berbagai pengalaman perjalanan yang (semoga) dapat memberikan manfaat untuk kita yang membacanya. Bukan suatu hal yang baru, ketika kita membaca perjalanan orang lain dan menemukan pengalaman di sana sebagai guru untuk mendidik jiwa kita sendiri.
Dari sini, kita bisa mengambil manfaat dari ungkapan “belajar dari pengalaman orang lain” yang mana, sastra merupakan pencerminan sosio-budaya masyarakat (Teuuw, 1990: 11) yang terekam oleh seorang sastrawan. Dalam analisis ini, untuk mengetahui pengalaman yang terdapat di dalamnya, menurut saya, lebih tepat jika kita mendekati menggunakan skema Fenomenologi yang memandang objek sebagai kesatuan dengan bertumpu pada pengalaman intuitif (Eagleton, 1983: 87). Nilai pengalaman yang diracik Nurel Javissyarqi coba kita pahami dalam konteksnya sebagai seorang pengelana. Walau tidak setiap kita ingin menjadi pengelana, namun mari kita mengikuti sang Nurel Javissyarqi dalam menskema dan menorehkan pengalaman.
JALAN
Hal pertama yang ingin saya uraikan, tidak pada tujuannya akantetapi lebih pada jalan mana yang akan kita pilih. Sebab, tujuan sudah ada di dalam gambaran, jikalau manusia hidup tujuannya beraneka ragam, dan berhenti dengan mati. Karena itu, sebelum kita sampai pada mati, alangkah lebih baiknya kita menentukan jalan terlebih dahulu. Seperti yang juga diungkapkan NJ di bait pertama Sekuntum Bunga Revolusi, yaitu:
Sebelum jauh tulisan ini melangkah, ingin menyapamu terlebih dulu;
apakah mimpi perlahan mulai sirna oleh sorot matahari realita menempa jiwa,
entah masih ada, malam-malam lembut terjaga alunan sejati rasa (X: I) (Kitab Para Malaikat, 2007: 57)
Sebelum tulisan ini jauh melangkah, begitu NJ membuka tulisan ini dengan bahasa yang teramat sederhana namun sudah memberikan kita patokan. Ini menyoal langkah, berarti ini menyoal perjalanan. Pada tahap ini, NJ sama sekali tidak menanyakan mengenai kabar, tapi jauh pada penggerak langkah manusia, yaitu mimpi. Manusia melangkah dalam suatu perjalanan perjuangan karena dorongan mimpi atau keinginan. Pergerakan manusia tidak terjadi begitu saja, melainkan dikarenakan adanya stimulus atau rangsangan (Woodworth dan Schlosberg dalam Walgito, 2002: 9). Stimulus atau rangsangan dapat berupa apa saja, salah satunya adalah gerak yang dilakukan karena mimpi (atau cita-cita/ keinginan).
Untuk membawa seseorang di dalam suatu perjalanan, maka pertanyaan mengenai mimpi yang diusahakan cukup realistis, mengingat mimpi itu yang menjadi rangsangan sekaligus menjadi bahan bakar. Keberadaan dari mimpi ini, bisa saja hilang atau berganti karena berbagai faktor, salah satunya keadaan yang tidak mendukung. Misalnya saja, saya ingin menjadi seorang polisi namun karena saya tidak begitu baik (tidak tahan) berlari, maka otomatis saya gagal. Tapi tunggu sebentar, karena ini mimpi, saya pun berniat mengusahakan sampai pada titik-titik tertentu agar cukup terhormat ketika menyerah. Lalu, saya mendengar adanya isu (katakan saja sebagai gosip murahan) bahwa dengan uang pelicin, yang tadinya saya payah dalam berlari, ya tentu saja karena jalannya sudah licin.
Taraf untuk mencapai mimpi itu sudah berada di depan mata, ibarat tinggal melangkah sejengkal dan mimpi akan segera terwujud. Namun dasar apes juga nasib manusia, uang yang dipersyaratkan untuk melicinkan jalan agar bisa berlari dengan baik jumlahnya banyak. Katakan saja, lima puluh juta sedangkan saya hanya memiliki lima puluh ribu. Kontan, mimpi itu pun gagal dan sirna begitu saja mengingat berbagai kelemahan yang tidak sanggup saya tutup dan perbaiki. Karena itu, cukup masuk akal saat NJ mengatakan: “mimpi perlahan mulai sirna oleh sorot matahari realita menempa jiwa”.
“Sorot matahari realita menempa jiwa” suatu ungkapan yang kali ini memang terkesan lebih komunikatif. Dari kalimat ini, membawa kita untuk merenung arti dari sebuah matahari yang telah menghanguskan mimpi. Matahari sebagai guru, sekaligus tantangan bagi seseorang untuk memperkuat dirinya. Mimpi atau cita-cita ini, walau mungkin saja gagal diraih, manusia hendaknya tidak boleh menyerah begitu saja. Karena, kehilangan mimpi berarti dia kehilangan rangsangan untuk bergerak. Akantetapi, diketika kegagalan itu menjadi penghalang dalam perjalanan, kita mesti mengubah cara pandang mengenai kegagalan itu sendiri. Nurel Javissyarqi sudah menjawabnya, dengan menyatakan kalau kita terus gagal, maka: “matahari realita menempa jiwa”.
Kegagalan sebagai penyemangat, medan untuk terus berlatih dalam memupuk mimpi-mimpi manusia. Tidak ada kegagalan dalam konteks ini, melainkan kita diarahkan untuk menempuh cara lain. Cita-cita tetap harus terwujud, akantetapi hal yang paling penting adalah hakekat dari cita-cita itu sendiri. Misalnya, kembali pada cita-cita menjadi polisi. Polisi dengan seragam hanya semacam wadah yang membawa manusia pada hakekat dari polisi itu sendiri. Sedangkan cita-cita tidak berbatas pada wadah itu sendiri, tidak terbatasi pada bentuk karena lebih mementingkan pada hakekat serta nilai yang ada di dalamnya. Hakekat (nilai) dari polisi adalah semangat untuk mengabdi pada masyarakat dengan memberikan ketenangan, dan pengayoman pada masyarakat demi tegaknya keadilan.
Suatu kasus yang mungkin saja terjadi dalam kehidupan realitas, bahwa adanya keberadaan polisi di sekitar mereka justru tidak mendatangkan ketenangan, pengayoman maupun penegakkan keadilan. Polisi justru menjadi suatu kondisi yang ditakuti oleh masyarakat. Hal ini, dikarenakan para polisi yang ada di dalam kasus tersebut tidak memiliki cita-cita menjadi polisi, yang sehingga penyelewenangan dari wadah (simbol) itu terus terjadi. Bagaimana bisa menjalanka hakekat kalau individu tersebut tidak mengerti dengan hakekatnya. Jabatan yang diemban pun sebatas pada profesi yang sering diselewengkan bukan sebagai jati diri yang mesti ditegakkan. Kalau saja polisi tidak hanya sebagai profesi namun juga sebagai jati diri maka hakekat polisi itu akan tercipta.
Mimpi yang tidak tercapai kemudian menjadikan setiap kegagalan menjadi tempaan namun manusia tidak kehilangan hakekat dari mimpi-mimpinya itu, maka si individu yang bermimpi menjadi polisi itu akan mencari jalan lain. Jalan yang tentu saja dimana dia mampu menjalankan sifat mengabdi, memberikan rasa aman, pengayoman dan keadilan pada masyarakatnya, tanpa harus menjadi polisi. Katakan, M.D. Atmaja gagal menjadi polisi namun tidak kehilangan hakekat, maka saya pun akan berusaha lebih baik lagi. Bukan lagi menjadi polisi, tapi bagaimana menjadi Bupati, Menteri, bahkan Presiden RI.
Dalam lingkup perubahan wadah (simbol) tentang menjadi yang tidak kehilangan hakekat dapat terlaksana di sini. Menjadi Bupati, pengayoman, perlindungan itu dapat saya lakukan tanpa harus berlari. Tentu saja, saya tidak mesti capek berlari kalau saya tidak korupsi dan kepergok orang-orang yang iri. Jadi, selama manusia masih memegang esensi maupun hakekat dari mimpinya, maka dia patut untuk terus memelihara dan mencari jalan lain demi pelaksanaan dari nilai yang menjadi tujuan kehidupannya. Hal ini, yang NJ ketengahkan dan seminimal mungkin terbaca: “malam-malam lembut terjaga alunan sejati rasa”.
“Alunan sejati rasa” itulah yang disebut dengan hakekat dari suatu tujuan (mimpi) manusia. Saya ini ingin menjadi apa? Lalu bagaimana? Caranya seperti apa? Selama “malam-malam lembut terjaga alunan sejati rasa” terus terjaga, manusia tidak akan lelah dalam pergerakannya. Dia masih memiliki ruh dari mimpi yang sirna karena matahari realitas, atau setiap tembok kegagalan yang menutup jalan.
Seseorang yang telah memilih jalan hidupnya, akan dengan setia melangkah untuk mewujudkan mimpi yang dia tuju. Di sana, kita akan menemui perjuangan berat yang terkadang begitu berat di dalam pikiran, jikalau kita tidak melangkah. Berat itu karena hanya ada di dalam pikiran, namun ketika telah melangkah maka jalan itu terlewati seiring dengan proses, seperti yang diungkapkan Nurel Javissyarqi dalam ayat berikut:
Ia berkata; wujud tintaku darah kematian dan setiap torehan kata,
usiaku dikurangi serupa tercerabutnya nyawa di medan perang suci (X: X)
Adakah kesia-siaan pada ruang belum terisi sekalipun?,
ia berucap; inilah keindahan, ketinggian seni bagimu (X: XI) (Kitab Para Malaikat, 2007: 57)
Saya menemukan makna esensial dari jalan yang ditempuh oleh seseorang dalam perjalanan hidupnya, yaitu dalam kalimat “wujud tintaku darah kematian” yang merujuk pada nasib manusia. Hal ini dilihat dari nasib manusia yang sudah ditulis dalam Kitab Langit, yang di sana dikatakan bahwa nasib manusia sudah diciptakan sebelum manusia itu diciptakan. Ungkapan “darah kematian” sebagai goresan akhir yang mau tidak mau mesti kita terima dengan seabrek perangkat yang ada, diantaranya kesabaran dan keikhlasan.
Dengan melaksanakan apa yang namanya kepasrahan manusia pada takdir kehidupan, manusia itu secara tidak langsung sudah menjalani fase kehidupan yang tinggi. Bentuk dari penyerahan dan cinta yang dalam ungkapan manusia Jawa dijabarkan melalui kebijaksanaan: urip mung sakdermo nglakoni (Hidup hanya sekedar menjalani suatu hal yang sudah Tuhan tentukan). Jikalau manusia sudah mampu melaksanakan nilai kebijaksanaan hidup itu, maka manusia akan lebih mampu untuk menjalankan aspek nrimo atas apa yang Tuhan kehendaki.
Sikap nrimo dalam masyarakat Jawa seringkali diucapkan dalam menghadapi suatu kondisi, yang dibarengi dengan permasalahan nasib sebagai pandhum (pembagian). Manusia Jawa cenderung menilai yang terjadi bukan suatu persoalan besar dan menyerahkan semua kejadian pada kebaikan dan kebijaksanaan Tuhan dengan mengatakan nrimo ing pandhum yaitu menerima pembagian nasib dari Tuhan dengan sebaik-baiknya kesabaran dan keikhlasan.
Masyarakat Jawa, dalam menjalani kehidupannya mengacu tiga aspek utama yaitu rila (rela atau ikhlas), nrimo (menerima) dan sabar (kesabaran) yang hanya bisa dicapai dengan tapa atau mau melaksanakan laku (jalan hidup) yang sudah diniatkan atau dapat dikatakan sebagai kewajiban manusia itu sendiri (Mulder, 1984: 41). Aspek-aspek kehidupan di atas sebagai laku hidup yang menjadi idaman setiap manusia Jawa, sehingga dalam kehidupan mereka akan mendapatkan puncak dari jalan spiritual yang namanya slamet. Kita perlu mengingat bahwa slamet dalam budaya Jawa tidak hanya merujuk pada sistem dunia (mikro kosmos) melainkan pada sistem ketuhanan (makro-kosmos).
Ketika kita, manusia, mampu menjalankan tiga hal mendasar, maka bagi kita sudah cukup untuk mencari kebahagiaan dunia, dan akhirat. Karena itu, tidak suatu hal yang mengada-ada ketika Nurel Javissyarqi lalu mengatakan: “usiaku dikurangi serupa tercerabutnya nyawa di medan perang suci”. Bahwa, tahapan-tahapan dari rela (ikhlas), menerima, dan sabar dapat membawa manusia pada tingkatan tinggi dalam perjalanan spiritualitas. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam bukunya “Madarijus Salikin” (2009) mengenai persinggahan-persinggahan dalam menuju keesaan Allah menyatakan bahwa ikhlas, menerima (yang juga disebut dengan ridha) dan sabar merupakan persinggahan tertinggi yang dapat dicapai manusia.
Jalan, yang diniatkan untuk menggapai suatu tujuan, apalagi itu menyangkut dala persoalan spiritualitas, maka kita akan dituntut untuk menuju pada kekosongan. Yang saya maksudkan dengan kekosongan ialah, mengenai satu tujuan yang dibarengi dengan ikhlas, ridha, dan sabar untuk mensatukan tujuan hidup. Saya membacanya dalam “ruang belum terisi” yang memberikan saya pemahaman akan ruang kosong dan di sana hanya ada keheningan untuk melangkah di jalan spiritualitas. “Ruang belum terisi” sekali lagi bukan tanpa tujuan, namun di sana adalah ruang hidup manusia yang dapat dikatakan sebagai ruang tanpa pamrih atau keinginan selain menuju kepada-Nya.
Dan Nurel Javissyarqi pun menyatakan: “inilah keindahan, ketinggian seni bagimu” yang mengisyaratkan pada peletakan dasar dan tujuan dari suatu perjalanan. Saya mengatakan, ruang kosong sebagai jalan tanpa pamrih yang menuju pada-Nya, sehingga dalam konteks ini, saya pun kembali menegaskan, apabila perjalanan hidup manusia diyakini hanya menuju pada-Nya, bukan pada keduniawian, maka manusia itu akan mendapatkan keindahan yang tidak terkira. Tampat yang di dalanya terkandung “ketinggian seni” karena seni sebagai ruh di dalam kehidupan.
Seni sebagai ruh dari kehidupan, yang mana para pemikir lama mengatakan kalau seni (di dalamnya adalah sastra) sebagai media yang dapat dijadikan, atau berfungsi untuk mensucikan jiwa manusia (Aristoteles dalam Ratna, 2007: 70). Hal ini senada dengan ungkapan Imam Al-Ghazali (Abdul Hadi W.M., 2004: 34) yang menyatakan bahwa efek yang ditimbulkan karya seni terhadap jiwa manusia sangat besar, dan karenanya menentukan pembentukan moral dan penghayatan keagamaannya. Di sini lah, bagaimana seni menjadi ruh dari kehidupan, kalau seni bernilai buruk maka kehidupan manusia di dalam masyarakat pun akan ikut buruk, dan sebaliknya kalau nilai seni yang ada di kehidupan masyarakat baik, maka masyarakat itu akan menjadi baik. Dia (seni) sebagai ruh, guru, dan pensuci jiwa manusia.
Seni adalah ruh, yang lahir dari kedekatannya dengan Tuhan, yang mengacu pada keselarasan dan kebenaran. T.S. Eliot (dalam Abdul Hadi W.M., 2004: 4) menyatakan bahwa kebudayaan (baca: tingkah laku masyarakat) tidak akan bisa mengalami masa cerah tanpa dilandasi nilai-nilai keagamaan. Budaya, saya tekankan sebagai tingkah laku masyarakat, dan tingkah laku secara pribadi, yang mana di dalamnya pun perlu dilandasi dengan nilai keagamaan. Nilai keagamaan akan membawa manusia pada tujuan yang tidak mengarah pada duniawi, akantetapi mengarah kepada hakekat dari kehidupan, yaitu Tuhan itu sendiri.
Tuhan, dalam tradisi Jawa dapat kita temui tidak di Mekah, tapi di dalam hati sanubari setiap manusia dan hidup manusia sendiri harus menjadi doa terus menerus kepada Yang Mahakuasa (Mulder, 1984: 11). Karena Tuhan ada di dalam hati, maka manusia harus lebih memperhatikan pertimbangan hati dalam penempuhan jalan, sehingga hati sebagai penunjuk sekaligus peneterjemah atas perjalanan hidup manusia yang panjang. Oleh karena itu, mari kita cermati bagaimana Nurel Javissyarqi mengetengahkan suara hati di dalam perjalanannya:
Inilah nyanyian kalbu mendaki ke pebukitan seribu
takkan habis walau jutaan kaki merayap di punggung malam (X: XVI) (Kitab Para Malaikat, 2007: 57)
“Nyanyian kalbu mendaki ke pebukitan seribu” begitu Nurel Javissyarqi melukiskan suatu perjalanan manusia. Kita masih berada di tahap jalan hidup, jadi ini masih membicarakan masalah jalan yang seharusnya lebih mengedepankan hati untuk menjadi pentunjuk arah dan penterjemah atas setiap persoalan. Perjalanan hidup manusia yang menempuh jalan untuk menuju pada-Nya, seperti perjalanan berat untuk mendaki “pebukitan seribu” yang mana bertemu dengan seribu keinginan manusia yang terkadang mengecoh tujuan awal.
KEBIJAKSANAAN
Menjalani babak kehidupan yang berada di jalan mengusahakan mimpi, hal lain yang perlu diperhatikan adalah nilai kebijaksanaan. Nilai ini menentukan bagaimana kita memandang dunia dan sekaligus bagaimana dunia memandang kita sebagai diri yang berdiri merdeka. Kenapa saya mengatakan merdeka, karena mereka yang berjalan di jalan untuk mengukir impian adalah orang yang merdeka, melangkah sekehendak hati. Kemerdekaan hidup yang paling mendasar adalah kemerdekaan dari kemauan, yang di dalamnya bisa meraup aspek hati dan pikiran. Bersebab itulah, seringkali kita mendengar ungkapan: “bisa saja kalian penjarakan tubuhku, tapi tidak pikiran dan jiwa”.
Kebijaksanaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kemerdekaan pikiran dan jiwa. Gerakan untuk mencapai bijaksana dibutuhkan adanya kekuatan dari dalam diri untuk menghadapi realitas yang berbeda dari apa yang namanya bijak dan ideal. Realitas kadangkala jauh dari apa yang namanya ideal, begitu juga realitas jauh dari apa yang namanya bijak. Dan kebijaksanaan di sini, adalah mengenai bagaimana kita berjalan dengan selaras dengan realitas itu sendiri. Pada diri manusia, ada keidealan yang diidamkan dan kebijaksanaan yang diyakini, yang musti diselaraskan. Selaras tidak merujuk pada pengekoran atas realitas, namun berjalan seiring tanpa harus berkonflik atau menciptakan penyakit-penyakit yang dibaca kebencian.
Saya menemukan, bagaimana Nurel Javissyarqi mengajak kita untuk menjalani laku hidup yang dipenuhi dengan kebijaksanaan. Tidak perlu memandang buruk orang lain, atau menyalahkan pihak lain atas suatu realitas yang tidak ideal. Hal ini nampak dalam:
Yang datang terlambat tak seharusnya menghakimi sebelumnya
dengan ketentuan membuta, ingatlah bunga-bunga rontok sebelum mekar,
nalar mentah keluar terlalu dini, reranting menunggu lebat sayapnya (X: II) (Kitab Para Malaikat, 2007: 57)
Kebijaksanaan itu perlu bagi manusia, baik secara pribadi maupun kolektif. Ia (kebijaksanaan) sebagai nilai moral yang mengatur hubungan manusia dengan sesama, lingkungan, dan secara lebih khusus pada Tuhannya. Kebijaksanaan dan juga moral menyangkut permasalahan kepatutan, hal yang tidak patut dan dilaksanakan menjadi gerakan yang tidak bijaksana dan sekaligus tidak etis. Karena penyimpangan itu tidak patut dilakukan oleh seseorang, meskipun itu adalah benar namun ada etika kolektif yang harus individu hormati.
Sehingga dengan demikian, kebijaksanaan bersinggungan erat dengan apa yang namanya moral (akhlak) untuk mencapai keselarasan sehingga terlaksananya etika manusia. Moral (akhlak) sebagai bagian dari jiwa manusia yang tertanam, yang dapat menciptakan gerakan tanpa pertimbangan dari pemikiran dan pertimbangan (Al-Ghazali dalam Tafsir et al, 2002: 14). Dalam pelaksanaan hidup, manusia tidak berdiri seorang diri namun sebagai makhluk sosial yang dalam proses kehidupan membutuhkan interaksi. Untuk melangsungkan kehidupan yang baik, diperlukan kebijaksanaan untuk menuju keselarasan sosial agar nilai dari masyarakat (maksud saya adalah kerukunan atau keselamatan hidup) dapat terjaga.
Kebijaksanaan melahirkan keselarasan, yang di dalamnya dibangun dengan apa yang bernama etika. Secara lebih jauh, ini akan menciptakan adanya keselarasan sosial yang berangkat dari etika kebijaksanaan. Dalam khasanah masyarakat Jawa, etika kebijaksanaan dianggap sebagai nilai untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan masyarakat dan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban yang ditentukan oleh lingkungan itu (Magnis-Suseno SJ, 1985: 214). Lebih jauh lagi menyoal etika, menurut Franz Magnis-Suseno (Tafsir et al, 2002: 15-16) sebagai keseluruhan norma dan penilaian yang digunakan untuk mengetahui bagaimana seseorang menjalani hidup; mengenai bagaimana individu membawa diri, bersikap, dan tindakan dalam mencapai tujuan hidup.
Nilai dari etika yang diketengahkan oleh Nurel Javissyarqi dapat diketahui dalam kalimat: “Yang datang terlambat tak seharusnya menghakimi sebelumnya dengan ketentuan membuta”. Lebih dahulu kita melihat pada sisi ideal, kemudian pada realitas dan dengan kebijaksanaan, kita menafsirkan suatu realitas untuk melakukan suatu gerakan. Tentu saja, suatu gerakan yang bijak, karena bagaimana pun juga kita “datang terlambat”. Ucapan “datang terlambat” dapat ditafsir sebagai segolongan generasi muda yang menemukan dunia hasil dari pembentukan generasi tua. Kita ini, yang muda, sebagai generasi terlambat yang tidak seharusnya dengan sikap sok pintar (mungkin karena sudah merasa modern dengan pendidikan barat) kemudian menggurui generasi tua dengan kasar.
Bukan berarti kita tidak boleh melakukan kritik, akantetapi kita harus melihat keadaan yang melatar-belakangi dari proses pembentukan budaya dari generasi terdahulu. Melihat proses, kalau tidak sesuai dengan keidealan yang dapat dilihat dalam: “ketentuan membuta” untuk mencari tahu aspek apa yang kurang sampai pembentukan budaya atau kondisi masyarakat tidak bisa mendekati ideal. Jadi, tidak langsung menyalahkan, melainkan menenggok sebab akibat, karena bagaimana pun juga hal ini masuk ke dalam etika, keselarasan sosial.
Apabila dilihat lebih jauh di aspek yang juga bersinggungan, kita akan memasuki pada suatu nilai penting yang disebut dengan hormat untuk mencapai kerukunan yang sekaligus keselarasan sosial. Geertz (dalam Magnis-Suseno SJ, 1985: 38) mengemukakan dua pola yang menetukan dalam pergaulan masyarakat Jawa, yaitu kaidah kerukunan yang memfokuskan manusia dalam setiap situasi agar bersikap sedemikian rupa hingga tidak menimbulkan konflik dan kaidah hormat yang menuntut manusia untuk membawa diri, menunjukkan sikap hormat sesuai dengan derajat kedudukannya.
Dua kaidah ini, oleh Franz Magnis Suseno (1985: 38) disebut dengan Prinsip Rukun dan Prinsip Hormat yang merupakan kerangka normatif dalam bentuk konkret semua interaksi. Hubungan dua prinsip kehidupan yang saling mendukung, saat kita memposisikan untuk menghormati generasi tua karena kita ini sebagai generasi yang “datang terlambat”, maka secara tidak langsung kita sudah melaksanakan prinsip hormat dan kerukunan secara bersamaan. Dua prinsip ini, membawa pada keselarasan sosial yang memberikan keselamatan pada kita. Sebab, selain karena ketidak-tahuan kondisi-situasi pada masa dimana generasi tua melakukan proses pembentukan tersebut, falsafah Jawa membawa pada pengertian yang lebih hakekat. Mulder (1984: 17) mengungkapkan bahwa, “Bila seseorang menghormati saudara tua, orang tua, guru dan rajanya, maka orang itu menghormati Tuhan”.
Jadi, Nurel Javissyarqi pun berpesan: “tak seharusnya menghakimi” karena, “ingatlah bunga-bunga rontok sebelum mekar”. Dengan tidak terburu-buru menghakimi suatu generasi atas suatu kondisi, kita diajak Nurel Javissyarqi untuk menilik lebih jauh ke masa itu. Hakekat dan belajar dari alam, bahwa tidak setiap bunga menjadi buah, hendaknya memberikan pendeskripsian lebih jauh. Melihat untuk mengetahui kemudian memahami situasi serta kondisi menjadi hal yang lebih baik, ketimbang menghakimi karena suatu realitas. Dalam petikan kalimat tersebut, kita dapat mengambil berbagai kebijaksanaan yang Nurel Javissyarqi sematkan di surat ke X ayat II ini.
Jikalau di sana ada akibat, tentu saja ada sebab. Suatu kejadian atau fenomena merupakan pembentukan dari fenomena yang ada sebelumnya. Memahami suatu keadaan yang menjadi pendorong atas lahirnya suatu ketidak-patutan. Sikap seperti ini, akan membuat kita tidak dengan mudah menghakimi suatu persoalan. Karena kita sudah memahami latar-belakang pembentukannya, sampai kondisi yang tidak kita inginkan terjadi dalam kehidupan realitas. Mungkin saja, yang menurut Nurel Javissyarqi katakan sebagai: “nalar mentah keluar terlalu dini” atau “reranting menunggu lebat sayapnya”. Sehingga tidak bijak kalau kita menilai sesuatu dengan tidak melihat latar belakang dari permasalahan atau kondisi yang ada.
Kebijaksanaan yang dimiliki seseorang tidak hanya mengarah pada perilaku dalam kehidupan kolektif seseorang, akantetapi juga merasuk ke dalam diri dan menjadi jati diri bagi seseorang tersebut untuk bersikap. Inilah yang dikatakan sebagai kebijaksanaan diri, yang dalam Sekuntum Bunga Revolusi, Nurel Javissyarqi mengungkapkannya dengan bahasa berikut:
Jika sayap-sayap bertumpuk memberatkan kepakan, cabuti bulu-bulunya,
barangkali compang-campingmu sanggup menggedor kemampuan semu (X: VI) (Kitab Para Malaikat, 2007: 57).
Manusia yang memiliki kebijaksanaan diri akan mengarahkan perilaku diri untuk lebih realistis, tanpa harus menyiksa diri. Hal ini membawa dirinya untuk mengekang pamrih serta meninggalkan segala sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu penting. Kalaimat “sayap-sayap bertumpuk” dapat kita pandang sebagai suatu keadaan yang di sana terlihat mengenai kemegahan atau suatu kebanggaan ketika memutuskan untuk menumpuk sayap. Seperti burung, sebut saja Cenderawasih yang memiliki sayap-sayap indah, membuatnya mempesona dan terlihat agung. Suatu keindahan yang dari “sayap-sayap bertumpuk” itu tadi.
Hal yang Nurel Javissyarqi tekankan pada aspek fungsional dari keberadaan sayap tersebut. Ingin mengatakan pada kita semua, untuk apa memiliki sayap yang bagus, indah, bertumpuk dan nampak anggun kalau justru sayap (kemegahan) itu memberati diri saat kita ingin terbang? Salah satu nilai yang dikandungi burung adalah bagaimana cara hidup dia dengan sayap tersebut, yaitu terbang di angkasa raya dengan penuh kemerdekaan. Burung yang terbang di angkasa dapat dinisbatkan sebagai simbol dari kebebasan (dan kemerdekaan).
Menjadi burung, sama halnya menjadi manusia yang merdeka. Kehidupannya hanya dipengaruhi oleh angin, begitu saya seringkali mendengar kebebasan dari Nurel Javissyarqi. Burung yang terbang memiliki kebebasan, angin sebagai salah satu kawan yang dapat dikatakan sebagai penunjuk arah, sedangkan angin sendiri sebagai khas dari kemerdekaan itu sendiri. Jika manusia yang memiliki keagungan, namun tidak mampu terbang dengan kebebasan, berarti manusia tersebut seperti burung yang dipenjarakan ke dalam sangkar. Keindahannya hanya mendatangkan bencana untuk dirinya sendiri, kehilangan kebebasan yang menjadi ruh bagi kehidupannya.
Terkadang, kebanyakan diantara kita yang lebih memilih untuk hidup di dalam kemewahan dengan menukar dari kebebasan, entah itu kebebasan secara badaniah maupun kebebasan dalam hal ruh (akal dan hati). Kemewahan yang saya maksudkan di sini tidak berkisar pada material, tetapi juga termasuk di dalamnya pola pikir. Kemewahan dari segi materi sudah menjadi kejelasan yang akan mengangkat prestise, namun ada hal lain yang dari segi pola pikir. Misalkan saya, dalam suatu diskusi kita sering menemukan berbagai macam istilah yang luar biasa, namun terkadang dengan menggunakan istilah-istilah tersebut, kita justru kehilangan makna yang seharusnya kita pahami.
Karena itu, Nurel Javissyarqi mengatakan, “cabuti bulu-bulunya” kalau kemewahan tidak mendatangkan apa-apa bagi individu tersebut. Sikap untuk mau membuang beberapa aspek yang tidak terlalu penting, akan membuat diri kita semakin ringan untuk melangkahkan kaki menuju kebebasan.
Hal lain, yang dapat saya dapatkan dalam kalimat ini: “Jika sayap-sayap bertumpuk memberatkan kepakan, cabuti bulu-bulunya” adalah mengenai kesederhanaan. Baik kesederhanaan secara fisik, gerakan, maupun di dalamnya pola pikir. Tidak perlu, kita menggunakan istilah yang tinggi-tinggi untuk mengatakan mengenai sesuatu hal, tapi katakan dengan sederhana. Sebab, misal di dalam suatu pembicaraan, ketika kita menggunakan istilah yang tinggi, bisa saja orang yang kita ajak bicara tidak paham dengan istilah kita sehingga maksud dari pembicaraan tidak tersampaikan.
Kesederhanaan di dalam hidup, seperti singkatnya yang akan membentuk kebebasan dan keanggunan tersendiri, yang tentu saja lebih mampu merasuk ke dalam isi ketimbang pada keindahan bentuk. Untuk itu, saya sangat sepakat ketika Nurel Javissyarqi mengatakan: “compang-campingmu sanggup menggedor kemampuan semu”. Indah itu bukan terletak pada bentuknya, melainkan pada isi yang ada di dalamnya sehingga tidak ada lagi, “kemampuan semu” tersebut. Jangan bangga ketika orang melihat kita intelek ketika kita menggunakan bahasa yang super rumit namun kita tidak memahami apa yang sebenarnya kita katakan. Lebih baik, berbicara dengan sederhana sehingga kita dan orang lain paham dengan apa yang ingin kita sampaikan.
Nilai kebijaksanaan yang lain, juga kita temukan mengenai hakekat dari kesadaran manusia dalam melakukan sesuatu. Semisal di ayat berikut:
Kesadaran pejuang mengikuti awan-gemawan gerilya,
aliran sungai menyusuri lekuk seluruh tubuhnya mencari makna,
menggelinjak bertemu akar pohon dari batin kutub kekuatan (X: XII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 57).
Manusia yang bijak adalah manusia yang sadar dengan apa yang dia lakukan, untuk mempelajari sesuatu dari alam. Manusia (yang modern) yang mengembalikan diri pada alam raya, menjadikan alam sebagai guru, dan sekaligus kawan dalam perjalanan. “Mengikuti awan-gemawan gerilya” merupakan pengungkapan untuk hidup dalam kebebasan, dimana seperti awan yang tidak bergantung pada apa pun selain angin. Kemana angin berhembus, di sana awan akan melaju. “Mengikuti awan-gemawan gerilya” tidak mengisyaratkan pada kekosongan tujuan, melainkan lebih pada keinginan yang ada di dalam diri. Keinginan itu diselaraskan dengan angin, yang mana mengalir sesuai dengan kodratnya.
Menjalani hidup dengan mengalir, seperti angin, pun juga demikian seperti layaknya air. Angin dan air, lebih kurangnya memiliki sifat yang sama. Bersatu dan membentuk wadah (tempat) dan ketika keduanya bertemu halangan, maka mereka tidak akan menghancurkan jikalau kekuatan yang dikandungi sedikit. Mereka (air dan angin) akan mencari jalan lain, membelok. Lain halnya ketika, angin dan air mengandungi kekuatan yang besar, maka segala sesuatu yang menghalangi perjalanan mereka akan dihancurkan.
Sikap hidup untuk mau mengalir seperti angin dan air merupakan bagian dari kepasrahan diri terhadap takdir yang Tuhan Yang Mahakuasa. Selain itu, manusia tersebut juga mampu untuk menimbang kekuatannya sendiri, untuk terus melangkah dengan menghancurkan penghalang atau membelok dan mencari jalan lain ketika dirinya dirasa tidak mampu mengatasi rintangan yang ada. Kemampuan untuk menakar kekuatan diri sendiri, kemudian mengakuinya merupakan kebijaksanaan hidup. Menjadikan hidup manusia tidak ngongso atau memburu napsu tanpa perduli dengan keadaannya sendiri membuat hidup menjadi lebih tenang dan bahagia.
Semisalnya dalam peperangan, ketika seorang tentara merasa mampu untuk mengalahkan lawannya, maka dia akan terus menggempur untuk mengalahkan musuh. Akantetapi, diketika dirinya merasa tidak mampu dia akan mundur untuk mengatur strategi lain agar bisa menang, atau setidaknya mencari jalan lain agar tidak perlu berhadapan dengan musuh. Sikap untuk mau menakar kemampuan diri adalah sikap para Pandawa yang diketika mengalami kekalahan biasanya mundur sejenak untuk mencari strategi yang biasanya muncul dari sosok Semar kemudian maju kembali. Sedangkan, seseorang yang tidak mampu mengenal kemampuan diri akan menjadi seperi Buta Cakil yang terus berperang walau menyadari akan kalah. Dan Buta Cakil sebagai satria yang tidak pernah mundur itu selalu saja kalah ketika berhadapan dengan Pandawa. Manusia yang berperang dengan tanpa memperhitungkan kekuatan sendiri, entah akan mengalami kemenangan atau kekalahan maka manusia tersebut dapat dikatakan sebagai manusia yang konyol.
“Mengikuti awan-gemawan gerilya” dapat diungkap sebagai jalan hidup yang mengalir bersama angin untuk mencapai keselamatan serta kebijaksanaan. Lalu “aliran sungai menyusuri lekuk seluruh tubuhnya mencari makna” sebagai pengungkapan diri dalam perjalanan mengenal diri sendiri dalam usaha mencari pengetahuan terdalam. Guru yang paling baik bagi manusia adalah pengalaman yang mana pengalaman tersebut muncul dari dirinya sendiri. Dalam ilmu mengenai jalan hidup manusia Jawa, mereka memandang kalau guru sejati satu-satunya adalah diri sendiri (Beatty, 2001: 267).
Dengan demikian, ketika manusia sudah menelusur dirinya sendiri, bahwa manusia Jawa pun seringkali mengungkapkan kalau Kitab Suci Quran itu sebagai kitab yang kering yang artinya sebagai tulisan, sementara Tuhan juga menurunkan kitab yang basah yang di sana menyimpan ilmu pengetahuan yang luas. Masyarakat muslim Jawa yang tradisional menganggap Quran sebagai objek yang suci tetapi, sejauh mengenai rincian pesan-pesannya, ia adalah buku yang tertutub (Beatty, 2001: 172). Dalam kepercayaan Islam Kejawen memandang dunia sehari-hari sebagai teks kuncinya dan tubuh manusia sebagai kitab sucinya (Beatty, 2001: 219). Sehingga, cukup relevan kalau Nurel Javissyarqi mengungkapkan “menyusuri seluruh lekuk tubuhnya mencari makna” karena di sana kita akan menemukan “akar pohon dari batin kutub kekuatan”.
Dengan memahami kehidupan dan tubuh manusia sendiri sebagai kunci dan guru bagi manusia, maka manusia tersebut akan menemukan hakekat dari kekuatan spiritual. Jawa memandang lebih dari sekedar teks yang dibaca dengan alunan merdu tanpa mengetahui apa hakekat dari isi teks tersebut. Quran membawa suatu pengetahuan, namun lebih banyak dari kita yang mengetahui huruf Arabnya tanpa mengetahui maksud yang ingin Allah sampaikan pada manusia. Dengan mempelajari diri, berguru pada kehidupan dan memahami Quran sebagai pesan yang harus dilaksanakan, manusia akan mendapatkan kebijaksanaan.
BERTAHAN DALAM JATI DIRI
Kita tidak mungkin hidup sendiri dengan meninggalkan orang lain. Bukan suatu pilihan bijak ketika kita kemudian memilih untuk lari ke suatu perbukitan yang sunyi, menutup diri dengan manusia yang lain. Manusia bijak adalah manusia yang mampu berada di tengah masyarakatnya, berkomunikasi untuk belajar dari manusia lain, alam raya dan lebih jauh pada Tuhan. Ilmu sosiologi memandang manusia sebagai makhluk sosial yang keberadaannya saling membutuhkan dan melengkapi satu sama lain. Keadaan ini membawa manusia untuk berada di tengah-tengah masyarakat yang di dalamnya terdapat adanya jati diri kolektif.
Manusia dalam kerangka sebagai mahluk sosial harus bersinggungan dengan suatu keadaan yang mana disebut sebagai proses sosial dan interaksi sosial. Proses sosial memandang bagaimana individu di dalam kelompok sosial dalam rangka melahirkan interaksi sosial. Selanjutnya, Kimbal Young dan W.Mack Raymond (Soekanto, 1990: 67) mengatakan bahwa interaksi sosial sebagai kunci kehidupan sosial. Interaksi sosial inilah yang pada akhirnya akan melahirkan suatu bentuk identitas sosial (kolektif). Di dalam interaksi sosial, hendaknya, seseorang tidak kehilangan identitas diri sendiri, yang berperan sebagai jati diri perseorangan. Walau pun di dalam suatu interaksi sosial, terkadang manusia kehilangan jati diri karena melebur ke dalam identitas kelompak, namun identitas diri perlu dipertahankan.
Identitas diri seseorang ini yang pada nantinya akan disebut dengan kepribadian, yang mana dia sebagai organisasi biologis, psikologis dan faktor sosiologis yang menjadi dasar bagi tingkah laku seorang individu (Roucek dan Warren, 1984: 31). Identitas diri yang dimiliki oleh seseorang harus tetap dipertahankan, karena identitas ini yang digunakan untuk membedakan dirinya dengan kelompok sosial tempat dimana manusia hidup.
Seperti halnya di dalam suatu karya sastra, seorang penulis dia berada di dua dimensi edentitas, yaitu identitas diri dan identitas kelompok. Ungkapan yang menyatakan, kalau sastra tidak lahir dari kekosongan budaya (Teeuw, 1990: 11). Kekosongan budaya di sini dapat dipandang sebagai interaksi sosial yang dilakukan oleh seorang penulis. Akantetapi, dalam interaksi sosial, dalam suatu penciptaan karya sastra dapat dipastikan kalau seorang sastrawan masih memegang identitas diri. Sebab, karya itu dimulai dari identitas diri yang mana berperan sebagai tolok ukur atas suatu penilaian yang akhirnya melahirkan karya.
Identitas diri, adalah mengenai siapa diri kita, berdiri dalam lingkup golongan yang mana, dan bagaimana ide atau pemikiran kita mengenai suatu keadaan masyarakat. Identitas diri ini yang menjadi semacam ciri khas bagi seseorang di dalam menanggapi kondisi lingkungan sekitar. Walau terkadang, keadaan lingkungan berusaha mempengaruhi, sebab jika kita mengumpamakan kehidupan ini dengan sungai, identitas kolektif sebagai arus. Apabila kita tidak sekuat tenaga (dengan serius) mempertahankan identitas diri maka kita pasti akan terseret arus kolektif yang biasanya kuat menarik.
Sudahkah diawali pergesekan ini serasa salju tambah memikat panasnya
saat daging jari-jemari mengepal sekali dalam genggaman keyakinan (X: VII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 57).
Dalam ayat ini, saya menemukan adanya penekanan untuk memiliki identitas diri dalam kehidupan bermasyarakat. Meskipun, dia berada di dalam arus identitas kolektif, seseorang individu mesti memiliki identitas diri yang kuat demi keberadaan dan eksistensi dirinya sebagai anggota masyarakat. Hal penting untuk terus berpegang pada identitas diri adalah keberanian yang terbaca dalam: “Sudahkah diawali pergesekan ini serasa salju tambah memikat panasnya” karena dengan terus berpegang pada identitasnya sendiri, seseorang akan mendapatkan tekanan, entah dari dirinya sendiri yang merasa terkucil atau dari kelompoknya.
Bahkan, hal yang menarik dari keberanian untuk terus bertahan dalam identitasnya sendiri, Nurel Javissyarqi ungkapkan dalam simbolisme “salju” yang justru terasa “panas”. Bukankah menjadi hal yang aneh ketika merasakan salju sebagai sesuatu yang memiliki sifat panas? Kita pasti akan menolak hal ini, sebab sifat dari salju secara faktanya memiliki sifat dingin. Akantetapi, penyimbolan yang dilakukan Nurel Javissyarqi dalam ayat ini untuk memberikan penekanan, bahwa ketika kita ingin berada pada taraf menjalani identitas pribadi, kita akan menemukan hal-hal yang tidak terduga. Bisa dibilang sebagai keajaiban dari hikmah yang memberikan kita pelajaran mengenai hidup, atau sebagai tantangan yang musti dijalani dengan “jari-jemari mengepal sekali dalam genggaman keyakinan”.
Keberanian dari sikap ini, karena memang sudah didasari dengan keyakinan yang kuat. Seseorang berani untuk mempertahankan pemikirannya (ideas) karena dia yakin dengan apa yang sedang ditempuh (atau diperjuangkan). Kata “genggaman keyakinan” mengisyaratkan pada kebulatan tekat yang tidak mudah diusik oleh resiko ketika si individu melawan identitas kolektif. Sebenarnya bukan melawan, melainkan hanya lebih memperlihatkan karakter pribadi sebagai seorang manusia.
Kemudian, Nurel Javissyarqi mengungkapkan suatu kelebihan lain yang dimiliki seseroang yang memiliki identitas diri di tengah identitas kolektif dalam ayat:
Kenanglah ikan-ikan Bethik bertubuh daging gurih
tersebab hidupnya melawan arus terus menerus (X: VIII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 57).
Penyimbolan yang perlu di dasari dengan pemahaman akan kehidupan seekor ikan. Dalam hal ini adalah ikan Bethik, yang memiliki tubuh yang kuat, keras sisiknya, kemudian memiliki duri yang kuat dan juga tajam. Saya secara pribadi tidak terlalu memahami bagaimana kehidupan ikan ini, namun saya cukup merasa familir karena sedari kecil saya hidup di pedesaan dan saat kecil terkenal ngglidik di sepanjang sungai. Ikan Bethik yang dagingnya gurih karena ia melawan arus, saya mencoba memahami, apakah ada hubungannya saat hidup melawan arus maka daging kita akan menjadi gurih?
Ya, tentu saja, ini hanya bangunan simbolisme yang mengacu kepada jati diri seseorang. Kalau kita membuat perbandingan, misalnya dalam peribahasa “Gajah mati meninggalkan gadingnya, macan mati meninggalkan kulitnya” yang mana merupakan suatu penggambaran mengenai jati-diri yang menjadi spesial di mata orang lain. Yang membedakan manusia satu dengan yang lainnya, adalah karakter. Hal tersebut (karakter maksud saya) yang akan paling dikenang ketika kita jauh atau bahkan mati. Sehingga, Nurel Javissyarqi berpesan pada kita untuk memiliki karakter tersendiri sebagai manusia, sebagai jati diri yang membuat kita berbeda dari orang lain.
Mempertahankan jati diri di tengah identitas kolektif memang sangat berat, seperti melawan arus terus menerus, akantetapi di akhirnya nanti, kita sendiri yang akan merasakan. Bagaimana kita menjalani hidup, atau bagaimana kita menghadapi realitas yang serba pelik dan tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya ada di dalam pemikiran kita. “Melawan arus terus menerus” menjadi simbol bagi perjuangan, pelajaran dan guru yang tidak terkira manfaatnya. Karena, Nurel Javissyarqi menyadari, akan tiba saat dimana kita manusia, akan menggunakan kekuatan kita sendiri. Hal ini diungkapkan dalam ayat:
Di sini bergejolak birahi sejati, menenggelamkan jiwa di lumpur semesta,
karamnya kapal ditakdirkan, warisan pemberontak menantang (X: XXXVIII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 58)
DALAM HENING, MEMETIK BUNGA REVOLUSI
Revolusi di sini bukan pergerakan sosial yang terjadi di suatu masyarakat dalam perubahan besar yang disertai kekacauan sosial, ekonomi maupun kekacauan politik. Itu, sebutan revolusi untuk sebuah tatanan yang buruk, dipenuhi dengan pembusukan jati diri dan penyelewenangan kekuasaan oleh mereka yang tidak tahu dengan caranya berterima kasih. Akantetapi, revolusi yang saya tangkap dari Nurel Javissyarqi adalah perubahan yang besar dari perjalanan panjang kehidupan manusia.
Manusia yang sudah dengan ketatnya ritual melaksanakan laku perjalanan batin, akan menemui perubahan besar di dalam dirinya. Perubahan ini lebih merujuk pada aspek batin, ketimbang pada badaniah yang tidak mengartikan apa-apa dalam perjalanan hidup manusia. Ketika, perjalanan telah terlewati, kita (manusia) akan menemukan suatu babak yang mana merasuki hening, hidup hanya ada dirinya sendiri sehingga:
Mengambili kelopak-kelopak sunyi akar-akaran terdalam,
tiada kehidupan selain nafas dicukupkan baginya seorang (X : LIII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 59)
Permainan bahasa yang cukup indah, ketika Nurel Javissyarqi mengatakan: “mengambili kelopak-kelopak sunyi akar-akaran terdalam” dimana kita diajak untuk memojokkan diri dalam kesunyian. Sunyi, tidak berarti kosong atau senyap, namun Sunyi, kalimat ini mengingatkan saya pada ungkapan bijak Ibu Theresa (Jejak Tanah, 2002: 143) yang mengatakan kalau buah dari sunyi itu doa. Kebijaksanaan yang memberikan saya batu pijakan untuk menulis beberapa kata dalam subbab ini. Sunyi, yang bagi saya memberikan pengertian mengenai suatu ruang renungan, ruang ketiadaan yang disana saya bisa memikirkan sesuatu mengenai kehidupan yang serba kompleks ini. Sunyi adalah ruang kosong, di suatu tempat yang tidak harus kosong. Di dalam keramaian, apakah kita bisa menemukan ruang kosong yang dimaksud? Tentu saja bisa, karena ruang kosong ini mampu kita dapatkan di ruang yang penuh sesak dengan berbagai kepentingan. Biasanya, menurut pendapat saya, ruang kosong ini sebagai celah hubungan antara manusia dengan Tuhan.
Dalam tradisi Jawa, ada pohon bernama Kemuning, yang menyimbolkan mengenai keheningan, atau kebeningan. Keberadaan heneng, wening, dan bening menjadi kesempatan bagi manusia untuk lebih banyak diam dan belajar dari tanda-tanda. “Kelopak sunyi” itu yang memuat tanda-tanda yang akan membawa kita manusia ke “akar-akaran terdalam”. Apabila kehidupan selayaknya pohon, maka akar dapat dianggap sebagai suatu kesejatian, awal mula dari kehidupan manusia yang mana sebagai tempat berdiri dan sebagai jalan dalam memperoleh sumber kehidupan.
Akar, apabila dalam skema Pohon Filsafat (2007) yang dikemukakan Dr. Stephen Palmquis, akar sebagai bagian dari metafisika. Di dunia Jawa, pandangan mengenai metafisika seringkali disebut sebagai dunia Numinus, yaitu alam kehidupan sehari-hari. Numinus sebagai hakekat dan cahaya ketuhana, yang membawa manusia pada kehidupan yang lebih baik.
Konteks “akar-akaran terdalam” yang diungkapkan Nurel Javissyarqi dapat dikatakan sebagai kebenaran hakiki yang berada di dalam mitos. Esensial dari kebenaran yang ada, sehingga manusia yang sudah mencapai pemahaman akan kebenaran ini tidak lagi membutuhkan barang lain dalam pencukupan kehidupannya. Seperti para pertapa yang hanya napas, tanpa makan atau minum untuk meluangkan waktu lebih banyak dalam usaha pendekatan diri pada Hidup (Tuhan).
Ketika pemahaman dan jalan hidup sudah sampai ke sini, maka manusia akan mengalami puncak, kenikmatan ketika manusia bisa melihat cahaya biru (ndaru):
Jiwa-jiwa merdeka bertarian dalam selubung ketinggian biruanya cahaya
sematang malam dipanjatkan asap kemenyan mewangi doa-doa berterbangan,
kelepak sayap lembutnya menarik maksud perjuangan perdamaian abadi (X : XCI) (Kitab Para Malaikat, 2007: 61).
Bantul – Studio SDS Fictionbooks, 26 Februari 2011
http://sastra-indonesia.com/
PENGANTAR
Seluruh dari kita, pastinya sepakat kalau saya mengatakan kehidupan manusia ini selayaknya perjalanan dari suatu tempat menuju suatu tempat yang lain. Dalam perjalanan itu, kita akan menemukan berbagai persoalan, entah persoalan yang menyenangkan maupun yang tidak kita senangi. Pun, selayaknya dalam perjalanan juga, dapat dipastikan kita melewati suatu jalan yang kita pilih. Terdengar menyenangkan saat membayangkan keadaan ini, berjalan dalam suatu perjalanan yang kita ingini, di jalan sendiri yang kita pilih, dengan menggunakan kendaraan yang dipilih juga sendiri kemudian diusahakan, demi menuju ke suatu tempat juga yang sudah kita tentukan.
Dalam perjalanan itu, seringkali menemukan berbagai macam hal yang berbeda dari apa yang ada di dalam pikiran. Misalnya saja, kita bertemu dengan seseorang yang memiliki jalan lain dengan tujuan yang (mungkin saja) sama dengan kita. Namun, banyak sekali perbedaan yang akan kita temukan, entah itu jalan, kendaraan, atau sikap dan cara pandang seseorang tersebut di dalam menjalani perjalanan(hidup)nya.
Tulisan ini, adalah uraian mengenai aspek-aspek perjalanan yang termuat di dalam surat Sekuntum Bunga Revolusi, X : I-XCI dalam antologi puisi Kitab Para Malaikat (2007) karya Nurel Javissyarqi yang diterbitkan oleh Pustaka Pujangga.
Perjalanan di dalam surat ini terekam, yang menurut saya merupakan pencerminan dari kehidupan sang penyair itu sendiri, tentang bagaimana dia menentukan sikap dalam hidup dan cara menjalani kehidupannya. Lebih jauh dari itu semua, si penyair yang terus saja menisbatkan diri sebagai “pengelana” secara tidak langsung mengumpulkan berbagai pengalaman perjalanan yang (semoga) dapat memberikan manfaat untuk kita yang membacanya. Bukan suatu hal yang baru, ketika kita membaca perjalanan orang lain dan menemukan pengalaman di sana sebagai guru untuk mendidik jiwa kita sendiri.
Dari sini, kita bisa mengambil manfaat dari ungkapan “belajar dari pengalaman orang lain” yang mana, sastra merupakan pencerminan sosio-budaya masyarakat (Teuuw, 1990: 11) yang terekam oleh seorang sastrawan. Dalam analisis ini, untuk mengetahui pengalaman yang terdapat di dalamnya, menurut saya, lebih tepat jika kita mendekati menggunakan skema Fenomenologi yang memandang objek sebagai kesatuan dengan bertumpu pada pengalaman intuitif (Eagleton, 1983: 87). Nilai pengalaman yang diracik Nurel Javissyarqi coba kita pahami dalam konteksnya sebagai seorang pengelana. Walau tidak setiap kita ingin menjadi pengelana, namun mari kita mengikuti sang Nurel Javissyarqi dalam menskema dan menorehkan pengalaman.
JALAN
Hal pertama yang ingin saya uraikan, tidak pada tujuannya akantetapi lebih pada jalan mana yang akan kita pilih. Sebab, tujuan sudah ada di dalam gambaran, jikalau manusia hidup tujuannya beraneka ragam, dan berhenti dengan mati. Karena itu, sebelum kita sampai pada mati, alangkah lebih baiknya kita menentukan jalan terlebih dahulu. Seperti yang juga diungkapkan NJ di bait pertama Sekuntum Bunga Revolusi, yaitu:
Sebelum jauh tulisan ini melangkah, ingin menyapamu terlebih dulu;
apakah mimpi perlahan mulai sirna oleh sorot matahari realita menempa jiwa,
entah masih ada, malam-malam lembut terjaga alunan sejati rasa (X: I) (Kitab Para Malaikat, 2007: 57)
Sebelum tulisan ini jauh melangkah, begitu NJ membuka tulisan ini dengan bahasa yang teramat sederhana namun sudah memberikan kita patokan. Ini menyoal langkah, berarti ini menyoal perjalanan. Pada tahap ini, NJ sama sekali tidak menanyakan mengenai kabar, tapi jauh pada penggerak langkah manusia, yaitu mimpi. Manusia melangkah dalam suatu perjalanan perjuangan karena dorongan mimpi atau keinginan. Pergerakan manusia tidak terjadi begitu saja, melainkan dikarenakan adanya stimulus atau rangsangan (Woodworth dan Schlosberg dalam Walgito, 2002: 9). Stimulus atau rangsangan dapat berupa apa saja, salah satunya adalah gerak yang dilakukan karena mimpi (atau cita-cita/ keinginan).
Untuk membawa seseorang di dalam suatu perjalanan, maka pertanyaan mengenai mimpi yang diusahakan cukup realistis, mengingat mimpi itu yang menjadi rangsangan sekaligus menjadi bahan bakar. Keberadaan dari mimpi ini, bisa saja hilang atau berganti karena berbagai faktor, salah satunya keadaan yang tidak mendukung. Misalnya saja, saya ingin menjadi seorang polisi namun karena saya tidak begitu baik (tidak tahan) berlari, maka otomatis saya gagal. Tapi tunggu sebentar, karena ini mimpi, saya pun berniat mengusahakan sampai pada titik-titik tertentu agar cukup terhormat ketika menyerah. Lalu, saya mendengar adanya isu (katakan saja sebagai gosip murahan) bahwa dengan uang pelicin, yang tadinya saya payah dalam berlari, ya tentu saja karena jalannya sudah licin.
Taraf untuk mencapai mimpi itu sudah berada di depan mata, ibarat tinggal melangkah sejengkal dan mimpi akan segera terwujud. Namun dasar apes juga nasib manusia, uang yang dipersyaratkan untuk melicinkan jalan agar bisa berlari dengan baik jumlahnya banyak. Katakan saja, lima puluh juta sedangkan saya hanya memiliki lima puluh ribu. Kontan, mimpi itu pun gagal dan sirna begitu saja mengingat berbagai kelemahan yang tidak sanggup saya tutup dan perbaiki. Karena itu, cukup masuk akal saat NJ mengatakan: “mimpi perlahan mulai sirna oleh sorot matahari realita menempa jiwa”.
“Sorot matahari realita menempa jiwa” suatu ungkapan yang kali ini memang terkesan lebih komunikatif. Dari kalimat ini, membawa kita untuk merenung arti dari sebuah matahari yang telah menghanguskan mimpi. Matahari sebagai guru, sekaligus tantangan bagi seseorang untuk memperkuat dirinya. Mimpi atau cita-cita ini, walau mungkin saja gagal diraih, manusia hendaknya tidak boleh menyerah begitu saja. Karena, kehilangan mimpi berarti dia kehilangan rangsangan untuk bergerak. Akantetapi, diketika kegagalan itu menjadi penghalang dalam perjalanan, kita mesti mengubah cara pandang mengenai kegagalan itu sendiri. Nurel Javissyarqi sudah menjawabnya, dengan menyatakan kalau kita terus gagal, maka: “matahari realita menempa jiwa”.
Kegagalan sebagai penyemangat, medan untuk terus berlatih dalam memupuk mimpi-mimpi manusia. Tidak ada kegagalan dalam konteks ini, melainkan kita diarahkan untuk menempuh cara lain. Cita-cita tetap harus terwujud, akantetapi hal yang paling penting adalah hakekat dari cita-cita itu sendiri. Misalnya, kembali pada cita-cita menjadi polisi. Polisi dengan seragam hanya semacam wadah yang membawa manusia pada hakekat dari polisi itu sendiri. Sedangkan cita-cita tidak berbatas pada wadah itu sendiri, tidak terbatasi pada bentuk karena lebih mementingkan pada hakekat serta nilai yang ada di dalamnya. Hakekat (nilai) dari polisi adalah semangat untuk mengabdi pada masyarakat dengan memberikan ketenangan, dan pengayoman pada masyarakat demi tegaknya keadilan.
Suatu kasus yang mungkin saja terjadi dalam kehidupan realitas, bahwa adanya keberadaan polisi di sekitar mereka justru tidak mendatangkan ketenangan, pengayoman maupun penegakkan keadilan. Polisi justru menjadi suatu kondisi yang ditakuti oleh masyarakat. Hal ini, dikarenakan para polisi yang ada di dalam kasus tersebut tidak memiliki cita-cita menjadi polisi, yang sehingga penyelewenangan dari wadah (simbol) itu terus terjadi. Bagaimana bisa menjalanka hakekat kalau individu tersebut tidak mengerti dengan hakekatnya. Jabatan yang diemban pun sebatas pada profesi yang sering diselewengkan bukan sebagai jati diri yang mesti ditegakkan. Kalau saja polisi tidak hanya sebagai profesi namun juga sebagai jati diri maka hakekat polisi itu akan tercipta.
Mimpi yang tidak tercapai kemudian menjadikan setiap kegagalan menjadi tempaan namun manusia tidak kehilangan hakekat dari mimpi-mimpinya itu, maka si individu yang bermimpi menjadi polisi itu akan mencari jalan lain. Jalan yang tentu saja dimana dia mampu menjalankan sifat mengabdi, memberikan rasa aman, pengayoman dan keadilan pada masyarakatnya, tanpa harus menjadi polisi. Katakan, M.D. Atmaja gagal menjadi polisi namun tidak kehilangan hakekat, maka saya pun akan berusaha lebih baik lagi. Bukan lagi menjadi polisi, tapi bagaimana menjadi Bupati, Menteri, bahkan Presiden RI.
Dalam lingkup perubahan wadah (simbol) tentang menjadi yang tidak kehilangan hakekat dapat terlaksana di sini. Menjadi Bupati, pengayoman, perlindungan itu dapat saya lakukan tanpa harus berlari. Tentu saja, saya tidak mesti capek berlari kalau saya tidak korupsi dan kepergok orang-orang yang iri. Jadi, selama manusia masih memegang esensi maupun hakekat dari mimpinya, maka dia patut untuk terus memelihara dan mencari jalan lain demi pelaksanaan dari nilai yang menjadi tujuan kehidupannya. Hal ini, yang NJ ketengahkan dan seminimal mungkin terbaca: “malam-malam lembut terjaga alunan sejati rasa”.
“Alunan sejati rasa” itulah yang disebut dengan hakekat dari suatu tujuan (mimpi) manusia. Saya ini ingin menjadi apa? Lalu bagaimana? Caranya seperti apa? Selama “malam-malam lembut terjaga alunan sejati rasa” terus terjaga, manusia tidak akan lelah dalam pergerakannya. Dia masih memiliki ruh dari mimpi yang sirna karena matahari realitas, atau setiap tembok kegagalan yang menutup jalan.
Seseorang yang telah memilih jalan hidupnya, akan dengan setia melangkah untuk mewujudkan mimpi yang dia tuju. Di sana, kita akan menemui perjuangan berat yang terkadang begitu berat di dalam pikiran, jikalau kita tidak melangkah. Berat itu karena hanya ada di dalam pikiran, namun ketika telah melangkah maka jalan itu terlewati seiring dengan proses, seperti yang diungkapkan Nurel Javissyarqi dalam ayat berikut:
Ia berkata; wujud tintaku darah kematian dan setiap torehan kata,
usiaku dikurangi serupa tercerabutnya nyawa di medan perang suci (X: X)
Adakah kesia-siaan pada ruang belum terisi sekalipun?,
ia berucap; inilah keindahan, ketinggian seni bagimu (X: XI) (Kitab Para Malaikat, 2007: 57)
Saya menemukan makna esensial dari jalan yang ditempuh oleh seseorang dalam perjalanan hidupnya, yaitu dalam kalimat “wujud tintaku darah kematian” yang merujuk pada nasib manusia. Hal ini dilihat dari nasib manusia yang sudah ditulis dalam Kitab Langit, yang di sana dikatakan bahwa nasib manusia sudah diciptakan sebelum manusia itu diciptakan. Ungkapan “darah kematian” sebagai goresan akhir yang mau tidak mau mesti kita terima dengan seabrek perangkat yang ada, diantaranya kesabaran dan keikhlasan.
Dengan melaksanakan apa yang namanya kepasrahan manusia pada takdir kehidupan, manusia itu secara tidak langsung sudah menjalani fase kehidupan yang tinggi. Bentuk dari penyerahan dan cinta yang dalam ungkapan manusia Jawa dijabarkan melalui kebijaksanaan: urip mung sakdermo nglakoni (Hidup hanya sekedar menjalani suatu hal yang sudah Tuhan tentukan). Jikalau manusia sudah mampu melaksanakan nilai kebijaksanaan hidup itu, maka manusia akan lebih mampu untuk menjalankan aspek nrimo atas apa yang Tuhan kehendaki.
Sikap nrimo dalam masyarakat Jawa seringkali diucapkan dalam menghadapi suatu kondisi, yang dibarengi dengan permasalahan nasib sebagai pandhum (pembagian). Manusia Jawa cenderung menilai yang terjadi bukan suatu persoalan besar dan menyerahkan semua kejadian pada kebaikan dan kebijaksanaan Tuhan dengan mengatakan nrimo ing pandhum yaitu menerima pembagian nasib dari Tuhan dengan sebaik-baiknya kesabaran dan keikhlasan.
Masyarakat Jawa, dalam menjalani kehidupannya mengacu tiga aspek utama yaitu rila (rela atau ikhlas), nrimo (menerima) dan sabar (kesabaran) yang hanya bisa dicapai dengan tapa atau mau melaksanakan laku (jalan hidup) yang sudah diniatkan atau dapat dikatakan sebagai kewajiban manusia itu sendiri (Mulder, 1984: 41). Aspek-aspek kehidupan di atas sebagai laku hidup yang menjadi idaman setiap manusia Jawa, sehingga dalam kehidupan mereka akan mendapatkan puncak dari jalan spiritual yang namanya slamet. Kita perlu mengingat bahwa slamet dalam budaya Jawa tidak hanya merujuk pada sistem dunia (mikro kosmos) melainkan pada sistem ketuhanan (makro-kosmos).
Ketika kita, manusia, mampu menjalankan tiga hal mendasar, maka bagi kita sudah cukup untuk mencari kebahagiaan dunia, dan akhirat. Karena itu, tidak suatu hal yang mengada-ada ketika Nurel Javissyarqi lalu mengatakan: “usiaku dikurangi serupa tercerabutnya nyawa di medan perang suci”. Bahwa, tahapan-tahapan dari rela (ikhlas), menerima, dan sabar dapat membawa manusia pada tingkatan tinggi dalam perjalanan spiritualitas. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam bukunya “Madarijus Salikin” (2009) mengenai persinggahan-persinggahan dalam menuju keesaan Allah menyatakan bahwa ikhlas, menerima (yang juga disebut dengan ridha) dan sabar merupakan persinggahan tertinggi yang dapat dicapai manusia.
Jalan, yang diniatkan untuk menggapai suatu tujuan, apalagi itu menyangkut dala persoalan spiritualitas, maka kita akan dituntut untuk menuju pada kekosongan. Yang saya maksudkan dengan kekosongan ialah, mengenai satu tujuan yang dibarengi dengan ikhlas, ridha, dan sabar untuk mensatukan tujuan hidup. Saya membacanya dalam “ruang belum terisi” yang memberikan saya pemahaman akan ruang kosong dan di sana hanya ada keheningan untuk melangkah di jalan spiritualitas. “Ruang belum terisi” sekali lagi bukan tanpa tujuan, namun di sana adalah ruang hidup manusia yang dapat dikatakan sebagai ruang tanpa pamrih atau keinginan selain menuju kepada-Nya.
Dan Nurel Javissyarqi pun menyatakan: “inilah keindahan, ketinggian seni bagimu” yang mengisyaratkan pada peletakan dasar dan tujuan dari suatu perjalanan. Saya mengatakan, ruang kosong sebagai jalan tanpa pamrih yang menuju pada-Nya, sehingga dalam konteks ini, saya pun kembali menegaskan, apabila perjalanan hidup manusia diyakini hanya menuju pada-Nya, bukan pada keduniawian, maka manusia itu akan mendapatkan keindahan yang tidak terkira. Tampat yang di dalanya terkandung “ketinggian seni” karena seni sebagai ruh di dalam kehidupan.
Seni sebagai ruh dari kehidupan, yang mana para pemikir lama mengatakan kalau seni (di dalamnya adalah sastra) sebagai media yang dapat dijadikan, atau berfungsi untuk mensucikan jiwa manusia (Aristoteles dalam Ratna, 2007: 70). Hal ini senada dengan ungkapan Imam Al-Ghazali (Abdul Hadi W.M., 2004: 34) yang menyatakan bahwa efek yang ditimbulkan karya seni terhadap jiwa manusia sangat besar, dan karenanya menentukan pembentukan moral dan penghayatan keagamaannya. Di sini lah, bagaimana seni menjadi ruh dari kehidupan, kalau seni bernilai buruk maka kehidupan manusia di dalam masyarakat pun akan ikut buruk, dan sebaliknya kalau nilai seni yang ada di kehidupan masyarakat baik, maka masyarakat itu akan menjadi baik. Dia (seni) sebagai ruh, guru, dan pensuci jiwa manusia.
Seni adalah ruh, yang lahir dari kedekatannya dengan Tuhan, yang mengacu pada keselarasan dan kebenaran. T.S. Eliot (dalam Abdul Hadi W.M., 2004: 4) menyatakan bahwa kebudayaan (baca: tingkah laku masyarakat) tidak akan bisa mengalami masa cerah tanpa dilandasi nilai-nilai keagamaan. Budaya, saya tekankan sebagai tingkah laku masyarakat, dan tingkah laku secara pribadi, yang mana di dalamnya pun perlu dilandasi dengan nilai keagamaan. Nilai keagamaan akan membawa manusia pada tujuan yang tidak mengarah pada duniawi, akantetapi mengarah kepada hakekat dari kehidupan, yaitu Tuhan itu sendiri.
Tuhan, dalam tradisi Jawa dapat kita temui tidak di Mekah, tapi di dalam hati sanubari setiap manusia dan hidup manusia sendiri harus menjadi doa terus menerus kepada Yang Mahakuasa (Mulder, 1984: 11). Karena Tuhan ada di dalam hati, maka manusia harus lebih memperhatikan pertimbangan hati dalam penempuhan jalan, sehingga hati sebagai penunjuk sekaligus peneterjemah atas perjalanan hidup manusia yang panjang. Oleh karena itu, mari kita cermati bagaimana Nurel Javissyarqi mengetengahkan suara hati di dalam perjalanannya:
Inilah nyanyian kalbu mendaki ke pebukitan seribu
takkan habis walau jutaan kaki merayap di punggung malam (X: XVI) (Kitab Para Malaikat, 2007: 57)
“Nyanyian kalbu mendaki ke pebukitan seribu” begitu Nurel Javissyarqi melukiskan suatu perjalanan manusia. Kita masih berada di tahap jalan hidup, jadi ini masih membicarakan masalah jalan yang seharusnya lebih mengedepankan hati untuk menjadi pentunjuk arah dan penterjemah atas setiap persoalan. Perjalanan hidup manusia yang menempuh jalan untuk menuju pada-Nya, seperti perjalanan berat untuk mendaki “pebukitan seribu” yang mana bertemu dengan seribu keinginan manusia yang terkadang mengecoh tujuan awal.
KEBIJAKSANAAN
Menjalani babak kehidupan yang berada di jalan mengusahakan mimpi, hal lain yang perlu diperhatikan adalah nilai kebijaksanaan. Nilai ini menentukan bagaimana kita memandang dunia dan sekaligus bagaimana dunia memandang kita sebagai diri yang berdiri merdeka. Kenapa saya mengatakan merdeka, karena mereka yang berjalan di jalan untuk mengukir impian adalah orang yang merdeka, melangkah sekehendak hati. Kemerdekaan hidup yang paling mendasar adalah kemerdekaan dari kemauan, yang di dalamnya bisa meraup aspek hati dan pikiran. Bersebab itulah, seringkali kita mendengar ungkapan: “bisa saja kalian penjarakan tubuhku, tapi tidak pikiran dan jiwa”.
Kebijaksanaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kemerdekaan pikiran dan jiwa. Gerakan untuk mencapai bijaksana dibutuhkan adanya kekuatan dari dalam diri untuk menghadapi realitas yang berbeda dari apa yang namanya bijak dan ideal. Realitas kadangkala jauh dari apa yang namanya ideal, begitu juga realitas jauh dari apa yang namanya bijak. Dan kebijaksanaan di sini, adalah mengenai bagaimana kita berjalan dengan selaras dengan realitas itu sendiri. Pada diri manusia, ada keidealan yang diidamkan dan kebijaksanaan yang diyakini, yang musti diselaraskan. Selaras tidak merujuk pada pengekoran atas realitas, namun berjalan seiring tanpa harus berkonflik atau menciptakan penyakit-penyakit yang dibaca kebencian.
Saya menemukan, bagaimana Nurel Javissyarqi mengajak kita untuk menjalani laku hidup yang dipenuhi dengan kebijaksanaan. Tidak perlu memandang buruk orang lain, atau menyalahkan pihak lain atas suatu realitas yang tidak ideal. Hal ini nampak dalam:
Yang datang terlambat tak seharusnya menghakimi sebelumnya
dengan ketentuan membuta, ingatlah bunga-bunga rontok sebelum mekar,
nalar mentah keluar terlalu dini, reranting menunggu lebat sayapnya (X: II) (Kitab Para Malaikat, 2007: 57)
Kebijaksanaan itu perlu bagi manusia, baik secara pribadi maupun kolektif. Ia (kebijaksanaan) sebagai nilai moral yang mengatur hubungan manusia dengan sesama, lingkungan, dan secara lebih khusus pada Tuhannya. Kebijaksanaan dan juga moral menyangkut permasalahan kepatutan, hal yang tidak patut dan dilaksanakan menjadi gerakan yang tidak bijaksana dan sekaligus tidak etis. Karena penyimpangan itu tidak patut dilakukan oleh seseorang, meskipun itu adalah benar namun ada etika kolektif yang harus individu hormati.
Sehingga dengan demikian, kebijaksanaan bersinggungan erat dengan apa yang namanya moral (akhlak) untuk mencapai keselarasan sehingga terlaksananya etika manusia. Moral (akhlak) sebagai bagian dari jiwa manusia yang tertanam, yang dapat menciptakan gerakan tanpa pertimbangan dari pemikiran dan pertimbangan (Al-Ghazali dalam Tafsir et al, 2002: 14). Dalam pelaksanaan hidup, manusia tidak berdiri seorang diri namun sebagai makhluk sosial yang dalam proses kehidupan membutuhkan interaksi. Untuk melangsungkan kehidupan yang baik, diperlukan kebijaksanaan untuk menuju keselarasan sosial agar nilai dari masyarakat (maksud saya adalah kerukunan atau keselamatan hidup) dapat terjaga.
Kebijaksanaan melahirkan keselarasan, yang di dalamnya dibangun dengan apa yang bernama etika. Secara lebih jauh, ini akan menciptakan adanya keselarasan sosial yang berangkat dari etika kebijaksanaan. Dalam khasanah masyarakat Jawa, etika kebijaksanaan dianggap sebagai nilai untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan masyarakat dan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban yang ditentukan oleh lingkungan itu (Magnis-Suseno SJ, 1985: 214). Lebih jauh lagi menyoal etika, menurut Franz Magnis-Suseno (Tafsir et al, 2002: 15-16) sebagai keseluruhan norma dan penilaian yang digunakan untuk mengetahui bagaimana seseorang menjalani hidup; mengenai bagaimana individu membawa diri, bersikap, dan tindakan dalam mencapai tujuan hidup.
Nilai dari etika yang diketengahkan oleh Nurel Javissyarqi dapat diketahui dalam kalimat: “Yang datang terlambat tak seharusnya menghakimi sebelumnya dengan ketentuan membuta”. Lebih dahulu kita melihat pada sisi ideal, kemudian pada realitas dan dengan kebijaksanaan, kita menafsirkan suatu realitas untuk melakukan suatu gerakan. Tentu saja, suatu gerakan yang bijak, karena bagaimana pun juga kita “datang terlambat”. Ucapan “datang terlambat” dapat ditafsir sebagai segolongan generasi muda yang menemukan dunia hasil dari pembentukan generasi tua. Kita ini, yang muda, sebagai generasi terlambat yang tidak seharusnya dengan sikap sok pintar (mungkin karena sudah merasa modern dengan pendidikan barat) kemudian menggurui generasi tua dengan kasar.
Bukan berarti kita tidak boleh melakukan kritik, akantetapi kita harus melihat keadaan yang melatar-belakangi dari proses pembentukan budaya dari generasi terdahulu. Melihat proses, kalau tidak sesuai dengan keidealan yang dapat dilihat dalam: “ketentuan membuta” untuk mencari tahu aspek apa yang kurang sampai pembentukan budaya atau kondisi masyarakat tidak bisa mendekati ideal. Jadi, tidak langsung menyalahkan, melainkan menenggok sebab akibat, karena bagaimana pun juga hal ini masuk ke dalam etika, keselarasan sosial.
Apabila dilihat lebih jauh di aspek yang juga bersinggungan, kita akan memasuki pada suatu nilai penting yang disebut dengan hormat untuk mencapai kerukunan yang sekaligus keselarasan sosial. Geertz (dalam Magnis-Suseno SJ, 1985: 38) mengemukakan dua pola yang menetukan dalam pergaulan masyarakat Jawa, yaitu kaidah kerukunan yang memfokuskan manusia dalam setiap situasi agar bersikap sedemikian rupa hingga tidak menimbulkan konflik dan kaidah hormat yang menuntut manusia untuk membawa diri, menunjukkan sikap hormat sesuai dengan derajat kedudukannya.
Dua kaidah ini, oleh Franz Magnis Suseno (1985: 38) disebut dengan Prinsip Rukun dan Prinsip Hormat yang merupakan kerangka normatif dalam bentuk konkret semua interaksi. Hubungan dua prinsip kehidupan yang saling mendukung, saat kita memposisikan untuk menghormati generasi tua karena kita ini sebagai generasi yang “datang terlambat”, maka secara tidak langsung kita sudah melaksanakan prinsip hormat dan kerukunan secara bersamaan. Dua prinsip ini, membawa pada keselarasan sosial yang memberikan keselamatan pada kita. Sebab, selain karena ketidak-tahuan kondisi-situasi pada masa dimana generasi tua melakukan proses pembentukan tersebut, falsafah Jawa membawa pada pengertian yang lebih hakekat. Mulder (1984: 17) mengungkapkan bahwa, “Bila seseorang menghormati saudara tua, orang tua, guru dan rajanya, maka orang itu menghormati Tuhan”.
Jadi, Nurel Javissyarqi pun berpesan: “tak seharusnya menghakimi” karena, “ingatlah bunga-bunga rontok sebelum mekar”. Dengan tidak terburu-buru menghakimi suatu generasi atas suatu kondisi, kita diajak Nurel Javissyarqi untuk menilik lebih jauh ke masa itu. Hakekat dan belajar dari alam, bahwa tidak setiap bunga menjadi buah, hendaknya memberikan pendeskripsian lebih jauh. Melihat untuk mengetahui kemudian memahami situasi serta kondisi menjadi hal yang lebih baik, ketimbang menghakimi karena suatu realitas. Dalam petikan kalimat tersebut, kita dapat mengambil berbagai kebijaksanaan yang Nurel Javissyarqi sematkan di surat ke X ayat II ini.
Jikalau di sana ada akibat, tentu saja ada sebab. Suatu kejadian atau fenomena merupakan pembentukan dari fenomena yang ada sebelumnya. Memahami suatu keadaan yang menjadi pendorong atas lahirnya suatu ketidak-patutan. Sikap seperti ini, akan membuat kita tidak dengan mudah menghakimi suatu persoalan. Karena kita sudah memahami latar-belakang pembentukannya, sampai kondisi yang tidak kita inginkan terjadi dalam kehidupan realitas. Mungkin saja, yang menurut Nurel Javissyarqi katakan sebagai: “nalar mentah keluar terlalu dini” atau “reranting menunggu lebat sayapnya”. Sehingga tidak bijak kalau kita menilai sesuatu dengan tidak melihat latar belakang dari permasalahan atau kondisi yang ada.
Kebijaksanaan yang dimiliki seseorang tidak hanya mengarah pada perilaku dalam kehidupan kolektif seseorang, akantetapi juga merasuk ke dalam diri dan menjadi jati diri bagi seseorang tersebut untuk bersikap. Inilah yang dikatakan sebagai kebijaksanaan diri, yang dalam Sekuntum Bunga Revolusi, Nurel Javissyarqi mengungkapkannya dengan bahasa berikut:
Jika sayap-sayap bertumpuk memberatkan kepakan, cabuti bulu-bulunya,
barangkali compang-campingmu sanggup menggedor kemampuan semu (X: VI) (Kitab Para Malaikat, 2007: 57).
Manusia yang memiliki kebijaksanaan diri akan mengarahkan perilaku diri untuk lebih realistis, tanpa harus menyiksa diri. Hal ini membawa dirinya untuk mengekang pamrih serta meninggalkan segala sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu penting. Kalaimat “sayap-sayap bertumpuk” dapat kita pandang sebagai suatu keadaan yang di sana terlihat mengenai kemegahan atau suatu kebanggaan ketika memutuskan untuk menumpuk sayap. Seperti burung, sebut saja Cenderawasih yang memiliki sayap-sayap indah, membuatnya mempesona dan terlihat agung. Suatu keindahan yang dari “sayap-sayap bertumpuk” itu tadi.
Hal yang Nurel Javissyarqi tekankan pada aspek fungsional dari keberadaan sayap tersebut. Ingin mengatakan pada kita semua, untuk apa memiliki sayap yang bagus, indah, bertumpuk dan nampak anggun kalau justru sayap (kemegahan) itu memberati diri saat kita ingin terbang? Salah satu nilai yang dikandungi burung adalah bagaimana cara hidup dia dengan sayap tersebut, yaitu terbang di angkasa raya dengan penuh kemerdekaan. Burung yang terbang di angkasa dapat dinisbatkan sebagai simbol dari kebebasan (dan kemerdekaan).
Menjadi burung, sama halnya menjadi manusia yang merdeka. Kehidupannya hanya dipengaruhi oleh angin, begitu saya seringkali mendengar kebebasan dari Nurel Javissyarqi. Burung yang terbang memiliki kebebasan, angin sebagai salah satu kawan yang dapat dikatakan sebagai penunjuk arah, sedangkan angin sendiri sebagai khas dari kemerdekaan itu sendiri. Jika manusia yang memiliki keagungan, namun tidak mampu terbang dengan kebebasan, berarti manusia tersebut seperti burung yang dipenjarakan ke dalam sangkar. Keindahannya hanya mendatangkan bencana untuk dirinya sendiri, kehilangan kebebasan yang menjadi ruh bagi kehidupannya.
Terkadang, kebanyakan diantara kita yang lebih memilih untuk hidup di dalam kemewahan dengan menukar dari kebebasan, entah itu kebebasan secara badaniah maupun kebebasan dalam hal ruh (akal dan hati). Kemewahan yang saya maksudkan di sini tidak berkisar pada material, tetapi juga termasuk di dalamnya pola pikir. Kemewahan dari segi materi sudah menjadi kejelasan yang akan mengangkat prestise, namun ada hal lain yang dari segi pola pikir. Misalkan saya, dalam suatu diskusi kita sering menemukan berbagai macam istilah yang luar biasa, namun terkadang dengan menggunakan istilah-istilah tersebut, kita justru kehilangan makna yang seharusnya kita pahami.
Karena itu, Nurel Javissyarqi mengatakan, “cabuti bulu-bulunya” kalau kemewahan tidak mendatangkan apa-apa bagi individu tersebut. Sikap untuk mau membuang beberapa aspek yang tidak terlalu penting, akan membuat diri kita semakin ringan untuk melangkahkan kaki menuju kebebasan.
Hal lain, yang dapat saya dapatkan dalam kalimat ini: “Jika sayap-sayap bertumpuk memberatkan kepakan, cabuti bulu-bulunya” adalah mengenai kesederhanaan. Baik kesederhanaan secara fisik, gerakan, maupun di dalamnya pola pikir. Tidak perlu, kita menggunakan istilah yang tinggi-tinggi untuk mengatakan mengenai sesuatu hal, tapi katakan dengan sederhana. Sebab, misal di dalam suatu pembicaraan, ketika kita menggunakan istilah yang tinggi, bisa saja orang yang kita ajak bicara tidak paham dengan istilah kita sehingga maksud dari pembicaraan tidak tersampaikan.
Kesederhanaan di dalam hidup, seperti singkatnya yang akan membentuk kebebasan dan keanggunan tersendiri, yang tentu saja lebih mampu merasuk ke dalam isi ketimbang pada keindahan bentuk. Untuk itu, saya sangat sepakat ketika Nurel Javissyarqi mengatakan: “compang-campingmu sanggup menggedor kemampuan semu”. Indah itu bukan terletak pada bentuknya, melainkan pada isi yang ada di dalamnya sehingga tidak ada lagi, “kemampuan semu” tersebut. Jangan bangga ketika orang melihat kita intelek ketika kita menggunakan bahasa yang super rumit namun kita tidak memahami apa yang sebenarnya kita katakan. Lebih baik, berbicara dengan sederhana sehingga kita dan orang lain paham dengan apa yang ingin kita sampaikan.
Nilai kebijaksanaan yang lain, juga kita temukan mengenai hakekat dari kesadaran manusia dalam melakukan sesuatu. Semisal di ayat berikut:
Kesadaran pejuang mengikuti awan-gemawan gerilya,
aliran sungai menyusuri lekuk seluruh tubuhnya mencari makna,
menggelinjak bertemu akar pohon dari batin kutub kekuatan (X: XII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 57).
Manusia yang bijak adalah manusia yang sadar dengan apa yang dia lakukan, untuk mempelajari sesuatu dari alam. Manusia (yang modern) yang mengembalikan diri pada alam raya, menjadikan alam sebagai guru, dan sekaligus kawan dalam perjalanan. “Mengikuti awan-gemawan gerilya” merupakan pengungkapan untuk hidup dalam kebebasan, dimana seperti awan yang tidak bergantung pada apa pun selain angin. Kemana angin berhembus, di sana awan akan melaju. “Mengikuti awan-gemawan gerilya” tidak mengisyaratkan pada kekosongan tujuan, melainkan lebih pada keinginan yang ada di dalam diri. Keinginan itu diselaraskan dengan angin, yang mana mengalir sesuai dengan kodratnya.
Menjalani hidup dengan mengalir, seperti angin, pun juga demikian seperti layaknya air. Angin dan air, lebih kurangnya memiliki sifat yang sama. Bersatu dan membentuk wadah (tempat) dan ketika keduanya bertemu halangan, maka mereka tidak akan menghancurkan jikalau kekuatan yang dikandungi sedikit. Mereka (air dan angin) akan mencari jalan lain, membelok. Lain halnya ketika, angin dan air mengandungi kekuatan yang besar, maka segala sesuatu yang menghalangi perjalanan mereka akan dihancurkan.
Sikap hidup untuk mau mengalir seperti angin dan air merupakan bagian dari kepasrahan diri terhadap takdir yang Tuhan Yang Mahakuasa. Selain itu, manusia tersebut juga mampu untuk menimbang kekuatannya sendiri, untuk terus melangkah dengan menghancurkan penghalang atau membelok dan mencari jalan lain ketika dirinya dirasa tidak mampu mengatasi rintangan yang ada. Kemampuan untuk menakar kekuatan diri sendiri, kemudian mengakuinya merupakan kebijaksanaan hidup. Menjadikan hidup manusia tidak ngongso atau memburu napsu tanpa perduli dengan keadaannya sendiri membuat hidup menjadi lebih tenang dan bahagia.
Semisalnya dalam peperangan, ketika seorang tentara merasa mampu untuk mengalahkan lawannya, maka dia akan terus menggempur untuk mengalahkan musuh. Akantetapi, diketika dirinya merasa tidak mampu dia akan mundur untuk mengatur strategi lain agar bisa menang, atau setidaknya mencari jalan lain agar tidak perlu berhadapan dengan musuh. Sikap untuk mau menakar kemampuan diri adalah sikap para Pandawa yang diketika mengalami kekalahan biasanya mundur sejenak untuk mencari strategi yang biasanya muncul dari sosok Semar kemudian maju kembali. Sedangkan, seseorang yang tidak mampu mengenal kemampuan diri akan menjadi seperi Buta Cakil yang terus berperang walau menyadari akan kalah. Dan Buta Cakil sebagai satria yang tidak pernah mundur itu selalu saja kalah ketika berhadapan dengan Pandawa. Manusia yang berperang dengan tanpa memperhitungkan kekuatan sendiri, entah akan mengalami kemenangan atau kekalahan maka manusia tersebut dapat dikatakan sebagai manusia yang konyol.
“Mengikuti awan-gemawan gerilya” dapat diungkap sebagai jalan hidup yang mengalir bersama angin untuk mencapai keselamatan serta kebijaksanaan. Lalu “aliran sungai menyusuri lekuk seluruh tubuhnya mencari makna” sebagai pengungkapan diri dalam perjalanan mengenal diri sendiri dalam usaha mencari pengetahuan terdalam. Guru yang paling baik bagi manusia adalah pengalaman yang mana pengalaman tersebut muncul dari dirinya sendiri. Dalam ilmu mengenai jalan hidup manusia Jawa, mereka memandang kalau guru sejati satu-satunya adalah diri sendiri (Beatty, 2001: 267).
Dengan demikian, ketika manusia sudah menelusur dirinya sendiri, bahwa manusia Jawa pun seringkali mengungkapkan kalau Kitab Suci Quran itu sebagai kitab yang kering yang artinya sebagai tulisan, sementara Tuhan juga menurunkan kitab yang basah yang di sana menyimpan ilmu pengetahuan yang luas. Masyarakat muslim Jawa yang tradisional menganggap Quran sebagai objek yang suci tetapi, sejauh mengenai rincian pesan-pesannya, ia adalah buku yang tertutub (Beatty, 2001: 172). Dalam kepercayaan Islam Kejawen memandang dunia sehari-hari sebagai teks kuncinya dan tubuh manusia sebagai kitab sucinya (Beatty, 2001: 219). Sehingga, cukup relevan kalau Nurel Javissyarqi mengungkapkan “menyusuri seluruh lekuk tubuhnya mencari makna” karena di sana kita akan menemukan “akar pohon dari batin kutub kekuatan”.
Dengan memahami kehidupan dan tubuh manusia sendiri sebagai kunci dan guru bagi manusia, maka manusia tersebut akan menemukan hakekat dari kekuatan spiritual. Jawa memandang lebih dari sekedar teks yang dibaca dengan alunan merdu tanpa mengetahui apa hakekat dari isi teks tersebut. Quran membawa suatu pengetahuan, namun lebih banyak dari kita yang mengetahui huruf Arabnya tanpa mengetahui maksud yang ingin Allah sampaikan pada manusia. Dengan mempelajari diri, berguru pada kehidupan dan memahami Quran sebagai pesan yang harus dilaksanakan, manusia akan mendapatkan kebijaksanaan.
BERTAHAN DALAM JATI DIRI
Kita tidak mungkin hidup sendiri dengan meninggalkan orang lain. Bukan suatu pilihan bijak ketika kita kemudian memilih untuk lari ke suatu perbukitan yang sunyi, menutup diri dengan manusia yang lain. Manusia bijak adalah manusia yang mampu berada di tengah masyarakatnya, berkomunikasi untuk belajar dari manusia lain, alam raya dan lebih jauh pada Tuhan. Ilmu sosiologi memandang manusia sebagai makhluk sosial yang keberadaannya saling membutuhkan dan melengkapi satu sama lain. Keadaan ini membawa manusia untuk berada di tengah-tengah masyarakat yang di dalamnya terdapat adanya jati diri kolektif.
Manusia dalam kerangka sebagai mahluk sosial harus bersinggungan dengan suatu keadaan yang mana disebut sebagai proses sosial dan interaksi sosial. Proses sosial memandang bagaimana individu di dalam kelompok sosial dalam rangka melahirkan interaksi sosial. Selanjutnya, Kimbal Young dan W.Mack Raymond (Soekanto, 1990: 67) mengatakan bahwa interaksi sosial sebagai kunci kehidupan sosial. Interaksi sosial inilah yang pada akhirnya akan melahirkan suatu bentuk identitas sosial (kolektif). Di dalam interaksi sosial, hendaknya, seseorang tidak kehilangan identitas diri sendiri, yang berperan sebagai jati diri perseorangan. Walau pun di dalam suatu interaksi sosial, terkadang manusia kehilangan jati diri karena melebur ke dalam identitas kelompak, namun identitas diri perlu dipertahankan.
Identitas diri seseorang ini yang pada nantinya akan disebut dengan kepribadian, yang mana dia sebagai organisasi biologis, psikologis dan faktor sosiologis yang menjadi dasar bagi tingkah laku seorang individu (Roucek dan Warren, 1984: 31). Identitas diri yang dimiliki oleh seseorang harus tetap dipertahankan, karena identitas ini yang digunakan untuk membedakan dirinya dengan kelompok sosial tempat dimana manusia hidup.
Seperti halnya di dalam suatu karya sastra, seorang penulis dia berada di dua dimensi edentitas, yaitu identitas diri dan identitas kelompok. Ungkapan yang menyatakan, kalau sastra tidak lahir dari kekosongan budaya (Teeuw, 1990: 11). Kekosongan budaya di sini dapat dipandang sebagai interaksi sosial yang dilakukan oleh seorang penulis. Akantetapi, dalam interaksi sosial, dalam suatu penciptaan karya sastra dapat dipastikan kalau seorang sastrawan masih memegang identitas diri. Sebab, karya itu dimulai dari identitas diri yang mana berperan sebagai tolok ukur atas suatu penilaian yang akhirnya melahirkan karya.
Identitas diri, adalah mengenai siapa diri kita, berdiri dalam lingkup golongan yang mana, dan bagaimana ide atau pemikiran kita mengenai suatu keadaan masyarakat. Identitas diri ini yang menjadi semacam ciri khas bagi seseorang di dalam menanggapi kondisi lingkungan sekitar. Walau terkadang, keadaan lingkungan berusaha mempengaruhi, sebab jika kita mengumpamakan kehidupan ini dengan sungai, identitas kolektif sebagai arus. Apabila kita tidak sekuat tenaga (dengan serius) mempertahankan identitas diri maka kita pasti akan terseret arus kolektif yang biasanya kuat menarik.
Sudahkah diawali pergesekan ini serasa salju tambah memikat panasnya
saat daging jari-jemari mengepal sekali dalam genggaman keyakinan (X: VII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 57).
Dalam ayat ini, saya menemukan adanya penekanan untuk memiliki identitas diri dalam kehidupan bermasyarakat. Meskipun, dia berada di dalam arus identitas kolektif, seseorang individu mesti memiliki identitas diri yang kuat demi keberadaan dan eksistensi dirinya sebagai anggota masyarakat. Hal penting untuk terus berpegang pada identitas diri adalah keberanian yang terbaca dalam: “Sudahkah diawali pergesekan ini serasa salju tambah memikat panasnya” karena dengan terus berpegang pada identitasnya sendiri, seseorang akan mendapatkan tekanan, entah dari dirinya sendiri yang merasa terkucil atau dari kelompoknya.
Bahkan, hal yang menarik dari keberanian untuk terus bertahan dalam identitasnya sendiri, Nurel Javissyarqi ungkapkan dalam simbolisme “salju” yang justru terasa “panas”. Bukankah menjadi hal yang aneh ketika merasakan salju sebagai sesuatu yang memiliki sifat panas? Kita pasti akan menolak hal ini, sebab sifat dari salju secara faktanya memiliki sifat dingin. Akantetapi, penyimbolan yang dilakukan Nurel Javissyarqi dalam ayat ini untuk memberikan penekanan, bahwa ketika kita ingin berada pada taraf menjalani identitas pribadi, kita akan menemukan hal-hal yang tidak terduga. Bisa dibilang sebagai keajaiban dari hikmah yang memberikan kita pelajaran mengenai hidup, atau sebagai tantangan yang musti dijalani dengan “jari-jemari mengepal sekali dalam genggaman keyakinan”.
Keberanian dari sikap ini, karena memang sudah didasari dengan keyakinan yang kuat. Seseorang berani untuk mempertahankan pemikirannya (ideas) karena dia yakin dengan apa yang sedang ditempuh (atau diperjuangkan). Kata “genggaman keyakinan” mengisyaratkan pada kebulatan tekat yang tidak mudah diusik oleh resiko ketika si individu melawan identitas kolektif. Sebenarnya bukan melawan, melainkan hanya lebih memperlihatkan karakter pribadi sebagai seorang manusia.
Kemudian, Nurel Javissyarqi mengungkapkan suatu kelebihan lain yang dimiliki seseroang yang memiliki identitas diri di tengah identitas kolektif dalam ayat:
Kenanglah ikan-ikan Bethik bertubuh daging gurih
tersebab hidupnya melawan arus terus menerus (X: VIII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 57).
Penyimbolan yang perlu di dasari dengan pemahaman akan kehidupan seekor ikan. Dalam hal ini adalah ikan Bethik, yang memiliki tubuh yang kuat, keras sisiknya, kemudian memiliki duri yang kuat dan juga tajam. Saya secara pribadi tidak terlalu memahami bagaimana kehidupan ikan ini, namun saya cukup merasa familir karena sedari kecil saya hidup di pedesaan dan saat kecil terkenal ngglidik di sepanjang sungai. Ikan Bethik yang dagingnya gurih karena ia melawan arus, saya mencoba memahami, apakah ada hubungannya saat hidup melawan arus maka daging kita akan menjadi gurih?
Ya, tentu saja, ini hanya bangunan simbolisme yang mengacu kepada jati diri seseorang. Kalau kita membuat perbandingan, misalnya dalam peribahasa “Gajah mati meninggalkan gadingnya, macan mati meninggalkan kulitnya” yang mana merupakan suatu penggambaran mengenai jati-diri yang menjadi spesial di mata orang lain. Yang membedakan manusia satu dengan yang lainnya, adalah karakter. Hal tersebut (karakter maksud saya) yang akan paling dikenang ketika kita jauh atau bahkan mati. Sehingga, Nurel Javissyarqi berpesan pada kita untuk memiliki karakter tersendiri sebagai manusia, sebagai jati diri yang membuat kita berbeda dari orang lain.
Mempertahankan jati diri di tengah identitas kolektif memang sangat berat, seperti melawan arus terus menerus, akantetapi di akhirnya nanti, kita sendiri yang akan merasakan. Bagaimana kita menjalani hidup, atau bagaimana kita menghadapi realitas yang serba pelik dan tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya ada di dalam pemikiran kita. “Melawan arus terus menerus” menjadi simbol bagi perjuangan, pelajaran dan guru yang tidak terkira manfaatnya. Karena, Nurel Javissyarqi menyadari, akan tiba saat dimana kita manusia, akan menggunakan kekuatan kita sendiri. Hal ini diungkapkan dalam ayat:
Di sini bergejolak birahi sejati, menenggelamkan jiwa di lumpur semesta,
karamnya kapal ditakdirkan, warisan pemberontak menantang (X: XXXVIII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 58)
DALAM HENING, MEMETIK BUNGA REVOLUSI
Revolusi di sini bukan pergerakan sosial yang terjadi di suatu masyarakat dalam perubahan besar yang disertai kekacauan sosial, ekonomi maupun kekacauan politik. Itu, sebutan revolusi untuk sebuah tatanan yang buruk, dipenuhi dengan pembusukan jati diri dan penyelewenangan kekuasaan oleh mereka yang tidak tahu dengan caranya berterima kasih. Akantetapi, revolusi yang saya tangkap dari Nurel Javissyarqi adalah perubahan yang besar dari perjalanan panjang kehidupan manusia.
Manusia yang sudah dengan ketatnya ritual melaksanakan laku perjalanan batin, akan menemui perubahan besar di dalam dirinya. Perubahan ini lebih merujuk pada aspek batin, ketimbang pada badaniah yang tidak mengartikan apa-apa dalam perjalanan hidup manusia. Ketika, perjalanan telah terlewati, kita (manusia) akan menemukan suatu babak yang mana merasuki hening, hidup hanya ada dirinya sendiri sehingga:
Mengambili kelopak-kelopak sunyi akar-akaran terdalam,
tiada kehidupan selain nafas dicukupkan baginya seorang (X : LIII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 59)
Permainan bahasa yang cukup indah, ketika Nurel Javissyarqi mengatakan: “mengambili kelopak-kelopak sunyi akar-akaran terdalam” dimana kita diajak untuk memojokkan diri dalam kesunyian. Sunyi, tidak berarti kosong atau senyap, namun Sunyi, kalimat ini mengingatkan saya pada ungkapan bijak Ibu Theresa (Jejak Tanah, 2002: 143) yang mengatakan kalau buah dari sunyi itu doa. Kebijaksanaan yang memberikan saya batu pijakan untuk menulis beberapa kata dalam subbab ini. Sunyi, yang bagi saya memberikan pengertian mengenai suatu ruang renungan, ruang ketiadaan yang disana saya bisa memikirkan sesuatu mengenai kehidupan yang serba kompleks ini. Sunyi adalah ruang kosong, di suatu tempat yang tidak harus kosong. Di dalam keramaian, apakah kita bisa menemukan ruang kosong yang dimaksud? Tentu saja bisa, karena ruang kosong ini mampu kita dapatkan di ruang yang penuh sesak dengan berbagai kepentingan. Biasanya, menurut pendapat saya, ruang kosong ini sebagai celah hubungan antara manusia dengan Tuhan.
Dalam tradisi Jawa, ada pohon bernama Kemuning, yang menyimbolkan mengenai keheningan, atau kebeningan. Keberadaan heneng, wening, dan bening menjadi kesempatan bagi manusia untuk lebih banyak diam dan belajar dari tanda-tanda. “Kelopak sunyi” itu yang memuat tanda-tanda yang akan membawa kita manusia ke “akar-akaran terdalam”. Apabila kehidupan selayaknya pohon, maka akar dapat dianggap sebagai suatu kesejatian, awal mula dari kehidupan manusia yang mana sebagai tempat berdiri dan sebagai jalan dalam memperoleh sumber kehidupan.
Akar, apabila dalam skema Pohon Filsafat (2007) yang dikemukakan Dr. Stephen Palmquis, akar sebagai bagian dari metafisika. Di dunia Jawa, pandangan mengenai metafisika seringkali disebut sebagai dunia Numinus, yaitu alam kehidupan sehari-hari. Numinus sebagai hakekat dan cahaya ketuhana, yang membawa manusia pada kehidupan yang lebih baik.
Konteks “akar-akaran terdalam” yang diungkapkan Nurel Javissyarqi dapat dikatakan sebagai kebenaran hakiki yang berada di dalam mitos. Esensial dari kebenaran yang ada, sehingga manusia yang sudah mencapai pemahaman akan kebenaran ini tidak lagi membutuhkan barang lain dalam pencukupan kehidupannya. Seperti para pertapa yang hanya napas, tanpa makan atau minum untuk meluangkan waktu lebih banyak dalam usaha pendekatan diri pada Hidup (Tuhan).
Ketika pemahaman dan jalan hidup sudah sampai ke sini, maka manusia akan mengalami puncak, kenikmatan ketika manusia bisa melihat cahaya biru (ndaru):
Jiwa-jiwa merdeka bertarian dalam selubung ketinggian biruanya cahaya
sematang malam dipanjatkan asap kemenyan mewangi doa-doa berterbangan,
kelepak sayap lembutnya menarik maksud perjuangan perdamaian abadi (X : XCI) (Kitab Para Malaikat, 2007: 61).
Bantul – Studio SDS Fictionbooks, 26 Februari 2011
Kamis, 24 Februari 2011
Hukum-hukum Pecinta: Nasehat Penyair untuk Diri
M.D. Atmaja
http://sastra-indonesia.com/
Pengantar
Nurel Javissyarqi dengan salah satu karyanya Kitab Para Malaikat, memang layak untuk mendapatkan kehormatan sebagai penyair paling mengispirasi itu. Tulisan ini tidak untuk mengukuhkan pendapat tersebut, namun sekedar menggelar tumpukan simbol yang ada di dalam surat Hukum-hukum Pecinta, buku Kitab Para Malaikat atau KPM (2007: 11-17). Melalui berbagai macam keterbatasan yang saya miliki, susah payah, sampai konon yang empunya KPM mencurigai niatan mengupas dari surat ke surat yang jumlahnya dua puluh surat ditambah satu mukadimah.
Menjelajahi KPM karya NJ memang membutuhkan stamina yang cukup. Baik, stamina tubuh maupun stamina batin yang seringkali NJ sebut sebagai energi. Saat ini, saya berusaha kembali setelah bernapas sejenak dengan menyelesaikan satu novel untuk menggelar tumpukan simbol yang ada di dalam surat Hukum-hukum Pecinta dengan berbekal tekat yang sudah disiapkan untuk menggarap sampai tuntas. Hukum-hukum, yang di sini mungkin saja memberikan pengertian mengenai jalan yang semestinya ditempuh oleh pecinta. Siapa gerangan pecinta itu? Inilah sosok NJ, sang pecinta yang entah disadari atau tidak, telah menuangkan kesejatian diri dari relung yang memang mungkin tidak disadari.
Pecinta, yang coba saya selaraskan dengan pengertian yang lebih luas lagi, tidak hanya mengacu pada NJ, akantetapi pada kodratnya. Saya memiliki asumsi yang tidak terlalu kuat sebenarnya, kalau pecinta dalam puisi panjang ini lebih merujuk pada hati manusia, tempat dimana hakekat rasa itu bersemayam, dan konon, menurut kepercayaan masyarakat Jawa, tempat bersemayamnya Allah (dan saya yang secara tidak kebetulan, meyakini ini). Hukum-hukum Pecinta, Nasehat Penyair untuk Diri yang saya maksudkan untuk mengajak setiap penulis (seniman secara umum) untuk kembali merefleksi karya yang telah dihasilkan. Dan pada kesempatan ini, saya memberanikan diri untuk menasehati (kalau tidak boleh dengan ucapan: menggurui) si empunya KPM, Nurel Javissyarqi dengan karya yang telah diracik selama bertahun lamanya. Tentu saja, karya NJ sendiri.
Terdengar sebatas omong kosong, saat kita mengajari seseorang dengan ucapan seseorang itu sendiri. Akantetapi, pepatah lama mengingatkan kita akan gedhang awohe pakel, pohon pisang yang berbuah pohon pakel. Perumpamaan yang sulit untuk dinalar karena memang artinya juga untuk merujuk aspek tersebut, bahwa kita bisa saja dengan mudah menggelar kebijaksanaan yang tinggi untuk orang lain, namun terkadang kita absen untuk melakukan kebijaksanaan tersebut untuk diri kita sendiri. Itulah, yang membuat saya berefleksi ulang, berusaha mengenyam setiap karya yang telah lahir sebagai ukiran jiwangga yang Tuhan titipkan dari tangan para seniman, sehingga tulisan ini pun tercipta begitu saja dengan judul Hukum-hukum Pecinta, Nasehat Penyair untuk Diri.
Cinta Hidup, itu Kematian
Banyak aspek yang membangun di dalam kehidupan cinta kasih, baik antara sesama manusia, manusia dengan alam, pun, manusia dengan Tuhan. Aspek-aspek ini terkadang dapat berdiri sendiri namun di kesempatan lain dalam suatu perjalanan metamorfosa yang panjang, keseluruhan aspek itu terbangun menjadi satu jalinan kekuatan yang tidak terhingga. Kekuatan ini hadir dalam suatu klimaks perasaan cinta yang dimiliki seseorang. Kekuatan sebagai hasil dari cinta, yang tidak hanya berupa perasaan, jauh dari itu sudah mencapai penyatuan antara pikiran, rasa, dan tentu saja tercermin di dalam laku.
Aspek dari cinta yang paling penting, dapat disebutkan sebagai ikhlas dalam memberi maupun dalam menerima. Hal ini penting, mengingat banyak dari kita yang terkadang ingin selalu memberi atau ingin selalu diberi. Cinta yang mencapai pada fase kematian itu sudah meninggalkan apa yang namanya memberi dan menerima. Dua hal itu melebur menjadi satu, sehingga dapat dikatakan di dalam cinta yang sejati tidak ada yang namanya keinginan atau pamrih.
Salah satu pandangan hidup masyarakat Jawa adalah mengenai sepi ing pamrih, yaitu tahapan dimana seseorang sudah melepaskan segala kepentingan yang bersangkutan dengan diri. Yang ada di benak seseorang tersebut, hanya orang atau sesuatu yang dicintai. Keinginan ini, dalam KPM, mungkin saja ada di dalam ayat III dan IV, yaitu:
Tidakkah kau merasa bersalah berjalan di depan matahari sambil menggandeng bayangan?, kiranya bayangan lenyap jika kau bersujud di hadapan cahaya, ia seekor burung mengamati langkah-langkahmu (II : III)
Sebenarnya engkau tidak mencintai bayangan tetapi ia selalu mengikuti, bukankah ketenanganmu bercermin cahaya?, dan bayang bergetar olehnya (II : IV).
(Kitab Para Malaikat, 2007: 11)
Dua ayat di atas memberikan kita pencerminan mengenai keberadaan dari pamrih yang dapat menjadi penghalang bagi rasa cinta yang sejati. Pamrih atau keinginan merupakan naluri dasar manusia yang sebagai bentuk dari id serta ego. Id sebagai naluri dasar manusia yang berupa insting dari sifat hewani, yang berupa napsu kesenangan. Dalam literasi Jawa, id sebagai pamrih yang merupakan penghalang nyata bagi perjalanan jiwa dalam mencapai tingkatan-tingkatan cinta tertinggi. Keinginan manusia untuk memenuhi kesenangan, menguasai dan menonjolkan diri, dapat dikatakan sebagai perilaku yang tidak etis dalam perjalanan mengenal cinta.
Keinganan manusia dapat dikatakan sebagai aspek lahir yang esensial dan menjadi karakter dari manusia. Keinginan yang juga disebut, dalam kasanah kebudayaan Jawa dapat dikatakan sebagai bagian dari sisi negatif manusia. Keberadaannya nyata, namun terasa biasa yang membuat kita seringkali melupakan hakekat akan kenyataan hidup. Pamrih adalah bagian hidup yang harus disempitkan (dikungkung) ruang geraknya. Manusia yang selalu mengikuti keinginan, dapat dikatakan sebagai manusia yang menyerupai sifat binatang. Mengikuti insting, manifestasi dari setiap keinginan yang menuntut untuk dipenuhi.
Suatu keberadaan yang tidak dapat dipisahkan dari manusia itu sendiri, keinginan hadir sebagai “bayangan” di dalam suatu kehidupan yang ber “cahaya”. Dari sini kita bisa melihat bagaimana NJ membangun struktur simbol dalam karyanya. Nilai yang termaktub dengan selaras, sebagai nasehat yang tidak terkira harganya saat NJ mengatakan: “Tidakkah kau merasa bersalah berjalan di depan matahari sambil menggandeng cahaya?” Hakekat dari suatu perjalanan hidup adalah untuk menuju pada kehidupan yang hakiki, yang oleh NJ diungkapkan melalui cahaya atau matahari.
Lain dengan keinginan, yang sekedar sebagai “bayangan”, walau dalam keberadaan yang tidak mungkin dapat mudah dipisahkan. NJ sendiri, saya kira, menyadari hal ini. Bahwa, manusia tidak semerta-merta dapat lepas dari keinginan (pamrih) yang sudah menjadi bagian tidak terpisahkan. Akantetapi, masyarakat Jawa melalui laku kebatinan, mereka mencoba untuk menyingkirkan aspek lahiriah manusia ini. Menyingkirkan bukan melenyapkan karena hilangnya keinginan manusia merupakan sesuatu yang tidak wajar dan hanya mampu dilakukan oleh mahluk-Nya yang lain, yang bernama malaikat.
Manusia pasti memiliki keinginan, itu yang disadari para pelaku kebatinan. Bersebab pada kesadaran itu, manusia kebatinan Jawa memiliki suatu cara untuk menepis setiap keinginan yang ada dalam naluriah mereka sebagai manusia. Dengan laku (jalan) prihatin, atau mau untuk menjalani suatu penderitaan untuk mencapai kedudukan tinggi dalam hidup yang termanifestasikan ke dalam nilai slamet. Dalam laku prihatin, masyarakat kebatinan Jawa mengenal adanya istilah sepi ing pamrih yang multi interpretasi.
Pamrih sebagai keinginan, maka sepi ing pamrih sebagai nilai yang digalakkan untuk mengekang hawa nafsu manusia. Mulder (1984: 39) mengungkapkan penelitiannya dalam dunia kebatinan yang menulis bahwa apabila pamrih (keinginan) dapat teratasi maka manusia akan mencapai kemurnian hidup, sebab pamrih sebagai keadaan yang menghalangi tercapainya kebaikan dunia dan kemurnian hidup. Menepis keinginan, entah itu keinginan untuk makan, untuk tidur atau untuk hidup enak (senang). Orang yang ingin menepis keinginannya harus mau berprihatin, mau hidup susah demi kebahagiaan yang lebih hakiki, yang termaktub dalam nilai slamet itu sendiri.
Slamet merupakan suatu yang selaras, melaju di dalam keadaan baik, di dunia maupun di alam akhirat. Manusia Jawa, dalam berbagai tradisi upacara keagamaan dan kebudayaan, nilai slamet memiliki tempat yang lebih banyak. Slamet atau selamat dalam bahasa Indonesia dianggap sebagai puncak tertinggi kebahagiaan hidup karena di dalamnya juga mengandung ketenangan hidup. Untuk itu, tidak terlalu berlebihan jika NJ mengatakan: “bukankah ketenanganmu bercermin cahaya?”.
Ketenangan yang bercermin cahaya, begitu NJ berujar di ayat IV yang merupakan sahutan perdebatan antara bayangan dan matahari. Adanya matahari (kehidupan) dapat dilihat dari bayangan (keinginan) manusia. Singkatnya, adanya kehidupan dalam diri manusia terdeteksi karena ada keinginan. Bagaaimana manusia yang secara umum dikatakan hidup, karena di dalam diri manusia itu terdapat keinginan yang mendorong pemenuhan. Terjadi gerakan penuh semangat itu, gerakan sebagai kehidupan.
Bayangan yang menyimbolkan keinginan akan berada di belakang sebagai sesuatu yang tidak dihiraukan ketika bercermin dengan kehidupan (cahaya) yang sebenarnya. Kita kembali pada laku prihatin, yang mana sebagai usaha untuk menepis (atau mengurangi) dominasi dari keinginan yang pada kebanyakan orang menjadi penggerak dari kehidupan. Laku prihatin ini misalnya saja: berpuasa, mengurangi tidur, mengurangi bercakap-cakap, dan mengurangi berbagai kesenangan duniawi yang lain. Karena itu juga, manusia Jawa sering mengatakan gelem rekoso atau mau menderita.
Berbeda, ketika kita “bercermin cahaya” yang dengan kata lain benar-benar mengendalikan diri untuk mencapai ketenangan yang merupakan bagian integral dari nilai slamet. Hingga kita akan menemukan fungsi dari laku prihatin yang sering dilaksanakan manusia Jawa. Dalam konteks laku prihatin, manusia akan mencapai keterlepasan dari keinginan yang menjauhkan diri dari ketenangan. Keinginan jauh berbeda dengan kebutuhan, dan biasanya, keinginan itu yang sering menjajah nurani manusia demi pemenuhan akan kesenangan.
Laku prihatin, membawa manusia pada nilai kehidupan yang lebih tinggi ketimbang pada kesenangan duniawi. NJ menyimbolkannya dalam bangunan cahaya, yang mana dapat membawa manusia ke fase mati sajroning urip, urip sajroning mati artinya mati selagi hidup dan hidup selagi mati. Tingkatan perjalanan yang sangat sedikit sekali dimiliki oleh manusia Jawa (Indonesia) modern. Dengan meninggalkan bayangan (keinginan) kita akan menjadi cahaya dan memperoleh makna hidup yang lebih. Karena itu, mari kita menyimak racikan NJ di bawah ini:
Di atas bukit ia berseru, ikuti kepakan sayapku serupa menuruti nuranimu, dulu aku memiliki bayangan, di saat terbang tinggi hilang sendiri, ia tak mampu terbang hanya membebani pengembara (II : V)
(Kitab Para Malaikat, 2007: 11)
Di sini, lebih terlihat jelas mengenai laku prihatin yang terusung dalam surat Hukum-hukum Pecinta, buku Kitab Para Malaikat. Laku prihatin dijalani yang mengartikan adanya pelaksanaan dari ritual Kejawen sebagai suatu jalan hidup. Cahaya, yang menyeru pada pengembara akan makna dari bayangan sebagai “beban” adalah maknawi dari keinginan itu sendiri. Keinginan manusia sesungguhnya adalah beban yang menghalangi manusia untuk mencapai puncak-puncak pemahaman akan hidup.
Ketika manusia sudah sampai pada fase mati sajroning urip, urip sajroning mati, dia akan tertantang dalam kesadarannya untuk menaiki tapakan selanjutnya. Tingkatan yang luar biasanya tingginya dan teramat sulit untuk dicapai masyarakat hedon Indonesia. Tingkatan tersebut dinamai sebagai fase penyatuan antara manusia dan Hidup (Tuhan). Manunggaling kawula lan Gusti, suatu babak kehidupan yang diidamkan banyak orang. Diidamkan, akantetapi jalan hidup menuju ke sana jauh dari pelaksanaan dengan sistem yang ketat.
NJ menyarankan agar kita mengikuti cahaya itu untuk terus terbang, dalam lingkaran yang tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ritual dalam keyakinan yang ketat melalui usaha tapa brata (bertapa) untuk memahami keheningan yang ada. Manusia Jawa juga sering menyepi untuk mendapatkan wahyu atau petunjuk dari Tuhan mengenai hakekat tersebut. Dalam pengalaman ini, seringkali beberapa pelaku kebatinan sering mengungkapkan dengan istilah menabung. Semisal puasa pada hari Senin dan Kamis yang dapat sebagai tabungan dalam mengasah hati serta pikiran. Tabungan ini yang pada akhirnya menjadi banyak, seperti pertumbuhan gunung yang dari kecil menjadi besar dan gagah.
Laku prihatin dalam tradisi Jawa, bukan laku yang singkat dan mudah. Istilah menabung itu tadi merujuk pada proses panjang yang di dalamnya membutuhkan keyakinan dan kesabaran. Proses seperti ini yang mungkin saja disebut NJ dalam: “dulu aku memiliki bayangan, di saat terbang tinggi hilang sendiri”. Cahaya atau kesejatian hidup, pada proses awalnya juga hampir sama dengan sifat alamiah kebanyakan, namun laku prihatin membawanya pada posisi dimana bayangan tidak mampu mengikuti. Hal ini memberikan suatu penjabaran, dari latihan yang sederhana namun kontinyu dan ketat dapat mendatangkan suatu manfaat yang dengan sendirinya, kelemahan menjadi kekuatan yang luar biasa.
Fase di mana bayangan tidak mampu mengikuti itu, tingkatan awal dari mati sajroning urip, urip sajroning mati yang sudah saya sebutkan di atas. Kesungguhan seseorang dalam menempuhi jalan hidup ini mendatangkan buah, yaitu kehidupannya tidak dikuasai keinginan akantetapi dirinya lah (manusia itu) yang menguasai keinginan. Bukankah menyenangkan kalau kita mampu menguasai keinginan yang ada di dalam diri? Di saat kita melihat sesuatu hal yang menarik, kita mampu menguasai nafsu dalam langkah pengendalian diri untuk menjalankan hidup yang penuh dengan manfaat. Manusia yang mampu mengendalikan nafsu, dia dapat mengendalikan diri sehingga kehidupannya akan mencapai ketenangan batin dan pikiran. Sebab, semua keinginan yang memaksa untuk dipenuhi itu yang pada dasarnya mendatangkan keadaan tertekan dan bisa mengakibatkan tekanan batin, yang puncaknya pada fase gila (dalam arti sebenarnya).
Inti dari menemukan cahaya adalah dengan menepis dan mengendalikan bayangan yang ada. Mencapai titik kematian diri untuk menghidupkan. Sehingga:
Tahukah kau mengenai tercerabutnya nyawa?, sebuah awal perjalanan baru berakhirnya kesedihan menuju kelanggengan kasih sayang (II : II)
(Kitab Para Malaikat, 2007: 11)
Kematian sebagai awal dari perjalanan baru. Kematian di sini, menurut saya, bukan makna kematian yang sebenarnya. Lebih jauh lagi, seperti interpretasi yang sudah saya kemukakan di atas sebagai bentuk dari pengendalian hawa nafsu yang menjadi perintang manusia untuk menggapai kemurnian hidup. Untuk merasakan kematian keinginan, tentu saja perlu adanya niat yang kuat untuk mendorong pelaksanaan dari perilaku prihatin. Dengan menemukan keinginan (bayangan) pada ajal, memberikan suatu nilai tersendiri yang membawa pada keselamatan dan juga ketenangan hidup. Inilah wujud dari cinta kita terhadap diri kita sendiri. Cinta yang menuntun pada pemahaman akan hakekat kehidupan yang selanjutnya memilih diantara dua jalan, kebaikan dunia yang semu atau kebaikan akhirat yang abadi.
Laku perihatin, sebagai usaha pengendalian hawa nafsu (keinginan) manusia dapat membawa manusia pada perilaku yang baik. Hal ini dapat dilihat dari nilai yang tersembunyi dari perilaku perihatin manusia Jawa, yaitu juga sebagai bentuk pembentukan watak dan kepribadian yang halus, berusaha sebaik mungkin mendekati sifat kehalusan budi, sikap, serta perilaku. Dasar ini lah yang mendorong saya untuk menyatakan, adanya kecintaan diri yang penuh kesadaran akan pemahaman hidup, akan membawa kita (manusia) pada kecintaan pada Hidup (Tuhan) yang juga berarti saat dimana kematian itu tiba pada keinginan kita akan duniawi. Sebab dengan matinya keinginan, kita bisa merasakan kehidupan yang sebenarnya, sebelum kehidupan itu tiba.
Merasuki Dunia Renungan, Banyakkan Waktu
Seirama dengan perjalanan menepis bayangan yang ada di dalam kehidupan, di atas, pada bait-bait Hukum-hukum Pecinta antologi Kitap Para Malaikat, Nurel Javissyarqi memberikan kita hidangan simbol yang hampir sama. Proses penegasan untuk merenungi dan pencarian akan hakekat kehidupan yang hendaknya dirasa keberadaannya. NJ pada beberapa bait selanjutnya menempatkan serangga indah yang sering merebut hati. Serangga itu kekupu (kupu-kupu). Mahluk hidup yang menggambarkan perjalanan tapa brata yang ketat.
Kekupu melalui jalan hidupnya melakukan perjalanan panjang dan (tentu saja) berat untuk melakukan metamorfosa. Dari ulat yang memiliki kesan menjijikkan menjadi kupu-kupu yang disenangi semua orang. Kupu-kupu sendiri memiliki bangunan makna akan suatu perjalanan hidup tersendiri, akantetapi saya mencoba melihat dalam kaitannya dengan bangunan struktur simbol KPM.
Jadilah kekupu waktu menerima berkepompong terlebih dulu, lama memintal benang sutramu akan anggun begitu tampil (II : VI)
(Kitab Para Malaikat, 2007: 11)
Suatu penggambaran mengenai perjalanan dalam proses pembentukan diri. NJ menasehati kita, dan tentu saja juga menasehati dirinya sendiri, agar kita mau menerima keadaan manusia yang sudah digariskan tidak sempurna. Melalui kata “berkepompong terlebih dulu” menandakan sebuah usaha untuk mencapai batas puncak tertentu. Di sini lah, saya kira, NJ memulai permainannya untuk menegaskan maksud dari jalan prihatin yang dilakukan manusia Jawa.
Manusia yang tidak sempurna, seperti ulat yang kemudian sadar untuk membungkus diri dalam laku tapa. Jalan prihatin, sebagai usaha yang tidak bisa dilepaskan apabila manusia ingin mencapai derajat tinggi. Prihatin itu sama juga dengan kerja keras. Semisalnya saja, siswa yang ingin selalu mendapatkan peringkat satu, maka dia harus menekuni ilmu dalam proses pembelajaran yang panjang. Ketekunan yang mengiringi usaha akan membuahkan hasilnya. Dan akhirnya, ketika kita menyadari kekurangan diri dan pencapaian ketenangan itu hanya dengan kembali pada Hidup (Tuhan) maka kita hendaknya seperti ulat yang membungkus diri dalam kepompong.
Penggambaran ini mengingatkan saya pada perjalanan Bima dalam mencari air kehidupan. Perjalanan panjang yang dipenuhi marabahaya ditempuh demi sampai pada tujuan. Hutan ditelusur, sampai mengarungi samudra yang membawa dirinya bertemu dengan Dewa Ruci, yaitu jiwa yang murni dari manusia. Perjalanan Bima ini yang disebut dengan perjalanan tapa, memiliki kesamaan nilai dengan ulat yang mengurung diri di dalam kepompong.
Mengurung diri untuk mengoreksi diri sendiri atau untuk lebih mendekatkan diri pada sang Pencipta (Tuhan) adalah bagian dari laku prihatin manusia Jawa. Dalam kegiatan merenung ini, dia berhenti makan, minum, tidur, dan berhenti beraktivitas. Segala waktu, dicurahkan hanya untuk berinteraksi dengan diri melalui jalan batin yang membawa manusia pada rasa sejati. Tapa dapat menghadirkan jiwa yang lebih besar dari dunia tempat manusia berpijak, merajut kekuatan alamiah dan wahyu. Menjadi kepompong dapat dikatakan sebagai meluangkan lebih banyak untuk Tuhan.
Ini yang NJ ungkap dalam kata “memintal benang sutra” sebagai usaha untuk membentuk dan menggerakkan keistimewaan yang sudah ada di dalam diri setiap manusia. Sampai ketika saat yang sudah ditentukan oleh Tuhan itu tiba, keindahan dari laku tapa brata manusia Jawa dapat muncul ke permukaan. Keindahannya dapat diketahui orang banyak, sebagai manusia yang linuweh atau memiliki keistimewaan tertentu. Perjalanan seperti siklus hidup kupu-kupu dapat membawa manusia pada kedekatan diri dengan Hidup (Tuhan) sehingga keselamatan dan ketenangan dapat dicapai.
Keistimewaan diri yang sudah nampak di depan orang lain, biasanya memberikan suatu pencerahan bagi manusia lain. Sebagai hasil atau akibat bagi manusia yang lebih senang meluangkan waktu untuk Tuhan, maka anugrah yang nyata menarik orang untuk mengikuti dengan berbagai macam keterbatasan. Seperti ayat di bawah ini:
Kelepakan sayapmu menawan mata seekor elang berhasrat reinkarnasi, menyerahkan tulang-belulang digerogoti cacing tanah (II : VII).
Tahukah doanya burung ekang itu di waktu sekarar?, ia tak ingin menjelma laba-laba juga kelelawar, tetapi memohon dijadikan kekupu pendampingmu (II : VIII)
(Kitab Para Malaikat, 2007: 11)
Pengaruh yang tidak disangka, ketika kita melihat perpaduan di atas. Kekupu, yang secara gamblang menyimbolkan mengenai kelemahan diri (lemahnya raga) namun dapat menarik sesuatu yang lebih kuat secara fisik untuk mengikuti dirinya. Aspek kekupu di sini dapat juga dipandang sebagai nilai dari kelembutan batin yang tercermin sebagai keindahan laku sebagai hasil dari perjalanan prihatin. Di dalamnya terdapat suatu pergerakan ghaib yang mengejawantah di alam realitas.
Bahwa, laku prihatin yang mengajak manusia untuk menyepi agar meluangkan waktu lebih banyak untuk Tuhannya akan membawa kekuatan yang akhirnya mendatangkan kekuasaan. Yaitu, tentang elang yang melihat kekupu kemudian ingin menjadi kekupu untuk bersanding dengan kekupu tersebut. Hal ini memberikan pengertian bahwa kedekatan dengan Tuhan memberikan daya tarik tersendiri, yang membuat mata memandang dan jatuh cinta, selanjutnya mengikuti dalam seirama di bawah kekuasaan sang manusia kekupu.
Hukum timbal balik yang sudah dijanjikan, kalau kita mencintai Tuhan maka Tuhan akan mencintai kita dengan lebih baik lagi. Dan kalau Tuhan sudah mencintai kita, kekuasaan itu ada pada diri. Karena itu, jika kita merasa menjadi elang yang ingin berkuasa (selamat dan tenang) maka menjadilah ulat untuk meluangkan waktu lebih banyak untuk Hidup (Tuhan) di dalam kepompong agar lekas kita menjadi kekupu. Atau, meluangkan waktu lebih banyak untuk seseorang (atau hal) yang kita cintai adalah hal berharga yang mampu mendatangkan keajaiban. Demikian, bahwa dalam dua puluh empat jam ada sesuatu yang lebih banyak, bahwa sesuatu itu kita cintai walau terkadang kita tidak menyadarinya. Seperti bernapas, karena kita mencintai hidup dan takut pada kematian.
Cinta, Kebodohan, dan Kegilaan
Cinta dapat dipandang sebagai gerakan yang hakekatnya tanpa motif. Ia, cinta ini maksud saya sudah menjadi suatu tujuan dari berbagai macam proses sehingga tidak ada tujuan lain selain cinta. Kehadiran yang terkadang ganjil, kita dirasa dituntut untuk berbuat sesuatu namun kita tidak mengerti dengan hakekat selain kesenangan yang hadir diseketika itu. Kita ini, terkadang rela berbuat sesuatu demi merasakan kesenangan yang hadir, tanpa perduli berbagai akibat, maupun urusan mengenai untung dan rugi.
Itulah cinta yang konon, hadir sebagai anugrah indah dari rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Perasaan ini yang membuat manusia menjadi lebih mampu merasakan nikmatnya hidup. Ruh dari suatu perjalanan kehidupan manusia yang memiliki berbagai membawa manusia pada berbagai persimpangan. Akantetapi, setiap persimpangan yang ada, hakekatnya hanya menuju dua jalan, seperti keseimbangan manusia antara kanan dan kiri. Yang kanan, tidak mesti membawa pada kebaikan dan yang ke kiri tidak lantas juga menjadi jalan kesesatan. Hal seperti ini yang semestinya kita sadari dalam hukum seorang pecinta. Tidak ada jalan yang paling benar atau menyesatkan karena dua jalan itu membawa pada satu, selama dia masih berpegang pada konsep cinta. Yaitu, tidak menimbang untung dan rugi, karena kesemuanya demi yang tercinta.
Individu yang berdiri di luar cinta, mereka selayaknya suporter sepak bola yang memiliki banyak pemikiran di batok kepala. Melihat kemudian mendukung gerakan, kalau tidak berhasil lantas menyalahkan atau lebih parahnya membodoh-bodohkan. Mereka para suporter ini bisa saja berkomentar apa pun karena mereka berada di luar lapangan, tidak berada di dalam dan bermain, hal yang sama dengan penggambaran di areal cinta. Karena mereka tidak merasakan dan berjalan di jalannya, karena itu hal yang biasa ketika mereka menganggap cinta sebagai suatu tindakan yang bodoh.
Mungkin saja, diketika NJ menuliskan dua ayat XXV dan XXVI, sang NJ sedang berdiri di luarnya. Atau, sekedar memposisikan diri kalau dia tidak bermain, yang sekaligus bermain. Pemain yang juga menjadi pengamat, menjadikan suatu kesaksian di bawah ini:
Engkau rela diracun demi menyelamatkan jiwa-jiwa merdeka, kesalahan jangan terulang jikalau tidak ingin dikatakan bodoh (II : XXV)
Tapi ia lebih suka dibodoh-bodohkan atau dianggap gembel daripada diasingkan sebagai orang tidak waras (II : XXVI)
(Kitab Para Malaikat, 2007: 12)
Dalam proses penciptaan dua ayat ini, mungkin saja NJ lebih menempatkan diri sebagai saksi yang berdiri di pinggir, seperti hakekat seorang penyair yang diungkapkan oleh Linus Suryadi (A. Sayuti, 2002: 6): “bahwa penyair berdiri dan bersaksi di pinggir”. Kondisi yang mengharuskan NJ membuka kesadaran yang total demi meraup kejadian demi kejadian dan mensaripatikan di dalam suatu buah pikiran.
Dalam ayat XXV itu, mungkin saja NJ telah mendengarkan banyak komentar bebas dari setiap suporter dan pengamat, mengenai seorang hakekat sang pecinta yang melakukan sesuatu demi rasa cintanya itu. Berbuat apa saja, dalam konteks perjuangan dan pengorbanan demi rasa cinta yang telah dipelihara semenjak kecil. Bahkan, menurut NJ sampai sang pecinta itu menenggak racun, mengakhiri hidup demi kecintaan. Tapi NJ, dan beberapa komentator lain mengatakan, kalau yang dilakukan si pencinta sebagai kesalahan. Dan karena perbuatan itu sebagai kesalahan, akhirnya mendapatkan predikat sebagai subjek dan sekaligus objek yang bodoh.
Kesalahan di dalam cinta, dalam konteks ini adalah suatu perbuatan yang tidak mengacu pada kepentingan diri, akantetapi lebih pada kepentingan orang lain. NJ mengatakan: “menyelamatkan jiwa-jiwa merdeka”, yang berarti adanya suatu visi kemanusiaan dan religius yang diemban oleh pecinta tersebut. Menyelamatkan, seperti kehadiran agama di muka bumi yang dibawa setiap utusan-Nya. Menyelamatkan menyiratkan mengenai perihal yang mendesak dan kehadirannya dibutuhkan, walau pada akhirnya perbuatan penyelamatan oleh sang pecinta itu oleh NJ dikatakan sebagai bentuk dari kesalahan dan kebodohan.
Akantetapi, menepis NJ juga memberikan pembelaan atas vonis yang sudah dijatuhkan. Pada suatu kondisi dan kasus yang sering kita hadapi, kita pasti menemukan pilihan terbaik dari dua hal yang (sebenarnya) sama-sama buruk. Pilihan yang NJ berikan dalam kesempatan ini adalah ketika kita menuruti dan berkorban di jalan cinta, maka harus rela dikatakan bodoh atau tidak waras. Kesulitan yang mungkin saja dihadapi oleh setiap pecinta. Pilihan yang serba tidak menguntungkan, antara menjadi orang gila atau menjadi bodoh, dan andaikata salah satu dari kita menjadi pecinta ini, apa yang akan kita pilih?
Entah, petimbangan apa yang dimiliki NJ ketika memilih untuk dikatakan bodoh dan gembel. NJ mengatakan: “ia lebih suka dibodoh-bodohkan atau dianggap gembel, daripada diasingkan sebagai orang tidak waras”, karena mungkin saja dengan kebodohan itu, NJ atau si pecinta bisa belajar lebih banyak dari mereka yang menganggap lebih pintar. Jalan ini dapat dipandang sebagai teknik dalam mencari ilmu sebanyaknya. Berbeda dengan menjadi orang gila, karena sang pecinta akan lebih tidak diperdulikan ketimbang orang bodoh.
Manusia yang bodoh, adalah manusia yang terlihat membutuhkan kehadiran manusia yang pintar, karena keberadaan manusia bodoh ini dapat memberikan kultus atas kepintaran seseorang. Tidak ada orang pintar kalau tidak ada yang bodoh sebagai perbandingan satu dengan lainnya. Dan kebodohan menjadi nilai tersendiri dari pengekor rasa cinta. Lantas, bagaimana dengan kegilaan? Kalau seorang pintar bersanding dengan seorang gila, yang ada hanya dia yang waras dengan yang tidak waras, sehingga yang waras akan tidak memperdulikan atau menertawakan yang tidak waras.
Dalam pengerjaan ini, saya menyadari keadaan diri sendiri. Bahwa saat saya mencintai, saya merasa menjadi manusia yang paling bodoh dan sekaligus menjadi manusia yang paling tidak waras. Terkadang, ketidak-warasan saya menutupi kebodohan itu sehingga lebih nampak sebagai orang gila ketimbang orang bodoh. Dua hal itu, karena rasa cinta yang banyak dari para seniman (juga mistikus) mengurai dengan berjuta kata dan pemahaman.
Khasanah ini, membawa saya kembali pada baris kebijaksanaan Syibli dan Junaid (Syah, 1985: 207) dalam deretan syair di bawah ini:
Bagi pikiranmu, aku gila.
Bagi pikiranmu, kalian semua waras.
Maka aku berdoa untuk menambah kegilaanku
Dan untuk menambah kewarasanmu.
“Kegilaanku” adalah dari kekuatan Cinta;
Keawarasanmu adalah dari kekuatan ketidaksadaran.
Menjadi orang gila itu menyenangkan, walau hakekatnya akan diasingkan dari kehidupan sosial. Manusia yang gila memiliki kebebasannya sendiri, kemerdekaan yang tidak dapat diganggu gugat oleh manusia lain. Apalagi ketika kemerdekaan itu lahir karena dorongan cinta yang muncul benar-benar tanpa motif. Ia (cinta) yang merdeka akan menjadi kekuatan yang indah. Memang, hakekat dari cinta itu sendiri berupa makna akan hidup, yang sehingga di dalamnya tidak ada kebodohan maupun kegilaan. Jikalau masih ada yang mengatakan, bodoh karena cinta, salah karena cinta, atau gila karena cinta, itu berarti manusia itu tidak mengerti dengan bagaimana caranya mencintai. Manusia seperti ini hanya ingin mencari sosok lain untuk dipersalahkan atas kelemahan diri dalam menjalani kehidupannya. Dan sosok yang dipersalahkan itu tidak lain, selain rasa cinta yang tumbuh di dalam hati dimana Tuhan (Hidup) bersemayam.
Hati sebagai Pemangku Otoritas
Manusia sudah melewati masa modern, yang pada hari ini bahkan sudah mencapai post-modern. Salah satu khasnya manusia modern, adalah manusia yang lebih mengedepankan rasionalitas (akal) ketimbang suara-suara mistis yang berasal dari alam maupun dari batin. Manusia lebih mempercayai kualitas akal untuk menjawab setiap persoalan yang merintangi tujuan dari perjalanan hidup. Kesakralan mistis dan kemurnian jiwa perlahan-lahan ditinggalkan, menjadi aspek hidup yang tidak penting. Manusia modern, lebih merujuk pada materi, sesuatu yang nampak secara wujud, termasuk di dalamnya perkembangan teknologi. Bahkan, sebuah konsep religi tidak lagi menyangkut permasalahan aspek ruh, hanya sebatas pada sekte gerakan yang badaniah.
Perilaku keagamaan, maupun mistis (kebatinan) dipandang sebagai suatu bagian dari kebudayaan yang terjadi ketika dijalankan pada saat tertentu, seperti peringatan hari-hari agung. Agama dan nilai mistin (kebatinan) tidak berjalan di dalam kehidupan secara menyeluruh. Hal ini bisa saja diamati dari pergeseran nilai dari kehidupan manusia itu sendiri. Perilaku peribadan sebagai kegiatan biasa yang terjadi semacam kebiasaan hidup yang terjadi begitu saja.
Keadaan hidup masyarakat yang semacam ini, yang mendasari konsep filsafat Parennial. Seperti yang disinggung Penerbit Qalam dalam mengantari penerbitan buku Filsafat Perennial (2001) karya Aldous Huxley, bahwa dunia modern sekarang telah kehilangan (atau tidak memiliki) cakrawala spiritual. Suatu konsepsi yang menarik, memberikan kita penggambaran yang cukup relevan dengan kondisi sosial masyarakat kita sekarang.
Secara tidak langsung, manusia sudah tidak memiliki ruh kehidupan dalam perjalanan hidup mereka. Ruh kehidupan itu ada di dalam hati, di dalam rasa sejati. Hal ini konsep hidup yang dipercayai dalam khasanah filsafat (laku) manusia Jawa. Dikarenakan manusia (pada umumnya) sudah tidak memperdulikan rasa sejati yang di dalamnya mengandungi kemanusiaan universal sekaligus religius maka, ruh kehidupan dengan sendirinya padam. Tidak adanya ruh (spiritualistas) maka kesenangan dari perjalanan hidup manusia lebih dominan pada aspek horisontal, bersifat keduniawian. Ia hanya kesenangan yang jauh dari kepuasan yang sejati.
Dalam aspek ini, NJ menerima kesaksian itu, tentang bagaimana peran dari rasa (hati) manusia:
Dia tidak kelebihan muatan perkara, sukma lelah tidak pernah menetap, bergetaran meranggeh kepada perkampungan sejati rasa (II : XXXIV)
Dengan kerinduan terpisah, ia bicara berbahasa ruh, lelangkah menjangkau, mendebarkan lelantai marmer nurani sesering kalbu jatuh cinta (II : XXXV)
Nafasnya tersenggal tak terukur kiranya fahami alam kelemah lembutan diri, begitu tegar wahai kau (II : XXXVI)
(Kitab Para Malaikat, 2007: 12)
Hati, atau rasa sejati manusia memiliki sifat lautan, yang keberadaannya luas dan mampu menerima apa saja yang dibawa dalam aliran sungai. Entah itu kekotoran atau setumpuk air. Diterima begitu saja, tanpa dipilih, akantetapi yang juga selayaknya lautan, ombak memilah. Hal yang tidak baik, ditepikan di bibir pantai. Karena sifat yang seperti itu, maka hati tidak akan “kelebihan muatan perkara”. Hanya yang baik saja yang diambil untuk diasuh ombak, semisalnya saja cinta.
Akantetapi, kebanyakan dari manusia sudah meninggalkan atau lebih tepatnya tidak perduli dengan peran dari rasa (hati) yang disudutkan untuk mengurusi hal-hal yang mereka anggap sepele. Seperti halnya cinta, kebanyakan manusia beranggapan kalau hal tersebut tidak penting. Perbuatan yang berlandaskan pada cinta acapkali dianggap sebagai kebodohan, seperti yang sudah diungkapkan di muka. Manusia lebih tertarik dengan dunia luar, yang lebih mendatangkan manfaat secara materi. Misalnya, manusia membunuh karena kemiskinan menjadi sangat wajar sekali ketimbang manusia membunuh karena cinta. Andaikata, seorang pemuda, misalnya, menderita patah hati maka akan berlari ke hal-hal yang sifatnya negatif, misal dengan melupakan peristiwa tersebut melalui minuman, atau penggunaan obat-obatan terlarang.
Kasus seperti ini terjadi karena manusia telah kehilangan spiritualitas, dimana hati tidak menempati posisi yang sakral. Bukankah sering kita menemui persepsi kalau lelaki sejati tidak mengurusi hal-hal cinta. Hal-hal cinta dan seabrek kompleksitas permasalahannya hanya untuk mereka yang lemah. Ini, efek yang tidak disadari dari spiritualitas yang ada. Spiritualitas yang bermula dari kata spirit atau jiwa merupakan bagian dari hati manusia. Sehingga, cukup relevan ketika NJ kemudian mengatakan: “sukma lelah tidak pernah menetap” karena memang bagaimana bisa menetap kalau keberadaannya di dalam kehidupan seorang individu dikesampingkan dan tidak diperdulikan.
Sekali lagi, manusia melulu mengurusi materi, walau pun terkadang hati kecil mereka selalu juga mengatakan kalau hidup tidak melulu bicara soal uang, kedudukan, pangkat, atau seabrek masalah prestise. Dunia materi hanya sebatas pada kendaraan. Tidak keterlaluan kalau Iwan Fals dalam lagunya berjudul Seperti Matahari mengatakan kalau harta dunia itu sebagai godaan yang membuat miskin jiwa (hati) manusia.
Karena itu, suatu keadaan yang penuh dengan pemberontakan namun tidak ada kekuatan sehingga ruh (hati) itu tetap kalah, sampai NJ mengungkapkan dengan menyedihkan: “bergetaran meranggeh kepada perkampungan sejati rasa”. Meranggeh itu adalah istilah Jawa yang mewakili meraih (dalam bahasa Indonesia). Hanya untuk meraih, kembali ke hakekat rasa sejati saja, manusia mesti bergetaran terlebih dahulu, harus ditemukan pada penderitaan terlebih dahulu. Walau terkadang, dengan penderitaan itu juga, manusia terlanjur lupa dengan apa yang namanya: perkampungan rasa sejati.
Setiap manusia dapat dikatakan kalau dirinya pernah merasakan jatuh cinta. Cinta adalah bagian dari ruh, dan hanya dengan rasa cinta itu manusia terus diingatkan agar ikut mengedepankan hati dalam perjalanan hidup. Hati sebagai awal dan sekaligus inti dari spiritualitas menyangkut mengenai bagaimana manusia bersikap lembut, kebaikan yang universal, berlaku dalam alur saling mencintai dan menjaga. Spiritualitas seperti ini, yang akan membawa kehidupan manusia pada kehidupan yang lebih indah dengan pembangunan jiwa kerohanian daripada pembangunan materi yang cenderung bersifat sementara.
Kenapa kau meragu di perempatan jalan simpang?, cukup ambil nuranimu bagi penentu, dan jangan biarkan kebimbangan bersinggah kedua kali (II : XLVII)
(Kitab Para Malaikat, 2007: 13)
“Nuranimu bagi penentu” begitu NJ memberikan nasehat untuk tokohnya yang mengalami kebimbangan. Pada kesempatan ini, otoritas hati sebagai alternatif dalam mencari jalan keluar NJ nampakkan dengan begitu jelas. Nurani (hati) memang tidak memiliki kembimbangan. Dia mengarahkan kita pada jalan yang baik tanpa memperhitungkan apa pun. Apabila, di dalam suatu masalah kita menemui kebimbangan, maka awal dari kebimbangan itu bukan dari hati manusia, melainkan dari pikirannya. Hati tidak memiliki kebimbangan, karena arah yang ditempuh menuju kebaikan, secara vertikal maupun horisontal (kemanusiaan).
Hati mengandungi ketetapan dan kepastian yang bisa manusia andalkan. Kebenarannya bersifat hakekat, karena nilai-nilai kebaikan universal ada di dalam hati. Manusia Jawa percaya kalau hati manusia sebagai tempat persinggahan Hidup (Tuhan)(dalam Mulder, 1984: 11), yang mana juga sebagai tempat penyatuan antara manusia dan Tuhan: Isi memuat wadahnya atau keris memasuki sarung dan keris memasuki sarung (Magnis-Suseno SJ, 1985: 121). Dengan demikian, keberadaan Tuhan (sebut saja cahaya Tuhan) yang bersemayam di dalam hati akan memberikan arah yang benar atas suatu permasalahan yang manusia hadapi.
Keberadaan dan realitas akan rasa sejati tentu saja perlu dilatih dalam laku hidup prihatin. Hati manusia adalah makro-kosmos yang memuat seluruh kehidupan dan tubuh manusia sebagai mikro-kosmos. Itu sebabnya, Bima yang bertubuh besar mampu masuk ke dalam tubuh Dewa Ruci yang merupakan rasa sejati dari Bima sendiri. Inilah hakekat dari hati manusia, yang seharusnya sebagai pemangku otoritas kekuasaan di dalam kehidupan manusia. Seperti yang sudah saya ungkapkan di atas, hati manusia tidak memiliki keraguan, tetapi pikiran (akal) manusia yang dipenuhi keraguan karena di dalam pikiran terdapat berbagai keinginan yang sifatnya hanya horisontal.
Dan apabila kita telah menyerahkan setiap urusan pada hati, maka jalan hidup manusia tidak akan menyimpang. Hati tidak mengajari manusia untuk berbuat maksiat, juga tidak membujuk seorang pemimpin untuk menyalah-gunakan kekuasaan dengan melakukan korupsi dan kejahatan lainnya. Hati akan menuntun manusia pada kebaikan, tenggang rasa, mengerti penderitaan orang lain sehingga kebijakan yang dibuat seorang pemimpin yang berhati nurani tidak akan merugikan kepentingan kemanusiaan rakyatnya. Doronga hati adalah dorongan cinta tanpa motif, demi keselamatan.
Bantul – SDS Fictionbooks, 18 Februari 2010
http://sastra-indonesia.com/
Pengantar
Nurel Javissyarqi dengan salah satu karyanya Kitab Para Malaikat, memang layak untuk mendapatkan kehormatan sebagai penyair paling mengispirasi itu. Tulisan ini tidak untuk mengukuhkan pendapat tersebut, namun sekedar menggelar tumpukan simbol yang ada di dalam surat Hukum-hukum Pecinta, buku Kitab Para Malaikat atau KPM (2007: 11-17). Melalui berbagai macam keterbatasan yang saya miliki, susah payah, sampai konon yang empunya KPM mencurigai niatan mengupas dari surat ke surat yang jumlahnya dua puluh surat ditambah satu mukadimah.
Menjelajahi KPM karya NJ memang membutuhkan stamina yang cukup. Baik, stamina tubuh maupun stamina batin yang seringkali NJ sebut sebagai energi. Saat ini, saya berusaha kembali setelah bernapas sejenak dengan menyelesaikan satu novel untuk menggelar tumpukan simbol yang ada di dalam surat Hukum-hukum Pecinta dengan berbekal tekat yang sudah disiapkan untuk menggarap sampai tuntas. Hukum-hukum, yang di sini mungkin saja memberikan pengertian mengenai jalan yang semestinya ditempuh oleh pecinta. Siapa gerangan pecinta itu? Inilah sosok NJ, sang pecinta yang entah disadari atau tidak, telah menuangkan kesejatian diri dari relung yang memang mungkin tidak disadari.
Pecinta, yang coba saya selaraskan dengan pengertian yang lebih luas lagi, tidak hanya mengacu pada NJ, akantetapi pada kodratnya. Saya memiliki asumsi yang tidak terlalu kuat sebenarnya, kalau pecinta dalam puisi panjang ini lebih merujuk pada hati manusia, tempat dimana hakekat rasa itu bersemayam, dan konon, menurut kepercayaan masyarakat Jawa, tempat bersemayamnya Allah (dan saya yang secara tidak kebetulan, meyakini ini). Hukum-hukum Pecinta, Nasehat Penyair untuk Diri yang saya maksudkan untuk mengajak setiap penulis (seniman secara umum) untuk kembali merefleksi karya yang telah dihasilkan. Dan pada kesempatan ini, saya memberanikan diri untuk menasehati (kalau tidak boleh dengan ucapan: menggurui) si empunya KPM, Nurel Javissyarqi dengan karya yang telah diracik selama bertahun lamanya. Tentu saja, karya NJ sendiri.
Terdengar sebatas omong kosong, saat kita mengajari seseorang dengan ucapan seseorang itu sendiri. Akantetapi, pepatah lama mengingatkan kita akan gedhang awohe pakel, pohon pisang yang berbuah pohon pakel. Perumpamaan yang sulit untuk dinalar karena memang artinya juga untuk merujuk aspek tersebut, bahwa kita bisa saja dengan mudah menggelar kebijaksanaan yang tinggi untuk orang lain, namun terkadang kita absen untuk melakukan kebijaksanaan tersebut untuk diri kita sendiri. Itulah, yang membuat saya berefleksi ulang, berusaha mengenyam setiap karya yang telah lahir sebagai ukiran jiwangga yang Tuhan titipkan dari tangan para seniman, sehingga tulisan ini pun tercipta begitu saja dengan judul Hukum-hukum Pecinta, Nasehat Penyair untuk Diri.
Cinta Hidup, itu Kematian
Banyak aspek yang membangun di dalam kehidupan cinta kasih, baik antara sesama manusia, manusia dengan alam, pun, manusia dengan Tuhan. Aspek-aspek ini terkadang dapat berdiri sendiri namun di kesempatan lain dalam suatu perjalanan metamorfosa yang panjang, keseluruhan aspek itu terbangun menjadi satu jalinan kekuatan yang tidak terhingga. Kekuatan ini hadir dalam suatu klimaks perasaan cinta yang dimiliki seseorang. Kekuatan sebagai hasil dari cinta, yang tidak hanya berupa perasaan, jauh dari itu sudah mencapai penyatuan antara pikiran, rasa, dan tentu saja tercermin di dalam laku.
Aspek dari cinta yang paling penting, dapat disebutkan sebagai ikhlas dalam memberi maupun dalam menerima. Hal ini penting, mengingat banyak dari kita yang terkadang ingin selalu memberi atau ingin selalu diberi. Cinta yang mencapai pada fase kematian itu sudah meninggalkan apa yang namanya memberi dan menerima. Dua hal itu melebur menjadi satu, sehingga dapat dikatakan di dalam cinta yang sejati tidak ada yang namanya keinginan atau pamrih.
Salah satu pandangan hidup masyarakat Jawa adalah mengenai sepi ing pamrih, yaitu tahapan dimana seseorang sudah melepaskan segala kepentingan yang bersangkutan dengan diri. Yang ada di benak seseorang tersebut, hanya orang atau sesuatu yang dicintai. Keinginan ini, dalam KPM, mungkin saja ada di dalam ayat III dan IV, yaitu:
Tidakkah kau merasa bersalah berjalan di depan matahari sambil menggandeng bayangan?, kiranya bayangan lenyap jika kau bersujud di hadapan cahaya, ia seekor burung mengamati langkah-langkahmu (II : III)
Sebenarnya engkau tidak mencintai bayangan tetapi ia selalu mengikuti, bukankah ketenanganmu bercermin cahaya?, dan bayang bergetar olehnya (II : IV).
(Kitab Para Malaikat, 2007: 11)
Dua ayat di atas memberikan kita pencerminan mengenai keberadaan dari pamrih yang dapat menjadi penghalang bagi rasa cinta yang sejati. Pamrih atau keinginan merupakan naluri dasar manusia yang sebagai bentuk dari id serta ego. Id sebagai naluri dasar manusia yang berupa insting dari sifat hewani, yang berupa napsu kesenangan. Dalam literasi Jawa, id sebagai pamrih yang merupakan penghalang nyata bagi perjalanan jiwa dalam mencapai tingkatan-tingkatan cinta tertinggi. Keinginan manusia untuk memenuhi kesenangan, menguasai dan menonjolkan diri, dapat dikatakan sebagai perilaku yang tidak etis dalam perjalanan mengenal cinta.
Keinganan manusia dapat dikatakan sebagai aspek lahir yang esensial dan menjadi karakter dari manusia. Keinginan yang juga disebut, dalam kasanah kebudayaan Jawa dapat dikatakan sebagai bagian dari sisi negatif manusia. Keberadaannya nyata, namun terasa biasa yang membuat kita seringkali melupakan hakekat akan kenyataan hidup. Pamrih adalah bagian hidup yang harus disempitkan (dikungkung) ruang geraknya. Manusia yang selalu mengikuti keinginan, dapat dikatakan sebagai manusia yang menyerupai sifat binatang. Mengikuti insting, manifestasi dari setiap keinginan yang menuntut untuk dipenuhi.
Suatu keberadaan yang tidak dapat dipisahkan dari manusia itu sendiri, keinginan hadir sebagai “bayangan” di dalam suatu kehidupan yang ber “cahaya”. Dari sini kita bisa melihat bagaimana NJ membangun struktur simbol dalam karyanya. Nilai yang termaktub dengan selaras, sebagai nasehat yang tidak terkira harganya saat NJ mengatakan: “Tidakkah kau merasa bersalah berjalan di depan matahari sambil menggandeng cahaya?” Hakekat dari suatu perjalanan hidup adalah untuk menuju pada kehidupan yang hakiki, yang oleh NJ diungkapkan melalui cahaya atau matahari.
Lain dengan keinginan, yang sekedar sebagai “bayangan”, walau dalam keberadaan yang tidak mungkin dapat mudah dipisahkan. NJ sendiri, saya kira, menyadari hal ini. Bahwa, manusia tidak semerta-merta dapat lepas dari keinginan (pamrih) yang sudah menjadi bagian tidak terpisahkan. Akantetapi, masyarakat Jawa melalui laku kebatinan, mereka mencoba untuk menyingkirkan aspek lahiriah manusia ini. Menyingkirkan bukan melenyapkan karena hilangnya keinginan manusia merupakan sesuatu yang tidak wajar dan hanya mampu dilakukan oleh mahluk-Nya yang lain, yang bernama malaikat.
Manusia pasti memiliki keinginan, itu yang disadari para pelaku kebatinan. Bersebab pada kesadaran itu, manusia kebatinan Jawa memiliki suatu cara untuk menepis setiap keinginan yang ada dalam naluriah mereka sebagai manusia. Dengan laku (jalan) prihatin, atau mau untuk menjalani suatu penderitaan untuk mencapai kedudukan tinggi dalam hidup yang termanifestasikan ke dalam nilai slamet. Dalam laku prihatin, masyarakat kebatinan Jawa mengenal adanya istilah sepi ing pamrih yang multi interpretasi.
Pamrih sebagai keinginan, maka sepi ing pamrih sebagai nilai yang digalakkan untuk mengekang hawa nafsu manusia. Mulder (1984: 39) mengungkapkan penelitiannya dalam dunia kebatinan yang menulis bahwa apabila pamrih (keinginan) dapat teratasi maka manusia akan mencapai kemurnian hidup, sebab pamrih sebagai keadaan yang menghalangi tercapainya kebaikan dunia dan kemurnian hidup. Menepis keinginan, entah itu keinginan untuk makan, untuk tidur atau untuk hidup enak (senang). Orang yang ingin menepis keinginannya harus mau berprihatin, mau hidup susah demi kebahagiaan yang lebih hakiki, yang termaktub dalam nilai slamet itu sendiri.
Slamet merupakan suatu yang selaras, melaju di dalam keadaan baik, di dunia maupun di alam akhirat. Manusia Jawa, dalam berbagai tradisi upacara keagamaan dan kebudayaan, nilai slamet memiliki tempat yang lebih banyak. Slamet atau selamat dalam bahasa Indonesia dianggap sebagai puncak tertinggi kebahagiaan hidup karena di dalamnya juga mengandung ketenangan hidup. Untuk itu, tidak terlalu berlebihan jika NJ mengatakan: “bukankah ketenanganmu bercermin cahaya?”.
Ketenangan yang bercermin cahaya, begitu NJ berujar di ayat IV yang merupakan sahutan perdebatan antara bayangan dan matahari. Adanya matahari (kehidupan) dapat dilihat dari bayangan (keinginan) manusia. Singkatnya, adanya kehidupan dalam diri manusia terdeteksi karena ada keinginan. Bagaaimana manusia yang secara umum dikatakan hidup, karena di dalam diri manusia itu terdapat keinginan yang mendorong pemenuhan. Terjadi gerakan penuh semangat itu, gerakan sebagai kehidupan.
Bayangan yang menyimbolkan keinginan akan berada di belakang sebagai sesuatu yang tidak dihiraukan ketika bercermin dengan kehidupan (cahaya) yang sebenarnya. Kita kembali pada laku prihatin, yang mana sebagai usaha untuk menepis (atau mengurangi) dominasi dari keinginan yang pada kebanyakan orang menjadi penggerak dari kehidupan. Laku prihatin ini misalnya saja: berpuasa, mengurangi tidur, mengurangi bercakap-cakap, dan mengurangi berbagai kesenangan duniawi yang lain. Karena itu juga, manusia Jawa sering mengatakan gelem rekoso atau mau menderita.
Berbeda, ketika kita “bercermin cahaya” yang dengan kata lain benar-benar mengendalikan diri untuk mencapai ketenangan yang merupakan bagian integral dari nilai slamet. Hingga kita akan menemukan fungsi dari laku prihatin yang sering dilaksanakan manusia Jawa. Dalam konteks laku prihatin, manusia akan mencapai keterlepasan dari keinginan yang menjauhkan diri dari ketenangan. Keinginan jauh berbeda dengan kebutuhan, dan biasanya, keinginan itu yang sering menjajah nurani manusia demi pemenuhan akan kesenangan.
Laku prihatin, membawa manusia pada nilai kehidupan yang lebih tinggi ketimbang pada kesenangan duniawi. NJ menyimbolkannya dalam bangunan cahaya, yang mana dapat membawa manusia ke fase mati sajroning urip, urip sajroning mati artinya mati selagi hidup dan hidup selagi mati. Tingkatan perjalanan yang sangat sedikit sekali dimiliki oleh manusia Jawa (Indonesia) modern. Dengan meninggalkan bayangan (keinginan) kita akan menjadi cahaya dan memperoleh makna hidup yang lebih. Karena itu, mari kita menyimak racikan NJ di bawah ini:
Di atas bukit ia berseru, ikuti kepakan sayapku serupa menuruti nuranimu, dulu aku memiliki bayangan, di saat terbang tinggi hilang sendiri, ia tak mampu terbang hanya membebani pengembara (II : V)
(Kitab Para Malaikat, 2007: 11)
Di sini, lebih terlihat jelas mengenai laku prihatin yang terusung dalam surat Hukum-hukum Pecinta, buku Kitab Para Malaikat. Laku prihatin dijalani yang mengartikan adanya pelaksanaan dari ritual Kejawen sebagai suatu jalan hidup. Cahaya, yang menyeru pada pengembara akan makna dari bayangan sebagai “beban” adalah maknawi dari keinginan itu sendiri. Keinginan manusia sesungguhnya adalah beban yang menghalangi manusia untuk mencapai puncak-puncak pemahaman akan hidup.
Ketika manusia sudah sampai pada fase mati sajroning urip, urip sajroning mati, dia akan tertantang dalam kesadarannya untuk menaiki tapakan selanjutnya. Tingkatan yang luar biasanya tingginya dan teramat sulit untuk dicapai masyarakat hedon Indonesia. Tingkatan tersebut dinamai sebagai fase penyatuan antara manusia dan Hidup (Tuhan). Manunggaling kawula lan Gusti, suatu babak kehidupan yang diidamkan banyak orang. Diidamkan, akantetapi jalan hidup menuju ke sana jauh dari pelaksanaan dengan sistem yang ketat.
NJ menyarankan agar kita mengikuti cahaya itu untuk terus terbang, dalam lingkaran yang tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ritual dalam keyakinan yang ketat melalui usaha tapa brata (bertapa) untuk memahami keheningan yang ada. Manusia Jawa juga sering menyepi untuk mendapatkan wahyu atau petunjuk dari Tuhan mengenai hakekat tersebut. Dalam pengalaman ini, seringkali beberapa pelaku kebatinan sering mengungkapkan dengan istilah menabung. Semisal puasa pada hari Senin dan Kamis yang dapat sebagai tabungan dalam mengasah hati serta pikiran. Tabungan ini yang pada akhirnya menjadi banyak, seperti pertumbuhan gunung yang dari kecil menjadi besar dan gagah.
Laku prihatin dalam tradisi Jawa, bukan laku yang singkat dan mudah. Istilah menabung itu tadi merujuk pada proses panjang yang di dalamnya membutuhkan keyakinan dan kesabaran. Proses seperti ini yang mungkin saja disebut NJ dalam: “dulu aku memiliki bayangan, di saat terbang tinggi hilang sendiri”. Cahaya atau kesejatian hidup, pada proses awalnya juga hampir sama dengan sifat alamiah kebanyakan, namun laku prihatin membawanya pada posisi dimana bayangan tidak mampu mengikuti. Hal ini memberikan suatu penjabaran, dari latihan yang sederhana namun kontinyu dan ketat dapat mendatangkan suatu manfaat yang dengan sendirinya, kelemahan menjadi kekuatan yang luar biasa.
Fase di mana bayangan tidak mampu mengikuti itu, tingkatan awal dari mati sajroning urip, urip sajroning mati yang sudah saya sebutkan di atas. Kesungguhan seseorang dalam menempuhi jalan hidup ini mendatangkan buah, yaitu kehidupannya tidak dikuasai keinginan akantetapi dirinya lah (manusia itu) yang menguasai keinginan. Bukankah menyenangkan kalau kita mampu menguasai keinginan yang ada di dalam diri? Di saat kita melihat sesuatu hal yang menarik, kita mampu menguasai nafsu dalam langkah pengendalian diri untuk menjalankan hidup yang penuh dengan manfaat. Manusia yang mampu mengendalikan nafsu, dia dapat mengendalikan diri sehingga kehidupannya akan mencapai ketenangan batin dan pikiran. Sebab, semua keinginan yang memaksa untuk dipenuhi itu yang pada dasarnya mendatangkan keadaan tertekan dan bisa mengakibatkan tekanan batin, yang puncaknya pada fase gila (dalam arti sebenarnya).
Inti dari menemukan cahaya adalah dengan menepis dan mengendalikan bayangan yang ada. Mencapai titik kematian diri untuk menghidupkan. Sehingga:
Tahukah kau mengenai tercerabutnya nyawa?, sebuah awal perjalanan baru berakhirnya kesedihan menuju kelanggengan kasih sayang (II : II)
(Kitab Para Malaikat, 2007: 11)
Kematian sebagai awal dari perjalanan baru. Kematian di sini, menurut saya, bukan makna kematian yang sebenarnya. Lebih jauh lagi, seperti interpretasi yang sudah saya kemukakan di atas sebagai bentuk dari pengendalian hawa nafsu yang menjadi perintang manusia untuk menggapai kemurnian hidup. Untuk merasakan kematian keinginan, tentu saja perlu adanya niat yang kuat untuk mendorong pelaksanaan dari perilaku prihatin. Dengan menemukan keinginan (bayangan) pada ajal, memberikan suatu nilai tersendiri yang membawa pada keselamatan dan juga ketenangan hidup. Inilah wujud dari cinta kita terhadap diri kita sendiri. Cinta yang menuntun pada pemahaman akan hakekat kehidupan yang selanjutnya memilih diantara dua jalan, kebaikan dunia yang semu atau kebaikan akhirat yang abadi.
Laku perihatin, sebagai usaha pengendalian hawa nafsu (keinginan) manusia dapat membawa manusia pada perilaku yang baik. Hal ini dapat dilihat dari nilai yang tersembunyi dari perilaku perihatin manusia Jawa, yaitu juga sebagai bentuk pembentukan watak dan kepribadian yang halus, berusaha sebaik mungkin mendekati sifat kehalusan budi, sikap, serta perilaku. Dasar ini lah yang mendorong saya untuk menyatakan, adanya kecintaan diri yang penuh kesadaran akan pemahaman hidup, akan membawa kita (manusia) pada kecintaan pada Hidup (Tuhan) yang juga berarti saat dimana kematian itu tiba pada keinginan kita akan duniawi. Sebab dengan matinya keinginan, kita bisa merasakan kehidupan yang sebenarnya, sebelum kehidupan itu tiba.
Merasuki Dunia Renungan, Banyakkan Waktu
Seirama dengan perjalanan menepis bayangan yang ada di dalam kehidupan, di atas, pada bait-bait Hukum-hukum Pecinta antologi Kitap Para Malaikat, Nurel Javissyarqi memberikan kita hidangan simbol yang hampir sama. Proses penegasan untuk merenungi dan pencarian akan hakekat kehidupan yang hendaknya dirasa keberadaannya. NJ pada beberapa bait selanjutnya menempatkan serangga indah yang sering merebut hati. Serangga itu kekupu (kupu-kupu). Mahluk hidup yang menggambarkan perjalanan tapa brata yang ketat.
Kekupu melalui jalan hidupnya melakukan perjalanan panjang dan (tentu saja) berat untuk melakukan metamorfosa. Dari ulat yang memiliki kesan menjijikkan menjadi kupu-kupu yang disenangi semua orang. Kupu-kupu sendiri memiliki bangunan makna akan suatu perjalanan hidup tersendiri, akantetapi saya mencoba melihat dalam kaitannya dengan bangunan struktur simbol KPM.
Jadilah kekupu waktu menerima berkepompong terlebih dulu, lama memintal benang sutramu akan anggun begitu tampil (II : VI)
(Kitab Para Malaikat, 2007: 11)
Suatu penggambaran mengenai perjalanan dalam proses pembentukan diri. NJ menasehati kita, dan tentu saja juga menasehati dirinya sendiri, agar kita mau menerima keadaan manusia yang sudah digariskan tidak sempurna. Melalui kata “berkepompong terlebih dulu” menandakan sebuah usaha untuk mencapai batas puncak tertentu. Di sini lah, saya kira, NJ memulai permainannya untuk menegaskan maksud dari jalan prihatin yang dilakukan manusia Jawa.
Manusia yang tidak sempurna, seperti ulat yang kemudian sadar untuk membungkus diri dalam laku tapa. Jalan prihatin, sebagai usaha yang tidak bisa dilepaskan apabila manusia ingin mencapai derajat tinggi. Prihatin itu sama juga dengan kerja keras. Semisalnya saja, siswa yang ingin selalu mendapatkan peringkat satu, maka dia harus menekuni ilmu dalam proses pembelajaran yang panjang. Ketekunan yang mengiringi usaha akan membuahkan hasilnya. Dan akhirnya, ketika kita menyadari kekurangan diri dan pencapaian ketenangan itu hanya dengan kembali pada Hidup (Tuhan) maka kita hendaknya seperti ulat yang membungkus diri dalam kepompong.
Penggambaran ini mengingatkan saya pada perjalanan Bima dalam mencari air kehidupan. Perjalanan panjang yang dipenuhi marabahaya ditempuh demi sampai pada tujuan. Hutan ditelusur, sampai mengarungi samudra yang membawa dirinya bertemu dengan Dewa Ruci, yaitu jiwa yang murni dari manusia. Perjalanan Bima ini yang disebut dengan perjalanan tapa, memiliki kesamaan nilai dengan ulat yang mengurung diri di dalam kepompong.
Mengurung diri untuk mengoreksi diri sendiri atau untuk lebih mendekatkan diri pada sang Pencipta (Tuhan) adalah bagian dari laku prihatin manusia Jawa. Dalam kegiatan merenung ini, dia berhenti makan, minum, tidur, dan berhenti beraktivitas. Segala waktu, dicurahkan hanya untuk berinteraksi dengan diri melalui jalan batin yang membawa manusia pada rasa sejati. Tapa dapat menghadirkan jiwa yang lebih besar dari dunia tempat manusia berpijak, merajut kekuatan alamiah dan wahyu. Menjadi kepompong dapat dikatakan sebagai meluangkan lebih banyak untuk Tuhan.
Ini yang NJ ungkap dalam kata “memintal benang sutra” sebagai usaha untuk membentuk dan menggerakkan keistimewaan yang sudah ada di dalam diri setiap manusia. Sampai ketika saat yang sudah ditentukan oleh Tuhan itu tiba, keindahan dari laku tapa brata manusia Jawa dapat muncul ke permukaan. Keindahannya dapat diketahui orang banyak, sebagai manusia yang linuweh atau memiliki keistimewaan tertentu. Perjalanan seperti siklus hidup kupu-kupu dapat membawa manusia pada kedekatan diri dengan Hidup (Tuhan) sehingga keselamatan dan ketenangan dapat dicapai.
Keistimewaan diri yang sudah nampak di depan orang lain, biasanya memberikan suatu pencerahan bagi manusia lain. Sebagai hasil atau akibat bagi manusia yang lebih senang meluangkan waktu untuk Tuhan, maka anugrah yang nyata menarik orang untuk mengikuti dengan berbagai macam keterbatasan. Seperti ayat di bawah ini:
Kelepakan sayapmu menawan mata seekor elang berhasrat reinkarnasi, menyerahkan tulang-belulang digerogoti cacing tanah (II : VII).
Tahukah doanya burung ekang itu di waktu sekarar?, ia tak ingin menjelma laba-laba juga kelelawar, tetapi memohon dijadikan kekupu pendampingmu (II : VIII)
(Kitab Para Malaikat, 2007: 11)
Pengaruh yang tidak disangka, ketika kita melihat perpaduan di atas. Kekupu, yang secara gamblang menyimbolkan mengenai kelemahan diri (lemahnya raga) namun dapat menarik sesuatu yang lebih kuat secara fisik untuk mengikuti dirinya. Aspek kekupu di sini dapat juga dipandang sebagai nilai dari kelembutan batin yang tercermin sebagai keindahan laku sebagai hasil dari perjalanan prihatin. Di dalamnya terdapat suatu pergerakan ghaib yang mengejawantah di alam realitas.
Bahwa, laku prihatin yang mengajak manusia untuk menyepi agar meluangkan waktu lebih banyak untuk Tuhannya akan membawa kekuatan yang akhirnya mendatangkan kekuasaan. Yaitu, tentang elang yang melihat kekupu kemudian ingin menjadi kekupu untuk bersanding dengan kekupu tersebut. Hal ini memberikan pengertian bahwa kedekatan dengan Tuhan memberikan daya tarik tersendiri, yang membuat mata memandang dan jatuh cinta, selanjutnya mengikuti dalam seirama di bawah kekuasaan sang manusia kekupu.
Hukum timbal balik yang sudah dijanjikan, kalau kita mencintai Tuhan maka Tuhan akan mencintai kita dengan lebih baik lagi. Dan kalau Tuhan sudah mencintai kita, kekuasaan itu ada pada diri. Karena itu, jika kita merasa menjadi elang yang ingin berkuasa (selamat dan tenang) maka menjadilah ulat untuk meluangkan waktu lebih banyak untuk Hidup (Tuhan) di dalam kepompong agar lekas kita menjadi kekupu. Atau, meluangkan waktu lebih banyak untuk seseorang (atau hal) yang kita cintai adalah hal berharga yang mampu mendatangkan keajaiban. Demikian, bahwa dalam dua puluh empat jam ada sesuatu yang lebih banyak, bahwa sesuatu itu kita cintai walau terkadang kita tidak menyadarinya. Seperti bernapas, karena kita mencintai hidup dan takut pada kematian.
Cinta, Kebodohan, dan Kegilaan
Cinta dapat dipandang sebagai gerakan yang hakekatnya tanpa motif. Ia, cinta ini maksud saya sudah menjadi suatu tujuan dari berbagai macam proses sehingga tidak ada tujuan lain selain cinta. Kehadiran yang terkadang ganjil, kita dirasa dituntut untuk berbuat sesuatu namun kita tidak mengerti dengan hakekat selain kesenangan yang hadir diseketika itu. Kita ini, terkadang rela berbuat sesuatu demi merasakan kesenangan yang hadir, tanpa perduli berbagai akibat, maupun urusan mengenai untung dan rugi.
Itulah cinta yang konon, hadir sebagai anugrah indah dari rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Perasaan ini yang membuat manusia menjadi lebih mampu merasakan nikmatnya hidup. Ruh dari suatu perjalanan kehidupan manusia yang memiliki berbagai membawa manusia pada berbagai persimpangan. Akantetapi, setiap persimpangan yang ada, hakekatnya hanya menuju dua jalan, seperti keseimbangan manusia antara kanan dan kiri. Yang kanan, tidak mesti membawa pada kebaikan dan yang ke kiri tidak lantas juga menjadi jalan kesesatan. Hal seperti ini yang semestinya kita sadari dalam hukum seorang pecinta. Tidak ada jalan yang paling benar atau menyesatkan karena dua jalan itu membawa pada satu, selama dia masih berpegang pada konsep cinta. Yaitu, tidak menimbang untung dan rugi, karena kesemuanya demi yang tercinta.
Individu yang berdiri di luar cinta, mereka selayaknya suporter sepak bola yang memiliki banyak pemikiran di batok kepala. Melihat kemudian mendukung gerakan, kalau tidak berhasil lantas menyalahkan atau lebih parahnya membodoh-bodohkan. Mereka para suporter ini bisa saja berkomentar apa pun karena mereka berada di luar lapangan, tidak berada di dalam dan bermain, hal yang sama dengan penggambaran di areal cinta. Karena mereka tidak merasakan dan berjalan di jalannya, karena itu hal yang biasa ketika mereka menganggap cinta sebagai suatu tindakan yang bodoh.
Mungkin saja, diketika NJ menuliskan dua ayat XXV dan XXVI, sang NJ sedang berdiri di luarnya. Atau, sekedar memposisikan diri kalau dia tidak bermain, yang sekaligus bermain. Pemain yang juga menjadi pengamat, menjadikan suatu kesaksian di bawah ini:
Engkau rela diracun demi menyelamatkan jiwa-jiwa merdeka, kesalahan jangan terulang jikalau tidak ingin dikatakan bodoh (II : XXV)
Tapi ia lebih suka dibodoh-bodohkan atau dianggap gembel daripada diasingkan sebagai orang tidak waras (II : XXVI)
(Kitab Para Malaikat, 2007: 12)
Dalam proses penciptaan dua ayat ini, mungkin saja NJ lebih menempatkan diri sebagai saksi yang berdiri di pinggir, seperti hakekat seorang penyair yang diungkapkan oleh Linus Suryadi (A. Sayuti, 2002: 6): “bahwa penyair berdiri dan bersaksi di pinggir”. Kondisi yang mengharuskan NJ membuka kesadaran yang total demi meraup kejadian demi kejadian dan mensaripatikan di dalam suatu buah pikiran.
Dalam ayat XXV itu, mungkin saja NJ telah mendengarkan banyak komentar bebas dari setiap suporter dan pengamat, mengenai seorang hakekat sang pecinta yang melakukan sesuatu demi rasa cintanya itu. Berbuat apa saja, dalam konteks perjuangan dan pengorbanan demi rasa cinta yang telah dipelihara semenjak kecil. Bahkan, menurut NJ sampai sang pecinta itu menenggak racun, mengakhiri hidup demi kecintaan. Tapi NJ, dan beberapa komentator lain mengatakan, kalau yang dilakukan si pencinta sebagai kesalahan. Dan karena perbuatan itu sebagai kesalahan, akhirnya mendapatkan predikat sebagai subjek dan sekaligus objek yang bodoh.
Kesalahan di dalam cinta, dalam konteks ini adalah suatu perbuatan yang tidak mengacu pada kepentingan diri, akantetapi lebih pada kepentingan orang lain. NJ mengatakan: “menyelamatkan jiwa-jiwa merdeka”, yang berarti adanya suatu visi kemanusiaan dan religius yang diemban oleh pecinta tersebut. Menyelamatkan, seperti kehadiran agama di muka bumi yang dibawa setiap utusan-Nya. Menyelamatkan menyiratkan mengenai perihal yang mendesak dan kehadirannya dibutuhkan, walau pada akhirnya perbuatan penyelamatan oleh sang pecinta itu oleh NJ dikatakan sebagai bentuk dari kesalahan dan kebodohan.
Akantetapi, menepis NJ juga memberikan pembelaan atas vonis yang sudah dijatuhkan. Pada suatu kondisi dan kasus yang sering kita hadapi, kita pasti menemukan pilihan terbaik dari dua hal yang (sebenarnya) sama-sama buruk. Pilihan yang NJ berikan dalam kesempatan ini adalah ketika kita menuruti dan berkorban di jalan cinta, maka harus rela dikatakan bodoh atau tidak waras. Kesulitan yang mungkin saja dihadapi oleh setiap pecinta. Pilihan yang serba tidak menguntungkan, antara menjadi orang gila atau menjadi bodoh, dan andaikata salah satu dari kita menjadi pecinta ini, apa yang akan kita pilih?
Entah, petimbangan apa yang dimiliki NJ ketika memilih untuk dikatakan bodoh dan gembel. NJ mengatakan: “ia lebih suka dibodoh-bodohkan atau dianggap gembel, daripada diasingkan sebagai orang tidak waras”, karena mungkin saja dengan kebodohan itu, NJ atau si pecinta bisa belajar lebih banyak dari mereka yang menganggap lebih pintar. Jalan ini dapat dipandang sebagai teknik dalam mencari ilmu sebanyaknya. Berbeda dengan menjadi orang gila, karena sang pecinta akan lebih tidak diperdulikan ketimbang orang bodoh.
Manusia yang bodoh, adalah manusia yang terlihat membutuhkan kehadiran manusia yang pintar, karena keberadaan manusia bodoh ini dapat memberikan kultus atas kepintaran seseorang. Tidak ada orang pintar kalau tidak ada yang bodoh sebagai perbandingan satu dengan lainnya. Dan kebodohan menjadi nilai tersendiri dari pengekor rasa cinta. Lantas, bagaimana dengan kegilaan? Kalau seorang pintar bersanding dengan seorang gila, yang ada hanya dia yang waras dengan yang tidak waras, sehingga yang waras akan tidak memperdulikan atau menertawakan yang tidak waras.
Dalam pengerjaan ini, saya menyadari keadaan diri sendiri. Bahwa saat saya mencintai, saya merasa menjadi manusia yang paling bodoh dan sekaligus menjadi manusia yang paling tidak waras. Terkadang, ketidak-warasan saya menutupi kebodohan itu sehingga lebih nampak sebagai orang gila ketimbang orang bodoh. Dua hal itu, karena rasa cinta yang banyak dari para seniman (juga mistikus) mengurai dengan berjuta kata dan pemahaman.
Khasanah ini, membawa saya kembali pada baris kebijaksanaan Syibli dan Junaid (Syah, 1985: 207) dalam deretan syair di bawah ini:
Bagi pikiranmu, aku gila.
Bagi pikiranmu, kalian semua waras.
Maka aku berdoa untuk menambah kegilaanku
Dan untuk menambah kewarasanmu.
“Kegilaanku” adalah dari kekuatan Cinta;
Keawarasanmu adalah dari kekuatan ketidaksadaran.
Menjadi orang gila itu menyenangkan, walau hakekatnya akan diasingkan dari kehidupan sosial. Manusia yang gila memiliki kebebasannya sendiri, kemerdekaan yang tidak dapat diganggu gugat oleh manusia lain. Apalagi ketika kemerdekaan itu lahir karena dorongan cinta yang muncul benar-benar tanpa motif. Ia (cinta) yang merdeka akan menjadi kekuatan yang indah. Memang, hakekat dari cinta itu sendiri berupa makna akan hidup, yang sehingga di dalamnya tidak ada kebodohan maupun kegilaan. Jikalau masih ada yang mengatakan, bodoh karena cinta, salah karena cinta, atau gila karena cinta, itu berarti manusia itu tidak mengerti dengan bagaimana caranya mencintai. Manusia seperti ini hanya ingin mencari sosok lain untuk dipersalahkan atas kelemahan diri dalam menjalani kehidupannya. Dan sosok yang dipersalahkan itu tidak lain, selain rasa cinta yang tumbuh di dalam hati dimana Tuhan (Hidup) bersemayam.
Hati sebagai Pemangku Otoritas
Manusia sudah melewati masa modern, yang pada hari ini bahkan sudah mencapai post-modern. Salah satu khasnya manusia modern, adalah manusia yang lebih mengedepankan rasionalitas (akal) ketimbang suara-suara mistis yang berasal dari alam maupun dari batin. Manusia lebih mempercayai kualitas akal untuk menjawab setiap persoalan yang merintangi tujuan dari perjalanan hidup. Kesakralan mistis dan kemurnian jiwa perlahan-lahan ditinggalkan, menjadi aspek hidup yang tidak penting. Manusia modern, lebih merujuk pada materi, sesuatu yang nampak secara wujud, termasuk di dalamnya perkembangan teknologi. Bahkan, sebuah konsep religi tidak lagi menyangkut permasalahan aspek ruh, hanya sebatas pada sekte gerakan yang badaniah.
Perilaku keagamaan, maupun mistis (kebatinan) dipandang sebagai suatu bagian dari kebudayaan yang terjadi ketika dijalankan pada saat tertentu, seperti peringatan hari-hari agung. Agama dan nilai mistin (kebatinan) tidak berjalan di dalam kehidupan secara menyeluruh. Hal ini bisa saja diamati dari pergeseran nilai dari kehidupan manusia itu sendiri. Perilaku peribadan sebagai kegiatan biasa yang terjadi semacam kebiasaan hidup yang terjadi begitu saja.
Keadaan hidup masyarakat yang semacam ini, yang mendasari konsep filsafat Parennial. Seperti yang disinggung Penerbit Qalam dalam mengantari penerbitan buku Filsafat Perennial (2001) karya Aldous Huxley, bahwa dunia modern sekarang telah kehilangan (atau tidak memiliki) cakrawala spiritual. Suatu konsepsi yang menarik, memberikan kita penggambaran yang cukup relevan dengan kondisi sosial masyarakat kita sekarang.
Secara tidak langsung, manusia sudah tidak memiliki ruh kehidupan dalam perjalanan hidup mereka. Ruh kehidupan itu ada di dalam hati, di dalam rasa sejati. Hal ini konsep hidup yang dipercayai dalam khasanah filsafat (laku) manusia Jawa. Dikarenakan manusia (pada umumnya) sudah tidak memperdulikan rasa sejati yang di dalamnya mengandungi kemanusiaan universal sekaligus religius maka, ruh kehidupan dengan sendirinya padam. Tidak adanya ruh (spiritualistas) maka kesenangan dari perjalanan hidup manusia lebih dominan pada aspek horisontal, bersifat keduniawian. Ia hanya kesenangan yang jauh dari kepuasan yang sejati.
Dalam aspek ini, NJ menerima kesaksian itu, tentang bagaimana peran dari rasa (hati) manusia:
Dia tidak kelebihan muatan perkara, sukma lelah tidak pernah menetap, bergetaran meranggeh kepada perkampungan sejati rasa (II : XXXIV)
Dengan kerinduan terpisah, ia bicara berbahasa ruh, lelangkah menjangkau, mendebarkan lelantai marmer nurani sesering kalbu jatuh cinta (II : XXXV)
Nafasnya tersenggal tak terukur kiranya fahami alam kelemah lembutan diri, begitu tegar wahai kau (II : XXXVI)
(Kitab Para Malaikat, 2007: 12)
Hati, atau rasa sejati manusia memiliki sifat lautan, yang keberadaannya luas dan mampu menerima apa saja yang dibawa dalam aliran sungai. Entah itu kekotoran atau setumpuk air. Diterima begitu saja, tanpa dipilih, akantetapi yang juga selayaknya lautan, ombak memilah. Hal yang tidak baik, ditepikan di bibir pantai. Karena sifat yang seperti itu, maka hati tidak akan “kelebihan muatan perkara”. Hanya yang baik saja yang diambil untuk diasuh ombak, semisalnya saja cinta.
Akantetapi, kebanyakan dari manusia sudah meninggalkan atau lebih tepatnya tidak perduli dengan peran dari rasa (hati) yang disudutkan untuk mengurusi hal-hal yang mereka anggap sepele. Seperti halnya cinta, kebanyakan manusia beranggapan kalau hal tersebut tidak penting. Perbuatan yang berlandaskan pada cinta acapkali dianggap sebagai kebodohan, seperti yang sudah diungkapkan di muka. Manusia lebih tertarik dengan dunia luar, yang lebih mendatangkan manfaat secara materi. Misalnya, manusia membunuh karena kemiskinan menjadi sangat wajar sekali ketimbang manusia membunuh karena cinta. Andaikata, seorang pemuda, misalnya, menderita patah hati maka akan berlari ke hal-hal yang sifatnya negatif, misal dengan melupakan peristiwa tersebut melalui minuman, atau penggunaan obat-obatan terlarang.
Kasus seperti ini terjadi karena manusia telah kehilangan spiritualitas, dimana hati tidak menempati posisi yang sakral. Bukankah sering kita menemui persepsi kalau lelaki sejati tidak mengurusi hal-hal cinta. Hal-hal cinta dan seabrek kompleksitas permasalahannya hanya untuk mereka yang lemah. Ini, efek yang tidak disadari dari spiritualitas yang ada. Spiritualitas yang bermula dari kata spirit atau jiwa merupakan bagian dari hati manusia. Sehingga, cukup relevan ketika NJ kemudian mengatakan: “sukma lelah tidak pernah menetap” karena memang bagaimana bisa menetap kalau keberadaannya di dalam kehidupan seorang individu dikesampingkan dan tidak diperdulikan.
Sekali lagi, manusia melulu mengurusi materi, walau pun terkadang hati kecil mereka selalu juga mengatakan kalau hidup tidak melulu bicara soal uang, kedudukan, pangkat, atau seabrek masalah prestise. Dunia materi hanya sebatas pada kendaraan. Tidak keterlaluan kalau Iwan Fals dalam lagunya berjudul Seperti Matahari mengatakan kalau harta dunia itu sebagai godaan yang membuat miskin jiwa (hati) manusia.
Karena itu, suatu keadaan yang penuh dengan pemberontakan namun tidak ada kekuatan sehingga ruh (hati) itu tetap kalah, sampai NJ mengungkapkan dengan menyedihkan: “bergetaran meranggeh kepada perkampungan sejati rasa”. Meranggeh itu adalah istilah Jawa yang mewakili meraih (dalam bahasa Indonesia). Hanya untuk meraih, kembali ke hakekat rasa sejati saja, manusia mesti bergetaran terlebih dahulu, harus ditemukan pada penderitaan terlebih dahulu. Walau terkadang, dengan penderitaan itu juga, manusia terlanjur lupa dengan apa yang namanya: perkampungan rasa sejati.
Setiap manusia dapat dikatakan kalau dirinya pernah merasakan jatuh cinta. Cinta adalah bagian dari ruh, dan hanya dengan rasa cinta itu manusia terus diingatkan agar ikut mengedepankan hati dalam perjalanan hidup. Hati sebagai awal dan sekaligus inti dari spiritualitas menyangkut mengenai bagaimana manusia bersikap lembut, kebaikan yang universal, berlaku dalam alur saling mencintai dan menjaga. Spiritualitas seperti ini, yang akan membawa kehidupan manusia pada kehidupan yang lebih indah dengan pembangunan jiwa kerohanian daripada pembangunan materi yang cenderung bersifat sementara.
Kenapa kau meragu di perempatan jalan simpang?, cukup ambil nuranimu bagi penentu, dan jangan biarkan kebimbangan bersinggah kedua kali (II : XLVII)
(Kitab Para Malaikat, 2007: 13)
“Nuranimu bagi penentu” begitu NJ memberikan nasehat untuk tokohnya yang mengalami kebimbangan. Pada kesempatan ini, otoritas hati sebagai alternatif dalam mencari jalan keluar NJ nampakkan dengan begitu jelas. Nurani (hati) memang tidak memiliki kembimbangan. Dia mengarahkan kita pada jalan yang baik tanpa memperhitungkan apa pun. Apabila, di dalam suatu masalah kita menemui kebimbangan, maka awal dari kebimbangan itu bukan dari hati manusia, melainkan dari pikirannya. Hati tidak memiliki kebimbangan, karena arah yang ditempuh menuju kebaikan, secara vertikal maupun horisontal (kemanusiaan).
Hati mengandungi ketetapan dan kepastian yang bisa manusia andalkan. Kebenarannya bersifat hakekat, karena nilai-nilai kebaikan universal ada di dalam hati. Manusia Jawa percaya kalau hati manusia sebagai tempat persinggahan Hidup (Tuhan)(dalam Mulder, 1984: 11), yang mana juga sebagai tempat penyatuan antara manusia dan Tuhan: Isi memuat wadahnya atau keris memasuki sarung dan keris memasuki sarung (Magnis-Suseno SJ, 1985: 121). Dengan demikian, keberadaan Tuhan (sebut saja cahaya Tuhan) yang bersemayam di dalam hati akan memberikan arah yang benar atas suatu permasalahan yang manusia hadapi.
Keberadaan dan realitas akan rasa sejati tentu saja perlu dilatih dalam laku hidup prihatin. Hati manusia adalah makro-kosmos yang memuat seluruh kehidupan dan tubuh manusia sebagai mikro-kosmos. Itu sebabnya, Bima yang bertubuh besar mampu masuk ke dalam tubuh Dewa Ruci yang merupakan rasa sejati dari Bima sendiri. Inilah hakekat dari hati manusia, yang seharusnya sebagai pemangku otoritas kekuasaan di dalam kehidupan manusia. Seperti yang sudah saya ungkapkan di atas, hati manusia tidak memiliki keraguan, tetapi pikiran (akal) manusia yang dipenuhi keraguan karena di dalam pikiran terdapat berbagai keinginan yang sifatnya hanya horisontal.
Dan apabila kita telah menyerahkan setiap urusan pada hati, maka jalan hidup manusia tidak akan menyimpang. Hati tidak mengajari manusia untuk berbuat maksiat, juga tidak membujuk seorang pemimpin untuk menyalah-gunakan kekuasaan dengan melakukan korupsi dan kejahatan lainnya. Hati akan menuntun manusia pada kebaikan, tenggang rasa, mengerti penderitaan orang lain sehingga kebijakan yang dibuat seorang pemimpin yang berhati nurani tidak akan merugikan kepentingan kemanusiaan rakyatnya. Doronga hati adalah dorongan cinta tanpa motif, demi keselamatan.
Bantul – SDS Fictionbooks, 18 Februari 2010
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel GarcÃa Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati