Tampilkan postingan dengan label Sunaryono Basuki Ks. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunaryono Basuki Ks. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 April 2011

Muara Jambi

Sunaryono Basuki Ks
http://www.suarakarya-online.com/

Akhirnya pesawat kami mendarat di Bandara Sultan Taha yang kosong, tanpa terlihat pesawat lain yang parkir. Pesawat Batavia Air berhenti sekitar dua ratus meter dari bangunan kedatangan dan ketika sampai di depan pintu pesawat, Wayan Sadnyana dalam seragam pramugara dan sosok tubuhnya yang tak begitu tinggi menunjuk ke lantai landasan dimana seorang lelaki telah siap dengan sebuah kursi dorong.

“Itu untuk Bapak.” “Untuk saya? Terimakasih!” Aku tak memesan sebuah kursi dorong namun nampaknya petugas di Jakarta memperhatikanku kesulitan berjalan saat aku dituntun Dedi anak bungsuku yang membawa dua buah koper kecil dan sebuah tas ransel di punggungnya. Aku sendiri hanya membawa tas kecil berisi air minumku dan kue-kue, dengan susah payah turun dari pintu belalai, dan kemudian berjalan ke tangga pesawat serta naik. Entah untuk apa kami disalurkan lewat jalan belalai kalau kemudian disuruh keluar lagi melalui pintu dan turun di tangga beton. Hal itu membuatku megap-megap. Apalagi baru saja aku turun ke toilet dan disusul oleh Dedi. Tan Lioe Ie sudah melangkah duluan dengan menyandang gitarnya yang terbungkus sarung kulit yang akan dipakainya mengiringi musikalisasi puisi dalam acara Pentas Seni pada Temu Sastrawan Indonesia I di Jambi.

Panitia memberiku dua buah tiket, yang sebuah untuk Dedi sebab kukatakan aku tak mungkin bepergian sendiri, harus dikawal oleh istri atau anakku. Lantaran pesawat berangkat jam enam pagi maka kami harus menginap di Denpasar, tak mungkin berangkat dari Singaraja yang letaknya 100 km dari bandara Ngurah Rai. Memi istri Dedi mencarikan voucher hotel gratis bagi kami, hotel Aston Tuban yang terletak tak jauh dari bandara. Di Jambi aku harus membawakan makalah yang kutulis berdasarkan puluhan buku baru yang kebanyakan dibelikan oleh Memi. Tanpa buku-buku itu tak mungkin aku tahu perkembangan fiksi Indonesia mutakhir. Hardiman juga meminjamkan sekitar sepuluh buku teori sastra dan estetika, serta Jurnal Cerpen edisi terakhir.

Di bandara aku dijemput oleh Laisson Officer. Ah,model pertemuan besar. Aku pernah bekerja sebagai LO untuk Menteri Pendidikan Thailand saat diadakan konferensi para mendikbud Asean di Nusa Dua. Sebagai LO aku harus menempel terus pada menteri, menjemputnya di pintu kamarnya, membawanya ke ruang pertemuan.

Seharian aku harus berjalan ratusan meter atau mungkin kilometer di Hotel Sheraton Nusa Dua yang luas itu. Apakah LOku di Jambi akan berbuat yang sama? Kalau di Nusa Dua pada akhir tugas aku mendapat hadiah mug dari kerajaan Thailand dan amplop berisi lima puluh dollar AS, hadiah apa yang harus kuberikan pada LOku?

Dari ruang tunggu khusus di bandara kami diantar ke hotel Grand, diserahkan panitia dan kemudian dihubungi oleh LO hanya melalui sms pada HP. Pada buku panduan selain semua makalah dan daftar peserta (yang ternyata tak semua datang. Kurnia Effendy yang berjanji akan bertemu di Jambi dan namanya tercetak dalam daftar peserta ternyata tidak datang karena tak mendapat izin cuti dari kantornya di Indo Mobil) aku membaca pula daftar acara. Acara resmi, pembukaan, seminar, diskusi, dan pentas seni di Taman Budaya Jambi terasa biasa. Yang istimewa bagiku adalah tur ke situs percandian Muara Jambi yang akan dilakukan dengan menumpang “ketek” di sungai Batanghari. Kukira itu “gethek” atau rakit di Jawa, pasti menarik. Hari Kamis yang kutunggu tiba. Dari hotel kami dibawa ke Pantai Ancol! Ah, kenapa harus ke Jakarta?

Ancol ternyata bukan pantai tetapi sekedar tepian sungai sepanjang sungai Batanghari. Yang menunggu pun bukan rakit tetapi sampan biasa, selebar sekitar satu setengah meter dan sepanjang lima meter, beratap kayu dan tempat duduknya juga dari bilah-bilah papan melintang. Untuk naik ke dalam sampan aku harus dibimbing menuruni tangga kayu ke tepi sungai yang airnya sedang surut, lalu meniti titian papan yang diletakkan diatas batu-batu agar tak tenggelam kedalam lumpur. Agar aku dapat naik, sampan dipegangi supaya tak bergoyang dan aku dipapah Dedi dan seorang peserta.

Akhirnya sampan meluncur didorong mesin, padahal bensin sedang sulit diperoleh di Jambi. Sungai yang airnya surut menyebabkan kapal tanker tak bisa masuk Jambi, dan ini “musibah” tahunan setiap musim kemarau. Sungai Batanghari cukup lebar dibanding sungai-sungai di Jawa apalagi di Bali, selebar Kali Brantas yang sudah mencapai Porong. Namun Sungai Batanghari tidak selebar Sungai Martapura yang hampir seperempat abad sebelumnya kulayari, juga dalam sampan yang lebih lebar. Tentang Sungai Martapura aku menulis puisi, tentang Batanghari entahlah. Larik-larik dari

Sungai Martapura mencari kenanganku ke masa lalu:Sungai Martapura, Suatu Senja/buat Jantera Kawi/kususuri sungai yang membuka mulutnya lebar-lebar/di atas perahu motor/yang oleng/ sementara matahari mulai terlempar jatuh ke air/ yang menyorong sampan perempuan tua/dengan dagangannya/yang menyorong impian/tentang benua yang purba/tentang benua/yang menyorongkan usia//anak-anak dan perempuan/tak malu-malu menggayung airnya/dan mengguyurkan ke tubuh/yang seharian berpeluh/tak malu-malu/menjabat rindu/yang dialirkan martapura/dari hulunya/yang diulurkan tangan raksasa/dari ujung cakrawala//martapura adalah mulutnya/yang melelehkan air liur/bagi kita semua/seperti anak-anak dan perempuan/yang membasuh muka/dan kedua belah daun telinga/ketika senja turun/memanggil namanya//martapura,martapura, demikian nadinya/yang mengalirkan semburat merah/di wajahnya//yang kita cari/ketika senja turun/ketika kiota menyebut namanya.//

Aku teringat penyair Ajamuddin Tiffani yang telah tiada, aku juga teringat penyair Hijaz Yamani yang gagal kutemui, duduk di depanku seorang lelaki berambut gondrong, dengan penampilan benar-benar seorang seniman, dengan mencanglong tas hitam dengan bordiran berwarna merah kuning putih biru dari panitia Temu Sastrawan Indonesia I Jambi. Dari lelaki ini aku mendapat info cukup banyak tentang Jambi, tentang sungai Batanghari dan tentang bangunan-bangunan di tepi sungai.

Di tepi Martapura aku menyaksikan galangan kapal pinisi Bugis, di sepanjang tepi sungai Batanghari aku mencium bau menyengat.
“Itu bau karet,” katanya.

Di sepanjang Martapura aku diberitahu soal Pulau Kera yang seluruh penghuninya kera, tetapi tak ada pulau di Batanghari, hanya daratan biasa tak berbentuk pulau.

“Kita menuju Riau,” katanya.
Di tempat berlabuh tidak ada dermaga. Yang ada hanya batu-batu yang ditumpuk di atas tanah berlumpur agar kaki tak tenggelam ke dalam lumpur. Toh celanaku berlumur lumpur, juga sepatu kulit yang kukenakan. Dari tepi sungai aku harus mendaki ke daratan beberapa meter tingginya, dan sesampai di daratan, tak ada tanda-tanda situs Muara Jambi.
“Masih setengah kilometer lagi.”

Dedi mencarikan lelaki bersepeda motor yang mau mengantarkanku ke situs, syukurlah ada seorang anak muda yang berbaik hati mengantarkanku ke sana sementara anakku bersama Hamsad, bahkan LK Ara dan istri yang sudah lebih tua dariku, berjalan kaki dengan langkah tegap.

Tiba-tiba aku disambut gamelan lembut, makin jelas nadanya semakin aku mendekat ke situs. Seluruh percandian dihias dengan umbul-umbul warna warni, juga hiasan janur pada tiang bambu. Segerombolan orang berpakaian kuning dan kepala para lelaki gundul, sementara lelaki lain berpakaian kain putih yang dililitkan pinggang dan bertelanjang dada, dan yang perempuan mengenakan kain batik yang dililitkan setinggi dada, membawa sesajian berupa buah-buahan di atas talam papan, semuanya menuju candi besar di pelataran terbuka yang cukup luas. Terdengar genta berkelinting menembus pepohononan.

Aku melangkah dengan pasti menuju pusat upacara, sementara orang-orang yang kulewati menyingkir seolah memberiku jalan dan membungkukkan badannya.. Ah, aku pasti cuma bermimpi, duduk di bangku beton di naungan pohon durian dan rambutan. Di kejauhan terhampar bekas candi yang tinggal dasarnya dan dinding batu merah tipis setinggi satu meter. Pasti hasil restorasi, sementara sosok candi yang lebar dan panjangnya puluhan meter itu tak ketahuan. Di Blitar ada Candi Penataran yang luas, namun situs candi Muara Jambi jauh lebih luas. Dimas yang ketua panitia bilang situs itu seluas dua belas kilometer persegi, dengan candi-candi tersebar si berbagai tempat. Situs percandian dalam hutan durian dan rambutan!

Apakah aku dulu seorang bangsawan terhormat dari kerajaan ini? Dengan candi yang demikian luas, aku dapat membayangkan bahwa kerajaannya juga sangat luas. Apakah disini Kerajaan Sriwijaya yang terkenal sampai ke seluruh Asia Tenggara itu, yang menjadi pusat studi agama yang banyak dikunjungi siswa-siswa dari penjuru dunia? Bukankah orang percaya Sriwijaya ada di Palembang?

Di musem purbakala di kompleks percandian itu kulihat keramik-kemarik Cina yang mungkin saja ditinggalkan oleh ekspedisi Laksamana Ceng Ho ke negeri ini. Masih kudengar lamat-lamat suara gamelan dan kucium bau dupa, tetapi dari mana?

Ini pasti bukan candi rahasia yang muncul saat bulan purnama seperti dilukiskan oleh Langit Kresna Hariadi dalam novelnya Candi Murca, dan sekarang bukan sedang purnama. Apakah mereka mencoba bicara padaku tentang kebesaran masanya melalui bunyi gamelan dan bau dupa dan sosok alas candi yang dibangun dari batu merah lebar tetapi lebih tipis dari batu merah yang sekarang biasa aku jumpai?

Muara Jambi masih rahasia, bagiku, bagi teman-teman yang datang, yang entah juga mendengar suara gamelan dan bau dupa, atau hanya mendengar suara gedebug band dari panggung kesenian yang sengaja didirikan untuk Pesta Muara Jambi ini? Kulayari sungai Batanghari menuju masa lalu, menuju mimpi tentang kebesaran tanah ini.***

* Singaraja Galungan 20 Agustus 2008

Kamis, 24 Februari 2011

Esai Bahasa Diamankan

Sunaryono Basuki Ks
http://www.suarakarya-online.com/

Saat menonton berita TV saya terkejut mendengar pewarta mengabarkan bahwa pengungsi korban letusan Merapi “diamankan”. Andaikata saya tidak memahami konteks warta tersebut, saya pasti berkomentar “Oh, alangkah malang nasib pengungsi yang dikejar-kejar wedus gembel itu. Sudah jatuh tertimpa tangga pula.”

Untuk pemirsa seusia saya, ungkapan “diamankan” mengandung makna negatif. Saat penguasa negeri ini dengan gampang menangkap warganya, berdoalah Anda agar tidak sampai “diamankan”, sebab ungkapan tersebut berarti “ditangkap petugas dan dimasukkan ke dalam hotel prodeo.” Dalam konteks letusan Merapi, ternyata para pengungi diangkut ke tempat yang lebih aman. Kalau begitu, Anda pasti dengan suka rela mau diamankan.

Kita lihat bagaimana kita suka memakai eufemisme, ungkapan penghalus. Penjara kita sebut “hotel prodeo”, dan sekarang ini kita temukan nama “lembaga pemasyarakatan” untuk menggantikan “penjara”, dan yang terpenjara disebut “nara pidana”. Lebih halus? Mungkin. Setara pula dengan PSK untuk menggantikan kata “pelacur”.

Sebelumnya, pelacur sudah dihaluskan menjadi “WTS” atau wanita tuna susila, namun belum ada ungkapan penghalus untuk gigolo yang seharusnya menjadi PTS alias Pria Tuna Susila. Di Bali pelacur disebut “nener”, atau anak bandeng.

Entah ada hubungan apa antara anak bandeng dan pelacur. Bali memang menjadi eksportir nener untuak didewasakan menjadi ikan kesukaan banyak orang itu di tempat lain, baik di di Jawa maupun luar negeri, walaupun nener juga didewasakan menjadi bandeng di daerah Gondol, di pantai utara Bali Barat. Di sini malah ada Balai Penelitian Perikanan yang memberi penyuluhan kepada para petani ikan, untuk berbagai masalah perikanan. Dengan penyuluhan ini, mereka mendirikan sentra-sentra produksi untuk baik nener maupun mendewasakannya menjadi banding. Banyak didirikan “home hatchery?” atas petunjuk para ahli dari Balai, bagaimana membangun hatchery yang memenuhi syarat.

Para ahli di Balai juga mengadakan penelitian untuk membudi-dayakan jenis- jenis ikan lain yang hasilnya dapat ditularkan kepada para petani ikan yang modalnya kecil namun besar semangatnya. Sebelumnya, para ahli di Balai mendapat bantuan tenaga ahli dari Jepang, namun sekarang dengan banyaknya ahli dengan gelar doktor , kehadiran tenaga bantu dari Jepang (JICA) nampaknya tak diperlukan lagi.

Pernah seorang teman memprotes ketika menerima surat undangam yang memuat: dan dilanjutkan dengan makan siang” Katanya ungkapan tersebut kurang sopan, seolah yang diundang tak mampu membeli makan buat dirinya sendiri. Menurut dia seharusnya dipakai ungkapan “santap siang”. Lho, bukankah di sekolah kita diajar “unggah-ungguh”, kita orang biasa makan, raja bersantap kalau orang kebanyakan mati atau meninggal, raja mangkat. Padahal, ungkapan meninggal dunia saja sudah cukup “halus” untuk “orang kebanyakan”.

Lho, siapa yang kebanyakan dan bukan kebanyakan? Mungkin hanya di beberapa tempat saja ada pembagian kelas menjadi “kebanyakan” dan “bukan kebanyakan” Di Bali misalnya, ada pembagian “jaba” atau orang-orang diluar puri atau di luar rumah keluarga brahmana, atau “griya”. Untuk berkomunikasi antara kaum “jaba” dan puri dan griya, digunakan bentuk unggah-ungguh tertentu. Ada bentuk sor singgih atau gampangnya bahasa kasar dan bahasa halus. Di antara kaum yang tinggal di puri maupun griya, mereka menggunakan bentuk bahasa tertentu.

Di Jawa pun walau hampir tak ada kaum bangsawan, mereka masih mengenal sor singgih ini. Yang jelas, bila anak muda bicara kepada orang tua di dalam bahasa Jawa, maka dia wajib menggunakan bahasa halus.

Bentuk terikat tuna pun diangkat sebagai bentuk penghalus untuk sejumlah keadaan. Lihat saja KBBI memuat tuna aksara, tuna busana, tuna daksa, tuna ganda untuk cacat mental dan dan fisik, tuna karya, tuna laras untuk cacat suara dan nada, tuna netra, tuna runggu, sebagainya. Seolah mengatakan tuli atau bisu tentang seseorang kurang sopan jadi perlu dicari bentuk yang lebih “sopan”.

Tetapi bentuk bebas tuna memang disenangi banyak orang, baik tuna segar maupun tuna dalam kaleng. Walau ada lomba olah raga bagi tuna daksa, sekitar tahun 1950an saya pernah membaca cerpen berjudul Tanpa Daksa, karya Gde Winnyana, bukan Tuna Daksa. Sayang sekali cerpen Tanpa Daksa tidak dapat saya telusuri keberadaannnya di dalam Bibliografi Karya Sastra Indonesia dalam Majalah susunan Ernst Ulrich Kratz (1988). Maklum saja, seperti diakui Kratz, bukunya kurang lengkap sebab rujukannya yang terbatas.

Kita memang bangsa yang suka membanding-bandingkan. Wedus gembel merupakan hasil membandingkan abu panas yang telah membunuh Mbah Marijan dalam posisi bersujud, langsung meninggal dunia saat bersujud kepada Tuhannya. Penjara juga dibandingkan dengan sebuah hotel yang “prodeo” tak usah bayar, walaupun prodeo juga bermakna “untuk Allah”.

Namun, nampaknya bahasa yang masih hidup memang harus berubah sampai bahasa itu mati seperti bahasa Latin dan bahasa Sansekerta. Ingat saja dimasa kita ini, pernah hidup kata pinjaman dari bahasa Inggris: akselerasi. Namun, belum lagi lewat puluhan tahun kata tersebut sudah menghilang dari peredaran. Kita punya kata “anda” yang bertahan sampai sekarang, bahkan ada yang mengira bahwa “Andika” adalah bentuk betina dari “anda”. Ternyata “Andika” merupakan bentuk sangat hormat untuk “anda”. Begitulah bahasa kita.***

*) Sastrawan tinggal di Singaraja.

Jumat, 26 Desember 2008

Antara Dover dan Calais

Sunaryono Basuki Ks
http://www.suarakarya-online.com/

Dalam tempo enam tahun pelabuhan ferry Dover di pantai berbukit batu itu mengalami kemajuan pesat. Pada bulan Februari tahun 1987, sepekan sebelum tenggelamnya ferry di selat Inggris yang menghebohkan dunia itu, aku juga menyeberang dari Dover. Sudah malam, yang kutahu adalah bangunan berupa rumah minum dan penjual makanan. Bus antar negara yang kutumpangi dari London menuju Amsterdam berhenti di pelataran ini, kemudian dari pengeras suara kami dipanggil untuk naik ke dalam bus, puluhan bus dan mobil ditelan tempat parkir ferry itu di lantai dasar. Sekarang, bus langsung masuk ke pelataran luas, dan kami diminta turun melapor ke bagian imigrasi, membawa dokumen yang diperlukan.

Sopir bus, lelaki setengah baya itu banyak canda, sejak melaju dari Victoria Coach Station di London lantaran bus itu hanya dilayani oleh satu orang: mau minum ya maju sendiri ke dekat tempat duduk sopir dan melayani sendiri dari termos kopi, sementara kalau mau beli kudapan, juga ambil sendiri dan meletakkan uang dan mengambil uang kembaliannya. Begitu berhenti di dalam kapal, tepat di dekat pintu berlift ke lantai yang di atas, sopir itu mengumumkan nomor pintunya agar nanti kami kembali ke pintu itu.

"Jangan salah masuk sebab tak akan sampai kembali ke bus. Dan kalau terlambat, aku tinggalkan."

Apa kami memang akan ditinggalkan atau dipanggil dulu melalui pengeras suara dengan menyebut nama bus serta nomor pintunya? Hatiku tergetar juga mendengar pengumuman itu. Di Gilimanuk, aku bebas naik dimana saja, dan ketika turun, aku takkan tersesat sebab ferrynya kecil dan hanya berlantai dua: lantai untuk kendaraan dan lantai untuk penumpang. Dengan puluhan bus dan mobil yang dapat diangkutnya saja, kami sudah takjub. Ferry ini entah memuat berapa buah bus dan mobil. Lapangan parkir seluas terminal bus tentu berisi puluhan bus dan mobil.

Aku mulai dengan lantai sembilan, yang paling atas sekedar ingin tahu ada apa disitu, setelah mencatat nomor pintunya. Aku dibawa ke lantai yang mirip hotel berbintang. Dinding-dinding lorongnya tertutup kaca, dan di sepanjang dinding digantungkan repro lukisan Vincent van Gogh, pelukis yang pada masa hidupnya sengsara dan tidak bisa menikmati hasil penjualan lukisannya. Andaikata dia masih hidup dan tahu bahwa lukisannya menjadi rebutan kolektor maha kaya dari Jepang, dan dia memang mendapat uang dari penjualan lukisannya itu, pasti dia akan bolak balik melancong ke Bali, tidak seperti Gaugin yang hidup di antara penduduk asli di sebuah pulau di Lautan Pasifik. Sebelum sampai di sini aku tinggal di Aberdeen dan menemukan buku repro lukisan Van Gogh yang dijual hanya 15 pound. Aku juga membeli satu set repro lukisan Pablo Picassso seharga 30 pound. Berjalan sepanjang lorong dengan dinding yang digantungi repro ukuran lebih besar dari 10R aku merasa berada di sebuah ruang pameran lukisan pelukis malang itu. Puluhan tahun sebelumnya aku kagum menonton repro lukisannya di layar lebar bioskup Rex di kota Malang saat diputar film, Lust for Life. Kirk Douglas didandani seperti wajah van Gogh yang tercanmtum dalam karyanya yang berjudul Potret Diri: lelaki brewok, kurus, mengenakan caping anyaman rumput. Dalam posisi setengah profil. Tak jelas apakah dia merasa tertekan atau sekedar tersenyum sinis. Film itu menampilkan alam yang dilukisnya, kemudian berselang seling ditutup oleh lukisannya, mungkin dimaksudkan untuk membandingan bagaimana pelukis itu menyerap alam. Starry Night yang terkenal itu divisualisasi: kebun dengan pepohonan cypress, ladang dengan para pemungut sisa panen kemudian disandingkan dengan lukisannya "The Gleaners."

Saat kuperhatikan lukisan-lukisan itu sambil melewati Shower Room, lalu ruang khusus untuk yang mau nonton TV, lalu restoran, toko-toko bebas cukai, tiba-tiba aku bertubrukan dengan seorang, yang baru kusadari kalau dia perempuan saat aku mencium bau parfumnya.
"Sorry," kataku, dan kudengar juga dia mengucapkan ungkapan yang sama.

Aku ingin segera berlalu sebab malu kalau dikira aku sengaja menubruknya karena ternyata perempuan itu cantik dengan tubuh subur dan menawan.
"Hey, Mister!" katanya. Aku pun merasa bersalah dan mengatakan:
"I'm sorry!"
"Kamu pasti pelupa," katanya dengan akrab.

Aku berhenti dan memperhatikannya. Tubuhnya dibalut jaket penahan angin sebab udara bulan Juli cukup hangat.
"Lancaster!"

Aku mencoba mengingat semua teman-temanku saat aku menempuh kuliah di Lancaster University, sebelas tahun yang lalu. Caroline bukan, Susan Spencer bukan, Allison bukan. Siapa ya?
"Aku Susan Brooke!" katanya.

Aku teringat seorang gadis seksi dari tingkat satu saat aku mengambil gelar MAku, lantaran nama belakangnya Brooke. "Oh,! Apa kabar, Susan? Bekerja dimana? Sedang melancong?"
"Jadi kamu ingat, ya."

"Ya, aku ingat saat kamu mengundangku minum aku menolak, sebab aku ini bodoh. Kan aku sudah minum kopi kenapa harus minum lagi? Ternyata kamu mengajakku minum di bar kampus kan?"

"Itulah beda budaya," sahutnya. "Sekarang kamu paham kan? Bagaimana kalau kutraktir minum sekarang, kita bisa ngobrol."

Susan masih seperti dulu, enerjetik, semangat studinya mengebu- dan kalau papernya bagus selalu berkabar padaku, padahal kami hanya bertemu kadang-kadang di lorong Department of Linguistics and Modern English Language. Dia sama bersemangatnya dengan Azizah, mahasiswa tingkat satu dari Malaysia. Karena aku mahasiswa MA, dia menemuiku untuk diskusi tentang Socio-linguistics. Roger Bell ahlinya, menjadi dosenku. Melayani pertanyaan-pertanyaannya yang mendalam aku kelabakan. Dari situ aku tahu, mahasiswa undergraduate memang digembleng keras untruk menguasai materi secara mendalam, sedangkan aku hanya mengetahui banyak pada kulitnya.

Pernah aku hadir pada malam amal yang diselenggrakan di Fylde College, tempat kami semua tinggal. Malam itu diadakan acara minum-minum dan peserta dikenakan biaya yang jumlahnya aku lupa dan mendapat kupon untuk minum bir tiga pint, gelas besar. Waktu itu aku pergi bersama teman-teman selantai dari tingkat undergraduate, James daa Brian yang gendut. Malam itulah aku bertemu Susan Brooke yang tinggal di blok khusus mahasiswi, sementara blok yang kutinggali, terdiri dari tiga lantai, lantai tengahnya ditempati mahasiswi.

Susan memang sosok seorang bintang filrm yang kesasar menjadi mahasiswa. Kecantikannya memukau setiap orang.. gagah, anggun dan segar serta sikap sebagaimana para Charlie's Angels. Orang Inggris pasti berani bilang:
"Kau cantik Susan."

Tetapi aku tak mampu mengatakannya, hanya memandangnya dan tersenyum dan mengajaknya berbasa-basi. Ketika tahu aku dari Bali,dia memintaku:
"Coba ceritakan tentang rumahmu."

Aku kesulitan menceritakannya, sebab aku harus bercerita bahwa aku punya tiga orang anak laki-laki, masing-masing di kamarnya yang menurut standar Inggris dianggap tak layak, kamar mereka sempit.. Aku meninggalkan istri yang walaupun usianya menjelang empat puluh masih menempuh kuliah di Program Diploma agar bisa diangkat sebagai guru. Anak sulungku berusia sepuluh tahun sedangkan si bungsu berusia hampir empat tahun. Sebagai dosen, aku tidak punya mobil, dan semua pekerjaan rumah kami kerjakan sendiri.
"Yah, rumah kecil saja, aku tinggal di salah satu kamar."
"Orang tuamu?"
"Ayahku meninggal bulan Mei lalu."

Dan di atas ferry yang membawaku malam itu pertanyaan yang sama diajukan kepadaku. Bukan oleh Susan yang belia, tetapi oleh seorang perempuan dewasa, matanya agak cekung, ada yang tersembunyi disitu. Diminumnya bir dari gelasnya beberapa teguk. Di Lancaster kupon birku kuberikan padanya dan selembar pada Brian, dan mungkin karena itu beberapa pekan kemudian dia menawariku minum.
"Jadi kamu sekarang kerja dimana?"
"Kamu sendiri?" tanyanya balik.
"Aku masih mengajar di kampusku yang lama, tak ada perubahan. Maklumlah pegawai negeri."
"Kau beruntung bisa berkelana sejauh ini,"
"Atas kebaikan The British Council. Kalau tidak, aku tak mampu."

"Ya, setelah kamu lulus, aku lulus pula mendapat gelar BA, melanjuitkan ke tingkat Master, dan nekat melanjutkan ke tingkat doktoral."
"Jadi, kamu yang menulis buku Women and Language itu? Dr. Susan Brooke?."

"Tak banyak Susan Brooke, tak seperti pengarang Thinking and Language, Judith Greene yang punya kembaran di Columbus tetapi bukan penulis buku, hanya ahli istilah-istilah pendidikan."
"Dan kamu pasti menjadi istri yang berbahagia,"
"Ah, " Susan mendesah, bibirnya dilekatkan pada bibir gelas birnya.
"Setelah menikah dengan Paul, kukira aku bahagia tetapi dia kembali ke pacarnya yang teman kuliahmu itu."

"Maksudmu, Paul dan Laura," aku menyebut pasangan teman kuliahku yang selalu nampak mesra. Saat tas Laura terbuka, kulihat banyak pil putih dalam blister. Aku tahu pil apa itu, pengaman hubungan mereka berdua. Tetapi tak pernah kudengar Paul tak bersetia pada Laura. Sebelum aku pulang, Laura bahkan singgah lama mengobrol di tempatku. Bukan kamarku, tetapi tempat Foo yang pulang hendak memboyong istrinya dari Kucing. Laura tak pernah bercerita, dan di tempat Foo yang punya kamar tamu selain kamar tidur itu, kami juga hanya mengobrol, bahkan ketika berpisah aku juga tak menciumnya di pipi. Kukira Laura sangat setia, jadi Paullah biangnya.

"This is a small world,". Di atas ferry yang terapung antara dua negeri ini, aku dipertemukan dengan Laura, sukses dalam karir, tidak dalam percintaan. Aku kagum padanya, tak sungguh-sungguh ingin memeluk dan menciumnya waktu dia masih menjadi mahasiswa. Aku ingat ketiga anakku yang bisa saja dikhianati oleh pasangannya nanti bila aku menanam benih pengkhianatan saat itu.***

* Singaraja 1-2 September 2008

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati