Ribut Wijoto
http://terpelanting.wordpress.com/
Diam-diam, bahasa Indonesia menyimpan problem unik bagi sastra, mirip dongeng: problem kerapuhan. Sejak ditahbiskan sebagai bahasa nasional, terhitung sejak 28 Oktober 1928, bahasa Indonesia makin hari semakin dewasa, dan megah. Selebihnya adalah kecemasan, kebimbangan, dan pergeseran tiada henti-henti. Penyair W. Haryanto, sarjana lulusan Sastra Indonesia Unair, ikut terlibat di dalamnya. Dan kampungku telah menolak semua peralihanledakan angin, sebentuk sabit; dimana bahasaku (mungkin) tak memberi ruang pada semua lambang, semua kehadiraan (puisi “Peralihan”, 2002).
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Ribut Wijoto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ribut Wijoto. Tampilkan semua postingan
Selasa, 03 April 2012
Rabu, 24 November 2010
Template Afrizal Malna
Ribut Wijoto
Radar Surabaya (7/11/2010)
Dalam beberapa hal, saya adalah penggemar Afrizal Malna. Ketika suatu kali Afrizal bilang bahwa banyak penyair sekarang sebenarnya tidak punya alasan untuk menulis puisi, sungguh, saya terpesona.
Apakah pernyataan itu dilontarkan setelah melalui riset yang panjang, pertimbangan mendalam, atau sekadar ceplosan, saya tidak tahu pasti. Yang pasti, dalam beberapa hari bahkan bulan, pernyataan itu terus terngiang dalam benak saya. Dia seakan merasuk inheren pada otak saya, istilah Jawanya, saya terus kepikiran. Beruntung bagi saya, pernyataan Afrizal tidak sampai membetot mimpi saya. Mimpi saya tetap terisi persoalan-persoalan rumah tangga. Semisal percintaan saya dengan istri saya yang tidak pernah jenuh kami lakukan. Pernyataan Afrizal hanya berkelindan dalam pikiran ketika saya sepenuhnya sadar.
Pernah suatu kali saya iseng menanyakan kepada Afrizal, apakah puisi-puisi yang termuat di media itu bisa dijadikan standar kualitas puisi di Indonesia. Dia menjawab dengan nada datar, “Ribut.., para redaktur itu banyak yang tidak paham puisi”. Waduh! Jawaban apa pula ini. Untung yang ngomong Afrizal Malna, tokoh idola saya. Coba kalau yang ngomong orang lain, saya tentu mendebatnya habis-habisan. Atau setidaknya, saya akan langsung menganggapnya sedang pilek pengetahuan. Tapi ini Afrizal, tokoh idola saya. Engkau tahu, setiap omongan idola adalah spirit menjalani kehidupan. Semisal engkau mengidolakan Amin Rais. Maka setiap omongannya tentang politik, engkau tentu menghargainya, menghormatinya. Nah, ini Afrizal Malna, seorang penyair dan dia berbicara tentang kepenyairan, tidak bisa tidak, saya menghormatinya.
Afrizal, dia telah mendedahkan 2 soal gawat bagi keinginan saya membaca karya puisi-puisi saat ini. Bagaimana tidak, penyairnya dinilai tidak punya alasan menulis puisi sedangkan redakturnya dianggap tidak paham puisi. Klop. Itu artinya, puisi-puisi yang dimuat media massa saat ini adalah sampah. Diam-diam saya berdoa, semoga penilaian ini salah.
Lantas saya berusaha mengabaikan statemen Afrizal. Saya tetap tanpa jemu mengikuti satu dua puisi di media massa. Membacanya. Kadang menyimaknya. Kadang memasuki lanturan imajinasinya. Kadang menyisir asonansinya, rima-ritmenya, pilihan diksinya yang mencengangkan, literasinya, juga tipografinya yang kadang sopan kadang norak. Saya menikmatinya. Bersanding dengan semburan berita, feature, iklan, dan foto lepas; keberadaan puisi tetap menyuguhkan dunia lain. Pada puisi, semua peristiwa penting bisa bertemu dengan peristiwa sepele. Berpadu pula dengan peristiwa seronok. Dan, ini yang paling istimewa, puisi-puisi itu mengajak saya untuk berkontemplasi. Bukankah ini asyik? Sangat berbeda dengan membaca berita. Apalagi baca iklan. Wekss!!
Tetapi begitulah, keasyikan saya membaca puisi tidak sepenuhnya menyebar di seluruh tubuh. Ada beberapa bagian tubuh saya menolak untuk menikmati puisi Indonesia saat ini. Semakin ganjalan itu saya tekan, semakin dia menolak untuk menyingkir. Dia membantah, mengajak beradu argumen, dan saya tidak menanggapinya. Saya hanya memberi saran pada sebagian tubuh saya; pikiran kamu itu tidak bersih, kamu telah dipengaruhi Afrizal Malna, istigfarlah, memohon ampun pada Allah SWT, kembalilah pada jalan yang benar, abaikan orang yang telah memprovokasi kamu, jernihlah memandang fenomena-fenomena baru, jangan terlalu percaya pada status quo. Bukannya menurut, bagian tubuh saya yang menolak puisi Indonesia semakin beringas, dia secara terang-terangan menantang saya. Sekali lagi, saya tetap tidak peduli dengan tantangannya. Saya anggap dia sedang caper (cari-cari perhatian). Maka, saya memilih untuk pamit pergi. Pura-pura sedang ada janji dengan teman.
Saya menuju warung. Memesan kopi dan mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celana. Sembari mengepulkan asal, saya bergumam, ah, hidup memang layak untuk dibuat gembira.
Sebagai penggemar Afrizal, saya merasa mengenal baik puisi-puisi Afrizal. Saya merasa sepenuhnya tahu, puisi Afrizal adalah reproduksi tradisi perpuisian yang sebelumnya pernah ada. Afrizal memahami teknik puisi mulai dari zaman Indonesia masih dijajah Belanda hingga puluhan tahun setelah Indonesia merdeka. Kesemuanya turut membentuk karakter puisi Afrizal. Secara sadar dia mengadopsi dan mengolah kembali sehingga membentuk pola puitik tersendiri. Dari situ, saya bisa katakan, Afrizal telah berkontribusi terhadap tradisi kepenyairan (baca: kesusastraan) di tanah air. Dia tidak sekadar mengekor. Lebih dari itu, dia mencipta ulang.
Mengekor dan mencipta ulang tentu saja berbeda jauh. Tradisi puisi menyediakan pola puitik seperti template website. Pada blog wordpress misalnya, pengguna telah disediakan beragam macam template. Tinggal memilihnya. Usai memilih, pengguna cukup memasukkan tulisan atau foto. Jadilah blog baru. Kegiatan ini yang saya sebut mengekor. Kalau mencipta ulang, pengguna bakal membuat template tersendiri. Setelah jadi, dia baru memasukkan tulisan dan foto.
Begitu pula dengan kepenyairan. Tradisi puisi itu semacam template. Seseorang bisa memasukkan kalimat atau kisah di dalamnya. Lahirlah puisi baru. Semisal template sajak perenungannya Subagio Sastrowardoyo, template sajak lirisnya Sapardi, template sajak mantra Sutardji Calzoum Bachri, atau template pantun. Banyak sekali template puisi yang disediakan tradisi puisi Indonesia.
Nah, Afrizal mempelajari template-template itu untuk menciptakan template baru. Inilah yang saya sebut sebagai penciptaan ulang.
Tidak cukup mencipta template, Afrizal juga membelakkan mata terhadap realitas keseharian sekaligus mendialogkannya dengan ilmu pengetahuan terkini. Dia lahir dan besar di ibukota, Jakarta. Kesehariannya sangat keras. Bayangkan saja, jumlah kantor terbanyak se Indonesia, ada di Jakarta. Supermarket terbanyak di Jakarta. Mobil dan televisi terbanyak ada di Jakarta. Dan di situlah, Afrizal hidup. Imbasnya, ketika menulis puisi, Afrizal tidak bersikukuh membicarakan daun dan laut. Gunung dan sawah. Afrizal menulis tentang deru kereta, barang-barang mewah, coca cola, pemerintahan yang sibuk, keterasingannya terhadap lintasan waktu, identitas-identitas liar di sekujur tubuhnya. Afrizal menulis karena segala peristiwa telah melebihi dirinya. Beri aku waktu, beri aku waktu, untuk berkuasa, tulis Afrizal. Dia bisa sampai pada perspektif itu karena dituntun oleh pemikiran postmodern. Sejak tahun 1970-an dan memuncak pada akhir 1980-an, Indonesia memang sedang mabuk posmodernisme. Tidak terkecuali Afrizal. Maka, Afrizal pun mempertanyakan tubuh, mempertanyakan bahasa, memecah indentitas, menghirup simulakra, merayakan global village. Rosa membesar jadi sebuah dunia seperti Rosa mengecil jadi dirimu, tulis Afrizal pada puisi yang lain. Begitulah, Afrizal menulis puisi dengan mata terbelalak. Tradisi puisi ditangkap sekaligus persoalan kekinian disadap.
Saya tidak tahu pasti, apakah proses itu yang disebut Afrizal sebagai alasan menulis puisi. Apakah proses itu pula yang dianggap Afrizal tidak dipahami para redaktur. Sekali lagi, sungguh, saya tidak tahu pasti. Yang pasti saya tahu, penyair kerapkali berbohong dalam berbicara. Kejujuran penyair hanya ada pada puisi.
________________ Studio Teater Gapus, 2010
Radar Surabaya (7/11/2010)
Dalam beberapa hal, saya adalah penggemar Afrizal Malna. Ketika suatu kali Afrizal bilang bahwa banyak penyair sekarang sebenarnya tidak punya alasan untuk menulis puisi, sungguh, saya terpesona.
Apakah pernyataan itu dilontarkan setelah melalui riset yang panjang, pertimbangan mendalam, atau sekadar ceplosan, saya tidak tahu pasti. Yang pasti, dalam beberapa hari bahkan bulan, pernyataan itu terus terngiang dalam benak saya. Dia seakan merasuk inheren pada otak saya, istilah Jawanya, saya terus kepikiran. Beruntung bagi saya, pernyataan Afrizal tidak sampai membetot mimpi saya. Mimpi saya tetap terisi persoalan-persoalan rumah tangga. Semisal percintaan saya dengan istri saya yang tidak pernah jenuh kami lakukan. Pernyataan Afrizal hanya berkelindan dalam pikiran ketika saya sepenuhnya sadar.
Pernah suatu kali saya iseng menanyakan kepada Afrizal, apakah puisi-puisi yang termuat di media itu bisa dijadikan standar kualitas puisi di Indonesia. Dia menjawab dengan nada datar, “Ribut.., para redaktur itu banyak yang tidak paham puisi”. Waduh! Jawaban apa pula ini. Untung yang ngomong Afrizal Malna, tokoh idola saya. Coba kalau yang ngomong orang lain, saya tentu mendebatnya habis-habisan. Atau setidaknya, saya akan langsung menganggapnya sedang pilek pengetahuan. Tapi ini Afrizal, tokoh idola saya. Engkau tahu, setiap omongan idola adalah spirit menjalani kehidupan. Semisal engkau mengidolakan Amin Rais. Maka setiap omongannya tentang politik, engkau tentu menghargainya, menghormatinya. Nah, ini Afrizal Malna, seorang penyair dan dia berbicara tentang kepenyairan, tidak bisa tidak, saya menghormatinya.
Afrizal, dia telah mendedahkan 2 soal gawat bagi keinginan saya membaca karya puisi-puisi saat ini. Bagaimana tidak, penyairnya dinilai tidak punya alasan menulis puisi sedangkan redakturnya dianggap tidak paham puisi. Klop. Itu artinya, puisi-puisi yang dimuat media massa saat ini adalah sampah. Diam-diam saya berdoa, semoga penilaian ini salah.
Lantas saya berusaha mengabaikan statemen Afrizal. Saya tetap tanpa jemu mengikuti satu dua puisi di media massa. Membacanya. Kadang menyimaknya. Kadang memasuki lanturan imajinasinya. Kadang menyisir asonansinya, rima-ritmenya, pilihan diksinya yang mencengangkan, literasinya, juga tipografinya yang kadang sopan kadang norak. Saya menikmatinya. Bersanding dengan semburan berita, feature, iklan, dan foto lepas; keberadaan puisi tetap menyuguhkan dunia lain. Pada puisi, semua peristiwa penting bisa bertemu dengan peristiwa sepele. Berpadu pula dengan peristiwa seronok. Dan, ini yang paling istimewa, puisi-puisi itu mengajak saya untuk berkontemplasi. Bukankah ini asyik? Sangat berbeda dengan membaca berita. Apalagi baca iklan. Wekss!!
Tetapi begitulah, keasyikan saya membaca puisi tidak sepenuhnya menyebar di seluruh tubuh. Ada beberapa bagian tubuh saya menolak untuk menikmati puisi Indonesia saat ini. Semakin ganjalan itu saya tekan, semakin dia menolak untuk menyingkir. Dia membantah, mengajak beradu argumen, dan saya tidak menanggapinya. Saya hanya memberi saran pada sebagian tubuh saya; pikiran kamu itu tidak bersih, kamu telah dipengaruhi Afrizal Malna, istigfarlah, memohon ampun pada Allah SWT, kembalilah pada jalan yang benar, abaikan orang yang telah memprovokasi kamu, jernihlah memandang fenomena-fenomena baru, jangan terlalu percaya pada status quo. Bukannya menurut, bagian tubuh saya yang menolak puisi Indonesia semakin beringas, dia secara terang-terangan menantang saya. Sekali lagi, saya tetap tidak peduli dengan tantangannya. Saya anggap dia sedang caper (cari-cari perhatian). Maka, saya memilih untuk pamit pergi. Pura-pura sedang ada janji dengan teman.
Saya menuju warung. Memesan kopi dan mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celana. Sembari mengepulkan asal, saya bergumam, ah, hidup memang layak untuk dibuat gembira.
Sebagai penggemar Afrizal, saya merasa mengenal baik puisi-puisi Afrizal. Saya merasa sepenuhnya tahu, puisi Afrizal adalah reproduksi tradisi perpuisian yang sebelumnya pernah ada. Afrizal memahami teknik puisi mulai dari zaman Indonesia masih dijajah Belanda hingga puluhan tahun setelah Indonesia merdeka. Kesemuanya turut membentuk karakter puisi Afrizal. Secara sadar dia mengadopsi dan mengolah kembali sehingga membentuk pola puitik tersendiri. Dari situ, saya bisa katakan, Afrizal telah berkontribusi terhadap tradisi kepenyairan (baca: kesusastraan) di tanah air. Dia tidak sekadar mengekor. Lebih dari itu, dia mencipta ulang.
Mengekor dan mencipta ulang tentu saja berbeda jauh. Tradisi puisi menyediakan pola puitik seperti template website. Pada blog wordpress misalnya, pengguna telah disediakan beragam macam template. Tinggal memilihnya. Usai memilih, pengguna cukup memasukkan tulisan atau foto. Jadilah blog baru. Kegiatan ini yang saya sebut mengekor. Kalau mencipta ulang, pengguna bakal membuat template tersendiri. Setelah jadi, dia baru memasukkan tulisan dan foto.
Begitu pula dengan kepenyairan. Tradisi puisi itu semacam template. Seseorang bisa memasukkan kalimat atau kisah di dalamnya. Lahirlah puisi baru. Semisal template sajak perenungannya Subagio Sastrowardoyo, template sajak lirisnya Sapardi, template sajak mantra Sutardji Calzoum Bachri, atau template pantun. Banyak sekali template puisi yang disediakan tradisi puisi Indonesia.
Nah, Afrizal mempelajari template-template itu untuk menciptakan template baru. Inilah yang saya sebut sebagai penciptaan ulang.
Tidak cukup mencipta template, Afrizal juga membelakkan mata terhadap realitas keseharian sekaligus mendialogkannya dengan ilmu pengetahuan terkini. Dia lahir dan besar di ibukota, Jakarta. Kesehariannya sangat keras. Bayangkan saja, jumlah kantor terbanyak se Indonesia, ada di Jakarta. Supermarket terbanyak di Jakarta. Mobil dan televisi terbanyak ada di Jakarta. Dan di situlah, Afrizal hidup. Imbasnya, ketika menulis puisi, Afrizal tidak bersikukuh membicarakan daun dan laut. Gunung dan sawah. Afrizal menulis tentang deru kereta, barang-barang mewah, coca cola, pemerintahan yang sibuk, keterasingannya terhadap lintasan waktu, identitas-identitas liar di sekujur tubuhnya. Afrizal menulis karena segala peristiwa telah melebihi dirinya. Beri aku waktu, beri aku waktu, untuk berkuasa, tulis Afrizal. Dia bisa sampai pada perspektif itu karena dituntun oleh pemikiran postmodern. Sejak tahun 1970-an dan memuncak pada akhir 1980-an, Indonesia memang sedang mabuk posmodernisme. Tidak terkecuali Afrizal. Maka, Afrizal pun mempertanyakan tubuh, mempertanyakan bahasa, memecah indentitas, menghirup simulakra, merayakan global village. Rosa membesar jadi sebuah dunia seperti Rosa mengecil jadi dirimu, tulis Afrizal pada puisi yang lain. Begitulah, Afrizal menulis puisi dengan mata terbelalak. Tradisi puisi ditangkap sekaligus persoalan kekinian disadap.
Saya tidak tahu pasti, apakah proses itu yang disebut Afrizal sebagai alasan menulis puisi. Apakah proses itu pula yang dianggap Afrizal tidak dipahami para redaktur. Sekali lagi, sungguh, saya tidak tahu pasti. Yang pasti saya tahu, penyair kerapkali berbohong dalam berbicara. Kejujuran penyair hanya ada pada puisi.
________________ Studio Teater Gapus, 2010
Selasa, 05 Oktober 2010
Sastra Indonesia, Satu Abad yang Sia-sia
Ribut Wijoto
Radar Surabaya (3/10/2010)
Bagaimanakah kondisi kesusastraan Indonesia 25 tahun ke depan? Pertanyaan ini penting dan mendesak untuk dijawab. Jawaban dapat berguna untuk menentukan visi dan dasar kreativitas kesusastraan saat ini.
Ke depan, secara alamiah, bahasa Indonesia akan terpinggirkan. Sastrawan Indonesia tidak akan lagi menulis dalam bahasa Indonesia. Sastrawan akan memilih menulis dalam bahasa Inggris. Mengapa? Beberapa gejala dapat diketengahkan.
Pada keluarga kelas menengah ke atas, saat ini, orang tua lebih suka mendidik anaknya untuk berbicara bahasa Inggris. Dalam kehidupan kesehariannya, orang tua membiasakan anaknya berbincang-bincang bukan dengan bahasa Indonesia tetapi dengan bahasa Inggris. Dalam bidang pendidikan formal pun, orang tua memilih memasukkan anaknya ke sekolah yang menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar. Lihat saja, dalam dua tahun terakhir, orang tua rela mengeluarkan biaya lebih besar demi memasukkan anaknya ke sekolah berstandar internasional.
Apa pengaruhnya? Jelas sekali, anak menjadi lebih pandai berbahasa Inggris daripada berbahasa Indonesia. Tidak hanya pandai, anak terkondisikan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pertama. Sebagai bahasa ibu. Tidak hanya saat mengungkapkan pendapat, dalam bermimpi pun, anak akan berbicara dan berpikir dalam bahasa Inggris. Jika sudah begini, ke depan, tidak bisa diharapkan mereka akan mampu dan mau menulis karya sastra dalam bahasa Indonesia.
Kondisi berbeda terjadi dalam keluarga kelas menengah ke bawah. Keluarga etnis Jawa misalnya. Orang tua membiasakan anaknya berbicara dalam bahasa Indonesia. Bukan dalam bahasa Jawa. Alasannya sederhana, agar anak bisa lebih maju dibanding orang tuanya. Biasanya, orang tua berbicara sesama mereka masih dalam bahasa campuran, Jawa-Indonesia. Namun kepada anaknya, orang tua selalu menggunakan bahasa Indonesia.
Kondisi berbeda ini lambat laun akan berubah. Tidak hanya keluarga kelas menengah ke atas yang membiasakan anaknya berbicara bahasa Inggris dalam keseharian. Keluarga kelas menengah ke bawah pun akan tergerak untuk melakukan pilihan yang sama. Mengapa? Soalnya, keluarga kelas yang lebih bawah secara psikologis menganggap cara hidup kelas di atasnya sebagai lebih maju. Artinya, pilihan keluarga kelas menengah ke atas bakal menjadi tren. Menjadi sesuatu keharusan.
Secara alamiah, dalam 25 tahun ke depan, ketika anak-anak ini telah remaja bahkan dewasa, kesusastraan Indonesia tidak lagi ditulis dalam bahasa Indonesia. Kesusastraan akan ditulis dalam bahasa Inggris. Sastrawan yang masih menulis dalam bahasa Indonesai dapat digolongkan “memelihara” atau “mempertahankan” budaya bangsa. Tentu saja jumlahnya minoritas dibanding sastrawan yang menulis dalam bahasa Inggris. Sama seperti kondisi sekarang, beberapa sastrawan masih menulis dalam bahasa daerah. Semisal Jawa, Bali, atau Sunda. Jumlah mereka tidak banyak di antara melubernya sastra berbahasa Indonesia. Ke depan, sastrawan berbahasa Indonesai –tidak kurang tidak lebih- nasibnya akan sama. Marjinal.
Perpindahan bahasa dalam sastra tentu sebuah gejala yang sangat serius. Sebab bahasa adalah kendaraan sekaligus ruh dari sastra itu sendiri. Pengaruhnya bisa sangat gawat. Bisa mengarah ke positif bisa pula negatif. Oleh karenanya, pengaruh-pengaruh tersebut harus segera diantisipasi. Setidak-tidaknya pengaruhnya dikenali. Terutama pengaruh buruknya.
Yang paling menakutkan, ke depan, karya sastra berbahasa Indonesia hanya akan mendiami rak-rak museum. Sama seperti karya sastra para pujangga Jawa. Kehilangan pembacanya, penulisnya, dan kehilangan aktualitasnya.
Lihat saja, sejarah sastra Indonesia sekarang. Apakah sastra Indonesia dipahami sebagai kelanjutan dari sastra Jawa (tradisional). Tidak. Sastra Indonesia memiliki keterputusan fundamen dari sastra lama. Sastra Indonesia sekarang dipahami sebagai sastra modern hasil adopsi dari sastra dunia (Barat). Maka muncul bentuk puisi, cerpen, novel, maupun naskah drama. Kesemuanya bukanlah pencanggihan atau hasil pengembangan dari sastra Jawa. Kesemuanya muncul secara alamiah sebagai respon dari perkembangan zaman.
Begitu pula dengan sikap sastra Indonesai terhadap sastra Melayu. Walaupun bahasa Indonesia berasal dari Melayu, sastra Indonesia bukan berasal dari pencanggihan sastra Melayu. Pengaruh sastra Melayu, bisa jadi, cukup berhenti pada karya puisi Amir Hamzah. Sejak Chairil Anwar hingga Mardi Luhung, sastra Indonesia lebih suka mengembara ke khazanah sastra dunia daripada keelokan sastra Melayu. Chairil pun secara terus terang mengatakan, “kami adalah ahli waris kebudayaan dunia”.
Tampaknya, 25 tahun ke depan, sastrawan Indonesia mungkin masih membaca karya sastra berbahasa Indonesia. Tapi dengan satu syarat. Karya sastra tersebut telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Sastrawan Indonesia sudah tergagap-gagap memahami karya sastra berbahasa Indonesia. Soalnya dalam keseharian, sastrawan dan masyarakatnya telah berpindah ke bahasa Inggris. Bahkan, bisa jadi, karya sastra berbahasa Indonesia hanya dianggap sebagai bagian dari kekelaman masa lalu. Ketika para sastrawan beserta masyarakatnya dinilai belum melebur ke dalam kebudayaan dunia (universal). Ketika sastrawan dianggap masih terjebak dalam hal ihwal nasionalisme. Bahasa Indonesia, bisa jadi, akan “diolok-olok” sebagai “belum beradab”.
Bila kondisi ini terjadi, sejarah sastra Indonesia bakal mengalami dua kali keterputusan. Pertama, keterputusan dari sastra tradisional (sastra berbahasa daerah). Kedua, keterputusan dari sastra nasional (sastra berbahasa Indonesia). Akibatnya, sastra Indonesia akan kembali muda. Dalam artian, sastra yang tradisinya baru tercipta tidak lebih dari 25 tahun.
Ada lagi pengaruh yang lebih mengerikan. Kinerja dan hasil keringat para sastrawan sejak Marah Rusli hingga Binhad Nurohmat akan menjadi sia-sia. Sebatas disikapi sebagai masa lalu yang kelam. Begitu pula dengan kecermelangan puisi Sapardi Djoko Damono, keliaran puisi Gunawan Mohamad, kebinalan puisi Acep Zamzam Noor, apalagi lirisitas puisi Amir Hamzah. Kesemuanya akan sia-sia. Kesemuanya tidak dianggap sebagai bagian dari kesusastraan 25 tahun ke depan, yakni kesusastraan Indonesia yang ditulis dalam bahasa Inggris.
Sastra berbahasa Indonesia kelihatannya hanya berusia satu abad. Dimulai sekitar tahun 1920-an dan berakhir sekitar tahun 2020-an. Inilah kondisi satu abad sastra Indonesia yang sia-sia.
Tidak semua memang akan sia-sia. Beberapa karya sastra berbahasa Indonesia masih mampu bertahan dari gilasan zaman. Karya sastra tahan zaman ini mungkin akan diwakili oleh prosa Pramoedya Ananta Toer. Mengapa? Karena karya Pramoedya memiliki struktur yang kuat (kompleks). Alurnya, penokohannya, latarnya, maupun tema-tema yang diunggahkan. Bahkan dalam cerpen pun, Pram membuat struktur prosa yang utuh. Memang yang disebut cerpen dalam karya Pram, sangat berbeda dengan cerpen yang marak berkembang saat ini, yakni cerpen koran. Cerpen Pram bisa sampai 30 atau 40 halaman. Padahal tren cerpen di koran, maksimal hanya 8 halaman. Maka, cerpen koran buru-buru menghentikan cerita ketika penokohan belum terbentuk. Cerpen selesai ketika cerita belum sempat membangun plot. Nasib cerpen-cerpen koran ini, tampaknya ke depan, dianggap sebagai pemblajaran anak kecil semata.
Ada satu parodi yang menggoda untuk diketengahkan. Dalam sastra Jawa, ada dikenal istilah “pujangga terakhir”, yakni Ronggowarsito. Lantas, siapakah yang layak menyandang gelar “pujangga terakhir” sastra Indonesia. Bisa jadi, jawabannya adalah Afrizal Malna. Pertimbangannya, Afrizal sematalah yang terakhir melakukan perubahan radikal terhadap kesusastraan berbahasa Indonesia. Afrizal mampu menciptakan tradisi puisi yang secara kasat mata terbedakan dengan tradisi puisi sezamannya. Sebuah penciptaan tradisi puisi seperti yang dilakukan Chairil Anwar dan Sutardji Calzoum Bahri.
Oleh sebab sudah diketahui, 25 tahun ke depan, sastra bakal ditulis dalam bahasa Inggris dan kondisi itu membuat keterputusan dengan sejarah sastra, muncul satu pertanyaan responsif yang perlu dibahas. Bagaimana mengantisipasi perubahan besar tersebut?
Pertama, perubahan ke arah sastra berbahasa Inggris tidak bisa dihindari. Penyebabnya, pelan tapi pasti, masyarakat Indonesia akan beralih dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris.
Kedua, sastrawan sekarang harus mulai belajar menulis dalam bahasa Inggris. Artinya, sekalian saja kondisi 25 tahun ke depan tersebut dihadirkan saat ini. Sastrawan tidak menulis untuk tahun sekarang. Tetapi, sastrawan menulis untuk zaman di masa depan. Toh, di Indonesia, media massa yang menerima karya sastra berbahasa Inggris sudah ada. Atau kalau memang percaya diri, karya berbahasa Inggris tersebut dikirimkan ke media massa di luar negeri.
Negara tetangga kita pun, Malaysia dan Singapura, keduanya telah memulai tradisi penulisan sastra berbahasa Inggris. Daripada semakin terlambat, tradisi sastra berbahasa Inggris harus dimulai dari sekarang.
Ketiga, harus ada usaha yang getol untuk menerjemahkan karya sastra berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Kegiatan ini tidak bisa ditunda karena senyampang para sastrawannya masih hidup. Senyampang masyarakatnya masih terbiasa berkomunikasi dalam bahasa Indonesia.
Jika sampai terlambat, jumlah orang yang ahli bahasa Indonesia keburu langka. Padahal jumlah karya sastra yang harus diterjemahkan begitu bejibun. Bayangkan saja, tiap minggu puluhan koran menayangkan puisi atau prosa baru. Tiap minggu, selalu terbit buku kumpulan puisi baru. Bila ditotal, dalam satu abad usia sastra Indonesia, karya yang diproduksi bisa sampai ratusan juta judul.
Perubahan kondisi kesusastraan Indonesia 25 tahun ke depan tentu saja tidak hanya dalam tataran bahasa. Beragam faktor lain turut memberi pengaruh. Semisal perubahan struktur masyarakat, pemikiran filsafat, temuan-temuan teknologi, perkembangan sastra di Barat. Kesemuanya perlu mendapat porsi untuk menentukan sikap menghadapi masa depan sastra Indonesia.
_______, Studio Teater Gapus, 2010
Radar Surabaya (3/10/2010)
Bagaimanakah kondisi kesusastraan Indonesia 25 tahun ke depan? Pertanyaan ini penting dan mendesak untuk dijawab. Jawaban dapat berguna untuk menentukan visi dan dasar kreativitas kesusastraan saat ini.
Ke depan, secara alamiah, bahasa Indonesia akan terpinggirkan. Sastrawan Indonesia tidak akan lagi menulis dalam bahasa Indonesia. Sastrawan akan memilih menulis dalam bahasa Inggris. Mengapa? Beberapa gejala dapat diketengahkan.
Pada keluarga kelas menengah ke atas, saat ini, orang tua lebih suka mendidik anaknya untuk berbicara bahasa Inggris. Dalam kehidupan kesehariannya, orang tua membiasakan anaknya berbincang-bincang bukan dengan bahasa Indonesia tetapi dengan bahasa Inggris. Dalam bidang pendidikan formal pun, orang tua memilih memasukkan anaknya ke sekolah yang menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar. Lihat saja, dalam dua tahun terakhir, orang tua rela mengeluarkan biaya lebih besar demi memasukkan anaknya ke sekolah berstandar internasional.
Apa pengaruhnya? Jelas sekali, anak menjadi lebih pandai berbahasa Inggris daripada berbahasa Indonesia. Tidak hanya pandai, anak terkondisikan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pertama. Sebagai bahasa ibu. Tidak hanya saat mengungkapkan pendapat, dalam bermimpi pun, anak akan berbicara dan berpikir dalam bahasa Inggris. Jika sudah begini, ke depan, tidak bisa diharapkan mereka akan mampu dan mau menulis karya sastra dalam bahasa Indonesia.
Kondisi berbeda terjadi dalam keluarga kelas menengah ke bawah. Keluarga etnis Jawa misalnya. Orang tua membiasakan anaknya berbicara dalam bahasa Indonesia. Bukan dalam bahasa Jawa. Alasannya sederhana, agar anak bisa lebih maju dibanding orang tuanya. Biasanya, orang tua berbicara sesama mereka masih dalam bahasa campuran, Jawa-Indonesia. Namun kepada anaknya, orang tua selalu menggunakan bahasa Indonesia.
Kondisi berbeda ini lambat laun akan berubah. Tidak hanya keluarga kelas menengah ke atas yang membiasakan anaknya berbicara bahasa Inggris dalam keseharian. Keluarga kelas menengah ke bawah pun akan tergerak untuk melakukan pilihan yang sama. Mengapa? Soalnya, keluarga kelas yang lebih bawah secara psikologis menganggap cara hidup kelas di atasnya sebagai lebih maju. Artinya, pilihan keluarga kelas menengah ke atas bakal menjadi tren. Menjadi sesuatu keharusan.
Secara alamiah, dalam 25 tahun ke depan, ketika anak-anak ini telah remaja bahkan dewasa, kesusastraan Indonesia tidak lagi ditulis dalam bahasa Indonesia. Kesusastraan akan ditulis dalam bahasa Inggris. Sastrawan yang masih menulis dalam bahasa Indonesai dapat digolongkan “memelihara” atau “mempertahankan” budaya bangsa. Tentu saja jumlahnya minoritas dibanding sastrawan yang menulis dalam bahasa Inggris. Sama seperti kondisi sekarang, beberapa sastrawan masih menulis dalam bahasa daerah. Semisal Jawa, Bali, atau Sunda. Jumlah mereka tidak banyak di antara melubernya sastra berbahasa Indonesia. Ke depan, sastrawan berbahasa Indonesai –tidak kurang tidak lebih- nasibnya akan sama. Marjinal.
Perpindahan bahasa dalam sastra tentu sebuah gejala yang sangat serius. Sebab bahasa adalah kendaraan sekaligus ruh dari sastra itu sendiri. Pengaruhnya bisa sangat gawat. Bisa mengarah ke positif bisa pula negatif. Oleh karenanya, pengaruh-pengaruh tersebut harus segera diantisipasi. Setidak-tidaknya pengaruhnya dikenali. Terutama pengaruh buruknya.
Yang paling menakutkan, ke depan, karya sastra berbahasa Indonesia hanya akan mendiami rak-rak museum. Sama seperti karya sastra para pujangga Jawa. Kehilangan pembacanya, penulisnya, dan kehilangan aktualitasnya.
Lihat saja, sejarah sastra Indonesia sekarang. Apakah sastra Indonesia dipahami sebagai kelanjutan dari sastra Jawa (tradisional). Tidak. Sastra Indonesia memiliki keterputusan fundamen dari sastra lama. Sastra Indonesia sekarang dipahami sebagai sastra modern hasil adopsi dari sastra dunia (Barat). Maka muncul bentuk puisi, cerpen, novel, maupun naskah drama. Kesemuanya bukanlah pencanggihan atau hasil pengembangan dari sastra Jawa. Kesemuanya muncul secara alamiah sebagai respon dari perkembangan zaman.
Begitu pula dengan sikap sastra Indonesai terhadap sastra Melayu. Walaupun bahasa Indonesia berasal dari Melayu, sastra Indonesia bukan berasal dari pencanggihan sastra Melayu. Pengaruh sastra Melayu, bisa jadi, cukup berhenti pada karya puisi Amir Hamzah. Sejak Chairil Anwar hingga Mardi Luhung, sastra Indonesia lebih suka mengembara ke khazanah sastra dunia daripada keelokan sastra Melayu. Chairil pun secara terus terang mengatakan, “kami adalah ahli waris kebudayaan dunia”.
Tampaknya, 25 tahun ke depan, sastrawan Indonesia mungkin masih membaca karya sastra berbahasa Indonesia. Tapi dengan satu syarat. Karya sastra tersebut telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Sastrawan Indonesia sudah tergagap-gagap memahami karya sastra berbahasa Indonesia. Soalnya dalam keseharian, sastrawan dan masyarakatnya telah berpindah ke bahasa Inggris. Bahkan, bisa jadi, karya sastra berbahasa Indonesia hanya dianggap sebagai bagian dari kekelaman masa lalu. Ketika para sastrawan beserta masyarakatnya dinilai belum melebur ke dalam kebudayaan dunia (universal). Ketika sastrawan dianggap masih terjebak dalam hal ihwal nasionalisme. Bahasa Indonesia, bisa jadi, akan “diolok-olok” sebagai “belum beradab”.
Bila kondisi ini terjadi, sejarah sastra Indonesia bakal mengalami dua kali keterputusan. Pertama, keterputusan dari sastra tradisional (sastra berbahasa daerah). Kedua, keterputusan dari sastra nasional (sastra berbahasa Indonesia). Akibatnya, sastra Indonesia akan kembali muda. Dalam artian, sastra yang tradisinya baru tercipta tidak lebih dari 25 tahun.
Ada lagi pengaruh yang lebih mengerikan. Kinerja dan hasil keringat para sastrawan sejak Marah Rusli hingga Binhad Nurohmat akan menjadi sia-sia. Sebatas disikapi sebagai masa lalu yang kelam. Begitu pula dengan kecermelangan puisi Sapardi Djoko Damono, keliaran puisi Gunawan Mohamad, kebinalan puisi Acep Zamzam Noor, apalagi lirisitas puisi Amir Hamzah. Kesemuanya akan sia-sia. Kesemuanya tidak dianggap sebagai bagian dari kesusastraan 25 tahun ke depan, yakni kesusastraan Indonesia yang ditulis dalam bahasa Inggris.
Sastra berbahasa Indonesia kelihatannya hanya berusia satu abad. Dimulai sekitar tahun 1920-an dan berakhir sekitar tahun 2020-an. Inilah kondisi satu abad sastra Indonesia yang sia-sia.
Tidak semua memang akan sia-sia. Beberapa karya sastra berbahasa Indonesia masih mampu bertahan dari gilasan zaman. Karya sastra tahan zaman ini mungkin akan diwakili oleh prosa Pramoedya Ananta Toer. Mengapa? Karena karya Pramoedya memiliki struktur yang kuat (kompleks). Alurnya, penokohannya, latarnya, maupun tema-tema yang diunggahkan. Bahkan dalam cerpen pun, Pram membuat struktur prosa yang utuh. Memang yang disebut cerpen dalam karya Pram, sangat berbeda dengan cerpen yang marak berkembang saat ini, yakni cerpen koran. Cerpen Pram bisa sampai 30 atau 40 halaman. Padahal tren cerpen di koran, maksimal hanya 8 halaman. Maka, cerpen koran buru-buru menghentikan cerita ketika penokohan belum terbentuk. Cerpen selesai ketika cerita belum sempat membangun plot. Nasib cerpen-cerpen koran ini, tampaknya ke depan, dianggap sebagai pemblajaran anak kecil semata.
Ada satu parodi yang menggoda untuk diketengahkan. Dalam sastra Jawa, ada dikenal istilah “pujangga terakhir”, yakni Ronggowarsito. Lantas, siapakah yang layak menyandang gelar “pujangga terakhir” sastra Indonesia. Bisa jadi, jawabannya adalah Afrizal Malna. Pertimbangannya, Afrizal sematalah yang terakhir melakukan perubahan radikal terhadap kesusastraan berbahasa Indonesia. Afrizal mampu menciptakan tradisi puisi yang secara kasat mata terbedakan dengan tradisi puisi sezamannya. Sebuah penciptaan tradisi puisi seperti yang dilakukan Chairil Anwar dan Sutardji Calzoum Bahri.
Oleh sebab sudah diketahui, 25 tahun ke depan, sastra bakal ditulis dalam bahasa Inggris dan kondisi itu membuat keterputusan dengan sejarah sastra, muncul satu pertanyaan responsif yang perlu dibahas. Bagaimana mengantisipasi perubahan besar tersebut?
Pertama, perubahan ke arah sastra berbahasa Inggris tidak bisa dihindari. Penyebabnya, pelan tapi pasti, masyarakat Indonesia akan beralih dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris.
Kedua, sastrawan sekarang harus mulai belajar menulis dalam bahasa Inggris. Artinya, sekalian saja kondisi 25 tahun ke depan tersebut dihadirkan saat ini. Sastrawan tidak menulis untuk tahun sekarang. Tetapi, sastrawan menulis untuk zaman di masa depan. Toh, di Indonesia, media massa yang menerima karya sastra berbahasa Inggris sudah ada. Atau kalau memang percaya diri, karya berbahasa Inggris tersebut dikirimkan ke media massa di luar negeri.
Negara tetangga kita pun, Malaysia dan Singapura, keduanya telah memulai tradisi penulisan sastra berbahasa Inggris. Daripada semakin terlambat, tradisi sastra berbahasa Inggris harus dimulai dari sekarang.
Ketiga, harus ada usaha yang getol untuk menerjemahkan karya sastra berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Kegiatan ini tidak bisa ditunda karena senyampang para sastrawannya masih hidup. Senyampang masyarakatnya masih terbiasa berkomunikasi dalam bahasa Indonesia.
Jika sampai terlambat, jumlah orang yang ahli bahasa Indonesia keburu langka. Padahal jumlah karya sastra yang harus diterjemahkan begitu bejibun. Bayangkan saja, tiap minggu puluhan koran menayangkan puisi atau prosa baru. Tiap minggu, selalu terbit buku kumpulan puisi baru. Bila ditotal, dalam satu abad usia sastra Indonesia, karya yang diproduksi bisa sampai ratusan juta judul.
Perubahan kondisi kesusastraan Indonesia 25 tahun ke depan tentu saja tidak hanya dalam tataran bahasa. Beragam faktor lain turut memberi pengaruh. Semisal perubahan struktur masyarakat, pemikiran filsafat, temuan-temuan teknologi, perkembangan sastra di Barat. Kesemuanya perlu mendapat porsi untuk menentukan sikap menghadapi masa depan sastra Indonesia.
_______, Studio Teater Gapus, 2010
Sabtu, 25 September 2010
Berita Puisi tentang Manusia
Ribut Wijoto
http://www.sinarharapan.co.id/
Apa yang terjadi dengan manusia? Bagaimanakah manusia memahami dan menghayati lingkungannya, juga dirinya? Kiranya, ini sebuah persoalan pelik. Jawaban pasti mesti ditunda. Ada kesejarahan panjang dalam pribadi kemanusiaan.
Dulu kala, di Abad Pertengahan, Galileo Galilei menyatakan, ”barang siapa hendak membaca buku; aksara-aksaranya ialah bentuk-bentuk segitiga, lingkaran, dan empat per segi”. Galilei, filsuf yang hidupnya diakhiri di tiang gantungan ini, mengingatkan bahwa dunia akan lebih bisa dipahami melalui gejala-gejala primernya. Berat, warna, volume, suhu, panjang, atau hal-hal yang berkaitan dengan pancaindera. Lebih khusus lagi, matematika. Saat itu, Galilei sedang memberi dasar bagi suatu peradapan yang dikemudian periode amat menguasai masyarakat: ilmu pengetahuan. Sebuah dasar yang lantas disempurnakan oleh Isaac Newton. Kepastian akan adanya hukum-hukum: manusia dan lingkungannya digerakkan oleh suatu logika kepastian, ialah hukum alam.
Lantas, bagaimanakah pengaruh penerapan hukum alam bagi kemanusiaan? Ada baiknya, di sini, patut diperhatikan pengakuan Heri Latief melalui puisi ”Mama” (antologi Ilusiminimalis, 2003): Umur yang kita rancang ternyata bukan punya kita, milik kita hanyalah ingatan, kenangan yang tak habis dimakan sunyi, di sini kita memandang langit sehabis hujan, berwarna kelabu, tempat berkumpulnya titik-titik embun. Ada banyak hal yang bisa cermati dari larik-larik puisi Latief. Penyair yang juga salah satu pendiri situs Cybersastra ini seperti memasang semacam lonceng; berdentang mewartakan soal genting. Degradasi kemanusiaan. Ialah ketika manusia hanya mampu memiliki sedikit bagian dari dirinya sendiri. Mengapa? Kiranya, ia berkaitan dengan dasar-dasar pembangunan Galilei, hukum pancaindera.
Pada kesehariannya, manusia dipahami sebagai struktur-struktur sosial dan materi, yaitu peranan manusia di dalam masyarakat: apa yang seseorang kerjakan, bagaimana prestasi kerjanya, kedudukannya, hobi, pendidikan. Selebihnya, manusia dipahami sebagai tumpukan materi. Corak rambut, cara berpakaian, jenis kelamin, tinggi badan, warna kulit, atau hal-hal yang berkaitan dengan ”kartu tanda penduduk”. Organisasional dan material.
Manusia diatur dalam peran-peran sosial. Sebagai suatu aset yang mesti bermanfaat. Menghasilkan barang-barang atau jasa. Tanpa itu, manusia belum bisa dianggap manusia. Perihal perilaku, manusia dihadapkan pada berbagai petunjuk bertele-tele mengenai kesantunan dan kesusilaan. Macam-macam perilaku dibungkam. Pamali. Semisal tentang seksualitas.
Wilayah seksualitas hanya boleh diperkatakan di ruang-ruang tersembunyi. Ia hanya boleh dibicarakan akrab oleh pasangan suami-istri. Atau, sengaja diciptakan ruang khusus yang di sana orang bebas membicarakan seks. Pelacuran. Hanya saja, ruang tersebut secara norma sosial telah dinilai bejat. Dan, kalau diperkatakan saja sudah mesti berhadapan dengan banyak aturan, maka dalam tingkat tindakan, berlaku aturan-aturan yang lebih kaku lagi. Segalanya mesti terkontrol. Terkondisikan agar lebih bisa dinilai sebagai manusia normal.
Dan begitulah, puisi Latief mempersoalkan inti dari kemanusiaan. Sublimitas. Sejauh mana seseorang punya makna dalam kehidupan. Dengan rada sinis, Latief memberi catatan: Bukankah mereka juga mengerti, tiap manusia yang rada waras, pasti suka bicara memakai logika-cinta, karena moral ternyata susah diukur (puisi ”Nyamuk”).
Heri Latief, penyair yang pernah tinggal di negeri Belanda ini, menggiring persoalan pemahaman diri (manusia) melalui hal yang lebih mendalam. Moralitas. Logika cinta. Keduanya berlawanan dengan pemikiran Galilei berkenaan ”pemahaman atas manusia”. Pemikiran Galilei meyakini bahwa identitas manusia diperoleh dari situasi sosial. Berada di luar manusia. Sedangkan yang diyakini Latief, identitas bersifat personal. Berkaitan dengan kenangan, moralitas, cinta. Berada dalam diri manusia. Sifatnya metafisik. Apa yang tampak belum tentu merepresentasikan kenyataan diri. Dengan begitu identitas sosial, yaitu identitas yang biasa dilekatkan masyarakat kepada seseorang, itu hanya kulit luarnya saja. Sebab identitas sosial berasal dari apa-apa yang tampak. Sebuah identitas empiris. Satu misal paling gampang adalah pemakaian aksesoris. Suatu kali, seseorang memakai kalung yang berbandul logam berbentuk silang. Maka, orang-orang akan dengan mudah menjatuhkan klaim, dia seorang nasrani. Atau seseorang memakai tato bergambar pedang di lengan, maka orang-orang akan berusaha menjaga jarak dengan dirinya. Tato menciptakan identitas bernuansa buruk bagi seseorang. Lantas, apakah itu merupakan kebenaran identitas manusia.
Bersandar pada puisi Latief, kiranya terlalu mudah untuk cepat-cepat menjatuhkan putusan. Masalah identitas diri adalah masalah dunia dalam, metafisika. Berakar pada hakikat kemanusiaan. Di mana manusia bisa dengan secara tegas terbedakan dengan benda-benda atau dengan para hewan.
Pada manusia ada terletak pikiran, perasaan, imajinasi, cinta, dan obsesi terhadap fantasi. Di situ, manusia mempertaruhkan kesadaran, kebebasan, pilihan hidup, tanggung jawab. Titik tolaknya pada kesadaran diri. Sehngga persoalannya bukan pada penolakan partisipasi peran sosial, tetapi pada terciptanya relasi etis antara peran sosial dengan hakikat kemanusiaan. Dituliskannya oleh Latief dalam puisi ”Egoisme”: Itulah harapan kita, tanpa topeng ada wajah yang asli, lihatlah kejujuran memang membosankan.
Identitas asli seperti bayang-bayang dapat dilihat tapi sulit dipastikan, apalagi keasliannya. Ilmu alam sebagaimana disorongkan Galilea hanya mampu menyoroti bentuk luar dari bayang-bayang. Sedangkan hal-hal yang membentuk bayang-bayang, yaitu manusia itu sendiri, berdiri jauh di balik pancaindera. Pengenalan hanya bisa dilakukan melalui penghayatan yang intens. Melelahkan, menjemukan, dan bagi ilmu alam yang mengagungkan efisiensi, bisa jadi ia mendekati sia-sia. Juga bagi orang-orang lain, masyarakat, publik. Identitas manusia lebih mudah diberikan dari luar daripada digali dari dalam. Seseorang adalah ilmuwan berprestasi, seseorang adalah pemain sepak bola nasional, pedagang buah, petani miskin, pejabat berpakaian rapi.
Klaim-klaim tentang identitas manusia berseliweran dari berbagai arah. Saling merangsek untuk dipasrahi. Karena, masyarakat punya kekuatan untuk membentuk sanksi. Seorang pegawai perusahaan akan ditertawakan atau malah di-phk bila berani memakai baju senam saat tugas kantor. Mengenaskan, seseorang dicela atau dihormati karena sesuatu di luar dirinya. Kemanusiaan terpasung di situ. Kebebasan dalam mengekspresikan diri terpagari oleh aturan-aturan penuh sanksi.
Begitulah, sebagian besar umur manusia bukanlah milik dirinya. Umur atau waktu, menjadi milik peran-peran yang mesti disandang manusia. Tinggal dijalani, dan tak mudah diberontaki. Yang tersisa bagi manusia hanya ingatan, kenangan yang tak habis dimakan sunyi. Di situ, manusia jadi terasingkan dari dirinya sendiri. Merasa diri kurang punya makna.
Kehadiran diri hanya bisa dipenuhi oleh peranan-peranan dari luar. Ia sebagai bagian dari sesuatu yang lebih luas. Diposisikan, ditugasi, dinilaikan, dan dikekang. Sebab, ia bukan milik dirinya. Ia milik aturan-aturan. Kurang lebih sama dengan benda-benda. Di tingkat ini, ketika kesadaran diri telah bangkit, dua pilihan buruk bisa terwujud. Pilihan pertama, tindakan agresif brutal. Bersifat menyerang, merusak, dan dorongan untuk menguasai orang-orang lain. Suatu keinginan untuk balas dendam atau keinginan untuk membalik keadaan. Pilihan kedua, tindakan apatis. Kepercayaan terhadap orang lain, bahkan kepercayaan kepada diri sendiri, telah sirna. Ia merasa tidak lagi punya makna. Juga dunia tidak punya makna. Tiada perlu lagi beraktivitas. Atau bisa jadi, menganggap tiada perlu lagi melanjut hidup. Bunuh diri sosial, ataupun bunuh diri nyata. Lenyap. Mati, sendiri, dan tak terpahami.
Hukum alam, ah logika ini memang penting bagi peradapan. Tentang kemutlakannya, beberapa ihwal masih perlu dipertimbangkan. Berita-berita dari puisi, semacam berita puisi Heri Latief sungguh patut untuk diberi perhatian, diberi tempat berbiak. Dengan harapan sederhana: agar kelak, anak-anak kita masih bisa membaca hakikat cinta, dan manusia masih ada.***
*) Studio Gapus, Surabaya.
http://www.sinarharapan.co.id/
Apa yang terjadi dengan manusia? Bagaimanakah manusia memahami dan menghayati lingkungannya, juga dirinya? Kiranya, ini sebuah persoalan pelik. Jawaban pasti mesti ditunda. Ada kesejarahan panjang dalam pribadi kemanusiaan.
Dulu kala, di Abad Pertengahan, Galileo Galilei menyatakan, ”barang siapa hendak membaca buku; aksara-aksaranya ialah bentuk-bentuk segitiga, lingkaran, dan empat per segi”. Galilei, filsuf yang hidupnya diakhiri di tiang gantungan ini, mengingatkan bahwa dunia akan lebih bisa dipahami melalui gejala-gejala primernya. Berat, warna, volume, suhu, panjang, atau hal-hal yang berkaitan dengan pancaindera. Lebih khusus lagi, matematika. Saat itu, Galilei sedang memberi dasar bagi suatu peradapan yang dikemudian periode amat menguasai masyarakat: ilmu pengetahuan. Sebuah dasar yang lantas disempurnakan oleh Isaac Newton. Kepastian akan adanya hukum-hukum: manusia dan lingkungannya digerakkan oleh suatu logika kepastian, ialah hukum alam.
Lantas, bagaimanakah pengaruh penerapan hukum alam bagi kemanusiaan? Ada baiknya, di sini, patut diperhatikan pengakuan Heri Latief melalui puisi ”Mama” (antologi Ilusiminimalis, 2003): Umur yang kita rancang ternyata bukan punya kita, milik kita hanyalah ingatan, kenangan yang tak habis dimakan sunyi, di sini kita memandang langit sehabis hujan, berwarna kelabu, tempat berkumpulnya titik-titik embun. Ada banyak hal yang bisa cermati dari larik-larik puisi Latief. Penyair yang juga salah satu pendiri situs Cybersastra ini seperti memasang semacam lonceng; berdentang mewartakan soal genting. Degradasi kemanusiaan. Ialah ketika manusia hanya mampu memiliki sedikit bagian dari dirinya sendiri. Mengapa? Kiranya, ia berkaitan dengan dasar-dasar pembangunan Galilei, hukum pancaindera.
Pada kesehariannya, manusia dipahami sebagai struktur-struktur sosial dan materi, yaitu peranan manusia di dalam masyarakat: apa yang seseorang kerjakan, bagaimana prestasi kerjanya, kedudukannya, hobi, pendidikan. Selebihnya, manusia dipahami sebagai tumpukan materi. Corak rambut, cara berpakaian, jenis kelamin, tinggi badan, warna kulit, atau hal-hal yang berkaitan dengan ”kartu tanda penduduk”. Organisasional dan material.
Manusia diatur dalam peran-peran sosial. Sebagai suatu aset yang mesti bermanfaat. Menghasilkan barang-barang atau jasa. Tanpa itu, manusia belum bisa dianggap manusia. Perihal perilaku, manusia dihadapkan pada berbagai petunjuk bertele-tele mengenai kesantunan dan kesusilaan. Macam-macam perilaku dibungkam. Pamali. Semisal tentang seksualitas.
Wilayah seksualitas hanya boleh diperkatakan di ruang-ruang tersembunyi. Ia hanya boleh dibicarakan akrab oleh pasangan suami-istri. Atau, sengaja diciptakan ruang khusus yang di sana orang bebas membicarakan seks. Pelacuran. Hanya saja, ruang tersebut secara norma sosial telah dinilai bejat. Dan, kalau diperkatakan saja sudah mesti berhadapan dengan banyak aturan, maka dalam tingkat tindakan, berlaku aturan-aturan yang lebih kaku lagi. Segalanya mesti terkontrol. Terkondisikan agar lebih bisa dinilai sebagai manusia normal.
Dan begitulah, puisi Latief mempersoalkan inti dari kemanusiaan. Sublimitas. Sejauh mana seseorang punya makna dalam kehidupan. Dengan rada sinis, Latief memberi catatan: Bukankah mereka juga mengerti, tiap manusia yang rada waras, pasti suka bicara memakai logika-cinta, karena moral ternyata susah diukur (puisi ”Nyamuk”).
Heri Latief, penyair yang pernah tinggal di negeri Belanda ini, menggiring persoalan pemahaman diri (manusia) melalui hal yang lebih mendalam. Moralitas. Logika cinta. Keduanya berlawanan dengan pemikiran Galilei berkenaan ”pemahaman atas manusia”. Pemikiran Galilei meyakini bahwa identitas manusia diperoleh dari situasi sosial. Berada di luar manusia. Sedangkan yang diyakini Latief, identitas bersifat personal. Berkaitan dengan kenangan, moralitas, cinta. Berada dalam diri manusia. Sifatnya metafisik. Apa yang tampak belum tentu merepresentasikan kenyataan diri. Dengan begitu identitas sosial, yaitu identitas yang biasa dilekatkan masyarakat kepada seseorang, itu hanya kulit luarnya saja. Sebab identitas sosial berasal dari apa-apa yang tampak. Sebuah identitas empiris. Satu misal paling gampang adalah pemakaian aksesoris. Suatu kali, seseorang memakai kalung yang berbandul logam berbentuk silang. Maka, orang-orang akan dengan mudah menjatuhkan klaim, dia seorang nasrani. Atau seseorang memakai tato bergambar pedang di lengan, maka orang-orang akan berusaha menjaga jarak dengan dirinya. Tato menciptakan identitas bernuansa buruk bagi seseorang. Lantas, apakah itu merupakan kebenaran identitas manusia.
Bersandar pada puisi Latief, kiranya terlalu mudah untuk cepat-cepat menjatuhkan putusan. Masalah identitas diri adalah masalah dunia dalam, metafisika. Berakar pada hakikat kemanusiaan. Di mana manusia bisa dengan secara tegas terbedakan dengan benda-benda atau dengan para hewan.
Pada manusia ada terletak pikiran, perasaan, imajinasi, cinta, dan obsesi terhadap fantasi. Di situ, manusia mempertaruhkan kesadaran, kebebasan, pilihan hidup, tanggung jawab. Titik tolaknya pada kesadaran diri. Sehngga persoalannya bukan pada penolakan partisipasi peran sosial, tetapi pada terciptanya relasi etis antara peran sosial dengan hakikat kemanusiaan. Dituliskannya oleh Latief dalam puisi ”Egoisme”: Itulah harapan kita, tanpa topeng ada wajah yang asli, lihatlah kejujuran memang membosankan.
Identitas asli seperti bayang-bayang dapat dilihat tapi sulit dipastikan, apalagi keasliannya. Ilmu alam sebagaimana disorongkan Galilea hanya mampu menyoroti bentuk luar dari bayang-bayang. Sedangkan hal-hal yang membentuk bayang-bayang, yaitu manusia itu sendiri, berdiri jauh di balik pancaindera. Pengenalan hanya bisa dilakukan melalui penghayatan yang intens. Melelahkan, menjemukan, dan bagi ilmu alam yang mengagungkan efisiensi, bisa jadi ia mendekati sia-sia. Juga bagi orang-orang lain, masyarakat, publik. Identitas manusia lebih mudah diberikan dari luar daripada digali dari dalam. Seseorang adalah ilmuwan berprestasi, seseorang adalah pemain sepak bola nasional, pedagang buah, petani miskin, pejabat berpakaian rapi.
Klaim-klaim tentang identitas manusia berseliweran dari berbagai arah. Saling merangsek untuk dipasrahi. Karena, masyarakat punya kekuatan untuk membentuk sanksi. Seorang pegawai perusahaan akan ditertawakan atau malah di-phk bila berani memakai baju senam saat tugas kantor. Mengenaskan, seseorang dicela atau dihormati karena sesuatu di luar dirinya. Kemanusiaan terpasung di situ. Kebebasan dalam mengekspresikan diri terpagari oleh aturan-aturan penuh sanksi.
Begitulah, sebagian besar umur manusia bukanlah milik dirinya. Umur atau waktu, menjadi milik peran-peran yang mesti disandang manusia. Tinggal dijalani, dan tak mudah diberontaki. Yang tersisa bagi manusia hanya ingatan, kenangan yang tak habis dimakan sunyi. Di situ, manusia jadi terasingkan dari dirinya sendiri. Merasa diri kurang punya makna.
Kehadiran diri hanya bisa dipenuhi oleh peranan-peranan dari luar. Ia sebagai bagian dari sesuatu yang lebih luas. Diposisikan, ditugasi, dinilaikan, dan dikekang. Sebab, ia bukan milik dirinya. Ia milik aturan-aturan. Kurang lebih sama dengan benda-benda. Di tingkat ini, ketika kesadaran diri telah bangkit, dua pilihan buruk bisa terwujud. Pilihan pertama, tindakan agresif brutal. Bersifat menyerang, merusak, dan dorongan untuk menguasai orang-orang lain. Suatu keinginan untuk balas dendam atau keinginan untuk membalik keadaan. Pilihan kedua, tindakan apatis. Kepercayaan terhadap orang lain, bahkan kepercayaan kepada diri sendiri, telah sirna. Ia merasa tidak lagi punya makna. Juga dunia tidak punya makna. Tiada perlu lagi beraktivitas. Atau bisa jadi, menganggap tiada perlu lagi melanjut hidup. Bunuh diri sosial, ataupun bunuh diri nyata. Lenyap. Mati, sendiri, dan tak terpahami.
Hukum alam, ah logika ini memang penting bagi peradapan. Tentang kemutlakannya, beberapa ihwal masih perlu dipertimbangkan. Berita-berita dari puisi, semacam berita puisi Heri Latief sungguh patut untuk diberi perhatian, diberi tempat berbiak. Dengan harapan sederhana: agar kelak, anak-anak kita masih bisa membaca hakikat cinta, dan manusia masih ada.***
*) Studio Gapus, Surabaya.
Rabu, 08 September 2010
Kesusastraan Indonesia 25 Tahun ke Depan
Ribut Wijoto
http://www.sinarharapan.co.id/
Tahun 1930-an, para sastrawan mampu menghasilkan pemikiran visioner. Pemikiran hasil perdebatan dengan melibatkan beragam pandangan. Bersandar pada realitas saat itu, para sastrawan memandang jauh untuk memberi arah serta gambaran kondisional sastra ke depan. Sampai kini, suara-suara dari perdebatan tersebut masih menggema.
Awal tahun 1990-an, para sastrawan juga terlibat dengan berbagai spekulasi tentang masa depan sastra. Perdebatan yang berasal dari imbas pemikiran posmodern. Walau tidak terlalu berpijak pada realitas konkret di Indonesia, tema perdebatan meluas hingga mampu memberi alternatif masa depan sastra kita.
Sayangnya, pada sepuluh tahun terakhir, sastrawan-sastrawan kita tampak kesulitan mencari tema besar yang merangsang munculnya kompleksitas pemikiran. Esai-esai di media massa hanya berkutat pada tema-tema fragmentaris. Daya jangkaunya pun hanya bergaung dalam satu atau dua tahun. Tidak mampu memberi inspirasi terhadap disiplin ilmu lain di luar sastra.
Bersandar dari situasional ini, ranah sastra membutuhkan perdebatan yang melambung jauh. Tidak saja bersandar pada kondisi sastra saat ini, perdebatan melibatkan kondisi kesusastraan jauh di masa silam. Orientasinya pun di arahkan jauh ke depan. Tidak hanya untuk kepentingan satu atau lima tahun ke depan, visi yang usung melompat hingga ke puluhan tahun mendatang. Misalnya, memperdebatkan kondisi kesusastraan 25 tahun ke depan.
Lompatan jauh ke depan ini penting digagas untuk memberi ruang bagi fantasi, prediksi, dan utopia. Pemberian ruang-ruang tersebut diharapkan menghasilkan pemikiran yang segar (fresh) dan inspiratif. Tentu saja tetap bersandar pada realitas sekarang. Pun juga, perdebatan melibatkan jejak-jejak peristiwa maupun perkembangan yang telah diraih dalam sejarah kesusastraan Indonesia selama ini.
Memprediksi kondisi kesusastran Indonesia 25 tahun ke depan membutuhkan pertimbangan teknologi. Sejarah sastra di tanah air mencatat, teknologi memiliki pengaruh besar terhadap publikasi karya sastra. Sastrawan tidak perlu membuat pertemuan langsung dengan masyarakat untuk menyiarkan hasil ciptaannya. Penerbitan buku, majalah, dan koran sudah mampu menggantikan pertemuan yang bersifat tradisi lisan tersebut. Bahkan tidak hanya sekadar publikasi, media massa mampu membentuk konstruksi teks. Utamanya bentuk prosa.
Cerpen Indonesia saat ini lebih dikenal melalui format cerpen koran, luasnya kurang lebih antara 6-8 halaman. Di luar jumlah itu, cerpen menjadi terasa terlalu pendek atau terlalu panjang. Padahal pada zaman Idrus, cerpen bisa sangat panjang. Semisal pada cerpen cerdas berjudul Surabaya.
Koran juga berpengaruh besar dalam melegitimasi ketokohan sastrawan. Mayoritas tokoh sastra Indonesia saat ini mempublikasikan karya dan pemikirannya lewat koran. Dua puluh lima tahun ke depan, keberadaan koran masih belum jelas. Ke depan, masyarakat membutuhkan distribusi berita secara cepat dan berharga murah. Koran tidak belum mampu memenuhi dua syarat tersebut. Pertama, koran menjual berita yang telah basi. Peristiwa hari ini dijual besuk. Bandingkan dengan portal berita (internet), peristiwa hari ini langsung disajikan hari ini pula. Koran juga belum mampu menggratiskan berita. Orang harus membeli untuk bisa mendapatkan beberapa lembar kertas yang biasa disebut koran itu. Bandingkan dengan televisi. Masyarakat sudah dijejali beragam berita tanpa harus kehilangan uang.
Dua kendala ini membuat bentuk koran menjadi tidak efektif dan kurang ramah lingkungan. Keberadaan koran pun diragukan mampu bertahan dalam 25 tahun ke depan. Imbasnya, keberadaan tradisi sastra koran turut diragukan. Imbas lainnya, sastrawan butuh media lain untuk membangun ketokohannya. Entah melalui internet maupun even-even tingkat nasional.
Keberadaan internet dan even pun sebenarnya masih mencemaskan. Internet dikenal sangat demokratis. Setiap orang berhak menayangkan hasil karyanya tanpa ada kurasi yang ketat. Media internet semacam fecebook dan lain-lain memang tidak butuh kurator. Komentar-komentar yang dilontarkan pun jarang yang metodis dan memakai pendekatan standar. Mayoritas berupa pujian sebagai bentuk perhormatan atas pertemanan. Begitu pula dengan keberadaan even nasional. Ke depan, hubungan antara pribadi sastrawan dengan dunia luar semakin terbuka. Bebepergian ke luar negeri pun bakal semakin mudah dan murah. Bisa jadi, sastrawan lebih suka menulis karya sastra berbahasa Inggris dan meluncurkan karyanya ke Manchester atau Singapura daripada Jakarta. Kualitas even di Jakarta, barangkali, menjadi sama nilainya dengan acara pertemuan sastra di tingkat kabupaten.
Rapuhnya batas-batas negara ini tentu erat kaitannya dengan sektor ekonomi. Awal tahun ini, setahap demi setahap, Indonesia mulai memasuki perdagangan bebas. Produk-produk luar negeri mulai merambah ke tanah air. Kondisi ini semakin lama akan semakin memuncak. Apakah ada jaminan bahwa nantinya karya sastra Indonesia mampu memproteksi dirinya sendiri? Jika jawabannya, tidak, maka rak-rak toko buku bakal semakin dijejali dengan karya sastra asing.
Problem paling serius mungkin terjadi pada sektor bahasa. Kemampuan bahasa Indonesia untuk terus bertahan sangat diragukan. Perdagangan bebas dan menipisnya jarak antarbangsa membutuhkan satu bahasa yang sama. Peluang ini paling dimiliki oleh bahasa Inggris. Faktanya, mayoritas keluarga kelas menengah-atas lebih memilih membiasakan anaknya berbicara memakai bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Akhirnya anak-anak pun lebih pandai berbahasa Inggris daripada berbahasa Indonesia. Ketika anak-anak ini besar dan menulis sastra, sangat mungkin, mereka lebih memilih menuangkan gagasannya dalam bahasa Inggris. Jika zaman itu telah tiba, sastra Indonesia mungkin telah kesepian. Sastrawan kita akan berbondong-bondong meninggalkan bahasa Indonesia dan berpindah menulis dalam bahasa Inggris. Situasi tampaknya bergerak alamiah dan sulit untuk dihindari. Sama seperti perpindahan dari sastra berbahasa daerah ke sastra berbahasa Indonesia. Sikap yang perlu diantisipasi, jangan sampai sastrawan ke depan memperlakukan sejarah sastra secara semena-mena. Saat ini misalnya, sastrawan modern Indonesia seakan memutus hubungan dari sastra tradisional. Seakan-akan, sastra modern Indonesia hanya hasil adopsi dari sastra Barat.
Merujuk ke sejarah kesusastraan Indonesia, perubahan besar selalu terjadi dalam kurun 25 tahun. Kurun pertama adalah tahun 1910 hingga 1935. Periode ini ditandai dengan migrasi sastrawan-sastrawan Melayu menjadi ikon sastra Indonesia. Para kritikus lantas menyebut periode ini sebagai awal tradisi sastra modern Indonesia. Kurun kedua adalah tahun 1935 hingga tahun 1960. Pada periode ini, jejak sastra Melayu semakin sirna. Bahasa Indonesia mulai menemukan bentuk konkret. Sastrawan mempergunakan bahasa Indonesia secara verbal sehingga muncul karya berstruktur terbuka semacam puisi Chairil Anwar dan cerpen Idrus. Sastrawan luar etnis Melayu juga mulai bermunculan.
Kurun ketiga adalah tahun 1960 hingga tahun 1985. Periode ini merupakan puncak kesusastraan Indonesia. Beragam eksplorasi dilakukan, beragam tema diusung, dan beragam bentuk karya sastra dipamerkan. Hasilnya berupa karya Iwan Simatupang, Danarto, Budi Darma, Goenawan Mohamad, Subagio Sastrowardoyo, WS Rendra, Abdul Hadi WM, Sapardi Djoko Damono, Sutardji, dan lain sebagainya. Kurun keempat adalah tahun 1985 hingga tahun 2010. Periode ini ditandai dengan perubahan persepsi atas bahasa yang dilakukan Afrizal Malna dan Ayu Utami. Keduanya mengusung wacana posmodernisme ke dalam khazanah sastra Indonesia. Kurun terakhir adalah tahun 2010 hingga 2035. Pada kurun terakhir inilah, sastra Indonesia bisa jadi bakal bermigrasi dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris.
Walau bakal berganti bahasa, sastra akan tetap berkutat pada tema-tema laten. Semisal cinta, religiusitas, seks, perasaan-perasaan selalu terancam, kesunyian, kesepian, pengkhianatan, ataupun kerinduan. Itu artinya, personalitas dan kultur keindonesiaan belum akan hilang. Karya sastra tetap akan mengungkapkan persoalan-persoalan di sekitar sastrawannya. Idiom-idiom berasal dari gejala dan fakta setempat. Dimungkinkan, bakal muncul sastra berbahasa Inggris dengan karakter Indonesia.
Hanya saja, kondisi kehidupan masyarakat Indonesia tidak bisa dibayangkan sama persis dengan kondisi saat ini. Pasti terjadi perubahan sosial. Kehidupan di perkotaan, semisal Jakarta atau Surabaya saat ini, bakal menggejala di berbagai pelosok negeri. Imbasnya, pergaulan bertetangga yang intim seperti di desa semakin sulit ditemukan. Spirit gotong royong pelahan tapi pasti akan pudar. Kita tahu, di kota, seseorang lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor atau tempat kerja. Di luar jam itu, orang kota lebih memilih kumpul dengan teman sesama hobi. Semisal hobi olahraga, touring, komunitas penggemar burung, maupun komunitas kesenian. Ke depan, media internet juga akan semakin menyita waktu. Saat ini saja, orang ngobrol sambil membuka jejaring sosial. Kehidupan semacam itu dimungkinkan pola hidup orang di masa depan berbeda jauh dengan kehiudupan masyarakat sekarang. Bila struktur novel mengandaikan struktur masyarakat, konsekuensinya, perubahan dalam masyarakat juga berpengaruh besar terhadap struktur teks.
Sementara itu di ranah politik, ideologi yang bersifat kebangsaan dimungkinkan kian melemah. Kepercayaan orang terhadap partai berideologi keras pun lama kelamaan sirna. Masyaakat akan semakin pragmatis. Bahkan di beberapa negara Eropa, partai berhaluan kiri tidak lagi getol menyuarakan pertentangan kelas seperti yang didengungkan Karl Marx. Partai kiri lebih fokus pada tema-tema layanan publik dan lingkungan. Sebuah langkah cerdas, sebab, layanan publik dan problem lingkungan memang lebih menyentuh terhadap persoalan konkret masyarakat sekarang. Tema ini pula yang getol diunggahkan sastrawan Itali Calvino. Pilihan tema keras semacam yang dituliskan Pramodya Ananta Toer dalam novel Dia yang Menyerah bisa jadi tidak diproduksi lagi pada 25 tahun ke depan. Atau justru sebaliknya, jarak antara negara miskin dengan negara kaya kian melebar, jarak antara kelas atas dengan kelas bawah semakin menganga. Jika memang itu yang terjadi, mau tidak mau, ingin tidak ingin, sastra realisme sosial bakal tergulir secara alamiah. Kita tidak tahu pasti.
Yang pasti, sastra Indonesia ke depan tidak bisa menghindar dari kemutlakan sastra dunia. Batas antarbangsa pelahan sirna, hubungan antarwarga negera semakin dimudahkan, dan bahasa mengerucut pada satu bahasa tunggal. Ini semua musti dihadapi dan disiapkan sejak sekarang.
**Pernah dimuat di Harian Sinar Harapan, Sabtu (21 Agustus 2010)
** Tulisan ini sebenarnya adalah TOR yang saya siapkan untuk Talk Show “Kesusastraan Indonesia 25 Tahun ke Depan” dalam Festival Seni Surabaya (FSS) 2010, tanggal 9 November 2010 di Balai Pemuda Surabaya. Talk show rencananya menghadirkan narasumber: Budi Darma, S Yoga, Afrizal Malna, Nirwan Dewanto. Panelis: Mardi Luhung, Ayu Sutarto, Kris Budiman, Tjahjono Widianto. Naskah dari narasumber rencananya juga akan dibukukan. Adapun FSS secara keseluruhan akan digelar tanggal 6-14 November 2010.
http://www.sinarharapan.co.id/
Tahun 1930-an, para sastrawan mampu menghasilkan pemikiran visioner. Pemikiran hasil perdebatan dengan melibatkan beragam pandangan. Bersandar pada realitas saat itu, para sastrawan memandang jauh untuk memberi arah serta gambaran kondisional sastra ke depan. Sampai kini, suara-suara dari perdebatan tersebut masih menggema.
Awal tahun 1990-an, para sastrawan juga terlibat dengan berbagai spekulasi tentang masa depan sastra. Perdebatan yang berasal dari imbas pemikiran posmodern. Walau tidak terlalu berpijak pada realitas konkret di Indonesia, tema perdebatan meluas hingga mampu memberi alternatif masa depan sastra kita.
Sayangnya, pada sepuluh tahun terakhir, sastrawan-sastrawan kita tampak kesulitan mencari tema besar yang merangsang munculnya kompleksitas pemikiran. Esai-esai di media massa hanya berkutat pada tema-tema fragmentaris. Daya jangkaunya pun hanya bergaung dalam satu atau dua tahun. Tidak mampu memberi inspirasi terhadap disiplin ilmu lain di luar sastra.
Bersandar dari situasional ini, ranah sastra membutuhkan perdebatan yang melambung jauh. Tidak saja bersandar pada kondisi sastra saat ini, perdebatan melibatkan kondisi kesusastraan jauh di masa silam. Orientasinya pun di arahkan jauh ke depan. Tidak hanya untuk kepentingan satu atau lima tahun ke depan, visi yang usung melompat hingga ke puluhan tahun mendatang. Misalnya, memperdebatkan kondisi kesusastraan 25 tahun ke depan.
Lompatan jauh ke depan ini penting digagas untuk memberi ruang bagi fantasi, prediksi, dan utopia. Pemberian ruang-ruang tersebut diharapkan menghasilkan pemikiran yang segar (fresh) dan inspiratif. Tentu saja tetap bersandar pada realitas sekarang. Pun juga, perdebatan melibatkan jejak-jejak peristiwa maupun perkembangan yang telah diraih dalam sejarah kesusastraan Indonesia selama ini.
Memprediksi kondisi kesusastran Indonesia 25 tahun ke depan membutuhkan pertimbangan teknologi. Sejarah sastra di tanah air mencatat, teknologi memiliki pengaruh besar terhadap publikasi karya sastra. Sastrawan tidak perlu membuat pertemuan langsung dengan masyarakat untuk menyiarkan hasil ciptaannya. Penerbitan buku, majalah, dan koran sudah mampu menggantikan pertemuan yang bersifat tradisi lisan tersebut. Bahkan tidak hanya sekadar publikasi, media massa mampu membentuk konstruksi teks. Utamanya bentuk prosa.
Cerpen Indonesia saat ini lebih dikenal melalui format cerpen koran, luasnya kurang lebih antara 6-8 halaman. Di luar jumlah itu, cerpen menjadi terasa terlalu pendek atau terlalu panjang. Padahal pada zaman Idrus, cerpen bisa sangat panjang. Semisal pada cerpen cerdas berjudul Surabaya.
Koran juga berpengaruh besar dalam melegitimasi ketokohan sastrawan. Mayoritas tokoh sastra Indonesia saat ini mempublikasikan karya dan pemikirannya lewat koran. Dua puluh lima tahun ke depan, keberadaan koran masih belum jelas. Ke depan, masyarakat membutuhkan distribusi berita secara cepat dan berharga murah. Koran tidak belum mampu memenuhi dua syarat tersebut. Pertama, koran menjual berita yang telah basi. Peristiwa hari ini dijual besuk. Bandingkan dengan portal berita (internet), peristiwa hari ini langsung disajikan hari ini pula. Koran juga belum mampu menggratiskan berita. Orang harus membeli untuk bisa mendapatkan beberapa lembar kertas yang biasa disebut koran itu. Bandingkan dengan televisi. Masyarakat sudah dijejali beragam berita tanpa harus kehilangan uang.
Dua kendala ini membuat bentuk koran menjadi tidak efektif dan kurang ramah lingkungan. Keberadaan koran pun diragukan mampu bertahan dalam 25 tahun ke depan. Imbasnya, keberadaan tradisi sastra koran turut diragukan. Imbas lainnya, sastrawan butuh media lain untuk membangun ketokohannya. Entah melalui internet maupun even-even tingkat nasional.
Keberadaan internet dan even pun sebenarnya masih mencemaskan. Internet dikenal sangat demokratis. Setiap orang berhak menayangkan hasil karyanya tanpa ada kurasi yang ketat. Media internet semacam fecebook dan lain-lain memang tidak butuh kurator. Komentar-komentar yang dilontarkan pun jarang yang metodis dan memakai pendekatan standar. Mayoritas berupa pujian sebagai bentuk perhormatan atas pertemanan. Begitu pula dengan keberadaan even nasional. Ke depan, hubungan antara pribadi sastrawan dengan dunia luar semakin terbuka. Bebepergian ke luar negeri pun bakal semakin mudah dan murah. Bisa jadi, sastrawan lebih suka menulis karya sastra berbahasa Inggris dan meluncurkan karyanya ke Manchester atau Singapura daripada Jakarta. Kualitas even di Jakarta, barangkali, menjadi sama nilainya dengan acara pertemuan sastra di tingkat kabupaten.
Rapuhnya batas-batas negara ini tentu erat kaitannya dengan sektor ekonomi. Awal tahun ini, setahap demi setahap, Indonesia mulai memasuki perdagangan bebas. Produk-produk luar negeri mulai merambah ke tanah air. Kondisi ini semakin lama akan semakin memuncak. Apakah ada jaminan bahwa nantinya karya sastra Indonesia mampu memproteksi dirinya sendiri? Jika jawabannya, tidak, maka rak-rak toko buku bakal semakin dijejali dengan karya sastra asing.
Problem paling serius mungkin terjadi pada sektor bahasa. Kemampuan bahasa Indonesia untuk terus bertahan sangat diragukan. Perdagangan bebas dan menipisnya jarak antarbangsa membutuhkan satu bahasa yang sama. Peluang ini paling dimiliki oleh bahasa Inggris. Faktanya, mayoritas keluarga kelas menengah-atas lebih memilih membiasakan anaknya berbicara memakai bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Akhirnya anak-anak pun lebih pandai berbahasa Inggris daripada berbahasa Indonesia. Ketika anak-anak ini besar dan menulis sastra, sangat mungkin, mereka lebih memilih menuangkan gagasannya dalam bahasa Inggris. Jika zaman itu telah tiba, sastra Indonesia mungkin telah kesepian. Sastrawan kita akan berbondong-bondong meninggalkan bahasa Indonesia dan berpindah menulis dalam bahasa Inggris. Situasi tampaknya bergerak alamiah dan sulit untuk dihindari. Sama seperti perpindahan dari sastra berbahasa daerah ke sastra berbahasa Indonesia. Sikap yang perlu diantisipasi, jangan sampai sastrawan ke depan memperlakukan sejarah sastra secara semena-mena. Saat ini misalnya, sastrawan modern Indonesia seakan memutus hubungan dari sastra tradisional. Seakan-akan, sastra modern Indonesia hanya hasil adopsi dari sastra Barat.
Merujuk ke sejarah kesusastraan Indonesia, perubahan besar selalu terjadi dalam kurun 25 tahun. Kurun pertama adalah tahun 1910 hingga 1935. Periode ini ditandai dengan migrasi sastrawan-sastrawan Melayu menjadi ikon sastra Indonesia. Para kritikus lantas menyebut periode ini sebagai awal tradisi sastra modern Indonesia. Kurun kedua adalah tahun 1935 hingga tahun 1960. Pada periode ini, jejak sastra Melayu semakin sirna. Bahasa Indonesia mulai menemukan bentuk konkret. Sastrawan mempergunakan bahasa Indonesia secara verbal sehingga muncul karya berstruktur terbuka semacam puisi Chairil Anwar dan cerpen Idrus. Sastrawan luar etnis Melayu juga mulai bermunculan.
Kurun ketiga adalah tahun 1960 hingga tahun 1985. Periode ini merupakan puncak kesusastraan Indonesia. Beragam eksplorasi dilakukan, beragam tema diusung, dan beragam bentuk karya sastra dipamerkan. Hasilnya berupa karya Iwan Simatupang, Danarto, Budi Darma, Goenawan Mohamad, Subagio Sastrowardoyo, WS Rendra, Abdul Hadi WM, Sapardi Djoko Damono, Sutardji, dan lain sebagainya. Kurun keempat adalah tahun 1985 hingga tahun 2010. Periode ini ditandai dengan perubahan persepsi atas bahasa yang dilakukan Afrizal Malna dan Ayu Utami. Keduanya mengusung wacana posmodernisme ke dalam khazanah sastra Indonesia. Kurun terakhir adalah tahun 2010 hingga 2035. Pada kurun terakhir inilah, sastra Indonesia bisa jadi bakal bermigrasi dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris.
Walau bakal berganti bahasa, sastra akan tetap berkutat pada tema-tema laten. Semisal cinta, religiusitas, seks, perasaan-perasaan selalu terancam, kesunyian, kesepian, pengkhianatan, ataupun kerinduan. Itu artinya, personalitas dan kultur keindonesiaan belum akan hilang. Karya sastra tetap akan mengungkapkan persoalan-persoalan di sekitar sastrawannya. Idiom-idiom berasal dari gejala dan fakta setempat. Dimungkinkan, bakal muncul sastra berbahasa Inggris dengan karakter Indonesia.
Hanya saja, kondisi kehidupan masyarakat Indonesia tidak bisa dibayangkan sama persis dengan kondisi saat ini. Pasti terjadi perubahan sosial. Kehidupan di perkotaan, semisal Jakarta atau Surabaya saat ini, bakal menggejala di berbagai pelosok negeri. Imbasnya, pergaulan bertetangga yang intim seperti di desa semakin sulit ditemukan. Spirit gotong royong pelahan tapi pasti akan pudar. Kita tahu, di kota, seseorang lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor atau tempat kerja. Di luar jam itu, orang kota lebih memilih kumpul dengan teman sesama hobi. Semisal hobi olahraga, touring, komunitas penggemar burung, maupun komunitas kesenian. Ke depan, media internet juga akan semakin menyita waktu. Saat ini saja, orang ngobrol sambil membuka jejaring sosial. Kehidupan semacam itu dimungkinkan pola hidup orang di masa depan berbeda jauh dengan kehiudupan masyarakat sekarang. Bila struktur novel mengandaikan struktur masyarakat, konsekuensinya, perubahan dalam masyarakat juga berpengaruh besar terhadap struktur teks.
Sementara itu di ranah politik, ideologi yang bersifat kebangsaan dimungkinkan kian melemah. Kepercayaan orang terhadap partai berideologi keras pun lama kelamaan sirna. Masyaakat akan semakin pragmatis. Bahkan di beberapa negara Eropa, partai berhaluan kiri tidak lagi getol menyuarakan pertentangan kelas seperti yang didengungkan Karl Marx. Partai kiri lebih fokus pada tema-tema layanan publik dan lingkungan. Sebuah langkah cerdas, sebab, layanan publik dan problem lingkungan memang lebih menyentuh terhadap persoalan konkret masyarakat sekarang. Tema ini pula yang getol diunggahkan sastrawan Itali Calvino. Pilihan tema keras semacam yang dituliskan Pramodya Ananta Toer dalam novel Dia yang Menyerah bisa jadi tidak diproduksi lagi pada 25 tahun ke depan. Atau justru sebaliknya, jarak antara negara miskin dengan negara kaya kian melebar, jarak antara kelas atas dengan kelas bawah semakin menganga. Jika memang itu yang terjadi, mau tidak mau, ingin tidak ingin, sastra realisme sosial bakal tergulir secara alamiah. Kita tidak tahu pasti.
Yang pasti, sastra Indonesia ke depan tidak bisa menghindar dari kemutlakan sastra dunia. Batas antarbangsa pelahan sirna, hubungan antarwarga negera semakin dimudahkan, dan bahasa mengerucut pada satu bahasa tunggal. Ini semua musti dihadapi dan disiapkan sejak sekarang.
**Pernah dimuat di Harian Sinar Harapan, Sabtu (21 Agustus 2010)
** Tulisan ini sebenarnya adalah TOR yang saya siapkan untuk Talk Show “Kesusastraan Indonesia 25 Tahun ke Depan” dalam Festival Seni Surabaya (FSS) 2010, tanggal 9 November 2010 di Balai Pemuda Surabaya. Talk show rencananya menghadirkan narasumber: Budi Darma, S Yoga, Afrizal Malna, Nirwan Dewanto. Panelis: Mardi Luhung, Ayu Sutarto, Kris Budiman, Tjahjono Widianto. Naskah dari narasumber rencananya juga akan dibukukan. Adapun FSS secara keseluruhan akan digelar tanggal 6-14 November 2010.
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel GarcÃa Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati