Tampilkan postingan dengan label Ahmad Muchlish Amrin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahmad Muchlish Amrin. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 November 2010

Bila Puisi Menggugat Cinta

Ach. Muchlish Ar
http://www.kr.co.id/

PUISI adalah suara hati nurani melalui mediasi kata yang sarat dengan makna. Bahkan setiap kata dalam puisi diisi roh oleh penyairnya, agar pembaca dapat masuk ke ruang rasa yang ‘suci’ sebagai hasil kontemplasi penyair merespons segala realitas. Hal ini oleh kalangan umum disebut “spirit power” yang menggugah pembaca dan pendengar untuk larut dan tenggelam di dunia teks. Sehingga pembaca sastra (puisi) cenderung terpesona oleh tampilan kata dan makna yang khas dan mendalam yang dideskripsikan oleh penyair.

Membaca antologi puisi tunggal Hasta Indriyana yang berjudul Tuhan, Aku Lupa Menulis Sajak Cinta seakan-akan larut di dunia kata. Karena penyairnya telah berupaya untuk bermain-main dengan kata walaupun makna, rasa, dan kekuatan estetik dari puisi tersebut memantulkan sinar yang sedikit buram atau seperti pendar teplok yang kehabisan minyak. Ini sebuah antologi pertama penyair muda kita yang terburu-buru menerbitkan karyanya (meminjam bahasanya Zainal Arifin Thaha, 2004). Karena dilatarbelakangi oleh “sofistikasi-deduktif” (kegenitan untuk bercanggih-canggih). Hal ini juga diiyakan oleh penyair perempuan yang sangat perhatian pada proses, yaitu Evi Idawati. Dalam antologi ini, Hasta tidak menaruh spisifikasi tema yang memungkinkan pandangannya terhadap objek tertentu secara mendalam, sehingga lahirnya antologi tidak wagu dan cenderung stereotipe.

Raudal Tanjung Banua dalam pengantar antologi ini menyebutkan, Hasta masih banyak terpengaruh oleh silogisme gurunya, Iman Budhi Santosa, yang mengambil tema Jawa (kampung-halaman), dan cenderung tradisional-romantis. Kenyataan ini semakin menafikan hadirnya Hasta Indriyana di pentas kesusastraan Indonesia, jika Hasta tidak menampilkan pandangan lain dan aliran lain dalam sajak-sajaknya. Karena upaya yang dibangunnya telah ditulis oleh pendahulunya seperti Iman Budi Santosa, Linus Suryadi AG, Suminto A. Suyuti yang jauh lebih canggih dalam mencitrakan Taman Sari, Campurasari, Tembang Tlutur dan realitas panembahan kebudayaan Jawa. Maka kehadiran Hasta menjadi keniscayaan di pentas kesusastraan kita.

Seorang penyair, sastrawan, budayawan, seniman harus rela menunggu “proses” sebagai kawan sejawat yang tidak pernah pergi mulai dari manusia pertama, ‘Adam’ hingga nanti di akhir zaman. Kata itu menjadi tugu bagi perjalanan kehidupan seorang sastrawan. Menjaga tugu itu harus sabar bertahun-tahun dengan bersanding kata, memindahkan kata dari lorong satu ke lorong lain, yang tak sesuai warna satu dengan warna lain sehingga kata itu terlihat dengan rapi dan menarik. Disanalah letak nilai estetika sebuah karya sastra yang akan menggiurkan pembaca.

Ke-wadag-an antologi ini kita lihat dalam puisi yang berjudul Tuhan, Aku Lupa Menulis Sajak Cinta yang mewakili keseluruhan antologi ini:

Kau paham, puisi pun menyediakan ruang
Bagi bait-bait cinta. Yang teduh yang jujur
Yang selalu mendesirkan harum bunga-bunga

Bait pertama dalam sajak di atas, aku (lirik) telah menggurui pembaca. Toh pada hakikatnya pembaca lebih cerdas dari penyairnya sendiri. Walaupun tidak diungkapkan dalam kata-kata kau paham puisi pun menyediakan bait-bait cinta, pembaca telah tahu bahwa puisi adalah ruang estetik sebagai saudara kandung dari cinta itu sendiri. Cinta dan estetika tidak bisa dipisahkan antara satu dan yang lainnya, sebab apabila estetika tanpa cinta maka estetika itu akan gagal menjadi nilai yang indah. Begitu pula sebaliknya, cinta tanpa estetika akan menjadi kering dan kerontang. Puisi yang terlalu menggurui kepada pembaca pada hakikatnya menganggap pembaca seperti patung yang tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali diam. Anggapan semacam ini pada hakikatnya anggapan yang tidak kreatif.

Pada bait ketiga puisi ini telah menegasikan bait pertamanya. Jika pada bait awal aku (lirik) mengekspresikan secara jelas dan menyatakan dengan tegas bahwa puisi menyediakan ruang cinta yang seakan-akan penyairnya telah lama hidup di ruang itu, namun pada bait ketiga ini menyatakan Aku pun ingin menulis cinta di lembar yang selalu terbuka. Dengan pernyataan ini, ternyata aku (lirik) masih bercita-cita untuk bercinta. Di sinilah letak absurditas dalam antologi ini. Sehingga Hasta perlu mempelajari tiga persoalan yang diajukan oleh Raudal Tanjung Banua dalam pengantarnya itu.

Pertama, bagaimana menghadirkan tema spisifik di tengah berbagai tema yang ada, demi penajaman ruang lingkup estetik dalam ruang lingkup keberpihakan? Kedua, bagaimanakah bekal kampung-halaman dapat dipertanggungjawabkan dalam penajaman kerja estetik, terutama pada soal keberjarakan? Ketiga sejauh manakah totalitas aku (lirik) memberi sumbangan bagi penajaman misi estetik yang hubungannya dengan keterlibatan. Kemudian saya akan menambahkan dua catatan lagi.

(1) sejauh mana kematangan idealitasnya sebelum menulis sajak sehingga cenderung berbobot dan bermutu? Artinya dalam menulis sebuah puisi, berangkat dari pengalaman diri sendiri yang diakui oleh mayoritas, Misalnya seperti sajak Honey Moon (Bulan Madu) karya Abdul Wachid Bs. dalam antologi Ijinkan Aku Mencintaimu. Puisi itu ditulis berdasarkan penelitian pada bulan madu yang dialami dirinya sendiri, teori dan yang dialami oleh orang lain. Abdul Wachid Bs. telah melakukan penggabungan antara rasionalisme dan empirisisme. Jadi, jika demikian pembangunan ide yang dilakukan Achid dalam puisinya sangat kuat dan tajam, dan referensinya juga kuat. (2) Bagaimana karakteristik menggurui pembaca tidak lagi muncul dalam puisi Hasta.

Catatan-catatan di atas merupakan sebuah control eksternal-kontruktif sebagai upaya untuk memperbaiki bersama dan merupakan upaya (wa tawa shaubil-haq wa tawa shau bis-shabr) mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran (QS al-ashr:3). Tidak ada ceritanya, seniman atau sastrawan, tidak punya kepedulian pada sesama, lingkungan dan alam semesta. Apa artinya kata-kata jika kita tidak punya rasa, apa artinya rasa jika tidak ingin berbagi pada sesama. Maka semuanya akan absurd, akan terjadi tsunami pada batin kita masing-masing karena dikejar oleh image-image yang membuat diri terasing. Oleh karena itu puisi dalam antologi ini telah sah menjadi puisi, namun belum menjadi teks sastra yang dapat menggugah pembaca untuk berimajinasi lebih jauh dan mendalam. Tidak sebagaimana puisi-puisinya Chairil Anwar, Sutardji Colzoum Bahri, D. Zawawi Imron, Acep Zam-zam Noor yang lumayan nikmat dan imajinatif. Membaca satu di antara sajak-sajak mereka seperti membaca ribuan lembar sejarah umat manusia, filsafat, sosiologi, tasawuf dan lain sebagainya. Wallu A’lam.

Penulis adalah santri di Pesantren Budaya Hasyim Asy’arie & Pengelola Roma Seni Bungkal Madura-Yogyakarta

Sabtu, 17 Januari 2009

Malin Kundang Pulang Kampung

Ahmad Muchlish Amrin
http://entertainmen.suaramerdeka.com/

TERSIAR kabar dari toekang tjerita tentang Malin Kundang yang dikutuk Ibunya jadi batu, mungkin ingatanmu akan menjalar ke masa lampau bila di antara kita ada yang enggan pulang. Ah, toekang tjerita sudah mati, tinggal aku yang diwarisi cerita dan aku akan mengisahkan kembali padamu, mungkin kau akan menuduh kisah ini adalah cerita yang sesat. Tapi simaklah baik-baik kalimat demi kalimat yang menyimpan matahari asing.
***

IA tertatih. Pincang. Dan di matanya, tumbuh gelombang. Bau cibitung melenggang setiap desir angin. Sore itu, ia menyusuri sepanjang pantai. Pasir putih di pesisir dihablur busa putih bersih. Ia meniti di atas batu-batu yang diukir air garam. Asin mata waktu. Ia melewati bongkahan kelapa yang lunglai dibelai angin dingin. Kadang bila capai, ia duduk di atas karang, menatap laut seberang sembari meniup saluang.

Senja di matanya cekung mirip laut. Lalu ia menangkap merah cahaya di langit seolah di jauh sana ada istana. Seolah-olah di tengah laut lepas itu terdapat sebuah pulau dan suara perempuan jelita. Juga suara panggilan dari orang-orang yang tinggal di pulau itu. Paranoid. Ia dengarkan suara-suara itu. Ia rapatkan daun telinganya pada kilasan angin. Semakin keras. Semakin menyayat. Ia amat gelisah karena panggilan menyayat itu terus terngiang di telinga. Tubuhnya dingin menggigil.

"Malin, kau sakit?" tanya istrinya yang baru muncul dari balik pasir menggunung.

Menggeleng. Mulutnya bergeming. Air mata menggelimang di pipinya yang agak menghitam. Telapak tangan dan kakinya keringatan. Sakit jantung? Atau ia akan terkapar di pembaringan selama berbulan-bulan? Kemudian ia menutup telinga, menunduk seolah sayatan demi sayatan betul-betul mengubah degub jantungnya.

"Kau kenapa, Malin?" istrinya tak mengerti.
"Dengarkan sayatan itu, istriku! Panggilan itu!"

Angin melerai rambutnya yang kusut dan sedikit pirang. Istrinya memegang daun telinga bermaksud mendengarkan sayatan suara. Tak ada. Tak sedikit pun perempuan yang dicintai mendengar suara-suara. Kemudian perempuan bergelung itu memeluknya dan mengajaknya pulang ke gubuk yang tak jauh dari pantai. Sementara suara-suara di pulau seberang semakin menyayat, seperti peperangan tak kunjung usai, tangisan anak-anak kecil, perempuan-perempuan. Udara terkoyak. Suara-suara itu terus terngiang di telinga Malin. Tubuhnya yang kerempeng semakin menggigil.

"Dengarkan suara sayatan itu, istriku! Dengarkan!"
"Aku tak dapat mendengar, Malin!"
"Apa gendang telingamu telah pecah?"

Diam. Perempuan itu menuang hasil jala bibit udang ke sebuah ember berwarna hitam. Mata merah senja mengedipkan luka. Perempuan itu mengapit Malin pulang ke gubuk, mengusap-usap kepalanya yang panas dingin. Kemudian istrinya segera menuju dapur. Memasak. Namun setiap kali Malin membuka telinganya, sayatan terdengar begitu menyesakkan dadanya ìLeungli! Leungli!" kata-kata itu tiba-tiba menyeruak dari mulut Malin. Kemudian Malin keluar dari gubuknya, ia menatap ke luar jendela.

Lelaki semata wayang itu segera membuntal pakaiannya dengan sebuah sarung kotak-kotak. Ia menggendongnya dan pelan-pelan mendekati istrinya yang sedang berjongkok di dekat tungku di dapur. Ia pamit padanya, agar ia diizinkan berlayar menuju jangkar yang memendarkan sayatan dan panggilan itu "Tapi, tapi, kau kan sakit, Malin?"

"Dengan keberangkatan ini, kuharap angin tak mendarahkan gelombangî.

ìAku khawatir! Aku khawatir."

"Biarkan aku akan pergi ke kampung Ibu," sembari mengarahkan telunjuknya pada sebuah pulau yang penuh asap melindap ke udara dan terlihat api menyala di tengah malam petang. Kali ini, istrinya dapat melihat pulau penuh asap itu. Namun tiba-tiba ia teringat ayah Malin yang meninggal dalam perang Paderi , ya, ayah Malin Kundang sudah tiada, ia gugur di bawah moncong peluru tentara berseragam hijau itu.

"Tapi? Tapi?" perempuan itu terlihat bingung.

Malin segera keluar dari gubuknya, ia menggendong buntalan sarung dan di tangannya sebuah pisang dan dua buah kelapa muda, ia melangkah pelan ke pantai, melewati bukit pasir pesisir. Ia berdiri tegak seolah-olah ia sedang mengumandangkan kata-kata dalam hatinya--Ah, Sungguh nyeri gelisah semakin basah--Malin menghenyakkan napas.

Ia melecut temali sampan yang menghunjam dalam air, lalu ia membuka layar dan menaikinya. Malin menatap istrinya yang berdiri di atas bukit pasir, gerimis di matanya turun berkelindan "Istriku, aku akan berangkat" tak ada sahut menyayat di udara, hanya deru angin, tatapan sendu memalu hatinya, seolah-olah istrinya berkata padanya "Malin, Sampaikan salamku pada Ibu, bila sudah tiba saatnya, kuharap kau segera pulang. Aku menunggumu".

Pelan-pelan Malin mendayung sampan yang ditumpanginya itu, namun tatapannya tetap terpagut pada istri yang mematung di atas bukit pasir. Dadanya sesak digasak sekian kangen dan kerinduan pada Ibunya, juga istri yang ditinggalkannya. Ia menoleh pada perempuan yang berdiri di atas bukit itu, ia menatap dalam-dalam hingga hilang bayang-bayang sampan. Malin kembali meniup saluang dan bernyanyi di atas sampan :

Angin laut mengantarku pulang
Menemui ibuku tersayang
Kangen menderu ke ambang
Tak dapat dikekang oleh bimbang

Dilantunkan sejauh tenggara, sejauh mata memandang hingga bertemunya langit dan laut di seberang dan solah-olah ikan-ikan mengikutinya dengan riang.
***

DERU perdu terdengar bagai langgam para penyembah matahari. Melingkar. Mata mereka mencorong pada terik dan kedua belah tangan mereka dianjungkan ke atas. Sementara di tengah-tengah lingkaran mereka, seorang perempuan setengah telanjang. Berkutang. Dan kain menutup pahanya yang kuning langsat. Deru perdu itu terus menyayat jantung udara, seolah dendang ritus berdentang menghablur nyawa sunyi.

Malin, lelaki bermata cekung dengan kilatan bulan tsabit di alisnya segera tiba di tempat itu. Ia terpesona pada sekumpulan orang-orang seberang berkeliling bagai menerawang tujuh lapis langit. Ia melihat dari jauh, melihat dari balik pohon palma yang meliang di dekat sekumpulan orang itu. Sorot matanya tajam. Langgam terus runyam di kuping.

Byaarrr!! Degub jantung Malin mengehentak seketika, sorot matanya tertuju pada perempuan itu, ya, perempuan yang dikelilingi oleh beberapa lelaki. Kutang warna jingga dan kain tipis berwarna kelabu membalut tubuhnya. Sorot mata Malin makin tajam. Dan sesekali ia tercengang melihat perempuan itu.

"Ibu!" menyayat dalam hatinya.

Perempuan yang duduk di tengah lingkaran itu menoleh ke arah Malin, sedang Malin mengintip di balik pohon. Mungkin gelagat Malin diketahui perempuan itu. Ia mencari tahu. Ia keluar dari dalam lingkaran, sedangkan orang-orang yang melanggam itu masih khusyuk. Malin tetap mengintip di balik pohon palma itu, sedang perempuan yang dipanggil Ibu itu terus mencari tahu, siapa seseorang yang datang itu? Ah, perempuan itu terus mendekat. Malin lari dengan cepat. Ia mengejarnya. Malin lari ke arah pantai, ke arah ia menambatkan sampan. Ia makin dekat dan sampan Malin sudah tak ada, entah ke mana?

"Berhentilah anakku!"
"Kau? Kau?" terhenti.

Saling pandang. Perempuan itu terus mendekat pada lelaki yang pincang itu.

"Kau Malin, kan?"

Diam. Tatapannya seolah menusukkan anak panah di jantung Malin.

"Kau? Kau?" terhenti lagi. Malin tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Namun perempuan itu terus mendekatinya. Air matanya tumpah ruah di pipinya.

"Kau anakku, Malin."

Malin menggeleng. Ia mundur ketika ibunya mendekatinya, "Kenapa ini bisa terjadi, Ibu? Apakah Ibu sudah tidak sayang, Ayah? Kenapa Ibu tega begini?" tiba-tiba menggeliat di udara.

"Maksudmu Malin?"
"Kenapa kau tega melacur di sana, Ibu? Di antara kumpulan orang-orang sialan itu??"
"Apa??" perempuan itu menampar Malin. Keras. Malin terpelanting.
"Jaga mulutmu, Malin! Jaga! Ini sesembah pada Sang Hyang."
"Tapi? Tapi pakaianmu, Ibu?"
"Demi bumi, demi langit dan seisinya, demi lautan yang terbentang di depan kita, Ibu tak punya perangai seperti yang kau pikirkan, Malin."Tapi pakaian Ibu?"

Diam. Sunyi. Senyap.

Suatu ketika, Ibu masih ingat -perempuan itu bercerita, ia membelakangi lelaki pincang itu. Sebelum ayahmu berangkat ke medan laga, sebelum ayahmu meninggal, ia mengatakan pada Ibu, jagalah Malin agar Malin selalu berbakti pada orang tua, agar Malin selalu menjadi kebanggaan tanah kelahiran. Tapi nyatanya? Nyatanya kau punya pikiran macam itu pada Ibu. Nyatanya Ibu tak mampu mendidikmu, Malinóperempuan itu menunduk, dari matanya setetes dua tetes air bening mengalir.

Malin mengangguk. Ia tak kuasa menatapnya setelah sumpah serapah lungkrah di udara, setelah ibunya menutur pinutur tentang ayahnya. Malin segera menunduk di depan Ibunya, mencium kakinya sembari berkata "Mohon maaf, anakmu, Ibu! Tapi bila Ibu berbohong, berbohong pada janji ayah, semoga sang Hyang Widhi Yasa menjadikan Ibu batu hitam yang keras di sini, di pantai ini," kutuknya.

Kening perempuan itu berkerut. Ia menatap mata Malin dalam-dalam. Kemudian asap melindap dalam senyap. Aroma kampung asal menyeruap. Bayang-bayang perempuan yang mencintainya, ya, wajah perempuan yang berdiri di atas bukit pasir masih terngiang dalam ingatan Malin. Ia ingin menyampaikan salam rindu darinya, namun Malin masih teringat luka lama yang masih anyer di dada. Ah, ia diam, karena tak ingin menelan sejuta keperihan lain lagi.
***

DUA hari Malin bersama Ibunya. Dan siang itu, seonggok tubuh tiba-tiba membeku, angin ngungun, tiba-tiba langit mendung, Malin kaget, kepalanya mendongak ke atas, menatap ke depan, ke kanan, ke kiri, ke arah laut. Astaga! Apa ini. Deburan ombak menyambang dari depan, angin semakin kencang. Ikan-ikan di laut pada berdatangan menuju pantai, seolah-olah ia melingkupi dua anak manusia yang sedang tercengang di pantai. Ya, kaki perempuan itu mulai mengeras, kaki perempuan itu seperti yang dilem di atas pasir di pantai itu.

"Ibu! Kau kenapa? Katakan! Katakan sejujurnya Ibu! Apa sebenarnya yang terjadi pada Ibu?"

Perempuan itu seperti bengong. Ia mengusap-usap tubuhnya. Air matanya menggelinding di pipinya, meraba-raba kakinya yang mulai mengeras, betis, paha, perut, payudara, leher, telinga, hidung hingga rambut yang merumbai masai. Isak tangis semakin keras. Kedua kakinya seperti dipaku ke bumi, seperti akar menghunjam dan menjalar ke perut bumi. Malin segera memeluk Ibunya.

ìIbu, Ibu, Ibu,î terus mengalir dari mulut Malin. Namun tubuh itu terus membeku. Mengeras, semakin mengeras, tubuh itu terus membatu. Tak ada yang dapat menolong kutuk sumpah serapah, tak ada yang dapat menyelamatkan kecuali dirinya, namun semuanya sudah terlambat, semuanya sudah berjalan bagai jemari api yang meraba daun kering di ladang tebu.

Kini Ibu Malin sudah membeku, sudah mengeras menjadi batu karena kutuk sumpah serapah yang dilanggarnya, karena ia melalaikan janjinya pada kata-katanya sendiri. Mulai saat ini, di pinggir pantai ini, ada sebongkah batu yang murung yang selalu disembah seorang anak lelaki pincang setiap kepulangannya.
***

PAGI-PAGI, lelaki kurus kerempeng ini tiba di pantai, kakinya pincang, tubuhnya lunglai karena berhari-hari tidak tidur, berhari-hari terkapar di tengah lautan, menyeruak dari mulut lelaki itu ìIbu, sesungguhnya kampungku di kampungmuî, ia segera mencium kaki patung Ibunya yang mengganggang di pinggir pantai itu. Dan seolah-olah sebongkah batu yang berdiam di depan bukit pasir itu berkata pada Malin ìAnakku, jangan bosan-bosan nyambangi Ibu, sungguh kesepian tak tahan digemukkanî gerimis tiba-tiba turun dari kedua mata Malin, ia kembali mencium kaki Ibunya yang sudah menjadi batu.

Malin berbalik arah, menghadap laut luas, menatap bertemunya biru laut dan biru langit, kemudian ia berbalik lagi, menatap tubuh Ibunya dalam-dalam ìIbu, kaulah asal mula kehidupan, awal mula henyak nyawa yang kejam merajam, awal segala senyum tiramî berteriak keras-keras di pantai. Tangannya mengepal, kemudian lelaki itu telentang di pinggir, telentang di haribaan patung Ibunya itu.

"Aku ingin pulang padamu, Ibu! Aku ingin pulang."

Bermalam-malam dan berhari-hari Malin berdiam di dekat patung Ibunya, terik matahari tak terasa meski melukai tubuhnya, desir angin menggigil menikam detak jantungnya. Tak terasa. Rambutnya kusut pirang tak beraturan. Lupa. Ya, kerinduan pada Ibunya membuatnya gila. Ia tidak makan. Ia tidak minum. Ia duduk termenung. Murung. Ia ingin mati di tempat itu, sebab baginya kematian di haribaan Ibunya adalah inti kepulangan.

Dan sore itu, sebelum ajalnya pergi meninggalkan tubuhnya, hewan-hewan laut pada berdatangan padanya, mengirim kabar laut, bahkan ikan lumba-lumba mengajaknya pergi, ingin mengantarnya kemanapun ia akan pergi, namun Malin memilih tinggal bersama Ibunya "Tapi tolong sampaikan salamku pada perempuanku di pulau seberang," tukas Malin pada lumba-lumba itu "Inilah! Inilah suara sayatan yang amat keras itu, inilah cahaya yang selalu muncul di malam hari itu: cahaya Ibuî ikan lumba-lumba seolah mengangguk pertanda mengiyakan.

Malin menghenyakkan napasnya yang terakhir sore itu, bertepatan dengan masuknya matahari ke ufuk barat, ya, kini Malin Kundang telah pulang ke kampung kelahirannya.

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati