Ach. Muchlish Ar
http://www.kr.co.id/
PUISI adalah suara hati nurani melalui mediasi kata yang sarat dengan makna. Bahkan setiap kata dalam puisi diisi roh oleh penyairnya, agar pembaca dapat masuk ke ruang rasa yang ‘suci’ sebagai hasil kontemplasi penyair merespons segala realitas. Hal ini oleh kalangan umum disebut “spirit power” yang menggugah pembaca dan pendengar untuk larut dan tenggelam di dunia teks. Sehingga pembaca sastra (puisi) cenderung terpesona oleh tampilan kata dan makna yang khas dan mendalam yang dideskripsikan oleh penyair.
Membaca antologi puisi tunggal Hasta Indriyana yang berjudul Tuhan, Aku Lupa Menulis Sajak Cinta seakan-akan larut di dunia kata. Karena penyairnya telah berupaya untuk bermain-main dengan kata walaupun makna, rasa, dan kekuatan estetik dari puisi tersebut memantulkan sinar yang sedikit buram atau seperti pendar teplok yang kehabisan minyak. Ini sebuah antologi pertama penyair muda kita yang terburu-buru menerbitkan karyanya (meminjam bahasanya Zainal Arifin Thaha, 2004). Karena dilatarbelakangi oleh “sofistikasi-deduktif” (kegenitan untuk bercanggih-canggih). Hal ini juga diiyakan oleh penyair perempuan yang sangat perhatian pada proses, yaitu Evi Idawati. Dalam antologi ini, Hasta tidak menaruh spisifikasi tema yang memungkinkan pandangannya terhadap objek tertentu secara mendalam, sehingga lahirnya antologi tidak wagu dan cenderung stereotipe.
Raudal Tanjung Banua dalam pengantar antologi ini menyebutkan, Hasta masih banyak terpengaruh oleh silogisme gurunya, Iman Budhi Santosa, yang mengambil tema Jawa (kampung-halaman), dan cenderung tradisional-romantis. Kenyataan ini semakin menafikan hadirnya Hasta Indriyana di pentas kesusastraan Indonesia, jika Hasta tidak menampilkan pandangan lain dan aliran lain dalam sajak-sajaknya. Karena upaya yang dibangunnya telah ditulis oleh pendahulunya seperti Iman Budi Santosa, Linus Suryadi AG, Suminto A. Suyuti yang jauh lebih canggih dalam mencitrakan Taman Sari, Campurasari, Tembang Tlutur dan realitas panembahan kebudayaan Jawa. Maka kehadiran Hasta menjadi keniscayaan di pentas kesusastraan kita.
Seorang penyair, sastrawan, budayawan, seniman harus rela menunggu “proses” sebagai kawan sejawat yang tidak pernah pergi mulai dari manusia pertama, ‘Adam’ hingga nanti di akhir zaman. Kata itu menjadi tugu bagi perjalanan kehidupan seorang sastrawan. Menjaga tugu itu harus sabar bertahun-tahun dengan bersanding kata, memindahkan kata dari lorong satu ke lorong lain, yang tak sesuai warna satu dengan warna lain sehingga kata itu terlihat dengan rapi dan menarik. Disanalah letak nilai estetika sebuah karya sastra yang akan menggiurkan pembaca.
Ke-wadag-an antologi ini kita lihat dalam puisi yang berjudul Tuhan, Aku Lupa Menulis Sajak Cinta yang mewakili keseluruhan antologi ini:
Kau paham, puisi pun menyediakan ruang
Bagi bait-bait cinta. Yang teduh yang jujur
Yang selalu mendesirkan harum bunga-bunga
Bait pertama dalam sajak di atas, aku (lirik) telah menggurui pembaca. Toh pada hakikatnya pembaca lebih cerdas dari penyairnya sendiri. Walaupun tidak diungkapkan dalam kata-kata kau paham puisi pun menyediakan bait-bait cinta, pembaca telah tahu bahwa puisi adalah ruang estetik sebagai saudara kandung dari cinta itu sendiri. Cinta dan estetika tidak bisa dipisahkan antara satu dan yang lainnya, sebab apabila estetika tanpa cinta maka estetika itu akan gagal menjadi nilai yang indah. Begitu pula sebaliknya, cinta tanpa estetika akan menjadi kering dan kerontang. Puisi yang terlalu menggurui kepada pembaca pada hakikatnya menganggap pembaca seperti patung yang tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali diam. Anggapan semacam ini pada hakikatnya anggapan yang tidak kreatif.
Pada bait ketiga puisi ini telah menegasikan bait pertamanya. Jika pada bait awal aku (lirik) mengekspresikan secara jelas dan menyatakan dengan tegas bahwa puisi menyediakan ruang cinta yang seakan-akan penyairnya telah lama hidup di ruang itu, namun pada bait ketiga ini menyatakan Aku pun ingin menulis cinta di lembar yang selalu terbuka. Dengan pernyataan ini, ternyata aku (lirik) masih bercita-cita untuk bercinta. Di sinilah letak absurditas dalam antologi ini. Sehingga Hasta perlu mempelajari tiga persoalan yang diajukan oleh Raudal Tanjung Banua dalam pengantarnya itu.
Pertama, bagaimana menghadirkan tema spisifik di tengah berbagai tema yang ada, demi penajaman ruang lingkup estetik dalam ruang lingkup keberpihakan? Kedua, bagaimanakah bekal kampung-halaman dapat dipertanggungjawabkan dalam penajaman kerja estetik, terutama pada soal keberjarakan? Ketiga sejauh manakah totalitas aku (lirik) memberi sumbangan bagi penajaman misi estetik yang hubungannya dengan keterlibatan. Kemudian saya akan menambahkan dua catatan lagi.
(1) sejauh mana kematangan idealitasnya sebelum menulis sajak sehingga cenderung berbobot dan bermutu? Artinya dalam menulis sebuah puisi, berangkat dari pengalaman diri sendiri yang diakui oleh mayoritas, Misalnya seperti sajak Honey Moon (Bulan Madu) karya Abdul Wachid Bs. dalam antologi Ijinkan Aku Mencintaimu. Puisi itu ditulis berdasarkan penelitian pada bulan madu yang dialami dirinya sendiri, teori dan yang dialami oleh orang lain. Abdul Wachid Bs. telah melakukan penggabungan antara rasionalisme dan empirisisme. Jadi, jika demikian pembangunan ide yang dilakukan Achid dalam puisinya sangat kuat dan tajam, dan referensinya juga kuat. (2) Bagaimana karakteristik menggurui pembaca tidak lagi muncul dalam puisi Hasta.
Catatan-catatan di atas merupakan sebuah control eksternal-kontruktif sebagai upaya untuk memperbaiki bersama dan merupakan upaya (wa tawa shaubil-haq wa tawa shau bis-shabr) mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran (QS al-ashr:3). Tidak ada ceritanya, seniman atau sastrawan, tidak punya kepedulian pada sesama, lingkungan dan alam semesta. Apa artinya kata-kata jika kita tidak punya rasa, apa artinya rasa jika tidak ingin berbagi pada sesama. Maka semuanya akan absurd, akan terjadi tsunami pada batin kita masing-masing karena dikejar oleh image-image yang membuat diri terasing. Oleh karena itu puisi dalam antologi ini telah sah menjadi puisi, namun belum menjadi teks sastra yang dapat menggugah pembaca untuk berimajinasi lebih jauh dan mendalam. Tidak sebagaimana puisi-puisinya Chairil Anwar, Sutardji Colzoum Bahri, D. Zawawi Imron, Acep Zam-zam Noor yang lumayan nikmat dan imajinatif. Membaca satu di antara sajak-sajak mereka seperti membaca ribuan lembar sejarah umat manusia, filsafat, sosiologi, tasawuf dan lain sebagainya. Wallu A’lam.
Penulis adalah santri di Pesantren Budaya Hasyim Asy’arie & Pengelola Roma Seni Bungkal Madura-Yogyakarta
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Ahmad Muchlish Amrin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahmad Muchlish Amrin. Tampilkan semua postingan
Rabu, 24 November 2010
Sabtu, 17 Januari 2009
Malin Kundang Pulang Kampung
Ahmad Muchlish Amrin
http://entertainmen.suaramerdeka.com/
TERSIAR kabar dari toekang tjerita tentang Malin Kundang yang dikutuk Ibunya jadi batu, mungkin ingatanmu akan menjalar ke masa lampau bila di antara kita ada yang enggan pulang. Ah, toekang tjerita sudah mati, tinggal aku yang diwarisi cerita dan aku akan mengisahkan kembali padamu, mungkin kau akan menuduh kisah ini adalah cerita yang sesat. Tapi simaklah baik-baik kalimat demi kalimat yang menyimpan matahari asing.
***
IA tertatih. Pincang. Dan di matanya, tumbuh gelombang. Bau cibitung melenggang setiap desir angin. Sore itu, ia menyusuri sepanjang pantai. Pasir putih di pesisir dihablur busa putih bersih. Ia meniti di atas batu-batu yang diukir air garam. Asin mata waktu. Ia melewati bongkahan kelapa yang lunglai dibelai angin dingin. Kadang bila capai, ia duduk di atas karang, menatap laut seberang sembari meniup saluang.
Senja di matanya cekung mirip laut. Lalu ia menangkap merah cahaya di langit seolah di jauh sana ada istana. Seolah-olah di tengah laut lepas itu terdapat sebuah pulau dan suara perempuan jelita. Juga suara panggilan dari orang-orang yang tinggal di pulau itu. Paranoid. Ia dengarkan suara-suara itu. Ia rapatkan daun telinganya pada kilasan angin. Semakin keras. Semakin menyayat. Ia amat gelisah karena panggilan menyayat itu terus terngiang di telinga. Tubuhnya dingin menggigil.
"Malin, kau sakit?" tanya istrinya yang baru muncul dari balik pasir menggunung.
Menggeleng. Mulutnya bergeming. Air mata menggelimang di pipinya yang agak menghitam. Telapak tangan dan kakinya keringatan. Sakit jantung? Atau ia akan terkapar di pembaringan selama berbulan-bulan? Kemudian ia menutup telinga, menunduk seolah sayatan demi sayatan betul-betul mengubah degub jantungnya.
"Kau kenapa, Malin?" istrinya tak mengerti.
"Dengarkan sayatan itu, istriku! Panggilan itu!"
Angin melerai rambutnya yang kusut dan sedikit pirang. Istrinya memegang daun telinga bermaksud mendengarkan sayatan suara. Tak ada. Tak sedikit pun perempuan yang dicintai mendengar suara-suara. Kemudian perempuan bergelung itu memeluknya dan mengajaknya pulang ke gubuk yang tak jauh dari pantai. Sementara suara-suara di pulau seberang semakin menyayat, seperti peperangan tak kunjung usai, tangisan anak-anak kecil, perempuan-perempuan. Udara terkoyak. Suara-suara itu terus terngiang di telinga Malin. Tubuhnya yang kerempeng semakin menggigil.
"Dengarkan suara sayatan itu, istriku! Dengarkan!"
"Aku tak dapat mendengar, Malin!"
"Apa gendang telingamu telah pecah?"
Diam. Perempuan itu menuang hasil jala bibit udang ke sebuah ember berwarna hitam. Mata merah senja mengedipkan luka. Perempuan itu mengapit Malin pulang ke gubuk, mengusap-usap kepalanya yang panas dingin. Kemudian istrinya segera menuju dapur. Memasak. Namun setiap kali Malin membuka telinganya, sayatan terdengar begitu menyesakkan dadanya ìLeungli! Leungli!" kata-kata itu tiba-tiba menyeruak dari mulut Malin. Kemudian Malin keluar dari gubuknya, ia menatap ke luar jendela.
Lelaki semata wayang itu segera membuntal pakaiannya dengan sebuah sarung kotak-kotak. Ia menggendongnya dan pelan-pelan mendekati istrinya yang sedang berjongkok di dekat tungku di dapur. Ia pamit padanya, agar ia diizinkan berlayar menuju jangkar yang memendarkan sayatan dan panggilan itu "Tapi, tapi, kau kan sakit, Malin?"
"Dengan keberangkatan ini, kuharap angin tak mendarahkan gelombangî.
ìAku khawatir! Aku khawatir."
"Biarkan aku akan pergi ke kampung Ibu," sembari mengarahkan telunjuknya pada sebuah pulau yang penuh asap melindap ke udara dan terlihat api menyala di tengah malam petang. Kali ini, istrinya dapat melihat pulau penuh asap itu. Namun tiba-tiba ia teringat ayah Malin yang meninggal dalam perang Paderi , ya, ayah Malin Kundang sudah tiada, ia gugur di bawah moncong peluru tentara berseragam hijau itu.
"Tapi? Tapi?" perempuan itu terlihat bingung.
Malin segera keluar dari gubuknya, ia menggendong buntalan sarung dan di tangannya sebuah pisang dan dua buah kelapa muda, ia melangkah pelan ke pantai, melewati bukit pasir pesisir. Ia berdiri tegak seolah-olah ia sedang mengumandangkan kata-kata dalam hatinya--Ah, Sungguh nyeri gelisah semakin basah--Malin menghenyakkan napas.
Ia melecut temali sampan yang menghunjam dalam air, lalu ia membuka layar dan menaikinya. Malin menatap istrinya yang berdiri di atas bukit pasir, gerimis di matanya turun berkelindan "Istriku, aku akan berangkat" tak ada sahut menyayat di udara, hanya deru angin, tatapan sendu memalu hatinya, seolah-olah istrinya berkata padanya "Malin, Sampaikan salamku pada Ibu, bila sudah tiba saatnya, kuharap kau segera pulang. Aku menunggumu".
Pelan-pelan Malin mendayung sampan yang ditumpanginya itu, namun tatapannya tetap terpagut pada istri yang mematung di atas bukit pasir. Dadanya sesak digasak sekian kangen dan kerinduan pada Ibunya, juga istri yang ditinggalkannya. Ia menoleh pada perempuan yang berdiri di atas bukit itu, ia menatap dalam-dalam hingga hilang bayang-bayang sampan. Malin kembali meniup saluang dan bernyanyi di atas sampan :
Angin laut mengantarku pulang
Menemui ibuku tersayang
Kangen menderu ke ambang
Tak dapat dikekang oleh bimbang
Dilantunkan sejauh tenggara, sejauh mata memandang hingga bertemunya langit dan laut di seberang dan solah-olah ikan-ikan mengikutinya dengan riang.
***
DERU perdu terdengar bagai langgam para penyembah matahari. Melingkar. Mata mereka mencorong pada terik dan kedua belah tangan mereka dianjungkan ke atas. Sementara di tengah-tengah lingkaran mereka, seorang perempuan setengah telanjang. Berkutang. Dan kain menutup pahanya yang kuning langsat. Deru perdu itu terus menyayat jantung udara, seolah dendang ritus berdentang menghablur nyawa sunyi.
Malin, lelaki bermata cekung dengan kilatan bulan tsabit di alisnya segera tiba di tempat itu. Ia terpesona pada sekumpulan orang-orang seberang berkeliling bagai menerawang tujuh lapis langit. Ia melihat dari jauh, melihat dari balik pohon palma yang meliang di dekat sekumpulan orang itu. Sorot matanya tajam. Langgam terus runyam di kuping.
Byaarrr!! Degub jantung Malin mengehentak seketika, sorot matanya tertuju pada perempuan itu, ya, perempuan yang dikelilingi oleh beberapa lelaki. Kutang warna jingga dan kain tipis berwarna kelabu membalut tubuhnya. Sorot mata Malin makin tajam. Dan sesekali ia tercengang melihat perempuan itu.
"Ibu!" menyayat dalam hatinya.
Perempuan yang duduk di tengah lingkaran itu menoleh ke arah Malin, sedang Malin mengintip di balik pohon. Mungkin gelagat Malin diketahui perempuan itu. Ia mencari tahu. Ia keluar dari dalam lingkaran, sedangkan orang-orang yang melanggam itu masih khusyuk. Malin tetap mengintip di balik pohon palma itu, sedang perempuan yang dipanggil Ibu itu terus mencari tahu, siapa seseorang yang datang itu? Ah, perempuan itu terus mendekat. Malin lari dengan cepat. Ia mengejarnya. Malin lari ke arah pantai, ke arah ia menambatkan sampan. Ia makin dekat dan sampan Malin sudah tak ada, entah ke mana?
"Berhentilah anakku!"
"Kau? Kau?" terhenti.
Saling pandang. Perempuan itu terus mendekat pada lelaki yang pincang itu.
"Kau Malin, kan?"
Diam. Tatapannya seolah menusukkan anak panah di jantung Malin.
"Kau? Kau?" terhenti lagi. Malin tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Namun perempuan itu terus mendekatinya. Air matanya tumpah ruah di pipinya.
"Kau anakku, Malin."
Malin menggeleng. Ia mundur ketika ibunya mendekatinya, "Kenapa ini bisa terjadi, Ibu? Apakah Ibu sudah tidak sayang, Ayah? Kenapa Ibu tega begini?" tiba-tiba menggeliat di udara.
"Maksudmu Malin?"
"Kenapa kau tega melacur di sana, Ibu? Di antara kumpulan orang-orang sialan itu??"
"Apa??" perempuan itu menampar Malin. Keras. Malin terpelanting.
"Jaga mulutmu, Malin! Jaga! Ini sesembah pada Sang Hyang."
"Tapi? Tapi pakaianmu, Ibu?"
"Demi bumi, demi langit dan seisinya, demi lautan yang terbentang di depan kita, Ibu tak punya perangai seperti yang kau pikirkan, Malin."Tapi pakaian Ibu?"
Diam. Sunyi. Senyap.
Suatu ketika, Ibu masih ingat -perempuan itu bercerita, ia membelakangi lelaki pincang itu. Sebelum ayahmu berangkat ke medan laga, sebelum ayahmu meninggal, ia mengatakan pada Ibu, jagalah Malin agar Malin selalu berbakti pada orang tua, agar Malin selalu menjadi kebanggaan tanah kelahiran. Tapi nyatanya? Nyatanya kau punya pikiran macam itu pada Ibu. Nyatanya Ibu tak mampu mendidikmu, Malinóperempuan itu menunduk, dari matanya setetes dua tetes air bening mengalir.
Malin mengangguk. Ia tak kuasa menatapnya setelah sumpah serapah lungkrah di udara, setelah ibunya menutur pinutur tentang ayahnya. Malin segera menunduk di depan Ibunya, mencium kakinya sembari berkata "Mohon maaf, anakmu, Ibu! Tapi bila Ibu berbohong, berbohong pada janji ayah, semoga sang Hyang Widhi Yasa menjadikan Ibu batu hitam yang keras di sini, di pantai ini," kutuknya.
Kening perempuan itu berkerut. Ia menatap mata Malin dalam-dalam. Kemudian asap melindap dalam senyap. Aroma kampung asal menyeruap. Bayang-bayang perempuan yang mencintainya, ya, wajah perempuan yang berdiri di atas bukit pasir masih terngiang dalam ingatan Malin. Ia ingin menyampaikan salam rindu darinya, namun Malin masih teringat luka lama yang masih anyer di dada. Ah, ia diam, karena tak ingin menelan sejuta keperihan lain lagi.
***
DUA hari Malin bersama Ibunya. Dan siang itu, seonggok tubuh tiba-tiba membeku, angin ngungun, tiba-tiba langit mendung, Malin kaget, kepalanya mendongak ke atas, menatap ke depan, ke kanan, ke kiri, ke arah laut. Astaga! Apa ini. Deburan ombak menyambang dari depan, angin semakin kencang. Ikan-ikan di laut pada berdatangan menuju pantai, seolah-olah ia melingkupi dua anak manusia yang sedang tercengang di pantai. Ya, kaki perempuan itu mulai mengeras, kaki perempuan itu seperti yang dilem di atas pasir di pantai itu.
"Ibu! Kau kenapa? Katakan! Katakan sejujurnya Ibu! Apa sebenarnya yang terjadi pada Ibu?"
Perempuan itu seperti bengong. Ia mengusap-usap tubuhnya. Air matanya menggelinding di pipinya, meraba-raba kakinya yang mulai mengeras, betis, paha, perut, payudara, leher, telinga, hidung hingga rambut yang merumbai masai. Isak tangis semakin keras. Kedua kakinya seperti dipaku ke bumi, seperti akar menghunjam dan menjalar ke perut bumi. Malin segera memeluk Ibunya.
ìIbu, Ibu, Ibu,î terus mengalir dari mulut Malin. Namun tubuh itu terus membeku. Mengeras, semakin mengeras, tubuh itu terus membatu. Tak ada yang dapat menolong kutuk sumpah serapah, tak ada yang dapat menyelamatkan kecuali dirinya, namun semuanya sudah terlambat, semuanya sudah berjalan bagai jemari api yang meraba daun kering di ladang tebu.
Kini Ibu Malin sudah membeku, sudah mengeras menjadi batu karena kutuk sumpah serapah yang dilanggarnya, karena ia melalaikan janjinya pada kata-katanya sendiri. Mulai saat ini, di pinggir pantai ini, ada sebongkah batu yang murung yang selalu disembah seorang anak lelaki pincang setiap kepulangannya.
***
PAGI-PAGI, lelaki kurus kerempeng ini tiba di pantai, kakinya pincang, tubuhnya lunglai karena berhari-hari tidak tidur, berhari-hari terkapar di tengah lautan, menyeruak dari mulut lelaki itu ìIbu, sesungguhnya kampungku di kampungmuî, ia segera mencium kaki patung Ibunya yang mengganggang di pinggir pantai itu. Dan seolah-olah sebongkah batu yang berdiam di depan bukit pasir itu berkata pada Malin ìAnakku, jangan bosan-bosan nyambangi Ibu, sungguh kesepian tak tahan digemukkanî gerimis tiba-tiba turun dari kedua mata Malin, ia kembali mencium kaki Ibunya yang sudah menjadi batu.
Malin berbalik arah, menghadap laut luas, menatap bertemunya biru laut dan biru langit, kemudian ia berbalik lagi, menatap tubuh Ibunya dalam-dalam ìIbu, kaulah asal mula kehidupan, awal mula henyak nyawa yang kejam merajam, awal segala senyum tiramî berteriak keras-keras di pantai. Tangannya mengepal, kemudian lelaki itu telentang di pinggir, telentang di haribaan patung Ibunya itu.
"Aku ingin pulang padamu, Ibu! Aku ingin pulang."
Bermalam-malam dan berhari-hari Malin berdiam di dekat patung Ibunya, terik matahari tak terasa meski melukai tubuhnya, desir angin menggigil menikam detak jantungnya. Tak terasa. Rambutnya kusut pirang tak beraturan. Lupa. Ya, kerinduan pada Ibunya membuatnya gila. Ia tidak makan. Ia tidak minum. Ia duduk termenung. Murung. Ia ingin mati di tempat itu, sebab baginya kematian di haribaan Ibunya adalah inti kepulangan.
Dan sore itu, sebelum ajalnya pergi meninggalkan tubuhnya, hewan-hewan laut pada berdatangan padanya, mengirim kabar laut, bahkan ikan lumba-lumba mengajaknya pergi, ingin mengantarnya kemanapun ia akan pergi, namun Malin memilih tinggal bersama Ibunya "Tapi tolong sampaikan salamku pada perempuanku di pulau seberang," tukas Malin pada lumba-lumba itu "Inilah! Inilah suara sayatan yang amat keras itu, inilah cahaya yang selalu muncul di malam hari itu: cahaya Ibuî ikan lumba-lumba seolah mengangguk pertanda mengiyakan.
Malin menghenyakkan napasnya yang terakhir sore itu, bertepatan dengan masuknya matahari ke ufuk barat, ya, kini Malin Kundang telah pulang ke kampung kelahirannya.
http://entertainmen.suaramerdeka.com/
TERSIAR kabar dari toekang tjerita tentang Malin Kundang yang dikutuk Ibunya jadi batu, mungkin ingatanmu akan menjalar ke masa lampau bila di antara kita ada yang enggan pulang. Ah, toekang tjerita sudah mati, tinggal aku yang diwarisi cerita dan aku akan mengisahkan kembali padamu, mungkin kau akan menuduh kisah ini adalah cerita yang sesat. Tapi simaklah baik-baik kalimat demi kalimat yang menyimpan matahari asing.
***
IA tertatih. Pincang. Dan di matanya, tumbuh gelombang. Bau cibitung melenggang setiap desir angin. Sore itu, ia menyusuri sepanjang pantai. Pasir putih di pesisir dihablur busa putih bersih. Ia meniti di atas batu-batu yang diukir air garam. Asin mata waktu. Ia melewati bongkahan kelapa yang lunglai dibelai angin dingin. Kadang bila capai, ia duduk di atas karang, menatap laut seberang sembari meniup saluang.
Senja di matanya cekung mirip laut. Lalu ia menangkap merah cahaya di langit seolah di jauh sana ada istana. Seolah-olah di tengah laut lepas itu terdapat sebuah pulau dan suara perempuan jelita. Juga suara panggilan dari orang-orang yang tinggal di pulau itu. Paranoid. Ia dengarkan suara-suara itu. Ia rapatkan daun telinganya pada kilasan angin. Semakin keras. Semakin menyayat. Ia amat gelisah karena panggilan menyayat itu terus terngiang di telinga. Tubuhnya dingin menggigil.
"Malin, kau sakit?" tanya istrinya yang baru muncul dari balik pasir menggunung.
Menggeleng. Mulutnya bergeming. Air mata menggelimang di pipinya yang agak menghitam. Telapak tangan dan kakinya keringatan. Sakit jantung? Atau ia akan terkapar di pembaringan selama berbulan-bulan? Kemudian ia menutup telinga, menunduk seolah sayatan demi sayatan betul-betul mengubah degub jantungnya.
"Kau kenapa, Malin?" istrinya tak mengerti.
"Dengarkan sayatan itu, istriku! Panggilan itu!"
Angin melerai rambutnya yang kusut dan sedikit pirang. Istrinya memegang daun telinga bermaksud mendengarkan sayatan suara. Tak ada. Tak sedikit pun perempuan yang dicintai mendengar suara-suara. Kemudian perempuan bergelung itu memeluknya dan mengajaknya pulang ke gubuk yang tak jauh dari pantai. Sementara suara-suara di pulau seberang semakin menyayat, seperti peperangan tak kunjung usai, tangisan anak-anak kecil, perempuan-perempuan. Udara terkoyak. Suara-suara itu terus terngiang di telinga Malin. Tubuhnya yang kerempeng semakin menggigil.
"Dengarkan suara sayatan itu, istriku! Dengarkan!"
"Aku tak dapat mendengar, Malin!"
"Apa gendang telingamu telah pecah?"
Diam. Perempuan itu menuang hasil jala bibit udang ke sebuah ember berwarna hitam. Mata merah senja mengedipkan luka. Perempuan itu mengapit Malin pulang ke gubuk, mengusap-usap kepalanya yang panas dingin. Kemudian istrinya segera menuju dapur. Memasak. Namun setiap kali Malin membuka telinganya, sayatan terdengar begitu menyesakkan dadanya ìLeungli! Leungli!" kata-kata itu tiba-tiba menyeruak dari mulut Malin. Kemudian Malin keluar dari gubuknya, ia menatap ke luar jendela.
Lelaki semata wayang itu segera membuntal pakaiannya dengan sebuah sarung kotak-kotak. Ia menggendongnya dan pelan-pelan mendekati istrinya yang sedang berjongkok di dekat tungku di dapur. Ia pamit padanya, agar ia diizinkan berlayar menuju jangkar yang memendarkan sayatan dan panggilan itu "Tapi, tapi, kau kan sakit, Malin?"
"Dengan keberangkatan ini, kuharap angin tak mendarahkan gelombangî.
ìAku khawatir! Aku khawatir."
"Biarkan aku akan pergi ke kampung Ibu," sembari mengarahkan telunjuknya pada sebuah pulau yang penuh asap melindap ke udara dan terlihat api menyala di tengah malam petang. Kali ini, istrinya dapat melihat pulau penuh asap itu. Namun tiba-tiba ia teringat ayah Malin yang meninggal dalam perang Paderi , ya, ayah Malin Kundang sudah tiada, ia gugur di bawah moncong peluru tentara berseragam hijau itu.
"Tapi? Tapi?" perempuan itu terlihat bingung.
Malin segera keluar dari gubuknya, ia menggendong buntalan sarung dan di tangannya sebuah pisang dan dua buah kelapa muda, ia melangkah pelan ke pantai, melewati bukit pasir pesisir. Ia berdiri tegak seolah-olah ia sedang mengumandangkan kata-kata dalam hatinya--Ah, Sungguh nyeri gelisah semakin basah--Malin menghenyakkan napas.
Ia melecut temali sampan yang menghunjam dalam air, lalu ia membuka layar dan menaikinya. Malin menatap istrinya yang berdiri di atas bukit pasir, gerimis di matanya turun berkelindan "Istriku, aku akan berangkat" tak ada sahut menyayat di udara, hanya deru angin, tatapan sendu memalu hatinya, seolah-olah istrinya berkata padanya "Malin, Sampaikan salamku pada Ibu, bila sudah tiba saatnya, kuharap kau segera pulang. Aku menunggumu".
Pelan-pelan Malin mendayung sampan yang ditumpanginya itu, namun tatapannya tetap terpagut pada istri yang mematung di atas bukit pasir. Dadanya sesak digasak sekian kangen dan kerinduan pada Ibunya, juga istri yang ditinggalkannya. Ia menoleh pada perempuan yang berdiri di atas bukit itu, ia menatap dalam-dalam hingga hilang bayang-bayang sampan. Malin kembali meniup saluang dan bernyanyi di atas sampan :
Angin laut mengantarku pulang
Menemui ibuku tersayang
Kangen menderu ke ambang
Tak dapat dikekang oleh bimbang
Dilantunkan sejauh tenggara, sejauh mata memandang hingga bertemunya langit dan laut di seberang dan solah-olah ikan-ikan mengikutinya dengan riang.
***
DERU perdu terdengar bagai langgam para penyembah matahari. Melingkar. Mata mereka mencorong pada terik dan kedua belah tangan mereka dianjungkan ke atas. Sementara di tengah-tengah lingkaran mereka, seorang perempuan setengah telanjang. Berkutang. Dan kain menutup pahanya yang kuning langsat. Deru perdu itu terus menyayat jantung udara, seolah dendang ritus berdentang menghablur nyawa sunyi.
Malin, lelaki bermata cekung dengan kilatan bulan tsabit di alisnya segera tiba di tempat itu. Ia terpesona pada sekumpulan orang-orang seberang berkeliling bagai menerawang tujuh lapis langit. Ia melihat dari jauh, melihat dari balik pohon palma yang meliang di dekat sekumpulan orang itu. Sorot matanya tajam. Langgam terus runyam di kuping.
Byaarrr!! Degub jantung Malin mengehentak seketika, sorot matanya tertuju pada perempuan itu, ya, perempuan yang dikelilingi oleh beberapa lelaki. Kutang warna jingga dan kain tipis berwarna kelabu membalut tubuhnya. Sorot mata Malin makin tajam. Dan sesekali ia tercengang melihat perempuan itu.
"Ibu!" menyayat dalam hatinya.
Perempuan yang duduk di tengah lingkaran itu menoleh ke arah Malin, sedang Malin mengintip di balik pohon. Mungkin gelagat Malin diketahui perempuan itu. Ia mencari tahu. Ia keluar dari dalam lingkaran, sedangkan orang-orang yang melanggam itu masih khusyuk. Malin tetap mengintip di balik pohon palma itu, sedang perempuan yang dipanggil Ibu itu terus mencari tahu, siapa seseorang yang datang itu? Ah, perempuan itu terus mendekat. Malin lari dengan cepat. Ia mengejarnya. Malin lari ke arah pantai, ke arah ia menambatkan sampan. Ia makin dekat dan sampan Malin sudah tak ada, entah ke mana?
"Berhentilah anakku!"
"Kau? Kau?" terhenti.
Saling pandang. Perempuan itu terus mendekat pada lelaki yang pincang itu.
"Kau Malin, kan?"
Diam. Tatapannya seolah menusukkan anak panah di jantung Malin.
"Kau? Kau?" terhenti lagi. Malin tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Namun perempuan itu terus mendekatinya. Air matanya tumpah ruah di pipinya.
"Kau anakku, Malin."
Malin menggeleng. Ia mundur ketika ibunya mendekatinya, "Kenapa ini bisa terjadi, Ibu? Apakah Ibu sudah tidak sayang, Ayah? Kenapa Ibu tega begini?" tiba-tiba menggeliat di udara.
"Maksudmu Malin?"
"Kenapa kau tega melacur di sana, Ibu? Di antara kumpulan orang-orang sialan itu??"
"Apa??" perempuan itu menampar Malin. Keras. Malin terpelanting.
"Jaga mulutmu, Malin! Jaga! Ini sesembah pada Sang Hyang."
"Tapi? Tapi pakaianmu, Ibu?"
"Demi bumi, demi langit dan seisinya, demi lautan yang terbentang di depan kita, Ibu tak punya perangai seperti yang kau pikirkan, Malin."Tapi pakaian Ibu?"
Diam. Sunyi. Senyap.
Suatu ketika, Ibu masih ingat -perempuan itu bercerita, ia membelakangi lelaki pincang itu. Sebelum ayahmu berangkat ke medan laga, sebelum ayahmu meninggal, ia mengatakan pada Ibu, jagalah Malin agar Malin selalu berbakti pada orang tua, agar Malin selalu menjadi kebanggaan tanah kelahiran. Tapi nyatanya? Nyatanya kau punya pikiran macam itu pada Ibu. Nyatanya Ibu tak mampu mendidikmu, Malinóperempuan itu menunduk, dari matanya setetes dua tetes air bening mengalir.
Malin mengangguk. Ia tak kuasa menatapnya setelah sumpah serapah lungkrah di udara, setelah ibunya menutur pinutur tentang ayahnya. Malin segera menunduk di depan Ibunya, mencium kakinya sembari berkata "Mohon maaf, anakmu, Ibu! Tapi bila Ibu berbohong, berbohong pada janji ayah, semoga sang Hyang Widhi Yasa menjadikan Ibu batu hitam yang keras di sini, di pantai ini," kutuknya.
Kening perempuan itu berkerut. Ia menatap mata Malin dalam-dalam. Kemudian asap melindap dalam senyap. Aroma kampung asal menyeruap. Bayang-bayang perempuan yang mencintainya, ya, wajah perempuan yang berdiri di atas bukit pasir masih terngiang dalam ingatan Malin. Ia ingin menyampaikan salam rindu darinya, namun Malin masih teringat luka lama yang masih anyer di dada. Ah, ia diam, karena tak ingin menelan sejuta keperihan lain lagi.
***
DUA hari Malin bersama Ibunya. Dan siang itu, seonggok tubuh tiba-tiba membeku, angin ngungun, tiba-tiba langit mendung, Malin kaget, kepalanya mendongak ke atas, menatap ke depan, ke kanan, ke kiri, ke arah laut. Astaga! Apa ini. Deburan ombak menyambang dari depan, angin semakin kencang. Ikan-ikan di laut pada berdatangan menuju pantai, seolah-olah ia melingkupi dua anak manusia yang sedang tercengang di pantai. Ya, kaki perempuan itu mulai mengeras, kaki perempuan itu seperti yang dilem di atas pasir di pantai itu.
"Ibu! Kau kenapa? Katakan! Katakan sejujurnya Ibu! Apa sebenarnya yang terjadi pada Ibu?"
Perempuan itu seperti bengong. Ia mengusap-usap tubuhnya. Air matanya menggelinding di pipinya, meraba-raba kakinya yang mulai mengeras, betis, paha, perut, payudara, leher, telinga, hidung hingga rambut yang merumbai masai. Isak tangis semakin keras. Kedua kakinya seperti dipaku ke bumi, seperti akar menghunjam dan menjalar ke perut bumi. Malin segera memeluk Ibunya.
ìIbu, Ibu, Ibu,î terus mengalir dari mulut Malin. Namun tubuh itu terus membeku. Mengeras, semakin mengeras, tubuh itu terus membatu. Tak ada yang dapat menolong kutuk sumpah serapah, tak ada yang dapat menyelamatkan kecuali dirinya, namun semuanya sudah terlambat, semuanya sudah berjalan bagai jemari api yang meraba daun kering di ladang tebu.
Kini Ibu Malin sudah membeku, sudah mengeras menjadi batu karena kutuk sumpah serapah yang dilanggarnya, karena ia melalaikan janjinya pada kata-katanya sendiri. Mulai saat ini, di pinggir pantai ini, ada sebongkah batu yang murung yang selalu disembah seorang anak lelaki pincang setiap kepulangannya.
***
PAGI-PAGI, lelaki kurus kerempeng ini tiba di pantai, kakinya pincang, tubuhnya lunglai karena berhari-hari tidak tidur, berhari-hari terkapar di tengah lautan, menyeruak dari mulut lelaki itu ìIbu, sesungguhnya kampungku di kampungmuî, ia segera mencium kaki patung Ibunya yang mengganggang di pinggir pantai itu. Dan seolah-olah sebongkah batu yang berdiam di depan bukit pasir itu berkata pada Malin ìAnakku, jangan bosan-bosan nyambangi Ibu, sungguh kesepian tak tahan digemukkanî gerimis tiba-tiba turun dari kedua mata Malin, ia kembali mencium kaki Ibunya yang sudah menjadi batu.
Malin berbalik arah, menghadap laut luas, menatap bertemunya biru laut dan biru langit, kemudian ia berbalik lagi, menatap tubuh Ibunya dalam-dalam ìIbu, kaulah asal mula kehidupan, awal mula henyak nyawa yang kejam merajam, awal segala senyum tiramî berteriak keras-keras di pantai. Tangannya mengepal, kemudian lelaki itu telentang di pinggir, telentang di haribaan patung Ibunya itu.
"Aku ingin pulang padamu, Ibu! Aku ingin pulang."
Bermalam-malam dan berhari-hari Malin berdiam di dekat patung Ibunya, terik matahari tak terasa meski melukai tubuhnya, desir angin menggigil menikam detak jantungnya. Tak terasa. Rambutnya kusut pirang tak beraturan. Lupa. Ya, kerinduan pada Ibunya membuatnya gila. Ia tidak makan. Ia tidak minum. Ia duduk termenung. Murung. Ia ingin mati di tempat itu, sebab baginya kematian di haribaan Ibunya adalah inti kepulangan.
Dan sore itu, sebelum ajalnya pergi meninggalkan tubuhnya, hewan-hewan laut pada berdatangan padanya, mengirim kabar laut, bahkan ikan lumba-lumba mengajaknya pergi, ingin mengantarnya kemanapun ia akan pergi, namun Malin memilih tinggal bersama Ibunya "Tapi tolong sampaikan salamku pada perempuanku di pulau seberang," tukas Malin pada lumba-lumba itu "Inilah! Inilah suara sayatan yang amat keras itu, inilah cahaya yang selalu muncul di malam hari itu: cahaya Ibuî ikan lumba-lumba seolah mengangguk pertanda mengiyakan.
Malin menghenyakkan napasnya yang terakhir sore itu, bertepatan dengan masuknya matahari ke ufuk barat, ya, kini Malin Kundang telah pulang ke kampung kelahirannya.
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel García Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati