Fahrudin Nasrulloh *
Pontianak Post & jawapos.com
SETIAP penulis berdiri genting di kecamuk proses kreatifnya. Karena ia
menyadari telah terlempar ke dunia, dirayapi gamang, terhirup waktu,
diterbangkan iman. Telanjur sudah ia berlaga di padang kurusetra yang tak
habis-habis itu. Sementara manusia lain, yang gentar nerjang nan alpa atas
segala, cuma jadi ternak-ternak Tuhan belaka.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Fahrudin Nasrulloh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fahrudin Nasrulloh. Tampilkan semua postingan
Senin, 01 Februari 2021
Minggu, 08 April 2012
Pengantar Cerpenis Syekh Bejirum dan Rajah Anjing
Fahrudin Nasrulloh
http://sastra-indonesia.com/
Menulis pengantar cerpen? Saya rasa ini lebih berat dibanding membikin cerpen atau tulisan lainnya. Seperti saya dipaksa menapaktilasi detik perdetik dalam ruang dan waktu di setiap cerpen. Menguruti jejak sungguh sesuatu yang rumit dan melelahkan. Tapi itu tampaknya perlu dibuat. Agar saya tidak menciderai pembaca. Meski sebelas cerpen dalam kumpulan ini masih terasa menggeret-geret saya ke entah. Ada rasa longsor. Tenggelam. Gelap dan melenyap pelan-pelan. Cerita-cerita itu seringkali terasa merangsek di malam-malam ketika saya dilimbur kosong. Tapi biarlah mereka terus mengerubungi saya dan sisanya saya serahkan pada waktu dan semacam iman yang saya teguhi dalam berkarya.
http://sastra-indonesia.com/
Menulis pengantar cerpen? Saya rasa ini lebih berat dibanding membikin cerpen atau tulisan lainnya. Seperti saya dipaksa menapaktilasi detik perdetik dalam ruang dan waktu di setiap cerpen. Menguruti jejak sungguh sesuatu yang rumit dan melelahkan. Tapi itu tampaknya perlu dibuat. Agar saya tidak menciderai pembaca. Meski sebelas cerpen dalam kumpulan ini masih terasa menggeret-geret saya ke entah. Ada rasa longsor. Tenggelam. Gelap dan melenyap pelan-pelan. Cerita-cerita itu seringkali terasa merangsek di malam-malam ketika saya dilimbur kosong. Tapi biarlah mereka terus mengerubungi saya dan sisanya saya serahkan pada waktu dan semacam iman yang saya teguhi dalam berkarya.
Sabtu, 31 Maret 2012
Membakar Api di Kampung Pring *
Fahrudin Nasrulloh
http://sastra-indonesia.com/
Sehari Sebelum ke Mojokerto
Senin, 2 Agustus 2010, saya berangkat dari Tandes pukul 10:32 WIB, langsung meluncur ke kantor Pos Kecamatan Sumobito untuk mengambil 4 kardus buku yang dikirim Bilven dari Penerbit Ultimus, Bandung. Di blangko resi penerimaan, buku-buku Ultimus dikirim kalau tidak keliru pada 27 Juli Sampai di kantor Pos Sumobito. Pada 1 Agustus, 2 dus buku tersebut dibungkus dengan jahitan rafia. 1 dus beratnya 24,7 kg, biaya paketnya sebesar Rp. 244.555. Satunya lagi, beratnya 24,9 kg, biaya paketnya Rp. 244.535.
http://sastra-indonesia.com/
Sehari Sebelum ke Mojokerto
Senin, 2 Agustus 2010, saya berangkat dari Tandes pukul 10:32 WIB, langsung meluncur ke kantor Pos Kecamatan Sumobito untuk mengambil 4 kardus buku yang dikirim Bilven dari Penerbit Ultimus, Bandung. Di blangko resi penerimaan, buku-buku Ultimus dikirim kalau tidak keliru pada 27 Juli Sampai di kantor Pos Sumobito. Pada 1 Agustus, 2 dus buku tersebut dibungkus dengan jahitan rafia. 1 dus beratnya 24,7 kg, biaya paketnya sebesar Rp. 244.555. Satunya lagi, beratnya 24,9 kg, biaya paketnya Rp. 244.535.
Sabtu, 24 September 2011
Wisata Buku Lawas di Yogyakarta
Fahrudin Nasrulloh
Suara Merdeka, 15 Juli 2007.
Salah satu keistimewaan ketika mengunjungi Yogya adalah menelisik toko-toko buku yang tersebar di sejumlah tempat. Ada T.B. Social Agency, T.B. Diskon Toga Mas, T.B. Tiga Serangkai, T.B. Gramedia dan komplek toko buku Taman Pintar yang bersebelahan dengan Taman Budaya dan benteng Vredeberg, dan lain-lain. Namun sekarang untuk mencari buku-buku lawas susah sudah, bahkan nyaris nggak ada. Tahun 1970-an hingga 1980-an, menurut berbagai sumber, masih banyak dijumpai buku-buku lawas yang bermutu.
Yang saya maksud dengan buku lawas (dalam arti spesifik bisa berati buku kuno, seperti naskah-naskah serat atau babad) adalah buku yang sudah tidak diterbitkan dalam jangka waktu lama oleh sejumlah penerbit tertentu. Karena itu, buku lawas dapat dikategorikan dalam empat jenis. Pertama, buku lawas umum (meliputi buku filsafat, sastra Indonesia dan Barat, psikologi, dan lain-lain). Buku lawas filsafat Barat seperti Meditation karya Rene Descartes, atau Suluk Awang-awung (antologi puisi) karya Kuntowijoyo, sudah hampir tidak ada. Saya pernah dapat satu karya Salman Rushdie, The Satanic Verses (Viking Penguin Inc., 1988). Semula si penjual mematok harga 250 ribu, tapi saya bisa membelinya dengan harga 50 ribu. Juga Tatanegara Majapahit (Yayasan Prapantja: Jakarta, 1962) karya Muhammad Yamin. Buku ini terdiri dari 7 jilid — yang konon seharga 300-an ribu — sudah sulit dilacak. Meski sebagian kecil buku-buku semacam ini mungkin terdapat di perpustakaan, semisal di perpustakaan Kolese Ignatius di Kota Baru yang, kabarnya, koleksi bukunya terbilang lengkap. Tapi jangan terlalu banyak berharap.
Kedua, buku lawas cerita silat dan komik. Buku cerita silat (cersil) semisal karya-karya S.H. Mintardja sudah sulit dicari. Ada sekitar belasan judul cersilnya. Kebanyakan dari karyanya pernah dimuat di koran Kedaulatan Rakyat, seperti Nagasasra Sabuk Inten. Karya ini sekarang telah diterbitkan oleh koran tersebut sebanyak 3 jilid (satu jilid seharga 100 ribu). Sementara karyanya yang lain masih terserak di banyak penggemarnya dahulu. Jika di Taman Pintar bisa ditemukan, ada sebagian yang terjilid rapi, tapi ada juga yang tercecer dalam bentuk serial. Dahulu, saya pernah bertemu di Taman Pintar, pada 2004, dengan Pak Muhlis; yang memiliki koleksi lengkap S.H. Mintardja. Saya pun membuktikan ke rumahnya, di Bantul. Lengkap memang. Mulai Nagasasra Sabuk Inten, Api di Bukit Menoreh hingga Misteri Kembang Kecubung. Saking gandrungnya, Pak Muhlis ludes membaca semua karya Mintardja itu. Bahkan dia nekat menjelajahi kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang dan Surabaya untuk melengkapi koleksinya. Meski, ketika butuh uang, dia terkadang juga menjualnya sebagian. Dia pernah menawarkan kepada saya (boleh ke orang lain) untuk membeli seluruh karya S.H. Mintardja tersebut dengan harga 10 juta.
Welahdalah! Ini rumah apa kolong tikus? Seolah mata tiba-tiba bolong, saat saya melihat ruang tamu yang disesaki timbunan majalah, buku-buku dijejer bersap-sap, dan berkardus-kardus cersil sampai nyaris menyentuh genteng yang telah disisir dan dikelompokkan berdasar judul, jilid, dan serinya. “Seluruh karya Mintardja lengkap, Nak Udin. Jika sampeyan berminat, semua akan saya lepas 10 juta saja. Jangan lama-lama mikirnya!” Mendengar tawaran itu, saya cuma tertegun dan tersenyum kecut. Yang terlintas di benak: peristiwa apa saja dalam puluhan tahun hingga ia dapat mengumpulkan seluruh cersil Mintardja? Belum lagi cersil dari pengarang lain yang juga seabrek koleksinya. “Saya nggak berduit sebanyak itu, Pak. Tapi saya yakin, suatu hari, akan datang sang pembeli ke rumah ini,” pungkas saya.
Wow! Sementara cersil lain dari pengarang lain juga memenuhi koleksinya. Yang pasti, Di Taman Pintar sekarang jarang ada. Kalaupun ada, mahal sekali harganya. Ada pun buku komik lawas, makin jarang lagi, seperti karya-karya lama Ganes TH , Hans Jaladara, dan lain-lain.
Ketiga, buku lawas jenis keislaman. Satu sisi, buku jenis ini sudah banyak diterbitkan. Lebih-lebih oleh penerbit yang konsern pada tema-tema keislaman yang ragamnya, terkait dengan pertimbangan laku-jual di pasar, memang tak terhingga banyaknya. Seperti buku Durratun Nashihin, Riyadus Shalihin atau Bulughul Maram telah berkali-kali dicetak ulang oleh banyak penerbit. Dan memang laris manis. Tapi untuk mencari buku semisal Al-Atsarul Baqiyah Anil Qurunil Khaliyah karya Al-Biruni, saya pastikan tak ada di Yogya (baik di toko buku atau di perpustakaan UIN sekalipun). Atau karya-karya monumental dari Ibnu Haitam (Risalah Sina’at Syi’ir), Ibnu Arabi (Futuhul Makkiyah), Al-Baqli (Masrab Al-Arwah), As-Sulami (Tabaqatus Shufiyya), Al-Maki (Qut al-Qulub) dan lain-lain, jelas kelabakan untuk mencari mereka. Kecuali sejenis kitab tersebut, mungkin, dimiliki kiai-kiai yang gandrung baca kitab. Untuk mencari yang agak ringan saja; tentang madharat dan manfaat rokok dan kopi, karya Kiai Ihsan Jampes berjudul Irsyadul Ikhwan fi Syarhil Qahwa wa al-Dukhan, Anda musti memburunya ke Jampes, atau ke Lirboyo, atau ke T.B. Firdaus di Pare. Bukan di toko kitab kuning, di Yogya.
Keempat, buku lawas Jawa kuno. Menyusuri jenis buku ini sebenarnya mudah, tapi jangan harap bisa dibawa pulang. Anda cukup cari buku hasil suntingan T.E. Behrend berjuluk Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Museum Sonobudoyo (Djambatan, 1990, Jakarta). Buku ini ada di perpustakaan Sonobudoyo, Yogya. Atau di penerbit Djambatan. Di Taman Pintar? setahu saya, nggak ada. Buku katalog itu memuat 1350 naskah Jawa kuno yang mencakup tema sejarah, silsilah, hukum, ihwal wayang, sastra wayang, sastra Jawa kuno dan sastra Islam kejawen, piwulang, primbon, bahasa, musik, tari-tarian, perkerisan, adat-istiadat, dan lain-lain.
Pengalaman tak terlupakan saya ketika, pada Desember 2005, di toko buku loak, milik Mas Widodo (di komplek Lt. II pasar Bringharjo), saya pernah menemukan sebuah buku lawas berisi kumpulan cerita ringkas dari para sastrawan Indonesia tempo doeloe berjudul Maleise Bloemlezing: Uit Hedendaagse Schrijvers, bertarikh 1947, terbitan J.B. Wolters-Batavia dan Sevire-Den Haag, yang disusun oleh Dr. G.W.J. Drewes (harga: 30 ribu). Ada belasan cerita unik, dengan ejaan lama, dari beberapa sastrawan semisal, M. Kasim, S. Hardjosoemarto, A. Datuk Madjoindo, Hersevien M. Taulu, S. Takdir Alisjahbana, H.A.M.K. Amrullah, Habib Sutan Maharadja, Seoman H.S., Ardi Soma, A. Soetan Pamoentjak N.S., A. Moeis, Selasih, Hamidah, N. St. Iskandar, Toelis Soetan Sati, I. Gusti Njoman P. Tisno dan H.S.D. Moentoe.
Tentu jika bukan pencinta dan pemburu buku yang bandel, sangatlah kerepotan melacak buku-buku tersebut. Bagi mereka yang sudah lama menyusuri jagat pernak-pernik buku pastilah memiliki kepuasan tersendiri ketika mereka telah menemukan buku yang mereka inginkan. Kendati ada juga pemburu buku lawas yang tidak begitu getol membaca, tapi semata hanya ingin mengoleksi saja. Ya, apa pun alibinya, kita layak untuk menghargainya. Sebab, buku adalah jendela dunia, dan peradaban manusia, salah satunya, dibangun dari tradisi membaca. Karena, “Sebuah buku”, ujar Cervantes, “adalah halte sejarah; tetirah abadi segala ingatan dan pengetahuan, meski tanpanya, kehidupan akan tetap berjalan apa adanya.” Memang, sebuah buku bukan sekadar lembaran kertas dan rekatan lem. Melainkan di dalamnya menyimpan sebentang peradaban, di mana manusia hidup bersamanya, dengan harapan dan cita-cita.
***
Suara Merdeka, 15 Juli 2007.
Salah satu keistimewaan ketika mengunjungi Yogya adalah menelisik toko-toko buku yang tersebar di sejumlah tempat. Ada T.B. Social Agency, T.B. Diskon Toga Mas, T.B. Tiga Serangkai, T.B. Gramedia dan komplek toko buku Taman Pintar yang bersebelahan dengan Taman Budaya dan benteng Vredeberg, dan lain-lain. Namun sekarang untuk mencari buku-buku lawas susah sudah, bahkan nyaris nggak ada. Tahun 1970-an hingga 1980-an, menurut berbagai sumber, masih banyak dijumpai buku-buku lawas yang bermutu.
Yang saya maksud dengan buku lawas (dalam arti spesifik bisa berati buku kuno, seperti naskah-naskah serat atau babad) adalah buku yang sudah tidak diterbitkan dalam jangka waktu lama oleh sejumlah penerbit tertentu. Karena itu, buku lawas dapat dikategorikan dalam empat jenis. Pertama, buku lawas umum (meliputi buku filsafat, sastra Indonesia dan Barat, psikologi, dan lain-lain). Buku lawas filsafat Barat seperti Meditation karya Rene Descartes, atau Suluk Awang-awung (antologi puisi) karya Kuntowijoyo, sudah hampir tidak ada. Saya pernah dapat satu karya Salman Rushdie, The Satanic Verses (Viking Penguin Inc., 1988). Semula si penjual mematok harga 250 ribu, tapi saya bisa membelinya dengan harga 50 ribu. Juga Tatanegara Majapahit (Yayasan Prapantja: Jakarta, 1962) karya Muhammad Yamin. Buku ini terdiri dari 7 jilid — yang konon seharga 300-an ribu — sudah sulit dilacak. Meski sebagian kecil buku-buku semacam ini mungkin terdapat di perpustakaan, semisal di perpustakaan Kolese Ignatius di Kota Baru yang, kabarnya, koleksi bukunya terbilang lengkap. Tapi jangan terlalu banyak berharap.
Kedua, buku lawas cerita silat dan komik. Buku cerita silat (cersil) semisal karya-karya S.H. Mintardja sudah sulit dicari. Ada sekitar belasan judul cersilnya. Kebanyakan dari karyanya pernah dimuat di koran Kedaulatan Rakyat, seperti Nagasasra Sabuk Inten. Karya ini sekarang telah diterbitkan oleh koran tersebut sebanyak 3 jilid (satu jilid seharga 100 ribu). Sementara karyanya yang lain masih terserak di banyak penggemarnya dahulu. Jika di Taman Pintar bisa ditemukan, ada sebagian yang terjilid rapi, tapi ada juga yang tercecer dalam bentuk serial. Dahulu, saya pernah bertemu di Taman Pintar, pada 2004, dengan Pak Muhlis; yang memiliki koleksi lengkap S.H. Mintardja. Saya pun membuktikan ke rumahnya, di Bantul. Lengkap memang. Mulai Nagasasra Sabuk Inten, Api di Bukit Menoreh hingga Misteri Kembang Kecubung. Saking gandrungnya, Pak Muhlis ludes membaca semua karya Mintardja itu. Bahkan dia nekat menjelajahi kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang dan Surabaya untuk melengkapi koleksinya. Meski, ketika butuh uang, dia terkadang juga menjualnya sebagian. Dia pernah menawarkan kepada saya (boleh ke orang lain) untuk membeli seluruh karya S.H. Mintardja tersebut dengan harga 10 juta.
Welahdalah! Ini rumah apa kolong tikus? Seolah mata tiba-tiba bolong, saat saya melihat ruang tamu yang disesaki timbunan majalah, buku-buku dijejer bersap-sap, dan berkardus-kardus cersil sampai nyaris menyentuh genteng yang telah disisir dan dikelompokkan berdasar judul, jilid, dan serinya. “Seluruh karya Mintardja lengkap, Nak Udin. Jika sampeyan berminat, semua akan saya lepas 10 juta saja. Jangan lama-lama mikirnya!” Mendengar tawaran itu, saya cuma tertegun dan tersenyum kecut. Yang terlintas di benak: peristiwa apa saja dalam puluhan tahun hingga ia dapat mengumpulkan seluruh cersil Mintardja? Belum lagi cersil dari pengarang lain yang juga seabrek koleksinya. “Saya nggak berduit sebanyak itu, Pak. Tapi saya yakin, suatu hari, akan datang sang pembeli ke rumah ini,” pungkas saya.
Wow! Sementara cersil lain dari pengarang lain juga memenuhi koleksinya. Yang pasti, Di Taman Pintar sekarang jarang ada. Kalaupun ada, mahal sekali harganya. Ada pun buku komik lawas, makin jarang lagi, seperti karya-karya lama Ganes TH , Hans Jaladara, dan lain-lain.
Ketiga, buku lawas jenis keislaman. Satu sisi, buku jenis ini sudah banyak diterbitkan. Lebih-lebih oleh penerbit yang konsern pada tema-tema keislaman yang ragamnya, terkait dengan pertimbangan laku-jual di pasar, memang tak terhingga banyaknya. Seperti buku Durratun Nashihin, Riyadus Shalihin atau Bulughul Maram telah berkali-kali dicetak ulang oleh banyak penerbit. Dan memang laris manis. Tapi untuk mencari buku semisal Al-Atsarul Baqiyah Anil Qurunil Khaliyah karya Al-Biruni, saya pastikan tak ada di Yogya (baik di toko buku atau di perpustakaan UIN sekalipun). Atau karya-karya monumental dari Ibnu Haitam (Risalah Sina’at Syi’ir), Ibnu Arabi (Futuhul Makkiyah), Al-Baqli (Masrab Al-Arwah), As-Sulami (Tabaqatus Shufiyya), Al-Maki (Qut al-Qulub) dan lain-lain, jelas kelabakan untuk mencari mereka. Kecuali sejenis kitab tersebut, mungkin, dimiliki kiai-kiai yang gandrung baca kitab. Untuk mencari yang agak ringan saja; tentang madharat dan manfaat rokok dan kopi, karya Kiai Ihsan Jampes berjudul Irsyadul Ikhwan fi Syarhil Qahwa wa al-Dukhan, Anda musti memburunya ke Jampes, atau ke Lirboyo, atau ke T.B. Firdaus di Pare. Bukan di toko kitab kuning, di Yogya.
Keempat, buku lawas Jawa kuno. Menyusuri jenis buku ini sebenarnya mudah, tapi jangan harap bisa dibawa pulang. Anda cukup cari buku hasil suntingan T.E. Behrend berjuluk Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Museum Sonobudoyo (Djambatan, 1990, Jakarta). Buku ini ada di perpustakaan Sonobudoyo, Yogya. Atau di penerbit Djambatan. Di Taman Pintar? setahu saya, nggak ada. Buku katalog itu memuat 1350 naskah Jawa kuno yang mencakup tema sejarah, silsilah, hukum, ihwal wayang, sastra wayang, sastra Jawa kuno dan sastra Islam kejawen, piwulang, primbon, bahasa, musik, tari-tarian, perkerisan, adat-istiadat, dan lain-lain.
Pengalaman tak terlupakan saya ketika, pada Desember 2005, di toko buku loak, milik Mas Widodo (di komplek Lt. II pasar Bringharjo), saya pernah menemukan sebuah buku lawas berisi kumpulan cerita ringkas dari para sastrawan Indonesia tempo doeloe berjudul Maleise Bloemlezing: Uit Hedendaagse Schrijvers, bertarikh 1947, terbitan J.B. Wolters-Batavia dan Sevire-Den Haag, yang disusun oleh Dr. G.W.J. Drewes (harga: 30 ribu). Ada belasan cerita unik, dengan ejaan lama, dari beberapa sastrawan semisal, M. Kasim, S. Hardjosoemarto, A. Datuk Madjoindo, Hersevien M. Taulu, S. Takdir Alisjahbana, H.A.M.K. Amrullah, Habib Sutan Maharadja, Seoman H.S., Ardi Soma, A. Soetan Pamoentjak N.S., A. Moeis, Selasih, Hamidah, N. St. Iskandar, Toelis Soetan Sati, I. Gusti Njoman P. Tisno dan H.S.D. Moentoe.
Tentu jika bukan pencinta dan pemburu buku yang bandel, sangatlah kerepotan melacak buku-buku tersebut. Bagi mereka yang sudah lama menyusuri jagat pernak-pernik buku pastilah memiliki kepuasan tersendiri ketika mereka telah menemukan buku yang mereka inginkan. Kendati ada juga pemburu buku lawas yang tidak begitu getol membaca, tapi semata hanya ingin mengoleksi saja. Ya, apa pun alibinya, kita layak untuk menghargainya. Sebab, buku adalah jendela dunia, dan peradaban manusia, salah satunya, dibangun dari tradisi membaca. Karena, “Sebuah buku”, ujar Cervantes, “adalah halte sejarah; tetirah abadi segala ingatan dan pengetahuan, meski tanpanya, kehidupan akan tetap berjalan apa adanya.” Memang, sebuah buku bukan sekadar lembaran kertas dan rekatan lem. Melainkan di dalamnya menyimpan sebentang peradaban, di mana manusia hidup bersamanya, dengan harapan dan cita-cita.
***
Jumat, 08 Juli 2011
Teater dan Pesantren
Fahrudin Nasrulloh *)
http://radarmojokerto.co.id/
Apakah itu teater? Untuk apa manusia membutuhkan teater? Kenapa orang-orang berpeluh tenaga dan keringat bermain teater? Apa ada kebajikan yang dibuahkan dari menggeluti teater? Barangkali demikianlah orang pesantren yang awam atau yang merasa punya riwayat dengan pesantren yang kurang mengenal teater akan bertanya-tanya semacam itu. Jawabannya sederhana: di pesantren nyaris tidak dikenalkan bahkan dikembangkan seni teater yang bagi mereka tidak lebih sebagai produk budaya Eropa-Barat yang hingga kini telah menjadi bagian dari seni pertunjukan moderen di Indonesia dan mendapatkan apresiasi yang luas di seluruh belahan dunia.
Berteater adalah menghirup keseharian, memaknai keberadaan diri atas nama kenyataan, dengan secermat mungkin, dengan yang biasa-biasa saja, merasakan aliran darah mengalir di urat-urat nadi. Menghayati tubuh yang bergerak, pikiran yang berkembara, orang-orang yang berpusaran dalam rutinitas keseharian dengan berbagai macam persoalannya. Dengan kesadaran apakah diri manusia telah kehilangan sesuatu yang paling hakiki atas eksistensinya. Tapi kenapa menjadi penting bahwa keberadaan diri harus dicari di dalam teater, bukan di luar teater? Apakah jika manusia merasa kehilangan diri, hingga sedemikian perlunya berikhtiar untuk menemukan diri? Di situlah teater sebagai sebuah seni menghadir. Seni berpikir, seni bergerak, seni menyikapi kesementaraan hidup, seni: apakah kita mencintai hidup atau membencinya, seni bagaimana Tuhan menciptakan semesta hingga manusia berpikir dengan cara yang bagaimanakah Tuhan menciptakan itu semua.
Teater sebagai seni mengandung nilai, pertama sebagai kekuatan efek dalam setiap adegan yang mengundang penafsiran yang berpijak atas pengalaman-pengalaman manusia. Kedua, menggelarkan pengalaman batin, tentang pikiran tokoh, kepribadian dan sesuatu dorongan kenapa seseorang bertindak dan menentukan keputusan. Ketiga, teater sebagai seni yang kompleks yang melibatkan sejumlah aktor, penulis naskah, sutradara, asisten sutradara, penata pentas atau busana atau cahaya, koreografer, dan pengolah musik. Dari kompleksitas itulah teater menemukan kekuatannya dalam sebuah kerja sama yang solid dan bertanggungjawab demi suatu penciptaan pelakonan yang tunggal.
Pengalaman manusia, dalam konteks lelaku teater, berusaha merekam pola-ragam pengalaman-pengalaman itu yang di dalamnya berbagai persoalan dapat diungkai, dieksplorasi, dan mengurai sebab-akibat suatu peristiwa. Perspektif sejarah, filsafat, dan disiplin keilmuan lain sangatlah menunjang bagi sejauh mana sebuah pementasan teater disajikan. Walau yang dipentaskan oleh teater adalah art experience (pengalaman seni) bukan life experience (pengalaman hidup), karena itu hakikat teater sebagai bentuk seni menghadirkan yang fiksi dan imajinasi.
Maka hal yang serasa samar-samar menggelayut dalam pola berpikir yang filsafati misalnya akan menemukan fungsinya pada semisal sebuah pemanggungan teater Dinasti dari Jogja yang pada 23 Agustus 2008 menyajikan lakon Tikungan Iblis di Taman Budaya Yogyakarta, dengan sutradara Emha Ainun Nadjib. Pengalaman yang demikian bisa ditemukan dalam adegan demi adegan di mana manusia berhadapan dengan manusia yang berpikir kritis seperti iblis.
Kenapa dengan iblis? Dalam Tikungan Iblis itu diilustrasikan kerusakan di bumi juga disebabkan oleh manusia, bukan iblis yang selama ini dijadikan kambing hitam atas segala keterkutukannya. Apa kira-kira yang perlu didengar dari iblis? Apa manusia telah menyerupai perilaku iblis? Tidak sekedar pesan, tapi ada pemikiran yang mengalir di sana, dalam pementasan itu, yang sesaat, lalu penonton pulang, dengan atau tanpa membawa sesuatu apa. Di dalam peristiwa itulah teater berfungsi sebagai ajang “pertemuan” dalam ruang sosial yang disebut panggung, dengan corak pikiran dan apresiasi penonton yang bermacam-macam.
Kini kita bertanya, bagaimana orang-orang pesantren memahami seni, dalam hal ini teater? Seperti apakah pemahaman mereka? Apakah orang-orang pesantren mempunyai pemikiran tentang kesenian atau kebudayaan? Ya, kita akan teringat sebutan LESBUMI (Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia) di tahun 60-an di mana tokoh sastra dan film seperti Asrul Sani dan Usmar Ismail menyokong berdirinya lembaga ini di bawah panji-panji kebesaran NU. Namun kini LESBUMI tidak kedengaran lagi. Namun wacana ini tidak menjadi fokus di sini.
Sastra dan “Teater Pesantren”
Teater dan pementasannya adalah menghadirkan suatu peristiwa. Peristiwa yang bisa disuling dari hal yang nyata maupun yang fiksi. Pementasan teater bisa berdasarkan pada naskah drama, novel, cerpen, suatu peristiwa yang dianggap penting, maupun dari sepotong puisi. Dari naskah drama banyak sekali contohnya, semisal dari naskah-naskah Arifin C. Noer, Putu Wijaya, W.S. Rendra, Heru Kesawamurti, dan lain-lain. Dari novel semisal pementasan Ladang Perminus yang digarap oleh grup MainTeater Bandung yang disutradarai oleh Wawan Sofwan yang penggarapannya didasarkan pada novel Ladang Perminus karya Ramadhan KH.
Mari kita cuplikkan satu contoh pemanggungan teater yang berdasarkan suatu peristiwa berikut ini:
Nuremberg, Jerman, Mei, tahun 1928, di suatu sore. Seorang lelaki dengan langkah terhuyung-huyung, jatuh dan bangun lagi. Seperti seorang bayi ia merangkak tanpa bisa berkomunikasi. Tak ada yang tahu asal lelaki ini. Satu-satunya petunjuk adalah secarik surat yang dibawanya. Surat tersebut menjelaskan lelaki itu sejak lahir disekap dalam dalam kotak di gudang bawah tanah dan tak pernah melihat matahari terbit.
Berita kemunculan lelaki itu segera membuat geger. Warga Nuremberg menganggap lelaki itu sebagai makhluk liar lalu menggotongnya ke penjara kota. Segeralah diketahui bahwa lelaki itu tidak bisa menggunakan jari-jemarinya, dan tidak bisa membedakan antara laki-laki dengan perempuan. Ketika disodori kertas dan pensil, ia agak gugup, kemudian dengan susah payah ia menuliskan namanya: “Kaspar Hauser”.
Dokter mengira apa yang dituliskan itu baru dilatihkan oleh seseorang. Dari hasil pemeriksaan disimpulkan bahwa lelaki itu tidak pernah melihat matahari, tidak pernah melihat orang lain, kecuali orang yang memberinya makan.
Kaspar kemudian disosialisasikan. Ia dijadikan obyek kunjungan dokter, ahli hukum, dan aparat pemerintah dari seluruh Eropa. Teka-teki tentang dirinya belum banyak terpecahkan, dan pada 1933 secara tragis Kaspar ditikam oleh seseorang yang tak dikenal. Penduduk Nuremberg menulis epitafnya: Di sini dikuburkan seorang misterius yang terbunuh secara misterius. (D&R, 1998: 34-35)
Nukilan peristiwa tersebut kemudian oleh novelis Peter Handke dari Austria digarap dalam bentuk sebuah pentas teater berjudul Kaspar. Namun ia garap dengan perspektif lain meski masih menguat karakter si Kasparnya. Peter menyajikan bagaimana kerja para teknokrat, birokrat dan ilmuan dalam membuat keberadaban manusia yang belum dianggap beradab. Naskah eksperimental ini dipanggungkan pada 1967 dan 1968 di Jerman. Kemudian di Indonesia, naskah Kaspar pernah dipentaskan Teater Payung Hitam Bandung pada 1994-2003.
Bagaimanakah dengan naskah-naskah yang bermuatan dengan nilai-nilai keislaman atau kepesantrenan? Naskah Iblis karya Muhammad Diponegoro bisa dijadikan contoh. Atau Tikungan Iblis di atas. Atau yang berdasarkan puisi-puisi Emha Ainun Nadjib yang selanjutnya menghasilkan pementasan Lautan Jilbab. Ataupun cerpennya “Ambang”, dalam kumpulan cerpen Yang Terhormat Nama Saya (Sipress, Yogyakarta: 1992), yang menyoal hubungan eksistensial antara si hamba dan Tuhan. Terkait dengan tematik “iblis”, inspirasi bisa saja muncul untuk menjadikannya sebagai naskah teater. Sebagaimana peristiwa Kaspar Hauser, psikologi sufi yang akrab dengan dunia pesantren bisa saja menjadi pertarungan wacana yang memikat untuk dipentaskan. Seperti cuplikan peristiwa atas sosok sufi Al-Junayd ini dalam pertarungan batiniahnya dengan iblis:
Telah diceritakan bahwa Junayd berkata, “Pada suatu ketika aku sangat ingin bertemu dengan Iblis. Pada suatu hari, aku sedang berdiri di pintu mesjid tatkala seorang tua berjalan ke arahku dari kejauhan. Ketika aku bisa memandangnya dengan jelas, rasa takut tiba-tiba mencekam diriku. Saat dia datang mendekatiku, aku berkata, ‘Siapa engkau wahai orangtua? Mataku tak dapat melihatmu dengan jelas karena rasa tercekam, dan hatiku pun tak dapat memikirkan engkau.’ Dia menjawab, ‘Aku adalah sesuatu yang kau inginkan.’ Aku menyahut, “Wahai Iblis, makhluk terkutuk, apa yang menjadikan engkau bersujud kepada Adam?’ Dia menjawab, ‘Wahai Junayd, apa yang memberimu gagasan bahwa aku akan bersujud kepada yang lain selain pada Allah?’ Junayd merasa terpesona dengan kata-katanya. Lalu muncullah bisikan yang mengiang di telinganya agar menimpali si Iblis dengan kalimat: Engkau berdusta! Jika engkau benar-benar seorang hamba, engkau tentu tak akan pernah melangkahi perintah dan larangan Allah. Iblis mendengar bisikan itu dari hati Junayd lalu sontak berteriak, ‘Engkau telah membuatku terbakar, karena Allah!’ Dan Iblis pun menghilang.”
Pegiat teater yang baik adalah juga pembaca yang baik, lebih-lebih dalam pengayaan membaca buku-buku sastra. Sejumlah cerpen Danarto merefleksikan dunia Islam-kejawen yang mistis, magis, sublim, absurd, dan multi-tafsir telah mengantarkan sosoknya sebagai “penulis sufi” dalam khazanah sastra Indonesia yang cukup diperhitungkan. Banyak hal yang dapat dijadikan inspirasi pengeksplorasian lewat cerpen-cerpen Danarto semisal dalam kumpulan cerpennya Adam Ma’rifat (Balai Pustaka, Jakarta: 1992), Godlob, ataupun Berhala (Pustaka Firdaus, Jakarta: 1996). Pemikiran wahdatul wujud tercermin dalam karya-karyanya. Meski demikian, atmosfir cerita-ceritanya, menurut Umar Kayam, masih tetap dalam rangka bagaimana manusia yang bertuhan memahami sekaligus memuliakan misteri keesaan Sang Pencipta.
Cerpen A.A. Navis Robohnya Surau Kami pernah disebut Gus Dur sebagai representasi sastra kepesantrenan yang menggelontorkan pertarungan batin si kakek dengan tokoh Ajo Sidi tentang hakikat ibadah, sorga, pengabdian tampa pamrih, dan pilihan tokoh si kakek yang putus asa lalu bunuh diri, dan kondisi surau yang perlahan-lahan mau roboh sebab tiada yang merawat setelah peristiwa matinya si kakek.
K.H. Mustofa Bisri dengan cerpen-cerpennya menyorongkan inspirasi yang menarik sebagai bahan pementasan. Kita bisa mencermatinya dalam kumpulan cerpen nya Lukisan Kaligrafi (Kompas, Jakarta: 2003). Cerpen “Gus Jakfar”, “Mubaligh Kondang”, “Ngelmu Sigar Raga” atau “Amplop-amplop Abu-abu” misalnya benar-benar menyuguhkan ilustrasi bagaimana potret riil dan ruang lingkup interaksi sosial di pesantren terhadir begitu mendalam yang tercermin pada tokoh-tokohnya, peristiwanya, suasana yang dibangun Gus Mus. “Gus Jakfar” pertama kali dimuat Kompas pada 23 Juni 2002 yang sontak mendapatkan apresiasi yang luas dari banyak sastrawan, terutama bagi kiai-kiai sejawat Gus Mus. Sejak itu, sastra pesantren mendulang harapan dari pelbagai pihak. Meski kini ia sudah lama absen menulis cerpen.
Novel Khotbah di Atas Bukit (Bentang, Jakarta: 2008) karya Kuntowijoyo menggulirkan sosok Barman tua bersama Popi istrinya yang menyingkir dan mengembara dari keramaian kota menuju sebuah bukit yang sepi untuk menemukan kedamaian hidup. Meski dalam rangka berlibur, mereka banyak menemukan dunia spiritual yang unik. Dan Kuntowijoyo mengisahkannya dengan penuh kelembutan penuh makna, dramatik dalam imajinasi, tanpa berkoar-koar mendesakkan pesan yang artifisial.
Beragam khasanah sastra di atas sekedar gambaran kecil di mana pegiat teater bisa menimba inspirasi untuk pementasan. Tentu masih banyak hal yang dapat digali dari dunia pesantren. Tidak hanya untuk berteater, dunia film juga telah mengangkat sisi-sisi dilematis di wilayah pesantren. Sebut saja film Perempuan Berkalung Sorban yang digarap Hanung Bramantyo dari novel dan dengan judul yang sama karya Abidah El-Khalieqy. Film 3 Doa 3 Cinta yang dibintangi Nicolas Saputra dan Dian Sastrowardoyo yang dibesut Nurman Hakim begitu apik sehingga film ini mendapatkan penghargaan sebagai film terbaik dalam Jakarta International Film Festival (JiFFest) tahun 2009.
Tak terbantah lagi, pesantren memiliki dimensi sosio-kultural yang unik sekaligus problematik jika ditautkan pada landasan etik-moral Syari’ah-fiqhiyyah maupun aqidah-ubudiyah yang memungkinkan hadirnya “setapak jalan” untuk menjalin nilai-nilai ekspresif seni dan budaya, dalam hal ini teater. Mampukah nilai-nilai tersebut oleh pegiat teater di pesantren dapat ditumbuh-suburkan dan dikembangkan tanpa menggedor subtansi keimanan dan prinsip-prinsip etika Islam dan kepesantrenan?
Walakhir, jika Tuhan dan apa yang diciptakannya adalah dunia yang acak, misterius, dan bak buku terbuka bagi siapa saja, maka tercetusnya seni dan pemikiran manusia tak lain atas sebab-Nya. Lantaran itu, segalanya bakal benderang untuk menuju cahaya-Nya.
Catatan:
Tulisan ini disampaikan pada acara “Orientasi Teater SATU dan Seminar Kekaryaan” yang diselenggarakan oleh BEM Fakultas Bahasa dan Sastra UNIPDU Jombang, pada 24 Desember 2009.
*) Fahrudin Nasrulloh, pegiat Komunitas Lembah Pring Jombang
http://radarmojokerto.co.id/
Apakah itu teater? Untuk apa manusia membutuhkan teater? Kenapa orang-orang berpeluh tenaga dan keringat bermain teater? Apa ada kebajikan yang dibuahkan dari menggeluti teater? Barangkali demikianlah orang pesantren yang awam atau yang merasa punya riwayat dengan pesantren yang kurang mengenal teater akan bertanya-tanya semacam itu. Jawabannya sederhana: di pesantren nyaris tidak dikenalkan bahkan dikembangkan seni teater yang bagi mereka tidak lebih sebagai produk budaya Eropa-Barat yang hingga kini telah menjadi bagian dari seni pertunjukan moderen di Indonesia dan mendapatkan apresiasi yang luas di seluruh belahan dunia.
Berteater adalah menghirup keseharian, memaknai keberadaan diri atas nama kenyataan, dengan secermat mungkin, dengan yang biasa-biasa saja, merasakan aliran darah mengalir di urat-urat nadi. Menghayati tubuh yang bergerak, pikiran yang berkembara, orang-orang yang berpusaran dalam rutinitas keseharian dengan berbagai macam persoalannya. Dengan kesadaran apakah diri manusia telah kehilangan sesuatu yang paling hakiki atas eksistensinya. Tapi kenapa menjadi penting bahwa keberadaan diri harus dicari di dalam teater, bukan di luar teater? Apakah jika manusia merasa kehilangan diri, hingga sedemikian perlunya berikhtiar untuk menemukan diri? Di situlah teater sebagai sebuah seni menghadir. Seni berpikir, seni bergerak, seni menyikapi kesementaraan hidup, seni: apakah kita mencintai hidup atau membencinya, seni bagaimana Tuhan menciptakan semesta hingga manusia berpikir dengan cara yang bagaimanakah Tuhan menciptakan itu semua.
Teater sebagai seni mengandung nilai, pertama sebagai kekuatan efek dalam setiap adegan yang mengundang penafsiran yang berpijak atas pengalaman-pengalaman manusia. Kedua, menggelarkan pengalaman batin, tentang pikiran tokoh, kepribadian dan sesuatu dorongan kenapa seseorang bertindak dan menentukan keputusan. Ketiga, teater sebagai seni yang kompleks yang melibatkan sejumlah aktor, penulis naskah, sutradara, asisten sutradara, penata pentas atau busana atau cahaya, koreografer, dan pengolah musik. Dari kompleksitas itulah teater menemukan kekuatannya dalam sebuah kerja sama yang solid dan bertanggungjawab demi suatu penciptaan pelakonan yang tunggal.
Pengalaman manusia, dalam konteks lelaku teater, berusaha merekam pola-ragam pengalaman-pengalaman itu yang di dalamnya berbagai persoalan dapat diungkai, dieksplorasi, dan mengurai sebab-akibat suatu peristiwa. Perspektif sejarah, filsafat, dan disiplin keilmuan lain sangatlah menunjang bagi sejauh mana sebuah pementasan teater disajikan. Walau yang dipentaskan oleh teater adalah art experience (pengalaman seni) bukan life experience (pengalaman hidup), karena itu hakikat teater sebagai bentuk seni menghadirkan yang fiksi dan imajinasi.
Maka hal yang serasa samar-samar menggelayut dalam pola berpikir yang filsafati misalnya akan menemukan fungsinya pada semisal sebuah pemanggungan teater Dinasti dari Jogja yang pada 23 Agustus 2008 menyajikan lakon Tikungan Iblis di Taman Budaya Yogyakarta, dengan sutradara Emha Ainun Nadjib. Pengalaman yang demikian bisa ditemukan dalam adegan demi adegan di mana manusia berhadapan dengan manusia yang berpikir kritis seperti iblis.
Kenapa dengan iblis? Dalam Tikungan Iblis itu diilustrasikan kerusakan di bumi juga disebabkan oleh manusia, bukan iblis yang selama ini dijadikan kambing hitam atas segala keterkutukannya. Apa kira-kira yang perlu didengar dari iblis? Apa manusia telah menyerupai perilaku iblis? Tidak sekedar pesan, tapi ada pemikiran yang mengalir di sana, dalam pementasan itu, yang sesaat, lalu penonton pulang, dengan atau tanpa membawa sesuatu apa. Di dalam peristiwa itulah teater berfungsi sebagai ajang “pertemuan” dalam ruang sosial yang disebut panggung, dengan corak pikiran dan apresiasi penonton yang bermacam-macam.
Kini kita bertanya, bagaimana orang-orang pesantren memahami seni, dalam hal ini teater? Seperti apakah pemahaman mereka? Apakah orang-orang pesantren mempunyai pemikiran tentang kesenian atau kebudayaan? Ya, kita akan teringat sebutan LESBUMI (Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia) di tahun 60-an di mana tokoh sastra dan film seperti Asrul Sani dan Usmar Ismail menyokong berdirinya lembaga ini di bawah panji-panji kebesaran NU. Namun kini LESBUMI tidak kedengaran lagi. Namun wacana ini tidak menjadi fokus di sini.
Sastra dan “Teater Pesantren”
Teater dan pementasannya adalah menghadirkan suatu peristiwa. Peristiwa yang bisa disuling dari hal yang nyata maupun yang fiksi. Pementasan teater bisa berdasarkan pada naskah drama, novel, cerpen, suatu peristiwa yang dianggap penting, maupun dari sepotong puisi. Dari naskah drama banyak sekali contohnya, semisal dari naskah-naskah Arifin C. Noer, Putu Wijaya, W.S. Rendra, Heru Kesawamurti, dan lain-lain. Dari novel semisal pementasan Ladang Perminus yang digarap oleh grup MainTeater Bandung yang disutradarai oleh Wawan Sofwan yang penggarapannya didasarkan pada novel Ladang Perminus karya Ramadhan KH.
Mari kita cuplikkan satu contoh pemanggungan teater yang berdasarkan suatu peristiwa berikut ini:
Nuremberg, Jerman, Mei, tahun 1928, di suatu sore. Seorang lelaki dengan langkah terhuyung-huyung, jatuh dan bangun lagi. Seperti seorang bayi ia merangkak tanpa bisa berkomunikasi. Tak ada yang tahu asal lelaki ini. Satu-satunya petunjuk adalah secarik surat yang dibawanya. Surat tersebut menjelaskan lelaki itu sejak lahir disekap dalam dalam kotak di gudang bawah tanah dan tak pernah melihat matahari terbit.
Berita kemunculan lelaki itu segera membuat geger. Warga Nuremberg menganggap lelaki itu sebagai makhluk liar lalu menggotongnya ke penjara kota. Segeralah diketahui bahwa lelaki itu tidak bisa menggunakan jari-jemarinya, dan tidak bisa membedakan antara laki-laki dengan perempuan. Ketika disodori kertas dan pensil, ia agak gugup, kemudian dengan susah payah ia menuliskan namanya: “Kaspar Hauser”.
Dokter mengira apa yang dituliskan itu baru dilatihkan oleh seseorang. Dari hasil pemeriksaan disimpulkan bahwa lelaki itu tidak pernah melihat matahari, tidak pernah melihat orang lain, kecuali orang yang memberinya makan.
Kaspar kemudian disosialisasikan. Ia dijadikan obyek kunjungan dokter, ahli hukum, dan aparat pemerintah dari seluruh Eropa. Teka-teki tentang dirinya belum banyak terpecahkan, dan pada 1933 secara tragis Kaspar ditikam oleh seseorang yang tak dikenal. Penduduk Nuremberg menulis epitafnya: Di sini dikuburkan seorang misterius yang terbunuh secara misterius. (D&R, 1998: 34-35)
Nukilan peristiwa tersebut kemudian oleh novelis Peter Handke dari Austria digarap dalam bentuk sebuah pentas teater berjudul Kaspar. Namun ia garap dengan perspektif lain meski masih menguat karakter si Kasparnya. Peter menyajikan bagaimana kerja para teknokrat, birokrat dan ilmuan dalam membuat keberadaban manusia yang belum dianggap beradab. Naskah eksperimental ini dipanggungkan pada 1967 dan 1968 di Jerman. Kemudian di Indonesia, naskah Kaspar pernah dipentaskan Teater Payung Hitam Bandung pada 1994-2003.
Bagaimanakah dengan naskah-naskah yang bermuatan dengan nilai-nilai keislaman atau kepesantrenan? Naskah Iblis karya Muhammad Diponegoro bisa dijadikan contoh. Atau Tikungan Iblis di atas. Atau yang berdasarkan puisi-puisi Emha Ainun Nadjib yang selanjutnya menghasilkan pementasan Lautan Jilbab. Ataupun cerpennya “Ambang”, dalam kumpulan cerpen Yang Terhormat Nama Saya (Sipress, Yogyakarta: 1992), yang menyoal hubungan eksistensial antara si hamba dan Tuhan. Terkait dengan tematik “iblis”, inspirasi bisa saja muncul untuk menjadikannya sebagai naskah teater. Sebagaimana peristiwa Kaspar Hauser, psikologi sufi yang akrab dengan dunia pesantren bisa saja menjadi pertarungan wacana yang memikat untuk dipentaskan. Seperti cuplikan peristiwa atas sosok sufi Al-Junayd ini dalam pertarungan batiniahnya dengan iblis:
Telah diceritakan bahwa Junayd berkata, “Pada suatu ketika aku sangat ingin bertemu dengan Iblis. Pada suatu hari, aku sedang berdiri di pintu mesjid tatkala seorang tua berjalan ke arahku dari kejauhan. Ketika aku bisa memandangnya dengan jelas, rasa takut tiba-tiba mencekam diriku. Saat dia datang mendekatiku, aku berkata, ‘Siapa engkau wahai orangtua? Mataku tak dapat melihatmu dengan jelas karena rasa tercekam, dan hatiku pun tak dapat memikirkan engkau.’ Dia menjawab, ‘Aku adalah sesuatu yang kau inginkan.’ Aku menyahut, “Wahai Iblis, makhluk terkutuk, apa yang menjadikan engkau bersujud kepada Adam?’ Dia menjawab, ‘Wahai Junayd, apa yang memberimu gagasan bahwa aku akan bersujud kepada yang lain selain pada Allah?’ Junayd merasa terpesona dengan kata-katanya. Lalu muncullah bisikan yang mengiang di telinganya agar menimpali si Iblis dengan kalimat: Engkau berdusta! Jika engkau benar-benar seorang hamba, engkau tentu tak akan pernah melangkahi perintah dan larangan Allah. Iblis mendengar bisikan itu dari hati Junayd lalu sontak berteriak, ‘Engkau telah membuatku terbakar, karena Allah!’ Dan Iblis pun menghilang.”
Pegiat teater yang baik adalah juga pembaca yang baik, lebih-lebih dalam pengayaan membaca buku-buku sastra. Sejumlah cerpen Danarto merefleksikan dunia Islam-kejawen yang mistis, magis, sublim, absurd, dan multi-tafsir telah mengantarkan sosoknya sebagai “penulis sufi” dalam khazanah sastra Indonesia yang cukup diperhitungkan. Banyak hal yang dapat dijadikan inspirasi pengeksplorasian lewat cerpen-cerpen Danarto semisal dalam kumpulan cerpennya Adam Ma’rifat (Balai Pustaka, Jakarta: 1992), Godlob, ataupun Berhala (Pustaka Firdaus, Jakarta: 1996). Pemikiran wahdatul wujud tercermin dalam karya-karyanya. Meski demikian, atmosfir cerita-ceritanya, menurut Umar Kayam, masih tetap dalam rangka bagaimana manusia yang bertuhan memahami sekaligus memuliakan misteri keesaan Sang Pencipta.
Cerpen A.A. Navis Robohnya Surau Kami pernah disebut Gus Dur sebagai representasi sastra kepesantrenan yang menggelontorkan pertarungan batin si kakek dengan tokoh Ajo Sidi tentang hakikat ibadah, sorga, pengabdian tampa pamrih, dan pilihan tokoh si kakek yang putus asa lalu bunuh diri, dan kondisi surau yang perlahan-lahan mau roboh sebab tiada yang merawat setelah peristiwa matinya si kakek.
K.H. Mustofa Bisri dengan cerpen-cerpennya menyorongkan inspirasi yang menarik sebagai bahan pementasan. Kita bisa mencermatinya dalam kumpulan cerpen nya Lukisan Kaligrafi (Kompas, Jakarta: 2003). Cerpen “Gus Jakfar”, “Mubaligh Kondang”, “Ngelmu Sigar Raga” atau “Amplop-amplop Abu-abu” misalnya benar-benar menyuguhkan ilustrasi bagaimana potret riil dan ruang lingkup interaksi sosial di pesantren terhadir begitu mendalam yang tercermin pada tokoh-tokohnya, peristiwanya, suasana yang dibangun Gus Mus. “Gus Jakfar” pertama kali dimuat Kompas pada 23 Juni 2002 yang sontak mendapatkan apresiasi yang luas dari banyak sastrawan, terutama bagi kiai-kiai sejawat Gus Mus. Sejak itu, sastra pesantren mendulang harapan dari pelbagai pihak. Meski kini ia sudah lama absen menulis cerpen.
Novel Khotbah di Atas Bukit (Bentang, Jakarta: 2008) karya Kuntowijoyo menggulirkan sosok Barman tua bersama Popi istrinya yang menyingkir dan mengembara dari keramaian kota menuju sebuah bukit yang sepi untuk menemukan kedamaian hidup. Meski dalam rangka berlibur, mereka banyak menemukan dunia spiritual yang unik. Dan Kuntowijoyo mengisahkannya dengan penuh kelembutan penuh makna, dramatik dalam imajinasi, tanpa berkoar-koar mendesakkan pesan yang artifisial.
Beragam khasanah sastra di atas sekedar gambaran kecil di mana pegiat teater bisa menimba inspirasi untuk pementasan. Tentu masih banyak hal yang dapat digali dari dunia pesantren. Tidak hanya untuk berteater, dunia film juga telah mengangkat sisi-sisi dilematis di wilayah pesantren. Sebut saja film Perempuan Berkalung Sorban yang digarap Hanung Bramantyo dari novel dan dengan judul yang sama karya Abidah El-Khalieqy. Film 3 Doa 3 Cinta yang dibintangi Nicolas Saputra dan Dian Sastrowardoyo yang dibesut Nurman Hakim begitu apik sehingga film ini mendapatkan penghargaan sebagai film terbaik dalam Jakarta International Film Festival (JiFFest) tahun 2009.
Tak terbantah lagi, pesantren memiliki dimensi sosio-kultural yang unik sekaligus problematik jika ditautkan pada landasan etik-moral Syari’ah-fiqhiyyah maupun aqidah-ubudiyah yang memungkinkan hadirnya “setapak jalan” untuk menjalin nilai-nilai ekspresif seni dan budaya, dalam hal ini teater. Mampukah nilai-nilai tersebut oleh pegiat teater di pesantren dapat ditumbuh-suburkan dan dikembangkan tanpa menggedor subtansi keimanan dan prinsip-prinsip etika Islam dan kepesantrenan?
Walakhir, jika Tuhan dan apa yang diciptakannya adalah dunia yang acak, misterius, dan bak buku terbuka bagi siapa saja, maka tercetusnya seni dan pemikiran manusia tak lain atas sebab-Nya. Lantaran itu, segalanya bakal benderang untuk menuju cahaya-Nya.
Catatan:
Tulisan ini disampaikan pada acara “Orientasi Teater SATU dan Seminar Kekaryaan” yang diselenggarakan oleh BEM Fakultas Bahasa dan Sastra UNIPDU Jombang, pada 24 Desember 2009.
*) Fahrudin Nasrulloh, pegiat Komunitas Lembah Pring Jombang
Selasa, 07 Desember 2010
DEWAN KESENIAN DAN PROBLEMATIK SASTRA JATIM
Fahrudin Nasrulloh*
http://forumsastrajombang.blogspot.com/
Dewan kesenian yang eksis di berbagai wilayah di propinsi Jawa Timur memiliki kontribusi sekaligus problem tersendiri. Dari 38 kota dan kabupaten di Jatim kiranya tidak semua wilayah tersebut bercokol lembag dewan kesenian. Kendati Jatim menyimpan 10 subkultur kebudayaan (ditambah 2 kultur budaya Arab dan Cina) yang sangat kaya dan luas.[1] Dewan kesenian terbentuk oleh entitasnya sebagai upaya bagaimana kesenian dipikirkan dan kemudian dikelola, diurus dengan baik. Apakah kesenian memang perlu dilestarikan dan terus ditumbuh-kembangkan oleh semacam lembaga yang semi swasta semi pemerintah ini? Tidak mudah menjawabnya. Namun pemerintah juga punya visi dan strategi dalam ancangan agenda-agenda pembangunan untuk memberdayakan kebudayaan bangsanya dan kesenian yang berkembang di wilayahnya, yang kentara adalah lewat kementerian budaya dan pariwisata. Di sini definisi dan konsentrasi pengembangan antara “budaya” dan “pariwisata” sering tumpang-tindih, mengalami kerancuan. Satu sisi, bagaimana suatu budaya ditangani lalu diperhadapkan pada tantangan globalisasi-kapitalistik. Sisi lain, yang pariwisata itu, agendanya adalah mengembangkan budaya, mengolah hasanah lokalitas, obyek wisata, perhotelan, dan sarana pendukung lain semacam yang sering dijargonkan dengan istilah industri kreatif atau ekonomi kreatif. Bukan sekedar dodolan potensi sumber dayanya. Mengurusinya justru hal yang tak gampang, krusial, bahkan rentan menuai kritik.
Dalam konteks dewan kesenian, karena ini berhubungan erat dengan pemerintah yang mengucurkan dana, maka bagi yang terlibat di dalamnya, baik seniman maupun budayawan atau yang blenk soal itu tidaklah bisa melepaskan wilayah politik-birokatis yang oleh karenanya membutuhkan kesadaran politik yang kontekstual. Di Kabupaten Jombang misalnya, dewan kesenian pernah dibentuk tahun 1999, tapi mampet. Persoalan klasik seperti watak seniman yang tidak bisa bergerak bareng mewujudkan satu visi dan keseriusan pemerintah setempat menjadi problem kasuistik yang mendasar. Sekitar 2 kali agenda pembentukan lembaga itu diadakan dalam bentuk seminar kebudayaan kisaran tahun 2000-an, tapi nihil. Hingga yang terakhir, pada 25 Februari 2010, Dewan Kesenian Jombang dikukuhkan, itupun dengan munculnya secara tiba-tiba dana hibah 500 juta. Apakah dengan tidak mengalirnya dana hibah itu Dewan Kesenian Jombang tidak akan dibentuk?
Dinas Porabudpar Jombang penyorong utama pembentukan Dewan Kesenian Jombang itu. Ironisnya, hingga kini deadlock. Padahal sudah 3-4 kali rapat dan yang terakhir raker pun telah diadakan. Kiranya, ada “orang dalam” yang sedang “bermain” petak umpet dan bikin “telikung intrik”, lebih gelap dari puisi gelap, di sana.[2] Membuat kita kian sumpek dan bertanya-tanya, untuk apa sebuah dewan kesenian di masa yang penuh sengkarut dan pragmatis ini dibentuk? Lain lagi yang terjadi di Muara Enim. Seorang teman warga kota itu, Fikri namanya (aktor teater jebolan Komunitas Tombo Ati dan alumnus Fakultas Bahasa dan Sastra STKIP PGRI Jombang), bercerita kepada saya tentang dewan kesenian di sana di mana memang SDM-nya minim kualitas. Tak mampu mengelola ketika dikucuri anggaran 250 juta pertahun. Maka dananya ditarik kembali oleh pemda.[3]
Nah, sekarang, bagaimana kita mencermati keberjalanan Dewan Kesenian Jawa Timur? Tampaknya lembaga ini terus bergeliat dengan semangat yang progresif dan selalu gemebyar agenda-agenda keseniannya. Dalam kepengurusan yang sekarang dipimpin oleh A. Fauzi, kita bisa melongok siapa sosok ini. Konon, dulu ia adalah seniman tari, seperti juga Heri Lentho Prasetya. Yang keduanya kini tak lagi menekuni tari.[4] Dunia tari Surabaya khususnya, terasa kehilangan gregetnya, malah nyaris tidak terdengar generasi penerusnya. Komite teater ada R. Giryadi, sementara di luar dia banyak pegiat teater Surabaya yang terus menggali spirit kebaruan berkaryanya, semisal Zainuri dan Hanif Nasrulloh. Kendati begitu, persoalan teater di Surabaya yang agak tertatih-tatih masih sepi dari kritik, eksplorasi, dan koreksi.[5] Dan Biro Sastra DKJT dimotori penyair dan novelis Mashuri. Rata-rata pejabat di DKJT ini adalah seniman yang sekaligus mengurusi kesenian. Perlu dipikirkan juga, apakah sudah tepat misalnya di tubuh DKJT yang mengurusi kesenian adalah seniman juga? Kadang saya menyayangkan, sejumlah teman seniman yang sebenarnya masih punya kesempatan panjang dan potensial dalam upaya proses kreatif kekaryaan menjadi seolah-olah mandul dan kering dalam keberkayaannya. Birokrasi dan tetek-bengek urusan administratif demikian menyedot banyak waktu dan konsentrasi. Jadi kian berat mempertahankan keajegan dan konsistensi dalam berkarya.
Mungkin perlu adanya semacam penyegaran bahwa yang mengelola DKJT secara teknis di lapangan adalah orang-orang selain seniman, dan mereka paham bagaimana menjalankan tugas-tugasnya.[6] Para seniman bisa dijadikan semacam penasihat. Paling tidak ini upaya meminimalisir kasak-kusuk tidak produktif dan kesan “politik kesenian” yang sering dialamatkan pada DKJT. Kesan DKJT berperan lebih banyak sebagai EO (even Organizer) penting untuk dipelototi.[7] Juga soal penerbitan buku dan Majalah Kidung.[8] Ini sungguh menyodok dan bikin gerah. Sorotan dan gugatan demikian memang tak terelakkan, selain problem pribadi antar seniman yang lebih complicated.
Mencermati situasi DKJT demikian, saya coba membaca pertalian erat yang saling pengaruh-mempengaruhi antara lembaga tersebut dengan kondisioning sastra dan komunitas sastra di Jatim saat ini. Ada empat pembacaan. Pembacaan ini mengacu pada relasi ruang sosial sastra dan penggiatnya, lokalitas, efek gerakan sastra, etos kreatif, serta tantangannya.
1. “Sastra DKJT” dan Gerakan Sastra Komunitas
Ketika membincangkan ihwal realitas sastra Jatim, kayaknya pencermatannya bisa nabrak ke mana-mana dan tidak fokus. Pertanyaan entengnya, realitas sastra Jatim yang bagaimana? Data macam apa dan sejauh mana geliat sastra yang bergerak di 38 kota/kabupaten di Jatim? Ini data yang butuh kerja raksasa dan tidak main-main. Mungkin, secara kasarnya, realitas sastra dan itu menjadi mainstream sastra Jatim saat ini adalah “realitas sastra DKJT”: yakni agenda-agenda sastra yang dihelat Komite Sastra DKJT, yang terkadang bekerja bareng dengan Dewan Kesenian Surabaya (DKS) dalam bentuk forum diskusi Halte Sastra. Tentu tidak menafikan geliat komunitas lain di Surabaya seperti Komunitas Esok, Srawung Art, Komunitas Luar Pagar, Komunitas Rabo Sore, Komunitas Tikar Pandan (Iqbal Baraas di Banyuwangi), Komunitas Lembah Pring (Jabbar Abdullah di Jombang dan Mojokerto), dll. Dan yang terbaru ini telah muncul Forum Sastra Gokil (FSG) yang dipawangi Mardi Luhung,[9] dan digerakkan A. Muttaqien dan kawan-kawan. Nongolnya forum baru semacam ini tetap bermakna, bahwa berdiskusi dengan nongkrong-nongkrong nyantai di warung kopi untuk mengudar berbagai gagasan dan wawasan, dari yang muda sampai yang tuek, harus terus disengkuyung bersama. Sebab pertemuan secara langsung memiliki daya “bakar kreatif” sendiri dibanding di “kamar onani facebook”.
Maka Komite Sastra DKJT ibarat obor sastra Jatim yang berpusat di Surabaya, yang tak henti gelisah mengulik identitas wilayahnya. Banyak even sastra yang tergelar di sini. Tulisan ini bukan berupaya memetakan. Karena saya bukan ahli ukur tanah. Bukan berarti pemetaan sastra atau komunitas sastra tidak penting. Sangat penting. Dan itu sejatinya tugas bagi siapa pun, lebih-lebih bagi lembaga seperti DKJT. Sebab realitas sastra Jatim cakupannya luas sekali, dan memang nggak terlalu mendesak didiskusikan.
Saya cenderung tertarik menghubungkan tema di atas pada bahasan totalitas berkarya beberapa penulis, misalnya pada Mardi Luhung, Mashuri, dll. Atau para cerpenis generasi muda Jatim seperti Diana AV Sasa (Pacitan), Hanif Nasrulloh (Surabaya), S Jai (Lamongan), Ahmad Rofiq (Gresik), MS. Nugroho (Jombang), Iqbal Baraas (Banyuwangi), Mahwi Air Tawar, dan beberapa penulis muda Madura lainnya seperti Lukman Mahbubi, Juwariyah Mawardi, Mawaidi MD, dan Badrul Munir Khoir. Jadi, persoalan sastra kita sebernarnya adalah bagaimana membangun kegetolan berkarya, karena itu pada puncaknya jelas mengimbas pada karya juga.
Perkara lain adalah ruwetnya psikologi penulis terkait motivasi berkarya dan “iman” kepengarangan. Semua pengarang berjibaku di sini. Bertarung demi menembus koran nasional dan ini pertaruhannya adalah kualitas karya dan totalitas berkarya. Tentu hanya yang terpilih yang disortir redaktur koran untuk dimuat di antara ratusan karya. Otokritik jadi penting juga, yang jika diabaikan kerap melahirkan over subyektivitas, narsis, dan sinisme pada karya orang lain. Di sinilah “iman” kepengarangan diuji: bagaimana karya terus ditempa dengan berpijak pada pertarungan batin personal dan ruang sosialnya. Karya-karya D Zawawi Imron dan Mardi Luhung membuktikan itu. Keterlibatan yang bisa “umup” dan “istiqamah” dalam mengeksplorasi identitas kultur-sosialnya, bukan cuma modal imajinasi, tapi riset serius.[10] Karya yang besar akan muncul sendiri menembus masa depan.
Maka komunitas sastra yang telah dibentuk sejumlah kawan paling tidak diharapkan mampu melahirkan suatu gerakan sastra yang militan dan punya visi yang jelas. Kita belum menemukan itu di Jatim.
2. Labirin Setan “Sastra Facebook”
Duduk berlama-lama. Dari pukul ke pukul. Jam dinding sekarat. Meleleh ke mulut. Matanya bunar. Bunarnya menggerogoti usus. Mengunang-ngunang semalaman seharian. Mengamati status sendiri, teman, orang lain. Pikiran ngleyang ke entah. Sudah lama gagasan buntu. Kayak peceren. Mencari sesuatu. Untuk apa? Untuk basa-basi. Mungkin semata busa-busa kata. Digelisah siapa, diburu apa? Hilang lagi. Apalagi yang menjelma hantu di tengkuk. Bayangan sendiri, menghantui leher sendiri. Cari angin magrib. Putar film Love Song for Bobby Long. John Travolta yang kacau. Rambut putihnya amat puitik. Jadi cacing cemas. Scarlett Johannsen aduhai sintalnya. Lawson yang murung terkubur kenangan romansa Eliot dan Dickens. Kenapa dimatikan. Membuka layar baris puisi lagi. Puisi ini harus selesai. Dangkal! Buang! Ya, di sana. Ini dia. Yang lama ditunggu-tunggu. Yang luput tertangkap. Jalanan ramai. Kendaraan bergerung-gerung. Pikiran akan puisi, kota, ampas imajinasi, tak bisa dihentikan. Mengalir terus. Tubercolusis ini, ambeyen, maag, kesemutan, migren, welahdalah. Benarkah begini. Cuma rematik. Mampus juga biar. Tapi pekiknya melambat. Merayapi tenggorokan. Invictus diputar lagi. Mandela tak mati. Melayap lagi. Bensin habis. Ada yang memberat ditulis. Dikibuli. Ancrit tenan! Tidak sekarang. Ada laki-laki iseng nungging. Perempuan gendeng tengkurap.
Hai lihat status baru itu! Status bugil yang mengular. Seperti mayat busuk. Ah, tidak jadi. Malas komen. Bau bangkai babi. Berpikir lagi. Jari-jari kram. Air telinga meleler. Langit tetap cemerlang purnama. Pipinya merona. Jalanan macet. Koran-koran beterbangan! Mau apa lagi ya? Ini sungguh darurat. Ah, nggak juga. Ia menggebuk komen itu sana-sini. Ini harus dihapus. Biarkan sebentar. Nunggu komen baru. Rokok minta dikepulkan. Perih asap di mata. Kopi tinggal kerak. Ada yang kangen kopi unthuk dari Gresik. Beli rokok lagi. Asbak mana ni? Datang ke acara itu nggak ya? Alamatnya tak jelas. Di rumah saja. Atau nongkrong ke warung sebelah. Cari inspirasi, sepotong puisi, puisi gagal, separagrap cerpen dan esai. Ah, suntuk. Busuk. Dihajar bosan dan kantuk. Nulis ngawur saja. Tentang kebrengsekan seniman ini lembaga itu. Puisi jelek ini puisi bagus itu. Bla-bla-bla. Muter-muter dari lidah ke pantat. Di sini lebih baik. Di medan cyber. Kumpul-kumpul juga hanya jadi kentut. Oh, kentut kotaku yang hiruk bertempikan. Nyesaki dubur. Si Kontet misuh: Jancok!
Demikianlah sepentil ilustrasi dari kolong penggila facebook sebagai salah satu medan ekspresi sastra yang tak terelak lagi di jaman Blackberry ini. Perkembangan teknologi yang supercepat kini bergerak zig-zag menerobosi kita: menciptakan harapan sekaligus kotoran. Harapan dalam arti teknologi informasi telah mengaruskan berbagai jenis saluran informasi dari seluruh penjuru dunia, dan setiap orang hilir-mudik di dalamnya. Melalui teknologi itu pula kita menyaksikan suatu interaksi sosial, lanskap “dunia rata”, “dunia ulang-alik” di mana siapa saja bisa menumbuhkan jaringan sosial dan menjadi pelaku dalam percaturan aneka pergaulan.[11]
Dalam konteks itu, kiranya kehidupan sastra yang memang berurusan dengan tulisan, bisa lebih dapat dikembangkan. Jika dahulu kita sangat tergantung kepada dunia percetakan dan penerbitan yang berpusat di kota-kota besar, yang seiring juga dengan pembentukan selera, citra dan nilai yang cenderung sentralistik, kini melalui teknologi informasi yang bersifat cyber yang sudah ada di mana-mana, setiap penulis bisa mengakses dan menyampaikan karyanya kepada siapa saja. Penulis sekaligus sebagai “redaksi” yang menyeleksi karyanya yang dianggap bisa dinikmati oleh semua warga dunia maya itu. Tentu ada dampak negatif. Karena setiap orang bisa saja menulis karya sastra dan mengirimkannya, maka karya dengan mulusnya bisa lolos, dan mungkin konsekwensinya juga dunia maya akan dibanjiri oleh karya sastra yang kurang bermutu bahkan buruk.
Tapi “efek samping” itu tidaklah terlalu benar. Sebab, dalam belantara cyber juga terdapat interaksi kritis, bahkan skala kekritisannya melebihi dibandingkan dalam dunia penerbitan. Jika dalam dunia penerbitan kapasitas kritis hanya dipegang oleh sang kritikus, kini siapa saja, di samping sebagai penulis, juga bisa menjadi kritikus atau perusuh. Polemik yang baru-baru ini terjadi terkait terbitan buku Pesta Penyair yang diterbitkan Komite Sastra DKJT mencuatkan berbagai dialektika krusial seputar gonjang-ganjing sastra di Jatim baru-baru ini.[12] Menyedot keterlibatan kritis dari luar, seperti getolnya Saut Situmorang dkk terkait problem sastra Jatim dengan sengkarut permusuhan Boemipoetra versus TUK. Sebagai contoh, unggahan facebook Jabbar Abdullah (Komunitas Lembah Pring Jombang) ihwal tulisan tanggapan AF Tuasikal berlambar “Skandal TUK Manipulasi Sastra Jatim”, yang dimuat di harian Kompas Jatim (27/8/2010) terhadap tulisan Beni Setia dan Dwi Pranoto sebelumnya. Ini bukti percekcokan di jagat facebook, bukan lagi di forum diskusi. Apa pun dan dengan siapa pun mereka bisa perang gagasan sampai cakar-cakaran di sini.[13]
Kondisi ini menunjukkan demokratisasi sastra yang membludakkan pecahnya ruang sosial yang dulunya tidak seperti itu. Penuh gejolak, intrik, dari yang bersifat politis, main-main, serampangan, dan serius.
3. Mampetnya Sastra Pesantren
Peranan pesantren dalam sejarah dunia literasi di Indonesia tak dapat dielakkan pengaruh besarnya. Hanya saja kini nyaris tak ditemukan denyut bagaimana sastra pesantren dikembangkan secara intens sebagai suatu gerakan kebudayaan islami. Dari kalangan muslim di luar tradisi pesantren, Forum Lingkar Pena (FLP) telah menunjukkan gerakan kepenulisan yang fleksibel dan progesif. Padahal jika ditilik secara kuantitatif, jumlah pesantren di Jatim sangatlah banyak. Bahkan ratusan. Di Jombang saja, pada 2008, jumlah pesantren berkisar 83 pesantren. Kediri 150-an. Belum lagi di wilayah tapal kuda: Jember, Banyuwangi, Lumajang, Probolinggo, Situbondo, dan Bondowoso. Tentu kini hitungan itu makin berbiak. Wilayah Madura apalagi, dan Sumenep yang paling menunjukkan geliat itu.
Satu catatan kecil, Ponpes Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang yang bekerja sama dengan RMI (Rabithah Ma’ahid Islamiyah) dan jaringan intelektual NU menggelar Halaqah Nasional Kebudayaan Pesantren pada tanggal 22 – 23 Agustus 2008. Acara yang diadakan di aula masjid Ponpes Tebuireng tersebut mengusung tema “Kebangkitan Sastra Pesantren”.[14]
Kegiatan ini menunjukkan gairah menulis para santri ponpes Tebuireng khususnya, dan para undangan yang datang dari beragam wilayah di Jawa. Ini mengingatkan kita pada tahun 1998 di mana pernah digelar Kongres Kebudayaan Pesantren di Ponpes Pandanaran di Magelang, Jawa Tengah, yang menghadirkan Menteri Agama Thalhah Hasan, Dr. Simuh, Ahmad Thohari, dll.
Kontribusi dari kegiatan semacam ini sangatlah penting sebagai jejak untuk meniti arah perkembangan ke depan. Karena pesantren sejak dahulu merupakan basis intelektualisme lslam yang cemerlang yang kini memerlukan reorientasi dan cakrawala baru dalam memaknai dan menumbuh-kembangkannya. Tentu, halaqah ini, ke depannya, dapat lebih difokuskan pada semisal, workshop kepenulisan yang ajeg dan bervisi jelas. Sejumlah penulis berbasis pesantren dari berbagai daerah turut menyemarakkan acara ini seperti, Sachri M. Daroini (Magelang), Isma Kazee (yang juga redaktur Mata Pena [lini Penerbit LKiS], Yogyakarta), Zaki Zarung (Yogyakarta). Hadir pula saat itu penyair M. Faizi (dari Ponpes An-Nuqayyah, Guluk-guluk, Sumenep), dan Dadang Ali Murtono dari Pacet, Mojokerto. Kedua penyair ini puisinya masuk dalam antologi dua belas penyair mutakhir Jatim 2008.
Kita perlu muhasabah dan mengharap respon positif dari kalangan sesepuh pesantren: bagaimanakah kiprah dan kontribusi pesantren sebagai wilayah produksi kebudayaan agar tidak lungkrah (terbengkalai) dan bermelodrama dalam tradisi masa silam semata. Dalam perkara ini, kebudayaan bukan hanya dalam bentuk seni-budaya saja. Kita tahu bahwa banyak bentuk seni-budaya NU yang kini boleh dikatakan berkembang dan ikut bersaing, dan mendapatkan apresiasi masyarakat, seperti musik gambus (di Jombang misalnya ada Gambus Misri), hadrah, komunitas rebana dan lainnya. Bahkan dalam dunia sastra modern, kita juga melihat akar potensi sastra pesantren walaupun belum memiliki wujud yang signifikan. Perlu pula pendataan komunitas sastra di pesantren. Mlempem-nya pemikiran kesusatraan (lebih luas dalam konteks kebudayaan) pesantren harus segera diwujudkan. Setidaknya dijadikan bahan refleksi.[15]
4. Penggerak Sastra Lokal
Derap teknologi yang kian menderas terlebih perkembangan media internet perlu dipikirkan kembali oleh para penulis sastra lokal yang memiliki orientasi kepada upaya untuk mengembangkan nilai pengaruh karyanya, di mana dunia internet bisa dimanfaatkan secara efektif. Karena akses penerbitan karya masih jadi kendala. Sekaranglah kondisi yang sangat memungkinkan karya sastra dengan bobot nilai sejarah lokal bisa diketahui secara intensif oleh siapa saja. Dan sangat memungkinkan dengan interaksi yang intensif itu terciptalah kritik dari perspektif sejarah lokal lainnya, yang secara positif memungkinkan dinamika pembaharuan akan nilai sastra dari sejarah lokal masing-masing.
Hanya masalahnya sekarang, sejauh manakah penulis sastra lokal benar-benar memiliki spirit sebagai periset; kapasitas riset perlu dikembangkan melalui penajaman metode dan pendalaman berbagai data, fakta serta pencarian sumber-sumber baru lainnya dengan kupasan kritis. Jika saja setiap penulis sastra lokal bisa menerapkan hal ini, bahkan pada tingkat data, fakta serta kupasannya saja, sudah menarik, dan hal itu sangat memungkinkan untuk proses pembaharuan karya serta terciptanya sastra “masa depan Indonesia”.
Dengan kondisi yang kian terbuka dan seluruh jagat bisa dijembatani oleh dan melalui dunia internet, tantangan bagi penulis sastra lokal untuk kembali mencari akar dari kehidupan sastranya: sejarah sosial, kerangka nilai-nilai pendahulu yang pernah ada di sekitar wilayahnya; revitalisasi dengan kesadaran visi ini sungguh menggembirakan, dan kemajuan teknologi informasi bisa menjadikan hidup lebih manusiawi melalui sastra lokal. Inilah yang saya sebut sebagai “sastra keterlibatan”, memiliki empati pada basis sosio-historisnya. Ini sekaligus untuk menepis bahwa tidak semua penulis cuma berkutat dalam “kamar sunyinya” sendiri, melulu berkarya bermodalkan imajinasi.
Kaitannya dengan komunitas sastra, penggerak sastra lokal di berbagai daerah di Jatim sangatlah banyak. Tidak adanya pemetaan juga mengaburkan pendeteksian, dan ini persoalan lawas.[16] Sastra lokal bisa pula mengacu pada sejumlah penulis yang berkarya dan menerbitkan karya dengan koceknya sendiri. Dan Lamongan adalah gudangnya. Kita bisa menyebut Nurel Javissyarqi dengan Penerbit Pustaka Pujangga-nya, Alang Khoiruddin (Penerbit Pustaka Ilalang), AS Sumbawi (Penerbit Sastranesia), dll. Puluhan karya sastra baik dari penulis Lamongan sendiri maupun dari luar banyak yang mereka terbitkan.
Perkembangan penerbit dan komunitas sastra sejatinya digerakkan hanya oleh segelintir orang. Konsistensi dan militansi personal untuk menjadikan sastra sebagai gerakan literasi (tradisi membaca dan menulis) memang berat. Komunitas Rumah Dunia yang dipandegani Gola Gong dan Firman Venakyasa di Serang, Banten, adalah salah satu contohnya. Peran sosial sastra dalam ruang lingkup di kampung Ciloang itu telah menjadikan Rumah Dunia dan agenda tahunan Ode Kampung terapresiasi secara luas di wilayah Jawa Barat, bahkan gagasan-gagasan gerakan literasi mereka menasional.[17] Keterlibatan warga dengan anak-anak dan khususnya generasi muda dalam dunia menulis, membikin film indie, mengembangkan perpustakaan Jendral Kancil, dll, merupakan satu strategi personal dan mampu menjadi sebuah gerakan sosial untuk mengembangkan SDM masyarakat setempat.
Nah, di Jatim kayaknya masih adem-ayem. Belum kelihatan sosok seperti Gola Gong yang, selain tetap produktif menulis, jaringan Rumah Dunia dengan komunitas lain terjalin baik, misalnya dengan FLP, dan sejumlah pentolannya seperti Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, dll.
Dan jika boleh dibilang mainstream sastra di Jatim adalah “sastra DKJT” (baik agenda-agenda sastranya maupun hasil penerbitannya) di samping kita mengakui wilayah derap sastra yang lain seperti Jakarta, Jogja, Solo, Bandung, Riau, Lampung, dll, di Jatim tetaplah tidak bisa diabaikan keberadaan komunitas sastra yang lain yang bergerak dalam bingkai yang sama, meski belum tampak sebagai sebuah “gerakan” dan pengaruhnya tidak secemerlang Rumah Dunia.
***
Mempertimbangkan apa pentingnya sebuah dewan kesenian dalam upaya menumbuhkan etos kerja kreatif penulis dan komunitas sastra di Jatim di saat ini dan mendatang, menurut saya hal itu tek perlu metenteng dipikirkan. Semua pasti kembali kebarak masing-masing: pada kesadaran totalitas berkarya dan memberi arti pada ruang sosialnya. Jika memang dewan kesenian tetap dibutuhkan, lembaga itu haruslah dirancang berlandaskan, menurut Suyatna Anirun, pada “adab kesadaran”. Yakni kesadaran atas keberadaan para seniman atau budayawan secara umum maupun khusus, kesadaran atas keanekaragaman bentuk dan perwatakan serta kompleksitas problem kesenian yang ada. Kesadaran akan potensi serta prospek pengembangannya di masa depan. Dewan kesenian harus dibangun atas dasar “adab bebas/mandiri”, dan selanjutnya atas “adab integritas” dan “keseimbangan”.[18] Karena itu, diperlukan kewaspadaan dan pemikiran yang kritis akan “politik kesenian” dalam berbagai konteks, wacana, dan perubahan.
Tidak perlu kita terdesak melimbur diri dalam kepicikan, dan menadahkan tangan dengan mimik memelas pada pemerintah sebagai penopang atau sekedar ganjel bagi kekaryaan kita. Soal berkembang atau bobroknya kesenian dan masyarakat seni itu tanggung jawab seniman sendiri. Untuk itu keberadaan dewan kesenian harus bertolak atas dasar kebutuhan bersama. Jikalau kesadaran ini tak ada lantaran tetek bengek dan perkara tak mutu lainnya, tak usahlah terlalu nggerundel soal eksistensi dan kayak apa kerja pejabat “dewan kesenian”. Kita perlu lebih terusik untuk mengatasi berbagai persoalan nyata di sekitar kita, misalnya keterlibatan pesastra dalam perubahan sosial di lingkungannya.
Mungkin kita belum cukup beradab untuk bisa membentuk sebuah lembaga yang bersih dari pekatnya konflik kepentingan. Dan kehidupan sastra di Jatim semoga tidak jadi bemper dan bayang-banyang belaka di medan itu. Pegiatnya musti mandiri dan mencetuskan “revolusi kecil”nya sendiri.
Jombang-Tandes, 20 September 2010
[1] 10 wilayah kebudayaan tersebut adalah kebudayaan Jawa Mataraman, Jawa Ponoragan, Arek, Samin (Sedulur Sikep), Tengger, Osing (Using), Pandalungan, Madura Pulau, Badura Bawean, dan Madura Kangean. Masing-masing pendukung wilayah kebudayaan ini pada umumnya menempati wilayah tertentu dan mengembangkan lingkungan budaya yang khas jika dibandingkan dengan wilayah budaya lain. Pembagian wilayah kebudayaan ini bukan sesuatu yang final. Lihat Ayu Sutarto dan Setya Yuwana Sudikan (Ed), Pemetaan Kebudayaan di Propinsi Jawa Timur: Sebuah Upaya Pencarian Nilai-nilai Positif. Diterbitkan oleh Biro Mental Spiritual Pemerintah Propinsi Jawa Timur bekerja sama dengan Kompyawisda Jatim-Jember. 2008. Hlm. iv-v.
[2] Baca uraian sengkarut problem dalam artikel lain saya: “Tulisan Terbuka Untuk Bupati Suyanto Soal Seni-Budaya Jombang”, Radar Mojokerto, April 2010; “Menimbang Visi Kebudayaan Dewan Kesenian Jombang”, Radar Mojokerto, Mei 2010; “Membangun Fondasi Seni Tradisi Jombang”, Radar Mojokerto, Juni 2010.
[3] Kasus lain misalnya Di Jawa Barat, terkait dengan gak pahamnya pemerintah dengan fungsi dewan kesenian. Ini terjadi pada tahun 2000 (lewat lansiran koran Pikiran Rakyat) tentang pembekuan DKDJB (Dewan Kesenian Daerah Jawa Barat). Memang mengenaskan. Ketaksepengertian mengenai fungsi dan tugas-tugas DKDJB bagi pihak Pemda DT I maupun pengurus DKDJB sendiri. Tak pernah ada penyelesaian. Dan gedung dewan keseniannya terbengkalai sebelum difungsikan. Entah kini bagaimana. Baca: Suyatna Anirun, Catatan Budaya (Bandung: Etnoteater Publications, 2002).
[4] Dalam sekian kali kluyuran saya ke Solo untuk menyaksikan beberapa jenis pertunjukan teater, tari dan musik, saya sempat berbincang-bincang dengan Halim HD, seorang budayawan dari Forum Pinilih Solo, yang lumayan paham dengan dunia pertunjukan di berbagai daerah. Melihat kota Solo yang demikian bergairah dalam berbagai pertunjukan, saya bertanya padanya: bagaimanakah dengan perkembangan tari di Surabaya atau Jawa Timur? Ada beberapa pentil catatan dari obrolan itu.
Pada periode tahun 1990-an Surabaya memiliki beberapa koreografer muda berbakat yang lumayan handal dan pernah memasuki ajang bergengsi. Periode itu sebagai suatu jembatan pembaharuan dunia tari dengan munculnya Achmad Fauzi melalui penata tari muda dari Jakarta, dan sempat pula ia mencicipi kunjungan ke Amerika dalam program American Dance Festival. Tapi, entah kenapa, arek Madura yang dulu digadang-gadang akan tampil sebagai koreografer mantap ini nampaknya kemudian melarut melakoni keseniannya sebagai EO (event organizer). Di samping Achmad Fauzi yang kini menjadi juragan Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT), ada sosok Arief Rofiq, yang sebagai penari ciamik dan memiliki basis kuat dalam khasanah lokal, juga termasuk dalam hitungan koreografer muda yang dipandang potensial mengangkat Surabaya dan Jatim ke tingkat nasional dan internasional. Pendiri Raf Raf Dance Company ini memang pernah beranjangsana membawa grupnya ke berbagai negeri di Eropa dan Australia mewakili Jatim. Sayangnya, ia sibuk dengan birokrasi di Taman Budaya Jawa Timur (TBJT) dan sekarang menjadi staf Dinas Parsenibud Jawa Timur. Dan ajang tari kontemporer Surabaya kayaknya sepi sejak 10 tahun terakhir ini.
Salah satu koreografer yang juga banyak mengisi dan belakangan nampak sibuk dengan jaringan antar bangsa melalui movement art, Parmin Ras, yang berusaha dalam karyanya menggabungkan antara khasanah lokal yang bersifat spiritual dengan konsep tari moderen-kontemporer. Pada tahun 1990-an juga muncul salah seorang aktivis mahasiswa yang memiliki wawasan luas dalam teater, musik dan juga tari dan dengan bobot politik hadir di Surabaya, Heri “Lentho” Prasetya. Muncul di Festival Seni Surabaya, lalu Indonesia Dance Festival di Jakarta, Makassar Dance Forum, Makassar Arts Forum, dan berulang kali mengisi berbagai forum tari kontemporer dengan pendekatan teater-tari. Lentho, yang oleh sejumlah networker kebudayaan Solo dianggap salah seorang yang mampu mengawinkan antara kesenimanan dan sebagai organizer serta sangat paham dengan berbagai peta khasanah seni pertunjukan di Jawa Timur. Kurator seni pertunjukan itu bahkan punya harapan, jika saja Lentho punya fokus pada teater-tari. Tapi, sayang, katanya terlalu sibuk dengan lembaga yang digelutinya sekarang ini.
Ilustrasi itu membuat kita getun (menyesal), dan bertanya-tanya, kenapa Surabaya dan Jawa Timur yang memiliki perguruan tinggi seni jurusan tari semisal Unesa, STKW dan UNM tak melahirkan banyak penari dan calon koreografer; dan kenapa pula mereka yang pernah malang-melintang selama 10 tahun lalu undur dari panggung? Padahal, telisik Halim HD, Surabaya (dan Jakarta) adalah salah satu kota yang memberikan inspirasi dunia tari moderen melalui balet. Keluarga Sijangga adalah salah satu tokoh balet klasik dan moderen di mana pada era 1960-an sampai 1970-an terbilang begitu kondang. Dengan catatan peristiwa ini, kita kembali bertanya-tanya, kenapa sejarah tari moderen-kontemporer di Surabaya dan Jawa Timur tidak langgeng, tidak memiliki keberlangsungan yang ajeg (konsisten) sebagaimana di Solo, Jakarta dan Jogjakarta? Mungkin dibutuhkan sejenis forum-forum yang kontinyu agar muncul kembali gairah itu, dan para dedengkot kembali berkarya-cipta, serta para calon koreografer bisa melihat dan melanjutkan jejak yang pernah ada. Menurut saya, Surabaya dengan berbagai institusi keseniannya yang kini bergairah perlu mewujudkan forum itu, agar Surabaya kembali diperhitungkan dalam persada tari kontemporer Indonesia.
[5] Kenapa teater di Indonesia kian redup, dan kenapa pula kehidupan teater di berbagai kota yang dahulu dianggap sebagai wilayah pertumbuhan dan perkembangan teater yang begitu kuat, lalu nampak seperti pudar, misalnya Surabaya atau Malang yang pernah tercatat sebagai dua kota di Jatim yang memiliki tradisi teater moderen yang kuat?
Pertanyaan ini sering saya dengar dari pekerja teater di dalam dan di luar kampus. Boleh jadi jawabannya bisa kita kopi-paste dari pekerja teater di Bandung. Pada Desember 2008 saya pernah kebetulan mampir ke Bandung (setelah mengunjungi acara Ode Kampung di Rumah Dunianya Gola Gong di Serang) dan nongkrong di sana beberapa hari, ngobrol-ngobrol dengan mereka. Dari beberapa dedengkot teater seperti Rachman Sabur, Benny Yohannes dan banyak yang lebih muda lagi, menyatakan bahwa teater di Bandung hidup bukan hanya karena pekerja teater yang terus bergerak dan berproses. Tapi juga dukungan media massa. Pendek kata adalah pemberitaan. Pentingnya ulasan atau kritik. Apa yang ditulis Suyatna Anirun (alm) yang dengan telaten telah menunjukkan ulasan serius pada setiap peristiwa pementasan. Tradisi ini terus intensif hingga sekarang. Karena itu teater di Bandung tetap mempertahankan spirit keseniannya, selain bertarung untuk kehidupan diri dan ngopeni keluarga sehari-hari. Meski di Jatim dahulu ada Max Arifin (alm) yang juga sering nulis kritik teater.
Interaksi antara kehidupan teater dengan media menjadi konsekuensi logis dari kehidupan kesenian di kota. Cermati pula apa yang dibilang bos Jawa Pos, Dahlan Iskan, yang menyatakan bahwa pembaca kesenian tidak lebih dari 2%, bahkan kadang kurang dari satu persen. Wajar jika media tidak hirau kepada pementasan teater, terkecuali grup yang sangat kondang misalnya dengan aktor “raja monolog” Butet Kertarejasa. Pentas sejenis ini menjadi suatu perkecualian, bahkan disambut media dengan gempita.
Saya juga pernah ngobrol-ngobrol dengan seorang redaktur seni-budaya sebuah koran nasional, yang menyatakan, pada setiap periode tertentu, perhatian pembaca kepada kupasan kesenian berbeda-beda. Dulu teater kuat, dan senirupa kurang begitu ada gaungnya. Kini terbalik, sejak 15 tahun terakhir ini, senirupa menduduki ranking tertinggi untuk kupasan seni-budaya, lalu disusul oleh musik, tari, sastra, dan teater yang paling bontot!
Soal lain lagi kenapa media tidak memuat kupasan teater adalah karena semakin sepinya pengulas teater yang bagus. Kalaupun ada si pengulas hanya memuji-muji, dan merosot persepktif kritiknya. Hal itu saya dengar dari beberapa redaktur yang menganggap bahwa di daerah makin langka kritikus teater yang mumpuni. Ini sungguh ironik. Ketika dunia akademis, khususnya fakultas budaya jurusan bahasa Indonesia yang juga mengenalkan berbagai bentuk teater beserta teori serta sejarahnya, kenapa pula kritikusnya kian langka? Seolah ada kesan bahwa menulis kupasan teater sebagai beban yang mengotori pikiran dan posisinya?
Di Surabaya, katanya dulu pernah ada sosok Basuki Rachmat (alm) dan Akhudiat yang dianggap piawai dalam mengupas teater, dan di Malang ada Hazim Amir (alm) yang dengan rajin menulis, sehingga orang-orang teater bisa belajar dari kupasannya. Dan kini, sesungguhnya terdapat, mungkin, seratusan lulusan bahasa Indonesia yang skripsi S1 dan S2-nya tentang teater, tapi kenapa pula tidak ada ulasan. Ataukah teori yang diberikan memang tak setajam dan segairah teater di atas panggung, yang kini kian kosong, dan hanya ada satu atau dua grup yang masih setia di antara media yang hanya sesekali memberitakannya. Barangkali kita memang sudah tidak butuh kritik.
[6] Hal ini seiring dengan pendapat Sahlan Husain (sekretaris umum DKJT) dalam tulisannya berjudul “Fungsi Manajerial Kesenian” di Majalah Kidung (edisi 17-18. 2009. Hlm. 24.). Ia menyebut bahwa di Negara Asia lain, seorang figure ketua dewan kesenian dipercayakan kepada seorang doktor manajemen. Ia bukan seorang seniman, karena disiplin seniman sering tidak efektif dalam mengelola seni. Pola pikir seniman lebih banyak intuitif, spontan, dan tanpa perencanaan matang, serta lebih cenderung individual. Sementara, kalau ia berlatar belakang disiplin menajmen, biasanya lebih memiliki potensi untuk berpikir lateral (kreatif dan kaya akan terobosan-terobosan baru).
[7] Posisi DKJT itu kan mediator, penyambung lidah spirit seniman, menyorong kegiatan kesenian di daerah, komunitas-komunitas seni, menjembatani dengan gagasan pemikiran kesenian dan kebudayaan untuk dijadikan pertimbangan pemerintah, mengurangi perannya sebagai produsen karya, fokus memberikan motifasi, sebagai fasilitator bagi seniman untuk meningkatkan karya, melakukan pendataan komunitas seni (sastra) di mana hal ini sering didengung-dengungkan namun tak kelihatan hasilnya. Baca Tengsoe Tjahjono “Perhatikan Kebangkitan Kesenian di Daerah”, di Majalah Kidung (edisi 17-18. 2009. Hlm. 39). Lembaga ini dibentuk memang dengan tujuan untuk menguatkan seluruh potensi kehidupan kesenian di Jatim, seperti yang dikatakan A. Fauzi (ketum DKJT) dalam “Menguatkan Seluruh Potensi Kesenian” di Majalah Kidung (edisi 17-18. 2009. Hlm. 23). Menurutnya, dua peran DKJT adalah: sebagai pemikir dan memberikan usulan kepada Pemprov Jatim tentang strategi kebijakan di bidang pembangunan kesenian dan sebagai mitra bagi institusi terkait di bidang seni budaya dan Dewan Kesenian se Jatim yang secara koordinatif mendorong meningkatkan kualitas, aktifitas, dan fasilitasi. Demikian ungkapnya. Maka dari itu, tujuan dan peran ini setidaknya bukan cuma dijadikan slogan semata. Seringkali A. Fauzi dalam berbagai forum seminar menariknya dalam wacana “industri kreatif”. Katanya konsep ini mengacu pada bahwa seni budaya sebagai fakta ontologis yang bernilai ekonomi, mampu menciptakan industri yang berbasis pada kreativitas. Jika boleh mampir nanya, apa bukti konkrit DKJT sudah menjalankan itu? Ukurannya apa? Pada basis sosial yang bagaimana wacana itu diwujudkan? Soal kemandirian DKJT sendiri saja lembaga ini masih tergantung pada Pemprov. Paling tidak kemandirian DKJT ke depan dapat terealisir sebagai lembaga yang independent yang bisa bergerak lebih luas dan luwes.
[8] Tentang penerbitan buku, saya merujuk pada buku terbitan DKJT yang berjudul Orde Mimpi (2009). Ini kumpulan naskah drama R. Giryadi. Yang satunya adalah Kondisi Postmodern Kesusastraan Indonesia (kumpulan esai) karya Ribut Wijoto. Bagi saya alangkah lebih baik 2 buku tersebut diterbitkan di luar DKJT. Kenapa? Karena 2 buku ini karya pengurus DKJT. Soal Majalah Kidung, sudah menarik, hanya saja terlalu sering pengurusnya sendiri yang mengisi macam-macam rubrik di situ. Perlu juga mengundang pengulas luar Jatim, agar tumbuh dialektika dan sinergitas yang ciamik. Catatan ini beranjak dari obrolan saya dengan Mas A. Fauzi dan Mas Lentho, juga Pak Nasrul Ilahi (Disporabudpar Jombang) di warkop Pujasera Kebonrojo, di malam hujan deres sebelum pengukuhan Dewan Kesenian Jombang, pada 25 Februari 2010.
[9] Menurut Mardi, FSG hanyalah acara sastra acara biasa. Sekedar mengembalikan sastra ke dunia “imajinasi”-nya lagi. Gokil artinya gak medeni, gak patgulipat. Seger. Cengengesan. Agendanya 1 bulan sekali. FSG ini muncul di bulan Agustus lalu.
[10] Baca pengantar proses kreatif Mardi Luhung pada kumpulan puisinya yang terbaru Buwun (Pustaka Pujangga, Lamongan: 2010).
[11] Dalam kondisi seperti itu jika kita benar-benar menyadari berbagai khasanah seni-budaya yang demikian kaya di nusantara ini, kita dapat memberikan kontribusi pengetahuan dan pemahaman kepada siapa saja di bagian benua dan negeri lain, seperti juga kita bisa mengetahui segi kebudayaan dari warga lainnya. Karena itu, media cyber bisa menciptakan suatu kondisi toleransi dan saling memahami.
[12] Diawali dari sebuah tulisan Arif B. Prasetya yang dimuat di Jawa Pos, “Jawa Timur Negeri Puisi”, (25/9/2010). Lalu ditanggapi W Haryanto (1/8/2010), “Jatim Tidak Butuh Perspektif Jakarta” yang menyorot politisasi sastra dan sentralisasi sastra Jatim oleh pihak Jakarta. Kemudian dilanjut tulisan saya “Perang Sastra di Kandang Buaya”, (8/8/2010), dan dipungkasi oleh tulisan Beni Setia, “Belajar Sentosa Dengan Arif” (15/8/2010). Ini menjadi catatan penting bagi sejarah sastra Jatim.
[13] Misalnya Ribut Wijoto mengunggah sebuah tulisannya bertajuk “Kesusastraan Indonesia 25 Tahun ke Depan”, pada Kamis 26 Agustus 2010 (at 7:56pm). Esai ini sebelumnya pernah dimuat di Harian Sinar Harapan (21 Agustus 2010). Dari esai Ribut itulah terjadilah adu mulut antara Nurel Javissyarqi dengan Nuruddin Asyhadie. Keduanya malah tidak secara spesifik membahas tulisan Ribut. Tapi tulisan Nurel yang dipamerkan yang kemudian disikat Nuruddien. Nurel balas menghajar. Berjumpalitanlah. Terjadilah hajar-hajaran. Penonton keplok-keplok di luar. Ini juga gambaran realitas sastra kita kini. Simulakrum media maya yeng membentangkan makhluk absurd “facebook”, si tentakel teknologi modern.
[14] Secara resmi Shalahuddin Wahid sebagai pengasuh pondok ini, dalam pembukaan acara, menyampaikan pentingnya merawat tradisi intelektual pesantren bahwa kaum santri jangan sampai meninggalkan tradisi menulis yang telah diteladankan para sastrawan terdahulu, baik dari tradisi Arab klasik hingga perkembangan intelektual Islam mutakhir di negeri ini. Sedang Said ‘Aqil Siraj menyampaikan dalam orasi kebudayaan tentang pentingnya kebudayaan pesantren sebagai pengokoh karakter bangsa.
Pada malam 22 Agustus, panitia menghadirkan pembicara D. Zawawi Imron, yang mengulik tanya-jawab dengan tulisan “Tradisi Menulis di Kalangan Santri”. Pun Jadul Maula, dari Yayasan LKiS Yogyakarta, menggulirkan makalah dengan judul “Kekuatan Karya Sastra Santri”. Ajang interaktif ini cukup membentangkan cakrawala pemikiran dan spirit yang inspiratif bagi para santri.
Sementara pada 23 Agustus, acara ditutup dengan renungan kebudayaan oleh Dr. Ir. Soedarsono dengan tema, “Menjadi Santri yang Berbudaya dan Berwawasan Kebangsaan”. Sebelumnya, dialog disemarakkan dengan kehadiran penulis novel kontroversial Syekh Siti Jenar, Agus Sunyoto dari Malang, yang menyorongkan tulisan “Menelisik Akar Sistem Pendidikan Pesantren”. Dr. Mastuki HS juga melemparkan diskusi dengan “Memperkuat Akar Budaya Bagi Revitalisasi Sistem Pendidikan Pesantren”.
[15] Satu catatan dari peristiwa diselenggarakannya Muktamar Kebudayaan NU di Ponpes Kaliopak, Piyungan, Yogyakarta, pada 1 Februari 2010. Kegelisahan ini berakar dari kehidupan kebudayaan yang selama ini hanya ditangani secara sektoral dan setengah-setengah. Jika kita memandang posisi-fungsi NU dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan berkebudayaan, NU pernah memiliki masa kejayaan Lesbumi yang didirikan pada tahun 1950-an, sebagai wujud keprihatinan sekaligus ikhtiar NU dalam memroses reorientasi kebudayaannya hingga ke wilayah pedesaan. Hal inilah yang sesungguhnya menggulirkan masalah prinsip yang menjadi landasan NU mendirikan Lesbumi.
Sebagai organisasi sosial keagamaan, NU merasa perlu secara istiqamah untuk bukan sekadar di tingkat pusat dan propinsi dalam wilayah politik. Tapi bagaimana secara konsisten Lesbumi mampu mengelola kehidupan dan sistem kebudayaan pedesaan sebagai basis sosial-kulturalnya di antara perkembangan organisasi kebudayaan lainnya seperti Lekra (onderbouw PKI) dan LKN milik PNI yang masing-masing ikut juga menyasar wilayah pedesaan.
Namun tindakan prinsipil yang riil sehubungan dengan perkembangan NU yang terasa sekali dalam 20-an tahun terakhir ini terlalu banyak “bermain” di wilayah politik praktis yang berakibat NU tercerai-berai yang imbasnya warga mengalami kebingungan karena ketiadaan sosok panutan, seperti kiai sebagai barometer sosio-spiritual.
Apa yang kita harapkan secara mendasar dari NU pada masa kini dan yang akan datang adalah bagaimana suatu strategi kebudayaan menciptakan etos kerja yang tidak tergantung, sikap independen yang didasarkan kepada nilai-nilai religius, dan bagaimana menciptakan sistem ekonomi dari aspek kultural bagi warga pedesaan. Juga bagaimana ikut mengisi kehidupan kebudayaan nusantara dengan perspektif keberagaman seperti yang selalu disorongkan oleh Gus Dur selama ini. Pada sisi lainnya bagaimana NU membina dan mengembangkan secara terus-menerus nilai-nilai toleransi yang didasarkan kepada sikap kultural dalam konteks perkembangan zaman.
NU haruslah menyadari benar bagaimana penetrasi dan infiltrasi teknologi informasi beserta media hiburan yang bersifat konsumtif yang selama ini ikut menggiring kaum muda di kampung-kampung ke dalam berbagai bentuk pemborosan. NU tidak boleh menolak teknologi informasi dan media. Tapi bagaimana dengan etos kerja yang gigih dan kritis menjadikan sarana itu sebagai jembatan pengembangan ilmu dan teknik yang dimiliki oleh warga pedesaan. Dalam kaitan itu, betapa pentingnya NU secara terus menerus melakukan riset mendalam di berbagai bidang di wilayah pedesaan yang memang menjadi ruang sosial warganya.
NU sebagai organisasi sosial-religius perlu memikirkan bagaimana setiap daerah memiliki sejenis pusat-pusat penelitian yang benar-benar bisa dijadikan acuan bagi perkembangan warga secara praktis dan sekaligus ikut menyumbangkan perkembangan ilmu dan pemikiran di tingkat nasional. Sebab, jika NU tidak kembali kepada akar tradisinya dan mengembangkan potensi pedesaan, kota akan dijejali oleh urbanisasi, dan arus itu akan sangat merugikan posisi NU, karena mereka yang bermigrasi ke wilayah urban akan dengan gampang dilahap oleh iklan, gaya hidup hedonis, dan disorientasi nilai-nilai. Kita berharap kepada NU untuk merenungi perjalanannya dan menyusun strategi kebudayaan NU masa depan. Jika demikian keadaannya bagaimana bisa kita menggagas visi untuk mengembangkan sastra pesantren?
[16] Diana Av Sasa (cerpenis dan pegiat I:BOEKOE Jogja) suatu saat di kantin Balai Pemuda pernah ngobrolkan soal pemetaan komunitas sastra di Jatim dengan saya. Ia sendiri pernah mengusulkan bersedia didanai oleh lembaga mana pun untuk melakukan riset pemetaan itu dengan limit waktu 3 bulan. Tentu ia akan membentuk tim riset sebagai pengalamannya terlibat dalam riset pembuatan buku Almanak Senirupa Jogja. Hal ini tampaknya perlu direspon lebih lanjut.
[17] Bersama Halim HD dan Fahmi Faqih, saya sempat bertandang ke Rumah Dunia pada Desember 2008. Pada tanggal 5-7 Desember 2008, Ode Kampung III bertajuk “Temu Komunitas Literasi”. Agenda ini mencoba menyebarkan virus kebajikan melalui buku-buku dan gerakan literasi di Indonesia. Sedang Ode Kampung I “Temu Sastrawan se-Indonesia” dilaksanakan pada Februari 2006 yang dihadiri oleh 150 satrawan. Ode Kampung II “Temu Komunitas Sastra se-Indonesia” pada Juli 2007 yang cukup menghebohkan konstelasi kesusastraan Indonesia, terutama dengan “Pernyataan Sikap” yang ditandatangani oleh lebih dari 200 sastrawan. Ode Kampung IV akan diselenggarakan pada tanggal 3-5 Desember 2010 berlambar “Banten Art Festival.” Berbeda dengan Ode Kampung terdahulu yang lebih menggelar kegiatan diskusi, kegiatan kali ini memfokuskan pada wilayah seni pertunjukkan, mulai dari seni tradisional hingga kontemporer. Tontonan menarik mulai dari seni tari, musik, teater dan monolog, serta pembacaan puisi dari para penyair terpilih dari perwakilan kebudayaan di Indonesia dengan sajian lebih dari 25 pementasan. Selain itu, untuk merangsang minat pelajar dan mahasiswa serta khayalak, para seniman yang tampil itu akan diminta memberikan ilmu dan pengalamannya dalam bentuk workshop dan diskusi. Baca lebih lengkap di www.facebook/Venakyasa: “Ode Kampung #4: Banten Art Festival Di Taman Budaya Rumah Dunia”.
[18] Suyatna Anirun, “Peradaban Dewan”, Pikiran Rakyat, 26 Oktober 2000.
http://forumsastrajombang.blogspot.com/
Dewan kesenian yang eksis di berbagai wilayah di propinsi Jawa Timur memiliki kontribusi sekaligus problem tersendiri. Dari 38 kota dan kabupaten di Jatim kiranya tidak semua wilayah tersebut bercokol lembag dewan kesenian. Kendati Jatim menyimpan 10 subkultur kebudayaan (ditambah 2 kultur budaya Arab dan Cina) yang sangat kaya dan luas.[1] Dewan kesenian terbentuk oleh entitasnya sebagai upaya bagaimana kesenian dipikirkan dan kemudian dikelola, diurus dengan baik. Apakah kesenian memang perlu dilestarikan dan terus ditumbuh-kembangkan oleh semacam lembaga yang semi swasta semi pemerintah ini? Tidak mudah menjawabnya. Namun pemerintah juga punya visi dan strategi dalam ancangan agenda-agenda pembangunan untuk memberdayakan kebudayaan bangsanya dan kesenian yang berkembang di wilayahnya, yang kentara adalah lewat kementerian budaya dan pariwisata. Di sini definisi dan konsentrasi pengembangan antara “budaya” dan “pariwisata” sering tumpang-tindih, mengalami kerancuan. Satu sisi, bagaimana suatu budaya ditangani lalu diperhadapkan pada tantangan globalisasi-kapitalistik. Sisi lain, yang pariwisata itu, agendanya adalah mengembangkan budaya, mengolah hasanah lokalitas, obyek wisata, perhotelan, dan sarana pendukung lain semacam yang sering dijargonkan dengan istilah industri kreatif atau ekonomi kreatif. Bukan sekedar dodolan potensi sumber dayanya. Mengurusinya justru hal yang tak gampang, krusial, bahkan rentan menuai kritik.
Dalam konteks dewan kesenian, karena ini berhubungan erat dengan pemerintah yang mengucurkan dana, maka bagi yang terlibat di dalamnya, baik seniman maupun budayawan atau yang blenk soal itu tidaklah bisa melepaskan wilayah politik-birokatis yang oleh karenanya membutuhkan kesadaran politik yang kontekstual. Di Kabupaten Jombang misalnya, dewan kesenian pernah dibentuk tahun 1999, tapi mampet. Persoalan klasik seperti watak seniman yang tidak bisa bergerak bareng mewujudkan satu visi dan keseriusan pemerintah setempat menjadi problem kasuistik yang mendasar. Sekitar 2 kali agenda pembentukan lembaga itu diadakan dalam bentuk seminar kebudayaan kisaran tahun 2000-an, tapi nihil. Hingga yang terakhir, pada 25 Februari 2010, Dewan Kesenian Jombang dikukuhkan, itupun dengan munculnya secara tiba-tiba dana hibah 500 juta. Apakah dengan tidak mengalirnya dana hibah itu Dewan Kesenian Jombang tidak akan dibentuk?
Dinas Porabudpar Jombang penyorong utama pembentukan Dewan Kesenian Jombang itu. Ironisnya, hingga kini deadlock. Padahal sudah 3-4 kali rapat dan yang terakhir raker pun telah diadakan. Kiranya, ada “orang dalam” yang sedang “bermain” petak umpet dan bikin “telikung intrik”, lebih gelap dari puisi gelap, di sana.[2] Membuat kita kian sumpek dan bertanya-tanya, untuk apa sebuah dewan kesenian di masa yang penuh sengkarut dan pragmatis ini dibentuk? Lain lagi yang terjadi di Muara Enim. Seorang teman warga kota itu, Fikri namanya (aktor teater jebolan Komunitas Tombo Ati dan alumnus Fakultas Bahasa dan Sastra STKIP PGRI Jombang), bercerita kepada saya tentang dewan kesenian di sana di mana memang SDM-nya minim kualitas. Tak mampu mengelola ketika dikucuri anggaran 250 juta pertahun. Maka dananya ditarik kembali oleh pemda.[3]
Nah, sekarang, bagaimana kita mencermati keberjalanan Dewan Kesenian Jawa Timur? Tampaknya lembaga ini terus bergeliat dengan semangat yang progresif dan selalu gemebyar agenda-agenda keseniannya. Dalam kepengurusan yang sekarang dipimpin oleh A. Fauzi, kita bisa melongok siapa sosok ini. Konon, dulu ia adalah seniman tari, seperti juga Heri Lentho Prasetya. Yang keduanya kini tak lagi menekuni tari.[4] Dunia tari Surabaya khususnya, terasa kehilangan gregetnya, malah nyaris tidak terdengar generasi penerusnya. Komite teater ada R. Giryadi, sementara di luar dia banyak pegiat teater Surabaya yang terus menggali spirit kebaruan berkaryanya, semisal Zainuri dan Hanif Nasrulloh. Kendati begitu, persoalan teater di Surabaya yang agak tertatih-tatih masih sepi dari kritik, eksplorasi, dan koreksi.[5] Dan Biro Sastra DKJT dimotori penyair dan novelis Mashuri. Rata-rata pejabat di DKJT ini adalah seniman yang sekaligus mengurusi kesenian. Perlu dipikirkan juga, apakah sudah tepat misalnya di tubuh DKJT yang mengurusi kesenian adalah seniman juga? Kadang saya menyayangkan, sejumlah teman seniman yang sebenarnya masih punya kesempatan panjang dan potensial dalam upaya proses kreatif kekaryaan menjadi seolah-olah mandul dan kering dalam keberkayaannya. Birokrasi dan tetek-bengek urusan administratif demikian menyedot banyak waktu dan konsentrasi. Jadi kian berat mempertahankan keajegan dan konsistensi dalam berkarya.
Mungkin perlu adanya semacam penyegaran bahwa yang mengelola DKJT secara teknis di lapangan adalah orang-orang selain seniman, dan mereka paham bagaimana menjalankan tugas-tugasnya.[6] Para seniman bisa dijadikan semacam penasihat. Paling tidak ini upaya meminimalisir kasak-kusuk tidak produktif dan kesan “politik kesenian” yang sering dialamatkan pada DKJT. Kesan DKJT berperan lebih banyak sebagai EO (even Organizer) penting untuk dipelototi.[7] Juga soal penerbitan buku dan Majalah Kidung.[8] Ini sungguh menyodok dan bikin gerah. Sorotan dan gugatan demikian memang tak terelakkan, selain problem pribadi antar seniman yang lebih complicated.
Mencermati situasi DKJT demikian, saya coba membaca pertalian erat yang saling pengaruh-mempengaruhi antara lembaga tersebut dengan kondisioning sastra dan komunitas sastra di Jatim saat ini. Ada empat pembacaan. Pembacaan ini mengacu pada relasi ruang sosial sastra dan penggiatnya, lokalitas, efek gerakan sastra, etos kreatif, serta tantangannya.
1. “Sastra DKJT” dan Gerakan Sastra Komunitas
Ketika membincangkan ihwal realitas sastra Jatim, kayaknya pencermatannya bisa nabrak ke mana-mana dan tidak fokus. Pertanyaan entengnya, realitas sastra Jatim yang bagaimana? Data macam apa dan sejauh mana geliat sastra yang bergerak di 38 kota/kabupaten di Jatim? Ini data yang butuh kerja raksasa dan tidak main-main. Mungkin, secara kasarnya, realitas sastra dan itu menjadi mainstream sastra Jatim saat ini adalah “realitas sastra DKJT”: yakni agenda-agenda sastra yang dihelat Komite Sastra DKJT, yang terkadang bekerja bareng dengan Dewan Kesenian Surabaya (DKS) dalam bentuk forum diskusi Halte Sastra. Tentu tidak menafikan geliat komunitas lain di Surabaya seperti Komunitas Esok, Srawung Art, Komunitas Luar Pagar, Komunitas Rabo Sore, Komunitas Tikar Pandan (Iqbal Baraas di Banyuwangi), Komunitas Lembah Pring (Jabbar Abdullah di Jombang dan Mojokerto), dll. Dan yang terbaru ini telah muncul Forum Sastra Gokil (FSG) yang dipawangi Mardi Luhung,[9] dan digerakkan A. Muttaqien dan kawan-kawan. Nongolnya forum baru semacam ini tetap bermakna, bahwa berdiskusi dengan nongkrong-nongkrong nyantai di warung kopi untuk mengudar berbagai gagasan dan wawasan, dari yang muda sampai yang tuek, harus terus disengkuyung bersama. Sebab pertemuan secara langsung memiliki daya “bakar kreatif” sendiri dibanding di “kamar onani facebook”.
Maka Komite Sastra DKJT ibarat obor sastra Jatim yang berpusat di Surabaya, yang tak henti gelisah mengulik identitas wilayahnya. Banyak even sastra yang tergelar di sini. Tulisan ini bukan berupaya memetakan. Karena saya bukan ahli ukur tanah. Bukan berarti pemetaan sastra atau komunitas sastra tidak penting. Sangat penting. Dan itu sejatinya tugas bagi siapa pun, lebih-lebih bagi lembaga seperti DKJT. Sebab realitas sastra Jatim cakupannya luas sekali, dan memang nggak terlalu mendesak didiskusikan.
Saya cenderung tertarik menghubungkan tema di atas pada bahasan totalitas berkarya beberapa penulis, misalnya pada Mardi Luhung, Mashuri, dll. Atau para cerpenis generasi muda Jatim seperti Diana AV Sasa (Pacitan), Hanif Nasrulloh (Surabaya), S Jai (Lamongan), Ahmad Rofiq (Gresik), MS. Nugroho (Jombang), Iqbal Baraas (Banyuwangi), Mahwi Air Tawar, dan beberapa penulis muda Madura lainnya seperti Lukman Mahbubi, Juwariyah Mawardi, Mawaidi MD, dan Badrul Munir Khoir. Jadi, persoalan sastra kita sebernarnya adalah bagaimana membangun kegetolan berkarya, karena itu pada puncaknya jelas mengimbas pada karya juga.
Perkara lain adalah ruwetnya psikologi penulis terkait motivasi berkarya dan “iman” kepengarangan. Semua pengarang berjibaku di sini. Bertarung demi menembus koran nasional dan ini pertaruhannya adalah kualitas karya dan totalitas berkarya. Tentu hanya yang terpilih yang disortir redaktur koran untuk dimuat di antara ratusan karya. Otokritik jadi penting juga, yang jika diabaikan kerap melahirkan over subyektivitas, narsis, dan sinisme pada karya orang lain. Di sinilah “iman” kepengarangan diuji: bagaimana karya terus ditempa dengan berpijak pada pertarungan batin personal dan ruang sosialnya. Karya-karya D Zawawi Imron dan Mardi Luhung membuktikan itu. Keterlibatan yang bisa “umup” dan “istiqamah” dalam mengeksplorasi identitas kultur-sosialnya, bukan cuma modal imajinasi, tapi riset serius.[10] Karya yang besar akan muncul sendiri menembus masa depan.
Maka komunitas sastra yang telah dibentuk sejumlah kawan paling tidak diharapkan mampu melahirkan suatu gerakan sastra yang militan dan punya visi yang jelas. Kita belum menemukan itu di Jatim.
2. Labirin Setan “Sastra Facebook”
Duduk berlama-lama. Dari pukul ke pukul. Jam dinding sekarat. Meleleh ke mulut. Matanya bunar. Bunarnya menggerogoti usus. Mengunang-ngunang semalaman seharian. Mengamati status sendiri, teman, orang lain. Pikiran ngleyang ke entah. Sudah lama gagasan buntu. Kayak peceren. Mencari sesuatu. Untuk apa? Untuk basa-basi. Mungkin semata busa-busa kata. Digelisah siapa, diburu apa? Hilang lagi. Apalagi yang menjelma hantu di tengkuk. Bayangan sendiri, menghantui leher sendiri. Cari angin magrib. Putar film Love Song for Bobby Long. John Travolta yang kacau. Rambut putihnya amat puitik. Jadi cacing cemas. Scarlett Johannsen aduhai sintalnya. Lawson yang murung terkubur kenangan romansa Eliot dan Dickens. Kenapa dimatikan. Membuka layar baris puisi lagi. Puisi ini harus selesai. Dangkal! Buang! Ya, di sana. Ini dia. Yang lama ditunggu-tunggu. Yang luput tertangkap. Jalanan ramai. Kendaraan bergerung-gerung. Pikiran akan puisi, kota, ampas imajinasi, tak bisa dihentikan. Mengalir terus. Tubercolusis ini, ambeyen, maag, kesemutan, migren, welahdalah. Benarkah begini. Cuma rematik. Mampus juga biar. Tapi pekiknya melambat. Merayapi tenggorokan. Invictus diputar lagi. Mandela tak mati. Melayap lagi. Bensin habis. Ada yang memberat ditulis. Dikibuli. Ancrit tenan! Tidak sekarang. Ada laki-laki iseng nungging. Perempuan gendeng tengkurap.
Hai lihat status baru itu! Status bugil yang mengular. Seperti mayat busuk. Ah, tidak jadi. Malas komen. Bau bangkai babi. Berpikir lagi. Jari-jari kram. Air telinga meleler. Langit tetap cemerlang purnama. Pipinya merona. Jalanan macet. Koran-koran beterbangan! Mau apa lagi ya? Ini sungguh darurat. Ah, nggak juga. Ia menggebuk komen itu sana-sini. Ini harus dihapus. Biarkan sebentar. Nunggu komen baru. Rokok minta dikepulkan. Perih asap di mata. Kopi tinggal kerak. Ada yang kangen kopi unthuk dari Gresik. Beli rokok lagi. Asbak mana ni? Datang ke acara itu nggak ya? Alamatnya tak jelas. Di rumah saja. Atau nongkrong ke warung sebelah. Cari inspirasi, sepotong puisi, puisi gagal, separagrap cerpen dan esai. Ah, suntuk. Busuk. Dihajar bosan dan kantuk. Nulis ngawur saja. Tentang kebrengsekan seniman ini lembaga itu. Puisi jelek ini puisi bagus itu. Bla-bla-bla. Muter-muter dari lidah ke pantat. Di sini lebih baik. Di medan cyber. Kumpul-kumpul juga hanya jadi kentut. Oh, kentut kotaku yang hiruk bertempikan. Nyesaki dubur. Si Kontet misuh: Jancok!
Demikianlah sepentil ilustrasi dari kolong penggila facebook sebagai salah satu medan ekspresi sastra yang tak terelak lagi di jaman Blackberry ini. Perkembangan teknologi yang supercepat kini bergerak zig-zag menerobosi kita: menciptakan harapan sekaligus kotoran. Harapan dalam arti teknologi informasi telah mengaruskan berbagai jenis saluran informasi dari seluruh penjuru dunia, dan setiap orang hilir-mudik di dalamnya. Melalui teknologi itu pula kita menyaksikan suatu interaksi sosial, lanskap “dunia rata”, “dunia ulang-alik” di mana siapa saja bisa menumbuhkan jaringan sosial dan menjadi pelaku dalam percaturan aneka pergaulan.[11]
Dalam konteks itu, kiranya kehidupan sastra yang memang berurusan dengan tulisan, bisa lebih dapat dikembangkan. Jika dahulu kita sangat tergantung kepada dunia percetakan dan penerbitan yang berpusat di kota-kota besar, yang seiring juga dengan pembentukan selera, citra dan nilai yang cenderung sentralistik, kini melalui teknologi informasi yang bersifat cyber yang sudah ada di mana-mana, setiap penulis bisa mengakses dan menyampaikan karyanya kepada siapa saja. Penulis sekaligus sebagai “redaksi” yang menyeleksi karyanya yang dianggap bisa dinikmati oleh semua warga dunia maya itu. Tentu ada dampak negatif. Karena setiap orang bisa saja menulis karya sastra dan mengirimkannya, maka karya dengan mulusnya bisa lolos, dan mungkin konsekwensinya juga dunia maya akan dibanjiri oleh karya sastra yang kurang bermutu bahkan buruk.
Tapi “efek samping” itu tidaklah terlalu benar. Sebab, dalam belantara cyber juga terdapat interaksi kritis, bahkan skala kekritisannya melebihi dibandingkan dalam dunia penerbitan. Jika dalam dunia penerbitan kapasitas kritis hanya dipegang oleh sang kritikus, kini siapa saja, di samping sebagai penulis, juga bisa menjadi kritikus atau perusuh. Polemik yang baru-baru ini terjadi terkait terbitan buku Pesta Penyair yang diterbitkan Komite Sastra DKJT mencuatkan berbagai dialektika krusial seputar gonjang-ganjing sastra di Jatim baru-baru ini.[12] Menyedot keterlibatan kritis dari luar, seperti getolnya Saut Situmorang dkk terkait problem sastra Jatim dengan sengkarut permusuhan Boemipoetra versus TUK. Sebagai contoh, unggahan facebook Jabbar Abdullah (Komunitas Lembah Pring Jombang) ihwal tulisan tanggapan AF Tuasikal berlambar “Skandal TUK Manipulasi Sastra Jatim”, yang dimuat di harian Kompas Jatim (27/8/2010) terhadap tulisan Beni Setia dan Dwi Pranoto sebelumnya. Ini bukti percekcokan di jagat facebook, bukan lagi di forum diskusi. Apa pun dan dengan siapa pun mereka bisa perang gagasan sampai cakar-cakaran di sini.[13]
Kondisi ini menunjukkan demokratisasi sastra yang membludakkan pecahnya ruang sosial yang dulunya tidak seperti itu. Penuh gejolak, intrik, dari yang bersifat politis, main-main, serampangan, dan serius.
3. Mampetnya Sastra Pesantren
Peranan pesantren dalam sejarah dunia literasi di Indonesia tak dapat dielakkan pengaruh besarnya. Hanya saja kini nyaris tak ditemukan denyut bagaimana sastra pesantren dikembangkan secara intens sebagai suatu gerakan kebudayaan islami. Dari kalangan muslim di luar tradisi pesantren, Forum Lingkar Pena (FLP) telah menunjukkan gerakan kepenulisan yang fleksibel dan progesif. Padahal jika ditilik secara kuantitatif, jumlah pesantren di Jatim sangatlah banyak. Bahkan ratusan. Di Jombang saja, pada 2008, jumlah pesantren berkisar 83 pesantren. Kediri 150-an. Belum lagi di wilayah tapal kuda: Jember, Banyuwangi, Lumajang, Probolinggo, Situbondo, dan Bondowoso. Tentu kini hitungan itu makin berbiak. Wilayah Madura apalagi, dan Sumenep yang paling menunjukkan geliat itu.
Satu catatan kecil, Ponpes Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang yang bekerja sama dengan RMI (Rabithah Ma’ahid Islamiyah) dan jaringan intelektual NU menggelar Halaqah Nasional Kebudayaan Pesantren pada tanggal 22 – 23 Agustus 2008. Acara yang diadakan di aula masjid Ponpes Tebuireng tersebut mengusung tema “Kebangkitan Sastra Pesantren”.[14]
Kegiatan ini menunjukkan gairah menulis para santri ponpes Tebuireng khususnya, dan para undangan yang datang dari beragam wilayah di Jawa. Ini mengingatkan kita pada tahun 1998 di mana pernah digelar Kongres Kebudayaan Pesantren di Ponpes Pandanaran di Magelang, Jawa Tengah, yang menghadirkan Menteri Agama Thalhah Hasan, Dr. Simuh, Ahmad Thohari, dll.
Kontribusi dari kegiatan semacam ini sangatlah penting sebagai jejak untuk meniti arah perkembangan ke depan. Karena pesantren sejak dahulu merupakan basis intelektualisme lslam yang cemerlang yang kini memerlukan reorientasi dan cakrawala baru dalam memaknai dan menumbuh-kembangkannya. Tentu, halaqah ini, ke depannya, dapat lebih difokuskan pada semisal, workshop kepenulisan yang ajeg dan bervisi jelas. Sejumlah penulis berbasis pesantren dari berbagai daerah turut menyemarakkan acara ini seperti, Sachri M. Daroini (Magelang), Isma Kazee (yang juga redaktur Mata Pena [lini Penerbit LKiS], Yogyakarta), Zaki Zarung (Yogyakarta). Hadir pula saat itu penyair M. Faizi (dari Ponpes An-Nuqayyah, Guluk-guluk, Sumenep), dan Dadang Ali Murtono dari Pacet, Mojokerto. Kedua penyair ini puisinya masuk dalam antologi dua belas penyair mutakhir Jatim 2008.
Kita perlu muhasabah dan mengharap respon positif dari kalangan sesepuh pesantren: bagaimanakah kiprah dan kontribusi pesantren sebagai wilayah produksi kebudayaan agar tidak lungkrah (terbengkalai) dan bermelodrama dalam tradisi masa silam semata. Dalam perkara ini, kebudayaan bukan hanya dalam bentuk seni-budaya saja. Kita tahu bahwa banyak bentuk seni-budaya NU yang kini boleh dikatakan berkembang dan ikut bersaing, dan mendapatkan apresiasi masyarakat, seperti musik gambus (di Jombang misalnya ada Gambus Misri), hadrah, komunitas rebana dan lainnya. Bahkan dalam dunia sastra modern, kita juga melihat akar potensi sastra pesantren walaupun belum memiliki wujud yang signifikan. Perlu pula pendataan komunitas sastra di pesantren. Mlempem-nya pemikiran kesusatraan (lebih luas dalam konteks kebudayaan) pesantren harus segera diwujudkan. Setidaknya dijadikan bahan refleksi.[15]
4. Penggerak Sastra Lokal
Derap teknologi yang kian menderas terlebih perkembangan media internet perlu dipikirkan kembali oleh para penulis sastra lokal yang memiliki orientasi kepada upaya untuk mengembangkan nilai pengaruh karyanya, di mana dunia internet bisa dimanfaatkan secara efektif. Karena akses penerbitan karya masih jadi kendala. Sekaranglah kondisi yang sangat memungkinkan karya sastra dengan bobot nilai sejarah lokal bisa diketahui secara intensif oleh siapa saja. Dan sangat memungkinkan dengan interaksi yang intensif itu terciptalah kritik dari perspektif sejarah lokal lainnya, yang secara positif memungkinkan dinamika pembaharuan akan nilai sastra dari sejarah lokal masing-masing.
Hanya masalahnya sekarang, sejauh manakah penulis sastra lokal benar-benar memiliki spirit sebagai periset; kapasitas riset perlu dikembangkan melalui penajaman metode dan pendalaman berbagai data, fakta serta pencarian sumber-sumber baru lainnya dengan kupasan kritis. Jika saja setiap penulis sastra lokal bisa menerapkan hal ini, bahkan pada tingkat data, fakta serta kupasannya saja, sudah menarik, dan hal itu sangat memungkinkan untuk proses pembaharuan karya serta terciptanya sastra “masa depan Indonesia”.
Dengan kondisi yang kian terbuka dan seluruh jagat bisa dijembatani oleh dan melalui dunia internet, tantangan bagi penulis sastra lokal untuk kembali mencari akar dari kehidupan sastranya: sejarah sosial, kerangka nilai-nilai pendahulu yang pernah ada di sekitar wilayahnya; revitalisasi dengan kesadaran visi ini sungguh menggembirakan, dan kemajuan teknologi informasi bisa menjadikan hidup lebih manusiawi melalui sastra lokal. Inilah yang saya sebut sebagai “sastra keterlibatan”, memiliki empati pada basis sosio-historisnya. Ini sekaligus untuk menepis bahwa tidak semua penulis cuma berkutat dalam “kamar sunyinya” sendiri, melulu berkarya bermodalkan imajinasi.
Kaitannya dengan komunitas sastra, penggerak sastra lokal di berbagai daerah di Jatim sangatlah banyak. Tidak adanya pemetaan juga mengaburkan pendeteksian, dan ini persoalan lawas.[16] Sastra lokal bisa pula mengacu pada sejumlah penulis yang berkarya dan menerbitkan karya dengan koceknya sendiri. Dan Lamongan adalah gudangnya. Kita bisa menyebut Nurel Javissyarqi dengan Penerbit Pustaka Pujangga-nya, Alang Khoiruddin (Penerbit Pustaka Ilalang), AS Sumbawi (Penerbit Sastranesia), dll. Puluhan karya sastra baik dari penulis Lamongan sendiri maupun dari luar banyak yang mereka terbitkan.
Perkembangan penerbit dan komunitas sastra sejatinya digerakkan hanya oleh segelintir orang. Konsistensi dan militansi personal untuk menjadikan sastra sebagai gerakan literasi (tradisi membaca dan menulis) memang berat. Komunitas Rumah Dunia yang dipandegani Gola Gong dan Firman Venakyasa di Serang, Banten, adalah salah satu contohnya. Peran sosial sastra dalam ruang lingkup di kampung Ciloang itu telah menjadikan Rumah Dunia dan agenda tahunan Ode Kampung terapresiasi secara luas di wilayah Jawa Barat, bahkan gagasan-gagasan gerakan literasi mereka menasional.[17] Keterlibatan warga dengan anak-anak dan khususnya generasi muda dalam dunia menulis, membikin film indie, mengembangkan perpustakaan Jendral Kancil, dll, merupakan satu strategi personal dan mampu menjadi sebuah gerakan sosial untuk mengembangkan SDM masyarakat setempat.
Nah, di Jatim kayaknya masih adem-ayem. Belum kelihatan sosok seperti Gola Gong yang, selain tetap produktif menulis, jaringan Rumah Dunia dengan komunitas lain terjalin baik, misalnya dengan FLP, dan sejumlah pentolannya seperti Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, dll.
Dan jika boleh dibilang mainstream sastra di Jatim adalah “sastra DKJT” (baik agenda-agenda sastranya maupun hasil penerbitannya) di samping kita mengakui wilayah derap sastra yang lain seperti Jakarta, Jogja, Solo, Bandung, Riau, Lampung, dll, di Jatim tetaplah tidak bisa diabaikan keberadaan komunitas sastra yang lain yang bergerak dalam bingkai yang sama, meski belum tampak sebagai sebuah “gerakan” dan pengaruhnya tidak secemerlang Rumah Dunia.
***
Mempertimbangkan apa pentingnya sebuah dewan kesenian dalam upaya menumbuhkan etos kerja kreatif penulis dan komunitas sastra di Jatim di saat ini dan mendatang, menurut saya hal itu tek perlu metenteng dipikirkan. Semua pasti kembali kebarak masing-masing: pada kesadaran totalitas berkarya dan memberi arti pada ruang sosialnya. Jika memang dewan kesenian tetap dibutuhkan, lembaga itu haruslah dirancang berlandaskan, menurut Suyatna Anirun, pada “adab kesadaran”. Yakni kesadaran atas keberadaan para seniman atau budayawan secara umum maupun khusus, kesadaran atas keanekaragaman bentuk dan perwatakan serta kompleksitas problem kesenian yang ada. Kesadaran akan potensi serta prospek pengembangannya di masa depan. Dewan kesenian harus dibangun atas dasar “adab bebas/mandiri”, dan selanjutnya atas “adab integritas” dan “keseimbangan”.[18] Karena itu, diperlukan kewaspadaan dan pemikiran yang kritis akan “politik kesenian” dalam berbagai konteks, wacana, dan perubahan.
Tidak perlu kita terdesak melimbur diri dalam kepicikan, dan menadahkan tangan dengan mimik memelas pada pemerintah sebagai penopang atau sekedar ganjel bagi kekaryaan kita. Soal berkembang atau bobroknya kesenian dan masyarakat seni itu tanggung jawab seniman sendiri. Untuk itu keberadaan dewan kesenian harus bertolak atas dasar kebutuhan bersama. Jikalau kesadaran ini tak ada lantaran tetek bengek dan perkara tak mutu lainnya, tak usahlah terlalu nggerundel soal eksistensi dan kayak apa kerja pejabat “dewan kesenian”. Kita perlu lebih terusik untuk mengatasi berbagai persoalan nyata di sekitar kita, misalnya keterlibatan pesastra dalam perubahan sosial di lingkungannya.
Mungkin kita belum cukup beradab untuk bisa membentuk sebuah lembaga yang bersih dari pekatnya konflik kepentingan. Dan kehidupan sastra di Jatim semoga tidak jadi bemper dan bayang-banyang belaka di medan itu. Pegiatnya musti mandiri dan mencetuskan “revolusi kecil”nya sendiri.
Jombang-Tandes, 20 September 2010
[1] 10 wilayah kebudayaan tersebut adalah kebudayaan Jawa Mataraman, Jawa Ponoragan, Arek, Samin (Sedulur Sikep), Tengger, Osing (Using), Pandalungan, Madura Pulau, Badura Bawean, dan Madura Kangean. Masing-masing pendukung wilayah kebudayaan ini pada umumnya menempati wilayah tertentu dan mengembangkan lingkungan budaya yang khas jika dibandingkan dengan wilayah budaya lain. Pembagian wilayah kebudayaan ini bukan sesuatu yang final. Lihat Ayu Sutarto dan Setya Yuwana Sudikan (Ed), Pemetaan Kebudayaan di Propinsi Jawa Timur: Sebuah Upaya Pencarian Nilai-nilai Positif. Diterbitkan oleh Biro Mental Spiritual Pemerintah Propinsi Jawa Timur bekerja sama dengan Kompyawisda Jatim-Jember. 2008. Hlm. iv-v.
[2] Baca uraian sengkarut problem dalam artikel lain saya: “Tulisan Terbuka Untuk Bupati Suyanto Soal Seni-Budaya Jombang”, Radar Mojokerto, April 2010; “Menimbang Visi Kebudayaan Dewan Kesenian Jombang”, Radar Mojokerto, Mei 2010; “Membangun Fondasi Seni Tradisi Jombang”, Radar Mojokerto, Juni 2010.
[3] Kasus lain misalnya Di Jawa Barat, terkait dengan gak pahamnya pemerintah dengan fungsi dewan kesenian. Ini terjadi pada tahun 2000 (lewat lansiran koran Pikiran Rakyat) tentang pembekuan DKDJB (Dewan Kesenian Daerah Jawa Barat). Memang mengenaskan. Ketaksepengertian mengenai fungsi dan tugas-tugas DKDJB bagi pihak Pemda DT I maupun pengurus DKDJB sendiri. Tak pernah ada penyelesaian. Dan gedung dewan keseniannya terbengkalai sebelum difungsikan. Entah kini bagaimana. Baca: Suyatna Anirun, Catatan Budaya (Bandung: Etnoteater Publications, 2002).
[4] Dalam sekian kali kluyuran saya ke Solo untuk menyaksikan beberapa jenis pertunjukan teater, tari dan musik, saya sempat berbincang-bincang dengan Halim HD, seorang budayawan dari Forum Pinilih Solo, yang lumayan paham dengan dunia pertunjukan di berbagai daerah. Melihat kota Solo yang demikian bergairah dalam berbagai pertunjukan, saya bertanya padanya: bagaimanakah dengan perkembangan tari di Surabaya atau Jawa Timur? Ada beberapa pentil catatan dari obrolan itu.
Pada periode tahun 1990-an Surabaya memiliki beberapa koreografer muda berbakat yang lumayan handal dan pernah memasuki ajang bergengsi. Periode itu sebagai suatu jembatan pembaharuan dunia tari dengan munculnya Achmad Fauzi melalui penata tari muda dari Jakarta, dan sempat pula ia mencicipi kunjungan ke Amerika dalam program American Dance Festival. Tapi, entah kenapa, arek Madura yang dulu digadang-gadang akan tampil sebagai koreografer mantap ini nampaknya kemudian melarut melakoni keseniannya sebagai EO (event organizer). Di samping Achmad Fauzi yang kini menjadi juragan Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT), ada sosok Arief Rofiq, yang sebagai penari ciamik dan memiliki basis kuat dalam khasanah lokal, juga termasuk dalam hitungan koreografer muda yang dipandang potensial mengangkat Surabaya dan Jatim ke tingkat nasional dan internasional. Pendiri Raf Raf Dance Company ini memang pernah beranjangsana membawa grupnya ke berbagai negeri di Eropa dan Australia mewakili Jatim. Sayangnya, ia sibuk dengan birokrasi di Taman Budaya Jawa Timur (TBJT) dan sekarang menjadi staf Dinas Parsenibud Jawa Timur. Dan ajang tari kontemporer Surabaya kayaknya sepi sejak 10 tahun terakhir ini.
Salah satu koreografer yang juga banyak mengisi dan belakangan nampak sibuk dengan jaringan antar bangsa melalui movement art, Parmin Ras, yang berusaha dalam karyanya menggabungkan antara khasanah lokal yang bersifat spiritual dengan konsep tari moderen-kontemporer. Pada tahun 1990-an juga muncul salah seorang aktivis mahasiswa yang memiliki wawasan luas dalam teater, musik dan juga tari dan dengan bobot politik hadir di Surabaya, Heri “Lentho” Prasetya. Muncul di Festival Seni Surabaya, lalu Indonesia Dance Festival di Jakarta, Makassar Dance Forum, Makassar Arts Forum, dan berulang kali mengisi berbagai forum tari kontemporer dengan pendekatan teater-tari. Lentho, yang oleh sejumlah networker kebudayaan Solo dianggap salah seorang yang mampu mengawinkan antara kesenimanan dan sebagai organizer serta sangat paham dengan berbagai peta khasanah seni pertunjukan di Jawa Timur. Kurator seni pertunjukan itu bahkan punya harapan, jika saja Lentho punya fokus pada teater-tari. Tapi, sayang, katanya terlalu sibuk dengan lembaga yang digelutinya sekarang ini.
Ilustrasi itu membuat kita getun (menyesal), dan bertanya-tanya, kenapa Surabaya dan Jawa Timur yang memiliki perguruan tinggi seni jurusan tari semisal Unesa, STKW dan UNM tak melahirkan banyak penari dan calon koreografer; dan kenapa pula mereka yang pernah malang-melintang selama 10 tahun lalu undur dari panggung? Padahal, telisik Halim HD, Surabaya (dan Jakarta) adalah salah satu kota yang memberikan inspirasi dunia tari moderen melalui balet. Keluarga Sijangga adalah salah satu tokoh balet klasik dan moderen di mana pada era 1960-an sampai 1970-an terbilang begitu kondang. Dengan catatan peristiwa ini, kita kembali bertanya-tanya, kenapa sejarah tari moderen-kontemporer di Surabaya dan Jawa Timur tidak langgeng, tidak memiliki keberlangsungan yang ajeg (konsisten) sebagaimana di Solo, Jakarta dan Jogjakarta? Mungkin dibutuhkan sejenis forum-forum yang kontinyu agar muncul kembali gairah itu, dan para dedengkot kembali berkarya-cipta, serta para calon koreografer bisa melihat dan melanjutkan jejak yang pernah ada. Menurut saya, Surabaya dengan berbagai institusi keseniannya yang kini bergairah perlu mewujudkan forum itu, agar Surabaya kembali diperhitungkan dalam persada tari kontemporer Indonesia.
[5] Kenapa teater di Indonesia kian redup, dan kenapa pula kehidupan teater di berbagai kota yang dahulu dianggap sebagai wilayah pertumbuhan dan perkembangan teater yang begitu kuat, lalu nampak seperti pudar, misalnya Surabaya atau Malang yang pernah tercatat sebagai dua kota di Jatim yang memiliki tradisi teater moderen yang kuat?
Pertanyaan ini sering saya dengar dari pekerja teater di dalam dan di luar kampus. Boleh jadi jawabannya bisa kita kopi-paste dari pekerja teater di Bandung. Pada Desember 2008 saya pernah kebetulan mampir ke Bandung (setelah mengunjungi acara Ode Kampung di Rumah Dunianya Gola Gong di Serang) dan nongkrong di sana beberapa hari, ngobrol-ngobrol dengan mereka. Dari beberapa dedengkot teater seperti Rachman Sabur, Benny Yohannes dan banyak yang lebih muda lagi, menyatakan bahwa teater di Bandung hidup bukan hanya karena pekerja teater yang terus bergerak dan berproses. Tapi juga dukungan media massa. Pendek kata adalah pemberitaan. Pentingnya ulasan atau kritik. Apa yang ditulis Suyatna Anirun (alm) yang dengan telaten telah menunjukkan ulasan serius pada setiap peristiwa pementasan. Tradisi ini terus intensif hingga sekarang. Karena itu teater di Bandung tetap mempertahankan spirit keseniannya, selain bertarung untuk kehidupan diri dan ngopeni keluarga sehari-hari. Meski di Jatim dahulu ada Max Arifin (alm) yang juga sering nulis kritik teater.
Interaksi antara kehidupan teater dengan media menjadi konsekuensi logis dari kehidupan kesenian di kota. Cermati pula apa yang dibilang bos Jawa Pos, Dahlan Iskan, yang menyatakan bahwa pembaca kesenian tidak lebih dari 2%, bahkan kadang kurang dari satu persen. Wajar jika media tidak hirau kepada pementasan teater, terkecuali grup yang sangat kondang misalnya dengan aktor “raja monolog” Butet Kertarejasa. Pentas sejenis ini menjadi suatu perkecualian, bahkan disambut media dengan gempita.
Saya juga pernah ngobrol-ngobrol dengan seorang redaktur seni-budaya sebuah koran nasional, yang menyatakan, pada setiap periode tertentu, perhatian pembaca kepada kupasan kesenian berbeda-beda. Dulu teater kuat, dan senirupa kurang begitu ada gaungnya. Kini terbalik, sejak 15 tahun terakhir ini, senirupa menduduki ranking tertinggi untuk kupasan seni-budaya, lalu disusul oleh musik, tari, sastra, dan teater yang paling bontot!
Soal lain lagi kenapa media tidak memuat kupasan teater adalah karena semakin sepinya pengulas teater yang bagus. Kalaupun ada si pengulas hanya memuji-muji, dan merosot persepktif kritiknya. Hal itu saya dengar dari beberapa redaktur yang menganggap bahwa di daerah makin langka kritikus teater yang mumpuni. Ini sungguh ironik. Ketika dunia akademis, khususnya fakultas budaya jurusan bahasa Indonesia yang juga mengenalkan berbagai bentuk teater beserta teori serta sejarahnya, kenapa pula kritikusnya kian langka? Seolah ada kesan bahwa menulis kupasan teater sebagai beban yang mengotori pikiran dan posisinya?
Di Surabaya, katanya dulu pernah ada sosok Basuki Rachmat (alm) dan Akhudiat yang dianggap piawai dalam mengupas teater, dan di Malang ada Hazim Amir (alm) yang dengan rajin menulis, sehingga orang-orang teater bisa belajar dari kupasannya. Dan kini, sesungguhnya terdapat, mungkin, seratusan lulusan bahasa Indonesia yang skripsi S1 dan S2-nya tentang teater, tapi kenapa pula tidak ada ulasan. Ataukah teori yang diberikan memang tak setajam dan segairah teater di atas panggung, yang kini kian kosong, dan hanya ada satu atau dua grup yang masih setia di antara media yang hanya sesekali memberitakannya. Barangkali kita memang sudah tidak butuh kritik.
[6] Hal ini seiring dengan pendapat Sahlan Husain (sekretaris umum DKJT) dalam tulisannya berjudul “Fungsi Manajerial Kesenian” di Majalah Kidung (edisi 17-18. 2009. Hlm. 24.). Ia menyebut bahwa di Negara Asia lain, seorang figure ketua dewan kesenian dipercayakan kepada seorang doktor manajemen. Ia bukan seorang seniman, karena disiplin seniman sering tidak efektif dalam mengelola seni. Pola pikir seniman lebih banyak intuitif, spontan, dan tanpa perencanaan matang, serta lebih cenderung individual. Sementara, kalau ia berlatar belakang disiplin menajmen, biasanya lebih memiliki potensi untuk berpikir lateral (kreatif dan kaya akan terobosan-terobosan baru).
[7] Posisi DKJT itu kan mediator, penyambung lidah spirit seniman, menyorong kegiatan kesenian di daerah, komunitas-komunitas seni, menjembatani dengan gagasan pemikiran kesenian dan kebudayaan untuk dijadikan pertimbangan pemerintah, mengurangi perannya sebagai produsen karya, fokus memberikan motifasi, sebagai fasilitator bagi seniman untuk meningkatkan karya, melakukan pendataan komunitas seni (sastra) di mana hal ini sering didengung-dengungkan namun tak kelihatan hasilnya. Baca Tengsoe Tjahjono “Perhatikan Kebangkitan Kesenian di Daerah”, di Majalah Kidung (edisi 17-18. 2009. Hlm. 39). Lembaga ini dibentuk memang dengan tujuan untuk menguatkan seluruh potensi kehidupan kesenian di Jatim, seperti yang dikatakan A. Fauzi (ketum DKJT) dalam “Menguatkan Seluruh Potensi Kesenian” di Majalah Kidung (edisi 17-18. 2009. Hlm. 23). Menurutnya, dua peran DKJT adalah: sebagai pemikir dan memberikan usulan kepada Pemprov Jatim tentang strategi kebijakan di bidang pembangunan kesenian dan sebagai mitra bagi institusi terkait di bidang seni budaya dan Dewan Kesenian se Jatim yang secara koordinatif mendorong meningkatkan kualitas, aktifitas, dan fasilitasi. Demikian ungkapnya. Maka dari itu, tujuan dan peran ini setidaknya bukan cuma dijadikan slogan semata. Seringkali A. Fauzi dalam berbagai forum seminar menariknya dalam wacana “industri kreatif”. Katanya konsep ini mengacu pada bahwa seni budaya sebagai fakta ontologis yang bernilai ekonomi, mampu menciptakan industri yang berbasis pada kreativitas. Jika boleh mampir nanya, apa bukti konkrit DKJT sudah menjalankan itu? Ukurannya apa? Pada basis sosial yang bagaimana wacana itu diwujudkan? Soal kemandirian DKJT sendiri saja lembaga ini masih tergantung pada Pemprov. Paling tidak kemandirian DKJT ke depan dapat terealisir sebagai lembaga yang independent yang bisa bergerak lebih luas dan luwes.
[8] Tentang penerbitan buku, saya merujuk pada buku terbitan DKJT yang berjudul Orde Mimpi (2009). Ini kumpulan naskah drama R. Giryadi. Yang satunya adalah Kondisi Postmodern Kesusastraan Indonesia (kumpulan esai) karya Ribut Wijoto. Bagi saya alangkah lebih baik 2 buku tersebut diterbitkan di luar DKJT. Kenapa? Karena 2 buku ini karya pengurus DKJT. Soal Majalah Kidung, sudah menarik, hanya saja terlalu sering pengurusnya sendiri yang mengisi macam-macam rubrik di situ. Perlu juga mengundang pengulas luar Jatim, agar tumbuh dialektika dan sinergitas yang ciamik. Catatan ini beranjak dari obrolan saya dengan Mas A. Fauzi dan Mas Lentho, juga Pak Nasrul Ilahi (Disporabudpar Jombang) di warkop Pujasera Kebonrojo, di malam hujan deres sebelum pengukuhan Dewan Kesenian Jombang, pada 25 Februari 2010.
[9] Menurut Mardi, FSG hanyalah acara sastra acara biasa. Sekedar mengembalikan sastra ke dunia “imajinasi”-nya lagi. Gokil artinya gak medeni, gak patgulipat. Seger. Cengengesan. Agendanya 1 bulan sekali. FSG ini muncul di bulan Agustus lalu.
[10] Baca pengantar proses kreatif Mardi Luhung pada kumpulan puisinya yang terbaru Buwun (Pustaka Pujangga, Lamongan: 2010).
[11] Dalam kondisi seperti itu jika kita benar-benar menyadari berbagai khasanah seni-budaya yang demikian kaya di nusantara ini, kita dapat memberikan kontribusi pengetahuan dan pemahaman kepada siapa saja di bagian benua dan negeri lain, seperti juga kita bisa mengetahui segi kebudayaan dari warga lainnya. Karena itu, media cyber bisa menciptakan suatu kondisi toleransi dan saling memahami.
[12] Diawali dari sebuah tulisan Arif B. Prasetya yang dimuat di Jawa Pos, “Jawa Timur Negeri Puisi”, (25/9/2010). Lalu ditanggapi W Haryanto (1/8/2010), “Jatim Tidak Butuh Perspektif Jakarta” yang menyorot politisasi sastra dan sentralisasi sastra Jatim oleh pihak Jakarta. Kemudian dilanjut tulisan saya “Perang Sastra di Kandang Buaya”, (8/8/2010), dan dipungkasi oleh tulisan Beni Setia, “Belajar Sentosa Dengan Arif” (15/8/2010). Ini menjadi catatan penting bagi sejarah sastra Jatim.
[13] Misalnya Ribut Wijoto mengunggah sebuah tulisannya bertajuk “Kesusastraan Indonesia 25 Tahun ke Depan”, pada Kamis 26 Agustus 2010 (at 7:56pm). Esai ini sebelumnya pernah dimuat di Harian Sinar Harapan (21 Agustus 2010). Dari esai Ribut itulah terjadilah adu mulut antara Nurel Javissyarqi dengan Nuruddin Asyhadie. Keduanya malah tidak secara spesifik membahas tulisan Ribut. Tapi tulisan Nurel yang dipamerkan yang kemudian disikat Nuruddien. Nurel balas menghajar. Berjumpalitanlah. Terjadilah hajar-hajaran. Penonton keplok-keplok di luar. Ini juga gambaran realitas sastra kita kini. Simulakrum media maya yeng membentangkan makhluk absurd “facebook”, si tentakel teknologi modern.
[14] Secara resmi Shalahuddin Wahid sebagai pengasuh pondok ini, dalam pembukaan acara, menyampaikan pentingnya merawat tradisi intelektual pesantren bahwa kaum santri jangan sampai meninggalkan tradisi menulis yang telah diteladankan para sastrawan terdahulu, baik dari tradisi Arab klasik hingga perkembangan intelektual Islam mutakhir di negeri ini. Sedang Said ‘Aqil Siraj menyampaikan dalam orasi kebudayaan tentang pentingnya kebudayaan pesantren sebagai pengokoh karakter bangsa.
Pada malam 22 Agustus, panitia menghadirkan pembicara D. Zawawi Imron, yang mengulik tanya-jawab dengan tulisan “Tradisi Menulis di Kalangan Santri”. Pun Jadul Maula, dari Yayasan LKiS Yogyakarta, menggulirkan makalah dengan judul “Kekuatan Karya Sastra Santri”. Ajang interaktif ini cukup membentangkan cakrawala pemikiran dan spirit yang inspiratif bagi para santri.
Sementara pada 23 Agustus, acara ditutup dengan renungan kebudayaan oleh Dr. Ir. Soedarsono dengan tema, “Menjadi Santri yang Berbudaya dan Berwawasan Kebangsaan”. Sebelumnya, dialog disemarakkan dengan kehadiran penulis novel kontroversial Syekh Siti Jenar, Agus Sunyoto dari Malang, yang menyorongkan tulisan “Menelisik Akar Sistem Pendidikan Pesantren”. Dr. Mastuki HS juga melemparkan diskusi dengan “Memperkuat Akar Budaya Bagi Revitalisasi Sistem Pendidikan Pesantren”.
[15] Satu catatan dari peristiwa diselenggarakannya Muktamar Kebudayaan NU di Ponpes Kaliopak, Piyungan, Yogyakarta, pada 1 Februari 2010. Kegelisahan ini berakar dari kehidupan kebudayaan yang selama ini hanya ditangani secara sektoral dan setengah-setengah. Jika kita memandang posisi-fungsi NU dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan berkebudayaan, NU pernah memiliki masa kejayaan Lesbumi yang didirikan pada tahun 1950-an, sebagai wujud keprihatinan sekaligus ikhtiar NU dalam memroses reorientasi kebudayaannya hingga ke wilayah pedesaan. Hal inilah yang sesungguhnya menggulirkan masalah prinsip yang menjadi landasan NU mendirikan Lesbumi.
Sebagai organisasi sosial keagamaan, NU merasa perlu secara istiqamah untuk bukan sekadar di tingkat pusat dan propinsi dalam wilayah politik. Tapi bagaimana secara konsisten Lesbumi mampu mengelola kehidupan dan sistem kebudayaan pedesaan sebagai basis sosial-kulturalnya di antara perkembangan organisasi kebudayaan lainnya seperti Lekra (onderbouw PKI) dan LKN milik PNI yang masing-masing ikut juga menyasar wilayah pedesaan.
Namun tindakan prinsipil yang riil sehubungan dengan perkembangan NU yang terasa sekali dalam 20-an tahun terakhir ini terlalu banyak “bermain” di wilayah politik praktis yang berakibat NU tercerai-berai yang imbasnya warga mengalami kebingungan karena ketiadaan sosok panutan, seperti kiai sebagai barometer sosio-spiritual.
Apa yang kita harapkan secara mendasar dari NU pada masa kini dan yang akan datang adalah bagaimana suatu strategi kebudayaan menciptakan etos kerja yang tidak tergantung, sikap independen yang didasarkan kepada nilai-nilai religius, dan bagaimana menciptakan sistem ekonomi dari aspek kultural bagi warga pedesaan. Juga bagaimana ikut mengisi kehidupan kebudayaan nusantara dengan perspektif keberagaman seperti yang selalu disorongkan oleh Gus Dur selama ini. Pada sisi lainnya bagaimana NU membina dan mengembangkan secara terus-menerus nilai-nilai toleransi yang didasarkan kepada sikap kultural dalam konteks perkembangan zaman.
NU haruslah menyadari benar bagaimana penetrasi dan infiltrasi teknologi informasi beserta media hiburan yang bersifat konsumtif yang selama ini ikut menggiring kaum muda di kampung-kampung ke dalam berbagai bentuk pemborosan. NU tidak boleh menolak teknologi informasi dan media. Tapi bagaimana dengan etos kerja yang gigih dan kritis menjadikan sarana itu sebagai jembatan pengembangan ilmu dan teknik yang dimiliki oleh warga pedesaan. Dalam kaitan itu, betapa pentingnya NU secara terus menerus melakukan riset mendalam di berbagai bidang di wilayah pedesaan yang memang menjadi ruang sosial warganya.
NU sebagai organisasi sosial-religius perlu memikirkan bagaimana setiap daerah memiliki sejenis pusat-pusat penelitian yang benar-benar bisa dijadikan acuan bagi perkembangan warga secara praktis dan sekaligus ikut menyumbangkan perkembangan ilmu dan pemikiran di tingkat nasional. Sebab, jika NU tidak kembali kepada akar tradisinya dan mengembangkan potensi pedesaan, kota akan dijejali oleh urbanisasi, dan arus itu akan sangat merugikan posisi NU, karena mereka yang bermigrasi ke wilayah urban akan dengan gampang dilahap oleh iklan, gaya hidup hedonis, dan disorientasi nilai-nilai. Kita berharap kepada NU untuk merenungi perjalanannya dan menyusun strategi kebudayaan NU masa depan. Jika demikian keadaannya bagaimana bisa kita menggagas visi untuk mengembangkan sastra pesantren?
[16] Diana Av Sasa (cerpenis dan pegiat I:BOEKOE Jogja) suatu saat di kantin Balai Pemuda pernah ngobrolkan soal pemetaan komunitas sastra di Jatim dengan saya. Ia sendiri pernah mengusulkan bersedia didanai oleh lembaga mana pun untuk melakukan riset pemetaan itu dengan limit waktu 3 bulan. Tentu ia akan membentuk tim riset sebagai pengalamannya terlibat dalam riset pembuatan buku Almanak Senirupa Jogja. Hal ini tampaknya perlu direspon lebih lanjut.
[17] Bersama Halim HD dan Fahmi Faqih, saya sempat bertandang ke Rumah Dunia pada Desember 2008. Pada tanggal 5-7 Desember 2008, Ode Kampung III bertajuk “Temu Komunitas Literasi”. Agenda ini mencoba menyebarkan virus kebajikan melalui buku-buku dan gerakan literasi di Indonesia. Sedang Ode Kampung I “Temu Sastrawan se-Indonesia” dilaksanakan pada Februari 2006 yang dihadiri oleh 150 satrawan. Ode Kampung II “Temu Komunitas Sastra se-Indonesia” pada Juli 2007 yang cukup menghebohkan konstelasi kesusastraan Indonesia, terutama dengan “Pernyataan Sikap” yang ditandatangani oleh lebih dari 200 sastrawan. Ode Kampung IV akan diselenggarakan pada tanggal 3-5 Desember 2010 berlambar “Banten Art Festival.” Berbeda dengan Ode Kampung terdahulu yang lebih menggelar kegiatan diskusi, kegiatan kali ini memfokuskan pada wilayah seni pertunjukkan, mulai dari seni tradisional hingga kontemporer. Tontonan menarik mulai dari seni tari, musik, teater dan monolog, serta pembacaan puisi dari para penyair terpilih dari perwakilan kebudayaan di Indonesia dengan sajian lebih dari 25 pementasan. Selain itu, untuk merangsang minat pelajar dan mahasiswa serta khayalak, para seniman yang tampil itu akan diminta memberikan ilmu dan pengalamannya dalam bentuk workshop dan diskusi. Baca lebih lengkap di www.facebook/Venakyasa: “Ode Kampung #4: Banten Art Festival Di Taman Budaya Rumah Dunia”.
[18] Suyatna Anirun, “Peradaban Dewan”, Pikiran Rakyat, 26 Oktober 2000.
Rabu, 24 November 2010
Mazhab Sastra Facebookiyah
Fahrudin Nasrulloh**
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/
Sarang teknologi telah pecah. Menyebar ke pedalaman renik manusia. Buku, tradisi membaca, dan perjalanan kepengarangan telah dipadatkan jadi arca di kamar facebook. Kemanakah gelombang kesusastraan dan kepengarangan kita sekarang, ketika tentakel teknologi dan gerak perubahan berada di tubir ketidakpastian?
Dunia maya terkini telah menghadirkan produk terbaru yang kita sebut “facebook”. Terkait dengan dunia penulis, tak dapat ditampik, mereka juga menggunakan teknologi tersebut yang berdaya-guna praktis, cepat, dan berbagai kepentingan apa pun bisa digentayangkan di dalamnya secara serius maupun main-main. Inilah bagian dari ekses “guncangan media”, seperti yang disinyalir Afrizal Malna, di mana percepatan bersilang-salip, muncul-tenggelam, dalam aras gigantis yang terus merangsek keseharian manusia. Di sanalah dirayakan segala keterbukaan dan ketakterbatasan itu. Beberapa penulis yang terbilang berduit, pasti memiliki laptop dan modem sendiri untuk ber-internet-an. Malah dapat pula lewat telpon genggam.
Selain facebook yang tak jarang disesaki “status” basi-basi, saya mengamati seorang teman yang nyaris 24 jam nonstop tak beranjak dari laptopnya. Facebook telah dijadikannya sebagai rumah berkarya, mengusung semua karya-karyanya ke dalamnya, mengedit ulang, dan setelah itu menayangkannya dalan “note” ataupun “status”nya. Yang terakhir itu ia gunakan untuk menjalin sapa-kenal dan sambung-rasa dengan teman baru maupun teman lama. Saling bercengkerama, mengomentari, bahkan tak jarang dari teman pendatang “asing” nylonong masuk dan terjadilah percekcokan sengit soal apa saja ihwal politik, puisi, kesenian, pilkada, gigolo di Bali, hingga lomba karikatur Nabi Muhammad. Ini cerita kecil soal seorang penyair yang merasa karya-karyanya tertampik di koran. Ada dendam sampai tak bertekad lagi mengirim. Tapi semangat menulisnya tak pernah padam.
Ia terus bergerak dari batin terdalamnya yang kemudian menjadikan dirinya serpihan daun yang terapung-apung di belantara impiannya. Coba memaknai sesuatu yang tercecer dan mengendap lama dalam tempurung kepala dan daki yang mengerak di tapak kaki. Impian-impian yang diangankan, dalam keseharian yang pedat yang tak bosan-bosan menguntitnya, membentur apa saja yang bahkan kosong tapi kuasa mementalkan. Dan di tembok lapuk itu dirinya seolah membikin bundas batok kepalanya sendiri dengan seabrek kejayaan pengarang dan pemikir masa silam. Tapi tak ia perdulikan. Cinta atas nama puisi yang bergayut dalam dirinya menjelma menjadi hiruk-pikuk was-was, sakwasangka, dan kesumat penuh nafsu tersembunyi. Mengisi apa saja yang di tangkapnya dari jalan-jalan panjang yang pernah dilewatinya. Di lorong itulah ia, melimbur diri dalam dunia maya. Ada yang menyergapnya tiba-tiba di balik layar monitor, liang mause, dan pekatnya flashdisk.
Ia terus menulis, menulis apa saja untuk menebus apa saja yang pernah melongsor dari dirinya. Mengelupaskan diri dalam “status” facebook, hingga yang menguap pengap dari mulut para penyapa harus dipelototi dan “dijempoli”. Tapi dari “entah” itu, ia setidaknya ingin dianggap “ada”. “Ada” yang baginya penting ketimbang merasa sunyi sendiri di pelosok kampungnya. Hidup semakin kompleks. Kebutuhan sehari-hari makin mengimpit. Menulis adalah jalan yang diteguhkan pengalaman panjang sehingga menjadi sejenis iman. Tiba-tiba terasa ada yang menghentak, menelikung diam-diam, dari balik dinding keserbagamangan itu. Ia seperti biksu yang linglung, yang mencari makna bahwa keraguan yang dirawat baik akan menemukan lorong cahayanya sendiri.
Tiap sebatang rokok yang tandas, keringatnya mengudara dikesiur malam dan berakhir di perut asbak yang menggunung latu dan puntung. Kini menulis bukan perkara keramat dan wingit, semua orang dapat merayakan perkembangan teknologi yang dengan begitu murahnya terhadir di depan mata. Dalam fitur-fitur facebook itulah, ia jadikan sebagai medan bertapa. Khayalan cerita pendekar-pendekaran jaman dahulu mengisi imajinasinya. Laku bersyair, baginya, seperti lelaku si pendekar kelana yang menyerap ilmu dari guru ke guru demi menjadi pendekar pilih tanding.
Suatu hari, pada Selasa, 27 April 2010, ia menulis sebuah tulisan berjudul “Para Amatir yang Pemberani”. Tulisan ini agak panjang. Tentang energi menulis dan proses mengimaninya yang harus diperjuangkan. Ia menulisnya langsung di laptopnya dengan seberkas gairah yang barangkali amat jarang didapatinya di luar momen itu. Beberapa kalimat sempat saya rangkum berikut ini:
Inilah kesederhanaan hidup. Semua boleh menulis, asal tak bertolakan dengan hati nurani. Kegunaan nalar kalbu dijalankan. Tak mengganggu pekerjaan lain, yang telah digeluti. Dari pada bengong, menangis tanpa juntrung. Ambillah selembar kertas demi kesejatian nafas. Sebaiknya kita percepat pemberangkatan ini. Sekali-kali jangan mengemis, kita bisa bikin sejarah. Sebenarnya kita punya nyawa rangkap tapi wujudnya berbeda. Kelemahan kita hanyalah keraguan. Jangan ragu hidup sekali dan mati itu pasti. Bukankah keyakinan bakal mempercepat segalanya? Peristiwa pecahnya sarang nalar hampir mendekati turunnya ilmu laduni. Kurangi tidur sedapat mungkin, membasuh muka berkali-kali. Kasih mata ini sedikit garam kalau berani. Atau incipi asam Jawa biar jika diserang kantuk membuta, bisa mengelak. Terus membaca, sebab alam kantuk sanggup menancapkan ingatan sedalam sukma. Jangan sering pakai bantal, itu mengurangi dinaya ingatan. Semakin mengalami, kian kuat menahan apa saja. Singsingkan rasa malu, sebab separuh kesalahan dihasilkan dari situ. Alangkah indah dianggap remeh. Itu malah jadi godam kita suatu hari. Lewat ini darah kebodohan menggejolak. Tanah kehadiran butuhkan pengorbanan, darah juang tumbal semangat. Yang menyerahkan nyawa demi ilmu, merdekalah pemahamannya.
Penulis yang saya sebut itu adalah Nurel Javissyarqi, penyair dan bos penerbit Pustaka Pujangga dari Lamongan. Dari catatannya di atas jelas menyiratkan percikan dari endapan catatan perjalanannya dengan taburan tips menulis, agak filsafati, adventourus, dan sedikit magis. Setelah itu, pada 16 Mei 2010, ia menulis esai yang cukup menarik dengan judul “Untuk Bayi-bayi Besar Sastra Indonesia” yang didiskusikan dalam acara Geladak Sastra yang dihelat Komunitas Lembah Pring Jombang. Sedang pembicara lain, Bandung Mawardi dari Kabut Institut Solo, yang terbilang tulisannya kerap dimuat koran, menjadi kontras dengan pemikiran dan pengalaman Nurel. Yang satu bertapa-karya di facebook, dan yang satunya adalah “pengutuk facebook” yang telah merajai koran dengan esai-esainya.
Mencermati media facebook, juga media elektronik lain, sebagai “medan lintas batas” di mana “demokratisasi sastra” seperti yang disebut-sebut Afrizal Malna bergerak dengan percepatan dan ketakterdugaan yang berseliweran menerobosi keseharian penggunanya. Dan Nurel, setelah karya-karyanya tak digubris koran, ia memasuki lelorong facebook sebagai dendam skizofrenik yang “tak bertuan”.
Dalam arti lain, media koran sebagai sosialisasi karya para penulis, tidaklah menampung semua penulis. Ada ruang sistemik-prosedural yang berlaku dengan rambu-rambu tertentu di sana. Dan pertarungan di dalamnya pada akhirnya adalah bagi pemenang dan yang diberuntungkan. Koran dengan sendirinya telah benar-benar menjadi rezim sastra dan muasal dari segala proses itu adalah kegetolan mengirim karya, selebihnya seleksi, koneksi, dan jaringan personal-emosional yang terjaga baik antara penulis dan redaktur. Sejarah kecil “sastra koran” pada awal 2000-an yang pernah ditulis oleh kritikus Katrin Bandel dalam peta kesusastraan tanah air masih tetap menghangat diperbincangkan.
Dengan menjamurnya facebook dengan segala nilai positif-negatifnya, apakah kita juga melihat ihwal yang masih tersamar bahwa lewat sanakah kesusastraan Indonesia akan menilaskan jejak di kemudian hari? Tentu saja sastra koran adalah sisi lain yang masih kokoh tak tertandingi. Tapi penulis seperti Nurel dan lainnya, juga yang muda-muda dan yang tua-tua namun tetap bergairah, menjadikan facebook sebagai perlintasan jaringan informasi kekaryaan dan event kesenian yang sebenarnya jika diamati dengan cermat sungguh luar biasa perkembangannya. Itu salah satu pengaruh positifnya. Ekses lain mungkin dapat dibayangkan: penulis jadi malas riset berkarya, ajang gosip, tebar cerca dan fitnah, dan berpotensi ambeyen-liver-insomnia. Selain itu, banyak kita jumpai pengarang yang melahirkan karya lewat facebook, seperti Yusron Aminullah, adik Emha Ainun Nadjib, dan lain-lain.
Para penulis dan impian-impiannya mengalirkan karyanya dalam arus besar teknologi dan pergeseran gigantik yang tak tertampik itu. Ini seperti ramalan Jorge Luis Borges: “Di abad mendatang, ketika orang meneliti kesusastraan abad ini, nama-nama yang dikenal sebagai para sastrawan besar bakal berbeda, para pengarang tersembunyi bakal bermunculan, para pemenang Nobel Sastra akan dilupakan. Saya berharap, saya akan dilupakan…”
Nurel dan penulis lainnya yang seperjalanan, tentu mengeram imajinasi puitik demikian dan di batin terdalam mereka terselip tekad untuk mendapatkan tempat selain di koran demi menggores sejarah masing-masing. Dan inikah sejenis tanda era kesusastraan kaum facebookiyah?
—–
**) Bergiat di Komunitas Lembah Pring Jombang
*) dimuat di buletin [sastra] Pawon, edisi30 tahunIII, 2010
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/
Sarang teknologi telah pecah. Menyebar ke pedalaman renik manusia. Buku, tradisi membaca, dan perjalanan kepengarangan telah dipadatkan jadi arca di kamar facebook. Kemanakah gelombang kesusastraan dan kepengarangan kita sekarang, ketika tentakel teknologi dan gerak perubahan berada di tubir ketidakpastian?
Dunia maya terkini telah menghadirkan produk terbaru yang kita sebut “facebook”. Terkait dengan dunia penulis, tak dapat ditampik, mereka juga menggunakan teknologi tersebut yang berdaya-guna praktis, cepat, dan berbagai kepentingan apa pun bisa digentayangkan di dalamnya secara serius maupun main-main. Inilah bagian dari ekses “guncangan media”, seperti yang disinyalir Afrizal Malna, di mana percepatan bersilang-salip, muncul-tenggelam, dalam aras gigantis yang terus merangsek keseharian manusia. Di sanalah dirayakan segala keterbukaan dan ketakterbatasan itu. Beberapa penulis yang terbilang berduit, pasti memiliki laptop dan modem sendiri untuk ber-internet-an. Malah dapat pula lewat telpon genggam.
Selain facebook yang tak jarang disesaki “status” basi-basi, saya mengamati seorang teman yang nyaris 24 jam nonstop tak beranjak dari laptopnya. Facebook telah dijadikannya sebagai rumah berkarya, mengusung semua karya-karyanya ke dalamnya, mengedit ulang, dan setelah itu menayangkannya dalan “note” ataupun “status”nya. Yang terakhir itu ia gunakan untuk menjalin sapa-kenal dan sambung-rasa dengan teman baru maupun teman lama. Saling bercengkerama, mengomentari, bahkan tak jarang dari teman pendatang “asing” nylonong masuk dan terjadilah percekcokan sengit soal apa saja ihwal politik, puisi, kesenian, pilkada, gigolo di Bali, hingga lomba karikatur Nabi Muhammad. Ini cerita kecil soal seorang penyair yang merasa karya-karyanya tertampik di koran. Ada dendam sampai tak bertekad lagi mengirim. Tapi semangat menulisnya tak pernah padam.
Ia terus bergerak dari batin terdalamnya yang kemudian menjadikan dirinya serpihan daun yang terapung-apung di belantara impiannya. Coba memaknai sesuatu yang tercecer dan mengendap lama dalam tempurung kepala dan daki yang mengerak di tapak kaki. Impian-impian yang diangankan, dalam keseharian yang pedat yang tak bosan-bosan menguntitnya, membentur apa saja yang bahkan kosong tapi kuasa mementalkan. Dan di tembok lapuk itu dirinya seolah membikin bundas batok kepalanya sendiri dengan seabrek kejayaan pengarang dan pemikir masa silam. Tapi tak ia perdulikan. Cinta atas nama puisi yang bergayut dalam dirinya menjelma menjadi hiruk-pikuk was-was, sakwasangka, dan kesumat penuh nafsu tersembunyi. Mengisi apa saja yang di tangkapnya dari jalan-jalan panjang yang pernah dilewatinya. Di lorong itulah ia, melimbur diri dalam dunia maya. Ada yang menyergapnya tiba-tiba di balik layar monitor, liang mause, dan pekatnya flashdisk.
Ia terus menulis, menulis apa saja untuk menebus apa saja yang pernah melongsor dari dirinya. Mengelupaskan diri dalam “status” facebook, hingga yang menguap pengap dari mulut para penyapa harus dipelototi dan “dijempoli”. Tapi dari “entah” itu, ia setidaknya ingin dianggap “ada”. “Ada” yang baginya penting ketimbang merasa sunyi sendiri di pelosok kampungnya. Hidup semakin kompleks. Kebutuhan sehari-hari makin mengimpit. Menulis adalah jalan yang diteguhkan pengalaman panjang sehingga menjadi sejenis iman. Tiba-tiba terasa ada yang menghentak, menelikung diam-diam, dari balik dinding keserbagamangan itu. Ia seperti biksu yang linglung, yang mencari makna bahwa keraguan yang dirawat baik akan menemukan lorong cahayanya sendiri.
Tiap sebatang rokok yang tandas, keringatnya mengudara dikesiur malam dan berakhir di perut asbak yang menggunung latu dan puntung. Kini menulis bukan perkara keramat dan wingit, semua orang dapat merayakan perkembangan teknologi yang dengan begitu murahnya terhadir di depan mata. Dalam fitur-fitur facebook itulah, ia jadikan sebagai medan bertapa. Khayalan cerita pendekar-pendekaran jaman dahulu mengisi imajinasinya. Laku bersyair, baginya, seperti lelaku si pendekar kelana yang menyerap ilmu dari guru ke guru demi menjadi pendekar pilih tanding.
Suatu hari, pada Selasa, 27 April 2010, ia menulis sebuah tulisan berjudul “Para Amatir yang Pemberani”. Tulisan ini agak panjang. Tentang energi menulis dan proses mengimaninya yang harus diperjuangkan. Ia menulisnya langsung di laptopnya dengan seberkas gairah yang barangkali amat jarang didapatinya di luar momen itu. Beberapa kalimat sempat saya rangkum berikut ini:
Inilah kesederhanaan hidup. Semua boleh menulis, asal tak bertolakan dengan hati nurani. Kegunaan nalar kalbu dijalankan. Tak mengganggu pekerjaan lain, yang telah digeluti. Dari pada bengong, menangis tanpa juntrung. Ambillah selembar kertas demi kesejatian nafas. Sebaiknya kita percepat pemberangkatan ini. Sekali-kali jangan mengemis, kita bisa bikin sejarah. Sebenarnya kita punya nyawa rangkap tapi wujudnya berbeda. Kelemahan kita hanyalah keraguan. Jangan ragu hidup sekali dan mati itu pasti. Bukankah keyakinan bakal mempercepat segalanya? Peristiwa pecahnya sarang nalar hampir mendekati turunnya ilmu laduni. Kurangi tidur sedapat mungkin, membasuh muka berkali-kali. Kasih mata ini sedikit garam kalau berani. Atau incipi asam Jawa biar jika diserang kantuk membuta, bisa mengelak. Terus membaca, sebab alam kantuk sanggup menancapkan ingatan sedalam sukma. Jangan sering pakai bantal, itu mengurangi dinaya ingatan. Semakin mengalami, kian kuat menahan apa saja. Singsingkan rasa malu, sebab separuh kesalahan dihasilkan dari situ. Alangkah indah dianggap remeh. Itu malah jadi godam kita suatu hari. Lewat ini darah kebodohan menggejolak. Tanah kehadiran butuhkan pengorbanan, darah juang tumbal semangat. Yang menyerahkan nyawa demi ilmu, merdekalah pemahamannya.
Penulis yang saya sebut itu adalah Nurel Javissyarqi, penyair dan bos penerbit Pustaka Pujangga dari Lamongan. Dari catatannya di atas jelas menyiratkan percikan dari endapan catatan perjalanannya dengan taburan tips menulis, agak filsafati, adventourus, dan sedikit magis. Setelah itu, pada 16 Mei 2010, ia menulis esai yang cukup menarik dengan judul “Untuk Bayi-bayi Besar Sastra Indonesia” yang didiskusikan dalam acara Geladak Sastra yang dihelat Komunitas Lembah Pring Jombang. Sedang pembicara lain, Bandung Mawardi dari Kabut Institut Solo, yang terbilang tulisannya kerap dimuat koran, menjadi kontras dengan pemikiran dan pengalaman Nurel. Yang satu bertapa-karya di facebook, dan yang satunya adalah “pengutuk facebook” yang telah merajai koran dengan esai-esainya.
Mencermati media facebook, juga media elektronik lain, sebagai “medan lintas batas” di mana “demokratisasi sastra” seperti yang disebut-sebut Afrizal Malna bergerak dengan percepatan dan ketakterdugaan yang berseliweran menerobosi keseharian penggunanya. Dan Nurel, setelah karya-karyanya tak digubris koran, ia memasuki lelorong facebook sebagai dendam skizofrenik yang “tak bertuan”.
Dalam arti lain, media koran sebagai sosialisasi karya para penulis, tidaklah menampung semua penulis. Ada ruang sistemik-prosedural yang berlaku dengan rambu-rambu tertentu di sana. Dan pertarungan di dalamnya pada akhirnya adalah bagi pemenang dan yang diberuntungkan. Koran dengan sendirinya telah benar-benar menjadi rezim sastra dan muasal dari segala proses itu adalah kegetolan mengirim karya, selebihnya seleksi, koneksi, dan jaringan personal-emosional yang terjaga baik antara penulis dan redaktur. Sejarah kecil “sastra koran” pada awal 2000-an yang pernah ditulis oleh kritikus Katrin Bandel dalam peta kesusastraan tanah air masih tetap menghangat diperbincangkan.
Dengan menjamurnya facebook dengan segala nilai positif-negatifnya, apakah kita juga melihat ihwal yang masih tersamar bahwa lewat sanakah kesusastraan Indonesia akan menilaskan jejak di kemudian hari? Tentu saja sastra koran adalah sisi lain yang masih kokoh tak tertandingi. Tapi penulis seperti Nurel dan lainnya, juga yang muda-muda dan yang tua-tua namun tetap bergairah, menjadikan facebook sebagai perlintasan jaringan informasi kekaryaan dan event kesenian yang sebenarnya jika diamati dengan cermat sungguh luar biasa perkembangannya. Itu salah satu pengaruh positifnya. Ekses lain mungkin dapat dibayangkan: penulis jadi malas riset berkarya, ajang gosip, tebar cerca dan fitnah, dan berpotensi ambeyen-liver-insomnia. Selain itu, banyak kita jumpai pengarang yang melahirkan karya lewat facebook, seperti Yusron Aminullah, adik Emha Ainun Nadjib, dan lain-lain.
Para penulis dan impian-impiannya mengalirkan karyanya dalam arus besar teknologi dan pergeseran gigantik yang tak tertampik itu. Ini seperti ramalan Jorge Luis Borges: “Di abad mendatang, ketika orang meneliti kesusastraan abad ini, nama-nama yang dikenal sebagai para sastrawan besar bakal berbeda, para pengarang tersembunyi bakal bermunculan, para pemenang Nobel Sastra akan dilupakan. Saya berharap, saya akan dilupakan…”
Nurel dan penulis lainnya yang seperjalanan, tentu mengeram imajinasi puitik demikian dan di batin terdalam mereka terselip tekad untuk mendapatkan tempat selain di koran demi menggores sejarah masing-masing. Dan inikah sejenis tanda era kesusastraan kaum facebookiyah?
—–
**) Bergiat di Komunitas Lembah Pring Jombang
*) dimuat di buletin [sastra] Pawon, edisi30 tahunIII, 2010
Senin, 14 Juni 2010
“Geladak Sastra”, Kekaryaan, dan Sinergi Komunitas
Fahrudin Nasrulloh*
http://sosbud.kompasiana.com/
Dunia kepenulisan dan geliat berbagai komunitas apapun bentuk dan aktivitasnya di setiap kota maupun desa, jika kita pernah menyusuri wilayah-wilayah itu dan mencermatinya, sedikit demi sedikit ternyata menyibak jendela pengalaman bahwa di sana bertumbuh dan bergerak beragam gairah dan potensi mulai dalam bentuk kegiatan kawula muda kampung, kemahasiswaan, ataupun komunitas tertentu yang hal ini sungguh menunjukkan suatu perkembangan interaksi sosial yang positif. Di sisi lain jaringan di dunia maya, facebook misalnya, makin menjebak dan membusuki diri tiap individu, kecuali tentu saja ada nilai positif darinya untuk meluaskan informasi dan jaringan antar institusi, pebisnis, jasa wira usaha, ataupun komunitas.
Pengaruh “ledakan media”, sebagaimana yang disebut Afrizal Malna, salah satunya adalah percepatan, pergesekan, dan perubahan yang tidak bisa ditebak ujungnya, namun dampaknya terasa dalam ritus keseharian walau tanpa tersadari alangkah kita begitu susah untuk berjeda barang sebentar berefleksi diri atas apa yang terjadi, sementara di sisi lain kita telah melarut mengarus dalam derap guncangan teknologi tersebut.
Salah satu pengaruh besarnya, entah terasa atau sudah menjadi biasa, adalah betapa mahal dan susahnya apa yang kita sebut “silaturahmi” dan “pertemuan”. Dalam konteks bersastra, ruang lingkup sosialnya, dan pegiat atau pesastra di dalamnya, kini tampaknya cukup menempa kekaryaan dalam kamar sunyinya masing-masing, selain orientasi kepengarangan yang bebas nilai yang makin jarang ditemukan pengarang yang benar-benar berkarya dan menggali inspirasi dari problematik sosial dan oleh sebab itu menuntutnya untuk terjun riset ke masyarakat. Penulis yang tercandui dunia internet, menyimpan pengaruh tak terkira, dan cenderung menghasilkan karya dari kesunyian dirinya sendiri. Tapi semua itu sah dan boleh-boleh saja, sebab berkarya adalah memilih jalan kebebasan yang tidak terikat bahkan atas nama suatu ideologi.
Dari cara pandang sekilas di atas, dan merujuk akan pentingnya sebuah pertemuan, dialog, bertukar tangkap gagasan dan saling menyodorkan karya untuk diobrolkan dengan santai sambil mencicip kopi-teh atau air putih saja dan hidangan ala kadarnya, maka Komunitas Lembah Pring dari Kampung Mojokuripan Sumobito Jombang menggelindingkan agenda kecil berupa “Geladak Sastra” guna mewadahi dan menjadikannya ruang sosial di mana para penulis, pemerhati kesenian, komunitas-komunitas, warga kampung, dapat terlibat bersama-sama secara guyub dengan kesederhanaan dan kesahajaan.
Dari hasil penelusuran dan jalan-jalan, pegiat Komunitas Lembah Pring, yang dilurahi oleh Jabbar Abdullah, untuk sementara dapat mengumpulkan sejumlah data tentang penulis dan komunitas yang bergeliat namun selama ini belum terkabarkan dan untuk itulah kiranya jadi berharga sebagai referensi merekatkan jaringan dalam berbagai kegiatan yang bisa diagendakan secara rutin dan berkesinambungan.
Seperti contoh ada penulis bernama Sarah Mariska, gadis belia dari Desa Jogoloyo, Kecamatan Sumobito ini sudah lama menyimpan sejumlah karya. Sebut saja: Devil’s Park (novel), Oak (novel), What I Feel (kumpulan cerpen), Setan versus Malaikat (naskah drama), Aku Anak Desa (kumpulan esai). Agus M. Herlambang dari UNIPDU Jombang yang bergiat di Buletin Change telah memiliki kumpulan cerpen berjudul Sepuluh Kepala Babi, dan sekumpulan esai Kita dan Mbah Dukun. Mubarok dari UNDAR Jombang dengan kumpulan esai Menatap Masa Depan Indonesia. Eka Kristino dari UNIPDU Jombang dengan kumpulan puisi Awan yang Kesepian. Ada juga M.F. Bary Luay dari UNIPDU Jombang telah menghimpun sekumpulan puisi berjudul Seruan Izrail dan kumpulan cerpen Kematian si Abah. Bambang Irawan dari Komunitas Alif Mojoagung, selain sebagai aktor teater, ia juga sebagai penulis lakon drama, misalnya Malingku Maling, Wewe Gombel, Jamu Mbah Gandul, Ambar Hambar, dan sekumpulan esai berumbul Film Indie Kita. Pada komunitas yang sama, ada pula Purwanto yang menyimpan kumpulan puisi berjudul Sepenggal Kisah. Komunitas dari Mojoagung ini memiliki potensi dan semangat ingin maju yang luar biasa.
Sabrank Suparno dari Kampung Dowong, yang pekerjaan sehari-harinya sebagai buruh tani, pengasak gabah, pencitak batu-bata, dan tukang brujul sawah, namun di balik itu selain aktivitas rutin perbulannya di Jamaah Padang Mbulan Cak Nun, ia juga telah melahirkan sejumlah karya yang memenangi Sayembara Menulis dalam rangka Workshop Kepenulisan Jamaah Maiyah pada Desember 2009 dengan judul Rembulan Cincin Kawin Dunia (buku ilmiah populer) dan Negeri Rasul Seluas Sajadah (buku populer religius sastrawi). Sekarang ia mulai menyiapkan sekumpulan cerkak dengan bendera Bobok Suruh Bodeh.
Masih di belahan Sumobito, tepatnya di Kampung Rejosari, tersebutlah Endah Wahyuningsih, seorang mahasiswi anyaran tahun 2009 di kampus STKIP PGRI Jombang. Ia termasuk gadis muda yang produktif menulis sejak di bangku kelas 2 SMP. Sejumlah cerpen dan novel remaja sudah ditulisnya di usia belasan itu. Hingga kini, meski sepengakuannya ia termasuk gadis ndeso dan kuper jika dibandingkan teman-temannya, namun memang semangat nulisnya sejak dini tersebut masih banyak yang perlu kita ketahui dan gali nilai spirit darinya. Kebanyakan karya-karyanya masih dalam bentuk tulisan tangan, belum diketik baik dengan mesin ketik manual maupun dengan fasilitas komputer. Beberapa karyanya yang sempat terekam misalnya: Tangisan Bidadari (rampai puisi, 200 halaman), Jiwa-jiwa Merpati yang Lara (himpunan Cerpen), Oh Mama Oh Papa (novel), Misteri Giok Merah (novel), Dua Belas Lilin Untuk Cinta (novel), Peri Biru (novel), dan Satu Cinta Dua Kasih Sayang (novel). Ada pula Siti Sa’adah, dari kampus yang sama, asal Gebang Malang, Diwek, selain sebagai guru dan beraktivitas di Tim Pelestari Seni-Budaya Jombang, ia adalah penulis cerpen yang potensial di masa mendatang dengan karakter cerpen yang digali dari pengalaman kampung dan problematik santri di pesantren.
Tampaknya geliat mahasiswa STKIP PGRI Jombang yang di tahun ajaran 2010 ini mengantongi jumlah sekitar 4800 mahasiswa. Kegiatan teater dan bersastra cukup bergeriap di sini. Banyak pementasan teater yang digelar, juga musikalisasi puisi. Di awal 2010 misalnya, Rahmat Sularso dan Syamsul Huda, berkreasi dengan membuat antologi Cecerak Jombang (cerita rakyat) dan kumpulan puisi Jagad Berkata-kata. Tradisi pendokumentasian ini patut diacungi jempol. Sebab, pasti, tidak semua mahasiswa mau berkarya, dan lewat tugas mata kuliah Proses Kreatif, mereka diharuskan untuk menulis. Macam Tugas demikian tidak lepas dari spirit yang digerakkan oleh dosen prodi bahasa Indonesia, Imam Ghazali AR dan Nanda Sukmana.
Pada wilayah yang tak jauh, M.S. Nugroho, seorang guru SMP 3 Peterongan, adalah pegiat teater pelajar di masa mudanya, dan kini tetap aktif menyutradarai berbagai pementasan teater pelajar, terutama di sekolah di mana dia mengajar. Beberapa rampai cerpen anak (8 cerpen) dan cerpen dewasa atau umum (13 cerpen) telah ia siapkan untuk diterbitkan. Ada 8 karya cerita tentang semacam Dongeng Politik dengan jenis cerita populer dan jenaka. 13 naskah drama tersimpan di laci kerja kreatifnya: Malin-End the Scene, Wewe Gombel, Surya Terbenam Pagi, Bulan Tersaput Awan, Yuyu Kangkang, Nyanyian Marduk Pada Bulan, Kusir Delman dan Wakuncar, Audensi Keluarga, Surup, Raja Toba, Setan, Y di Puncak Kematian, Ekstase dalam Secangkir Revolusi, dan Perjuangan Milik Bersama. Angka ini termasuk jarang dimiliki pegiat teater lain di Jombang. Meski kita belum tahu, berapa sutradara teater di Jombang yang getol membikin naskah sendiri, bukan melulu menggarap naskah sutradara kesohor lain di negeri ini misalnya pada naskah Arifin C. Noer, Putu Wijaya, Heru Kesawa Murti, dan lain-lain. Sebuah novel sedang disempurnakannya dengan judul New Secret Painter. Sementara itu, 3 skenario film karangannya siap digodok bersama sejumlah sejawat yang tergabung dalam tim film indie. 3 skenario itu adalah: Ilmu Kalong, Bulan Tertusuk Ilalang, dan Tujuh Hari Meniti Kematian. Cucuk Espe atau Cucuk Suparno dari Peterongan, barangkali juga memiliki sejumlah naskah drama tersendiri, yang salah satunya adalah naskah 13 Pagi yang pernah dipertunjukkan di auditorium UNDAR pada 14 Desember 2009.
Sedang di belantara sastra pesantren, yang baru tercatat, ada Khilma Anis dari Pondok Pesantren Tambak Beras, selain dia, tampaknya cukup banyak jebolan dari pesantren ini yang tersebar di beberapa kampus di Jawa yang lumayan aktif dan produktif berkarya, namun belum terlacak keberadaannya. Kemudian Hilmi As’ad, ia adalah seorang kiai muda yang kalem namun energik dan produktif dari Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso yang mulai populer dengan terbitan novelnya: Tasawuf Cinta (Diva Press: Jogja, 2008)), Hakikat Cinta (Diva Press: Jogja, 2009), dan Putri Sio (Koekoesan: Jakarta, 2010). Para pengarang muda pesantren baik yang bermukim Jombang maupun di luar, telah menjadi penulis berbakat. Setidaknya mereka mewarisi kegigihan dan ketokohan sosok-sosok semisal Emha Ainun Nadjib, Abidah El-Khalieqy, Ahmad Munif, Yusron Aminullah, Shoim Anwar, dan lain-lain.
Membincang keberadaan komunitas di Jombang, pernah Komunitas Lembah Pring bergabung serta dalam kegiatan “Bengkel Menulis I” yang diadakan oleh Komunitas Fikrah Institut pada 27 Februari 2010 di pendopo Perkembunan Daerah Panglungan (PDP), Wonosalam. Komunitas yang memfokuskan pada dunia kepenulisan kreatif dan diskusi sastra ini dibentuk pada akhir 2009 oleh perkumpulan kawula muda PMII Jombang seperti Wahib Pamungkas dan Anwar Masduki Azzam. Setiap minggu mereka menggelar diskusi sastra, pemikiran keislaman, dan ke-NU-an. Memang teramat padat jika tiap minggu berdiskusi. Justru militansi mereka yang patut dicatat. Komunitas lain yang bertebaran sebenarnya banyak juga, seperti Forum Tetesan Pena dari UKM Jurnalistik UNIPDU yang dipimpin oleh M. Ali Fatkhurrozi, Formasis (Forum Mahasiswa Ibnu Siena) dari Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso yang dipandu Mubaruk, CLMBK (Create Letter Mahasiswa Bimbingan Konseling) dari UNDAR pimpinan Kharis Sofyan, dan lain-lain, yang secara pribadi mengembangkan kreativitas personalnya dalam menulis seperti Nur Aini (pengelola Buletin Penalaran dari STKIP Jombang); Budi Syarifuddin dan Rohmatul Hidayah dari UNIPDU; Zaenal Fuadin dan Liestya Ambarwati Kohar dari Komunitas Alif Mojoagung; Laily Syarifah, penulis sekaligus guru di SMP 3 Peterongan; Siti Sulami, penulis asal Ngoro yang sudah melahirkan novel Fatihah Cinta, dan kini sedang menggarap sebuah novel baru lagi dan kumpulan cerpen.
Paparan di atas menunjukkan betapa potensi kreatif penulis di Jombang tidak bisa dipandang sebelah mata. Tujuan digelarnya agenda rutin “Geladak Sastra” adalah sebagai wadah, tempat berkumpul, ajang pertemuan yang sederhana dan tidak mewah, membuka gagasan apapun dan dari siapapun, dan tidak hanya terbatas pada penulis dan komunitas dari Jombang saja, tetapi membuka diri bagi yang lain di luar kota untuk terlibat, urun pemikiran, serta mengelilingkan “Geladak Sastra” tersebut sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan yang disepakati bersama. Ada tiga pokok agenda “Geladak Sastra”: pertama, bedah karya. Bedah karya ini bersifat fleksibel, tidak harus karya yang sudah diterbitkan oleh penerbit atau lembaga tertentu. Karya yang misalnya berupa puisi, cerpen, esai, naskah drama, atau catatan-catatan perjalanan, atau apapun, dapat diajukan ke lurah Komunitas Lembah Pring, dan akan dipertimbangkan untuk diagendakan. Semisal untuk puisi, cukup 5 sampai 10 puisi, dalam bentuk fotokopian. Untuk cerpen 3 judul. Untuk naskah drama dan novel 1 judul. Kedua, berbentuk diskusi atau jagongan ringan dengan tema sastra, seni, dan budaya. Di sini akan dihadirkan pembicara baik dari Jombang maupun dari luar kota. Ketiga, dalam format dialog lepas atau talk show atau orasi budaya yang dirancang misalnya menghadirkan seniman tradisonal ataupun yang kontemporer atau dalam bentuk refleksi publik yang nyantai dari sastrawan maupun budayawan. Bisa juga dalam bentuk pementasan musikalisasi puisi atau monolog dengan batas waktu tertentu. Tiga agenda ini akan diselang-seling sesuai kebutuhan dan bersifat kondisional.
Gelaran “Geladak Sastra” Komunitas Lembah Pring sebagaimana ilustrasi di atas, dengan segala keterbatasannya, akan diupayakan mampu berjalan sesuai dengan rancangan agendanya. Agenda perdana berupa bedah karya dan diskusi kumpulan cerpen Siti Sa’adah Pensi Dor pada Minggu siang, 28 Maret 2010, di markas Komunitas Lembah Pring, di Kampung Mojokuripan. Dan pada 18 April 2010 membedah kumpulan cerkak Bobok Suruh Bodeh karya Sabrank Suparno di langgar Kampung Dowong, Ploso Kerep. Ajang diskusi yang kedua ini dihadiri direktur Penerbit Pustaka Pujangga, Nurel Javissyarqi yang untuk seterusnya akan menyumbangkan masing-masing satu buku terbitannya kepada pembicara, moderator, dan pengarang yang dibedah karyanya. Tentu waktulah yang akan menguji seberapa tangguh kegiatan ini dapat berderap. “Asal jangan tai-tai ayam,” demikian seloroh seorang teman mengapresiasi. Paling tidak, kita akan melihat, hingga beberapa bulan ke depan sampai akhir 2010. Selamat berkarya, dan terus bergerak!
—-
*) Fahrudin Nasrulloh, pekerja kata di Komunitas Lembah Pring Jombang
http://sosbud.kompasiana.com/
Dunia kepenulisan dan geliat berbagai komunitas apapun bentuk dan aktivitasnya di setiap kota maupun desa, jika kita pernah menyusuri wilayah-wilayah itu dan mencermatinya, sedikit demi sedikit ternyata menyibak jendela pengalaman bahwa di sana bertumbuh dan bergerak beragam gairah dan potensi mulai dalam bentuk kegiatan kawula muda kampung, kemahasiswaan, ataupun komunitas tertentu yang hal ini sungguh menunjukkan suatu perkembangan interaksi sosial yang positif. Di sisi lain jaringan di dunia maya, facebook misalnya, makin menjebak dan membusuki diri tiap individu, kecuali tentu saja ada nilai positif darinya untuk meluaskan informasi dan jaringan antar institusi, pebisnis, jasa wira usaha, ataupun komunitas.
Pengaruh “ledakan media”, sebagaimana yang disebut Afrizal Malna, salah satunya adalah percepatan, pergesekan, dan perubahan yang tidak bisa ditebak ujungnya, namun dampaknya terasa dalam ritus keseharian walau tanpa tersadari alangkah kita begitu susah untuk berjeda barang sebentar berefleksi diri atas apa yang terjadi, sementara di sisi lain kita telah melarut mengarus dalam derap guncangan teknologi tersebut.
Salah satu pengaruh besarnya, entah terasa atau sudah menjadi biasa, adalah betapa mahal dan susahnya apa yang kita sebut “silaturahmi” dan “pertemuan”. Dalam konteks bersastra, ruang lingkup sosialnya, dan pegiat atau pesastra di dalamnya, kini tampaknya cukup menempa kekaryaan dalam kamar sunyinya masing-masing, selain orientasi kepengarangan yang bebas nilai yang makin jarang ditemukan pengarang yang benar-benar berkarya dan menggali inspirasi dari problematik sosial dan oleh sebab itu menuntutnya untuk terjun riset ke masyarakat. Penulis yang tercandui dunia internet, menyimpan pengaruh tak terkira, dan cenderung menghasilkan karya dari kesunyian dirinya sendiri. Tapi semua itu sah dan boleh-boleh saja, sebab berkarya adalah memilih jalan kebebasan yang tidak terikat bahkan atas nama suatu ideologi.
Dari cara pandang sekilas di atas, dan merujuk akan pentingnya sebuah pertemuan, dialog, bertukar tangkap gagasan dan saling menyodorkan karya untuk diobrolkan dengan santai sambil mencicip kopi-teh atau air putih saja dan hidangan ala kadarnya, maka Komunitas Lembah Pring dari Kampung Mojokuripan Sumobito Jombang menggelindingkan agenda kecil berupa “Geladak Sastra” guna mewadahi dan menjadikannya ruang sosial di mana para penulis, pemerhati kesenian, komunitas-komunitas, warga kampung, dapat terlibat bersama-sama secara guyub dengan kesederhanaan dan kesahajaan.
Dari hasil penelusuran dan jalan-jalan, pegiat Komunitas Lembah Pring, yang dilurahi oleh Jabbar Abdullah, untuk sementara dapat mengumpulkan sejumlah data tentang penulis dan komunitas yang bergeliat namun selama ini belum terkabarkan dan untuk itulah kiranya jadi berharga sebagai referensi merekatkan jaringan dalam berbagai kegiatan yang bisa diagendakan secara rutin dan berkesinambungan.
Seperti contoh ada penulis bernama Sarah Mariska, gadis belia dari Desa Jogoloyo, Kecamatan Sumobito ini sudah lama menyimpan sejumlah karya. Sebut saja: Devil’s Park (novel), Oak (novel), What I Feel (kumpulan cerpen), Setan versus Malaikat (naskah drama), Aku Anak Desa (kumpulan esai). Agus M. Herlambang dari UNIPDU Jombang yang bergiat di Buletin Change telah memiliki kumpulan cerpen berjudul Sepuluh Kepala Babi, dan sekumpulan esai Kita dan Mbah Dukun. Mubarok dari UNDAR Jombang dengan kumpulan esai Menatap Masa Depan Indonesia. Eka Kristino dari UNIPDU Jombang dengan kumpulan puisi Awan yang Kesepian. Ada juga M.F. Bary Luay dari UNIPDU Jombang telah menghimpun sekumpulan puisi berjudul Seruan Izrail dan kumpulan cerpen Kematian si Abah. Bambang Irawan dari Komunitas Alif Mojoagung, selain sebagai aktor teater, ia juga sebagai penulis lakon drama, misalnya Malingku Maling, Wewe Gombel, Jamu Mbah Gandul, Ambar Hambar, dan sekumpulan esai berumbul Film Indie Kita. Pada komunitas yang sama, ada pula Purwanto yang menyimpan kumpulan puisi berjudul Sepenggal Kisah. Komunitas dari Mojoagung ini memiliki potensi dan semangat ingin maju yang luar biasa.
Sabrank Suparno dari Kampung Dowong, yang pekerjaan sehari-harinya sebagai buruh tani, pengasak gabah, pencitak batu-bata, dan tukang brujul sawah, namun di balik itu selain aktivitas rutin perbulannya di Jamaah Padang Mbulan Cak Nun, ia juga telah melahirkan sejumlah karya yang memenangi Sayembara Menulis dalam rangka Workshop Kepenulisan Jamaah Maiyah pada Desember 2009 dengan judul Rembulan Cincin Kawin Dunia (buku ilmiah populer) dan Negeri Rasul Seluas Sajadah (buku populer religius sastrawi). Sekarang ia mulai menyiapkan sekumpulan cerkak dengan bendera Bobok Suruh Bodeh.
Masih di belahan Sumobito, tepatnya di Kampung Rejosari, tersebutlah Endah Wahyuningsih, seorang mahasiswi anyaran tahun 2009 di kampus STKIP PGRI Jombang. Ia termasuk gadis muda yang produktif menulis sejak di bangku kelas 2 SMP. Sejumlah cerpen dan novel remaja sudah ditulisnya di usia belasan itu. Hingga kini, meski sepengakuannya ia termasuk gadis ndeso dan kuper jika dibandingkan teman-temannya, namun memang semangat nulisnya sejak dini tersebut masih banyak yang perlu kita ketahui dan gali nilai spirit darinya. Kebanyakan karya-karyanya masih dalam bentuk tulisan tangan, belum diketik baik dengan mesin ketik manual maupun dengan fasilitas komputer. Beberapa karyanya yang sempat terekam misalnya: Tangisan Bidadari (rampai puisi, 200 halaman), Jiwa-jiwa Merpati yang Lara (himpunan Cerpen), Oh Mama Oh Papa (novel), Misteri Giok Merah (novel), Dua Belas Lilin Untuk Cinta (novel), Peri Biru (novel), dan Satu Cinta Dua Kasih Sayang (novel). Ada pula Siti Sa’adah, dari kampus yang sama, asal Gebang Malang, Diwek, selain sebagai guru dan beraktivitas di Tim Pelestari Seni-Budaya Jombang, ia adalah penulis cerpen yang potensial di masa mendatang dengan karakter cerpen yang digali dari pengalaman kampung dan problematik santri di pesantren.
Tampaknya geliat mahasiswa STKIP PGRI Jombang yang di tahun ajaran 2010 ini mengantongi jumlah sekitar 4800 mahasiswa. Kegiatan teater dan bersastra cukup bergeriap di sini. Banyak pementasan teater yang digelar, juga musikalisasi puisi. Di awal 2010 misalnya, Rahmat Sularso dan Syamsul Huda, berkreasi dengan membuat antologi Cecerak Jombang (cerita rakyat) dan kumpulan puisi Jagad Berkata-kata. Tradisi pendokumentasian ini patut diacungi jempol. Sebab, pasti, tidak semua mahasiswa mau berkarya, dan lewat tugas mata kuliah Proses Kreatif, mereka diharuskan untuk menulis. Macam Tugas demikian tidak lepas dari spirit yang digerakkan oleh dosen prodi bahasa Indonesia, Imam Ghazali AR dan Nanda Sukmana.
Pada wilayah yang tak jauh, M.S. Nugroho, seorang guru SMP 3 Peterongan, adalah pegiat teater pelajar di masa mudanya, dan kini tetap aktif menyutradarai berbagai pementasan teater pelajar, terutama di sekolah di mana dia mengajar. Beberapa rampai cerpen anak (8 cerpen) dan cerpen dewasa atau umum (13 cerpen) telah ia siapkan untuk diterbitkan. Ada 8 karya cerita tentang semacam Dongeng Politik dengan jenis cerita populer dan jenaka. 13 naskah drama tersimpan di laci kerja kreatifnya: Malin-End the Scene, Wewe Gombel, Surya Terbenam Pagi, Bulan Tersaput Awan, Yuyu Kangkang, Nyanyian Marduk Pada Bulan, Kusir Delman dan Wakuncar, Audensi Keluarga, Surup, Raja Toba, Setan, Y di Puncak Kematian, Ekstase dalam Secangkir Revolusi, dan Perjuangan Milik Bersama. Angka ini termasuk jarang dimiliki pegiat teater lain di Jombang. Meski kita belum tahu, berapa sutradara teater di Jombang yang getol membikin naskah sendiri, bukan melulu menggarap naskah sutradara kesohor lain di negeri ini misalnya pada naskah Arifin C. Noer, Putu Wijaya, Heru Kesawa Murti, dan lain-lain. Sebuah novel sedang disempurnakannya dengan judul New Secret Painter. Sementara itu, 3 skenario film karangannya siap digodok bersama sejumlah sejawat yang tergabung dalam tim film indie. 3 skenario itu adalah: Ilmu Kalong, Bulan Tertusuk Ilalang, dan Tujuh Hari Meniti Kematian. Cucuk Espe atau Cucuk Suparno dari Peterongan, barangkali juga memiliki sejumlah naskah drama tersendiri, yang salah satunya adalah naskah 13 Pagi yang pernah dipertunjukkan di auditorium UNDAR pada 14 Desember 2009.
Sedang di belantara sastra pesantren, yang baru tercatat, ada Khilma Anis dari Pondok Pesantren Tambak Beras, selain dia, tampaknya cukup banyak jebolan dari pesantren ini yang tersebar di beberapa kampus di Jawa yang lumayan aktif dan produktif berkarya, namun belum terlacak keberadaannya. Kemudian Hilmi As’ad, ia adalah seorang kiai muda yang kalem namun energik dan produktif dari Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso yang mulai populer dengan terbitan novelnya: Tasawuf Cinta (Diva Press: Jogja, 2008)), Hakikat Cinta (Diva Press: Jogja, 2009), dan Putri Sio (Koekoesan: Jakarta, 2010). Para pengarang muda pesantren baik yang bermukim Jombang maupun di luar, telah menjadi penulis berbakat. Setidaknya mereka mewarisi kegigihan dan ketokohan sosok-sosok semisal Emha Ainun Nadjib, Abidah El-Khalieqy, Ahmad Munif, Yusron Aminullah, Shoim Anwar, dan lain-lain.
Membincang keberadaan komunitas di Jombang, pernah Komunitas Lembah Pring bergabung serta dalam kegiatan “Bengkel Menulis I” yang diadakan oleh Komunitas Fikrah Institut pada 27 Februari 2010 di pendopo Perkembunan Daerah Panglungan (PDP), Wonosalam. Komunitas yang memfokuskan pada dunia kepenulisan kreatif dan diskusi sastra ini dibentuk pada akhir 2009 oleh perkumpulan kawula muda PMII Jombang seperti Wahib Pamungkas dan Anwar Masduki Azzam. Setiap minggu mereka menggelar diskusi sastra, pemikiran keislaman, dan ke-NU-an. Memang teramat padat jika tiap minggu berdiskusi. Justru militansi mereka yang patut dicatat. Komunitas lain yang bertebaran sebenarnya banyak juga, seperti Forum Tetesan Pena dari UKM Jurnalistik UNIPDU yang dipimpin oleh M. Ali Fatkhurrozi, Formasis (Forum Mahasiswa Ibnu Siena) dari Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso yang dipandu Mubaruk, CLMBK (Create Letter Mahasiswa Bimbingan Konseling) dari UNDAR pimpinan Kharis Sofyan, dan lain-lain, yang secara pribadi mengembangkan kreativitas personalnya dalam menulis seperti Nur Aini (pengelola Buletin Penalaran dari STKIP Jombang); Budi Syarifuddin dan Rohmatul Hidayah dari UNIPDU; Zaenal Fuadin dan Liestya Ambarwati Kohar dari Komunitas Alif Mojoagung; Laily Syarifah, penulis sekaligus guru di SMP 3 Peterongan; Siti Sulami, penulis asal Ngoro yang sudah melahirkan novel Fatihah Cinta, dan kini sedang menggarap sebuah novel baru lagi dan kumpulan cerpen.
Paparan di atas menunjukkan betapa potensi kreatif penulis di Jombang tidak bisa dipandang sebelah mata. Tujuan digelarnya agenda rutin “Geladak Sastra” adalah sebagai wadah, tempat berkumpul, ajang pertemuan yang sederhana dan tidak mewah, membuka gagasan apapun dan dari siapapun, dan tidak hanya terbatas pada penulis dan komunitas dari Jombang saja, tetapi membuka diri bagi yang lain di luar kota untuk terlibat, urun pemikiran, serta mengelilingkan “Geladak Sastra” tersebut sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan yang disepakati bersama. Ada tiga pokok agenda “Geladak Sastra”: pertama, bedah karya. Bedah karya ini bersifat fleksibel, tidak harus karya yang sudah diterbitkan oleh penerbit atau lembaga tertentu. Karya yang misalnya berupa puisi, cerpen, esai, naskah drama, atau catatan-catatan perjalanan, atau apapun, dapat diajukan ke lurah Komunitas Lembah Pring, dan akan dipertimbangkan untuk diagendakan. Semisal untuk puisi, cukup 5 sampai 10 puisi, dalam bentuk fotokopian. Untuk cerpen 3 judul. Untuk naskah drama dan novel 1 judul. Kedua, berbentuk diskusi atau jagongan ringan dengan tema sastra, seni, dan budaya. Di sini akan dihadirkan pembicara baik dari Jombang maupun dari luar kota. Ketiga, dalam format dialog lepas atau talk show atau orasi budaya yang dirancang misalnya menghadirkan seniman tradisonal ataupun yang kontemporer atau dalam bentuk refleksi publik yang nyantai dari sastrawan maupun budayawan. Bisa juga dalam bentuk pementasan musikalisasi puisi atau monolog dengan batas waktu tertentu. Tiga agenda ini akan diselang-seling sesuai kebutuhan dan bersifat kondisional.
Gelaran “Geladak Sastra” Komunitas Lembah Pring sebagaimana ilustrasi di atas, dengan segala keterbatasannya, akan diupayakan mampu berjalan sesuai dengan rancangan agendanya. Agenda perdana berupa bedah karya dan diskusi kumpulan cerpen Siti Sa’adah Pensi Dor pada Minggu siang, 28 Maret 2010, di markas Komunitas Lembah Pring, di Kampung Mojokuripan. Dan pada 18 April 2010 membedah kumpulan cerkak Bobok Suruh Bodeh karya Sabrank Suparno di langgar Kampung Dowong, Ploso Kerep. Ajang diskusi yang kedua ini dihadiri direktur Penerbit Pustaka Pujangga, Nurel Javissyarqi yang untuk seterusnya akan menyumbangkan masing-masing satu buku terbitannya kepada pembicara, moderator, dan pengarang yang dibedah karyanya. Tentu waktulah yang akan menguji seberapa tangguh kegiatan ini dapat berderap. “Asal jangan tai-tai ayam,” demikian seloroh seorang teman mengapresiasi. Paling tidak, kita akan melihat, hingga beberapa bulan ke depan sampai akhir 2010. Selamat berkarya, dan terus bergerak!
—-
*) Fahrudin Nasrulloh, pekerja kata di Komunitas Lembah Pring Jombang
Kamis, 11 Maret 2010
Kritik Sastra dan Alienasi Kaum Akademisi
Fahrudin Nasrulloh*
http://www.surabayapost.co.id/
Seperti apakah perkembangan sastra mutakhir Jawa Timur? Pertanyaan ini tidak gampang dijawab dalam satu penyoalan tapi justru dari sanalah kita bisa terus berupaya menggalinya dari berbagai perspektif. Perkembangan sastra di Indonesia boleh dikatakan sangat kuat dan menggembirakan. Munculnya berbagai jenis-bentuk dan genre sastra dalam dekade terakhir ini memperkaya khasanah sastra kita; melalui beragam perspektif dari hasil riset mereka di dalam kehidupan dan perkembangan persoalan di wilayah perkotaan yang memunculkan karya-karya yang dapat diandalkan dan mampu mengisi perbendaharaan rohani. Secara khusus misalnya, munculnya para penulis perempuan yang menguakkan diri mereka ke dalam masyarakat melalui novel, cerpen, dan puisi yang nampak seiring dengan tema-teman feminisme yang juga disorot dengan berbagai perspektif lain.
Begitu pula dengan para penulis lainnya yang berusaha untuk lebih memperkaya sastra melalui sejarah lokal melahirkan karya-karya yang bukan hanya dalam perspektif sastra saja, tapi bisa juga sebagai kontribusi di dalam perkembangan pemikiran sosial, antropologi, etnografi, keagamaan, dan lain-lain. Yang menarik, kini kita temukan suatu cara kerja dari kalangan penulis yang dengan intensif melakukan riset dan studi perbandingan melalui penelitian dari perspektif sosiologis, antropologi, etnografi, nilai-nilai religius, politik, etos kerja ekonomi. Semuanya itu dijadikan sebagai bahan dalam penciptaan karya.
Marilah kita ambil contoh puisi karya Mardi Luhung, salah satu penyair Jawa Timur yang kini sangat menonjol bukan hanya di wilayahnya saja, namun juga berpengaruh dalam kehidupan sastra di Indonesia. Puisi yang dihasilkan dari pengamatan yang intensif terhadap berbagai cerita lokal, legenda, mitos, fabel, dan celoteh humor warga serta cara pandang hidup dalam kehidupan seks dan sejarah leluhur keluarga menjadi bagian dari proses penciptaan penyair yang berdomisili di Gresik ini. Sama halnya dengan Nurel Javissyarqi, penyair Lamongan, melalui proses perjalanannya dalam studi keagamaan selama 8 tahun dan proses pencarian dasar-dasar pemikiran lokal yang dipadukan dengan keyakinannya serta sejumlah arus pemikiran global dari para pemikir pos moderen hingga membentuk keunikan dan kelebihan tersendiri pada puisi-puisinya.
Pada wilayah Novel, Mashuri yang dengan tekun dan nampak kuat menciptakan suatu kerangka dan muatan lokal membuat banyak kalangan pengamat sastra di Jakarta terperangah. Sementara itu Zoya Herawati yang kini sedang menyelesaikan suatu novel yang paling tebal di wilayah Jatim dan Indonesia, sekitar 7-8 ratus halaman, merupakan hasil penelitian sepanjang 10 tahun di Madura. Novel dengan latar belakang sejarah sosial pada tahun 1960-an dan ditarik hingga kini, serta ulang-alik pada masa lampau secara terus-menerus, membuktikan, bukan hanya secara teknik, kepiawaian Zoya. Tapi juga memberikan perspektif dan membongkar posisi kaum perempuan akibat sistem politik yang tidak adil.
Itulah kilasan singkat sebagai ilustrasi dari perkembangan mutakhir sastra di Jawa Timur, yang sesungguhnya masih terdapat bukan hanya satu atau dua namun belasan atau bahkan puluhan penulis yang bisa dihandalkan. Jawa Timur sangat mungkin bisa menjadi simpul sejarah sastra seperti juga sastra Jawa lama yang pada abad ke-16 sangat kuat mempengaruhi perkembangan di wilayah Jawa Tengah (baca: Mataram), seperti yang pernah didedahkan oleh de Graaf.
Namun, perkembangan sastra Jawa Timur yang menggembirakan itu, tidaklah didukung oleh atmosfir tradisi kritik yang baik. Misalnya kita bertanya-tanya, siapakah kalangan kampus atau akademisi yang menulis kritik sastra mutakhir di Jawa Timur? Kita dapat menoleh dan mempertanyakan hal ini pada kalangan akademisi, selain kita sudah bosan disesaki akan data jumlah peminat jurusan sastra Indonesia yang setiap tahunnya meluluskan ratusan orang yang rata-rata tidak jelas orientasi spiritnya. Sementara itu kita juga menyaksikan peningkatan strata pendidikan para pengajar yang kini rata-rata magister dan tak sedikit yang meraih doktor. Lalu, untuk apakah jenjang pendidikan yang tampak tinggi dan wah itu dan berada dalam posisi sebagai akademisi jika mereka tidak melecut diri untuk menggali dan mengembangkan khasanah sastra mutakhir? Adakah mereka menganggap sastra mutakhir Jawa Timur tak layak untuk dikupas dan dijadikan bahan studi yang sebenarnya melimpah itu?
Yang menyedihkan adalah dari kalangan akademisi kita, pada sisi lain mereka tidak juga melakukan penelusuran pada masa silam, tiadanya kupasan sastra di masa lampau, dan oleh sebab itu sastra mutakhir tak pula tersentuh. Ironi lainnya, justru kalangan penulis sangat intensif melakukan penelitian kembali dalam proses penciptaan karyanya. Jadi, apa sesungguhnya tugas akademisi, selain mengajar, bukankah melakukan penelitian? Ataukah mereka mengalami sejenis disorientasi atau aborsi intelektual? Bila memang demikian, boleh jadi para akademisi telah terkubang dalam kondisi alienasi, dan tak berbeda seperti kebanyakan pegawai negeri!
*) Penggiat Komunitas Lembah Pring Jombang.
http://www.surabayapost.co.id/
Seperti apakah perkembangan sastra mutakhir Jawa Timur? Pertanyaan ini tidak gampang dijawab dalam satu penyoalan tapi justru dari sanalah kita bisa terus berupaya menggalinya dari berbagai perspektif. Perkembangan sastra di Indonesia boleh dikatakan sangat kuat dan menggembirakan. Munculnya berbagai jenis-bentuk dan genre sastra dalam dekade terakhir ini memperkaya khasanah sastra kita; melalui beragam perspektif dari hasil riset mereka di dalam kehidupan dan perkembangan persoalan di wilayah perkotaan yang memunculkan karya-karya yang dapat diandalkan dan mampu mengisi perbendaharaan rohani. Secara khusus misalnya, munculnya para penulis perempuan yang menguakkan diri mereka ke dalam masyarakat melalui novel, cerpen, dan puisi yang nampak seiring dengan tema-teman feminisme yang juga disorot dengan berbagai perspektif lain.
Begitu pula dengan para penulis lainnya yang berusaha untuk lebih memperkaya sastra melalui sejarah lokal melahirkan karya-karya yang bukan hanya dalam perspektif sastra saja, tapi bisa juga sebagai kontribusi di dalam perkembangan pemikiran sosial, antropologi, etnografi, keagamaan, dan lain-lain. Yang menarik, kini kita temukan suatu cara kerja dari kalangan penulis yang dengan intensif melakukan riset dan studi perbandingan melalui penelitian dari perspektif sosiologis, antropologi, etnografi, nilai-nilai religius, politik, etos kerja ekonomi. Semuanya itu dijadikan sebagai bahan dalam penciptaan karya.
Marilah kita ambil contoh puisi karya Mardi Luhung, salah satu penyair Jawa Timur yang kini sangat menonjol bukan hanya di wilayahnya saja, namun juga berpengaruh dalam kehidupan sastra di Indonesia. Puisi yang dihasilkan dari pengamatan yang intensif terhadap berbagai cerita lokal, legenda, mitos, fabel, dan celoteh humor warga serta cara pandang hidup dalam kehidupan seks dan sejarah leluhur keluarga menjadi bagian dari proses penciptaan penyair yang berdomisili di Gresik ini. Sama halnya dengan Nurel Javissyarqi, penyair Lamongan, melalui proses perjalanannya dalam studi keagamaan selama 8 tahun dan proses pencarian dasar-dasar pemikiran lokal yang dipadukan dengan keyakinannya serta sejumlah arus pemikiran global dari para pemikir pos moderen hingga membentuk keunikan dan kelebihan tersendiri pada puisi-puisinya.
Pada wilayah Novel, Mashuri yang dengan tekun dan nampak kuat menciptakan suatu kerangka dan muatan lokal membuat banyak kalangan pengamat sastra di Jakarta terperangah. Sementara itu Zoya Herawati yang kini sedang menyelesaikan suatu novel yang paling tebal di wilayah Jatim dan Indonesia, sekitar 7-8 ratus halaman, merupakan hasil penelitian sepanjang 10 tahun di Madura. Novel dengan latar belakang sejarah sosial pada tahun 1960-an dan ditarik hingga kini, serta ulang-alik pada masa lampau secara terus-menerus, membuktikan, bukan hanya secara teknik, kepiawaian Zoya. Tapi juga memberikan perspektif dan membongkar posisi kaum perempuan akibat sistem politik yang tidak adil.
Itulah kilasan singkat sebagai ilustrasi dari perkembangan mutakhir sastra di Jawa Timur, yang sesungguhnya masih terdapat bukan hanya satu atau dua namun belasan atau bahkan puluhan penulis yang bisa dihandalkan. Jawa Timur sangat mungkin bisa menjadi simpul sejarah sastra seperti juga sastra Jawa lama yang pada abad ke-16 sangat kuat mempengaruhi perkembangan di wilayah Jawa Tengah (baca: Mataram), seperti yang pernah didedahkan oleh de Graaf.
Namun, perkembangan sastra Jawa Timur yang menggembirakan itu, tidaklah didukung oleh atmosfir tradisi kritik yang baik. Misalnya kita bertanya-tanya, siapakah kalangan kampus atau akademisi yang menulis kritik sastra mutakhir di Jawa Timur? Kita dapat menoleh dan mempertanyakan hal ini pada kalangan akademisi, selain kita sudah bosan disesaki akan data jumlah peminat jurusan sastra Indonesia yang setiap tahunnya meluluskan ratusan orang yang rata-rata tidak jelas orientasi spiritnya. Sementara itu kita juga menyaksikan peningkatan strata pendidikan para pengajar yang kini rata-rata magister dan tak sedikit yang meraih doktor. Lalu, untuk apakah jenjang pendidikan yang tampak tinggi dan wah itu dan berada dalam posisi sebagai akademisi jika mereka tidak melecut diri untuk menggali dan mengembangkan khasanah sastra mutakhir? Adakah mereka menganggap sastra mutakhir Jawa Timur tak layak untuk dikupas dan dijadikan bahan studi yang sebenarnya melimpah itu?
Yang menyedihkan adalah dari kalangan akademisi kita, pada sisi lain mereka tidak juga melakukan penelusuran pada masa silam, tiadanya kupasan sastra di masa lampau, dan oleh sebab itu sastra mutakhir tak pula tersentuh. Ironi lainnya, justru kalangan penulis sangat intensif melakukan penelitian kembali dalam proses penciptaan karyanya. Jadi, apa sesungguhnya tugas akademisi, selain mengajar, bukankah melakukan penelitian? Ataukah mereka mengalami sejenis disorientasi atau aborsi intelektual? Bila memang demikian, boleh jadi para akademisi telah terkubang dalam kondisi alienasi, dan tak berbeda seperti kebanyakan pegawai negeri!
*) Penggiat Komunitas Lembah Pring Jombang.
Sabtu, 13 Februari 2010
Afrizal Malna dan Revolusi Kesenian
Fahrudin Nasrulloh*
http://www.jawapos.co.id/
”Puisi tiba-tiba jadi
kayak penyakit
harus ditulis terus-menerus”
– Afrizal Malna –
SIAPA kini yang membutuhkan puisi dan kenapa penyair terus menuliskannya? Tentu pertanyaan itu tampak klise, tapi sejarah kesusastraan Indonesia adalah kenyataan. Ia tidak lahir dari omong kosong. Bagi Afrizal Malna, puisi mungkin sudah mati. Ia mati atau dapat lebih menguar ketika terus dibenturkan dalam konteks filsafat. Misalnya, ketika pertarungan estetis dan eksistentialis tak menemukan ujungnya. Ada perkara subversif lain menggerogoti, katakanlah teknologi dan dampak dehumanisasi, yang lebih ajaib dan menggila menerobos kehidupan sehari-hari. Tak ada lagi keindahan, yang ada hanyalah kekacauan.
Alasan itulah yang kiranya membuat Afrizal kerap diburu cemas pada apa yang selama ini dikenalinya: rumah, keluarga, tradisi, benda-benda, hegemoni politik, kemanusiaan yang labil, bahkan pada problem bahasa itu sendiri. Kecemasan-kecemasan tersebut, tanpa tahu alasan pasti kenapa dia masih saja menulis puisi, justru melahirkan puisi-puisi. Ada semacam upaya pencarian. Atau, tepatnya ”mengalirkan diri” dalam misteri peristiwa kesehariannya yang lebih meyakinkan jalan puisinya atau barangkali menghancurkannya ketika dia sepakat bahwa menyatakan sesuatu tak cukup lagi dengan puisi.
Dari situlah, bersama penerbit Omah Sore, di sepanjang Januari 2010, Afrizal menggotong lima antologi puisinya dan video art untuk didiskusikan dalam suatu road show mulai Jogja, Surabaya, Mojokerto, Malang, Sumenep, hingga Solo. Lima kumpulan itu adalah Abad yang Berlari, Yang Berdiam dalam Mikropon, Arsitektur Hujan, Kalung dari Teman, dan Pidato-Pidato dari Bantal Berasap.
Bekerja sama dengan Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) dan Dewan Kesenian Mojokerto (DKM), diskusi buku-buku Afrizal tersebut diadakan di SMA PGRI I, Mojokerto, pada 24 Januari 2010. Dalam diskusi tersebut, setidaknya ada lima hal yang disodorkan Afrizal. Itu cukup menarik sebagai semacam ”retrospeksi kepenyairan Afrizal” oleh dirinya sendiri dalam mendialektikkan kembara puisi-puisinya. Saya hadirkan lima hal itu dalam bentuk transkrip rekaman:
The Other
”Saya selalu merasa takut kehilangan kebebasan saya, termasuk kebebasan untuk tidak menulis puisi. Dan, saya merasa tidak cocok dengan apa itu keluarga, jadi saya tinggalin keluarga. Saya tidak tahu kuburan ayah ibu saya di mana. Jadi, saya sendirian. Saya pernah berkeluarga sekali, setelah itu pisah. Pisah itu membuat saya trauma. Sampai sekarang saya tidak punya rumah karena di kepala saya masih aneh, kenapa orang harus punya rumah. Karena saya berpikir orang harus berjalan dan dia tidak bisa berjalan kalau punya rumah. Kecuali dia seperti keong, yang rumahnya adalah kendaraan untuk dia berjalan.
Saya pernah sangat absurd kalau masuk rumah. Maka, muncul banyak imaji ruang tamu dalam karir kepenyairan saya. Saya tidak tahu kenapa itu terjadi. Saya justru cemas kalau saya tetap menulis puisi, padahal saya nggak punya alasan untuk menulis. Sehingga, puisi tiba-tiba menjadi kayak penyakit, harus ditulis terus-menerus. Saya melihat, hidup itu sangat luas jika dibandingkan dengan puisi. Setelah itu saya meninggalkan Jakarta menjadi the other. Saya senang jadi the other, hanya jadi seseorang. Dekat dengan kegiatan sehari-hari, menyapu dan menyiram tanaman.”
Demokratisasi Sastra
”Sekarang ini ada gejala demokratisasi sastra. Gejalanya berbeda-beda. Misalnya, muncul generasi penyair yang antirezim sastra. Mereka menulis puisi tidak untuk diterbitkan. Mereka menulis untuk teman-teman dekat mereka. Tidak seperti generasi sastra kita sekarang ini.
Gejala lain adalah sastra koran. Gejala lain demokratisasi sastra. Di Eropa tidak ada sastra koran. Adanya sastra buku. Sebab, Eropa memiliki infrastruktur wacana yang sangat kuat. Yakni, dari lembaga akademik sampai pemberian hadiah Nobel. Itulah rezim wacana yang paling terang. Dan, di Indonesia infrastruktur itu ditiru. Seakan-akan dalam sastra ada rezim. Rezim yang menghasilkan generasi estetika ini itu atau rezim itu dikuasai para kritikus yang menilai puisi-puisi kita. Padahal, puisi-puisi tersebut masuk koran. Dan, koran itu media publik, bukan media sastra.
Sekarang demokratisasi sastra didesakkan munculnya internet. Segala kemungkinan terjadi di sana. Karena itu, pembaca harus punya strategi membaca sendiri untuk membaca. Tidak hanya strategi penulis untuk menulis.”
Estetika Bahasa
”Sampai pada Abad yang Berlari, saya masih menganggap puisi itu sebagai estetika bahasa. Penyair menggunakan bahasa untuk estetikanya. Tapi, setelah Abad yang Berlari, saya harus mencuci pikiran saya. Karena saya pikir, saya hidup di ”zaman sampah”. Semua sudah jadi sampah. Tidak ada lagi yang luhur. Apa yang lahir di zaman penyair-penyair romantik karena kita masih menemukan keindahan, sekarang tidak ada keindahan. Detail telah dibunuh oleh kecepatan dan penggandaan. Di kesenian prinsip-prinsip percepatan dan penggandaan itu menghasilkan strategi yang berbeda.
Saya kira setiap seniman memainkan banyak strategi untuk membuat waktu, untuk membuat ruang, dan itu yang membuat saya menulis puisi dengan cara berpikir benda-benda. Kalau saya berpikir dengan bahasa, tidak mungkin lapangan basket masuk ke dalam puisi. Pasti akan ada sensor. Tapi, di mata saya ada. Jadi, saya lebih membela mata saya daripada bahasa. Mata saya yang membawa semuanya, tinggal bagaimana kemudian seorang penyair bergelut dengan struktur. Yang membuat puisi saya sedikit berbeda, saya bekerja di tingkat karakter dan struktur. Empat tahun hanya lahir 23 puisi. Sebenarnya lebih dari 23 puisi, tapi saya buang. Karena memang untuk apa dipertahankan. Mereka sudah gagal.”
Video Art dan Puisi Gelap
”Saya termasuk orang yang tidak bisa mengambil keputusan saya harus berada di mana. Karena ketika saya menjadi penyair, itu satu pilihan yang telanjur salah. Saya menyadari setelah menjelang reformasi bahwa saya ada di tutup botol. Ketika saya menilis puisi, disebut penyair, saya terjebak di leher botol. Saya merasa tercekik di situ. Dan, yang saya lakukan adalah bergaul dengan banyak media. Setiap media punya karakter. Jadi, video saya tidak untuk mengatakan puisi saya. Dari sini persoalan bahasa terjadi. Saya baru membaca sebuah cerpen ilmiah karya Primolevi, keturunan Yahudi, berjudul Bintang Hening. ”Saya tidak bisa ke dunia bintang-bintang itu dengan kamus,” katanya dalam cerpennya.
Kamus tidak lahir dari dunia perbintangan. Ada kesulitan bagaimana bahasa bisa merumuskan besarnya bintang dengan besarnya matahari. Dengan video, bahasa bisa mendeskripsikan kecepatan tanpa menggunakan kata ”cepat”. Nah, itu yang membuat kegelapan-kegelapan di dalam puisi. Puisi menjadi terang ketika basis reproduksinya jelas. Misalnya, kalau basis reproduksinya agama, politik, hal-hal yang primordial, itu jelas bisa dibaca. Apakah kita begitu panik menghadapi sebuah dunia yang gelap? Atau apa artinya kepanikan kita kalau ternyata yang kita temukan adalah kehampaan atau kegelapan?”
Saatnya Revolusi Kesenian?
”Sebenarnya ada suatu gejala yang saya sebut sebagai guncangan media terhadap estetika Hegel. Hegel membuat anatomi estikanya itu dari arsitektur ke patung, dari patung ke seni rupa, dari seni rupa ke musik. Dan, paling akhir ke puisi. Jadi, Hegel menganggap puisi adalah pencapaian estetika yang paling tinggi. Tapi, waktu itu Hegel tidak tahu akan munculnya media digital. Media digital tersebut muncul dan memorak-porandakan anatomi itu.
Sebenarnya media digital mendaur ulang semua itu menjadi semacam instalasi. Beberapa seniman mengambil eksekusi sendiri atas guncangan media tersebut. Seperti penyair Hungaria yang melakukan performance art. Dia merasa puisi sudah mati. Di situ saya merasa ada struktur, ada sensitivitas, ada detail, yang langsung ke otak. Saya cenderung menyebut itu sebagai solusi dari guncangan tersebut. Jadi, 5 sampai 10 tahun ke depan kita tidak tahu nasib kesenian. Yang menjaganya mungkin semacam dewan kesenian, institut seni, para redaktur, atau yang lain, padahal mungkin realitasnya itu semua sudah mati. Nah, kita tidak tahu siapa yang harus meletuskan revolusi di dalam kesenian itu.”
Cinta, puisi, kecemasan, dan teka-teki hidup adalah seluruh keheranan juga kekacauan Afrizal dalam memasuki dunia manusia. Adakah yang tak selesai dari Afrizal? Dia hanya ingin jadi seseorang, tapi telanjur jadi manusia. (*)
*) Penggiat Komunitas Lembah Pring, Jombang
http://www.jawapos.co.id/
”Puisi tiba-tiba jadi
kayak penyakit
harus ditulis terus-menerus”
– Afrizal Malna –
SIAPA kini yang membutuhkan puisi dan kenapa penyair terus menuliskannya? Tentu pertanyaan itu tampak klise, tapi sejarah kesusastraan Indonesia adalah kenyataan. Ia tidak lahir dari omong kosong. Bagi Afrizal Malna, puisi mungkin sudah mati. Ia mati atau dapat lebih menguar ketika terus dibenturkan dalam konteks filsafat. Misalnya, ketika pertarungan estetis dan eksistentialis tak menemukan ujungnya. Ada perkara subversif lain menggerogoti, katakanlah teknologi dan dampak dehumanisasi, yang lebih ajaib dan menggila menerobos kehidupan sehari-hari. Tak ada lagi keindahan, yang ada hanyalah kekacauan.
Alasan itulah yang kiranya membuat Afrizal kerap diburu cemas pada apa yang selama ini dikenalinya: rumah, keluarga, tradisi, benda-benda, hegemoni politik, kemanusiaan yang labil, bahkan pada problem bahasa itu sendiri. Kecemasan-kecemasan tersebut, tanpa tahu alasan pasti kenapa dia masih saja menulis puisi, justru melahirkan puisi-puisi. Ada semacam upaya pencarian. Atau, tepatnya ”mengalirkan diri” dalam misteri peristiwa kesehariannya yang lebih meyakinkan jalan puisinya atau barangkali menghancurkannya ketika dia sepakat bahwa menyatakan sesuatu tak cukup lagi dengan puisi.
Dari situlah, bersama penerbit Omah Sore, di sepanjang Januari 2010, Afrizal menggotong lima antologi puisinya dan video art untuk didiskusikan dalam suatu road show mulai Jogja, Surabaya, Mojokerto, Malang, Sumenep, hingga Solo. Lima kumpulan itu adalah Abad yang Berlari, Yang Berdiam dalam Mikropon, Arsitektur Hujan, Kalung dari Teman, dan Pidato-Pidato dari Bantal Berasap.
Bekerja sama dengan Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) dan Dewan Kesenian Mojokerto (DKM), diskusi buku-buku Afrizal tersebut diadakan di SMA PGRI I, Mojokerto, pada 24 Januari 2010. Dalam diskusi tersebut, setidaknya ada lima hal yang disodorkan Afrizal. Itu cukup menarik sebagai semacam ”retrospeksi kepenyairan Afrizal” oleh dirinya sendiri dalam mendialektikkan kembara puisi-puisinya. Saya hadirkan lima hal itu dalam bentuk transkrip rekaman:
The Other
”Saya selalu merasa takut kehilangan kebebasan saya, termasuk kebebasan untuk tidak menulis puisi. Dan, saya merasa tidak cocok dengan apa itu keluarga, jadi saya tinggalin keluarga. Saya tidak tahu kuburan ayah ibu saya di mana. Jadi, saya sendirian. Saya pernah berkeluarga sekali, setelah itu pisah. Pisah itu membuat saya trauma. Sampai sekarang saya tidak punya rumah karena di kepala saya masih aneh, kenapa orang harus punya rumah. Karena saya berpikir orang harus berjalan dan dia tidak bisa berjalan kalau punya rumah. Kecuali dia seperti keong, yang rumahnya adalah kendaraan untuk dia berjalan.
Saya pernah sangat absurd kalau masuk rumah. Maka, muncul banyak imaji ruang tamu dalam karir kepenyairan saya. Saya tidak tahu kenapa itu terjadi. Saya justru cemas kalau saya tetap menulis puisi, padahal saya nggak punya alasan untuk menulis. Sehingga, puisi tiba-tiba menjadi kayak penyakit, harus ditulis terus-menerus. Saya melihat, hidup itu sangat luas jika dibandingkan dengan puisi. Setelah itu saya meninggalkan Jakarta menjadi the other. Saya senang jadi the other, hanya jadi seseorang. Dekat dengan kegiatan sehari-hari, menyapu dan menyiram tanaman.”
Demokratisasi Sastra
”Sekarang ini ada gejala demokratisasi sastra. Gejalanya berbeda-beda. Misalnya, muncul generasi penyair yang antirezim sastra. Mereka menulis puisi tidak untuk diterbitkan. Mereka menulis untuk teman-teman dekat mereka. Tidak seperti generasi sastra kita sekarang ini.
Gejala lain adalah sastra koran. Gejala lain demokratisasi sastra. Di Eropa tidak ada sastra koran. Adanya sastra buku. Sebab, Eropa memiliki infrastruktur wacana yang sangat kuat. Yakni, dari lembaga akademik sampai pemberian hadiah Nobel. Itulah rezim wacana yang paling terang. Dan, di Indonesia infrastruktur itu ditiru. Seakan-akan dalam sastra ada rezim. Rezim yang menghasilkan generasi estetika ini itu atau rezim itu dikuasai para kritikus yang menilai puisi-puisi kita. Padahal, puisi-puisi tersebut masuk koran. Dan, koran itu media publik, bukan media sastra.
Sekarang demokratisasi sastra didesakkan munculnya internet. Segala kemungkinan terjadi di sana. Karena itu, pembaca harus punya strategi membaca sendiri untuk membaca. Tidak hanya strategi penulis untuk menulis.”
Estetika Bahasa
”Sampai pada Abad yang Berlari, saya masih menganggap puisi itu sebagai estetika bahasa. Penyair menggunakan bahasa untuk estetikanya. Tapi, setelah Abad yang Berlari, saya harus mencuci pikiran saya. Karena saya pikir, saya hidup di ”zaman sampah”. Semua sudah jadi sampah. Tidak ada lagi yang luhur. Apa yang lahir di zaman penyair-penyair romantik karena kita masih menemukan keindahan, sekarang tidak ada keindahan. Detail telah dibunuh oleh kecepatan dan penggandaan. Di kesenian prinsip-prinsip percepatan dan penggandaan itu menghasilkan strategi yang berbeda.
Saya kira setiap seniman memainkan banyak strategi untuk membuat waktu, untuk membuat ruang, dan itu yang membuat saya menulis puisi dengan cara berpikir benda-benda. Kalau saya berpikir dengan bahasa, tidak mungkin lapangan basket masuk ke dalam puisi. Pasti akan ada sensor. Tapi, di mata saya ada. Jadi, saya lebih membela mata saya daripada bahasa. Mata saya yang membawa semuanya, tinggal bagaimana kemudian seorang penyair bergelut dengan struktur. Yang membuat puisi saya sedikit berbeda, saya bekerja di tingkat karakter dan struktur. Empat tahun hanya lahir 23 puisi. Sebenarnya lebih dari 23 puisi, tapi saya buang. Karena memang untuk apa dipertahankan. Mereka sudah gagal.”
Video Art dan Puisi Gelap
”Saya termasuk orang yang tidak bisa mengambil keputusan saya harus berada di mana. Karena ketika saya menjadi penyair, itu satu pilihan yang telanjur salah. Saya menyadari setelah menjelang reformasi bahwa saya ada di tutup botol. Ketika saya menilis puisi, disebut penyair, saya terjebak di leher botol. Saya merasa tercekik di situ. Dan, yang saya lakukan adalah bergaul dengan banyak media. Setiap media punya karakter. Jadi, video saya tidak untuk mengatakan puisi saya. Dari sini persoalan bahasa terjadi. Saya baru membaca sebuah cerpen ilmiah karya Primolevi, keturunan Yahudi, berjudul Bintang Hening. ”Saya tidak bisa ke dunia bintang-bintang itu dengan kamus,” katanya dalam cerpennya.
Kamus tidak lahir dari dunia perbintangan. Ada kesulitan bagaimana bahasa bisa merumuskan besarnya bintang dengan besarnya matahari. Dengan video, bahasa bisa mendeskripsikan kecepatan tanpa menggunakan kata ”cepat”. Nah, itu yang membuat kegelapan-kegelapan di dalam puisi. Puisi menjadi terang ketika basis reproduksinya jelas. Misalnya, kalau basis reproduksinya agama, politik, hal-hal yang primordial, itu jelas bisa dibaca. Apakah kita begitu panik menghadapi sebuah dunia yang gelap? Atau apa artinya kepanikan kita kalau ternyata yang kita temukan adalah kehampaan atau kegelapan?”
Saatnya Revolusi Kesenian?
”Sebenarnya ada suatu gejala yang saya sebut sebagai guncangan media terhadap estetika Hegel. Hegel membuat anatomi estikanya itu dari arsitektur ke patung, dari patung ke seni rupa, dari seni rupa ke musik. Dan, paling akhir ke puisi. Jadi, Hegel menganggap puisi adalah pencapaian estetika yang paling tinggi. Tapi, waktu itu Hegel tidak tahu akan munculnya media digital. Media digital tersebut muncul dan memorak-porandakan anatomi itu.
Sebenarnya media digital mendaur ulang semua itu menjadi semacam instalasi. Beberapa seniman mengambil eksekusi sendiri atas guncangan media tersebut. Seperti penyair Hungaria yang melakukan performance art. Dia merasa puisi sudah mati. Di situ saya merasa ada struktur, ada sensitivitas, ada detail, yang langsung ke otak. Saya cenderung menyebut itu sebagai solusi dari guncangan tersebut. Jadi, 5 sampai 10 tahun ke depan kita tidak tahu nasib kesenian. Yang menjaganya mungkin semacam dewan kesenian, institut seni, para redaktur, atau yang lain, padahal mungkin realitasnya itu semua sudah mati. Nah, kita tidak tahu siapa yang harus meletuskan revolusi di dalam kesenian itu.”
Cinta, puisi, kecemasan, dan teka-teki hidup adalah seluruh keheranan juga kekacauan Afrizal dalam memasuki dunia manusia. Adakah yang tak selesai dari Afrizal? Dia hanya ingin jadi seseorang, tapi telanjur jadi manusia. (*)
*) Penggiat Komunitas Lembah Pring, Jombang
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel GarcÃa Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati