Denny Mizhar *
http://sastra-indonesia.com/
Bagaimana sebuah hasil ciptaan ada? tentu saja lewat proses kreasi dari penciptanya. Sebuah lukisan, hasil kreasi dari pelukisnya, sebuah puisi hasil kreasi dari penyairnya yang memiliki sifat personal kekhasan. Proses penciptaan tak lahir begitu saja dari kreatornya, beragam jalan yang ditempuh: dari mamasuki jenjang studi, belajar otodidak dan lain sebagainya. sebuah pilihan atas jalan proses kreasi penciptaan.
Bukan hanya jalan proses penciptaan tetapi keresahan-keresahan yang timbul dari obyek estetiknya diperlukan penyubliman atau perenungan, sehingga nantinya dapat dihasilkan karya yang bermakna. selain itu, pandangan-pandangan atas diri penciptanya juga memberikan pengaruh pada hasil ciptaannya atau gagasan yang berada dalam karya ciptanya. Proses perenungan dari objek estetika yang saya maksud adalah keberadaan dalam ruang cipta kesunyian: diri dan ide-ide serta konsep-konsep yang akan diwujudkan. Tak beda dengan sekelompok mahasiswa yang memilih jalur studi seni rupa dan membuat sebuah pameran seni rupa yang diberi judul “Umbar Wacana: Periode Sang Penemu”. Jenjang proses melalui studi di Universitas Negeri Malang, Jurusan Seni dan Desain adalah pilihan proses bagi mereka. di antaranya nama-nama perupa tersebut adalah: Widhya Gupita, Novita, Dara, Firdaus, Shelly, Asrie, Cahya H, Yuda, Tiara, Dendi Novi, Abid, Tegar, Maria, Kandoeng, Lions, Arie, Dana, Yudi, Christian A.S, Agung Prabowo, Iwan, Arin, Teguh P, Fajar MU. Mereka semua sedang “berpesta” dalam memamerkan hasil ciptaannya yang didapat dari ruang cipta sunyi. Pemeran yang digelar di IDEA CIRCUITyang berada di daerah Madyopuro Sawojajar dan berlangsung pada tanggal 24 Mei 2011 hingga 28 Mei 2011. Rumah yang didesain menjadi galeri dan tempat event kesenian sederhana dipenuhi lukisan-lukisan yang beragam. Ada yang menonjolkan pada bentuk, konsep dan goresan. Pesta makna teks rupa tersaji untuk dinikmati.
Saya mencoba menikmati dan melakukan tafsiran atas beberapa lukisan yang sekilas terpandang oleh mata. Di bagian pojok, dengan sedikit menjorok serupa etalase lukisan berjudul “Jilbab” menarikku pada sebuah fenomena kekinian soal fashion. Karya Critian A.S tersebut membuat pertanyaan jika dikaitkan dengan judul dan visual dalam lukisan, judul “Jilbab” tetapi visual lukisan seorang wanita berjilbab tetapi terlihat BH dengan hidung yang memanjang. Maka pengalaman puitik saja terbawa pada jilbab yang kini hanya menjadi aksesoris semata, bukan menjadi perlambang kesholehan atau simbol agama yang memiliki makna kesucian. Simbol agama ditonjolkan tetapi prilaku tak seperti nilai-nilai agama yang dianutnya. Secara acak saya memandang sebuh lukisan yang berjudul “Pilih Satu” karya Abid, nampak sebuah pintu dan dua buah kunci. Judul dan visual lukisan menjadi isyarat utuh, bahwa jangan salah dalam memilih kunci sebab kalau salah tak bisa dibuka pintunya, ibaratnya hidup maka kita tak bisa memilih dua jalan sekaligus tetapi memilihnya satu: benar dan salah, dan setiap pilihan yang kita buat adalah jalan kita di hari nanti. Selain dua lukisan tersebut, saya sempat memandang lama sebuah lukisan yang berjudul “Eksisitensi” karya Shelly. Lukisan yang memvisualisasikan timbangan yang berbandul laki-laki dan perempuan, tetapi anehnya kenapa timbangan tersebut tak imbang antara laki-laki dan perempuan, lebih berat laki-laki dari pada permpuan. Dalam benak saya muncul sebuah pertanyaan tentang relasi laki-laki dan perempuan, bahwa selama ini dominasi laki-laki terhadap perempuan menjadikan perempuan tak berdaya. Sehingga, walaupun masih berat laki-laki atau pilihan dunia ini tertuju pada laki-laki, perempuan tak harus selalu kalah tetapi butuh eksistensi juga. Masih banyak lagi, yang menarik untuk dilihat.
Pameran seni rupa (lukis) tersebut adalah studi mata kuliah seni lukis invensi. Tidak hanya lukisan saja yang ikut serta dalam pesta tersebut, ada diskusi, pembacaan puisi, musik pada saat pembukaan. Acara yang digelar selama lima hari sebagai ajang berlatih memamerkan karyanya semoga tidak hanya berhenti sampai pada tugas mata kuliah, tetapi keberlangsungan proses dan penciptaan adalah lebih penting. Sehingga nantinya, karya ciptaan dapat menyapa masyarakat secara luas juga memberi sumbangsih pada wacana-wacana seni lukis yang beguna bagi penikmatnya. Hingga penutupan yang meriah dengan mengandeng Pelangi Satra Malang untuk turut serta dalam pesta yang diberi nama “Geliat Kata dalam Puisi Bersama Pelangi Sastra Malang” menambah meriah penutupan yang digelar pada tanggal 28 Mei 2011. Beberapa sastrawan turut membacakan puisi-puisinya, bukan hanya puisi yang manyapa, lantunan musik balada dari kelompok musik SWARA akustik juga turut menyumbang karya lagunya, Musisi Charles, sekolompok perkusi, dan juga lainnya menambah meriah pesta penutupan pameran seni rupa tersebut. Acara pun berkahir, kembali lagi pada kesunyian, mencipta lagi dan berpesta lagi adalah harapan penciptaan. Ibarat seorang perempuan melahirkan, bersabar menunggu kurang lebih sembilan bulan untuk melahirkan sang jabang bayi. Setelah lahir ada kepuasan dan kewajiban merawat agar sang jabang bayi nantinya menjadi buah hati yang diidamkan baik keluarga ataupun masyarakatnya.
* Pegiat Pelangi Sastra Malang dan Anggota Teater Sampar Indonesia-Malang
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Denny Mizhar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Denny Mizhar. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 19 November 2011
Senin, 02 Mei 2011
Kursi Bos
Denny Mizhar
http://sastra-indonesia.com/
Jangan melawan kekuasaan, nanti akan tumbang. Berbaik-baiklah padanya. Kau akan selamat dalam bekerja. Terpenting bagi hidup adalah isi perut. Bukan idealisme. Sebab idealisme di tempat ini selalu masuk tong sampah. Menjadi tidak berguna. Karena rasa lapar masih ada. Jika kau masih takut lapar, ketika kesewenang-wenangan penguasa berbicara, cukup anggukkan kepala. Itu tandanya seiyasekata. Kau akan sejahtera. Penguasa di sini tidak akan mendengar apa yang menjadi harapan kita. Karena penguasa masih ingin perkasa. Seperti raksasa. Besar tubuhnya juga kuat ototnya. Tidak seperti kita. Badan kecil tak punya apa-apa. Hanya kata “iya”, tak ada yang lainnya. Sebagaimana diajarkan dalam buku politik tanpa etika. Keuntungan sebagai penguasa harus selalu ada, tentunya keuntungan materi. Bukan kita yang harus diuntungkan. Penguasa punya tangan yang dapat memilah. Siapa terpilah dan terpilih pasti kantongnya menebal dan selalu dipertimbangkan. Bahkan mereka tak mau bagi-bagi dengan kita yang beda jalan kerja. Karena kuntungannya untuk membeli wanita tanpa nikah. Juga membeli kolom media agar kebusukannya tak sampai pada kita. Kebanyakan orang di sana.
Kau belum tahu aturan main di sini? Oh, iya. Kau lama sekolah. Hingga tak tahu aturan yang ada. Baiknya kau ikuti saja. Jika tidak, nasibmu akan sia-sia. Kalau sudah sia-sia bagaimana nasib anak dan istrimu. Kau kan sudah punya berkeluarga. Maka, harus ta’at dan patuh pada penguasa. Kau harus membaca langkah-langkah penguasa agar dapat tanda jasa. Kau tak akan dipikirkan oleh penguasa tentang ilmu yang kau punya. Sebab penguasa takut dengan ilmu. Karena ilmu bisa menumbangkan mereka. Makanya di sini tak ada ilmu. Tetapi adanya harta. Mari ikut denganku dan tanggalkan ilmumu. Kita akan mencari harta-harta yang bersliweran di antara kita. Seakan-akan kita telah melaksanakan kerja padahal kita hanya angguk-anggukan kepala.
“Tidak bagiku, kau salah menilai aku. Aku bukan seperti yang kau bayangkan dengan orang kebanyakan yang ada di sini.”
Ha..ha..ha.. Mungkin saja itu pengaruh dari sekolahmu ke luar negeri tentang etika. Dan kau mendapat ilmu untuk mencari nafkah. Tak harus anggukkan kepala, kau bisa makan. Sedang kita di sini. Gaji masih rendah tak mungkin melawan. Sebab kita tak berdaya.
“Karena itu, maka kita harus melakukan perlawanan”
Ya, sudah. Aku tak akan ikut-ikut. Sejak kepergianmu, segalanya berubah. Juga nasibku. Ruang akpresiku ditiadakan. Karena ruang ekpresiku bagi kekuasaan mengganggu kestabilan tempat kerja. Maka kini aku hanya melayani penjual saja. Tidak seperti dulu harus duduk manis dan mencatat transaksi-transaksi penjualan. Perusahaan ini semakin besar. Semakin banyak pelanggan. Tapi kekuasaanya di sini tak biasa di ganggu gugat. Sebelum kau pergi sekolah ke luar negeri. Di tempat ini masih aman saja. Sebab kekuasaan baru di dapatkan oleh Bos kita. Penunjukan Bos kita yang baru, itupun rekomendasi dari Bos kita yang lama. Sebab Bos lama tak ingin kehilangan kekuasaannya. Hanya saja Bos baru ditunjuk. Bos lama menempati kekuasaan yang di buatnya lebih tingggi di atas Bos baru. Alih-alih menyerahkan kekuasaanya tetapi tetap saja mengendalikannya. Bos lama, dalam ramalanku ingin terus melanggengkan kekuasaannya lewat orang-orang yang dipercaya. Mungkin juga anaknya juga akan dipersiapkan mengganti kekuasaa Bos baru kita.
“Ah, tempat kerja macam apa ini? dalam undang-undang yang saya baca mengenai aturan tempat kerja kita ini mengunakan sistem demokrasi. Tapi kemana letak kedemokrasiannya. Di sini banyak orang-orang yang mampu mengelola. Dari membuat strategi usaha hingga membuat kualitas produk yang dihasilkan di sini, bisa berkualitas. Aku tak harus diam. Aku sejak awal masuk kerja di sini sudah berjanji untuk mendedikasikan diri dan mengabdi. Tentu saja dengan terus belajar dan mengembangkan diri”.
Sudalah, tak ada gunanya grundelan-mu di sini. Ayo ikut aku. Membuat penelitian yang bisa memunculkan produk baru dan disukai Bos kita. Teman-teman kita sudah banyak yang mengantri mendaftarkan temuannya pada Bos. Agar mendapat angukan kepala, tentu saja aman tentram dan sejahterah bekerja di sini.
“Tidak.. Aku harus melawan. Buat apa bekerja di tempat yang busuk ini. Aku takut, jika suatu hari nanti perusahaan ini tidak menjadi milik kita bersama. Tapi milik keluarga Bos. Dan bisa jadi semaunya sendiri mengelola tanpa memikirkan kualitas serta apa yang terjadi di hari depan”
Sambil berjalan cepat Taufan meninggalkanku. Aku terus mengamati. Setiap ketemu rekan kerja, dia berhenti. Dengan berdiri dia berbicara serius. Mengabarkan perlawanan pada Bos. Sudah beberapa rekan kerja. Ketika berpapasan denganku dan mengabarkan apa yang diharapkan Taufan. Tapi semua tak setuju. Hanya beberapa yang setuju. Teman-teman akrabnya. Juga teman-teman kerja yang merasa dirinya senasib denganku, tapi tetap mempertahankan idealismenya. Rupanya diam-diam aku pun meneguhkan idealismeku. Dalam hatiku aku sepakat dengan Taufan. Tapi masalah keluarga menjadi pertimbanganku yang utama. Apalagi anakku sekarang dua. Mereka harus sekolah. Aku di antara kebimbangan yang tak dapat diurai sampai unjungnya. Aku masih harus tunduk di kaki kursi kekuasaan di sini.
***
Taufan semakin hari semakin berani. Padahal tepat di hari sabtu. Taufan dipanggil karena tulisannya yang di muat di salah satu media mengganngu kestabilan usaha. Dengar –dengar Taufan tetap berani melawan. Entah kenapa dengan Taufan. Bos tidak berani mengeluarkan dengan kesalahan yang di buat: menulis yang membuat kestabilan usaha goyah. Siapa dia Taufan.
Selidik punya selidik. Gerbong perlawanan Taufan sudah memanjang. Bahkan ada seoarang teman akrab Bos berada di balik Taufan. Seorang pengusaha yang banyak mengabdikan dirinya pada usaha-usaha kecil hingga usaha-usaha kecil mampu bertahan dalam persaingan. Tak kalah Bos diam-diam juga menyiapkan akal bulusnya. Untuk berkuasa kembali. Masih tak ada perlawanan yang nampak. Gerbong perlawanan Taufan yang tidak bergerak lagi. Bos mengumpulkan semua yang bekerja di sini. Termasuk aku. Orang-orang yang dekat dengan Taufan tak satupun diundang. Tapi ada beberapa yang dalam pengamatan saya dekat dengan Taufan juga menyembah kursi kekuasaan Bos. Aku diam-diam masuk gerbong Taufan. Tapi tak berani mendekat Taufan. Aku masih takut. Bos mulai menyiapkan tulisan-tulisan yang akan di sampaikan sesudah acara pertemuan yang dibuka oleh asisten Bos.
“Para pegawai yang aku cintai. Kalian adalah orang-orang yang terpilih. Sebab itu kalian saya undang di sini. Kalian adalah orang-orang yang setia dengan kursiku. Bulan depan adalah waktuku habis. Tapi aku tak melihat seorangpun yang dapat menggantikanku mengurus usaha ini. Usaha ini semakin besar dan dipandang orang. Bila nanti yang meneruskanku tidak becus. Maka kalian juga akan bekurang penghasilannya.”
Semua orang yang ada di dekat, di samping kiri-kanan-depan menganggukan kepala. Aku gerah dengan kalimat Bos tadi. Padahal sebenarnya ada seorang yang sudah punya kapasitas menggantikannya. Tapi Bos ingin mempertahankan kekuasaanya. Tiba-tiba Bos Lama datang. Sambil tersenyum melihat rapat kami.
“Benar apa yang dikatakan Bos kalian. Beri kesempatan lagi. Sebelum anakku dapat mengantikannya”.
Ah, apa-apaan ini. Kegelisahanku menaik pada puncak kesadaran. Kursi itu butuh pembaharuan bukan pembusukan. Tapi apa yang harus aku lakukan. Dengan menahan nafas. Fikiran nasib keluarga hilang seketika dan mulutkku mengeluarkan ketidak setujuan pada mereka. Aku mengatakan pada mereka bahwa Bos harus di ganti dengan Bos yang baru. Aku pun bilang padanya. Apakah kita mau di anggap tidak demokratis. Ah, aku lupa rupanya bahwa di sini demokrasi telah mati dan hanya ada dalam buku-buku yang terpajang dalam rak-raknya.
Tiba-tiba semua terdiam dan serupa patung. Aku lemas duduk. Aku ingat Taufan. Aku mulai tegar kembali. Aku menginginkan perubahan menjadi lebih baik. Aku tidak ingin menjual produk-produk kebusukan dari perusahaan ini. Bos menepuk pundakku.
“Buatlah surat pengunduran dirmu. Besok kau harus cari tempat kerja baru”.
Aku langsung keluar dari ruang rapat. Berjalan melewati lif dari kantorku yang bertingkat enam. Ruang Bosku ada di lantai paling atas. Aku sampai di lantai bawah. Lantai tempat menjual produk-produk dari perusahaan tempatku bekerja. Aku melihat seorang kawannya sedang duduk melihat dengan seksama ruang kerjanya. Aku bertanya padanya.
“Kau kenapa, kawan?”
“Aku baru saja membaca dari media masa. Bahwa aku telah digantikan. Aku tidak akan ditempat itu lagi. Yang menjadi aneh bagiku. Kenapa Bos tak memberitahuku dahulu sebelum menyiarkan di media masa yang dibaca semua orang”.
Sambil menepuk pundaknya, aku menenangkannya
“Kau tak usah resah, nasibmu lebih baik dariku”
Sambil lalu aku meneruskan berjalan. Sedang yang ada dalam benakku, kursi Bos semakin keropos dalamnya, tapi masih tampak kuat luarnya. Aku mengamati saat rapat tadi. Jika saja ada yang berani mendorong sedikit saja tentu kursi Bos tadi akan roboh. Aku pun pulang ke rumah dan sambil membayangkan nasib keluargaku, sekolah anakku, makan sehari-hariku.
Malang, Desember 2010
http://sastra-indonesia.com/
Jangan melawan kekuasaan, nanti akan tumbang. Berbaik-baiklah padanya. Kau akan selamat dalam bekerja. Terpenting bagi hidup adalah isi perut. Bukan idealisme. Sebab idealisme di tempat ini selalu masuk tong sampah. Menjadi tidak berguna. Karena rasa lapar masih ada. Jika kau masih takut lapar, ketika kesewenang-wenangan penguasa berbicara, cukup anggukkan kepala. Itu tandanya seiyasekata. Kau akan sejahtera. Penguasa di sini tidak akan mendengar apa yang menjadi harapan kita. Karena penguasa masih ingin perkasa. Seperti raksasa. Besar tubuhnya juga kuat ototnya. Tidak seperti kita. Badan kecil tak punya apa-apa. Hanya kata “iya”, tak ada yang lainnya. Sebagaimana diajarkan dalam buku politik tanpa etika. Keuntungan sebagai penguasa harus selalu ada, tentunya keuntungan materi. Bukan kita yang harus diuntungkan. Penguasa punya tangan yang dapat memilah. Siapa terpilah dan terpilih pasti kantongnya menebal dan selalu dipertimbangkan. Bahkan mereka tak mau bagi-bagi dengan kita yang beda jalan kerja. Karena kuntungannya untuk membeli wanita tanpa nikah. Juga membeli kolom media agar kebusukannya tak sampai pada kita. Kebanyakan orang di sana.
Kau belum tahu aturan main di sini? Oh, iya. Kau lama sekolah. Hingga tak tahu aturan yang ada. Baiknya kau ikuti saja. Jika tidak, nasibmu akan sia-sia. Kalau sudah sia-sia bagaimana nasib anak dan istrimu. Kau kan sudah punya berkeluarga. Maka, harus ta’at dan patuh pada penguasa. Kau harus membaca langkah-langkah penguasa agar dapat tanda jasa. Kau tak akan dipikirkan oleh penguasa tentang ilmu yang kau punya. Sebab penguasa takut dengan ilmu. Karena ilmu bisa menumbangkan mereka. Makanya di sini tak ada ilmu. Tetapi adanya harta. Mari ikut denganku dan tanggalkan ilmumu. Kita akan mencari harta-harta yang bersliweran di antara kita. Seakan-akan kita telah melaksanakan kerja padahal kita hanya angguk-anggukan kepala.
“Tidak bagiku, kau salah menilai aku. Aku bukan seperti yang kau bayangkan dengan orang kebanyakan yang ada di sini.”
Ha..ha..ha.. Mungkin saja itu pengaruh dari sekolahmu ke luar negeri tentang etika. Dan kau mendapat ilmu untuk mencari nafkah. Tak harus anggukkan kepala, kau bisa makan. Sedang kita di sini. Gaji masih rendah tak mungkin melawan. Sebab kita tak berdaya.
“Karena itu, maka kita harus melakukan perlawanan”
Ya, sudah. Aku tak akan ikut-ikut. Sejak kepergianmu, segalanya berubah. Juga nasibku. Ruang akpresiku ditiadakan. Karena ruang ekpresiku bagi kekuasaan mengganggu kestabilan tempat kerja. Maka kini aku hanya melayani penjual saja. Tidak seperti dulu harus duduk manis dan mencatat transaksi-transaksi penjualan. Perusahaan ini semakin besar. Semakin banyak pelanggan. Tapi kekuasaanya di sini tak biasa di ganggu gugat. Sebelum kau pergi sekolah ke luar negeri. Di tempat ini masih aman saja. Sebab kekuasaan baru di dapatkan oleh Bos kita. Penunjukan Bos kita yang baru, itupun rekomendasi dari Bos kita yang lama. Sebab Bos lama tak ingin kehilangan kekuasaannya. Hanya saja Bos baru ditunjuk. Bos lama menempati kekuasaan yang di buatnya lebih tingggi di atas Bos baru. Alih-alih menyerahkan kekuasaanya tetapi tetap saja mengendalikannya. Bos lama, dalam ramalanku ingin terus melanggengkan kekuasaannya lewat orang-orang yang dipercaya. Mungkin juga anaknya juga akan dipersiapkan mengganti kekuasaa Bos baru kita.
“Ah, tempat kerja macam apa ini? dalam undang-undang yang saya baca mengenai aturan tempat kerja kita ini mengunakan sistem demokrasi. Tapi kemana letak kedemokrasiannya. Di sini banyak orang-orang yang mampu mengelola. Dari membuat strategi usaha hingga membuat kualitas produk yang dihasilkan di sini, bisa berkualitas. Aku tak harus diam. Aku sejak awal masuk kerja di sini sudah berjanji untuk mendedikasikan diri dan mengabdi. Tentu saja dengan terus belajar dan mengembangkan diri”.
Sudalah, tak ada gunanya grundelan-mu di sini. Ayo ikut aku. Membuat penelitian yang bisa memunculkan produk baru dan disukai Bos kita. Teman-teman kita sudah banyak yang mengantri mendaftarkan temuannya pada Bos. Agar mendapat angukan kepala, tentu saja aman tentram dan sejahterah bekerja di sini.
“Tidak.. Aku harus melawan. Buat apa bekerja di tempat yang busuk ini. Aku takut, jika suatu hari nanti perusahaan ini tidak menjadi milik kita bersama. Tapi milik keluarga Bos. Dan bisa jadi semaunya sendiri mengelola tanpa memikirkan kualitas serta apa yang terjadi di hari depan”
Sambil berjalan cepat Taufan meninggalkanku. Aku terus mengamati. Setiap ketemu rekan kerja, dia berhenti. Dengan berdiri dia berbicara serius. Mengabarkan perlawanan pada Bos. Sudah beberapa rekan kerja. Ketika berpapasan denganku dan mengabarkan apa yang diharapkan Taufan. Tapi semua tak setuju. Hanya beberapa yang setuju. Teman-teman akrabnya. Juga teman-teman kerja yang merasa dirinya senasib denganku, tapi tetap mempertahankan idealismenya. Rupanya diam-diam aku pun meneguhkan idealismeku. Dalam hatiku aku sepakat dengan Taufan. Tapi masalah keluarga menjadi pertimbanganku yang utama. Apalagi anakku sekarang dua. Mereka harus sekolah. Aku di antara kebimbangan yang tak dapat diurai sampai unjungnya. Aku masih harus tunduk di kaki kursi kekuasaan di sini.
***
Taufan semakin hari semakin berani. Padahal tepat di hari sabtu. Taufan dipanggil karena tulisannya yang di muat di salah satu media mengganngu kestabilan usaha. Dengar –dengar Taufan tetap berani melawan. Entah kenapa dengan Taufan. Bos tidak berani mengeluarkan dengan kesalahan yang di buat: menulis yang membuat kestabilan usaha goyah. Siapa dia Taufan.
Selidik punya selidik. Gerbong perlawanan Taufan sudah memanjang. Bahkan ada seoarang teman akrab Bos berada di balik Taufan. Seorang pengusaha yang banyak mengabdikan dirinya pada usaha-usaha kecil hingga usaha-usaha kecil mampu bertahan dalam persaingan. Tak kalah Bos diam-diam juga menyiapkan akal bulusnya. Untuk berkuasa kembali. Masih tak ada perlawanan yang nampak. Gerbong perlawanan Taufan yang tidak bergerak lagi. Bos mengumpulkan semua yang bekerja di sini. Termasuk aku. Orang-orang yang dekat dengan Taufan tak satupun diundang. Tapi ada beberapa yang dalam pengamatan saya dekat dengan Taufan juga menyembah kursi kekuasaan Bos. Aku diam-diam masuk gerbong Taufan. Tapi tak berani mendekat Taufan. Aku masih takut. Bos mulai menyiapkan tulisan-tulisan yang akan di sampaikan sesudah acara pertemuan yang dibuka oleh asisten Bos.
“Para pegawai yang aku cintai. Kalian adalah orang-orang yang terpilih. Sebab itu kalian saya undang di sini. Kalian adalah orang-orang yang setia dengan kursiku. Bulan depan adalah waktuku habis. Tapi aku tak melihat seorangpun yang dapat menggantikanku mengurus usaha ini. Usaha ini semakin besar dan dipandang orang. Bila nanti yang meneruskanku tidak becus. Maka kalian juga akan bekurang penghasilannya.”
Semua orang yang ada di dekat, di samping kiri-kanan-depan menganggukan kepala. Aku gerah dengan kalimat Bos tadi. Padahal sebenarnya ada seorang yang sudah punya kapasitas menggantikannya. Tapi Bos ingin mempertahankan kekuasaanya. Tiba-tiba Bos Lama datang. Sambil tersenyum melihat rapat kami.
“Benar apa yang dikatakan Bos kalian. Beri kesempatan lagi. Sebelum anakku dapat mengantikannya”.
Ah, apa-apaan ini. Kegelisahanku menaik pada puncak kesadaran. Kursi itu butuh pembaharuan bukan pembusukan. Tapi apa yang harus aku lakukan. Dengan menahan nafas. Fikiran nasib keluarga hilang seketika dan mulutkku mengeluarkan ketidak setujuan pada mereka. Aku mengatakan pada mereka bahwa Bos harus di ganti dengan Bos yang baru. Aku pun bilang padanya. Apakah kita mau di anggap tidak demokratis. Ah, aku lupa rupanya bahwa di sini demokrasi telah mati dan hanya ada dalam buku-buku yang terpajang dalam rak-raknya.
Tiba-tiba semua terdiam dan serupa patung. Aku lemas duduk. Aku ingat Taufan. Aku mulai tegar kembali. Aku menginginkan perubahan menjadi lebih baik. Aku tidak ingin menjual produk-produk kebusukan dari perusahaan ini. Bos menepuk pundakku.
“Buatlah surat pengunduran dirmu. Besok kau harus cari tempat kerja baru”.
Aku langsung keluar dari ruang rapat. Berjalan melewati lif dari kantorku yang bertingkat enam. Ruang Bosku ada di lantai paling atas. Aku sampai di lantai bawah. Lantai tempat menjual produk-produk dari perusahaan tempatku bekerja. Aku melihat seorang kawannya sedang duduk melihat dengan seksama ruang kerjanya. Aku bertanya padanya.
“Kau kenapa, kawan?”
“Aku baru saja membaca dari media masa. Bahwa aku telah digantikan. Aku tidak akan ditempat itu lagi. Yang menjadi aneh bagiku. Kenapa Bos tak memberitahuku dahulu sebelum menyiarkan di media masa yang dibaca semua orang”.
Sambil menepuk pundaknya, aku menenangkannya
“Kau tak usah resah, nasibmu lebih baik dariku”
Sambil lalu aku meneruskan berjalan. Sedang yang ada dalam benakku, kursi Bos semakin keropos dalamnya, tapi masih tampak kuat luarnya. Aku mengamati saat rapat tadi. Jika saja ada yang berani mendorong sedikit saja tentu kursi Bos tadi akan roboh. Aku pun pulang ke rumah dan sambil membayangkan nasib keluargaku, sekolah anakku, makan sehari-hariku.
Malang, Desember 2010
Jumat, 01 April 2011
Menelusuri Perjalanan Sastra Di Malang*
Denny Mizhar**
http://sastra-indonesia.com/
Sebelum saya mulai menulis tentang perjalanan sastra Malang, saya akan bercerita bagaimana saya sampai masuk pada pergumulan sastra di Malang. Tetapi sebenarnya saya, belum berani betul bicara soal perjalanan sastra di Malang. Disebabkan kawan Kholid Amrullah dari komunitas Lembah Ibarat meminta saya untuk menjadi pembicara mendampingi Pak Emil Sanosa untuk berbicara sejarah sastra di Malang. Padahal, saya telah merekomendasikan beberapa nama padanya, ini sebuah permintaan yang tak dapat saya tolak tetapi gamang bagi saya yang belum memiliki kapasitas memadahi berbicara sejarah sastra di Malang. Berbicara sejarah tentu saja ada masa lalu yang direkontruksi, ada masa kini dan ramalan masa akan datang. Saya yang baru mengenal sastra secara intens kurang lebih tiga tahun lalu. Sebelumnya saya banyak diam di kampus dan bergesekan dengan kesenian teater di dalam kampus. Pada tahun dua ribu tujuh, saya dengan modal yang pas-pas-an tentang sastra mencoba memberanikan diri untuk menulis (katanya) puisi yang saya terbitkan secara indie. Pada awal penerbitan buku saya dan dibedah oleh Tengsoe Tjahjonoh—saat itu puisi saya masih proses—saya mengganggap diri saya masih anak bau kencur dengan berani menerbitan puisi tersebut. Tetapi bagi saya adalah proses untuk belajar. Setelah itu saya mulai membaca buku-buku sastra: puisi, cerpen, novel, kritik sastra serta buku-buku yang lain.
Dari situlah saya mulai mengenal beberapa kawan yang bergelut dalam dunia sastra. Hal ini sedikit mudah bagi saya, karena sebelumnya sudah banyak bertemu dengan beberapa sastrawan khususnya di Malang lewat perjumpaan-perjumpaan yang berangkat dari seni teater. Dari situlah saya coba telisik (masih belum dalam) sastra di Malang. Saya ingin tahu pendahulu-pendahulu saya berkiprah di Malang. Saya pun mulai aktif di komunitas sastra reboan Poestaka Rakjat yang waktu itu bertempat di Toko Buku Muhammad Nasir. Dari situ saya mengenal beberapa komunitas-kumunitas dan lembaga-lembaga kampus yang bergelut dalam dunia sastra. Pada tahun, sekitaran 2007/2008, beberapa kumintas sering bertemu (bergantian) untuk saling mengunjungi. Saya melihat ada potensi besar yang berada di UIN Malang, saya melihat ada beberapa komunitas di kampus tersebut yang tidak tersetruktur dengan kampus alias kelompok pinggiran (ini sebutan saya terhadap kumintas sastra kampus yang tidak menjadi lembaga intra) di antara nama-nama tersebut ada komunitas Tinta Langit, komunitas Promoedya Ananta Toer, Sastra Parkiran. Di kampus UIN Malang juga ada cerpenis yang pada waktu itu cukup produktif dan pernah memenangi lomba penulisan berskala Nasional bahkan dalam Jurnal Cerpen edisi Muda namanya Azizah Hefni. Selain UIN ada juga di UM yang memiliki lembaga kemahasiswaan kepenulisan yang juga cukup intens membicarakan sastra dan menerbitkan beberapa karya kumpulan puisi juga kumpulan cerpen secara Indie, yakni UKMP (Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis). Di beberapa kampus lain saya tidak menjumpai, hanya nama-nama saja dan kebanyakan mereka aktif juga di Teater. Di UMM ada Johan Wahyu, di Unisma saya kurang menjumpai (ada, mungkin saya yang kurang bergesekan), di Universitas Brawijaya saya juga tidak menjumpai (mungkin saya kurang mencari tahu). Inilah pada awal-awal perkenalanku dengan dunia sastra di Malang.
Adapun mereka yang lebih dulu berkecimpung dalam dunia sastra di Malang dengan melakukan pergerakan sastra sebelum tahun 2007-an. Misalnya, perkumpulan Penyair Muda Malang diantaranya yang saya kenal, ada Lodzi Hady, Abdul Mukid, Ragil Suprianto dan beberapa nama yang (mungkin) belum saya kenal. Mereka penyair mudah Malang pada sekitaran tahun 2000-an sering mangadakan pembacaan puisi-puisi di Caffe-Caffe di tempat Umum. Bahkan mereka sempat membuat petisi penentangan sastra koran.
Saya mulai gelisah, muncul kesadaran sejarah tentang sastra. Karena saya hendak belajar tentang sastra, pada siapa saya harus belajar sedang yang saya rasa tidak adanya proses pengkaderan dalam bersastra. Yang saya rasakan, semua berjalan sendiri-sendiri dan sesekali berkumpul di komunitas-komunitas yang ada hanya untuk membacakan karya setelah itu sudah.
Dalam perjalanan akhir tahun 2010 saya mendapati buku Kronik Sastra Indonesia di Malang yang ditulis oleh Suripan Sadi Hutomo pada 1994. Suripan mengatakan, dia tidak bisa melacak sejarah sastra Malang secara pencapain-pencaian estetika sastra, karena sastra di Malang masih dalam bayang-bayang sastra yang berkembang di Jakarta. Adapun terpotong-potong. Lalu Suripan melakukan pembacaan dengan mengumpulkan media-media penyaluran sastra: Koran, Majalah, Buku, Stensilan, Ketikan dan Foto Kopian, dan sastra Melayu Tionghoa. Mari kita telisik perkembangan sastra dilihat dari penerbitan surat kabar atau pun majalah pada zaman kolonial dan sesudah kolonial kira-kira tahun 40-90an. Ada majalah Sasterawan, Majalah Kebudajaan, dan Masjarakat. Sedangkan surat kabar Soeara Masjrakat, Suara Indonesia dan Komunikasi. Semua majalah dan surat kabar tersebut memuat hasil karya sastra, kritik sastra maupun masalah kebudayaan (Suripan Sadi Hutomu; 1994). Sehingga pergesekan, distribusi karya terjadi, hal tersebut mampu memicu saling berkresi dan membaca. Karena yang diterbitkan dalam majalah dan surat kabar tersebut tidak hanya satrawan dari kota Malang akan tetapi sastrawan dari daerah lainnya. Sastra yang lahir dari daerah seperti Malang menjadi perhatian H.B Jassin yang memiliki julukan paus sastra Indoensia tersebut, ia mengatakan bahwa majalah sastra banyak yang lahir di daerah tidak hanya di ibu kota saja, salah satunya adalah Sastrawan Malang (Suripan Sadi Hutomo; 1994). Hal tersebut menjadi mudah untuk melakukan pendokumentasian nantinya. Seperti yang dilakukan oleh Hutomu terhadap majalah yang tidak saya sebut di atas tetapi memberi sumbangsi juga yakni Brawijdjaja dan Widjaya yang berupa antologi saja, antologi cerita pendek, dan antologi kritik serta esai kesusastraan.
Perkembangan sastra di Malang pada era itu tidak hanya dapat dilihat dari majalah ataupun surat kabar saja, tetapi penerbitan buku juga menamba pembacan dokumentasi untuk melihat kesusastraan di Malang. Di antaranya buku tersebut adalah Angin Lalu buku antologi sajak yang diterbitkan oleh AMSENI (Angkatan Seniman Muda Indonesia, Malang) pada tahun 1955 dengan bantuan seksi Kebudayaan Kota Besar Malang. Bahkan Buku tersebut di ulas oleh Suripan Sadi Hutomo yang diterbitkan dalam Minggu Bhirawa (28, Juni 1980) dengan judul “Angin Lalu: Kumpulan Sajak yang Dilupakan” . Setelah itu muncul pada akhir 80’an muncul cerita pendek Bau (Sanggar Seni Slake, Batu Malang, 1989) karangan dari Tan Tjin Siong. Buku selanjutnya adalah kumpulan sajak Tengsoe Tjahjono, diterbitkan secara stensilan diantaranya adalah Hom Pim Pah (1983) dan Mata Kalian (1984) tetapi jauh sebelum itu penyair Henricus Suprijanto telah menerbitkan kumpulan sajaknya dengan cara stensilan juga yang berjudul “Episode”. Selain itu juga ada beberapa sajak stensilan “Simalakama” yang diltulis oleh Rahardi Purwanto pada tahun 1975, “Mekar” (1975) karya bersama Ven Wardhana, Hen Dr, Yani Koeswara, Dick Asido, Lila Ratih Komala, dan Rahardi Purwanto, “Mataair (1977) karya Veven (1989) karya Surasono Rashar dan Eko Windarto (Suripan Sadi Hutomo; 1994). Selain majalah, koran, buku, buletin juga turut mewarnai pendukumentasian karya sastra di Malang, di antaranya ada “Buletin Sastra Aktif” yang pada tahun 1989 telah terbit beberapa nomer. Buletin ini sangat ampuh memberi ruang pada sastrawan muda Malang. Di batu pada tahun 90-an di Batu ada HP3N, Buletin Sastra Budaya “Kreatif”, Studio Seni Sastra Batu menerbitkan beberapa jurnal yang memuat sajak-sajak penyair nusantra beberapa kali. Forum Pekerja Kota Malang menerbitkan antologi puisi dan Cerpen “Sempalan” (1994), “Pelataran” (1995). Selain itu masih banyak penyair-penyair yang membuat buku secara stensilan. Di antaranya Nanang Suryadi “Orang Sendiri Membaca Diri” (1997), penyair satu ini sampai kini masih mewarnai kesusastraan secara nasional dengan menyemarakkan sastra di dunia cyber dengan mendirikan www.fordisastra.com yang dikelolanya hingga kini. Malang juga memiliki sastrawan yang produktif menulis cerpen hingga saat ini yakni Ratna Indraswari Ibrahim, ada juga seorang penyair dengan karya-karya fenomenal tetapi kini menghilang dari kanca sastra yakni Wahyu Prasetyo. Selain itu, nama fenomenal sastrawan Malang yang tidak bisa dilupakan adalah Hasim Amir walaupun beliau banyak dikenal pada kesenian teater, juga Emil Sanosa penulis naskah drama. Tidak bisa dilupakan juga Komunitas Kayu Tangan dengan gerakannya hingga memprakarsai pembuatan Patung Chairil Anwar di tahun 60-an.
Pada awal-awal tahun 2000-an Tengsoe Tjahjono menerbit buku puisi “Pertanyaan Daun” (2003), antologi puisi bersama yang berjudul SOI (Suara Orang Indonesi) yang ditulis oleh Fajar, Shinta, dan Safir (2004), ada juga buletin yang saya pikir menarik untuk dicermati yakni BACA yang diterbitkan oleh komunitas Bengkel Imajinasi di Komandoi oleh Abdul Mukid , Lozdi Hadi penyair yang kuliah di Unisma sempat juga membuat sastra stensilan “Infeksi” (2005), Komunitas Penyair Muda Malang, sempat juga membuat stensilan antologi puisi mereka. Abdul Mukid membukukan karyanya dalam “Tulis Namaku dengan Abu”, “Berharap di Senja Hari” oleh Denny Misharudin (2007), “Ketawang Puspa Warna” Kumpulan Cerpen oleh UKMP UM, “Indonesia Dalam Secangkir Kopi Pahit” Antologi Puisi Bersama (Poestaka Rakjat), “Do’a Akasa” Antologi Puisi Bersama (Lembah Ibarat), Kumpulan Cerpen (Forum Penulis Kota Malang), Itupun setelah tebit hilang, artinya tidak ada pembacaan dan ulasan-ulasan sehingga kritik dan masukan menjadi pergerakan dan perkembangan sastra yang menarik untuk dicermati. Langkah yang bagus di mulai oleh Komunitas Mozaik dengan membuat kumpulan cerpen yang memuat beberapa cerpenis muda Malang yang berjudul “Pledoi: pelangi sastra Malang dalam Cerpen”. Kumpulan cerpen yang diberi pengantar oleh Ajang Budiman (Derectur Pusat Study Islam dan Filsafat Universitas Muhammadiyah Malang), sedangkan nama-nama cerpenis yang termuat karyanya adalah Yusri Fajar, Titik Qomariah, Aga Herman, Azizah Hefni, Liga Alam, Muyasaroh El-Yasin, Abdul Mukid, Wawan Eko Yulianto, Susanty Oktavia, Supriyadi Hamzah, Yuni Kristyaningsih, A Elwiq Pr, Lubis Grafura, Iman Suwongso.
Tetapi semuanya seperti hilang ditelan angin, mencari kemana buku-buku tersebut semua kecuali pada penulis dan hanya beberapa yang saya temui di Toko Buku Kedai Sinau juga Toga Mas. Menjadi agenda bagi pihak yang terkait demi perkembangan sastra di Malang adalah, melakukan pembacaan perkembangan sastra di Malang melaui esai-esai kritik sastra, juga pembuatan jurnal-jurnal yang membincangkan karya sastra bisa juga melalui dunia cyber. Jika hal tersebut dilakukan mak gaya khas penyair dan cerpenis Malang akan muncul, dari perihal tema, pola ungkap, gaya kebahasaan dengan merespon realitas sosial, budaya yang ada di Malang. Maka Malang akan memiliki identitas sastra yang termaktub dalam karya-karya sastra pengarangnya. Hal tersebut bisa mematahkan pendapat Suripan di Waktu akan datang.
Pembacaan yang saya lalukan berdasar ingatan, perbincangan dengan pelaku sastra di Malang, membaca buku, dan tentu saja masih banyak karya-karya yang belum saya sebutkan dan masih banyak kekurangan. Pembacaan perjalanan ini adalah awal untuk membaca sastra di Malang lebih lanjut.
Malang, 20 Maret 2011
*Di Sampaikan pada Diskusi “Sejarah Sastra Malang” Komunitas Lembah Ibarat Malang
**Anggota Teater Sampar Indonesia Malang dan Pegiat Pelangi Sastra Malang.
http://sastra-indonesia.com/
Sebelum saya mulai menulis tentang perjalanan sastra Malang, saya akan bercerita bagaimana saya sampai masuk pada pergumulan sastra di Malang. Tetapi sebenarnya saya, belum berani betul bicara soal perjalanan sastra di Malang. Disebabkan kawan Kholid Amrullah dari komunitas Lembah Ibarat meminta saya untuk menjadi pembicara mendampingi Pak Emil Sanosa untuk berbicara sejarah sastra di Malang. Padahal, saya telah merekomendasikan beberapa nama padanya, ini sebuah permintaan yang tak dapat saya tolak tetapi gamang bagi saya yang belum memiliki kapasitas memadahi berbicara sejarah sastra di Malang. Berbicara sejarah tentu saja ada masa lalu yang direkontruksi, ada masa kini dan ramalan masa akan datang. Saya yang baru mengenal sastra secara intens kurang lebih tiga tahun lalu. Sebelumnya saya banyak diam di kampus dan bergesekan dengan kesenian teater di dalam kampus. Pada tahun dua ribu tujuh, saya dengan modal yang pas-pas-an tentang sastra mencoba memberanikan diri untuk menulis (katanya) puisi yang saya terbitkan secara indie. Pada awal penerbitan buku saya dan dibedah oleh Tengsoe Tjahjonoh—saat itu puisi saya masih proses—saya mengganggap diri saya masih anak bau kencur dengan berani menerbitan puisi tersebut. Tetapi bagi saya adalah proses untuk belajar. Setelah itu saya mulai membaca buku-buku sastra: puisi, cerpen, novel, kritik sastra serta buku-buku yang lain.
Dari situlah saya mulai mengenal beberapa kawan yang bergelut dalam dunia sastra. Hal ini sedikit mudah bagi saya, karena sebelumnya sudah banyak bertemu dengan beberapa sastrawan khususnya di Malang lewat perjumpaan-perjumpaan yang berangkat dari seni teater. Dari situlah saya coba telisik (masih belum dalam) sastra di Malang. Saya ingin tahu pendahulu-pendahulu saya berkiprah di Malang. Saya pun mulai aktif di komunitas sastra reboan Poestaka Rakjat yang waktu itu bertempat di Toko Buku Muhammad Nasir. Dari situ saya mengenal beberapa komunitas-kumunitas dan lembaga-lembaga kampus yang bergelut dalam dunia sastra. Pada tahun, sekitaran 2007/2008, beberapa kumintas sering bertemu (bergantian) untuk saling mengunjungi. Saya melihat ada potensi besar yang berada di UIN Malang, saya melihat ada beberapa komunitas di kampus tersebut yang tidak tersetruktur dengan kampus alias kelompok pinggiran (ini sebutan saya terhadap kumintas sastra kampus yang tidak menjadi lembaga intra) di antara nama-nama tersebut ada komunitas Tinta Langit, komunitas Promoedya Ananta Toer, Sastra Parkiran. Di kampus UIN Malang juga ada cerpenis yang pada waktu itu cukup produktif dan pernah memenangi lomba penulisan berskala Nasional bahkan dalam Jurnal Cerpen edisi Muda namanya Azizah Hefni. Selain UIN ada juga di UM yang memiliki lembaga kemahasiswaan kepenulisan yang juga cukup intens membicarakan sastra dan menerbitkan beberapa karya kumpulan puisi juga kumpulan cerpen secara Indie, yakni UKMP (Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis). Di beberapa kampus lain saya tidak menjumpai, hanya nama-nama saja dan kebanyakan mereka aktif juga di Teater. Di UMM ada Johan Wahyu, di Unisma saya kurang menjumpai (ada, mungkin saya yang kurang bergesekan), di Universitas Brawijaya saya juga tidak menjumpai (mungkin saya kurang mencari tahu). Inilah pada awal-awal perkenalanku dengan dunia sastra di Malang.
Adapun mereka yang lebih dulu berkecimpung dalam dunia sastra di Malang dengan melakukan pergerakan sastra sebelum tahun 2007-an. Misalnya, perkumpulan Penyair Muda Malang diantaranya yang saya kenal, ada Lodzi Hady, Abdul Mukid, Ragil Suprianto dan beberapa nama yang (mungkin) belum saya kenal. Mereka penyair mudah Malang pada sekitaran tahun 2000-an sering mangadakan pembacaan puisi-puisi di Caffe-Caffe di tempat Umum. Bahkan mereka sempat membuat petisi penentangan sastra koran.
Saya mulai gelisah, muncul kesadaran sejarah tentang sastra. Karena saya hendak belajar tentang sastra, pada siapa saya harus belajar sedang yang saya rasa tidak adanya proses pengkaderan dalam bersastra. Yang saya rasakan, semua berjalan sendiri-sendiri dan sesekali berkumpul di komunitas-komunitas yang ada hanya untuk membacakan karya setelah itu sudah.
Dalam perjalanan akhir tahun 2010 saya mendapati buku Kronik Sastra Indonesia di Malang yang ditulis oleh Suripan Sadi Hutomo pada 1994. Suripan mengatakan, dia tidak bisa melacak sejarah sastra Malang secara pencapain-pencaian estetika sastra, karena sastra di Malang masih dalam bayang-bayang sastra yang berkembang di Jakarta. Adapun terpotong-potong. Lalu Suripan melakukan pembacaan dengan mengumpulkan media-media penyaluran sastra: Koran, Majalah, Buku, Stensilan, Ketikan dan Foto Kopian, dan sastra Melayu Tionghoa. Mari kita telisik perkembangan sastra dilihat dari penerbitan surat kabar atau pun majalah pada zaman kolonial dan sesudah kolonial kira-kira tahun 40-90an. Ada majalah Sasterawan, Majalah Kebudajaan, dan Masjarakat. Sedangkan surat kabar Soeara Masjrakat, Suara Indonesia dan Komunikasi. Semua majalah dan surat kabar tersebut memuat hasil karya sastra, kritik sastra maupun masalah kebudayaan (Suripan Sadi Hutomu; 1994). Sehingga pergesekan, distribusi karya terjadi, hal tersebut mampu memicu saling berkresi dan membaca. Karena yang diterbitkan dalam majalah dan surat kabar tersebut tidak hanya satrawan dari kota Malang akan tetapi sastrawan dari daerah lainnya. Sastra yang lahir dari daerah seperti Malang menjadi perhatian H.B Jassin yang memiliki julukan paus sastra Indoensia tersebut, ia mengatakan bahwa majalah sastra banyak yang lahir di daerah tidak hanya di ibu kota saja, salah satunya adalah Sastrawan Malang (Suripan Sadi Hutomo; 1994). Hal tersebut menjadi mudah untuk melakukan pendokumentasian nantinya. Seperti yang dilakukan oleh Hutomu terhadap majalah yang tidak saya sebut di atas tetapi memberi sumbangsi juga yakni Brawijdjaja dan Widjaya yang berupa antologi saja, antologi cerita pendek, dan antologi kritik serta esai kesusastraan.
Perkembangan sastra di Malang pada era itu tidak hanya dapat dilihat dari majalah ataupun surat kabar saja, tetapi penerbitan buku juga menamba pembacan dokumentasi untuk melihat kesusastraan di Malang. Di antaranya buku tersebut adalah Angin Lalu buku antologi sajak yang diterbitkan oleh AMSENI (Angkatan Seniman Muda Indonesia, Malang) pada tahun 1955 dengan bantuan seksi Kebudayaan Kota Besar Malang. Bahkan Buku tersebut di ulas oleh Suripan Sadi Hutomo yang diterbitkan dalam Minggu Bhirawa (28, Juni 1980) dengan judul “Angin Lalu: Kumpulan Sajak yang Dilupakan” . Setelah itu muncul pada akhir 80’an muncul cerita pendek Bau (Sanggar Seni Slake, Batu Malang, 1989) karangan dari Tan Tjin Siong. Buku selanjutnya adalah kumpulan sajak Tengsoe Tjahjono, diterbitkan secara stensilan diantaranya adalah Hom Pim Pah (1983) dan Mata Kalian (1984) tetapi jauh sebelum itu penyair Henricus Suprijanto telah menerbitkan kumpulan sajaknya dengan cara stensilan juga yang berjudul “Episode”. Selain itu juga ada beberapa sajak stensilan “Simalakama” yang diltulis oleh Rahardi Purwanto pada tahun 1975, “Mekar” (1975) karya bersama Ven Wardhana, Hen Dr, Yani Koeswara, Dick Asido, Lila Ratih Komala, dan Rahardi Purwanto, “Mataair (1977) karya Veven (1989) karya Surasono Rashar dan Eko Windarto (Suripan Sadi Hutomo; 1994). Selain majalah, koran, buku, buletin juga turut mewarnai pendukumentasian karya sastra di Malang, di antaranya ada “Buletin Sastra Aktif” yang pada tahun 1989 telah terbit beberapa nomer. Buletin ini sangat ampuh memberi ruang pada sastrawan muda Malang. Di batu pada tahun 90-an di Batu ada HP3N, Buletin Sastra Budaya “Kreatif”, Studio Seni Sastra Batu menerbitkan beberapa jurnal yang memuat sajak-sajak penyair nusantra beberapa kali. Forum Pekerja Kota Malang menerbitkan antologi puisi dan Cerpen “Sempalan” (1994), “Pelataran” (1995). Selain itu masih banyak penyair-penyair yang membuat buku secara stensilan. Di antaranya Nanang Suryadi “Orang Sendiri Membaca Diri” (1997), penyair satu ini sampai kini masih mewarnai kesusastraan secara nasional dengan menyemarakkan sastra di dunia cyber dengan mendirikan www.fordisastra.com yang dikelolanya hingga kini. Malang juga memiliki sastrawan yang produktif menulis cerpen hingga saat ini yakni Ratna Indraswari Ibrahim, ada juga seorang penyair dengan karya-karya fenomenal tetapi kini menghilang dari kanca sastra yakni Wahyu Prasetyo. Selain itu, nama fenomenal sastrawan Malang yang tidak bisa dilupakan adalah Hasim Amir walaupun beliau banyak dikenal pada kesenian teater, juga Emil Sanosa penulis naskah drama. Tidak bisa dilupakan juga Komunitas Kayu Tangan dengan gerakannya hingga memprakarsai pembuatan Patung Chairil Anwar di tahun 60-an.
Pada awal-awal tahun 2000-an Tengsoe Tjahjono menerbit buku puisi “Pertanyaan Daun” (2003), antologi puisi bersama yang berjudul SOI (Suara Orang Indonesi) yang ditulis oleh Fajar, Shinta, dan Safir (2004), ada juga buletin yang saya pikir menarik untuk dicermati yakni BACA yang diterbitkan oleh komunitas Bengkel Imajinasi di Komandoi oleh Abdul Mukid , Lozdi Hadi penyair yang kuliah di Unisma sempat juga membuat sastra stensilan “Infeksi” (2005), Komunitas Penyair Muda Malang, sempat juga membuat stensilan antologi puisi mereka. Abdul Mukid membukukan karyanya dalam “Tulis Namaku dengan Abu”, “Berharap di Senja Hari” oleh Denny Misharudin (2007), “Ketawang Puspa Warna” Kumpulan Cerpen oleh UKMP UM, “Indonesia Dalam Secangkir Kopi Pahit” Antologi Puisi Bersama (Poestaka Rakjat), “Do’a Akasa” Antologi Puisi Bersama (Lembah Ibarat), Kumpulan Cerpen (Forum Penulis Kota Malang), Itupun setelah tebit hilang, artinya tidak ada pembacaan dan ulasan-ulasan sehingga kritik dan masukan menjadi pergerakan dan perkembangan sastra yang menarik untuk dicermati. Langkah yang bagus di mulai oleh Komunitas Mozaik dengan membuat kumpulan cerpen yang memuat beberapa cerpenis muda Malang yang berjudul “Pledoi: pelangi sastra Malang dalam Cerpen”. Kumpulan cerpen yang diberi pengantar oleh Ajang Budiman (Derectur Pusat Study Islam dan Filsafat Universitas Muhammadiyah Malang), sedangkan nama-nama cerpenis yang termuat karyanya adalah Yusri Fajar, Titik Qomariah, Aga Herman, Azizah Hefni, Liga Alam, Muyasaroh El-Yasin, Abdul Mukid, Wawan Eko Yulianto, Susanty Oktavia, Supriyadi Hamzah, Yuni Kristyaningsih, A Elwiq Pr, Lubis Grafura, Iman Suwongso.
Tetapi semuanya seperti hilang ditelan angin, mencari kemana buku-buku tersebut semua kecuali pada penulis dan hanya beberapa yang saya temui di Toko Buku Kedai Sinau juga Toga Mas. Menjadi agenda bagi pihak yang terkait demi perkembangan sastra di Malang adalah, melakukan pembacaan perkembangan sastra di Malang melaui esai-esai kritik sastra, juga pembuatan jurnal-jurnal yang membincangkan karya sastra bisa juga melalui dunia cyber. Jika hal tersebut dilakukan mak gaya khas penyair dan cerpenis Malang akan muncul, dari perihal tema, pola ungkap, gaya kebahasaan dengan merespon realitas sosial, budaya yang ada di Malang. Maka Malang akan memiliki identitas sastra yang termaktub dalam karya-karya sastra pengarangnya. Hal tersebut bisa mematahkan pendapat Suripan di Waktu akan datang.
Pembacaan yang saya lalukan berdasar ingatan, perbincangan dengan pelaku sastra di Malang, membaca buku, dan tentu saja masih banyak karya-karya yang belum saya sebutkan dan masih banyak kekurangan. Pembacaan perjalanan ini adalah awal untuk membaca sastra di Malang lebih lanjut.
Malang, 20 Maret 2011
*Di Sampaikan pada Diskusi “Sejarah Sastra Malang” Komunitas Lembah Ibarat Malang
**Anggota Teater Sampar Indonesia Malang dan Pegiat Pelangi Sastra Malang.
Jumat, 11 Maret 2011
Sri
Denny Mizhar
http://sastra-indonesia.com/
Sri namaku. Aku lahir ketika musim kemarau panjang. Keluargaku di himpit kesusahan. Sawah yang ditanami padi tak juga kunjung menuai panen. Kekeringan melanda desaku. Hingga semua warga desaku harus berduyun-duyun menimba air di sumur syawal ketika pagi tiba. Sumur yang selalu ada airnya walaupun musim kemarau melanda. Hanya itu satu-satunya sumur yang tak pernah surut. Konon ceritanya yang menggali lubangnya bernama Syawal. Hingga sumur itu diberi nama sumur Syawal. Atau mungkin dalam dugaku lubang sumur itu di gali waktu bulan syawal.
Matahari tepat di atas kepala. Cahayanya menembus genteng kaca rumah. Aku keluar dari rahim Ibuku. Aku tak lekas dibersihkan, darah masih menempel di kulitku. Sebab tak ada orang yang tau. Di rumahku hanya Ibuku sendiri yang berjuang hingga aku keluar dari rahimnya. Baru ketika ada tetangga lewat di depan rumahku sepulangnya dari sholat Istisqa’di sawah. Sholat meminta hujan pada Tuhan agar segera diturunkan. Dan dilanjutkan berdo’a hingga petang. Dia mendengar tangisku. Dimasukinya rumahku. Itupun sudah hampir senja. Dengan tergesa-gesa dia memanggil tetangga yang lainya. Baru ketika azdan magrib tiba, tetanggaku yang bernama Parti memandikan aku.
***
Ibuku, meninggal ketika usiaku 6 bulan. Bapakku entah kemana. Aku di asuh oleh Mbak Parti, begitu aku memanggilnya. Mbak parti orang kaya. Suka berdandan. Dan primadona kampungku. Dia janda kembang. Sehabis menikah dapat sebulan suaminya meninggal tertabrak kereta ketika hendak ke kota untuk kula’an barang-barang yang akan dijual di tokonya. Dia sempat hamil tapi nasib berbicara lain, kaguguran menimpa kandungannya. Itu tepat ketika suaminya meninggal. Mbak parti berjanji untuk tidak menikah lagi. Karena saking (sangat) cintanya pada suaminya yang namanya Bejo.
Aku dianggap anaknya sendiri. Segala hal dituruti. Sampai sesuatu yang sepele hingga sesuatu yang penting. Dia melakukan itu semua karena sayang sama aku. Tetapi kesendirian Mbak Parti tidak berjalan lama. Dia lupa akan janji yang pernah diucapkannya.
Paijo namanya, yang membuat Mbak Parti tergila-gila. Setiap malam tiba, Paijo datang kerumah. Aku selalu suka ketika Mas Paijo datang, sebab selalu bawa permen untukku, tidak hanya permen kadang bakso yang dibelinya di lurung gede (jalan besar) sebelum masuk ke gang rumahku. Rumah Mbak Parti, sudah aku anggap rumahku sendiri, dia sendiri yang memintanya.
Malam minggu, Mas Paijo biasanya datangnya sehabis magrib. Lalu mengajak Mbak Parti jalan-jalan sampai jam menunjukkan pukul sembilan malam.
***
Tetapi malam minggu ini sampai tengah malam tak pulang. Aku menunggunya dengan resah. Aku tertidur di balik pintu menunggu Mbak Parti, terbangun ketika mendengar ketukan pintu.
“Sri… Sri…, bukakno lawange… (bukakan pintunya) “. Aku bergegas membuka pintu yang tidak jauh dari aku. Tinggal berdiri lalu membuka.
“Kok bengi Mbak mulehe” (kenapa malam pulanganya) Tanyaku penasaran. “Iyo Sri, dijak muter-muter karo mas Paijo, mari ngono dijak dolen neng omahe” (iya, sri di ajak putar-putar sama mas Paijo, habis itu di ajak main kerumahnya).
Mbak Parti bercerita banyak tentang Mas Paijo, dari rumahnya yang besar dan kekayaan-kekayaannya. Tak henti-henti sampai menjelang pagi.
Mas Paijo sering main ke rumah. Bahkan pernah menginap. Suatu hari, aku tidak sengaja habis pulang sekolah langsung saja masuk dapur tanpa salam untuk masuk rumah. Pintu kamar Mbak parti terbuka. Letak kamar Mbak Parti bersebelahan dengan dapur. Aku kaget bukan main. Mbak Parti dan Mas Paijo tanpa sehelai pakaian. Mereka mendesis seperti ular berbisa saling mencaplok. Aku mengigit jariku tak bisa melupakan kejadian itu. Aku lari menuju dapur dan meminum air kendi tak sadar air tumpah ke baju sekolahku. Dan Basah.
Mas Paijo, tanpa sadar sudah di belakangku. Melihatku yang gugup. Aku melihat masih ada sisa bisa yang keluar dari mulutnya. Aku manjadi takut. Aku lari. Tapi langkah Mas Paijo lebih cepat. Aku didekamnya. “Kau tadi melihat ya Sri” sambil matanya serupa srigala hendak memangsa hewan buruannya. Aku mengeleng takut. “Tak usah takut, Sri” dekamannya semakin kuat. Aku berteriak. Tetapi lebih cepat ubetan ular yang mbulet di tubuhku. Nafasku serasa sesak. Berlahan sengatan bisa menembus tubuhku. Aku kaku, diam, kosong, serupa orang tak waras.
Baju putihku berlumur darah. Roh abu-abuku yang baru aku beli seminggu yang lalu entah ke mana.
***
Sri namaku, aku lari dari rumahku. Seperti Ibuku, pergi tanpa pamit dan tak kembali. (mungkin mencari bapak). Sepertiku juga (mungkin mencari bapak) Meninggalkan mesjid dan kitab suci. Aku memuja tubuhku. Membakar kenangan tentang sumur syawal. Dan kampung yang kekeringan ketika musim kemarau. Kini aku menjelma menjadi ular yang selalu berdesis. Seperti Mas Paijo dan Mbak Parti. Dalam kerlip lampu-lampu, dalam gelap kamar, dalam gedung-gedung rapat.
Hidupku tak pasti, seperti yang aku tahu tentang hukum di tempat aku menyusuri jalan dan jalur hidupku. Akupun tak tahu. Di mana Tuhanku. Apa mungkin dalam desis malam atau dalam tubuh beningku. Kini kering, seperti musim di mana aku lahir dari rahim ibuku tanpa tahu Bapakku.
http://sastra-indonesia.com/
Sri namaku. Aku lahir ketika musim kemarau panjang. Keluargaku di himpit kesusahan. Sawah yang ditanami padi tak juga kunjung menuai panen. Kekeringan melanda desaku. Hingga semua warga desaku harus berduyun-duyun menimba air di sumur syawal ketika pagi tiba. Sumur yang selalu ada airnya walaupun musim kemarau melanda. Hanya itu satu-satunya sumur yang tak pernah surut. Konon ceritanya yang menggali lubangnya bernama Syawal. Hingga sumur itu diberi nama sumur Syawal. Atau mungkin dalam dugaku lubang sumur itu di gali waktu bulan syawal.
Matahari tepat di atas kepala. Cahayanya menembus genteng kaca rumah. Aku keluar dari rahim Ibuku. Aku tak lekas dibersihkan, darah masih menempel di kulitku. Sebab tak ada orang yang tau. Di rumahku hanya Ibuku sendiri yang berjuang hingga aku keluar dari rahimnya. Baru ketika ada tetangga lewat di depan rumahku sepulangnya dari sholat Istisqa’di sawah. Sholat meminta hujan pada Tuhan agar segera diturunkan. Dan dilanjutkan berdo’a hingga petang. Dia mendengar tangisku. Dimasukinya rumahku. Itupun sudah hampir senja. Dengan tergesa-gesa dia memanggil tetangga yang lainya. Baru ketika azdan magrib tiba, tetanggaku yang bernama Parti memandikan aku.
***
Ibuku, meninggal ketika usiaku 6 bulan. Bapakku entah kemana. Aku di asuh oleh Mbak Parti, begitu aku memanggilnya. Mbak parti orang kaya. Suka berdandan. Dan primadona kampungku. Dia janda kembang. Sehabis menikah dapat sebulan suaminya meninggal tertabrak kereta ketika hendak ke kota untuk kula’an barang-barang yang akan dijual di tokonya. Dia sempat hamil tapi nasib berbicara lain, kaguguran menimpa kandungannya. Itu tepat ketika suaminya meninggal. Mbak parti berjanji untuk tidak menikah lagi. Karena saking (sangat) cintanya pada suaminya yang namanya Bejo.
Aku dianggap anaknya sendiri. Segala hal dituruti. Sampai sesuatu yang sepele hingga sesuatu yang penting. Dia melakukan itu semua karena sayang sama aku. Tetapi kesendirian Mbak Parti tidak berjalan lama. Dia lupa akan janji yang pernah diucapkannya.
Paijo namanya, yang membuat Mbak Parti tergila-gila. Setiap malam tiba, Paijo datang kerumah. Aku selalu suka ketika Mas Paijo datang, sebab selalu bawa permen untukku, tidak hanya permen kadang bakso yang dibelinya di lurung gede (jalan besar) sebelum masuk ke gang rumahku. Rumah Mbak Parti, sudah aku anggap rumahku sendiri, dia sendiri yang memintanya.
Malam minggu, Mas Paijo biasanya datangnya sehabis magrib. Lalu mengajak Mbak Parti jalan-jalan sampai jam menunjukkan pukul sembilan malam.
***
Tetapi malam minggu ini sampai tengah malam tak pulang. Aku menunggunya dengan resah. Aku tertidur di balik pintu menunggu Mbak Parti, terbangun ketika mendengar ketukan pintu.
“Sri… Sri…, bukakno lawange… (bukakan pintunya) “. Aku bergegas membuka pintu yang tidak jauh dari aku. Tinggal berdiri lalu membuka.
“Kok bengi Mbak mulehe” (kenapa malam pulanganya) Tanyaku penasaran. “Iyo Sri, dijak muter-muter karo mas Paijo, mari ngono dijak dolen neng omahe” (iya, sri di ajak putar-putar sama mas Paijo, habis itu di ajak main kerumahnya).
Mbak Parti bercerita banyak tentang Mas Paijo, dari rumahnya yang besar dan kekayaan-kekayaannya. Tak henti-henti sampai menjelang pagi.
Mas Paijo sering main ke rumah. Bahkan pernah menginap. Suatu hari, aku tidak sengaja habis pulang sekolah langsung saja masuk dapur tanpa salam untuk masuk rumah. Pintu kamar Mbak parti terbuka. Letak kamar Mbak Parti bersebelahan dengan dapur. Aku kaget bukan main. Mbak Parti dan Mas Paijo tanpa sehelai pakaian. Mereka mendesis seperti ular berbisa saling mencaplok. Aku mengigit jariku tak bisa melupakan kejadian itu. Aku lari menuju dapur dan meminum air kendi tak sadar air tumpah ke baju sekolahku. Dan Basah.
Mas Paijo, tanpa sadar sudah di belakangku. Melihatku yang gugup. Aku melihat masih ada sisa bisa yang keluar dari mulutnya. Aku manjadi takut. Aku lari. Tapi langkah Mas Paijo lebih cepat. Aku didekamnya. “Kau tadi melihat ya Sri” sambil matanya serupa srigala hendak memangsa hewan buruannya. Aku mengeleng takut. “Tak usah takut, Sri” dekamannya semakin kuat. Aku berteriak. Tetapi lebih cepat ubetan ular yang mbulet di tubuhku. Nafasku serasa sesak. Berlahan sengatan bisa menembus tubuhku. Aku kaku, diam, kosong, serupa orang tak waras.
Baju putihku berlumur darah. Roh abu-abuku yang baru aku beli seminggu yang lalu entah ke mana.
***
Sri namaku, aku lari dari rumahku. Seperti Ibuku, pergi tanpa pamit dan tak kembali. (mungkin mencari bapak). Sepertiku juga (mungkin mencari bapak) Meninggalkan mesjid dan kitab suci. Aku memuja tubuhku. Membakar kenangan tentang sumur syawal. Dan kampung yang kekeringan ketika musim kemarau. Kini aku menjelma menjadi ular yang selalu berdesis. Seperti Mas Paijo dan Mbak Parti. Dalam kerlip lampu-lampu, dalam gelap kamar, dalam gedung-gedung rapat.
Hidupku tak pasti, seperti yang aku tahu tentang hukum di tempat aku menyusuri jalan dan jalur hidupku. Akupun tak tahu. Di mana Tuhanku. Apa mungkin dalam desis malam atau dalam tubuh beningku. Kini kering, seperti musim di mana aku lahir dari rahim ibuku tanpa tahu Bapakku.
Selasa, 25 Januari 2011
Gerak Kepribadian Diri dalam Kumala Pusaka Kasih
Denny Mizhar
http://sastra-indonesia.com/
Pergerakan sastra di Lamongan cukuplah dinamis. Hal tersebut dapat kita lihat pada agenda-agenda sastra di Lamongan, walaupun menurut pengamatan saya masih belum masif. Tidak hanya agenda sastra, tetapi penerbitan buku menjadi media pembacaan atas dinamisnya sastra di Lamongan. Ada penerbit Pustaka Pujangga, Pustaka Ilalang, LA Rose. Baru-baru saja penerbit Pustaka Pujangga, Penerbit yang digawangi oleh penyair Nurel Javissyarqi menerbitkan buku-buku baru. Kebanyakan buku yang diterbitkan adalah buku sastra. Salah satunya adalah Novel Kumala Pusaka Kasih Karya A. Rodhi Murtadho, penulis yang karyanya sudah banyak terjilid dalam buku-buku kumpulan sastra.
Sehabis membaca Novel Kumala Pusaka Kasih tersebut ada beberapa hal yang mengelitik buat saya. Di antaranya alur cerita. Hal tersebut serupa yang diungkap oleh Bambang Kempling sastrawan Lamongan dalam komentarnya di caver belakang buku: “Imajinasi yang kuat bahkan terkadang nyasar ke dalam dunia jungkir balik dengan metafor-metafor yang dapat menjadikan pembaca terperangah….”. Dari kejutan-kejutan yang di hadirkan oleh penulis yang membuat alurnya berbolak-balik. Hal tersebut membuat rasa penasaran menguat. Bagaimana nasib para tokoh dalam kisah novel tersebut.
Selain alur cerita yang menjadi menarik dan dapat dijadikan kajian secara psikologis adalah nasib tokoh-tokoh dalam novel tersebut. Novel ini menceritakan bagaimana kepribadian yang bermuasal dari masa lalu hinggap dalam perjalanan masa-masa ke depan tokoh-tokohnya. Untuk memulai mengungkapnya hasil dari pembacaan, baiknya saya tulisankan puisi yang berjudul “Anak” karya Kahlil Gibran dalam bukunya Sang Nabi:
ANAK
Anak-mu bukan milikmu.
Mereka putera-puteri Sang Hidup
yang rindu pada diri sendiri.
Lewat engkau mereka lahir,
namun tidak dari engkau
Mereka ada padamu, tetapi bukan hakmu.
Berikan mereka kasih sayangmu,
tetapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah untuk raganya,
tetapi tidak untuk jiwanya.
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kaukunjungi, sekalipun dalam impian.
Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu.
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
pun tidak tenggelam di masa lampau.
Kau busur,
dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah maha tahu sasaran bidikan keabadian,
Dia merentangmu dengan kekuasaanNya,
hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.
Meliuklah dengan sukacita dalam rentangan tangan Sang Pemanah
Sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap.
Puisi di atas mengantarkan saya atas pemahaman dari masalah-masalah yang timbul dari konflik-konflik para tokoh. Bahwa ternyata masa kanak adalah masa yang menentukan bagaimana anak tersebut memiliki kepribadian diri di masa depanya. Dalam Novel Kumala Pusaka Kasih, mengisahkan seorang anak yang lahir dari keluarga harmonis pada awalnya tetapi selanjutnya menjadi berantakan. Ketika keharmonisan seorang Bapak dan Ibu tak dirasakannya lagi. Bapak selingkuh dengan sekertarisnya di perusahaan yang dipimpin. Ibu pun tak mau kalah membalas dengan perselingkuhan juga. Namanya anak kecil di ajak ke mana saja sama orang tuanya pasti akan menurut. Yang diinginkan adalah senang dan dapat mainan. Kumajas nama anak itu. Dengan segala ingatan masa lalu yang mempengaruhi kepribadiaannya. Hingga dia bertemu Eliza lalu bersetubuh dengannya. Tetapi tidak hanya bercinta dengan Eliza, Kumajas juga berhubungan badan dengan Hendry teman sekerjanya. Eliza ternyata punya masa lalu yang tidak indah. ketika kecil dia mendapat julukan nonok artinya kemaluan perempuan. Eliza ditinggal oleh bapaknya, sebab itu dia seakan tidak bisa memunculkan rasa hormat pada laki-laki. Dia ingin seperti Ibunya ketika melihat ibunya bercinta sama bapaknya ketika Bapaknya masih ada. Dan Eliza melihat Ibunya mengalahkan Bapaknya hingga tak berdaya.
Tak ubahnya Hendry juga memiliki masa kanak yang aneh. Dia mengidap kleptomani. Yakni mencuri untuk kesenangan meskipun barang yang dicurinya tidak ada guna bagi dirinya. Kedua orang tua Hendry membawa ke psikiater hingga dukun tapi tak ada kesembuhan. Malah paranormal yang hendak menyembuhkan memberikan nasehat, hanya orang tuanya sendiri yang mampu menyembuhkan penyakitnya
.
Masa kecil memberi bekas luka ketika hari telah beranjak dewasa. Saya melihat pada dialog Kumajas pada Ibunya “Lantas, aku meniru siapa? aku berasal dari kalian, kehidupan pertamaku dan mengukirkanku dengan jiwa kalian” (hal 25). Pembrontakan Kumajas adalah bentuk dari pengakuannya bahwa yang menjadikan dirinya begitu adalah masa kanaknya dan yang mengajarkan dirinya tidak bermoral dalah orang tuanya.
Nah, dari situ saya dapat menarik kesimpulan tentang teorinya Sigmund Freud tentang masa-masa dalam pertumbuhan yang berpengaruh dalam kepribadian seseorang. Hal senada juga diungkapkan oleh Supaat I. Lathief penulis buku sastra “Eksistensialisme-Mistisisme Religius” dalam komentarnya atas novel tersebut bahwa novel Kumala Pusaka Kasih berusaha membongkar abnormalitas sex dan kehidupan pribadi kumajas dengan teori Sigmund Freud.
Sebuah karya sastra memang realitas yang hidup. Dihidupi tokoh-tokoh yang bersuara dalam ceritanya. Bisa jadi hal tersebut adalah cermin kondisi yang diamati ataupun dialami penulis. Maka, teks sastra pun dapat dijadikan kajian untuk melihat fenomena-fenomena yang terjadi dalam arus budaya yang terjadi melingkupi penulis. Bisa jadi juga hasil dari perenungan-perenungan penulis yang memunculkan ide dan gagasan-gagasan baru serta memberi petunjuk bagi pembacanya atau bagi ilmuwan sastra ataupun non sastra. Karena ilmu itu holistik tidak parsial. seperti halnya Novel ini, bentuknya sastra yang merangkai fenomena psikologis.
Novel Kumala Pusaka Kasih yang di tulis oleh A. Rodhi Murtadho menarik untuk dibaca dan dijadikan pengayaan kajian psikologi serta maramaikan gerak sastra Indonesia khusunya novel.
Judul: Kumala Pusaka Kasih
Penulis: A. Rodhi Murtadho
Cetakan: I, Februari 2010
Hal : 12 X 19 cm 196 Hlm
Penerbit : PUstaka puJAngga
http://sastra-indonesia.com/
Pergerakan sastra di Lamongan cukuplah dinamis. Hal tersebut dapat kita lihat pada agenda-agenda sastra di Lamongan, walaupun menurut pengamatan saya masih belum masif. Tidak hanya agenda sastra, tetapi penerbitan buku menjadi media pembacaan atas dinamisnya sastra di Lamongan. Ada penerbit Pustaka Pujangga, Pustaka Ilalang, LA Rose. Baru-baru saja penerbit Pustaka Pujangga, Penerbit yang digawangi oleh penyair Nurel Javissyarqi menerbitkan buku-buku baru. Kebanyakan buku yang diterbitkan adalah buku sastra. Salah satunya adalah Novel Kumala Pusaka Kasih Karya A. Rodhi Murtadho, penulis yang karyanya sudah banyak terjilid dalam buku-buku kumpulan sastra.
Sehabis membaca Novel Kumala Pusaka Kasih tersebut ada beberapa hal yang mengelitik buat saya. Di antaranya alur cerita. Hal tersebut serupa yang diungkap oleh Bambang Kempling sastrawan Lamongan dalam komentarnya di caver belakang buku: “Imajinasi yang kuat bahkan terkadang nyasar ke dalam dunia jungkir balik dengan metafor-metafor yang dapat menjadikan pembaca terperangah….”. Dari kejutan-kejutan yang di hadirkan oleh penulis yang membuat alurnya berbolak-balik. Hal tersebut membuat rasa penasaran menguat. Bagaimana nasib para tokoh dalam kisah novel tersebut.
Selain alur cerita yang menjadi menarik dan dapat dijadikan kajian secara psikologis adalah nasib tokoh-tokoh dalam novel tersebut. Novel ini menceritakan bagaimana kepribadian yang bermuasal dari masa lalu hinggap dalam perjalanan masa-masa ke depan tokoh-tokohnya. Untuk memulai mengungkapnya hasil dari pembacaan, baiknya saya tulisankan puisi yang berjudul “Anak” karya Kahlil Gibran dalam bukunya Sang Nabi:
ANAK
Anak-mu bukan milikmu.
Mereka putera-puteri Sang Hidup
yang rindu pada diri sendiri.
Lewat engkau mereka lahir,
namun tidak dari engkau
Mereka ada padamu, tetapi bukan hakmu.
Berikan mereka kasih sayangmu,
tetapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah untuk raganya,
tetapi tidak untuk jiwanya.
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kaukunjungi, sekalipun dalam impian.
Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu.
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
pun tidak tenggelam di masa lampau.
Kau busur,
dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah maha tahu sasaran bidikan keabadian,
Dia merentangmu dengan kekuasaanNya,
hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.
Meliuklah dengan sukacita dalam rentangan tangan Sang Pemanah
Sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap.
Puisi di atas mengantarkan saya atas pemahaman dari masalah-masalah yang timbul dari konflik-konflik para tokoh. Bahwa ternyata masa kanak adalah masa yang menentukan bagaimana anak tersebut memiliki kepribadian diri di masa depanya. Dalam Novel Kumala Pusaka Kasih, mengisahkan seorang anak yang lahir dari keluarga harmonis pada awalnya tetapi selanjutnya menjadi berantakan. Ketika keharmonisan seorang Bapak dan Ibu tak dirasakannya lagi. Bapak selingkuh dengan sekertarisnya di perusahaan yang dipimpin. Ibu pun tak mau kalah membalas dengan perselingkuhan juga. Namanya anak kecil di ajak ke mana saja sama orang tuanya pasti akan menurut. Yang diinginkan adalah senang dan dapat mainan. Kumajas nama anak itu. Dengan segala ingatan masa lalu yang mempengaruhi kepribadiaannya. Hingga dia bertemu Eliza lalu bersetubuh dengannya. Tetapi tidak hanya bercinta dengan Eliza, Kumajas juga berhubungan badan dengan Hendry teman sekerjanya. Eliza ternyata punya masa lalu yang tidak indah. ketika kecil dia mendapat julukan nonok artinya kemaluan perempuan. Eliza ditinggal oleh bapaknya, sebab itu dia seakan tidak bisa memunculkan rasa hormat pada laki-laki. Dia ingin seperti Ibunya ketika melihat ibunya bercinta sama bapaknya ketika Bapaknya masih ada. Dan Eliza melihat Ibunya mengalahkan Bapaknya hingga tak berdaya.
Tak ubahnya Hendry juga memiliki masa kanak yang aneh. Dia mengidap kleptomani. Yakni mencuri untuk kesenangan meskipun barang yang dicurinya tidak ada guna bagi dirinya. Kedua orang tua Hendry membawa ke psikiater hingga dukun tapi tak ada kesembuhan. Malah paranormal yang hendak menyembuhkan memberikan nasehat, hanya orang tuanya sendiri yang mampu menyembuhkan penyakitnya
.
Masa kecil memberi bekas luka ketika hari telah beranjak dewasa. Saya melihat pada dialog Kumajas pada Ibunya “Lantas, aku meniru siapa? aku berasal dari kalian, kehidupan pertamaku dan mengukirkanku dengan jiwa kalian” (hal 25). Pembrontakan Kumajas adalah bentuk dari pengakuannya bahwa yang menjadikan dirinya begitu adalah masa kanaknya dan yang mengajarkan dirinya tidak bermoral dalah orang tuanya.
Nah, dari situ saya dapat menarik kesimpulan tentang teorinya Sigmund Freud tentang masa-masa dalam pertumbuhan yang berpengaruh dalam kepribadian seseorang. Hal senada juga diungkapkan oleh Supaat I. Lathief penulis buku sastra “Eksistensialisme-Mistisisme Religius” dalam komentarnya atas novel tersebut bahwa novel Kumala Pusaka Kasih berusaha membongkar abnormalitas sex dan kehidupan pribadi kumajas dengan teori Sigmund Freud.
Sebuah karya sastra memang realitas yang hidup. Dihidupi tokoh-tokoh yang bersuara dalam ceritanya. Bisa jadi hal tersebut adalah cermin kondisi yang diamati ataupun dialami penulis. Maka, teks sastra pun dapat dijadikan kajian untuk melihat fenomena-fenomena yang terjadi dalam arus budaya yang terjadi melingkupi penulis. Bisa jadi juga hasil dari perenungan-perenungan penulis yang memunculkan ide dan gagasan-gagasan baru serta memberi petunjuk bagi pembacanya atau bagi ilmuwan sastra ataupun non sastra. Karena ilmu itu holistik tidak parsial. seperti halnya Novel ini, bentuknya sastra yang merangkai fenomena psikologis.
Novel Kumala Pusaka Kasih yang di tulis oleh A. Rodhi Murtadho menarik untuk dibaca dan dijadikan pengayaan kajian psikologi serta maramaikan gerak sastra Indonesia khusunya novel.
Judul: Kumala Pusaka Kasih
Penulis: A. Rodhi Murtadho
Cetakan: I, Februari 2010
Hal : 12 X 19 cm 196 Hlm
Penerbit : PUstaka puJAngga
Senin, 06 Desember 2010
Membaca Catatan Aktivis; Membaca Sastra Perlawanan*
Denny Mizhar**
http://sastra-indonesia.com/
“Hanya ada satu kata: Lawan!”
Penggalan Sajak di atas mengingatkan saya pada sosok Wiji Thukul, seniman progresif yang hingga kini masih menjadi misteri di mana keberadaanya. Sajaknya yang berjudul “Tentang Gerakan” tersebut melegenda. Tidak hanya Thukul tapi ada 12 orang lainya yang hilang yakni Yani Afrie, Sony, Herman Hendrawan, DediHamdun, Noval Alkatiri, Ismail, Suyat, Petrus Bima Anugrah, Ucok MunandarSiahaan, Hendra Hambali, Yadin Muhidin, dan Abdun Nase (3 Desember 2008, Direktorat Informasi Dan Media). Tetapi di kalangan seniman atau sastrawan yang terkenal adalah Wiji Thukul karena telah banyak menciptakan puisi-puisi perlawanan. Inspirasi yang didapat dari pembacaan realitas di sekitarnya juga kondisi politik pada zamannya. Sikap kritis dan keikutsertaan pada organisasi yang menentang pemeritahan pada zaman orde baru membuat mereka hidup tidak nyaman, dikejar-kejar, disiksa hingga dihilangkan dengan paksa.
Persoalan penghilangan orang masih menjadi PR bagi bangsa Indonesia, sebab hingga kini kasus HAM, penghilangan orang masih belum menemui jawabannya, siapa dalang dan pelaku di balik penghilangan paksa tersebut. Bahkan seakan-akan dibiarkan mengambang. Dapat diamati pada kasus Munir aktivis HAM dari Kota Batu.
Berdekatan dengan Kota Munir. Tepat pada tanggal 24 September 1973 di Malang, Petrus Bima Anugrah lahir dari pasangan Misiati dan Dionyus Utomo Rahardjo. Bimped pangilan yang diberikannya oleh teman-temannya, memang tidak seterkenal Whiji Thukul dalam dunia sastra Indonesia. Tetapi jika kita melihat kehidupanya yang tak tampak teryata banyak juga tulisan-tulisannya yang “nyastra”. Bahkan sejak SMA Bimpet sudah menulis keresahan dan pandangan hidupnya. Hal tersebut terdapat pada kaos olaraga yang awalnya sama keluarganya dijadikan kain pembersih motor ternyata terdapat kata-kata yang puitis.
“Bapakku bilang jadilah anak baik, ibuku bilang jadilah anak saleh, kakakku bilang, lindungi teman-temanmu. Mungkin aku adalah satu di antara seribu anak negeri yang disusui oleh caci maki. Dibesarkan dalam kandang sapi, diasuh oleh mantri. Karena aku anak-anak zaman, zaman di mana hati nurani hanyalah robot tanpa gigi” (Dokumentasi Keluarga Bima)
Tulisan Bimpet tersebut adalah “nyastra”: ada diksi, metafora, dan nilai kemanusiaan atau upaya kritik terhadap kemanusiaan. Sastra mensyaratkan persoalan kehidupan kemanusiaan. Hal tersebut telah dilakukan oleh Bimped ketika masih duduk di SMA. Tentu tidak hanya di kaos olahraga yang berwarna biru itu saja tulisan-tulisannya dapat di lacak. Munkin saja dibuku-buku pelajan atau media-media lainya. Bimped juga menulis surat pada Ibunya semasa kepindahannya di Jakarta.
“Meskipun Bima enggak menjelaskan pun, ibu sudah tahu kalau Bima memang sayang sama ibu. Tidak biasa bagi adat Jawa kita mengungkapkan perasaan sayang itu kepada seseorang, lebih-lebih orang tuanya. Bagi adat Jawa, terbatas sekali. Rasa pekewuh, takut salah, lebih mendominasi ekspresi anak……Ada saatnya yang tepat untuk mengungkapkan perasaan sayang kepada seorang ibu. Mungkin, saat-saat seperti ini yang cocok bagi Bima untuk bilang sayang sama ibu. Hingga suatu saat yang lain pun demikian keadaanya.” (Dokumentasi Keluarga Bima)
Penggalan surat tersebut, memberi gambaran akan kritik terhadap budaya feodal. Tradisi yang harus selalu tunduk pada orang tua, atasan, pimpinan dan tidak boleh membantah walaupun orang tua , atasan, pimpinan tersebut salah. Hal tersebut pada zaman orde baru sangat lumrah dilakukan oleh para orang tua, atasan atau pimpinan. Sehingga ada jarak, hingga membuat daya kritis melemah. Kalaupun berani melawan, pasti dapat teguran atau peringatan bahwa apa yang dilakukannya adalah salah dan tidak etis. Tetapi Bimpet mengutarakan pada Ibunya lewat surat tersebut, keinginannya adalah mendekatkan jarak antara anak dan Ibu.
Kekritisan Bimped dan untuk menjalani hidup tidak biasapun diutarakan pada Ibunya. Bahwa Ia tidak ingin menjalani hidup yang linier: lahir, hidup dan mati. Bimped ingin hidupnya memiliki makna. Hal tersebut yang menjadikannya tidak seperti mahasiswa kebanyakan. Hanya kuliah dan pulang ke kost, tetapi Bimped ingin melakukan hal-hal yang penting. Diantaranya keaktifan pada oragnisasi SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia Untuk Demokrasi) dan PRD (Partai Rakyat Demokatik). Kesadaran Bimped untuk memperjuangkan demokarasi menyala-nyala di tengah-tengah bungkaman orde baru yang diktaktor yang akhirnya tumbang juga dengan menyisakan luka hingga kini belum sembuh.
Gambaran hidup yang akan ditempuh oleh Bimped dapat dilihat dalam penggalan surat berikut: “Bima enggak pengen jadi seperti kucing. Kucing itu dari lahir, bayi masih nyusu, belajar jalan, belajar cari makan, kemudian besar, kawin dan sesudah itu mati. Begitu terus. Manusia kan enggak cukup lahir, besar, kawin, dan mati begitu saja. Bima pengin lebih dari itu. Kebanyakan seorang anak diharapkan semenjak lahir, disusui, disekolahkan, kalo lulus diharapakan dapat kerja, hidup mapan, jadi orang baik-baik, kawin dan mati. Kalo hanya seperti itu saja, banyak contohnya. Dan itu sah-sah saja. Persoalannya, bagi Bima enggak cukup disitu saja persoalan hidup ini. Banyak yang jauh lebih penting,…” (Dokumnetsi Keluaga Bima)
Kebermaknaan untuk orang banyak, itulah yang dianggap Bimped banyak hal yang jauh lebih penting. Bimped tengah mengutarakan pada Ibunya “Bima pengen masa muda Bima betul-betul bermakna.” (Dokumentasi Keluaga Bima).
Bimped juga tidak hanya kritis, tetapi relegius. Kerelegiusannya dapat kita simak pada surat balasan yang ditujukan pada sobatnya yang ditulis ketika didalam penjara. Bimped mengingatkan pada kawannya bahwa kitab sucinya harus terus dibaca. Tentu Injil kitab sucinya karena agamanya adalah Kristen Katolik. “…Oh ya sobat ku, dari surat kau (yang panjang lebar itu) kemarin, ada satu hal yang cukup mengusik ketenangan dan mebuat aku merenung kembali (tentunya sebelum ketangkap) kata-kata kau dalam surat itu bikin aku selama 2 minggu cari refrensinya, ke sana ke mari cari-cari buku, baca dan berdiskusi dengan kawan-kawan dan masih juga belum ketemu, tapi suatu hari ketemu juga. Dimana? Di Injil sobatku, yang selama ini sering kita tinggalkan. Benar adanya, yang kamu tulis itu, sobatku. Bahwa kita melakukan tugas masing-masing karena kita MENCINTAI HIDUP!…” (AMIGOZ, Edisi 12/ Tahun IV/ September 1998). Kereligiusannya tampak juga pada puisi-puisi yang mengandung niali teologi pembebasan: Engkaulah Allah yang memihak orang melarat/ bukan pada orang yang gila harta Engkaulah Allah yang berdiri pada di sisi orang yang tertindas/ bukan pada orang yang gila kuasa/ Engkaulah Allah yang berbelas kasih pada orang yang hina/bukan pada orang yang gila hormat (Bapa Kami Yang Ada di Surga).
Pada peringatan kelahiran Bimped semoga menjadi momen mengenang pemuda-pemuda yang idealis dan semangat perlawanannya tak pernah padam hingga membawa perubahan pada bangsa. Maka patut kita kenang dalam sejarah bangsa Indonesia bukan malahan dihapus. Tidak hanya gerakan dan perlawanan patut dikenang. Tetapi cacatan-catatannya perlu dikaji kembali sebagai upaya pembacaan sastra perlawanan, sastra yang memihak, atau sastra pembebasan yang selalu memberikan inspirasi dan memberi daya dorong untuk bersikap kritis serta mengungkap realiatas yang tidak berpihak pada kemanusiaan. Semoga Bimped dan juga kawan-kawannya tenang dan bahagia di manapun berada, kasih Tuhan bersamanya.
*Tulisan ini di buat saat menjelang acara pelangi sastra malang [on stage] #4 dalam rangka memperingati ulang tahun Bimped.
**Pegiat Pelangi Sastra Malang
Malang, 24 September 2010
http://sastra-indonesia.com/
“Hanya ada satu kata: Lawan!”
Penggalan Sajak di atas mengingatkan saya pada sosok Wiji Thukul, seniman progresif yang hingga kini masih menjadi misteri di mana keberadaanya. Sajaknya yang berjudul “Tentang Gerakan” tersebut melegenda. Tidak hanya Thukul tapi ada 12 orang lainya yang hilang yakni Yani Afrie, Sony, Herman Hendrawan, DediHamdun, Noval Alkatiri, Ismail, Suyat, Petrus Bima Anugrah, Ucok MunandarSiahaan, Hendra Hambali, Yadin Muhidin, dan Abdun Nase (3 Desember 2008, Direktorat Informasi Dan Media). Tetapi di kalangan seniman atau sastrawan yang terkenal adalah Wiji Thukul karena telah banyak menciptakan puisi-puisi perlawanan. Inspirasi yang didapat dari pembacaan realitas di sekitarnya juga kondisi politik pada zamannya. Sikap kritis dan keikutsertaan pada organisasi yang menentang pemeritahan pada zaman orde baru membuat mereka hidup tidak nyaman, dikejar-kejar, disiksa hingga dihilangkan dengan paksa.
Persoalan penghilangan orang masih menjadi PR bagi bangsa Indonesia, sebab hingga kini kasus HAM, penghilangan orang masih belum menemui jawabannya, siapa dalang dan pelaku di balik penghilangan paksa tersebut. Bahkan seakan-akan dibiarkan mengambang. Dapat diamati pada kasus Munir aktivis HAM dari Kota Batu.
Berdekatan dengan Kota Munir. Tepat pada tanggal 24 September 1973 di Malang, Petrus Bima Anugrah lahir dari pasangan Misiati dan Dionyus Utomo Rahardjo. Bimped pangilan yang diberikannya oleh teman-temannya, memang tidak seterkenal Whiji Thukul dalam dunia sastra Indonesia. Tetapi jika kita melihat kehidupanya yang tak tampak teryata banyak juga tulisan-tulisannya yang “nyastra”. Bahkan sejak SMA Bimpet sudah menulis keresahan dan pandangan hidupnya. Hal tersebut terdapat pada kaos olaraga yang awalnya sama keluarganya dijadikan kain pembersih motor ternyata terdapat kata-kata yang puitis.
“Bapakku bilang jadilah anak baik, ibuku bilang jadilah anak saleh, kakakku bilang, lindungi teman-temanmu. Mungkin aku adalah satu di antara seribu anak negeri yang disusui oleh caci maki. Dibesarkan dalam kandang sapi, diasuh oleh mantri. Karena aku anak-anak zaman, zaman di mana hati nurani hanyalah robot tanpa gigi” (Dokumentasi Keluarga Bima)
Tulisan Bimpet tersebut adalah “nyastra”: ada diksi, metafora, dan nilai kemanusiaan atau upaya kritik terhadap kemanusiaan. Sastra mensyaratkan persoalan kehidupan kemanusiaan. Hal tersebut telah dilakukan oleh Bimped ketika masih duduk di SMA. Tentu tidak hanya di kaos olahraga yang berwarna biru itu saja tulisan-tulisannya dapat di lacak. Munkin saja dibuku-buku pelajan atau media-media lainya. Bimped juga menulis surat pada Ibunya semasa kepindahannya di Jakarta.
“Meskipun Bima enggak menjelaskan pun, ibu sudah tahu kalau Bima memang sayang sama ibu. Tidak biasa bagi adat Jawa kita mengungkapkan perasaan sayang itu kepada seseorang, lebih-lebih orang tuanya. Bagi adat Jawa, terbatas sekali. Rasa pekewuh, takut salah, lebih mendominasi ekspresi anak……Ada saatnya yang tepat untuk mengungkapkan perasaan sayang kepada seorang ibu. Mungkin, saat-saat seperti ini yang cocok bagi Bima untuk bilang sayang sama ibu. Hingga suatu saat yang lain pun demikian keadaanya.” (Dokumentasi Keluarga Bima)
Penggalan surat tersebut, memberi gambaran akan kritik terhadap budaya feodal. Tradisi yang harus selalu tunduk pada orang tua, atasan, pimpinan dan tidak boleh membantah walaupun orang tua , atasan, pimpinan tersebut salah. Hal tersebut pada zaman orde baru sangat lumrah dilakukan oleh para orang tua, atasan atau pimpinan. Sehingga ada jarak, hingga membuat daya kritis melemah. Kalaupun berani melawan, pasti dapat teguran atau peringatan bahwa apa yang dilakukannya adalah salah dan tidak etis. Tetapi Bimpet mengutarakan pada Ibunya lewat surat tersebut, keinginannya adalah mendekatkan jarak antara anak dan Ibu.
Kekritisan Bimped dan untuk menjalani hidup tidak biasapun diutarakan pada Ibunya. Bahwa Ia tidak ingin menjalani hidup yang linier: lahir, hidup dan mati. Bimped ingin hidupnya memiliki makna. Hal tersebut yang menjadikannya tidak seperti mahasiswa kebanyakan. Hanya kuliah dan pulang ke kost, tetapi Bimped ingin melakukan hal-hal yang penting. Diantaranya keaktifan pada oragnisasi SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia Untuk Demokrasi) dan PRD (Partai Rakyat Demokatik). Kesadaran Bimped untuk memperjuangkan demokarasi menyala-nyala di tengah-tengah bungkaman orde baru yang diktaktor yang akhirnya tumbang juga dengan menyisakan luka hingga kini belum sembuh.
Gambaran hidup yang akan ditempuh oleh Bimped dapat dilihat dalam penggalan surat berikut: “Bima enggak pengen jadi seperti kucing. Kucing itu dari lahir, bayi masih nyusu, belajar jalan, belajar cari makan, kemudian besar, kawin dan sesudah itu mati. Begitu terus. Manusia kan enggak cukup lahir, besar, kawin, dan mati begitu saja. Bima pengin lebih dari itu. Kebanyakan seorang anak diharapkan semenjak lahir, disusui, disekolahkan, kalo lulus diharapakan dapat kerja, hidup mapan, jadi orang baik-baik, kawin dan mati. Kalo hanya seperti itu saja, banyak contohnya. Dan itu sah-sah saja. Persoalannya, bagi Bima enggak cukup disitu saja persoalan hidup ini. Banyak yang jauh lebih penting,…” (Dokumnetsi Keluaga Bima)
Kebermaknaan untuk orang banyak, itulah yang dianggap Bimped banyak hal yang jauh lebih penting. Bimped tengah mengutarakan pada Ibunya “Bima pengen masa muda Bima betul-betul bermakna.” (Dokumentasi Keluaga Bima).
Bimped juga tidak hanya kritis, tetapi relegius. Kerelegiusannya dapat kita simak pada surat balasan yang ditujukan pada sobatnya yang ditulis ketika didalam penjara. Bimped mengingatkan pada kawannya bahwa kitab sucinya harus terus dibaca. Tentu Injil kitab sucinya karena agamanya adalah Kristen Katolik. “…Oh ya sobat ku, dari surat kau (yang panjang lebar itu) kemarin, ada satu hal yang cukup mengusik ketenangan dan mebuat aku merenung kembali (tentunya sebelum ketangkap) kata-kata kau dalam surat itu bikin aku selama 2 minggu cari refrensinya, ke sana ke mari cari-cari buku, baca dan berdiskusi dengan kawan-kawan dan masih juga belum ketemu, tapi suatu hari ketemu juga. Dimana? Di Injil sobatku, yang selama ini sering kita tinggalkan. Benar adanya, yang kamu tulis itu, sobatku. Bahwa kita melakukan tugas masing-masing karena kita MENCINTAI HIDUP!…” (AMIGOZ, Edisi 12/ Tahun IV/ September 1998). Kereligiusannya tampak juga pada puisi-puisi yang mengandung niali teologi pembebasan: Engkaulah Allah yang memihak orang melarat/ bukan pada orang yang gila harta Engkaulah Allah yang berdiri pada di sisi orang yang tertindas/ bukan pada orang yang gila kuasa/ Engkaulah Allah yang berbelas kasih pada orang yang hina/bukan pada orang yang gila hormat (Bapa Kami Yang Ada di Surga).
Pada peringatan kelahiran Bimped semoga menjadi momen mengenang pemuda-pemuda yang idealis dan semangat perlawanannya tak pernah padam hingga membawa perubahan pada bangsa. Maka patut kita kenang dalam sejarah bangsa Indonesia bukan malahan dihapus. Tidak hanya gerakan dan perlawanan patut dikenang. Tetapi cacatan-catatannya perlu dikaji kembali sebagai upaya pembacaan sastra perlawanan, sastra yang memihak, atau sastra pembebasan yang selalu memberikan inspirasi dan memberi daya dorong untuk bersikap kritis serta mengungkap realiatas yang tidak berpihak pada kemanusiaan. Semoga Bimped dan juga kawan-kawannya tenang dan bahagia di manapun berada, kasih Tuhan bersamanya.
*Tulisan ini di buat saat menjelang acara pelangi sastra malang [on stage] #4 dalam rangka memperingati ulang tahun Bimped.
**Pegiat Pelangi Sastra Malang
Malang, 24 September 2010
Senin, 08 November 2010
Sajak Di Bawah Bayang-Bayang Rezim Tiran
Judul Buku : 50% Indonesia Merdeka; kumpulan puisi Heri Latief
Penulis : Heri Latief
Penerbit : Ultimus dan Lembaga Sastra Pembebasan
Terbitan I : Agustus 2008
Tebal Buku : xxii + 86
Peresensi : Denny Mizhar
http://www.sastra-indonesia.com/
Latar belakang penindasan rezim tiran yang tak kunjung padam di bangsa Indonesia. Kesewenang-wenangan penguasa terhadap rakyat, kapitalime tak surut-surut mengeksploitasi sumber daya-sumber daya bumi pertiwi akhirnya membuat rakyat tak berdaya, serta masih banyak lagi problematika yang sedang diderita bangsa Indonesia. Dari persoalan-persoalan tersebut kesadaran Heri Latief terpicu untuk menuangkan suara berontaknya dalam sajak-sajak yang terhimpun dalam buku 50% Merdeka, diterbitkan oleh Ultimus Bandung, Agustus 2008. Suara-suara perih yang dirasakan anak bangsa yang sebagian terwakilkan oleh Heri Latief, nampak jelas sekali dalam sajak-sajak yang ditulisnya.
Hal tersebut mengingatkan saya pada penyair Wiji Thukul yang sampai saat ini masih tidak diketahui keberadaanya. Akibat pergolakan dan perlawan rezim orde baru hingga tumbang yang melahirkan orde reformasi. Wiji Thukul hilang bersama 12 aktivis pro demokrasi lainnya saat itu. Sajak yang masih mengema sampai sekarang yang ditulis oleh wiji Thukul “hanya ada satu kata: Lawan!”. Perlawanan terhadap penindasan tidak akan pernah padam dari orang-orang yang memiliki kesadaran politik kritis. Bahwa ada penindasan yang dilakukan oleh penguasa dengan sewenang-wenang, entah itu penuasa politik, penguasa modal, penguasa wacana, penguasa agama.
Dalam pengantar buku 50 % Merdeka tersebut Eep Saefulloh Fatah mengatakan, bahwa banyak kegagalan orang dalam mengenal Heri Latief karena hanya sekedar menimbang gaya penulisan sajaknya tetapi alpa dalam membaca pesan-pesan tegas yang disampaikannya. Selain itu Eep juga mengutarakan perihal kepenyairan Heri Latief adalah penyair yang memihak hal tersebut didapatkan dari pembacaan atas sikap Heri Latief yang menegaskan pemihakan. Senada dengan Asahan Aidit seorang filolog dalam pengantar setelah Eep mengatakan, puisi-puisi Heri Latief adalah puisi hujatan, dakwaan, gugatan terhadap musuh-musuh rakyat. Yakni yang mebuat rakyat terhimpit, terbodohi, tertindas, akhirnya rakyat tak berdaya. Itulah yang dibela dalam sajak Heri Latief. Mari kita lihat, sebuah ajakan untuk menaikan kesadaran perlawan dalam sajak Heri Latief yang berjudul 50% Merdeka: ….. sedang di bawah banyak urusan penting/korban bencana alam mengigil kedinginan/rakyat perlu kepastian hukum dan keadilan/bukan pameran dukungan terhadap bekas tiran//ayo! mari kita bersama/menganyang keraguan/kita belum merdeka 100% bung!//sirajatega masih berkuasa/maka derita itu dobel bencana (hal.18)
Sangat nampak sekali dengan tegas tanpa mengunakan metafor bahwa sajak di atas mengajak untuk bersikap, karena kemerdekaan belum sepenuhnya didapat atau istilahnya, masih ada penjajahan walaupun di suasana kemerdekaan. Penjajahan itu bukan seperti jaman kolonialisme dahulu, penjahan dilakukan oleh anak bangsa sendiri pada rakyatnya. Penjajah tersebut diwakili oleh penguasa, dapat ditelisik pada ketidak pedulian penguasa pada penderitaan rakyat dengan politiknya tanpa nilai. Padahal sejatinya politik itu adalah mulia untuk mencapai kekuasaan dan kekuasaan untuk mensejahterahkan rakyat kata sosiolog klasik Ibnu Khaldun.
Hari Latif dalam sajak-sajaknya mengajak kita untuk sadar sejarah, bahwa ada kekelaman sejarah di bangsa Indonesia yakni peristiwa G3OS, dapat kita lihat dalam sajak yang berjudul 42 Tahun G30S: …. sejarah kita adalah penindasan/sekalipun dalam ruang mimpi/bermuara pada satu nama/:G30S//adalah kode buat jutaan korban/yang ditindas sampai hari ini/harga nyawa orang indonesia/murah meriah seperti obral besar! (hal.27). Kealpaan pada peristiwa yang menelan jutaan anak bangsa seakan tengelam begitu saja. Seperti kasus-kasus pelanggaran ham yang sampai kini hanya menjadi slogan penguasa dan tak pernah tuntas terjawab. Kasus tanjung priok, penghilangan orang, semanggi, pembunuhan munir, lumpur lapindo, dan lainnya masih memutar-mutar dalam benak luka bangsa Indonesia.
Selain itu, neoliberalisme juga memenjarahkan bangsa ini. Dengan agen-agennya hingga kita seakan mengiyakan satu sistem ekonomi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai bangsa Indonesia. Agen neoliberalismen salah satunya adalah IMF dan Bank Dunia, dalam hal ini juga menjadi persoalan yang di tulis oleh Heri Latif dalam sajaknya yang berjudul Pameran Penindasan: teruslah menetek pada IMF-bank dunia/jangan berzikir atas nama kemiskinan/ jadilah pengemis bermentalitas budak/jagoan ilmu korupsi kampiun dunia tipsani//tak pernah berani mencoba ilmu berdikari/riwayatmu tak seindah zamrud katulistiwa/hancur-lebur dirajah gerombolan maling berdasi (hal.49). Dalam sajak ini mengisyaratkan apa yang pernah dikatakan di ungkap oleh Revrisond Baswir, tentang Mafia Berkeley yakni pejabat atau pemikir yang memihak pada ekonomi neoliberal bukan pada ekonomi kerakyatan. Hingga rakyat menjadi kehilangan keberdayaannya, padahal memberdayakan rakyat untuk mengambil hak-haknya dan berekonomi adalah harus dilakukan oleh pemerintah bukan sebaliknya membela orang asing dan menghisap rakyat kecil.
Itulah suara-suara kritis sajak Heri Latif, tetapi menurut saya ada perbedaan dengan sajak-sajak Wiji Thukul yang kritis. Perbedaannya terletak pada keterlibatan secara langsung dengan rakyat. Saya hanya mengamati pada riwayat biografi Heri Latif dan biografi Whiji Thukul. Jika Wiji Thukul terlibat pada pergolakan 1998, tetapi itu tak nampak pada keterlibatan Hari Latief. Nampaknya Heri Latief ketika menulis sajak, diungkap dari daya bayang dan empati pada rakyat tertindas, sedangkan Wiji Thukul terlibat dan merasakan penindasan itu sendiri hingga dia melawannya dan hilang. Hal tersebut saya telisik dari sajak yang dibuatnya kebanyakn di Belanda tempatnya berada kini. Tetapi bukan soal antara terlibat atau tidak yang menjadi soal adalah pesan atas kesadaran kritis melihat persoalan bangsa ini menjadi lebih penting. Melawan segala penindasan hingga manusia-manusia Indonesia menjadi bebas dan menikmati kemerdekaan 100%.
Penulis : Heri Latief
Penerbit : Ultimus dan Lembaga Sastra Pembebasan
Terbitan I : Agustus 2008
Tebal Buku : xxii + 86
Peresensi : Denny Mizhar
http://www.sastra-indonesia.com/
Latar belakang penindasan rezim tiran yang tak kunjung padam di bangsa Indonesia. Kesewenang-wenangan penguasa terhadap rakyat, kapitalime tak surut-surut mengeksploitasi sumber daya-sumber daya bumi pertiwi akhirnya membuat rakyat tak berdaya, serta masih banyak lagi problematika yang sedang diderita bangsa Indonesia. Dari persoalan-persoalan tersebut kesadaran Heri Latief terpicu untuk menuangkan suara berontaknya dalam sajak-sajak yang terhimpun dalam buku 50% Merdeka, diterbitkan oleh Ultimus Bandung, Agustus 2008. Suara-suara perih yang dirasakan anak bangsa yang sebagian terwakilkan oleh Heri Latief, nampak jelas sekali dalam sajak-sajak yang ditulisnya.
Hal tersebut mengingatkan saya pada penyair Wiji Thukul yang sampai saat ini masih tidak diketahui keberadaanya. Akibat pergolakan dan perlawan rezim orde baru hingga tumbang yang melahirkan orde reformasi. Wiji Thukul hilang bersama 12 aktivis pro demokrasi lainnya saat itu. Sajak yang masih mengema sampai sekarang yang ditulis oleh wiji Thukul “hanya ada satu kata: Lawan!”. Perlawanan terhadap penindasan tidak akan pernah padam dari orang-orang yang memiliki kesadaran politik kritis. Bahwa ada penindasan yang dilakukan oleh penguasa dengan sewenang-wenang, entah itu penuasa politik, penguasa modal, penguasa wacana, penguasa agama.
Dalam pengantar buku 50 % Merdeka tersebut Eep Saefulloh Fatah mengatakan, bahwa banyak kegagalan orang dalam mengenal Heri Latief karena hanya sekedar menimbang gaya penulisan sajaknya tetapi alpa dalam membaca pesan-pesan tegas yang disampaikannya. Selain itu Eep juga mengutarakan perihal kepenyairan Heri Latief adalah penyair yang memihak hal tersebut didapatkan dari pembacaan atas sikap Heri Latief yang menegaskan pemihakan. Senada dengan Asahan Aidit seorang filolog dalam pengantar setelah Eep mengatakan, puisi-puisi Heri Latief adalah puisi hujatan, dakwaan, gugatan terhadap musuh-musuh rakyat. Yakni yang mebuat rakyat terhimpit, terbodohi, tertindas, akhirnya rakyat tak berdaya. Itulah yang dibela dalam sajak Heri Latief. Mari kita lihat, sebuah ajakan untuk menaikan kesadaran perlawan dalam sajak Heri Latief yang berjudul 50% Merdeka: ….. sedang di bawah banyak urusan penting/korban bencana alam mengigil kedinginan/rakyat perlu kepastian hukum dan keadilan/bukan pameran dukungan terhadap bekas tiran//ayo! mari kita bersama/menganyang keraguan/kita belum merdeka 100% bung!//sirajatega masih berkuasa/maka derita itu dobel bencana (hal.18)
Sangat nampak sekali dengan tegas tanpa mengunakan metafor bahwa sajak di atas mengajak untuk bersikap, karena kemerdekaan belum sepenuhnya didapat atau istilahnya, masih ada penjajahan walaupun di suasana kemerdekaan. Penjajahan itu bukan seperti jaman kolonialisme dahulu, penjahan dilakukan oleh anak bangsa sendiri pada rakyatnya. Penjajah tersebut diwakili oleh penguasa, dapat ditelisik pada ketidak pedulian penguasa pada penderitaan rakyat dengan politiknya tanpa nilai. Padahal sejatinya politik itu adalah mulia untuk mencapai kekuasaan dan kekuasaan untuk mensejahterahkan rakyat kata sosiolog klasik Ibnu Khaldun.
Hari Latif dalam sajak-sajaknya mengajak kita untuk sadar sejarah, bahwa ada kekelaman sejarah di bangsa Indonesia yakni peristiwa G3OS, dapat kita lihat dalam sajak yang berjudul 42 Tahun G30S: …. sejarah kita adalah penindasan/sekalipun dalam ruang mimpi/bermuara pada satu nama/:G30S//adalah kode buat jutaan korban/yang ditindas sampai hari ini/harga nyawa orang indonesia/murah meriah seperti obral besar! (hal.27). Kealpaan pada peristiwa yang menelan jutaan anak bangsa seakan tengelam begitu saja. Seperti kasus-kasus pelanggaran ham yang sampai kini hanya menjadi slogan penguasa dan tak pernah tuntas terjawab. Kasus tanjung priok, penghilangan orang, semanggi, pembunuhan munir, lumpur lapindo, dan lainnya masih memutar-mutar dalam benak luka bangsa Indonesia.
Selain itu, neoliberalisme juga memenjarahkan bangsa ini. Dengan agen-agennya hingga kita seakan mengiyakan satu sistem ekonomi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai bangsa Indonesia. Agen neoliberalismen salah satunya adalah IMF dan Bank Dunia, dalam hal ini juga menjadi persoalan yang di tulis oleh Heri Latif dalam sajaknya yang berjudul Pameran Penindasan: teruslah menetek pada IMF-bank dunia/jangan berzikir atas nama kemiskinan/ jadilah pengemis bermentalitas budak/jagoan ilmu korupsi kampiun dunia tipsani//tak pernah berani mencoba ilmu berdikari/riwayatmu tak seindah zamrud katulistiwa/hancur-lebur dirajah gerombolan maling berdasi (hal.49). Dalam sajak ini mengisyaratkan apa yang pernah dikatakan di ungkap oleh Revrisond Baswir, tentang Mafia Berkeley yakni pejabat atau pemikir yang memihak pada ekonomi neoliberal bukan pada ekonomi kerakyatan. Hingga rakyat menjadi kehilangan keberdayaannya, padahal memberdayakan rakyat untuk mengambil hak-haknya dan berekonomi adalah harus dilakukan oleh pemerintah bukan sebaliknya membela orang asing dan menghisap rakyat kecil.
Itulah suara-suara kritis sajak Heri Latif, tetapi menurut saya ada perbedaan dengan sajak-sajak Wiji Thukul yang kritis. Perbedaannya terletak pada keterlibatan secara langsung dengan rakyat. Saya hanya mengamati pada riwayat biografi Heri Latif dan biografi Whiji Thukul. Jika Wiji Thukul terlibat pada pergolakan 1998, tetapi itu tak nampak pada keterlibatan Hari Latief. Nampaknya Heri Latief ketika menulis sajak, diungkap dari daya bayang dan empati pada rakyat tertindas, sedangkan Wiji Thukul terlibat dan merasakan penindasan itu sendiri hingga dia melawannya dan hilang. Hal tersebut saya telisik dari sajak yang dibuatnya kebanyakn di Belanda tempatnya berada kini. Tetapi bukan soal antara terlibat atau tidak yang menjadi soal adalah pesan atas kesadaran kritis melihat persoalan bangsa ini menjadi lebih penting. Melawan segala penindasan hingga manusia-manusia Indonesia menjadi bebas dan menikmati kemerdekaan 100%.
Jumat, 25 Juni 2010
ORASI TERAKHIR
Denny Mizhar
http://www.sastra-indonesia.com/
Di suatu kota tinggal keluarga yang kata orang taat beragama. Mereka hidup tentram dan damai, mereka sekeluarga baik dan sopan pada tetangga. Bahkan para tetangga sering minta bantuan kepada mereka. Pemimpin keluarga tersebut sangat berpengaruh Pak Umar sebut banyak orang dan isterinya bernama Aisyah. Mereka berdua memiliki putra yang dikasih nama Yudi. Dia masih sekolah SMU didekat rumahnya. Yudi anak yang pandai karena dia selalu belajar kepada Ayahnya tentang agama dan banyak hal tentang kehidupan.
Suatu hari pak Umar menjadi pembicara pengkajian bulanan di daerah sekitar rumahnya. Sudah kebiasanya, menjadi penceramah disuatu pengajian keagamaan. Memang dia salah satu kyai yang disegani. Pak Umar berangkat dengan mengajak Yudi. Tiba saat Pak Umar mengisi pengajian, di dalam pidatonya Dia bilang “Melihat kondisi bangsa kita saat ini, kita harus banyak interopeksi diri, dan pemerintah harus segerah memberantas korupsi. Agar bangsa kita menjadi bangsa yang diridlohi Allah Swt. Dan bangsa kita menjadi makmur”. Para pendengar menganggukkan kepala tandanya setuju dengan apa yang diucapkan Pak Umar. Dua jam berlalu, banyak sudah yang ducapkan oleh Pak Umar kepada peserta pengajian dan akhirnya mereka berdua pulang kerumah.
Seorang anak biasanya meniru kebiasaanya orang tuanya, sama halnya dengan Yudi selalu menjadi pelopor pada acara diskusi soal agama di sekolahnya, sehingga Dia dapat julukan “Ustad” dari teman-temannya. Dia sangat disukai sama teman-temannya, tak jarang temanya minta tolong sama Dia untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan soal agama dengan jawaban yang bisa diterimaolehakal.
Waktu terus melaju hingga yudi harus mengakhiri masa SMU-nya dan beralih keperguruan tinggi. Dari awal dia punya rencana masuk jalur khusus, untuk masuk di perguruan tinggi yang masih satu daerah dengan dia, tapi memilki jarak yang sangat jauh. Dan dia harus meninggalkan rumah untuk kost. Yudi mulai mengurus segalanya sendirian tanpa ditemani oleh keluarganya hingga semuanya selesai dan tinggal melaksanakan perkuliahan.
Awal kuliah, yudi sangat gembira sekali kerena mendapatkan teman yang baru dan lain seperti di SMU dulu. Di dalam kelas Dia disukai oleh teman-temannya seperti dulu di SMU-nya. Bahkan sering dimintai tolong mengajari teman-temanya dalam hal mata kuliah. Memang yudi orangnya pandai dan cerdas.
Sudah sebulan Yudi kuliah, ada sedikit janggal yang dirasakannya, Dia terus berfikir.
“Oh ya, aku belum menemukan forum diskusi”.
Biasa dari SMU memang suka diskusi apalagi soal Agama. Malam tak bisa tidur, terus berfikir dimana ada kominitas diskusi “Besok habis kuliah aku harus jalan-jalan keliling kampus dulu dan tidak boleh langsung pulang”.
Pagi sudah tiba kebetulan hari itu Cuma satu mata kuliah dan sudah tidak ada tugas, jadi rencanya bisa dijalankan. Habis kuliah dia jalan-jalan keliling kampus. Tepat didepannya agak ke kiri Yudi melihat orang bergerombol
“Sepertinya orang diskusi” dalam hatinya.
Lalu dihampirinya “Lagi diskusi ya, boleh saya bergabung”. Lalu Yudi berkenalan satu satu,
“Anton, Mira, Ahmad, Ridwan, Aisyah”.
Diskusinya berlanjut lagi, menjadi tambah banyak permasalahn dengan datangnya Yudi, hingga waktu tidak bersahabat sama mereka. “ Sudah soreh” ujar Mira, “Ya, dilanjutkan nanti malam saja” Ridwan menyahut.
“Dimana?“Yudi bertanya kemereka, serempak menjawab “ Di sekret”, “Memang kalian punya?” Tanya yudi. Ahmad menjawab dan memberi alamat ke yudi, lalu pulang bersama-sama tiba sampai depan kampus mereka berpisah.
***
Yudi lansung pulang ke kost, menaruh tasnya di kamarnya dan lansung masuk kamar mandi untuk membersihkan badan. Seusai mandi Yudi mengabil buku yang dia punya, “Walaupun sedikit usang masih bisa dibaca dan tidak ketinggalan wacananya” ujar dalam hatinya. Lembar demi lembar dibukanya tak terasa adzan mahrib tiba. Sajadahnya dibentangkan dan langsung melaksanakan sholat tanpa ambil wudlu lagi, karena belum batal dari wudlu sholat ashar. Selesai sholat magrib, Yudi lansung pergi ke sekret teman-temannya tadi
“ Halloo kawan….!” Sapa Ahmad ke Yudi,
“Mana teman-teman yang lain?” Yudi menyahuti.
“Lagi makan sebentar lagi datang, itu mereka” jawab Ahmad.
Mereka diskusi lagi dan kali ini yudi agak kebinggungan karena banyak teori-teori baru yang muncul.
“Kawan aku tidak yambung” Yudi merasa binggung,
“Dengarkan aja dulu Yud nanti kamu nyambung sendiri”. Dan akhirnya mereka semua menyelesaikan diskusinya dengan banyak sekali pertanyaan bagi Yudi.
Besok paginya Yudi ketemu Ahmad
“Mau kemana, Mad?”
“Mau ke toko buku, kamu mau iku?”.
Dengan senang Yudi mengikuti Ahmad ke toko buku. Hingga sore tiba mereka pulang dengan membawa buku barunya yang tak sabar untuk dibaca.
Hari demi hari berlalu, Yudi senang mendapatkan komunitas yang baru, karena kemarin mengikuti pengkaderan sebagai syarat masuk dan menjadi anggota resmi di komunitas barunya. Hingga tak sadar dia nggak perna pulang kerumah orang tuanya hanya telfon dan kalau butuh uang minta transfer, walaupun satu kota tapi jaraknya jauh. Yudi, semua aktivis bertanya-tanya mana orangnya. Memang yudi pandai dan selalu konsisten dengan perjuangannya bahkan hampir tiap minggu tulisannya masuk di koran lokal, regional bahkan nasional juga masuk. Dengan ketelatenan dan kerajinannya membaca buku serta diskusi, menjadikan dia dikagumi oleh teman-temannya. Bahkan oleh para aktivis dari organisani kemasiswaan yang ada di kota tempat Yudi Kuliah.
***
Di rumah Yudi tinggal, Ayah dan Ibunya kangen sekali pada Yudi. Pak umar semakin terkenal dengan keahlian dan keapandaianya bercerama dihadapan publik. Hingga suatu hari ada rekanan dari politisi datang kerumahnya. Mereka memberi tawaran pada Pak Umar untuk bergabung di partainya dan langsung ditawari menjadi caleg. Tanpa berpiker panjang pak umar menyetujui. Karena itu yang menjadi keingginannya dibalik kepawaianya dan kepandaianya soal agama. Dalam hati berujar “Kesempatan untuk memasuki sistem dan merubah dari dalam prilaku politisi yang amoral”. Dan juga partai yang menawari pak Umar partai terbesar di Kotanya.
***
Masa libur kuliah telah tiba, Yudi pulang kerumah. Karena rasa kangennya terhadap kedua orang tua nya Ia cepat-cepat lari masuk kerumah, begitu di dalam rumah pak Umar dan istrinya menyambut kedatangan yudi. “ Yah, aku di rumah tidak lama, di kampus banyak kegiatan dan aku dibutuhkan sama teman-teman” bilang ke Ayahnya sambil memasuki kamarnya dan langsung merebahkan diri karena kecapean. Dua hari Yudi dirumah dan sudah waktunya kembali ke kampus.
Seminggu berlalu yudi dari rumah, di dalam organisasinya lagi sibuk menyiapkan aksi untuk mengontrol pemilu yang akan berlangsung. Sampai saat itu Yudi belum tahu kalau Ayahnya jadi Caleg dari partai terbesar di kotanya. Aktivis partai tersebut banyak melakukan dosa sosial.
Tiba di hari kampanye dengan kaget dan tersentak Yudi melihat Koran dengan Foto Ayahnya terpampam disana, dengan tulisan Caleg Jadi dari partai Pohon Kates. Saat itu juga Yudi telfon kerumah untuk memastikan tentang kebenaran apa yang barusan dilihat di koran. Dan yang menerima telfon adalah Ibunya, teryata benar itu adalah Ayahnya.
Sebulan selesai pemilahan umum yang diadakan di kotanya Ayah Yudi masuk di dewan dan jadi ketua dewan di darehanya.
***
“Bagaimana Yud, kamu masih meneruskan perjuangmu untuk melawan penindasan, walaupun kamu melawan Ayahmu sendiri” Kawan-kawan meyakinkan Yudi lagi “Setiap penindasan harus kita lawan, Ayahku sudah melakukan perselingkuhan terhadap politisi dan ini harus ditentang agar Agama tidak dijadikan komoditas politik dan membodohi rakyak”. Ujar Yudi dengan nada keras.
***
Yudi pulang kerumah pada hari libur Ayahnya, karena Dia ingin bertemu dengan Ayahnya. Sampai dirumah Dia bicara pada Ayahnya
“Yah, kenapa semua Ayah lakukan, untuk apa? Untuk Yudi, Yudi tidak butuh itu semua”
“Bukan begitu maksud Ayah, Kita harus berterima kasih pada partai Kates”,
“Apa yang perlu diterimasihkan, semua itu menjebak Ayah dengan massa yang Ayah miliki”
“Ayah sadar semua itu”
“Pokoknya Ayah harus Mengundurkan diri dan kembali lagi ke profesi Ayah sebagai pencerah Umat, kalau tidak mau Ayah berlawan dengan Yudi”
Yudi langsung berpamitan ke Ibunya untuk balik ke kampusnya.
***
Di kampus kawan Yudi menyiapkan Aksi untuk penolakan kebijakan pemerintah daerah yang tidak menguntungkan Rakyat. Dan semua itu Ayah Yudi terlibat dalam pengesahan Undang Undang yang dibuat untuk melegitimasi penindasan.
“Yud, besok kita aksi kamu jadi korlapnya kita aliansi dengan Organ Prodem yang lain”
Kawan-kawan yudi menginformasikan kepadaYudi
“Siap“ jawab Yudi.
Malam hari mempersiapkan perangkat-perangkatnya. Pagi hari Aksi dimulai, yudi berdiri paling depan dengan semangat yang berkobar-kobar. Tiba di depan kantor dewan di sana sudah di jaga ketat sekali oleh aparat Negara. Orasi bergantian menuntut pencabutan Undang-Undang yang disahkan oleh Dewan. Dan meminta ketua Dewan keluar, di tunggu lama tidak keluar-keluar. Aksi pun beruba menjadi panas, terjadi dorong mendorong antara peserta Aksi dengan aparat. Yudi kena pukul Aparat kepalanya bocor dan parah sekali, langsung dibawah kerumah sakit terdekat. Aksi dibubarkan oleh Aparat dengan banyak korban dari peserta aksi tapi yang paling parah adalah Yudi.
Kawannya mengabari ke Ibu Yudi, dan seketika itu Ibu Yudi berangkat menjenguk Yudi.
“Sudahlah Nak berhentilah melakukan demontrasi begini akibatnya” Ibunya berbisik ditelinga Yudi. Dengan nada agak keras “Tidak, tidak Mau” Yudi menjawab dengan nada agak kesakitan dikepalanya, sampai-sampai teman Yudi kaget. Yudi tidak mau pulang kerumah dan tidak mau minta Uang kekeluarganya. Beberapa hari dirumah sakit dan yudi akhirnya sembuh
Aksi besar-besaran terjadi Yudi ikut lagi, saatnya Yudi mengambil posisi di depan kawan-kawannya untuk melakukan orasi “Salam perlawanan, Kawan-kawan-kawan…..” belum sempat meneneruskan kalimatnya Yudi terjatuh dari tempat untuk orasi. “ Yudi tertembak…Yudi tertembak …” teriak barisan depan aksi demontarsi,.
Berakhir sudah perjuangan Yudi, “Kawan jangan berhenti sampai sini, perjuangan harus terus dilanjutkan walaupun orang terdekat kita yang melakukan penindasan…! harus kita lawan…!” “Yud bertahanlah“
“Aku tidak kuat lagi, sampaikan kepada Ayahku, menyerah dan cepat-cepat melakukan pengakuan dosa pada masyrakat yang ditindasnya.”“
Yud, bertahanlah…”
“Kawan-kawan lanjutkan perjuangan kita sampai ketidakadilan musnah di bumi ini”.
Bunga-bunga bertebaran dimana-mana seiring kepergian Yudi. Dan Aksi menjadi semakin besar
Malang, 2004
http://www.sastra-indonesia.com/
Di suatu kota tinggal keluarga yang kata orang taat beragama. Mereka hidup tentram dan damai, mereka sekeluarga baik dan sopan pada tetangga. Bahkan para tetangga sering minta bantuan kepada mereka. Pemimpin keluarga tersebut sangat berpengaruh Pak Umar sebut banyak orang dan isterinya bernama Aisyah. Mereka berdua memiliki putra yang dikasih nama Yudi. Dia masih sekolah SMU didekat rumahnya. Yudi anak yang pandai karena dia selalu belajar kepada Ayahnya tentang agama dan banyak hal tentang kehidupan.
Suatu hari pak Umar menjadi pembicara pengkajian bulanan di daerah sekitar rumahnya. Sudah kebiasanya, menjadi penceramah disuatu pengajian keagamaan. Memang dia salah satu kyai yang disegani. Pak Umar berangkat dengan mengajak Yudi. Tiba saat Pak Umar mengisi pengajian, di dalam pidatonya Dia bilang “Melihat kondisi bangsa kita saat ini, kita harus banyak interopeksi diri, dan pemerintah harus segerah memberantas korupsi. Agar bangsa kita menjadi bangsa yang diridlohi Allah Swt. Dan bangsa kita menjadi makmur”. Para pendengar menganggukkan kepala tandanya setuju dengan apa yang diucapkan Pak Umar. Dua jam berlalu, banyak sudah yang ducapkan oleh Pak Umar kepada peserta pengajian dan akhirnya mereka berdua pulang kerumah.
Seorang anak biasanya meniru kebiasaanya orang tuanya, sama halnya dengan Yudi selalu menjadi pelopor pada acara diskusi soal agama di sekolahnya, sehingga Dia dapat julukan “Ustad” dari teman-temannya. Dia sangat disukai sama teman-temannya, tak jarang temanya minta tolong sama Dia untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan soal agama dengan jawaban yang bisa diterimaolehakal.
Waktu terus melaju hingga yudi harus mengakhiri masa SMU-nya dan beralih keperguruan tinggi. Dari awal dia punya rencana masuk jalur khusus, untuk masuk di perguruan tinggi yang masih satu daerah dengan dia, tapi memilki jarak yang sangat jauh. Dan dia harus meninggalkan rumah untuk kost. Yudi mulai mengurus segalanya sendirian tanpa ditemani oleh keluarganya hingga semuanya selesai dan tinggal melaksanakan perkuliahan.
Awal kuliah, yudi sangat gembira sekali kerena mendapatkan teman yang baru dan lain seperti di SMU dulu. Di dalam kelas Dia disukai oleh teman-temannya seperti dulu di SMU-nya. Bahkan sering dimintai tolong mengajari teman-temanya dalam hal mata kuliah. Memang yudi orangnya pandai dan cerdas.
Sudah sebulan Yudi kuliah, ada sedikit janggal yang dirasakannya, Dia terus berfikir.
“Oh ya, aku belum menemukan forum diskusi”.
Biasa dari SMU memang suka diskusi apalagi soal Agama. Malam tak bisa tidur, terus berfikir dimana ada kominitas diskusi “Besok habis kuliah aku harus jalan-jalan keliling kampus dulu dan tidak boleh langsung pulang”.
Pagi sudah tiba kebetulan hari itu Cuma satu mata kuliah dan sudah tidak ada tugas, jadi rencanya bisa dijalankan. Habis kuliah dia jalan-jalan keliling kampus. Tepat didepannya agak ke kiri Yudi melihat orang bergerombol
“Sepertinya orang diskusi” dalam hatinya.
Lalu dihampirinya “Lagi diskusi ya, boleh saya bergabung”. Lalu Yudi berkenalan satu satu,
“Anton, Mira, Ahmad, Ridwan, Aisyah”.
Diskusinya berlanjut lagi, menjadi tambah banyak permasalahn dengan datangnya Yudi, hingga waktu tidak bersahabat sama mereka. “ Sudah soreh” ujar Mira, “Ya, dilanjutkan nanti malam saja” Ridwan menyahut.
“Dimana?“Yudi bertanya kemereka, serempak menjawab “ Di sekret”, “Memang kalian punya?” Tanya yudi. Ahmad menjawab dan memberi alamat ke yudi, lalu pulang bersama-sama tiba sampai depan kampus mereka berpisah.
***
Yudi lansung pulang ke kost, menaruh tasnya di kamarnya dan lansung masuk kamar mandi untuk membersihkan badan. Seusai mandi Yudi mengabil buku yang dia punya, “Walaupun sedikit usang masih bisa dibaca dan tidak ketinggalan wacananya” ujar dalam hatinya. Lembar demi lembar dibukanya tak terasa adzan mahrib tiba. Sajadahnya dibentangkan dan langsung melaksanakan sholat tanpa ambil wudlu lagi, karena belum batal dari wudlu sholat ashar. Selesai sholat magrib, Yudi lansung pergi ke sekret teman-temannya tadi
“ Halloo kawan….!” Sapa Ahmad ke Yudi,
“Mana teman-teman yang lain?” Yudi menyahuti.
“Lagi makan sebentar lagi datang, itu mereka” jawab Ahmad.
Mereka diskusi lagi dan kali ini yudi agak kebinggungan karena banyak teori-teori baru yang muncul.
“Kawan aku tidak yambung” Yudi merasa binggung,
“Dengarkan aja dulu Yud nanti kamu nyambung sendiri”. Dan akhirnya mereka semua menyelesaikan diskusinya dengan banyak sekali pertanyaan bagi Yudi.
Besok paginya Yudi ketemu Ahmad
“Mau kemana, Mad?”
“Mau ke toko buku, kamu mau iku?”.
Dengan senang Yudi mengikuti Ahmad ke toko buku. Hingga sore tiba mereka pulang dengan membawa buku barunya yang tak sabar untuk dibaca.
Hari demi hari berlalu, Yudi senang mendapatkan komunitas yang baru, karena kemarin mengikuti pengkaderan sebagai syarat masuk dan menjadi anggota resmi di komunitas barunya. Hingga tak sadar dia nggak perna pulang kerumah orang tuanya hanya telfon dan kalau butuh uang minta transfer, walaupun satu kota tapi jaraknya jauh. Yudi, semua aktivis bertanya-tanya mana orangnya. Memang yudi pandai dan selalu konsisten dengan perjuangannya bahkan hampir tiap minggu tulisannya masuk di koran lokal, regional bahkan nasional juga masuk. Dengan ketelatenan dan kerajinannya membaca buku serta diskusi, menjadikan dia dikagumi oleh teman-temannya. Bahkan oleh para aktivis dari organisani kemasiswaan yang ada di kota tempat Yudi Kuliah.
***
Di rumah Yudi tinggal, Ayah dan Ibunya kangen sekali pada Yudi. Pak umar semakin terkenal dengan keahlian dan keapandaianya bercerama dihadapan publik. Hingga suatu hari ada rekanan dari politisi datang kerumahnya. Mereka memberi tawaran pada Pak Umar untuk bergabung di partainya dan langsung ditawari menjadi caleg. Tanpa berpiker panjang pak umar menyetujui. Karena itu yang menjadi keingginannya dibalik kepawaianya dan kepandaianya soal agama. Dalam hati berujar “Kesempatan untuk memasuki sistem dan merubah dari dalam prilaku politisi yang amoral”. Dan juga partai yang menawari pak Umar partai terbesar di Kotanya.
***
Masa libur kuliah telah tiba, Yudi pulang kerumah. Karena rasa kangennya terhadap kedua orang tua nya Ia cepat-cepat lari masuk kerumah, begitu di dalam rumah pak Umar dan istrinya menyambut kedatangan yudi. “ Yah, aku di rumah tidak lama, di kampus banyak kegiatan dan aku dibutuhkan sama teman-teman” bilang ke Ayahnya sambil memasuki kamarnya dan langsung merebahkan diri karena kecapean. Dua hari Yudi dirumah dan sudah waktunya kembali ke kampus.
Seminggu berlalu yudi dari rumah, di dalam organisasinya lagi sibuk menyiapkan aksi untuk mengontrol pemilu yang akan berlangsung. Sampai saat itu Yudi belum tahu kalau Ayahnya jadi Caleg dari partai terbesar di kotanya. Aktivis partai tersebut banyak melakukan dosa sosial.
Tiba di hari kampanye dengan kaget dan tersentak Yudi melihat Koran dengan Foto Ayahnya terpampam disana, dengan tulisan Caleg Jadi dari partai Pohon Kates. Saat itu juga Yudi telfon kerumah untuk memastikan tentang kebenaran apa yang barusan dilihat di koran. Dan yang menerima telfon adalah Ibunya, teryata benar itu adalah Ayahnya.
Sebulan selesai pemilahan umum yang diadakan di kotanya Ayah Yudi masuk di dewan dan jadi ketua dewan di darehanya.
***
“Bagaimana Yud, kamu masih meneruskan perjuangmu untuk melawan penindasan, walaupun kamu melawan Ayahmu sendiri” Kawan-kawan meyakinkan Yudi lagi “Setiap penindasan harus kita lawan, Ayahku sudah melakukan perselingkuhan terhadap politisi dan ini harus ditentang agar Agama tidak dijadikan komoditas politik dan membodohi rakyak”. Ujar Yudi dengan nada keras.
***
Yudi pulang kerumah pada hari libur Ayahnya, karena Dia ingin bertemu dengan Ayahnya. Sampai dirumah Dia bicara pada Ayahnya
“Yah, kenapa semua Ayah lakukan, untuk apa? Untuk Yudi, Yudi tidak butuh itu semua”
“Bukan begitu maksud Ayah, Kita harus berterima kasih pada partai Kates”,
“Apa yang perlu diterimasihkan, semua itu menjebak Ayah dengan massa yang Ayah miliki”
“Ayah sadar semua itu”
“Pokoknya Ayah harus Mengundurkan diri dan kembali lagi ke profesi Ayah sebagai pencerah Umat, kalau tidak mau Ayah berlawan dengan Yudi”
Yudi langsung berpamitan ke Ibunya untuk balik ke kampusnya.
***
Di kampus kawan Yudi menyiapkan Aksi untuk penolakan kebijakan pemerintah daerah yang tidak menguntungkan Rakyat. Dan semua itu Ayah Yudi terlibat dalam pengesahan Undang Undang yang dibuat untuk melegitimasi penindasan.
“Yud, besok kita aksi kamu jadi korlapnya kita aliansi dengan Organ Prodem yang lain”
Kawan-kawan yudi menginformasikan kepadaYudi
“Siap“ jawab Yudi.
Malam hari mempersiapkan perangkat-perangkatnya. Pagi hari Aksi dimulai, yudi berdiri paling depan dengan semangat yang berkobar-kobar. Tiba di depan kantor dewan di sana sudah di jaga ketat sekali oleh aparat Negara. Orasi bergantian menuntut pencabutan Undang-Undang yang disahkan oleh Dewan. Dan meminta ketua Dewan keluar, di tunggu lama tidak keluar-keluar. Aksi pun beruba menjadi panas, terjadi dorong mendorong antara peserta Aksi dengan aparat. Yudi kena pukul Aparat kepalanya bocor dan parah sekali, langsung dibawah kerumah sakit terdekat. Aksi dibubarkan oleh Aparat dengan banyak korban dari peserta aksi tapi yang paling parah adalah Yudi.
Kawannya mengabari ke Ibu Yudi, dan seketika itu Ibu Yudi berangkat menjenguk Yudi.
“Sudahlah Nak berhentilah melakukan demontrasi begini akibatnya” Ibunya berbisik ditelinga Yudi. Dengan nada agak keras “Tidak, tidak Mau” Yudi menjawab dengan nada agak kesakitan dikepalanya, sampai-sampai teman Yudi kaget. Yudi tidak mau pulang kerumah dan tidak mau minta Uang kekeluarganya. Beberapa hari dirumah sakit dan yudi akhirnya sembuh
Aksi besar-besaran terjadi Yudi ikut lagi, saatnya Yudi mengambil posisi di depan kawan-kawannya untuk melakukan orasi “Salam perlawanan, Kawan-kawan-kawan…..” belum sempat meneneruskan kalimatnya Yudi terjatuh dari tempat untuk orasi. “ Yudi tertembak…Yudi tertembak …” teriak barisan depan aksi demontarsi,.
Berakhir sudah perjuangan Yudi, “Kawan jangan berhenti sampai sini, perjuangan harus terus dilanjutkan walaupun orang terdekat kita yang melakukan penindasan…! harus kita lawan…!” “Yud bertahanlah“
“Aku tidak kuat lagi, sampaikan kepada Ayahku, menyerah dan cepat-cepat melakukan pengakuan dosa pada masyrakat yang ditindasnya.”“
Yud, bertahanlah…”
“Kawan-kawan lanjutkan perjuangan kita sampai ketidakadilan musnah di bumi ini”.
Bunga-bunga bertebaran dimana-mana seiring kepergian Yudi. Dan Aksi menjadi semakin besar
Malang, 2004
Sabtu, 05 Juni 2010
Sajak-Sajak Persembahan Denny Mizhar
http://www.sastra-indonesia.com/
Kepada Sang Maestro Topeng Malangan
Kau Dalam Kenangan
;Mbah Karimun
Merindu waktu
kau sematkan roh
pada kayu berwajah dirimu.
Lembut tanganmu
membelah, membedah
garis-garis kehidupan
dengan rancak gemulai.
Nampak detak jantung mu
dalam bingkai foto
ketika aku pandang
saat kau menari.
Kau bangun sumber air hayati
dari guratanmu
merubah wujudmu
menjadi burung melintasi awan
;maka terbacalah
dirimu di garis cakrawala.
Di sini aku tunggu
berduaan denganmu
di tepi dunia yang beda
menggambar wajahmu
dengan harum kamboja.
Jarak antara kau
aku cukup jauh
kau tiupkan nyawa
melekat di wajahku
memainkan rindu di panggungmu.
Malang, 16 Februari 2010
Tarian Kepulangan
;Mbah Karimun
Langit gerimis
Pekat hitam
Menurunkan malaikat.
Bumi pun terbela
Mengantar pada malam duka
Kepergian nafas sukma.
Kau melintas disebuah tarian kepulangan
Memelukku yang resah akan kota bersegala warna
:Sempurnalah wajah ciptaanmu.
Kau yang pergi
kau yang hidup
kau yang menari.
Langit membuka pintu
panggung sunyi untukmu
harum kamboja pesonamu.
Malang, 15 Februari 2010
Membangun Duka
Aku tak lagi berdiri di samping nisan itu.
berkali-kali aku merenungi duka cita semalam,
sehabis angin mewartakan rintik hujan di mataku.
Aku tak lagi berdiri di samping nisan itu.
air mataku tak sanggup lagi tumpah,
sehabis nasib patah dari masaku.
Menggenggam tanah,
bau harum melati terasa.
menyimpan prasasti misteri tangan-Nya.
Membangun kembali rumahku,
dengan tanah yang aku genggam.
menghiasnya kamboja dan wangi serimpi
Rumahku tersusun
dari duka mendalam.
Sehabis kau pergi,
aku meninggalkan nisanmu.
Malang, 2010
Di Pintu Surga
terbuka sudah
rahasia surga
kau mengetuk
dengan lekuk tubuhmu
berduan sepasang wajah
melangkah masuk dengan tarian
Malang, Februari 2010
*) Mbah Karimun: Sang Maestro Topeng Malangan, Beliau telah telah berpulang kerumah Tuhan pada14/2/2010
Kepada Sang Maestro Topeng Malangan
Kau Dalam Kenangan
;Mbah Karimun
Merindu waktu
kau sematkan roh
pada kayu berwajah dirimu.
Lembut tanganmu
membelah, membedah
garis-garis kehidupan
dengan rancak gemulai.
Nampak detak jantung mu
dalam bingkai foto
ketika aku pandang
saat kau menari.
Kau bangun sumber air hayati
dari guratanmu
merubah wujudmu
menjadi burung melintasi awan
;maka terbacalah
dirimu di garis cakrawala.
Di sini aku tunggu
berduaan denganmu
di tepi dunia yang beda
menggambar wajahmu
dengan harum kamboja.
Jarak antara kau
aku cukup jauh
kau tiupkan nyawa
melekat di wajahku
memainkan rindu di panggungmu.
Malang, 16 Februari 2010
Tarian Kepulangan
;Mbah Karimun
Langit gerimis
Pekat hitam
Menurunkan malaikat.
Bumi pun terbela
Mengantar pada malam duka
Kepergian nafas sukma.
Kau melintas disebuah tarian kepulangan
Memelukku yang resah akan kota bersegala warna
:Sempurnalah wajah ciptaanmu.
Kau yang pergi
kau yang hidup
kau yang menari.
Langit membuka pintu
panggung sunyi untukmu
harum kamboja pesonamu.
Malang, 15 Februari 2010
Membangun Duka
Aku tak lagi berdiri di samping nisan itu.
berkali-kali aku merenungi duka cita semalam,
sehabis angin mewartakan rintik hujan di mataku.
Aku tak lagi berdiri di samping nisan itu.
air mataku tak sanggup lagi tumpah,
sehabis nasib patah dari masaku.
Menggenggam tanah,
bau harum melati terasa.
menyimpan prasasti misteri tangan-Nya.
Membangun kembali rumahku,
dengan tanah yang aku genggam.
menghiasnya kamboja dan wangi serimpi
Rumahku tersusun
dari duka mendalam.
Sehabis kau pergi,
aku meninggalkan nisanmu.
Malang, 2010
Di Pintu Surga
terbuka sudah
rahasia surga
kau mengetuk
dengan lekuk tubuhmu
berduan sepasang wajah
melangkah masuk dengan tarian
Malang, Februari 2010
*) Mbah Karimun: Sang Maestro Topeng Malangan, Beliau telah telah berpulang kerumah Tuhan pada14/2/2010
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel GarcÃa Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati