Martin Aleida
http://boemipoetra.wordpress.com/
Bung Ajip yang baik,
Tiga bulan setelah menerima surat Bung dari Pabelan, tertanggal 5 Januari 2011, dengan tanda tangan dan tera sketsa mungil berwarna merah yang menggambarkan wajah Ajip Rosidi yang sedang senyum, saya belum juga menemukan ajakan yang pas untuk membalas.
“Tak menyangka samasekali Amak Baldjun mendahului hari ini.” Begitulah surat itu dibuka dengan sebuah kabar duka tentang aktor yang penampilannya di panggung teater mempesona saya. Semasa hidup, Amak gemar berolahraga jalan kaki. Beberapa kali kami bertemu di Senayan, sama-sama menikmati jalan dan lari-lari kecil menjelang tenggelamnya matahari. Kabar kemalangan mengenai Amak saya terima dari Bambang Bujono melalui pesan singkat (SMS), yang kemudian saya teruskan ke Ibu Empat di Pabelan dengan harapan disampaikan kepada sang suami.
Surat Bung dari Pabelan itu bercerita pula tentang rencana Bung untuk membangun Pusat Studi Sunda yang akan diberi nama “Perpustakaan H. Ali Sadikin.” Nama itu dipilih untuk menghormati Bang Ali “yang telah banyak berbuat untuk kemajuan kebudayaan kita.” Sebagai penutup, Bung menyiratkan keadaan fisik Bung sendiri yang sudah tidak prima lagi untuk mondar-mandir Pabelan-Bandung. Rapat Akademi Jakarta 21 Januari akan Bung loncati, karena harus berada di Bandung untuk menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Padjadjaran, persis di hari ulangtahun Ajip Rosidi yang ke-73, tanggal 31 Januari 2011. Bung bilang, akan terlalu lelah buat badan yang mulai rapuh kalau sepulang dari Jakarta harus segera pula berangkat ke Bandung. Sekarang pun, kata Bung lagi seraya mengeluh, masih batuk-batuk sepulang menjadi saksi pernikahan anak almarhum Edi Ekadjati. “Mulai tahu dirilah,” begitu Bung menutup surat itu.
Ya, mulai tahu dirilah…! Sungguh sebuah ajakan yang arif untuk diri sendiri. Dan, marilah kita tengok perjalanan kepengarangan Bung yang sudah melampaui kurun waktu lebih dari setengah abad, dengan jumlah judul buku atas nama Ajip Rosidi, yang kalau dideretkan dari atas ke bawah, agaknya lebih dari satu meter tingginya. Sebutkan segala sisi kesusastraan dan gerakan kebudayaan Indonesia, maka Ajip Rosidi ada di tiap kata yang diterakan. Tidak hanya di dalam dunia kata-kata, Bung juga sudah menancapkan tonggak dalam gerakan kesenian dan kebudayaan. Taman Ismail Marzuki yang menghampar di tengah deru-deram pertumbuhan kota yang bengis sekarang ini, antara lain karena kesadaran yang muncul di dalam diri Bung pada penggal kedua 1960-an. Karena Bung dan teman-teman maka Taman ini dibangun oleh Gubernur Ali Sadikin. Kalau tidak para seniman kita mungkin cuma bisa luntang-lantung di taman-taman kota, di warung-warung yang dekil, atau di terminal-terminal bus yang riuh-rendah dengan udara yang tercemar, dan dililit utang di mana mereka singgah. Belum lagi kalau diingat dari Jatiwangi, yang justru di tepi Tatar Sunda itulah Bung jatuh-bangun mempertahankan sastra dan budaya Sunda jangan sampai tergusur zaman. Belasan tahun Bung mengajarkan Bahasa Indonesia di daratan jauh, Jepang. Sesungguhnya tak mengherankan buat saya kalau Bung memperoleh penghormatan yang begitu tinggi dari Universitas Padjadjaran, yang Bung terima dengan sikap seorang seniman tulen. Naik ke panggung mengenakan toga, sementara kaki cuma berhiaskan sepasang sandal. Unik, tiada duanya di dunia.
[Ketika saya bisikkan apa yang saya lihat di panggung itu kepada istri saya di sebelah, tiba-tiba dari bangku depan A.D. Pirous menoleh kepada kami, menempelkan satu jari di depan bibirnya, dan pelukis tenar itu dengan sangat sopan bilang, “Sssst…”] Dan Bung menyampaikan pidato penerimaan dalam bahasa Sunda di depan Rektor dan seluruh jajaran petinggi Universitas serta sekitar 200 undangan, sesuai dengan syarat yang Bung patok. Tidakkah Bung catat, sebuah pusat pendidikan tinggi yang terpandang telah menyerahkan diri pada keinginan Bung! Sungguh pencapaian yang tak pernah saya bayangkan…
Namun, dalam kesempatan yang baik ini, ada yang hendak saya utarakan. Bukan petuah, tidak pula peringatan. Hanya satu keinginan yang hendak saya katakan dalam bahasa yang lebih halus, sebagaimana yang Bung dapat katakan dalam bahasa Sunda yang paling sopan. Tapi, sayang, saya tak punya bendahara setinggi itu. Karena itulah saya harus meminta maaf terlebih dulu sebelum Bung memutuskan untuk terus membaca surat ini. Perkenankanlah saya membasuh tangan dan kaki, menyeka remah yang tertinggal di bibir, menghela napas dan berkata, “Mulai tahu dirilah…” kata-kata, yang maaf, saya kutip dari surat yang Bung layangkan dari Pabelan, dari rumah Bung yang kesekian itu. Mungkin sakit untuk menyadari, serupa menyiksa diri, barangkali, walau tak perlu sampai harakiri, bahwa pencapaian dalam pendakian Bung yang sudah sampai di tataran yang begitu terhormat, telah tercemar. Sudah ternoda! Hanya lantaran hasutan seseorang, Bung telah mengotori puncak yang telah Bung taklukkan.
Semoga Bung tidak lupa, sebagaimana saya juga akan selalu ingat, di pagi sebelum matahari benar-benar telah bangun, Bung [yang bernama Ajip Rosidi] meminta saya dengan tekanan suara menyergah [dan didengar istri saya yang belum lepas telekungnya seraya menyiapkan teh buat seorang tamu sebesar Ajip] untuk membatalkan diskusi mengenai buku Asep Sambodja (sekaligus memperingati 100 hari wafatnya), yang akan diselenggarakan hari itu oleh kelompok mejabudaya di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin.
Bung tentulah menyelami mata saya, yang dengan mulut terkatup menahan amarah bercampur sedih. Dan di situ Bung mungkin bisa membaca bahwa saya tidak percaya tokoh sekaliber Bung bisa datang bagai mengamangkan pedang panjang untuk membantai niat baik anak-anak muda yang berhasrat membahas sebuah buku. Sebuah kitab! Sebuah tanda peradaban! Ketakutan apa yang yang berada di belakang pedang yang Bung genggam itu? Bung yang telah menulis segunung buku, tiba-tiba [hanya karena hasutan Doktor Honoris Causa Taufiq Ismail – ehem pakai “q” ya..!] berputus kata untuk membatalkan telaah untuk secuil tanda peradaban: buku yang ditulis oleh seorang sarjana yang belum lama meninggal setelah menderita kanker. Membatalkan diskusi buku! Kejahatan tingkat berapa ini? Bukankah itu hanya selangkah saja ke pembakaran buah pikiran dan penzaliman terhadap sikap seorang manusia?!
Yang muncul di bendul pintu rumah saya itu memang cuma sebilah pedang yang abstrak, yang mengambil bentuk ancaman yang Bung humbalangkan di depan saya, muridmu yang daif ini… Kalau yang datang itu adalah kekuasaan dengan sebuah front raksasa bernama “front penyair Indonesia,” maka yang terjadi tentu bukan cuma pembatalan diskusi, tetapi pemberangusan, penangkapan, dan pemenjaraan terhadap “mulut-mulut yang lancang,” yang hendak memahami Asep dengan baik-baik, dengan hati yang lapang, hati anak-anak muda yang ingin dibesarkan di sebuah meja peradaban di bawah tatapan H.B. Jassin.
Diskusi buku itu hanyalah sebuah titik dalam rentang panjang peradaban kita. Kalau sebuah ukuran bisa ditarik, dia hanya secercah cahaya, barangkali. Jika ada yang beranggapan upaya pembatalan diskusi itu merupakan noda, apakah dia layak menerima pengampunan? Untuk penyair sekeras dan beringas semacam Saut Situmorang TIDAK! Dari Yogyakarta dia mengirimkan SMS: “Buat apalagi dibantu PDS, Bang? Biar yayasannya yang sampah itu mintak tolong ke Taufiq Ismail. Jogja udah memutuskan gak mau ikut bantu PDS sebelum pihak yayasan mintak maaf kerna menuruti Taufiq Ismail melarang acara diskusi buku Asep itu! Sorry, Bang.”
Pesan singkat itu muncul di layar handphone saya sebagai tanggapan terhadap permintaan teman-teman muda yang menghendaki saya agar memohon kepada penyair berambut gimbal dan berewokan bak seorang pemberontak yang baru keluar dari hutan perlawanan itu, karena ada niat untuk, antara lain, melaksanakan lelang lukisan dan uangnya akan disumbangkan kepada PDS H.B. Jassin. Saut saya minta membujuk (temannya minum, kabarnya) pelukis Agus Suwage merelakan karyanya untuk disertakan dalam lelang.
Barangkali salah dugaan saya bahwa Bung menyerah pada permintaan busuk untuk membatalkan diskusi buku Asep Sambodja itu karena Bung sedang berada di Jakarta. Kota yang sumpek, di mana pengendara sepeda motor boleh naik ke trotoar menggusur pejalan kaki, dan melawan arus lalulintas pula. Jika Bung berada di Pabelan, apalagi di sawung Ibu Empat yang laris manis sambil menatap stupa-stupa Borobudur yang tertulis di pucuk-pucuk daun, agaknya Bung tidak bakal hanyut dibawa lahar kedengkian untuk membabat diskusi buku Asep Sambodja.
Bung Ajip yang baik, saya tak punya tanda mata untuk dibawa ke Pabelan. Tapi, kalau ada kesempatan untuk mampir lagi ke rumah Bung di sana, izinkanlah saya memegangi tangan Bung, sama-sama kita menatap Borobudur dan bersumpah tidak mengulangi kebengisan terhadap peradaban, sebagaimana terbaca pada arca candi yang lehernya telah ditebas oleh mereka yang kehilangan akal sehat. Memberangus sebuah kitab!
Salam hormatku untuk Bung dan Ibu Empat,
Sumber: http://boemipoetra.wordpress.com/2011/04/26/surat-dunia-maya-untuk-ajip-rosidi/
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Martin Aleida. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Martin Aleida. Tampilkan semua postingan
Rabu, 27 April 2011
Jumat, 29 Oktober 2010
Main Mata dengan Kekuasaan
WARS WITHIN
Penulis: Janet Steele, @2005
Penerbit: EQUINOX dan ISEAS, xxxiv + 328 halaman
Peresensi: Martin Aleida*
http://www.gatra.com/
Menelisik seluruh halaman buku ini, versi Indonesia diluncurkan akhir bulan lalu, kelihatanlah batang tubuh Tempo pekat berbalur kompromi, untuk tidak mengatakan berserah diri kepada kekuasaan. Ketika akan menurunkan laporan mengenai peristiwa Tanjung Priok, September 1984, misalnya, penulis masalah nasional, Susanto Pudjomartono (SP), yang punya hubungan erat dengan L.B. Moerdani (LBM), ternyata lebih dulu minta izin kepada Panglima ABRI itu. Kedekatan dengan penguasa seperti itu bisa menimbulkan polarisasi sikap politik di kandang wartawan sendiri. Semacam “perang” kepentingan muncul dalam “episode Priok”.
Reporter (ketika itu), Bambang Harymurti (BH), memiliki rekaman pidato Amir Biki, yang jadi pemicu demonstrasi dan pertumpahan darah selepas salat subuh itu, tidak serta-merta menyerahkan tape kepada SP. Sebab ada kecemasan “kemungkinan SP akan menunjukkannya kepada LBM”. Sikap kompromistis, supaya bisa bertahan hidup, ini dipaparkan dalam kisah panjang yang ditulis Janet Steele dari George Washington University bahwa Tempo adalah “an independent magazine in Soeharto’s Indonesia” ternyata tak lebih dari sebuah sinisme yang tidak disengaja.
Setelah menikmati kehidupan pers yang relatif bebas sejak terbit pada awal Maret 1971, Tempo pertama kali dibredel tahun 1982. Pemimpin Redaksi Goenawan Mohamad (GM), dalam rapat yang diliputi suasana resah, dengan muka tegang menyerukan: “Tiarap…!” Strategi kelangsungan hidup dirancang, dan wartawan dianjurkan melobi para pejabat pemerintah. GM sendiri, bagaikan penyair-pertapa turun gunung, mendekati Menteri Sekneg Moerdiono. Mereka acapkali terlihat main tenis. Sikap menenggang penguasa menyebabkan banyak berita yang diketahui wartawan harus ditelan sendiri. Kata SP, “Hanya lima atau 10 persen yang bisa kami laporkan. Memantau berita (jadi) lebih penting dibandingkan menulis.”
Mengagumkan, juga bikin tercengang, untuk apa dan dikemanakan berita-berita itu kalau memang tak bisa dimuat? Disimpan di dalam file? Dioper ke wartawan-wartawan asing yang beroperasi di sini? Dijadikan bahan tawar-menawar? Atau mau ditulis kelak di suatu masa? Tak ada jawaban. Karena Janet yang sedang jatuh hati rupanya tidak tergoda bertanya mengenai cacat yang satu ini.
Tanpa pesaing yang berarti, Tempo bergelimang kemakmuran. Tahun 1993, GM mengumumkan niat mundur sebagai pemimpin redaksi, dan melimpahkan tanggung jawab kepada orang nomor dua, wartawan flamboyan Fikri Jufri (FJ). Penulis masalah ekonomi dan bisnis yang tajam dan memikat ini adalah kutub yang lain. Dia tak punya pengikut, apalagi pengagum, sebagaimana GM. Niat GM untuk “lengser” menimbulkan guncangan pada biduk yang sedang berlayar laju. “Kalau ini adalah bagian dari strategi, maka orang yang berada di atas seharusnya tidak berdiri di pihak siapa pun. Goenawan adalah orang yang semacam itu. Tetapi Fikri tidak. Jadi, inilah yang telah menggoyang keseimbangan,” urai BH.
Kata-kata bersayap GM tentang “cita-cita kita yang sama mengenai jurnalistik”, yang dia ucapkan dalam rapat persiapan 15 Januari 1971, kurang dari dua bulan sebelum Tempo terbit (6 Maret 1971), telah terbang disapu angin lalu. Para wartawan yang dianjurkan melobi kanan-kiri ternyata telah lupa pulang ke rumah sendiri. Yang menuntun mereka bukan lagi “cita-cita kita yang sama”, melainkan Paduka Tuan yang menjadi teman dekat sekaligus sumber berita dan gantungan hidup di masa depan yang tidak pasti. Para wartawan terperangkap dalam kutub-kutub lobi mereka. Masing-masing wartawan tambah merapat dengan lobi dan kian mendurhakai tuan mereka.
Adapun di luar, laut gonjang-ganjing. Tahun 1988, Soeharto menggeser LBM dari Panglima ABRI menjadi Menteri Hankam. Tahun 1993, jabatan yang kurang penting itu dicopot pula. Walaupun tak terbuka, LBM dikabarkan telah memihak suara publik “di bawah tanah” dan bersikap kritis terhadap Soeharto. “Pembangkangan” tokoh militer ini mendorong Soeharto cari dukungan kalangan muslim, dengan Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), B.J. Habibie, sebagai perlambang.
Pada 11 Juni 1994, Tempo menurunkan laporan utama tentang pertikaian di pemerintahan seputar pembelian 39 kapal perang bekas dari Jerman Timur. Harga belinya dianggap tidak pantas serta konflik Menteri Ristek B.J. Habibie dengan Menteri Keuangan Mar’ie Muhammad. Beberapa perwira tinggi, terutama dari Angkatan Laut, tidak setuju pembelian armada kapal bekas itu dan menganggap Habibie menggerogoti wewenang mereka.
Menurut FJ kepada penulis tinjauan buku ini, Tempo memutuskan laporan itu karena “uang rakyat yang tidak kecil telah disalahgunakan”. Itulah, katanya, pertimbangan rapat redaksi memilih, bukan kemauannya sendiri. Tetapi wartawan Tempo Agus Basri, penulis laporan utama mengenai Habibie dan ICMI, beberapa pekan sebelumnya kepada Janet Steele menyebutkan, dipilihnya topik kapal perang rongsokan dari Jerman Timur itu “punya maksud tertentu”.
Menurut Agus lagi, ketika tersiar kabar, satu dari kapal perang butut itu tenggelam dalam pelayaran ke Indonesia, FJ jingkrak-jingkrak bersyukur dan berteriak sinis, “Alhamdulillah!” Kelihatannya tak ada lagi yang lebih menyakitkan FJ daripada tuduhan kedekatannya pada LBM sebagai penyebab bencana pembredelan. Penyair yang dia kagumi, kawan seperjuangannya sendiri, GM, ikut meningkahi suara gendang yang menggiring Fikri hingga terpojok.
Agus Basri memoleskan warna yang buruk pada wajah teman sejawatnya sendiri, dengan menceritakan bahwa Max Wangkar, yang menulis laporan utama, “punya masalah dengan Habibie”. Max, katanya, Kristen, lulusan sekolah teologi. Dengan “analisis” pandir seperti itu, menurut Janet, jelaslah suasana dalam majalah itu sungguh telah dipenuhi racun dan bisa.
***
Wars Within hanya terpikat pada penggalan kedua dan terakhir dari sejarah Tempo. Sumbernya, selain GM, terlalu terpusat pada BH, yang sebenarnya baru tampil di babak kedua dari perjalanan hidup majalah itu. Memang, sebelum 1980-an, benturan dengan kekuasaan tidak begitu sengit. Tetapi peperangan melawan birokrasi internal cukup seru. “Raksasa” seperti Christianto Wibisono dan Usamah (karena kasus pemberitaan dan keuangan) sampai terjungkal. Dan di atas segalanya, orang setangguh sastrawan-wartawan Bur Rasuanto pun tak cukup kuat untuk bertahan.
Edisi pertama Tempo dicetak 12.500. Terjual habis. Terbitan kedua dilipatduakan. Habis! Awal 1980-an, tirasnya berkisar 160.000. Kemajuan pesat ini tidak diikuti manajemen yang baik. Jadwal terbit selalu telat. Bur, yang memimpin majalah itu ke dalam, kelimpungan menghadapinya. Berbagai kiat dilakukannya. Pernah ada “hadiah” sebulan gaji untuk yang paling produktif. Tapi, karena protes dari wartawan yang kalah, permainan itu distop.
Bur yang berdarah Komering itu tak tahan melihat naskah-naskah yang menumpuk. Di kantor cikal-bakal Tempo, Jalan Senen Raya, di seberang pegadaian sekarang, suatu hari yang nahas, Bur menyambar naskah yang menganggur. Dia memang penulis cepat. Tulisan yang dirampungkannya itu dia turunkan. Redaktur bersangkutan melapor kepada GM bahwa Bur menabrak prosedur. GM “ngalemin” si tukang protes.
Bur jadi naik darah. “Ah, kau juga…,” katanya berang, seraya melayangkan segelas kopi ke muka GM. Tapi luput, gelas itu pecah membentur dinding! GM tak tepercik setetes pun. Seminggu setelah “gelas terbang” itu, rapat besar digelar di Gedung Pembangunan Jaya, Jalan Thamrin, Jakarta. Eric Samola, pemimpin umum, menegaskan “tak ada harta milik perusahaan, sekecil apa pun, yang boleh dirusak”. Esoknya, dan untuk selamanya, Bur Rasuanto sudah tidak bersama majalah itu lagi.
Janet juga tidak menyinggung “idealisme” Tempo yang begitu memikat pada mulanya. Laporan-laporannya sering tidak ditemukan di koran atau media lain. Bahkan sempat jadi sumber berita bagi koran terpandang: Kompas, Sinar Harapan, The Straits Times Singapura, kantor berita AFP dan Reuters. Namun, melalui satu rapat di Wisma Tempo, Sirnagalih, dekat Puncak Pass, “bendera” kebanggaan itu diturunkan. Tak seperti biasa, GM membuka rapat dengan naskah di tangan. Intinya, perubahan orientasi, dari majalah yang dinanti-nanti karena beritanya eksklusif menjadi majalah yang “mengekor”. Beberapa wartawan menentang pembalikan haluan itu. Dengan segelintir oposisi dan floor yang mengamini GM, maka tumbanglah sudah “bendera” Tempo. Dia tinggal hanya sedikit lebih berharga dari rangkuman kliping koran.
Enam tahun Janet melakukan penelitian untuk proyeknya ini. Mungkin masih ada kesalahan yang kurang berarti dalam kisahnya tentang sepenggal sejarah pers dari satu negeri yang jauh. Dan dia menulisnya dengan empati, sementara orang lokal, terutama orang Tempo sendiri, belum sempat berpikir menuliskan riwayatnya sendiri yang begitu kaya dan sarat dengan ironi.
*) Wartawan Tempo 1971-1984
[Buku, Gatra Nomor 43 Beredar Kamis, 6 Septemberi 2007]
Penulis: Janet Steele, @2005
Penerbit: EQUINOX dan ISEAS, xxxiv + 328 halaman
Peresensi: Martin Aleida*
http://www.gatra.com/
Menelisik seluruh halaman buku ini, versi Indonesia diluncurkan akhir bulan lalu, kelihatanlah batang tubuh Tempo pekat berbalur kompromi, untuk tidak mengatakan berserah diri kepada kekuasaan. Ketika akan menurunkan laporan mengenai peristiwa Tanjung Priok, September 1984, misalnya, penulis masalah nasional, Susanto Pudjomartono (SP), yang punya hubungan erat dengan L.B. Moerdani (LBM), ternyata lebih dulu minta izin kepada Panglima ABRI itu. Kedekatan dengan penguasa seperti itu bisa menimbulkan polarisasi sikap politik di kandang wartawan sendiri. Semacam “perang” kepentingan muncul dalam “episode Priok”.
Reporter (ketika itu), Bambang Harymurti (BH), memiliki rekaman pidato Amir Biki, yang jadi pemicu demonstrasi dan pertumpahan darah selepas salat subuh itu, tidak serta-merta menyerahkan tape kepada SP. Sebab ada kecemasan “kemungkinan SP akan menunjukkannya kepada LBM”. Sikap kompromistis, supaya bisa bertahan hidup, ini dipaparkan dalam kisah panjang yang ditulis Janet Steele dari George Washington University bahwa Tempo adalah “an independent magazine in Soeharto’s Indonesia” ternyata tak lebih dari sebuah sinisme yang tidak disengaja.
Setelah menikmati kehidupan pers yang relatif bebas sejak terbit pada awal Maret 1971, Tempo pertama kali dibredel tahun 1982. Pemimpin Redaksi Goenawan Mohamad (GM), dalam rapat yang diliputi suasana resah, dengan muka tegang menyerukan: “Tiarap…!” Strategi kelangsungan hidup dirancang, dan wartawan dianjurkan melobi para pejabat pemerintah. GM sendiri, bagaikan penyair-pertapa turun gunung, mendekati Menteri Sekneg Moerdiono. Mereka acapkali terlihat main tenis. Sikap menenggang penguasa menyebabkan banyak berita yang diketahui wartawan harus ditelan sendiri. Kata SP, “Hanya lima atau 10 persen yang bisa kami laporkan. Memantau berita (jadi) lebih penting dibandingkan menulis.”
Mengagumkan, juga bikin tercengang, untuk apa dan dikemanakan berita-berita itu kalau memang tak bisa dimuat? Disimpan di dalam file? Dioper ke wartawan-wartawan asing yang beroperasi di sini? Dijadikan bahan tawar-menawar? Atau mau ditulis kelak di suatu masa? Tak ada jawaban. Karena Janet yang sedang jatuh hati rupanya tidak tergoda bertanya mengenai cacat yang satu ini.
Tanpa pesaing yang berarti, Tempo bergelimang kemakmuran. Tahun 1993, GM mengumumkan niat mundur sebagai pemimpin redaksi, dan melimpahkan tanggung jawab kepada orang nomor dua, wartawan flamboyan Fikri Jufri (FJ). Penulis masalah ekonomi dan bisnis yang tajam dan memikat ini adalah kutub yang lain. Dia tak punya pengikut, apalagi pengagum, sebagaimana GM. Niat GM untuk “lengser” menimbulkan guncangan pada biduk yang sedang berlayar laju. “Kalau ini adalah bagian dari strategi, maka orang yang berada di atas seharusnya tidak berdiri di pihak siapa pun. Goenawan adalah orang yang semacam itu. Tetapi Fikri tidak. Jadi, inilah yang telah menggoyang keseimbangan,” urai BH.
Kata-kata bersayap GM tentang “cita-cita kita yang sama mengenai jurnalistik”, yang dia ucapkan dalam rapat persiapan 15 Januari 1971, kurang dari dua bulan sebelum Tempo terbit (6 Maret 1971), telah terbang disapu angin lalu. Para wartawan yang dianjurkan melobi kanan-kiri ternyata telah lupa pulang ke rumah sendiri. Yang menuntun mereka bukan lagi “cita-cita kita yang sama”, melainkan Paduka Tuan yang menjadi teman dekat sekaligus sumber berita dan gantungan hidup di masa depan yang tidak pasti. Para wartawan terperangkap dalam kutub-kutub lobi mereka. Masing-masing wartawan tambah merapat dengan lobi dan kian mendurhakai tuan mereka.
Adapun di luar, laut gonjang-ganjing. Tahun 1988, Soeharto menggeser LBM dari Panglima ABRI menjadi Menteri Hankam. Tahun 1993, jabatan yang kurang penting itu dicopot pula. Walaupun tak terbuka, LBM dikabarkan telah memihak suara publik “di bawah tanah” dan bersikap kritis terhadap Soeharto. “Pembangkangan” tokoh militer ini mendorong Soeharto cari dukungan kalangan muslim, dengan Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), B.J. Habibie, sebagai perlambang.
Pada 11 Juni 1994, Tempo menurunkan laporan utama tentang pertikaian di pemerintahan seputar pembelian 39 kapal perang bekas dari Jerman Timur. Harga belinya dianggap tidak pantas serta konflik Menteri Ristek B.J. Habibie dengan Menteri Keuangan Mar’ie Muhammad. Beberapa perwira tinggi, terutama dari Angkatan Laut, tidak setuju pembelian armada kapal bekas itu dan menganggap Habibie menggerogoti wewenang mereka.
Menurut FJ kepada penulis tinjauan buku ini, Tempo memutuskan laporan itu karena “uang rakyat yang tidak kecil telah disalahgunakan”. Itulah, katanya, pertimbangan rapat redaksi memilih, bukan kemauannya sendiri. Tetapi wartawan Tempo Agus Basri, penulis laporan utama mengenai Habibie dan ICMI, beberapa pekan sebelumnya kepada Janet Steele menyebutkan, dipilihnya topik kapal perang rongsokan dari Jerman Timur itu “punya maksud tertentu”.
Menurut Agus lagi, ketika tersiar kabar, satu dari kapal perang butut itu tenggelam dalam pelayaran ke Indonesia, FJ jingkrak-jingkrak bersyukur dan berteriak sinis, “Alhamdulillah!” Kelihatannya tak ada lagi yang lebih menyakitkan FJ daripada tuduhan kedekatannya pada LBM sebagai penyebab bencana pembredelan. Penyair yang dia kagumi, kawan seperjuangannya sendiri, GM, ikut meningkahi suara gendang yang menggiring Fikri hingga terpojok.
Agus Basri memoleskan warna yang buruk pada wajah teman sejawatnya sendiri, dengan menceritakan bahwa Max Wangkar, yang menulis laporan utama, “punya masalah dengan Habibie”. Max, katanya, Kristen, lulusan sekolah teologi. Dengan “analisis” pandir seperti itu, menurut Janet, jelaslah suasana dalam majalah itu sungguh telah dipenuhi racun dan bisa.
***
Wars Within hanya terpikat pada penggalan kedua dan terakhir dari sejarah Tempo. Sumbernya, selain GM, terlalu terpusat pada BH, yang sebenarnya baru tampil di babak kedua dari perjalanan hidup majalah itu. Memang, sebelum 1980-an, benturan dengan kekuasaan tidak begitu sengit. Tetapi peperangan melawan birokrasi internal cukup seru. “Raksasa” seperti Christianto Wibisono dan Usamah (karena kasus pemberitaan dan keuangan) sampai terjungkal. Dan di atas segalanya, orang setangguh sastrawan-wartawan Bur Rasuanto pun tak cukup kuat untuk bertahan.
Edisi pertama Tempo dicetak 12.500. Terjual habis. Terbitan kedua dilipatduakan. Habis! Awal 1980-an, tirasnya berkisar 160.000. Kemajuan pesat ini tidak diikuti manajemen yang baik. Jadwal terbit selalu telat. Bur, yang memimpin majalah itu ke dalam, kelimpungan menghadapinya. Berbagai kiat dilakukannya. Pernah ada “hadiah” sebulan gaji untuk yang paling produktif. Tapi, karena protes dari wartawan yang kalah, permainan itu distop.
Bur yang berdarah Komering itu tak tahan melihat naskah-naskah yang menumpuk. Di kantor cikal-bakal Tempo, Jalan Senen Raya, di seberang pegadaian sekarang, suatu hari yang nahas, Bur menyambar naskah yang menganggur. Dia memang penulis cepat. Tulisan yang dirampungkannya itu dia turunkan. Redaktur bersangkutan melapor kepada GM bahwa Bur menabrak prosedur. GM “ngalemin” si tukang protes.
Bur jadi naik darah. “Ah, kau juga…,” katanya berang, seraya melayangkan segelas kopi ke muka GM. Tapi luput, gelas itu pecah membentur dinding! GM tak tepercik setetes pun. Seminggu setelah “gelas terbang” itu, rapat besar digelar di Gedung Pembangunan Jaya, Jalan Thamrin, Jakarta. Eric Samola, pemimpin umum, menegaskan “tak ada harta milik perusahaan, sekecil apa pun, yang boleh dirusak”. Esoknya, dan untuk selamanya, Bur Rasuanto sudah tidak bersama majalah itu lagi.
Janet juga tidak menyinggung “idealisme” Tempo yang begitu memikat pada mulanya. Laporan-laporannya sering tidak ditemukan di koran atau media lain. Bahkan sempat jadi sumber berita bagi koran terpandang: Kompas, Sinar Harapan, The Straits Times Singapura, kantor berita AFP dan Reuters. Namun, melalui satu rapat di Wisma Tempo, Sirnagalih, dekat Puncak Pass, “bendera” kebanggaan itu diturunkan. Tak seperti biasa, GM membuka rapat dengan naskah di tangan. Intinya, perubahan orientasi, dari majalah yang dinanti-nanti karena beritanya eksklusif menjadi majalah yang “mengekor”. Beberapa wartawan menentang pembalikan haluan itu. Dengan segelintir oposisi dan floor yang mengamini GM, maka tumbanglah sudah “bendera” Tempo. Dia tinggal hanya sedikit lebih berharga dari rangkuman kliping koran.
Enam tahun Janet melakukan penelitian untuk proyeknya ini. Mungkin masih ada kesalahan yang kurang berarti dalam kisahnya tentang sepenggal sejarah pers dari satu negeri yang jauh. Dan dia menulisnya dengan empati, sementara orang lokal, terutama orang Tempo sendiri, belum sempat berpikir menuliskan riwayatnya sendiri yang begitu kaya dan sarat dengan ironi.
*) Wartawan Tempo 1971-1984
[Buku, Gatra Nomor 43 Beredar Kamis, 6 Septemberi 2007]
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel GarcÃa Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati