Tampilkan postingan dengan label Benny Benke. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Benny Benke. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 November 2010

In Memoriam Asrul Sani “Terimalah Hidup Apa Adanya!”

Benny Benke
http://www.suaramerdeka.com/

SULTAN Marah Sani Syair Alamsyah, Yang Dipertuan Padang Nunang Rao Mapat Tunggul Mapat Cacang, mungkin tidak pernah mengira -demikian pula Nuraini binti Itam Nasution- kalau pada masanya putra mereka yang bernama Asrul Sani bakal menjadi salah seorang tokoh penting dalam perjalanan dan perkembangan perfilman Indonesia.

Bahkan dalam lingkup yang lebih luas, ayah enam putra kelahiran Rao, Sumatera Barat, 10 Juni 1927 itu bakal mewarnai perjalanan kesenian dan kebudayaan Tanah Air hingga akhir hayatnya.

Demikianlah, intisari pidato perpisahan yang disampaikan Salim Saad (mewakili keluarga), Rosihan Anwar (mewakili Akademi Jakarta), Pramana (mewakili Institut Kesenian Jakarta) dan Ratna Sarumpaet (mewakili Dewan Kesenian Jakarta) di depan jenazah Drs H Asrul Sani, yang disemayamkan sejak pukul 10.40 WIB, di Graha Bhakti Budaya II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (12/1) pagi, kemarin.

Ya, Asrul Sani yang mengawali kariernya sebagai seorang penyair, sebelum pada akhirnya menjadi penggerak utama perfilman Tanah Air bersama almarhum Usmar Ismail, telah mangkat dalam usia 76 tahun. Sekitar pukul 22.00 WIB, Minggu (11/1), malam suami Siti Nuraini dan Mutiara Sani itu wafat dikediamannya, Jl Attahiriyah II, Kompleks Warga Indah 4E, Pejaten Barat, Jakarta Selatan, setelah selama setahun berada di atas kursi roda.

”Tidak ada yang menduga beliau akan secepat ini meninggal dunia; karena meskipun selama setahun ini berada di atas kursi roda dan sakit-sakitan, sebenarnya almarhum tampak sehat-sehat saja,” terang Ratna Sarumpaet, adik kandung Mutiara Sani, sembari terbata-bata.

Di mata wartawan senior Rosihan Anwar -yang berbicara tidak hanya mewakili Akademi Jakarta namun juga sebagai pribadi-, sosok Asrul Sani yang pernah mengenyam pendidikan Royal Academy for Dramatic Arts Amsterdam (1950-1953) serta Departemen Teater dan Sinema di University of Southern California (USC), adalah persona yang bersahaja.

”Dalam film Markamah yang almarhum sutradarai, yang di dalamnya saya ikut terlibat, ada sebuah dialog yang berujar: Hidup tidak ada apa-apanya,” ujar Rosihan Anwar yang -pada kesempatan itu duduk bersama Ramadhan KH dan Sitor Situmorang- tak mampu menyembunyikan kedukaannya. ”Dari dialog itu, ada pesan dan peringatan dari almarhum yang filosofinya: Terimalah hidup apa adanya,” imbuhnya.

Memang, penulis Tiga Menguak Takdir, Mantera dan Kumpulan Sajak (Budaya Jaya), karya sastra yang telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa, itu semasa hidupnya bukanlah manusia biasa. Berbagai karya telah lahir dari ketekunan dan dedikasinya dalam dunia kesenian dan kebudayaan Tanah Air; yaitu antara lain berupa antalogi puisi, lagu, cerpen, esai, naskah film , naskah drama, naskah terjemahan (novel, puisi, drama), skenario, dan film. Bahkan, Asrul -yang semasa revolusi 1945-1950 menjadi anggota Laskar Rakyat Jakarta dan kemudian masuk TNI pasukan OO1 dibawah pimpinan Kolonel Lubis itu- juga meraih berbagai penghargaan.

Anugerah tersebut antara lain, piala Golden Harvest untuk film terbaik dalam Festival Film Asia (1971) lewat film Apa yang Kau Cari Palupi; delapan buah Piala Citra untuk cerita dan skenario film terbaik, masing-masing dalam film Kemelut Hidup (1979), Bawalah Aku Pergi (1982), Sorta (Cerita Asli) (1983), Titian Serambut Dibelah Tujuh (1983), Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1986), Nagabonar (1987), Nagabonar (Cerita Asli) (1987) serta Nada dan Dakwah (1992). Selan itu, sineas andal itu juga menerima The World Intelectual Property Organization (WIPO) Medal for Yhe Best Indonesia Author of the Year 2001, serta anugerah ”Bintang Mahaputera Utama” dari Pemerintah RI pada Agustus 2000.

Sebagai penerima Bintang Mahaputera Utama, sutradara panggung yang juga pernah mementaskan lakon Anton Chekov (Burung Camar), Satre (Pintu Tertutup), Robles (Monserrat), Lorca (Yerma), dan Albert Camus (Caligula) itu berhak dimakamkam di Taman Makam Pahlawan, lengkap dengan upacara militernya.

”Namun demikian, almarhum yang juga kakak, kawan, guru, dan sekaligus ayah bagi saya menolak untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan,” ujar Ratna Sarumpaet, yang mengaku banyak belajar teknik penulisan naskah drama dari almarhum.

Kesan kehilangan terhadap mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI (1966-1982) itu, tidak hanya dirasakan oleh para pekerja film dan kesenian yang pernah bersentuhan denganya; seperti Rosihan Anwar, Ratna Sarumpaet, Abiyati Abiyoga, Retno Maruti, Jajang C Noer, Pong Harjatmo, Putu Wijaya, Idris Sardi, Cok Simbara, dan Harry Capri, namun juga oleh para pekerja film yang jauh sesudahnya, seperti Mira Lesmana dan Riri Riza.

”Berbicara tentang Asrul Sani, adalah berbicara tentang setengah dari perjalanan film nasional,” ujar Riri Riza. ”Almarhum adalah trade mark perfilman Indonesia. Siapa yang tidak tahu Titian Serambut Dibelah Tujuh, Nagabonar, dan karya masterpiece lainnya. Meskipun saya hanya bersentuhan dengan belaiu ketika diajar di bangku IKJ, ketika almarhum mengajar sebagai dosen tamu,” imbuh Riri yang mengaku banyak terinspirasi oleh gaya penulisan naskah Asrul Sani.

Memang, tidak akan pernah cukup kata untuk menarasikan kebesaran Asrul Sani, sehingga tidak aneh jika kebesaran mantan rektor kedua IKJ -setelah Umar Kayam- itu masih menancap tajam di benak Cristine Hakim.

”Saya memang nyaris jarang bersentuhan langsung dengan almarhum. Namun hati saya senantiasa bergetar, jika berada pada satu forum dengan almarhum,” kata salah satu Pahlawan Asia 2003 itu. ”Sebagai seorang produser, saya baru tersadar; bahwa memang sulit menemukan penulis naskah film yang wahid; dan almarhum adalah the best scriptwriter. Sampai sekarang pun, saya masih mengaguminya,” imbuhnya.

Jenasah Asrul Sani, yang setelah disemayamkan di Graha Bhakti Budaya II disandingakan dengan Chairul Basri -kakak Asrul yang juga meninggal dunia 10 menit lebih awal– di Jl Prambanan, Menteng, Jakarta Pusat, akhirnya dikebumikan di peristirahatan terakhirnya, di makam Menteng Pulo, Jakarta, dengan suasana yang penuh khidmat. Inalillahi wainna ilaihi rojiun. Selamat jalan, Bang Asrul!

Jumat, 09 Januari 2009

17. (Le Parapluie)

http://www.kompas.com/
Benny Benke

1.
Aku meninggal pada usia 17 tahun. Ketika masa remaja sedang semerbak dan mekar-mekarnya. Aku tidak tahu pasti apa yang aku rasakan pada saat kematianku. Karena aku memang tidak merasakan apa-apa.Yang aku ingat, sebelum ajal menyongsongku, sebuah peluru melesat dan bersarang tepat, telak di tempurung, sebelum pada akhirnya menghancurkan tengkorak kepalaku. Mungkin otakku hancur oleh karenanya. Setelah itu, jantungku tidak berdenyut lagi, karena sudah tidak lagi mendapat asupan udara. Aku mati. Aku tidak ingat apa-apa lagi. Aku tidak merasakan apa-apa lagi.

Setahuku, setelah kematianku, arwahku menyaksikan orang-orang terdekat menderaskan air matanya ke pipi mereka. Kenapa mereka musti menangisi kematianku? Apalagi Sita, perempuan yang aku cintai dan sangat mencintaiku melebihi cintanya kepada kedua orang tuanya sendiri, sampai meratapi kepergianku. Histeris.

Padahal aku sendiri baik-baik saja di sini. Malah tidak kurang suatu apa. Baik-baik saja. Sangat baik-baik saja.

Tidak berapa lama kemudian, setelah prosesi memandikan, mengkafani kemudian mensholati mayatku yang masih saja menyisakan luberan darah segar di kafan, tepatnya di bagian kepala, mereka semua menghantar jasadku ke pekuburan Karet. Sekarang aku baru ingat mengapa keluargaku menguburkan aku di Tempat Pemakaman Umum Karet, di Jakarta Pusat.

Karena di sana bersemayan jasad Chairil Anwar dan Pramudya Ananta Toer. Dua orang besar pada zamannya masing-masing. Apakah aku orang besar sehingga layak dipadankan dengan Chairil dan Pramudya? Tidak sama sekali. Aku adalah bajingan dalam arti yang sebenarnya. Pecundang yang cenderung dan senantiasa dikalahkan oleh diri sendiri. Anak muda yang kalah dan payah moralitas, serta lemah keteguhan hatinya. Aku mudah digoyang nafsu dalam bentuk apa pun. Apalagi nafsu berahi. Jika aku berperang melawannya, niscaya ia selalu menjadi pemenangnya. Ketabahan dan kesabaranku hanya melongo bila bersemuka dengannya.

Aku hanya bajingan kelas rendahan yang mencintai sastra dan mendambakan mati di pekuburan di mana Chairil dan Pramudya diistirahatkan. Itu saja. Tidak lebih. Karena aku mengagumi mereka berdua. Persetan dengan latar belakang mereka.

2.
Penyesalan sudah mati di sini. Saban hari kerjaku menumpulkan hati dan emoh mengelap cermin budi. Meski, satu dua kali aku masih gemar mengulurkan tangan dan hati atas nama kebaikan. Betapa pun kecil kebajikan itu.

Dulu. Dulu sekali sebelum kelahiranku. Kedua orang tuaku tidak mempunyai pengharapan muluk atas diriku yang masih di kandungan ibu. Cukup menjadi orang baik, berguna dan tidak merugikan diri sendiri apalagi kedua orang tua dan lingkungan, bagi mereka sudah cukup sempurna. ‘’Terlebih berguna untuk agama,’’ kata Ayahku ketika aku masih kanak-kanak. Agama?

Dalam kasus jalan hidupku yang dibangun dari satu kebetulan ke kebetulan lainnya, Agama cenderung aku abaikan. Agama, sepengetahuanku, memang luar biasa. Baik sebagai pemersatu umat sekaligus sebagai sumber pemecahnya. Sebenarnya, menurutku, bukan agamanya yang membawa malapetaka, tapi manusianya yang menafsirkannya secara sepihak dan keliru atas kepentingan golongannya sendiri. Ah, ngomong apa ini aku. Sudah mati masih petatah petitih.

Intinya begini, aku mati dengan bekal agama yang sangat memprihatinkan. Meski aku berani mengklaim telah ditempa penderitaan yang tidak dapat disepelekan. Apa benang merah antara agama dan penderitaan? Aku tidak akan membahasnya. Apalah daya kedalaman keilmuanku menerang-nerangkan ihwal yang sangat membingungkan itu. Para agamawan, cerdik pandai dan filsuf mungkin lebih berkompeten membahas hal itu. Dalam pengertian yang paling bestari.

Begini saja, aku permudah ceritaku.
Aku meninggal pada usia 17 tahun, dengan meninggalkan cerita yang menyesakkan orang-orang yang aku tinggalkan. Teristimewa Sita. Ya, Sita. Perempuan Berbudi, demikian aku menyebutnya dalam hati. Sedikit banyak Sita tahu sejatinya diriku. Karena ingin tahu siapa sebenarnya aku, dia rela berseberangan pendapat dengan kedua orang tuanya, yang sangat klise, tidak berkenan dengan pilihan kekasih hati, anak perempuan tersayangnya.

Aku tidak akan membahas hal yang remeh temeh tentang kisah romansa ditentang orang tua, ketika kedua anak manusia bersiteguh atas pilihan akal sehat atau tidak sehat perasaannya. Nanti aku kelihatan cengeng. Aku emoh kelihatan cengeng, atau tepatnya, aku bukan tipikal cengeng layaknya kisah drama picisan yang banyak meminggirkan akal sehat itu. Aku lebih suka berkisah tentang adegan pertarungan di setiap sesi kehidupanku.

Hidupku memang aku lalui dari satu perkelahian ke perkelahian lainnya. Dalam arti yang sebenarnya. Meski sejatinya, aku adalah manusia yang paling cinta damai di dunia. Damai? Ah, omong kosong. Aku bohongi kalian semua. Aku pusing kalau dalam satu hari saja mukaku tidak bertubrukan dengan realitas kehidupan yang penuh perkelahian. Bagiku, hidup adalah pertarungan sampai nanti, sampai mati!

3.
Pada usia sembilan tahun adalah perkelahian terseru pertama yang aku lewati. Secara insting aku membela diriku atas permainan curang yang dilakukan dua kakak kelasku di bangku SD. Meski dikeroyok dua anak 12 tahun, yang secara postur lebih besar dari posturku, tidak sedikitpun membuatku gentar, apalagi ciut nyali. Kenapa bisa seperti itu? Aku sendiri tidak tahu. Mungkin self defence dari dalam diriku yang melakukannya. Meski untuk itu, dua gigiku tanggal, pipiku lebam, dan hidungku memar, sebelum akhirnya darah terus mengucurkan perihnya. Sedangkan Jefry dan Harry, juga tidak jauh berbeda keadaanya denganku. Bahkan pipi Jefrry cowel tergigit pada sebuah pergumulan. Untuk itu dia terus mengerang-ngerang karenanya. Apalagi cowelan daging pipinya dengan dramatis aku muntahkan di sekujur parasnya. Sedangkan Harry, selain kedua matanya memar dan bengkak, sebuah giginya juga tanggal tersapu sikut kananku. Dan ini yang paling menyakitkan baginya; tangan kananya terpelintir dan patah!

Sejak peristiwa itu, tidak ada yang berani lagi mencurangiku dalam setiap permaianan. Tidak juga Arsad, Sirod dan Mustofa. Tiga jawara di kelas 6 yang mempunyai jam terbang perkelahian yang tidak tergoyahkan. Malah mereka bertiga menyambangiku, mengulurkan tangan dan hatinya untuk mengajakku bersekutu.

Aku tidak menolak atau mengiyakan. Sepengetahuanku, aku senang-senang saja mempunyai kawan banyak. Hingga akhirnya, Arsad, Sirod dan Mustofa harus berurusan dengan Kepala Sekolah dan Kepolisian atas sebuah tindakan yang mereka perbuat. Yaitu terlibat pencurian mainan di sebuah mini market dekat Sekolahan kami.

‘’Kau boleh berkelahi dengan siapa pun, tapi jangan pernah lakukan yang satu itu, men-cu-ri. Ingat itu,’’ demikian pesan almarhum ibu sebelum nafasnya mandeg untuk kali terakhir, karena kanker rahim yang ditanggungnya. Usiaku waktu itu masih sepuluh, ketika kematian secara paksa mengajarkan padaku, bahwa kehilangan orang yang dicintai dan mencintai itu tidak mudah dan menyesakkan.

Sejak kematian ibu, satu hal yang tidak pernah aku lakukan adalah pesan almarhum, perihal mencuri itu. Sedangkan hobi perkelahianku, jalan terus... Aku berkelahi atas nama apa saja. Dari hal yang sepele sampai yang prinsipal.

Bagaiamanakah caranya seorang bocah sepuluh tahun belajar hal-hal yang remeh dan prinsip dalam hidupnya? Kekerasan dan penderitaan hidup yang mengajarkan dengan sendirinya. Salah satunya ketika ayahku tidak berdaya ketika rupiah tidak berpihak di sakunya, untuk sekedar membawa almarhum ibu pergi berobat, ketika maut sedang giat-giatnya mengintip-intip menawarkan kematiaannya.

Ah, sudahlah. Kematian ibu sudah aku relakan kok. Dua adik perempuanku yang masih delapan dan enam tahun memang sempat jejeritan ketika ibundanya meninggalkan mereka. Tapi entah dapat kekuatan darimana, mereka berdua sekarang bahkan seperti tiang bendera yang berdiri tegak di tengah prahara angin puting beliung kehidupan. Kalau mereka berdua bisa mengambil sikap secara instingtif seperti itu, kenapa aku yang kakaknya yang secara instingtif juga ingin melindungi mereka, tidak bisa bersikap serupa. Atau lebih kuat dan kokoh seharusnya.

Toh bapakku, meski juga sempat shock, akhirnya mampu mengusai dirinya juga, sembari tetap terus memberi naungan kepada dua putri tersayangnya.

Singkat cerita, sepulang menyaksikan jasad almarhum ibu dikebumikan, tiba-tiba aku menjadi akbrab dan dekat dengan nuansa kematian. Setiap ada yang mati dan aku tahu ada ritual penguburan di pemakaman Menteng Pulo, yang tidak jauh dari rumah orang tuaku, sebisa mungkin aku menghadirinya. Entah kenapa aku menjadi sangat bisa menikmati nunsa kematian. Menikmati pemandangan ketika orang-orang yang masih hidup sesunggukan menyaksikan orang yang mereka cintai dimakamkan. Menyaksikan histerisnya manusia ketika ditinggal pergi manusia lain karena kematian. Dalam nuansa ini, aku banyak menemukan manusia tiba-tiba menjadi lemah, tidak berdaya, payah, cengeng dan hanya satu dua kali aku menyaksikan orang-orang tegar, yang biasa-biasa saja menghadapi dan bersemuka dengan kematian. Seolah mereka telah maklum, bahwa kematian adalah bagian dari konsekwensi logis kehidupan yang tidak terpisahkan; kehidupan bergandengan dan berkawan karib dengan kematian.

Dari orang-orang seperti merekalah aku belajar menimba kekuatan. Dari manusia-manusia yang menyaksikan kematian sebagaimana memaklumi kelahiran, aku mengambil pengertian. Dari kematian, aku menemukan kehidupan. Aku mendapatkan kekuatan, untuk sangu pertarunganku selanjutnya.

Aku menemukan keindahan dari prosesi penguburan orang-orang yang mati beserta orang-orang yang mengiringi ke peristirahatan terakhirnya. Untuk alasasan inilah aku mencintai upacara penguburan dan menyaksikan drama aneka rasa dari orang-orang yang mengiringi prosesi pemakaman. Dan tidak terasa, telah puluhan prosesi penguburan yang telah aku ikuti dan saksikan, dan anehnya, aku tetap menjumpai keindahan di sana.

Ketika bapakku menanyakan tentang hobi anehku yang gemar menyaksikan dan menyelusup diantara orang-orang yang menghadiri prosesi pemakaman, aku menjawab sekenanya. Aku menemukan kenikmatan di sana, sebagaimana anak-anak lain menemukan kenikmtan ketika mengejar layang-layang putus di pinggir dan tengah jalan raya, atau anak-anak lain yang gemar bermain bola di taman kota dalam naungan hujan ketika derasnya tiba.

Hasilnya, aku menjadi akrab dan dekat dengan nuansa orang-orang yang ditinggalkan. Inilah yang membuatku secara tidak langsung juga dekat dan akrab dengan kematian. Dan kematian pula yang akhirnya mengajarkan padaku, untuk jangan pernah takut kepadanya. Ia toh seperti karib lama yang akan datang padamu, padaku atau pada siapapun kapan saja, dan di mana saja, seenaknya, tanpa kita minta. Atau bahkah sekalipun ketika kita, atau orang-orang yang mencintai kita tidak menghendaki kedatangannya. Siapa yang sanggup menghadang, membelokkan dan mencurangi kedatangan kematian yang tak terbantahkan?

4.
Atas nama kematian yang siap menjemputku kapan saja, akupun akhirnya terlatih senantiasa bersiap menyambut kedatangannya. Inilah yang membuatku semakin gemar melestarikan bakat besarku yang utama, yaitu ber-ke-la-hi.

Aku berkelahi dimana saja. Di ruang kelas, di kantin, di pintu luar gerbang sekolah, di gang sempit, di pinggir jalan raya, di mal, di taman kota, di metro mini, di gerbong kereta, di pinggir kolan renang, dan di mana saja. Aku tidak pernah berpikir apakah aku kalah atau menang dalam perkelahianku. Yang penting aku berkelahi, berkelahi dan berkelahi. Berkelahi dengan anak yang sebaya, sampai bahkan yang lebih besar sekalipun posturnya dariku, tidak masalah buatku.

Sudah tidak terhitung lagi, betapa kerasnya bogem anak-anak yang lebih besar dariku membuatku terjerembab dan pingsan karenanya. Tapi entah kenapa, itu tidak pernah membuaku kapok karenanya. Aku bahkan merasakan nikmat yang luar biasa ketika sebuah dan bertubi-tubi pukulan mendarat di wajahku. Aku bahkan seolah-olah bisa mengubah kesakitan menjadi sebuah kenikmatan tiada tiara, ketika kerasnya pukulan dating menderaku.

Jadi jangan heran jika aku bisa tersenyum ketika jatuh pingsan. Yang bahkan sampai membuat lawan tarungku kebingungan kebingungan sendiri.

Yang membedakan perkelahianku dengan perkelahian anak-anak lain adalah satu. Aku berkelahi atas nama panggilan hati, dan yang paling penting tidak pernah keroyokan alias seorang diri. Single menantang siapa saja, bahkan anak SMA yang tingginya duakali lipat dari posturku ketika aku duduk di bangku SMP, dulu. Jadi, aku berkelahi karena dorongan ingin berkelahi saja. Bukan karena aku dendam, sakit hati, iri, dengki atau alasan remeh- temeh lainnnya.

Pokoknya aku pusing kalau dalam sehari tidak berkelahi. Jika yang aku tantang, siapa pun itu orangnya menyatakan tidak kesediannya untuk berkelahi, maka aku tidak akan memaksanya. Sebagai pelariannya, aku pindah ke hobi keduaku, lari ke pekuburan di mana saja, menyaksikan prosesi pemakaman yang menurutku, semakin indah saja pemandangannya. Melebihi indahnya pemandangan jalan-jalan di mal yang lebih banyak digemari teman-teman sebayaku, di Jakarta. Untuk sekedar belanja-belanji, nonton biskop, atau sekedar berhaha-hi.

Karena dua hobiku yang di mata kawan-kawanku aneh, aku justru mendapatkan tempat tersendiri di hati mereka. Mereka tidak berani mencibir, justru senang karenanya, karena mereka merasa aman dengan keberadaanku. Paling tidak, jika ada yang mengganggu mereka, teristimewa teman-teman sekelasku, niscaya akan berhadapan denganku. Bahkan jika ada yang bermasalah dengan teman satu sekolahanpun, tetap juga harus berhitung denganku.

Pernah. Aku seorang diri berada di depan pintu gerbang sekolah, ketika puluhan siswa dari sekolah lain, mendatangi sekolahan kami untuk mencari salah satu musuh mereka. Meski mereka berpuluh jumlahnya, anehnya malah semakin membuat darah ini bergelegak. O, tentu saja aku remuk dikeroyok oleh mereka semua, dan kawan-kawan sesekolahanku, hanya melongo dibuatnya. Tapi paling tidak, aku juga telah berhasil membuat beberapa diantara mereka, remuk juga oleh bogem dan tendangan pencakku. Sebelum orang-orang yang lalu lalang di sekolahan kami melerai perkelahian tidak seimbang itu.

Untuk perkelahian ini, aku musti menginap selama seminggu di rumah sakit. Bapakku hanya mengernyitkan dahi, tanda ketidakmengertiannya melihat hobi aneh anaknya. Dan kedua adikku yang ayu, paling hanya menangis dan berkata dengan terpatah-patah, ‘’Sudahlah mas, mau sampai kapan terus berkelahi. Sudah ya, jangan berkelahi lagi,’’ ujar Audri, adik bungsuku. Sedangkan Anna, lebih suka diam sebagaimana sikap almarhum ibu, sembari tetap dan terus setia merawat setiap luka oleh-oleh perkelahian kakak tertua, dan tercintanya.

Aku belum punya pacar pada saat itu. Pada saat SMP aku lebih fokus memikirkan prosesi pemakaman dan perkelahian, daripada pacaran. Meski ada beberapa teman sekelas, yang dari mata dan bahasa tubuhnya aku tahu menjatuhkan hatinya padaku. Tapi aku tidak memungut perasaan mereka, apalagi memanfaatkannya, aku biasa saja.

5.
Hingga ketika aku duduk di bangku SMA, aku mulai berkenalan dengan Sita. Dari perhatian Sita pula, dia mulai menambah daftar baru hobiku lainnya. Yaitu, menyambanginya. Tentu saja, setelah menyambangi prosesi pemakaman, dan tempat perkelahian. Ah, sekarang, aku mempunyai seorang kekasih yang bisa aku ajak ke kuburan, untuk sekedar menyaksikan prosesi pemakaman. Bisa kau bayangkan bagaimana tingkah Sita ketika kali pertama bereaksi kala aku ajak bertandang ke kuburan, menyaksikan entah siapa itu orang yang dimakamkam? Dia shock! Tapi, setelah mengetahui alasan pasti mengapa aku menikmati prosesi penguburan, dia menjadi sedikit maklum. Meski tetap merasa aneh tentu saja.

Apalagi ketika pemakaman berlangsung berbarengan dengan gerimis hujan, dan hampir sebagian besar pelayatnya mengenakan pakaian dan payung serba hitam. Pemandangannya lebih syahdu dibandingkan adegan-adegan pemakaman yang kerap dipertontonkan di panggung teater, apalagi di layar lebar. Dan itu lebih menggetarkan. Adakah sesuatu yang bisa menimbulkan kerinduan mendalam selain ihwal yang mendebarkan dan menggetarkan ?

Tentang hobiku yang lain? Dia mulai bisa mengeremnya, meski seringkali aku diam-diam berkelahi tanpa sepengetahuannya, dengan alasan apa saja. Meski tentu saja, akhirnya tetap ketahuan juga karena betapapun aku pandai merahasiakannya, tetap saja meninggalkan beberapa bekas luka atau lebam di wajah, dan memar di beberapa bagian tubuh lainnya.

Singkat cerita, pada umur 17 tahun, aku dan Sita lulus dari SMA yang sama, dengan lancar, lancar saja. Tentu saja raihan nilai akhir kelulusan Sita pastinya lebih baik dariku. Meski sebenarnya nilai yang aku dapatkan tidak buruk-buruk amat. Tidak di atas rata-rata, tidak di bawah rata-rata. Dan ajaibnya lagi, aku mampu menembus Universitas Negeri ternama di Jakarta, masuk fakultas Sastra, jurusan Sastra Indonesia.

Lumayan, tidak buruk-buruk amat. Menggeluti bidang susastra, kegemaranku sejak duduk di bangku SMP. Sita sendiri, lebih suka memperdalam keilmuannya ke fakultas Psikologi, menseriusi keingintahuannya perihal tingkah polah jiwa manusia, katanya. Kajian utamanya, pacarnya sendiri: aku. Tentu saja bukan hal yang sulit bagi perempuan sepintar Sita menembus sulit dan ketatnya untuk lolos seleksi di Universitar Negeri ternama di Jakarta itu. Tidak ada yang istimewa dengan diterimanya Sita. Menjadi istimewa dan mengherankan, jika pertanyaan itu ditujukan kepadaku.

Atas diterimanya aku di universitas Negeri, ayahku sangat bersyukur karenanya. Sebagai pegawai negeri kelas biasa, tentu saja beliau bahagia sekaligus bangga anak sulungnya mampu sekolah di universitas negeri. Selain biayanya tidak semahal, meski buatku masih mahal juga, paling tidak, belum atau tidak semahal sekolah swasta.

6.
Nah, pada Ospeks itulah saat-saat yang menggembirakan dalam hidupku. Aku sudah berjalan pada azas kepatutan mahiswa baru yang tentu saja harus manut diperlakukan dengan seenaknya oleh para seniornya. Berlaku benar sesuai dengan ketentuan yang digariskan saja masih sangat bisa dianggap salah oleh senior. Apalagi salah atau membuat kekeliruan, pasti akan menimbulkan amarah mereka. Aku tentu saja pada mulanya hanya tersenyum melihat tingkah polah lucu mereka, yang gemar berteriak-teriak karena sebuah alasan yang tidak jelas. Yang paling mengherankan kita diharuskan gentar, takut dan hormat kepada senior karena sebuah alasan yang tidak jelas. Sebuah pola pikir yang mengherankan yang tumbuh subur di sebuah universitas yang konon mengedepankan akal sehat dan merdeka untuk berpikir.

Tentu saja aku harus meminta maaf dalam hati kepada Sita, sebelum perkelahianku yang pertama di jenjang kemahasiswaan aku lakukan di hari pertama perpeloncoanku. Memang, ketika lulus SMU aku sudah mengikat janji suci kepada Sita untuk tidak melestarikan bakat berkelahiku. ‘’Kau boleh berkelahi dengan kerasnya kehidupan ini, tapi tanpa harus menggunakan kekuatan fisik dan kekuatan nyalimu untuk menghadapi siapa saja,’’ katanya pada saat itu. Aku hanya mengangguk, mengiyakan tak, menidakkan tak, sebelum pada akhirnya ia mencium keningku.

Tapi, karena aku melihat ada yang tidak beres dalam proses perpeloncoan, maka, dengan senang hati aku lawan sistem itu. Bayarannya, aku nyaris dikeroyok lima orang kakak kelasku. Perkelahian itu batal, karena teman-teman seangkatanku telah mencekal tubuhku. Padahal, sejatinya, aku sangat mendamba perkelahian itu. Ah…akibat terparahnya, aku terkena peringatan pertama dari senat mahasiswa fakultas di hari pertama menginjakkan kaki di bangku kuliah. Setelah sebelumnya di sidang dalam sebuah majelis yang non-sense. Yang menyisakan ancaman-ancaman di kanan-kiri, depan belakang dari para senior yang di benak mereka hanya ada terminology menaklukkan juniornya. Siapa pun dia. Apapun alasannya.

Nah, bukan dendam, sakit hati, kepengecutan bahkan fitnah sekalipun yang aku takutkan dalam hidup ini. Kematian telah mengajarkan padaku untuk dapat mengatasi semua penyakit hati manusia itu. Jadi, alih-alih gentar kepada semua hal itu, aku justru senantiasa siaga kepada sifat-sifat seperti itu. Jadi, para senior itu, bukan bandingan dan musuhku sebenarnya. Mereka tak lebih dari pada domba yang bisanya bergerombol, kemudian saling memengaruhi satu sama lain, untuk membeci orang-orang yang membuat mereka tidak berkenan. Selanjutnya, mereka bergunjing persis seperti acara gossip murahan yang banyak disiarkan di TV-TV itu. Tidak ada yang perlu aku kawatirkan atas keberadaan mereka. Tidak satu titik pun.

7.
Hingga akhirnya, peluru itu bertandang tepat di batok kepalaku. Berbarengan dengan gema adzan Isya yang berkumandang bersahut-sahut memanggil-maggil orang soleh untuk untuk mensyukuri hidup mereka. Waktu itu, aku baru saja tiba di rumah Sita. Bergandengan kami yang sebenarnya kelelahan tapi hepi, sampai di rumah Sita, seusai Ospeks yang tidak bermutu itu. Berbarengan dengan saat orang-orang soleh merayakan kemenangan dengan membasuh paras mereka dengan air wudlu, pada saat itulah, timah panas yang dimuntahkan dari pistol ayah Sita bersarang di kepalaku.

Entah atas dasar alasan apa, orang tua Sita yang sepertinya sedang berperkara dengan dirinya sendiri, atau jabatannya, atau atasannya, atau apapun itu, mengarahkan pistolnya ke arahku. Aku bahkan baru kali pertama bersua muka dengan paras ayah kekasihku itu. Tapi entah kenapa, tanpa memberi aku kesemptan melakukan pembelaan dan perlawanan, peluru itu melaju dengan kecepatan kedipan mata ke arahku. Sita sendiri, juga tidak sempat bereaksi apa-apa, kecuali hanya berpekik, ‘’Ayah!!!’’. Sekedip kemudian aku roboh di samping Sita. Sekedip kemudian, histeria Sita berlipat ketika ayahnya mengarahkan pistolnya ke kepalanya sendiri. ‘’Dor…’’. Ayah kekasihku yang perwira itu rubuh juga, setelah sebelumnya kegilaannya merubuhkanku terlebih dahulu.

Aku tidak ingat apa-apa lagi saat itu. Sepemahamanku, hidup memang rentan. Dan dapat berubah dalam hitungan kedip. Entah karena sebuah alasan yang jelas atau gelap sama sekali. Bisa dimengerti atau absurd sama sekali. Padahal, dua hari lagi 17 tahun akan aku tinggalkan, dan Sita telah menyediakan kado istimewa: lirik dan lagu ‘’Le Parapluie’’ yang pada suatu saat nanti bakal dinyanyikan Yann Tiersen dan Carla Bruni, istri Presiden Prancis Nicolas Sarkozi. ‘’Le Parapluie’’ atau yang berarti payung, kalau Anda tahu makna liriknya, pasti akan terharu dibuatnya, sekasar apapun hati Anda. Lagu ini ditulis oleh Georges Brassens untuk kekasihnya Joha Heiman pada tahun 1952. Namun sayang disayang, ada kado dari kehidupan yang lebih indah, yang selama ini sangat dekat, akrab, dan telah menjadi satu dengan nafas dan jalan hidupku. Dari sekedar lagu Brassens yang meluluhkan hati itu. Yaitu, ke-ma-tian. Taman kehidupan yang sebenarnya. ***

2005, 06, 07, 08

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati