Benny Benke
http://www.suaramerdeka.com/
SULTAN Marah Sani Syair Alamsyah, Yang Dipertuan Padang Nunang Rao Mapat Tunggul Mapat Cacang, mungkin tidak pernah mengira -demikian pula Nuraini binti Itam Nasution- kalau pada masanya putra mereka yang bernama Asrul Sani bakal menjadi salah seorang tokoh penting dalam perjalanan dan perkembangan perfilman Indonesia.
Bahkan dalam lingkup yang lebih luas, ayah enam putra kelahiran Rao, Sumatera Barat, 10 Juni 1927 itu bakal mewarnai perjalanan kesenian dan kebudayaan Tanah Air hingga akhir hayatnya.
Demikianlah, intisari pidato perpisahan yang disampaikan Salim Saad (mewakili keluarga), Rosihan Anwar (mewakili Akademi Jakarta), Pramana (mewakili Institut Kesenian Jakarta) dan Ratna Sarumpaet (mewakili Dewan Kesenian Jakarta) di depan jenazah Drs H Asrul Sani, yang disemayamkan sejak pukul 10.40 WIB, di Graha Bhakti Budaya II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (12/1) pagi, kemarin.
Ya, Asrul Sani yang mengawali kariernya sebagai seorang penyair, sebelum pada akhirnya menjadi penggerak utama perfilman Tanah Air bersama almarhum Usmar Ismail, telah mangkat dalam usia 76 tahun. Sekitar pukul 22.00 WIB, Minggu (11/1), malam suami Siti Nuraini dan Mutiara Sani itu wafat dikediamannya, Jl Attahiriyah II, Kompleks Warga Indah 4E, Pejaten Barat, Jakarta Selatan, setelah selama setahun berada di atas kursi roda.
”Tidak ada yang menduga beliau akan secepat ini meninggal dunia; karena meskipun selama setahun ini berada di atas kursi roda dan sakit-sakitan, sebenarnya almarhum tampak sehat-sehat saja,” terang Ratna Sarumpaet, adik kandung Mutiara Sani, sembari terbata-bata.
Di mata wartawan senior Rosihan Anwar -yang berbicara tidak hanya mewakili Akademi Jakarta namun juga sebagai pribadi-, sosok Asrul Sani yang pernah mengenyam pendidikan Royal Academy for Dramatic Arts Amsterdam (1950-1953) serta Departemen Teater dan Sinema di University of Southern California (USC), adalah persona yang bersahaja.
”Dalam film Markamah yang almarhum sutradarai, yang di dalamnya saya ikut terlibat, ada sebuah dialog yang berujar: Hidup tidak ada apa-apanya,” ujar Rosihan Anwar yang -pada kesempatan itu duduk bersama Ramadhan KH dan Sitor Situmorang- tak mampu menyembunyikan kedukaannya. ”Dari dialog itu, ada pesan dan peringatan dari almarhum yang filosofinya: Terimalah hidup apa adanya,” imbuhnya.
Memang, penulis Tiga Menguak Takdir, Mantera dan Kumpulan Sajak (Budaya Jaya), karya sastra yang telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa, itu semasa hidupnya bukanlah manusia biasa. Berbagai karya telah lahir dari ketekunan dan dedikasinya dalam dunia kesenian dan kebudayaan Tanah Air; yaitu antara lain berupa antalogi puisi, lagu, cerpen, esai, naskah film , naskah drama, naskah terjemahan (novel, puisi, drama), skenario, dan film. Bahkan, Asrul -yang semasa revolusi 1945-1950 menjadi anggota Laskar Rakyat Jakarta dan kemudian masuk TNI pasukan OO1 dibawah pimpinan Kolonel Lubis itu- juga meraih berbagai penghargaan.
Anugerah tersebut antara lain, piala Golden Harvest untuk film terbaik dalam Festival Film Asia (1971) lewat film Apa yang Kau Cari Palupi; delapan buah Piala Citra untuk cerita dan skenario film terbaik, masing-masing dalam film Kemelut Hidup (1979), Bawalah Aku Pergi (1982), Sorta (Cerita Asli) (1983), Titian Serambut Dibelah Tujuh (1983), Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1986), Nagabonar (1987), Nagabonar (Cerita Asli) (1987) serta Nada dan Dakwah (1992). Selan itu, sineas andal itu juga menerima The World Intelectual Property Organization (WIPO) Medal for Yhe Best Indonesia Author of the Year 2001, serta anugerah ”Bintang Mahaputera Utama” dari Pemerintah RI pada Agustus 2000.
Sebagai penerima Bintang Mahaputera Utama, sutradara panggung yang juga pernah mementaskan lakon Anton Chekov (Burung Camar), Satre (Pintu Tertutup), Robles (Monserrat), Lorca (Yerma), dan Albert Camus (Caligula) itu berhak dimakamkam di Taman Makam Pahlawan, lengkap dengan upacara militernya.
”Namun demikian, almarhum yang juga kakak, kawan, guru, dan sekaligus ayah bagi saya menolak untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan,” ujar Ratna Sarumpaet, yang mengaku banyak belajar teknik penulisan naskah drama dari almarhum.
Kesan kehilangan terhadap mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI (1966-1982) itu, tidak hanya dirasakan oleh para pekerja film dan kesenian yang pernah bersentuhan denganya; seperti Rosihan Anwar, Ratna Sarumpaet, Abiyati Abiyoga, Retno Maruti, Jajang C Noer, Pong Harjatmo, Putu Wijaya, Idris Sardi, Cok Simbara, dan Harry Capri, namun juga oleh para pekerja film yang jauh sesudahnya, seperti Mira Lesmana dan Riri Riza.
”Berbicara tentang Asrul Sani, adalah berbicara tentang setengah dari perjalanan film nasional,” ujar Riri Riza. ”Almarhum adalah trade mark perfilman Indonesia. Siapa yang tidak tahu Titian Serambut Dibelah Tujuh, Nagabonar, dan karya masterpiece lainnya. Meskipun saya hanya bersentuhan dengan belaiu ketika diajar di bangku IKJ, ketika almarhum mengajar sebagai dosen tamu,” imbuh Riri yang mengaku banyak terinspirasi oleh gaya penulisan naskah Asrul Sani.
Memang, tidak akan pernah cukup kata untuk menarasikan kebesaran Asrul Sani, sehingga tidak aneh jika kebesaran mantan rektor kedua IKJ -setelah Umar Kayam- itu masih menancap tajam di benak Cristine Hakim.
”Saya memang nyaris jarang bersentuhan langsung dengan almarhum. Namun hati saya senantiasa bergetar, jika berada pada satu forum dengan almarhum,” kata salah satu Pahlawan Asia 2003 itu. ”Sebagai seorang produser, saya baru tersadar; bahwa memang sulit menemukan penulis naskah film yang wahid; dan almarhum adalah the best scriptwriter. Sampai sekarang pun, saya masih mengaguminya,” imbuhnya.
Jenasah Asrul Sani, yang setelah disemayamkan di Graha Bhakti Budaya II disandingakan dengan Chairul Basri -kakak Asrul yang juga meninggal dunia 10 menit lebih awal– di Jl Prambanan, Menteng, Jakarta Pusat, akhirnya dikebumikan di peristirahatan terakhirnya, di makam Menteng Pulo, Jakarta, dengan suasana yang penuh khidmat. Inalillahi wainna ilaihi rojiun. Selamat jalan, Bang Asrul!
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Benny Benke. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Benny Benke. Tampilkan semua postingan
Senin, 08 November 2010
Jumat, 09 Januari 2009
17. (Le Parapluie)
http://www.kompas.com/
Benny Benke
1.
Aku meninggal pada usia 17 tahun. Ketika masa remaja sedang semerbak dan mekar-mekarnya. Aku tidak tahu pasti apa yang aku rasakan pada saat kematianku. Karena aku memang tidak merasakan apa-apa.Yang aku ingat, sebelum ajal menyongsongku, sebuah peluru melesat dan bersarang tepat, telak di tempurung, sebelum pada akhirnya menghancurkan tengkorak kepalaku. Mungkin otakku hancur oleh karenanya. Setelah itu, jantungku tidak berdenyut lagi, karena sudah tidak lagi mendapat asupan udara. Aku mati. Aku tidak ingat apa-apa lagi. Aku tidak merasakan apa-apa lagi.
Setahuku, setelah kematianku, arwahku menyaksikan orang-orang terdekat menderaskan air matanya ke pipi mereka. Kenapa mereka musti menangisi kematianku? Apalagi Sita, perempuan yang aku cintai dan sangat mencintaiku melebihi cintanya kepada kedua orang tuanya sendiri, sampai meratapi kepergianku. Histeris.
Padahal aku sendiri baik-baik saja di sini. Malah tidak kurang suatu apa. Baik-baik saja. Sangat baik-baik saja.
Tidak berapa lama kemudian, setelah prosesi memandikan, mengkafani kemudian mensholati mayatku yang masih saja menyisakan luberan darah segar di kafan, tepatnya di bagian kepala, mereka semua menghantar jasadku ke pekuburan Karet. Sekarang aku baru ingat mengapa keluargaku menguburkan aku di Tempat Pemakaman Umum Karet, di Jakarta Pusat.
Karena di sana bersemayan jasad Chairil Anwar dan Pramudya Ananta Toer. Dua orang besar pada zamannya masing-masing. Apakah aku orang besar sehingga layak dipadankan dengan Chairil dan Pramudya? Tidak sama sekali. Aku adalah bajingan dalam arti yang sebenarnya. Pecundang yang cenderung dan senantiasa dikalahkan oleh diri sendiri. Anak muda yang kalah dan payah moralitas, serta lemah keteguhan hatinya. Aku mudah digoyang nafsu dalam bentuk apa pun. Apalagi nafsu berahi. Jika aku berperang melawannya, niscaya ia selalu menjadi pemenangnya. Ketabahan dan kesabaranku hanya melongo bila bersemuka dengannya.
Aku hanya bajingan kelas rendahan yang mencintai sastra dan mendambakan mati di pekuburan di mana Chairil dan Pramudya diistirahatkan. Itu saja. Tidak lebih. Karena aku mengagumi mereka berdua. Persetan dengan latar belakang mereka.
2.
Penyesalan sudah mati di sini. Saban hari kerjaku menumpulkan hati dan emoh mengelap cermin budi. Meski, satu dua kali aku masih gemar mengulurkan tangan dan hati atas nama kebaikan. Betapa pun kecil kebajikan itu.
Dulu. Dulu sekali sebelum kelahiranku. Kedua orang tuaku tidak mempunyai pengharapan muluk atas diriku yang masih di kandungan ibu. Cukup menjadi orang baik, berguna dan tidak merugikan diri sendiri apalagi kedua orang tua dan lingkungan, bagi mereka sudah cukup sempurna. ‘’Terlebih berguna untuk agama,’’ kata Ayahku ketika aku masih kanak-kanak. Agama?
Dalam kasus jalan hidupku yang dibangun dari satu kebetulan ke kebetulan lainnya, Agama cenderung aku abaikan. Agama, sepengetahuanku, memang luar biasa. Baik sebagai pemersatu umat sekaligus sebagai sumber pemecahnya. Sebenarnya, menurutku, bukan agamanya yang membawa malapetaka, tapi manusianya yang menafsirkannya secara sepihak dan keliru atas kepentingan golongannya sendiri. Ah, ngomong apa ini aku. Sudah mati masih petatah petitih.
Intinya begini, aku mati dengan bekal agama yang sangat memprihatinkan. Meski aku berani mengklaim telah ditempa penderitaan yang tidak dapat disepelekan. Apa benang merah antara agama dan penderitaan? Aku tidak akan membahasnya. Apalah daya kedalaman keilmuanku menerang-nerangkan ihwal yang sangat membingungkan itu. Para agamawan, cerdik pandai dan filsuf mungkin lebih berkompeten membahas hal itu. Dalam pengertian yang paling bestari.
Begini saja, aku permudah ceritaku.
Aku meninggal pada usia 17 tahun, dengan meninggalkan cerita yang menyesakkan orang-orang yang aku tinggalkan. Teristimewa Sita. Ya, Sita. Perempuan Berbudi, demikian aku menyebutnya dalam hati. Sedikit banyak Sita tahu sejatinya diriku. Karena ingin tahu siapa sebenarnya aku, dia rela berseberangan pendapat dengan kedua orang tuanya, yang sangat klise, tidak berkenan dengan pilihan kekasih hati, anak perempuan tersayangnya.
Aku tidak akan membahas hal yang remeh temeh tentang kisah romansa ditentang orang tua, ketika kedua anak manusia bersiteguh atas pilihan akal sehat atau tidak sehat perasaannya. Nanti aku kelihatan cengeng. Aku emoh kelihatan cengeng, atau tepatnya, aku bukan tipikal cengeng layaknya kisah drama picisan yang banyak meminggirkan akal sehat itu. Aku lebih suka berkisah tentang adegan pertarungan di setiap sesi kehidupanku.
Hidupku memang aku lalui dari satu perkelahian ke perkelahian lainnya. Dalam arti yang sebenarnya. Meski sejatinya, aku adalah manusia yang paling cinta damai di dunia. Damai? Ah, omong kosong. Aku bohongi kalian semua. Aku pusing kalau dalam satu hari saja mukaku tidak bertubrukan dengan realitas kehidupan yang penuh perkelahian. Bagiku, hidup adalah pertarungan sampai nanti, sampai mati!
3.
Pada usia sembilan tahun adalah perkelahian terseru pertama yang aku lewati. Secara insting aku membela diriku atas permainan curang yang dilakukan dua kakak kelasku di bangku SD. Meski dikeroyok dua anak 12 tahun, yang secara postur lebih besar dari posturku, tidak sedikitpun membuatku gentar, apalagi ciut nyali. Kenapa bisa seperti itu? Aku sendiri tidak tahu. Mungkin self defence dari dalam diriku yang melakukannya. Meski untuk itu, dua gigiku tanggal, pipiku lebam, dan hidungku memar, sebelum akhirnya darah terus mengucurkan perihnya. Sedangkan Jefry dan Harry, juga tidak jauh berbeda keadaanya denganku. Bahkan pipi Jefrry cowel tergigit pada sebuah pergumulan. Untuk itu dia terus mengerang-ngerang karenanya. Apalagi cowelan daging pipinya dengan dramatis aku muntahkan di sekujur parasnya. Sedangkan Harry, selain kedua matanya memar dan bengkak, sebuah giginya juga tanggal tersapu sikut kananku. Dan ini yang paling menyakitkan baginya; tangan kananya terpelintir dan patah!
Sejak peristiwa itu, tidak ada yang berani lagi mencurangiku dalam setiap permaianan. Tidak juga Arsad, Sirod dan Mustofa. Tiga jawara di kelas 6 yang mempunyai jam terbang perkelahian yang tidak tergoyahkan. Malah mereka bertiga menyambangiku, mengulurkan tangan dan hatinya untuk mengajakku bersekutu.
Aku tidak menolak atau mengiyakan. Sepengetahuanku, aku senang-senang saja mempunyai kawan banyak. Hingga akhirnya, Arsad, Sirod dan Mustofa harus berurusan dengan Kepala Sekolah dan Kepolisian atas sebuah tindakan yang mereka perbuat. Yaitu terlibat pencurian mainan di sebuah mini market dekat Sekolahan kami.
‘’Kau boleh berkelahi dengan siapa pun, tapi jangan pernah lakukan yang satu itu, men-cu-ri. Ingat itu,’’ demikian pesan almarhum ibu sebelum nafasnya mandeg untuk kali terakhir, karena kanker rahim yang ditanggungnya. Usiaku waktu itu masih sepuluh, ketika kematian secara paksa mengajarkan padaku, bahwa kehilangan orang yang dicintai dan mencintai itu tidak mudah dan menyesakkan.
Sejak kematian ibu, satu hal yang tidak pernah aku lakukan adalah pesan almarhum, perihal mencuri itu. Sedangkan hobi perkelahianku, jalan terus... Aku berkelahi atas nama apa saja. Dari hal yang sepele sampai yang prinsipal.
Bagaiamanakah caranya seorang bocah sepuluh tahun belajar hal-hal yang remeh dan prinsip dalam hidupnya? Kekerasan dan penderitaan hidup yang mengajarkan dengan sendirinya. Salah satunya ketika ayahku tidak berdaya ketika rupiah tidak berpihak di sakunya, untuk sekedar membawa almarhum ibu pergi berobat, ketika maut sedang giat-giatnya mengintip-intip menawarkan kematiaannya.
Ah, sudahlah. Kematian ibu sudah aku relakan kok. Dua adik perempuanku yang masih delapan dan enam tahun memang sempat jejeritan ketika ibundanya meninggalkan mereka. Tapi entah dapat kekuatan darimana, mereka berdua sekarang bahkan seperti tiang bendera yang berdiri tegak di tengah prahara angin puting beliung kehidupan. Kalau mereka berdua bisa mengambil sikap secara instingtif seperti itu, kenapa aku yang kakaknya yang secara instingtif juga ingin melindungi mereka, tidak bisa bersikap serupa. Atau lebih kuat dan kokoh seharusnya.
Toh bapakku, meski juga sempat shock, akhirnya mampu mengusai dirinya juga, sembari tetap terus memberi naungan kepada dua putri tersayangnya.
Singkat cerita, sepulang menyaksikan jasad almarhum ibu dikebumikan, tiba-tiba aku menjadi akbrab dan dekat dengan nuansa kematian. Setiap ada yang mati dan aku tahu ada ritual penguburan di pemakaman Menteng Pulo, yang tidak jauh dari rumah orang tuaku, sebisa mungkin aku menghadirinya. Entah kenapa aku menjadi sangat bisa menikmati nunsa kematian. Menikmati pemandangan ketika orang-orang yang masih hidup sesunggukan menyaksikan orang yang mereka cintai dimakamkan. Menyaksikan histerisnya manusia ketika ditinggal pergi manusia lain karena kematian. Dalam nuansa ini, aku banyak menemukan manusia tiba-tiba menjadi lemah, tidak berdaya, payah, cengeng dan hanya satu dua kali aku menyaksikan orang-orang tegar, yang biasa-biasa saja menghadapi dan bersemuka dengan kematian. Seolah mereka telah maklum, bahwa kematian adalah bagian dari konsekwensi logis kehidupan yang tidak terpisahkan; kehidupan bergandengan dan berkawan karib dengan kematian.
Dari orang-orang seperti merekalah aku belajar menimba kekuatan. Dari manusia-manusia yang menyaksikan kematian sebagaimana memaklumi kelahiran, aku mengambil pengertian. Dari kematian, aku menemukan kehidupan. Aku mendapatkan kekuatan, untuk sangu pertarunganku selanjutnya.
Aku menemukan keindahan dari prosesi penguburan orang-orang yang mati beserta orang-orang yang mengiringi ke peristirahatan terakhirnya. Untuk alasasan inilah aku mencintai upacara penguburan dan menyaksikan drama aneka rasa dari orang-orang yang mengiringi prosesi pemakaman. Dan tidak terasa, telah puluhan prosesi penguburan yang telah aku ikuti dan saksikan, dan anehnya, aku tetap menjumpai keindahan di sana.
Ketika bapakku menanyakan tentang hobi anehku yang gemar menyaksikan dan menyelusup diantara orang-orang yang menghadiri prosesi pemakaman, aku menjawab sekenanya. Aku menemukan kenikmatan di sana, sebagaimana anak-anak lain menemukan kenikmtan ketika mengejar layang-layang putus di pinggir dan tengah jalan raya, atau anak-anak lain yang gemar bermain bola di taman kota dalam naungan hujan ketika derasnya tiba.
Hasilnya, aku menjadi akrab dan dekat dengan nuansa orang-orang yang ditinggalkan. Inilah yang membuatku secara tidak langsung juga dekat dan akrab dengan kematian. Dan kematian pula yang akhirnya mengajarkan padaku, untuk jangan pernah takut kepadanya. Ia toh seperti karib lama yang akan datang padamu, padaku atau pada siapapun kapan saja, dan di mana saja, seenaknya, tanpa kita minta. Atau bahkah sekalipun ketika kita, atau orang-orang yang mencintai kita tidak menghendaki kedatangannya. Siapa yang sanggup menghadang, membelokkan dan mencurangi kedatangan kematian yang tak terbantahkan?
4.
Atas nama kematian yang siap menjemputku kapan saja, akupun akhirnya terlatih senantiasa bersiap menyambut kedatangannya. Inilah yang membuatku semakin gemar melestarikan bakat besarku yang utama, yaitu ber-ke-la-hi.
Aku berkelahi dimana saja. Di ruang kelas, di kantin, di pintu luar gerbang sekolah, di gang sempit, di pinggir jalan raya, di mal, di taman kota, di metro mini, di gerbong kereta, di pinggir kolan renang, dan di mana saja. Aku tidak pernah berpikir apakah aku kalah atau menang dalam perkelahianku. Yang penting aku berkelahi, berkelahi dan berkelahi. Berkelahi dengan anak yang sebaya, sampai bahkan yang lebih besar sekalipun posturnya dariku, tidak masalah buatku.
Sudah tidak terhitung lagi, betapa kerasnya bogem anak-anak yang lebih besar dariku membuatku terjerembab dan pingsan karenanya. Tapi entah kenapa, itu tidak pernah membuaku kapok karenanya. Aku bahkan merasakan nikmat yang luar biasa ketika sebuah dan bertubi-tubi pukulan mendarat di wajahku. Aku bahkan seolah-olah bisa mengubah kesakitan menjadi sebuah kenikmatan tiada tiara, ketika kerasnya pukulan dating menderaku.
Jadi jangan heran jika aku bisa tersenyum ketika jatuh pingsan. Yang bahkan sampai membuat lawan tarungku kebingungan kebingungan sendiri.
Yang membedakan perkelahianku dengan perkelahian anak-anak lain adalah satu. Aku berkelahi atas nama panggilan hati, dan yang paling penting tidak pernah keroyokan alias seorang diri. Single menantang siapa saja, bahkan anak SMA yang tingginya duakali lipat dari posturku ketika aku duduk di bangku SMP, dulu. Jadi, aku berkelahi karena dorongan ingin berkelahi saja. Bukan karena aku dendam, sakit hati, iri, dengki atau alasan remeh- temeh lainnnya.
Pokoknya aku pusing kalau dalam sehari tidak berkelahi. Jika yang aku tantang, siapa pun itu orangnya menyatakan tidak kesediannya untuk berkelahi, maka aku tidak akan memaksanya. Sebagai pelariannya, aku pindah ke hobi keduaku, lari ke pekuburan di mana saja, menyaksikan prosesi pemakaman yang menurutku, semakin indah saja pemandangannya. Melebihi indahnya pemandangan jalan-jalan di mal yang lebih banyak digemari teman-teman sebayaku, di Jakarta. Untuk sekedar belanja-belanji, nonton biskop, atau sekedar berhaha-hi.
Karena dua hobiku yang di mata kawan-kawanku aneh, aku justru mendapatkan tempat tersendiri di hati mereka. Mereka tidak berani mencibir, justru senang karenanya, karena mereka merasa aman dengan keberadaanku. Paling tidak, jika ada yang mengganggu mereka, teristimewa teman-teman sekelasku, niscaya akan berhadapan denganku. Bahkan jika ada yang bermasalah dengan teman satu sekolahanpun, tetap juga harus berhitung denganku.
Pernah. Aku seorang diri berada di depan pintu gerbang sekolah, ketika puluhan siswa dari sekolah lain, mendatangi sekolahan kami untuk mencari salah satu musuh mereka. Meski mereka berpuluh jumlahnya, anehnya malah semakin membuat darah ini bergelegak. O, tentu saja aku remuk dikeroyok oleh mereka semua, dan kawan-kawan sesekolahanku, hanya melongo dibuatnya. Tapi paling tidak, aku juga telah berhasil membuat beberapa diantara mereka, remuk juga oleh bogem dan tendangan pencakku. Sebelum orang-orang yang lalu lalang di sekolahan kami melerai perkelahian tidak seimbang itu.
Untuk perkelahian ini, aku musti menginap selama seminggu di rumah sakit. Bapakku hanya mengernyitkan dahi, tanda ketidakmengertiannya melihat hobi aneh anaknya. Dan kedua adikku yang ayu, paling hanya menangis dan berkata dengan terpatah-patah, ‘’Sudahlah mas, mau sampai kapan terus berkelahi. Sudah ya, jangan berkelahi lagi,’’ ujar Audri, adik bungsuku. Sedangkan Anna, lebih suka diam sebagaimana sikap almarhum ibu, sembari tetap dan terus setia merawat setiap luka oleh-oleh perkelahian kakak tertua, dan tercintanya.
Aku belum punya pacar pada saat itu. Pada saat SMP aku lebih fokus memikirkan prosesi pemakaman dan perkelahian, daripada pacaran. Meski ada beberapa teman sekelas, yang dari mata dan bahasa tubuhnya aku tahu menjatuhkan hatinya padaku. Tapi aku tidak memungut perasaan mereka, apalagi memanfaatkannya, aku biasa saja.
5.
Hingga ketika aku duduk di bangku SMA, aku mulai berkenalan dengan Sita. Dari perhatian Sita pula, dia mulai menambah daftar baru hobiku lainnya. Yaitu, menyambanginya. Tentu saja, setelah menyambangi prosesi pemakaman, dan tempat perkelahian. Ah, sekarang, aku mempunyai seorang kekasih yang bisa aku ajak ke kuburan, untuk sekedar menyaksikan prosesi pemakaman. Bisa kau bayangkan bagaimana tingkah Sita ketika kali pertama bereaksi kala aku ajak bertandang ke kuburan, menyaksikan entah siapa itu orang yang dimakamkam? Dia shock! Tapi, setelah mengetahui alasan pasti mengapa aku menikmati prosesi penguburan, dia menjadi sedikit maklum. Meski tetap merasa aneh tentu saja.
Apalagi ketika pemakaman berlangsung berbarengan dengan gerimis hujan, dan hampir sebagian besar pelayatnya mengenakan pakaian dan payung serba hitam. Pemandangannya lebih syahdu dibandingkan adegan-adegan pemakaman yang kerap dipertontonkan di panggung teater, apalagi di layar lebar. Dan itu lebih menggetarkan. Adakah sesuatu yang bisa menimbulkan kerinduan mendalam selain ihwal yang mendebarkan dan menggetarkan ?
Tentang hobiku yang lain? Dia mulai bisa mengeremnya, meski seringkali aku diam-diam berkelahi tanpa sepengetahuannya, dengan alasan apa saja. Meski tentu saja, akhirnya tetap ketahuan juga karena betapapun aku pandai merahasiakannya, tetap saja meninggalkan beberapa bekas luka atau lebam di wajah, dan memar di beberapa bagian tubuh lainnya.
Singkat cerita, pada umur 17 tahun, aku dan Sita lulus dari SMA yang sama, dengan lancar, lancar saja. Tentu saja raihan nilai akhir kelulusan Sita pastinya lebih baik dariku. Meski sebenarnya nilai yang aku dapatkan tidak buruk-buruk amat. Tidak di atas rata-rata, tidak di bawah rata-rata. Dan ajaibnya lagi, aku mampu menembus Universitas Negeri ternama di Jakarta, masuk fakultas Sastra, jurusan Sastra Indonesia.
Lumayan, tidak buruk-buruk amat. Menggeluti bidang susastra, kegemaranku sejak duduk di bangku SMP. Sita sendiri, lebih suka memperdalam keilmuannya ke fakultas Psikologi, menseriusi keingintahuannya perihal tingkah polah jiwa manusia, katanya. Kajian utamanya, pacarnya sendiri: aku. Tentu saja bukan hal yang sulit bagi perempuan sepintar Sita menembus sulit dan ketatnya untuk lolos seleksi di Universitar Negeri ternama di Jakarta itu. Tidak ada yang istimewa dengan diterimanya Sita. Menjadi istimewa dan mengherankan, jika pertanyaan itu ditujukan kepadaku.
Atas diterimanya aku di universitas Negeri, ayahku sangat bersyukur karenanya. Sebagai pegawai negeri kelas biasa, tentu saja beliau bahagia sekaligus bangga anak sulungnya mampu sekolah di universitas negeri. Selain biayanya tidak semahal, meski buatku masih mahal juga, paling tidak, belum atau tidak semahal sekolah swasta.
6.
Nah, pada Ospeks itulah saat-saat yang menggembirakan dalam hidupku. Aku sudah berjalan pada azas kepatutan mahiswa baru yang tentu saja harus manut diperlakukan dengan seenaknya oleh para seniornya. Berlaku benar sesuai dengan ketentuan yang digariskan saja masih sangat bisa dianggap salah oleh senior. Apalagi salah atau membuat kekeliruan, pasti akan menimbulkan amarah mereka. Aku tentu saja pada mulanya hanya tersenyum melihat tingkah polah lucu mereka, yang gemar berteriak-teriak karena sebuah alasan yang tidak jelas. Yang paling mengherankan kita diharuskan gentar, takut dan hormat kepada senior karena sebuah alasan yang tidak jelas. Sebuah pola pikir yang mengherankan yang tumbuh subur di sebuah universitas yang konon mengedepankan akal sehat dan merdeka untuk berpikir.
Tentu saja aku harus meminta maaf dalam hati kepada Sita, sebelum perkelahianku yang pertama di jenjang kemahasiswaan aku lakukan di hari pertama perpeloncoanku. Memang, ketika lulus SMU aku sudah mengikat janji suci kepada Sita untuk tidak melestarikan bakat berkelahiku. ‘’Kau boleh berkelahi dengan kerasnya kehidupan ini, tapi tanpa harus menggunakan kekuatan fisik dan kekuatan nyalimu untuk menghadapi siapa saja,’’ katanya pada saat itu. Aku hanya mengangguk, mengiyakan tak, menidakkan tak, sebelum pada akhirnya ia mencium keningku.
Tapi, karena aku melihat ada yang tidak beres dalam proses perpeloncoan, maka, dengan senang hati aku lawan sistem itu. Bayarannya, aku nyaris dikeroyok lima orang kakak kelasku. Perkelahian itu batal, karena teman-teman seangkatanku telah mencekal tubuhku. Padahal, sejatinya, aku sangat mendamba perkelahian itu. Ah…akibat terparahnya, aku terkena peringatan pertama dari senat mahasiswa fakultas di hari pertama menginjakkan kaki di bangku kuliah. Setelah sebelumnya di sidang dalam sebuah majelis yang non-sense. Yang menyisakan ancaman-ancaman di kanan-kiri, depan belakang dari para senior yang di benak mereka hanya ada terminology menaklukkan juniornya. Siapa pun dia. Apapun alasannya.
Nah, bukan dendam, sakit hati, kepengecutan bahkan fitnah sekalipun yang aku takutkan dalam hidup ini. Kematian telah mengajarkan padaku untuk dapat mengatasi semua penyakit hati manusia itu. Jadi, alih-alih gentar kepada semua hal itu, aku justru senantiasa siaga kepada sifat-sifat seperti itu. Jadi, para senior itu, bukan bandingan dan musuhku sebenarnya. Mereka tak lebih dari pada domba yang bisanya bergerombol, kemudian saling memengaruhi satu sama lain, untuk membeci orang-orang yang membuat mereka tidak berkenan. Selanjutnya, mereka bergunjing persis seperti acara gossip murahan yang banyak disiarkan di TV-TV itu. Tidak ada yang perlu aku kawatirkan atas keberadaan mereka. Tidak satu titik pun.
7.
Hingga akhirnya, peluru itu bertandang tepat di batok kepalaku. Berbarengan dengan gema adzan Isya yang berkumandang bersahut-sahut memanggil-maggil orang soleh untuk untuk mensyukuri hidup mereka. Waktu itu, aku baru saja tiba di rumah Sita. Bergandengan kami yang sebenarnya kelelahan tapi hepi, sampai di rumah Sita, seusai Ospeks yang tidak bermutu itu. Berbarengan dengan saat orang-orang soleh merayakan kemenangan dengan membasuh paras mereka dengan air wudlu, pada saat itulah, timah panas yang dimuntahkan dari pistol ayah Sita bersarang di kepalaku.
Entah atas dasar alasan apa, orang tua Sita yang sepertinya sedang berperkara dengan dirinya sendiri, atau jabatannya, atau atasannya, atau apapun itu, mengarahkan pistolnya ke arahku. Aku bahkan baru kali pertama bersua muka dengan paras ayah kekasihku itu. Tapi entah kenapa, tanpa memberi aku kesemptan melakukan pembelaan dan perlawanan, peluru itu melaju dengan kecepatan kedipan mata ke arahku. Sita sendiri, juga tidak sempat bereaksi apa-apa, kecuali hanya berpekik, ‘’Ayah!!!’’. Sekedip kemudian aku roboh di samping Sita. Sekedip kemudian, histeria Sita berlipat ketika ayahnya mengarahkan pistolnya ke kepalanya sendiri. ‘’Dor…’’. Ayah kekasihku yang perwira itu rubuh juga, setelah sebelumnya kegilaannya merubuhkanku terlebih dahulu.
Aku tidak ingat apa-apa lagi saat itu. Sepemahamanku, hidup memang rentan. Dan dapat berubah dalam hitungan kedip. Entah karena sebuah alasan yang jelas atau gelap sama sekali. Bisa dimengerti atau absurd sama sekali. Padahal, dua hari lagi 17 tahun akan aku tinggalkan, dan Sita telah menyediakan kado istimewa: lirik dan lagu ‘’Le Parapluie’’ yang pada suatu saat nanti bakal dinyanyikan Yann Tiersen dan Carla Bruni, istri Presiden Prancis Nicolas Sarkozi. ‘’Le Parapluie’’ atau yang berarti payung, kalau Anda tahu makna liriknya, pasti akan terharu dibuatnya, sekasar apapun hati Anda. Lagu ini ditulis oleh Georges Brassens untuk kekasihnya Joha Heiman pada tahun 1952. Namun sayang disayang, ada kado dari kehidupan yang lebih indah, yang selama ini sangat dekat, akrab, dan telah menjadi satu dengan nafas dan jalan hidupku. Dari sekedar lagu Brassens yang meluluhkan hati itu. Yaitu, ke-ma-tian. Taman kehidupan yang sebenarnya. ***
2005, 06, 07, 08
Benny Benke
1.
Aku meninggal pada usia 17 tahun. Ketika masa remaja sedang semerbak dan mekar-mekarnya. Aku tidak tahu pasti apa yang aku rasakan pada saat kematianku. Karena aku memang tidak merasakan apa-apa.Yang aku ingat, sebelum ajal menyongsongku, sebuah peluru melesat dan bersarang tepat, telak di tempurung, sebelum pada akhirnya menghancurkan tengkorak kepalaku. Mungkin otakku hancur oleh karenanya. Setelah itu, jantungku tidak berdenyut lagi, karena sudah tidak lagi mendapat asupan udara. Aku mati. Aku tidak ingat apa-apa lagi. Aku tidak merasakan apa-apa lagi.
Setahuku, setelah kematianku, arwahku menyaksikan orang-orang terdekat menderaskan air matanya ke pipi mereka. Kenapa mereka musti menangisi kematianku? Apalagi Sita, perempuan yang aku cintai dan sangat mencintaiku melebihi cintanya kepada kedua orang tuanya sendiri, sampai meratapi kepergianku. Histeris.
Padahal aku sendiri baik-baik saja di sini. Malah tidak kurang suatu apa. Baik-baik saja. Sangat baik-baik saja.
Tidak berapa lama kemudian, setelah prosesi memandikan, mengkafani kemudian mensholati mayatku yang masih saja menyisakan luberan darah segar di kafan, tepatnya di bagian kepala, mereka semua menghantar jasadku ke pekuburan Karet. Sekarang aku baru ingat mengapa keluargaku menguburkan aku di Tempat Pemakaman Umum Karet, di Jakarta Pusat.
Karena di sana bersemayan jasad Chairil Anwar dan Pramudya Ananta Toer. Dua orang besar pada zamannya masing-masing. Apakah aku orang besar sehingga layak dipadankan dengan Chairil dan Pramudya? Tidak sama sekali. Aku adalah bajingan dalam arti yang sebenarnya. Pecundang yang cenderung dan senantiasa dikalahkan oleh diri sendiri. Anak muda yang kalah dan payah moralitas, serta lemah keteguhan hatinya. Aku mudah digoyang nafsu dalam bentuk apa pun. Apalagi nafsu berahi. Jika aku berperang melawannya, niscaya ia selalu menjadi pemenangnya. Ketabahan dan kesabaranku hanya melongo bila bersemuka dengannya.
Aku hanya bajingan kelas rendahan yang mencintai sastra dan mendambakan mati di pekuburan di mana Chairil dan Pramudya diistirahatkan. Itu saja. Tidak lebih. Karena aku mengagumi mereka berdua. Persetan dengan latar belakang mereka.
2.
Penyesalan sudah mati di sini. Saban hari kerjaku menumpulkan hati dan emoh mengelap cermin budi. Meski, satu dua kali aku masih gemar mengulurkan tangan dan hati atas nama kebaikan. Betapa pun kecil kebajikan itu.
Dulu. Dulu sekali sebelum kelahiranku. Kedua orang tuaku tidak mempunyai pengharapan muluk atas diriku yang masih di kandungan ibu. Cukup menjadi orang baik, berguna dan tidak merugikan diri sendiri apalagi kedua orang tua dan lingkungan, bagi mereka sudah cukup sempurna. ‘’Terlebih berguna untuk agama,’’ kata Ayahku ketika aku masih kanak-kanak. Agama?
Dalam kasus jalan hidupku yang dibangun dari satu kebetulan ke kebetulan lainnya, Agama cenderung aku abaikan. Agama, sepengetahuanku, memang luar biasa. Baik sebagai pemersatu umat sekaligus sebagai sumber pemecahnya. Sebenarnya, menurutku, bukan agamanya yang membawa malapetaka, tapi manusianya yang menafsirkannya secara sepihak dan keliru atas kepentingan golongannya sendiri. Ah, ngomong apa ini aku. Sudah mati masih petatah petitih.
Intinya begini, aku mati dengan bekal agama yang sangat memprihatinkan. Meski aku berani mengklaim telah ditempa penderitaan yang tidak dapat disepelekan. Apa benang merah antara agama dan penderitaan? Aku tidak akan membahasnya. Apalah daya kedalaman keilmuanku menerang-nerangkan ihwal yang sangat membingungkan itu. Para agamawan, cerdik pandai dan filsuf mungkin lebih berkompeten membahas hal itu. Dalam pengertian yang paling bestari.
Begini saja, aku permudah ceritaku.
Aku meninggal pada usia 17 tahun, dengan meninggalkan cerita yang menyesakkan orang-orang yang aku tinggalkan. Teristimewa Sita. Ya, Sita. Perempuan Berbudi, demikian aku menyebutnya dalam hati. Sedikit banyak Sita tahu sejatinya diriku. Karena ingin tahu siapa sebenarnya aku, dia rela berseberangan pendapat dengan kedua orang tuanya, yang sangat klise, tidak berkenan dengan pilihan kekasih hati, anak perempuan tersayangnya.
Aku tidak akan membahas hal yang remeh temeh tentang kisah romansa ditentang orang tua, ketika kedua anak manusia bersiteguh atas pilihan akal sehat atau tidak sehat perasaannya. Nanti aku kelihatan cengeng. Aku emoh kelihatan cengeng, atau tepatnya, aku bukan tipikal cengeng layaknya kisah drama picisan yang banyak meminggirkan akal sehat itu. Aku lebih suka berkisah tentang adegan pertarungan di setiap sesi kehidupanku.
Hidupku memang aku lalui dari satu perkelahian ke perkelahian lainnya. Dalam arti yang sebenarnya. Meski sejatinya, aku adalah manusia yang paling cinta damai di dunia. Damai? Ah, omong kosong. Aku bohongi kalian semua. Aku pusing kalau dalam satu hari saja mukaku tidak bertubrukan dengan realitas kehidupan yang penuh perkelahian. Bagiku, hidup adalah pertarungan sampai nanti, sampai mati!
3.
Pada usia sembilan tahun adalah perkelahian terseru pertama yang aku lewati. Secara insting aku membela diriku atas permainan curang yang dilakukan dua kakak kelasku di bangku SD. Meski dikeroyok dua anak 12 tahun, yang secara postur lebih besar dari posturku, tidak sedikitpun membuatku gentar, apalagi ciut nyali. Kenapa bisa seperti itu? Aku sendiri tidak tahu. Mungkin self defence dari dalam diriku yang melakukannya. Meski untuk itu, dua gigiku tanggal, pipiku lebam, dan hidungku memar, sebelum akhirnya darah terus mengucurkan perihnya. Sedangkan Jefry dan Harry, juga tidak jauh berbeda keadaanya denganku. Bahkan pipi Jefrry cowel tergigit pada sebuah pergumulan. Untuk itu dia terus mengerang-ngerang karenanya. Apalagi cowelan daging pipinya dengan dramatis aku muntahkan di sekujur parasnya. Sedangkan Harry, selain kedua matanya memar dan bengkak, sebuah giginya juga tanggal tersapu sikut kananku. Dan ini yang paling menyakitkan baginya; tangan kananya terpelintir dan patah!
Sejak peristiwa itu, tidak ada yang berani lagi mencurangiku dalam setiap permaianan. Tidak juga Arsad, Sirod dan Mustofa. Tiga jawara di kelas 6 yang mempunyai jam terbang perkelahian yang tidak tergoyahkan. Malah mereka bertiga menyambangiku, mengulurkan tangan dan hatinya untuk mengajakku bersekutu.
Aku tidak menolak atau mengiyakan. Sepengetahuanku, aku senang-senang saja mempunyai kawan banyak. Hingga akhirnya, Arsad, Sirod dan Mustofa harus berurusan dengan Kepala Sekolah dan Kepolisian atas sebuah tindakan yang mereka perbuat. Yaitu terlibat pencurian mainan di sebuah mini market dekat Sekolahan kami.
‘’Kau boleh berkelahi dengan siapa pun, tapi jangan pernah lakukan yang satu itu, men-cu-ri. Ingat itu,’’ demikian pesan almarhum ibu sebelum nafasnya mandeg untuk kali terakhir, karena kanker rahim yang ditanggungnya. Usiaku waktu itu masih sepuluh, ketika kematian secara paksa mengajarkan padaku, bahwa kehilangan orang yang dicintai dan mencintai itu tidak mudah dan menyesakkan.
Sejak kematian ibu, satu hal yang tidak pernah aku lakukan adalah pesan almarhum, perihal mencuri itu. Sedangkan hobi perkelahianku, jalan terus... Aku berkelahi atas nama apa saja. Dari hal yang sepele sampai yang prinsipal.
Bagaiamanakah caranya seorang bocah sepuluh tahun belajar hal-hal yang remeh dan prinsip dalam hidupnya? Kekerasan dan penderitaan hidup yang mengajarkan dengan sendirinya. Salah satunya ketika ayahku tidak berdaya ketika rupiah tidak berpihak di sakunya, untuk sekedar membawa almarhum ibu pergi berobat, ketika maut sedang giat-giatnya mengintip-intip menawarkan kematiaannya.
Ah, sudahlah. Kematian ibu sudah aku relakan kok. Dua adik perempuanku yang masih delapan dan enam tahun memang sempat jejeritan ketika ibundanya meninggalkan mereka. Tapi entah dapat kekuatan darimana, mereka berdua sekarang bahkan seperti tiang bendera yang berdiri tegak di tengah prahara angin puting beliung kehidupan. Kalau mereka berdua bisa mengambil sikap secara instingtif seperti itu, kenapa aku yang kakaknya yang secara instingtif juga ingin melindungi mereka, tidak bisa bersikap serupa. Atau lebih kuat dan kokoh seharusnya.
Toh bapakku, meski juga sempat shock, akhirnya mampu mengusai dirinya juga, sembari tetap terus memberi naungan kepada dua putri tersayangnya.
Singkat cerita, sepulang menyaksikan jasad almarhum ibu dikebumikan, tiba-tiba aku menjadi akbrab dan dekat dengan nuansa kematian. Setiap ada yang mati dan aku tahu ada ritual penguburan di pemakaman Menteng Pulo, yang tidak jauh dari rumah orang tuaku, sebisa mungkin aku menghadirinya. Entah kenapa aku menjadi sangat bisa menikmati nunsa kematian. Menikmati pemandangan ketika orang-orang yang masih hidup sesunggukan menyaksikan orang yang mereka cintai dimakamkan. Menyaksikan histerisnya manusia ketika ditinggal pergi manusia lain karena kematian. Dalam nuansa ini, aku banyak menemukan manusia tiba-tiba menjadi lemah, tidak berdaya, payah, cengeng dan hanya satu dua kali aku menyaksikan orang-orang tegar, yang biasa-biasa saja menghadapi dan bersemuka dengan kematian. Seolah mereka telah maklum, bahwa kematian adalah bagian dari konsekwensi logis kehidupan yang tidak terpisahkan; kehidupan bergandengan dan berkawan karib dengan kematian.
Dari orang-orang seperti merekalah aku belajar menimba kekuatan. Dari manusia-manusia yang menyaksikan kematian sebagaimana memaklumi kelahiran, aku mengambil pengertian. Dari kematian, aku menemukan kehidupan. Aku mendapatkan kekuatan, untuk sangu pertarunganku selanjutnya.
Aku menemukan keindahan dari prosesi penguburan orang-orang yang mati beserta orang-orang yang mengiringi ke peristirahatan terakhirnya. Untuk alasasan inilah aku mencintai upacara penguburan dan menyaksikan drama aneka rasa dari orang-orang yang mengiringi prosesi pemakaman. Dan tidak terasa, telah puluhan prosesi penguburan yang telah aku ikuti dan saksikan, dan anehnya, aku tetap menjumpai keindahan di sana.
Ketika bapakku menanyakan tentang hobi anehku yang gemar menyaksikan dan menyelusup diantara orang-orang yang menghadiri prosesi pemakaman, aku menjawab sekenanya. Aku menemukan kenikmatan di sana, sebagaimana anak-anak lain menemukan kenikmtan ketika mengejar layang-layang putus di pinggir dan tengah jalan raya, atau anak-anak lain yang gemar bermain bola di taman kota dalam naungan hujan ketika derasnya tiba.
Hasilnya, aku menjadi akrab dan dekat dengan nuansa orang-orang yang ditinggalkan. Inilah yang membuatku secara tidak langsung juga dekat dan akrab dengan kematian. Dan kematian pula yang akhirnya mengajarkan padaku, untuk jangan pernah takut kepadanya. Ia toh seperti karib lama yang akan datang padamu, padaku atau pada siapapun kapan saja, dan di mana saja, seenaknya, tanpa kita minta. Atau bahkah sekalipun ketika kita, atau orang-orang yang mencintai kita tidak menghendaki kedatangannya. Siapa yang sanggup menghadang, membelokkan dan mencurangi kedatangan kematian yang tak terbantahkan?
4.
Atas nama kematian yang siap menjemputku kapan saja, akupun akhirnya terlatih senantiasa bersiap menyambut kedatangannya. Inilah yang membuatku semakin gemar melestarikan bakat besarku yang utama, yaitu ber-ke-la-hi.
Aku berkelahi dimana saja. Di ruang kelas, di kantin, di pintu luar gerbang sekolah, di gang sempit, di pinggir jalan raya, di mal, di taman kota, di metro mini, di gerbong kereta, di pinggir kolan renang, dan di mana saja. Aku tidak pernah berpikir apakah aku kalah atau menang dalam perkelahianku. Yang penting aku berkelahi, berkelahi dan berkelahi. Berkelahi dengan anak yang sebaya, sampai bahkan yang lebih besar sekalipun posturnya dariku, tidak masalah buatku.
Sudah tidak terhitung lagi, betapa kerasnya bogem anak-anak yang lebih besar dariku membuatku terjerembab dan pingsan karenanya. Tapi entah kenapa, itu tidak pernah membuaku kapok karenanya. Aku bahkan merasakan nikmat yang luar biasa ketika sebuah dan bertubi-tubi pukulan mendarat di wajahku. Aku bahkan seolah-olah bisa mengubah kesakitan menjadi sebuah kenikmatan tiada tiara, ketika kerasnya pukulan dating menderaku.
Jadi jangan heran jika aku bisa tersenyum ketika jatuh pingsan. Yang bahkan sampai membuat lawan tarungku kebingungan kebingungan sendiri.
Yang membedakan perkelahianku dengan perkelahian anak-anak lain adalah satu. Aku berkelahi atas nama panggilan hati, dan yang paling penting tidak pernah keroyokan alias seorang diri. Single menantang siapa saja, bahkan anak SMA yang tingginya duakali lipat dari posturku ketika aku duduk di bangku SMP, dulu. Jadi, aku berkelahi karena dorongan ingin berkelahi saja. Bukan karena aku dendam, sakit hati, iri, dengki atau alasan remeh- temeh lainnnya.
Pokoknya aku pusing kalau dalam sehari tidak berkelahi. Jika yang aku tantang, siapa pun itu orangnya menyatakan tidak kesediannya untuk berkelahi, maka aku tidak akan memaksanya. Sebagai pelariannya, aku pindah ke hobi keduaku, lari ke pekuburan di mana saja, menyaksikan prosesi pemakaman yang menurutku, semakin indah saja pemandangannya. Melebihi indahnya pemandangan jalan-jalan di mal yang lebih banyak digemari teman-teman sebayaku, di Jakarta. Untuk sekedar belanja-belanji, nonton biskop, atau sekedar berhaha-hi.
Karena dua hobiku yang di mata kawan-kawanku aneh, aku justru mendapatkan tempat tersendiri di hati mereka. Mereka tidak berani mencibir, justru senang karenanya, karena mereka merasa aman dengan keberadaanku. Paling tidak, jika ada yang mengganggu mereka, teristimewa teman-teman sekelasku, niscaya akan berhadapan denganku. Bahkan jika ada yang bermasalah dengan teman satu sekolahanpun, tetap juga harus berhitung denganku.
Pernah. Aku seorang diri berada di depan pintu gerbang sekolah, ketika puluhan siswa dari sekolah lain, mendatangi sekolahan kami untuk mencari salah satu musuh mereka. Meski mereka berpuluh jumlahnya, anehnya malah semakin membuat darah ini bergelegak. O, tentu saja aku remuk dikeroyok oleh mereka semua, dan kawan-kawan sesekolahanku, hanya melongo dibuatnya. Tapi paling tidak, aku juga telah berhasil membuat beberapa diantara mereka, remuk juga oleh bogem dan tendangan pencakku. Sebelum orang-orang yang lalu lalang di sekolahan kami melerai perkelahian tidak seimbang itu.
Untuk perkelahian ini, aku musti menginap selama seminggu di rumah sakit. Bapakku hanya mengernyitkan dahi, tanda ketidakmengertiannya melihat hobi aneh anaknya. Dan kedua adikku yang ayu, paling hanya menangis dan berkata dengan terpatah-patah, ‘’Sudahlah mas, mau sampai kapan terus berkelahi. Sudah ya, jangan berkelahi lagi,’’ ujar Audri, adik bungsuku. Sedangkan Anna, lebih suka diam sebagaimana sikap almarhum ibu, sembari tetap dan terus setia merawat setiap luka oleh-oleh perkelahian kakak tertua, dan tercintanya.
Aku belum punya pacar pada saat itu. Pada saat SMP aku lebih fokus memikirkan prosesi pemakaman dan perkelahian, daripada pacaran. Meski ada beberapa teman sekelas, yang dari mata dan bahasa tubuhnya aku tahu menjatuhkan hatinya padaku. Tapi aku tidak memungut perasaan mereka, apalagi memanfaatkannya, aku biasa saja.
5.
Hingga ketika aku duduk di bangku SMA, aku mulai berkenalan dengan Sita. Dari perhatian Sita pula, dia mulai menambah daftar baru hobiku lainnya. Yaitu, menyambanginya. Tentu saja, setelah menyambangi prosesi pemakaman, dan tempat perkelahian. Ah, sekarang, aku mempunyai seorang kekasih yang bisa aku ajak ke kuburan, untuk sekedar menyaksikan prosesi pemakaman. Bisa kau bayangkan bagaimana tingkah Sita ketika kali pertama bereaksi kala aku ajak bertandang ke kuburan, menyaksikan entah siapa itu orang yang dimakamkam? Dia shock! Tapi, setelah mengetahui alasan pasti mengapa aku menikmati prosesi penguburan, dia menjadi sedikit maklum. Meski tetap merasa aneh tentu saja.
Apalagi ketika pemakaman berlangsung berbarengan dengan gerimis hujan, dan hampir sebagian besar pelayatnya mengenakan pakaian dan payung serba hitam. Pemandangannya lebih syahdu dibandingkan adegan-adegan pemakaman yang kerap dipertontonkan di panggung teater, apalagi di layar lebar. Dan itu lebih menggetarkan. Adakah sesuatu yang bisa menimbulkan kerinduan mendalam selain ihwal yang mendebarkan dan menggetarkan ?
Tentang hobiku yang lain? Dia mulai bisa mengeremnya, meski seringkali aku diam-diam berkelahi tanpa sepengetahuannya, dengan alasan apa saja. Meski tentu saja, akhirnya tetap ketahuan juga karena betapapun aku pandai merahasiakannya, tetap saja meninggalkan beberapa bekas luka atau lebam di wajah, dan memar di beberapa bagian tubuh lainnya.
Singkat cerita, pada umur 17 tahun, aku dan Sita lulus dari SMA yang sama, dengan lancar, lancar saja. Tentu saja raihan nilai akhir kelulusan Sita pastinya lebih baik dariku. Meski sebenarnya nilai yang aku dapatkan tidak buruk-buruk amat. Tidak di atas rata-rata, tidak di bawah rata-rata. Dan ajaibnya lagi, aku mampu menembus Universitas Negeri ternama di Jakarta, masuk fakultas Sastra, jurusan Sastra Indonesia.
Lumayan, tidak buruk-buruk amat. Menggeluti bidang susastra, kegemaranku sejak duduk di bangku SMP. Sita sendiri, lebih suka memperdalam keilmuannya ke fakultas Psikologi, menseriusi keingintahuannya perihal tingkah polah jiwa manusia, katanya. Kajian utamanya, pacarnya sendiri: aku. Tentu saja bukan hal yang sulit bagi perempuan sepintar Sita menembus sulit dan ketatnya untuk lolos seleksi di Universitar Negeri ternama di Jakarta itu. Tidak ada yang istimewa dengan diterimanya Sita. Menjadi istimewa dan mengherankan, jika pertanyaan itu ditujukan kepadaku.
Atas diterimanya aku di universitas Negeri, ayahku sangat bersyukur karenanya. Sebagai pegawai negeri kelas biasa, tentu saja beliau bahagia sekaligus bangga anak sulungnya mampu sekolah di universitas negeri. Selain biayanya tidak semahal, meski buatku masih mahal juga, paling tidak, belum atau tidak semahal sekolah swasta.
6.
Nah, pada Ospeks itulah saat-saat yang menggembirakan dalam hidupku. Aku sudah berjalan pada azas kepatutan mahiswa baru yang tentu saja harus manut diperlakukan dengan seenaknya oleh para seniornya. Berlaku benar sesuai dengan ketentuan yang digariskan saja masih sangat bisa dianggap salah oleh senior. Apalagi salah atau membuat kekeliruan, pasti akan menimbulkan amarah mereka. Aku tentu saja pada mulanya hanya tersenyum melihat tingkah polah lucu mereka, yang gemar berteriak-teriak karena sebuah alasan yang tidak jelas. Yang paling mengherankan kita diharuskan gentar, takut dan hormat kepada senior karena sebuah alasan yang tidak jelas. Sebuah pola pikir yang mengherankan yang tumbuh subur di sebuah universitas yang konon mengedepankan akal sehat dan merdeka untuk berpikir.
Tentu saja aku harus meminta maaf dalam hati kepada Sita, sebelum perkelahianku yang pertama di jenjang kemahasiswaan aku lakukan di hari pertama perpeloncoanku. Memang, ketika lulus SMU aku sudah mengikat janji suci kepada Sita untuk tidak melestarikan bakat berkelahiku. ‘’Kau boleh berkelahi dengan kerasnya kehidupan ini, tapi tanpa harus menggunakan kekuatan fisik dan kekuatan nyalimu untuk menghadapi siapa saja,’’ katanya pada saat itu. Aku hanya mengangguk, mengiyakan tak, menidakkan tak, sebelum pada akhirnya ia mencium keningku.
Tapi, karena aku melihat ada yang tidak beres dalam proses perpeloncoan, maka, dengan senang hati aku lawan sistem itu. Bayarannya, aku nyaris dikeroyok lima orang kakak kelasku. Perkelahian itu batal, karena teman-teman seangkatanku telah mencekal tubuhku. Padahal, sejatinya, aku sangat mendamba perkelahian itu. Ah…akibat terparahnya, aku terkena peringatan pertama dari senat mahasiswa fakultas di hari pertama menginjakkan kaki di bangku kuliah. Setelah sebelumnya di sidang dalam sebuah majelis yang non-sense. Yang menyisakan ancaman-ancaman di kanan-kiri, depan belakang dari para senior yang di benak mereka hanya ada terminology menaklukkan juniornya. Siapa pun dia. Apapun alasannya.
Nah, bukan dendam, sakit hati, kepengecutan bahkan fitnah sekalipun yang aku takutkan dalam hidup ini. Kematian telah mengajarkan padaku untuk dapat mengatasi semua penyakit hati manusia itu. Jadi, alih-alih gentar kepada semua hal itu, aku justru senantiasa siaga kepada sifat-sifat seperti itu. Jadi, para senior itu, bukan bandingan dan musuhku sebenarnya. Mereka tak lebih dari pada domba yang bisanya bergerombol, kemudian saling memengaruhi satu sama lain, untuk membeci orang-orang yang membuat mereka tidak berkenan. Selanjutnya, mereka bergunjing persis seperti acara gossip murahan yang banyak disiarkan di TV-TV itu. Tidak ada yang perlu aku kawatirkan atas keberadaan mereka. Tidak satu titik pun.
7.
Hingga akhirnya, peluru itu bertandang tepat di batok kepalaku. Berbarengan dengan gema adzan Isya yang berkumandang bersahut-sahut memanggil-maggil orang soleh untuk untuk mensyukuri hidup mereka. Waktu itu, aku baru saja tiba di rumah Sita. Bergandengan kami yang sebenarnya kelelahan tapi hepi, sampai di rumah Sita, seusai Ospeks yang tidak bermutu itu. Berbarengan dengan saat orang-orang soleh merayakan kemenangan dengan membasuh paras mereka dengan air wudlu, pada saat itulah, timah panas yang dimuntahkan dari pistol ayah Sita bersarang di kepalaku.
Entah atas dasar alasan apa, orang tua Sita yang sepertinya sedang berperkara dengan dirinya sendiri, atau jabatannya, atau atasannya, atau apapun itu, mengarahkan pistolnya ke arahku. Aku bahkan baru kali pertama bersua muka dengan paras ayah kekasihku itu. Tapi entah kenapa, tanpa memberi aku kesemptan melakukan pembelaan dan perlawanan, peluru itu melaju dengan kecepatan kedipan mata ke arahku. Sita sendiri, juga tidak sempat bereaksi apa-apa, kecuali hanya berpekik, ‘’Ayah!!!’’. Sekedip kemudian aku roboh di samping Sita. Sekedip kemudian, histeria Sita berlipat ketika ayahnya mengarahkan pistolnya ke kepalanya sendiri. ‘’Dor…’’. Ayah kekasihku yang perwira itu rubuh juga, setelah sebelumnya kegilaannya merubuhkanku terlebih dahulu.
Aku tidak ingat apa-apa lagi saat itu. Sepemahamanku, hidup memang rentan. Dan dapat berubah dalam hitungan kedip. Entah karena sebuah alasan yang jelas atau gelap sama sekali. Bisa dimengerti atau absurd sama sekali. Padahal, dua hari lagi 17 tahun akan aku tinggalkan, dan Sita telah menyediakan kado istimewa: lirik dan lagu ‘’Le Parapluie’’ yang pada suatu saat nanti bakal dinyanyikan Yann Tiersen dan Carla Bruni, istri Presiden Prancis Nicolas Sarkozi. ‘’Le Parapluie’’ atau yang berarti payung, kalau Anda tahu makna liriknya, pasti akan terharu dibuatnya, sekasar apapun hati Anda. Lagu ini ditulis oleh Georges Brassens untuk kekasihnya Joha Heiman pada tahun 1952. Namun sayang disayang, ada kado dari kehidupan yang lebih indah, yang selama ini sangat dekat, akrab, dan telah menjadi satu dengan nafas dan jalan hidupku. Dari sekedar lagu Brassens yang meluluhkan hati itu. Yaitu, ke-ma-tian. Taman kehidupan yang sebenarnya. ***
2005, 06, 07, 08
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel GarcÃa Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati