Sjifa Amori
http://jurnalnasional.com/
Harus terus digairahkan, di antara menderasnya karya-karya sastra Indonesia yang bermunculan.
Suatu kali, HB Jassin pernah berkata, "Seorang kritikus adalah manusia biasa." Kalimat yang dilontarkan kritikus sastra terkemuka ini dituliskan kembali dalam Resume Mata Kuliah Kajian Puisi: Sajak Mengundang Asosiasi, Bukan Interpretasi, pada blog komunitas anak sastra.
Apa kiranya yang membuat HB Jassin mengutarakan pernyataan ini? Apakah karena tuntutan terhadap seorang kritikus, terutama sastra, begitu beratnya sehingga membuat kritikus merasa terbebani. Seperti kata Kris Budiman, kritikus toh bukan nabi yang membawa pesan dari Tuhan untuk manusia. Jadi, bagaimana bisa kritikus diminta menjawab semua persoalan sastra. Meski dalam prakteknya, pengkritik haruslah orang yang memiliki wawasan jauh lebih luas daripada orang awam ataupun sastrawannya sendiri.
"Syarat mutlaknya jelas wawasan yang luas. Dia juga harus mampu berpikir interdisipliner," kata sastrawan dan dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Ibnu Wahyudi. Ini menjadi wajib ketika kritik sastra diharapkan memberi kontribusi kepada perkembangan sastra itu sendiri.
Tentunya syarat ini juga untuk mencegah adanya kritik sastra yang tidak memadai. Yaitu yang diistilahkan Nensi Suherman dalam www.kartunet.com tergolong kritik sastra memprihatinkan. Karena kritikus yang menulis kritik sastra tidak mendalami bidangnya secara sungguh-sungguh. Belum lagi isi kritik sastra yang kurang ilmiah, dan lontaran berupa kritik sastra yang obyektif, intuitif, serta pesan-pesan, lebih banyak menceritakan isi karya sastra tanpa ulasan yang harusnya menjadi faktor utama.
Padahal, ada masanya ketika kritik sastra bahkan mampu mengungkap keaslian sebuah karya. Karena sejak zaman dulu, banyak fenomena di mana karya yang dihasilkan sebenarnya merupakan sebuah bentuk penceritaan kembali dari satu karya yang telah hadir lebih dulu (already told). Dalam hal ini, kritik sastra berfungsi sebagai penengah antara karya asli dan kebudayaan pendukungnya. Hal ini dikemukakan dalam rosiadha.wordpress.com yang menulis Perkembangan Kedudukan Kritik Sastra dalam "Criticism as a Secondary Art" karya Murray Krieger.
Kritik seni, menurut Saut Situmorang yang memperluas definisi kritiknya kritikus Amerika MH Abrams, dinyatakan sebagai studi analisis bersifat interpretatif-evaluatif atas karya seni ataupun seorang seniman.
JJ.Kusni, menulis di Paris pada Februari 2004, seperti dimuat dalam www.freelists.org, mengenai kritik modern. Khususnya metode retrospektif Denis Diderot, penulis dan pemikir besar Perancis abad XVIII. Dengan metode tersebut, diharapkan kritik tidak terlalu jauh dari kenyataan. Boleh jadi dengan metode ini, kata JJ. Kusni, kita bisa membaca isi ide yang disampaikan penulis "sebelum" dan "sesudah karya itu ditulis".
Boleh jadi, karena adanya kaidah-kaidah tertentu yang tak tertulis dalam mengkritisi karya sastra dan ukuran kategori dalam kritik sastra, maka kritik sastra jadi tidak begitu diminati. Malah, Saut dengan sangat prihatin menyatakan tentang ketiadaan kritik sastra, apalagi sebuah tradisi kritik sastra, yang mendampingi perjalanan sejarah sastra berbahasa Indonesia. Benarkah sudah sekritis ini kondisi kritik sastra Indonesia?
Bekal Pengetahuan
"Saya tidak bersepakat dengan Saut Situmorang yang menyatakan kritik sastra telah mati. Kita memiliki tokoh-tokoh semacam Kris Budiman, Hudan Hidayat, Arif B Prasetyo, Maman S Mahayana, Nirwan Dewanto, dan lain-lain. Kesemuanya terus menulis untuk mewujudkan kritik sastra yang sehat. Berusaha memasuki teks sastra untuk diapresiasi. Ditafsirkan. Lihat saja tulisan Kris Budiman yang membahas puisi Mashuri dan Iyut Fitra. Tulisan tersebut cukup mampu menelaah dan memposisikan puisi dalam kerangka struktural. Dan setelah melalui penelaahan, baru diketahui, puisi Mashuri dan Iyut Fitra masih lemah dalam menjalin logika tekstual," kata kritikus sastra Ribut Wijoto.
Kris Budiman sendiri memilih untuk tidak memusingkan perkara siapa yang mampu, bisa dan boleh, serta akan mengkritik karya seni. Baginya, kritikus adalah juga pembaca. "Siapa saja yang pernah belajar kritik sastra silahkan menulis kritik sastra. Yang penting punya bekal keterampilan pengetahuan untuk membuat itu." Artinya, bagi Kris, tidak masalah apakah sang kritikus adalah jebolan Fakultas Sastra atau justru pelaku sastranya sendiri.
Secara jumlah, kritik sastra yang ditulis kalangan akademisi jauh lebih banyak. Sayang, kritik sastra yang akademik ini dianggap tidak banyak memberikan pencerahan terhadap pembaca sastra dan terhadap kesustraannya sendiri.
"Ada betulnya memang anggapan itu. Terutama kalau tolak ukurnya adalah media massa cetak, seperti koran, majalah, dan jurnal khusus seperti Horison. Karena yang muncul di media ini kan pasti lebih banyak praktisi. Yaitu sastrawan yang juga melakukan kritik. Situasi ini sebenarnya tidak ideal. Karena bagaimanapun ada unsur subyektif yang kemudian tak mampu lagi dibedakan apakah dia sedang mengkritik atau sedang memuji teman komplotannya atau sedang melakukan studi sastra. Karena kalau bicara mengenai kritik kan sebenarnya berbicara mengenai sebuah disiplin. Keilmuan yang berkembang kan di perguruan tinggi. Masalahnya tidak banyak orang di perguruan tinggi yang menerapkan kritik itu mendapatkan publisitas dari media massa cetak umum," kata Ibnu Wahyudi pada Jurnal Nasional.
Permasalahan makin kompleks ketika akademisi sastra yang semestinya menjadi pihak "ideal" dalam mengkritisi sastra karena dianggap kuat secara teori dan bebas keberpihakan justru tak pernah mengkritik dengan sungguh-sungguh.
Mayoritas Sampah
Seperti yang digambarkan oleh kritikus sastra Ribut Wijoto bahwa sampai saat ini, belum ada skripsi yang mampu mempresentasikan kritik sastra secara jernih dan argumentatif. "Mayoritas adalah sampah. Karena kesadaran mahasiswa sastra terhadap kritik sastra amat rendah. Mereka menyikapi skripsi sebagai tugas. Hal lain adalah kemampuan dosen. Banyak dosen sastra Indonesia yang hanya sibuk sebagai pegawai negeri. Mereka enggan mendatangi forum-forum sastra. Keilmuan mereka juga tidak beranjak. Baca buku teorinya hanya ketika masih kuliah. Artinya, dosen tidak mampu membimbing mahasiswa untuk menciptakan karya kritik yang cemerlang. Tapi tidak bisa dipungkiri, pasti ada satu atau dua skripsi yang memiliki kekuatan kritik sastra. Persoalannya, apakah pihak penerbit mau susah payah menyisir ke kampus-kampus."
Belum lagi miskinnya buku teori kritik sastra. Dalam literatur Kritik "Sakit' Sastra Indonesia dalam Jurnal Kebudayaan The Sandour edisi III 2008 di situs www.sastra-indonesia.com, Liza Wahyuninto menjelaskan bahwa hingga saat ini, kesusastraan Indonesia dapat dikatakan terus saja miskin buku-buku teori kritik sastra. Buku-buku teori yang ada, kebanyakan buku terbitan lama dengan pembicaraan yang tidak lagi mutakhir. Buku-buku terbitan lama itu pun sulit didapat karena jumlahnya sedikit dan dimiliki oleh kalangan terbatas.
Di sinilah Ibnu Wahyudi melihat adanya ketimpangan antara kritik sastra oleh pelaku sastra dan oleh sarjana sastra. Yaitu bahwa banyak dari kalangan sarjana sastra tidak punya sikap melihat sastra sebagai bagian kehidupan intelektual mereka.
"Banyak faktor yang menyebabkan kritik sastra ditinggalkan jauh di belakang oleh karya sastranya. Mungkin saja karena media untuk kritik sastra terbatas. Atau karena pendidikan sastra kurang baik. Dan faktor-faktor ini tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan suatu sistem. Atau ada kondisi lain seperti persoalan ekonomi yang membuat kritik tidak ditulis orang. Jadi jangan menyalahkan akademisi atau sastrawan yang mengkritik. Boleh aja sastrawan menulis kritik seperti pelukis mengomentari pelukis lain. Kalau masalah subjektivitas, memang apa sih yang obyektif?" kata Kris Budiman yang tulisan-tulisannya, terutama mengenai sastra, gender, dan media, dipublikasikan di beberapa surat kabar, majalah, jurnal, dan buku bunga rampai.
Karena keterkaitan yang disampaikan oleh Kris ini, jadi terlihat bahwa tidak sesederhana itu menyimpulkan mengenai perkembangan kritik sastra di dunia perguruan tinggi. Faktanya, Ribut bersama teman-teman di Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) termasuk dari salah satu produk akademik yang mayoritas adalah bekas mahasiswa Sastra Indonesia Unair Surabaya. "Tapi proses kreatif kami lebih banyak berada di luar kampus. Itu artinya, tidak ada keterkaitan langsung antara proses pengajaran dengan proses kreatif. Kami harus menciptakan sendiri forum-forum diskusi sastra. Tapi apakah kami ada kalau tidak ada Fakultas Sastra. Hal ini masih perlu diperdebatkan lagi."
Ketika kritik sastra akademik ternyata perlu ditambahi juga oleh proses kreatif yang seringkali malah membuat sang sarjana sastra mencemplungkan diri dalam pembuatan karya sastra. Itu artinya batas antara kritik sastra akademik dan non-akademik menjadi kabur. Mungkin ini merupakan bagian dinamika dari kritik sastra di Indonesia. Sebagaimana dinamika di mana sebuah kritik lama-lama menjelma menjadi karya sastra itu sendiri, seperti yang diungkapkan Ibnu.
Mencari Kritik Argumentatif
Tapi rupanya dinamika semacam ini terjadi juga di negara-negara Barat. Atau, lebih tepatnya, apa yang terjadi pada kritik sastra di Indonesia memang segala sesuatu yang terjadi di luar negeri. Bahkan, teori-teori yang dipakai dalam sebuah kritik sastra adalah teori yang berasal dari Barat. Biar bagaimana pun, budaya kritik sendiri memang bukan kepunyaan bangsa ini. Wajar kalau banyak dari kontennya memang mengacu ke Barat.
Pada pertengahan sampai akhir dasawarsa 1980-an, pernah ramai dibincangkan kemungkinan dilahirkannya kritik sastra Indonesia yang khas bercirikan keindonesiaan.
Beberapa istilah pun kemudian bermunculan. Satyagraha Hoerip, misalnya, melontarkan gagasannya dengan mengusung istilah Teori dan Kritik Sastra PDN (produksi dalam negeri). Yang lain menyebutnya dengan teori dan kritik sastra yang khas Indonesia. Apa pun istilahnya, kata Maman Mahayana dalam http://mahayana-mahadewa.com, telah ada perbincangan yang membahas perlunya dirumuskan teori dan kritik sastra yang tak lagi berkiblat ke Barat. Maman mengakui kalau teori dan kritik sastra Barat tidak dapat terhindarkan.
"Kalau kita baca karya Danarto dengan pendekatan luar negeri ya nggak cocok. Cuma metode kritik kita pinjam. Tapi, saya kira, meskipun pada tahun 70-an ada perdebatan antara kritik sastra aliran Rawamangun yang diusung dosen sastra UI, M.S. Hutagalung, M. Saleh Saad, dan J.U. Nasution, dan kritik Ganzheit dari Goenawan Mohamad dan Arief Budiman, para pengkritik sekarang juga sudah lupa. Teori ini jarang dipakai waktu mengkritik. Terutama kritik sastra di media massa cetak. Paling di jurnal khusus, tapi itu jarang," kata Ibnu lagi.
Meski begitu, di mata Ribut yang esai sastranya pernah jadi pemenang pertama pilihan Pusat Bahasa Depdiksnas, percobaan apresiasi karya sastra tetap penting. "Semakin banyak apresiasi tentu akan membuat situasi sastra bertambah ramai. Kondusif. Kita memang membutuhkan perspektif dan eksplorasi baru. Itu karena usia sastra modern Indonesia juga belum terlalu tua. Kita bisa menuliskan kritik sastra secara argumentatif dan mendalam saja sudah bagus. Jadi keinginan untuk menelorkan teori sastra sendiri adalah keinginan yang terlalu berlebihan."
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Sjifa Amori. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sjifa Amori. Tampilkan semua postingan
Minggu, 25 Januari 2009
Minggu, 23 November 2008
Peter Zilahy Novelis Multibakat
Sjifa Amori
http://jurnalnasional.com/
Menulis dengan gambar dan menggambar dengan tulisan. Begitu kira-kira Peter Zilahy menceritakan proses pembuatan novelnya yang terkenal The Last Window Giraffe. Novel yang sudah diterjemahkan dalam 20 bahasa ini unik karena ditulis seperti kamus dan memuat gambar serta foto yang ia buat sendiri. Buku yang dapat penghargaan The Book of The Year Prize Ukraina ini menceritakan mengenai demonstrasi di bawah kepimpinan diktator ketika Peter masih kecil. Saking suksesnya, The Last Window Giraffe, kabarnya, sampai menginspirasi aktivis di negara lain untuk melakukan revolusi. Hal ini terungkap pada bedah buku dalam rangkaian kedatangan Peter ke Indonesia dalam rangka Ubud Festival. Berikut obrolan dengan Peter di Toko Buku MP Book Point, Jakarta, Jumat (24/10).
1.Bisa jelaskan mengenai novel dengan format kamus ini?
Itu adalah format alfabetik. Ditulis secara Ablak-Zsiraff (buku anak-anak Hongaria di awal belajar membaca). Ablak untuk A bermakna jendela (window) dan Zsiraff untuk Z artinya adalah jerapah (giraffe). Saya tidak takut menggunakan format alfabet ini karena bagi saya tidak akan ada masalah dalam penerjemahan. Semua kamus bahasa pasti punya alfabet yang sudah tersusun dengan sendirinya. Jadi dengan sendirinya sudah tercipta koneksi antara alfabet yang satu dengan yang selanjutnya. Jadi cerita ini akan berdiri sendiri sebagaimana melogikakannya sebagai sebuah jerapah yang baru lahir dan kemudian akan belajar berjalan dengan sendirinya dengan perlahan. Seperti orang yang membaca dari A sampai Z.
2.Bagaimana dengan gambarnya?
Gambar dalam buku bukan hal baru dalam dunia penerbitan. Sejak awal, buku sudah punya gambar di dalamnya. Termasuk juga pada abad 19-an. Jadi saya hanya kembali pada tradisi. Entah kenapa sekarang buku jarang sekali ada gambarnya. Jadi buku saya ini tergolong perkembangan yang relatif baru. Apalagi gambar pada bukunya bukan sebuah ilustrasi, melainkan saling melengkapi dengan teksnya. Saya membuat gambarnya sendiri. Saya memotret sendiri, atau mengumpulkan dari kamus anak, dari protes-protes yang berlangsung.
Saya menulis buku ini bersamaan dengan mengerjakan gambarnya. Jadi mirip seperti ilustrasi, tapi bukan. Karena menciptakan beberapa gambar untuk teks dan menulis beberapa teks untuk gambarnya. Keduanya bekerja bersamaan. Kata-kata saya memang memuat banyak gambar dan gambar saya juga memuat banyak gagasan.
3.Ini semacam medium baru untuk bercerita?
Dimulai dengan A sampai Z. Semuanya menceritakan bagaimana tertekannya hidup di bawah kediktatoran. Ini tentang masa kecil saya. Menceritakan tentang demonstrasi di Belgrade pada 1996 hingga 1997. Dan kisah lain yang melatarinya. Tentang revolusi di Eropa. Buku ini tentang kebebasan dan delusi kebebasan dan pengalaman orang ketika berdemostrasi. Revolusi adalah untuk memilih kebebasan.
Poin seluruhnya adalah untuk belajar tentang sejarah. Karena kalau kita tidak belajar tentang masa lalu, kita akan masuk dalam lingkaran kesalahan yang sama. Semua akan terulang lagi. Dan saya mengombinasikan gambar dan teks dalam buku ini untuk menceritakan itu.
4.Hingga akhirnya menjadi hand book bagi Orange Revolution?
Awalnya saya juga tak percaya ketika ini dituliskan dalam sebuah surat kabar. Sampai saya menerima surat dari seorang mahasiswa doctoral, post graduate student Oxford. Tesisnya adalah tentang revolusi. Dan katanya para aktivis revolusi di Ukrania benar-benar menggunakan buku saya untuk mendapat ide inspirasi bagaimana melaksanakan revolusi, bagaiamana melangsungkan protes atau untuk tidak memprotes, bagaiman supaya bisa berlindung dari polisi dan menghindari bahaya fisik. Dan juga bagaimana untuk membuat humor atau menyindir tentang sebuah kekuasaan. Ini rasanya seperti saya telah menuliskan sejarah. Sangat mengejutkan saya.
5.Harapan Anda dengan datang ke Ubud Writers and Readers Festival juga supaya orang bisa mendapat inspirasi dari novel ini?
Saya kira belum ada buku seperti ini. This is completely new. Dan bisa menginspirasi banyak orang di berbagai negeri. Jadi saya sangat penasaran dengan apa yang akan terjadi nanti.
6.Tapi sebelumnya Anda juga pernah ke Indonesia?
Saya pernah ke Indonesia 3 tahun lalu. The Indonesian International Poetry Festival di Jakarta dan Palembang. Saya kenal sekitar 300 bahasa Indonesia. Sangat menarik. Saya ingin belajar lagi. Tapi saya tidak mau membicarakan soal novel di Indonesia. Karena saya di sini untuk bekerja, mempromosikan buku saya. Ha-ha-ha. Saya ke festival untuk promosi buku saya karena setelahnya saya akan segera kembali menulis dan menyelesaikan buku-buku saya.
7.Selanjutnya Anda akan menulis buku dengan format ini lagi?
Ini novel saya yang pertama. Sebelumnya saya sering menulis beberapa buku puisi, menulis untuk teater, esai. Tapi saya tidak mengulang apa yang sudah saya lakukan. Saya akan mencoba format baru dan ini akan jadi kejutan.
8.Kabarnya Anda juga pemain sepak bola handal ya?
Saya bermain sepak bola bahkan sebelum saya mulai menulis. Saya adalah anak normal yang biasanya suka berlari-lari. Saya justru agak aneh sekarang ini. Kami bermain dalam sebuah tim sepak bola para penulis. Sampai saat ini saya tergabung dalam tim sepak bola Hungaria. Posisi saya sebagai striker masih sebagai top scorer.
Kalau di Eropa, setiap negara punya tim sepak bola penulis. Dan tahun ini kami mengadakan perlombaan besar di seluruh Eropa.
9.Apa perbedaan signifikan yang Anda rasakan saat bermain sepak bola dan menulis?
Sangat menyenangkan untuk main bola. Karena dalam menulis, kita hanya sendirian. Dan kadang saya ingin keluar dari situasi itu. Alasan lain kenapa penulis bisa jadi pesepak bola adalah karena ada keseimbangan. Di mana kita harus bermain bersama orang lain dan sepak bola adalah pilihannya.
Kami memulai tim sepak bola penulis ini tahun 2005. Awalnya ada pemain tim negara lain yang masih membawa sifat indivualistis penulisnya. Mereka tidak mau mengoper bolanya dan gemar memperlihatkan kecanggihannya dalam bermain bola. Tapi ini tidak terjadi pada tim Hongaria karena kahirnya kami faham bahwa bermain bola harus bekerja sama. n
-------------------------
Nama: Peter Zilahy
Tempat Tanggal Lahir:
Budapest, 8 November 1970
Pendidikan: -Jurusan Filosofi dan Antropologi ELTE University Budapest
Karya: -Buku puisi Lepel Alatt Ugrasra Kesz Szobor (1993)
-His book of poems Statue Under White Sheet, Ready to Jump (terbit 1993)
-The Last Window Giraffe was published in (1998)
-Drei (dan banyak lagi)
Karir dan Pengalaman:
-Dosen di New York University (2001)
-Pimred Link Budapest, majalah internet untuk sastra kontemporer berbahasa Inggris dan Hongari (1997-1999).
-Pimred The World Literature Seriese (sejak 1998: pada Jak Books dan kemudian pada Gondolat Publishers)
-Menulis esai secara regular di Frankfurter Allgemeine Zeitung
-Karya terpilihnya dipamerkan di Ludwig Museum Budapest held
-Pameran di Akademie Schloss Solitude di Jerman
-Kapten Tim Sepak Bola Penulis Hongaria
Prestasi:
-Kumpulan puisinya, Statue Under a White Sheet Ready to Jump, memenangkan Móricz Zsigmond Prize.
- The Last Window Giraffe meraih banyak penghargaan, salah satunya adalah The Book of the Year Prize
http://jurnalnasional.com/
Menulis dengan gambar dan menggambar dengan tulisan. Begitu kira-kira Peter Zilahy menceritakan proses pembuatan novelnya yang terkenal The Last Window Giraffe. Novel yang sudah diterjemahkan dalam 20 bahasa ini unik karena ditulis seperti kamus dan memuat gambar serta foto yang ia buat sendiri. Buku yang dapat penghargaan The Book of The Year Prize Ukraina ini menceritakan mengenai demonstrasi di bawah kepimpinan diktator ketika Peter masih kecil. Saking suksesnya, The Last Window Giraffe, kabarnya, sampai menginspirasi aktivis di negara lain untuk melakukan revolusi. Hal ini terungkap pada bedah buku dalam rangkaian kedatangan Peter ke Indonesia dalam rangka Ubud Festival. Berikut obrolan dengan Peter di Toko Buku MP Book Point, Jakarta, Jumat (24/10).
1.Bisa jelaskan mengenai novel dengan format kamus ini?
Itu adalah format alfabetik. Ditulis secara Ablak-Zsiraff (buku anak-anak Hongaria di awal belajar membaca). Ablak untuk A bermakna jendela (window) dan Zsiraff untuk Z artinya adalah jerapah (giraffe). Saya tidak takut menggunakan format alfabet ini karena bagi saya tidak akan ada masalah dalam penerjemahan. Semua kamus bahasa pasti punya alfabet yang sudah tersusun dengan sendirinya. Jadi dengan sendirinya sudah tercipta koneksi antara alfabet yang satu dengan yang selanjutnya. Jadi cerita ini akan berdiri sendiri sebagaimana melogikakannya sebagai sebuah jerapah yang baru lahir dan kemudian akan belajar berjalan dengan sendirinya dengan perlahan. Seperti orang yang membaca dari A sampai Z.
2.Bagaimana dengan gambarnya?
Gambar dalam buku bukan hal baru dalam dunia penerbitan. Sejak awal, buku sudah punya gambar di dalamnya. Termasuk juga pada abad 19-an. Jadi saya hanya kembali pada tradisi. Entah kenapa sekarang buku jarang sekali ada gambarnya. Jadi buku saya ini tergolong perkembangan yang relatif baru. Apalagi gambar pada bukunya bukan sebuah ilustrasi, melainkan saling melengkapi dengan teksnya. Saya membuat gambarnya sendiri. Saya memotret sendiri, atau mengumpulkan dari kamus anak, dari protes-protes yang berlangsung.
Saya menulis buku ini bersamaan dengan mengerjakan gambarnya. Jadi mirip seperti ilustrasi, tapi bukan. Karena menciptakan beberapa gambar untuk teks dan menulis beberapa teks untuk gambarnya. Keduanya bekerja bersamaan. Kata-kata saya memang memuat banyak gambar dan gambar saya juga memuat banyak gagasan.
3.Ini semacam medium baru untuk bercerita?
Dimulai dengan A sampai Z. Semuanya menceritakan bagaimana tertekannya hidup di bawah kediktatoran. Ini tentang masa kecil saya. Menceritakan tentang demonstrasi di Belgrade pada 1996 hingga 1997. Dan kisah lain yang melatarinya. Tentang revolusi di Eropa. Buku ini tentang kebebasan dan delusi kebebasan dan pengalaman orang ketika berdemostrasi. Revolusi adalah untuk memilih kebebasan.
Poin seluruhnya adalah untuk belajar tentang sejarah. Karena kalau kita tidak belajar tentang masa lalu, kita akan masuk dalam lingkaran kesalahan yang sama. Semua akan terulang lagi. Dan saya mengombinasikan gambar dan teks dalam buku ini untuk menceritakan itu.
4.Hingga akhirnya menjadi hand book bagi Orange Revolution?
Awalnya saya juga tak percaya ketika ini dituliskan dalam sebuah surat kabar. Sampai saya menerima surat dari seorang mahasiswa doctoral, post graduate student Oxford. Tesisnya adalah tentang revolusi. Dan katanya para aktivis revolusi di Ukrania benar-benar menggunakan buku saya untuk mendapat ide inspirasi bagaimana melaksanakan revolusi, bagaiamana melangsungkan protes atau untuk tidak memprotes, bagaiman supaya bisa berlindung dari polisi dan menghindari bahaya fisik. Dan juga bagaimana untuk membuat humor atau menyindir tentang sebuah kekuasaan. Ini rasanya seperti saya telah menuliskan sejarah. Sangat mengejutkan saya.
5.Harapan Anda dengan datang ke Ubud Writers and Readers Festival juga supaya orang bisa mendapat inspirasi dari novel ini?
Saya kira belum ada buku seperti ini. This is completely new. Dan bisa menginspirasi banyak orang di berbagai negeri. Jadi saya sangat penasaran dengan apa yang akan terjadi nanti.
6.Tapi sebelumnya Anda juga pernah ke Indonesia?
Saya pernah ke Indonesia 3 tahun lalu. The Indonesian International Poetry Festival di Jakarta dan Palembang. Saya kenal sekitar 300 bahasa Indonesia. Sangat menarik. Saya ingin belajar lagi. Tapi saya tidak mau membicarakan soal novel di Indonesia. Karena saya di sini untuk bekerja, mempromosikan buku saya. Ha-ha-ha. Saya ke festival untuk promosi buku saya karena setelahnya saya akan segera kembali menulis dan menyelesaikan buku-buku saya.
7.Selanjutnya Anda akan menulis buku dengan format ini lagi?
Ini novel saya yang pertama. Sebelumnya saya sering menulis beberapa buku puisi, menulis untuk teater, esai. Tapi saya tidak mengulang apa yang sudah saya lakukan. Saya akan mencoba format baru dan ini akan jadi kejutan.
8.Kabarnya Anda juga pemain sepak bola handal ya?
Saya bermain sepak bola bahkan sebelum saya mulai menulis. Saya adalah anak normal yang biasanya suka berlari-lari. Saya justru agak aneh sekarang ini. Kami bermain dalam sebuah tim sepak bola para penulis. Sampai saat ini saya tergabung dalam tim sepak bola Hungaria. Posisi saya sebagai striker masih sebagai top scorer.
Kalau di Eropa, setiap negara punya tim sepak bola penulis. Dan tahun ini kami mengadakan perlombaan besar di seluruh Eropa.
9.Apa perbedaan signifikan yang Anda rasakan saat bermain sepak bola dan menulis?
Sangat menyenangkan untuk main bola. Karena dalam menulis, kita hanya sendirian. Dan kadang saya ingin keluar dari situasi itu. Alasan lain kenapa penulis bisa jadi pesepak bola adalah karena ada keseimbangan. Di mana kita harus bermain bersama orang lain dan sepak bola adalah pilihannya.
Kami memulai tim sepak bola penulis ini tahun 2005. Awalnya ada pemain tim negara lain yang masih membawa sifat indivualistis penulisnya. Mereka tidak mau mengoper bolanya dan gemar memperlihatkan kecanggihannya dalam bermain bola. Tapi ini tidak terjadi pada tim Hongaria karena kahirnya kami faham bahwa bermain bola harus bekerja sama. n
-------------------------
Nama: Peter Zilahy
Tempat Tanggal Lahir:
Budapest, 8 November 1970
Pendidikan: -Jurusan Filosofi dan Antropologi ELTE University Budapest
Karya: -Buku puisi Lepel Alatt Ugrasra Kesz Szobor (1993)
-His book of poems Statue Under White Sheet, Ready to Jump (terbit 1993)
-The Last Window Giraffe was published in (1998)
-Drei (dan banyak lagi)
Karir dan Pengalaman:
-Dosen di New York University (2001)
-Pimred Link Budapest, majalah internet untuk sastra kontemporer berbahasa Inggris dan Hongari (1997-1999).
-Pimred The World Literature Seriese (sejak 1998: pada Jak Books dan kemudian pada Gondolat Publishers)
-Menulis esai secara regular di Frankfurter Allgemeine Zeitung
-Karya terpilihnya dipamerkan di Ludwig Museum Budapest held
-Pameran di Akademie Schloss Solitude di Jerman
-Kapten Tim Sepak Bola Penulis Hongaria
Prestasi:
-Kumpulan puisinya, Statue Under a White Sheet Ready to Jump, memenangkan Móricz Zsigmond Prize.
- The Last Window Giraffe meraih banyak penghargaan, salah satunya adalah The Book of the Year Prize
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel García Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati