Tampilkan postingan dengan label Novelet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novelet. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 November 2008

NOVEL UNTUK PENYAIR

Rahmi Hattani*
http://www.sastra-indonesia.com/

Aku berjalan di bawah remang-remang cahaya. Bahuku sengaja kubiarkan terbuka mengkilap, terkena sorot lampu jalanan kota. Aku melangkahkan kaki di jalan yang mulai sepi kendaraan. Panjang rambutku melambai-lambai ditiup angin. Dinginnya udara wengi sama sekali tidak membuatku terganggu. Justru malamlah yang membuatku mengerti kehidupan. Akan makna kepahitan. Dan bersama malam pula, aku lebih memahami dunia ini.

Dengan mengenakan rok pendek yang menampakkan betis serta paha putih yang mulus, baju tanpa lengan potongan dada rendah, dandanan agak menor. Aku melalui kehidupanku yang baru aku rasakan jika malam telah tiba. Sudah dua tahun aku menjalani hidup seperti ini. Menjajakan tubuh, daya tarik pada setiap laki-laki yang mau membeli untuk dinikmati.

Di jalanan ini aku dan teman-temanku biasa mangkal, tapi aku kurang suka jika hanya berdiri di tepi jalan saja. Aku lebih memilih berjalan menyusuri sepanjang trotoar sampai kelelahan, dan akhirnya berhenti lalu balik dengan teman-temanku.

Kami menjalani hidup seperti ini dengan alasan berbeda-beda, dan kebanyakan dari kami disebabkan tuntutan materi. Aku sendiri dikarenakan pengalaman pahit yang menimpaku beberapa tahun silam. Ayah tiriku menjual aku pada rekan bisnisnya. Sedangkan ibuku sama sekali tak bisa berbuat apa-apa. Karena beliau juga pernah mengalami hal serupa, akhirnya aku lari dari rumah, turun ke jalan menjadi wanita malam. Aku berhenti kuliah, dan tinggal bersama teman-temanku di bantaran kali Code.

Aku duduk di trotoar, mengeluarkan sebuah buku kecil dari dalam tasku, dan mulai menulis. Beginilah, jika tak ada laki-laki yang datang atau mampir di jalanan untuk digoda. Aku memilih duduk di trotoar mengguratkan puisi; puisi tentang kehidupan.

”Ayu, kok kamu rajin banget nulis-nulis, emang kamu nulis apa?” temanku Ningsih bertanya, sambil ikut-ikutan duduk di atas trotoar. Aku langsung menutup buku yang ada di tanganku. Dan kembali memasukkannya ke dalam tas.

”Hmmm..bukan apa-apa kok, eh..ada yang mendekat tuh” spontan aku dan Ningsih langsung berdiri, pasang tampang manis ditambah genit, layaknya kebanyakan pelacur jalanan.
”halo mas…mau kemana?” Ningsih terlebih dahulu menyapa, sambil mengusap bahu laki-laki yang umurnya kira-kira setengah umur ayah tiriku.

Laki-laki itu tersenyum dan memegang tangan Ningsih, sementara itu aku diam saja. Di antara kami memang sudah berlaku kesepakatan, siapa terlebih dulu merayu, maka yang lain tak boleh mengganggu. Aku hanya memasang senyuman liar.

”temani aku malam ini ya,?” kata lelaki itu menawarkan.
”oh..tentu saja, aku akan temani Mas malam ini, kita kemana?” tanpa pikir panjang Ningsih langsung naik motor berboncengan dengan lelaki itu menuju arah utara. Aku melambaikan tangan sambil tersenyum ke arahnya.

Kembali aku duduk melanjutkan tulisan yang tadi sempat tertunda. Belum sampai sepuluh kata aku menulis, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depanku, aku langsung berdiri. Sangat jarang pelacur jalanan seperti kami dipakai orang-orang kaya. Paling-paling yang membayar kami hanyalah tukang ojek yang kesepian atau juragan becak. Makanya kali ini aku agak kaget, atau mungkin ini laki-laki lebih memilih pelacur-pelacur murah seperti kami.

Kaca depan mobil terbuka. Tampak wajah laki-laki muda menatap ke arahku. Ia memperhatikan seluruh tubuhku, terutama bagian dadaku yang sebesar semangka muda, tersenyum kearahku. Aku pun membalas senyuman itu.
”mau temani aku malam ini?” ia bertanya sambil mengelus pipi kiriku.
”tentu saja” dengan tampang genit aku langsung naik mobil itu. Lantas meluncur ke arah Kaliurang.

Selama di mobil aku diam saja.
”siapa nama kamu?” laki-laki itu bertanya sambil meraba-raba lututku, dia mengelus-ngelus pahaku, sementara tangan kanannya tetap berada di balik kemudi.

Aku tersenyum, rupanya laki-laki ini selain tampan juga baik, tapi mana ada orang baik yang suka tidur sama pelacur, aku berpikir ia baik karena mau menanyakan namaku. Ah, sebatas itukah kebaikan manusia? Hanya menanyakan nama seorang pelacur?

Aku langsung menepis pikiran itu, dan berpikir soal uang yang nantinya kuperoleh dari dia. Mudah-mudahan cukup untuk membeli novel Eijhi Yosikawa-Musashi, novel yang sudah lama aku idamkan, tetapi belum sanggup membelinya karena tidak punya uang sama sekali. Penghasilanku dalam satu malam hanyalah cukup untuk membeli make-up, dan makanku setiap hari.

”kok melamun?” laki-laki itu mengagetkanku. Aku tersentak dan kembali merasakan sentuhan lembut tangannya di pahaku.
”siapa namamu” laki-laki itu kembali mengulangi pertanyaaannya.
”Ayu, mas” aku berkata sambil tersenyum. Laki-laki itu membalas senyumanku.

Aku selalu berusaha menikmati setiap sentuhan yang di berikan laki-laki pada tubuhku, aku berpikir harus menikmatinya, bagaimanapun ini pilihan hidup yang telah kutentukan. Aku memilih menjauh dari kehidupan keluargaku yang pahit. Setelah ayah tiriku menjualku, aku langsung minggat dari rumah, tidak pamitan pada siapapun, tidak pada ibu, pembantu, tukang kebun apalagi ayahku.

Aku memilih tinggal bersama teman-temanku di bantaran kali Code, di gubuk. Kedekatanku dengan mereka diawali sejak aku kecil, ayah dan ibuku memang orang yang pernah tinggal di sana selama puluhan tahun. Namun ibu tidak tahan, dan meninggalkan ayah kandungku sambil membawaku yang masih dalam kandungannya. Ibuku selalu bermimpi jadi orang kaya.

Dan akhirnya ia menikah dengan Om Frans. Setelah aku lahir, ibu tidak menutupi bahwa Om Frans adalah ayah tiriku. Singkatnya ibu menikah dalam keadaan hamil delapan bulan, sesuatu yang dilarang agama. Ibu sempat menunjukkan kepadaku, bahwa ayah kandungku tinggal di gubuk bantaran kali Code. Aku pun jadi sering ke sana, tetapi orang-orang di bantaran kali Code mengatakan, bahwa ayahku meninggal beberapa minggu setelah kepergian ibuku. Ayahku sangat terluka batinnya, dan mabuk-mabukkan sampai meninggal sebab tertabrak mobil.

”kamu masih kuliah” kembali laki-laki itu membuyarkan lamunanku.
”nggak mas, aku sudah berhenti” masih dalam tampang genit aku menjawab.
”kenapa berhenti? Apa karena biaya?” aku heran pada laki-laki satu ini. Belum pernah aku mengobrol seperti ini, dengan laki-laki yang ingin memakai tubuhku laksana perahu. Laki-laki ini memang beda pikirku. Jarang sekali aku ngobrol dengan pelangganku, kecuali soal tarif atau cara-cara bercinta.
”bukan karena biaya, tapi ada masalah lain” aku menjawab datar, sambil terus menikmati sentuhan-sentuhannya di lututku.

”oh.. maaf aku menyinggung perasaanmu” laki-laki itu tersenyum. Aku seolah tak percaya, apa masih ada orang sebaik ini pada pelacur jalanan macam aku? Atau mungkin aku sendiri yang terlalu menganggap rendah diri ini, dan beranggapan setiap orang pasti benci dengan pelacur.

Di jalan Kaliurang yang semakin mendaki. Mobil itu memasuki halaman sebuah hotel, tampak beberapa mobil di parkiran. Malam sudah larut. Lampu di halaman hotel menerangi sekelilingnya, seperti matahari di siang hari. Aku turun dari mobil diiringi laki-laki itu, dia berperawakan tinggi dan kekar, aku tertarik dengan tubuhnya, spontan aku langsung membayangkan diriku berada dalam renggukannya di atas ranjang.

Kami memasuki hotel, ia menggandeng tanganku, jantungku berdegup kencang, dari sekian banyak laki-laki yang meniduriku, mereka tidak pernah menggandeng tanganku, yang ada malah mereka langsung melingkarkan tangannya di pinggang atau punggung sambil sedikit menyentuh buah dadaku.

Kami mampir sebentar di meja resepsionis, mengambil kunci kamar dan langsung berjalan menuju lantai dua hotel tersebut. Aku berpikir bahwa laki-laki ini pasti berasal dari luar kota, karena dia sudah memesan kamar duluan. Kami berjalan di antara deretan kamar-kamar, baru tiga kali aku tidur di hotel mewah seperti ini, selama aku menjadi pelacur. Karena pelacur jalanan sepertiku, paling-paling melayani laki-laki di losmen, pantai, bahkan pernah sekali di pinggir kali Code. Dan tentu saja di bayar murah.

Kami memasuki sebuah kamar. Aku duduk di ranjang, melepas sepatu dan mulai membuka kancing-kancing baju. Tanpa kusadari laki-laki itu memandangku.
”mandi dulu Ayu” aku mengangkat wajahku dan menatapnya, begini lembutkah perlakuanmu terhadap pelacur, bisikku dalam hati. Ia tersenyum ke arahku. berjalan mendekat, merangkul tubuhku yang hanya mengenakan bra dan rok pendek, mencium rambutku. Aku tidak pernah menemui laki-laki yang meniduriku berbuat seperti ini terhadapku. Biasanya mereka langsung menelanjangiku, dan langsung bersetubuh tanpa mereka tahu bahwa aku belum terangsang sama sekali, makanya tidak jarang daerah selangkanganku berdarah, dan mereka menganggap bahwa aku masih perawan.

Tapi semua itu aku jalani dan nikmati dengan sepenuh hati, bagaimanapun ini pilihan hidup. Aku harus menikmatinya. Aku membalas lumatan bibir laki-laki itu, lama aku tidak menyentuh lidah laki-laki, karena beberapa minggu terakhir ini aku selalu bertemu dengan laki-laki yang selalu menginginkan mulutku berada di selangakangan mereka. Laki-laki itu melepas ciuman dan pelukannya…

”kita mandi bareng aja Ayu” aku berdiri melepas rok, laki-laki itu juga berdiri melepas seluruh pakaiannya, dan menuntunku ke kamar mandi. Di kamar mandi, ia membuka pakaian dalamku dan mulai menggerayangi seluruh tubuhku. Lidahnya terasa lembut ketika berada di bagian-bagian tertentu tubuhku, sesekali aku menggelinjang kenikmatan. Selama aku menjadi pelacur, inilah persetubuhan paling nikmat yang aku rasakan. Dari kamar mandi berlanjut sampai di ranjang. Kami terus berguling satu sama lain, menghabiskan malam, sambil memuaskan nafsu birahi, sampai akhirnya kami sama-sama kelelahan dan akhirnya tertidur.

Aku membuka mata dan kaget, langsung bangkit dari tempat tidur, hari sudah siang, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Aku mengenakan pakaianku yang semalam, tanpa memperdulikan laki-laki itu yang sedang berdiri di depan cermin.

”mau kemana Ayu” aku menghentikan langkahku, begitu mendengar suaranya. Aku berbalik menatap ke arahnya.
”aku mau pulang mas, bukankah kita sudah selesai, atau mas mau nambah lagi” aku mencoba tersenyum, namun dalam benakku sudah terbayang anak-anak kali Code yang menunggu kedatanganku. Setiap harinya mereka belajar menulis puisi dariku.
”tidak, tapi aku belum memberikan hakmu” laki-laki itu melangkah ke sudut ruangan, mengambil tas memberikan sebuah amplop cokelat berisi uang kepadanya. Jantungku berdebar-debar menerima amplop itu, belum pernah aku menerima uang dari laki-laki yang meniduriku, dalam amplop seperti ini.

”biar aku antar kamu Ayu” aku kembali tergagap mendengar perkataan laki-laki itu. Aku benar-benar mimpi semalam bertemu dengan orang sebaik ini. Sekali lagi ia tidak seperti laki-laki lain. Bahkan ada laki-laki yang langsung meninggalkannya tanpa membayar sepeserpun, padahal mereka tahu sendiri bahwa aku ini adalah penjual tubuh sendiri.

”apa kamu keberatan” kembali aku mendengar suaranya. Aku tersentak kaget, salah tingkah, namun tidak kuasa menolak.
”tidak, aku tidak keberatan” aku berkata sambil memasukan uang itu kedalam tas. Laki-laki itu beranjak dari tempat duduknya dan melangkah keluar, awalnya aku mengikutinya dari belakang, tapi ketika hendak menuruni tangga hotel, ia menggenggam erat tanganku. Sesuatu yang lain terbersit dalam hati, tapi aku tidak tahu itu apa.

Mobil meluncur di jalan Kaliurang. Sebenarnya aku berniat mampir di Gramedia, tapi aku ragu memintanya mengantarku ke situ.
”kamu tinggal dimana Ayu?” laki-laki itu bertanya memecah kesunyian.
”Kali Code Mas” aku menjawab datar.

Laki-laki itu tampak tenang mengendarai mobil. Aku ingin sekali mengatakan bahwa aku minta di antar di gramedia saja. Tapi entah kenapa dari semalam sejak melihat dia, mulutku terkatup rapat. Akhirnya aku memberanikan diri membuka mulut.

”mas,” aku berkata gugup.
”iya, ada apa” laki-laki itu tetap tenang.
”a..aku turun di gramedia saja”
”katanya kamu tinggal di kali Code, kok turun di gramedia, apa kamu ada janji sama teman?”
”nggak mas, aku mau beli buku” seketika rasa gugupku hilang. Aku menarik nafas dalam-dalam.
”kamu suka baca ya?” laki-laki itu tersenyum, dan menatap kearahku. Aku tertawa kecil.

Kalau aku bilang iya, mana mungkin laki-laki ini mau percaya, mana ada pelacur suka baca. Makanya aku memilih diam saja. Dan rupanya laki-laki itu juga tidak menuntut jawabanku.

Mobil berhenti di depan gramedia, aku turun dan mengucapkan terima kasih. Aku kira, laki-laki itu akan langsung pergi. Tapi ternyata tidak, dia menemaniku masuk. Aku langsung menuju deretan buku sastra. Melihat-lihat novel, dan karya-karya penyair, aku tersentak melihat buku bersampul perempuan berbaju hitam bersayap putih, itu adalah buku salah satu penyair yang aku idolakan, aku langsung membelinya, juga tidak lupa membeli dua novel Pramoedya Ananta Toer-Rumah Kaca dan Bumi Manusia, kebetulan aku belum punya, dan novelnya Eijhi Yosikawa-Musashi. Aku pikir uang yang aku dapat dari laki-laki ini pasti cukup.

Tanpa aku sadari laki-laki yang sedang bersamaku terheran-heran melihat aku membeli buku-buku itu. Belum pernah dia melihat pelacur sepertiku membeli, apalagi membaca buku-buku seperti itu. Dia kagum ketika melihat uang pemberiannya yang aku gunakan untuk membeli buku, namun untung saja dia tidak bertanya macam-macam saat berada di dalam toko.

Kami keluar menuruni tangga gramedia, ketika sampai pada anak tangga paling bawah, aku berhenti dan hendak mengucapkan terima kasih karena telah di temani, selain aku berniat pulang sendiri. Namun baru saja aku membuka mulut, laki-laki itu sudah terlebih dulu bicara.
”kita makan dulu sambil ngobrol, aku traktir kamu” katanya sambil berjalan ke arah mobil. Tanpa bisa menolak, dan entah kenapa aku tidak bisa menolak, aku mengikuti langkahnya memasuki mobil.

Kami menuju arah malioboro. Dalam perjalanan, pikiranku kacau balau memikirkan tingkah laki-laki ini sejak semalam sampai siang bolong seperti ini. Bahkan ketika kami sedang bersetubuh, dia mengerti aku lelah, lalu berhenti sejenak tanpa aku minta, sangat berbeda dengan perlakuan-perlakuan lelaki yang selama ini meniduriku. Aku menarik nafas panjang. Sambil sesekali melirik wajah laki-laki itu, wajah itu begitu tenang, tidak sedikitpun terpancar kegenitan seperti yang selama ini aku dapati pada setiap laki-laki. Aku kembali menatap lurus ke jalanan, sekejap aku kembali ingat anak-anak di kali Code, pasti mereka sudah berkumpul digubukku, menungguku mengajari mereka membaca dan menulis puisi.

Mobil berhenti di depan sebuah restoran mewah. Aku dan laki-laki itu turun dan melangkah masuk. Kami memilih tempat duduk paling pojok, dan makan sambil berbincang-bincang soal diriku.
”aku mau tanya sesuatu kepadamu Ayu” aku tidak jadi menyuapkan makanan ke dalam mulutku.
”aku heran, orang seperti kamu masih suka membaca novel-novel kayak gitu”
”semua orang pasti akan heran ketika ada pelacur jalanan kayak aku yang suka baca”
”bukan begitu maksudku Ayu, tapi latar belakangnya, kenapa kamu sampai suka dengan karya-karya mereka” laki-laki itu menatapku, aku membuang mukaku ke arah jendela. Dan kembali menekuri meja yang penuh makanan. Sudah lama aku tidak bertemu dengan meja yang penuh makanan semacam ini, aku kembali ingat anak-anak dan tema-temanku di kali Code, mereka tidak pernah makan seenak ini. Aku kembali menarik nafas panjang, dan menatap ke arah laki-laki itu.

”aku dulu kuliah di Fakultas Sastra dan sangat mencintai karya-karya mereka, dengan berubahnya jalan hidupku bukan berarti berubah juga kecintaanku terhadap mereka, aku tetap menghormati dan menghargai karya mereka, karena dari merekalah aku belajar menentukan pilihan hidup yang mesti aku jalani” dengan suara agak pelan aku menjawab pertanyaanya.

Laki-laki itu menarik nafas panjang. Sebenarnya aku tidak suka jika ada orang yang bertanya-tanya tentang masalahku, aku kuliah dan lain-lain, bagiku itu sudah berlalu. Aku sudah menjadi diriku yang baru.

”antar aku pulang” aku berdiri dan langsung berjalan keluar di ikuti oleh laki-laki itu. Pelayan restoran itu menatap tubuhku yang hanya di balut rok pendek dan baju tanpa lengan dengan potongan yang memperlihatkan setengah buah dadaku.
***

Aku turun di jembatan kali Code. Laki-laki itu bertanya di mana rumahku, dan aku menunjuk deretan gubuk-gubuk tua yang berdinding kardus dan tripleks, wajahnya begitu tenang ketika melihat ke bawah. Aku menutup pintu mobil sambil mengucapkan terima kasih.

Di depan gubuk, tampak anak-anak sudah menunggu kedatanganku. Mereka langsung menyongsong bersorak gembira sekali, ada sekitar sepuluh anak yang suka belajar puisi kepadaku, mereka adalah anak-anak yang juga tinggal di gubuk-gubuk tua sama sepertiku, pekerjaan orang tua mereka macam-macam, ada yang bapaknya bekerja sebagai kuli bangunan, ibunya pelacur, pedagang asongan, bahkan pencopet.

”Mbak Ayu pulaaangg…”
”woi, Mbak Ayu pulang”
”Mbak Ayu sudah pulaaaaang…”
Anak-anak itu langsung mengerumuniku. Aku tersenyum melihat tingkah mereka.

”maaf ya, Mbak Ayu telat, kalian sudah lama menunggu?” kataku sambil membagi-bagikan permen dan kue yang aku bawa.
”iya Mbak, kami sudah lama di sini menunggu Mbak Ayu pulang” aku tersenyum dan mengacak-acak rambut Bayu anak paling kecil di antara mereka. Rata-rata anak-anak itu berumur tujuh sampai dua belas tahun.

”aku masuk ke dalam gubuk dan meletakkan buku di atas sebuah lemari tua peninggalan ayahku, dindingnya sudah reot di sana-sini karena tidak sanggup menampung buku-buku yang aku letakkan berjejer di dalam lemari itu, semuanya adalah novel-novel yang sering aku beli sewaktu masih kuliah.

Aku ke sebuah ruangan kecil yang hanya di beri sekat pembatas berupa kain lusuh, dan berganti pakaian, lalu keluar sambil membawa buku-buku puisi karangan beberapa penyair. Kami duduk melingkar di atas tanah yang beralaskan potongan-potongan kardus dan koran. Aku duduk di tengah-tengah lingkaran.

”hari ini kita jadwalnya belajar membaca kan, Nah, di antara kalian apa ada yang punya puisi sendiri untuk di baca?”
”ada Mbak” serentak anak-anak itu menjawab. Aku terkagum-kagum.
”jadi kalian sudah belajar menulis puisi?” mataku terbinar, menatap sekeliling anak-anak itu, mereka tersenyum. Salah satu dari mereka menjawab.
”kalau aku bikin puisi yang judulnya bintang Mbak” aku tersenyum melihat Yoyo yang mengancungkan kertasnya. Yang lainnya tertawa melihat ke arah Yoyo.
”Mbak, aku bikin puisi tentang sampah” kata yang lainnya lagi. Aku hanya bisa menatap bahagia pada anak-anak itu, dua tahun lamanya aku bergelut dengan mereka, mengajari mereka banyak hal. Aku hanya tidak ingin mereka menjadi anak-anak gelandangan yang tidak tahu akan makna kehidupan.

Makanya aku mengajari mereka menulis dan membaca puisi, menurutku dengan puisi mereka bebas menjadi diri mereka sendiri, tanpa mesti takut dengan kelaparan, kemiskinan, penderitaan yang selalu menemani mereka setiap hari. Aku ingin mereka menjadi anak-anak yang tegar dan mampu hidup di dunia yang serba kompleks ini.

Awalnya mereka sering mendatangi gubukku dan melihatku menulis, lama-kelamaan mereka minta di ajari, dan karena kebanyakan dari mereka tidak pernah sekolah, maka aku mesti mengajari mereka dari awal, mengenalkan huruf-huruf alfabet, lalu belajar merangkai huruf itu menjadi kata, kalimat, dan seterusnya menjadi sebuah puisi.

Karena aku sendiri berasal dari kuliah Fakultas Sastra, maka aku lebih mengakrabi mereka dengan kalimat-kalimat yang berbau sastra, dan akhirnya aku memutuskan untuk mengajari mereka menulis puisi. Anak-anak itu sangat senang sekali, akupun selalu mengusahakan agar tidak mengganggu waktu bermain mereka.

”Nah, sekarang siapa yang lebih dulu membacakan karyanya?” aku mengedarkan pandanganku ke arah anak-anak itu, namun tidak satupun di antara mereka yang mengacungkan jari.
”ayo siapa, jadi penyair itu harus berani, udah berkali-kali Mbak bilang lho, kalau mau jadi penyair itu harus berani, nggak perlu takut, karena nggak ada yang mesti di takuti, katanya mau jadi kayak Chairil Anwar, W.S. Rendra, Taufik Ismail, kok malu-malu” aku kembali memberikan dorongan kepada anak-anak itu. Satu hal yan memang sulit aku hadapi, adalah membangkitkan kepercayaan diri anak-anak itu.

”ya sudah, kalau begitu Mbak yang mengalah, Mbak yang akan baca duluan, karya Mbak sendiri, gimana setuju nggak??”
”setujuuuuu” serentak anak-anak itu menjawab.
”tapi kalian harus janji setelah itu, giliran kalian yang akan membaca” anak-anak itu mengangguk tanda setuju. Aku menarik nafas panjang dan mulai membacakan puisi yang baru aku tulis semalam….

Jalanan kotor, gelap, rumit dan becek
Tak ada ketenangan di sana,
Tak ada derai-derai tawa seperti disini

Di tepi air kali yang mengalir pelan
Bersama timbunan sampah dan kotoran manusia
Anak-anak itu berlari-lari, tanpa baju, tanpa sandal
Mengejar impian yang semakin jauh meninggalkan mereka

Spontan terdengar suaru tepuk tangan meriah dari anak-anak itu. Aku tersenyum menatap mereka, wajah mereka begitu berseri-seri.
”Nah sekarang giliran kalian, kan tadi udah janji setelah Mbak Ayu, trus kalian, ayo siapa yang duluan” salah seorang anak langsung maju dan membacakan puisinya. Bermacam-macam ekspresi yang mereka tunjukan, ada yang membacanya dengan lembut, mendayu-dayu, ada pula yang keras, di sertai mimik wajah yang keras pula, mungkin sekeras kehidupannya sehari-hari. Aku tidak dapat menahan tawa, melihat tingkah laku mereka, tapi dalam hatiku bangga, minimal aku telah mengajari mereka sedikit tentang dunia.

Tak terasa hari semakin sore, setelah mengucapkan terima kasih anak-anak itu membubarkan diri, mereka menyerahkan puisi-puisi yang mereka tulis kepadaku.
”kalau sama Mbak pasti disimpan baik-baik, kalo disimpan di rumah, ntar ilang, bapak suka ngobrak-abrik rumah, kalau lagi bertengkar sama ibu” kata Bayu. Aku menerima kertas-kertas itu dan menyelipkannya di antara buku catatanku. Lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Anak-anak itu langsung berlarian entah kemana. Aku duduk di atas tikar dan menyalin semua karya anak-anak itu pada buku catatanku. Selesai menulis, aku menatap keluar jendela, tampak malam sudah tiba. Di luar sudah gelap, aku bergegas mandi, berpakaian mini, meraih tas berwarna hitam, tas yang berisi buku catatan hari-hariku, dan kembali ke jalanan.

Sambil berdiri di bawah pohon Flamboyan di tepi jalan aku menatap ke langit. Tampak bintang-bintang yang bersinar terang, seolah menyapaku. Pastilah bintang itu telah menjadikan aku sebagai temannya, karena setiap malam ia selalu mendapatiku menatap ke atas. Aku tersenyum pada bintang itu.

Tiba-tiba aku merasakan sentuhan di bahuku. Aku menoleh, tampak lelaki setengah baya tersenyum, ia berdiri di sampingku. Rupanya malam ini ia minta di layani, segera dia membawaku ke losmen terdekat. Orang tua itu sangat perkasa, walaupun umurnya telah memasuki usia yang terbilang tua. Setelah puas ia memberikan beberapa lembar uang kepadaku, dan langsung pergi, aku kembali ke jalanan.

Tampak teman-temanku yang lain masih berada di tempat itu, ada yang sedang merayu pelanggan lalu pergi. Aku berdiri di bawa lampu jalan yang agak terang. Duduk di atas trotoar dan mulai menulis. Selesai aku buat satu bait puisi, sebuah sepeda motor berhenti di depanku. Lelaki yang mengendarai motor itu membuka helmnya dan tersenyum ke arahku, lalu mengajak aku pergi. Aku lupa memasukkan buku catatanku kedalam tas, dan terus menggenggamnya.

Kami berhenti di losmen dekat stasiun Tugu. Kami masuk ke sebuah kamar. Laki-laki itu menatapku penuh birahi, langsung saja ia menyuruhku melepas pakaian, demikian juga dengannya, aku meletakkan tas dan buku catatan di atas meja. Dia mulai menggerayangi seluruh tubuhku. Sampai akhirnya kami sama-sama sampai pada puncak tertinggi kenikmatan bersetubuh.

Laki-laki itu mengajak aku mandi bersama. Di kamar mandi dia kembali memperlakukan seperti apa yang dia lakukan sewaktu di atas ranjang.
”kamu memang hebat, tidak sia-sia aku membayarmu” katanya sambil menyodorkan uang kepadaku. Aku mengambil, meraih tas dan melangkah keluar losmen kembali ke jalanan. Tiba-tiba aku ingat laki-laki yang kemarin aku layani. Orangnya begitu baik, aneh, belum pernah aku menemui orang sebaik dia. Sayangnya aku tidak pernah menanyakan siapa namanya, dimana dia tinggal. Tapi bukankah aku hanya berhak memberinya kepuasan badani, aku tidak berhak menanyakan identitasnya. Aku naik becak, menuju jalanan tempat aku mangkal. Di sana masih ada teman-temanku yang lain. Tanpa terasa hari sudah menjelang subuh.. Aku pulang.

Pagi di gubuk rasanya seperti neraka. Aku mencari-cari buku catatanku, aku sudah mencarinya ke banyak sudut di gubuk tapi tak ada, bahkan aku sempat mengais-ngaisi tempat sampah yang terletak di samping kali, namun hasilnya tetap nihil. Aku hampir saja menangis, bagaimanapun seluruh kehidupanku tertulis dalam buku itu, buku itu adalah teman sejatiku. Aku duduk di atas tikar, mencoba mengingat-ingat di mana aku menaruhnya. Sepintas aku hampir saja putus asa. Karena tak mampu mengingat dimana aku menaruh buku itu.

Namun, aku langsung bangkit berdiri ketika aku ingat, bahwa aku lupa menaruh buku catatan itu dalam tas tanganku ketika lelaki itu mengajakku pergi. Aku kembali larut dalam ingatan perjalananku dengan lelaki itu semalam. Dalam hitungan sekian detik aku membayangkan, buku itu aku letakkan di atas meja di kamar losmen. Aku kembali terduduk lunglai, bagaimana mungkin buku itu masih ada di sana sampai kini, pasti petugas kebersihan di losmen itu, telah melemparkannya ke tempat sampah, karena mengira buku usang itu tidak berguna, begitu tahu itu hanyalah buku yang sudah sobek di sana sini, mungkin dianggapnya tidak di pergunakan lagi.

Oh, Tuhan aku tidak pernah membayangkan, bahwa itu akan terjadi. Tapi bagaimana caranya aku mendapatkan buku itu kembali? Aku sendiri tidak ingat dimana losmen itu, mengingat ada beberapa losmen yang ada di depan stasiun tugu. Aku juga tidak ingat, di kamar nomor berapa aku tidur.

Aku hanya bisa tersandar tak berdaya di dinding gubukku. Dan pasrah membiarkan buku itu pergi dari kehidupanku. Aku menarik nafas panjang. Hari semakin sore memasuki malam. Aku menatap langit dan bergumam, mulai malam ini aku tidak bisa lagi menuliskan puisi-puisi di atas buku itu. Aku mandi berganti pakaian, dan kembali ke pelukan malam.

Seminggu sesudah buku itu hilang, pada suatu malam seorang lelaki mengendarai motor berhenti tepat di hadapanku. Lelaki itu turun dari motor dan duduk di sampingku, di atas trotoar jalanan yang berdebu. Aku agak kikuk karena tidak biasanya seorang pelanggan datang dan mendekatiku dengan cara yang seperti itu. Lelaki yang duduk disampingku itu tersenyum dan menyapaku.

”selamat malam”. Aku mengangguk pelan, dan membalas salam itu. Ini bukanlah hal yang biasa aku temui pada lelaki yang datang mendekatiku. Ketika aku melirik, sesaat aku teringat bahwa aku pernah bertemu dengannya, tapi aku tidak ingat dimana dan kapan. Lelaki itu masih menatapku di bawah cahaya lampu jalanan yang remang-remang. Aku benar-benar merasakan sesuatu yang aneh, aku merasa laki-laki ini datang untuk maksud yang lain, bukan membeli tubuhku.

”kamu masih ingat aku?” suaranya memecah kesunyian. Aku mengangguk pelan. Lelaki itu tetap tersenyum.
”aku mau mengembalikan buku ini kepadamu” katanya seraya mengeluarkan sebuah buku usang berwarna coklat dari dalam tasnya.

”aku tergagap, ketika dia menyodorkan buku itu kepadaku. Sesaat aku merasa bahagia melihat barang yang selama ini aku cari ternyata masih ada. Aku merasa semangat hidupku bangkit lagi, setelah beberapa minggu tidak pernah menulis.. Aku mengulurkan tangan menerima buku itu.
”terima kasih” aku berkata pelan. Lelaki itu mengangguk dan tersenyum.

”rupanya kamu lupa, bahwa aku orang yang mengajakmu tidur di losmen waktu itu, dan buku ini ketinggalan di atas meja, aku mengambilnya dan berniat mengembalikan kepadamu. Tapi maaf, aku sudah membaca keseluruhan isi buku ini, bahkan aku sudah merampungkannya dalam satu buku dan menerbitkannya. Tapi tetap dengan nama kamu, Ayu.

Bahkan sekarang buku itu menjadi perdebatan yang sengit di antara para sastrawan, mereka yang tak suka dengan buku itu mengatakan, bahwa apa yang kau tulis adalah sesuatu yang melanggar moral, bertentangan agama dan lain-lain, tapi sebagian sastrawan lainnya memuji karyamu, mereka kagum dengan keberanianmu, mengungkapkan apa yang selama ini kamu alami, kemudian menjadikan itu sebagai pelajaran hidup, sekaligus sudah waktunya membuka sesuatu yang tersembunyi, dan memaknainya sebagai jalan hidup tiap individu”

Aku diam mendengarkan lelaki itu. Dalam hati aku berbisik, bahwa aku tidak mengerti semua ini. Aku tidak pernah merasa menulis sebuah buku atau novel yang menceritakan tentang kehidupanku sendiri, dan menjadi kontroversi di antara para sastrawan.

”aku minta maaf karena telah lancang berbuat seperti itu, tapi niatku baik, aku tidak tahan membaca karya sebagus itu, tapi hanya menjadi konsumsi pribadi, makanya aku merampungkannya dalam sebuah cerita dan memberinya judul Novel Untuk Penyair. Sekali lagi aku minta maaf, jika kamu tidak suka, kamu berhak menarik seluruh Novel itu dari peredaran” sekilas tampak lelaki itu merasa bersalah. Aku menarik nafas panjang, dan mencoba mencari kata-kata yang cocok untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan saat ini.

”aku tak bisa berkata-kata, aku hanya merasa senang karena buku harianku, temanku melalui malam-malam telah kembali, aku tidak peduli entah berapa banyak orang yang membacanya dan memperdebatkannya. Yang pasti, aku tidak pernah merasa merusak moral masyarkaat atau menginjak-injak dunia kesusastraan dengan tulisan-tulisanku. Soal novel yang kau terbitkan berdasarakan isi buku ini, aku menghargainya, terima kasih. Apa boleh aku minta beberapa eksemplar untuk kubagikan pada anak-anak asuhku nanti?”

”oh..tentu saja boleh. Aku jadi merasa tidak enak hati, karena mestinya aku yang berkata seperti itu kepadamu” lelaki itu mengeluarkan beberapa buah buku dari dalam tasnya, dan memberikannya kepadaku.
”jika masih kurang nanti aku tambah” aku tersenyum menerima buku-buku itu. Sampulnya berwarna hijau, bergambar daun dan tertulis diatasnya Novel Untuk Penyair.

”terima Kasih” aku berkata dan bangkit berdiri. Lelaki itu ikut berdiri.
”eh..maaf, apa aku bisa minta waktumu besok?”
Aku menatap lelaki itu.
”iya bisa, ada yang bisa dibantu?” aku tersenyum.
”besok ada acara seminar bedah buku, novelmu ini yang mau dibedah dan aku sangat mengharapkan supaya kau bisa hadir, bagaimanapun orang-orang yang menyukai karyamu, ingin sekali bertemu dengan penulisnya langsung”

Aku mengangguk pelan, dan berkata.
”iya aku akan datang, dimana tempatnya”
”di salah satu hotel yang terletak dijalan Malioboro”
”baik, aku akan ke sana besok”
”iya, bagaimana kalau aku jemput kamu?”
”tidak usah, aku bisa pergi sendiri, sekali lagi terima kasih”

Aku langsung melangkahkan kaki pulang. Aku senang dan bahagia malam ini bukan karena banyaknya uang yang kudapat, tidak juga telah terbitnya sebuah buku, tapi karena buku harianku telah ditemukan. Sengaja aku pulang cepat, agar aku bisa tidur dengan tenang.
***

Ruangan itu cukup luas. Banyak kursi-kursi yang berjejer rapi, sebagian telah diduduki para undangan. Di bagian depan telah ditempatkan empat buah kursi dan sebuah meja panjang, tempat para narasumber yang nantinya memaparkan pandangan mereka, tentang novel yang katanya itu aku tulis. Sesaat aku tertawa dalam hati, membayangkan apa yang nantinya akan terjadi dalam ruangan ini. Aku masih berdiri di ambang pintu dan memperhatikan seluruh isi ruangan itu. Seorang lelaki menyapaku dan memberikan sebuah buku.

”maaf mbak, silakan masuk dan mengambil tempat duduk, karena sebentar lagi acaranya mau dimulai” aku mengangguk dan tersenyum.
Aku mengambil tempat duduk di deretan kursi paling belakang, sambil membuka-buka buku harianku. Selang beberapa waktu kemudian, ruangan itu mulai penuh, aku tidak tahu dari mana saja orang-orang yang kini hadir disekitarku. Empat kursi yang ada didepan juga telah diduduki oleh empat orang yang berpakaian rapi. Salah satu diantaranya adalah lelaki yang semalam datang menemuiku dijalan.

Acara dimulai dengan ucapan salam dan pengantar dari lelaki itu. Seterusnya giliran para narasumber yang berbicara, aku mendengarkan semuanya dengan rasa kagum. Bukan kagum pada diri sendiri, tapi kagum pada kenyataan hari ini, yang ternyata sanggup menunjukan kepadaku, bahwa apa yang dilakukan seorang pelacur juga berharga di mata dunia dan orang banyak.

Tiba pada sesi diskusi, aku agak gugup karena beberapa penanya, meminta untuk menghadirkan penulis aslinya ke dalam forum itu. Aku diam, jantungku berdegup keras mendengarkan perkataanya.

”kita disini meminta agar penulis yang sebenarnya bisa dihadirkan dalam ruangan ini sekarang juga, bagaimanapun novel ini telah menuai banyak kontroversi dan saya pikir penulisnya yang mesti bertanggung jawab atas semua itu. Bukan orang-orang yang mendukung karyanya, tetapi harus dia sendiri. Atau penulisnya tidak mampu bertanggung jawab, takut bertanggung jawab atas tulisannya, yang merusak moral dunia kepenyairan. Sekali saya meminta supaya penulisnya dihadirkan dalam forum ini, terima kasih”

Aku menunduk mendengar perkataan itu, jadi selama ini apa yang aku lakukan di anggap merusak moral. Aku menutup mata rapat-rapat, berusaha mencerna setiap perkataan yang dilontarkan para hadirin, terutama dengan mereka yang kontra dengan karyaku. Aku kaget ketika hampir seluruh isi ruangan itu mau membatalkan acara, jika penulis aslinya tidak dihadirkan.

Dalam hati aku tidak boleh membiarkan ini terjadi. Ketika sebagian yang hadir dalam ruangan itu mulai berdiri dan menuding ke arah dua orang pembicara yang mengagumi karyaku. Dari barisan kursi paling belakang aku berdiri mengancungkan tangan.

”maaf moderator, apa aku bisa bicara?” aku berkata dengan suara lantang, mengingat ruangan itu sudah cukup gaduh.
Lelaki yang bertindak sebagai moderator itu, tersenyum begitu mengetahui bahwa aku ada dalam ruangan itu. Karena dialah yang mengundangku, dialah yang mengembalikan buku harianku.

”iya silakan Mbak, maaf hadirin sekalian, saya harap tenang, karena ada yang ingin bicara” katanya seraya menunjuk ke arahku. Orang-orang yang tadinya berdiri, kini mulai duduk dan menatap kearahku.

”terima kasih,” aku menarik nafas panjang. Dan mulai berbicara.
”maaf saudara-saudara sekalian, jika saya terkesan memotong pembicaraan kalian, tapi saya pikir adalah suatu hal yang sangat tidak berguna jika hari ini kita memperdebatkan apa yang mestinya bukan menjadi perdebatan kita dalam forum ini. Kalau kemudian saudara sekalian meminta kehadiran Ayu penulis novel ini, untuk bertanggung jawab, maka saya akan bertanggung jawab untuk itu, saya akan bertindak sebagai Ayu yang kalian bicarakan dalam forum ini”.

”tunggu saudara!!” seorang lelaki yang duduk paling depan berdiri dan menunjuk ke arahku, ”kami menginginkan kehadiran Ayu yang sebenarnya, dan bukan kau, kami meminta pertanggung jawaban dari dia” lelaki itu duduk kembali.

”saya paham apa yang kalian maksud, jika kalian menginginkan Ayu yang sebenarnya, maka saya sarankan supaya kalian benar-benar tahu siapa sebenarnya Ayu yang kalian maksudkan, saya pribadi adalah Ayu, yang menulis dalam buku harian, dan seseorang merampungkan itu dalam sebuah novel yang kalian bicarakan saat ini. Saya merasa bukan Ayu yang kalian maksudkan, karena jujur saya mengatakan, bahwa novel yang kalian perdebatkan dalam ruangan ini adalah karya dari seorang pelacur jalanan yang tinggal di bantaran kali Code, dan itulah saya, diri Ayu yang sebenarnya. Bukan Ayu yang menulis fiksi alat kelamin yang kalian maksudkan hari ini. Apa yang dituliskan Ayu dalam novel ini adalah benar kehidupan dia sesungguhnya. Dan jikalau hal itu dianggap melanggar moralitas agama atau lainnya, dan kalian membutuhkan Ayu itu untuk bertanggung jawab, maka saya akan bertanggung jawab. Dan tolong katakan pada saya, pertanggung jawaban seperti apa yang harus saya lakukan, jika novel itu harus ditarik dari peredaran, maka saya akan melakukannya” aku berhenti menarik nafas sejenak.

Sesaat ruangan itu hening, semua mata tertuju kearahku, aku bisa merasakan sebagian mata yang menelajangiku dengan tatapan benci, sebagaian lagi menatap kagum ke arahku. Seorang lelaki berdiri dan berbicara.
”saya tidak sepakat kalau novel itu mesti ditarik dari peredaran” serentak tepuk tangan dari yang lainnya, juga yang menyatakan bahwa mereka tidak sepakat dan bersedia mendukungku.
”tidak ada yang salah dalam novel itu, tidak ada pelanggaran moral dalam novel itu, penyebutan alat kelamin yang berulang kali dalam novel itu, tidak dimaksudkan untuk melanggar moral, jadi tidak sepantasnya novel itu ditarik dari peredaran” kembali lelaki itu melanjutkan.

”setuju!!..setuju!!…”
Aku masih tetap berdiri. Sesaat aku sadar, bahwa sebagian dari orang-orang yang hadir dalam ruangan itu adalah laki-laki.

”maaf saudara-saudara, saya pikir ini sudah keterlaluan, cukuplah Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, yang menulis dan mengumbar alat kelamin, seks dalam karya-karya mereka, jangan lagi ada Ayu yang lain, yang menambah daftar perempuan penghuni neraka nanti, menulislah dengan sewajarnya, apalagi kau adalah perempuan yang nantinya menjadi ibu bagi anak-anakmu nanti, dan istri bagi suamimu, maka jadilah perempuan baik-baik” lelaki yang berjanggut dan mengenakan kemeja hitam itu menunjuk ke arahku. Aku tersenyum mendengarkan perkataannya.

”maafkan saya, jika karya saya mengganggu kehidupan atau jalannya pernapasan kalian, saya hanya ingin mengatakan, bahwa saya tidak mau lari dari kenyataan yang hari ini saya lihat, saya alami, apa yang saya tuliskan dalam novel itu adalah yang sesungguhnya. Kita yang hadir dalam ruangan ini harus paham, bahwa itulah gambaran dunia hari ini, ingat, jaman senantiasa berubah, penafsiran terhadap kenyataan juga mesti dirubah. Dan sampai detik ini saya belum tahu bagaimana caranya menjadi perempuan baik-baik seperti yang anda maksudkan, karena kenyataan yang saya hadapi mengajarkan bahwa, sesuatu yang baik memiliki tempat serta bentuknya sendiri dalam kehidupan, dalam kenyataan.

Saya akan bertanggung jawab, pada apa yang saya lakukan hari ini, tapi tidak pada orang-orang seperti saudara, tetapi pada gerak jaman dan sejarah yang selalu mengatakan, menunjukan kepada saya bagaimana kenyataan yang sesungguhnya. Saya tidak berani menyinggung soal moral yang saudara bicarakan hari ini, karena saya orang yang tidak paham moralitas, saya hanya ingin mengatakan, bahwa saya tidak melanggar sesuatu yang tidak saya pahami. Saya ucapkan terima kasih pada saudara yang sepenuhnya mendukung karya saya, semoga saudara tidak merasa rugi atau berdosa karena telah mengagumi karya dari perempuan jalang. Maaf, saya harus pergi segera, sekal lagi saya katakan, bahwa saya akan bertanggung atas karya saya, permisi” aku melangkahkan kaki ke luar.

Namun orang-orang yang berada di pihakku menghadangku di depan pintu, mereka meminta tanda tangan, mencegahku untuk pergi.
”Mbak Ayu, jangan pergi dulu Mbak, acaranya kan belum selesai,”
”Mbak Ayu nggak boleh kalah, Mbak nggak boleh mundur, mereka itu orang-orang yang nggak paham aja”
Aku tersenyum mendengar perkataan mereka.

”maaf saudara, ini bukan duniaku, saudara lebih paham soal itu. Aku perempuan jalanan, bukan novelis yang karyanya pantas menjadi kontroversi, aku punya dunia sendiri, tempat aku mengekspresikan diriku, terima kasih atas bantuan saudara sekalian”
Aku melangkah keluar, menuju jalanan, menyetop taksi dan kembali ke bantaran kali Code. Hari semakin siang, aku yakin anak-anak itu sudah menunggu kehadiranku.

Apa yang baru saja aku alami, sama sekali tidak membuatku merasa menang atau kalah. Aku menganggap itu, bagian dari kenyataan yang mesti aku hadapi hari ini. Di luar kenyataan yang aku jalani setiap malam. Dalam perjalanan pulang aku menggenggam erat buku harianku, dan berjanji akan tetap menjaganya. Aku sadar sudah waktunya, mempertanggung jawabkan apa yang aku lakukan pada dunia.

”kebebasan berpikir dan berpengetahuan merupakan hak setiap manusia. Karena alam pikiran juga bebas menentukan bentuk, seperti apa yang mesti berpijak. Akan tetapi, ketika bentuk-bentuk pikiran diejawantah ke dalam laku hidup atau tindakan, maka ia memiliki batasan hukum sendiri, kodrat sendiri, yang terkadang sulit diterima oleh nalar. Dan ini mesti dipahami, sebagai sebuah hukum keteraturan tingkah laku, bukan sebagai halangan bagi kita untuk berpengetahuan. Kebebasan yang sebenarnya adalah kebebasan berpengetahuan, bukan kebebasan bertindak, karena tindakan memiliki batasan dan kodrat hukumnya”

*) Manado, 2007

Pusara Cinta Az-Zahrah

http://media-sastrajatim.blogspot.com/
Novelet Karya: Almania Rohmah*

BAGIAN 1

Tok…! Tok…! “Fatimah, bangun! Sudah jam 03.00 WIB.” Teriak Bundaku.

“Iya Bunda!” Jawabku singkat.

Yach…, begitulah ibuku akrab memanggilku. Fatimah Az Zahrah adalah nama lengkapku. Nama itu pemberian orang tuaku. Kebetulan, orang tuaku merupakan salah seorang tokoh agama di desaku. Tepatnya desa Modo. Semenjak usia dini, orang tuaku sudah mendidikku dengan ajaran-ajaran agama hingga sekarang aku lulus dari SMP 1 Modo.

Untuk melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas, orang tuaku sudah memilihkannya untukku. Dan rencananya pagi ini juga, aku akan berangkat ke sana. Seusai sholat Qiyamul Lail, akupun mempersiapkan segala keperluanku sambil menunggu adzan Shubuh.

Beberapa saat kemudian, setelah aku selesai mengerjakan sjolat subuh. Dan saat itu kira-kira matahari telah setinggi badan, aku bersiap-siap untuk berangkat ke calon sekolahku yang baru. Yach, aku hendak mendaftarkan diri di sana.

“Fatimah, ayo sarapan dulu !” Ajak Bunda.

“Sebentar Bunda, aku masih ganti baju.” Sahutku.

Selesai ganti baju, aku pun keluar dari kamar dan menuju meja makan untuk sarapan pagi bersama orang tuaku.

“Sudah jam 7, ayo kita berangkat.” Ajak Abah mengingatkan sudah siang, karena besok pagi sudah ada tes masuk. Kami pun bergegas masuk mobil dan tak lupa barang bawaanku. Dalam hatiku bertanya-tanya, sekolah mana yang sudah dipilih Abah buatku?

Dari kota Babat berjalan ke arah selatan mengikuti jalur utama. Setelah berjalan 28 Km, kami pun memasuki kota Jombang. Dan ternyata perjalanan kami berakhir di depan pintu gerbang Pondok Pesantren Tebu Ireng. Aku merasa senang sekali. Sebab itu adalah keinginanku semenjak kecil. Aku bisa mondok di pesantren tersebut. Baru sekarang inilah, orang tuaku memberikan hadiah sepesial dan berharga atas kelulusanku.

Bunda mengajakku masuk ke pondok pesantren Masruriyah Putri. Dari pintu gerbang pondok, kudapati Mushola dan di sebelahnya ruang kantor. Aku yang begitu awam dengan tempat ini, hanya bisa mengikuti langkah Bunda. Kami pun menuju keruang kantor. Ternyata semua pengurus di dalamnya sedang disibukkan dengan aktivitasnya masing-masing. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka ada yang menghampiri kami setelah mendengar salam dari kami.

“Oh Ibu, silahkan duduk!” Sapa seorang gadis pada bundaku. Tampaknya gadis itu sudah kenal dengan Bunda.

“Fatimah, ini mbak Fiqo, ketua umum di pondok pesantren ini.” Bunda mengenalkan aku pada gadis yang begitu asing buatku itu. Dan kami pun saling berjabat tangan.

“Jadi, ini anak Ibu yang akan mondok di sini?” Terkanya padaku.

“Iya Mbak !” Jawab Bunda singkat.

“Kalau begitu, mari saya antar ke kamar A” Ajaknya. Kami pun berjalan ke lantai atas untuk melihat kamarku. Bangunan yang dirancang seperti huruf “U” dan hanya bersusun satu. Kamar “A” berada tepat di ujung paling utara.

Setelah seharian, Bunda pun minta pamit padaku.

“Fatimah, apa kamu tidak ingin bertemu dengan Abah kamu sebelum kami pulang?” Saran Bunda padaku.

“Iya Bunda!” Jawabku singkat.

Kami pun menuju ndalem pengasuh pondok pesantren “Masruriyah Putri”. Selang beberapa menit, Abah minta pamit padaku karena akan ada pengajian, malam ini di desaku.



BAGIAN 2

Malam pertama di pondok pesantren ini, aku begitu juga semua santri lama maupun baru berkumpul bersama pengurus di dalam Mushola guna membacakan tata tertib pondok pesantren dan dilanjutkan Tausyiyah dari Ustadz pengasuh pondok pesantren.

Laju jam begitu lambat, memang kenyataan lebih pahit dibandingkan dengan khayalan. Dulu aku sangat berharap bisa mondok di sini. Namun setelah aku di sini, hari pertama saja aku sudah mulai bosan. Apalagi seterusnya.

Dinginnya hawa angin malam dan alas tidur yang tipis membuatku masuk angina. Sehingga dalam waktu semalam saja aku harus bolak-balik ke kamar mandi dan naik turun tangga sampai lima kali. Dalam benakku, dalam seminggu saja mungkin bisa turun 5 kilo berat badanku kalau setiap malam begini terus. Jadi nggak perlu buang uang buat biaya diet donk!

Adzan Subuh pun berkumandang. Namun mataku terasa berat untuk dibuka, setelah begadang semalaman di kamar. Dan usai sholat Shubuh, aku pun tidur lagi.

“Fatimah, apa kamu nggak ikut tes hari ini?” Rina mencoba membangunkanku.

“Emangnya sekarang sudah jam berapa Rin?” Tanyaku balik.

“Jam 07. 45 WIB” Jawabnya.

“Aduh…! Gimana nich, jam 8 kan sudah dimulai. 15 menit lagi aku harus sampai ke sekolah.” Pagi hari itu, cuma kuawali dengan cuci muka dan menggosok gigi. Kemudian memakai baju seragam. Tapi aku belum tahu pake’ seragam apa untuk hari Senin ini. Aku pun berlari keluar kamar. Aku melihat tinggal ada beberapa temanku yang sedang memakai sepatu dan siap pergi kesekolah. Dan aku akhirnya tahu, untuk tes kali ini memakai seragam putih dan abu-abu. Di halaman pondok sudah tidak kudapati teman-temanku lagi. Di luar gerbang aku pun bingung. Harus berjalan ke arah mana untuk menuju ke SMA A.W.H? Kudapati seorang lelaki berjalan dari arah utara.

“Maaf Mas, SMA A.W.H itu di sebelah mana?” Tanyaku.

“Mari saya antar!” Tawarnya.

Aku yang masih lugu menolak tawarannya. Di benakku sempat terpikirkan “Bagaimana jika aku bukannya kesekolah malah ketempat yang lain?” Aku pun berjalan asal neronyong aja. Berlawanan dengannya.

“Mbak, mau ke mana? SMA A. W. H itu di sebelah sana. Kalau Mbak lewat situ nanti bingung.” Sarannya seraya menunjukkan telunjukknya ke suatu arah tertentu.

“Dari gang sebelah jembatan itu lurus saja, lalu pean Tanya disana kalau ada perempatan” Himbaunya lebih lanjut.

Aku pun berbalik arah sambil menundukkan kepala karena merasa malu dengannya. Dan sesampainya di SMA A. W. H aku pun menemui pengawas tes dan meminta izin untuk masuk ke ruangan. Namun beliau menolak dan menyuruh aku mengerjakan soal tes di depan ruangan karena di dalam tidak ada bangku kosong lagi.

Dari ruang sebelah, seorang pengawas keluar dan melangkah ke arahku. Alngkah terkejutnya aku. Ternyata lelaki itu juga ada di sini. Aku pun menarik nafas dalam-dalam dan megeluarkannya dengan cepat. Aku yang masih merasa malu segera menutup mukaku dengan kerudung sambil menundukkan kepalaku. Andai tadi aku tak menolak tawarannya, aku takkan merasa semalu ini. Ternyata dia ada perlu dengan pengawas yang ada di ruanganku.

Selesai tes, aku sengaja menunggu Rina keluar agar aku bisa pulang bareng dengannya. Tidak lama kemudian, kudapati Rina baru saja keluar dari ruangnya.

“Rina, tunggu aku!” Teriakku.

Rina pun menampakkan senyumnya dan menanti kedatanganku.

“Bagaimana Fatimah? kamu tadi datang nggak telat kan?” Tanya Rina.

“Iya sich. Mana aku belum tahu lagi di mana SMA A.W.H itu.” Ujarku sedikit kesal.

“Maaf Fatimah, kalau tadi pagi aku nggak nunggu kamu.” Sesal Rina.

“Nggak apa-apa kok Rin. Akunya aja sich yang malas bangun” Sadarku.

“Lho Rin, kita mau ke mana? Kok lewat sini? Apa nggak salah?” Sangkalku.

“Emangnya kamu tadi lewat mana?” Tanyanya balik padaku.

“Sebelah sana!” Tunjukku. Yang ternyata tak sengaja aku menunjuk ke belakang dan mengenai tangan seseorang yang ada di belakangku. Dan…...

“Subhanallah, itu tangan seorang guru yang ngajar di SMA A. W. H.” Aku kaget.

“Maaf Pak, maaf!” Himbauku

“Nggak apa-apa. Tolong berikan surat ini pada Mas Azhar di pondok Mastra.”

“Iya Pak.” Sahutku.

“MASTRA”, singkatan dari “Masruriyah Putra”. Di depan pintu gerbang itu, aku mencoba menyampaikan amanat dari Pak Guru. “Bisa betemu dengan Mas Azhar?”

“Aduh….! Kenapa aku harus bertemu lelaki itu lagi?” Kesalku dalam hati.

“Ada apa?” Tanyanya padaku dan Rina.

“Bisa bertemu dengan Mas Azhar?” Tanyaku.

“Iya ada apa?” Sahutnya.

“Mas Azharnya mana?” Tanyaku balik.

“Akulah Mas Azhar!” Ujar kesalnya.

“Ini Pak, dapat surat dari sekolah.” Tukasku.

“Ya Allah, mengapa aku meski berhadapan dengan orang yang menjengkelkan seperti beliau?” Degub batinku sekali lagi.



BAGIAN 3

Tepat di hari Kamis malam Jum’at, ada Diniyah dan jamaah sholat Isya’. Saat itu, aku duduk di depan teras kamarku sambil menghafal 100 kosakata setiap hari, yang sudah menjadi kewajiban di pondok pesantren ini. Dengan jelas kudengar suara lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang mampu menembus relung mercu qolbuku yang membeku.

“Wahai sang Khaliq, insan seperti apakah yang pantas engkau anugerahi suara sesempurna itu?” Pertanyaan itu tiba-tiba muncul dari dalam hati kecilku. Entah, aku tak tau, mengapa ungkapan itu melingkupi batinku.

“Jiwa yang sesuci apakah yang pantas mendampinginya di kala suka maupun dukanya?” Dengan bertubi-tubi, pertanyaan-pertanyaan seperti itu datang dari dalam hatiku. Sesekali bening bola mataku meneteskan embun haru di hamparan pipiku. Membasah kering kulitku.

“Ada apa Fatimah? Mengapa kamu menangis?” Suara Rina mengagetkanku.

“Nggak ada apa-apa kok Rin!” Jawabku singkat sambil menyeka air mataku.

“Kamu sendiri kok belum tidur Rin?” Tanyaku balik.

“Aku mau ke kamar mandi!” Jawabnya.

“Mau kuantar Rin?” Tawarku.

“Nggak usah, kamu tidur aja sekarang.” Sarannya.



BAGIAN 4

Sewaktu aku dan Rina berangkat ke sekolah, ada seseorang yang iseng denganku.

“Rin, kenalin donk, aku sama temen kamu!” Ledeknya.

“Hai cantik, boleh nggak aku kenalan?” Orang itu menghampiriku.

“Ach…!” Teriakku.

Dia menarik kerudungku, hingga rambut panjangku terurai. Aku menangis di pangkuan Rina. Dan tak kusangka, Mas Azhar datang menghampiriku sambil mengambilkan kerudungku yang terjatuh. Kebetulan, saat itu, Bunda dan Abah datang membesukku. Aku pun membatalkan niatku tuk pergi ke sekolah dan masih trauma dengan kejadian tadi. Semenjak kejadian itu, setiap aku bertemu dengan Mas Azhar, beliau selalu tersenyum padaku.



BAGIAN 5

Suatu hari, di perjalanan pulang sekolah. Tepat di belakang asrama putra. Seorang anak lelaki menyapaku.

“Mbak Fatimah!” Terkanya.

“Iya, ada apa?” Tanyaku yang sama sekali tak kenal dengannya.

“Ini buat Mbak Fatima !” Ucapnya sambil menyodorkan surat padaku.

Sesampai di pondok, aku menuju ke kamar mandi, untuk membaca surat itu. Awal kubuka surat, aku langsung mencari nama penulisnya. Ternyata tertera nama Mas Azhar. Aku merasa antara percaya dan tidak percaya. Hatiku gamang. Mana mungkin Mas Azhar nulis surat buatku. Dalam surat itu, hanya satu kata yang tertulis dengan jelas “Ana Ukhibbu Ila Anti”. Aku yang sebelumnya belum pernah mengenal kata cinta merasa bingung harus berbuat apa? Beliau memberi pilihan padaku. Jika aku menerima, aku akan memenggilnya Abi. Itu sudah cukup menjadi jawaban atas perasaanku.

Suara mikrophone mengagetkanku. Aku dipanggil ke kantor karena ada telepon. Dan aku pun bergegas datang ke kantor.

“Assalamu’alaikum!” Sapaku.

“Wa’alaikum salam, Fatimah! Ini aku, Azhar.” Terangnya.

“Apa? Mas Azhar?” Kagetku dalam hati.

“Apa jawabanmu?” Tanyanya lagi.

“I….iya, Abi.” Jawabku singkat sambil terbata.

“Alhamdulillah, mudah-mudahan ini bukan main-main. Aku ingin memilikimu untuk di dunia dan akhiratku.”

“Umi, entar malam ada Mudarrosah. Abi ingin Umi merupakan salah seorang yang selalu setia mendengarkan Abi ngaji.” Pintanya.

“Insya Allah Abi.” Jawabku.

“Assalamu’alaikum.” Beliau mengakhiri teleponnya.

Aku duduk di depan kamarku. Aku merasa tak percaya dengan apa yang sedang terjadi saat itu, hingga seorang pengurus mengagetkanku.

“Hayo! Ngelamunin siapa?” Tanya Mbak Iim.

“Ach ! Mbak Iim bisa aja!” Elakku.

“Ternyata suara itu milik Mas Azhar. Beberapa malam lalu, dalam setiap lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacakannya, aku selalu berdoa terus menerus diiringi deraian air mata. Hanya satu yang kuharapkan jikalau memang Mas Azhar itu benar-benar jodohku, jadikanlah dia yang terbaik buat dunia dan akhiratku. Maka ridhoilah kami mengikuti sunnah Rasul-Mu dan menyempurnakan separo agamaku.” Gumam kecilku dalam hati.

Hubungan kami berjalan hanya melalui surat dan telepon saja. Bahkan dengan bertatap muka di jalan itu sudah lebih cukup tuk melepas rasa rindu kami.

Semenjak saat itu, dalam sholat Qiyamul Lailku, aku melupakan untuk kebaikanku dan keluargaku. Aku hanya berdo’a untuk Mas Azhar dan tak ada yang lain. Bahkan setiap ada mudarrosah, akulah pendengar setia yang tak mau ketinggalan. Sebab Mas Azhar selalu mengingatkanku melalui telepon, setiap ada mudarrosah di masjid bagi santri yang khufadz Al-Qur’an di sana.

Setelah berjalan selama 3 tahun, aku baru tahu kalau Mas Azhar itu masih keponakan Ustadz Pengasuh pondok pesantrenku. Dan dia di sini memang sedang menyelesaikan khufadznya.



BAGIAN 6

Cukup lama sudah aku dan Mas Azhar menjalin hubungan cinta saat itu. Kami pun merasa banyak kesamaan satu sama lain. Dan dalam hati kami yakin, kalau kita memang sudah jodoh sehingga di akhir semester kelas III, Mas Azhar minta izin padaku, katanya mau ngajar di pondok pesantren di Jepara yang diasuh oleh pamannya sendiri. Hanya satu pintanya padaku “Umi, do’akan Abi ya!”

“Iya Abi, Umi hanya bisa berdoa buat keberhasilan Abi.” Jawabku pasrah.

Setelah tiga bulan kepergian Mas Azhar Ke Jepara, aku tak lagi mendengarkan kegiatan mudarrosah di Masjid “MASTRA”. Aku mendengar kabar, dia akan dijodohkan dengan anak Kiyai di Yogyakarta. Di saat itu aku harus bergelut dengan ujian-ujian sekolah tuk menentukan keberhasilanku. Tiga tahun sudah, aku berjalan mengenyam pendidikan di pondok pesantren Tebu Ireng. Dan hanya dalam tiga hari inilah seluruh masa depanku, aku pertaruhkan..

Hatiku mungkin sudah tak berbentuk lagi. Aku merasa dihianati kesetiaanku. Aku merasa tak berdaya bangkit kembali untuk menghadapi hari esok. Setiap hari tiada nama y6ang kusebut kecuali nama Mas Azhar. Namun, kini sang Kholiq benar-benar menunjukkan keputusannya. Aku mencintai seseorang yang bukan ditakdirkan menjadi jodohku. Aku berupaya meyakinkan pikiranku sendiri dan pernah terbersit rasa syu’udhon terhadap Tuhanku.

Aku berupaya melupakan kenanganku bersama Mas Azhar dengan membakar semua surat darinya. Setelah pengumuman lulus, Aku sengaja pindah ke pesantren lain. Dan membiarkan kenanganku terkubur di sana. Tambak Beras menjadi pilihanku. Aku memilih Fakultas Tarbiyah di kampus UNDAR dan tinggal di pesantren Al-Lathifiyah 1. Aku mencoba membuka lembaran baru di kehidupanku.



BAGIAN 7

Sebelum kegiatan kuliah di mulai, aku mencoba mengisi hari-hariku dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Salah satunya menjadi peserta FMP 3 (Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri) se- Jawa Timur, yang diadakan di Pondok pesantren Lirboyo, Kediri.

Selama kegiatan Bahtsul Masa’il berlangsung, beberapa pendapatku memaksa salah seorang Mushollah muda memancing egoku tuk memberikan alasan-alasan di balik pendapatku itu. Di sana aku juga mendapatkan teman baru yang berasal dari beberapa pondok pesantren yang ada di Jawa Timur.

Sepulang dari Bahtsul Masa’il, seketika itu aku sakit selama tiga hari di pesantren. Sesaat aku teringat Mas Azhar sehingga membuatku meneteskan air mata. Aku berkali-kali berupaya meyakinkan batinku. “Kau bukanlah wujud yang diciptakan dari tulang rusuknya!”. Hingga aku pun yakin bahwa di atas kesempurnaan Mas Azhar ada yang lebih sempurna lagi.

Di hari Senin, aku masuk kuliah dari jam pertama hingga akan jam terakhir. Hari itu tidak ada dosen yang mengajar. Aku sedikit kecewa.

“Buat apa bayar kuliah mahal-mahal kalau ternyata di sini Cuma main-main saja.” Keluhku dalam hati.

“Fatimah! Ada Ustadz Rofiq datang.” Teriak Ima padaku yang sedang ada di dalam perpustakaan kampus. Aku langsung keluar dan bergegas masuk keruang kelasku.

“Assalamu’alaikum!” Sapaku yang masuk telat ke ruangan.

“Wa’alaiku salam.”

“Subhanallah, bukankah ini yang kemarin debat denganku di seminar Bahstul Masa’ail?” Aku kaget setelah melihat wajahnya.

Aku pun segera mencari tempat duduk sambil Pak Rofiq terus memandangiku. Aku hanya bisa berdo’a supaya beliau jangan sampai mengenaliku.

“Ima, apa aku nggak salah, itukan orang yang kemarin ada di musyawarah.” Tanyaku meyakinkan.

“Iya Fat, beliau adiknya Rektor di sini. Ustadz Hanafi Arief. Dulu dia menyelesaikan S-2 nya di Al-Azhar Kairo.” Jelas Ima.

“Beliau ke marin di musyawaroh. Aku rasa menggantikan abahnya seorang pengasuh pondok “Mamba’ul Ma’arif di Denanyar yang mungkin tidak bisa hadir dikarenakan ada halangan.” himbaunya lagi.

Pelajaran yang diterangkan tak masuk ke dalam otakku. Aku hanya menundukkan kepala dan berharap jam kuliah segera usai.

Akihirnya beliau pun mengakhiri mata kuliah hari ini. Sengaja aku keluar telat. Menunggu suasana hingga sepi dan Ustadz Rofiq segera berlalu. Aku pun beranjak keluar. Namun perkiraanku salah. Di samping tiang teras depan ruanganku, kudapati Ustadz Rofiq membelakangiku.

“Mari Ustadz!” Pamitku. Namun suara beliau menghentikan langkahku.

“Apa benar kamu yang ikut di musyawaroh Bahstul Masa’ail kemarin?” Tanya Pak Rofiq.

“Iya Ustadz, ada apa?” Tanyaku balik.

“Apa kamu sudah dapatkan buku hasil Bahstul Masa’ail kemarin?” Tanyanya.

“Belum Ustadz. Kemarin saya tanya sama pengurus harian, katanya sih sedang diproses.”, Ungkapku.

“Kemarin aku sudah dapatkan buku itu. Kalau kamu mau pinjam, besok aku bawakan!” Tawarnya.

“Terima kasih banyak Ustadz!” Balasku.

Aku pikir beliau memang sengaja menunggu aku keluar.



BAGIAN 8

Keesokan harinya, telepon dari nomor yang tak kukenal menghubungiku.

“Asalamu’alaikum.” Sapaku ringan.

“Wa’alikum salam, Fat! Kalau kamu mau ambil bukunya, silahkan ke kantor FAI”. Perintahnya.

Kemudian teleponnya dimatikan. Namun aku bingung, buku apa yang dimaksud? Tanpa basa-basi, aku pun segera menuju ke kantor FAI.

“Assalamu’alaikum.” Sapaku minta diizinkan masuk.

“Wa’alikum salam, ada perlu apa?” Tanya seorang TU di sana.

“Fatimah, ini bukunya!” Sahut seseorang yang ada di sampingku. Ternyata suara itu milik Ustadz Rofiq.

“Tolong dirawat ya!” Pesannya.

“Baik Ustadz!” Aku meyakinkan.

Ternyata nomor yang tadi pagi itu milik Ustadz Rofiq. Dalam hatiku selalu berharap mudah-mudahan beliau tidak ada maksud yang lain. Tiba-tiba hand poneku memberi isyarat bahwa ada pesan yang masuk.

“Rawatlah aku sebagaimana merawat diri kamu sendiri.”

Apa maksud dari pesan ini? Dalam buku itu kutemukan secarik kertas yang menyatakan beliau ingin mengenal aku lebih jauh atau dengan istilah Ta’aruf. Beliau berterus terang merasa kagum padaku. “Fatimah Az-Zahra nama yang sesuai dengan kepribadianmu. Sebagaimana Rasulullah memberi nama pada putri kesayangan beliau Fatimah Az-Zahra yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata dan dikenang sepanjang masa.”.kata-kata itulah yang masih memberkas dalam ingatanku. Aku menghela nafas panjang antara menjawab iya atau tidak.

Akupun bertanya-tanya. ”Apakah ini jawaban atas do’a-do’aku selama ini?”

Aku pun mulai bisa menerima semua ini. Mungkin Mas Azhar belum yang terbaik buat dunia dan akhiratku.

Selang satu minggu, aku baru mengiyakan hubunganku dengan Ustadz Rofiq. Aku merasa telah mendapatkan kesempurnaan sinar surya milikku kembali, setelah beberapa saat terjadi gerhana dalam bumi cintaku.

Setelah 6 bulan melakukan ta’aruf dengan Pak Rofiq, kami merasa saling ada kecocokan, sehingga Pak Rorfiq sendiri tak ingin niatan ta’aruf ini menjadi ladang maksiat. Beliau ingin menghalalkan aku dipandangannya. Sehingga tepat saat aku semester tiga nanti, di bulan Syawwal, akad nikah kami akan dilangsungkan.



BAGIAN 9

Di waktu liburan semester II, aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Kali ini aku memilih naik bus tujuan babat, karena Abah sedang disibukkan dengan pekerjaannya.

Setelah menunggu selama 3 menit, akhirnya datang bus dari arah selatan. Aku memberi isyarat pada sopirnya, sehingga bus berhenti di hadapanku. Di dalam bus, aku berusaha mencari tempat duduk yang kosong.

“Mbak Fatimah!” Teriak seorang lelaki yang usianya lebih muda dariku. Aku merasa mengenali wajah itu dan kebetulan d isampingnya masih kosong. Aku pun berjalan mendekat ke arahnya.

“Boleh aku duduk!” Pintaku.

“Silahkan mbak. Silahkan…..!” Jawabnya.

“Emh…kamu kan yang dulu selalu mengantar surat buatku dari Mas Azhar kan!” Terkaku.

“Iya mbak. Aku Adhim, adiknya Mas Azhar.” Jelasnya.

“Apa…? Kamu adiknya Mas Azhar?” Kagetku. Aku baru tau kalau yang selama ini menjadi perantara aku dan Mas Azhar itu ternyata adik kandungnya sendiri.

“Bagaimana kabar Mas Azhar? Apa dia sudah menikah?” Tanyaku tentang Mas Azhar.

“Mas Azhar baik-baik saja. Sebenarnya kepergiannya ke Jepara ingin mewujudkan cita-citanya bersama Mbak Fatimah.” Tutur Adhim memelas.

“Maksud kamu apa Adhim?” Tanyaku penasaran.

“Sebenarnya perjodohan itu sendiri Mas Azhar tidak pernah menghendakinya. Mas Azhar pinjam uang dari Paman Jamal untuk membeli sepeda motor untuk ngajar di sana agar bisa lebih leluasa, demi mewujudkan impiannya semenjak kecil yaitu memiliki pondok pesantren sendiri. Dan suatu ketika, Mas Azhar akan menjemput Mbak Fatimah,namun Mbak Fatimah menghilang entah kemana? saebenarnya Mas Azhar selalu menyuruhku mencari tau tentang keberadaan Mbak Fatimah?” Tuturnya panjang lebar.

“Sebenarnya selama ini siapa sich yang berkhianat? Aku atau dia?” Pikirku dalam hati. Aku hanya terdiam mendengar penjelasan dari Adhim yang terus disertai rasa penyesalan dari dalam hatiku dan disertai deraian air mata yang terus mengalir begitu saja tanpa kusadari.

“A…aku sekarang kuliah di tambak beras.”. Jawabku sambil terbata mengenai keberadaanku.

“Aku sangat berharap Mbak Fatimah benar-benar bisa menjadi kakakku, karena aku tau hanya Mbak Fatimah yang bisa menjadi support bagi Mas Azhar dalam mewujudkan impiannya.” Beber Adhim.

Bus hampir sampai di depan gang rumahku. Aku meminta Adhim tuk mencatat nomor hand phoneku.

“Adhim! Apa kamu tidak ingin mampir ke rumahku barang sebentar?” Tawarku sebelum turun.

“Terima kasih mbak. Tapi aku harus ke Jepara sekarang.” Ungkapnya.

“Salam buat Mas Azhar.” Pintaku sembari turun dari bus.

Setelah satu tahun, aku baru tau kebenarannya. Ternyata selama ini akulah yang berkhianat pada Mas Azhar. Aku merasa tak pantas mendapatkan Mas Azhar. Ingin rasanya aku bersimpuh di pangkuannya tuk mendapatkan belas kasihnya. Namun aku terlanjur menjalin hubungan dengan Pak Rofiq. Aku nggak mungkin membatalkan pernikahanku yang tinggal 2 bulan lagi. Apalagi Ustadz Rofiq putra dari pengasuh pondok pesantren di Denanyar. Alangkah dholimnya aku jika sampai membatalkan pernikahanku dengan Ustadz Rofiq.



BAGIAN 10

Malam ini, aku benar-benar selalu memikirkan Mas Azhar dan berharap andai waktu bisa diputar ke belakang, maka akan aku pertahankan janjiku bersama Mas Azhar.

Kudapati hand phoneku berdering, nomor Adhim memanggil.

“Assalamu’alaikum!” Sapaku.

“Wa’alaikum salam! Mbak Fatimah, Mas Azhar pingin ngomong sama Mbak.” Tutur Adhim.

“Baiklah!” Jawabku dengan sedikit rasa ragu mendengar kembali suara Mas Azhar.

“Assalamu’alaikum Umi!” Sapa Mas Azhar.

“Wa’alaikum salam Abi!” Jawabku terbata sambil meneteskan air mata. Dan aku pun mendengar suara Mas Azhar menarik air yang ada di hidungnya keras. Aku yakin Mas Azhar sekarang pun pasti meneteskan air mata. Perasaan rindu dan kesal bercampur jadi satu.

“ Umi, mengapa Umi tidak minta izin sama Abi kalau akan pindah ke pesantren lain? Aku hampir merasa patah semangat mewujudkan impian bersama Umi.” Kesalnya dengan sedikit emosi.

“Maafkan Umi, Abi! Umi merasa skait hati ketika mendengar Abi kan dijodohkan.” Terangku.

“Adhim kan sudah bercerita sama Umi, kalau perjodohan itu nihil dan hingga kini Abi sendiri masih cinta sam Umi. Tak ada yang lain.” Beber Mas Azhar menyakinkanku.

“Umi jangan pernah behenti berdo’a untuk keberhasilan Abi ya…!” Pinta Mas Azhar.

“Aku nggak mungkin bilang sama Mas Azhar terutama rencana pernikahanku.” Sesalku dalam hati.

“Iya Abi !” Jawabku

“Sudah dulu ya Umi, aku ada jam negajar diniyah sekarang. Assalamu’alaikum.” Mas Azhar mengakhiri teleponnya.

Ternyata keinginan mas Azhar begitu kuat padaku. Apa yang meski aku perbuat?



BAGIAN 11

Setelah satu minggu pertemuanku dengan Adhim, ternyata dia berupaya menemuiku di kampus. Kami pun berbincang-bincang di bawah pohon beringin. Perbicangan kami dikaitkan dengan Mas Azhar. Di tengah-tengah perbincangan kami, tiba-tiba Ustadz Rofiq menghampiriku. Aku yakin baru kali ini beliau melihat aku berani ngobrol berdua dengan seorang laki-laki.

“ Maaf Fatimah Siap Dia?”

“ Kenalkan Adhim. Ini Ustadz Rifiq”

Aku merasa canggung mengenalkan Adhim pada ustadz Rofiq. Tapi harus bagaimana lagi. Aku sudah kepalng tanggung.

“ Ustadz, ini Adhim. Dia adik sepupuku.” Aku mengenalkan ustadz Rofiq pada Adhim dan mereka pun saling berjabat tangan satu sama lain.

Aku melihat wajah Adhim menyimpan 1000 tanda tanya. Akhirnya ustadz Rofiq pun minta izin untuk udzur diri dari aku dan Adhim. Katanya ada rapat dosen. Dan beliaupun berlalu.

Aku mencoba menjelaskan pelan-pelan pada Adhim agar dia tidak menilai yang bukan-bukan tentang aku.

“ Adhim, itu tadi ustadz Rofiq. Dia calon suamiku. Rencananya kami akan melangsungkan akad nikah di bulan syawal depan. Aku minta kamu jangan berfikir tentang aku yang bukan-bukan. Aku benar-benar sakit hati mendengar perjodohan Mas Azhar. Namun bukan berarti ustadz Rofiq sebagai pelarianku. Butuh waktu lama untuk membuka pintu hatiku kembali. Dan sekarang, di kala aku akan mencoretkan pena di lembaran baruku, ternyata lembaran lama menunjukkan ketulusannya. Jadi apa yang harus kuperbuat Adhim? Pantaskah aku mendapatkan Mas Azhar, sedangkan aku telah menghianati cintanya?” Tuturku menyakinkan Adhim.


* * *

Di lain waktu, pengurus pondok mencoba menghubungi keluargaku untuk memberikan kabar mengenai keadaanku sekarang. Saat itu aku sedang sakit. Aku pingsan untuk beberapa saat. Gelapnya malam dan kawasan hutan yang kondisi jalannya naik turun dan tikungan tanpa difasilitasi penerangan di sepanjang jalan Babat – Jombang tak menyiutkan niat kedua orang tuaku untuk segera berada di sisiku.

Sesampai kedua orang tuaku di RS Hj. Jasin Jombang, mereka segera ke ruang ICU dan memelukku erat.

“ Bunda! Bunda! “ Gumanku yang baru saja sadar dari pingsan.

“Fatimah, Alhamdulillah Dok, Fatimah sudah sadar.” Syukur Bunda dan Abah yang segera memanggil dokter untukku.

Setelah memeriksa kondisiku, beliau mengajak abah keruang kerjanya.

“ Maaf Pak, saya ingin meminta persetujuan untuk melakukan foto Rounsent pada anak Bapak, saya rasa itu jalan terakhir tuk memastikan penyeban sakitnya anak Bapak” Jelas Dokter.

“ Baiklah Dok, saya pasrah pada Dokter. Lakukanlah yang terbaik buat anak saya” Pasrah Abah.

Tepat pukul delapan malam dilakuakn foto Rounsent padaku. Setelah menunggu satu jam kemudian, penyakitku baru terdeteksi. Ternyata aku mengindap kanker otak stadium 4. Kedua orang tuaku tidak henti-hentinya membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan memanjatkan do’a untuk kesembuhanku.

Sebelum dokter memutuskan langkah seterusnya, jam 11.35 aku menghembuskan nafas terakhirku dan menutup catatan malaikat Roqib dan Atid di sepanjang hidupku. Kedua orang tuaku tak mampu menerima takdir yang telah dituliskan padaku.

Di dalam saku baju yang kukenakan, ada secarik kertas dan itu adalah curahan dalam qolbuku.

Kujalani hari yang penuh dengan kepedihan
Kurangkai kisah yang penuh dengan kesedihan

Hati ini sudah tak mampu untuk bertahan
Tapi apalah daya, ini kehendak Tuhan

Ingin aku meraung-raung dalam sepi
Diri ini sudah tak bertahan lagi
Untuk menjalani hidup yang seperti ini

Kutertawa untuk semua
Kuberi canda untuk mereka
Dan kuceria dalam tangis tak nyata
Hanya dalam kesabaran di hati
Aku bisa bertahan hingga kini
Waktuku harus menyimpan seribu duka
- di palung hati

Oh….Tuhan, tabahkanlah hatiku
Kuatkanlah imanku
Agar aku bisa menyimpan semua dukaku
Hingga tak ada seorang pun yang tahu
Akan pedih perih batinku.
Dan biarlah semua ini menjadi pusara cinta
- abadiku
Terpancar di batu nisan hidupku

Setelah membacanya mereka merasa meyesal karena tak pernah mengetahui akan kepedihan hatiku. Suasana hening pun mencuak menjadi tangis dan sendu, di tengah-tengah seruan takbir di seluruh penjuru.

Acara pemakamanku dilakasanakan setelah sholat Id. Orang tuaku segera memberi kabar ke keluarga ustadz Rofiq di Denanyar. Mereka pun segera datang ke rumah sakit dan mengantarkan jenazahku ke rumah dukaku.

Setelah apa yang diimpikannya terwujud, Mas Azhar segera mencariku di pesantren. Namun beliau tidak menemukanku di sana. Beliau pun akhirnya bergegas beranjak dari tempat itu. Dan menuju rumahku tanpa pulang terlebih dahulu. Dari situ beliau tahu akan kematianku. Akan tetapi beliau sebelumnya belum mengerti akan kematianku. Bahkan saat acara pembacaan ceramah sebelum keberangkatanku ke persemayaman terakhirku membuat Mas Azhar bertanya-tanya.

“Jenazah siapa yang berada dibalik keranda itu?” ujarnya dalam hati.

Setelah Mas Azhar mengetahui bahwa itu adalah jenazahku, beliau tertekuk layu di bawah kerandaku. Kedua matanya berkaca-kaca. Dan sejenak kemudian meneteskan air mata.

Acara pemakaman pun segera dimuali. Mas Azhar minta izin untuk ikut andil membawa keranda itu. Di bagian depan ada seorang yang asing bagi Mas Azhar. Namun yang sebelahnya Abah Fatimah. Mas Azhar tepat di belakang Abah Fatimah. Dan di sebelah Mas Azhar, Adhim ikut ambil bagian juga. Mereka semua membawa usungan keranda itu ke makam yang jaraknya + 1 KM. Mas Azhar merasa kelelahan. Dan beliau pun akhirnya digantikan dengan yang lain. Tidak lama kemudian, Mas Azhar melihat Abah Fatimah kelelahan. Akhirnya beliau mengantikannya.

Usai acara pemakaman, Mas Azhar sengaja berhenti dan ngobrol-ngobor dengan keluarga Fatimah. Belia bertanya panjang lebar akan sebab musabab kematianku. Dalam hati beliau terbersit goresan keluh yang begitu memilu.

“Mengapa semua harapan yang kulambungkan tinggi kini harus berakhir turun ke bumi? Adakah sepercik keikhlasan hati darinya meski hanya sebiji sawi?”

Dari pemakamanku itulah, Mas Azhar kenal ustadz Rofiq melalui Adhim. Dan ternyata dia orang yang tadi ikut membawa jenazah di depan. Dan beliau pun akhirnya tahu akan rencana pernikahanku dan ustadz Rofiq di bulan syawal ini.

Mas Azhar melihat wajah ustadz Rofiq menunjukkan kedukaannya. Beliau pun menajadi akrab dengan ustadz Rofiq karena merasakan kedukaan yang sama.

Setelah kepergianku, ustadz Rofiq pun akhirnya menikah dengan putri seorang pengasuh pondok pesantren “Al-Falah” Trenceng Tulungangung. Sedangkan Mas Azhar memutuskan membina pesantrennya sendiri. Pesantren itu di khususkan bagi santri putra yang ingin khufadz.

Entah apa yang terjadi hari itu? Saat perjalanan menuju sekolah, Mas Azhar mengalami musibah. Beliau ditabrak seorang geng motor yang sedang mengebut di jalan raya. Dan akhirnya, Mas Azhar mengakhiri hidupnya dengan kata ….… “Allahu Akbar !!!”
---

Novelet ini kupersembahkan kepada Kedua orang tua yang tercinta. Dan Mbah ibu & Bu Nyai Muda yang sebagai suri tauladan bagiku yang sekarang menunaikan ibadah umroh di bulan Romadhon pada tahun 2008.
---

*)Almania Rohmah lahir di Lamongan, 12 April 1987. Lulus pendidikan MI di Dandang Pucang Telu Kalitengah Lamongan tahun 2000, MTs Putra-Putri Simo 2003, MA Matholi’ul Anwar 2006, dan sekarang masih menyelesaikan strata satu di Unisda Lamongan.

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati