Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Juli 2021

Puisi-Puisi Tengsoe Tjahjono

PESISIR SAMAS YOGYA
 
Gusti itu ternyata tenang
agung dan dalam
kasih dan lembah manah
 
                                1977

Kamis, 24 Juni 2021

Puisi-Puisi Mahmoud Darwish

Diterjemahkan: Saut Situmorang
 
Aku Tidak Minta Maaf Kepada Sumur Itu
 
Aku tidak minta maaf kepada sumur itu waktu aku melewatinya,
Aku pinjam dari pohon cemara tua itu sebuah awan
dan meremasnya seperti jeruk, lalu menunggu seekor gazel
putih dan legendaris. Dan kuperintahkan hatiku untuk bersabar:

Sabtu, 22 Mei 2021

Puisi-Puisi Taufiq Ismail

oase.kompas.com
 
INDONESIA KERANJANG SAMPAH NIKOTIN
 
Indonesia adalah sorga luarbiasa ramah bagi perokok. Kalau klarifikasi sorga ditentukan oleh jumlah langit yang melapisinya. Maka negeri kita bagi maskapai rokok, sorga langit ketujuh klasifikasinya.

Jumat, 17 Juli 2020

Episode Warjem Bab Cinta dalam Pandangan Pertama, Kedung Darma Romansha

Media Indonesia, 30 April 2017

Minta Disangkar Tubuhmu

kalau cinta tak direkayasa
buah mengkudu pahit rasanya.
dari mata, jatuh ke mata
dari hati, jatuh ke hati.

Kamis, 06 Desember 2018

Pusi-Puisi Beni Setia

Koran Tempo, 1 Juni 2008

KARNA

tembang siapa yang bikin
kantuk singgah? nina bobo
apa yang ngangkat jiwa
(nun) terbang ke alam mimpi?

Minggu, 06 Februari 2011

Hari Akhir Sultan Saladin

: serupa dongeng untuk susy lisnawati
Abdul Aziz Rasjid
http://sastra-indonesia.com/

saladin telah sampai
dari masjid umayyah ia berjubah pengantin
melewati gerbang pohon-pohonan pir
buah-buahnya melayang
seumpama melodi dzikir diiringi putaran samâ

di sana, ada tanah lapang
biru luas seperti siang
rumputnya putih segumpal awan
perawan-perawan setengah telanjang
berkejaran mencuri perhatian, sayap angsa
sewarna uban mengepak di punggungnya
beberapa lainnya berkecipak ria
melebihi manja, melempar buah-buah pir
untuk dihanyutkan
beberapa renang berlombaan sesekali menyelam
di sungai susu yang memanjang

: jangan tumpahkan darah
darah yang terpercik tak akan tertidur
itu wasiat saladin untuk darah serta dagingnya

bulan setengah lingkaran, di pucuk tenda
suara kibar panji-panji berpadu ringkik kuda
saladin rebah di ranjang
layangkan kenangan sembari menatap bilah pedang:

— sebuah pir menggelinding
ditangkap telapak tangan richard
ke dalam kotak, aku mengemasi obat-obat
sebilah pisau bertanda salib emas
ia tarik dari celah baju zirah
: kau musuhku tapi bagai sahabat setia
sambil berkata begitu
richard membelah buah pir itu
lalu mengalunkan sepotong padaku —

di bumi, pohonan menangis
duri, daunan
buah-buah dan bunga-bunga ikut menangis
kambing, kuda, unta bahkan serigala semua menangis
para syuhada membaca dua syahadat
tanah basah: rintik hujan dan airmata

di langit malaikat-malaikat menunggang griffon
dan unicorn
kepala mereka sama menunduk
serentak berseru syahdu: Hu!

sedang dalam tenda, ijrail membungkuk
mencabut satu bulu sayapnya
menjadikannya sebagai pena
lalu menulislah ia, di panjang bilah pedang milik saladin
: darah yang terpercik tak akan tertidur

(2009)

Puisi ini masuk sebagai nominasi dalam lomba Lomba Cipta Puisi Religius Tingkat Mahasiswa se-Indonesia yang diselenggarakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto.

Sabtu, 25 September 2010

Puisi-Puisi Heri Latief

http://www.suarapembaruan.com/
Balada Sepiring Nasi Tempe

gembel busuk tersuruk di pojokan tembok rumahmu
melingkar seperti bangkai ular lapar
perutnya menyanyikan lagu lagu perang
meninabobokan impian para pecundang

terbang terbanglah kemelaratan
jika harga sepiring nasi tempe cuma jadi mosaik yang
melekat pada ban mobil jaguar sang penguasa

sakit hatinya rakyat dibalas dengan
tajamnya bayonet menikam segala yang melawan

pasrah rela nerima adalah peraturan
yang dipropagandakan dari istana kekuasaan
dan kamu tiarap ketakutan memeluk nasibmu
menjilat pantat demi kekayaan demi harta demi sorga
yang dibeli dari hasil memeras keringat mereka
yang lelap di trotoar berselimut embun malam



Bayanganmu

kemarin malam, kudengar swaramu lagi, mendesah manja,
jangan bilang aku bisa melupakanmu, jangan pernah
lupakan p elukan kita di ujung senja jakarta, tanpa kau
rasa bayanganmu melayang bersama rinduku,kulihat debu
jalanan pergi tamasya nikmati langit kotamu yang
berwarna jingga menyala, cinta!



Suu Kyi

suu kyi itu puisi
demokrasi pun ditakuti



Tournado Rossini

di balik cemburu ada rindu, kita tahu, dibalik iri ada
jalusi yang mengejek mimpi, kita tahu tak ada yang
abadi di dunia ini, yang ada kepentingan, angan-angan
dan kenyataan bukan cuma punya kita, tapi kita selalu
merindu pada bulan yang tersenyum genit pada belahan
sexy di dada sang putri, oya? siapa yang percaya pada
kesetiaan?

ketika materi menguasai isi hati, kita hanya bisa
meneteskan air liur pada sepiring tournado rossini,
dengan sausnya yang dihiasi peterselie, lihatlah

disana kita jumpa para pemuja kemiskinan yang memuja
kelaparan, sementara itu kita pura-pura membuang muka,
karena kita tahu betapa asyiknya jadi orang kaya!



Reuni

reuni, bukan pesta kematian
sisa sejarah kawan dan lawan
bertukar cerita lupa siapa
pada takdir memuja nasib
nyawa pinjaman sebatas usia

nyanyian doa pergi ke langit
jumpa dosa berselimut pahala
lalu, kenapa tuhan memanggilnya?

reuni, bukan dihayalkan sayangku
kulihat mereka yang telah pergi
satu demi satu datang menyapa
kisah jaman yang mendebarkan
jerit emosi urat darah pun pecah!

nyanyian dzikir cari batas nafsu
suratan hidup tepian maut, sunyi
menunggu waktu yang sudah pasti!

reuni, bukan badai hujan rindu
dunia tempat singgah sementara
racun ketakutan pemuas kepedihan
hanya mimpi berkuasa hari ini
nikmatilah, semua yang bisa dinikmati

tiada lagi yang musti disesali
liarnya kata bertaring bisunya sepi
mereka percaya di sana jumpa lagi



Rindu Bisu

janji matahari panas membara
racun polusi cemburu bisu buta
taring rindu diasah tajam berbisa
menyayat selapis memori kita

Sabtu, 05 Juni 2010

Enam Seri Puisi Gila Dwi S. Wibowo

http://sastrasaya.blogspot.com/
SAYA
Nama saya adalah saya

Saya adalah pria dengan penis yang tersesat masuk dalam hutan
Lebat

Dalam hutan ada saya, binatang-binatang, juga pohonan

Saya mencoba menyusuri jalan setapak yang biasa dilewati para pencari kayu bakar untuk menemukan jalan keluar dari hutan, namun semakin lama saya berjalan saya semakin masuk ke dalam rimbun pohonan.

Ranting-ranting yang menjulur
Mencabuki tubuh saya hingga berdarah-darah
Dan menetes ke seresah.

Tiga jam lebih saya menyusuri jalan setapak,
Alih-alih menemukan jalan keluar
Saya justru masuk semakin dalam ke ceruk hutan
Ternyata saya sudah ada di bibir jurang yang dalam

Hujan mulai turun…
saya terpeleset, jatuh ke jurang
Tubuh ini tercebur dalam sungai di dasar
Lalu hanyut terseret arus
Sampai akhirnya saya tersangkut pada akar sebuah pohon
Yang menjulur ke sungai…

“syukurlah, saya masih hidup. Meski tubuh saya terasa lemas”

2009



ambulance

gara-gara sarapan dan minum kopi di hotel terkenal
saya terpaksa masuk ruang ICU sebuah rumah sakit swasta
di jakarta

saya tidak tahu pasti kejadian yang menimpa diri saya
tapi menurut dokter dan suster yang cantik di rumah sakit
dan pernyataan pihak kepolisian di koran dan televisi nasional
ceritanya begini:

Sesesorang telah meledakkan bom di lobbi hotel tersebut,
Ledakkan itu membuat koki yang tengah memasak, kaget dan tanpa sengaja
Mencabut selang kompor gas, dan terjadilah ledakkan kedua
Hingga mengakibatkan semua orang panik dan langsung lari berhamburan
“sialnya, anda terpeleset tumpahan minyak goreng dan jatuh terinjak pengunjung lain” kata dokter, untungnya petugas keamanan hotel segera menyelamatkan saya
Dan memanggil ambulance untuk membawa saya ke rumah sakit.

Suster yang cantik mendekat dan membelai kepala saya
Yang terbaring lemah di bangsal rumah sakit, kemudian ia berkata begini:
“lebih sialnya lagi, sopir ambulance yang membawa anda tidak memiliki SIM
Dan baru saja seminggu lulus dari kursus menyetir. Naas, karena nyelonong di lampu merah, ambulance tersebut menabrak sebuah konteiner”
Itulah sebabnya saya mengalami gegar otak berat dan kedua kaki saya diamputasi.

2009



Yang Bernyanyi Di Kamar Mandi

Mulan jameela masuk ke kamar mandi
Awalnya cuma ingin buang air kecil
Namun ia melihat microphone yang menggantung
Tiba-tiba timbul niatnya bernyanyi
“aww..aw..aw..ich…ich…” begitu lagunya.

2009



Pak Kiai
cerita bodoh buat rozi & dea

Seusai mengaji
Pak kiai ingin tampil trendy
Seperti anak muda masa kini
Yang memakai rompi dan celana model pensil
Namun tiba-tiba
Ia ditegur seorang santri
“maaf pak kiai, anu”
“anu apa?” jawab kiai
“anu itu” kata santri setengah tak berani
“anu apa?!” pak kiai mulai emosi
“anu, anunya pak kiai keliatan”
“astaga!!!, si anu kegerahan” pak kiai terkejut
dan nampak malu-malu menutup resleting
yang lupa ditutupnya.

2010



Telepon Mama

“hallo…mama”
“hallo…, ini siapa?”
“ini ade ma…”
“ya, ada apa de?”
“ade mau bilang kalau hari ini
Ade lupa makan,
Lupa minum susu,
Lupa minum vitamin,
Lupa minum obat,
Ade juga lupa bilang ke mama
Kalau kemarin
ade lihat papa jalan berdua sama sekretarisnya”
“apa???
Kenapa kamu tidak langsung bilang sama mama???”
“soalnya, dari kemarin
ade lupa jalan pulang ke rumah…”

2010



Lagu Untuk Mama

Aku anak hebat
Tubuhku kuat
Karena ototku
Seperti kawat

Aku anak hebat
Tubuhku kuat
Karena gigiku
Selalu disikat

Aku anak hebat
Tubuhku kuat
Karena makanku
Sayur ketupat

Aku anak hebat
Tubuhku kuat
Karena hobiku
Minum jus tomat

Aku anak hebat
Tubuhku kuat
Karena temanku
Namanya mamat

Aku anak hebat
Tubuhku kuat
Karena lawanku
Pada sekarat

Aku anak hebat
Tubuhku kuat
Karena pacarku
Jumlahnya empat

Aku anak hebat
Tubuhku kuat
meskipun anuku
Belum disunat

2010

Selasa, 27 April 2010

Puisi-Puisi Suminto A. Sayuti

http://sastrakarta.multiply.com/
GENDERANG KURUKASETRA

(UTARI)

engkau yang kini tengah berlumur darah
menyandang beban menuju Palagan
berhentilah sejenak dan dengarlah
matahari terengah menyaksikan
korban demi korban berjatuhan
dan perang
senantiasa saja akan berkepanjangan
:
lelaki yang mencoba bertahan
dan dendam tak berkesudahan
dan janji seorang manusia
tengadahlah, di atasmu matahari dan sayap semesta
sebab mereka juga akan datang menghampiri
usaikan dulu Perang dalam sanubari
:
sementara genderang bertalu-talu
anak-anak panah pun bersintuhan dan melaju
menangkan dulu peperangan yang senantiasa jaga
sepanjang engkau bilang: aku anak manusia

(ABIMANYU)

sebab setiap langkah pasti tinggakalkan jejak
perempuan, berhentilah menagis dan berucap
gerimis yang membadai dalam palaganmu
dan berhenti menjadi isak
tak kuasa lagi mampu meredakan bara
dari harga diri yang teriris
:
pandanglah ujung cakrawala, di sana
sayap semesta pasti akan kau dengar kepaknya
di sana matahari dan bulan berlabuh juga
tempat angin dan malam akan bermula
:
simpan dan kekalkan dalam jaring usia
tetes darah dari ujung panah ini
dan kabarkan pada tetangga dunia
lelaki musti pergi dan tak kenal berhenti
lantaran hidup adalah pasang surut kata
di mimpimu aku bakal jaga

(ARJUNA)

apapun makna keangkuhan
kalau gendewa patah dan warastra cuma nancap di tanah
senja tengah siap dengan pesta warna
dan engkau tetap berjalan mengikut
suara-suara semakin menjauh
ingin aku guratkan Pulangggeni
pada bumi paling tepi
tapi angin telah berangkat tua
dan daun-daun Salam pun berguguran
di sini hanya bayang kian memanjang
palagan pun meruang, dan perang: tak juga berkesudahan

(KRESNA)

kalau saja engkau berkenan dan alam bersedia
akan aku bakar mahkota ini bersama segumpal kemenyan
dan seekor kuda putih bakal terpacu di tengah palagan
mengibarkan panji, isyarat perang tak lagi bermula
di sini, di tapal-tapal dada
dan engkau pun mengerti
tak ada yang bakal memenangkannya
kecuali diri masuk dan alam samadi

Balong, 1981

Selasa, 09 Maret 2010

aku bisa saja menulis puisi paling sedih malam ini (Pablo Neruda)

-terjemahan Saut Situmorang

aku bisa saja menulis puisi paling sedih malam ini.

misalnya, menulis: “malam penuh bintang,
dan bintang bintang itu, biru, menggigil di kejauhan.”

angin malam berkelit di langit sambil bernyanyi.

aku bisa saja menulis puisi paling sedih malam ini.
aku pernah mencintainya, dan kadang-kadang dia pernah mencintaiku juga.

di malam-malam seperti ini, aku rangkul dia dalam pelukan.
aku ciumi dia berkali kali di bawah langit tak berbatas.

dia pernah mencintaiku, kadang-kadang aku pun mencintainya.
bagaimana mungkin aku tak akan mencintai matanya yang besar dan tenang itu?

aku bisa saja menulis puisi paling sedih malam ini.
kerna aku tak memilikinya. kerna aku kehilangan dia.

kerna malam begitu mencekam, begitu mencekam tanpa dirinya.
dan puisiku masuk dalam jiwa seperti embun pada rumputan.

tak apa kalau cintaku tak bisa di sini menahannya.
malam penuh bintang dan tak ada di sini dia.

begitulah. di kejauhan, seseorang menyanyi. di kejauhan.
jiwaku mati kini tanpa dia.

kerna ingin menghadirkannya di sini, mataku mencarinya.
hatiku mencarinya dan tak ada di sini dia.

malam yang itu itu juga, yang membuat putih pohonan yang itu itu juga.
kami, yang dulu satu, tak lagi satu kini.

aku tak lagi mencintainya, itu pasti, tapi betapa cintanya aku dulu padanya.
suaraku menggapai angin hanya untuk menyentuh telinganya.

milik orang lain. dia akan jadi milik orang lain. seperti dia dulu
milik ciuman ciumanku.
suaranya, tubuhnya yang kecil. matanya yang memandang jauh.

aku tak lagi mencintainya, itu pasti, tapi mungkin aku mencintainya.
cinta begitu singkat dan lupa begitu lama.

kerna di malam malam seperti ini dulu aku rangkul dia dalam pelukan,
jiwaku mati kini tanpa dirinya.

mungkin ini luka terakhir yang dibuatnya,
dan ini puisi terakhir yang kutulis untuknya.

Sabtu, 28 Februari 2009

Puisi-Puisi Goenawan Mohamad

http://www.korantempo.com/
HOLOGRAM

Dari berkas cahaya
yang mungkin tak ada,
kulihat kau:
sebuah hologram,

srimpi tak berjejak,
dari laser yang lelah
dan lantai
separuh ilusi.

Di lorong itu dinding-dinding
kuning gading,
kebun basah hijau,
dan kautaburkan biru

dari kainmu. Bangsal kraton memelukmu.
Waktu itu sore jadi sedikit dingin
karena tak putih lagi
matahari.

Aku tahu kau tak akan
menatapku. Mimpi tiga dimensi
akan cepat hilang,
juga sebaris kalimat yang kulihat

di almari yang gelap:
"Aku tari terakhir yang diberikan,
aku déjà vu
sebelum malam dari Selatan."

Aku tahu kau tak akan
menyentuhku.
Seperti pakis purba di taman itu
kau tawarkan teduh,

juga sedih. Tapi aku merasa
kaupegang tanganku,
seperti dalam kehidupan kita dahulu,
sebelum kau ingatkan

bahwa aku juga
mungkin pergi.
"Bukankah itu yang selamanya terjadi.
Aku seperti waktu, karunia itu."

2009



DI MEJA ITU

Jangan-jangan hijau teh
telah meyakinkan aku: aku melihatmu
di sebuah adegan remeh
di kafe kosong itu.

Rambutmu hitam terlepas,
dan karet gelang itu kaupasangkan
untuk kacamataku.
Dan aku pun baca huruf itu,

"Lihat, hari bisa juga jadi.
di kota yang mustahil ini."
Mungkin aku telah lama menunggumu
dan tak percaya diri. Karena

pada tiap jeda hujan,
ketika kamar dan kakilangit segaris,
yang mencinta bersembunyi
dan Maut seperti Saat: tak pernah ingin kembali.

2009



SEBENARNYA

Sebenarnya apa yang terjadi:
telah kautuliskan
sajakku dalam sajakmu
sajakmu dalam sajakku?

Atau kata-kata kita
saling selingkuh,
sejak zaman
yang tak kita tahu?

Mungkin Ritme itu pernah satu
melahirkan aku melahirkan kamu
melahirkan nasib, melahirkan apa
yang tak pernah tentu.

2008



PADA LAPTOP ITU

Di sebuah kamar yang hambar
mereka tatap laptop
yang nyaris kosong
dengan hanya satu gambar:

Sebuah desain hari
dengan sudut terpotong.
Sebatang mistar
dengan sentimeter yang samar.

Dan ketika kulit mereka
bersentuhan,
mereka arahkan kursor
ke angka jam.

Tapi yang terhapus hanya malam.
Dan mereka pun tetap diam
di kamar yang hambar
layar yang hanya sebentar.

2008



DI SETASIUN SENTRAL

Sekian ratus gram remah roti pikan
terbang dari gerbong kereta
Amsterdam. Rel lurus
dan lapar. Tak ada waktu.

Hanya 12 sinyal.
Seseorang pun pergi dengan hitam kopi
yang tumpah. Seseorang pun lekas,
seseorang lelah:

ini hari putih terakhir,
hari seorang migran,
ketika dingin jadi pelan
dan salju mungkin palsu.

2009



PADA SEBUAH PANGGUNG

Mukjizat adalah air kanal
yang bangkit
mengusung sajak yang terjebak,
tak terbaca.

Sebab sore ini, teater tak menerima kata lagi.
Tak menerima kita lagi. Hanya ada sebuah mimbar,
sepasang kursi hitam, lampu-lampu
yang ingin menjelaskan,

tapi kau tolak, "Terima kasih, terima kasih.
Sajak adalah lorong yang rentan."
Dan tiap fonem adalah liang
di mana harap tak jadi ada

Aku ingin memelukmu. Persis di pentas itu
--tapi ragu. Sajakmu pun lepas
lewat tingkap. Di luar pintu
tampak jembatan,

palang-palang logam yang memanggilnya
menyeberang, ke utara kanal...
Kubayangkan
trotoar itu kekal.

2008



15 TAHUN LAGI

15 tahun lagi ia tak akan di kamar ini.
Seperti warna biru pada gordin
yang dihisap
matahari

Tapi ia mungkin akan bisa menyisakan
merah meja
dengan bekas nikotin
pada amplop terakhir

jam yang bersembunyi
dari Tuhan
yang tak membuat
ia yakin.

Salahkah ia,
yang tak begitu percaya
pada salam, atau sekedar suara
di atap kamar itu,

kalimat pelan-pelan
yang akhirnya
hanya hujan?
Mungkin hujan?

Apa yang diharapkannya?
Tentu bukan hujan!
Ia hanya tak ingin terpisah
dari nyanyi murung

sebuah lagu Brazil,
pada cello
yang setengah serak
yang terapung-apung, sentimentil,

di luar, pada pucuk pohon
dan gerak awal
sejumlah mendung:
Sem voce, sem voce.

Mungkin ia kangen, sebenarnya,
tapi "Aku malu," katanya, pesimistis
pada telegram
yang mungkin mengetuk

dari luar itu, dari gerimis
yang berkata: 15 tahun lagi
akan ada seseorang
di kamar ini.

2008-9

Senin, 09 Februari 2009

Puisi-Puisi Abidah El Khalieqy

http://sastrakarta.multiply.com/
KERAJAAN SUNYI

Syair malamku
ke Sinai aku menuju
Tak terbayang kerinduan melaut
tak terpermai kesunyian memagut

Seperti bumi padang sahara
haus dan lapar mengecap di bibir
merengkuh mimpi saat madu terkepung lebah
kekosongan dalam tetirah

Padang padang membentang
melahap tubuhku tanpa tulang
dan kesana alamat kucari

Kerajaan Sunyi

2000



AKU HADIR

Aku perempuan yang menyeberangi zaman
membara tanganku menggenggam pusaka
suara diam
menyaksikan pertempuran memperanakkan tahta
raja raja memecahkan wajah
silsilah kekuasaan

Aku perempuan yang merakit titian
menabur lahar berapi di bukit sunyi
membentangkan impian di ladang ladang mati
musik gelisah dari kerak bumi

Aku perempuan yang hadir dan mengalir
membawa kemudi
panji matahari

Aku perempuan yang kembali
dan berkemas pergi

1991



PEREMPUAN YANG IBU

Perempuan yang ibu tak kan lahir
dari rahim bumi belepotan lumpur dan nanah
nurani berselubung cadar kegelapan
dan pekat bersama harapan
terkapar

Perempuan yang ibu lahir
dari buaian cakrawala
dari ukiran udara warna daun semesta
yang menyapa alam dengan bahasa mawar
atau kebeningan telaga

Tak ada matahari
luput dari jendela

1990



IBUKU LAUT BERKOBAR

Ibuku laut berkobar
gemuruhnya memanggil manggil namaku
di bukir purnama pepujian
berjalinan rindu memadat
menyala gelegak kasmaran
yang terus meruah
berkibar lembar gairah
mengiring bulanku singgsana
fitrahku kembali menghirup udara
dari persekutuan
embun baqa

Setetes cindramatamu
mengungguli istana seribu dewa
kuimani sudah

1989



SEKALI MATAHARIKU
DI TITIK ZENIT

Sekali matahariku di titik zenith
kabut memburai di pelupuk mata
tiupkan sang kala mengatom dunia
di atas inti materi
dan dzat ruh
kulangkahi serbuan yang lenyap
serentak melesat dalam gemuruh
tuntas dzikir
kembali kosong

Nol berhamburan
tetirah dari Kekasih

1988

DASA KANTA; Puisi-Puisi Bakdi Sumanto

http://sastrakarta.multiply.com/
DASA KANTA

1. TIKAR

Dengan tegas tegar
Kita menyatakan
Bahwa kita ini tikar
Orang-orang tua duduk berdoa
Orang-orang muda bercanda
Mudi-muda ciuman
Yang berselingkuh berdekapan
Dan berbadan
Pencuri menghitung curian
Koruptor berbagi hasil
Dengan kroni dan koleganya
Guru menilai pekerjaan siswa
Ahli bahasa mencari kesalahan karya-karya
Bayi-bayi ngompol
Balita-balita ek-ek
Penyair-penyair jongkok sambil ngrokok
Aktor-aktor latihan gerak indah
Pelukis-pelukis nglamun
Politikus cari akal mendepak teman seiring
Anggota DPR bikin rencana naikkan gaji
Dan studi banding ke luar negeri
Lalu, para penjudi membanting kartu-kartu

Kita ini tikar
Ketika datang kasur
Tikar akan segera digulung-gusur
Dibakar atau dibuang ke tong sampah
Dan dilupakan oleh sejarah

Oberlin, Okt 1986



2. HUJAN

Hujan tak turun
Ketika petani memerlukan air
Tetapi air tetap mengucur
Dari pori-pori tubuhnya
Membasah pada kaos
Yang sudah tiga hari
Tak dicuci air

Sekali air disuntak dari langit
Dan di sawah & ladang
Terjadi banjir-bandang
Matahari menyengat
Tapi hidup tak hangat
Sebab air setinggi leher
Hampir mengubur kehidupan

Ini siklus alam
Atau ulah "kebudayaan"
Tak pernah ada jawab
Apalagi tindakan
Untuk menjaga peradaban

Illinois 1986.



3. L’OMBRE

Barangkali yang paling nyata
Adalah bayang-bayang
Ketika janji tak pernah jadi
Ketika mimpi
Menemu senja di pagi hari

Mencintai bayang-bayang adalah solusi
Setia sampai mati pada bayang-bayang
Adalah jawaban
Untuk tak bunuh diri
Pada pagi dini
Ketika hari
Baru
Seakan
Abad baru
Kehidupan baru

Aku mencintaimu bayang-bayang
Dengan sepenuh hatiku
Sebab bayang-bayang
Menjadikanku
Nyata:
Bahwa hanya dalam bayang-bayangmu
Aku merasa ada.

Kyoto, 1987



4. SALJU

Salju mengingatkan dirimu
Di kamar sendiri
Menanti

Salju meratakan bumi dalam putih
Dan desah kehidupan
Terdengar
Di antara hampar
Salju
Tersandung sepatu

Matahari menyala
Di langit biru
Dingin menggigit
Sampai di kalbu

Dalam salju aku mengenangmu
Sendiri di kamar
Menunggu
Berita
Apa yang terjadi denganmu…

Beritanya:
Aku mengenangmu
Dalam salju

Cambridge, 1995



5. LANGIT

Langit biru
Tetap membisu

Bumi lebu
Tetap membisu

Rakyat kelu
Tetap membisu

Dalam dendam
Yang terus merajam
Dalam
Ketika yang harus diucapkan
Tak menemu kata
Sebab
Sudah dihapus dari kamus
Oleh para ahli bahasa

Pasar Minggu, 1969.



6. KUTANG

Selembar kutang
Tergantung di pemeyan
Kutang perempuan jenisnya
Kutang jawa identitasnya
Agak mambu
Tak terlalu menyengat
Adapun namanya:
Entrok
Begitu sebutannya.

Menghampiri kutang
Menghirup aromanya
Terkenang budaya Jawa:
Wasta lungset ing sampiran
Kain kusut di gantungan

Tapi siang itu
Embok memakainya
Dan dengan kutang itu
Ia bekerja keras
Menghidupi keluarga
Sedang suaminya
Masih ngorok di tempat tidur…

Entrok dengan ambu-nya yang khas
Bangkit melawan sang dominan
Sejarah yang tak ramah kepada perempuan.

Pati, 1991



7. UPA

Tiba-tiba
Mas Sarsadi merasa dirinya
Sebutir nasi:
Upa sebuatannya

Aku ini upa
Aku ini upa
Aku tak takut nuklir
Hanya takut ayam
Nanti saya dithothol
Aku tak takut tank
Aku tak takut panser
Aku tak takut bazooka
Aku tak takut metraliyur
Hanya takut ayam
Nanti saya dithothol

Hidup kita adalah upa
Tak usah nuklir,
Tak usah tank
Tak usah panser
Tak uysah bazooka
Tak usah metraliyur
Cukup seekor ayam kecil: kuthuk
Menothol upa
Tamatlah kita

Begitu sederhana
Begitu nrima
Begitu lega-lila
Dan begitu konyol

Kadisobo, 1985 (pamit ke USA)



8. KURUSETRA

Hyderabat merapat
Kepada senja
Dan lamput-lampu
Di Universitas Kurusetra menyala

Terbayang Abimanyu gugur
Kena kutuk panah seribu
Yang diucapkan diri sendiri
Kepada Utari
Di malam dalam kamar sendiri.

Terbayang Gathotkaca tersungkur
Karena Kuntawijayadanu
Senjata Karna

Terbayang Dursasana
Dirobek mulutnya oleh Bima
Yang melampiaskan dendam
Untuk Drupadi kakak iparnya

Kurusetra merekam dendam
Kurusetra melaksanakan penyucian
Kurusetra menjadi ajang pelaksanaan
Rencana rahasia para dewa

Hidup adalah
Juga ajang pelaksanaan
Rencana para dewa
Yang tersirat pada lembar misteri
Kita tak pernah bisa memeri
Sambil melangkah
Kita berada
Di antara mabuk & tahu
Dan tak pernah pasti

Hyderabad, 1996



9. KATA

Pada awalnya adalah bunyi
Yang dirangkai menjadi silabi
Dan dari silabi
Menjadi kata
Lalu menjadi sabda
Ketika di sana ada kehendak
Yang bertenanga

Dan tenaga
Berangkat dari niat
Dari dalam datangnya
Dari kesucian
Yang bersumber
Pada sunyi
Di dalam suatu kedalaman
Tak terduga
Suatu kejujuran
Ketanpamrihan
Juga keluguan

Tatabahasa
Hanyalah berkutat pada pengertian
Dan logika
Ia tak berurusan dengan tenaga
Yang berdaya sihir

Hanya puisi
Yang berawal dari mousike
Yang mampu membawa getar
Dan menggugah matahari bangkit
Sebelum waktunya…

Tetapi,
Siapa bersedia mendengar puisi
Tatkala telinga hanya menangkap sepi?

Kratonan, 1976



10. GEMPA

bumi gonjang-ganjing
selama hampir semenit
dan langit bersih membiru
tapi hari kecut-kemerucut
dan kelabu
kaki gemetar
pandang pudar
awan terlihat air

Ingatkan tsunami aceh
dan rumah-rumah berantakan
rata dengan tanah
orang-orang ke utara takut bah
takut muntahan merapi
yogya bagai kota Sodom dan gomorah
dikutuk karena terlalu banyak mall
menggusur sekaten
mencuekin bangunan kuna
kurang memperhatikan keris-keris pusaka
dan acuh pada para pendiri yogya
mencurigai kebatinan
dan mencampur-adukkan politik, uang
dan iman…

tiba-tiba hidup berubah tenda
nasi bungkus, selimut, air bersih
dan pembalut perempuan

apa artinya ini
kita tak tahu
yang jelas
kita menjadi faham
yogya tak hanya dikepung wayang
tetapi juga dikepung potensi lindhu
dan bahaya muntahan merapi

kita jug dikepung polusi
yang kita buat sendiri
kita juga dikepung sesak tempat
karena ulah sendiri

yogya tak lagi nyaman dihuni
karena setiap hari
diguncang gempa
adapun gempa itu
adalah gempa hati
gempa ruh
gempa pengangan hidup

dan gempa 26 Mei
adalah kumulasi
gempa
yang terus-menerus
diulang
dan terulang
serta berulang
bagai ritus kehidupan

2006

Minggu, 08 Februari 2009

Puisi-Puisi Kirana Kejora

http://oase.kompas.com/
AKU TERJEBAK SKENARIOKU SENDIRI

Hari ini aku patah
Aku merasa jadi daun
Bukan eidelweismu lagi
Aku merasa kamu hilang
Diammu bukan emas
Tapi sebuah kemarahan padaku

Aku sering melupakan diri
Bahwa kamu adalah lelaki dengan kudanya
Yang terus bergulat dengan cairan-cairan darah
Memacu terus pelana bajamu
Melibas badai
Menyeruak di hutan cemara kisah

Aku serasa tak memiliki pagi, siang, malam
Senyapku tetap setia menjadi rasa

Kini
Jika aku kasih tahu tempatku
Apa kamu akan petik aku dan bawa terbang pagi ini membelah mentari?
Sebenarnya aku ada di dekatmu

Sapamu telah bangunkan tubuhku dari persinggahan alam sadarku
Lalu kau pergi begitu saja
Ah!
Kau ternyata jadi angin sesunyiku pagi ini
Jika kau elangku
Harusnya kau terbangkan aku untuk membelah mentari
Ah!
Kau nakal!
Rindu apa yang kau punya buatku yang hanya setetes embun di padang tandusmu?
Aku hanya sebutir debu, sehelai bulu ayam, sepenggal sabit
Kau merasa begitu sempurna buatku?
Ah!

Aku terhenti di ujung penantian tanpa kutoleh ke belakang
Mataku menatap ke semua penjuru jarum nadiku
Menyeruak tubuhku diantara ilalangmu untuk pencarian terakhir wujudmu
Biarkan aku meliukkan tubuhku di ujung gelisah
Menggelinjangkan lekuknya di tepian kisah
Tetaplah kau tenang arungi pergumulanmu
Aku sudah biasa jadi pesunyi
Pesunyi telah jadi darah dagingku
Lamunan dalam sunya adalah santapanku
Sejak badai hidup dera bathin
Dan lahirku sebagai eidelweis ungu

Kubaru saja rajam rinduku ke kamu dengan pinset sayapku sendiri
Darahku mengucur
Membanjiri bugil tubuhku yang iklas menerimanya
Karena ku tahu
Penderitaan telah kusambut
Ketika kumiliki cinta buatmu

Pagi ini
Tubuhku yang terlihat siluetnya karena mentari berhasil menembus kain tipisnya
Lari tergopoh-gopoh menyeruak hutan cemara kembaramu
Namun betapa lunglai tubuhku
Ketika tapal kudamu tak bisa kuendus lagi
Rasanya ingin kusudahi mimpi panjang ini
Aku harus bangun
Kucubiti kulit tubuhku hingga membiru
Kutepuk pipiku hingga terasa ngilu
Wake up eidelweis!
Biarkan lelakimu pergi dengan kudanya
Dia hanya ada dalam puisimu…no more
Begitu angin katakan padaku pagi ini
Tapi bukankan dia juga sang angin itu sendiri?
Ah!
Membingungkan kisah konyolku kali ini

Angin
Mengakulah sekarang padaku
Aku tlah jujur padamu selama ini
Diammu bukan emas lagi
Namun diammu karena kau menguji kesetiaanku pada senyap di puncak gunung
Aku tak memiliki pagi,siang,malam
Menatap langitpun aku tak mampu
Karena ku takut kembali punya rindu padamu yang tak bisa kujumputi
Sekarang jawab
Dimana kamu melihatku?
Apakah masih nampak kuntuman eidelweis ungu itu pada tatap liar mata elangmu?
Ah!
Bukankah angin itu adalah kamu sendiri elang?
Shitt!
Stupid love in my mind!

Bhumi Menteng Dalam, 061108, klimaks kefrutrasian yang benar-benar membodohi hati
Where r u eaglenest? Your silent not gold!



KESAKITAN YANG TERLAMBAT

Semua tanya tak harus dijawab
Meski semua tanya memiliki jawab
Sms ini mungkin tak penting bagimu
Sudah basi
Aku tahu ini
Tapi hatiku lega bisa menulisnya di sini
Apa benar lelaki itu di hatinya selalu ada lebih dari satu perempuan?
Gambar itu tak bisa bohong
Mataku menatap
Logikaku meratap
Ada perempuan di dalam cermin kamarmu
Seorang perempuan muda
Mungkin seorang gadis
Yah!
Gadis yang hanya statusnya
Atau gadis yang baru hilang kegadisannya karenamu
Aku tak tahu dan tak mau tahu lagi
Karena semua telah terjadi
Kita sudah habis
Kita sudah pergi
Kita sudah nggak ada lagi
Aku tak berhak memvonismu selingkuh
Meski tanggal gambar itu ter-upload sebelum kita putus
Karena perahumu tak lagi tertambat pada dermagaku
Kau pergi dariku
Karena
Hatimu terluka
Karena
Aku kasar katamu
Kau inginkan wanitamu lembut bertutur
Namun kini
Gambar perempuan belia dalam cermin kamarmu itu telah menjadi jawaban atas lukaku yang telah dulu ada
Dunguku kali ini terpelihara dan bagus terrawat!
Kesakitanku telah terlambat!

Menteng Dalam, 020109
Usai menikmati senyap di apartemen Taman Anggrek
Usai memelototi foto-foto di rumah mayamu….



KU HANYA BILANG

KAU AKAN DATANGI AKU KETIKA RINDUKU MEMUNCAK
ITU KATAMU
LALU
INI JAWABKU
RINDUKU PADAMU YANG BARU SEPENGGAL SABIT, BUATLAH MENJADI PURNAMA
CARILAH CARA HINGGA PURNA
KALAU KAU MEMANG PUNYA CINTA YANG SEBENARNYA
TAPI
TUNGGU
KUBISIKKAN INI PADA DAUN TELINGAMU YANG SEXY
BEGINI
AKU BUTUH KEHANGATAN KINI
JADILAH BARA API PADA TUNGKU HATIKU INI!

Menteng Dalam, 200109
Kedewasaanmu kuharap datangiku kini



PADMA KUNING

Aku lelah terus kau kultuskan jadi eidelweis
Karena harus terus setia padamu di puncak senyap
Kamu bilang aku diperbudak ego
Ego yang mana dan bagaimana?
Kali ini aku ingin jadi padma kuning
Air mata sepiku telah jadi batu
Jadi aku tak kan basahi kelopakku dengan bulirannya
Kamu pikir aku lemah karena turun tahta dari puncak ke tanah?
Atau akan tenggelam dalam kolam yang memutari tubuhku?
Kamu keliru
Kodratku selalu terapung di atas airnya
Bebas mengembangkan daunku
Berenang dengan riang di kecipaknya
Tetaplah kamu terus dengan sorot angkuhmu bertengger di sana
Kenapa pagi ini kamu bilang langitmu di Nagoya?
Buat apa?
Terbanglah kemana kamu suka
Jangan terus kelopakku kamu pelototi dengan keliaran imajimu
Aku bosan!
Ah!
Pergilah cepat kamu ke langitmu
Atau kembalilah menjadi elang kutub
Jumputilah sakura-sakura di bhumi Nagoya dengan tajam paruhmu
Cemburuku sudah habis
Aku bukan eidelweismu lagi
Aku kini setia menjadi padma kuning dengan kata pedas teriring
Begini,
Duniamu sulit kutembus
Karena kamu memang tak pernah siap membawaku ke sana
Dan kini
Aku ingin menyejukkan birahiku kembali dengan genangan air yang memadatkan sintal tubuhku

Bhumi Menteng Dalam, 81108
Bawalah pulang sakuramu, lupakan eidelweismu
El…kamu el…ek!
Mbencekno!

Selasa, 03 Februari 2009

Puisi-Puisi Slamet Rahardjo Rais

http://www.hupelita.com/
Prosesi Senja
-catatan atas masjid tua di Cijantung, geletarku

tak ada kesepakatan yang perlu dirundingkan
sepasang mata-sepasang mata sigap
beriringan sampai kepada dzikir lampu
bahkan menjemput dalam kerinduan
"Assalamu'alaikum, semuanya saling bersaudara
memeliharakan kebun mawar milik kita!"

maka sunyi membuka senja
catatan menjaga luka

coba dengar baik-baik suara
menggali seribu yang bertasbih
dalam kemuliaan
sedikit pun tak merasa sebagai orang asing
seketika Qobil terbunuh tanpa dibunuh

1998/2000



Ketika Anak-Anak Berangkat Mengaji

sebenarnya senja saat itu milikmu juga
peluk dan segera jemput
ruang tunggu dengan menghiasinya melalui
suara anak-anak berangkat mengaji
warna yang menggoda

sekarang milik siapa pintu jendela rumah
ketika membaca cahaya di matanya
anak-anak bagian dari kalimat
yang dilisankan dalam isyarat
membersihkan atau memberi buram lonceng bergetar

maka bergeser menuliskan setiap sudut tertangkap
menghidupkan seluruh sujud yang terdampar
nyanyian anak-anak suaranya
menjadi warna langit menjelang maghrib tiba
akhirnya menjelaskan tentang mulut dan tangan:
Senantiasa



Gelagat Penjernihan Jiwa

bersiasat saja terhadap waktu yang terperangkap letak
seribu letak memang sudah berdiri lama
sampai kepada kalkulasi-kalkulasi terjal
bisikan yang tergiring dimana sebenarnya tempat bersipuh
terserah ketika maghrib tempat bertujuan
adalah keriduan telah mencapai gerbang kebun bunga
warna yang mengesankan cukup membasah
terhadap setiap yang berjelajah bagi kehendak

sejumlah keinginan seribu kali harus dibujuk
melalui senja segera tiba
ketika membebaskan seluruh lelah dan lesu mimpi buruk

bersyukur juga sebab waktu tak pernah melupakan
beban kepak sayap yang terluka
diberikanlah sejumlah jamuan pesta
memperlihatkannya sebagai yang mengampunkan
setiap saat dalam bentuk sujud yang merebah
sampai kepada kekuatan peluk penyatuan diri
menjelang tanda-tanda malam
menjadi milik siapa pun yang keras memintanya.

Ramadhan, 2001



Catatan Yang Dituliskan Atas Kematian

angin yang memberiku sebuah upacara
derai batang cemara menyendiri
dalam birahi
memeluk kerinduan ibu kandung suara

saat memiliki upacara dalam diam
dan kehilangan
saksi paling dalam menupuknya air mata
tangis yang tertahan
menggenapkan hitungan

sudah jelas ayat-ayat yang dituliskan
sebagai api terhadap nyala
sekarang masjid miliknya ditutup kembali
menunggu sebuah kesempurnaan

upacara selesai sudah suara berbincang
kembali riuh
tak lagi nyayian kamboja

orang-orang pulang. sekali lagi
memetik nyala upcara
tetapi sulit membacanya kembali
sebab mereka telah kembali
sebab mereka telah kembali menjadi batu

98/2000



Tentang Percakapan Penghabisan
-catatan berkabung atas kepergian sahabat
Hesti Wuryaningtyas.

catatan yang mengisyaratkan perjalanan miliknya
sudah lengkap
dan kepalaku mendekat. rumah sebuah dahan
penghabisan roda yang berlarian. syahadatmu
terbaca disitu
pohon sudah tercabut dari akarnya
syahadat yang terbaca
menjadi gerimis

pohon sudah rebah. surat-surat yang lain
dalam membungkus nyala
penghabisan seorang pengembara. surat doa
menghiasi kematian sebagai hak
tak lagi menangkap kekeliruan seribu kenakalan
di antara perjalanan selesai. ampunkanlah,
agar sejuk di antara seluruh kepedihan
untuk mengikhlaskan yang tak kembali
tetapi di sana gemerlap warna dalam dekap cahaya

11.1994/1999.

Puisi-Puisi Ahmadun Yosi Herfanda

http://www.hupelita.com/
Doa Pembuka

hanya milikmu cahaya pagi hingga senja
dan rahasia kegelapan ketika malam tiba
pada muhammad kauanugerahkan kemuliaan
pada sulaiman kaulimpahkan keberadaan
kau tunjukkan keindahanmu melalui yusuf
dan cinta kasihmu melalui isa
di hati kekasihmu sejati pun kautanam
rahasia kemakrifatan

kaujadikan perut burung-burung
kenyang ketika petang
dan lapar kembali ketika pagi
hingga terdengar selalu kicaunya
menghiasi kelompok hari yang terjaga

kaujadikan bintang-bintang
selalu bertasbih padamu
kauciptakan pohon-pohonan
selalu berzikir padamu
o, allah, anugerahi aku kesetiaan
tanganku menjadi tanganmu
kakiku menjadi kakimu
lidahku menjadi lidahmu
mataku menjadi matamu
telingaku menjadi telingamu
hatiku menjadi istanamu
:bumi dan langit tak mengandungku
tapi hamba berimanku mengandungku*

*dari Hadis Qudsi
1989



Sajak Urat Leher

karena cinta tuhan meletakkan
dua malaikat di pundakmu
-inilah pengasuh-pengasuhmu
kata tuhan. sayap-sayapnya
bisa membawamu terbang ke langit
sekaligus berpijak di bumi lagi

engkau tak perlu takut
malaikat bukan polisi atau satpam
bersih dari amplop dan uang sogok
tak suka dijilat maupun menjilat
malaikat bersih dari nafsu-nafsu burukmu
karena cinta tuhan meletakkan
dua malaikat di pundakmu
karena cinta tuhan lebih dekat
dari urat lehermu

1990



Zikir Seekor cacing

dalam duniamu aku cacing tak bermakna
yang melata dari lumpur ke lumpur
peradaban tanpa jiwa, yang menggeliat
di selokan-selokan kumuh kota, yang
bahagia ketika pohon-pohon berbunga

cobalah kaudengar zikirku, menetes
jadi madu di pucuk-pucuk akar pohon itu
kucangkul tanah keras jadi gembur
kurabuk ladang tanpa hara jadi subur
kubimbing akar-akar pohonan
menyusup sela-sela batu dan belukar
menghisap sari madu kehidupan
sedang aku cukup tumbuh
dari daun-daun gugur

di kota-kota padat beton dan baja
aku jadi penghuni tak berharga
tapi dengarlah kecipak ikan-ikan
bernyanyi atas kehadiranku
ketika tubuhku kurelakan
lumat jadi santapan

akulah si paling buruk rupa
diantara para kekasih dunia
namun syukurku tak tertahankan
ketika dapat ikut menyuburkan
taman bunga di beranda

1990



Sungai Iman

sungai itu panjang sekali
mengalir ke dalam tubuhmu
dengan penuh cinta aku pun berlayar
bersenandung dalam konser ikan-ikan

sungai itu dalam sekali
berpusar dalam palung jiwamu
dengan penuh gairah aku pun menyelam
menangkap makna hidup pada mata kerang

sungai itu panjang sekali
di arusnya aku memburumu
tak sampai-sampai

1990



Zikir Semut

semut-semut pun kauanugerahi
sepercik cahaya pagi
hatinya yang kaucintai
terang dalam kegelapan hari

ketika cahaya langit mekar
berjuta semut berzikir
berderet di akar pohon
bagai beribu sufi
menyanyikan shalawat nabi

karena kauanugerahi kekuatan
semut-semut dengan ringan
memanjat ranting dan daun
meletakkan cintaku
di putik bunga

dan sang embun pun berkata:
barangsiapa tak kauanugerahi cahaya
akan tersuruk-suruk langkahnya
bagai semut kehilangan kepala

1990

Minggu, 01 Februari 2009

Puisi-Puisi M. Faizi

http://www.surabayapost.co.id/
CATATAN MALAM

Malam menjulurkan lidahnya
menjilatkan peristiwa cahaya pada gulita
satpam yang berjaga-jaga,
pencuri yang mengendus,
penyair yang menyendiri
dan abid yang sahrullayali
pada langit, malam mencatat sinar mata mereka

“Yang terekam di malam hari
diungkapkan oleh matahari”
tak ada yang hilang,
kecuali rencana-rencana untuk dilupakan
sang malim merahasiakan kebaikan
yang lalim justru mengumumkan kejahatan

Iman untuk yang baka
amal untuk surga
seperti hamparan imajinasi
yang maujud namun perlina
seperti warna kelam pada malam
seperti rasa perisitwa pada puisi
yang tak tercecap di lidah pikiran
tapi memandamkan dasar hati

10/02/2008



PETANI DAN PENYAIR

Petani? Bukan-nya buruh tani?
mereka yang punya nyali
berani menukar otot dengan napasnya

Subsidi? Subsidi apa?
subsidi buat apa jika lahan sudah tak ada?

Buruh tani membanting tulang
melawan harga tengkulak dan penimbun
melawan harga yang ditentukan pembeli
alangkah gelapnya!

Rakyat miskin memang selalu ada
untuk memberi perimbangan bagi kaum kaya

Pialang cemas pada fluktuasi
tidak takut pada yang lain
para petani mengkhawatirkan hama
tidak takut pada yang lain
kaum terpelajar memprihatinkan pestisida
tidak takut pada yang lain
sementara buruh tani tidak takut pada apa pun
apa yang hendak ditakutkan?
tak mungkin: takut pada diri sendiri

Barisan buruh tani, maaf
(ini bukan untuk para petani)
jika ratapanku kurang mewakili
karena saya juga sedang berduka
atas lahan bahasa yang penuh pestisida
atas berton-ton lema tanpa diketahui nasabnya
juga barangkali karena saya bukan penyair
hanya buruh kata-kata



AKU, KEAGUNGANKU, DAN KELUPAAN

Betapa agung diriku
betapa aku diciptakan oleh diriku sendiri
si pemimpi yang dapat mewujudkan semua mimpi
tapi tak dapat menciptakan kesadarannya

Aku digerakkan oleh sekeping chip
yang menabung semesta data;
seperti data dalam memori
yang diam dan bergerak
seperti degup jantung
aku yang menciptakan, aku yang mengendali
tapi dialah yang memberi nilainya
aku memberinya sistem, nadi, kelenjar, pikiran
karena kehidupan adalah sebuah hierarki sistemis
sistem yang beranak-pinak sistem
sistem yang menciptakan dan diciptakan oleh sistem

Di bawah kubah langit, jagad semesta
sistem yang rapi, dawam, terkendali
sistem yang terkontrol, semilyar data
dalam kungkung kangkang “kun”
masya Allah “fayakun”
kita bergerak dalam database
membangun peradaban angka-angka
ringkas dan mampat

Makhluk agung ini dapat menciptakan apapun
ia menciptakan sistem sebagai bagiannya
sistem yang menciptakan sistem
yang menciptakan sistem
yang menciptakan sistem
yang menciptakan…
ia menciptakan kehidupan pada benda-benda
instrumentalia, komputerisasi, hidup dan mati
dengan dan oleh data

Meskipun dapat mewujudkan semua mimpi
makhluk agung ini tidak dapat melawan lupa
sementara basis sistem adalah kesadaran
rahasia penciptaan ada pada kelupaan
siapakah yang mampu melawan lupa?

Memori dan sistem tak punya perasaan
sistemisasi berusaha melawan kelupaan

Aku, betapa agung diriku
yang mampu mewujudkan mimpi-mimpi
tapi tak bisa memimpikan kesadaran
dari kelupaannya

Selasa, 20 Januari 2009

Puisi-Puisi S Yoga

http://www.kompas.com/
http://syoga.blogspot.com/
ARCA

adalah sebuah perjalanan menuju batas
sebelum senja dan hujan membasahi
mengungkir dengan tangan-tangan gaibnya
hingga ketelanjangan ini bisa kumengerti

Ngawi, 2008



ASMARALAYA

di antara pohon-pohon kamboja
dan rerontokan bunga kenanga
ilalang panjang dan nyanyian rembang

kusaksikan sebuah isyarat senja
di epitat reruntuhan makam
kekasih adalah batu yang dipahat waktu

Ngawi, 2008



ULAR

di dalam hujan ia mengembara
di udara dingin dan kabut yang luruh
sesenyap api yang datang

di malam hari ia mengendap dalam dengus tak henti
mengintip bilik ranjang stupa candi
tempat bertapa

kubukakan pintu utara
agar engkau tak malu pada
ketelanjangan ini

di antara payung-payung purba
kau hanya berdiam diri
dengan mata buta

Ngawi, 2008



LAYANG -LAYANG

layang-layang adalah masa kecil yang hilang
ia terbang ke atas dan turun menukik
dan sesekali menyambar-nyambar angin
ketika putus kau terperanggah dan menangis

lalu bangkit dan mengejar-ngejar bayangan
melintasi sawah, ladang, rumah dan menara
ke arah susuh angin yang tak kutahu di mana rimbanya
yang begitu sempurna mempermainkan sayap sihirnya

dalam pengejaran ini aku semakin tercekam
ketika memasuki senja dengan cahaya suram
yang kulihat hanya bayang-bayang gelap
yang mengejar-ngejar dan mempermaikan waktu

Ngawi, 2008



PELANCONG

mereka turun dari kapal di gelap malam
membawa senter, oncor dan peta masa lalu
dan gerimis senja mengantarnya pada hutan belukar
di sebuah tempat yang tak terduga
sebuah semenanjung di sebuah pulau
tempat budak-budak diternak

terdengar lolong serigala di perbukitan
tubuhnya bercahaya di antara bayangan bulan
dan hutan yang terbakar
rupanya bayang-bayang lebih gaib dari pikiran
karena ia selalu lepas dari genggaman

beri aku senapan, beri aku peluru teriakmu
ketika mendengar suara-suara binatang malam
kubisikkan kata-kata muram sebelum matanya lebih jalang
tunggu semua burung-burung pulang ke sarang
agar kau jumpai pikiran lepas dengan badai ingatan

ah kau inlander tahu apa tentang masa lalu
aku pun diam di bawah pohon besar
dekat sebuah makam purba bernisan batu
aku pun tahu sebentar akan sampai pada batas

di pantai ini hanya nasib yang mempertemukan
sebelum esok pagi kita pergi ke besuki
panarukan, panji dan asembagus
melihat pabrik-pabrik dan bising mesin
meminta kita untuk kembali ke masa-masa silam
ketika senjata menjadi panglima
dan pikiran-pikiran berputar-putar pada hasrat dunia
pejamkan matamu dan kau akan melayari semua impian
yang pernah terlupakan, sebelum tergadaikan

di pagi hari di pelabuhan jangkar sebelum gempa
kau memandang kapal-kapal yang berkabut
terdampar di pelupuk matamu yang biru
asap dan bayang-bayang masih menyelimuti
sebuah pulau, nun jauh di sana yang tak terjangkau
seolah diterjunkan dari bukit-bukit tandus
kebun-kebun tebu, sawah dan ladang hangus

dan di pabrik gula, mesin-mesin terus bekerja
memeras keringat dari madu kemurnian
dan sungai-sungai dipenuhi kegelapan
mengalir dari hulu menuju muaramu
sebelum kau layarkan ke pulau-pulau asing
tempat terjauh yang tak pernah kukenal

sebuah gudang tua milik tuan tanah
menyimpan sejarah gelap perbudakan
di ladang tebu, tembakau dan perkebunan
tubuh yang hitam berdiri memandang senja
di antara sihluet patung raksasa berambut gimbal
kau duduk di antara pohon-pohon tua
di pelabuhan kau berteriak, ini juga tanah airku
kau ambil peta dan kau bubuhi tanda
dulu aku juga dilahirkan di sini

aku tenggelam dalam kenangan
bunga harum yang kuharap telah jadi bangkai
ah kau hanya merayu untuk sesuatu yang sesat
ini bukan birahiku di antara sepi dan api
tapi hanyalah lelaki jalang yang mengembara
di antara pulau-pulau yang masih perawan
dan tanah-tanah yang minta diberkahi
aku beri tanda dan kau hanya bisa tengadah
nyalakan obor di kandang dan gubuk sebagai tawanan
hambamu hanyalah hamba yang tunduk pada takdir
kau hanya boleh memainkan kincir di batas mimpi

bau kemarau masih menyimpan tubuhmu dari seberang
di tanah ini telah kau tandai waktu dan sejarah
dengan pabrik, lori, tebu, tembakau dan kapal-kapal
agar masa lalu bisa terulang dan aku terkenang pada noni-noni
ah wajahnya putih susu dan betisnya seharum bunga leli
sedang bau keringatku seapek tembakau di gudang tua
kini kami mainkan tambur dan genderang di ladang-ladang
agar semangat kerja menjadi doa dan pahala

Situbondo, 2008.

Jumat, 09 Januari 2009

Puisi-Puisi Yuswinardi

http://www.kompas.com/
Waktu

seorang laki-laki
bercermin pada segenang air hujan
“mengapa tubuhku menua?
Padahal baru kemarin aku bekerja.”
Seorang perempuan
Berkaca pada secawan anggur merah
“mengapa wajahku cepat keriput?
Padahal baru tadi malam aku bercinta.”



Sepi I

Kau merasa sepi; untuk itu siapa yang sebenarnya butuh cinta?
Lalu kau pun bermain-main dengan waktu; menghabiskan sisa-sisa hidup yang memaksamu menjadi tua; tua yang sakit; tua yang berdenyit; dan tentu sepi lagi; menjemput yang bernama abadi; sendiri;



Sepi II

Kau pun terus berpikir;
Kemana sebenarnya kerja bertepi?
Kemana sebenarnya cinta menyempurnakan diri?
Kemana sebenarnya puisi ini menemukan arti?



Sepi III

Memangnya kau bisa tanpa sepi?
Melewati resah sepanjang malam dan dingin yang berapi;
Dengan mimpi dan amuk wine atau segelas kopi;
Mengurung diri; lalu berisak dalam sebuah lorong; tertatih;
Mengamit sebuah cinta yang terus menganga; perih;
Mengenang kembali; sungguh parah tanpa sepi;



Sepi IV

Jika mata pisau itu mengkilat tajam;
Ia adalah sepi yang selalu mengintai; terus menyeringai;
Meminta lengahmu; hingga cinta menemui ajal; dan kau menggelepar; mampus!



Sepi V

Untuk itulah sepi ada; bersetia; merekam resah; merangkum luka;
Menampung segala yang tersisa; sampai cahaya lepas;
Sampai kenangan kandas; dan suaramu tersedak tandas; bebas;



Jazz

jika hitam itu luka; apakah aku tak berhak hidup?
Dan hanya yang tercerahkan saja yang bebas meneguk anggur dan berpesta



Blora

Tanah airku bernama puisi. Bebungaan yang tak pernah gugur dan pekerja yang selalu bertapa dalam keheningan lembur. Tegak dan lembut seperti hangat kasur. Bahkan dengan berangut jemarimu atau salakan pistol. Dan sepi seperti gelap dalam libur yang abadi. Di sini. Dalam remah-remah kata yang tak mengenal sakitnya tua dan manisnya cinta. Aku berdiri, dan mati dalam puisi.

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati