Tampilkan postingan dengan label Lukman Santoso Az. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lukman Santoso Az. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Januari 2009

Omar Khayyam dan Naskah Rubaiyat yang Misterius

http://batampos.co.id/
Judul Buku: Misteri Rubaiyat Omar Khayyam
Penulis: Amin Maalouf
Penerjemah: Winarsih Arifin
Penerbit: Serambi, Jakarta
Halaman: 516 halaman
Cetakan: Desember 2008
Peresensi: Lukman Santoso Az*

Sosok Omar Khayyam dalam khasanah sastra Timur Tengah, merupakan satu nama dari sekian banyak sastrawan klasik yang paling banyak dikenal. Sajak empat baris-nya (kwatrin) atau rubaiyat yang kontroversial dan misterius, telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Omar Khayyam mulai dikenal dalam literatur barat setelah rubaiyat-nya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh penyair Inggris Edwad J Fitz Gerald pada tahun 1859. Sejak itu, Rubaiyat Omar Khayyam menjadi pembicaraan khalayak sastra dari masa ke masa.

Khayyam adalah seorang penyair sekaligus filsuf, matematikawan, astronom, ilmuwan dan ahli kedokteran. Ia lahir dan hidup pada abad ke-11. Pada zamannya, Omar menjadi orang yang paling terkenal setelah khalifah. Nizamul Mulk dan Hassan Sabbah adalah nama-nama lain yang menjadi tokoh besar pada zamannya. Nizamul Mulk adalah seorang Wazir Agung, dan Hassan Sabbah adalah kepala sekte pembunuh yang paling terkenal sepanjang sejarah, yang dikenal oleh barat sebagai kaum Hashishin, atau Assassin.

Dalam Samarkand, Amin Maalouf merangkai kisah tentang ketiga orang terkenal itu dalam jalinan kisah yang memikat lewat narasi yang dituturkan oleh Benjamin O. Lesage, seorang orientalis dari Amerika Serikat. Berawal dari pertemuan Omar Khayyam dengan seorang Kadi di Samarkand yang bernama Abu Taher. Pada masa itu, kebebasan berbicara dan berpendapat –termasuk mengucapkan sajak— sangat dibatasi oleh penguasa. Pesan Kadi kepada Omar: "Kita sedang hidup di zaman kerahasiaan dan ketakutan. Kau harus berwajah ganda, yang satu kau perlihatkan kepada orang banyak, yang lain hanya kepada dirimu sendiri dan Sang Pencipta. Jika kau tak mau kehilangan matamu, telingamu, dan lidahmu, lupakan kau punya mata, telinga dan lidah."

Maka diberikanlah kepada Omar sebuah buku dengan dua ratus lima puluh enam halamannya yang masih kosong. Setiap kali ada sajak yang tersirat yang hendak terucapkan oleh Omar, Abu Taher menyarankan agar Omar segera menuliskannya di dalam buku itu, dan merahasiakannya kepada siapapun. Buku itulah yang kelak akan menjadi Naskah Samarkand, yang berisi Rubaiyat Omar Khayyam yang tersembunyi selama berabad-abad sebelum buku itu muncul kembali dan menjadi sebuah karya besar sepanjang masa.

Dalam buku ini diceritakan, bahwa dalam sebuah perjalanannya ke Isfahan untuk menemui Wazir Agung Nizamul Mulk, Omar bertemu dengan Hassan Sabbah, seorang pelajar yang sangat cerdas. Mereka pun menjadi sahabat karib. Oleh Nizamul Mulk, Omar ditawarkan jabatan sebagai kepala mata-mata, yang akhirnya ditolak oleh Omar. Omar lalu merekomendasikan Hassan Sabbah untuk menduduki jabatan itu, yang dengan segera disetujui oleh Nizamul Mulk. Omar lebih memilih untuk menjadi ilmuwan dan astronom dengan mengamati bintang-bintang di observatorium yang dibangun Nizamul Mulk untuknya dan hidup berbahagia dengan istrinya, Djahan, seorang perempuan penyair istana yang sangat dekat dengan Sultanah.

Keberhasilan Hassan Sabbah dalam menjalankan tugasnya menuai popularitas yang tinggi di kekhalifahan, dan hal ini mengancam kedudukan Nizamul Mulk. Mulailah terjadi konflik dan intrik politik, dengan Omar berada di antara keduanya. Sampai akhirnya Hassan Sabbah terusir dan menjadi pimpinan sekte pembunuh yang bermarkas di benteng Alamut. Keduanya: Nizam dan Hassan beserta pengikut-pengikut mereka saling bermusuhan. Konflik semakin rumit dengan keterlibatan Terken Khatun, permaisuri Sultan Parsi, Maliksyah.

Separuh pertama buku ini adalah kisah kehidupan Omar Khayyam yang direka oleh Amin Maalouf dengan latar Nisyapur, Samarkand, Isfahan dan kota-kota lain di Parsi pada abad ke-11. Separuh terakhir adalah kisah pencarian Benjamin O. Lesage akan Naskah Samarkand yang asli, yang selama berabad-abad tersembunyi dari mata dunia. Dengan latar revolusi yang terjadi di Timur Tengah, kisah bergulir dalam jalinan konflik dan intrik politik, juga kisah cinta yang romantis, menyentuh dan mendebarkan. Kisah cinta tersebut adalah kisah Omar dengan Djahan dan kisah cinta Benjamin dengan Syirin, seorang putri Syah Parsi.

Ketertarikan dan rasa penasaran Benjamin akan keberadaan naskah asli Samarkand yang ditulis sendiri oleh tangan Omar Khayyam telah membuatnya bertualang dari satu kota ke kota lain di Timur Tengah. Peristiwa demi peristiwa dialami Benjamin mulai dari pertemuannya dengan Syirin, sampai bergabung dengan pasukan pendukung demokrasi dalam mempertahankan kota Tabriz dari serangan pendukung Syah Parsi; dari percumbuan dengan Syirin yang penuh gelora, sampai pengepungan dan tembak menembak yang mencekam.

Naskah Samarkand, dalam buku ini hanya sebagai benang merah yang mempertemukan tokoh-tokohnya. Apa sebenarnya yang tertulis dalam naskah tersebut tidak dieksplorasi lebih jauh, hanya beberapa Rubaiyat yang disebutkan dibaca bersama oleh Syirin dan Benjamin dalam beberapa kesempatan. Amin lebih bermain pada wilayah latar yaitu kekhalifahan Timur Tengah pada abad ke-11 dan jatuh bangunnya demokrasi di Parsi pada abad 19 dengan intrik politik dan peristiwa-peristiwa besar pada masa-masa itu.

Meski Naskah Samarkand pada akhirnya terkubur bersama kapal Titanic yang karam dalam perjalanannya mengarungi samudera atlantik pada 14 April 1912, namun kisah Omar Khayyam dan perjalanan Rubaiyatnya tetap menarik, menghibur dan inspiratif. Romantika Omar dengan Djahan dan Benjamin dengan Syirin sangat menarik untuk diikuti. Amin menuturkannya dengan anggun dan elegan, tanpa harus cengeng dan menguras air mata.

Novel ini tampak semakin menarik ketika diwarnai berbagai intrik politik, kisah mengalirkan perjalanan Naskah Samarkand di dua kota utama peradaban dunia masa itu, Samarkand dan Isfahan, hingga terkurung di benteng Alamut, markas Kaum Pembunuh—sekte paling mengerikan sepanjang sejarah. Buku ini kaya informasi tentang petualangan sang penyair pada zaman yang penuh darah dan kekacauan pada abad kesebelas. Dan, pengarang Libanon ini berhasil merangkainya dengan berbagai fakta historis serta imajinatif menjadi 'novel romantik' yang memukau."

*) Pecinta Buku dan Pekerja Sastra pada LeSAN Yogyakarta.

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati