Senin, 17 November 2008

ASRIZAL NUR: DERAP KUDA DAN KEPAK RAJAWALI

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

“Hanya ada satu kata: Lawan!” Itulah kalimat pendek yang lahir dari kegelisahan panjang ketika kekuasaan telah menjelma gurita raksasa penindasan, membunuhi kemanusiaan, dan membungkam apa pun yang lahir dari hati nurani. Wiji Thukul, sang penyair, terus bergerak sampai nasib menggelindingkannya pada misteri tak berjawab: Hilang diterkam kekuasaan. Ia lalu menjadi sebuah ikon bagi gerakan perlawanan atas apa pun yang bernama tirani. Asrizal Nur –yang pernah menjadi kawan seperjuangan Wiji Thukul—juga tetap konsisten melakukan perlawanan atas kebrengsekan tirani, penindasan, keterpurukan nasib buruh, dan kemunafikan. Dalam doanya, ia tegas bermohon:

Ya Allah
berikan aku kekuatan
untuk senantiasa
berani mengatakan
TIDAK!
pada kemunafikan

Begitulah, ketika kekuasaan diselewengkan, ketika kemanusiaan mengalami penindasan, dan ketika suara hati nurani dibungkam, gerakan perlawanan akan muncul dalam bentuk apa pun. Para penyair tentu saja akan begitu tersiksa ketika mereka dibungkam atau dipaksa bertindak sebagai penonton belaka. Harus ada suara lembut atau teriakan lantang menentang segala kebrengsekan itu. Harus ada perlawanan, meski di sana menunggu risiko yang tak tertanggungkan. Wiji Thukul adalah satu contoh dari sebuah risiko perjuangan. Asrizal Nur juga harus berhadapan dengan risiko itu. Ia dipaksa mendekam dalam tahanan Polres Jakarta Selatan (1997), saat tirani berada di puncak kekuasaannya.

Keterlibatan Asrizal Nur dalam perjuangan itu adalah salah satu bagian dari sebuah gerakan raksasa yang bernama Reformasi. Sejarah formal memang tidak mencatatnya, sebagaimana banyak terjadi pada peristiwa-peristiwa yang dipandang sebagai lelatu. Tetapi, bagaimana mungkin kobaran api bisa lahir tanpa serangkaian peristiwa yang dipandang sebagai lelatu itu? Itulah sejarah yang selalu terpukau oleh peristiwa besar dan melalaikan sejumlah peristiwa lain yang sebenarnya justru menjadi pemicu lahirnya peristiwa besar. Persaksian Asrizal Nur pun sesungguhnya merupakan bagian dari peristiwa sejarah itu. Di sinilah puisi menjadi sebuah kesaksian, sebagaimana yang dilakukan Taufiq Ismail atau penyair lain dalam menyikapi peristiwa itu. Maka, persaksiannya adalah catatan sejarah yang mewujud dalam puisi yang lahir dari tindak perlawanannya sebagai bagian dari gerakan itu. Ia memang mewujud larik-larik kalimat. Tetapi, di sana ada semangat yang tak hendak menyerah. Sebuah perlawanan yang terus menggelinding menjadi kekuatan dahsyat:

Inilah puisi perlawanan:

kau tak bakal bisa lari
dari kepungan badai kata
bila sepatumu masih injak
nasib kurus orang kecil
maka puisi ini duri!

Lihat juga persaksiannya atas pembubaran pementasannya di Bulungan. Peristiwa itu pun sebagai lelatu. Dan Asrizal tak hendak berhenti hanya sampai di sana. Perjuangan harus diteruskan sampai entah kapan, meskipun ia harus berhadapan dengan sejumlah konsekuensi dan risiko. Bukankah konsekuensi atau risiko selalu mengikuti di belakang setiap langkah apa pun yang menjadi pilihan kita?

Konsekuensi atau risiko apapun dalam perjuangan kemanusiaan adalah bagian dari proses mewujudkan sesuatu yang diyakini sebagai langkah menegakkan dan membangun kebenaran. Mengusung suara hati dan menegakkan nurani. Sangat mungkin ia menjadi korban. Tetapi, ia bukan korban yang sia-sia. Ada makna idealisme di sana. Ada panji yang akan terus berkibar melanjutkan perjuangannya. Ia akan menjadi catatan harum yang digoreskan oleh tinta emas, meskipun hanya Tuhan yang mencatatnya. Jadi, meskipun sejarah formal melalaikannya, di sana tetap tersimpan sebuah kebermaknaan yang mengisi tonggak kehidupan sebuah bangsa yang bernama Indonesia. Dengan demikian, selalu saja ada kebermaknaan yang tak sia-sia ketika kita meyakini sebuah kebenaran sedang kita perjuangan.

Seorang Rendra, Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabbar, Agus R. Sarjono, Wiji Thukul, Asrizal Nur, atau penyair lainnya yang tentu akan sangat panjang jika dideretkan di sini, kapan pun dan dalam suasana apa pun, tak mungkin akan tinggal diam, berkeluh kesah meratapi nasib, bersidakap menonton atau duduk anteng mengurung diri, ketika kejahatan kemanusiaan berseliweran di depan matanya. Mereka akan berbuat, bertindak dan melakukan perlawanan dengan kemampuan dan caranya sendiri. Itulah dinamika kehidupan perjalanan bangsa ini. Dan kesusastraan, Indonesia ditaburi oleh berbagai catatan tentang perjuangan itu. Bahwa mereka melakukannya melalui puisi (: sastra), itulah yang paling mungkin dapat mereka lakukan. Itulah pilihan yang memang sesuai dengan kapasitasnya. Puisi adalah pilihannya, dan mereka menggunakannya sebagai alat perjuangan.

Meskipun demikian, mereka sadar, bahwa nilai puisi tidak hanya terletak pada pesan yang hendak disampaikannya. Puisi bukanlah papan pengumuman atau teriakan caci-maki. Ia juga mengusung estetika. Jika estetika diabaikan, sangat mungkin ia akan jatuh pada pamflet propaganda yang artifisial dan tak mengajak pada sebuah perenungan. Bukankah esensi puisi tidak lain adalah metafora, dan metafora pada akhirnya bersifat analogi. Ia tidak lagi bermain dalam tataran logika, melainkan dalam kualitasnya menyentuh ke dasar perasaan yang paling dalam: hati nurani!

Bahasa dalam puisi dan melalui metafora itu terpancarlah daya pukau yang sangat mungkin dapat menyihir pembacanya. Oleh karena itu, ideologi, tata nilai, pandangan, sikap, dan élan yang dihembuskannya mesti dapat menyelinap masuk dan kemudian menciptakan keterpesonaan atau keterpukauan. Ia sekaligus berusaha mengganggu—menggoncangkan pikiran dan perasaan pembacanya. Bahasa dan lebih khusus lagi, metafora, memang mempunyai kualitas untuk menanamkan nilai-nilai, merusak keangkuhan dan ketersesatan, dan kemudian menggoda dan merebut hati pembaca untuk mempertanyakan eksistensi kepedualiannya pada kemanusiaan. Dalam hal ini, pembaca –tanpa sadar—digiring memasuki wilayah pemihakan. Dengan cara itulah, puisi dapat menjadi sarana yang efektif menanamkan nilai-nilai kemanusiaan. Melalui cara itu pula yang secara sadar dilakukan Asrizal Nur.

***

Antologi puisi karya Asrizal Nur ini, secara tematik bermain dalam tindak perlawanan menentang para penindas nilai-nilai kemanusiaan. Perlawanan terhadap sebuah rezim yang korup, temaha, dan busuk yang terjadi di negeri ini. Maka, ke-30 puisi yang terhimpun dalam buku antologi puisi ini sesungguhnya merupakan representasi dari kegelisahan penyair dalam menyikapi carut-marut kehidupan bangsanya. Jadi, jelas, Asrizal Nur menyimpan pretensi. Dengan sikap itulah, ia coba mengemasnya lewat deretan kata dan tumpukan larik yang sengaja disajikannya dengan kekuatan metafora dan simbolisme. Ia tidak melupakan metafora sebagai esensi puisi. Ia tidak membuat pamflet atau menyebarkan papan pengumuman. Ia menyampaikan puisi yang dibangun dengan kesadaran estetik, dan secara tematik mengejawantah sebagai tindak perlawanan yang menjadi pilihan perjuangannya. Maka, keprihatinannya atas nasib bangsa ini dikatakannya sebagai anak duka yang menanggung beban atas keserakahan penguasa (“Anak Duka”). Lihat juga, betapa luka bangsa ini sebagai buah dari utang dan pinjaman luar negeri yang dilakukan para penguasa itu. Sementara, harapan dan cita-cita anak negeri harus kandas oleh mahalnya biaya pendidikan.

Aku berkepala cahaya
Garis tangan kusut
Tersungkur di bell sekolah
Terhantuk buku
Ditelanjangi baju seragam
Diusir uang bangunan

Bukankah itu yang kini sedang melanda dunia pendidikan kita: semrawut dan segalanya ditentukan oleh limpahan biaya? Lalu dicampakkan ke manakah butir undang-undang dasar kita yang menyebutkan bahwa: Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran? Lihat juga nasib para buruh dan tenaga kerja kita di luar negeri yang berhasil membengkakkan devisa negara. Mereka sekadar ingin hidup layak: mencari rumah yang teduh. Tetapi yang mereka temukan adalah kenistaan.

Dalam puisi “Anak Duka” kita seperti berhadapan dengan kegetiran panjang yang menimpa para petani, buruh wanita, guru, seniman, pedagang kaki lima, dan secara keseluruhan, kehidupan bangsa ini yang selalu gagal menghindar dari tipu daya politikus dan penganiyaan yang dilakukan penguasa. Salahkah jika kemudian lahir ketidakpercayaan pada apa pun dan kepada siapa pun. Bahkan, menunggu uluran tangan Tuhan pun harus dihadapinya dengan kesangsian:

di terminal putus asa
aku menunggu Tuhan
menyeka duka

Tetapi, benarkah Tuhan akan datang menghapus duka yang tak kunjung selesai?

Kegelisahan Asrizal Nur dalam menyikapi carut-marut kehidupan bangsa ini, seperti muncul begitu saja dari suara batinnya. Maka, krisis yang melanda negeri ini, dikatakannya sebagai besi tua—rongsokan yang moralitas bangsanya, penegakan hukumnya, perilaku aparat pemerintahnya dikatakan: “digerogoti tikus api” yang menyebabkan bangsanya sakit (“Rumah Kita”). Betapa busuknya aparat pemerintah, sehingga bencana alam pun, dimanfaatkan sebagai proyek untuk menenggak keuntuingan. Mereka itulah yang sebenar-benarnya pencuri, penjarah, perampok.

Dalam puisi “Rumah Kita” Asrizal memosikan dirinya sebagai pengamat yang tak tahan melihat berbagai kebusukan terjadi dalam setiap sendi struktur birokrasi.

Lihat juga ketika kota-kota dibangun dengan sepenuh gemerlap seolah-olah hidup telah sampai pada “cahaya terang”. Tetapi justru di situlah masalahnya. Dalam hingar-bingar kemajuan yang seolah-olah itu, tersimpan banyak penyelewengan. Maka, kejayaan dan kehancuran, kebenaran dan penyelewengan, kejujuran dan kemunafikan, sudah sulit lagi dibedakan yang dikatakannya: “sulit memilih jalan bersimpang.” Meski begitu, menyerah dan pasrah berarti masuk ke dalam kesia-siaan. Harus ada senjata untuk melakukan perlawanan, bukan pada moncong senapan atau kilau pedang, melainkan pada hati nurani:

Jika punya hati
nyalakan jadi matahari
matahari hati
niscaya tahu telah tiba di musim gelap
manakala orang-orang berpaling
menyangka malam tak pernah jelang

Ya, matahari hati pembeda
mana terang mana kelam
pada musim gelap
badai menguji seberapa besar cahaya hati
bila padam kegelapan menipu pandang

Demikianlah, melalui metafora dan simbolisme, Asrizal coba menyapa dan mengingatkan kita, bahwa di negeri ini, kebrobrokan nyaris terjadi di mana-mana. Kita setiap saat seperti dipaksa untuk memandangi tingkah laku brengsek para penguasa. Maka, sangat wajar jika sapaan Asrizal Nur sesungguhnya menyimpan kegeraman dan sekaligus kepedihan.

Semua puisi yang terhimpun dalam antologi ini adalah persaksiannya tentang kehidupan penuh luka yang terjadi di negeri ini. Sejumlah besar puisinya memang terasa menyimpan kegeraman dan kepedihan. Periksa juga, puisinya yang berjudul “Belajar dengan Bahasa Daun” berikut ini:

Mengapa menara yang kita dirikan
bila kaki terhimpit pilarnya
mengapa bukan bangun kincir
sehingga riak telaga jadi samudera
kita terlanjur suka gemerlap neon
sedang kabelnya
dibiarkan konslet di gudang
kota kota adalah gugusan bintang
kita ciptakan dari hati yang kelam
belajarlah dengan bahasa daun
saat hening
bersahabat dengan angin
kerikil kerikil telaga
burung pun bernyanyi
embun senggayut di rerantingan
belajarlah dengan bahasa daun
bila gugur
terciptalah kehidupan baru

Lihatlah metafora menara yang sengaja disusun lewat kalimat tanya retoris. Lalu, larik berikutnya metafora itu menjadi sebuah ironi, bahkan paradoks ketika penyair mengkontraskannya dengan bila kaki terhimpit pilarnya. Bahwa secara tekstual kaki terhimpit pilar, secara semantis penyair hendak menegaskan adanya kematian yang tak terhindarkan. Secara tematik, penyair mengajak kita untuk merenung, bahwa bagaimanapun juga, alam merupakan alat introspeksi. Dengan menjalin hubungan persaudaraan dengan alam, eksploitasi terhadapnya, tidak bakal terjadi. Atau, setidak-tidaknya, ada kearifan dalam memperlakukan alam bagi kepentingan manusia, dan bukannya keserakahan yang justru akan menghancurkan manusia itu sendiri.

Puisi ini, selain memperlihatkan kekuatan metaforanya, juga berhasil membina citraan (image) yang kemudian melahirkan kesan asosiatif. belajarlah dengan bahasa daun/saat hening/bersahabat dengan angin/kerikil kerikil telaga/burung pun bernyanyi/embun senggayut di rerantingan// Sebuah penghadiran citraan suasana yang sangat kontras dengan suasana yang dimunculkan dalam bait sebelumnya. Penciptaan suasana dalam bait ini membawa kita pada kehidupan alam penuh damai. Di sana, terasa pula ada kepedihan, meski ia tidak muncul lewat teriakan lantang.

***

Mengingat sebagian besar puisi dalam antologi ini merupakan representasi dari sebuah perlawanan atas sebuah rezim yang busuk, maka sesungguhnya, ia akan menjadi alat retorika yang andal jika puisi-puisi itu tak sekadar menjadi santapan di ruang baca atau dalam kamar tertutup. Ia akan menjadi sebuah gemuruh derap kuda dengan kepak sayap burung gagak, jika penyairnya sendiri –yang memang deklamator ulung—membacakannya dalam sebuah pentas. Bukankah pikiran dan perasaan pembaca (atau pendengar) akan terhegemoni oleh sang penyair jika penyair mempunyai kemampuan memanfaatkan bahasa sebagai alat retorika? Sesungguhnya, Asrizal Nur potensial memaksimalkan kekuatannya melakukan retorika. Bukankah setelah Rendra –si Burung Merak, Sutardji Calzoum Bachri –Sang Presiden Penyair—atau Hamid Jabbar (alm)—yang total mengabdi lewat puisi—masih sangat sedikit penyair yang coba memanfaatkan puisi sebagai alat retorika.

Jika Asrizal Nur menyadari kualitas dan kapasitasnya sebagai deklamator ulung, bukan tidak mungkin, derap kudanya –yang mencerminkan semangat dalam melakukan perlawanan—dan kepak sayap burung gagaknya –yang mencerminkan kualitas sebagai deklamator— akan memukau dan menyihir kita. Puisi jadinya bukan sekadar alat yang menggiring pembacanya melakukan perenungan, tetapi juga sebagai alat retorika yang dapat merusak sikap pendengarnya untuk tidak diam membisu, melainkan bergerak bersama dan ikut terlibat dalam meneriakkan yel-yel perlawanan. Maka, seperti yang digoreskan Wiji Thukul: “Hanya ada satu kata: Lawan!” puisi-puisi perlawanan Asrizal Nur potensial menjadi gelombang dahsyat yang akan terus menggelinding menjadi sebuah gerakan perlawanan terhadap tirani dan para penindas kemanusiaan. Kita tunggu saya derap kuda dan kepak sayap sang rajawali!

Semoga bangsa ini terbebas dari penjajahan bangsanya sendiri!

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati