Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/
“Hanya ada satu kata: Lawan!” Itulah kalimat pendek yang lahir dari kegelisahan panjang ketika kekuasaan telah menjelma gurita raksasa penindasan, membunuhi kemanusiaan, dan membungkam apa pun yang lahir dari hati nurani. Wiji Thukul, sang penyair, terus bergerak sampai nasib menggelindingkannya pada misteri tak berjawab: Hilang diterkam kekuasaan. Ia lalu menjadi sebuah ikon bagi gerakan perlawanan atas apa pun yang bernama tirani. Asrizal Nur –yang pernah menjadi kawan seperjuangan Wiji Thukul—juga tetap konsisten melakukan perlawanan atas kebrengsekan tirani, penindasan, keterpurukan nasib buruh, dan kemunafikan. Dalam doanya, ia tegas bermohon:
Ya Allah
berikan aku kekuatan
untuk senantiasa
berani mengatakan
TIDAK!
pada kemunafikan
Begitulah, ketika kekuasaan diselewengkan, ketika kemanusiaan mengalami penindasan, dan ketika suara hati nurani dibungkam, gerakan perlawanan akan muncul dalam bentuk apa pun. Para penyair tentu saja akan begitu tersiksa ketika mereka dibungkam atau dipaksa bertindak sebagai penonton belaka. Harus ada suara lembut atau teriakan lantang menentang segala kebrengsekan itu. Harus ada perlawanan, meski di sana menunggu risiko yang tak tertanggungkan. Wiji Thukul adalah satu contoh dari sebuah risiko perjuangan. Asrizal Nur juga harus berhadapan dengan risiko itu. Ia dipaksa mendekam dalam tahanan Polres Jakarta Selatan (1997), saat tirani berada di puncak kekuasaannya.
Keterlibatan Asrizal Nur dalam perjuangan itu adalah salah satu bagian dari sebuah gerakan raksasa yang bernama Reformasi. Sejarah formal memang tidak mencatatnya, sebagaimana banyak terjadi pada peristiwa-peristiwa yang dipandang sebagai lelatu. Tetapi, bagaimana mungkin kobaran api bisa lahir tanpa serangkaian peristiwa yang dipandang sebagai lelatu itu? Itulah sejarah yang selalu terpukau oleh peristiwa besar dan melalaikan sejumlah peristiwa lain yang sebenarnya justru menjadi pemicu lahirnya peristiwa besar. Persaksian Asrizal Nur pun sesungguhnya merupakan bagian dari peristiwa sejarah itu. Di sinilah puisi menjadi sebuah kesaksian, sebagaimana yang dilakukan Taufiq Ismail atau penyair lain dalam menyikapi peristiwa itu. Maka, persaksiannya adalah catatan sejarah yang mewujud dalam puisi yang lahir dari tindak perlawanannya sebagai bagian dari gerakan itu. Ia memang mewujud larik-larik kalimat. Tetapi, di sana ada semangat yang tak hendak menyerah. Sebuah perlawanan yang terus menggelinding menjadi kekuatan dahsyat:
Inilah puisi perlawanan:
kau tak bakal bisa lari
dari kepungan badai kata
bila sepatumu masih injak
nasib kurus orang kecil
maka puisi ini duri!
Lihat juga persaksiannya atas pembubaran pementasannya di Bulungan. Peristiwa itu pun sebagai lelatu. Dan Asrizal tak hendak berhenti hanya sampai di sana. Perjuangan harus diteruskan sampai entah kapan, meskipun ia harus berhadapan dengan sejumlah konsekuensi dan risiko. Bukankah konsekuensi atau risiko selalu mengikuti di belakang setiap langkah apa pun yang menjadi pilihan kita?
Konsekuensi atau risiko apapun dalam perjuangan kemanusiaan adalah bagian dari proses mewujudkan sesuatu yang diyakini sebagai langkah menegakkan dan membangun kebenaran. Mengusung suara hati dan menegakkan nurani. Sangat mungkin ia menjadi korban. Tetapi, ia bukan korban yang sia-sia. Ada makna idealisme di sana. Ada panji yang akan terus berkibar melanjutkan perjuangannya. Ia akan menjadi catatan harum yang digoreskan oleh tinta emas, meskipun hanya Tuhan yang mencatatnya. Jadi, meskipun sejarah formal melalaikannya, di sana tetap tersimpan sebuah kebermaknaan yang mengisi tonggak kehidupan sebuah bangsa yang bernama Indonesia. Dengan demikian, selalu saja ada kebermaknaan yang tak sia-sia ketika kita meyakini sebuah kebenaran sedang kita perjuangan.
Seorang Rendra, Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabbar, Agus R. Sarjono, Wiji Thukul, Asrizal Nur, atau penyair lainnya yang tentu akan sangat panjang jika dideretkan di sini, kapan pun dan dalam suasana apa pun, tak mungkin akan tinggal diam, berkeluh kesah meratapi nasib, bersidakap menonton atau duduk anteng mengurung diri, ketika kejahatan kemanusiaan berseliweran di depan matanya. Mereka akan berbuat, bertindak dan melakukan perlawanan dengan kemampuan dan caranya sendiri. Itulah dinamika kehidupan perjalanan bangsa ini. Dan kesusastraan, Indonesia ditaburi oleh berbagai catatan tentang perjuangan itu. Bahwa mereka melakukannya melalui puisi (: sastra), itulah yang paling mungkin dapat mereka lakukan. Itulah pilihan yang memang sesuai dengan kapasitasnya. Puisi adalah pilihannya, dan mereka menggunakannya sebagai alat perjuangan.
Meskipun demikian, mereka sadar, bahwa nilai puisi tidak hanya terletak pada pesan yang hendak disampaikannya. Puisi bukanlah papan pengumuman atau teriakan caci-maki. Ia juga mengusung estetika. Jika estetika diabaikan, sangat mungkin ia akan jatuh pada pamflet propaganda yang artifisial dan tak mengajak pada sebuah perenungan. Bukankah esensi puisi tidak lain adalah metafora, dan metafora pada akhirnya bersifat analogi. Ia tidak lagi bermain dalam tataran logika, melainkan dalam kualitasnya menyentuh ke dasar perasaan yang paling dalam: hati nurani!
Bahasa dalam puisi dan melalui metafora itu terpancarlah daya pukau yang sangat mungkin dapat menyihir pembacanya. Oleh karena itu, ideologi, tata nilai, pandangan, sikap, dan élan yang dihembuskannya mesti dapat menyelinap masuk dan kemudian menciptakan keterpesonaan atau keterpukauan. Ia sekaligus berusaha mengganggu—menggoncangkan pikiran dan perasaan pembacanya. Bahasa dan lebih khusus lagi, metafora, memang mempunyai kualitas untuk menanamkan nilai-nilai, merusak keangkuhan dan ketersesatan, dan kemudian menggoda dan merebut hati pembaca untuk mempertanyakan eksistensi kepedualiannya pada kemanusiaan. Dalam hal ini, pembaca –tanpa sadar—digiring memasuki wilayah pemihakan. Dengan cara itulah, puisi dapat menjadi sarana yang efektif menanamkan nilai-nilai kemanusiaan. Melalui cara itu pula yang secara sadar dilakukan Asrizal Nur.
***
Antologi puisi karya Asrizal Nur ini, secara tematik bermain dalam tindak perlawanan menentang para penindas nilai-nilai kemanusiaan. Perlawanan terhadap sebuah rezim yang korup, temaha, dan busuk yang terjadi di negeri ini. Maka, ke-30 puisi yang terhimpun dalam buku antologi puisi ini sesungguhnya merupakan representasi dari kegelisahan penyair dalam menyikapi carut-marut kehidupan bangsanya. Jadi, jelas, Asrizal Nur menyimpan pretensi. Dengan sikap itulah, ia coba mengemasnya lewat deretan kata dan tumpukan larik yang sengaja disajikannya dengan kekuatan metafora dan simbolisme. Ia tidak melupakan metafora sebagai esensi puisi. Ia tidak membuat pamflet atau menyebarkan papan pengumuman. Ia menyampaikan puisi yang dibangun dengan kesadaran estetik, dan secara tematik mengejawantah sebagai tindak perlawanan yang menjadi pilihan perjuangannya. Maka, keprihatinannya atas nasib bangsa ini dikatakannya sebagai anak duka yang menanggung beban atas keserakahan penguasa (“Anak Duka”). Lihat juga, betapa luka bangsa ini sebagai buah dari utang dan pinjaman luar negeri yang dilakukan para penguasa itu. Sementara, harapan dan cita-cita anak negeri harus kandas oleh mahalnya biaya pendidikan.
Aku berkepala cahaya
Garis tangan kusut
Tersungkur di bell sekolah
Terhantuk buku
Ditelanjangi baju seragam
Diusir uang bangunan
Bukankah itu yang kini sedang melanda dunia pendidikan kita: semrawut dan segalanya ditentukan oleh limpahan biaya? Lalu dicampakkan ke manakah butir undang-undang dasar kita yang menyebutkan bahwa: Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran? Lihat juga nasib para buruh dan tenaga kerja kita di luar negeri yang berhasil membengkakkan devisa negara. Mereka sekadar ingin hidup layak: mencari rumah yang teduh. Tetapi yang mereka temukan adalah kenistaan.
Dalam puisi “Anak Duka” kita seperti berhadapan dengan kegetiran panjang yang menimpa para petani, buruh wanita, guru, seniman, pedagang kaki lima, dan secara keseluruhan, kehidupan bangsa ini yang selalu gagal menghindar dari tipu daya politikus dan penganiyaan yang dilakukan penguasa. Salahkah jika kemudian lahir ketidakpercayaan pada apa pun dan kepada siapa pun. Bahkan, menunggu uluran tangan Tuhan pun harus dihadapinya dengan kesangsian:
di terminal putus asa
aku menunggu Tuhan
menyeka duka
Tetapi, benarkah Tuhan akan datang menghapus duka yang tak kunjung selesai?
Kegelisahan Asrizal Nur dalam menyikapi carut-marut kehidupan bangsa ini, seperti muncul begitu saja dari suara batinnya. Maka, krisis yang melanda negeri ini, dikatakannya sebagai besi tua—rongsokan yang moralitas bangsanya, penegakan hukumnya, perilaku aparat pemerintahnya dikatakan: “digerogoti tikus api” yang menyebabkan bangsanya sakit (“Rumah Kita”). Betapa busuknya aparat pemerintah, sehingga bencana alam pun, dimanfaatkan sebagai proyek untuk menenggak keuntuingan. Mereka itulah yang sebenar-benarnya pencuri, penjarah, perampok.
Dalam puisi “Rumah Kita” Asrizal memosikan dirinya sebagai pengamat yang tak tahan melihat berbagai kebusukan terjadi dalam setiap sendi struktur birokrasi.
Lihat juga ketika kota-kota dibangun dengan sepenuh gemerlap seolah-olah hidup telah sampai pada “cahaya terang”. Tetapi justru di situlah masalahnya. Dalam hingar-bingar kemajuan yang seolah-olah itu, tersimpan banyak penyelewengan. Maka, kejayaan dan kehancuran, kebenaran dan penyelewengan, kejujuran dan kemunafikan, sudah sulit lagi dibedakan yang dikatakannya: “sulit memilih jalan bersimpang.” Meski begitu, menyerah dan pasrah berarti masuk ke dalam kesia-siaan. Harus ada senjata untuk melakukan perlawanan, bukan pada moncong senapan atau kilau pedang, melainkan pada hati nurani:
Jika punya hati
nyalakan jadi matahari
matahari hati
niscaya tahu telah tiba di musim gelap
manakala orang-orang berpaling
menyangka malam tak pernah jelang
Ya, matahari hati pembeda
mana terang mana kelam
pada musim gelap
badai menguji seberapa besar cahaya hati
bila padam kegelapan menipu pandang
Demikianlah, melalui metafora dan simbolisme, Asrizal coba menyapa dan mengingatkan kita, bahwa di negeri ini, kebrobrokan nyaris terjadi di mana-mana. Kita setiap saat seperti dipaksa untuk memandangi tingkah laku brengsek para penguasa. Maka, sangat wajar jika sapaan Asrizal Nur sesungguhnya menyimpan kegeraman dan sekaligus kepedihan.
Semua puisi yang terhimpun dalam antologi ini adalah persaksiannya tentang kehidupan penuh luka yang terjadi di negeri ini. Sejumlah besar puisinya memang terasa menyimpan kegeraman dan kepedihan. Periksa juga, puisinya yang berjudul “Belajar dengan Bahasa Daun” berikut ini:
Mengapa menara yang kita dirikan
bila kaki terhimpit pilarnya
mengapa bukan bangun kincir
sehingga riak telaga jadi samudera
kita terlanjur suka gemerlap neon
sedang kabelnya
dibiarkan konslet di gudang
kota kota adalah gugusan bintang
kita ciptakan dari hati yang kelam
belajarlah dengan bahasa daun
saat hening
bersahabat dengan angin
kerikil kerikil telaga
burung pun bernyanyi
embun senggayut di rerantingan
belajarlah dengan bahasa daun
bila gugur
terciptalah kehidupan baru
Lihatlah metafora menara yang sengaja disusun lewat kalimat tanya retoris. Lalu, larik berikutnya metafora itu menjadi sebuah ironi, bahkan paradoks ketika penyair mengkontraskannya dengan bila kaki terhimpit pilarnya. Bahwa secara tekstual kaki terhimpit pilar, secara semantis penyair hendak menegaskan adanya kematian yang tak terhindarkan. Secara tematik, penyair mengajak kita untuk merenung, bahwa bagaimanapun juga, alam merupakan alat introspeksi. Dengan menjalin hubungan persaudaraan dengan alam, eksploitasi terhadapnya, tidak bakal terjadi. Atau, setidak-tidaknya, ada kearifan dalam memperlakukan alam bagi kepentingan manusia, dan bukannya keserakahan yang justru akan menghancurkan manusia itu sendiri.
Puisi ini, selain memperlihatkan kekuatan metaforanya, juga berhasil membina citraan (image) yang kemudian melahirkan kesan asosiatif. belajarlah dengan bahasa daun/saat hening/bersahabat dengan angin/kerikil kerikil telaga/burung pun bernyanyi/embun senggayut di rerantingan// Sebuah penghadiran citraan suasana yang sangat kontras dengan suasana yang dimunculkan dalam bait sebelumnya. Penciptaan suasana dalam bait ini membawa kita pada kehidupan alam penuh damai. Di sana, terasa pula ada kepedihan, meski ia tidak muncul lewat teriakan lantang.
***
Mengingat sebagian besar puisi dalam antologi ini merupakan representasi dari sebuah perlawanan atas sebuah rezim yang busuk, maka sesungguhnya, ia akan menjadi alat retorika yang andal jika puisi-puisi itu tak sekadar menjadi santapan di ruang baca atau dalam kamar tertutup. Ia akan menjadi sebuah gemuruh derap kuda dengan kepak sayap burung gagak, jika penyairnya sendiri –yang memang deklamator ulung—membacakannya dalam sebuah pentas. Bukankah pikiran dan perasaan pembaca (atau pendengar) akan terhegemoni oleh sang penyair jika penyair mempunyai kemampuan memanfaatkan bahasa sebagai alat retorika? Sesungguhnya, Asrizal Nur potensial memaksimalkan kekuatannya melakukan retorika. Bukankah setelah Rendra –si Burung Merak, Sutardji Calzoum Bachri –Sang Presiden Penyair—atau Hamid Jabbar (alm)—yang total mengabdi lewat puisi—masih sangat sedikit penyair yang coba memanfaatkan puisi sebagai alat retorika.
Jika Asrizal Nur menyadari kualitas dan kapasitasnya sebagai deklamator ulung, bukan tidak mungkin, derap kudanya –yang mencerminkan semangat dalam melakukan perlawanan—dan kepak sayap burung gagaknya –yang mencerminkan kualitas sebagai deklamator— akan memukau dan menyihir kita. Puisi jadinya bukan sekadar alat yang menggiring pembacanya melakukan perenungan, tetapi juga sebagai alat retorika yang dapat merusak sikap pendengarnya untuk tidak diam membisu, melainkan bergerak bersama dan ikut terlibat dalam meneriakkan yel-yel perlawanan. Maka, seperti yang digoreskan Wiji Thukul: “Hanya ada satu kata: Lawan!” puisi-puisi perlawanan Asrizal Nur potensial menjadi gelombang dahsyat yang akan terus menggelinding menjadi sebuah gerakan perlawanan terhadap tirani dan para penindas kemanusiaan. Kita tunggu saya derap kuda dan kepak sayap sang rajawali!
Semoga bangsa ini terbebas dari penjajahan bangsanya sendiri!
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel García Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar