Cahyo Junaedy
http://www.korantempo.com/
Sosok yang tidak hanya melampaui batas-batas angkatan, tapi juga menembus sekat geografis kepenyairan.
Rumput liar dan pohon belukar setinggi mata kaki berebut tumbuh, memadati pusaran makam itu. Marmer putih yang memagari pusaran mulai berwarna cokelat. Beberapa sisinya koyak. Ada kesan tak terurus.
Bahkan tak ada pohon memayungi. Juga pagar pembatas yang melindungi. Hanya nisan besar hitam masih berdiri kukuh bertulisan "Di sini dimakamkan penyair angkatan 45, Chairil Anwar, pada 28 April 1949" dengan ejaan lama. Tiga hari silam, 56 tahun sudah dia terbaring di sana.
Sedikit yang membedakan makam ini dengan makam lain di TPU Karet Bivak, Jakarta, adalah sebuah menhir setinggi pinggang orang dewasa tertancap di pusaran. Di sana ditorehkan sepenggal larik puisi Chairil Anwar. Juga telah memudar: Tak perlu sedu sedan itu/Aku ini binatang jalang/Dari kumpulan yang terbuang/.
Makam Chairil Anwar memang telah kusam dimakan usia, tapi tidak dengan karyanya. Pengaruh kepenyairannya tetap kuat hingga sekarang. Bahkan hampir semua karyanya selalu menghiasi buku-buku teks bahasa dan sastra Indonesia pada setiap jenjang pendidikan. Semua murid SD hingga mahasiswa perguruan tinggi pasti mengenal nama penyair ini.
Chairil tidak hanya "mewaktu", melewati batas-batas angkatan atau periodisasi sastra tertentu, tapi juga "meruang", menembus sekat geografis kepenyairan. Puluhan buku, disertasi, dan ratusan artikel lahir atas nama dirinya.
Maka tak salah jika Pamusuk Eneste menyebut Chairil sebagai "sumur abadi". Dalam bukunya, Mengenal Chairil Anwar terbitan Obor (1995), Eneste mencoba menelanjangi sang penyair dalam memperjuangkan kesusastraan, politik, dan kebudayaan Indonesia serta proses berkaryanya.
Buku ini dibagi dalam empat bab. Bab pertama mengulas biografi Chairil, yang meliputi latar belakang keluarga, pendidikan, dan proses kepengarangannya dalam masa revolusi fisik hingga akhirnya ajal menjemputnya pada 28 April 1949. Sedangkan pada bab kedua dijelaskan soal proses lahirnya sajak dan puisi Chairil Anwar.
Menulis sajak atau puisi buat seorang Chairil bukan pekerjaan sambilan atau asal-asalan. Dia tidak hanya menunggu ilham, melainkan aktif mencari dengan cara terjun langsung dalam arus kehidupan nyata. Inilah yang membuat karyanya memiliki "daya hidup".
Adapun bab ketiga membahas puisi-puisi Chairil tentang wanita. Eneste mencoba menyuguhkan deretan puisi-puisi cinta Chairil.
Lewat sejumlah puisinya, ditemukan enam nama wanita: Karinah Moordjono (Kenangan), Dien Tamaela (Cerita buat Dien Tamaela), Gadis Rasyid (Buat Gadis Rasyid), Sri Ajati (Senja di Pelabuhan Kecil), Ida (Merdeka), dan Sumirat (Sajak Putih dan Mirat Muda Chairil Muda).
Pada bab keempat, disajikan sejumlah pendapat para sastrawan Indonesia mengenai kepribadian Chairil, proses kreatif dan partisipasinya dalam memperjuangkan kesusastraan, serta politik dan kebudayaan Indonesia. H.B. Jassin, Sutan Takdir Alisjahbana, Subagio Sastrowardoyo, dan Dami N. Toba ikut menyampaikan komentarnya.
Soal pengaruh kepenyairan "Binatang Jalang" ini terhadap dunia sastra Indonesia diulas dalam buku karya H.B. Jassin berjudul Chairil Anwar, Pelopor Angkatan 45. Buku terbitan PT Grasindo Gramedia Widiasarana Indonesia (1996) ini secara lengkap dan gamblang memetakan posisi Chairil Anwar, khususnya sebagai pelopor angkatan 45.
Buku ini bisa disebut sebagai publikasi terlengkap yang pernah ada tentang karya Chairil Anwar. Adapun isinya berupa ulasan mengenai 26 puisi asli (5 di antaranya dibuat dengan tulisan tangan), 4 puisi saduran, 7 puisi asing yang dipandang mempengaruhi puisi Kepada Kawan, 12 puisi terjemahan disertai naskah asli, 6 prosa, 2 prosa terjemahan, dan daftar hasil karya Chairil yang disusun secara kronologis.
Di bagian Pendahuluan, H.B. Jassin mengakui tidak mau memasuki wilayah moral untuk menentukan apakah Chairil seorang plagiator atau bukan. Soalnya, memang ada sejumlah puisinya yang merupakan terjemahan dan saduran. "Terlepas dari itu, Chairil masih dapat berdiri di depan kita dengan 70 sajaknya sendiri," tutur H.B. Jassin dalam bukunya itu.
Buku ini juga menjelaskan bagaimana Chairil memandang dunia kepenyairan yang bukan semata dunia kata-kata. Chairil melihatnya sebagai ekspresi kesadaran yang memancarkan kemauan dan tenaga penuh kegembiraan, bukan perkara sambilan.
Atau, dalam suratnya kepada H.B. Jassin yang juga dikutip di kulit belakang buku ini, Chairil mengatakan, "Dalam kalangan kita, sifat setengah-setengah bersimaharajalela benar. Kau tentu tahu ini. Aku memasuki kesenian dengan sepenuh hati."
Sikap sepenuh hati inilah yang membuat karyanya berjiwa dan meruang, meski selama hidupnya Chairil hanya melahirkan 70 sajak asli, 4 sajak saduran, 10 sajak terjemahan, 6 prosa asli, dan 4 prosa terjemahan--semuanya menjadi 94 tulisan. Kerja keras H.B. Jassin dengan menulis buku ini lewat pemaparan data serta puisi-puisi Chairil secara lengkap, harus diakui, sangat berhasil.
Buku yang agak berbeda tentang seorang Chairil Anwar lahir dari tangan Arief Budiman bertajuk Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan terbitan Pustaka Jaya (1976). Buku ini mengulas sisi lain seorang Chairil sebagai seorang manusia, seorang pengembara batin yang menghabiskan usianya hanya untuk puisi.
Sosok Chairil yang "penggila" buku juga terekam dalam karya Arief. Lewat kisah sejumlah sahabat Chairil, Arief berusaha menelusurinya. Di antara para sahabat itu adalah Asrul Sani yang mengakui "kerakusan" Chairil terhadap buku.
Chairil, kata Asrul, telah melahap sejumlah buku kelas dunia. Di antaranya karya W.H. Auden, Steinbeck, Ernest Hemingway, Andre Gide, Marie Rilke, Nietzsche, H. Marsman, Edgar du Peroon, dan J. Slauerhoff.
Namun, Chairil adalah penggila buku yang urakan, selalu kekurangan uang, dan tidak punya pekerjaan tetap. Alhasil, mencuri buku ia lakoni hanya agar dapat membacanya.
Dalam bukunya, Arief menilai, Chairil bisa menjadi contoh baik terkait totalitasnya berkesenian dalam dunia sastra Indonesia. Sanusi Pane, Amir Hamzah, Rustam Effendi, dan M. Yamin misalnya, hanya menjadikan kegiatan menulis puisi sebagai sampingan. Sambil menjadi redaktur sebuah surat kabar, politikus, atau kegiatan lainnya. Sedangkan Chairil semata-mata hidup untuk puisi dan dari puisi.
Gaya bersajak dalam puisi-puisinya yang bercorak individualistis dan mem-Barat membedakan Chairil dengan kecenderungan puisi-puisi yang dilahirkan generasi sebelumnya (baca: Poedjangga Baroe). Inilah yang kemudian menjadikan sosok satu ini sebagai pelopor Angkatan 45.
Memang, bukan kebetulan agaknya jika sajak-sajak Chairil memiliki nuansa individualistis kental. Pergumulan totalnya dengan kesenian agaknya telah menuntun sang penyair terjerembab dalam sebuah ritus pencarian filosofis.
Puisi dan prosa Chairil Anwar diangkat dan dibahas secara lengkap dalam buku Chairil Anwar Derai-derai Cemara. Buku terbitan majalah budaya Horison bersama Evawani Alissa, putri kandung penyair, ini lahir untuk memperingati 50 tahun wafatnya sang penyair pada 1999.
Seluruh sajak Chairil Anwar mulai karya asli, saduran, hingga prosa terangkum dalam buku setebal 132 halaman itu. Asrul Sani dalam kata pembukanya merangkum kekaguman dirinya kepada Chairil.
Menurut Asrul, Chairil mempunyai rasa bahasa luar biasa untuk memberi makna pada kosakata baru Indonesia. Chairil dapat melepaskan bahasa dari kekuasaan kaum guru yang menuntut tulisan sesuai dengan tata bahasa. "Buat dia, bahasa adalah alat mengutarakan sesuatu. Jadi, kalau perlu, kita bengkokkan bahasa itu untuk menjelaskan apa yang ingin kita utarakan," tutur Asrul.
Dalam buku ini juga dijelaskan kehidupan Chairil, yang menganut pola kehidupan bohemian tapi akhirnya sempat juga berkeluarga. Dia menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6 Agustus 1946. Sayang, rumah tangga mereka tidak bertahan lama. Pada akhir 1948, mereka bercerai. Putri tunggal mereka, Evawani Alissa, dibesarkan Hapsah.
Pada 28 April 1949, setelah sempat diopname selama lima hari di CBZ (sekarang RSCM) karena penyakit TBC yang dideritanya, Chairil mengembuskan napas terakhir.
Dalam sajaknya yang ditulis di pengujung hidupnya, Yang Terampas dan yang Putus, Chairil secara jelas menulis kesiapannya menghadapi kematian. Seperti memenuhi pesan profetik dalam salah satu bait puisi tersebut: di karet, di karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru angin.
Dan Sang Pujangga pun dimakamkan di Karet, sehari setelah wafat.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel García Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar