Selasa, 18 November 2008

Sumur Abadi Si Binatang Jalang

Cahyo Junaedy
http://www.korantempo.com/

Sosok yang tidak hanya melampaui batas-batas angkatan, tapi juga menembus sekat geografis kepenyairan.

Rumput liar dan pohon belukar setinggi mata kaki berebut tumbuh, memadati pusaran makam itu. Marmer putih yang memagari pusaran mulai berwarna cokelat. Beberapa sisinya koyak. Ada kesan tak terurus.

Bahkan tak ada pohon memayungi. Juga pagar pembatas yang melindungi. Hanya nisan besar hitam masih berdiri kukuh bertulisan "Di sini dimakamkan penyair angkatan 45, Chairil Anwar, pada 28 April 1949" dengan ejaan lama. Tiga hari silam, 56 tahun sudah dia terbaring di sana.

Sedikit yang membedakan makam ini dengan makam lain di TPU Karet Bivak, Jakarta, adalah sebuah menhir setinggi pinggang orang dewasa tertancap di pusaran. Di sana ditorehkan sepenggal larik puisi Chairil Anwar. Juga telah memudar: Tak perlu sedu sedan itu/Aku ini binatang jalang/Dari kumpulan yang terbuang/.

Makam Chairil Anwar memang telah kusam dimakan usia, tapi tidak dengan karyanya. Pengaruh kepenyairannya tetap kuat hingga sekarang. Bahkan hampir semua karyanya selalu menghiasi buku-buku teks bahasa dan sastra Indonesia pada setiap jenjang pendidikan. Semua murid SD hingga mahasiswa perguruan tinggi pasti mengenal nama penyair ini.

Chairil tidak hanya "mewaktu", melewati batas-batas angkatan atau periodisasi sastra tertentu, tapi juga "meruang", menembus sekat geografis kepenyairan. Puluhan buku, disertasi, dan ratusan artikel lahir atas nama dirinya.

Maka tak salah jika Pamusuk Eneste menyebut Chairil sebagai "sumur abadi". Dalam bukunya, Mengenal Chairil Anwar terbitan Obor (1995), Eneste mencoba menelanjangi sang penyair dalam memperjuangkan kesusastraan, politik, dan kebudayaan Indonesia serta proses berkaryanya.

Buku ini dibagi dalam empat bab. Bab pertama mengulas biografi Chairil, yang meliputi latar belakang keluarga, pendidikan, dan proses kepengarangannya dalam masa revolusi fisik hingga akhirnya ajal menjemputnya pada 28 April 1949. Sedangkan pada bab kedua dijelaskan soal proses lahirnya sajak dan puisi Chairil Anwar.

Menulis sajak atau puisi buat seorang Chairil bukan pekerjaan sambilan atau asal-asalan. Dia tidak hanya menunggu ilham, melainkan aktif mencari dengan cara terjun langsung dalam arus kehidupan nyata. Inilah yang membuat karyanya memiliki "daya hidup".

Adapun bab ketiga membahas puisi-puisi Chairil tentang wanita. Eneste mencoba menyuguhkan deretan puisi-puisi cinta Chairil.

Lewat sejumlah puisinya, ditemukan enam nama wanita: Karinah Moordjono (Kenangan), Dien Tamaela (Cerita buat Dien Tamaela), Gadis Rasyid (Buat Gadis Rasyid), Sri Ajati (Senja di Pelabuhan Kecil), Ida (Merdeka), dan Sumirat (Sajak Putih dan Mirat Muda Chairil Muda).

Pada bab keempat, disajikan sejumlah pendapat para sastrawan Indonesia mengenai kepribadian Chairil, proses kreatif dan partisipasinya dalam memperjuangkan kesusastraan, serta politik dan kebudayaan Indonesia. H.B. Jassin, Sutan Takdir Alisjahbana, Subagio Sastrowardoyo, dan Dami N. Toba ikut menyampaikan komentarnya.

Soal pengaruh kepenyairan "Binatang Jalang" ini terhadap dunia sastra Indonesia diulas dalam buku karya H.B. Jassin berjudul Chairil Anwar, Pelopor Angkatan 45. Buku terbitan PT Grasindo Gramedia Widiasarana Indonesia (1996) ini secara lengkap dan gamblang memetakan posisi Chairil Anwar, khususnya sebagai pelopor angkatan 45.

Buku ini bisa disebut sebagai publikasi terlengkap yang pernah ada tentang karya Chairil Anwar. Adapun isinya berupa ulasan mengenai 26 puisi asli (5 di antaranya dibuat dengan tulisan tangan), 4 puisi saduran, 7 puisi asing yang dipandang mempengaruhi puisi Kepada Kawan, 12 puisi terjemahan disertai naskah asli, 6 prosa, 2 prosa terjemahan, dan daftar hasil karya Chairil yang disusun secara kronologis.

Di bagian Pendahuluan, H.B. Jassin mengakui tidak mau memasuki wilayah moral untuk menentukan apakah Chairil seorang plagiator atau bukan. Soalnya, memang ada sejumlah puisinya yang merupakan terjemahan dan saduran. "Terlepas dari itu, Chairil masih dapat berdiri di depan kita dengan 70 sajaknya sendiri," tutur H.B. Jassin dalam bukunya itu.

Buku ini juga menjelaskan bagaimana Chairil memandang dunia kepenyairan yang bukan semata dunia kata-kata. Chairil melihatnya sebagai ekspresi kesadaran yang memancarkan kemauan dan tenaga penuh kegembiraan, bukan perkara sambilan.

Atau, dalam suratnya kepada H.B. Jassin yang juga dikutip di kulit belakang buku ini, Chairil mengatakan, "Dalam kalangan kita, sifat setengah-setengah bersimaharajalela benar. Kau tentu tahu ini. Aku memasuki kesenian dengan sepenuh hati."

Sikap sepenuh hati inilah yang membuat karyanya berjiwa dan meruang, meski selama hidupnya Chairil hanya melahirkan 70 sajak asli, 4 sajak saduran, 10 sajak terjemahan, 6 prosa asli, dan 4 prosa terjemahan--semuanya menjadi 94 tulisan. Kerja keras H.B. Jassin dengan menulis buku ini lewat pemaparan data serta puisi-puisi Chairil secara lengkap, harus diakui, sangat berhasil.

Buku yang agak berbeda tentang seorang Chairil Anwar lahir dari tangan Arief Budiman bertajuk Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan terbitan Pustaka Jaya (1976). Buku ini mengulas sisi lain seorang Chairil sebagai seorang manusia, seorang pengembara batin yang menghabiskan usianya hanya untuk puisi.

Sosok Chairil yang "penggila" buku juga terekam dalam karya Arief. Lewat kisah sejumlah sahabat Chairil, Arief berusaha menelusurinya. Di antara para sahabat itu adalah Asrul Sani yang mengakui "kerakusan" Chairil terhadap buku.

Chairil, kata Asrul, telah melahap sejumlah buku kelas dunia. Di antaranya karya W.H. Auden, Steinbeck, Ernest Hemingway, Andre Gide, Marie Rilke, Nietzsche, H. Marsman, Edgar du Peroon, dan J. Slauerhoff.

Namun, Chairil adalah penggila buku yang urakan, selalu kekurangan uang, dan tidak punya pekerjaan tetap. Alhasil, mencuri buku ia lakoni hanya agar dapat membacanya.

Dalam bukunya, Arief menilai, Chairil bisa menjadi contoh baik terkait totalitasnya berkesenian dalam dunia sastra Indonesia. Sanusi Pane, Amir Hamzah, Rustam Effendi, dan M. Yamin misalnya, hanya menjadikan kegiatan menulis puisi sebagai sampingan. Sambil menjadi redaktur sebuah surat kabar, politikus, atau kegiatan lainnya. Sedangkan Chairil semata-mata hidup untuk puisi dan dari puisi.

Gaya bersajak dalam puisi-puisinya yang bercorak individualistis dan mem-Barat membedakan Chairil dengan kecenderungan puisi-puisi yang dilahirkan generasi sebelumnya (baca: Poedjangga Baroe). Inilah yang kemudian menjadikan sosok satu ini sebagai pelopor Angkatan 45.

Memang, bukan kebetulan agaknya jika sajak-sajak Chairil memiliki nuansa individualistis kental. Pergumulan totalnya dengan kesenian agaknya telah menuntun sang penyair terjerembab dalam sebuah ritus pencarian filosofis.

Puisi dan prosa Chairil Anwar diangkat dan dibahas secara lengkap dalam buku Chairil Anwar Derai-derai Cemara. Buku terbitan majalah budaya Horison bersama Evawani Alissa, putri kandung penyair, ini lahir untuk memperingati 50 tahun wafatnya sang penyair pada 1999.

Seluruh sajak Chairil Anwar mulai karya asli, saduran, hingga prosa terangkum dalam buku setebal 132 halaman itu. Asrul Sani dalam kata pembukanya merangkum kekaguman dirinya kepada Chairil.

Menurut Asrul, Chairil mempunyai rasa bahasa luar biasa untuk memberi makna pada kosakata baru Indonesia. Chairil dapat melepaskan bahasa dari kekuasaan kaum guru yang menuntut tulisan sesuai dengan tata bahasa. "Buat dia, bahasa adalah alat mengutarakan sesuatu. Jadi, kalau perlu, kita bengkokkan bahasa itu untuk menjelaskan apa yang ingin kita utarakan," tutur Asrul.

Dalam buku ini juga dijelaskan kehidupan Chairil, yang menganut pola kehidupan bohemian tapi akhirnya sempat juga berkeluarga. Dia menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6 Agustus 1946. Sayang, rumah tangga mereka tidak bertahan lama. Pada akhir 1948, mereka bercerai. Putri tunggal mereka, Evawani Alissa, dibesarkan Hapsah.

Pada 28 April 1949, setelah sempat diopname selama lima hari di CBZ (sekarang RSCM) karena penyakit TBC yang dideritanya, Chairil mengembuskan napas terakhir.

Dalam sajaknya yang ditulis di pengujung hidupnya, Yang Terampas dan yang Putus, Chairil secara jelas menulis kesiapannya menghadapi kematian. Seperti memenuhi pesan profetik dalam salah satu bait puisi tersebut: di karet, di karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru angin.

Dan Sang Pujangga pun dimakamkan di Karet, sehari setelah wafat.

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati