Jumat, 02 Januari 2009

SASTRA SUNDA YANG KIAN MENGKILAP

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Sastra Sunda, sebagai sastra etnik, juga sastra etnik lain, diandaikan berada dalam posisi terjepit ketika berhadapan dengan sastra Indonesia. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional menjerumuskan kedudukan sastra daerah menerima nasib dalam posisi marjinal. Sastra etnik seketika mengalami degradasi. Ia tidak dapat melepaskan bayang-bayang sastra Indonesia. Begitu juga ketika sastra daerah dikaitkan dengan perkara komersial, ia tak leluasa masuk wilayah pendukungnya. Kendala utamanya jatuh pada alasan klise: tak ada pembaca, tak ada pembeli. Penerbit pun emoh menerbitkan.

Di tengah hiruk-pikuk sastra Indonesia, sastra Sunda seolah mengalami nasib itu. Pandangan hiperbolis itu sekadar alasan bagi penerbit untuk menolak naskah berbahasa Sunda. Jika penerbit mengukur segala naskah berdasarkan pertimbangan komersial, ujungnya jatuh pada persoalan ekonomi. Penerbit tak punya idealisme dan komitmen kultural. Orientasinya satu: keuntungan material.
***

Sastrawan Sunda mengada lantaran menyeruak panggilan tanah kelahiran. Itulah idealisme kultural yang menciptakan kegelisahan anak kandung-budaya, bukan sebagai si Malin Kundang. Pembacanya hadir karena ada dorongan kultural untuk memaknai ibu-budaya yang melahirkan dan membesarkannya. Di situlah pasang- surut perkembangan kesusastraan, sering ditentukan oleh kondisi sosial-budaya zaman. Pada awal zaman Orde Baru kesusastraan Sunda mengalami booming. Ajip Rosidi dalam esainya, “Situasi Sastra Sunda Masa Kini” (Budaja Djaja, No. 2, Th. I, Djuli 1968), menyinggung persoalan itu. Menurutnya, situasi sastra Sunda ketika itu berbeda dengan kondisi zaman sebelumnya (1960—1965). Pada tahun 1965—1966, banyak pengarang Sunda bermunculan. Tidak sedikit pula karya sastra (Sunda) yang diterbitkan. Belum lagi puisi, cerpen, atau cerita bersambung yang dimuat suratkabar dan majalah. Dalam pengamatan Ajip, penerbit akan lebih cepat menjual sebanyak 5000 eksemplar buku (sastra Sunda) dibandingkan buku sastra berbahasa Indonesia.

Jika menengok ke belakang, masyarakat Pasundan memang punya tradisi sastra yang kokoh. Sastra lisan –termasuk folklore—sampai kini masih menjadi bagian kehidupan keseharian masyarakat. Dalam sastra Sunda modern pun, novel Baruang ka nu Ngarora (1914) karya DK Ardiwinata terbit mendahului novel-novel Balai Pustaka. Azab dan Sengsara Seorang Gadis karya Merari Siregar yang dianggap novel berbahasa Melayu pertama yang diterbitkan Balai Pustaka, terbit tahun 1920.

Secara kuantitas, pengarang dan karya berbahasa Jawa dan Sunda, jauh lebih banyak dibandingkan pengarang dan karya berbahasa Melayu. Selama enam tahun (1911—1916), Commissie voor de Inlandsche School en Volkslectuur (Komisi untuk Bacaan Sekolah Pribumi dan Bacaan Rakyat) yang didirikan tahun 1908, menerima 598 naskah berbahasa Jawa, 204 berbahasa Sunda, dan 96 berbahasa Melayu. Gencarnya para pengarang mengirimkan naskah ke lembaga itu memaksa pemerintah Belanda mengganti nama menjadi Kantoor voor de Volkslectuur (Kantor Bacaan Rakyat) yang kemudian lebih dikenal dengan nama Balai Pustaka (1917).

Meski selepas itu Balai Pustaka memilih menerbitkan naskah berbahasa Melayu, komunitas sastrawan dan pendukung sastra Sunda, masih memperlihatkan kesemarakannya. Terbitnya beberapa suratkabar dan majalah berbahasa Sunda, seperti mingguan Sora Pasoendan (1914—1918), bulanan Papaes Nonoman (1914—1919), suratkabar Sipatahoenan (1923—1971), mingguan Sora Soenda (1923), Parahiangan (1929—1942), Sora Ra’jat Merdeka (1931—1932) yang memuat karya sastra Sunda, termasuk cerita bersambung (feuilletton) menunjukkan bahwa sastra Sunda sudah berkembang baik ketika itu. Bahkan, mengingat pentingnya peranan mingguan Parahiangan dalam melahirkan sastrawan Sunda, M.A. Salmoen menyebutkan adanya Angkatan Parahiangan dalam kesusastraan Sunda.

Sebagai perbandingan, antara tahun 1914—1942, Balai Pustaka menerbitkan tidak lebih dari 50-an novel berbahasa Melayu. Sementara novel berbahasa Sunda yang terbit dalam rentang waktu yang sama berjumlah tidak kurang dari 40-an buah. Jadi, secara kuantitas penerbitan novel berbahasa Sunda hampir mendekati penerbitan novel Balai Pustaka. Artinya, tradisi penerbitan sastra Sunda, punya reputasi baik. Tentu saja tradisi yang reputasional itu tidak akan mudah hilang.
***

Jika tahun 1968, Ajip Rosidi optimis atas perkembangan sastra Sunda, lewat dua dasawarsa kemudian, dalam sambutan –berbahasa Sunda—pemberian Hadiah Sastra Rancage pertama (1989), Ajip tidak dapat menyimpan keprihatinannya. Dikatakan, di Bandung hanya ada satu toko buku yang menjual buku berbahasa Sunda. Toko buku lain tak ada yang berani menerima buku-buku berbahasa Sunda. Alasannya: tak ada yang membeli dan cuma mempersempit (ruang) saja. Apa yang terjadi kemudian?

Pemberian Hadiah Sastra Rancage, memicu perkembangan kesusastraan Sunda secara luar biasa. Setiap tahun terbit sejumlah buku sastra Sunda, berupa antologi puisi atau cerpen, dan novel. Setiap tahun grafiknya cenderung meningkat kuantitas dan kualitasnya. Sastrawan-sastrawan muda pun bermunculan. Selain nama Yus Rusyana dan sastrawan seangkatannya yang mulai surut ke belakang dan digantikan posisinya oleh sastrawan generasi Tatang Sumarsono, seperti Godi Suwarna, Juniarso Ridwan, Acep Zamzam Noor, Etty RS, Soni Farid Maulana, muncul pula nama –sekadar menyebut beberapa—Deden Abdul Aziz, Dadan Sutisna, dan Chiye Retty Isnendes.

Jelas, pemberian Hadiah Sastra Rancage sejak 1989 hingga kini, telah menumbuhkan kegairahan kreatif sastrawannya. Meski dalam setahun penerbitan buku sastra Sunda tidak pernah mencapai angka 20, setidaknya karya sastra yang memperoleh Hadiah Sastra Rancage, telah melewati seleksi dan penilaian yang ketat. Demikian juga, meski nama baru dalam setiap tahun masih dapat dihitung dengan jari, dapat dipastikan, regenerasi sastrawan Sunda akan bergulir secara alamiah. Jika pun dalam setahun hanya muncul satu nama, ia tetap punya arti penting bagi sebuah proses regenerasi.

Kesemarakan itu makin berpengaruh luas ketika Yayasan Kebudayaan Racage, sejak tahun 1993 memberi Hadiah Samsudi untuk bacaan anak-anak. Sejak tahun 1998 cakupannya diperluas dengan memberikan hadiah kepada karya sastra dan sastrawan Jawa dan Bali. Jadi, penghargaan bagi sastrawan Sunda, Jawa, dan Bali, juga bermakna legitimatif atas pentingnya sastra daerah. Bagi kesusastraan Sunda sendiri, langkah Paguyuban Pasundan yang juga memberi Hadiah DK Ardiwinata untuk naskah buku yang belum diterbitkan, punya makna lain bagi perkembangan kesusastraan Sunda di masa depan.
***

Bagaimana kualitas karya yang memperoleh penghargaan itu? Apakah itu siasat untuk menunjukkan keberadaan sastra Sunda dalam arus deras sastra Indonesia? Bagaimana pula sastrawan Sunda menerjemahkan wawasan estetiknya? Apakah sekadar melanjutkan tradisi lisan, folklore, dan kisah supernatural yang hingga kini masih hidup dalam mitologi orang Sunda?

Andai saja dulu bahasa Sunda diangkat sebagai bahasa Indonesia, maka novel Baruang ka nu Ngarora (1914) karya DK Ardiwinata tentu menjadi monumen dalam perjalanan sastra Indonesia. Meski begitu, dibandingkan Azab dan Sengsara dan novel Balai Pustaka yang terbit sebelum merdeka, Baruang ka nu Ngarora tetap menunjukkan keunggulannya. Penokohannya tidak karikaturis, konflik kelas sosial priyayi —pedagang –lebih merepresentasikan problem sosiologis masyarakat Sunda. Bagaimana priyayi yang jadi sumber bencana rumah tangga Ujang Kusen—Nyi Rapiah, tetap hidup bahagia, sementara Ujang Kusen dan Nyi Rapiah, justru jadi pecundang. Di luar persoalan tematik, pesona bahasa Sunda dalam narasi, deskripsi latar material—sosial, dan dialog yang memperlihatkan kelas sosial –melalui undak-usuk bahasa—menjadikan novel itu tampil sebagai novel modern dalam segala hal.

Novel Sunda lain yang awal, Carios Agan Permas (1926) karya Yuhana menegaskan keberpihakan pengarang atas nasib wong cilik. Di akhir cerita, semangat membela rakyat kecil diwujudkan melalui usaha membangun rumah sakit untuk orang miskin, memelihara anak yatim dan orang jompo. Secara intrinsik pengarang berkisah melalui dua alur cerita yang berliku, yang dalam novel Indonesia digunakan Nur Sutan Iskandar (Hulubalang Raja, 1934) dan Nh Dini (Pada Sebuah Kapal, 1973). Jika dicermati, tampak juga pengaruh kisah Ciung Wanara dan Sangkuriang dengan pola inisiasi model cerita Panji. Tentu kita masih dapat menderetkan novel Sunda lainnya yang punya banyak keunggulan, seperti Matri Jero (1928) dan Pangeran Kornel (1930) karya R. Memed Sastrahadiprawira.

Salah satu kekuatan –dan kekhasan—sastra Sunda terpancar pada rasa bahasa yang memesona. Ia secara inheren melekat pada berbagai kecap anteran, morfem yang berfungsi menegaskan atau menambah kesan tertentu. Kecap anteran tak punya makna leksikal, tetapi kehadirannya penting untuk memberi bobot semantik. Kekayaan puisi Sunda (modern) salah satunya terletak pada keindahan bunyi kecap anteran ini, di samping pemanfaatan diksi yang juga sarat nuansa makna. Rasa bahasa itulah yang juga banyak dieksploitasi sastrawan Sunda untuk membangun narasi dalam cerpen atau novel. Dari sudut itu saja, sastra Sunda punya keleluasaan melakukan eksplorasi potensi bahasa.

Tetapi, bahasa apa pun yang digunakan, tetap akan gagal jadi karya baik jika pengarang tak pandai membangun kisahan, tak cerdas menyiasati alur cerita, malas mencari bahan, dan sekadar mengandalkan bakat alam. Jika begitu, ia tetap bergeming sebagai medioker. Dan itu tidak terjadi pada sastrawan Sunda. Periksa saja novel-novel Tatang Sumarsono. Demung Janggala, pemenang Hadiah Rancage 1994 ini, kaya unsur sejarah dengan narasi yang membuai. Latar sejarah dikemas menjadi potret sosial yang menggambarkan berbagai karakter manusia. Tatang tentu harus membongkar arsip tentang Dipati Ukur, Sultan Agung, kerajaan Mataram, dan kondisi masyarakat Pasundan abad ke-17.

Dalam Galuring Gending, pemenang Hadiah Rancage 2002, Tatang tidak menafsir fakta sejarah. Ia membuat “sejarah” melalui pemotretan tokoh Sarah atas peristiwa seputar kejatuhan Orde Baru. Di sana ia seperti sengaja pamer kepiawaian bercerita lewat berbagai teknik. Selain detail fisiologis tokoh-tokohnya, latar tempat, suasana dan kultural dalam berbagai gaya dialog, juga coba memanfaatkan teknik stream of consciousness. Bagi saya, Galuring Gending merupakan novel besar. Kualitasnya boleh disandingkan dengan novel Indonesia, bahkan juga dengan novel dunia.

Kekuatan cerpen—novel Sunda sejak Ardiwinata, Dyah Padmini, Tatang Sumarsono, Dadan Sutisna adalah kepiawaian mendongeng yang tidak meninggalkan deskripsi latar (tempat—sosial—kultural). Maka, ketika tokoh Sarah, Rodiah atau siapa pun, dimunculkan, terbayanglah sosok manusia dengan asesoris pakaian dan gaya bicara khas Sunda atau mewakili status sosial tertentu. Cerpen—novel Sunda cenderung tidak meninggalkan cantelan sosio-kultural. Di sinilah sastra Sunda dapat dimaknai sebagai representasi orang Sunda dalam berhadapan dengan masyarakat dan kebudayaannya. Usaha penerjemahan khazanah sastra Sunda ke dalam bahasa Indonesia sesungguhnya dapat digunakan sebagai pintu masuk bagi masyarakat etnik lain untuk memahami sosiologi dan kultur orang Sunda.

*) Pengajar Kesusastraan Sunda di FIB-UI, Depok.

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati