Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/
Sastra Sunda, sebagai sastra etnik, juga sastra etnik lain, diandaikan berada dalam posisi terjepit ketika berhadapan dengan sastra Indonesia. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional menjerumuskan kedudukan sastra daerah menerima nasib dalam posisi marjinal. Sastra etnik seketika mengalami degradasi. Ia tidak dapat melepaskan bayang-bayang sastra Indonesia. Begitu juga ketika sastra daerah dikaitkan dengan perkara komersial, ia tak leluasa masuk wilayah pendukungnya. Kendala utamanya jatuh pada alasan klise: tak ada pembaca, tak ada pembeli. Penerbit pun emoh menerbitkan.
Di tengah hiruk-pikuk sastra Indonesia, sastra Sunda seolah mengalami nasib itu. Pandangan hiperbolis itu sekadar alasan bagi penerbit untuk menolak naskah berbahasa Sunda. Jika penerbit mengukur segala naskah berdasarkan pertimbangan komersial, ujungnya jatuh pada persoalan ekonomi. Penerbit tak punya idealisme dan komitmen kultural. Orientasinya satu: keuntungan material.
***
Sastrawan Sunda mengada lantaran menyeruak panggilan tanah kelahiran. Itulah idealisme kultural yang menciptakan kegelisahan anak kandung-budaya, bukan sebagai si Malin Kundang. Pembacanya hadir karena ada dorongan kultural untuk memaknai ibu-budaya yang melahirkan dan membesarkannya. Di situlah pasang- surut perkembangan kesusastraan, sering ditentukan oleh kondisi sosial-budaya zaman. Pada awal zaman Orde Baru kesusastraan Sunda mengalami booming. Ajip Rosidi dalam esainya, “Situasi Sastra Sunda Masa Kini” (Budaja Djaja, No. 2, Th. I, Djuli 1968), menyinggung persoalan itu. Menurutnya, situasi sastra Sunda ketika itu berbeda dengan kondisi zaman sebelumnya (1960—1965). Pada tahun 1965—1966, banyak pengarang Sunda bermunculan. Tidak sedikit pula karya sastra (Sunda) yang diterbitkan. Belum lagi puisi, cerpen, atau cerita bersambung yang dimuat suratkabar dan majalah. Dalam pengamatan Ajip, penerbit akan lebih cepat menjual sebanyak 5000 eksemplar buku (sastra Sunda) dibandingkan buku sastra berbahasa Indonesia.
Jika menengok ke belakang, masyarakat Pasundan memang punya tradisi sastra yang kokoh. Sastra lisan –termasuk folklore—sampai kini masih menjadi bagian kehidupan keseharian masyarakat. Dalam sastra Sunda modern pun, novel Baruang ka nu Ngarora (1914) karya DK Ardiwinata terbit mendahului novel-novel Balai Pustaka. Azab dan Sengsara Seorang Gadis karya Merari Siregar yang dianggap novel berbahasa Melayu pertama yang diterbitkan Balai Pustaka, terbit tahun 1920.
Secara kuantitas, pengarang dan karya berbahasa Jawa dan Sunda, jauh lebih banyak dibandingkan pengarang dan karya berbahasa Melayu. Selama enam tahun (1911—1916), Commissie voor de Inlandsche School en Volkslectuur (Komisi untuk Bacaan Sekolah Pribumi dan Bacaan Rakyat) yang didirikan tahun 1908, menerima 598 naskah berbahasa Jawa, 204 berbahasa Sunda, dan 96 berbahasa Melayu. Gencarnya para pengarang mengirimkan naskah ke lembaga itu memaksa pemerintah Belanda mengganti nama menjadi Kantoor voor de Volkslectuur (Kantor Bacaan Rakyat) yang kemudian lebih dikenal dengan nama Balai Pustaka (1917).
Meski selepas itu Balai Pustaka memilih menerbitkan naskah berbahasa Melayu, komunitas sastrawan dan pendukung sastra Sunda, masih memperlihatkan kesemarakannya. Terbitnya beberapa suratkabar dan majalah berbahasa Sunda, seperti mingguan Sora Pasoendan (1914—1918), bulanan Papaes Nonoman (1914—1919), suratkabar Sipatahoenan (1923—1971), mingguan Sora Soenda (1923), Parahiangan (1929—1942), Sora Ra’jat Merdeka (1931—1932) yang memuat karya sastra Sunda, termasuk cerita bersambung (feuilletton) menunjukkan bahwa sastra Sunda sudah berkembang baik ketika itu. Bahkan, mengingat pentingnya peranan mingguan Parahiangan dalam melahirkan sastrawan Sunda, M.A. Salmoen menyebutkan adanya Angkatan Parahiangan dalam kesusastraan Sunda.
Sebagai perbandingan, antara tahun 1914—1942, Balai Pustaka menerbitkan tidak lebih dari 50-an novel berbahasa Melayu. Sementara novel berbahasa Sunda yang terbit dalam rentang waktu yang sama berjumlah tidak kurang dari 40-an buah. Jadi, secara kuantitas penerbitan novel berbahasa Sunda hampir mendekati penerbitan novel Balai Pustaka. Artinya, tradisi penerbitan sastra Sunda, punya reputasi baik. Tentu saja tradisi yang reputasional itu tidak akan mudah hilang.
***
Jika tahun 1968, Ajip Rosidi optimis atas perkembangan sastra Sunda, lewat dua dasawarsa kemudian, dalam sambutan –berbahasa Sunda—pemberian Hadiah Sastra Rancage pertama (1989), Ajip tidak dapat menyimpan keprihatinannya. Dikatakan, di Bandung hanya ada satu toko buku yang menjual buku berbahasa Sunda. Toko buku lain tak ada yang berani menerima buku-buku berbahasa Sunda. Alasannya: tak ada yang membeli dan cuma mempersempit (ruang) saja. Apa yang terjadi kemudian?
Pemberian Hadiah Sastra Rancage, memicu perkembangan kesusastraan Sunda secara luar biasa. Setiap tahun terbit sejumlah buku sastra Sunda, berupa antologi puisi atau cerpen, dan novel. Setiap tahun grafiknya cenderung meningkat kuantitas dan kualitasnya. Sastrawan-sastrawan muda pun bermunculan. Selain nama Yus Rusyana dan sastrawan seangkatannya yang mulai surut ke belakang dan digantikan posisinya oleh sastrawan generasi Tatang Sumarsono, seperti Godi Suwarna, Juniarso Ridwan, Acep Zamzam Noor, Etty RS, Soni Farid Maulana, muncul pula nama –sekadar menyebut beberapa—Deden Abdul Aziz, Dadan Sutisna, dan Chiye Retty Isnendes.
Jelas, pemberian Hadiah Sastra Rancage sejak 1989 hingga kini, telah menumbuhkan kegairahan kreatif sastrawannya. Meski dalam setahun penerbitan buku sastra Sunda tidak pernah mencapai angka 20, setidaknya karya sastra yang memperoleh Hadiah Sastra Rancage, telah melewati seleksi dan penilaian yang ketat. Demikian juga, meski nama baru dalam setiap tahun masih dapat dihitung dengan jari, dapat dipastikan, regenerasi sastrawan Sunda akan bergulir secara alamiah. Jika pun dalam setahun hanya muncul satu nama, ia tetap punya arti penting bagi sebuah proses regenerasi.
Kesemarakan itu makin berpengaruh luas ketika Yayasan Kebudayaan Racage, sejak tahun 1993 memberi Hadiah Samsudi untuk bacaan anak-anak. Sejak tahun 1998 cakupannya diperluas dengan memberikan hadiah kepada karya sastra dan sastrawan Jawa dan Bali. Jadi, penghargaan bagi sastrawan Sunda, Jawa, dan Bali, juga bermakna legitimatif atas pentingnya sastra daerah. Bagi kesusastraan Sunda sendiri, langkah Paguyuban Pasundan yang juga memberi Hadiah DK Ardiwinata untuk naskah buku yang belum diterbitkan, punya makna lain bagi perkembangan kesusastraan Sunda di masa depan.
***
Bagaimana kualitas karya yang memperoleh penghargaan itu? Apakah itu siasat untuk menunjukkan keberadaan sastra Sunda dalam arus deras sastra Indonesia? Bagaimana pula sastrawan Sunda menerjemahkan wawasan estetiknya? Apakah sekadar melanjutkan tradisi lisan, folklore, dan kisah supernatural yang hingga kini masih hidup dalam mitologi orang Sunda?
Andai saja dulu bahasa Sunda diangkat sebagai bahasa Indonesia, maka novel Baruang ka nu Ngarora (1914) karya DK Ardiwinata tentu menjadi monumen dalam perjalanan sastra Indonesia. Meski begitu, dibandingkan Azab dan Sengsara dan novel Balai Pustaka yang terbit sebelum merdeka, Baruang ka nu Ngarora tetap menunjukkan keunggulannya. Penokohannya tidak karikaturis, konflik kelas sosial priyayi —pedagang –lebih merepresentasikan problem sosiologis masyarakat Sunda. Bagaimana priyayi yang jadi sumber bencana rumah tangga Ujang Kusen—Nyi Rapiah, tetap hidup bahagia, sementara Ujang Kusen dan Nyi Rapiah, justru jadi pecundang. Di luar persoalan tematik, pesona bahasa Sunda dalam narasi, deskripsi latar material—sosial, dan dialog yang memperlihatkan kelas sosial –melalui undak-usuk bahasa—menjadikan novel itu tampil sebagai novel modern dalam segala hal.
Novel Sunda lain yang awal, Carios Agan Permas (1926) karya Yuhana menegaskan keberpihakan pengarang atas nasib wong cilik. Di akhir cerita, semangat membela rakyat kecil diwujudkan melalui usaha membangun rumah sakit untuk orang miskin, memelihara anak yatim dan orang jompo. Secara intrinsik pengarang berkisah melalui dua alur cerita yang berliku, yang dalam novel Indonesia digunakan Nur Sutan Iskandar (Hulubalang Raja, 1934) dan Nh Dini (Pada Sebuah Kapal, 1973). Jika dicermati, tampak juga pengaruh kisah Ciung Wanara dan Sangkuriang dengan pola inisiasi model cerita Panji. Tentu kita masih dapat menderetkan novel Sunda lainnya yang punya banyak keunggulan, seperti Matri Jero (1928) dan Pangeran Kornel (1930) karya R. Memed Sastrahadiprawira.
Salah satu kekuatan –dan kekhasan—sastra Sunda terpancar pada rasa bahasa yang memesona. Ia secara inheren melekat pada berbagai kecap anteran, morfem yang berfungsi menegaskan atau menambah kesan tertentu. Kecap anteran tak punya makna leksikal, tetapi kehadirannya penting untuk memberi bobot semantik. Kekayaan puisi Sunda (modern) salah satunya terletak pada keindahan bunyi kecap anteran ini, di samping pemanfaatan diksi yang juga sarat nuansa makna. Rasa bahasa itulah yang juga banyak dieksploitasi sastrawan Sunda untuk membangun narasi dalam cerpen atau novel. Dari sudut itu saja, sastra Sunda punya keleluasaan melakukan eksplorasi potensi bahasa.
Tetapi, bahasa apa pun yang digunakan, tetap akan gagal jadi karya baik jika pengarang tak pandai membangun kisahan, tak cerdas menyiasati alur cerita, malas mencari bahan, dan sekadar mengandalkan bakat alam. Jika begitu, ia tetap bergeming sebagai medioker. Dan itu tidak terjadi pada sastrawan Sunda. Periksa saja novel-novel Tatang Sumarsono. Demung Janggala, pemenang Hadiah Rancage 1994 ini, kaya unsur sejarah dengan narasi yang membuai. Latar sejarah dikemas menjadi potret sosial yang menggambarkan berbagai karakter manusia. Tatang tentu harus membongkar arsip tentang Dipati Ukur, Sultan Agung, kerajaan Mataram, dan kondisi masyarakat Pasundan abad ke-17.
Dalam Galuring Gending, pemenang Hadiah Rancage 2002, Tatang tidak menafsir fakta sejarah. Ia membuat “sejarah” melalui pemotretan tokoh Sarah atas peristiwa seputar kejatuhan Orde Baru. Di sana ia seperti sengaja pamer kepiawaian bercerita lewat berbagai teknik. Selain detail fisiologis tokoh-tokohnya, latar tempat, suasana dan kultural dalam berbagai gaya dialog, juga coba memanfaatkan teknik stream of consciousness. Bagi saya, Galuring Gending merupakan novel besar. Kualitasnya boleh disandingkan dengan novel Indonesia, bahkan juga dengan novel dunia.
Kekuatan cerpen—novel Sunda sejak Ardiwinata, Dyah Padmini, Tatang Sumarsono, Dadan Sutisna adalah kepiawaian mendongeng yang tidak meninggalkan deskripsi latar (tempat—sosial—kultural). Maka, ketika tokoh Sarah, Rodiah atau siapa pun, dimunculkan, terbayanglah sosok manusia dengan asesoris pakaian dan gaya bicara khas Sunda atau mewakili status sosial tertentu. Cerpen—novel Sunda cenderung tidak meninggalkan cantelan sosio-kultural. Di sinilah sastra Sunda dapat dimaknai sebagai representasi orang Sunda dalam berhadapan dengan masyarakat dan kebudayaannya. Usaha penerjemahan khazanah sastra Sunda ke dalam bahasa Indonesia sesungguhnya dapat digunakan sebagai pintu masuk bagi masyarakat etnik lain untuk memahami sosiologi dan kultur orang Sunda.
*) Pengajar Kesusastraan Sunda di FIB-UI, Depok.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel GarcÃa Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar