Rabu, 14 Januari 2009

Najib Tun Razak: Memelihara Bahasa yang Agung

Abdul Malik
http://batampos.co.id/

Menutup tahun 2008, pada 22—24 Desember 2008 Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) menyelenggarakan Konvensyen ke-9 di Hotel Holliday Inn, Melaka, Malaysia. Pada acara Konvensyen yang megah itu pulalah kembali bergema kalimat bernas Charles de Secondat Baron de Montesquieu (1689—1755), “Bahasa ialah ciri agung suatu identitas kebudayaan. Selama suatu bangsa ... tak kehilangan bahasanya, bangsa itu tetap memiliki harapan.” Dengan ucapannya itu, Montesquieu hendak menegaskan bahwa suatu bangsa boleh jadi pernah terkena musibah: terjajah, krisis ekonomi, krisis politik dan kepemimpinan, dihantam bencana alam yang besar sehingga porak-poranda, dan sebagainya; tetapi kalau mereka tak kehilangan bahasanya—dalam arti tak beralih kepada bahasa bangsa lain—bangsa tersebut akan dapat bangkit kembali membangun dan menuju kejayaan. Itulah peran penting bahasa-sendiri bagi suatu bangsa.

Kali ini pastilah kalimat itu tak keluar langsung dari mulut Montesquieu, tetapi dari pidato tanpa teks tertulis Dato’ Sri Mohammad Najib bin Tun Haji Abdul Razak, Wakil Perdana Menteri Malaysia, yang jika tak ada aral melintang akan menjadi Perdana Menteri (PM) Malaysia kurang dari tiga bulan ke depan, ketika meresmikan Konvensyen, Rabu, 24 Desember 2008. Pidato putra mantan PM Malaysia, Tun Haji Abdul Razak, itu sangat memukau dan menginspirasi semua peserta Konvensyen. Bagaimanakah persisnya Dato’ Sri Najib mengungkapkan hal itu dan apakah yang melatarbelakanginya?

Najib sangat terkesan setelah mengikuti perkembangan DMDI dan mendengarkan laporan Presiden DMDI, yang juga Ketua Menteri Melaka (sama dengan gubernur kalau di Indonesia) Dato’ Muhammad Ali bin Haji Muhammad Rustam. DMDI yang sembilan tahun lalu hanyalah organisasi sederhana kini anggotanya sudah meliputi seluruh dunia. Pelbagai bantuan kemanusiaan sudah, sedang, dan terus diberikan kepada anggotanya meliputi bantuan pendidikan, kesehatan, perekonomian, dan lain-lain. Anak-anak korban tsunami Aceh, misalnya, diberikan beasiswa dari pendidikan dasar sampai mereka menamatkan pendidikan di perguruan tinggi.

Kini DMDI sudah memiliki aset berupa tanah yang tersebar di banyak negara di dunia. Dalam Konvensyen itu juga diresmikan lembaga keuangan “DMDI Finance House” dengan modal awal 210 juta ringgit Malaysia, yang Gubernur Kepulauan Riau Ismeth Abdullah menjadi salah seorang pengurus utamanya (wakil ketua?). Hal itu juga membanggakan kita karena pemimpin Kepulauan Riau diberi kepercayaan memimpin organisasi berkelas dunia. Rencana luar biasa lainnya yang juga akan direalisasikan oleh DMDI ialah membangun jembatan terpanjang di dunia yakni lebih kurang 53 km menghubungkan Kota Melaka, Malaysia dengan Kota Dumai, Propinsi Riau, Indonesia, yang diperkirakan menelan biaya 11 miliar dolar Amerika. Tujuan utama pembangunan jembatan itu ialah untuk lebih mempererat hubungan silaturrahim sesama Melayu dan bangsa-bangsa lainnya, di samping untuk melakukan akselerasi pembangunan ekonomi dan perdagangan di kawasan Melayu.

Apakah dampaknya bagi bangsa Melayu jika semua rencana itu dapat direalisasikan? Yang pasti, orang Melayu akan diperhitungkan dalam pergaulan masyarakat dunia. Dengan begitu, dapatlah kita menegakkan kepala dan mengacungkan jempol untuk mengatakan, “Melayu boleh!” Semua serba mungkin, mengapa tidak. Asal kita betul-betul melaksanakannya secara ikhlas, bertanggung jawab, bekerja keras, dan mengutamakan kebersamaan seperti yang diajarkan oleh nilai-nilai terala (luhur) budaya Melayu. Tak heranlah jika ada peserta Konvensyen menyarankan DMDI agar menggunakan mata uang sendiri seperti bangsa-bangsa Eropa untuk mempercepat menuju puncak kejayaan Melayu kembali. Saya memang menaruh harapan akan hal ini dan sangat optimistis karena DMDI kebetulan dipimpin oleh Malaysia. Bukankah orang Melayu Malaysia sudah membuktikan kepada dunia bahwa dengan kerja keras mereka akan menjadi bangsa yang maju?

Dalam konteks itulah Dato’ Sri Najib Tun Razak mengatakan bahwa apa pun kejayaan yang telah diraih, orang Melayu tak boleh melupakan bahasa Melayu yang agung. Mengapa? Bahasa Melayu itulah yang mampu mengantarkan orang Melayu ke tangga kejayaan sehingga setara dengan bangsa-bangsa lain. Pasalnya, bahasa Melayu adalah kehidupan orang Melayu itu sendiri, nurani dan pikiran orang Melayu. Kejayaan Melayu sejak Sriwijaya menguasai seluruh Asia Tenggara memang ditandai dengan dipergunakannya bahasa Melayu untuk semua bidang kehidupan: pergaulan sehari-hari, perdagangan, ekonomi, politik, agama, ilmu pengetahuan, dan sebagainya.

Temuan mutakhir neuropsikolinguistik (ilmu yang mengaitkan kemampuan berbahasa manusia dengan fungsi otak) membuktikan bahwa suatu bangsa hanya akan mencapai kemampuan maksimalnya dalam pelbagai bidang jika bangsa itu menggunakan bahasanya sendiri. Jika suatu bangsa menggunakan bahasa asing sebagai alat untuk mencapai kemajuan, mereka tak akan mampu mengatasi bangsa yang bahasanya dipinjam itu. Artinya, jika bangsa Melayu menggunakan bahasa Inggris untuk keperluan hidupnya, misalnya, bangsa Melayu tak akan pernah mampu meraih prestasi menyamai, apalagi mengatasi, bangsa Inggris. Pasalnya, bahasa manusia bertumbuh dan berkembang bersama dan di dalam kebudayaan. Walaupun begitu, orang Melayu boleh belajar dan menguasai seberapa banyak pun bahasa asing, asal mampu, untuk memudahkan berkomunikasi dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini, tetapi bahasa Melayu haruslah menjadi bahasa utama kalau kita tak hendak ketinggalan atau ditinggalkan. Jadi, jangan remehkan bahasa sendiri sebab buruk padahnya bagi generasi.

Dengan dasar itulah, DMDI menyelenggarakan pengajaran bahasa Melayu bagi anggotanya yang menjadi minoritas dan tak dapat lagi berbahasa Melayu di negara-negera Afrika Selatan, Bangladesh, Kamboja, dan lain-lain. Upaya yang dilakukan itu sudah banyak menuai keberhasilan.

Bersempena dengan Konvensyen ke-9 itu juga, pada hari kedua, Rabu, 23 Desember 2008 Biro Sosio-Budaya DMDI menyelenggarakan seminar kebudayaan. Saya berkebetulan dipercaya mewakili Wakil Gubernur Kepulauan Riau yang juga Ketua DMDI Propinsi Kepulauan Riau, H. Muhammad Sani, yang berkebetulan tak dapat hadir pada saat itu, membawa makalah “Kepeloporan Raja Ali Haji dalam Bidang Ilmu Pemerintahan di Dunia Melayu.” Berdasarkan pembahasan dalam seminar, Biro Sosio-Budaya DMDI merekomendasikan pengajaran matematika dan sains di Malaysia harus tetap diberikan dalam bahasa Melayu. Rekomendasi itu diberikan bukan atas dasar emosional, melainkan benar-benar dengan landasan ilmiah ilmu bahasa, khususnya neuropsikolinguistik, agar bangsa Melayu tak terperosok ke jalan yang salah.

Layar sudah terkembang, maka surut kita berpantang. Untuk itu, orang Melayu, tanpa kecuali, harus terlibat dalam pelayaran tamadun ini sesuai dengan kemampuan masing-masing agar kita segera sampai ke pulau yang dimatlamatkan. Mereka yang sudah mendapatkan Anugerah Tun Perak, Anugerah Tun Fatimah, dan Anugerah Hang Tuah lebih-lebih harus mengambil berat akan tugas ini karena dipercaya mampu membawa orang Melayu ke tangga kejayaan. Adalah ironis jika anugerah tinggal anugerah, tetapi tak ada yang dikerjakan. Sudah saatnya kita mengepalkan tangan ke atas dan meneriakkan, “Melayu boleh!”

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati