Nurel Javissyarqi*
http://media-sastra-indonesia.blogspot.com/
Saya menyebut kebertemuan itu mengikat. Fokus pandangan yang dipersatukan dari awalnya tidak dibingkai pigura penalaran. Sedangkan jarak sebelum bertemu, tercipta dari rentetan waktu-waktu lembut yang memiliki kemungkinan campuran, semacam takdir yang diterima.
Pengetahuan tersebut muncul saat bergerak ke satu titik yang dituju. Atau harapan yang pernah diperkirakan, walau yang dimungkinkan tidak sama persis di tempat bertemunya. Karena keinginan menyatukan pandangan dari hempasan ombak (: obyektif) atas dorongan subyektif.
Ketika kereta api berjalan ke arah kita berdiri, lebih dekat tentu terjadi, kecuali kesalahan mesin sehingga tidak dapat mendekat. Tetapi saat berjalan normal, perkiraan bisa ditulis atas tahap-tahapnya. Yang sedang diproses dari realitas sekarang, merupakan jalannya waktu-waktu kesadaran.
Kebertemuan hadir membawa tubuh kesadaran, dan tidak bermakna saat kesadaran lepas atau kendor. Kesadaran mengangkut segugus pandangan bertemu, sedang perasaan yang terkandung akan membentuk suasana mental.
Kalau kebertemuan tertunda, perasaan yang tersendat akan membawa dampak bagi penelaah. Jelasnya, makna yang terjadi menyunggi beban misteri, sejenis meleburkan debu penerimaan menjelma keberadaan, atau gegaris yang tidak tampak menjadi jelas dikala berjumpa.
Kebertemaun itu penampakan yang menjumput satuan waktu dengan waktu yang lain dipersatukan, sedangkan ruang menjadi ikatan benar dalam menelisik menuju keakraban.
Kebertemuan ialah memaknai. Di mana hidup sebagai pencarian makna atau dengan makna, manusia bergerak menguliti kebenaran atau pun dorongan pembenaran. Dan makna menempel guna dirasai.
Tidak ada maksud jika kehidupan tidak memantulkan faedah, maka perasaan yang tampil dari diri yang aktif dapat menggosok penalaran. Sehingga analisanya membentuk nilai-nilai yang diintip sejauh mata melejit, setubuh gagasan berbanding menjulang.
Atau pertemuan itu saling memaknai yang menghasilkan nilai, makna baru setelah kepaduan pun persinggungan. Dalam sudut saling tumpang-tindih menjadi tahapan dari jarak kedekatan pertemuan akan nilai-nilai tambah.
Dan pembentuk keselaraan dari pengurangan serta penambahan warna, atau menggali nilai-nilai sejati sebelum bermakna lebih, dengan suatu pengertian bahwa pertemuan itu fitroh menghasilkan.
Olehnya, gerak dorongan kuat dari perasaan terpendam, sangat menentukan kebertemuan nanti melengkapi atau sekadar. Bergeraklah sungguh, apa yang sedang tampil ingin dimaknai, sebelum luput tidak menjadi. Inilah jalinan interaksi menghamili kejadian, mengeluarkan bobot pada tempat kepastian.
Kebertemuan itu pengembangan jiwa ke arah purna sebab rencana, menggugah ingatan dari tahap perencanaan sedurung datang waktu yang lapang. Maka melangkahlah demi kemudahan mengembangkan sayap-sayap kemungkinan mencapai tetinggian. Dan singgahlah di tempat akrab, oleh perjumpaan awal itu kenangan yang disimak berulang, serta banyak faedah yang dipetik dikapan waktu pun di mana saja.
Kebertemuan awal ialah berkah tidak terjadwal, meski bermula dari anganan rencana. Seperti melihat matahari, namun tak tahu besok memandangnya bagaimana, serta dalam kapasitas kejiwaan serupa apa. Sebab kebertemuan merupakan kebaharuan yang terus melintasi padang pengetahuan, bercengkerama nilai-nilai yang tertandakan.
Inilah ingatan, memasuki ruang yang pernah disinggahi dengan bobot tertentu, ukuran serta daya warna yang ditampilkan berlainan dari semula. Di sini penugasan kerja keinginan yang dikembarakan, rindu pertemuan.
Telinga hati yang telah dimasuki memori, mengambang di awang-awang bawah sadar, tentunya waktu bertetap rupa keinginan masa lalu dapat diatasi. Dan terangkat kembali ke bundaran perencaan lebih tinggi dari sapaan.
Sapaan pun bisa berupa garam yang ditaburkan dalam gelas berisikan air. Larutnya itu mengejawantah, pengekalan rasa berhamburan kerja. Larutnya garam ialah persetubuhan jiwa-raga, persatuan rasa dari daya cipta saling menerima.
Kebertemuan bukanlah penolakan, meski di sisi lain ada. Ketidaksefahaman bukan berarti menerus, jika sudih menghadirkan sisi-sisi perbedaan sebagai batu gesek mencipta nilai-nilai baru. Maksud jauh dari itu, kebertemuan akan menggagalkan keraguan yang menseponsori jiwa untuk menggeliat berkesungguhan, memadati sendi nilai demi diwujudkan nilai lebih.
Ini menarik ulang sejauh penerimaan dan penantian. Penantian itu pokok dari pertemuan, kilatan cahaya realitas akan datang. Penantian sejenis bara bersiap menjilat, sekali sapaan mendatangkan kebugaran fitroh alamiah.
Alan Linghtman dalam novelnya Einstein’s Dreams, berujar: Di dunia ini waktu seperti aliran air, kadang terbelok oleh secuil puing, oleh tiupan angin sepoi-sepoi. Entah kini atau nanti, gagasan kosmis akan menyebabkan anak sungai waktu berbalik dari aliran utama menuju ke aliran sebelumnya. Ketika hal itu terjadi, burung-burung, tanah dan orang-orang yang berada di anak sungai itu, menemukan diri mereka tiba-tiba terbawa ke masa silam.
Saya teringat kawan-kawan yang bermimpi kelaknya menjadi penyair dahsyat seperti yang dikaguminya. Apakah ini bukan pengulangan? Maka lantas saya tarik pengertian, bahwa perevisian lebih berarti sebuah karya pembetulan, bukannya membetulkan.
Apa yang mereka dapat dari impian mendompleng bayang-bayang sejarah, apalagi bayangannya begitu panjang. Hendaknya faham sekaligus berani keluar dari kungkungan lain pun diri sendiri.
Tidak bisa kita berdiri di samping patung jika tidak dianggap patung juga. Olehnya, melangkahlah menjalani realitas bukan sekadar impian di ruang pengab berjubel gagasan. Tidakkah sebuah kamus hanya berarti satuan pandang dokumentasi. Sedangkan pergerakan hawa yang senantiasa, lebih lincah menggeliat.
Di sini harus menemukan angin yang termiliki, agar yang terkerjakan bukan sekadar kehendak bayang-bayang kuasa sesaat. Memang berat rasanya menegakkan rumput patah, tapi sekiranya rumput selalu hidup. Ini bukan kesuburan sia-sia, ketika menanggalkan lelah perjalanan jauh, atau pandanglah kebertemuan bukan sekadar, namun terus membiak laksana rumput mengabadi.
Saat mengetahui suatu karakter dan mengagumi atau sebaliknya. Di situ tidak menemukan diri selain rantai kesamaan, tetapi dikala menggali kemungkinan lain yang jelas tidak tertandakan ingatan, di sanalah mendapati percepatan bayang yang tidak harus dimaknai sendiri. Sebab akan habis jika hanya berkutat pada kubangan yang sama, semisal mati berkai-kali yang tidak memberi makna kesadaran.
Saat berani keluar dari perhitungan diri pun mereka, membebas lebih merdeka menanjaki realitas sesungguhnya. Jalan-jalan yang meski ada kesamaan sebelumnya, saat itu usahakan menerima juga menolaknya. Menerima bagi pelajaran, menolaknya sebagai pengetahuan lain, yang sejatinya membentuk pengertian diri bagi sesama.
Di sini pencarian murni bukan dibuat-buat sebab mendompleng perjalanan sejarah yang dikagumi, niscaya juga sampai ke sana. Namun berapa banyak yang terperoleh atas yang terambil dari yang lain.
Saya berharap awal judul di atas bisa keluar dari sana. Ini bukan pengingkaran alami atau perputaran mutlak, saat belum mampu menyebut yang belum bersebut. Sebab ada hukum yang tidak perlu dimaknai akan tetapi terasakan, ada tanda-tanda yang tak bisa dibuatkan penanda dengan ketepatan.
Sebaik-baik penanda tidak mudah merangkum kejiwaan tanda-tanda, apalagi yang masing menggejala di alam sukma, bathinnya itu hanya bisa diraih manusia sepenggal saja. Kiranya harus mewas pada kata-kata, apalagi janji-janji, kalau yang pertama belum masuk kategori nalar realita.
Lebih jauh memang memberat, nyatanya mulai menemukan sebersit sinar yang turut ke ujung kemurnian harapan, yang bukan dari mimpi sebelumnya, apalagi dari mimpi orang lain. Dari sini harus melangkahkan kaki sendiri, menghitung-mengolah sebagai pengetahuan anyar.
Ketika memikul beban, usahakan bukan pendapatan orang lain, dan jangan seperti milik sendirian. Tuhan menciptakan berjenis-jenis insan serta ragam warna, guna membedakan campuran dari wewarna alamiah. Dan sang pencari menjelma warna campuran yang belum bernama.
-------------
*) 2006. 08. Lamongan – Bogor . Pengelana asal Lamongan, Jawa Timur, Indonesia.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel García Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar