Rabu, 14 Januari 2009

FILOSOFIS KEBERTEMUAN, MIMPI DAN PENCARIAN

Nurel Javissyarqi*
http://media-sastra-indonesia.blogspot.com/

Saya menyebut kebertemuan itu mengikat. Fokus pandangan yang dipersatukan dari awalnya tidak dibingkai pigura penalaran. Sedangkan jarak sebelum bertemu, tercipta dari rentetan waktu-waktu lembut yang memiliki kemungkinan campuran, semacam takdir yang diterima.

Pengetahuan tersebut muncul saat bergerak ke satu titik yang dituju. Atau harapan yang pernah diperkirakan, walau yang dimungkinkan tidak sama persis di tempat bertemunya. Karena keinginan menyatukan pandangan dari hempasan ombak (: obyektif) atas dorongan subyektif.

Ketika kereta api berjalan ke arah kita berdiri, lebih dekat tentu terjadi, kecuali kesalahan mesin sehingga tidak dapat mendekat. Tetapi saat berjalan normal, perkiraan bisa ditulis atas tahap-tahapnya. Yang sedang diproses dari realitas sekarang, merupakan jalannya waktu-waktu kesadaran.

Kebertemuan hadir membawa tubuh kesadaran, dan tidak bermakna saat kesadaran lepas atau kendor. Kesadaran mengangkut segugus pandangan bertemu, sedang perasaan yang terkandung akan membentuk suasana mental.

Kalau kebertemuan tertunda, perasaan yang tersendat akan membawa dampak bagi penelaah. Jelasnya, makna yang terjadi menyunggi beban misteri, sejenis meleburkan debu penerimaan menjelma keberadaan, atau gegaris yang tidak tampak menjadi jelas dikala berjumpa.

Kebertemaun itu penampakan yang menjumput satuan waktu dengan waktu yang lain dipersatukan, sedangkan ruang menjadi ikatan benar dalam menelisik menuju keakraban.

Kebertemuan ialah memaknai. Di mana hidup sebagai pencarian makna atau dengan makna, manusia bergerak menguliti kebenaran atau pun dorongan pembenaran. Dan makna menempel guna dirasai.

Tidak ada maksud jika kehidupan tidak memantulkan faedah, maka perasaan yang tampil dari diri yang aktif dapat menggosok penalaran. Sehingga analisanya membentuk nilai-nilai yang diintip sejauh mata melejit, setubuh gagasan berbanding menjulang.

Atau pertemuan itu saling memaknai yang menghasilkan nilai, makna baru setelah kepaduan pun persinggungan. Dalam sudut saling tumpang-tindih menjadi tahapan dari jarak kedekatan pertemuan akan nilai-nilai tambah.

Dan pembentuk keselaraan dari pengurangan serta penambahan warna, atau menggali nilai-nilai sejati sebelum bermakna lebih, dengan suatu pengertian bahwa pertemuan itu fitroh menghasilkan.

Olehnya, gerak dorongan kuat dari perasaan terpendam, sangat menentukan kebertemuan nanti melengkapi atau sekadar. Bergeraklah sungguh, apa yang sedang tampil ingin dimaknai, sebelum luput tidak menjadi. Inilah jalinan interaksi menghamili kejadian, mengeluarkan bobot pada tempat kepastian.

Kebertemuan itu pengembangan jiwa ke arah purna sebab rencana, menggugah ingatan dari tahap perencanaan sedurung datang waktu yang lapang. Maka melangkahlah demi kemudahan mengembangkan sayap-sayap kemungkinan mencapai tetinggian. Dan singgahlah di tempat akrab, oleh perjumpaan awal itu kenangan yang disimak berulang, serta banyak faedah yang dipetik dikapan waktu pun di mana saja.

Kebertemuan awal ialah berkah tidak terjadwal, meski bermula dari anganan rencana. Seperti melihat matahari, namun tak tahu besok memandangnya bagaimana, serta dalam kapasitas kejiwaan serupa apa. Sebab kebertemuan merupakan kebaharuan yang terus melintasi padang pengetahuan, bercengkerama nilai-nilai yang tertandakan.

Inilah ingatan, memasuki ruang yang pernah disinggahi dengan bobot tertentu, ukuran serta daya warna yang ditampilkan berlainan dari semula. Di sini penugasan kerja keinginan yang dikembarakan, rindu pertemuan.

Telinga hati yang telah dimasuki memori, mengambang di awang-awang bawah sadar, tentunya waktu bertetap rupa keinginan masa lalu dapat diatasi. Dan terangkat kembali ke bundaran perencaan lebih tinggi dari sapaan.

Sapaan pun bisa berupa garam yang ditaburkan dalam gelas berisikan air. Larutnya itu mengejawantah, pengekalan rasa berhamburan kerja. Larutnya garam ialah persetubuhan jiwa-raga, persatuan rasa dari daya cipta saling menerima.

Kebertemuan bukanlah penolakan, meski di sisi lain ada. Ketidaksefahaman bukan berarti menerus, jika sudih menghadirkan sisi-sisi perbedaan sebagai batu gesek mencipta nilai-nilai baru. Maksud jauh dari itu, kebertemuan akan menggagalkan keraguan yang menseponsori jiwa untuk menggeliat berkesungguhan, memadati sendi nilai demi diwujudkan nilai lebih.

Ini menarik ulang sejauh penerimaan dan penantian. Penantian itu pokok dari pertemuan, kilatan cahaya realitas akan datang. Penantian sejenis bara bersiap menjilat, sekali sapaan mendatangkan kebugaran fitroh alamiah.

Alan Linghtman dalam novelnya Einstein’s Dreams, berujar: Di dunia ini waktu seperti aliran air, kadang terbelok oleh secuil puing, oleh tiupan angin sepoi-sepoi. Entah kini atau nanti, gagasan kosmis akan menyebabkan anak sungai waktu berbalik dari aliran utama menuju ke aliran sebelumnya. Ketika hal itu terjadi, burung-burung, tanah dan orang-orang yang berada di anak sungai itu, menemukan diri mereka tiba-tiba terbawa ke masa silam.

Saya teringat kawan-kawan yang bermimpi kelaknya menjadi penyair dahsyat seperti yang dikaguminya. Apakah ini bukan pengulangan? Maka lantas saya tarik pengertian, bahwa perevisian lebih berarti sebuah karya pembetulan, bukannya membetulkan.

Apa yang mereka dapat dari impian mendompleng bayang-bayang sejarah, apalagi bayangannya begitu panjang. Hendaknya faham sekaligus berani keluar dari kungkungan lain pun diri sendiri.

Tidak bisa kita berdiri di samping patung jika tidak dianggap patung juga. Olehnya, melangkahlah menjalani realitas bukan sekadar impian di ruang pengab berjubel gagasan. Tidakkah sebuah kamus hanya berarti satuan pandang dokumentasi. Sedangkan pergerakan hawa yang senantiasa, lebih lincah menggeliat.

Di sini harus menemukan angin yang termiliki, agar yang terkerjakan bukan sekadar kehendak bayang-bayang kuasa sesaat. Memang berat rasanya menegakkan rumput patah, tapi sekiranya rumput selalu hidup. Ini bukan kesuburan sia-sia, ketika menanggalkan lelah perjalanan jauh, atau pandanglah kebertemuan bukan sekadar, namun terus membiak laksana rumput mengabadi.

Saat mengetahui suatu karakter dan mengagumi atau sebaliknya. Di situ tidak menemukan diri selain rantai kesamaan, tetapi dikala menggali kemungkinan lain yang jelas tidak tertandakan ingatan, di sanalah mendapati percepatan bayang yang tidak harus dimaknai sendiri. Sebab akan habis jika hanya berkutat pada kubangan yang sama, semisal mati berkai-kali yang tidak memberi makna kesadaran.

Saat berani keluar dari perhitungan diri pun mereka, membebas lebih merdeka menanjaki realitas sesungguhnya. Jalan-jalan yang meski ada kesamaan sebelumnya, saat itu usahakan menerima juga menolaknya. Menerima bagi pelajaran, menolaknya sebagai pengetahuan lain, yang sejatinya membentuk pengertian diri bagi sesama.

Di sini pencarian murni bukan dibuat-buat sebab mendompleng perjalanan sejarah yang dikagumi, niscaya juga sampai ke sana. Namun berapa banyak yang terperoleh atas yang terambil dari yang lain.

Saya berharap awal judul di atas bisa keluar dari sana. Ini bukan pengingkaran alami atau perputaran mutlak, saat belum mampu menyebut yang belum bersebut. Sebab ada hukum yang tidak perlu dimaknai akan tetapi terasakan, ada tanda-tanda yang tak bisa dibuatkan penanda dengan ketepatan.

Sebaik-baik penanda tidak mudah merangkum kejiwaan tanda-tanda, apalagi yang masing menggejala di alam sukma, bathinnya itu hanya bisa diraih manusia sepenggal saja. Kiranya harus mewas pada kata-kata, apalagi janji-janji, kalau yang pertama belum masuk kategori nalar realita.

Lebih jauh memang memberat, nyatanya mulai menemukan sebersit sinar yang turut ke ujung kemurnian harapan, yang bukan dari mimpi sebelumnya, apalagi dari mimpi orang lain. Dari sini harus melangkahkan kaki sendiri, menghitung-mengolah sebagai pengetahuan anyar.

Ketika memikul beban, usahakan bukan pendapatan orang lain, dan jangan seperti milik sendirian. Tuhan menciptakan berjenis-jenis insan serta ragam warna, guna membedakan campuran dari wewarna alamiah. Dan sang pencari menjelma warna campuran yang belum bernama.

-------------
*) 2006. 08. Lamongan – Bogor . Pengelana asal Lamongan, Jawa Timur, Indonesia.

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati