Jumat, 28 November 2008

TRAGEDI RAJA RAMSES II

Haris del Hakim
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Raja Ramses II adalah salah satu penguasa Mesir paling populer pada tahun 3000 SM. Karakternya diabadikan dalam teks kitab suci agama Islam dengan menggunakan gelar Fir'aun.

Ramses digambarkan sebagai penguasa yang tiran dan despotik. Pada masa kekuasaannya terjadi pembunuhan besar-besaran terhadap bayi-bayi laki-laki yang baru lahir. Ramses sama sekali tidak menghiraukan isak tangis orang tua mereka. Semua itu berdasarkan ramalan para dukun istana bahwa salah satu dari bayi itu bakal menjadi musuh yang menyebabkan kematiannya. Ramses tidak mau memiliki musuh. Jangankan musuh, oposisi saja dia tidak dapat menerimanya. Dia ingin menjadi penguasa tunggal tanpa sekutu. Dan pembunuhan bayi-bayi itu adalah cara pintas mematikan benih yang akan berkembang menjadi oposisi.

Pada masa Ramses ini perbudakan yang tidak manusiawi semakin merajalela. Rakyat disuruh bekerja keras membangun istana-istana yang megah dan makam-makam raksasa berupa piramid tanpa upah sepeser pun. Mereka disuruh bekerja keras untuk mengabdi kepada raja dan Negara tanpa tahu apa yang diberikan oleh raja dan Negara kepada mereka.

Dia menciptakan hegemoni budaya dan spiritual yang melanggengkan kekuasaannya. Dia menciptakan stigma yang sistematis yang didukung para cendekiawan dan agamawan, dalam kitab suci agama Islam disebut sebagai tukang sulap. Mereka ini mengedepankan pembangunan-pembangunan yang berhasil dibangun oleh Ramses. Dan yang lebih penting, segala tindakan Ramses disebut sebagai kebaikan yang berdasarkan pada pengetahuan logis dan ajaran-ajaran leluhur negeri Mesir. Sehingga, rakyat merasa senang dalam kekuasaannya atau tidak menolak kekuasaannya. Menurut Amien Rais, Fir'aun menjadi seorang penguasa tiran tidak sekadar karena kemauannya sendiri, tetapi juga didukung oleh penerimaan rakyat Mesir ketika itu (Amien Rais; 1999).

Pada puncak kesombongannya, Ramses mengangkat dirinya sendiri sebagai asas tunggal kebenaran. Bahkan, dia tidak segan-segan mendaku sebagai Tuhan. Dia memiliki kekuasaan dan dapat melakukan apa pun terhadap rakyat dan pembantu-pembantunya.

Karena itu, dia marah besar ketika Musa menyerukan adanya Tuhan selain dia. Musa, yang bagi Ramses adalah anak durhaka dan buronan yang pengecut, anak kecil yang air kencingnya mengotori jubah kebesarannya, bukan keturunan darah biru yang tahu etika-etika keluhuran, hanya anak pungut yang tidak jelas orang tuanya.

Akan tetapi, anak kemarin sore itu berubah menjadi musuh besar yang sangat berbahaya bagi kelangsungan kekuasaannya. Ramses pun mengatur rencana mengalahkan Musa secara politis dan mempermalukannya di depan rakyatnya.

Cara paling mudah adalah beradu kemahiran mempesona rakyat. Musa tidak memiliki lidah yang fasih dan lentur untuk bersilat lidah, sehingga rakyat akan mencemoohnya ketika mendengar bicaranya yang terbata-bata. Sementara Ramses memiliki puluhan tukang sulap yang fasih dan tekun mempelajari ajaran-ajaran kuno. Selain itu, mereka juga memiliki ilmu sulap yang tiada bandingan: tali-tali disulap menjadi ular-ular yang menakutkan.

Pada hari yang ditentukan, Musa dan tukang sulap Ramses bertemu untuk beradu ketangkasan. Rakyat Mesir telah berkumpul menyaksikan pertarungan siapakh sebenarnya wakil kebenaran. Musa menyuruh para tukang sulap beraksi yang segera disambut dengan lemparan tali-temali ke lapangan. Seketika itu semua orang melihat tali-tali berubah menjadi ular dan merambat ke mana-mana hingga membuat banyak penonton yang menjerit. Musa mendapat wahyu untuk melempar tongkatnya yang segera mengenai temali dan orang-orang pun sadar bahwa yang dilemparkan hanya tali dan bukan ular.

Peristiwa itu membuka mata hati banyak orang dan juga para tukang sulap. Mereka seakan sadar bahwa dukungan pada Ramses selama ini hanya semu dan pengabdiannya berdasarkan rasa takut atas kekejamannya. Seketika itu mereka berbalik arah mendukung Musa dan memusuhi Ramses. Akibatnya, mereka dihukum potong salib; dipotong tangan kiri dan kaki kanan atau tangan kanan dan kaki kiri.

Ramses benar-benar marah. Dia bertekad bulat menghancurkan Musa dan pengikutnya. Musa yang tahu rencana itu segera mengumpulkan pengikutnya dan meninggalkan Mesir. Ramses tidak tinggal diam. Dia mengerahkan segenap prajurit istana untuk mengejarnya.

Hingga di tepi Laut Merah tentara Ramses hampir mendapati Musa dan pengikutnya. Tetapi, mukjizat menyelamatkan Musa. Laut terbelah dan mereka menyeberang dengan selamat ke tepian. Setelah semua berhasil menyeberang, lautan kembali seperti sedia kala. Padahal, Ramses beserta tentaranya sedang di sana. Tak ayal lagi, mereka tenggelam di antara gelombang.

Seorang penguasa yang kejam dan mengaku sebagai Tuhan itu ternyata tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Bahkan, dia tidak tahu di mana akan meninggal. Dia telah membangun makam megah namun justru mati di lautan. Piramid-piramid yang dibangun dengan segala kekayaan itu tidak berguna sama sekali.

Ketika itu di antara tukang sulap yang lolos dari hukuman Ramses atau rakyat yang pernah ditindasnya merasa iba dan kasihan pada mantan penguasanya yang sedang gelagapan di antara gelombang dan meregang nyawa. Mereka minta Musa memohon agar Tuhan menyegerakan kematiannya, karena mereka sudah memaafkannya.

Akan tetapi, Tuhan tidak mengampuni kesalahan yang dilakukan Ramses. Manusia dapat memaafkan kesalahannya tetapi Tuhan belum dapat mengampuni orang yang berbuat lalim kepada makhluk-Nya. Meskipun, Ramses telah mengakui Tuhan Musa. Tetapi, sudah terlambat. Puluhan tahun Musa menyeru dia bukan Tuhan yang dapat berbuat semaunya dan sewenang-wenang, tapi dia justru merintangi dan menghalangi kebenaran yang dibawa Musa.

Kesalahan tetap kesalahan. Pemberian maaf untuk kesalahan yang tidak dapat dimaafkan berarti pendidikan bagi generasi yang akan datang untuk melakukan apa saja kemauan mereka tanpa menghiraukan orang lain, karena di saat sakaratul maut mereka akan dimaafkan.***

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati