S.Jai
http://ahmad-sujai.blogspot.com/
INI malam ke ribuan kali. Orang-orang tua itu menghajar mejanya dengan kartu. Bukan untuk mengenang masa silam yang kelam karena matanya, pikirannya cuma tertahan pada angka enam. Kakek-nenek itu tanpa bosan membariskan domino melukis totol macan. Tiada yang diacuhkan. Yang penting malam berlalu tanpa harus tahu untuk apa sebenarnya melaju.
Malam itu telah benar-benar miliknya hingga tak sadarkan diri dipeluknya menjadi bagian hidupnya. Ataukah telah dirangkul malam, menjadi anak kandungnya yang manja bermain kartu di bawah lampu yang sinarnya berbinar jatuh di raut muka?
Diam-diam mengurungnya kembali jadi anak-anak tanpa tahu diri pernah jadi anak-anak. Kakek-nenek itu menemukan lagi arti hidupnya—suatu keasyikan bermain. Mereka lupakan penantian, perburuan, ambisi. Bahkan keputusasaan menghilang. Walau umur yang hampir seratus tahun mengajari itu semua telah saling berhimpitan. Juga kematian.
“Sudahlah, Man Sapar. Bila sudah capai istirahatlah,” ujar lelaki yang biasa dipanggil Abah Matkur.
“Huh, jangan singgung yang satu itu. Kalau sudah mati pasti berhenti,” Man Sapar tersinggung diusik keberadaannya. “Kamu sendiri seperti sudah terima sinyal nggak mau hidup enak. Eh, sudah bau tanah ya?”
“Lho, kalian yang ribut kok aku yang dibawa-bawa. Apa kurang hidangan kopinya? Tiap malam aku yang bikin kopi kok nggak mati-mati,” Sergah Nyi Tanah yang namanya diseret-seret.
Keasyikan mereka terhambat. Permainan pun melambat.
“Aku juga heran. Kenapa kita tidak mati-mati?”
“Ya..ya..”
“Mati aku! Lewat Man.”
“Ngomong apa tadi, Nyi Tanah?”
“Aku mat….”
“Aku jadi tahu sekarang. Nyi Tanah paling takut mati diantara kita. Kartunya banyak dan karena dia perempuan.”
“Apa hubunganya?” protes Nyi Tanah.
“Lho, mati di alam sana giliran Nyi Tanah terima warisan paling sedikit diantara kita.”
“Modar kowe, Bah!”
“Ora biso.”
Di mata tiga orang tua masa lalu tak pernah terungkap sungguh. Sekalipun perlu sekadar hiburan, semisal ketiban sial mengocok kartu dan jadi bahan olok-olok. Masa lalu yang dirangkumnya kuat-kuat dikisahkan atau pun tidak. Bosan? Mungkin ya, barangkali pula tidak. Setidaknya, yang terungkap dari tempat duduknya saban malam, duduk mereka di kursi itu-itu juga. Tak pernah lukir karena bosan, tak sempat hadir di sela hari, jam, detik, peristiwa yang menghampirinya.
Tidak ada hal penting, juga kejadian, pada malam-malam itu saban hari. Lalu untuk apa ini semua? Pengisi waktu belaka? Penantian? Kebingungan? Man Sapar, Nyi Tanah dan Abah Matkur memang sedang tidak mengerti apa-apa. Lantas, tahukah dirinya tengah dilanda azab bernama kebingungan? Mengapa menghabiskan malam-malam percuma bukannya rehat melepas capai oleh sebab esok pagi juga musti kerja? Apakah mereka melakonkan manusia yang dikutuk penyakit menua insomnia, alzaimer, agar bisa melupakan dunia dan seluruh isinya, juga di mana ia pernah berperan?
Hanya mereka yang tahu. Wajar bila sepatah saja tak meloncat kata-kata jawab. Bukan lantaran mereka tak sudi mengungkap segala tanya, tapi karena kesulitan untuk berkata. Mereka tak sanggup merawat kepercayaan pada kata yang bisa saling dipahami sesamanya. Sekantong kata dalam ingatannya ludes digerogoti virus di otaknya.
Pemandangan dahsyat bila itu benar terjadi. Duduk bersanding para tetua yang tidak perlu kata. Hidup di usia tua jadi menggumpal, njlimet seperti akar yang menjulur meresapi sari-sari makan untuk batang tubuh, daun dan buahnya. Di luar umurnya yang tinggal sisa, mereka malah merasa menanggung penantian tanpa putus seperti kartu domino yang sambung-menyambung. Mengejar buruannya yang hingga kini belum tertangkap.
Sampai di tempat paling terdekat dirinya dengan rumah masa depannya—orangorang tua itu memilih tempat terakhir hidupnya dekat-dekat dengan kuburan—bukan cuma agar diri mereka setiap saat bisa mengingat mati.
“Bukan.”
“Lalu?”
“Perburuan. Ya, perburuanlah yang menjerat mereka di sini. Bahkan mereka punya sumbangsih Menyebut jalan ini dan diberinya nama Jalan Tuhan.” Ungkap orang tua yang banyak menyingkap masa lalu serikat kakek-nenek itu. “Kukira tentang ‘Jalan Tuhan’ itu telah banyak yang tahu, orang-orang kampung di sini, terlebih yang telah lanjut usia.”
“Oya? Jadi kita patut cium tangan, dong demi rasa hormat terhadap karya agungnya. Bukankah dengan nama itu seolah tunjukkan pintu langit?”
“Ya, pasti. Banyak orang sependapat dengan kamu. Sekarang lihat, kuburan itu tak hanya dihuni orang kampung sini. Warga kampung sebelah banyak juga dikubur di sini.
Kampung lain pun pesan tempat bila kelak mati. Sampai kuburan sesak dan orang khawatir tak kebagian petak.”
“Ah, atau sebaiknya aku juga pesan mulai sekarang ya, Pak Tua?”
“Ha..ha.. apa nggak sebaiknya kamu pakai bagianku saja. Biar kita bisa ngobrol sama-sama. Minum kopi segelas berdua, biar kamu bisa jawab pertanyaan malaikat untukku, anak muda. Sebab kudengar bahasa Arabmu lumayan juga.” Pak Tua itu meledek. Giginya remuk seperti tonggak bambu ambruk. “Bila orang tahu benar asal mula ‘Jalan Tuhan’ itu, orang bakal lebih hebat tawanya.”
“Begitukah? Ceritakan kepadaku tentang ‘Jalan Tuhan’ itu, Pak Tua.”
“Perjumpaan Nyi Tanah, Man Sapar dan Abah Matkur bermula keinginannya menagih janji Tuhan. Awalnya karena keduanya tahu jodoh itu di tangan Tuhan. Waktu umurnya nyaris tutup, sang jodoh tak kunjung datang. Sebab itu dimulailah perburuan sampai di sini, sampai bertahun-tahun, sampai menyentuh batas harapan dan putus asa. Di sini terus senantiasa hidup sendiri tanpa suami atau istri. Semuanya mereka punya, rumah, pekerjaan. Tapi tidak ada, suami atau istri jodoh yang langgeng, hidup bersama seia-sekata sampai tua untuk kelak di penghidupan yang berikutnya, belum pernah tiba (meski bukan tak pernah mencoba). Kini, saat hari-hari ketiga orang tua itu adalah tapal ambang perburuan dan penantian. Suatu yang belum aku dan kamu mengerti. Barangkali antara menjemukan dan menggairahkan. Atau perpaduan keduanya?,” kisah orang tua yang berbaik hati itu.
“Masalahnya, mengapa orang-orang itu membunuh waktu di meja, bukan di tempat lain?
“Itu tak kumengerti jawabnya. Sekadar reuni, mengatur strategi? Semuanya bisa benar.”
“Reuni?”
“Ya, siapa tahu. Biar kembali lagi ingatan kemudaannya. Menebar kisah lama yang ingin didengar di kalangan mereka sendiri. Ya, siapa tahu bila bocor ke kuping orang lain, berubah kisah sedih, sentimentalia, meski bukan mustahil jadi lelucon. Tapi bagi kuping sendiri malah suatu kegairahan, bermakna justru di usia tuanya. Ya, siapa tahu. Karena mustahil kita mencari tahu pada orang tua yang tak mempercayakan hidupnya pada kata-kata,” paparnya.
“Lantas?”
“Itulah misterinya keberadaan mereka.”
“Ayolah Pak Tua, ceritakanlah padaku apa yang engkau tahu tentang mereka.”
“Kenapa engkau jadi begitu percaya pada ceritaku? Padahal aku tak tahu isi kepala mereka. Kenapa kamu nggak menduga aku cuma mengarang cerita saja, anak muda?” tutur orang tua itu.
“Ayolah bapak banyak makan jalan. Jadi aku percaya.”
Saat terdesak, Pak Tua kembali bercerita. Jadilah kurang lebih seperti ini kisahnya:
Nyi Tanah, perempuan di meja domino itu pemilik rumah. Dulunya ia wanita terpandang, terkaya. Banyak mata berpandan jalang karena sisa kekayaannya masih tak terbilang.
Sebagai pendatang di kampung ini, Nyi Tanah dikenal pekerja keras, banting tulang dan justru tak wajar buat perempuan kebanyakan. Kebiasaannya berkebaya, berganti daster dan penutup kepala—ciri wanita karir di zamannya. Usaha dagangnya melesat maju, makin melambungkan namanya nyaris terbang. Usaha pupuk untuk petani kampung secepat memupuk ekonomi ditingkat subur. Di luar kendali Nyi Tanah tumbuh kukuh jadi juragan. Seorang pendatang, segera menanamkan kukunya. Bermula dari seorang pendatang, ia pun sanggup mendirikan tiga rumah dengan dibangun dari kayu termahal.
Satu lagi kecerewetannya. Kecerewetan malah mengukuhkan jati dirinya yang keras kemauan dan berwatak baja—seorang yang tidak gampang menaruh kepercayaan pada orang lain, apalagi sampai jatuh pada pelukan orang. Bagi lelaki tentu ini kengerian.
Sekalipun suaminya sendiri, terbit rasanya jadi pelayan untuk juragannya. Nyi Tanah beberapa kali menikah, beberapa kali si suami pergi tak kembali. Ada kalanya terusir, sisanya atas permintaan sendiri tanpa disertai ungkapan duka, apalagi arimata Nyi Tanah. Selepas pria keempat atau kelima, Nyi Tanah tanpa basa-basi menyingsingkan lengan bertangan besi. Dia ber diri demi bertahan hidup menyendiri hingga menyongsong usia ke seratus tahun.
Nyi Tanah betah sonder direcoki upaya percobaan bunuh diri. Meski bukan tak lepas dari pasang surut. Nyi Tanah pernah mengubah diri serendah-rendah umat. Melucuti semua baju lembar demi lembar dari yang membungkus kulitnya, kekayaannya, menjatuhkan, meluruhkan kekerasan hatinya, keangkuhannya, pasrah diri demi demi mendapat lelaki yang ia harapkan menjadi jodoh hidupnya. Segala upaya tak ada guna.
Lelaki itu Man sapar, pejantan yang mendapati dirinya, kehebatannya, arti hidupnya, jiwanya, kebebasannya, semangatnya, hiburannya, nafsuny;a serta leluconnya saat terdampar di ladang yang bernama tempat pelacuran. Meski justru Man Sapar ditemukan orang lain di kampungnya, tubuhnya yang kecil, pelamun airmuka merah tegang tak ketinggalan, jauh dari kesar berwatak sosial seperti yang dia obral sendiri.
“Ayolah Man Sapar, kau tak perlu lagi keluar banyak duit untuk pergi ke sana. Bila kamu mau tinggal di sini…” Nyi Tanah mendesah, sanggup merajuk seperti bocah mengantuk.
“Kalau Nyi Tanah maksudkan aku jadi suami, maaf aku tidak bisa,” Man Sapar tegas tanpa perlu meresapi alasannya yang keluar juga. “Kalau mau jujur, Nyi sebenarnya menyinggung perasaanku Nyi. Itu sama artinnya dengan keinginan Nyi Tanah untuk membunuhku. Tapi kalau keinginan Nyi Tanah di luar itu aku masih mempertimbangkan jawabannya.”
“Maksud Man Sapar kumpul kebo?”
Tak terungkap benar kesungguhan kata Man Sapar. Juga kesahihan kumpul kebonya Nyi Tanah. Man Sapar justru buka mata pasang telinga mengumbar kata perihal keburukan paras dan kebawelan janda kaya itu dasar segala penolak bala. Bahkan tanpa kepergok yang empunya cerita hingga bertahun lamanya sampai umurnya hampir seratus tahun.
Laiknya perempuan itu memendam kebohongan Man Sapar tanpa sepengetahuan yang bersangkutan—pelacuran adalah tembok tebal bagi Man Sapar untuk menutupi segala aib seolah seluruh pelacur di komplek itu membutuhkan kejantanannya. Saat seperti itu seringkali terbayang di benak Nyi Tanah tubuh mungil Man Sapar tenggelam di balik paha perempuan jalang berlemak, gempal, lebih murah dibanding harga sekilo daging kambing congek. Ini semua cuma bayang-bayang dan omong kosong. Kenyataannya, tak ada jodoh yang awet di tempat tidur dan di segala zaman, di saat dibutuhkan maupun tak lagi diperlukan—semisal ketika sepasang kakek-nenek telah sama-sama mengidap amnesia.
Man Sapar pun menyudahi kebiasaannya keluar masuk pelacuran. Ia berhenti karena malu. Merasa diri hidup tak berguna dan keliru menabung perbuatan baik: membayar pelacur demi menyambung hidup anak-anaknya. Dirasanya pula justru membantai hasratnya untuk berjodoh, menggauli istri yang kelak melahirkan anak lewat rahimnya. Jalan sudah kebablasan ditempuh, kadang berjumpa satu-satunya kehebatannya, keahliannya itu. Maka pilihan pun dijatuhkan. Suatu ketika Man Sapar memutar otak. Didorong oleh malu dan kemaluannya, ia terinspirasi alih profesi sebagai pembor, tukan bor pembuat sumur tanah.
Berkat berpikir keras, hasilnya pun berubah gemilang. Sebuah perhitungan yang matang. Ia berpikir tiap orang butuh air bersih saban hari. Rumah, sawah, tegal dan ladang juga minta air untuk mengairi tanaman. Terlebih bila musim kemarau terulur panjang.
Beberapa pipa, sejumlah mata bor didesain khusus. Lalu mesin disel untuk mendorong air menyemburkan tenaga pada pipa-pipa itu agar matabor gampang menusuk bumi dengan kenikmatan luar biasa. Maka jayalah usahanya. Man Sapar punya dua-tiga anak buah yang lincah.
Kampung itu tidak kesulitan air. Justru Man Sapar yang susah mengatur jatah waktu menyusul membludaknya tawaran ngebor hingga kampung sekitar. Terlebih ketika arus listrik gampang didapat, dan mesin pompa air tinggal ambil di toko-toko.
Di luar dugaan, berkat itu mengantar Man Sapar cepat berumah, menyenangkan anak buah dan terpenting bermanfaat bagi orang banyak, memajukan warga kampung setelah berjalan bertahun-tahun.
Kesibukan kerja yang luar biasa, kian mematikan hasratnya terhadap perempuan. Sampai ke titik nadir tak terpikir. Melintas batas pun tidak. Betapa dahsyat, kerja bagi hidup Man Sapar menebas kepentingan sendiri, lalu mengambil jalan pintas melayani orang banyak. “Uang bukanlah segalanya,” ungkapnya suatu ketika. “Apalagi demi memuaskan diri pribadi, maaf itu jauh dari pikiranku, dan kehidupanku yang sekarang.
Saya sendiri tidak tahu, barangkali inilah reinkarnaasi dalam diriku. Sebab itu bagiku, kepuasan diriku adalah pada saat bisa melayani kebahagiaan orang lain, orang banyak,” cetus Man Sapar.
Sampai suatu saat ia teruji. Begitu diusik perihal nikah, Man Sapar mendadak jengah. Dia bingung dan tersinggung. Geram dan susah payah meramban jawab. Walhasil justru Man Sapar balik merangkai kata tanya tak terduga. “Lho, mengapa tak engkau perhatikan sungguh benda ini?” pinta Man Sapar sembari melempari sejumlah buah matabor yang tampangnya sengaja dibuat persis kelamin pria pejantan. “Kau tahu kenapa mata bor ini kubuat seperti ini?”
Yang bertanya menggeleng.
“Karena ini adalah kenikmatanku sendiri. Gairah cintaku yang mengaliri darahku, mengejangkan seluruh ototku, melayangkan segala imajiku, terbang meliuk menukik melampaui awan lembab. Bumi hanyalah perumpamaan daging-daging segar. Aku berbahagia menikahinya, karena kuasa menyetubuhinya.”
“Dasar wong edan!” gerutu si penanya berakhir sumpah serapah tak karuan disertai ancaman, “Tuhan belum mengujinya dengan seonggok waktu bernama kesunyian.”
Sialnya, tuan serba tahu itu telanjur menembakkan ancaman. Edannya lagi teror buat Pak Tua usil itu diam-diam terbukti. Ketika ia bicara babakan waktu, umurlah yang menggerogoti tubuh Man Sapar. Otot-ototnya melumpur, kulitnya berpetak umpet.
Nyatalah waktu pula yang menghabisi nyalinya, kemampuannya menyetubuhi bumi. Tibalah saat ia merasa dihampiri perasaan asing, zombie berwujud kesunyian. Ia mulai petualangan barunya melawan dirinya sendiri, menaklukkan waktu dan menundukkan rasa jemu penantiannya. Dan yang pasti mengerahkan sisa kekuatannya untuk menghalau makhluk langka lainnya yang mewabah—keputusasannya. Sebab itulah pilihan dijatuhkan sebagai Tujuan, yakni meja domino. Di sana tersisa satu-satunya yang masih bisa dikendarai di jalan hidupnya: Menagih janji Tuhan akan jodohnya. Ya untuk itu dia perlu sesekali merayu atau mengajaknya canda tawa…
***
“HALO anak muda, apakah masih percaya seluruh ceritaku?” Pak Tua itu asyik mengusik.
“Kenapa tidak? Pak Tua belum cerita soal Abah Matkur. Kenapa juga nyanggrok di ‘Jalan Tuhan’ dan meja bertotol macan?”
“Ada apa kamu ini? Mengapa kau tak berhenti memaksaku mengisahkan mereka,” keluh Pak Tua. “Baiklah. Memang musti kukatakan yang kutahu, kisah-kisah mereka. Sebelum kau berontak tak lagi percaya. Lalu mencapku tukang omong kosong.”
“Jangan berbasa-basi. Cepat teruskan!”
“Begini,” Pak Tua itu kembali bertutur. Ada getar rasa kini dibawah tekanan. “Abah Matkur itu orang biasa. Penampilan biasa, rumah biasa dan gaya hidup yang serba biasa. Ya, jadi tad ada hal istimewa yang mengiringnya kemari.” Ia terdengar kebingungan mengarang cerita. Kalimatnya tak berbaris rapi. Suaranya bergoyang. “Tapi tak disangka serba biasa itu jadi penyebab dia perjaka seumur-umur—pilihan hidup yang sanggup ditempuh sedikit orang. Yang banyak tersedia, orang merekayasa diri agar tak disebut lelaki biasa soal penghasilan, pekerjaannya supaya bisa memperistri wanita malang pilihannya. Abah Matkur tak sudi menipu diri. Ia jujur mengakui dihidupi seekor sapi. Bukan berarti perlu izin sapinya bila ingin memelihara seorang lagi menjadi istrinya? Itu mustahil dilakukan. Itu yang membuatnya tak punya nyali menjebol tembok aturan ‘ambillah perempuan-perempuan untuk menjadi istri bagimu yang telah mampu.’ Ya, dia dihidupi sapi jantan Brahma dengan menjual kejantanannya paling tidak dua tiga kali sehari, agar induk sapi-sapi betina beranak pinak. Hasilnya bisa menopang hidup setelah dipotong jatah rumput gajah, dan jaum kuat untuk sapi. Jadi bila Abah Matkur ditanya siapa paling berarti bagi kehidupannya, di dunia ini sudah pasti jawabnya seekor sapi. Begitulah telah berlalu bertahun lamanya dengan sapi-sapi paling tokcer. Sampai-sampai buntutnya, wanita-wanita yang menaruh hati padanya harus puas mengurung niatnya. Yang tertinggal cuma ketakutannya bakal diserahkan kehormatannya pada kejantanan seekor sapi. Lalu perempuan-perempuan itu hanyut di laut kengeriannya sendiri mengandung bayi-bayi yang kelak lahir berbadan manusia dengan berkepala sapi. Suatu yang sebelumnya tak terbayang di benak lelaki serba biasa, Abah Matkur,” katanya.
“Jadi dia tetap membujang sampai sekarang, Pak Tua?”
“Ya.”
“Lalu, untuk apa dia di sana? Apa yang dia tagih kepada Tuhannya?”
“Itu yang sedang kupikirkan sekarang. Ia menagih seekor sapi betina ataukah seorang perempuan jodohnya.”
“Lho, kok bisa?”
“Itu yang tidak aku tahu.”
“Bagaimana sih?”
“Aku betul-betul tidak tahu dan mustahil aku menceritakan padamu apakah Abah Matkur seorang yang impoten ataukah seorang yang sebenarnya jatuh cinta pada sapi betina, apalagi sapi jantan.”
“Terus?”
“Jadi jangan lagi desak aku mengisahkan yang tak kutahu. Karena aku sekarang sedang memikirkan diriku sendiri.”
“Okelah, tapi sebentar pertanyaanku belum kelar. Pak Tua serba mengaku tahu, dan mengudal kisah sepanjang waktu. Tapi Pak Tua belum jelaskan padaku bagaimana kisahnya bisa seperti itu,” selidik anak muda itu.
Pak Tua itu mulai benar-benar sibuk dengan dirinya sendiri. Ia tampak kesulitan menjawab pertanyaan yang memang tak cukup mudah untuk dimengerti.
“Katamu karena aku lebih tua darimu. Karena aku setua mereka jadi aku tahu perjalanan yang mendera hidup mereka.”
“Tapi bukankah Pak Tua tak pernah bersinggungan dengan mereka. Bagaimana bisa anda kisahkan sedetail itu, bahkan lebih detail dari hidup mereka yang sederhana. Kenapa itu?” desaknya.
“Oh, begitu.” Pak Tua itu kini betul-betul terpojok, satu lagi puluru tajam bakal merobohkannya.
“Ya, siapa anda sebenarnya yang begitu leluasa memata-matai keseharian mereka di meja domino itu, bahkan sampai merasuki ke dalam ruh hidup dan jiwa mereka. Siapa?”
“Jangan menuduhku segegabah itu anak muda,” Pak Tua itu pun mulai mengeluarkan senjata penangkisnya.
“Habis, sepertinya Pak Tua amat berkepentingan dengan mereka.”
“Soal itu, kuakui memang iya. Karena aku seorang dalang wayang kulit yang sulit mendapatkan lagi tawaran main, jadinya aku banting setir jadi pengarang cerita yang syukurlah cukup memukau anak muda seperti anda. Berikutnya, aku tinggal menyusunnya ke dalam kata-kata yang aku yakin makin membuatmu terpesona dan tak habis pikir takjub begitu tahu bagian akhir cerita.”
“Apa itu?”
“Jadi apa perlu aku buka kartu sekarang?”
“Ya, sebagai jaminan agar jantungku tak berhenti berdetak karena kaget yang luar biasa.”
“Sabar dulu, jangan terburu nafsu,” pinta Pak Tua itu bermaksud meledek. “Em..tapi baiklah. Jangan dikira aku tak bersinggungan dengan kakek-nenek di meja domino itu.
Biarpun aku tak pernah ke sana karena tak bisa bermain domino atau karena tak terangkum dalam serikat orang tak berjodoh. Sesekali kupikir perlu kesana untuk menitip tanya pada Tuhan. Tapi ini bukan tagihanku. Apakah laki-laki seperti aku yang beristri sebelas orang wanita bisa mendapat kepastian siapa diantara mereka atau siapa sebenarnya yang menjadi jodohku. Ya, seperti halnya mereka, di usia tuaku seperti ini, aku sangat memerlukan kepastian jawaban atas pertanyaanku itu. Apalagi dari sebelas istriku itu semuanya muda-muda dan luar biasa cantiknya. Justru karena itu sebagai seorang seniman yang tahu dunia dalam, aku tak ingin jatuh dalam dunia yang penuh dengan tipuan ini. Sebab itulah, sudah kupikirkan sejak mula, aku akan mengajakmu pergi ke meja domino itu untuk mengajukan pertanyaan penting. Barangkali diantara mereka lebih dulu bertemu dan menghadap Tuhannya. Kau kubawa serta sebagai saksi bahwa kelak kamu juga akan setua mereka, segelisah mereka, sesabar mereka atau bahkan lebih bodoh dari mereka,” ungkap Pak Tua itu terus menyibukkan diri dalam dunianya, alam pikirannya, perasaannya juga batinnya, harapannya, ketakutannya.
Segalanya beraduk dalam satu belanga sebelum menjelma menjadi kata.
Jelas ini suatu siksaan hebat karena Pak Tua itu tak lagi berkuasa atas tangannya untuk memainkan wayang seperti biasa.
***
MALAM ini udara gerah. Kemarau hampir pergi ditandai awan tebal yang sering memayungi angkasa. Panas bumi tak leluasa lepas dan murung di atap-atap rumah penduduk sesekali lepas lantas terpantul lagi ujung payung angkasa. Di sana pula rumah kayu Nyi Tanah tersekap. Beruntung keluasannya luar biasa dengan atap genteng menjulang seolah hendak terbang.
Pak Tua tak ingkar janji. Diajaknya serta anak muda hadir di perjamuan domino kakek-nenek tak berjodoh itu. Selaku saksi, anak muda itu tak berkata-kata. Tapi ia musti khidmat menjalani suatu upacara yang tak dimengerti.
Usai upacara basa-basi, sesepuh-sesepuh terlihat bicara singkat dan tentu saja padat. Tanpa makna yang tertangkap anak muda malang itu.
Lantas, Mereka tertawa lepas. Gelak tawa sekuat tenaga, sampai lupa diri abai dan menyingkirkan segala nama, bahkan hidupnya.
Ya, mereka memang terlampau banyak mengendapkan misteri. Juga ketika tiba-tiba langkah kartu mereka bertiga sama-sama mati. Mungkin ada yang khilaf. Barangkali ada yang curang. Atau bisa jadi ini semua telah menjadi kehendak sang dalang agar kehadirannya segera dimengerti oleh serikat kakek-nenek tak berjodoh itu. Sebaliknya bukan mustahil kematian langkah adalah suatu hal yang biasa dan itu tak berarti apa-apa.
Kisah ini pun tak lebih menguatkan kepercayaan anak muda itu pada sosok dalang. Sosok dalam suluk yang menyingkapkan diri simbol ketuhanan dan kuasa menghidupkan wajah-wajah wayang ke dalam ruh jiwa manusia. Sayang, kini rasa itu kini tengah menuju kerapuhannya.
“Ya, dalang sekarang ini sebagaimana tukang cerita, sulit dipercaya,” pikir anak muda itu.[]
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel GarcÃa Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar