Senin, 24 November 2008

Kisah Pemburu Cinta

S.Jai
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

INI malam ke ribuan kali. Orang-orang tua itu menghajar mejanya dengan kartu. Bukan untuk mengenang masa silam yang kelam karena matanya, pikirannya cuma tertahan pada angka enam. Kakek-nenek itu tanpa bosan membariskan domino melukis totol macan. Tiada yang diacuhkan. Yang penting malam berlalu tanpa harus tahu untuk apa sebenarnya melaju.

Malam itu telah benar-benar miliknya hingga tak sadarkan diri dipeluknya menjadi bagian hidupnya. Ataukah telah dirangkul malam, menjadi anak kandungnya yang manja bermain kartu di bawah lampu yang sinarnya berbinar jatuh di raut muka?

Diam-diam mengurungnya kembali jadi anak-anak tanpa tahu diri pernah jadi anak-anak. Kakek-nenek itu menemukan lagi arti hidupnya—suatu keasyikan bermain. Mereka lupakan penantian, perburuan, ambisi. Bahkan keputusasaan menghilang. Walau umur yang hampir seratus tahun mengajari itu semua telah saling berhimpitan. Juga kematian.

“Sudahlah, Man Sapar. Bila sudah capai istirahatlah,” ujar lelaki yang biasa dipanggil Abah Matkur.

“Huh, jangan singgung yang satu itu. Kalau sudah mati pasti berhenti,” Man Sapar tersinggung diusik keberadaannya. “Kamu sendiri seperti sudah terima sinyal nggak mau hidup enak. Eh, sudah bau tanah ya?”

“Lho, kalian yang ribut kok aku yang dibawa-bawa. Apa kurang hidangan kopinya? Tiap malam aku yang bikin kopi kok nggak mati-mati,” Sergah Nyi Tanah yang namanya diseret-seret.
Keasyikan mereka terhambat. Permainan pun melambat.

“Aku juga heran. Kenapa kita tidak mati-mati?”
“Ya..ya..”
“Mati aku! Lewat Man.”
“Ngomong apa tadi, Nyi Tanah?”
“Aku mat….”
“Aku jadi tahu sekarang. Nyi Tanah paling takut mati diantara kita. Kartunya banyak dan karena dia perempuan.”
“Apa hubunganya?” protes Nyi Tanah.
“Lho, mati di alam sana giliran Nyi Tanah terima warisan paling sedikit diantara kita.”
“Modar kowe, Bah!”
“Ora biso.”

Di mata tiga orang tua masa lalu tak pernah terungkap sungguh. Sekalipun perlu sekadar hiburan, semisal ketiban sial mengocok kartu dan jadi bahan olok-olok. Masa lalu yang dirangkumnya kuat-kuat dikisahkan atau pun tidak. Bosan? Mungkin ya, barangkali pula tidak. Setidaknya, yang terungkap dari tempat duduknya saban malam, duduk mereka di kursi itu-itu juga. Tak pernah lukir karena bosan, tak sempat hadir di sela hari, jam, detik, peristiwa yang menghampirinya.

Tidak ada hal penting, juga kejadian, pada malam-malam itu saban hari. Lalu untuk apa ini semua? Pengisi waktu belaka? Penantian? Kebingungan? Man Sapar, Nyi Tanah dan Abah Matkur memang sedang tidak mengerti apa-apa. Lantas, tahukah dirinya tengah dilanda azab bernama kebingungan? Mengapa menghabiskan malam-malam percuma bukannya rehat melepas capai oleh sebab esok pagi juga musti kerja? Apakah mereka melakonkan manusia yang dikutuk penyakit menua insomnia, alzaimer, agar bisa melupakan dunia dan seluruh isinya, juga di mana ia pernah berperan?

Hanya mereka yang tahu. Wajar bila sepatah saja tak meloncat kata-kata jawab. Bukan lantaran mereka tak sudi mengungkap segala tanya, tapi karena kesulitan untuk berkata. Mereka tak sanggup merawat kepercayaan pada kata yang bisa saling dipahami sesamanya. Sekantong kata dalam ingatannya ludes digerogoti virus di otaknya.

Pemandangan dahsyat bila itu benar terjadi. Duduk bersanding para tetua yang tidak perlu kata. Hidup di usia tua jadi menggumpal, njlimet seperti akar yang menjulur meresapi sari-sari makan untuk batang tubuh, daun dan buahnya. Di luar umurnya yang tinggal sisa, mereka malah merasa menanggung penantian tanpa putus seperti kartu domino yang sambung-menyambung. Mengejar buruannya yang hingga kini belum tertangkap.

Sampai di tempat paling terdekat dirinya dengan rumah masa depannya—orangorang tua itu memilih tempat terakhir hidupnya dekat-dekat dengan kuburan—bukan cuma agar diri mereka setiap saat bisa mengingat mati.

“Bukan.”
“Lalu?”
“Perburuan. Ya, perburuanlah yang menjerat mereka di sini. Bahkan mereka punya sumbangsih Menyebut jalan ini dan diberinya nama Jalan Tuhan.” Ungkap orang tua yang banyak menyingkap masa lalu serikat kakek-nenek itu. “Kukira tentang ‘Jalan Tuhan’ itu telah banyak yang tahu, orang-orang kampung di sini, terlebih yang telah lanjut usia.”

“Oya? Jadi kita patut cium tangan, dong demi rasa hormat terhadap karya agungnya. Bukankah dengan nama itu seolah tunjukkan pintu langit?”
“Ya, pasti. Banyak orang sependapat dengan kamu. Sekarang lihat, kuburan itu tak hanya dihuni orang kampung sini. Warga kampung sebelah banyak juga dikubur di sini.

Kampung lain pun pesan tempat bila kelak mati. Sampai kuburan sesak dan orang khawatir tak kebagian petak.”

“Ah, atau sebaiknya aku juga pesan mulai sekarang ya, Pak Tua?”
“Ha..ha.. apa nggak sebaiknya kamu pakai bagianku saja. Biar kita bisa ngobrol sama-sama. Minum kopi segelas berdua, biar kamu bisa jawab pertanyaan malaikat untukku, anak muda. Sebab kudengar bahasa Arabmu lumayan juga.” Pak Tua itu meledek. Giginya remuk seperti tonggak bambu ambruk. “Bila orang tahu benar asal mula ‘Jalan Tuhan’ itu, orang bakal lebih hebat tawanya.”

“Begitukah? Ceritakan kepadaku tentang ‘Jalan Tuhan’ itu, Pak Tua.”
“Perjumpaan Nyi Tanah, Man Sapar dan Abah Matkur bermula keinginannya menagih janji Tuhan. Awalnya karena keduanya tahu jodoh itu di tangan Tuhan. Waktu umurnya nyaris tutup, sang jodoh tak kunjung datang. Sebab itu dimulailah perburuan sampai di sini, sampai bertahun-tahun, sampai menyentuh batas harapan dan putus asa. Di sini terus senantiasa hidup sendiri tanpa suami atau istri. Semuanya mereka punya, rumah, pekerjaan. Tapi tidak ada, suami atau istri jodoh yang langgeng, hidup bersama seia-sekata sampai tua untuk kelak di penghidupan yang berikutnya, belum pernah tiba (meski bukan tak pernah mencoba). Kini, saat hari-hari ketiga orang tua itu adalah tapal ambang perburuan dan penantian. Suatu yang belum aku dan kamu mengerti. Barangkali antara menjemukan dan menggairahkan. Atau perpaduan keduanya?,” kisah orang tua yang berbaik hati itu.

“Masalahnya, mengapa orang-orang itu membunuh waktu di meja, bukan di tempat lain?
“Itu tak kumengerti jawabnya. Sekadar reuni, mengatur strategi? Semuanya bisa benar.”
“Reuni?”

“Ya, siapa tahu. Biar kembali lagi ingatan kemudaannya. Menebar kisah lama yang ingin didengar di kalangan mereka sendiri. Ya, siapa tahu bila bocor ke kuping orang lain, berubah kisah sedih, sentimentalia, meski bukan mustahil jadi lelucon. Tapi bagi kuping sendiri malah suatu kegairahan, bermakna justru di usia tuanya. Ya, siapa tahu. Karena mustahil kita mencari tahu pada orang tua yang tak mempercayakan hidupnya pada kata-kata,” paparnya.

“Lantas?”
“Itulah misterinya keberadaan mereka.”
“Ayolah Pak Tua, ceritakanlah padaku apa yang engkau tahu tentang mereka.”
“Kenapa engkau jadi begitu percaya pada ceritaku? Padahal aku tak tahu isi kepala mereka. Kenapa kamu nggak menduga aku cuma mengarang cerita saja, anak muda?” tutur orang tua itu.
“Ayolah bapak banyak makan jalan. Jadi aku percaya.”

Saat terdesak, Pak Tua kembali bercerita. Jadilah kurang lebih seperti ini kisahnya:
Nyi Tanah, perempuan di meja domino itu pemilik rumah. Dulunya ia wanita terpandang, terkaya. Banyak mata berpandan jalang karena sisa kekayaannya masih tak terbilang.

Sebagai pendatang di kampung ini, Nyi Tanah dikenal pekerja keras, banting tulang dan justru tak wajar buat perempuan kebanyakan. Kebiasaannya berkebaya, berganti daster dan penutup kepala—ciri wanita karir di zamannya. Usaha dagangnya melesat maju, makin melambungkan namanya nyaris terbang. Usaha pupuk untuk petani kampung secepat memupuk ekonomi ditingkat subur. Di luar kendali Nyi Tanah tumbuh kukuh jadi juragan. Seorang pendatang, segera menanamkan kukunya. Bermula dari seorang pendatang, ia pun sanggup mendirikan tiga rumah dengan dibangun dari kayu termahal.

Satu lagi kecerewetannya. Kecerewetan malah mengukuhkan jati dirinya yang keras kemauan dan berwatak baja—seorang yang tidak gampang menaruh kepercayaan pada orang lain, apalagi sampai jatuh pada pelukan orang. Bagi lelaki tentu ini kengerian.

Sekalipun suaminya sendiri, terbit rasanya jadi pelayan untuk juragannya. Nyi Tanah beberapa kali menikah, beberapa kali si suami pergi tak kembali. Ada kalanya terusir, sisanya atas permintaan sendiri tanpa disertai ungkapan duka, apalagi arimata Nyi Tanah. Selepas pria keempat atau kelima, Nyi Tanah tanpa basa-basi menyingsingkan lengan bertangan besi. Dia ber diri demi bertahan hidup menyendiri hingga menyongsong usia ke seratus tahun.

Nyi Tanah betah sonder direcoki upaya percobaan bunuh diri. Meski bukan tak lepas dari pasang surut. Nyi Tanah pernah mengubah diri serendah-rendah umat. Melucuti semua baju lembar demi lembar dari yang membungkus kulitnya, kekayaannya, menjatuhkan, meluruhkan kekerasan hatinya, keangkuhannya, pasrah diri demi demi mendapat lelaki yang ia harapkan menjadi jodoh hidupnya. Segala upaya tak ada guna.

Lelaki itu Man sapar, pejantan yang mendapati dirinya, kehebatannya, arti hidupnya, jiwanya, kebebasannya, semangatnya, hiburannya, nafsuny;a serta leluconnya saat terdampar di ladang yang bernama tempat pelacuran. Meski justru Man Sapar ditemukan orang lain di kampungnya, tubuhnya yang kecil, pelamun airmuka merah tegang tak ketinggalan, jauh dari kesar berwatak sosial seperti yang dia obral sendiri.

“Ayolah Man Sapar, kau tak perlu lagi keluar banyak duit untuk pergi ke sana. Bila kamu mau tinggal di sini…” Nyi Tanah mendesah, sanggup merajuk seperti bocah mengantuk.

“Kalau Nyi Tanah maksudkan aku jadi suami, maaf aku tidak bisa,” Man Sapar tegas tanpa perlu meresapi alasannya yang keluar juga. “Kalau mau jujur, Nyi sebenarnya menyinggung perasaanku Nyi. Itu sama artinnya dengan keinginan Nyi Tanah untuk membunuhku. Tapi kalau keinginan Nyi Tanah di luar itu aku masih mempertimbangkan jawabannya.”
“Maksud Man Sapar kumpul kebo?”

Tak terungkap benar kesungguhan kata Man Sapar. Juga kesahihan kumpul kebonya Nyi Tanah. Man Sapar justru buka mata pasang telinga mengumbar kata perihal keburukan paras dan kebawelan janda kaya itu dasar segala penolak bala. Bahkan tanpa kepergok yang empunya cerita hingga bertahun lamanya sampai umurnya hampir seratus tahun.

Laiknya perempuan itu memendam kebohongan Man Sapar tanpa sepengetahuan yang bersangkutan—pelacuran adalah tembok tebal bagi Man Sapar untuk menutupi segala aib seolah seluruh pelacur di komplek itu membutuhkan kejantanannya. Saat seperti itu seringkali terbayang di benak Nyi Tanah tubuh mungil Man Sapar tenggelam di balik paha perempuan jalang berlemak, gempal, lebih murah dibanding harga sekilo daging kambing congek. Ini semua cuma bayang-bayang dan omong kosong. Kenyataannya, tak ada jodoh yang awet di tempat tidur dan di segala zaman, di saat dibutuhkan maupun tak lagi diperlukan—semisal ketika sepasang kakek-nenek telah sama-sama mengidap amnesia.

Man Sapar pun menyudahi kebiasaannya keluar masuk pelacuran. Ia berhenti karena malu. Merasa diri hidup tak berguna dan keliru menabung perbuatan baik: membayar pelacur demi menyambung hidup anak-anaknya. Dirasanya pula justru membantai hasratnya untuk berjodoh, menggauli istri yang kelak melahirkan anak lewat rahimnya. Jalan sudah kebablasan ditempuh, kadang berjumpa satu-satunya kehebatannya, keahliannya itu. Maka pilihan pun dijatuhkan. Suatu ketika Man Sapar memutar otak. Didorong oleh malu dan kemaluannya, ia terinspirasi alih profesi sebagai pembor, tukan bor pembuat sumur tanah.

Berkat berpikir keras, hasilnya pun berubah gemilang. Sebuah perhitungan yang matang. Ia berpikir tiap orang butuh air bersih saban hari. Rumah, sawah, tegal dan ladang juga minta air untuk mengairi tanaman. Terlebih bila musim kemarau terulur panjang.

Beberapa pipa, sejumlah mata bor didesain khusus. Lalu mesin disel untuk mendorong air menyemburkan tenaga pada pipa-pipa itu agar matabor gampang menusuk bumi dengan kenikmatan luar biasa. Maka jayalah usahanya. Man Sapar punya dua-tiga anak buah yang lincah.

Kampung itu tidak kesulitan air. Justru Man Sapar yang susah mengatur jatah waktu menyusul membludaknya tawaran ngebor hingga kampung sekitar. Terlebih ketika arus listrik gampang didapat, dan mesin pompa air tinggal ambil di toko-toko.

Di luar dugaan, berkat itu mengantar Man Sapar cepat berumah, menyenangkan anak buah dan terpenting bermanfaat bagi orang banyak, memajukan warga kampung setelah berjalan bertahun-tahun.

Kesibukan kerja yang luar biasa, kian mematikan hasratnya terhadap perempuan. Sampai ke titik nadir tak terpikir. Melintas batas pun tidak. Betapa dahsyat, kerja bagi hidup Man Sapar menebas kepentingan sendiri, lalu mengambil jalan pintas melayani orang banyak. “Uang bukanlah segalanya,” ungkapnya suatu ketika. “Apalagi demi memuaskan diri pribadi, maaf itu jauh dari pikiranku, dan kehidupanku yang sekarang.

Saya sendiri tidak tahu, barangkali inilah reinkarnaasi dalam diriku. Sebab itu bagiku, kepuasan diriku adalah pada saat bisa melayani kebahagiaan orang lain, orang banyak,” cetus Man Sapar.

Sampai suatu saat ia teruji. Begitu diusik perihal nikah, Man Sapar mendadak jengah. Dia bingung dan tersinggung. Geram dan susah payah meramban jawab. Walhasil justru Man Sapar balik merangkai kata tanya tak terduga. “Lho, mengapa tak engkau perhatikan sungguh benda ini?” pinta Man Sapar sembari melempari sejumlah buah matabor yang tampangnya sengaja dibuat persis kelamin pria pejantan. “Kau tahu kenapa mata bor ini kubuat seperti ini?”
Yang bertanya menggeleng.

“Karena ini adalah kenikmatanku sendiri. Gairah cintaku yang mengaliri darahku, mengejangkan seluruh ototku, melayangkan segala imajiku, terbang meliuk menukik melampaui awan lembab. Bumi hanyalah perumpamaan daging-daging segar. Aku berbahagia menikahinya, karena kuasa menyetubuhinya.”

“Dasar wong edan!” gerutu si penanya berakhir sumpah serapah tak karuan disertai ancaman, “Tuhan belum mengujinya dengan seonggok waktu bernama kesunyian.”
Sialnya, tuan serba tahu itu telanjur menembakkan ancaman. Edannya lagi teror buat Pak Tua usil itu diam-diam terbukti. Ketika ia bicara babakan waktu, umurlah yang menggerogoti tubuh Man Sapar. Otot-ototnya melumpur, kulitnya berpetak umpet.

Nyatalah waktu pula yang menghabisi nyalinya, kemampuannya menyetubuhi bumi. Tibalah saat ia merasa dihampiri perasaan asing, zombie berwujud kesunyian. Ia mulai petualangan barunya melawan dirinya sendiri, menaklukkan waktu dan menundukkan rasa jemu penantiannya. Dan yang pasti mengerahkan sisa kekuatannya untuk menghalau makhluk langka lainnya yang mewabah—keputusasannya. Sebab itulah pilihan dijatuhkan sebagai Tujuan, yakni meja domino. Di sana tersisa satu-satunya yang masih bisa dikendarai di jalan hidupnya: Menagih janji Tuhan akan jodohnya. Ya untuk itu dia perlu sesekali merayu atau mengajaknya canda tawa…

***

“HALO anak muda, apakah masih percaya seluruh ceritaku?” Pak Tua itu asyik mengusik.
“Kenapa tidak? Pak Tua belum cerita soal Abah Matkur. Kenapa juga nyanggrok di ‘Jalan Tuhan’ dan meja bertotol macan?”

“Ada apa kamu ini? Mengapa kau tak berhenti memaksaku mengisahkan mereka,” keluh Pak Tua. “Baiklah. Memang musti kukatakan yang kutahu, kisah-kisah mereka. Sebelum kau berontak tak lagi percaya. Lalu mencapku tukang omong kosong.”
“Jangan berbasa-basi. Cepat teruskan!”

“Begini,” Pak Tua itu kembali bertutur. Ada getar rasa kini dibawah tekanan. “Abah Matkur itu orang biasa. Penampilan biasa, rumah biasa dan gaya hidup yang serba biasa. Ya, jadi tad ada hal istimewa yang mengiringnya kemari.” Ia terdengar kebingungan mengarang cerita. Kalimatnya tak berbaris rapi. Suaranya bergoyang. “Tapi tak disangka serba biasa itu jadi penyebab dia perjaka seumur-umur—pilihan hidup yang sanggup ditempuh sedikit orang. Yang banyak tersedia, orang merekayasa diri agar tak disebut lelaki biasa soal penghasilan, pekerjaannya supaya bisa memperistri wanita malang pilihannya. Abah Matkur tak sudi menipu diri. Ia jujur mengakui dihidupi seekor sapi. Bukan berarti perlu izin sapinya bila ingin memelihara seorang lagi menjadi istrinya? Itu mustahil dilakukan. Itu yang membuatnya tak punya nyali menjebol tembok aturan ‘ambillah perempuan-perempuan untuk menjadi istri bagimu yang telah mampu.’ Ya, dia dihidupi sapi jantan Brahma dengan menjual kejantanannya paling tidak dua tiga kali sehari, agar induk sapi-sapi betina beranak pinak. Hasilnya bisa menopang hidup setelah dipotong jatah rumput gajah, dan jaum kuat untuk sapi. Jadi bila Abah Matkur ditanya siapa paling berarti bagi kehidupannya, di dunia ini sudah pasti jawabnya seekor sapi. Begitulah telah berlalu bertahun lamanya dengan sapi-sapi paling tokcer. Sampai-sampai buntutnya, wanita-wanita yang menaruh hati padanya harus puas mengurung niatnya. Yang tertinggal cuma ketakutannya bakal diserahkan kehormatannya pada kejantanan seekor sapi. Lalu perempuan-perempuan itu hanyut di laut kengeriannya sendiri mengandung bayi-bayi yang kelak lahir berbadan manusia dengan berkepala sapi. Suatu yang sebelumnya tak terbayang di benak lelaki serba biasa, Abah Matkur,” katanya.

“Jadi dia tetap membujang sampai sekarang, Pak Tua?”
“Ya.”
“Lalu, untuk apa dia di sana? Apa yang dia tagih kepada Tuhannya?”
“Itu yang sedang kupikirkan sekarang. Ia menagih seekor sapi betina ataukah seorang perempuan jodohnya.”

“Lho, kok bisa?”
“Itu yang tidak aku tahu.”
“Bagaimana sih?”
“Aku betul-betul tidak tahu dan mustahil aku menceritakan padamu apakah Abah Matkur seorang yang impoten ataukah seorang yang sebenarnya jatuh cinta pada sapi betina, apalagi sapi jantan.”
“Terus?”

“Jadi jangan lagi desak aku mengisahkan yang tak kutahu. Karena aku sekarang sedang memikirkan diriku sendiri.”
“Okelah, tapi sebentar pertanyaanku belum kelar. Pak Tua serba mengaku tahu, dan mengudal kisah sepanjang waktu. Tapi Pak Tua belum jelaskan padaku bagaimana kisahnya bisa seperti itu,” selidik anak muda itu.

Pak Tua itu mulai benar-benar sibuk dengan dirinya sendiri. Ia tampak kesulitan menjawab pertanyaan yang memang tak cukup mudah untuk dimengerti.
“Katamu karena aku lebih tua darimu. Karena aku setua mereka jadi aku tahu perjalanan yang mendera hidup mereka.”

“Tapi bukankah Pak Tua tak pernah bersinggungan dengan mereka. Bagaimana bisa anda kisahkan sedetail itu, bahkan lebih detail dari hidup mereka yang sederhana. Kenapa itu?” desaknya.

“Oh, begitu.” Pak Tua itu kini betul-betul terpojok, satu lagi puluru tajam bakal merobohkannya.

“Ya, siapa anda sebenarnya yang begitu leluasa memata-matai keseharian mereka di meja domino itu, bahkan sampai merasuki ke dalam ruh hidup dan jiwa mereka. Siapa?”
“Jangan menuduhku segegabah itu anak muda,” Pak Tua itu pun mulai mengeluarkan senjata penangkisnya.

“Habis, sepertinya Pak Tua amat berkepentingan dengan mereka.”
“Soal itu, kuakui memang iya. Karena aku seorang dalang wayang kulit yang sulit mendapatkan lagi tawaran main, jadinya aku banting setir jadi pengarang cerita yang syukurlah cukup memukau anak muda seperti anda. Berikutnya, aku tinggal menyusunnya ke dalam kata-kata yang aku yakin makin membuatmu terpesona dan tak habis pikir takjub begitu tahu bagian akhir cerita.”

“Apa itu?”
“Jadi apa perlu aku buka kartu sekarang?”
“Ya, sebagai jaminan agar jantungku tak berhenti berdetak karena kaget yang luar biasa.”

“Sabar dulu, jangan terburu nafsu,” pinta Pak Tua itu bermaksud meledek. “Em..tapi baiklah. Jangan dikira aku tak bersinggungan dengan kakek-nenek di meja domino itu.

Biarpun aku tak pernah ke sana karena tak bisa bermain domino atau karena tak terangkum dalam serikat orang tak berjodoh. Sesekali kupikir perlu kesana untuk menitip tanya pada Tuhan. Tapi ini bukan tagihanku. Apakah laki-laki seperti aku yang beristri sebelas orang wanita bisa mendapat kepastian siapa diantara mereka atau siapa sebenarnya yang menjadi jodohku. Ya, seperti halnya mereka, di usia tuaku seperti ini, aku sangat memerlukan kepastian jawaban atas pertanyaanku itu. Apalagi dari sebelas istriku itu semuanya muda-muda dan luar biasa cantiknya. Justru karena itu sebagai seorang seniman yang tahu dunia dalam, aku tak ingin jatuh dalam dunia yang penuh dengan tipuan ini. Sebab itulah, sudah kupikirkan sejak mula, aku akan mengajakmu pergi ke meja domino itu untuk mengajukan pertanyaan penting. Barangkali diantara mereka lebih dulu bertemu dan menghadap Tuhannya. Kau kubawa serta sebagai saksi bahwa kelak kamu juga akan setua mereka, segelisah mereka, sesabar mereka atau bahkan lebih bodoh dari mereka,” ungkap Pak Tua itu terus menyibukkan diri dalam dunianya, alam pikirannya, perasaannya juga batinnya, harapannya, ketakutannya.

Segalanya beraduk dalam satu belanga sebelum menjelma menjadi kata.
Jelas ini suatu siksaan hebat karena Pak Tua itu tak lagi berkuasa atas tangannya untuk memainkan wayang seperti biasa.

***

MALAM ini udara gerah. Kemarau hampir pergi ditandai awan tebal yang sering memayungi angkasa. Panas bumi tak leluasa lepas dan murung di atap-atap rumah penduduk sesekali lepas lantas terpantul lagi ujung payung angkasa. Di sana pula rumah kayu Nyi Tanah tersekap. Beruntung keluasannya luar biasa dengan atap genteng menjulang seolah hendak terbang.

Pak Tua tak ingkar janji. Diajaknya serta anak muda hadir di perjamuan domino kakek-nenek tak berjodoh itu. Selaku saksi, anak muda itu tak berkata-kata. Tapi ia musti khidmat menjalani suatu upacara yang tak dimengerti.

Usai upacara basa-basi, sesepuh-sesepuh terlihat bicara singkat dan tentu saja padat. Tanpa makna yang tertangkap anak muda malang itu.

Lantas, Mereka tertawa lepas. Gelak tawa sekuat tenaga, sampai lupa diri abai dan menyingkirkan segala nama, bahkan hidupnya.

Ya, mereka memang terlampau banyak mengendapkan misteri. Juga ketika tiba-tiba langkah kartu mereka bertiga sama-sama mati. Mungkin ada yang khilaf. Barangkali ada yang curang. Atau bisa jadi ini semua telah menjadi kehendak sang dalang agar kehadirannya segera dimengerti oleh serikat kakek-nenek tak berjodoh itu. Sebaliknya bukan mustahil kematian langkah adalah suatu hal yang biasa dan itu tak berarti apa-apa.

Kisah ini pun tak lebih menguatkan kepercayaan anak muda itu pada sosok dalang. Sosok dalam suluk yang menyingkapkan diri simbol ketuhanan dan kuasa menghidupkan wajah-wajah wayang ke dalam ruh jiwa manusia. Sayang, kini rasa itu kini tengah menuju kerapuhannya.

“Ya, dalang sekarang ini sebagaimana tukang cerita, sulit dipercaya,” pikir anak muda itu.[]

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati