Sutejo*
http://thereogpublishing.blogspot.com/
Tanggal 8 Desember 2007 adalah hari pelepasan seorang sastrawan besar Indonesia. Sastrawan itu sering memiliki jargon yang unik, jargon itu diantaranya adalah (i) bahwa dunia sastra adalah dunia jungkir balik, (ii) pada mulanya karya sastra adalah tema, (iii) menulis itu berpikir, (iv) menulis rangkaian dari peristiwa kebetulan, (v) menulis itu seperti naik pesawat terbang (kuatnya imajinasi), (vi) menulis sebagai identitas budaya, karena itu ia hampir menuliskan seluruh tulisannya dalam bahasa Indonesia, (vii) menulis asal menulis dan asal mengikuti mood, tanpa draft, dan tanpa apa pun (sebuah kondisi terbius), (viii) menulis adalah masalah waktu, karena itu menulis akan lancar, manakala suasana menyenangkan untuk menulis tidak terganggu-ganggu, (ix) falsafah “realitas burung” yang mengerakkan, (x) pengarang adalah proses mencari, dan karya sastra adalah rangkaian proses mencari itu, dan (xi) pengarang tidak pernah puas dengan karyanya sendiri.
Dan pada hari itu, bersama itu pula diluncurkan buku untuk memperingatinya berjudul Bahasa, Sastra dan Budi Darma (JP Press, 2007). Buku ini pun mengupas senarai pemikirannya yang tersisa (tercecer) dari Budi Darma. Belajar memaknai proses kreatif Budi Darma tentunya dengan pemikiran imajinatif dan eksploratif. Sebab sebagaimana wawancara imajinatif Budi Darma dengan Sony Karsono dalam Prosa3 (2003:149-198) yang berjudul Obsesi, Burung Ganjil, Perempuan Berkumis tampak merupakan hal terpenting dalam perjalanan proses kreatifnya.
Budi Darma sendiri adalah seorang guru besar yang tahun lalu baru purna. Lelaki yang lahir pada 25 April 1937 ini, sejak muda telah gandrung dengan tulis-menulis. Pada 1974 ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi di Universitas Indiana, AS, jurusan Creative Writing. Ph.D-nya diselesaikan pada tahun 1978. Karya-karya yang lahir dari jemarinya diantaranya: Olenka (1980), Orang-Orang Bloominton (1980), Rafilus (1988), Solilokui (1993), Harmonium (1995), Nyonya Talis (1996), Kritikus Adinan (2002), Fofo dan Senggering (2006). Beberapa penghargaan telah dikoleksinya. Diantaranya adalah Olenka sebagai novel terbaik DKJ (1983), Hadiah Sastra dari Balai Pustaka (1984), Southeast Asean Award dari Pemerintah Thailand atas karyanya berjudul Orang-Orang Bloominton (1984), Anugerah Seni dari Pemerintah RI (1993), dan Freedom Institut Award (Ahmad Bakrie Award, 2005). Di samping itu, dia pernah mendapat penghargaan dari Kompas, termasuk beberapa cerpen terpilih sebagai cerpen-cerpen terbaik Kompas.
Dunia jungkir balik dalam pengertian pengalaman proses kreatif Budi Darma sesungguhnya merupakan dunia karakter yang mengalir yang alir pada para tokoh. Hal ini sebagaimana tampak kuat dalam Olenka dan Rafilus yang menunjukkan dunia jungkir balik itu. Dunia absurd yang tak terdeteksi oleh logika. Dan karena itu, logika ditabrak, filsafat diusung. Sebuah penjungkirbalikkan yang syah dalam karya.
Terkait dengan penjungkirbalikan itu, maka hal yang menariknya adalah bagaimana pentingnya tema dalam penulisan karya. Tema memang seperti sumur yang tanpa dasar, muara cerita tempat mengalir segala karakter melalui tokoh yang lahir melalui tema itu sendiri. Dengan demikian, tema seperti rumah pertama yang diancangkan, sementara tokoh dan karakter, alur dan peristiwanya, hanya merupakan penyangga cerita. Hal pengiring kemudian yang sekarang berkembang dalam pengalaman kreatif Budi Darma adalah nalar dan bahasa. Ketiga hal demikian merupakan hal penting yang saling bergandeng tangan.
Menulis itu berpikir. Berpikir artinya bernalar, bernalar artinya berbahasa secara cermat. Seperti dalam pengolahan tema yang memanfaatkan kemampuan bernalar dan berbahasa, berpikir adalah seperangkat kerja berbahasa yang elok dalam merangkai pemikiran. Karena para tokoh juga menyampaikan pemikiran, maka bercerita hakikatnya juga berpikir melalui para tokoh di dalamnya. Ujungnya, tokoh-tokoh yang diciptakan hidup dalam pikirannya sendiri (meskipun tentu diciptakan penulisanya).
Dalam konteks kehidupan berbahasa masyarakat intelektual kita seringkali terjadi kesalahan-kesalahan berpikir. Bagi Budi Darma, karena itu, pertama-tama syarat penulis ada dua hal (meminjam bahasa Prof Febiola): (a) ketajaman hati dan (b) kecerdasan berpikir. Dua hal ini tentu menjadi sebuah perpaduan pikir dan hati. Tak heran, jargon Budi Darma yang sering penulis dengar adalah menulis itu berpikir. Kecerdasan berpikir –yang dalam konteks temuan motivasi terakhir— mencakup berpikir sadar dan bawah sadar. Berpikir sadar menuntut pada kemampuan mengumpulkan informasi, membandingkan, menganalisis dan menilai. Sementara, kemampuan berpikir bawah sadar sesungguhnya lebih kompleks dan rumit. Dalam bahasa Adi W. Gunawan, kecakapan berpikir ini mencakupi: kebiasaan, emosi, memori jangka panjang, kepribadian, intuisi, kreativitas, persepsi, dan believe plus value.
Dengan kata lain, penulis sesungguhnya adalah kompleksitas berpikir yang terentang dalam tali otak kanan dan kiri. Bawah sadar dan sadar. Bahkan jika dicermati kecakapan berpikir bawah sadar lebih dominan daripada berpikir sadar. Hal ini, didasari fenomena bahwa proses kepenulisan seringkali berlangsung dalam wilayah bawah sadar. Dalam proses kreatif sering dipahami sebagai peristiwa mooding. Karena itu, barangkali dapat disimpulkan jargon Budi Darma yang mengatakan menulis itu berpikir sesungguhnya menyaran pada padang lapang keluasan cakupan berpikir yang demikian. Menulis sebuah kompleksitas berimajinasi, berempati, bermeditasi, beraksi, bernaluri, berkreasi, berkepribadian, berkeyakinan, beremosi, berkebiasaan, berpersepsi, dan seterusnya.
Sementara itu, ketajaman hati akan mengingatkan kita sebagai penulis penting memiliki: norma, moral, empati, humanitas, dan jenis kodrat “kebaikan” lainnya. Karena hati tak pernah bohong maka kesadaran penulis adalah kesadaran hati nurani. Ketajaman hati lebih dari itu mengingatkan kita akan pentingnya proses mental berpikir bawah sadar.
Hati akan menuntut rasa cinta, buah kasih, rasa sesama, rasa berlibat dalam segala bentuk. Di sini menyaran pada bagaimana menuangkan feeling dan tone penting dalam karya. Sementara, itu bagaimana ketajaman hati juga menuntun pada kemampuan mengkarakterkan tokoh dan kemas setting penting dengan membalutkannya pesan implisit. Sebuah ornamen unsur yang tertali oleh ketajaman hati. Pendek kata: karya sastra merupakan buah kelindan dari kodrat manusia sebagai homo sapiens, homo faber, dan homo ludens. Penuh aroma kognisi, aroma kerja keras, dan aroma imajinasi plus kreasi. Kemudian mengristal pada aroma humanitet yang me-ruh.
Dengan kata lain, karya sastra yang dilahirkan seorang penulis yang memiliki kemampuan berpikir dan ketajaman hati akan mengingatkan tentang “kebaikan”. Kodrat pesan implisit yang selalu dilesapkan, ditata berkelindan dalam ornamen unsur karya hingga memesona. Di sinilah, tampaknya yang menggerakkan Budi Darma dalam menilai segala tafsir dan karya dengan cara yang tak pernah “menyalahkan” tetapi selalu mengajak berenung, merefleksi diri. Sebab hakikat segala sesuatu beroposisi binner, dikotomi yang selalu menuyuguhkan dimensi makna. Tak heran, jika dalam sebuah esai menariknya yang diterbitkan Pusat Bahasa dan Remaja Rosdakarya ia mengatakan sastra sebagai “jendela yang terbuka”. Sebuah oase?
Hal lain dalam pengalaman menulis Budi Darma yang menarik adalah ternyata cerita yang dibangun sering dan banyak terinspirasi oleh peristiwa yang ditemukan secara kebetulan. Kebetulan demi kebetulan yang dirangkai, seakan kebetulan itu adalah sebuah isyarat baginya. Dengan demikian, jika kita menemukan sesuatu yang kebetulan maka menarik untuk direnungkan, direfleksikan, untuk pada akhirnya diimajinasikan ke dalam sebuah cerita. Bagaimanapun, peristiwa kebetulan hakikatnya bersifat khususi, yang tidak setiap orang dapat menemukannya (mengalami?), maka sebuah peluang kerja kreatif dapat bersandar jika diimbangi dengan pemikiran kreatif dan imajinatif. Sebuah makna metaforis dalam praksis kerja kreatif penting untuk terus ditumbuhkembangkan.
Selanjutnya, sebagaimana Budi Darma banyak bercerita tentang keinginannya terbang, maka banyak falsafah burung yang diidolakan dalam karya-karya. Derabat dan Gauhati, misalnya, mengambil tamsil burung ini sebagaimana pengalaman perjalanannya di India.
***
Sebagai seorang esais, Budi Darma sering berbagi pengalaman kreatif –baik secara langsung maupun tidak langsung--. Ada beberapa tulisan yang memuat pengalaman proses kreatifnya: (a) “Obsesi, Burung Ganjil, Perempuan Berkumis”: dialog (“imajinasi”) dengan Sony Karsono dalam Jurnal Prosa3 (2003:149-198); (b) “Memperhitungkan Masa Lalu” dalam Bukuku Kakiku (Sularto dkk, ed, 2004:67-83); (c) “Pengakuan” yang dimuat di kumpulan esai Solilokui (1998), (d) “Mulai dari Tengah” yang dimuat dalam buku Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang (Pamusuk Eneste, 1982); (e) “Prakata: Mula-mula adalah Tema” Pengantar dalam buku kumpulan cerpen Orang-Orang Bloominton (1980), dan (f) “Asal-usul Olenka” dalam novel Olenka (1983). Pada beberapa pertemuan penulis, sempat muncul juga pengakuan “tidak langsung” Budi Darma tentang proses kreatifnya. Yang semuanya penulis (maaf lupa tanggal dan tahunnya): dalam ruang-ruang kuliah ketika Budi Darma menceritakan karya-karya sastrawan semisal Fira Basuki, Sirikit Syah, dan Lan Fang. Kemudian dalam Peluncuran Kota Tanpa Kelamin karya Lan Fang di Toko Buku Toga Mas. Sebelumnya, dalam Pertemuan Sastrawan Nusantara di Surabaya ketika menjadi moderator Budi Darma. Sebelumnya, dalam pertemuan HISKI di Solo ketika UNS jadi penyelenggara. Sebelumnya, jauh sebelum penulis sarjana di IKIP Malang ketika dalam sebuah seminar Budi Darma bersama Zawawi Imron dalam seminar sastra. Terakhir dalam pelepasan Budi Darma sebagai guru besar Unesa sekaligus peringatan 70 tahun pengabdiannya dalam hidup: refleksi pembacaan atas karya Mashuri adalah refleksi tentang pengalaman kreatif di beberapa sisi.
“Pengakuan” sebagai tulisan yang dimuat dalam Solilokui berawal dari pengantar pembacaan cerpen Budi Darma di Taman Ismail Marzuki pada 10 Desember 1982, dimuat di Horison pada Mei-Juni 1982. Sebuah tulisan yang menyibak mengapa dan bagaimana Budi Darma menjadi pengarang.
Kemudian “Mulai dari Tengah” berisi pengakuan Budi Darma berkisar pada masalah yang sama: mengapa dan bagaimana mengarang. Pada beberapa pertemuan, Budi Darma mengatakan mengarang sebagai takdir. Banyak penulis sekarang yang nyaris mengikuti langkah Budi Darma ini macam Mashuri, Lan Fang, Yati Setiawan, dan Wawan Setiawan. Pada kesempatan lain, ketika bertemu dengan HU Mardiluhung, ia juga mengatakan menulis semacam takdir, karena ketika ia diminta kembali untuk menceritakan proses kreatifnya “tidak bisa”.
Mengapa takdir? Kodrat bakat, kemauan, dan kesempatan untuk menulis dalam argumen Budi Darma adalah bagian dari takdir ini. Mungkin ada orang yang memiliki bakat tetapi tidak memiliki kemauan dan kesempatan sehingga tidak mampu berkarya. Ada orang yang memiliki kemauan tetapi tidak memiliki kesempatan dan bakat sehingga tidak mampun menulis. Atau, bisa jadi ada kesempatan menulis karena tidak memiliki kemauan keras dan bakat yang mengelindan mereka tidak juga bisa berkarya. Sebuah takdir memang.
Meskipun dalam diskusi tentang proses kreatif sering kali muncul bahwa bakat bukanlah satu-satunya penentu (takdir?), tetapi akuan menarik Budi Darma adalah refleksi penting jika kita berniat membuka tabir pendora kepenulisan. Bagi kita penting pula merenungkan apa yang pernah diungkapkan Mochtar Lubis bahwa kebakatan hanyalah berandil sekitar 20 persen saja dari keberhasilan kepenulisan. Artinya, 80 persen sesungguhnya dibingkai oleh etos dan kerja keras dalam mewujudkannya. Sekaligus ini mengingatkan kita memang menulis merupakan keterampilan maka tidak ada cara lain dilatihkan seperti kala kita akan naik sepeda motor, berolahraga, berselancar, dan sebagainya.
Refleksi ketakdiran dalam kepengarangan Budi Darma dapat dipahami dalam akuan yang begini, “Tidak menulis menulis berarti berkhianat terhadap takdir. Tanpa menulis hidupnya terasa kosong, dan ia jarang menulis.” (Darma, 1984:2). Sebagai penulis Budi Darma seringkali tidak merasa bahagia sebaliknya sengsara. Sebagaimana diingatkan dalam teori refleksi, bahwa karya hakikatnya merupakan refleksi batin pengarang, sesungguhnya bermuara pada impresi pertama-tama atas realitas yang mengiringinya. Impresi Budi Darma, kemudian akan menjadi terjemah realita macam yang diingatkan dalam teori mimesis. Cerpen Pilot Bejo, misalnya, adalah transformasi imajinasi antara fakta dan fiksi atas realita Adam Air saat itu. Sebuah kodrat manusia yang hakiki memang menulis karena ayat-ayat yang dikalamkan Tuhan pertama kali mentasbihkan untuk pentingnya manusia membaca dan menulis. Sebuah perintah (takdir) manusia untuk menulis. Tetapi, sebagian kecil saja yang merasakan ketakdiran (kewajiban) ini sebagai dosa jika tidak mewujudkannya. Hardjono WS, penulis senior asal Mojokerto itu pun, pernah berpesan ketika di Ponorogo begini, “Ciri manusia itu menulis. Karena itu, jika tidak menulis bukanlah manusia!”
Sumur tanpa dasar proses kreatifnya mengingatkan kita untuk pentingnya berkarya. Ayu Sutarto bilang, menulis itu indah, berpikir itu merajut dzikir, dan berkarya itu merajut pesona. Sebuah aforisme refleksi ketakdiran yang mengesankan. Untuk inilah berkaca dari keberpikiran, kekaryaan, dan langkah menulis Budi Darma menarik untuk dibaca. Berguru pada Budi Darma. Nyantrik untuk memetik makna yang menggerakkan.
Sebelum menulis Budi Darma seringkali melakukan beberapa kegiatan. Wahyudi Siswanto dalam Budi Darma: Karya dan Dunianya (2005) mengisahkan ada empat kegiatan penting yang dilakukannya: (a) berjalan-jalan, (b) membaca, (c) mendengarkan, dan (d) memperoleh pengalaman. Kegiatan pra kepenulisan lazim ditempuh oleh para sastrawan. Sastrawan Danarto misalnya, selalu menulis pengalaman sosialnya dalam buku harian. NH Dini suka mengamati realita. Hamsad Rangkuti pun tak jauh berbeda.
Kegiatan pertama Budi Darma adalah berjalan-jalan. Penyair Beni Setia yang kini tinggal di Caruban, pernah bertutur pada penulis dia juga melakukan kegiatan seperti Budi Darma. Berjalan-jalan untuk menemukan ide. Pernah pada suatu kesempatan ia menaiki bus jurusan Surabaya, naik bus kota, sampai ia menemukan ide untuk kepenulisan. Budi Darma menyenangi kegiatan ini. Bahkan ketika di kampus, penulis sebagai mahasiswanya, sering menemukan Budi Darma berjalan ke kampus. Sapaan halus seringkali dalam bahasa kromo merupakan kekhasan “kelembutan hati”.
Novel-novel Budi Darma sering diilhami oleh kegiatan awal berjalan-jalan ini. Novel Ny Talis, Rafilus, dan Olenka. Pun cerpen-cerpennya macam Derabat, Gauhati, dan Mata yang Indah dia tulis saat berjalan-jalan ke India. Orang-Orang Bloomington adalah refleksi pengalaman perjalanannya tentang kota dan orang-orang Bloomington. “Di samping menghadapi kompleksitas pekerjaannya, Budi Darma suka berjalan-jalan. Tak peduli cuaca buruk, berjalan tiap hari... Bahkan pada saat hujan salju pun Budi Darma tetap berjalan kaki (Budi Darma, 1980:iv). Refleksi perjalanan itu tampak menonjol dalam cerpen “Bambang Subali Budiman”. Di samping itu, “Laki-Laki Tua Tanpa Nama”, “Charles Lebourne”, “Ny. Elberhart”, “Yorrick”, “Orez”, “Joshua Karabish” dan “Keluarga M” adalah hasil amatan dan refleksi-impresi dalam perjalanannya.
Beberapa kali sebenarnya, penulis sempat bertemu dengan Budi Darma sebelum menjadi “cantriknya” di lembaga formal. Di komunitas Toga Mas, misalnya, ternyata dua kali penulis temukan Budi Darma di sana. Budi Darma, seakan memberikan contoh bagaimana sebenarnya komunitas adalah “cara” mengoptimalkan potensi kepenulisan. Di ruang kelas, misalnya, Budi Darma pernah bercerita tentang Lan Fang dan Fira Basuki. Pada saat itu, hati kecil saya bertanya, “Kok begitu runtut Budi Darma menceritakan “latar pribadi”, eh, ternyata dia secara komunitas memang berlibat dengan penulis-penulis muda juga. Teman-teman lain (yang sebenarnya santrinya) banyak sekali, termasuk Mashuri, Wawan Setiawan, dan Shoim Anwar. Di sinilah, maka kepenulisan mengingatkan akan pengalaman banyak orang akan pentingnya komunitas. Sebuah ruang untuk berbagi, belajar, bergumul “dipelukan” guru kehidupan yang tak berdinding.
Hal lain, yang menonjol dari Budi Darma adalah kebiasaan membaca dna berbahasa. “Ketertiban berbahasa” adalah modal terbesar yang memesona. Dalam berbagai forum, yang saya ingat, adalah kemengaliran dalam berbahasa. Sebagian, orang menyebutnya sebagai “pendongeng ulung”. Termasuk ketika dia menceritakan cerpen Mashuri yang bertutur tentang latar dan tokoh dari kota kecil Lamongan, sungguh sama sekali tidak terprediksikan (ini diceritakan saat memberikan pengantar peyambutan (pelepasan?) Unesa atas purna tugas beliau secara formal.
Secara filosofis, kemudian, dapatlah dipahami bahwa menulis fiksi itu sesungguhnya mendongeng gaya baru. Untuk inilah, kemampuan imajinasi dan visualisasi dalam menciptakan citra pembaca menjadi kunci pentingnya. Sugesti bahasa dengan sendirinya menjadi pintu kemenarikan di samping “keruntutan penalaran” cerita yang memesona. Untuk inilah, jika Anda pengin menulis tidak ada cara lain dengan meningkatkan kemampuan berbahasa dan keruntutannya sebagai dinding tembok kepenulisan itu. Bagaimana? Tentu sebuah cermin menarik untuk kita pajang di ruang-ruang kepenulisan kita.
Berfilsafat. Pada sisi lain, sebenarnya kepenulisan Budi Darma seakan-akan mengajakarkan kita untuk terus-menerus mengais makna kefilsafatan. Logika karyanya, seakan menyadarkan akan eksistensi ketokohan yang menuntun pada puncak kesadaran. Perengkuhan makna. Untuk ini, jika kita memasuki dunia kepenulisan maka kecintaan pada filsafat akan menjadi alat lain yang menarik untuk direnungkan. Hakikat filsafat tentunya akan menyadarkan kita akan (a) kesadaran ontologis macam apa to manusia itu, siapa manusia itu, apa sebenarnya realita dan peristiwa itu dst; (b) kesadaran epistemologis macam bagaimana sesuatu bisa terjadi, kita diciptakan dalam kompleksitas proses, mekanisme kehidupan yang unik dan –dalam bahasa Budi Darma— sering terjadi secara kebetulan dst., dan (c) axiologis macam kebermaknaan, kehakikatan, kemakrifatan sesuatu terjadi.
Bersastra dengan sendirinya adalah berfilsafat, begitulah dia katakan pada sebuah ruang. Dalam kesadaran tariqah kesufian sering dikenal bahwa kehakikatan merupakan jembatan menuju kemakrifatan. Bersastra dengan sendirinya adalah semacam tariq untuk mencapai kesufian. Filosofi ini mengingatkan pengalaman berbagai negara maju yang berbudaya mereka menggauli sastra yang pertama-tama (baru menggauli filsafat) atau menggauli filsafat kemudian merengkuh dunia kesastraan. Atau, bisa jadi kedua akan lahir bersama karena memang kodrat kebineran filsafat dan sastra sesungguhnya bisa berwujud satu tetapi berdimensi dan bersisi wajah. Aristoteles adalah contoh filosof yang tidak saja menekuni filsafat tetapi juga sastra.
Pertanyaannya adalah bagaimanakah memanfaatkan kiat filosofis ini dalam kepenulisan? Hakikat kepenulisan adalah kesadaran di satu sisi dan di sisi lain adalah penghantaran komunikasi untuk membangun kesadaran itu sendiri. Karya sastra dengan sendirinya akan menjadi semacam ruang diskusi, refleksi dialogis untuk menyadarkan. Bukan khotbah. Sebab, sebagaimana disadari dalam teori kebenaran yang hakikatnya relatif, maka karya sastra akan selalu mempertanyakan. Karena karya sastra cenderung mengontekskan, meski termasuk pandangan sastra universalisme sekalipun.
Berpijak dari dunia kefilsafatan inilah, maka sesungguhnya pesan menarik lainnya dari proses kreatif Budi Darma adalah bagaimana sesungguhnya berkarya itu hakikatnya menyuguhnya “teks kebenaran” yang bersifat universal. Artinya, filosofi estetik dan kebermaknaannya bisa berlaku di mana saja dan kapan saja. Inilah, yang pada awal tahun 1984 sempat menimbulkan perdebatan unik antara sastra universal dan kontekstual yang dipelopori oleh Ariel Heriayanto dan Arief Budiman. Uniknya, kedua nama terakhir bukanlah sastrawan. Dengan begitu, kebenaran universal dalam teks sastra penting untuk tidak diperdebatkan karena dalam kontekstualitas itu ada universalitas kebenaran dan estetik. Di sinilah, barangkali, salah satu filosofi menarik dari belantara kepenulisan Budi Darma.
Termasuk cerpen Pilot Bejo sesungguhnya secara teks bersifat kontekstual tetapi secara maknawi sungguh memiliki filosofi makna yang menyadarkan akan eksistensi kehidupan bangsa yang konspiratif dan kolutif. Sebuah universalitas bangsa yang menyedihkan. Dalam teks Pilot Bejo, mengingatkan kita akan perbincangan yang dalam dua tahun terakhir yang dipicu oleh presentasi Budi Darma (baik dalam forum maupun media Jawa Pos) tentang fakta dan fiksi dalam sastra. Abdul Hadi, dalam perbincangan dengan penulis di Paramadina (di jelang pengukuhan guru besarnya 2008) menyadarkan kita bahwa hakikat teks tulis itu fiksi. Baik itu teks ilmiah maupun yang biasa kita kenal dengan karya fiksi. Bukankah pengungkapan pikiran sebenarnya fiksi itu sendiri?
Fakta dan fiksi karena itu, barangkali tidak perlu diperuncing. Hanya, dalam pengalaman Budi Darma, ternyata teks sastra yang dihasilkannya –sesungguhnya— banyak yang berawal dari fakta. Khususnya, fakta yang bersifat kebetulan. Dalam banyak akuannya, bahkan beda dalam narasi komunikasinya membedakan manakah yang fakta dan fiksi dalam komunikasinya terjadi secara tipis. Mungkin kerena kemampuan pendongengnya, atau memang, sengaja Budi Darma memformulasikannya dalam kebiasan yang indah. Bukankah abu-abu justru menggetarkan?
Sesungguhnya berbicara tentang pengalaman kepenulisan Budi Darma nyaris tidak dapt diceritakan. Karena baginya, menulis adalah takdir. Tetapi, sebagai ruang bercermin untuk memotivasi kepenulisan, tidak ada salahnya dicoba untuk “mempolakan” pengalaman itu. Tulisan pendek ini, sesungguhnya semacam sekunderisasi dalam empirisitas kreatif Budi Darma. Paling tidak, menyentakkan kita bahwa kepenulisan adalah belantara yang komprehensif, bukan parsial sebagaimana ditemukan di ruang-ruang kuliah dan sekolah kita yang cenderung memparsialkannya. Bukankah di dunia sastra semua bidang nyaris tak berdinding?
Merengkuh kepenulisan dalam pengalaman Budi Darma, satu hal yang penting adalah pentingnya kita mengidentifikasi aspek kebetulan dalam hidup. Kebetulan inilah kemudian –barangkali—bagian dari takdir itu sendiri. Takdir inspirasional di satu sisi dan di sisi lain mengingatkan akan sifat “khususi kepenulisan”. Sepakat atau tidak, pengalaman unik ini adalah pernik menarik yang dapat dijadikan pemantik kreatif para penulis lainnya di masa depan. Bagaimana dengan Anda? Menggauli sebanyak mungkin proses persalinan karya para penulis akan menuntun kita pada padang luas keunikan dunia kepenulisan itu sendiri.
***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel GarcÃa Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar