Raudal Tanjung Banua
http://www.korantempo.com/
PADA awal 1980-an, ketika kelompok tani dan kelompencapir (kelompok pendengar, pewicara, dan pemirsa) mulai menjamur, sudah seharusnya kampungku mengadakan panen raya dengan hasil yang jauh lebih baik. Maklum, sebuah bendungan di bagian hulu sungai baru saja diresmikan di tahun 1976 oleh Ir. Sutami, Menteri Pekerjaan Umum dalam kabinet Soeharto. Empat kali berturut-turut sejak peresmian, hasil panen memang melimpah. Namun, tak lama kemudian, secara ajaib, panen kami hancur-lebur. Saat itu, wabah mencengkram kampungku: hama tikus merajalela, gangguan babi menjadi-jadi. Gagallah panen tahun-tahun itu, menyebabkan tak seorang pun memiliki segoni dua goni padi. Dan kami hanya punya tengkulak--wabah lain yang mengerikan!
Kini, daerahku kembali paceklik. Siklus berulang. Kali ini bukan hanya panen yang gagal, tapi hidup kian sulit pula, dalam segala hal. Harga-harga kebutuhan pokok melonjak tajam. Pupuk dan obat tanaman tak terjangkau. Banyak orang kampungku memutuskan pergi merantau, tapi tak lama kembali terdampar pulang. Tampaknya “wabah” hidup susah sudah merajalela ke mana-mana. Tapi tetap saja aku merasa, kampungku paling parah. Dari catatan lembaga sosial, jumlah anak kurang gizi (lebih tepat kurang makan) meningkat di daerahku. Perut mereka membuncit dan mata mereka melotot sedih. Setiap rumah hanya punya setekong dua tekong beras saja dan tidak mampu menambahnya sesuai dengan kebutuhan penghuninya. Saat beginilah, cerita-cerita seputar wabah hampir 30 tahun lalu itu kembali menyeruak seolah baru saja terjadi.
JIKA benar cerita dapat jadi pelipur lara pelerai demam, maka itu dibuktikan oleh orang kampungku dengan menghidupkan cerita-cerita yang mulanya memancing gelak tawa. Meski gelak tawa yang sedih. Di tengah hidup susah, mereka masih ingat kisah “tudung periuk dalam kuali” yang terjadi berapa waktu sebelum hama tikus menghantui.
Adalah Mak Roji, yang suaminya sudah meninggal, tinggal dengan enam anak. Anak-anak itu, maaf, seturut istilah orang kampung, “bodoh-bodoh”; dua orang tumbuh sebagai anak yang terganggu jiwa, yang lain punya tingkah aneh-aneh, seperti suka berjoget di keramaian. Menurut sahibul hikayat, mereka selalu bertengkar kalau mau makan. Ada-ada saja yang mereka pertengkarkan. Misalnya, nasi siapa paling banyak. Biasanya mereka bertimbang nasi di pinggan, dan ditaruh di atas telapak tangan, dan mana yang dianggap lebih berat itulah yang diperebutkan.
Hari itu, seperti biasa Mak Roji bersiap-siap ke sawah. Yang tidak biasa adalah masakannya hari itu. Ia masak nasi banyak sekali, maklum baru saja usai panen. Uap nasi dari beras baru mengepul wangi ke udara. Ia pun menggulai ikan campur paku, pastilah enak sekali. Tetapi anak-anak yang disuruh makan masih juga bertengkar, padahal hari untuk ke sawah sudah tinggi. Mak Roji akhirnya dengan geram mengambil nasi seperiuk dan memasukkannya ke dalam gulai paku di kuali. Dengan cara itu, tanpa rasa bersalah ia makan dengan lahapnya. Anak-anaknya yang tadi bertengkar hanya terdiam melihat ulah si emak. Mungkin mereka tak menduga bahwa nasi dan gulai sebanyak itu bisa habis sekali duduk dimakan orang seorang.
Lagi pula Mak Roji sampai hati betul, sebutir nasi pun tak ia sisakan, setangkai paku pun tak terbuang. Malah, demikian cerita orang-orang itu sambil mulai tertawa, Mak Roji masih sempat mengambil singkong rebus yang mengepul di hadapan anak-anaknya. Semua anak melongo bodoh, mungkin juga takjub, sehingga tak sadar kalau tangan si emak sudah meraih wadah dari hadapan mereka. Mereka baru sadar ketika si emak kepanasan singkong rebus, dan untuk menjaga wibawa tak mungkin ia semburkan ke luar, meski juga tak mungkin ia telan. Maka untuk menghembuskan hawa panas di mulutnya, Mak Roji berkata, “Ayo ke sawah, hah!” (Sampai di sini, orang yang bercerita dan yang mendengar sama meledak tawanya.) Lalu, setengah membuang muka yang sempat panik, Mak Roji menyambar peralatannya ke sawah dengan langkah seperti bebek pulang petang. Tawa orang-orang itu pun bertambah-tambah.
Singkat cerita, besoknya, tanpa ada sakit, Mak Roji meninggal dengan tenang. Tetapi cerita tentang “tudung periuk dalam kuali” terus menyertai. Yang menarik, enam anak Mak Roji silih berganti bercerita bahwa sebelum mak mereka meninggal dunia, ada isyarat tertentu yang disampaikannya. Sehari sebelum meninggal, perempuan kuat perkasa itu sempat menunjuk-nunjuk puncak Bukit Talau, yang memang tampak belaka dari sawahnya. Apa artinya? Beberapa orang bertanya sekadar iseng dan anak-anak Mak Roji berebut menjelaskan, seolah berebut pinggan.
“Beliau berpesan sering-seringlah memandang Bukit Talau,” kata si sulung.
“Untuk apa pula?” tanya seseorang, seraya melayangkan pandang ke Bukit Talau, sebuah bukit paling tinggi di kampungku, bagian dari Pegunungan Barisan.
“Banyak gunanya. Melihat awan, meninjau hujan....”
“Menghibur hati yang rawan, hahaha.... Ayo, Buyuang, tiup serulingmu!” kata seseorang. Dan orang kampung lainnya tertawa.
Kata si bungsu, yang agak pintar: “Di puncak Bukit Talau ada inyiak balang, jadi hati-hatilah kalau ke ladang!”
Orang-orang terdiam, tetapi seseorang menyela, “Tentu saja. Sejak dulu di sana inyiak berumah. Katakan kau sendiri yang takut....”
“Kalau soal inyiak saja awak tak takut. Tapi kata Mak, di puncak Talau juga ada bigau, ia akan turun menghalau celeng gembalanya....”
Orang-orang kembali terdiam, beberapa mulai gelisah.
“Kata Mak, bapak tidul-tidulan di puncak Talau, dekat batu belbentuk huluf waw,” kata si anak yang dianggap cadel dan terganggu jiwanya. “Kalau mau bigau tak tulun, bakal kemenyan bial bapak bangun kena asapnya, dan mencegah bigau menghalau celeng gembalaannya. Hus, hus, jangan tulun, kata bapak!”
“Di sana juga ada batu belah batu bertangkup, tapi ndak mau menyungkup badan Mak, sebab beliau yang menghabiskan makanan sekuali....” kata anak yang suka berjoget.
Pada bagian ini, biasanya orang-orang kembali meledak tawanya. Tentu saja, sebab cerita batu bertangkup di kampung kami merupakan cerita mengharukan. Seorang ibu yang bersedih disungkup batu belah saat sembunyi di sana. Hanya saja, itu disebabkan anak-anaknya yang durhaka: menghabiskan makanan sampai tak ada yang bersisa. Nah, dalam cerita Mak Roji, si ibu yang justru menghabiskan makanan!
Kata si sulung, agak malu, “Sebenarnya Mak minta kami menyimak suara dari Bukit Talau....”
Orang-orang tersenyum geli, tak hendak memperpanjang lagi pertanyaan. Sebab suara apa pula yang hendak disimak dari sana? Tapi aneh, beberapa pekan kemudian Bukit Talau memang bertingkah aneh. Malam-malam, terdengar gema suara di puncaknya, kadang gemuruh, kadang bunyi angin kencang, kadang desau yang tak kunjung hilang. Ada apa gerangan? Semua orang melepas pandang ke puncak Talau dan bukit-bukit sekitar. Tak ada yang berubah. Bukit Talau masih seperti dulu: tegak runcing dengan dua pucuk, seperti huruf M, yang satu lebih rendah dan yang lain agak sumbing. Jalan setapak peladang dan perimba masih melingkar di sisi-sisinya, seperti ular dalam kabut. Beberapa pondok bertengger, serupa sarang burung di dahan pohon besar. Beberapa pohon yang memberi bentuk pada Bukit Talau--karena besar dan rimbunnya--toh masih berdiri, tak mengubah pemandangan.
Orang-orang mulai cemas, dan segera teringat cerita “ular selingkar gunung”.
ALKISAH di Bukit Talau hidup seekor ular besar peliharaan Nenek Tatak, perempuan bagak, pemberani. Tahun-tahun itu, hanya dia yang berladang di puncak Bukit Talau, sedang yang lain hanya sampai di kaki dan pinggang bukit. Tentu bukan bukit yang tinggi membuat orang ciut nyali, tapi di situ bersarang harimau dan mungkin juga bigau (sebagaimana dikatakan si pintar anak Mak Roji). Menurut cerita, harimau tinggal di ngalau atau gua (mungkin ini yang dimaksud si tukang joget Mak Roji dengan batu belah batu bertangkup; atau yang dimaksud si cadel dengan batu huruf waw, dan dipercayainya bahwa arwah ayahnya di sana, jika merunut penghormatan orang kampung pada harimau sebagai “leluhur”).
Ah, lupakan dulu anak-anak Mak Roji sebab cerita Nenek Tatak sebenarnya tak ada hubungannya dengan harimau atau bigau, tikus dan babi, ini cerita tentang mimpi-mimpi--sekadar menghibur cemas hati!
Tiap hari Nenek Tatak bekerja di ladang, menajak rumput, menanam labu dan pisang. Ia baru akan beristirahat tengah hari dengan mengunyah sirih. Menjelang petang ia pulang, menuruni jalan setapak yang melingkar-lingkar. Suatu hari, saat beristirahat di bawah pohon jengkol, seekor ular kecil--orang kampung menyebut “sebesar batang korek api”--menyusup ke dalam kotak sirih sang nenek. Saat hendak mengambil sirih, ia singkirkan ular itu hati-hati, tapi sebentar hewan itu kembali menyusup, bahkan lebih dalam sampai ke balik pinang dan gambir. Setelah tiga kali begitu, si nenek akhirnya membiarkan ular itu ikut dengannya. Mula-mula dibiarkannya tinggal di dalam kotak sirih, sesekali dimasukkannya ke dalam tengkuluknya, sampai tak muat lagi. Ia pindahkan ke dalam tas rotannya. Hari demi hari si ular kian besar juga, dan akhirnya dibiarkannya tinggal di rumah. Orang kampung mulai takut, dan menyebar kabar bahwa Nenek Tatak punya anak seekor ular. Ia yang memang hidup sebatang kara itu sebenarnya tahan terhadap gunjing dan cercaan, tapi tak sampai hati jika si ular sampai menanggung akibatnya. Namun badannya sudah besar. Maka si ular mesti dipindahkan.
Tak mungkin si nenek menggendongnya, maka mereka harus berjalan beriringan sebelum orang-orang memergoki mereka. Bagi yang diam-diam sempat melihat, perjalanan itu tampak menyedihkan. Seperti sepasang ibu-anak. Terasa sekali mereka tak ingin berpisah. Tapi takdir berbeda. Akhirnya si ular dilepas ke belantara Bukit Talau.
Konon, bertahun-tahun kemudian, Nenek Tatak bermimpi bahwa si ular yang ia pelihara sejak “sebesar anak korek api” itu kini telah berubah jadi ular raksasa yang melingkari Bukit Talau. Dalam mimpi itu, si ular meminta supaya Nenek Tatak sudi mendatanginya lewat kepala di bagian puncak bukit yang sumbing. Sebelum mimpi berakhir malam itu, si ular mengangakan mulutnya, dan tampaklah benda sebentuk cincin sewarna permata! Si nenek menceritakan mimpi itu kepada beberapa orang, dan tak ada yang menolak ketika Angku Jurtatap yang ahli takwil meminta Nenek Tatak datang ke sana. Itu cincin Sicindai, kata si angku, banyak manfaat jika dipakai. Itu sama dengan rantai bertuah si bigau. Tapi si nenek menolak, bukan tak percaya mimpi, bukan sudah tak kuat mendaki, tapi hanya tak ingin balas jasa.
Pada malam berikutnya, mimpi yang sama datang kembali, dan si nenek tetap menolak. Setelah tiga kali menolak, terdengar suara, serupa gema, “Baiklah Nenek tua, engkau orang yang ikhlas. Emas permata tak engkau cari, balas budi tak diharap. Tapi biarkanlah aku melindungi nagari di selingkar Bukit Talau. Simak jika ada isyarat dariku, itu pertanda akan terjadi bahaya atau bencana!”
Dan benar: isyarat itu, gema dan gemuruh itu, jadi pertanda datangnya wabah!
ISYARAT itu akan menemukan titik terang apabila kita masuk ke dalam cerita berikutnya, yakni tentang “pasukan tikus menyeberangi jalan.” Adalah seorang sopir di kampungku yang konon pernah menyaksikan peristiwa ajaib itu. Pak Mua, nama sopir itu, sudah tua dan sakit-sakitan. Ini perlu dikemukakan sedikit, sebab lantaran sudah tua dan sakit, tidak seorang pun akan menanyakan lagi kebenaran ceritanya. Jika pun ia masih sehat, sebenarnya juga tak bakalan ada yang mendatangi, sebab cerita itu sudah menjadi cerita dari mulut ke mulut, dan boleh jadi jika Pak Mua ditanya, ia juga menyebut nama seorang lain sesama sopir yang mengalami langsung peristiwa seperti disebut dalam cerita. Begitu seterusnya. Cerita di kampung bukan soal sumber utama, bukan soal benar atau tidak, tapi bagaimana cerita itu mengalir sampai jauh. (Kini “hak paten” cerita itu dipegang oleh bekas kernet, Serel, yang masih bersemangat menceritakan kembali meski ia mengaku melihatnya setengah kabur sebab ketika itu ia baru bangun tidur.)
Begitulah, konon, sebelum panen gagal karena diserang tikus, Pak Mua melihat kejadian aneh tak lama berselang setelah musim tanam tahun itu. Sebagai sopir truk jarak jauh, yang mengangkut semen dari Padang ke Bengkulu, ia biasa melaju malam. Selepas tikungan Jaring Punai yang lengang, Pak Mua melihat sesosok bayangan aneh yang tak pernah ia lihat sebelumnya: kecil dan cebol untuk ukuran manusia. Ia mengibaskan tongkatnya yang diartikan Pak Mua sebagai permintaan agar truknya berhenti. Benar. Setelah truk berhenti, melintaslah beribu-ribu ekor tikus yang digembalakannya. Tikus-tikus itu berbaris rapi menyeberangi jalan, dan karena jumlahnya banyak, sampai tak terasa sudah ada sejumlah kendaraan yang terpaksa berhenti di belakang truk Pak Mua, serta kendaraan lain yang datang dari arah berlawanan. Semua memilih berhenti dan memberi jalan kepada pasukan tikus menyeberangi jalan.
Sesampai di rumah makan, para sopir berkumpul dan setengah menggigil bertanya tentang kejadian apa gerangan yang barusan mereka saksikan. Mereka sungguh tak paham. Berbagai tafsir pun mengumandang. Ada yang berpendapat si tikus berusaha pindah tempat sebab tempat sebelumnya sudah diaduk-aduk oleh orang proyek yang membuat bendungan. Ada yang bilang, pasukan tikus itu kini datang untuk membalas dendam. Ada yang menghubungkannya dengan Nabi Sulaiman: mungkin sang Nabi tak ingin ada satu pun makhluk teraniaya. Sebagian bilang, itu akibat dari upacara “obat padi” yang tak ada diselenggarakan lagi.
Ya, menyangkut kepercayaan pada upacara memang bisa jadi alasan sendiri. Sejak peresmian bendungan, prosesi turun ke sawah tidak lagi memakai perlengkapan yang disyaratkan: sesaji dan bunga-bunga. Para petani mulai jalan sendiri, suka berebut air, siapa cepat ia dapat dan musim tanam jadi tak serentak. Biasanya, berkat hujan dari langit, turun ke sawah milik bersama: para tetua membawa “obat” padi dari daun-daun dan pucuk tumbuhan, dihantarkan lewat pematang hingga sampai ke tengah sawah. Mantra-mantra keselamatan menggemaung. Semua makhluk semesta terasa agung: tikus tidak disebut tikus, tapi puti, artinya putri; babi disebut urang elok, artinya orang baik-baik; dan hanya berang-berang yang tetap disebut dengan berang-berang; dia toh tidak merusak padi, hanya membuang muntahan sisik ikan atau berak di pematang.
Setelah kejadian “pasukan tikus menyeberangi jalan” itu padi-padi di kampungku puso, hama tikus merajalela.... Jika itu benar campur-tangan Nabi Sulaiman atau Khaidir, maka, maaf saja, itu bukan campur tangan yang membawa berkah, Saudara.
KINI, tanpa isyarat dan aba-aba, wabah hama tikus kembali melanda kampungku dan kampung-kampung sekitarnya. Ini diperparah oleh “wabah” harga dan segala sesuatu menjadi langka. Harga-harga naik, minyak tanah tak ada. Pencurian meningkat. Dua hari yang lalu, pencuri bahkan membawa pergi periuk ibuku yang masih berisi nasi, di atas tungku. Di desa sebelah, seorang tengkulak diamuk warga karena menolak meminjamkan uang atau padi. Katanya, sudah tak ada modal lagi. Tapi warga yang terlanjur sakit hati tak bisa terima. Di tengah situasi sukar inilah, cerita-cerita kecil hampir tiga puluh tahun yang lalu, yang menyertai wabah di kampungku, kembali diminati. Aku sendiri tak tahu apakah ada hubungan antara cerita dulu dengan keadaan kini.
Ya, cerita-cerita itu kembali menyertai wabah di kampungku. Besar-kecil pada mempercakapkannya. Meski mereka lebih banyak mengomentari jalan cerita sesuai situasi sekarang. “Mengapa Pak Mua tidak menggilas saja tikus-tikus itu?” kata seorang anak muda di pos ronda, di tepi jalan raya.
“Hus! Tidak digilas saja keadaan sudah begini,” yang lain menimpali.
“Itu karena kita tak melawannya. Mestinya dihadapi, jika perlu sekalian dengan si bigau cebol pimpinan mereka itu,” ia meradang.
“Husni! Jangan terlalu kasar. Ia bertelinga bumi,” Kudal, si tukang cerita minta pengertian Husni.
“Kau masih peduli, Kudal? Dari tahun ke tahun kita begini. Sudah empat kali mestinya panen, hanya padi hampa. Untuk rokok saja kita menyetop mobil lewat!”
“Aku tak mau lagi memanggil tikus dengan puti, celeng dengan urang elok, bahkan harimau dengan inyiak balang,” kata Kutir dingin.
“Aku juga tak mau lagi. Kita saja yang menghormati mereka, sedang mereka tidak,” Mawi yang pendiam tampak menahan geram.
“Inyiak balang mengamuk karena semua hutan dijadikan ladang gambir, bahkan sampai ke puncak Bukit Talau. Makanya tak ada lagi suara-suara dari sana,” kata Kudal.
“Percuma. Wabah datang tak diundang, semuanya tiba-tiba. Apa yang dapat dilakukan saat harga sembako naik, meski jika semalaman Bukit Talau bergemuruh?”
“Dan apa pula komentar kau tentang tikus dan babi-babi?” desak yang lain.
“Sudah lama tak ada upacara obat padi di kampung kita,” Ikal yang menjawab.
“Tutup mulutmu, Kepinding! Dari dulu kita berupacara menyambut semuanya. Mulai dari Pemilu sampai peresmian jamban. Apa hasilnya?”
Mereka yang bergerombol di pos ronda mulai tegang. Mereka mulai bosan pada cerita-cerita yang menyertai wabah. Ada raut kesal kepada teman-teman sendiri yang semula dianggap fasih bercerita, sekarang tampak sebaliknya: terlalu larut dalam cerita. Mereka marah dan mual, meski sebenarnya lebih terarah pada keadaan. Saat itulah, iring-iringan kendaraan rombongan Pemda dan DPRD kabupaten kami lewat untuk sebuah kunjungan kerja di Balai Selasa, kecamatan di selatan. Ada peresmian mesjid sumbangan perantau, sekaligus peletakan batu pertama pembangunan SPBU milik ipar bupati. Bunyi sirene meraung-raung, seperti mengejek kampung-kampung yang lapar.
“Mereka datang!” kata Isul.
“Ya, mereka datang, tikus-tikus itu....”
“Babi-babi itu....”
“Hadang!”
“Lempar!”
“Jangan!”
Begitu saja, gerombolan anak-anak muda di pos ronda itu berloncatan ke jalan raya. Terdengar rem mencericit dan dentang benda keras beradu. Kaca-kaca berhamburan. Anak-anak muda yang marah dan lapar itu beringas berteriak, “Gilas mereka! Gilas! Jangan kita terus yang digilas!”
Peristiwa itu pun menjadi cerita baru yang menyertai wabah di kampungku!
Rumahlebah Yogyakarta, Agustus-November 2008
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel GarcÃa Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar