:LANSKAP KEKERASAN DALAM NARASI PUITIK
R. Timur Budi Raja
http://aksaraapi.blogspot.com/
I.
Saat sajak-sajak ini disodorkan hingga sampai di tangan saya, tak ada lain yang melintas di benak saya, kecuali kecurigaan. Tepatnya, keinginan untuk mencurigai. Lebih-lebih mengingat ketika kawan saya, Taqin, -sang penelepon gelap yang berposisi di Surabaya itu-, mengabarkan bahwa satu jam kemudian pasca kontak dia akan berkunjung ke tempat saya di Junok.
“Wah, brengket benar Si Taqin! Bukankah jarak dari Surabaya ke Bangkalan tidak cukup ditempuh dengan waktu satu jam perjalanan?” begitu saya berpikir normatif. Pikiran normatif itu langsung ambyar, ketika tiba-tiba di kepala saya meledak kembali kisah pesawat Challenger, yang sesungguhnya telah lama sayup dalam ingatan pengetahuan saya. “Apakah rumus-rumus matematika dan fisika itu masih menjadi penting untuk menghitung kemungkinan dan kepastian?” pikir saya lagi.
Ah, saya cuma bisa terkejut saja ternyata. Lalu mengklaim rencana kedatangannya itu sebagai sebuah gagasan kenakalan terburu-buru yang kejam.
Bagaimana tidak? Kampung saya saat itu tengah dirawat oleh sejumlah perasaan takut dan bersalah, setelah peristiwa pembantaian yang dilakukan satu keluarga besar blater, -warga kampung saya-, terhadap tiga orang warga dari kampung lain. Dimana-mana media massa memberitakannya.
Para pelaku pembantaian beserta keluarga besarnya memang telah pergi jauh melarikan diri dari balas sakit hati keluarga korban dan kejaran aparatur hukum, entah kemana. Tapi, kengerian yang ditinggalkannya kami rasakan terus berhembus dari satu rumah ke rumah yang lain, menggerogoti jam-jam hening yang berlesatan. Seluruh warga di kampung saya tak ada yang berani keluar rumah pada malam hari, seperti ada kekhawatiran yang berkembang menjadi keyakinan di tengah kami, bahwa akan ada serangan balasan yang membabi buta dari kampung korban untuk membantai siapa pun dari kampung kami. Akhirnya, warga memilih dan menentukan sikap awas terhadap siapa saja.
Taqin? Tidakkah dia mendengarnya? Tidakkah dia membacanya?
II.
Curiga? Kecurigaan? Mencurigai?
Cukup aneh memang. Tapi begitulah, saya seorang yang negatif. Dan saya beruntung karena kebiasaan atau cara pandang yang demikian, justru membuat saya terus tertantang untuk menajamkan seluruh kepekaan, menemukan detil dan membuat reka-reka perimbangan yang mendekati obyektif, dari menu-menu persoalan yang saya hadapi.
Narsis? Mungkin saja! Tapi bukan itu yang hendak saya paparkan.
Dulu, secara kebetulan saya pernah mendengar kalimat-kalimat ini:
“Tuhan itu ada, atau kita yang mengadakan Tuhan?”
“Mana yang benar; Perempuan yang mandi di sungai, atau sungai yang mandi pada (tubuh) perempuan?”
Pernyataan atau pertanyaan tersebut memang klise, tapi juga kritis, dekonstruktif, subversib, dan provokatif. Mengundang pikiran-pikiran saya untuk berkembang curiga. Curiga dan berpikir kepada (kenyataan) Tuhan itu sendiri, curiga kepada siapa (si) yang mengatakannya dan curiga kepada sejarah (nya).
Pertama, demi proses berpikir, keduanya menjadi sangat menarik dan dialektik. Kedua, sebagai hasil atau capaian, keduanya (dalam pandangan saya) sama benarnya.
Sajak-sajak dalam buku ini juga telah mengantarkan saya pada kecurigaan yang sebangun. Apakah kelahirannya memang dikehendaki sang penyair, sebagai anak yang ditunggu-tunggu dan kelahirannya musti dirayakan (dengan cara launching, misalnya)? Atau sebaliknya; mereka adalah bahasa kegagalan penyair saat mimpi basah, kalimat-kalimat hitam yang gagap tak bermuara tapi belingsatan minta dituliskan, bergestur sajak tapi rohnya hantu, anak-anak yang didesak untuk lahir hingga tak sempurna secara fisik atau bawaannya (premature, demikian kira-kira istilahnya?)
Kelahiran sebuah sajak seperti layaknya kelahiran seorang manusia. Membutuhkan waktu panjang dan proses yang berantai. Seorang anak lahir dari rahim manusia berjenis kelamin perempuan, yang kelak kemudian dipanggilnya ibu, yang telah melakukan perkawinan dengan manusia berjenis kelamin laki-laki, yang nanti disebutnya ayah.
Sang ibu memiliki sel telur yang merupakan cikal-bakal manusia baru. Untuk membentuk manusia dibutuhkan pembuahan dan inilah peran manusia berjenis kelamin laki-laki. Dia membuahi sel telur dengan apa yang disebut sperma. Bila antara sel telur dan sperma ada kecocokan, maka terbentuklah tubuh manusia. Selama sembilan bulan sembilan hari manusia baru memulai tahap awal kehidupannya dalam rahim seorang ibu. Setelah itu, waktu pun mendesak melahirkannya. Dalam proses kelahirannya, dia tidak berjuang sendiri. Sang ibu turut bersikeras melepas sakit airmatanya agar buah hatinya lahir dan selamat.
Namun, tidak semua manusia terlahir dikehendaki sang ibu dan ayahnya. Ada mereka yang terlahir karena terpaksa dan atau dipaksa untuk lahir. Mereka melampaui proses itu dengan terpaksa dan atau dipaksa pula. Dengan kata lain, mereka dilahirkan secara premature. Belum selesai proses itu dilewati, mereka dipaksa untuk segera melanjutkan ke proses kehidupan selanjutnya, tanpa diberi kesempatan untuk menentukan pilihan. Sebagian dari yang terpaksa dan atau dipaksa tersebut mampu melampaui proses itu dengan baik, berhasil melanjutkan ke proses kehidupan selanjutnya. Sebagian yang lain harus menerima nasib: tak sempat menghirup udara bumi yang penuh polusi, kolusi, dan nepotisme ini.
Demikian pula sajak!
Kehadiran sajak seperti layaknya kelahiran manusia, karena sengaja untuk dilahirkan, terpaksa untuk dilahirkan, atau kehendak memaksanya dilahirkan. Hasilnya, tidak semua sajak berhasil menurut kacamata sastra!
Lalu, bagaimana dengan sajak-sajak dalam buku ini?
III.
Sapardi Djoko Damono pernah mengatakan, “Sebuah sajak adalah hasil dari sebuah proses. Dari awal sampai akhir proses itu, si penyair terlibat sepenuhnya. Begitu memabukkan, sehingga di ujung proses itu biasanya terkejut.”
Artinya, sajak yang telah selesai ditulis dan berhasil itu mempersonifikasikan diri sebagai sesuatu yang tak ia kenal, atau menjadi berbeda dengan apa yang sebelumnya pernah dibayangkan si penyair. Bisa jadi, karena seluruh yang disadari dan yang tidak disadarinya dilepaskan ke dalam sajak itu. Kerja kreatif memang bukan kerja spekulan, itulah sebabnya!
Goenawan Mohammad juga menulis: “Apa gunanya seorang penyair menulis sajak, kalau sajaknya dapat diuraikan isinya secara tuntas.”
Dengan kata lain, sebuah sajak, sebagai hasil dari proses yang ‘mabuk’, yang segala ucapannya tidak mudah untuk dipahami oleh pembaca dalam sekali baca. Membutuhkan pemahaman dalam memaknai sebuah sajak.
IV.
Setelah melampaui proses pemahaman yang cukup lama, saya masih juga tak mudah menemukan ukuran apa yang akan saya gunakan sebagai bekal pembacaan saya terhadap sajak-sajak dalam buku ini. Ada beberapa sajak yang musti saya baca berulang-ulang, hingga saya tiba di kedalaman dunia yang dibangunnya. Ada sebagian yang saya perhatikan dengan sungguh-sungguh, lalu saya menemukan sesuatu. Membacanya kembali dan berkali-kali menemukan sesuatu. Ada pula yang dengan terpaksa harus saya tinggalkan, dengan perasaan menyesal, dimana membaca baris pertamanya saja telah cukup bagi saya.
Karena semangat kecurigaan saya cukup besar, maka saya pun segera memutuskan untuk kembali men-serius-i kegiatan membaca!
Eit, tunggu dulu! Curiga karena apa? Curiga atas apa?
Asumsi awal pada pembacaan pertama, saya ‘menuduh’ Arif “Nyambek” Rahman, Dodik Kristanto, M. Sijjib, dan Ilham Persyada Syarif (para penyair dalam buku ini) telah mengalami keterjebakan ke dalam aktivitas pengekploitasian dan penimbunan kata-kata. Kaya diksi, boros dan maknanya tak utuh.
Disadari atau tidak, pada beberapa sajak (lihat: Fragmen Sore, Fragmen Batu Berlumut, Madu Lembayung, Biji Sunyi, Kari), kerap terjadi pengulangan-pengulangan (repetisi) kata dan kalimat-kalimat yang seharusnya tidak dilakukan. Bukankah pengulangan-pengulangan itu akan menjadi para pengganggu, bila kehadirannya tidak banyak berarti?
Bukan berarti bahwa sajak tak boleh mengenal repetisi atau pengulangan kata/kalimat, sebagaimana bahasa Indonesia sewajarnya. Pengulangan-pengulangan itu biasanya dilakukan untuk mengejar bunyi, makna dan efek-efek tertentu.
Dari sudut yang lain, dengan masih berlatar belakang kecurigaan, saya mencium aroma kecenderungan militeristik yang seragam dan pola-pola pendekatan kekerasan yang dilakukan dalam merepresi kata-kata. Membuat jalinan-jalinan sengkarut dan membentuk metafor-metafor kesakitan. (Lihat: Duka Muara, Rumah Sakit, Mata Sapi)
Bila benar, saya khawatir, pada kerja kepenulisan kreatif seperti inilah kata-kata kehilangan kesadarannya yang wajar.
Meski saya masih tetap saja curiga, jangan-jangan lanskap-lanskap kekerasan yang terjadi terhadap kata-kata dan bangunan teks sajak-sajak dalam buku ini merupakan represesentasi dari traumatika sejarah, potret-potret ingatan kegusaran realitas social politik yang gemuruh penuh konflik. Lalu para penyair ini dan generasi angkatan mereka; anak-anak yang setiap pagi memunguti airmata itu, mereka yang menyimpan kesakitan kota besar, menatap dan mencatat seluruh “kebrengketan” seluruh orde lewat kisah-kisah dan ingatan social. Ketakutan yang mengajari mereka kemudian untuk belajar memegang pisau garpu dan melakukan kekerasan terhadap kata-kata.
***
Namun, dunia sajak bukanlah sebuah dunia dengan kewajaran yang mutlak, kewajaran yang terjadi pada realitas manusia sehari-hari.
Sajak juga memang tak diharuskan untuk mengenal adanya gramatikal. Dunia sajak adalah dunia dimana realitas murni dan realitas imajinasi terbangun dalam sebuah teks, sama-sama memiliki logika dengan pengertian yang sepadan, yaitu sebagai benang merah kata-kata. Dunia sajak adalah dunia subyektivitas. Tak salah dan tak benar, tak hitam putih selayaknya realitas murni yang kita alami.
Pembaca pun tak bisa (berhak) menganggap bahwa sajak adalah realita yang ada di sekeliling kita. Namun pembaca juga tidak bisa (berhak) menganggap bahwa sajak hanyalah imajinasi sang pengarang, sebuah realita yang tak pernah ada di sekeliling kita.
Maka, yang ada ketika membaca sebuah sajak adalah dengan membuang seluruh realita, imajinasi di kepala kita, dan menerima sebuah realita yang baru, yang ada dalam sajak itu sendiri.
V.
Bersama kecurigaan yang terus menggayut di kepala saya, beberapa sajak telah menempatkan posisi terdepan untuk membuat saya cepat-cepat menggapainya dan menyodorkannya di hadapan pembaca. Sajak-sajak itu telah menarik diri saya pada kedalaman makna yang telah dibangunnya. Setiap kata, kalimat membangunkan imajinasi saya pada sebuah tempat tertinggi, dan melelapkan saya pada keindahan-keindahan hakiki dalam pandangan saya.
VI.
Sebagaimana apa yang telah saya kemukakan, tak ada kewajaran yang mutlak dalam sebuah sajak, maka tak ada pula yang mutlak dari kecurigaan saya. Keberhasilan sajak-sajak tetap bergantung kepada “kecurigaan” para pembacanya. Maka, mari mulai mencurigai dan membaca sajak-sajak dalam buku ini!
***
Bangkalan, 13 Februari 2008
Disampaikan dalam diskusi dan bedah buku antologi puisi “DUKA MUARA”, karya tujuh penyair Komunitas RaboSore, di Joglo, UNESA, pada hari Rabu, tanggal 13 February 2008.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel GarcÃa Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar