Minggu, 23 November 2008

Melenyapkan Jarak dengan Penonton

Dwi Fitria
http://jurnalnasional.com/

Pertunjukan Gandrik menjadi fasih berbicara dengan audiens dari berbagai kalangan.

Dalam Indonesian Dance Festival 2008 yang baru saja berlalu ditampilkanlah sebuah pertunjukan tari tak biasa. Pertunjukan itu berjudul Prichet and Me, alih-alih berupa sebuah pertunjukan tari konvensional, pentas yang dijadikan pamungkas IDF tersebut lebih banyak menampilkan dialog tanya jawab antara koreografenya Jerome Bel, dan Pritchet Kunlun, seorang penari tradisional Thailand.

Di salah satu bagian pertunjukan yang cukup unik itu Bel mengatakan bagaimana suatu hari, ia yang selama bertahun-tahun berprofesi sebagai seorang penari merasakan sebuah kejenuhan yang tak terperikan. Yang membuatnya kemudian memutuskan untuk berhenti menjadi penari, dan selama dua tahun membaca semua buku yang ada tentang seni.

Satu hal yang ia rasakan kuat adalah bagaimana panggung telah membuat para seniman terasing dari audiensnya. Ia kemudian muncul kembali sebagai seorang conceptual artist yang peduli pada reaksi penontonnya. Maka pada pertunjukan Bel, gelak tawa bukanlah hal asing, komentar iseng malah ditanggapi, dan improvisasi menjadi sebuah kewajaran. Seorang dramaturg asal Jerman yang juga menyaksikan pertunjukan Bel malam itu mengatakan bahwa meski sudah lima kali menyaksikan pertunjukan itu, ia tak pernah bosan. Sebab bentuknya cair dan selalu berubah.

Dalam ranah teater tradisional Indonesia, ada sebuah format yang amat memungkinkan mencairnya batas antara penonton dan pemain dalam sebuah pertunjukan teater sampakan. Di tanah air, Teater Gandrik dari Yogyakarta mengolah bentuk pertunjukan ini dengan membaurkannya dalam format yang modern.

“Gandrik memang kuat dalam bentuk sampakannya. Kebanyakan aktornya adalah para aktor yang berpendidikan. Oleh karena itulah mereka juga memahami teater modern. Mereka membuat sebuah upaya yang amat baik mengemas sedemikian rupa sebuah format teater rakyat sehingga menjadi lebih mudah diterima oleh masyarakat modern,” ujar esais sekaligus pengamat budaya, Radhar Panca Dahana kepada Jurnal Nasional pada Jumat (21/11) lalu.

Dalam pertunjukan-pertunjukannya Teater Gandrik senantiasa menampilkan spontanitas berbalut humor segar yang tak akan kesulitan dipahami oleh audiens dari banyak kalangan.

Spontanitas sesungguhnya merupakan bagian dari teater rakyat Indonesia. Berbagai jenis pertunjukan di Jawa Timur, Betawi, Sunda, atau Padang mengaburkan batas antara panggung dan penonton. Dialog antara penonton dan pemain bukan lagi hal yang asing, sebab dalam format teater rakyat, tak ada dinding yang membatasi antara penonton dan panggung.

“Dialog akan terjadi bila ada satu kesamaan simbolik secara linguistik antara penonton dan panggung. Jika terjadi kesenjangan simbolis sebagaimana teaer modern, atau teater eksperimental, maka komunikasi tidak bisa terus terjadi. Setidaknya tidak secara langsung karena penonton harus melakukan defamiliarisasi atau desimbolisasi dari panggung yang mungkin abstrak dan absurd,” ujar Radhar.

Sampakan dan Teater Modern
Kelebihan Teater Gandrik adalah kemampuannya menggabungkan antara yang tradisional dan modern. “Mereka menunjukkan bahwa teater tradisi memiliki kelaikan dalam kehidupan seni masa kini. Bahwa teater tradisi juga bisa bercengkrama dengan bentuk modern, sehingga membuat teater tradisi itu tetap kontemporer,” ujar Radhar.

Menurut Radhar bentuk pertunjukan teater Gandrik menyiratkan kekhasan dan keunikan dari seni tradisi Jawa. Teater yang kini dikomandoi Butet Kertarejasa itu memperlihatkan kemampuan untuk menggabungkan berbagai khasanah budaya dari berbagai daerah dan wilayah dan luar negeri, yang menurut Radhar dapatlah dianggap sebagai sebuah bentuk kesenian Jawa kontemporer.

Bentuk sampakan sebagaimana yang diangkat oleh Teater Gandrik menurut Radhar adalah sebuah bentuk khas kesenian Indonesia yang sebaiknya amat baik bila dikembangkan di Indonesia. “itu adalah sebuah simbiosa mutualistis yang membuka ruang agar teater kita mampu mengangkat persoalan modern tapi bisa berkarib-karib dengan dengan publiknya.”

Menurut Radhar di awal perkembangan teater di Eropa, gaya macam ini amat lazim. Commedia dell’arte adalah satu di antaranya. Bentuk pertunjukan ini adalah sebuah jenis teater improvisasi yang berkembang di Italia di abad ke-16. Penampilan biasanya dilakukan tanpa naskah, dan diadakan di luar ruangan dengan menggunakan property sederhana. Lontaran-lontaran dialog saling menimpali antara aktor panggung dan penonton menjadi hal yang amat lumrah dalam pertunjukan jenis ini.

Setelah menjadi amat populer di abad ke-18, bentuk pertunjukan semacam yang ditawarkan oleh Commedia dell’arte ini perlahan menghilang. Terbentuklah pemikiran di teater Eropa yang hanya mempedulikan panggungnya. Muncul istilah the show must go on, yang artinya apa pun yang terjadi maka pertunjukan akan terus berjalan. Berkembanganya pemikiran ini menyebabkan teater makin berjarak dengan audiensnya. Sisa-sisa pertunjukan mirip sampakan hanya bisa ditemukan di beberapa negara saja semisal Kazakhstan dan negara-negara Asia Tengah lainnya.

Naskah dan Improvisasi
Kemampuan improvisasi adalah salah satu kemampuan yang amat dibutuhkan para aktor yang menggunakan metode sampakan dalam pertunjukan. Meskipun menurut Radhar kemampuan ini sesungguhnya adalah sesuatu yang wajib dimiliki oleh setiap aktor dalam bentuk teater apa pun

Dalam teater Gandrik, kemampuan berimprovisasi itu adalah sesuatu yang sepertinya sudah menginternalisasi pada setiap aktornya. Meskipun kemampuan itu tak datang serta-merta. Menurut Agus Noor, cerpenis yang telah dua kali diminta menulis naskah panggung untuk Gandrik, kelompok teater ini selalu mengadakan sebuah pembacaan di mana tiap aktor langsung melakukan intrepretasi pribadi mereka.

Menulis naskah untuk kelompok teater sekelas Gandrik gampang-gampang susah. “Dalam proses pembuatan naskah, saya selalu mengingat baik karakter teman-teman Gandrik yang sebagai besar memang humoris, dan piawai membuat parodi,” ujar Agus yang bersama Ayu Utami membuat naskah Sidang Susila untuk Gandrik yang dipentaskan di berbagai kota di Indonesia pada 2007 lalu itu.

Teater Gandrik berusaha menampilkan persoalan-persoalam dalam masyarakat dengan cara yang unik, komikal dan menggelitik, oleh karena itulah Agus Noor juga mencoba menerapkan pola pikir ini dalam menggarap naskah kelompok teater itu. Meski demikian kemampuan tinggi para aktornya memungkinkan naskah apa pun yang ditampilkan memiliki ciri khas Gandrik secara otomatis.

Pada Juni 2009 mendatang, Teater Gandrik kembali akan menggelar sebuah pertunjukan bertajuk Presiden Kita Tercinta. Alkisah, presiden di sebuah negara dikisahkan terbunuh. Negara tersebut membutuhkan seorang presiden baru. Berbeda dengan negara-negara lain di mana seorang presiden disaring dengan ketat, seluruh warga negara di sana selama masih sehat jasmani dan rohani wajib mencalonkan diri.

Rakyat juga berbondong-bondong mencari sosok yang dianggap cocok untuk menjadi presiden mereka selanjutnya. Hingga suatu hari ditemukanlah seorang petani yang dianggap memiliki semua karakteristik yang dicari dalam diri seorang presiden. Petani yang tak tahu apa-apa itu tak bisa menolak, sebab konstitusi mengharuskan ia menjadi presiden.

“Banyak aspek sejarah Indonesia, mulai dari tahun 60-an hingga sekarang, yang saya ambil untuk naskah pementasan ini. Tapi tentu saja dengan tak melupakan untuk berkaca pada kondisi terkini Indonesia,” ujar Agus Noor.

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati